Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
549
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c3106c00577a9581d06566e/senandung-black-n-blue
Ini bukan tentang pembuktian Bukan juga tentang sebuah sesal Ini tentang aku dan perasaan Hanya satu dan penuh tambal Ini bukan tentang akumulasi kemarahan Bukan juga hitung-hitungan pengorbanan Hanya aku dan keegoisan Bergeming dalam kesendirian Aku bukan pujangga Aku tak mahir merangkai kata Aku hanya durjana Menunggu mati di ujung cahaya Aku bukan belati Bukan juga melati Aku hanya seorang buda
Lapor Hansip
06-01-2019 02:34

Senandung Black n Blue

Past Hot Thread
Ini bukan tentang pembuktian
Bukan juga tentang sebuah sesal
Ini tentang aku dan perasaan
Hanya satu dan penuh tambal

Ini bukan tentang akumulasi kemarahan
Bukan juga hitung-hitungan pengorbanan
Hanya aku dan keegoisan
Bergeming dalam kesendirian

Aku bukan pujangga
Aku tak mahir merangkai kata
Aku hanya durjana
Menunggu mati di ujung cahaya

Aku bukan belati
Bukan juga melati
Aku hanya seorang budak hati
Sekarat, termakan nafsu duniawi

Sampai di sini aku berdiri
Memandang sayup mereka pergi
Salah ku biarkan ini
Menjadi luka yang membekas di hati



Senandung Black n Blue


Nama gue Nata, 26 tahun. Seorang yang egois, naif, dan super cuek. Setidaknya itu kata sahabat-sahabat gue. Tidak salah, tapi juga tidak benar. Mungkin jika gue bertanya pada diri gue sendiri tentang bagaimana gue. Jawabanya cuma satu kata. IDEALIS TITIK. Oke itu udah 2 kata. Mungkin karena itu, hampir semua sahabat gue menilai gue egois, yang pada kenyataanya gue hanya tidak mau melakukan hal apapun. APAPUN. Yang tidak gue sukai. Bahkan dalam pekerjaan, jika menurut gue tidak menyenangkan, gue akan langsung resign.

Menulis buat gue bukanlah sebuah hobi, bukan juga sebuah kebiasaan yang akhirnya menjadi hobi, bukan juga keahlian diri, bukan juga sesuatu bakat terpendam yang akhirnya muncul karena hobi. Apaa sihh !!? Menulis buat gue adalah cara terbaik meluapkan emosi. Di kala telinga orang enggan mendengar, dan lidah sulit untuk berucap tapi terlalu penuh isi kepala. Menulis adalah cara gue menumpahkan segala penat yang ada di kepala, cara gue bermasturbasi, meng-orgasme hati dengan segala minim lirik yang gue miliki.

Kali ini berbeda, gue tidak menuliskan apa yang ingin gue lawan. Tidak juga menuliskan opini gue tentang suatu hal. Ini tentang diri gue seorang. Tidak indah, tidak juga bermakna, hanya kumpulan kata sederhana yang terangkai menjadi sebuah kisah. Angkuh gue berharap, semoga ini bisa menjadi (setidaknya) hikmah untuk setiap jiwa yang mengikuti ejaan huruf tertata.

.


Quote:
Heyoyoyoyoy what's up genk !!
emoticon-Wow

Selamat tahun 2019 genk, semoga di tahun yang baru ini, apa-apa yang kalian inginkan bisa tercapai ... aamiin.
Tahun baru semangat baru, dan yang pasti harus berbeda seperti tahun sebelumnya. Seperti saat ini keberadaan gue di Forum SFTH tercinta ini adalah sesuatu yang baru untuk gue pribadi. Karena biasanya gue seliweran di lounge, tapi kali ini gue mau memulai tahun baru ini dengan sesuatu yang baru. Yaitu sedikit memutar roda waktu, bermain dengan kenangan, dan melukisnya dalam sebuah cerita yang berdasarkan kehidupan nyata. Kehidupan nyata siapa? pantengin ajah yang geng. emoticon-Big Grin

Sebelumnya gue menghimbau untuk mematuhi peraturan yang ada di forum ini.
dianjurkan baca ini terlebih dahulu sebelum lanjut membaca.
SFTH RULES
H2H RULES
GENERAL RULES KASKUS

dan, gue membuat peraturan khusus untuk di thread ini.

1. Don't touch my real life
2. Don't ever ever touch my real life
3. Don't ever ever ever touch everyone character in this story dalam dunia nyata.
4. Jangan kepo.
5. Jangan meminta medsos apalagi nomer telpon siapapun yang ada di cerita ini, kalo nomer sepatu gapapalah, kali ada yang mau ngirimin sepatu emoticon-Big Grin
6. Jangan juga meminta foto karena itu di larang, sekalipun boleh ga akan pernah gue kasih.
7. Gue sadar banyak teman-teman gue entah itu teman sd, smp, sma, kuliah, kerja, atau teman di manapun yang aktif dalam kaskus, gue mohon dengan sangat kebijaksanaanya untuk tidak mengumbar identitas asli gue atau siapapun dalam cerita ini dan tetap menjaga privasi semuanya.
8. Jika gue rasa kedepanya cerita gue ini sudah mengganggu siapapun, tidak menutup kemungkinan gue akan menutup threat ini,selesai ataupun belum.
9. Kalau tidak ada halangan cerita ini pasti tamat, jadi jangan tanya kapan update, pasti gue akan update sampai tamat, jika tidak ada masalah kedepanya.
10. Gue hanya manusia biasa, basicly gue bukan penulis, jadi maafkan tata bahasa gue yang semrawut atau bahkan tidak sesuai dalam penggunaanya.
11. Dan gue juga manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan, ambil segala sesuatu yang baik dalam cerita gue, dan jadikan segala yang buruk untuk pelajaran agar kita tidak melakukan hal-hal yang buruk itu.
12. Last, gue anggap pembaca sudah dewasa dan bisa bersikap selayaknya orang dewasa.


.


Jakarta, 22 Desember 2018.

Senja telah berganti malam saat mobil yang gue kendarai tiba di kawasan kemayoran. Gue masuk ke areal JI Expo Kemayoran. Saat masuk gue melihat banyak banner dan papan iklan yang menunjukan bahwa di area ini sedang dilaksanakan sebuah acara akhir tahun dengan Tag line "pameran cuci gudang dan festival musik akhir tahun". Gue tidak mengerti kenapa sahabat gue mengajak gue bertemu di sini.

Sesampainya di areal parkir, gue memarkirkan mobil. Tidak terlalu sulit mencari tempat kosong, tidak seperti saat diselenggarakan Pekan Raya Jakarta, yang penuh sesak. Sepertinya acara ini tidak terlalu ramai, atau mungkin belum ramai karena gue melihat jam masih pukul 18.35.

"Whatever lah mau rame mau sepi." Ucap gue dalam hati.

Gue memarkirkan mobil, setelahnya gue sedikit merapihkan rambut, berkaca pada kaca spion, lalu memakai hoodie berwarna hitam yang sedari tadi gue letakan di kursi penumpang, kemudian keluar mobil sambil membawa tas selempang berisi laptop.

Perlahan gue berjalan, sesekali melihat ke kiri dan ke kanan, mencari letak loket pembelian tiket berada. Akan lebih mudah sebenarnya jika gue bertanya pada petugas yang berjaga. Tapi biarlah gue mencarinya sendiri.Toh sahabat gue juga sepertinya belum datang.

Di loket, gue melihat banyak orang menggunakan kaos yang bertema sama. Banyak yang memakai kaos bertema OutSIDers, Ladyrose, dan juga Bali Tolak Reklamasi. Gue sedikit memicingkan mata, dalam hati berkata."Sial gue dijebak."

Setelah membeli tiket, gue masuk ke areal acara, melihat banyak stand dari berbagai brand. Penempatan stand-stand menurut gue menarik, benar atau tidak, sepertinya pihak penyelenggara menaruh stand brand-brand besar mengelilingi brand kecil. It's so fair menurut gue. Karena banyak acara semacam ini yang gue lihat justru menaruh brand UKM yang notabenenya belum terlalu di kenal di posisi yang tidak strategis. Dan untuk acara ini gue memberi apresiasi tersendiri untuk tata letak tiap brandnya. Walau sejujurnya butuh konfirmasi langsung oleh pihak penyelenggara tentang kebenaranya.

Gue masuk lebih dalam, mencari tempat yang sekiranya nyaman untuk gue menunggu sahabat gue yang belum datang. Sesekali berpapasan dengan SPG yang menawarkan barang dagangnya, gue tersenyum tiap kali ada SPG yang menawarkan gue rokok, kopi, dan lainnya. Dalam hati gue teringat tentang bagian hidup gue yang pernah bersinggungan langsung dengan hal semacam ini. Terus melanjutkan langkah, Gue tertarik melihat salah satu stand makanan jepang, lebih tepatnya gue lapar mata. Terlebih gue belum makan. Tapi saat gue ingin menuju ke stand itu, gue melihat ada stand sebuah merek bir lokal asal Bali. Gue mengurungkan niat untuk ke stand makanan jepang itu, dan lebih memilih untuk menunggu sahabat gue di stand bir.

Gue memesan satu paket yang di sediakan, yang isinya terdapat 4 botol bir, ukuran sedang. Gue mengeluarkan laptop gue, kemudian mengirim email kepada sahabat gue. Memang sudah beberapa hari ini gue selalu berhubungan dengan siapapun via email. Karena handphone gue hilang dicopet di stasiun Lempuyangan beberapa hari yang lalu.

"Fuck you Jon ! Gue di stand Albens, depan panggung yak. Jangan bikin gue jadi orang bego diem sendiri di tempat kek gini sendirian. Kecuali lo bajingan laknat yang ga peduli sama sahabat lo." Email gue pada Jono, sahabat gue.

Dari tempat gue duduk, gue dapat melihat panggung utama. Sepertinya dugaan gue tidaklah salah. Kalau guest star malam ini adalah Superman Is dead. Group band punk rock asal Bali. Pantas saja Jono mengajak gue bertemu di sini. Dia memang sangat menyukai musik bergenre punk rock macam green day, blink 182, SID, dan lainya.

Jujur saja, gue sebenarnya pernah menjadi Outsiders sebutan untuk fans superman is dead. Gue pernah menjadi OSD militan, yang selalu datang ke acara yang di dalamnya terdapat Superman Is Dead sebagai bintang tamunya. Tapi itu dulu, lebih dari sedekade lalu. Saat gue masih duduk di bangku SMA.

Dan malam ini, semua ingatan tentang itu semua membuncah. Berpendar hebat dalam bayang imajiner yang membuat mata gue seolah menembus ruang dan putaran waktu. Melihat semua apa yang seharusnya tidak perlu gue lihat, dan mengenang apa yang harusnya tidak perlu gue kenang. Sampai di titik tertentu gue sadar kalau gue sudah dipermainkan.

"JON, I know you so well, please please don't play with a dangerous thing. Comon Jhon I'm done. Gue balik" Gue kembali mengetik email untuk gue kirim pada Jono. Gue sadar gue sudah masuk dalam permainan berbahayanya. Dan gue tidak ingin mengambil resiko lebih.

Namun belum sempat email gue kirim. Gue melihat seorang perempuan berdiri tegak tepat di depan gue. Dan saat itu juga gue sadar gue terjebak dalam permainan konyol sahabat gue yang "luar biasa jahat".

"Haii Nat." Sapa perempuan itu.

"Fuck you Jhon, what do you think. Bitch !!" Gerutu gue dalam hati kesal.

opening sound
Diubah oleh nyunwie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
akutidakperawan dan 22 lainnya memberi reputasi
23
Tampilkan isi Thread
Halaman 10 dari 28
Senandung Black n Blue
25-06-2019 01:25

Part 3.8-a

"Cantik yah. Ga kalah dari Karina. Pinter kamu carinya."

"Ah Umma ngagetin." Sahut gue.

"Ngagetin? Umma dari tadi di sini kok kamu kaget. Hmmm." Sahut Umma.

"Umma apa sih."

"Kalian baru kenal?" Tanya Umma.

"Kenal sih udah lama, setaunan. Tapi cuma sekedar kenal ajah Umma. Dia pacarnya sahabat Nata, eh mantan heheh."

"Temen sekolah?"

"Adek kelas Umma."

"Oh gitu, cari jelas asal usulnya, takutnya Syarifah kamu sendiri yang bingung nanti." Ucap Umma.

"Lah Umma Nata ga ada apa-apa"

"Belom, hahahaha." Ledek Umma.

"Engga Umma, dia itu mantanya sahabat Nata jadi ga akan ada apa-apa. Panjang deh ceritanya. Nanti malah Umma engga jadi masak kalo dengerin ceritanya."

"Kamu bisa ajah."

Setelah sedikit mengobrol dengan Umma, gue kembali duduk bersama Baba dan Dita. Sambil menunggu Abdul yang entah kemana bersama Malik. Gue sms tidak kunjung dibalas oleh keduanya. Gue sedikit gusar, karena takut malah kelewat malam mengantar Dita pulang. Seolah mengerti kegusaran hati gue. Baba meminjamkan mobilnya untuk gue mengantar Dita.

"Thanks Ba"

...

Sunggingan senyum palsu sembunyikan kelabu
Kerut mata penanda bersupayah bendung air mata
Rona merah kaburkan makna tersipu
Diantara didihan darah yang makin membelenggu

Jauh di balik irama latar bising tangis lantang terdengar
Suara isak, mengaduh teriak bersautan nyaring dalam kedap
Mejadi dialog penutup dalam percakapan senyap
Diujung ujung akhir narasi yang mulai menguap

Bagaimana bisa seseorang yang terjerat diberikan jalan untuk memanjat?
Sementara organ penggerak tak mampu bahkan sekedar melompat.
Bagaimana bisa seseorang buta mencari arah dalam gelap?
Sementara tak ada sedikit cahaya untuk batin meraba atau sekedar menemani dalam hangat yang ramah mendekap.



"Kak gue sampe sini ajah." Ucap Dita ditengah perjalanan mengatarnya pulang.

"Ini belom sampe rumah lo!" Sahut gue.

"Gue engga mau pulang." Sahut Dita.

"Ya terus kalo engga mau pulang lo mau kemana?" Tanya gue. Sementara Dita menggelengkan kepala sambil menghela nafasnya. "Ga tau, yang jelas gue engga mau pulang ajah." Sahutnya.

Gue lalu mempercepat laju mobil sambil melihat jam tangan gue yang sudah menunjukan angka 22.08.

"Kak, ga usah ngebut-ngebut" Ucap Dita terlihat sedikit panik.

"Tenang, lo engga mau pulang kan?"

"Iya tapi kalo lo kaya gini yang ada gue pulang ke rahmattulloh." Sahut Dita.

Gue tidak menanggapi ucapan Dita. 20 menit kemudian gue tiba di sebuah gedung di kawasan Palmerah. Beruntung gue tepat waktu, saat gue tiba di parkiran, gue melihat Mas Rikky yang tengah berjalan menuju mobilnya. Gue turun dan berlari mengejar Mas Rikky, lalu menyampaikan maksud gue.

"Mas duluan yah Nat, udah malam banget." Ucap Mas Rikky.

"Iyah Mas, makasih sebelumnya."

"Hahaha, iya. Inget saur nanti, hahaha." Sahut Mas Rikky lalu berjalan menuju mobilnya. Setelah Mas Rikky mulai berjalan gue lalu mengajak Dita masuk ke dalam gedung ini.

"Ngapain sih Kak?" Tanya Dita terlihat bingung.

"Udah, gue tau yang lo butuhin." Jawab gue lalu mulai melangkah mendahului.

Tidak ada pembicaraan lagi antara gue dan Dita saat masuk ke dalam gedung tempat Mas Rikky bekerja ini. Sesekali gue melihatnya tertunduk, gue mengerti apa yang dirasakan Dita. Gue pernah juga merasakan hal yang sama. Bahkan gue pernah berada dalam posisi yang lebih antara disakiti dan menyakiti.

"Ting!" Suara lift yang disusul dengan terbukanya pintu lift. "Here we go!" Ucap gue bersamaan dengan langkah kaki menapak di lantai tertinggi gedung ini. Sementara Dita terlihat sedikit tertawa sambil menutup mulutnya seolah tidak percaya.

"Gue tau lo lagi butuh ketenangan, gue tau lo butuh tempat buat lo teriak-teriak. Di sini lo bebas teriak-teriak, lo bebas nangis sekejer-kejernya, lo bebas ngapain ajah cuma satu yang ga boleh di sini. Loncat kebawah." Ucap gue sedikit keras karena harus bersaing dengan angin.

"Hahahah, gila! Hidup gue terlalu berharga buat gue akhirin cuma karena satu cowo ga jelas!" Sahut Dita, suaranya samar oleh hembusan angin.

"HAAH? APAAN ENGGA KEDENGERAN!?" sahut gue berpura tak mendengar yang pada kenyataanya gue cukup jelas mendengar ucapan Dita.

"HIDUP GUE TERLALU BERHARGA BUAT DIAKHIRI CUMA KARENA COWO ENGGA JELAS!" Ucap Dita lebih keras.

Gue tersenyum menanggapi ucapannya. Lalu gue sedikit melangkah ke tengah kemudian duduk memandangi gemerlap malam dari ketinggian. Ini bukan hanya untuk mengobati seseorang yang bersama gue malam ini. Tapi gue kesini juga untuk mengobati diri gue sendiri.

Dita lalu mengikuti duduk tepat di sebelah gue. "Bagus yah kak pemandangannya. Lo sering ke sini yah?" Tanya Dita.

"Engga, ini baru kedua kalinya gue ke sini."

"Pertama pasti pas abis ditinggal kak Nina yah?" Tanya Dita.

Gue menggelengkan kepala. "Engga, pertama kali gue kesini sama orang yang tadi itu, pas gue lagi kangen-kangennya sama bokap nyokap gue."

"Emang nyokap bokap lo kerja di mana sih kak? Gue pernah diceritain, katanya bonyok lo kerja jauh mangkanya lo ngekos sendiri."

"Engga jauh sih sebenernya, di Cilacap doang, jawa tengah. Masih deket lah." Ujar gue.

"Emm yang tadi siapa lo kak?"

"Ipar gue, suaminya kakak gue."

Obrolan terus berlanjut, gue sengaja mencari topik-topik yang ringan. Gue juga tidak mau membahas permasalahan dia dengan Faisal, karena gue tau saat ini Dita sendang mencoba mengalihkan rasa sakitnya karena Faisal. Namun obrolan kami harus terhenti karena tetiba Dita menanyakan tentang Nina. Gue bukannya enggan menjawab, tapi karena jawaban dari pertanyaan Dita tidak pernah gue tau jawabanya.

"Sebenernya Kak Nina pergi kenapa sih Kak?" Tanya Dita.

"..."

Seolah mengerti, Dita tidak mengulangi pertanyaanya. Namun hening terlanjur hadir diantara hembusan angin yang mengisi jarak diam antara dua sakit yang berbeda rasa.

"Thanks yah Kak, udah ajak gue ke sini." Ucap Dita lirih.

"Nope, anggap ajah permintaan maaf gue atas kelakuan sahabat gue." Sahut gue sambil menoleh sedikit kearahnya yang berulang kali mengadukan telapak tanganya kemudian diusap sekujur lengan. Gue langsung melepas sweater gue lalu memberikannya pada Dita. Awalnya dia menolak namun gue bersikeras karena gue merasa gue harus bertanggung jawab pada kesehatannya karena gue yang mengajaknya ke tempat ini.

"Pake! Ga lucu kan besok lo puasa nyedot-nyedot ingus." Ucap gue pada akhirnya Dita mau memakai sweater gue.

"Makasih." Ucapnya sambil memakai sweater gue. "Sebenernya lo engga perlu minta maaf loh Kak. Mengatasnamakam siapapun engga perlu. Ini bukan salah lo, atau siapapun. Yah ini udah resiko gue." Lanjutnya.

"Maksutnya?"

"Berani jatuh cinta harus berani juga sakit hati karena itu. Yah emang ga enak sih rasanya sakit hati. Tapi bukanya itu resikonya mencintai?"

Mendengar ucapan Dita rasanya kepala gue seperti dipanah dari jarak 5 cm. Tidak terkejut karena gue melihat dengan jelas anak panah itu, tapi cukup memberikan efek stun yang panjang karena tidak ada waktu yang cukup untuk gue menghindarinya. Sebuah kalimat berbeda yang memiliki makna sama yang pernah gue dengar dari dua lidah yang berbeda.

"Sial." Gerutu gue dalam hati.

"Yah walaupun rasa sakitnya bisa menjadi hal yang nominanya relatif sesuai kuantitas cintanya itu. Karena berbanding lurus antara cinta dan sakitnya. Makin besar cinta, makin besar resiko sakitnya." Lanjut Dita.

"Saya anak IPS mbak, engga ngerti teori relatifitas. Hahahah." Ledek gue.

"Hahahaha." Dita ikut tertawa sambik sedikit meninju pelan bahu gue.

"Ok, dari ucapan lo, gue jadi punya satu pertanyaan buat lo?"

"Apa?" Sahut Dita.

"How much?"

"Gue bohong kalo gue bilang engga besar. Tapi gue percaya harapan gue jauh lebih besar."

"Harapan?"

"Yap, harapan yang membuat orang bertahan dari segala keterpurukan. Harapan yang membuat orang mampu menerjang segala ketakutan, keterbatasan, dan ketidakmampuan. Sekarang gue tanya sama lo kak, kenapa banyak orang yang mencintai begitu besar padahal dia tau resiko sakitnya juga besar?"

"..." Gue hanya menggelengkan kepala.

"Karena harapan itu Kak, karena harapan akan cintanya yang membuat orang berani tetep berjalan apapun resikonya. Gue memang sayang sama Faisal, tapi gue engga pernah menaruh harap lebih sama dia. Karena gue udah punya harapan tersendiri yang jauh lebih besar dari sekedar Isal."

"Waaww, sumpah. Ini jadi gue yang berobat sama lo." Sahut gue sambil memukul-mukul pelan paha gue sendiri.

"Ah lo jangan gitu ah Kak, terus kalo lo yang berobat sama gue, gue berobat sama siapa? Hahahaha."

"You can do that for your self, I think"

"Yah engga gitu juga Kak, setiap orang tetep bakal butuh orang lain. Kita manusia diciptain bukan buat peran tunggal."

"Hahahah bisa ajah lo. By the way harapan lo apa sih? Kalo boleh tau, mungkin bisa gue terapin buat diri gue juga kan?" Tanya gue.

Dita tidak menjawab dia hanya tersenyum sambil memandangi langit, memandangi satu titik terang yang bersinar diantara banyaknya titik terang menghiasi angkasa. Bergeming memandangi satu sudut yang sama dalam waktu yang cukup lama seolah sedang berdialog hanya saja tanpa suara.



Pukul 01.10 dini hari gue tiba di depan rumahnya Dita mengantarnya pulang. Awalnya Dita memaksa cukup sampai depan komplek rumahnya saja, tapi gue memaksa karena gue harus memastikan kalau Nina sampai di rumahnya dengan selamat. Karena gue merasa bertanggung jawab. ENTAH PADA SIAPA. Faisalkah? Atau Malik? Entahlah. Walau kalau dipikir sebenarnya tak perlu gue merasa seperti itu. Namun entah kenapa hati gue berbisik gue harus merasa seperti itu.

"Makasih yah kak sekali lagi. Ini udah sampe depan rumah gue loh." Ucap Dita menunjuk sebuah rumah yang sangat besar yang didominasi cat berwarna putih.

"Ini rumah lo? Gokil gede banget." Sahut gue. Dalam hati gue berkata "Pantas saja apa yang dikenakanya Mahal."

"Rumah bokap nyokap gue Kak."

"Iya iya, yaudah yuk gue anterin sampe dalem." Sahut gue sambil mematikan mesin mobil.

"Ih Kak apaan sih ga usah, tadi lo bilang sampe depan rumah gue ajah."

"Engga, gue harus memastikan. Kalo perlu ketumu bokap lo, minta maaf udah nyulik anaknya."

"Kak bener deh ga usah, di rumah gue rame banget. Bokap gue galak loh." Sahut Dita.

"Kalo emang bokap lo galak, lo pasti udah panik dari awal kita sampe di sini. Yuk ah ga enak nih kelamaan minjem mobilnya." Sahut gue lalu terlebih dahulu turun dari mobil.

Saat gue turun dari mobil, gue melihat kearah rumahnya Dita. Seorang pria paruh baya sigap mengamati gue, matanya tidak sekalipun lepas melihat kearah gue. Namun saat Dita turun dari mobil, raut wajahnya berubah menjadi ramah.

"Eh Non Dita, kirain siapa. Baru mau Bapak usir nih mobil parkir sembarangan." Ucap Bapak itu sambil membukakan pintu gerbang.

"Ih Pak Dade, jangan diusir dong. Kenalin ini temen aku namanya Nata ..." Sahut Dita sambil bergelayut dilengan bapak itu … "Kak kenalin ini Pak Dade, Pak Dade ini yang jagain rumah aku. Hebat loh kak Pak Dade berantemnya, Pak Dade ini udah jagain rumah aku udah lama banget, udah dari sebelum aku lahir yah Pak." Lanjut Dita terlihat sekali dia akrab dengan Pak Dade orang yang menjaga rumahnya.

"Oh bukan lama lagi Non, bahkan dari sebelum Non Irma lahir Bapak Udah ngawal si Bos hahaha." Sahut Pak Dade kemudian kami bersalaman.

"Non Irma kakak gue." Bisik Dita. "Pak di dalem ada siapa ajah?" Tanya Dita pada Pak Dade.

"Lengkap Non."

"Mampus loh Kak, hahahaha." Sahut Dita yang membuat gue sedikit menyesali ke sok gentle lan gue. "Ayok kak, katanya mau minta maaf udah nyulik gue?" Lanjut Dita.

"Haaah? Non diculik sama dia?"

"Iyah nih Pak, Smack ajah Pak. Hahahaha." Sahut Dita kemudian Pak Dade berlagak akan menghajar gue, sementara gue hanya tertawa menanggapinya.

"Eh ga usah ketawa-ketawa kamu, macem-macem sama Non Dita nih mendarat." Sahut Pak Dade sambil menunjukan kepalan tangannya yang besarnya mungkin 2 kali lebih besar dari kepalan tangan gue. Melihat itu gue hanya bisa menelan ludah kemudian mengikuti langkah Dita masuk ke dalam rumahnya.

"Bisa gue cabut lagi ga sih omongan gue? Gue langsung pulang ajah deh." Ucap gue dalam hati sambil melihat gerak pundaknya Dita yang sedang berjalan.

Gue makin deg-degan saat gue sudah berada di depan pintu rumahnya, dan makin berdebar jantung gue saat Dita membuka pintunya dan melihat banyak sekali orang di dalamnya. Sekitar ada 10 orang berada di ruang tengah rumahnya yang besar ini. 4 orang laki-laki dan 6 orang perempuan.

Bukan bukan, gue salah!

Bukan 10 orang.

Ternyata saat gue mulai masuk ke dalam rumahnya, di ruangan lain yang tidak terbatas sekat gue melihat ada 3 orang lagi. 13 orang!

"Mampuslah gue! Everybody HELP ME!"

Kedatangan Dita dan gue disambut oleh keheningan, entah memang dari awal suasana hening. Ahh rasanya tidak mungkin! 13 belas orang dalam ruangan tidak mungkin tidak ada kegaduhan. Semua mata teralihkan dari apa yang sebelumnya mereka lihat kini semua mata mengarah pada gue.

Mungkin ibarat sebuah musik. Jantung gue seperti drum yang ditabuh memainkan musik punk dengan ritme yang sangat sangat sangat sangat cepat. Gue yakin travis pun takan mampu memainkan drumnya seperti detak jantung gue saat ini.

Dita lalu salim pada beberapa orang yang ada di sini. Sementara gue diam mematung dalam posisi istirahat di tempat. Gue serius gue dalam posisi istirahat di tempat.

"Papah, Mah, Kak, kenalin ini Nata." Ucap Dita membuka suara. "Kak sini." Lanjutnya menyuruh gue mendekat.

Tau adegan di saat tali sepatu Sponge Bob tidak terpasang dan dia seperti melangkah sedemikian banyaknya ternyata dia belum bergeser lebih dari 2cm? Mungkin saat itu gue seperti itu.

"Kak ih sini." Dita menghampiri gue lalu menarik tangan gue, menggiring gue kehadapan seorang Pria yang cukup tua dengan rambut yang sudah banyak didominasi dengan warna putih. "Ini Papah aku Kak. Pah kenalin ini Nata." Lanjut Dita kemudian gue mencium tangan Papahnya.

Gue melihat Papahnya menggerakan bibirnya seperti ingin berbicaa namun diurungkanya karena Dita kini menggiring gue pada seorang wanita yang juga terlihat sudah agak tua, namun wajahnya masih tetap memancarkan kecantikan yang luar biasa. "Mah ini Kak Nata, Kak ini Mamah aku."

Dan adegan itu terus terulang berurutan; Kak Irma, Kak Cipta, Sandra, Bang Miga, Om Rian, Tante Anis, Aunty Yola, Om Hartanto, Bik Megi, Aris, dan terakhir wulan. Lengkap sudah gue berkenala dengan orang yang ada di dalam rumah ini.

Setelah berkenalan dengan Wulan, Papahnya Dita langsung terbatuk. Tentu gue tahu kalau itu adalah batuk yang disengaja. Macam seorang pengawas ujian yang sedang melihat gerak-gerik mencurigakan dari peserta ujiannya.

"Kalian dari mana?" Tanya Papahnya Dita dengan suara yang agak berat.

Gue sedikit menghela nafas dan membetulkan kembali niat gue mengantar Dita hingga ke dalam rumahnya. "Maaf om sebelumnya, kalau saya nganterin Dita nya sampai tengah malam gini. Tadi ada sedikit masalah, jadi saya harus membicarakanya. Tapi maaf salah saya sampai malah jadi ngobrolnya kelamaan." Jawab gue dengan sopan.

"Saya tanya dari mana! Bukan abis apa!" Sahut Papahnya Dita tegas, namun ada yang sedikit aneh yang gue amati. Saat itu hampir semua yang ada di sini seperti sedang menahan tawa. Tapi tetap saja respon Papahnya Dita membuat semacam hempasan buat gue.

"Dari kantor kakak saya Om, saya tadi ngajak Dita ngobrol di sana." Jawab gue dan entah dari kapan gue sudah kembali pada posisi istirahat di tempat.

"Kantor? Ko bisa ngobrol di kantor?" Tanya Papahnya Dita lagi.

"Saya butuh penengah Om, mangkanya saya ngajak Dita ngobrol di kantor kakak saya sama kakak saya juga sebagai penengah." Jawab gue berbohong.

"Penengah? Memang apa masalahnya?"

Gue sedikit bingung menjawabnya, karena gue takut kalau gue salah menjawab akan membawa masalah untuk Dita jadinya. Namun Dita yang sedang duduk di pegangan kursi yang di duduki Mamahnya menganggukan kepala sambil tersenyum seolah memberikan kode agar gue jujur saja. Semoga saja benar maksudnya begitu.

"Dita putus sama pacarnya, pacarnya sahabat saya Om…"

"Loh itukan berarti masalah Dita sama pacarnya, kenapa diselesaikanya sama kamu!" Selak Papahnya Dita.

"Maaf Om, memang itu masalah antara Dita dengan pacarnya, tapi sebagai sahabat pacarnya, ah maksud saya, saya ini sahabat dari orang yang berpacaran dengan Dita. Karena dari itu, sedikit banyak keputusan yang diambil pacarnya setelah dibicarakan dengan saya sebelumnya. Tentu saya merasa sedikit perlu membicarakan ini pada Dita, agar jelas. Dan tentu saya juga merasa sedikit bersalah mangkanya saya perlu pula meminta maaf langsung pada Dita."

"Lantang kamu bicara yah? Anak jenderal? Anak tentara? Ah atau anak Lawyer juga ini."

"Papah udah ah, kasian kan." Sambar Mamahnya Dita kemudian disambut tawa oleh seisi rumah ini.

Entah apa maksudnya, namun mendengar suara tawa yang saling bersautan gue jadi bisa sedikit menurunkan pundak, walau masih dalam posisi istarahat di tempat.

"Nata, sini duduk samping Om." Ucap Papahnya Dita, yang membuat perlahan suasana kembali hening. Namun tetap tidak menghilangkan senyum semua orang yang ada di sini. "Papah suka nih anak nih. Laki! Dibanding siapa itu Sal, Sal, Bangsal ... ah siapalah namanya Papah orang sa lupa.

"Faisal Om" Sambar gue.

"Iyah itu, jauhlah, kamu kenapa engga pacaran sama ini ajah lah Ven? Lebih gagah."

"Ih Papah apa sih." Sahut Dita.

"E Nata, dengarkan. Bukan maksud Om tadi bikin Na orang takut. Aduh keceplosan, maaf begini memang kalau sedang kumpul suka keluar sendiri Bahasa lahir aku." Ucap Papahnya Dita. "Gini, bukan maksud om membuat kamu takut, tidak. Om tidak pernah melarang siapapun anak-anak om yang canti-cantik ini bergaul dengan siapapun, dengan preman kek, dengan tukang jagal, anak tentara atau siapapun haah tapi mesti diingat. Om juga orang tua yang punya rasa khawatir, jadi Om harus tau juga pada siapa anak-anak Om bergaul, berteman semacamlah. Senang Om sama kamu nih, berani, tanggung jawab, sopan, mau minta maaf dan tau kesalahan. Haah untuk kali ini Om maafkan kamu ngajak si Olven pulang sampai larut. Sudah tahu lah Om permasalah si Olven sama si Bangsal itu. Om juga makasih kamu udah hibur anak Om yang sedih. Sedih kah ngana Ven putus sama Bangsal?"

"Faisal Pah namanya, engga sedih dong. Buat apa sedihin laki-laki yang engga setia." Sahut Dita.

"Haah good, cantik lah anak papah." Sahut Papahnya Dita. "Nah sekarang Om mau tanya, kamu ini anaknya siapa? Rumah nya di mana?" Lanjut Papahnya bertanya pada gue.

Gue lalu menjawan pertanyaan Papahnya Dita dengan sebenarnya-benarnya. Dan harus gue akui, gue tidak akan bisa apa-apa dan menjadi apa-apa tanpa Kedua Orang Tua gue dan Bella.

"Ah Om kenal Ayah kamu, baru bulan Mei kemarin kita kontrak kerja sama dengan tempat Ayahmu kerja, sempat dia mengundang Om makan malam, tapi Om merasa tak enak hati untuk datang, karena Om baru kenal dengan Ayahmu. Takut disangka KKN haah kamu pahamlah nanti kalau sudah bekerja dan berurusan dengan aset pemerintah. Repot." Ucap Papahnya Dita.

Gue merasa dunia sangat sempit buat gue. Sedikit menyebalkan karena gue selalu merasa tidak bisa lepas dari bayang-bayang bokap gue maupun Bella. Jujur gue ingin gue dikenal sebagai diri gue sendiri. Bukan gue anak si anu atau gue adik si itu atau gue si iparnya ini. Biar sedikit menyebalkan gue juga harus bersyukur karena banyak hal, itu mempermudah hidup gue.

Suasanapun berubah 180 derajat lebih hangat, lebih friendly dan lebih banyak canda tawa. Setelah selesai Papahnya Dita, kini berganti Mamahnya, Kakaknya, serta tante dan Omnya melemparkan pertanyaan-pertanyaan aneh pada gue. Aneh, karena memang benar aneh. Kak Irma contohnya, dia menanyakan pada gue kapan gue akan menembak Dita.

GILA! Gue bukan orang tipe orang yang ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan!

Benarkah? Entahlah.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
hayuus dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Senandung Black n Blue
25-06-2019 01:34

Part 3.8-b

Aku pernah menimbang terang dalam langit malam
Menimbang hingga bimbang, menjerumus aku semakin dalam
Semakin dalam pada keraguan antara batasan garis imajinasi dan realitas yang terus memudar di tengah pembatas
Saat aku tak merindu, kamu terbang menembus khayalku
Saat aku dilanda rindu, aku masih membelenggu pada pekat yang terus ku hadap dalam ruang kedap
Mengecap getir dalam lorong lembab yang kian senyap



Beberapa hari setelahnya, sekolah mulai kembali aktif setelah libur beberapa hari di awal Romadhon. Gue berangkat ke sekolah dari rumah Abdul pukul setengah tujuh pagi. Walau sekolah gue saat Romadhon masuk pada pukul setengah delapan, gue sengaja berangkat satu jam lebih awal karena gue takut terjebak macet di perjalanan. Namun ternyata gue salah, jalanan sama sekali tidak padat, justru terkesan lengang. Gue lupa kalau gue berlawanan arus dengan jam sibuk pekerja. Kemacetan terjadi di arah sebaliknya. Alhasil gue hanya butuh 20 menit untuk tiba ke sekolah. Tapi gue rasa itu bukan karena jalanan lengang saja, metromini yang kebut-kebutan juga menjadi penyebab perjalanan gue ke sekolah lebih cepat.

Suasana sekolah tidak seramai biasanya, entah karena belum semua murid datang, atau karena mereka sedang puasa. Opsi kedua gue ragukan. Namun apapun faktornya, gue menyukai atmosfir sekolah seperti ini, sepi, hening, tidak ada suara-suara cempreng nan bising, tidak ada suara-suara teriakan-teriakan jahil. Suara lidi yang beradun gesek dengan tanah, suara kicau burung milik penjaga sekolah, ditambah langit yang begitu cerah hingga penampakan gunung-gunung yang menjadi hilir sungai/kali di Jakarta terpampang indah sungguh membuat hati menggugah.

Adakalanya Jakarta akan jauh lebih indah dari semua kota yang ada di Negeri ini.

Gue menghembuskan nafas panjang, menghirup udara pagi yang rasanya jarang sekali gue nikmati dengan seperti ini. Beruntung kelas gue menghadap ke selatan, jadi gue bisa menikmati segala pemandangan indah ini. Di tengah diam, mata gue teralihkan pada seorang perempuan yang baru saja masuk dari pintu gerbang. Mata gue teralihkan, pemandangan indah di ujung selatan gue abaikan, gue lebih memilih memandangi dia yang berjalan pelan membelah lapangan. Entah kenapa gue merasa dia lebih indah dari sejuta panorama.

"Udah jangan ragu." Faisal tiba-tiba berada di samping gue, berdiri sejajar namun berbeda menghadap. Dia memilih membelakangi apa yang gue lihat.

"Ngaco lo." Sahut gue. Lalu Faisal membalikan arah hadapnya. Seolah menyadarisedang diamati, Dita yang berjalan di tengah lapangan menoleh ke arah gue dan Faisal berdiri lalu dia tersenyum sambil menganggukan kepalanya seolah menyapa. "Tuh lo liat, dia masih nengok ke arah lo." Lanjut gue.

"Bukan gue, tapi lo. Ayolah gue tau lo suka dia." Sahut Faisal.

"Just I like. Sekedar suka ajah Sal, itu juga dulu banget…"

"Ciah ilah dulu banget! Engga pake dulu banget kali." Sambar Faisal. "Kemaren nganterin sampe rumahnya?" Tanya Faisal. Gue menganggukan kepala. "Ketemu Bokapnya?" Tanya Faisal lagi dan gue menganggukan kepala lagi.

"Ga tahan Do gue di rumahnya!" Sahut gue.

"Loh kenapa? Bokapnya kan asik, nyokapnya juga, asik-asik keluarganya ah." Sahut Faisal heran.

"Iya, ga tahan gue cantik-cantik semua isi rumahnya, gila! Apalagi adeknya, huaaaaaa itu kek bidadari nyasar njir."

"Kampret! Hahahahaha. Masih SMP ngai pedo lo!"

"Kelas tiga Ngai! Yaaa ga jauh lah umurnya" Sahut gue lalu sekali lagi menarik nafas panjang. "Haaaah ngana brengsek juga tau keluarganya Dita se bagus-bagus Ngana ga pernah bilang ke kita orang. Hahahahah." Lanjut gue menirukan logat Manado Papahnya Dita.

"Hahahah, anjrit!" Sahut Faisal lalu dia berbalik arah menghadap sambil menghela nafas panjang. "Lo tau ga kenapa gue lebih milih Sarah dibanding Dia!?" Tanya Faisal.

"Yah karena Sarah bisa jadi apa yang lo mau sekarang kan?"

"Selain itu ada lagi" Jawab Faisal sambil memandangi ke arah Dita yang baru saja tidak terlihat karena dia masuk ke lorong menaiki tangga.

"Apa?" Tanya gue. Faisal tidak langsung menjawab, dia kini melihat ke arah di mana Dita akan terlihat lagi setelah menaiki tangga.

Tidak lama Dita kini terlihat lagi, dan dia kembali menoleh ke arah gue dan Faisal, kembali memberikan kami senyum yang sama. "Karena matanya engga pernah lepas dari satu titik yang sama, bahkan saat seharusnya dia udah ngeliat titik yang beda, dia masih setia ngeliat titik yang sama." Ucap Faisal lalu membuang pandang dari Dita yang berjalan mendekat. "Dia dari dulu suka sama lo Ngai, bahkan pas jadian sama gue, dia tetep terus suka sama lo." Lanjut Faisal, lalu obrolan kami terhenti karena Dita kini hanya berjarak beberapa langkah dari kami.

"Pagi Kak Nat…" Sapa Dita lalu berhenti di hadapan gue, kemudian melihat ke arah Faisal. "Pagi Kak." Sapa Dita ke Faisal.

Faisal hanya mengangguk tersenyum, kemudian Faisal terlihat ingin pergi, namun buru-buru gue memegangi tangannya, menahannya.

"Kak ini sweater kakak lupa, keasikan" Ucap Dita sambil memberikan sweater gue yang malam itu lupa gue pinta kembali saat di rumahnya.

Sweater gue terlipat rapih, saat gue terima terasa lebih lembut. Dita pasti mencucinya dulu sebelum dikembalikan. "Aturan ga usah lo cuci, jadi ngerpotin." Ujar gue.

"Enggalah, masa minjem bersih balik kotor." Sahut Dita.

"Yah tapikan lo …"

"Yaudah yah Kak gue balik ke kelas. Byeee." Sahut Dita memotong ucapan gue. Lalu dia berjalan kembali menuju ke kelasnya. Setelah Dita pergi gue langsung melepaskan tangan Faisal.

"Ga usah gitu Ngai, jangan udah putus terus lo ngindar." Ucap gue.

"Ye pelet lele, gue engga ngindar gue niatnya mau ngasih ruang buat lo berdua, hahaha." Sahut Faisal.

"Udahlah apaan sih lo, engga Ngai, gue engga mau ada dusta lagi diantara kita, udah cukup gue sama Jono. Buat pelajaran."

"Lah kalo kasus lo sama Jono, lo ajah pada berdusta."

"Terus lo merasa engga ada andil peran? Merdeka bener idup lo Sat! Eh patkai, yang punya ide ga cerita Jono udah pacaran sama Nina siapa!!"

"Heeheheh" Sahut Faisal cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalanya. "Yah tapi tetep ajah sekarang beda kasusnya Congai! Gue udeh putus, lo engga nikung gue, gue ikhlas. Malah gue berharap lo bisa jadian sama Dita, dari pada Dita harus jadian sama Malik. Gue lebih redo kalo Dita jadian sama lo!" Ujar Faisal.

"Lo salah, Malik engga bakal jadian sama Dita, lo engga kenal Malik."

"Yah okeh, anggaplah begitu. Tapi tetep ajah, sama siapa Dita gue engga rido, gue cuma rido kalo Dita pacaran sama lo. Karena emang gue tau Dita suka sama lo dari awal. Gue juga tau lo suka sama dia dari awal! Ah ayolah Nat, apalagi?"

Gue menghela nafas panjang. Lalu kembali melihat panorama gunung di sebelah selatan yang pempakannya sudah agak samar. "Sal lo tau Dita suka sama gue? Terus perasaan lo gimana kalo lo pacaran sama orang. Orang itu lebih sayang sama orang lain ketimbang lo?" Tanya gue.

"Sakit lah!"

"Nah tuh lo tau sakit. Dan gue engga mau nyakitin siapapun."

"Maksud lo? Aahhh Conge jangan bilang Nina? Ayolah mau sampe kapan? Jangan Naif …"

"Gue engga Naif, gue Peterpan."

"Ye becanda begok! SERIUS!!"

"Jadi Naif apa Serius?"

"Au ah semerdeka idup lo ae Sat."

"Sal, gue engga janji tapi bakal gue coba." Ucap gue.

"Maksudnya?" Tanya Faisal bingung.

"Someone teach me a little light hope can take you something that you can't think before. Bagaimana orang bisa bangkit dari keterpurukan, bagaimana orang bisa menerjang semua batas yang menghalang, bagaimana orang bisa tetep bisa mengecap manis walau tenggelam dalam kolam air pahit. I see that ! Cahaya kecil yang mungkin nantinya bisa menuhin hati gue dan menutup semua cahaya sebelumnya. But I need time to make sure. Seengganya sampe gue yakin gue bisa ngenggep dia lebih spesial dari orang sebelumnya." Jawab gue lalu Faisal menepuk lembut pundak gue.

"Gue berharap secepetnya, karena gue ga mau liat dia terus-terusan natap titik yang semu."



Kadang gue tidak mengerti bagaimana ada konsep cinta tak harus memiliki. Menurut gue munafik, mengatakan rela melihat orang tercinta bahagia walau tidak berasamanya. Bagaimana bisa orang tidak bahagia bersama orang yang tidak dicintainya? Jika seseorang lebih bahagia bersama orang lain, berarti cintanya bukan untuk mu, melainkan untuk orang lain. Karena jika cinta tak mungkin tak bahagia bila bersama bukan? Lalu untuk apa masih mencintai orang yang tidak mencintaimu? Rela tak bahagia demi kebahagian orang yang tidak mencintai mu? Haah! BODOH namanya!

"Lo salah kak, ada orang yang saking cintanya bahkan dia rela ngelakuin apa ajah asal orang yang dicintainya bahagia bahkan kalo harus hidup tanpa orang yang dicintainya itu!" Ucap Dita di tengah pembahasan gue dengannya tentang konsep cinta tidak harus memiliki. Dalam sebuah restoran jepang yang berkonsep open kitchen yang ada di kawasan setia budi building. Di malam ke tujuh Romadhon tahun ini.

"Yang salah itu orangnya dia salah cinta sama orang yang malah cinta sama orang lain. Sekarang gimana bisa, orang ngaku cinta tapi engga bahagia sama orang yang katanya dicinta. Ngaco ajah." Sahut gue sambil mengaduk-ngaduk ramen berukuran super besar yang ada dihadapan gue.

"Ih tau ah, susah ngomong sama lo. Samanya sama Papah suka balik-balikin omongan. Pantes Papah girang! Nemu bakat lawyer muda ternyata!"

"Lah emang benerkan gue. Lagian siapa sih yang nyiptain konsep cinta ga harus memiliki, sumpah kalo gue tau, gue kecup keningnya, gue jitak palanya, terus gue bisikin sama dia gini 'eh gara-gara lo banyak orang menyedihkan ngupil meratapi nasib dipojokan bumi' dia harus tanggung jawab tuh sama banyaknya penggundulan hutan."

"Ih kok jadi ke penggundulan hutan sih! Makin ngaco deh lo Kak lama-lama."

"Iyah jadi banyak tissue yang dipake buat ngelap air mata, bersiin bekas upil, banyak kertas yang dipake buat oret-oretan, buat nulis-nulis puisi sakit hati karena cinta engga harus memiliki."

"Salah satu orangnya elo yah Kak, upss hehehehe peace."

"Ye kalo gue sih engga gitu."

"Masa? Ngomong sama ember kak, ngomong sama hutan yang gundul atau ngomong sama kertas yang kakak pake buat gambar sketsa graffity, ngomong sama kertas yang kakak pake buat maen bola kertas sama Kak Jono, ngomonng sama kertas yang kakak lipet-lipet kecil terus taro di kaos kaki buat contekan pas ulangan atau ngomong sama kertas yang kakak bikin jadi catetan judi tebak score bola sama anak-anak yang sering nongkrong dibelakang!"

"Kayaknya lo yang lebih berbakat jadi lawyer deh, hahahaha."

"Huuh dasar! Udah gini ajah ngeles kaya bajaj! Hahahaha" Ujar Dita lalu mulai melahap makanan yang ada dihadapannya. Sementara gue hanya mengaduk-ngaduk ramen yang ada di depan gue yang dari melihatnya saja gue sudah membayangkan bagaimana rasa pedasnya.

Jujur gue tidak begitu menyukai makanan pedas. Terakhir gue makan pedas saat masih bersama Karina, dan itu membuat gue selama hampir satu jam mandi keringat serta bibir gue terasa menebal. Tapi gue mau tidak mau harus memakanya untuk menghargai Dita yang mentraktir gue malam ini karena katanya untuk membalas jasa gue pada malam sebelumnya saat dia putus dengan Faisal. Dan gue menyesal memilih ramen, hanya karena gue teringat serial cibi maruko can yang sedang makan ramen dengan sangat bahagia di salah satu episodenya, tapi gue tidak bahagia memakan ramen ini. Gue menderitaaaaaaaaaaaa!!!

"Lo kenapa engga bilang kalo engga kuat pedes Kaa!?"

"Hufff haaaaaa, huuuu haaaaa," Gue tidak merespon ucapan Dita, hanya bisa terus-terusan mengembuskan udara melalui mulut agar sedikit mengurangi rasa terbakar di lidah dan sesekali gue membasahi bibir dengan lidah. Karena yang terasa terbakar bukan hanya lidah dan bibir. Cacing-cancing dalam perut gue juga rasanya sudah sedikit terbakar hingga menggeliat dan membuat gue mulas. Sialnya gue mulas dalam perjalanan pulang mengantar Dita kembali ke rumahnya.

Akhirnya gue menepi di salah satu mini market, mobil belum terparkir sempurna tapi benar-benar hampir tak kuat menahan sesuatu akan berontak keluar tanpa perlawanan jika lebih lama lagi gue menahan. Gue pun akhirnya langsung keluar mobil milik Abba yang gue pinjam, lalu menyuruh Dita untuk menunggu di mobil saja. Untung saja pegawai minimarket ini baik hati membolehkan gue menggunakan toiletnya. Bayangkan saja kalau dia iseng atau jahat! Ahh entah jadi apa gue.

Di dalam toilet gue benar-benar mengutuk diri gue sendiri yang memilih ramen yang berujung pasti berkurangnya value image gue di mata Dita. Gue sudah pernah bilang, kalau jaim buat gue itu penting! Karena image is number one.

Setelah selasai bergulat dengan sisa-sisa pencernaan yang memberontak dan hampir mengintervensi kendali diri gue atas saluran pencernaan. Gue keluar toilet dengan pasrah namun senyum gue sumringah karena rasanya badan gue sedikit berkurang beban. Gue sedikit terkejut melihat Dita yang berdiri di depan kasir sambil memakan es krim kemasan cup, sambil memegangi kantong plastik putih yang dikaitkan di jarinya.

"Gue suruh tunggu mobil juga." Ucap gue sementara Dita hanya tersenyum sambil menggigit sendok kecil yang terbuat dari kayu, kemudian dia melangkah keluar minimarket. Tentu sedikit basa-basi dengan pegawai minimarket ini gue juga mengucapkan terimakasih. Tidak lupa gue membeli rokok, agar tidak begitu malu, sebagai syarat saja. Karena rasanya tidak enak kalau ke minimarket hanya numpang ke toiletnya saja tanpa membeli apa-apa. Bahkan sampai sekarang gue menulis ini, kebiasaan ini masih belum hilang.

Sekali lagi gue terkejut saat keluar minimarket gue melihat mobil yang sebelumnya tidak gue parkirkan dengan sempurna, kini sudah terparkir sempurna. Gue lalu masuk ke dalam mobil setelah membayar uang parkir pada juru parkir indomaret ini.

"Ini lo yang markirin?" Tanya gue, Dita hanya menganggukan kepala. "Waaw" Sahut gue terkagum karena menurut gue jarang ada perempuan, terlebih masih SMA yang bisa memarkirkan mobil dengan baik. Bahkan gue butuh waktu berbulan-bulan dan berpuluh-puluh kali percobaan dari pertama gue belajar menyetir mobil untuk bisa memarkir dengan benar.

"Nih kak?" Ucap Dita memberikan gue sebuah susu sapi kemasan kaleng bernama susu beruang.

"Apaan nih?" Tanya gue dengan bodohnya sudah jelas-jelas gue melihat apa yang diberikan Dita.

"Kakak ngeliatnya apa?"

"Susu beruang."

"Nah."

"Maksud gue, buat apa?"

"Buat diminum kakak, biar perutnya enakan. Aku …"

"Akuuuuu!???" Celetuk gue karena sedikit kaget Dita merubah kata gue dengan aku.

"Eh, sorry maksud gue …"

"Gapapa kok, toh tujuan gue ke sana." Sambar gue lagi sambil memandangi bola matanya yang sungguh membuat gue seperti hanyut kedalam ritme keindahan ciptaan Tuhan yang sempurna.



Bola mataku menemui bola matamu, beberapa detik aku ragu aku masih di dalam bumi tinggalku. Sebentar aku meragu, mengulang kembali ingatanku.
Sebentar…
Yaa...
Aku ingat pernah mengujungi sebelumnya tanpa sengaja!
Sebuah tempat aku terjatuh aku gembira
Sebuah tempat aku terluka aku tertawa
Sebuah tempat yang tak aku tahu arahnya namun tak pernah aku pangling indahnya.
Aku sempat meragu, aku dapat kembali pijaki tempat itu
Aku tak pernah tahu, aku hanya terjatuh kala itu.
Tak meragu, kini aku takan lagi meragu
Aku sudah temukan jalan menuju tempat dalam mimpiku
Bolla matamu.




"PRIIITTTTT PRIIIIITTTT!!!" Suara peluit juru parkir memecah hening diantara gue dan Dita. Sontak gue melepas jemari Dita yang gue genggam lalu mulai mengatur posisi perseneling, sementara Dita langsung duduk bersandar. Tersenyum memegangi bibirnya dan merona merah pipinya. Gue mulai melajukan mobil menuju ke rumahnya dengan perasaan yang sangat sulit gue jelasnya.

Kurang dari 20 menit kemudian gue tiba di rumah Dita, dan selama itu tidak ada percakapan yang terjadi antara gue dan Dita. Sepertinya apa yang gue lakukan salah hingga akhirnya Dita tak mengeluarkan suara. Gue mengantar Dita hingga ke depan pintu rumahnya.

"Ta/ka."  Suara kami beradu, menyatu dengan suara pintu yang dibuka Dita sebelum dia masuk.

"Kakak Dulu." Sambar Dita, menutup kembali pintu rumahnya.

"Engga Dita dulu, kan ladies first!" Sahut gue.

"Laki-laki yang gentle itu laki-laki yang berani nuntun bukan dituntun, yang berani mulai narik buat jalan, bukan yang didorong dulu baru jalan." Ucap Dita sambil menyandar di pintu rumahnya.

"Okeh, okeh, huuuuuff" Gue menghela nafas sejenak. "Maafin gue.. Emm engga. Maafin aku yang tadi, aku ga bermaksud…"

"Kenapa minta maaf kalau tujuan kakak bener kesana. Toh cepat atau lambat bakal terjadi jugakan? Kecuali kalau kakak pembual, haruslah minta maaf dan anggap aja tadi itu say thanks dari aku." Sambar Dita.

"No, aku beneran sama apa yang aku ucapin, justru aku nyesel kenapa baru sekarang, kan kalau dari awal aku ga harus ngerasain apa yang aku rasain sama Nina." Sahut gue namun Dita langsung memalingkan wajahnya.

"Jadi, aku buat pelarian dari Kak Nin ajah?"

"Engga Ta, engga! Aku suka kamu, jujur aku suka kamu dari awal kita ketemu di kantin pas kamu baru masuk ke sekolah kita. Aku udah suka kamu, tapi saat itu aku engga berani nyatain itu, karena …"

"Karena masih ada Kak Nina kan?"

"Engga Ta, bukan itu. It's a long stor, need a ...

"Okeh, it's a long stor, I have so many times to listen YOUR LONG STOR!!"

Gue lalu menghela nafas, kemudian duduk di kursi yang ada di teras rumah ini. Dita mengikuti, dia duduk di kursi di sebela gue. "Aku bingung harus mulai dari mana." Ucap gue.

"Ya jelas bingung. Karena Kakak masih terlalu cinta sama Kak Nina." Sahut Dita.

"Engga gitu Ta …"

"Jelas begitu Kak!" Sambar Dita dan lagi mata kami bertemu.

Mata mu memberi jalan,
Namun sayang mataku mengikatku pada sesuatu jeratan yang aku ciptakan sendiri yang menjebakku masuk ke dalam kamu.


"Kak, aku tau perasaan Kakak gimana ke Kak Nina gimana, aku mungkin juga tau perasaan Kakak ke aku gimana. Mungkin eh pasti, Kakak tau juga perasaan aku. Tapiii aku engga mau kalau aku cuma jadi pengalihan kakak dari apa yang Kakak rasain, begitu juga aku engga mau jadiin kakak sekedar pengalihan dari apa yang baru ajah aku rasain."

"..."

"Mungkin aku terlihat agresif, mungkin juga kakak nilai aku terlalu mudah. Tapi aku ga bisa bohong, aku ga mau ini sia-sia. Karena aku udah nunggu ini cukup lama. Dan itu, aku engga mau ini cuma jadi pengalihan rasa kita. Yang akan berakhir sama ujungnya."

"Engga Ta, aku engga pernah nilai kamu kayak gitu, you're something special."

Dita menggelengkan kepalanya pelan. "No, belum aku tau aku belum jadi yang spesial buat kamu Kak. Aku tau Kak Nin masih terlalu besar buat Kak."

"Engga Taa…"

"Engga Kak! Aku tau"

"Yaudah, sekarang tolong ajarin aku gimananya caranya bikin kamu spesial buat aku."

"Dengan senang hati." Sahut Dita, lagi lagi mata kami bertemu kembali lagi.

Tolong aku!
Aku ingin berlari ke tujuanku
Tolong aku!
Aku ingin masuk ke tempat indah itu
Tolong aku!
Aku ingin hanya mencintai mu
Tolong aku dengan senang hati
Agar aku bisa membuat lelucon dari bekas luka ini
Dan terimakasihku untuk nanti
Untuk apa yang kamu berikan dengan senang hati


Gue sedikit menundukan kepala, mensejajarkan tinggi wajah kami berdua. Syahdan kedua wajah kami sejajar dan hampir tak berjarak. Dia langsung membuat jarak kembali melebar, sambik teripu malu dengan ranum merah muda dipipinya. Jarinya mengarah pada satu sudut di atas tempat kami berdua berada.

"Kak ada CCTV hehe" Ucap Dita sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya kemudian masuk ke dalam rumahnya dengan segera.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
hayuus dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Senandung Black n Blue
25-06-2019 01:46
Quote:Original Posted By DanyMartadinata
Yang punyanya Bang Putra ?iya udah baca dari tahun kemarin, trus baca dari awal lagi karna agak lupa haha emoticon-Nohope


Hehehe, tapi emang keren ceritanya. Gak pernah bosen juga bacanya.

Quote:Original Posted By ariid
Ini para tokoh yang mantengin ini thrit berapa persen?


Emmmppp, hampir semuanya baca. Hampir yah, karena mantan-mantan ane yakin sih engga. Engga tau maksudnya wkwkwkw. Tapi tenang mereka ga akan komen, ada sih satu Kutu lepas, sempet komen, tapi udah ga akan komen lagi kok. Udah diomelin wkwkwkw

Quote:Quote:Original Posted By Alea2212
Nata mulai mikirin Dita nih. emoticon-Ngakak


Quote:Original Posted By mirzazmee
Sepertinya Nata mulai berubah arah ke Dita nih


Yah begitulah kadang hidup "Easy come hard to go" wkwkwkwk emoticon-Ngakak
profile-picture
yusufchauza memberi reputasi
1 0
1
Senandung Black n Blue
25-06-2019 02:11
Quote:Original Posted By nyunwie

Emmmppp, hampir semuanya baca. Hampir yah, karena mantan-mantan ane yakin sih engga. Engga tau maksudnya wkwkwkw. Tapi tenang mereka ga akan komen, ada sih satu Kutu lepas, sempet komen, tapi udah ga akan komen lagi kok. Udah diomelin wkwkwkw

Bisa dimengerti. Ane gak komeng cerita percintaannya. Ane cuma mau bilang kalo kebelet boker segeralah menepi. Daripada ntar berserakan di mobil yang ada tengcin aman tegeban emoticon-Ngakak (S)emoticon-Ngakak (S)






emoticon-Ngaciremoticon-Ngacir
Diubah oleh ariid
0 0
0
Senandung Black n Blue
25-06-2019 02:53
ternyata terpantau sama cctv yah? gagal deh acaranya.... wkwkwkwk emoticon-Leh Uga
0 0
0
Senandung Black n Blue
25-06-2019 04:43
Quote:Original Posted By nyunwie
Hehehe, tapi emang keren ceritanya. Gak pernah bosen juga bacanya.



Ya sih emang, toh udah mulai aktif lagi tuh buat update bang Putranya Nat emoticon-Big Grin
Ayo dah dikelarin, kan harus kelar sebelum anak ke 2 lahiran hahaha emoticon-Leh Uga
0 0
0
Senandung Black n Blue
26-06-2019 17:40
Cctv menggagalkan adegan mesra emoticon-Ngakak (S)
0 0
0
Senandung Black n Blue
28-06-2019 00:57

Part 3.9

Suatu malam minggu di romadhon yang sama, di bawah langit tak berhias, di atas tanah tak beralas, di antara daun-daun tanggal, di antara tatapan janggal. Gue duduk bersandar pada batang yang rapuh. Menyaksikan dengan sekilas, beberapa anak remaja laki-laki seusia sama berlari ke kanan lalu ke kiri silih berganti memperebutkan suatu benda bulat dengan penuh semangat. Tak peduli beberapa kali mereka beradu kaki, mereka tetap akan bersorak teriak girang saat bola masuk ke dalam gawang.

Seperti mereka yang tak perduli pada sakitnya beradu kaki. Gue lebih tak peduli dengan apa yang mereka lakukan. Yang gue peduli sekarang adalah berbalas pesan melalui telepon genggam.

"Woi bencong! Maen! Smsan mulu!" Teriak Abdul sedikit terengah dari tengah lapangan.

"Ogah, lo maen bola padaan. Maen Basket gue mau." Sahut gue tanpa merubah posisi. Teman-teman gue yang lain terus memaksa gue ikut bermain, karena memang sedari tadi mereka bermain jumlah mereka ganjil. Permainan tidak seimbang, karena satu tim berjumlah 6 orang, serangkan tim lainya berjumlah 5 orang. Gue terus menertawakan mereka yang terus meminta gue bermain. Jujur, gue sangat tidak mahir bermain sepak bola. Gue lebih suka menonton dan menikmati permainannya saja. Lain hal kalau bermain basket, gue lebih suka memainkanya dari pada hanya duduk menonton saja. Tapi bukan karena itu sebenarnya gue enggan bermain saat ini. Ada hal yang jauh lebih menyenangkan dari semua yang telah gue sebutkan. Yap, berbalas pesan dengan Dita jauh lebih menyenangkan dari pada bermain sepak bola atau basket sekalipun.

Gue terus menolak ajakan teman-teman gue untuk bermain sepak bola. Gue tidak peduli mereka mengatai gue bencong, lembek, lemah atau apalah yang serupa yang penting hati gue senang walau tak punya uang (BOHONG!)

Entah sudah berapa banyak gue berbalas pesan dengan Dita, tiba-tiba gue merasa suasana semakin hening. Tidak terdengar decitan-decitan sepatu, atau suara bola yang beradu dengan kaki atau tembok atau pagar atau mobil yang ada di sekitar lapangan. Gue pun menegakan kepala yang langsung disambut sorakan dan ledekan teman-teman gue yang entah sejak kapan duduk menghadap ke arah gue seperti sedang menyaksikan pertunjukan wayang dan gue menjadi dalangnya.

"Hahahah, sorry sorry. Yok maen yok." Ucap gue karena akhirnya merasa tidak enak hati sibuk sendiri.

"Ehh kurap! Kite dari sejam yang lalu maen, lo baru ngajakin maen. Lo ae sendiri sono gantian, kite smsan!" Sahut Abdul sambil meluruskan kedua kakinya.

"Auu, takut banget pacar lo ngambek ape!" Sahut teman gue lainnya yang memicu reaksi yang sama dari teman-teman gue yang lainnya.

"Yah suseeh deh kalo ada di tengah-tengah jomblo-jomblo sisa obralan. Hahahah." Ledek gue pada teman-teman gue. Suasana pun kembali ramai dengan canda tawa kami semua, walau tidak bermain sepak bola. Rasanya suara kami kali ini lebih berisik dan ternyata gue keliru tentang hal yang lebih mengasyikan. Mengisi waktu bersama teman-teman jauh lebih menyenangkan dari pada menunggu balasan sms gebetan. Tapi kalau sudah dibalas, tentu lebih mengasikan membuat dialog pecakapan text dengan gebetan. Haaah dasar!!

"Maaf Kak, baru bales. Tadi aku disuruh Mamah, kamu masih di lapangan?" Gue membaca sms masuk dari Dita dalam hati.

"Dul Dul, liat noh mulai, hahaha." Ucap Ajay salah satu teman rumah gue.

"Sianjing emang!" Sahut Abdul sambil melempari gue dengan handuk kecilnya lalu dia bangkit dari duduknya.

"Yee bangkek, lepek anjir!" Sahut gue melempar kembali handuk kecilnya Abdul ke arah teman gue yang lain. "Lo mo kmane Nge?" Lanjut gue bertanya karena sepertinya Abdul akan pergi.

"Ngambil bedug." Sahut Abdul.

"Gue ae Dul yang ngambil, lo sini ae." Sahut Ajay lalu Ajay mengajak dua orang teman gue lainnya untuk membantunya, sementara Abdul kembali duduk dan berkata. "Kebetulan, hahahah."

Gue dan teman-teman sebaya di sekitar perumahan tempat gue tinggal mempunyai tradisi saat bulan Romadhon. Kami biasa berkeliling membawa dan menabuh beduk untuk membangunkan sahur, hal itu sudah kami lakukan sudah dari kecil, walau saat itu kecil kami hanya membuntut abang-abangan kami. Tapi sudah sejak SMP kami yang menjadi motor penggerak tradisi lama itu. Sempat terhenti di tahun sebelumnya, karena gue melewati romadhon sebelumnya di kosan. Tradisi ini sedikit gue rubah, gue menambahkan beberapa peraturan tentu dengan terlebih dahulu berunding dengan yang lainnya. Kami sepakat atas usul gue menambahkan peraturan. Sebelumnya kami keliling begitu saja, semaunya, trek yang kami lalui yah semau kami yang kadang memicu gesekan dengan kelompok remaja lain, salah satunya kelompoknya Malik. Namun mulai romadhon ini kami sepakat mempersempit rute, hanya sekitaran RW kami saja, tidak sampai menyebrang ke RW lain agar tidak menimbulkan gesekan. Dan mulai romadhon ini juga kami membuat jadwal tugas, jadi tidak selalu dia-dia saja yang harus letih menarik gerobak yang diatasnya terdapat beduk yang berat, biasanya orang itu orang yang paling sering dibully, namun mulai tahun ini kami membagi tugas. Kami juga menetapkan denda bagi yang tidak ikut berkeliling mulai tahun ini, denda itu akan meningkat 10kali lipat jika tidak ikut dihari mendapat tugas menarik gerobak. Denda yang kami sepakati bukan untuk memaksa, tapi lebih untuk bertanggung jawab pada tugas, toh uang denda yang kami dapat nantinya kami gunakan untuk malam takbiran.

"Jadwal lo narik kan sekarang?" Tanya gue pada Abdul.

"Iyeh." Jawab Abdul singkat, lalu dia mengeluarkan handphone Blackberrynya kemudian dia memainkan kedua jempolnya diatas keypad handphonenya.

"Anak-anak SMP jadi SOTR lusa Dul?"

"Jadlah. Pegimane ente!" Jawab Abdul tanpa menoleh sedikitpun.

"Oh, siapa ajah yang ngikut?"

"Banyak."

"Joval ngikut?" Gue menanyakan salah satu teman smp gue.

"Ikut."

"Gery?"

"Ikut."

"Dinda!?"

"Ikut."

"si anu… Si itu … Si ini … Si bla bla bla bla" Tanya gue banyak, dan setiap gue bertanya Abdul tetap menjawab dengan kata "Ikut, iye, hem, ho oh." Tanpa sedikitpun menoleh ke arah gue bicara.

"Gue ga ikut yee!?"

"Iye." Jawab Abdul masih tidak melihat ke arah gue bicara fokus pada bb nya, tidak menyadari pernyataan gue. "Yesss" ujar gue dalam hati. Karena sebenarnya gue malas ikut-ikut SOTR.

"Ehh, apaan lo congek kaga kaga kaga ikut lo njing! Udeh gue bayarin jugaan, apaa-apaan lo kaga ngikut."

"Lo udah meng iyakan gue engga ngikut. Hahaha."

"Gue engga engeh njing lo nanya tadi." Sahut Abdul.

"Lah gue engga nanya juga, gue menyatakan. Dan lo mengiyakan."

"Kaga kaga kaga. Bodoo! Ikut! Nih gue lagi bbman sama anak-anak. Pada nanyain lo. Lagi kenape sih ga mau ngikut? Takut ada Karina? Yaudah lo ajak ajah Dita haah, biar adu dah tuh, Karina bawa Michel, lo bawa Dita, hahahaha."

"Emang Karina masih sama Die dul?" Tanya gue.

"Au yee, kenapa? Masih ngarep sama Karina?"

"Idih amit"

"Cie amit ajah, taun lalu siapa yah yang sampe ngemis-ngemis minta balikan sama Karina."

"Ehh itu taun lalu Bung!! Sekarang beda." Ujar gue berkilah.

"Hahahah, iye iye, trus pas ulang …"

"Ahhh udeh Dul, itu kemaren, ga usah buka halaman yang udah lewat."

"Buahahah, yaudah kalo emang udah biasa ajah tunjukin besok dateng dan biasa ajah. Terserah lo mau ajak Dita apa engga, kalo lo ajak lo pake motor gue ajah, gue pake mobil biasa bawa makanan."

Di depan SMP gue, 2 hari kemudian.

Akhirnya gue memutuskan untuk ikut SOTR, sedikit terpaksa karena tidak enak juga rasanya kalau tidak ikut. Gue tidak ingin dibilang sombong, lupa pada teman-teman lama, atau bahkan gue tidak ingin ada yang menganggap gue tidak ikut karena Karina. Walau sebenarnya alasan gue tidak ingin ikut karena gue benar-benar malas pada acara semacam ini, menurut gue kalau ingin reuni yah reuni saja tidak perlu ditambah SOTR karena akan mengurangi nilai makna arti reuni itu sendiri. Gue lebih suka nongkrong, ngobrol duduk di kursi yang nyaman atau di aspal jalan sekalipun tidak masalah. Dari pada harus berkonvoi dengan kendaraan yang tidak jelas juntrungannya.

Di depan tembok sekolahan yang pernah jadi SMP gue ini, gue duduk tanpa alas. Bersama teman-teman segenk gue saat SMP minus Abdul karena dia sibuk mondar-mandir memastikan tidak ada yang kurang dalam konsumsi.

Gue duduk bersama delapan orang laki-laki dan 5 orang perempuan. Kami saling melontar canda, bercerita pengalaman-pengalaman seru yang kami punya, bernostalgia dengan kebodohan-kebodohan kami saat masih satu sekolah di tingkat menengah pertama. Banyak kebodohan serta ketololan kami yang dulu rasanga sangat indah namum jika diingat saat ini rasanya membuat wajah memerah saja.

Ditengah-tengah tawa kami yang menggelegar, Abdul nimbrung bergabun. Menyelak duduk di antara celah yang harus membuat kami menggeser pantat sedikit agar tidak saling himpit.

"Hoooh onta rusuh!" Celetuk teman gue sambil melempari Abdul dengan krikil kecil.

"Hahahah, lagi lo duduk rapet-raper kek naek angkot." Sahut Abdul sambil mengeluarkan bungkusan rokok dari saku celananya, mengambilnya sebatang, kemudian meletakanya di tengah-tengah kami. Gue sedikit tertawa saat melihat Abdul melempar ketengah bungkus rokoknya. Bungkus rokok Marlboro putih yang dilemparnya mengenai bungkusan rokok Marlboro merah milik gue yang sebelumnya susah ada di tengah-tengah terlebih dahulu. "Ngape lo nge ketawa-tawa?" Tanya Abdul yang menyadari gue sedikit tertawa.

"Gapape, itu rokok gue sekarang ada temenye." Jawab gue sambil mengedipkan satu mata pada Abdul. "Hahahahahahaha." Abdul tertawa gue yakin Abdul paham maksud gue, tapi tidak dengan teman-teman gue yang lainnya. Mereka bertanya apa yang gue dan Abdul tertawakan, tentu gue dan Abdul tidak menjawabnya. Karena itu adalah sesuatu pembahasan internal antara gue dan Abdul dengan kelakuan teman-teman SMP kami.

.


Dari sekian banyak waktu dan tema saat mengobrol hanya berdua dengan Abdul, pernah suatu waktu gue dan Abdul sedikit membandingkan cara bergaul teman-teman kami yang banyak berbeda latar belakang ekonomi. Gue dan Abdul tumbuh bersama dalam lingkungan yang bisa dikatakan berbeda di tiap fasenya. Saat di sekolah dasar contohnya, gue dan Abdul bersekolah di sebuah SD negeri yang biasa-biasa saja. Biasa-biasa saja dalam artian jika dibandingkan dengan SD negeri yang katanya pernah jadi tempat Mantan Presiden Obama bersekolah, tentu sekolah SD kami tidak ada apa-apanya. Atau jika dibandingkan dengan SD milik Swasta sekaliber Al-Azhar, Tarakanita, Penabur, Asisi, Madina School, atau semacamnya, jelas SD kami lebih jauh lagi tidak ada apa-apanya. Mungkin simpelnya begini, SD tempat gue dan Abdul bersekolah duku bukanlah SD favorit, dan jauh dari kata Elit. Rata-rata teman SD kami berasal dari latar belakang ekonomi menengah kebawah. Bukan bermaksud meninggi atau menyombong, tapi mungkin diantara teman-teman SD kami, hanya gue dan Abdul yang hidup dalam ekonomi keluarga yang Alhamdu'lillah berlebih. Alhamdu'lillah.

Sedangkan saat SMP gue dan Abdul bersekolah di sekolah yang bisa dikatakan Elit. 95% murid-muridnya berasal dari kalangan kaum menengah keatas, bahkan KELANGIT, kata Abdul sering meledek. Anak penguasaha terkenal, anak pejabat, anak petinggi instansi pemerintah, semua ada di SMP kami. Jelas saat SMP gue dan Abdul bukanlah yang paling berlebih.

Suatu malam beberapa bulan sebelum Romadhon gue dan Abdul mengadakan reuni kecil dengan teman-teman SD gue, awalnya gue mengusulkan acara diadakan di salah satu cafe langganan gue. Soal biaya, awalnya juga gue dan Abdul yang berniat menanggung semuanya. Namun saat dibuat forum, salah satu teman gue justru menawarkan acara diadakan di rumahnya saja, dan biaya tanggung bersama. Gue masih ingat dia bicara seperti ini. "Kan acara reuni, rame-rame, kebersamaan, yah harus dari kita-kita buat kita-kita juga." gue dan Abdul tidak bisa menolak, karena keputusan forum lebih setuju jika ditanggung bersama.

Acara saat itu diadakan di rumah salah satu teman SD gue, agak jauh dari rumah gue. Tapi masih satu kecamatan Tebet. Tidak mewah, tapi penuh kehangatan, dan penuh kebersamaan. Gue nyaman sekali dengan suasana kehangatan itu. Kami duduk bersama, membuat satu lingkaran besar, kami berbincang bersama, bersuka cita, bernostalgia penuh canda tawa. Tidak ada dari kami yang menyombongkan dan mengumbar kenakalan diri sendiri. Yang paling penting, di tengah lingkaran kami tidaklah sepi, tidak bungkus rokok yang kedinginan sepi, tidak ada botol minuman ringan yang berdiri sendiri. Apa yang kami konsumsi (rokok, minuman makanan ringan) kami letakan semua di tengah agar yang lain bisa (setidaknya mencicipi) menikmati juga apa yang kami konsumsi.

Kontras jika saat gue berkumpul dengan teman-teman SMP gue yang notabenenya anak Wong Sugih, Anak Langit kalau kata Abdul, atau anak-anak yang gue yakin pasti isi dompetnya ada setidaknya satu kartu kredit tambahan milik orang tuanya. Mereka dengan bangga menceritakan kenalannya, mereka dengan dongak melihat ke atas menunjukan barang-barang mewahnya, namun dalam lingkaran kami kosong tak ada isi. Mereka membeli minuman, mereka letakan disamping mereka, mereka merokok, bungkusnya hangat dalam saku celanana. Jangankan berbagi apa yang mereka konsumsi, menawari saja mereka tidak mereka enggan. Seolah jika habis, mereka tidak mampu membeli kembali.

Dan saat malam-malam perbincangan gue dengan Abdul, timbul satu pertanyaan. "Kenapa teman-teman gue yang harusnya lebih bisa dengan mudahnya berbagi, justru lebih tidak berbagi dari pada teman-teman gue yang kondisinya tidak seberuntung mereka?"

"Kenapa Dul?" tanya gue.

"Lah au yee, kenape yee bisa gitu? Bingung juga gue. Yang kaya malah merki, kenape yee … Ah au ahhh" Abdul mengacak-acak rambutnya.

"Berarti nanti kalo punya anak jangan masukin sekolah elit Dul, ntar jadi pelit!"

"Yah ga gitu jugalah, buktinya kita bisa tetep engga pelit sama orang. Buktinya kita bisa tebar trus rokok kite, itu mah tergantung anaknyanya Ngai, tergantung juga didikan orang tuanya gimana."

"Lingkungan penting juga deh Dul gue rasa."

"Iyah juga faktor lingkungan juga ngaruh banyak. Tapi yang jelas sih kalo gue yah masukin anak ke sekolah elit masukin ajah, tetep ajarin anak gue …" Abdul menghentikan ucapannya lalu menatap gue sambil cengengesan. "Ini kite ngobrolin apa sih Nge!!!??? Cekikikiki."

Melihat Abdul yang cekikikan gue juga jadi ikut tertawa sengakak-ngakaknya. "Buahahahaha … lo … gila juga … udeh mikirin punya anak!"

"Lo … Njing! Hahahaha… hahaha…"

Pada akhirnya gue dan Abdul masih sama-sama tidak tahu bagaimana bisa perbedaan itu bisa terjadi. Pada akhirnya gue dan Abdul hanya bisa menganggap obrolan malam kala itu untuk pelajaran kami saja. Jawaban untuk pertanyaan bagaimana bisa itu terjadi, kami biarkan saja diri kami tidak mengetahui. Toh memang setiap orang berbeda cara mereka dalam bergaul. Sikapi saja, dan terima saja selama tidak mengganggu hidup.

.


"Ketawa berdua ajah Mas?" Suara perempuan terdengar lembut yang membuat tawa gue dan Abdul perlahan mereda.

"Ehh… Karina" Sapa Abdul pada Karina yang memakai kaos berwarna putih agak longgar bertuliskan Dagadoe, celana denim hitam, flat soes berwana kuning, rambutnya masih tetap indah dan panjang dan dibiarkan tergerai.

"Hay Dul, Hay Ger… Hay…" Karina menyapa Abdul dan lainnya satu persatu. "Hay Nat." Sapanya terakhir. Tak ayal membuat beberapa teman gue sedikit menggoda dengan batuk-batuk kecil serta "Aciiiie."

"NORAK!" Teriak gue dalam hati. "Hay, baru dateng?" Tanya gue menoba sebisa mungkin tenang walau jujur sebenarnya gue selalu tidak bisa tenang. Gue selalu tidak bisa tenang kalau bertemu mantan bahkan sampai detik gue menulis ini. Hihihihi.

"Oh engga kok, dari tadi, dari tadi di sana." Jawab Karina menunjuk sekumpulan perempuan-perempuan hedon nan berisik yang duduk-duduk di samping deretan mobil yang terparkir. Karina lalu meminta sedikit ruang agar dia bisa ikut duduk bersama. "Nata dari tadi?" Tanya Karina.

"Iya dari tadi di sini."

"Ahahahaha…. Cieee… Nata … dari tadi… Dari tadi di sini, liatin Karina, Dari tadi di sini di hatinya Karina… Dari tahun lalu nungguin Karina …" Ledek teman-teman gue datang bertubi-tubi.

"Apa sih ihhh." Protes Karina. Jangan tanya protes gue gimana, karena gue langsung menjitak siapapun yang meledek.

"Marcel mana?" Tanya gue.

"Aihhhhhh, nanyanya, nanti ada mewek…"

"Ger sekali lagi brisik gue gantung di pohon jamblang lo!"

"Hahahaha." Geri tertawa cekikikan, puas sekali tampangnya bisa meledek gue.

"Oh dia lagi ada SOTR juga. Nata kenapa ga bawa pacarnya?" Tanya Karina.

"Woooooaaaaawwww woaaaaaa wooaaa. Ah keknye kite-kite ganggu nih, cabut lah yuk ahh." Ucap Geri. Gue menyambitnya dengan kerikil, sialnya beberapa teman gue benar-benar pindah tempat, hingga menyisakan gue, Abdul, Karina dan dua orang teman gue lainnya (Your the best Vrohhh hahaha)

"Rese yah." Ujar Karina.

"Udah cuekin ajah mereka, bocah, hahaha."

"Iya, Nata tua hahaha." Ledek Karina.

"Sial, hahaha. Oh iyah gimana persiapan pensinya?"

"Sampe saat ini good, masih kehandle dengan baik. Alumninya juga banyak bantu, Kak Bella, Kak Dian Sastro, banyaklah yang bantuin, bersyukur jadi aman semuanya. Nata dateng yah nanti."

"Emmm bisa dipertimbangkan."

"Harus dong, kan ada SID tahun ini."

"Tumben."

Karina tidak merespon ucapan gue, dia hanya tersenyum kemudian berbincang dengan teman gue lainnya. Abdul terlihat sedang asik dengan bb nya. Tidak ingin mati gaya, gue juga mengeluarkan handphone gue dari saku celana dan mengetik sms untuk Dita.

"Kamu lagi apa?" sent to Dita.

Selang beberapa menit, handphone gue bergetar. 1 Inbox from Dita. "Lagi nonton dvd, Kamu udah jalan kak?"

"Udah, ini aku udah di smp aku. Kamu nonton DVD apa?" Sent to Dita.

"Da Vinci Code, Kak nanti di jln nya jng ugal-ugalan yah, inget mau SOTR, bukan pamer masa. Hati-hati jg aku dnger bnyk yg SOTR Jg mlm ini."

"Berat tontonnya, aku pinjem dong!
iyah lagi jg nnti konvoinya bentar ajah, trus langsung ke panti asuhan gt kata Abdul." Sent to Dita.

"Yaudah aku stop deh, lnjut nonton besok ajah sama kamu kak."

"Good, yaudah besok nnton bareng yah." Sent to Dita.

"Okeh, tapi nnton nya dmn?"

Saat gue sedang mengetik balasan untuk Dita, tiba-tiba Karina pamit untuk kembali berkumpul bersama Genk berisiknya itu. "Nata, aku kesana dulu yah."

"Haaahhh… Oh iya, iya, maaf yah sibuk sendiri jadi nyuekin Karina. Hehehe." Sahut gue.

"Ihh apa sih engga kok, itu si Bila manggil, lagian namanya smsan sama pacar yah siapa juga dicuekin. Nanti aku balik lagi…" Ujar Karina, dan gue hanya memberinya senyum tanpa mengklarifikasi kalau gue sedang tidak berbalas pesan dengan pacar. Jujur, memang itu maksud gue, agar Karina memang menganggap gue sedang berbalas sms dengan pacar gue.

"Kamu… hahahaha." Ledek Abdul saat Karina sudah agak menjauh.

"Hahahah, yah gue sih ngikut dia ajahlah Dul, dia ga pake lo gue. Yah gue ikutin." Sahut gue.

"Halah bilang ajah masih ngarep!" Ledek teman gue yang lain.

"Muke lu ngarep. Hahahaha." Sahut gue. "Eh Dul, die kenape ye? Udeh dua kali ketemu gue kek ngelunak, sebelumnye kan lo tau sendiri."

"Iye, ngape yee!? Taun kemaren SOTR kekne die ngeliat lo udeh kaya apaan tau Nat." Sahut teman gue yang lain.

"Nah kan, mungkin dia baru sadar dan menyesali putus sama orang ganteng kek gue. Hahahaha." Sahut gue.

"Najis! Eneg gue dengernye." Sahut kedua teman gue, kemudian dia pergi sebentar katanya, meninggalkan gue berdua dengan Abdul.

"Marcel ga ada SOTR ngai." Ucap Abdul tiba-tiba.

"Haah?" Gue sedikit heran.

"Iye die SOTR di mane, SMA gue baru SOTR besok, gue tanya temen gue yang satu smp sama dia, anak-anakanya ga ngadain SOTR, orang sekolahan kristen. Boong berarti Karina."

"Hahahah, paling ga enak boong ke gep."

"Hahahahah."
profile-picture
profile-picture
profile-picture
hayuus dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Senandung Black n Blue
28-06-2019 02:37
semakin menarik nih cerita
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
1 0
1
Senandung Black n Blue
28-06-2019 03:05
Yap bisa ditebak ada artis dicerita ini emoticon-Ultah
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
1 0
1
Senandung Black n Blue
28-06-2019 03:34
Ya malu lah kalo si Karina ngmg jujur itu, kek ada something wrong yak sama hubungannya Karina, udah gass aja Dita nya Nat emoticon-Leh Uga
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
1 0
1
Senandung Black n Blue
28-06-2019 05:40

Part 4.0

-... Kadang keputusan yang dianggap besar tidaklah berbuah besar, kadang keputusan yang dianggap kecil dapat berbuah sangat besar. Hanya waktu yang bisa menjawab besar kecilnya buah dari sebuah keputusan


Abdul memimpin doa sebelum kami memulai rangkaian SOTR ini, Abdul juga menghimbau beberapa peraturan yang harus semua taati. Gue sedikit kagum pada keahlian Abdul berbicara di depan banyak orang. Dia memang memiliki bakat sebagai public speaking yang handal. Jika merunut dari keturunan, wajarlah jika dia ahli dalam bidang ini, karena memang kakek buyutnya rata-rata adalah seorang ulama besar yang biasa berbicara di depan jamaahnya yang banyak. Abdul seperti memiliki sentuhan magis pada lidahnya, saat dia berbicara dia bisa membuat lawan bicaranya diam memperhatikan apa yang dia ucapkan. Itu, kenapa gue selalu mendukungnya untuk menjadi seorang penceramah. Yang selalu dijawab olehnya, "Mana ada ulama kelakuanye kek gue Setan! Bukanye ngajarin bener, gue ngajarin ngelinting entar, hahahaha."

Menggunakan motor milik Abdul, gue melaju pelan di barisan terbelakang bersama 3 motor lainnya yang dikendarai teman gue. Hanya gue yang tidak berboncengan. Abdul menggunakan mobil Babanya berada di tengah-tengah rombongan. Karina di dalam mobil lancer silver milik salah satu temannya berada di urutan ke dua dari depan. Rombongan kami di kawal oleh 2 motor BM yang melaju di depan. Tidak mengherankan kenapa bisa kami dikawal seperti ini mengingat beberapa teman gue adalah anak pejabat.

Sepanjang perjalanan kami membagikan makanan pada orang-orang yang kurang beruntung yang harus hidup di jalan. Ada sedikit hal yang menggelitik buat gue. Di perjalanan, gue melihat beberapa orang seperti sengaja menunggu rombongan SOTR yang membagikan makanan, dari tampilan mereka rasanya gue menduga mereka bukanlah orang yang 'termarjinalkan'. Semoga gue salah. Ada juga beberapa orang yang terlihat sudah mendapat makanan dari rombongan SOTR lain namun tetap meminta makanan pada rombongan SOTR lain, walau mereka meletakannya di pojok-pojok jalan, kebetulan gue melihatnya. Gue tidak mengerti maksud maksud mereka melakukan itu. Kurang kah? Atau memang sengaja mencari keuntungan dari ini kah? Entahlah, semoga pikiran-pikiran jelek gue tentang mereka salah.

Gue ingin berpositif saja, mungkin anggota keluarga mereka banyak, dan mereka butuh makanan yang banyak untuk santap sahur mereka. Semoga apa yang kami lakukan dapat membantu walau tidak banyak. Aamiin.

Rombongan kami berhenti sejenak di Silang Monas, untuk beristirahat sejenak. Dan memastikan kami semua masih lengkap. Beberapa kali kami berpapasan dengan rombongan lain, dari sekolah lain, atau dari komunitas-komunitas lain. Untung tidak terjadi hal-hal yang diinginkan. Hanya ada sedikit ketegangan saat kami berpapasan dengan rombongan yang dari bendera mereka gue membaca tulisan Boedoet 1.4.5 untung polisi yang mengawal kami sigap melihat situasi dan membuat keadaan baik-baik saja walau harus merelakan mobil yang ditumpangi Karina pecah satu jendela kacanya terkena lemparan batu. Tapi setidaknya kami semua SELAMAT.

Saat beristirahat di silang monas. Nabila, pemilik mobil yang ditumpangi Karina dan 2 orang temannya yang lain masih terlihat panik. Wajar saja, dalam mobil itu semuanya perempuan, tidak ada satu laki-laki yang bisa menenangkan. Banyak dari kami yang bertukar tempat atas saran pak polisi yang mengawal kami, "tidak ada boleh satu mobil tidak ada laki-laki" Ujarnya. Abdul membantu mengatur kembali formasi. Gue hanya diam menikmati rokok yang gue apit dengan dua jari, sesekali gue menertawakan Abdul yang terlihat bingung mengatur isi dalam mobil. Karina juga terlihat bingung karena salah satu orang diantara isi dalam mobil itu harus mengalah bertukar dengan Gery yang sebelumnya diboncengi pak polisi yang mengawal kami. "Terus gue sama siapa?" Ucap Karina terlihat bingung. Lalu gue juga ikutan bingung saat semua wajah menghadap ke arah gue.

"Yah itu sama Bapaknya, enak naik motor BM tuh. Jarang-jarang loh bisa naik motor BM tuh, gue ajah mau." Ucap gue.

Sialnya justru pak polisi itu menyuruh Karina bersama gue saja, agar dia bisa konsen mengawal dan membuka jalan. "Pak saya ga bawa helm dua." Ujar gue mencari alasan agar Karina tidak bersama gue.

"Ini helm."

"Pak ban saya kempes Pak."

"Manaaaaa! Engga kempes begitu."

"Pak Motor saya kalo berdua suka mogok Pak."

Gue melihat Karina sedikit cemberut, beberapa kali tertunduk, menggoyang-goyangkan kakinya, beberapa kali juga dia menggelembungkan pipinya sambil menghela nafasnya.

"Ahh c'mon Gal jangan ngeluarin ekspresi itu. Lo curang masih tau gimana bikin gue ga bisa berbuat apa-apa."

"Motor masih bagus, masih baru begitu kok mogok."

"Pak motor …"

"Kamu nih alasan saja, memangnya kenapa sih engga mau boncengin, wong cantik begini. Saya kalau ndak tugas juga mau boncengi. Hahaha"

"Dia mantanya Pak, takut Celebek kali. Ahahahah." Ledek temannya Karina.

"Oalah begitu pantas, yasudah mbaknya gimana?"

Karina hanya menunduk sambil, menggit bibir bawahnya, kaki kanannya seperti sedang menulis di atas aspal, tangannya dilipat kebelakang. "Ahhh."

"Yaudah Pak sini biar sama saya ajah." Ucap gue yang disambut rentetan Cieeee dari teman-teman gue bahkan adik-adik kelas gue yang masih bersekolah di smp gue. Setengah melompat Karina langsung mengambil helm yang disodorkan Pak Pol lalu berjalan cepat menghampiri dan duduk di belakang gue membonceng.

"Curang!" Ucap gue pada Karina.

"Sesekali gapapalah, Pacar kamu ga marah kan?"

"Kamu gimana kalo dulu ngeliat aku boncengan sama mantan?"

"Emmmpp, pertanyaan gini. Emang ada mantan kamu sebelum aku? Hahahaha."

"Oh Damn. I HATE YOU GAL!"

"I hate you more Se, hahahah." Ucap Karina lalu kami semua melanjutkan perjalanan kami menuju sebuah panti asuhan di daerah Jakarta Timur.

Tidak banyak percakapan yang terjadi sepanjang perjalanan, hanya percakapan basi semacam ahahahihi seorang teman lama yang tak akrab yang sudah lama tak jumpa kini berjumpa. Gue bersumpah hanya itu dan seperti itu.

Sampai di panti asuhan yang kami tuju pun kami tak saling bicara hanya berdua, selalu ada orang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya diantara gue dan Karina. Terlebih saat di panti asuhan, gue dan Karina sama-sama sibuk bermain dengan anak-anak. Gue merasa seperti mempunyai adik. Gue senang, gue juga merasakan kesenangan yang Karina rasakan karena memiliki seorang adik adalah hal yang tidak pernah gue dan Karina rasakan.

"Wah cocok udeh lo berdua punya anak, udeh balikan, gue ngebayangin kalo lo berdua punya anak pasti lucu anaknya. Buru-buru deh balikan, bikin anak." Ucap Nabila salah satu teman segenk Karina.

"Apaan sih lo Bil." Sahut gue, sementara Karina langsung meninggalkan gue dan Nabila, serta anak-anak kecil yang sedari tadi bermain bersama gue dan Karina.

"Kenapa?" Tanya Nabila.

"Lah auu." Jawab gue santai terkesan tidak peduli. Padahal dalam hati gue juga bertanya Kenapa. Gue tidak mencari tahu lebih kenapa Karina. Gue sadar gue sudah tersentuh lagi pada perasaan yang dulu pernah sangat besar pada Karina, perasaan yang mati begitu saja yang pada akhirnya menjadi penyebab gue terjebak perasaan besar lainnya yang tidak bernama, tapi jelas sakitnya dia pergi begitu saja. Dan gue tidak ingin kembali terjebak dalam situasi yang sama, gue sudah menetapkan ingin pada perasaan yang saat ini sedang gue pupuk agar bertumbuh kembang lebih besar dan menutupi perasaan-perasaan gue sebelumnya.

-... Di hatiku, namamu sudah mati sejak kamu memutuskan untuk pergi.


SOTR sudah selesai dengan melantutnya suara Adzan subuh yang terdengar indah di telinga. Satu persatu teman-teman kami pulang, ada juga yang to'at melaksanakan subuh berjamaah terlebih dahulu baru pulang. Jangan tanya gue di mana, nyatanya keinginan gue untuk menjalani romdhon tahun ini dengan sebaik-baiknya hanya menjadi niat saja. Kenyataanya, Adzan subuh sudah berkumandang gue masih santainya mengapit sebatang rokok diantara bibir gue. Memang dasar! Untuk apa SOTR kalau ujung-ujungnya malah tidak puasa. Itulah sebenarnya alasan gue malas ikut SOTR sebenarnya.

Gue duduk di halaman panti asuhan ini bersama Abdul yang juga tidak berpuasa. Sementara di depan gerbang gue melihat Karina sedang berdiri seorang diri memainkan handphone. Beberapa kali dia melambai pada teman-teman kami yang memutuskan pulang terlebih dahulu.

"Sekarang gimana?" Tanya Abdul sambil menghembuskan asap dari mulutnya.

"Gimana apanya?" Tanya balik gue.

"Back to the past or try to someone new?" Tanya Abdul lagi.

"..."

"Hahahaha." Abdul tertawa, di detik ke 20 gue diam atas pertanyaanya.

"Pertanyaan gini, kalau gue balikan, gue jadi orang ketiga di hubungannya Karina sama Marcel. It's not good, kalo gue balikan kemungkinan Marcel bakal ngerasain yang gue rasain dulu, dan gue jadi Marcel. Bukan cuma itu, kalo balikan mungkin gue bakal ciptain Nina yang baru …"

"Dita?"

"Hemm, dulu gue ngasih harapan banyak sama Nina, Banyak … Banget, tapi yang gue kasih sebenernya ga palsu, cuma kotor. Dan ketula sendirikan sama guenya. So, kalo gue balikan, Dita bakal ngerasain yang Nina rasain dulu, dan gue engga mau ketula kedua kalinya."

"Anjing, pede banget Dita demen sama lo!!" Sahut Abdul sambil menyikut pelan gue.

"Hahahah, bukan PD tapi gue ngerasanya gitu sih. Susah sih jadi orang ganteng. Hahahah."

"Buabeeee! Hahahah gaya lo sekarang kek Donjuan yee, gue gedek hahahaha." Ucap Abdul lalu kami berdua tertawa. "Eh tapi gimana kalo gini, Dita engga se suka sama lo kaya yang lo pikirin, dan Karina sebenernya udah putus sama Marcel?"

Tetiba ucapan Abdul terus berulang di kepala gue. Memaksa berhenti tawa gue, dan meragukan sesuatu yang dari awal sudah gue tekankan pada diri gue sendiri agar tidak terlalu larut pada Karina. Gue ingin menjalani hubungan baru dengan Dita.

"Emang dasar temen anjing lo!" Ucap gue pada Abdul lalu langsung menghampiri Karina. Saat menghampiri Karina ekspresinya sedikit berbeda dari sebelumnya. Semenjak perkataan Nabila tadi, senyum Karina seolah hilang. Matanya juga seperti memudar, senyum yang diberikan pada gue saat menghampirinya lagipun seperti sangat diberikan dengan terpaksa.

"Dijemput Marcel?" Tanya gue. Karina menggelengkan kepala.

"Oh, mau aku anterin pulang?"

"Ga usah, aku udah pesen taxi." Jawab Karina datar.

"Ohh." Sahut gue mati gaya.

Lama gue dan Karina diam, gue tidak tahu lagi harus berbicara apa. Entah rasanya semua kosakata menghilang dari kepala gue. Kepercayaan diri gue juga tiba-tiba jatuh begitu saja. Ekspresi Karina juga tidak berubah, tak ada senyum, tatapan sinis, bahkan sama sekali Karina tidak melihat kearah gue. KENAPA?

Sekitar 10 menit dalam diam, sebuah taxi berwarna biru berhenti tepat di depan gue dan Karina. "Mbak Karina yah?" Tanya si supir dari dalam mobil. "Iya." Jawab Karina kemudian dia masuk ke dalam taxi. Gue langsung ikut masuk ke dalam taxi itu.

"Lo ngapain!" Ucap Karina kini menggunakan kata lo.

"Gue engga tau gue ngapain, yang jelas gue mau ngobrol sama lo." Sahut gue sementara si supir hanya diam terlihat bingung. Sementara di luar mobil, Abdul terlihat sedang berdiri mematung. Sepertinya Abdul juga memiliki pertanyaan yang sama dengan Karina "Lo ngapain!"

"Pak maaf, kita ga jadi naik. Ini saya bayar ajah ongkosnya." Ucap gue sambil memberikan uang pecahan 100ribu dua lembar. Si supir itu makin terlihat bingung. Tapi gue tidak peduli, gue menarik tangan Karina, dan mengajaknya keluar dari taxi. Tanpa perlawanan, Karinapun mengikuti.

"Kamu ngapain sih?" Tanya Karina, kini kembali menggunakan kata KAMU, ekspresi wajahnya pun sedikit berubah, walau masih tak ada senyum, namun matanya sudah tidak lagi menatap sinis.

"Aku anterin kamu pulang."

Gue lalu mengambil motor, sedikit bingung awalnya karena gue tidak membawa helm dua. Beruntung, salah satu teman gue rumahnya tidak jauh dari panti asuhan ini. Dia meminjamkan helmnya sambil berkata "Good luck!"

"Good luck gundulmu, good luck untuk apa? Gue ajah masih engga tau gue ini harus berdoa meminta apa!"

Setelah berpamitan dengan Abdul yang juga mengatakan good luck! Gue langsung melaju menembus dinginnya udara Jakarta yang masih minim polusi pagi ini. Gue melaju santai, gue tidak peduli kapan gue akan sampai mengingat kenyataan kalau gue akan menuju kawasan Bintaro dari Rawa Jati. Namun karena ini hari minggu serta masih sangat pagi. Gue rasa jarak itu tidak akan begitu terasa.

"Aku boleh peluk kamu." Ucap Karina di tengah perjalanan. Gue menganggukan kepala lalu Karina mulai melingkarkan tangannya di pinggang gue, merapatkan duduknya, lalu menyandarkan kepalanya dibelakang pundak gue. Sejenak gue berhenti lalu menepi.

"Kenapa?" Tanya Karina. Gue melepas helm, lalu membuka jaket dan memberikannya pada Karina. "Dingin." Ujar gue, Karina langsung mengenakan jaket yang gue berikan.

Semacam de-javu pikiran gue langsung mencoba mengingat sesuatu yang janggal di kepala gue. "Ghosstttt!" Gerutu gue dalam hati tiba-tiba teringat Dita.

"Kamu ga pake helm?" Tanya Karina.

"Engga, aku mau nikmatin udara pagi. Jarang-jarang, lagian pala aku kaya ngerasa ngebul, kali ajah kena angin jadi dingin. Hehehe." Jawab gue, lalu Karina juga melepaskan helmnya. "Kok dilepas?"

"Pala aku kaya ngerasa ngebul, kali ajah kena angin jadi dingin." Jawab Karina menirukan ucapan gue tapi tanpa tertawa.

Gue mulai melaju kembali Kali ini lebih mempercepat laju karena takut-takut ada polisi nanti gue ditilang. Karina masih terus memeluk gue, beberapa kali dia berpindah sandaran dagu ke kiri atau ke kanan pundak gue. Sampai tiba di tiga perempat jalan, tiba-tiba gue merasakan sesuatu yang dingin dan basah di pundak gue serta getaran-getaran kecil yang makin lama skalanya membesar dengan tempo yang makin lama juga cepat. Gue melihat dari kaca spion Karina sedang menangis, gue lalu kembali menepi.

"Kamu kenapa?" Tanya gue sambil mengusap pipinya, menghalau air matanya dengan ibu jari gue. Karina tidak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum entah apa maksudnya. Hidungnya mengeluarkan rona merah di tengah kulit putihnya. Badanya bergetak sesegukan, bibirnya coba mengucap ga apa-apa tapi entah seperti ada yang menahanya dirinya untuk lepas berbicara.

Sesampainya di rumah Karina, gue disambut tatapan heran oleh Maminya Karina dan saat tiba di rumahnya, Karina langsung berlari masuk ke dalam kamarnya.

"Hey Mam." sapa gue pada Maminya Karina yang terlihat bingung melihat anaknya yang langsung masuk begitu saja ke dalam kamar.

"Hey boy, What are doing two haah?" Tanya Maminya Karina.

"I don't know, Nata ga ngapa-ngapaim, it's just …" Ucapan gue terhenti di saat Maminya menatap gue dengan senyum yang seolah berbicara Hayyoo kalian balikan yah? "Ah c'mon Mam jangan senyum kaya gitu." Lanjut gue.

"Lo kenapa? Mami cuma senyum ajah, hahahah. Kamu jangan langsung pulang yah, Mami mau bicara sebentar sama kamu, tapi nanti Mami mau bicara dulu sama Karina."

"Iyah Mam." Sahut gue lalu duduk di tengah rumahnya Karina. Gue menyalakan televisi untuk mengurai sepi, gue memang tidak pernah canggung pada rumah ini. Di sini, gue sudah menganggapnya seperti rumah gue sendiri. Berbeda dengan di rumahnya Dita, walau disambut baik, gue masih merasa sangat canggung.

"Yah lagi baru 2 kali juga gue kesana, lagi juga baru dua minggu ini deket sama dia, bedalah gue sama Karina ajah pacaran hampir 3 tahun…" Bisik gue dalam hati. "Aaaashhhiiittt!!"

Gue langsung mematikan kembali TV, gue beranjak ke halaman belakang rumah ini, mengeluarkan handphone lalu menghubungi Dita. Baru satu kali bunyi tuut Dita langsung menjawab panggilan telpon gue.

"Hey cepet banget angkatnya kirain masih tidur, eh kamu baru bangun apa belom tidur?" Tanya gue pada Dita.

"Aku belom tidur."

"Dari saur?"

"Dari terakhir sms aku belum dibales, aku belum tidur."

Deng… Gue jadi sedikit merasa bersalah pada Dita karena terkahir kali dia sms gue, pukul 9 malam sedangkan saat ini sudah hampir pukul enam pagi.

"Kenapa engga tidur?"

"Nunggu sms dari kamu!"

Deng … "Cuma nunggu sms gue engga tidur, gila gue gila!! Tuhan … apa lagi sekarang?"

"Jangan gitu dong, kamu jangan begadang-begadang nanti kamu sakit "

"Aku ga bisa tidur sampe tau kakak udah safe ada di rumahnya Abdul atau dikosan. Lagian gimana akunya bisa tidur kalau aku nonton berita ada rombongan SOTR tawuran sedangkan orang yang saat ini aku khawatirin lagi ngelakuin aktifitas yang sama."

Deng … "Allohuakbar, udah udah … gue tau selanjutnya, Terimakasih atas malam pemutar waktunya Tuhan."

"Taa .." Panggil gue pelan.

"Yaa Kak."

"Sekarang kamu tidur yah, I was safe. Terimakasih udah khawatirin aku. Dan, maafin aku kalo bikin khawatir, coba kamu bilang ajah dari awal. Larang aku ajah dari awal, aku ga akan ikut SOTR, maaf udah bikin kamu begadang cuma buat nunggu kabar aku pulang."

"Kak, aku engga mau ngelarang-ngelarang, ga mau ngebatesin kakak apapun alasannya, engga mau jadi jerat yang ngebatesin gerak Kakak. Love is like a sand in hand. More I keep it more I lost it. Aku ga mau bahkan sebelum aku pegang aku udah kehilangan."

"Taa, kamu udah pegang itu. I love you, Taa …"

"Stop Kak!" Sambar Dita memotong ucapan gue. "Kakak pasti tau perasaan aku gimana, tapi please jangan buat pertanyaan, cukup saat ini dengan pernyataan. Aku ga mau kamu bertanya di saat kamu sendiri kak sedang bertanya-tanya dalam hati kamu tentang gimana perasaan kamu sama Kak Nina, aku masih ragu Kamu sepenuhnya sudah temuin jawabannya tentang perasaan kamu sama Kak Nin."

"What…??" Gue bertanya sendiri dalam hati, malam ini gue sedang meragu antar Karina atau Dita, tapi Dita justru mempertanyakan sebuah keraguan yang malam ini sama sekali tidak gue ragukan.

"Taa, aku udah anggap Nina mati, tepat di saat dia memutusin buat pergi!"



Kini aku tahu apa doaku, kini aku tidak ragu menyebut kamu dalam tiap getar hati dialog senyapku. Semoga kamu juga seperti aku. Karena jika berbeda, dan Tuhan mengabulkan hanya satu diantara doa kita yang berbeda, aku tak bisa bayangkan bagaimana rasanya. Apa kamu bisa? … Tidak, kamu bisa! Pertanyaanku salah. Apa kamu tega?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
hayuus dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Senandung Black n Blue
28-06-2019 05:47
Quote:Quote:Original Posted By jorzgeorge
semakin menarik nih cerita



Untung engga mendorong yah, kalo di dorong kan nanti jatuh, trus sakit deh. emoticon-Hammer2

Quote:Original Posted By ariid
Yap bisa ditebak ada artis dicerita ini emoticon-Ultah


Artisnya ga maen disini aickikaiakiakaiak.

Quote:Original Posted By DanyMartadinata
Ya malu lah kalo si Karina ngmg jujur itu, kek ada something wrong yak sama hubungannya Karina, udah gass aja Dita nya Nat emoticon-Leh Uga


Langsung oper gigi 2 emoticon-Hammer (S)

Dan Selamat pagi
Selamat tidur kembali
Percaya deh, tidur paling enak itu tidur sehabis bangun tidur. Merdekaa banget ahahahaha.
Selamat hati Jum'at dan selamat untuk ... Untuk apa yah? emoticon-Cape d... au, pkoknya selamat ae lah hahahaha. emoticon-Hammer (S)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
yusufchauza dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Senandung Black n Blue
28-06-2019 06:14
Quote:Original Posted By nyunwie
Artisnya ga maen disini aickikaiakiakaiak.

Tapi tebakan ane kakak agans artis juga emoticon-Malu (S)
Dari panggilan khusus nata dan karina ane ambil kesimpulan yaitu kalian demen sama "STEVEN SEAGAL" emoticon-Hammer (S)
Ane soundtrackin lagi ya versi ane. Kalo kesannya nyampah ntar ane hapus dah emoticon-Angkat Beer
profile-picture
profile-picture
nyunwie dan DanyMartadinata memberi reputasi
2 0
2
Senandung Black n Blue
28-06-2019 07:15
Quote:Original Posted By ariid




Galfok liat videonya om Erwin emoticon-Big Grin

Maapken yak Nat, OOT
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
1 0
1
Senandung Black n Blue
28-06-2019 13:20
bingung bingung deh gan, antara pilih mantan apa gebetan. emoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Cape d...
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
1 0
1
Senandung Black n Blue
28-06-2019 14:02
wow!!! makin rumit dan makin penasaran.. lanjutkan gan
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
1 0
1
Senandung Black n Blue
28-06-2019 22:36
Ijin ngekost gan, cerita nya dapat banget feel nya, kayak gue aja yg jadi nata emoticon-Big Grin
Smoga lancar terus RL agan lancar, jadi gak terlalu lama kentang nya. emoticon-Big Grin
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
1 0
1
Senandung Black n Blue
29-06-2019 03:05

Part 4.1-a

Di rumah kediaman Mr. Odermatt.

Cahaya terang merambat perlahan menyinari wajah, menembus kedalam kelopak mata gue yang tengah terpejam. Membuat gue membuka mata karena tak tahan silaunya. Gue melihat sekeliling ruangan gue berada. Tembok berwarna putih, dengan pernak pernik yang girly beraneka ragam warna, deretan boneka bermacam ukuran, satu diantara gue mengenal boneka beruang yang berukuran sangat besar. Tidak henti mata ini menjelajahi tiap seluruh ruangan ini, sebuah ruangan yang sangat tidak asing buat gue, sampai mata gue berhenti tepat di samping kiri gue berbaring. Gue melihat seorang perempuan sangat cantik, yang wajahnya sangat tidak Indonesia sedang terlelap pulas, dia masih mengenakan pakaian yang sama sepanjang malam gue bersamanya.

Gue bangkit dari posisi tidur ke posisi duduk, mengambil handphone gue yang gue latakan di meja yang ada tepat di samping kanan gue. Sudah pukul 14.40, banyak sekali misscall dan sms masuk di handphone gue. Tapi dari sekian banyak sms yang gue baca hanya dari Abdul yang mengatakan kalau dia di kosan gue dan gue harus segera ke kosanya, ada sesuatu yang ingin dia bicarakan

"Iyah gue juga mau ada yang gue ceritain." Sent to Abdul.

"Morning Se." Suara lirih sedikit serak terdengar sangat pelan. Masih berkemul selimut tebal mencoba merubah posisi tidurnya menghadap.

"Udah siang Gal."

Karina hanya tersenyum, lalu menggusal manja, kepalanya kini di letakan di paha gue, gue mengusap lembut rambutnya yang agak berantakan. "Aku pulang sebentar lagi yah. 5 menit lagi." Ucap gue tanpa menghentikan tangan gue yang terus mengusap kepalanya. Karina lalu menganggukan kepala, memegangi tangan gue, lalu menciuminya.

5 menit berlalu, gue lalu bersiap untuk pulang. Sebelum keluar kamar Karina, gue sempatkan mencium keningnya lalu sedikit berbisik kepadanya.

"Kamu jangan kaya gini lagi yah, kapanpun kamu butuh aku, aku akan selalu ada buat kamu Gal, not as your friend, not as your lovely, but as your Big Hase."

Karina menganggukan kepalanya pelan masih dalam posisi yang sama. Lalu gue mulai berjalan keluar kamarnya. "Se" Panggilnya pelan, gue menghentikan langkah. "Ya Gal."

"Love you."

"I was."

Saat gue keluar kamar gue melihat Mr. Dan Mrs Odermatt sedang duduk di ruang tengah rumah ini, sedikit aneh, karena ini pertama kalinya gue melihat Mr. Odermatt menggunakan kopiah berwarna putih. Beliau benar-benar bukan lagi Mr. Odermatt tapi Bapak Ahmad. Gue duduk di samping Pak Ahmad, beliau lalu memegang pundak gue erat. "Terimakasih Nata. Maaf kalau saya sudah meminta kamu seperti ini." Ucapnya semakin aneh saat beliau mengucapkan terimakasih dengan Bahasa Indonesia. Sementara Mami nya Karina terlihat menitikan air mata.

"Nope Sir. Nata senang bisa membantu, biar bagaimanapun Nata sudah menganggap Daddy sama Mami seperti ayah dan mamah Nata sendiri."

"Your a good boy Nata. Saya selalu berharap Karina bisa mendapatkan seseorang yang baik seperti kamu." Gue menganggukan kepala, dalam hati gue mengamini ucapan Daddynya Karina. Gue lalu pamit pada Daddy dan Maminya Karina. Sambil mengucapkan hal yang sama yang gue ucapkan pada Karina untuk jangan ragu menghubungi gue kalau memang gue diperlukan.

Tapi gue selalu berharap gue tidak dibutuhkan.

.


Di kosan sejam kemudian

Malik dan Abdul hanya bisa duduk bersandar, sesekali menggaruk keningnya, rokok tidak pernah lepas diapit jarinya. Seolah tak habis pikir dengan apa yang baru saja gue ceritakan beberapa kali mereka menghela nafas panjang. Sementara gue hanya bisa merebahkan badan menatap nanar langit-langit kamar kosan gue mencoba berhenti dan melawan pikiran gue yang terus mengulang kejadian pagi ini.

"Yee ngape jadi pada bengong!" Ucap gue mencoba memecah keheningan.

"Udahlah Ngai, ga usah sok ga ada apa-apa." Sahut Abdul.

"Ayolah, emang ga ada apa-apa kan? Lagi buat apa kalian jadi ambil pusing, ini masalah gue …"

"Lo guoblogg apa tuolol!" Selak Malik lantang. "Kita ini temen lo, sahabat lo! Gue tau ini emang masalah lo, tapi sebagai temen pasti kita juga ngerasain apa yang lo rasain. Kita mau bantu … bukan bukan, bukan mau tapi kita harus bantu!" Lanjut Malik.

"Iye Ngai, biar gimane juga gue ada salah, coba tadi gue engga ngomong …"

"Udeh Dul, apa yang terjadi, terjadilah hahahah." Selak gue.

"Bisa-bisanya santai lo!" Celetuk Malik.

"Yah emang harus santai Pret! Sekarang gini, kalian mau bantu, gue minta banget bantuan kalian, Dita engga tau yang mana Karina, gue mau dia tetep ga tau Karina. Biarin dia tau nama tapi jangan sampe tau orangnya yang mana. Karena kemungkinan gue masih harus ketemu Karina sampe dia calm down." Ucap gue.

"Susah Nge, Dita bukan orang begok!" Sahut Malik.

"Bisa, dia emang ga begok, tapi dia bukan penyidik yang bagus, ga kaya lo semua yang sama kek anjing pelacak."

"Hasyuuuu!!!"

.


10 jam yang lalu. Kediaman Mr. Odermatt.

Selepas menelpon Dita gue kembali ke ruang tengah rumah ini. Sebenarnya gue ingin langsung pulang, tapi tidak sopan rasanya tidak berpamitan. Belum lagi Mami tadi ingin berbicara pada gue katanya. Gue lalu menunggunya di ruang tengah. Menunggu Mami yang sedang berada di kamarnya Karina entah sedang apa. Tidak lama gue duduk terdengar suara ribut-ribut dari dalam kamarnya Karina. Gue penasaran, tapi gue tahan untuk tidak menghampiri. Tidak sopan!

Namun ribut-ribut semakin terdengar hebat, suara Mami terdengar sangat keras, suara Karina juga tak kalah hebatnya. Gue tersentak hebat mendengar suara Karina yang begitu kerasnya berbicara pada Maminya.

"Gal, kamu kenapa?" Tanya gue dalam hati.

Gue bingung harus berbuat apa, dalam hati gue ingin melerai, tapi siapa gue di saat seperti ini. Ini urusan anak dan ibunya. Sedangkan gue bukan siapa-siapa. Di tengah-tengah kebingungan, Mr. Odermat pulang, mengenakan sarung yang lipatanya kurang rapih, baju koko berwarna hitam dengan rendaan benang warna putih, serta peci putih menutupi rambut di kepalanya. Sedikit aneh gue melihatnya, seperti bukan berasal dari Eropa, lebih mirip Bani Israil gue melihatnya.

Mr. Odermatt menyapa gue, menanyakan kabar, dan berhahahihi semacamnya. Sampai beliau mendengar keributan dari dalam kamarnya Karina beliau menggelengkan kepala, lalu memegangi pundak gue sambil berkata lirih.

"Maaf, kamu harus mendengarnya." Ucap Daddynya Karina.

"Gapapa Daddy, tapi maaf kalau Nata lancang nanya, sebenarnya ada apa?" Tanya gue. Namun belum sempat Daddynya Karina menjawab, Maminya Karina keluar dari kamarnya dengan ekspresi yang penuh amarah. Beliau melempar sebuah koper besar dari kamar Karina. "KALAU KAMU SUDAH TIDAK BISA KAMI NASIHATI, SUDAH MERASA DEWASA, SILAHKAN PERGI DARI RUMAH INI!!"

Entah apa yang merasuki gue saat itu, gue berlari menghampiri Maminya Karina memegangi pundak Beliau, mengusapnya perlahan mencoba menenangkannya. Gue melihat Karina sedang duduk di lantai di kamarnya, wajahnya sudab penuh dengan air mata. "Mami… Mami tenang yah, mami jangan begitu. Maaf Nata bukannya mau ikut campur tapi …"

Maminya Karina lalu menangis, gue benar-benar tidak tega melihat seorang ibu menangis. Dalam hati gue bertanya-tanya ada apa dengan Karina? Sungguh bukan seperti Karina yang gue kenal sebelumnya. Gue memeluk kecil Maminya Karina, lalu mencoba mengarahkan beliau untuk duduk bersama Daddynya yang terlihat terus mengusal wajah, bibirnya terus bergerak. Gue tahu beliau pasti sedang berdialog dengan Sang Pencipta.

"Ini yang mau Mami bicarakan sama kamu Nata. Karina …" Maminya yang sudah agak tenang kembali menangis sesegukan kini Daddynya yang memeluknya dan mencoba menenangkannya.

"Kami menemukan beberapa weeds dalam tasnya." Ucap Daddynya lirih meneruskan apa yang ingin Maminya bicarakan. Mendengar ucapaan Daddynya gue merasa seperti tersambar listrik dari pantograp KRL. Gue benar-benar tidak percaya apa yang gue dengar.

"Engga mungkin Karina …"

"Semenjak putus sama kamu Nata, Karina jadi berubah, Mami sering dapet laporan Karina sering terlihat jalan sama laki-laki yang berbeda." Lanjut Maminya Karina sudah agak tenang.

"Marcel?" Tanya gue.

"Karina sama Marcel cuma beberapa hari, abis itu dia ganti-ganti pacar terus, bukan cuma itu, Mami sama Daddy nemu ganja di tasnya, Karina juga jadi sering pulang larut, beberapa kali dia pulang dalam keadaan mabuk. Kami sudah mencoba berbicara baik-baik dengan dia. Tapi dia tidak mau dengar, malah menantang kami agar jangan mencampuri urusanya. Mami sama Daddy bingung Nata, awalnya Mami tidak mau kalau sampai orang lain tau perubahan Karina ini, tapi semakin lama dia semakin melunjak, Mami sama Daddy berpikir mungkin dengan kamu dia mau mendengar ucapan kamu. Kamu mau kan bantu Mami sama Daddy?"

Mendengar penjelasan Mami gue merasa sangat terpukul, gue merasa apa yang terjadi pada Karina adalah salah gue. Gue penyebab semua ini. Satu-satunya orang yang bisa disalahkan untuk semua perubahan Karina adalah gue! Pantaskah gue dimintai seperti ini oleh Mami dan Daddynya? Karena ini adalah salah gue.

"Tidak gue tidak pantas, harusnya Mami menampar gue, harusnya Daddy memukul gue! Atau membunuh gue, Pantas mereka lakukan." Ujar gue dalam hati.

"Mam, Nata ga tau harus ngomong apa, Nata ga tau apa Nata masih pantes dimintai seperti ini. Semua salah Nata Mam. Kalo Nata engga putus sama Karina, pasti Karina engga akan seperti ini."

"Engga Nak, ini bukan salah kamu, salah kami yang menganggap semua laki-laki yang dekat dengan Karina sebaik kamu. Kami yang lalai, kami kurang waspada. Sekarang Nata mau kan bantu Mami, bantu Mami buat Karina kembali."

"Iyah Mami, sekarang Nata boleh bicara sebentar sama Karina?"

Daddy dan Maminya Karina mengangguk lalu menoleh bersamaan ke arah kamarnya Karina yang terbuka lebar, seolah memberikan gue izin untuk masuk ke dalam kamarnya. Kemudian gue melangkah perlahan ke kamarnya Karina, gue merapikan juga koper yang berantakan di depan kamarnya. Karina masih terlihat duduk membenamkan kepalanya diantara lututnya. Gue duduk di sampingnya lalu membentangkan tangan gue sepanjang bahunya.

"Hey, what's wrong Gal?" Tanya gue. Karina tidak menjawab, dia langsung memeluk gue dan menangis sekencang-kencangnya. Sesuai apa yang sering Abdul ajarkan pada gue, saat wanita menangis jangan sekali-kalinya bicara. Biarkan dia meluapkan apa yang ada di kepalanya melalui air matanya. Gue membiarkan Karina menangis sambil memeluknya.

Lama Karina menangis, hingga akhirnya dia mereda, gue mengusap wajanya yang sudah penuh dengan air mata. "Udah? … Where is my lovely Gal?" Tanya gue.

"Udah mati!" Jawab Karina cepat.

"Heyy kok kamu ngomong gitu sih?... Gal listen me. Aku ga tau apa penyebab kamu seperti yang mami bilang sama aku. Tapi kalo memang karena aku. Tolong Gal, stop it. Aku ga pantes dijadikan alasan kamu ngerusak hidup kamu, aku ga pantes dijadikan alasan kamu buat ngerusak masa depan kamu, aku ga pantes dijadikan alasan kamu jadi pemberontak liar begini, jangan Gal. Please aku mohon, cari alasan yang lebih berarti dari sekedar aku."

"Kenapa kamu nyuruh aku nyari alesan lain. Kenapa kamu engga nyuruh aku berenti sama kaya Mami, Daddy! Berarti kamu ngedukung dong semua kemunduran aku ini?"

"This your life, kamu mau ngisep ganja sebanyak-banyaknya itu urusan kamu, Kamu mau mabok-mabokan itu hak kamu, kamu mau ganti-ganti pacar setiap hari itu terserah kamu, aku cemburu deng kalo itu. But do with your own risk everything what you do! Kamu sadar kamu jalan mundur, berarti kamu sadar kalo kamu bisa nabrak sesuatu kapan ajah, bisa kesandung kapan ajah dan jatuh tersungkur sejatuh-jatuhnya kapan ajah. Tapi jangan pernah ngelakuin itu dengan alasan aku."

"Kenapa?" Tanya Karina.

"Gal, kita engga pernah tau apa yang terjadi besok, lusa, minggu depan, bulan depan, taun depan, sejatuh-jatuhnya kamu nanti, aku mau jadi orang yang bisa ngangkat kamu kembali, tapi gimana bisa nanti aku ngangkat kamu lagi kalau kamu sudah benci aku yang jadi penyebab kamu jatuh."

"Nyatanya aku udah benci kamu!"

"Really? Lalu kenapa boneka itu masih ada di situ? …" Gue menunjuk sebuah boneka beruang yang berukuran sangat besar. "Sepatu itu masih di sana?" Gue lalu menujuk sebuah sepatu yang gue ingat saat gue membeli itu gue harus 'puasa jajan' dua bulan. "Terus kenapa kalo kamu benci aku kamu pake baju ini!?"

"Ini dari Bella."

"Yang beli tapi aku di Jogja Gal."

"Tetep ajah yang ngasih Bella."

"Iya udah iyah."

"Se…" Panggila Karina pelan.

"Ya Gal" Sahut gue sambil terus mendekap tubuhnya.

"Ini engga pernah sama sekali tentang kamu, ini karena aku terlalu menyesal sama kesalahan yang pernah aku perbuat. Semua yang aku lakuin cuma buat ngalihin rasa sesal aku Se. Saat aku isep ganja, aku ngerasa semua sesal aku ilang, saat aku nengguk miras semua penyesalan seperti engga pernah aku perbuat."

"Banyak cara yang bisa dilakuin kenapa itu harus seperti itu Gal?"

"Ga tau, mungkin aku mau yang instan."

"Apa yang kamu seselin sih Gal?" Tanya gue. Karina tersenyum memeluk gue makin erat. "Because you was here, semua sesel aku sekarang bukan sesal lagi." Jawab Karina lirih.

"Me?" Tanya gue memastikan. Karina lalu melepaskan pelukannya dan … "PLAAAAKKKK!!" Telapak tangan Karina mendarat darurat di pipi gue dengan sangat cepat.

"Tapi tetep aku jijik denger kenapa kamu jadi bisa berantem sama Jono!"

Gue hanya bisa diam mengusap-usap bekas tamparan Karina yang sangat kencang hingga membuat telinga gue berdengung kengcang.

"Se, I'm so sorry pernah engga percaya sama kamu."

"Kalo sesel kamu cuma karena pernah engga percaya sama aku, udah ga perlu dibahas lagi Gal. Semua udah terjadi. Toh memang itu salah aku, memang saat itu aku bener aku engga khianatin kamu saat itu, secara kondisi benar. Tapi secara hati saat itu aku memang udah khianatin kamu, hati aku udah terbagi saat itu."

"Se, maafin aku yah." Ucap Karina tiba-tiba.

"Ga perlu minta maaf sama aku Gal, minta maaf sama Mami sama Daddy. Mereka khawatir banget."

"Ih bukan itu."

"Apa?"

"Maafin aku masih masih butuh kamu. Aku tau saat ini ada orang lain yang kamu sayang, tapi aku engga bisa bohong aku masih butuh kamu."

"Gal, aku bakal selalu ada buat kamu kapanpun kamu butuh."

"Pacar kamu?"

Gue terdiam tidak lagi bisa menjawab pertanyaan Karina. Gue hanya bisa melempar janji kalau gue akan selalu ada kapanpun saat dia membutuhkan gue. Sebuah janji yang sebenarnya gue ragu untuk gue tepati. Tapi juga gue tidak ingin melihat Karina terus-terus terpuruk HANYA KARENA GUE. Karena menurut gue, gue bukanlah orang yang baik yang harus disesali kepergiannya. Patutnya bersyukur jika gue tak lagi ada di samping Karina. Karina pantas mendapat yang jauh lebih baik dari pada gue, yang hanya seoonggok daging berjalan yang bahkan tak tau apa yang harus di minta dalam berdoa.

.


...Tapi jika suatu hari nanti tanpa sengaja kita bertemu di suatu tempat, sapalah aku sebagai seseorang yang pernah menjagamu dalam doa dengan begitu baiknya...


Kosan gue menjelang magrib.

"Tapi semisal ketauan gimana?" Tanya Malik.

"Yaitu pikirin nanti deh." Jawab gue.

"Tapi sebenernya lo sama Dita gimana sih Nyet?" Tanya Abdul.

"Ga tau Nyet, yang jelas udeh kek orang pacaran, tapi status ga jelas gini. Tiap gue mau nembak, dia tutup kuping mulu, katanya belom waktunya belom waktunya mulu."

"Pertanyaan sekarang gini. Waktu yang tepatnya kapan?" Tanya Malik yang benar-benar sudah terkontaminasi cara bicara gue. Hihihihi. Gue mengangkat kedua bahu gue tanda kalau gue tidak tahu jawaban pertanyaannya. Suara adzan magrib pun berkumandang, dengan cepat Abdul dan Malik mengambil botol air mineral lalu menenggaknya habis.

"Anjrit! Kek puasa ae lo berdua."

"Eh iyee yeh, lupa gue kalo gue ga puasa. Hahaha." Celetuk Abdul.

"Kalo gue sih emang puasa." Sahut Malik

"Kadal, lo tadi siang makan bareng gue." Timpal Abdul.

"Setengah hari."

"TOKAIIIIIIIII"

Selesai ikut-ikutan buka puasa. Gue, Malik dan Abdul kembali duduk menyandar, kali ini karena kekenyangan. Badan gue sulit untuk gue gerakan, terlalu malas untuk bergerak tepatnya. Bahkan saat handphone gue berdering, gue malas untuk mengambilnya. Gue menyuruh Malik untuk mengambilkannya karena posisinya dekat dari meja gue meletakan handphone. Namun saat melihat siapa yang menelpon tiba-tiba malas gue hilang. Setengah meloncat gue berdiri dan panik.

"Kenape lo?" Tanya Malik.

"Gue lupa dari tadi smsnya Dita belom gue bales-bales nih sekarang die nelpon, alesan apaan yah?"

"Bilang ae ketiduran sok bingung lagi lo, raja bokis!" Celetuk Abdul.

"Haaah that's kanan! Hahahah." Sahut gue lalu menjawab panggilan telpon Dita. Setelah sebelumnya menyetel tenggorokan agar suara gue yang keluar sedikit parau seperti seseorang yang baru saja bangun dari tidur.

"Kamu mati Kak sms aku ga dibales-bales!?" Suara Dita menggelegar karena gue mengaktifkan mode speaker. Sementara Malik dan Abdul menutup mulutnya menahan tawa.

"Ehhmmmm, maaf Ta, aku baru bangun tidur."

"Tidur sampe 12 jam? Hebat banget." Sahut Dita sedikit jutek.

"Iyaaa aaaa … Maa aaaaff … hoaaaa … ngantuk banget, karena begadang semaleman nih." Sahut gue membela diri sementara Abdul dan Malik terlihat seperti ingin muntah.

"Oh."

"Kamu marah?"

"Engga."

"Iya kamu marah."

"Ishh males banget marah sama kamu."

"Yaudah kalo ga marah." Sahut gue.

"Isshhh… tuut tuut tuut" Panggilan telpon berakhir. Suara Malik dan Abdul langsung menggelegar mereka tertawa puas sekali "Belom jadian padahal. Gilaaaa!" Ucap Abdul sambil tertawa.

Ucapan Abdul langsung terngiang-ngiang di kepala gue. Pikiran gue tiba-tiba langsung mengcompare antara Dita dan Karina.

"Pas gue pacaran sama Karina keknya dia ga gini-gini amat, ini belom jadian ajah udah begini, gimana jadian." Ucap gue dalam hati. Namun gue juga merasa seperti ada yang membisiki gue seperti ini. "Yah wajar dia bete, lo kan janji mau nonton DVD sama lo. Lagian kan lo bohong. Lo ga tidur."

"Gue tidur! Gue beneran tidur kan tadi."

"Iya tapi lo engga bilangkan lo tidur sama siapa? Coba lo bilang lo tidur di kamarnya Karina, cuma berdua, manja-manjaan, coba lo bilang, apa reaksi dia coba!?"

"Yah lo gila ajah kalo gue bilang!"

"Ya berarti lo salah kan, wajarlah dia cuma bete doang gitu."

"Iya juga yah. Eh btw lo siapee kadal!??"

"Aku adalah Kamu, kamu adalah aku. Hahahahaha."

"Paan sih lo ga lucu, sempak!"

"Yah masa ga lucu? Lucu dong!"

"Engga!"

"Lucu!"

"Wani pirooo?"

"Ceban!"

"Yah ceban beli seempel juga ga cukup!!"

"...."


"Yah die cengengesan sendiri." Celetuk Malik yang langsung membuyarkan percakapan gue entah dengan siapa.

"Eh… hahahaha. Udeh ah gue mau mandi, gue mau ngedate dulu sama calon pacar baru." Sahut gue lalu masuk ke dalam kamar mandi.

The reason is you
profile-picture
profile-picture
profile-picture
echariemas dan 4 lainnya memberi reputasi
4 1
3
Senandung Black n Blue
29-06-2019 03:19

Part 4.1-b

Cinta seperti penyair berdarah dingin
Yang pandai menorehkan luka.
Rindu seperti sajak sederhana yang tiada matinya. -Kutipan puisi Pacar Senja karya Joko Pinurbo


Gue bukan orang yang mahir dalam mengartikan sebuah puisi, gue hanya penikmat setiap larik dari puisi. Ada yang bilang pada gue, kalau puisi itu abu-abu. Gue tidak menyangkal, karena tiap puisi akan selalu berbeda tiap kali kita membacanya. Mungkin benar kata Supardi, Puisi punya dunianya sendiri.

Gue juga bukan orang yang ahli dalam membuat syair, apalagi puisi. Tapi gue orang yang mengerti mengapa banyak orang yang gemar menulis puisi. Lebih-lebih tentang cinta. Ratusan, ribuan, jutaan, bahkan milyaran puisi lahir dari rahim sebuah rasa yang kita sebut cinta.

Cinta memang gila, luar biasa gila. Cinta bisa mematahkan logika, bahkan mungkin menghilangkan logika. Coba saja ingat lagu Agnes Mo "Cinta ini … kadang-kadang tak ada logika!" Jelas cinta itu bukan seauatu yang harus masuk dengan logika. Atau coba dengar saja lagunya NTRL "Cinta memang gila, tak kenal permisi, bila disengatnya, say no to compromi." Gila benar cinta.

Beruntungnya, gue merasakan sekali saat ini cinta sudah mematahkan logika. Jika dipikir dengan logika, untuk apa gue memulai sesuatu yang baru dari awal. Pendekatan yang menjijikam, rayuan-rayaun gombal yang bikin sakit perut, atau untung-untungan pada sifat asli orang baru gue dekati setengah purnama ini. Untuk apa gue memilih itu semua kalau di antara pilihan lain ada seseorang yang sudah sangat mengenal gue, sebaliknya dia juga gue mengenalnya dengan baik. Keluarga kami juga saling mengenal sangat baik. Atau mau mengambil pertimbangan dari pemahaman jawa tentang bibit, bebet, bobotnya, sudah jelas Karina lebih masuk ke dalam logika ketimbang Dita.

Tapi kenapa? Kenapa gue lebih memilih Dita dari pada Karina, lalu membiarkannya menanggung sesal, menanggung sakit yang sudah jelas obatnya hanya dengan cara kami kembali. Jika dipikir: orang macam apa gue ini? Tega sekali!

Cihh, gue memang tega. Gue menggunakan kata beruntung merasakan ini semua.

Maafkanlah aku Gal, kelak kamu akan mengerti. Kalau cinta itu benar-benat bisa merusak segala akal sehat. Mungkin saat ini aku seperti pembunuh berdarah dingin untuk kamu. Tapi kita tidak pernah tahu kan apa yang terjadi besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan, sedekade kedepan? Atau kalau kamu percaya reinkarnasi … Oh maaf aku alpha kamu tidak percaya reinkarnasi. Yah pada intinya, aku meminta maaf, karena hatiku menemukan pembenaran atas semua ketidakmasukan akal ini.

Hati dan akal memang selalu bertentangan bukan? Akalku selalu padamu, tapi hatiku mengatakan bukan kamu Gal. So, I'm so sorry aku tidak menggunakan akalku untuk mempintarkan hatiku, tapi aku menggunakan hatiku untuk membujuk akalku, membenarkan logika, pada sebuah harapan baru, yang saat ini sedang merundung karena semalaman itu, hingga pagi aku terus mendekapmu.

Tapi tenang, Jokpin bilang "Rindu itu seperti sajak yang tiada matinya." Aku cinta Dita Gal, tapi aku rindu kamu. Kamu jangan cinta aku, rindu saja, tidak berat seperti kata Dilan. Dilan bohong! Rindu itu tak ada matinya. Hihihihihi.

.


Sesampainya di rumah Dita gue hanya duduk di posnya Pak Dade, gue tidak dibukakan pintu oleh Dita. Tega sekali! Tapi gue tidak mau langsung pulang begitu saja. Kesempatan kali ini gue manfaatkan mengenal Dita lebih dalam dari sudut pandang Pak Dade. Ada yang menarik saat Pak Dade bercerita. "Dulu Non Dita pernah pacaran lama sama seorang anak laki-laki yang seusia Non Dita."

"Lah saya juga seusia Dita Pak."

"Tapi kamu kaya lebih tua ee, heheheh."

"Sialan Pak Dade." Ujar gue dalam hati.

"Namanya Ige, Anak Agung Gede blablabala nama panjangnya, anak keturunan Bali asli. Pacaranya dari mereka kecil dari SD …"

"Dari SD Pak? SD udah pacaran? Luar biasaaa." Celetuk gue.

"Iya memang paling-paling deh Non Dita kalo dibanding sodara-sodaranya yang lain, paling centil, paling manja, palinh aktif, paling ndak bisa diem, paling ga bisa susah dibilangin."

"Keliatan sih Pak, sampe sekarang juga masih ndableg" Sahut gue dalam hati. "Itu dari SD sampe kapan Pak Pacarannya?" Tanya gue.

"Ndak tau yah pastinya udah engga pacaran kapan, tapi semenjak Non Dita SMA si Ige jarang kemari lagi." Jawab Pak Dade.

"Jarang berarti pernah dong."

"Iyo, semalem abis dari sini."

Jika ini sinetron percayalah saat ini ada sound efek suara petir, gue lalu melipat tangan gue di depan, mata gue menatap sinis seperti Meriam Belina. Bibir gue senyum setengah seperti Feni Rose. Atau kalau ini anime gue pasti sudah mengatakan "NANIIIII!!!" atau "Omaiwaaaa!!" sambil mengepalkan tangan gue di samping pelipis yang agak mengkerut.

Tapi untungnya ini bukan sinteron atau anime, gue hanya beberapa kali menganggukan kepala dalam hati gue merasa mendapatkan kartu AS yang suatu saat bisa gunakan untuk membalikan keadaan. Dasar licik! Hihihihi.

Di tengah obrolan asik gue dengan Pak Dade, Sandra si bontot alias adiknya Dita yang cantiknya ga ketulungan yang bikin gue ngeces seember tiba-tiba keluar dari dalam rumah lalu memanggil gue.

"Kak Nat, siniii."

"Ahh iyaa yank, eh San hahahah."

"Ih ganjen! Gue bilangin Kak Olven nih" Sahut Sandra, Dita memang dipanggil di keluargnya dengan sebutan Olven, gue tidak tahu artinya. Mungkin ada di sini orang Manado. Bisa kasih tau gue apa artinya? Karena setiap gue tanya pada Dita dia tidak mau jawab.

"Candaa yee jangan dimasukin hati, gue serius eh hahaha. Ga ga kenapa San?"

"Disuruh masuk sama Kak olv masuk sini." Jawab Sandra sambil berjalan masuk ke dalam rumahnya kembali. "Kak, Kak Nat sebenernya udah jadian belom sih sama Kak Olpen?" Tanya Sandra.

"Si Olpenya bilangnya gimana?" Kebiasaan gue muncul lagi.

"Yee, Sandra nanya serius."

"Kalo Serius itu band asal Bandung, vokalis Kang Candil."

"Ahh tau ah orang gue nanya serius bukan seurius."

"Haahah, udah tanya ajah sama kakak lo lah. Bingung juga gue." Sahut gue.

"Kalo kata Kak Olv si udah, tapi kalo udah kok semalem Kak Ige kemari yak?" Sahut Sandra entah bertanya pada siapa dengan wajah polosnya yang menggemaskan.

Ahh sayang ae lu adeknya pacar gue. Kalo bukan, adeknya orang lain lu san! Eh pacar? Hehehehehe.

"Ige?" Gue pura-pura tidak tahu.

"Eh heheh, ga kok, udah lupain." Sahut Sandra lalu berlari menyusuri tangga sambil berteriak memanggil Dita. Gue lalu duduk di ruang tengah rumah yang kalo kata orang dulu rumahnya segede gaban. Gue duduk menunggu Dita sambil memainkan game sonic yang dulu gue beli dengan harga 20ribu di konter handphone dan gue menyesali sekali sudah membelinya. Karena di konter yang lain harganya 10ribu emoticon-Frown

10 menit berlalu Dita tidak juga turun, gue masih asik memutar sonic. 15 menit Dita juga belum tidur, sonic sudah mulai protes dan pusing terus berputar. 20 menit Dita masih belum juga turun, kali ini gue yang pusing karena diputar Sonic. 25 menit gue dan Sonic yang pusing, liat Sandra mondar mandir. 30 menit kita semua pusing Sandra juga ikutan pusing karena jokes gue garing emoticon-Hammer (S)

Di menit ke 30 lewat 59 detik, pusing gue ilang, berganti pening yang ngeliat Dita makin bening pake abaya kerudung ping, jadi ngayal kemping, di Puncak Sumbing, sambil ngerayu Dita pake lagunya giring.

"Ta, kamu cantik banget." Ucap gue saat Dita turun dari tangga sedikit berjalan lenggok macam model.

"Gombal!" Sahutnya sambil mengibaskan kerudung yang sebelumnya dia kenakan seadanya. "Bagus ga Kak?" tanya Dita setelahnya.

"Banget, kamu cantik banget kalo pake kerudung. Yahlil Jannah Ya Bidadarinya aku." Sahut gue entah apa yang gue ucapkan, gue benar terpesona melihat kencantikan Dita saat memakai kerudung. Cantiknya bertambah 1000 kali lipat. "Kamu dalam rangka apa pake baju begini Ta?" Tanya gue.

"Buat lebaran Kak, baju lebaran."

"Oh, eh dulu kamu kan lagi ngambek sama aku."

"Udah tapan dulu, ngambeknya aku pause dulu, lanjut nanti, kamu ke atas sana Kak, ukur badan mau dibikinin baju lebaran sama Mamah."

"Dih ada sih gitu, ngambek dipause. Kamu doang udah yang bisa gitu." Sahut gue.

"Bodo, udah cepet sana ditungguin Mamah di atas."

"Eh serius?"

"Peterpan!"

Masih dihitung jari gue kenal dengan Dita (jari tangan tambah jari kaki) tapi keluarganya memperlakukan gue dengan begitu istimewanya. Gue jadi merasa terenyuh dengan kehangatan keluarga ini. Dalam hati gue langsung merasa rindu dengan Bapak dan Ibu gue menebal hingga setebal kulit Gajah Way Kambas. Dita seperti melihat perubahan ekspresi gue, lalu bertanya pada gue kenapa. Gue menjawab sejujur-jujurnya dan dibuat kaget lagi oleh jawaban Mamahnya Dita.

"Loh kita semua sekarang ini keluarga Kamu Nata, Jangan e orang merindu begitu. Peluklah kami kalau kamu rindu dengan Ayah dan Mamahmu."

"Iyah tan…"

"Jangan panggil Tante, panggil Mamah. Mengerti? MAA..MAAHHH"

"Haaah iya Mah, aduh Nata jadi terharu, nangis ahh hehehehe."

Gue bukan anak rantau tapi gue berasa seperti anak rantau di kampung halaman gue sendiri. Tapi beruntunglah gue banyak yang sayang pada gue. Baba, Umma, Tante dan Om gue, Mamah dan Ayahnya Dita, Mami dan Daddynya Karina ahh gue sayang semuanya bisa ga sih semuanya jadi keluarga gue beneran ajah.

Selesai badan gue diukur-ukur oleh Mamahnya Dita, gue dan Dita kembali ke bawah, gue duduk di ruang tengah, gue duduk di bawah, tidak di sofa. Gue sengaja duduk di bawah agar bisa meluruskan kaki gue dengan sempurna.

"Ngapain di bawah sih Kak?" Tanya yang duduk di sofa tepat di belakang gue.

"Mau slonjoran, pegel."

"Yaudah di bawah ajah, jangan naik-naik aku mau lanjutin ngambeg aku." Ucap Dita.

"Ya ya ya whatever." Sahut gue. Dari pantulan di layar televisi yang tidak menyala gue melihat Dita meledek gue. Menirukan gaya mengucap gue, tapi saat gue berbalik badan dia langsung diam. Bibir bawanya sedikit di majukan sambil memainkan kukunya. Lucu sekali.

"Kak." Panggil Dita setelah 5 menit kami diam.

"Hah."

"Aku udahan nih ngambegnya."

"Trus?"

"Issh judesnya keluar. Kamu kalo lagi judes gini ngeselin tau ga sih kak. Tau ga dulu yah waktu aku baru masuk trus ketemu kakak di kantin, numpang duduk, trus kamu judes sama aku … Ihh amit-amit judesnya lebih-lebih dari senior perempuan."

"Haah? Masa sih? Biasa ajah ah." Sahut gue membela diri.

"Iyah, rasanya tuh aku mau siram muka kamu ajah." Sahutnya sambil memainkan rambut gue. "Kak rambut kamu udah panjang lagi nih, potong yah besok."

"Kalo inget."

"Aku ingetin …" Sahut Dita sambil menjambak rambut gue. "Trus trus yah …"

"Udah stop, jangan dilanjutin ceritanya!" Sambar gue karena setelahnya ada hal yang sangat memalukan buat gue.

"Hahahah, kenapa? Hahahah …" Tawa Dita pecah. "Hahahah, kak" Panggil Dita.

"Hemmmm."

"Kok bisa sih? Salting gitu. Cuek-cuek tapi ngelirik yah, ganjen."

"Ih pedenya." Sahut gue lalu berbalik badan dan menarik hidungnya. "Tapi ga salah sih, saat pertama ngeliat kamu tuh aku langsung ngerasa captivating gitu, jadi salting deh. Hihihihi." Gue teringat hal memalukan itu. "Tapi hari itu kamu menyebalkan sekali!" Lanjut gue sambil menepuk pipi gue.

"Hihihihi, ya maaf. Lagi tangannya belanja."

"Lah, ga sengaja aku refleks, asli sumpah ga sengaja"

"Iyah tau kak." Sahut Dita sambil mengusap-usap kepala gue. Nyaman sekali rasanya, kepala gue dibelai lembut, jemari lembut Dita seperti alat terapi yang menenangkan kepala gue yang belakangan ini rasanya gue gunakan secara berlebih.

.


...Kalau hanya membedakan yang baik dan tidak, Monyet juga bisa! Kita ini manusia, harusnya bisa memilah mana yang baik dan lebih baik…


Rumah Abdul menjelang pergantian hari.


"Jadi intinya lo sama dia sama-sama ngumpetin sesuatu tentang masa lalu." Ucap Abdul setelah gue menceritakan panjang kali lebar tentang mantannya Dita yang belum dia ceritakan pada gue.

"Yah begitu kurang lebih."

"Nat." Panggil Abdul.

"Haah!?"

"Lo yakin mau lanjutin? … " Tanya Abdul, gue menoleh ke arahnya memicingkan mata. "Maksud gue, lo berdua belom resmi pacaran, tapi lo berdua udah bohong-bohongan."

"Gue engga bohong Dul, gue kan cuma belom bilang, nanti gue juga bakal bilang!"

"Nantinya kapan? Kalo kegep baru cerita?"

"Hihihihi, yah gue kan punya kartu AS."

"Yah terserah lu lah, kalo emang mau lo gitu, gue bisa apa. Gimana kita taroan?" Tantang Abdul seperti biasa kami yang hobi berjudi (Jangan dicontoh kalo kalah! Kalo menang gapapa, hihihahah)

"Taroan apa?"

"Lo kuat berapa lama sama Dita."

"Boleh, your bet?"

"5juta, untuk satu tahun!" Ucap Abdul.

"Ye setahun 5 juta, gila lo! Ogah."

"Lah kenapa? Kalo lo niat serius kaya yang lo bilang ga masalah dong? Kecuali kalo lo ada indikasi cuma main-main dan lo ga yakin nantinya lo tahan lama sama dia."

"Angkanya boss yang gue masalahin. Kek taroan sama Jono lo. Meja kecil, males." Sahut gue.

"Tambah motor gue!"

"Deal!! Sekarang tanggal 6 September, berarti sampe 6 september 2010 nih?" Tanya gue.

"Iyeh, gimane?"

"Lama juga yee setaun, menang ga gue yee?"

"Kalo lo udahan sebelum setaun, lo cukup kasih gue 6rebu(juta) ae gimane?" Tantang Abdul.

"Oke, deal." Ucap gue lalu gue dan Abdul berjabat tangan.

Abdul lalu merebah badanya di kasur, sementara gue masih duduk di pinggiran kasur, sambil memetik pelan senar-senar gitar milik Abdul. "Nge." Panggil gue.

"Hemmm."

"Kalo dipikir-pikir kan mending gue balikan sama Karina yak."

"Emang!" Suara Abdul tertahan bantal yang dia gunakan menutup wajahnya.

"Kok gue bisa-bisanya yah jahat sama Karina. Gue jahat ga sih Nge?"

"Banget!"

"Yah, trus pegimane dong?"

"Ente pegimane? Labil ente! Tadi siang kekeh sama Dita, malem aje mikirin Karina!"

"Yah namanya juga anak-anak Nyet."

"Anak kingkong lu sih!" Ucap Abdul lalu kembali duduk. "Ehh begok … " Lanjut Abdul melepar gue dengan bantal. "Lo apaan sih. Lo nih udah 17 taun, udah bisa bedain harusnya mana yang baik dan mana yang lebih baik. Bukan bedain yang baik dan mana yang engga. Kalo cuma bedain yang baik atau engga, monyet juga bisa!!"

"Yatapi Nge…" Gue bicara sambil melempar kembali bantal yang sebelumnya dilempar Abdul. "Ini ga semudah milih apel mana yang mau gue makan! Kadang gue yakin, tapi ada kalanya kaya sekarang ini gue ragu lagi. …."

"Yaudah makan ajah dua-duanya biar kenyang!" Celetuk Abdul.

"Bener lo! Bener-bener temen anjing!!"

"Yah lagi antum kek apaan tau begitu, udeh mending antum ngopi dulu deh. Keknye lo belom kena kopi dari kemaren nih mangkanye begok!"

20 menit kemudian gue dan Abdul sudah berada di atap rumah gue. Iya, diatap rumah gue. Gue dan Abdul memanjat dari atap rumahnya Abdul menyebrang ke atap rumah gue. Ada semacam dak sisa coran di lantai 2 rumah gue yang biasa gue gunakan dulu bersama Abdul untuk ngopi dan tentu bersembunyi untuk merokok agar tidak ketahuan orang tua kami.

Gue nekat memanjat, karena kangen pada tempat ini. Sudah lama sekali gue tidak 'nangkring' di sini. Gue hanya bisa berharap semoga yang mengontrak dirumah gue tidak menyadari gue berada di atap. Bisa-bisa gue dan Abdul diteriaki maling kalau mereka melihat.

Dari atap, gue memandangi langit malam Jakarta yang selalu membawa ketenangan buat gue. Yang selalu ramah memeluk dan hembusan anginya yang seolah berbisik kalau gue sedang berada di rumah.

Gue menghela nafas panjang, sayup terdengar suara palang pintu kereta api yang disusul suara kencang macam terompet yang ditiup panjang. Gue melihat jam di layar handphone gue. Sudah pukul 00.33 tanggal 7 September 2009. "Ahh itu pasti suara kereta barang yang menuju ke Tanjung Priuk dari arah Sukabumi." Ucap gue dalam hati, apal suara ini.

Angin berhembus agak kencang, seperti angin malam di musim panas. Seharusnya saat ini sudah masuk musim penghujan, namun romadhon ini Matahari tak pernah berbagi langit dengan awan hitam. Sepertinya Sang Empunya Takdir tak membiarkan manusia-manusia di bumi menjalankan Romadhon dengan mudah.

"Ahh apa, Tuhan itu baik!" Ujar gue dalam hati menghalau pikiran liar ini.

Sekali lagi gue menatap langit malam. Tidak ada bintang yang terlihat. Hanya ada cahaya besar bulan yang tidak utuh membulat. Ada yang mengajarkan gue kalau sesuatu yang indah itu tidak terlihat. Lalu gue mencoba menutup mata. Kini keindahan itu terlihat, jauh lebih indah dari sebuah panorama. Keindahan sempurna suatu wajah seorang anak manusia.

Perlahan gue membuka mata, perlahan keindahan itu menguap dalam deretan cahaya gemerlap lampu-lampu yang menghiasi sudut-sudut penglihatan.

Berulang gue melakukan hal yang sama, menampakan keindahan itu dalam gelap dan biarkan itu menguap dalam gemerlap. Sampai pada satu titik tersadar takan bisa gue mengukir senyum pada semua wajah yang menatap gue berharap. "Cinta itu memang pembunuh berdarah dingin."

wreido
profile-picture
profile-picture
profile-picture
echariemas dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Halaman 10 dari 28
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
black-eye2
Stories from the Heart
teror-hantu-dewi
Stories from the Heart
penghuni-lain-di-rumah-kost
icon-jualbeli
Jual Beli
Copyright © 2019, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia