alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cea9f9e09b5ca62651810f6/misteri-kepergian-rio
Lapor Hansip
26-05-2019 21:15
Misteri Kepergian Rio
Past Hot Thread
Dimana Rio?

Misteri Kepergian Rio

Sumber gambar: Pinterest

Hujan deras menyelimuti kota Bandung. Bau tanah bercampur air hujan menggelitik hidung Clarissa.

Jam 20:30, ia merasa lapar. Sepulang dari tempat kerjanya, Clarissa memilih untuk tidur tak kenal waktu. Sholat maghrib ia tinggalkan. Jiwanya memang benar-benar sudah mati.

"Rio," panggil Clarissa dengan suara yang keras.

Rio dengan wajah kusut menghampiri sang kakak. Ia mengusap kedua matanya pelan.

"Belikan makanan buat kakak!" titah Clarissa.

Rio hanya mengangguk dan mengambil uang lima puluh ribuan yang diberikan sang kakak. Tanpa berkata atau pun menyela, Rio keluar rumah dengan jaket dan mantel. Tak peduli hujan semakin deras, yang terpenting sang kakak kenyang dan tidur nyenyak.

Sudah biasa jika Clarisaa selalu semena-mena dengan Rio. Lelaki remaja itu hanya patuh mendengar perintah sang kakak. Karena ia merasa berhutang budi karena sang kakak membiayai sekolahnya dengan baik. Ia sadar, hanya anak angkat di keluarga sang kakak.

Clarissa berdecak pelan menatap pintu depan yang tak kunjung terbuka. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 22:00. Namun, Rio belum pulang.

"Dimana sih anak itu? Beli makanan kok lama," gerutu Clarissa.

Semenjak kedua orang tuanya meninggal, Clarissa kerja paruh waktu untuk membiayai hidupnya dan Rio. Apalagi lelaki remaja itu sudah menginjak Sekolah Menengah Atas yang tentunya membutuhkan biaya berkali-kali lipat daripada anak TK.

Suara pintu terbuka. Mengalihkan Clarissa dari lamunannya.Rio datang dengan menenteng sebungkus makanan. Jangan lupakan wajahnya yang tampak pucat dan baju yang basah kuyup.

"Lama banget, sih," ujar Clarissa.

Rio hanya diam dan memilih pergi entah kemana. Clarissa tampak acuh dan memilih memakan nasi goreng dengan nikmat.

Suara petir ditambah lampu yang tiba-tiba mati menambah kesan horror untuknya. Clarissa dengan suara nyaringnya memanggil Rio, "Rio, hidupkan lilin!"

Lima menit

Sepuluh menit

Dua puluh menit

Clarissa berdecak sebal. Dimana Rio sebenarnya? Dengan wajah kesal Clarissa melangkah menuju kamar Rio. Untung ia sudah menghabiskan makanannya.

Dibukanya kamar Rio dengan pelan. Clarissa menerawang menatap sekeliling kamar Rio. Tak ditemukan keberadaan adik angkatnya itu.

"Dimana sih?" tanyanya pada diri sendiri.

Merasa tak menemukan Rio, Clarissa memilih pergi ke kamarnya dan tidur. Ia sudah memikirkan cara untuk menghukum Rio. Karena adiknya itu menghilang tiba-tiba. Keluyuran entah kemana.

Dan, lagi-lagi Clarissa meninggalkan shalat isya' nya.

******


Cahaya matahari menyembul memasuki jendela kamar Clarissa. Gadis berumur 20 tahun itu dilingkupi kekesalan.

"Duh, telat kerja lagi."

Ia segera beranjak dari ranjang dan mandi.

Setelah mandi, Clarissa memilih menuju kamar Rio. Lagi-lagi kosong.

"Awas ya, kali ini kamu aman," ucap Clarissa.

Ia mengambil tas selempangnya dan menutup pintu utama dengan suara kencang. Tak peduli jika pintu itu nanti rubuh akibat amukannya. Ia sudah terlambat dan membuatnya pusing jika harus terkena omelan Boss.
Diubah oleh ilafit
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kageyama09 dan 32 lainnya memberi reputasi
31
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Tampilkan isi Thread
Halaman 15 dari 29
18-06-2019 10:17
Quote:Original Posted By neutric
Cepet ato lambat si Gafa bakal ketampar sama perbuatannya yg salah itu, dia udah nethink duluan sama keluarganya emoticon-Ngakak (S) Padahal yg dilakuin sama Pak Dio itu bnr, dan sesuai judul ni, bagian mana si Rio mempunyai peran penting di trit ini emoticon-Betty


Ada tunggu aja ya😂 tunggu kelanjutannya ya😄
Diubah oleh ilafit
0
20-06-2019 08:10
Catrine yang Licik
Kantor hari ini terlihat tegang. Banyak karyawan yang menjadi sasaran kemarahan pak Dio. Bahkan para bodyguardnya ia hajar.

"Kenapa bisa kecolongan lagi?" bentak pak Dio.

"Ma-maaf, Pak."

"Maaf terus, maaf terus. Bisa gak sih, kerja yang bener. Kalau gak bisa ya udah keluar! Saya gaji mahal kalian, tetapi hasilnya tetep saja. Kemarin Clarissa, sekarang Gavin. Kerjaan kalian apa? Tidur? Iya?"

"Kamu.." pak Dio menunjuk orang kepercayaannya.

"Selidiki dimana Catrine membawa putraku dan Clarissa. Secepatnya!"

"Ba-baik, Pak."

"Kamu.."

Bodyguard itu mengangguk.

"Ikuti Catrine dimanapun dia berada, dengan berpura-pura menjadi bodyguardnya. Rubah tampilanmu yang baru!"

"Siap, pak!"

****

Catrine memasuki ruangan dimana gadi cantik bernama Clarissa itu bersedih. Ia tertawa begitu keras.

"Ini bu makanannya."

Catrine mengambil piring yang berisi 5 sendok nasi dan lauk tempe. Bukan pelit, ia sengaja memberi makanan sedikit untuk gadis itu agar perlahan pergi. Karena selama penyelidikan yang dilakukan anak buahnya bahwa Clarissa menderita penyakit magh akut.

Clarissa diikat di sebuah kursi. Wajahnya penuh luka tamparan. Sudut bibirnya terdapat darah yang belum mengering. Tubuhnya benar-benar lemas.

"Makan!"

Clarissa menggelengkan kepala pelan. Ia menggerakkan badannya ke kanan dan kiri.

"Rio," lirih Clarissa.

Tak ada yang mendengar. Disaat seperti ini ia merindukan Rio, berharap Rio datang menolongnya.

Catrine menyuapi paksa Clarissa. Belum sempat terkunyah, ia menjejali makanan lagi dan lagi. Tak peduli makanan itu jatuh ke lantai. Lalu ia sisakan 2 sendok dan ditaruhkan di lantai beserta piringnya. Catrine keluar dengan mengunci pintu dimana Calrissa ada. Sungguh tak manusiawi. Clarissa juga bingung, apa salahnya. Ia tak pernah meminta hal ini terjadi.

"Rio, kakak butuh kamu," ujarnya sesenggukan.

Dalam ruangan yang terdapat pasien putra sulung dari pak Dio. Jari-jarinya bergerak pelan. Sepertinya ia mulai sadar. Kelopak matanya mulai terbuka. Ia menatap sekeliling. Suara kegaduhan di luar dapat didengarnya.

"Dimana kak Gavin?" tanya Gafa muka.

Catrine pura-pura tak tahu dan terkejut. "Tante mana tau, sayang."

"Katakan! Atau saya akan membunuhmu!"

"Tante beneran tidak tahu. Bunuh saja, tante. Lagipula memangnya kenapa, sayang. Tujuan kita kan untuk membunuh Clarissa."

Gavin membelalak mendengar nama mantan kekasih yang masih dicintainya. Ia mencoba menggerakkan badannya walau sakit dan terasa kebas. Maklum, koma sangat lama.

"Tante, bukan waktunya bergurau. Katakan! Dimana Gavin?"

Gafa mulai mencari dimana Gavin disembunyikan.

"Kamu tega sekali sama, Tante. Tante tak menyembunyikan Gavin. Gavin kan keponakan Tante," ujar Catrine dengan air mata buaya.

"Cuku, Tante! Katakan dimana?" teriak Gafa nyaring.

Di dalam sebuah ruangan Gavin berusaha bangkit. Ia merasa Clarissa juga disini. Ia harus menyelamatkan Clarissa. Ia tak mau gadis itu meninggalkannya. Ada sebuah pintu kecil di ruangannya. Mungkin sebagian orang tidak tahu. Ia mencoba bangkit dan menelusuri pintu itu. Ia yakin itu ruangan emnuju Clarissa.

"Argh," ucap Gavin lirih. Tubuhnya benar-benar sakit. Ia mencoba berdiri.
Menyemangati dirinya sendiri. Namun gagal, tubuhnya yang terlalu lemah membuatnya jatuh. Gavin mencoba mengesot ke arah pintu itu. Ia berjalan seperti suster ngesot. Pintu itu mengarah ke lantai bawah. Sebuah lorong yang panjang. Dari jauh, ia dapat melihat sebuah ruangan berpintu 2. Tidak ada penjaga. Karena memang ruangannya terkesan misteri dan sulit menemukan jalan keluar.

"Clarissa," ujar Gavin ketika dapat membuka pintu dengan dobrakan. Tubuhnya jatuh ke lantai.

"Gavin?"

"Iya, sayang."

Air mata Gavin mengalir. Clarissa terlihat lemah.

Gavin mengesot ke arah Clarissa. Ia segera membuka ikatan itu. Lalu memeluk Clarissa dengan erat.

"Ayo kita pergi!"

"Gimana caranya?" tanya Clarissa lesu.

"Kamu bisa membantuku berdiri?"

Clarissa mengangguk walau lemah. Mereka mencoba mencari jalan keluar tanpa diketahui oleh Catrine.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dupa.fair dan 7 lainnya memberi reputasi
8
20-06-2019 08:11
Masih misteri ya😂
0
20-06-2019 08:11
yang pasti semua ini ada hubungannya dengan Rio
0
20-06-2019 08:13
Rio belum kembali, yang pasti bentar lagi akan terungkap
profile-picture
janeeta97 memberi reputasi
1
20-06-2019 08:23
Quote:Original Posted By ilafit
Rio belum kembali, yang pasti bentar lagi akan terungkap


Jadi penasaran nih dengan ceritanya
0
20-06-2019 08:50
Quote:Original Posted By janeeta97
Jadi penasaran nih dengan ceritanya


Hehe, tunggu kelanjutannya ya☺
0
20-06-2019 16:44
Rio iiittttuuuuuu emoticon-Leh Uga
profile-picture
ilafit memberi reputasi
1
20-06-2019 19:44
Quote:Original Posted By ariid
Rio iiittttuuuuuu emoticon-Leh Uga


Jangan2😱Rio itu kamu?
0
21-06-2019 08:32
udah dicendolin yak
profile-picture
ilafit memberi reputasi
1
21-06-2019 19:36
Quote:Original Posted By YulianAnggita
udah dicendolin yak


Thanks, kak
profile-picture
YulianAnggita memberi reputasi
1
21-06-2019 21:14
Quote:Original Posted By ilafit
Thanks, kak


Ok... sama- sama ...emoticon-Pelukemoticon-Peluk
profile-picture
ilafit memberi reputasi
1
21-06-2019 22:08
itu gavin terbangun dr koma bukan titik ya


profile-picture
profile-picture
vanilla_91rl dan ilafit memberi reputasi
2
21-06-2019 22:09
Maaf dopost jaringannya jelek 🙏
Diubah oleh papagenit69
profile-picture
ilafit memberi reputasi
1
22-06-2019 04:55
Quote:Original Posted By YulianAnggita
Ok... sama- sama ...emoticon-Pelukemoticon-Peluk


emoticon-Kiss
0
22-06-2019 04:56
Quote:Original Posted By papagenit69
itu gavin terbangun dr koma bukan titik ya


Iya dari koma
0
22-06-2019 04:56
Quote:Original Posted By papagenit69
Maaf dopost jaringannya jelek 🙏


Iya, Kak
0
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support17
30-06-2019 16:10
Quote:Original Posted By ilafit
Misteri Kepergian Rio

Sumber gambar: Pinterest

Hujan deras menyelimuti kota Bandung. Bau tanah bercampur air hujan menggelitik hidung Clarissa.

Jam 20:30, ia merasa lapar. Sepulang dari tempat kerjanya, Clarissa memilih untuk tidur tak kenal waktu. Sholat maghrib ia tinggalkan. Jiwanya memang benar-benar sudah mati.

"Rio," panggil Clarissa dengan suara yang keras.

Rio dengan wajah kusut menghampiri sang kakak. Ia mengusap kedua matanya pelan.

"Belikan makanan buat kakak!" titah Clarissa.

Rio hanya mengangguk dan mengambil uang lima puluh ribuan yang diberikan sang kakak. Tanpa berkata atau pun menyela, Rio keluar rumah dengan jaket dan mantel. Tak peduli hujan semakin deras, yang terpenting sang kakak kenyang dan tidur nyenyak.

Sudah biasa jika Clarisaa selalu semena-mena dengan Rio. Lelaki remaja itu hanya patuh mendengar perintah sang kakak. Karena ia merasa berhutang budi karena sang kakak membiayai sekolahnya dengan baik. Ia sadar, hanya anak angkat di keluarga sang kakak.

Clarissa berdecak pelan menatap pintu depan yang tak kunjung terbuka. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 22:00. Namun, Rio belum pulang.

"Dimana sih anak itu? Beli makanan kok lama," gerutu Clarissa.

Semenjak kedua orang tuanya meninggal, Clarissa kerja paruh waktu untuk membiayai hidupnya dan Rio. Apalagi lelaki remaja itu sudah menginjak Sekolah Menengah Atas yang tentunya membutuhkan biaya berkali-kali lipat daripada anak TK.

Suara pintu terbuka. Mengalihkan Clarissa dari lamunannya.Rio datang dengan menenteng sebungkus makanan. Jangan lupakan wajahnya yang tampak pucat dan baju yang basah kuyup.

"Lama banget, sih," ujar Clarissa.

Rio hanya diam dan memilih pergi entah kemana. Clarissa tampak acuh dan memilih memakan nasi goreng dengan nikmat.

Suara petir ditambah lampu yang tiba-tiba mati menambah kesan horror untuknya. Clarissa dengan suara nyaringnya memanggil Rio, "Rio, hidupkan lilin!"

Lima menit

Sepuluh menit

Dua puluh menit

Clarissa berdecak sebal. Dimana Rio sebenarnya? Dengan wajah kesal Clarissa melangkah menuju kamar Rio. Untung ia sudah menghabiskan makanannya.

Dibukanya kamar Rio dengan pelan. Clarissa menerawang menatap sekeliling kamar Rio. Tak ditemukan keberadaan adik angkatnya itu.

"Dimana sih?" tanyanya pada diri sendiri.

Merasa tak menemukan Rio, Clarissa memilih pergi ke kamarnya dan tidur. Ia sudah memikirkan cara untuk menghukum Rio. Karena adiknya itu menghilang tiba-tiba. Keluyuran entah kemana.

Dan, lagi-lagi Clarissa meninggalkan shalat isya' nya.

******


Cahaya matahari menyembul memasuki jendela kamar Clarissa. Gadis berumur 20 tahun itu dilingkupi kekesalan.

"Duh, telat kerja lagi."

Ia segera beranjak dari ranjang dan mandi.

Setelah mandi, Clarissa memilih menuju kamar Rio. Lagi-lagi kosong.

"Awas ya, kali ini kamu aman," ucap Clarissa.

Ia mengambil tas selempangnya dan menutup pintu utama dengan suara kencang. Tak peduli jika pintu itu nanti rubuh akibat amukannya. Ia sudah terlambat dan membuatnya pusing jika harus terkena omelan Boss.


Bacanya nyaman. Gak bosen 😊
profile-picture
mbakendut memberi reputasi
1
Halaman 15 dari 29
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
akhir-penantian
Stories from the Heart
long-lost-love
Stories from the Heart
milk--mocha
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.