Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Yuk Gan / Sis, Saatnya Ikutan Survey di Forum Stories Form The Heart
259
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ca22986337f931d313a9741/kau-tetap-perempuan-surgaku
Sepanjang jalan setelah turun dari pesawat, walau jalanan ramai tapi terasa sunyi bagiku. Pikiranku melayang mengingat semua kenangan kebersamaan dengannya, perempuan surgaku. Udara malam begitu dingin, mungkin juga karena tadi turun hujan. Aku membenarkan selimut Nihla dalam gendongan. Gadis kecilku ini hanya diam saja dari tadi,
Lapor Hansip
01-04-2019 22:08

Kau Tetap Perempuan Surgaku

Past Hot Thread
icon-verified-thread
kumpulan cerpen kehidupan


Kau Tetap Perempuan Surgaku

Sumber gambar www. pixabay.com



Sepanjang jalan setelah turun dari pesawat, walau jalanan ramai tapi terasa sunyi bagiku. Pikiranku melayang mengingat semua kenangan kebersamaan dengannya, perempuan surgaku.

Udara malam begitu dingin, mungkin juga karena tadi turun hujan. Aku membenarkan selimut Nihla dalam gendongan. Gadis kecilku ini hanya diam saja dari tadi, seakan mengerti kesedihan mamanya.

Perjalanan masih lumayan lama untuk sampai ke kampung kelahiranku. Teringat kembali percakapan siang tadi dengan kakak, saat dia menelponku.

"Rin, Ibu sakit, " kata kakak setelah kujawab salamnya.

"Sakit apa, Kak? parah tidak?" tanyaku.

"Ibu terserang stroke, pas jatuh di kamar mandi," jawabnya.

"Astagfirullah ..., gimana keadaan Ibu sekarang, Kak?"

"Sudah membaik, tapi masih di rumah sakit," jelasnya. "pulanglah, kalau suamimu mengizinkan." Memang semenjak menikah aku ikut suami ke kota kelahirannya.

"Iya, Kak." Kututup telpon setelah mengucap salam.

Segera kuhampiri Mas Hanafi di depan TV, menceritakan keadaan ibu di kampung.

"Kita pulang sekarang, Ibumu Ibuku juga, pekerjaan bisa ditinggalkan, uang bisa dicari lagi, tapi waktu tak bisa kembali." ujarnya setelah aku ceritakan keadaan Ibu. "Jangan sia-siakan waktu," tambahnya lagi menghapus bulir-bulir bening yang kian membanjiri pipiku.

Arina namaku, akulah yang paling dekat dengan ibu. Beliau mengajarkan hitam putihnya kehidupan padaku, tentang kesabaran, keikhlasan, dan qona'ah.

Ibu, perempuan surgaku, perempuan tersabar yang pernah aku temui. Perempuan tertangguh yang pernah kudapati. Perempuan kuat yang tak akan pernah terganti.

Tak terasa air mataku menetes, mengingat perjuangan ibu membesarkan kami anak-anaknya. Setelah ayah meninggal, ibu bekerja serabutan asalkan halal ya dikerjakan. Ibu pernah menjadi tukang cari bekicot untuk makan bebek, supaya cepat bertelur. Ibu dikasih upah telurnya dan telur tersebut kemudian ditukar dengan beras oleh ibu.

Ibu juga sering bercerita tentang ayah padaku. Iya, aku tidak tahu banyak tentang ayah, saat beliau meninggal aku masih didalam rahim ibu. Wajah ayah pun aku tidak tahu, kata ibu setelah meninggal semua foto ayah hilang, tidak tahu siapa yang mengambil.

Setelah ayah meninggal, ibu memboyong kami anak-anaknya ke kampung kelahirannya. Malu, itu alasan ibu jika harus tetap tinggal di rumah nenek.

Ibu sering bercerita tentang semua kebaikan-kebaikan ayah, padahal aku tahu dari para tetangga di rumah nenek yang bercerita, bahwa ayah sering membuat ibu sakit hati. Ayah berkali-kali membagi cinta dan tak jarang membawa istri barunya tinggal seatap dengan ibu.

Namun, Ibu menerimanya dengan ikhlas yang terpenting kami anak-anaknya tidak kehilangan sosok Ayah. Para tetangga banyak yang mengatakan ibu bodoh, karena berkali-kali disakiti tapi tetap saja bertahan sama ayah. Pernah juga katanya, ayah berbulan-bulan tidak pulang kerumah tanpa meninggalkan uang belanja untuk ibu, sehingga ibu dan saudara-saudaraku hanya makan nasi aking.

Sampai suatu hari ayah mengalami kecelakaan lalu lintas, dari situ ayah mulai sakit-sakitan. Semenjak itu juga, istri-istri ayah yang lain meninggalkan ayah, hanya ibu yang bertahan dan yang merawat ayah sampai ajal menjemput. Mungkin benar juga kata orang kalau istri pertama tetap jadi tempat pulang, setelah lelah mengembara.

Aku tahu, ibu hanya menceritakan kebaikan-kebaikan ayah agar aku hanya mengenal baiknya tanpa tahu kejelekannya.

Aku tersentak dari lamunan setelah suami menyandarkanku kebahunya.

"Tenanglah, semua akan baik-baik saja," ujarnya mengelus kepalaku yang tertutup jilbab.

"Aku takut, Mas, takut tidak punya kesempatan bersama ibu lebih lama," ucapku lirih.

Entah sejak kapan aku terlelap, aku terbangun saat mobil yang kutumpangi sudah ada di parkiran rumah sakit tempat ibu dirawat. Aku segera turun setelah suamiku mengambil alih Nihla dari gendongan.

Tergesa aku menghampiri kakakku yang rupanya telah menunggu kami datang, setelah menyalaminya aku mengikuti langkahnya keruangan tempat ibu dirawat.

Butir-butir kristal ini tak terbendung saat melihat dia, perempuan surgaku, di sana perempuan yang pelukannya membuatku merasa tenang, perempuan yang dulu begitu kuat dan tangguh, kini terlihat lemah tak berdaya. Beliau tersenyum melihat siapa yang datang, walau ku tahu senyum itu bukan senyum bahagia. Kadang memang kita tersenyum hanya untuk terlihat kuat bukan?!
Segera kuraih tangannya menciuminya ta'dzim.

Setelah beberapa hari dirawat dan keadaan ibu membaik, dokter mengizinkan ibu dirawat di rumah saja.keadaan ibu memang membaik tapi beliau lumpuh total, tangan dan kakinya tidak bisa di fungsikan, hanya bisa tiduran dan bicarapun tidak jelas.

Selama di rumah aku dan kakakku yang bergantian merawat ibu, mulai dari menyuapinya makan, mandi, sampai mengganti diapersnya.

Kadang juga aku merasa lelah, saat ibu sudah mulai keras kepala, tidak mau makan atau mandi, tapi selalu kusugestikan kata 'ini pahala harus sabar, harus sabar'.

Pernah ibu menangis saat aku mengganti diapersnya, saat kutanyakan kenapa beliau menangis? beliau hanya menjawab malu pada kami anaknya.

" Kenapa harus malu, Bu, bukankah dulu ibu merawat kami lebih dari ini," ujarku.

Bukankah memang benar, seorang ibu merawat anaknya tanpa mengenal kata jijik, lalu mengapa kita sebagai anak harus merasa jijik saat diminta merawat orang tua kita yang sudah tidak berdaya.

Maafkan aku ibu, masih belum bisa menjadi anak yang benar-benar berbakti padamu. Selama suami meridhoi, aku akan tetap merawatmu hingga ajal menjemput, karena kini surgaku ada pada dia, suamiku.

Selesai.

Jangan lupa cendol dan fullownya ya, Gan.

belajar bersama bisa
Diubah oleh istijabah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
husnamutia dan 42 lainnya memberi reputasi
41
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 9 dari 13
Kau Tetap Perempuan Surgaku
29-05-2019 14:02
senja lagi, sy suka senja
profile-picture
istijabah memberi reputasi
1 0
1
Kau Tetap Perempuan Surgaku
29-05-2019 18:24
Nyesek ini maa
profile-picture
istijabah memberi reputasi
1 0
1
Kau Tetap Perempuan Surgaku
30-05-2019 04:19
Quote:Original Posted By febrianaryna
senja lagi, sy suka senja


Aku juga suka, apalagi liatnya dari atas pohon 😁
Kerjaanku dulu pas waktu masih bocah 😄
Diubah oleh istijabah
0 0
0
Kau Tetap Perempuan Surgaku
30-05-2019 04:19
Quote:Original Posted By srirahayu14
Nyesek ini maa


Kagak nahan ya 😢
0 0
0
Kau Tetap Perempuan Surgaku
31-05-2019 20:38
ibu ane udah meninggal emoticon-Mewek
profile-picture
istijabah memberi reputasi
1 0
1
Kau Tetap Perempuan Surgaku
31-05-2019 22:10
Quote:Original Posted By king666
ibu ane udah meninggal emoticon-Mewek


Semoga Allah menerima semua amal baiknya dan mengampuni dosanya. Aamiin.
0 0
0
Kau Tetap Perempuan Surgaku
31-05-2019 22:50
Quote:Original Posted By istijabah
Semoga Allah menerima semua amal baiknya dan mengampuni dosanya. Aamiin.


Amin
profile-picture
istijabah memberi reputasi
1 0
1
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
Kau Tetap Perempuan Surgaku
01-06-2019 08:09
Alhamdulilah suami juga meridhoi y merawat ibu.
profile-picture
istijabah memberi reputasi
1 0
1
Kau Tetap Perempuan Surgaku
01-06-2019 08:53
Quote:Original Posted By yunie617
Alhamdulilah suami juga meridhoi y merawat ibu.


Iya, Alhamdulillah
Dia rela melepas pekerjaannya juga.
0 0
0
Kau Tetap Perempuan Surgaku
01-06-2019 17:42
Sudah semakin rapi, mbak. Lanjutkan
profile-picture
istijabah memberi reputasi
1 0
1
Kau Tetap Perempuan Surgaku
01-06-2019 18:34
Quote:Original Posted By bekticahyopurno
Sudah semakin rapi, mbak. Lanjutkan


Terima kasih, Abangku 😘😘😘
0 0
0
Kau Tetap Perempuan Surgaku
02-06-2019 20:11
Sedih bacanya, jadi ingat ibu nun jauh disana, semoga sehat selalu
profile-picture
istijabah memberi reputasi
1 0
1
Kau Tetap Perempuan Surgaku
03-06-2019 02:33
Quote:Original Posted By iyonp7
Sedih bacanya, jadi ingat ibu nun jauh disana, semoga sehat selalu


Aamiin ya rabbal'alamin
0 0
0
Kau Tetap Perempuan Surgaku
03-06-2019 05:31
sediiihh
profile-picture
istijabah memberi reputasi
1 0
1
Kau Tetap Perempuan Surgaku
03-06-2019 06:02
Quote:Original Posted By astian.rachman
sediiihh


Sini peluk emoticon-Pelukemoticon-Pelukemoticon-Pelukemoticon-Peluk
0 0
0
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
Kau Tetap Perempuan Surgaku
07-06-2019 01:16
semoga allah selalu melapangkan jalanmu wahai perempuan salihah . . .. . terlalu baik kau jadi manusia ,
profile-picture
istijabah memberi reputasi
1 0
1
Kau Tetap Perempuan Surgaku
07-06-2019 06:28
Quote:Original Posted By jenthek
semoga allah selalu melapangkan jalanmu wahai perempuan salihah . . .. . terlalu baik kau jadi manusia ,


Aamiin ya rabbal'alamin
0 0
0
Kau Tetap Perempuan Surgaku
18-06-2019 11:11

Cermin

Kau Tetap Perempuan Surgaku
Sumber: pinterest

Biarkan anak-anak Anda mengamati tindakan kebaikan Anda yang tidak mengenal tempat dan waktu, karena hal itu dapat menular. – Kevin Heath
____________________________________

"Hore ... sepeda baru!" Bocah umur tujuh tahun itu berseru senang. Bangun tidur dia melihat ada sepeda baru di halaman rumahnya.


"Mandi dulu, Tole ... !" seru Emak Ijah dari ambang pintu dapur yang berada di samping rumahnya. Sedang si Tole sudah mengayuh sepedanya mengelilingi halaman rumahnya, seolah tak mendengarkan seruan Emak Ijah.


Sudah dari tiga bulan lalu Tole meminta dibelikan sepeda, tapi baru hari inilah keinginannya tercapai. Meskipun sepeda itu hanya bekas, tapi Tole sudah sangat senang. Karena dia tak akan lagi capek berjalan kaki ke sekolah.


Setengah jam kemudian Tole sudah siap berangkat ke sekolah, senyum tak kunjung pudar dari bibir kecilnya.


"Sarapan dulu, Le. Emak masak nasi goreng kesukaan kamu," ucap Emak Ijah tepat setelah Tole mendaratkan pantatnya di tikar yang digelar di lantai dapur.


"Kok, banyak sekali nasi yang dibungkus, Mak? Mau dibawa ke mana?" Itulah komentar pertama Tole saat melihat bungkusan-bungkusan nasi di depannya. Sebelum pertanyaan Tole semakin panjang, bapaknya sudah mengisyaratkan untuk mulai sarapan tanpa bicara.


***

Sang surya sudah tak lagi malu-malu menampakkan sinarnya, lalu lalang serta keriuhan anak-anak yang sedang berangkat sekolah mulai terdengar.


Emak Ijah mengayuh sepeda menuju arah sekolah Tole, satu plastik berisi bungkusan nasi berada di boncengan sepedanya. Tole sudah tidak sabar untuk sampai ke sekolah, ingin menunjukkan sepeda barunya. Namun, dia tidak berani menyalip, "tidak sopan." Kata guru ngajinya tempo lalu.


Ketika sampai di rumah-rumah petak kecil tempat para pemulung, Emak Ijah berhenti dan mengajak Tole ke rumah tersebut dengan membawa plastik berisi bungkusan nasi tadi.


"Kemarin kita panen besar dan mendapatkan untung yang banyak, Le. Jadi, hari ini kita bagi-bagi kebahagiaan kita pada mereka yang kurang mampu, sebagai rasa syukur kita pada Gusti Allah." Sembari berjalan Emak Ijah menjelaskan apa yang menjadi pertanyaan Tole di meja makan tadi. "Perlu kamu tahu, bahwa di dalam harta yang kita miliki itu ada hak mereka juga, Le. Ayo, Bantu emak bagiin," ucapnya setelah sampai di tempat para pemulung berkumpul.


***


Matahari mulai terik, lonceng tanda istirahat pun telah berbunyi. Di pintu anak-anak saling berdesakan ingin keluar lebih dulu dari kelas. Beberapa anak ada yang masih di dalam kelas termasuk Tole, bocah berambut sedikit ikal itu terbiasa membawa bekal dari rumah. Jadi, saat jam istirahat, sebelum bermain, dia akan memakan bekalnya lebih dulu.


Satu lagi temannya yang sering tidak ikut keluar kelas saat jam istirahat, Sari namanya. Sari sering tak keluar kelas dan memilih diam di kelas, kadang sampai tertidur. Setiap Tole memakan bekalnya Sari hanya tersenyum melihatnya dan Tole hanya melihatnya sekilas.


"Sari, hari ini aku bawa bekal banyak, kita makan sama-sama, ya," ucap Tole sambil menghampiri meja Sari dengan kotak bekal berisi pisang goreng di tangannya.


Tole tahu, Sari adalah salah satu murid yang berasal dari rumah-rumah para pemulung. Melihat temannya itu lahap memakan pisang goreng miliknya, Tole baru sadar bahwa Sari tidak ikut keluar kelas karena mungkin dia tidak membawa uang saku.


***


"Emak, banyakin bekalnya, ya," pinta Tole keesokan harinya saat Emak Ijah menyiapkan bekal.


"Tumben, Le. Banyak makan kamu sekarang, Le?" 


"Gak, Mak. Itu nanti aku bagi ke temanku, boleh tidak, Mak?" Tole bertanya sambil tangannya sibuk menyimpulkan tali sepatu.


Emak Ijah mengangguk dan tersenyum dengan binar di matanya. Tak perlu dengan banyak kata mengajarkan anak untuk berbuat baik. Cukup perlihatkan contoh nyata padanya, sedikit penjelasan dan libatkan dia dalam setiap hal baik.


Karena, orang tua itu laksana cermin bagi anak-anaknya. Setiap anak terlahir dalam keadaan putih dan yang membimbingnya lah yang menciptakan banyak warna.



☘️☘️☘️

Indeks Link
Cerpen sebelumnya Link di sini
Diubah oleh istijabah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mbakendut dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Halaman 9 dari 13
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
langkah-kecil-kecil
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
journey-of-decision
Heart to Heart
Heart to Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia