Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Mau Saldo GoPay? Yuk ikutan Survei ini GanSis!
111
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cd505a910d2955d3e387069/sfth-gadis-nakal
Bapak Rendra mau di situ sampai kapan? Bel istirahat sudah berdering dari tadi. Suara serak membuat wajah terangkat dari tumpukan buku folio. Pulpen hitam kuletakkan di tengah lembaran putih yang membuat pusing kepala. Sore ini aku harus merekap nilai anak-anak SMK Srikandi. Aku hanya memandang Rea, ketua kelas Ill Akuntansi yang berdiri di depan mejaku sambil bersed
Lapor Hansip
10-05-2019 12:01

(SFTH) Gadis Nakal

Past Hot Thread
(SFTH) Gadis Nakalcanva


Part 1


"Bapak Rendra mau di situ sampai kapan? Bel istirahat sudah berdering dari tadi."

Suara serak membuat wajah terangkat dari tumpukan buku folio. Pulpen hitam kuletakkan di tengah lembaran putih yang membuat pusing kepala. Sore ini aku harus merekap nilai anak-anak SMK Srikandi.

Aku hanya memandang Rea, ketua kelas Ill Akuntansi yang berdiri di depan mejaku sambil bersedekap. Mata bulatnya menantang. Gadis manis berpotongan sasak pendek itu memang terkenal kurang sopan.

"Saya sedang mengoreksi pekerjaan kalian."

"Setelah istirahat waktunya pelajaran olahraga, Pak."

"Lalu?"

"Kami mau ganti baju."

Ups! Aku lupa! Sekarang hari Kamis. Kuedarkan pandangan, hampir semua siswi masih berada di kelas. Seragam olah raga sudah tergeletak di atas meja. Biasanya mereka memang berganti baju di dalam kelas. Entah siapa yang memulai. Apa mereka nggak malu?

"Kalian ganti di kamar mandi saja." Aku mengerahkan semua kewibawaan.

"Baunya pesing, Pak. Bapak keluar saja, kerjakan itu di kantor." Tunjuk Rea. Bibirnya berdecap.

Aku bergeming. Semakin lama remaja ini semakin tak punya sopan santun. Pantas saja hampir tiap semester ada guru yang keluar. Hampir dua bulan aku mengajar, menggantikan saudara yang sedang sakit. Rasanya memang tak nyaman. Apalagi ini pengalaman pertama mengajar sejak aku lulus setengah tahun lalu.

"Terserah Bapak."

Rea kembali ke tempat duduknya di bangku urutan kedua dari depan. Sambil menatapku, ia mulai membuka kancing seragamnya. Diikuti siswi yang lain. Wah! Benar-benar gila. Wajahku terasa panas. Dalam dua detik, aku melesat pergi keluar kelas. Tanpa menoleh ke belakang.

Lupa membawa buku tugas anak-anak.

Kamvreto!

***

Para guru banyak mengeluh tentang kenakalan siswi angkatan pertama sekolah Srikandi. Kepala sekolah mendamaikan hati mereka. Beliau berkata bahwa wajar kalau anak pertama berbuat onar, mereka harus dirangkul dan dibimbing untuk mempersiapkan ujian negara. Nama baik sekolah dipertaruhkan. Bila lulusan pertama memuaskan, maka akan banyak orang tua yang berminat menitipkan anak-anaknya di sekolah ini.

Rea salah satu siswi unggulan. Meskipun agak berandal, nilainya selalu bagus. Di antara teman-temannya, ia yang paling bersinar. Gadis manis berdagu lancip dan bermata setajam pisau cukur.

Aku mengempaskan pantat di atas kursi. Memerhatikan halaman sekolah dari dalam ruang guru. Kebetulan mejaku dekat dengan dinding kaca bening. Bisa melihat kelakuan para murid Srikandi yang ajaib.

Sosok Rea berkelebat. Ia berlarian sambil memainkan bola basket sendirian. Wajahnya serius menatap ring. Dia mengambil ancang-ancang hendak melempar bola ke dalam keranjang. Matahari sore membuat rambutnya bersinar keunguan.

Bukannya memasukkan bola, dia menoleh. Mata kami bertemu. Netranya menembus jantung. Aku berlagak cuek, padahal detakan dalam rongga bertalu-talu. Rea menjulurkan lidahnya. Ia berlari menuju teman-temannya.

Hah. Apa itu tadi? Kenapa aku jadi panas dingin begini.

***

Di antara kabut tipis, Rea tersenyum, menunjukkan gingsul kecil di sudut bibir. Gadis itu mendekat sambil membuka satu persatu kancing bajunya. Aku meraih tubuhnya dan kami melayang ke angkasa.

Kabut itu perlahan memudar. Aku membuka kelopak mata. Plafon putih menyambut. Tanganku meraba ranjang. Tak ada Rea.

Ternyata hanya mimpi.

Mimpi yang membuat basah kuyup bagian depan celana kolor.

Asem!

***

Jomblo menahun membuatku setengah gila. Sejak putus dari Hannah tiga tahun lalu, belum ada satu gadispun yang bisa membuat hati berdebar.

Kecuali Rea. Remaja itu hanya kuanggap murid. Tidak lebih. Sepertinya aku harus segera mencari pacar lagi. Minggu depan ada pertemuan rutin guru SMK, siapa tahu bisa mendapatkan gebetan.

Haha!

Aku menyalakan motor, jam sekolah sudah berakhir lima belas menit yang lalu. Beberapa siswi masih terlihat bergerombol. Mereka berjalan menuju pagar. Rea terlihat paling bercahaya dengan tas ransel biru navy di punggungnya.

Sejak mimpi tak senonoh tempo hari, aku sebisa mungkin menghindari bertatap muka dengan Rea. Kami berinteraksi seperlunya.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan. Rea berlari mengelilingi halaman sekolah. Ia dikejar oleh teman-temanya. Setelah tertangkap, ada seorang yang memecahkan telur di atas kepalanya. Satu kantung tepung membuat rambut dan tubuh gadis itu menjadi putih.

"Selamat ulang tahun, Rea!"

"Hei kalian!" Aku berteriak  gahar.

Mereka tertawa, berlarian keluar pagar meninggalkan Rea yang membersihkan telur dari rambutnya.

"Titip Rea, Pak!" seloroh salah satunya.

Aku mematikan mesin. Mendekati Rea yang menjerit jijik.

"Kamu nggak apa-apa?"

"Amis, Pak! Bau ..."

Rea melemparkan ranselnya padaku. Ia berjalan terhuyung menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian, ia keluar. Rambutnya basah. Tetesan air membuat seragam putihnya melekat di kulit.

"Pakai ini. Ayo kuantar pulang." Aku membuka jaket, memberikan pada gadis yang menggigil di depanku. Dengan cepat ia memakai jaket yang sudah dua minggu nggak dicuci.

Semoga Rea betah dengan bau keringatku.

Motor matic kunyalakan, Rea duduk di belakang. Dia menyebut sebuah alamat yang tak jauh dari sekolah.

"Lewat jalan tikus saja, Pak. Takut ada polisi."

"Tunjukkan jalannya."

"Masuk gang itu, Pak."

Motor melaju pelan. Menerobos gang-gang sempit. Polisi tidur tak terhitung banyaknya. Setiap lima meter pasti ada jendulan. Setiap melewati jendulan, jemari Rea berpegangan pada pinggang.

Ah, cobaan! Alamat nanti malam bakalan ngompol lagi.

"Stop di sini, Pak. Itu rumahku." Rea menepuk pundak. Aku menghentikan laju kendaraan.

Ia turun, mengucapkan terima kasih dan berjalan menuju rumah mungil bercat biru muda. Sempat-sempatnya gadis itu melambaikan tangan. Senyumnya membuat jantungku rontok.

Nggak boleh. Dia adalah muridku. Seorang guru pantang menyukai siswanya sendiri. Kalau guru sampai tak bisa mengendalikan napsu, apa yang akan terjadi dengan generasi penerus bangsa ini. Di luar sana, banyak oknum nakal. Mereka menggunakan jabatannya untuk memperdaya gadis muda. Iming-iming nilai bagus dan bocoran soal ujian sudah cukup membuat mereka melepas harga diri.

Aku beda. Tujuanku menjadi guru semata-mata karena ingin berbagi ilmu yang bermanfaat. Bukan untuk mencari mangsa.

***

"Rendra, ada yang mencari." Mama memanggil dari lantai satu. Suaranya kerasnya seolah mampu menembus dinding.

Aku menghentikan kegiatan bermain game Mobile Legend. Hari libur memang paling seru dipakai untuk santai di rumah. Dengan malas, aku turun ke ruang tamu.

Rea sudah duduk manis di atas sofa hitam.

"Pak Rendra ...." Mata Rea terbelalak, sedetik kemudian, tawanya terlepas. "Bapak kalau pakai kaus oblong kelihatan seperti anak kuliahan."

Itu pujian apa hinaan?

"Kenapa kamu kemari, Rea?"

"Aku mau mengembalikan jaket. Terima kasih, ya." Rea memberiku tas kertas. "Maaf, Pak, terlambat mengembalikan."

"Kukira kamu sudah membuangnya."

"Nggak, Pak. Aku merawatnya, kok. Jaket Bapak sudah wangi."

"Oke, terima kasih."

"Pak Rendra ada acara?"

"Ada, main game."

"Mau nggak jalan-jalan sama aku?"

"Hei, nggak etis guru jalan sama murid."

Rea berdecap. Dia menatap mataku tajam. "Nggak ada larangan kalau murid suka sama guru."

"Rea, kamu itu cewek. Jangan terlalu agresif begitu."

"Jujur salah satu prinsipku."

"Jujur apa?"

"Aku suka sama Bapak."

" .... "

Apa! Aku ditembak?! Apa Rea waras? Mungkinkah aroma jaketku membuat dia jatuh cinta?

"Rea, sebentar lagi kamu ujian, setelah lulus harus kuliah. Konsentrasi saja pada pelajaranmu."

"Aku nggak kuliah, Pak. Tujuanku masuk SMK supaya lulus bisa kerja. Lalu menikah."

Uhuk! Dasar gadis ini.

"Jadi?"

"Aku mau menikah sama Pak Rendra."

Sekarang aku dilamar?! Gadis ini benar-benar gila. Entah dapat keberanian dari mana, telunjukku menyentuh ujung hidung mungilnya.

"Sana pulang dan belajar. Dapatkan nilai paling bagus. Buat orang tuamu bangga."

Rea terpaku. Dia mengayunkan tinju ke dadaku. Lidahnya menjulur. Gadis itu berbalik arah. Sosoknya hilang dibalik pintu.

"Dasar gadis nakal," sungutku.

Ah, sepertinya hatiku sudah terperangkap dalam kepolosannya. Ataukah kenakalannya?

"Ehem!" Mama berdehem sembari menyandarkan punggung ke tembok. Wanita berkulit kuning langsat itu senyum-senyum nggak jelas.

"Mama, ada apa cengingisan?"

"Akhirnya ada gadis yang mau sama putra Mama ini. Ken Rendra Bayu Agung, sepertinya sebentar lagi kamu akan menikah."

"Ish, omongan gadis kemarin sore digubris. Dia itu cuma main-main, Ma. Udah ah, aku mau balik ke kamar lagi."

"Tunggu, nama gadis itu siapa?"

"Dia Rea, Ma."

Aku berjalan melewati mama. Kudengar beliau berguman, "Rearen, cocok banget."

Rupanya jaman now, penyakit gila sudah menjangkiti para wanita.

Rearen? Kedengaran konyol, kan? Bagaimana menurutmu?

Next
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Kurohige410 dan 31 lainnya memberi reputasi
32
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 3 dari 6
(SFTH) Gadis Nakal
27-05-2019 06:57
Gadis Nakal, sepatunya bagus, beli di mana, ya.... ???
0 0
0
(SFTH) Gadis Nakal
27-05-2019 07:10
Ceritanya kok nampar ane bgt sis, profesinya sama dgn ane bedanya di cerita si guru bisa klo ane kagak emoticon-Hammer (S)
0 0
0
Post ini telah dihapus oleh radheka
(SFTH) Gadis Nakal
27-05-2019 08:01
nitip tiker ah
0 0
0
(SFTH) Gadis Nakal
27-05-2019 11:35
ijin bangun candi..
0 0
0
(SFTH) Gadis Nakal
27-05-2019 13:56
Titip sendal dimari gan nyahaha
0 0
0
(SFTH) Gadis Nakal
27-05-2019 15:00
pasang tenda dl ya gan
0 0
0
(SFTH) Gadis Nakal
27-05-2019 17:44

Gadis Nakal

(SFTH) Gadis NakalPinterest


Part 4


Aku jadi ingat saat pertama kali beriteraksi dengan guru pengganti yang sok cool, sok ganteng dan sok manis itu.

Tapi, Re, emang pak Rendra itu cool kan? Opss! Coba hati jangan terlalu jujur gini.

Saat itu pas ulangan, dia nyangka aku nyontek, parahnya lagi dia ngira aku bawa contekan di paha, gila kan? Wah blom tau nih orang, siapa Rea, nyontek bagiku adalah pekerjaan terkonyol, dari pada nyontek mendingan gak lulus sekalian.

Yap, aku emang orang yang kurang beruntung dalam hal ekonomi, tak setajir Nay, Eva, Dewi, dan teman-teman sekelas di sekolah. Tapi aku bersyukur kok. Di tengah ekonomi yang terbatas, Ibu masih sempat menyekolahkan. Ya, walaupun cuma sebatas SMA, tapi itu cukup untuk jadi bekal hidup. Makanya aku harus berjuang agar nilai tetap tinggi, minimal bisa dapet mempertahankan beasiswa dari sekolah.

Saat mata pak Rendra melototin paha, tentu saja aku salting, bukan karena takut dia khilaf lihat mulusnya paha cewek paling seksi di SMK ini, tapi takut dia tahu peristiwa apa dibalik paha. Mukanya merah saat aku bilang kena ulat bulu saat nyolong mangganya polisi.

Dia tetap nyuruh ngerjain ulangan di UKS. Mayan lah UKS kan tenang, seeenggaknya gue sedikit bebas dari Si Nay yang dari tadi berisik mengganggu konsentrasi.

Aku mencibir padanya yang sempat tak percaya. Mata kami bertemu, dia segera memalingkan wajah, aku menikmati rona malu-malu kecoak yang ditunjukkan oleh guru berbadan tegap itu.

Lucu saat dia baca istighfar ketika sengaja kugoyangkan dada, tau kan gimana kalau dadaku bergoyang? Ukuran empat puluh itu bisa bikin bujang kek pak Rendra panas dingin dadakan, (sudahlah jangan terlalu dibayangkan, takutnya kalian pipis di celana).

Tring.

Ponselku berbunyi, membuat lamunanku tentang masa lalu ambyar.

Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.

"Woy gadis sok kecakepan, malam ini gue tunggu loe di taman pinus ujung jalan, jangan bawa teman kalau loe emang pemberani. Kita selesaikan masalah tentang Kak Ragil."

"Eh, siapa loe? Enak aja ngajakin gue ketemu. Pacar gue bukan, teman juga bukan."

"Gue Farin, cewek paling populer di SMA 28, dan loe harus ingat, nanti malam kita beresin masalah ini, jangan ngeles loe banci!"

"Heh martabak mini! Sembarang loe kalau ngomong. Gue Rea, gak takut sama anceman loe. Oke kalau gitu, loe jual gue kredit, gue jabanin ajakan loe." Akhirnya emosiku muncul juga.

"Bagus lah kalau loe sadar. Gue tunggu."

"Loe kira gue ayan, pake gak sadar segala, oke siap-siap aja loe gue gebok pake jurus andalan gue."

Ponsel langsung kumatikan, empet juga lama-lama ngadepin cewek yang ngakunya bernama Farin ini.

Ragil? Tiba-tiba seraut wajah tampan melintas, cowok manis dengan segudang prestasi di sekolahnya.

Sayang pertemuan pertama kami terbilang konyol, aku yang kabur dari sekolah karena mau nungguin Ibu di rumah sakit. Acara manjat tembok nggak berjalan muluss, aku terjatuh dan menimpa Ragil. Dia tengah asyik nyeruput es teh manis sambil ndandar tembok yang aku panjat. Sekolah SMK Srikandi dan SMA 28 memang hanya dibatasi tembok setinggi hampir dua meter.

Gila bener, baru itu aku merasa tengsin. Apalagi saat teh manis itu tumpah dan membasahi seragam sekolahku, terbayang kan gimana tubuh bagian atasku kalau basah? Please jangan dikhayalin lagi.

Cowok bernama Ragil aja melongo kek kebo saat gue buru-buru bangkit dan minta maaf, lalu segera pergi meninggalkannya yang sepertinya masih shock. Shock karena apa juga aku bingung.

Akhirnya tuh cowok nekad nemuin aku ke sekolah dan nyatain cinta. Kek drama Korea ya, tapi itulah adanya. Karena es teh tumpah segelas dia rela nyerahin hatinya buat aku.

***

Pukul 19.00 WIB, aku menepati janji untuk menemui cewek bernama Farin. Diantar Bang Ojol sampai di taman Pinus. Eh ini, kan taman dekat rumahnya guru honorer nyebelin itu. Baru nyadar!

Hampir tiga puluh menit, cewek songong itu belum juga nongol. Nih cewek belum jadi pejabat aja udah ingkar janji, ngaret gak tetap waktu. Gimana nanti kalau udah jadi menteri ya?

Sesekali kutepuk nyamuk yang iseng numpang minta transfusi darah. Minta darah sih boleh aja, Muk, tapi jangan bikin pipi bentol plus gatel juga kali.

Belum lagi perut yang kracak-krucuk gak karuan. Ya salam! Aku belum makan juga dari siang, gara-gara tadi ngayal pak Rendra ini, sampe lupa makan. Pokoknya dia harus tanggung jawab kalau maagku kambuh nanti.

Ya ampun, Re! masih aja inget sama tuh guru mesum. Tapi aku harus bikin dia jatuh cinta, kan? Ya, demi smartphone, Re. Kamu harus semangat delapan enam.

Sekelompok cewek berpakaian seksi turun dari sebuah Honda Jazz merah terang. Aku yakin yang paling petantang-petenteng sok jagoan itu si Farin, keliatan dari sikapnya yang sok jendral.

Gak nyangka cewek yang tadi ngomong tadi itu jenisnya begini. Aku cuma liatin mereka sambil ngunyah permen karet yang udah tawar.

Ponselku berbunyi lagi.

"Hei, Cewek murahan, dimana loe? Jangan bilang loe belum nyampe ya, gue tunggu nih."

"Heh, Bekicot empang! Gue jamuran disini nungguin loe, dasar mental pejabat korup! ingkar janji aja loe!"

Akhirnya kami berhadapan juga, elah kerempeng begini berani-beraninya nantangin gue, modal ukuran 30 kreditan alias minus aja lagunya kek artis Hollywood.

"Heh, cewek sok cakep, gue bilangin ya, loe jangan coba-coba ganggu Kak Ragil. Loe bukan tipenya, beda kelas kali, sekolah loe aja di SMK buangan gitu, ilfil gue."

Si Farin berkacak pinggang.

"Alah, papan penggilesan, sini loe kalau berani, yang naksir si Ragil tuh siapa? Ayok gue tanya? Ragiel itu bukan tipe gue juga kali, gue suka pria dewasa, tegap, tegas dan berwibawa."

Entahlah, saat ngomong begitu yang ada dipelupuk mata itu pak Rendra. Njay! Ditengah situasi rumit begini sosok itu malah nemplok terus di otak.

"Alah banyak lagu loe, sini kalau berani lawan gue, banyak lagu loe, cewek miskin aja belagu banget." Farin nunjuk muka gue.

"Jah, yang ada dia yang ngejar-ngejar gue tau, biar kek gini ogah gue harus ngejar-ngejar cowok, kalau cewek model kek loe sih yakin gue pastinya sih gitu."

"Banyak cingcong lue, sini gue hajar muka sok kecakepan loe itu."

Farin melayangkan bogemnya ke wajahku, namun, jangan sebut gue kalau masih bisa dikerjain cewek songong begitu.

Sigap kutangkap tangannya, lalu kupelintir ke belakang, terdengar bunyi 'krek'. Aku masa bodoh.
Farin menjerit.

Dengan kalang kabut dia menyergapku. Sontak kami bergumul dashsyat, dalam keadaan tangannya yang luka, gampang banget ngalahin si Farin.

"Bug." Bogemku mendarat manis dipipi tirusnya. Rasanya gurih banget, Gaess!

Gadis tengil itu melolong keras meminta bantuan rekannya, tapi tak ada yang berani menghadapiku.

Farin bangkit walau dalam keadaan terhuyung, teman-temannya memapah tubuhnya. Dasar pecundang, mereka kabur!

"Rea!" Sebuah suara bariton menggema.

Aku berbalik, sosok tegap itu berdiri menatapku tak berkedip.

"Pak Rendra, kok bapak ada disini?" tanyaku dengan bibir bergetar.

Padahal aku ingin menghambur ke pelukannya.

"Ikut aku!" Tangannya mencekal lenganku. Sakit.

Kami berjalan menuju sebuah rumah tak jauh dari taman pinus. Mamanya pak Rendra menyambut, dia terlihat khawatir padaku. Dia juga menanyakan sepeda Pak Rendra yang ketinggalan. Dengan kecepatan cahaya, guru sok polos itu melesat pergi.

"Sepertinya Rearen akan segera terwujud." Mamanya pak Rendra bergumam keras. Entah apa maksudnya.

Saat pak Rendra nggak ada, tante cantik bernama Zizi ini begitu telaten merawat luka-lukaku yang tak seberapa.

Mataku tertumbuk pada sebuah pigura.

"Ini siapa Tante? "Aku menunjuk bocah berkolor Batman.

Si Tante tergelak. "Sttt! Itu Rendra sayang, waktu masih lima tahun."

Omegot, seculun itu kah dia?

"Waktu kecil Rendra itu lucu banget, Sayang."

Aku mengangguk.

"Coba liat yang ini." Tante Zizi menarikku untuk duduk di sofa, lalu dia membuka sebuah album foto.

"Coba deh liat yang ini." Telunjuk lentik itu menunjuk ke sebuah foto. Tampak seorang bocah tak berbaju asyik bermain pasir, dan lumpur. Wajahnya belepotan. Aku menutup mata saat menyadari bocah itu tak berpakaian.

Ampun deh, masa sih aku harus liat auratnya pak Rendra? Biar masih tiga taunan tapi itu tetap tak layak tonton, wong dalam bayanganku bocah itu tetap Rendra versi dewasa. Alamakjang!

"Tau gak, Re, dulu Masmu Rendra itu suka ngompol bahkan saat kelas empat SD, loh."

"Seriusan, Tante?" Mataku melotot.

"Iya, dia hobi banget kentut pagi sambil nungging."

Ya Allah, kok sama sih, Pak? Aku juga gitu, ritual pagi ya nungging sambil kentut, rasanya plong banget, perut berasa enteng.

Kali ini terasa tante Zizi nyenggol gue juga. Terpaksa tersenyum kecut.

"Mas Rendramu juga takut banget sama kodok loh, Re."

"Masa sih, Tante?"

"Beneran!" Tiba-tiba suara ponsel berdering. "Maaf, Re, teman Tante menelpon, sebentar ya." Tante Zizi masuk ke dalam kamar.

Haduh, Pak, badan aja gede, sama kodok aja takut. Cemen banget!

Awas aja kalau dia macem-macem, bakal kuisi kedalam tasnya sepuluh kodok empang wak Haji Soleh yang gedenya ngalahin mangkok baksonya Mang Juned.

Jadi punya ide ngerjain nih guru, hehe! Otak loe cerdas banget ya, Re!
Aku tersenyum sendiri.

Eits! Tadi tante Zizi bilang maa Rendramu berapa kali ya? Wow ... Aku jadi merasa melayang.

Wajah pak Rendra melintas, tersenyum kecut penuh ejekan. Dia berkata, "jatuh cinta kan loe sama gue?"

"Enggak, siapa yang cinta sama Bapak? Dasar geer!" Aku berteriak sambil menggelengkan kepala, siapa tahu bayangan nyebelin itu mlipir.

"Re, kamu ngomong sama siapa?"

Pak Rendra asli mematung di depanku. Mati aku!

Bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
deawijaya13 dan 10 lainnya memberi reputasi
11 0
11
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
(SFTH) Gadis Nakal
27-05-2019 19:07
wkwkwkwk, asik ngelamun pak guru sampe gak nyadar tuh, kalo yang di lamunin udah di depan mata. emoticon-Malu

yah kentut sambil nungging aja bisa jadi ritual. emoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
0 0
0
(SFTH) Gadis Nakal
27-05-2019 20:43
Menarik nih ceritanya..

Numpang gelar koran gan
Diubah oleh sayyan
0 0
0
(SFTH) Gadis Nakal
27-05-2019 21:18
kok udah akrab aja ama emaknya, nggak ditulis proses kenalan ampe ngobrol2nya sist, kayaknya kecepetan dh
Diubah oleh aan2604
0 0
0
(SFTH) Gadis Nakal
27-05-2019 21:54
lanjutken
0 0
0
(SFTH) Gadis Nakal
27-05-2019 22:14
cara terus ngikutin apdet gimana ya? baru make kaskus jadi kurang tau
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
(SFTH) Gadis Nakal
28-05-2019 09:24
Menarik n bikin penasaran isi ceritanya...d tunggu lanjutannya ya...emoticon-Sundul
0 0
0
(SFTH) Gadis Nakal
28-05-2019 23:21
hayo loh jatuh cinta beneran
ini cerita dari dua sudut pandang..
menarik
profile-picture
majapahit275 memberi reputasi
1 0
1
(SFTH) Gadis Nakal
29-05-2019 18:12
bagus nih cerita. jejak aja dulu
0 0
0
(SFTH) Gadis Nakal
30-05-2019 08:32
mantap cakk lanjutkan lgi uyy
0 0
0
(SFTH) Gadis Nakal
31-05-2019 05:56
lanjut dong sista. emoticon-Cendol Gan
0 0
0
(SFTH) Gadis Nakal
31-05-2019 13:25
H-4 Lebaran belum update pemirsa.
0 0
0
(SFTH) Gadis Nakal
31-05-2019 16:11
semangat ceritanya
ini agan apa sista yakk ??
soalnya ceritanya 2 sudut pandang emoticon-Wow

saya ampe senyum sendiri baca ceritanyaa
0 0
0
Halaman 3 dari 6
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
pengantin-berdarah
Stories from the Heart
dendam-arwah-dari-masa-lalu
Stories from the Heart
perahu-tanpa-layar
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Stories from the Heart
kumpulan-pengalaman-horor-brina
Stories from the Heart
istri-dari-neraka
Stories from the Heart
Heart to Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia