alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
5 stars - based on 9 vote 5 stars 0 stars
https://www.kaskus.co.id/thread/5cdb79e6d439723818000662/setiap-detik-adalah-hijrah
Lapor Hansip
15-05-2019 09:31
Setiap Detik Adalah Hijrah
Past Hot Thread
Setiap Detik Adalah Hijrah

Quote:"Brengsek!!"

"Bugh!!" Terdengar seperti ada benda keras yang dipukul.

Kaget juga aku, saat mengetahui Amildo Balde meninju loker tempat menyimpan baju ganti. Aku tidak tahu, masalah apa yang sedang dihadapinya, sehingga dia nampak sangat emosi. Yang aku tahu, belakangan ini dia sangat rajin mengaji. Dia masuk dalam sebuah komunitas yang berisikan para "mantan penjahat." Bukan penjahat pelanggar hukum kelas berat memang, hanya tukang mabok, nembak "HK", main-main ke dunia remang-remang dan kadang terlibat perkelahian.

Ade, begitu nama panggilannya memang dikenal sebagai anak nakal dulunya. Ibadah? Jelas tidak pernah. Sehari-hari kelakuannya kalau tidak mabok sampai pagi, ya bangun subuh di lokalisasi kelas teri. Dia berubah sejak kenal dengan Otavio Dutra. Seorang "mantan penjahat" yang konon juga sudah hijrah. Vio, sapaan akrab Dutra pun sama saja, dulunya mantan penjahat yang sering keluar masuk polsek karena ke-rese-an yang dibuatnya.

Bahasan mereka tiap hari adalah kafir, kafir, dan kafir. Aku yang hanya lulusan Aliyah dan mondok di pesantren ndeso, hanya senyum saja. Aku (Damien Luzio, biasa dipanggil Zio), Ade, dan Vio (panggilan akrab Otavio Dutra) satu divisi di PT Bajol Katokan. Sebuah perusahaan yang bergerak pada jual beli kayu antik. Kami satu tim, pada divisi marketing. Divisi yang katanya adalah ujung tombak dan nyawa perusahaan.

Meskipun persepsi ku soal agama berbeda dengan Ade, aku terpanggil untuk tahu apa masalah yang dialami oleh saudara ku ini.  Maka, dengan lemah lembut pun aku coba untuk mendekatinya. Sebisa mungkin, aku menjadi es dan air dingin yang meredakan emosinya.

Quote:"Kenapa De? Kok kayak emosi gitu?" Tanya ku pelan.

"Kamu tahu OK. Jonh kan Zio?" Bukannya jawab malah balik nanya.

"Iya tahu, anaknya Kabag produksi kan?" Jawab ku.

"Itu anak, nyari gara-gara mulu deh sama aku! Bayangkan, aku tidak ganggu dia, eh dia ganggu aku."

"Dan kamu tahu apa yang dilakukan Bos kita, si janda ga laku itu?" Ucapnya dengan penuh emosi.

"De, please jangan menggunakan kata ganti yang ngga enak didengar dong."

"Persetan Zio! Emang brengsek tuh orang! Mentang-mentang anak temannya, mau nyari muka juga sama bapaknya! Salah di depan mata, dibela mulu!" Sungut Ade.

"Irfan Jaya, kemarin cuma ketahuan makan permen saat kerja aja dimaki-maki sama tuh janda! Lha ini? Ah! As** tenan!"

Aku menghela nafas panjang. Aku belum tahu pelanggaran apa yang dilakukan oleh si OK John ini. Dia satu divisi juga dengan aku dan Ade. Hanya saja, dia ada di tim yang lain. Aku tidak pernah mau tahu dengan kelakuan orang lain, apalagi jika itu kelakuan buruk. Bagi ku, membicarakan keburukan orang lain sama dengan menantang Allah SWT, untuk membuka aib yang DIA tutupi pada diri kita.

Aku memilih tidak tahu keburukan orang lain, agar aku tidak punya bahan untuk bicara buruk tentang orang lain. Jika aku tahu seseorang melakukan tindakan buruk, aku akan menutupnya rapat-rapat dari orang lain. Biar aku yang tahu, aku simpan rapat-rapat, dan aku bergaul hanya karena melihat sisi baiknya saja.

Kembali ke Ade. Aku menunggu sampai dia meredakan emosinya. Aku biarkan saja dia diam dalam pikirannya. Baru setelah aku mendengar dia menarik nafas panjang, aku berani untuk ambil sikap. Aku siap untuk sedikit memberikan apa yang aku tahu dan aku pelajari sepanjang hidup ku ini.

Quote:"De, boleh aku tahu sesuatu?" Tanya aku pada Balde.

"Apaan Zio? Kalau kamu sih, sah saja. Kamu orang baik." Astagfirullah, dia bilang aku baik? Padahal aku orang yang zalim. Zalim kepada waktu yang kadang berlalu tanpa ingat Rabb-ku.

"Memang, apa yang dilakukan oleh John? Eh, ngga jadi De, maaf. Aku tidak pantas untuk tahu itu." Buru-buru aku sadar, kalau ini jebakan! Kenapa aku harus tahu buruknya orang? Kenapa aku malah tertarik membahas aib orang? Astagfirullah!

"Kenapa sih kamu selalu menolak untuk tahu keburukan orang Zio?" Tanya Balde.

"Karena aku juga punya keburukan De, hanya saja Allah masih sayang sama aku, makanya ditutuplah keburukan ku itu." Jawab ku, diplomatis.

"Tapi Zio, bukankah kita harus mencegah yang namanya kezaliman?" Nada protesnya mulai melunak, Alhamdulillah hatinya masih bisa tersentuh.

"Mencegah kezaliman, dengan melakukan kezaliman yang lain? Heehehe." Aku tersenyum simpul.

"Apa salah loker, hingga kamu pukul? OK itu benda mati, tapi gimana dengan tangan mu? Sakit kan? Itu pemberian siapa De? Kok kamu berani sekali menyakitinya?" Tanya ku kemudian.

"Hm.." Nampaknya dia mulai berfikir lebih dalam.

"Sudahlah De, apapun yang dilakukan oleh OK Jonh, dan Ibu kepala yang terhormat, terima saja."

"Kalau mau menegur, mau protes, sampaikan dengan cara yang baik." Bujuk ku.

"Tapi Zio, mereka malah menertawakan aku di belakang. Melakukan pelecehan di depan anak marketing yang lain."

"Lagian, apaan kepala kayak gitu? Bukan bikin adem, malah makin mengipasi. Tahu ada rules yang dilanggar malah bilang, "biarkan Balde tenang." What the fu*k, mau nya apa coba? Sini kalau ngajak ribut! Aku masih ingat kok caranya mecahin kepala orang pakai palu!"

"Astagfirullah, Istigfar De, nyebut nama Allah, De."

Aku beranjak dari posisi duduk ku. Bukan untuk meninggalkan Balde sendirian. Aku hanya ingin mengambil segelas air putih, untuk dia minum. Semoga, dengan sedikit air putih yang aku ambil dari dispenser yang ada di dalam ruangan istirahat ini, emosi Balde akan kembali turun. Membayangkan palu ketemu kepala, ngeri sekali. Dan itu bukan hal yang mustahil untuk Balde lakukan.

Riwayat kenakalannya nyata dan terbaca kok. Meski aku tidak pernah mau mendengarkan detailnya. Aku sudah cukup senang, ketika Balde mulai rajin sembahyang ke Mushola kantor kami. Dia juga rajin mengikuti kajian agama. Aku sendiri tidak ikut di dalamnya, apalah aku yang masih penuh dosa, dzalim, dan masih belum merasa pantas masuk ke surga.

Quote:"De, ingat kalimat yang tadi kamu ucapkan itu salah? Istigfar dan jangan kamu wujudkan ya? Aku minta bener-bener lho ini." Ujar ku, menenangkan dia.

"Kalau kamu ada di posisi aku gimana Zio? Kamu dijek-jelekin, seolah kamu tidak bisa melakukan apa-apa?" Tanya Balde dengan suara bergetar.

"Alhamdulillah De. Masih ada yang mau memperhatikan aku sedemikian detail, hingga punya bahan untuk menjelek-jelekkan aku." Jawab ku santai.

"Aku pakai semua perkataan jelek itu untuk mengevaluasi diri ku. Jangan-jangan emang bener semua yang mereka katakan? Aku santai kok De selama yang ngomong jelek itu manusia. Manusia bisa apa? Ngga makan seharian saja sudah lemes, hehehe..." Sengaja aku bumbui perkataan ku dengan canda.

"Kamu itu Islam kan Zio?" Tanya Balde, tajam menatap ku.

"Alhamdulillah, kayaknya sih iya hehehe. Soalnya aku punya keyakinan, yang bisa menentukan Islam atau tidak, ya Allah SWT. Aku hanya menjalankan semua yang diwajibkan, dan meninggalkan apa yang diharamkan De."

"Jadi, kamu tidak yakin jika kamu Islam Zio?" Terbelalak matanya.

"Aku boleh nanya De? Islam itu apa?" Belokin dikit dulu, biar tidak makin emosi.

"Ya, yang mengakui bahwa Tuhan itu Allah dan Muhammad SAW adalah utusannya." Jawab dia keras.

"Aku mengakui De kalau Allah itu Tuhan ku. Aku juga mengakui, kalau Muhammad SAW, adalah Rasul, panutan, idola nomor satu ku." Jawab ku kalem.

"Lalu kenapa kamu ragu mengakui kalau kamu Islam? Kamu malu sama kafir-kafir itu?" Bentaknya.

"Tidak De! Justru aku malu sama Allah SWT dan Muhammad SAW. Kenapa? Karena tidak semua tindakan ku, menyertakan Allah SWT. Aku masih senang membuang waktu ku untuk hal tidak berguna, misalnya nih. Mendengarkan kejelekan orang lain."

"Aku malu dengan Muhammad SAW, karena aku belum bisa 100% meneladani sikap dan perilaku nya. Kamu pernah dengar De cerita Rasulullah dengan seorang yahudi tua, buta dan terus menghina Baginda Rasulullah SAW?"

"Kira-kira, kalau kamu yang dibegitukan, apa sikap kamu De? Kamu mengakui kalau kamu percaya Rasulullah SAW, panutan, idola, tokoh yang kamu ikuti, tapi apa kamu ngga malu sama beliau? Ketika kamu mau memecahkan kepala OK John? Kalau aku sih malu De, karena kelakuan ku masih jauh dari apa yang dicontohkannya."

"Makanya, ketika ada yang bertanya, apa aku ini Islam? Secara teori mungkin iya. Tapi secara jiwa, aku tidak berani mengklaim kalau aku Islam. Biarkan itu menjadi urusan Allah SWT saja." Jelas ku panjang-lebar.

Aku tahu sedang ada pertempuran dahsyat di kepalanya. Logikanya teraduk-aduk oleh semua masukan yang aku berikan. Apakah pendapat ku benar? Aku tidak berani bilang iya. Karena kebenaran mutlak itu hanya jadi milik Allah SWT. Kebenaran ku, kebenaran nya, kebenaran mereka bersifat relatif. Jika ada yang mengklaim paling benar, aku iya kan saja sambil ber-Istigfar. Mungkin dia lupa ada Allah SWT Yang Maha Benar. Aku malas berdebat untuk hal yang menurut ku tidak penting.

Balde masih merenung. Tatapannya nampak kosong. Aku membiarkan saja, biarkan dia larut dengan pikirannya. Aku menemani dia saja. Tujuan ku, bukan mengajak dia untuk menjadi seperti aku, bukan! Siapa aku kok berani ajak orang? Aku hanya ingin, Balde tidak melakukan hal bodoh. Me-martil kepala orang itu bukan cuma akan membuat Allah SWT murka, tapi dia bisa saja masuk ke dalam penjara. Apalagi orang yang akan dia eksekusi adalah orang-orang yang punya kuasa.

Urusan kuasa itu dia salah gunakan, itu akan dipertanyakan nanti oleh sang pemilik kuasa paling tinggi. Di dunia, kita tidak bisa menilai mereka dengan sempurna. Meski ada penilaian subjektif untuk mereka. Tapi, tidak 100% tepat. Aku sendiri merasakan ko ketidak adilan itu. Kalau yang melakukan pelanggaran tidak dekat dengan Bu kepala, tanpa menunggu lama pasti akan terkena dampak dari pelanggaran yang dilakukannya. Aku sendiri pernah kena, tapi aku tidak mau menyalahkan siapa-siapa, apalagi akibat dari abuse power pemilik kuasa.

Semua salah ku, dan aku malas untuk bahas lebih lanjut. Cerita soal Irfan Jaya yang kena denda hanya karena makan permen pun aku dengar sekilas saja. Jika ada anak divisi lain yang bertanya kepada ku, aku memilih untuk menjawab tidak tahu. Seperti kata ku di awal, menjadi tidak tahu itu kadang jadi pilihan jitu menjauh dari penyakit yang bisa menggerogoti hati ku. Bukankah itu sama artinya dengan bohong? Tidak! Karena aku tidak melihat langsung Irfan Jaya dihukum, hanya dari katanya dan katanya.

Quote:"Zio, jadi selama ini kamu sudah hijrah ya?" Pertanyaan yang menurut ku aneh.

"Apa yang kamu tahu tentang hijrah De?" Tanya ku balik.

"Ya dari kehidupan suram, ke kehidupan yang lebih Islami." Jawabnya.

"Kalau aku tidak gitu De. Hijrah itu adalah, transformasi dari kurang baik, tidak baik, menjadi baik. Apakah aku sudah hijrah? Bisa sudah bisa belum."

"Aku memaknai hijrah, bukan hanya dari jenggot panjang, pakai gamis, pakai cadar, sampai celana tertentu. Bukan. Itu hanya aksesoris De."

"Aku tiap hari, tiap jam, tiap menit bahkan tiap detik selalu mencoba untuk berhijarah De. Ke mana? Ke jalan yang di ridhoi oleh Allah. Ke jalan yang dicontohkan oleh Muhammad SAW."

"Aku tidak pernah merasa sudah hijrah dan bisa berhijrah. Aku dzalim De, hingga tiap waktu berharap belas kasihan-Nya, Ridho-Nya dan aku praktekkan dalam hidup ku."

" Bagi ku, Hijrah bukan hanya soal ibadah, tapi soal bagaimana setelah kita Ibadah. Maaf, kamu merasa bisa Sholat, tapi menahan emosi saja kamu tidak bisa, berbuat adil saja kamu nihil, nyimpan aib orang saja tidak pernah sanggup. Lalu apa guna Sholat mu? Mana fungsi mencegah yang munkar dan menegakkan kebaikannya?"

"Salah kah aku jika mengatakan kamu hanya bisa bacaan dan gerakan sholat, tapi tidak bisa sholat?"

"Jangan tersinggung De, ini hanya pendapat ku, dan pendapat ku sangat mungkin salah." Kembali aku menjelaskan kepada Balde dengan panjang dan lebar.

"Astagfirulah haladzim.." Tiba-tiba terdengar lantunan istigfar dari mulutnya Amildo Balde. Matanya memerah dan badannya sedikit bergetar.

"Kamu belajar agama sama siapa sih Zio? Boleh aku bergabung dengan kamu?" Lagi-lagi pertanyaan aneh menurut ku terlontar dari mulut Balde.

"De, belajar agama itu bukan soal kepada siapa. Kamu bisa kok belajar dari semua makhluk yang ada di dunia. Apakah komunitas tempat belajar mu salah? Tidak!"

"Meniru apa yang dilakukan Rasulullah SAW itu baik, kalau yang kita tiru tidak sekedar aksesoris luar duniawi saja. Tapi kita juga meniru akhlak beliau yang agung." Ujar ku.

"Tapi siapa yang membuka cakrawal berfikir mu, hingga kamu bisa mempunyai sikap dan sifat seperti itu Zio?" Ini orang, tidak capek apa ya bertanya hal aneh macam ini.

"Allah SWT De, hanya DIA, satu-satunya Dzat yang bisa membolak balik isi hati dan kepala manusia."

Aku mengakiri percakapan di ruang istirahat kantor ku. Aku memilih untuk pergi dari sana, aku takut jika Balde terus mendesak ku soal siapa guru ku dan apa pelajaran yang sudah aku dapatkan. Aku bukannya tidak mau mengajak orang dalam kebaikan, tapi aku menjaga agar tidak menyesatkan dan memicu pertentangan banyak orang.

Zio sudah punya komunitas. Jika tiba-tiba dia keluar dan ngaji bareng dengan ku, apa yang akan terjadi? Aku tidak mementingkan seberapa banyak teman ku dalam bersujud di hadapan Allah SWT. Aku lebih berharap, selalu ada belas kasihan dari Allah SWT kepada aku yang dzalim dan banyak melupakan -Nya ini.

Hijrah, satu kata yang sepertinya menjadi trending topic belakangan ini. Aku suka, sekaligus getir melihatnya. Suka, karena semakin banyak orang yang sadar bahwa mengabdi dan berbakti kepada Allah SWt itu adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar, Masjid menjadi ramai, kegiatan keagamaan ada di mana-mana.

Namun aku juga merasa getir, manakala hijrah dimaknai dengan sempit. Ibadahnya kencang, tapi memberi stempel jelek ke orang juga tidak kalah kenceng. Pakaiannya gamis, tapi lidahnya seperti Abu Jahal, Kelakuannya sebelas dua belas dengan Abu Lahab. Astagfirullah. Tapi siapa aku? Apa daya ku? Aku hanya bisa tersenyum sembari tak pernah lelah memuji keagungan Allah SWT. Luar biasa skenario yang ditulis-Nya. Sempurna dan tanpa cela bagi siapa saja yang mau belajar membacanya.

Tidak lupa, aku berdoa dan mohon bimbingan-Nya, untuk selalu bisa berhijrah setiap saat, setiap waktu dan setiap helaan nafas ini. Karena bagi ku, setiap detik adalah hijrah. Mengapa? Karena sudah kodrat kalau manusia itu gudangnya salah. Dan hijrah adalah jalan menuju kebaikan dari sebuah kejelekan dan kesalahan.





Sumber Tulisan : Ide Sendiri
Sumber Gambar : sini
Diubah oleh londo.046
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tukanglistrik96 dan 23 lainnya memberi reputasi
24
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Tampilkan isi Thread
Halaman 3 dari 4
22-05-2019 02:48
masyaAllah lanjut ceritanya Gan
0
22-05-2019 03:16
Quote:Original Posted By uswatun18
Ahahahahahahemoticon-Leh Uga
Tak ketawain aja mas... Drpd aku nyerang trus ricuh... emoticon-Ngakak

Jangan nyerang mba, ga ada gunanya... emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By budy31574
keren gan. lanjutkan

Selesai om, kan cerpen... emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By ibots
masyaAllah lanjut ceritanya Gan

Cerita pendek om, jadi ya stop sampai sini... emoticon-Big Grin
0
22-05-2019 03:19
Quote:Original Posted By londo.046
Jangan nyerang mba, ga ada gunanya... emoticon-Big Grin


Iya betul mas... Gak ada gunanya sama sekali... Ntar juga waktu yg bakal nunjukin kebenarannya
0
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
22-05-2019 20:07
Duh... Kalah ni sama Master diatas Master emoticon-Hammer (S)
0
22-05-2019 20:18
banyak yang bilang hijrah pake syari tapi mulut belum dihijrain 😭😭 masih suka ghibahi orang lain. smoga Allah memberi hidayah
0
22-05-2019 20:22
Luar biasa, lanjutkan terus gan, terima kasih sudah mengingatkan saya. emoticon-Mewek
0
22-05-2019 20:26
wah gaya tulisannya kyk bukan agan ndo wkakwaemoticon-Hansip
0
22-05-2019 20:27
auto subscribe
0
22-05-2019 20:28
ini ko thumbnail nya "Shift" ya?

apakah TS termasuk ke dlm nya? emoticon-Bingung
0
22-05-2019 21:03
cerpen yang sarat makna nih. Banyak pelajaran yang bisa di ambil
0
22-05-2019 21:14
Quote:Original Posted By dian bentet
"Ibadahnya kencang, tapi memberi stempel jelek ke orang juga tidak kalah kenceng. Pakaiannya gamis, tapi lidahnya seperti Abu Jahal, Kelakuannya sebelas dua belas dengan Abu Lahab. Astagfirullah"

Iki sing akeh terjadi ng masyarakat akhir2 ini...
Nek ono wong nganggo gamis, jenggot dowo, bathuk ireng dianggap paling alim...pdhl kelakuane isih sering ngelek2no ibadahe wong liyo...


Ane tuh bre, taun2 nan, bid’ah lu....
trus ane belajar lagi bre ngaji yg luas...
trus Ane berubah bre...
emoticon-Maaf Agan
0
22-05-2019 21:22
umumnya yang namanya hijrah jaman now pada ga suka pemerintahan Jokowi
Diubah oleh yadigembil
0
22-05-2019 21:37
Assalamualaikum, wr.wb
Alhamdulillah saya telah berhijrah dari hati sejak
lama, saya meninggalkan kebiasaan liat pornografi supaya bisa lebih membagi waktu untuk beribadah dan hobi yg bermanfaat. Walau kdng naik turun dan sekarang musuh saya adalah kegabutan, saya kan mencoba untuk lebih baik lagi.. emoticon-Maaf Agan
Wassalamualaikum wr.wb
0
22-05-2019 21:51
Quote:Original Posted By akunclassic
Aku memilih tidak tahu keburukan orang lain, agar aku tidak punya bahan untuk bicara buruk tentang orang lain
Keren nih. Salah satu cara biar tidak ghibah.
Bukan berarti nggak peduli lho ya tapi emoticon-thumbsup


Dan hidup lebih tenang dan santai
0
22-05-2019 22:07
Quote:Original Posted By ndutndut95
Duh... Kalah ni sama Master diatas Master emoticon-Hammer (S)

Bebek sinjay Bor... emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By bagusmantap96
wah gaya tulisannya kyk bukan agan ndo wkakwaemoticon-Hansip

Terus tulisane sopo om??? emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By rahadianachmad
ini ko thumbnail nya "Shift" ya?

apakah TS termasuk ke dlm nya? emoticon-Bingung

Officer kaskus om yang ngasih... emoticon-Big Grin
0
22-05-2019 22:32
Maasoookkkk oommmm, aku bocahmu emoticon-Hammer2
0
23-05-2019 01:04
Sepertinya saya mencium bau bau dan aroma IKLAN.
emoticon-Entahlah
0
23-05-2019 02:08
ilmu tingkat tinggi ini ma'rifatullah (y)

ijin gabung gan.
0
23-05-2019 02:13
Quote:Original Posted By irummm
banyak yang bilang hijrah pake syari tapi mulut belum dihijrain 😭😭 masih suka ghibahi orang lain. smoga Allah memberi hidayah


dalam dunia persilatan itu udah biasa
ane pernah baaca, tpi lupa d mn
klo syeuton itu punya cara untuk menggoda manusia,
setiap manusia beda2 godaan nya

klo yg bejat, mungkin godaan nya mudah
tapi klo yang kadar iman nya agak bagus dikit
nah ini godaan nya yg paling berat

bsa jadi dri SOMBONG, menganggab dirinya yg paling alim, yg lain kagak

kan syoiton itu lebih dahulu merasakan keimanan dri pada kita

jadi dia tau taktik untuk menggoda manusia.
0
Halaman 3 dari 4
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
ketika-matahari-bertemu-bulan
Stories from the Heart
unbreakable
Stories from the Heart
riding-to-jannah
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.