alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cc6f4ab7414f502dd4594d5/tumbal-part-1
Lapor Hansip
29-04-2019 19:57
(SFTH) Tumbal
Past Hot Thread
Cerita bersambung horror bikin merinding

Tumbal Part 1Pixabay.com


Part 1



Siapa yang mengira petis Bu Ningsih yang terkenal kelezatannya itu menyimpan rahasia. Resep kuno leluhur turun temurun membuat industri rumah tangga yang sebelumnya diremehkan ini menjadi penguasa pasar tradisional.

Ada sesuatu yang membuatnya begitu istimewa. Petis, cairan kental berwarna hitam yang terbuat dari udang atau ikan menjadi cocolan wajib gorengan. Makanan khas Sidoarjo yaitu lontong Kupang paling mantap memakai sambal petis, rasanya akan luar biasa lezat. Juga rujak cingur berbalut petis akan siap menggoyang lidah para penikmatnya.

Aku suka sekali dengan petis. Satu jajanan ote-ote kecil bisa menghabiskan satu sendok penuh sambal petis.

"Dien, lihat tuh gigimu sampe hitam. Kebanyakan petis. Hahahaha...," seloroh teman sekampusku kalau aku mulai duduk manis di kantin dan konsentrasi penuh dengan petis.

Awalnya aku hanya penikmat saja. Tak mengerti cara membuat maupun mengolahnya. Yang penting enak, sudah cukup bagiku.

Suatu hari, saat semester lima, kampus mewajibkan kami mahasiswa untuk PPL selama satu bulan di sentra industri Rumah Tangga. Kelompokku memilih usaha pengolahan petis yang terletak di ujung timur Surabaya, dekat Pantai Kenjeran.

Satu kelompok beranggotakan sepuluh orang. Aku ditunjuk menjadi ketua. Sebenarnya  nggak mau, tapi berhubung semuanya menolak terpaksa menerimanya.

Setelah survey di beberapa tempat, akhirnya ada yang mau menerima kami. Bu Ningsih, seorang perempuan gemuk pendek, dengan ramah mempersilakan kami untuk mengamati proses pembuatan hingga pendistribusian petis miliknya.

Aku jejingkrakan. bersama wakilku, kami meninggalkan rumah Bu Ningsih dengan mengukir senyum. Tak lupa kita mampir di lepas pantai Kenjeran, duduk di antara orang pacaran. Melihat air memecah batu.

"Nasip jones, Bro." senggol Cato sambil melirik pasangan yang sedang suap-suapan krupuk upil.

"Lap iler dulu, Mblo. Kelihatan banget kalo pingin," sahutku sambil melempar batu kecil ke laut.

"Eh, eh, mereka mau melakukan hal yang diinginkan, Bro." Cato berbisik, kumis tipisnya menusuk daun telingaku. Mengirimkan sensasi menjijikkan. Muka jerawatan itu segera kusorongkan dengan tangan.

Aku jadi penasaran. Meskipun wajah menghadap pantai, tapi ekor mataku melirik sebelah kiri tepat pasangan belia itu saling mendekatkan wajah.

Bola mataku seakan lepas, agak pedih karena melotot. Demi mendapati pemandangan yang jarang terlihat di dunia nyata. Wajah mereka semakin mendekat, bibir coklat lelakinya sudah terbuka. Sementara yang gadis memejamkan mata. Hatiku ikut berdebar, mati-matian kutahan mata ini supaya tidak berkedip.

Saat bibir mereka akan bersentuhan, tiba-tiba si lelaki melepas topinya dan menutupi pemandangan. Sial! Aku dan Cato melengos. Kami berpandangan , berkedip-kedip sebentar lalu tawa meledak.

"Ngenes, Mblo. Ayo balik aja." ajak Cato sambil berdiri dan menepuk pantatnya membersihkan pasir yang melekat.

"Kamu aja yang bonceng." Aku melempar kunci motor, Cato menangkapnya. Pasangan mesum itu melanjutkan aktifitasnya di balik topi.

Motor sport hijauku menderu sepanjang perjalanan pulang. Matahari hampir menghilang ketika tiba di rumah.

***

"Kenalkan, Aku Dien, ini Cato ...." Aku mulai memperkenalkan diri dan teman-teman di depan Bu Ningsih dan beberapa karyawannya. Lalu kami membagi menjadi tiga kelompok.

Kelompok pertama melihat proses pengolahan petis. Kelompok ke dua observasi pengemasan dan kelompok ke tiga mencari tahu tetang pendistribusiannya.

Aku, Cato dan Zuhra mengikuti laki-laki berbadan legam menuju ke belakang rumah Bu Ningsih. Terpisah dari rumah induk, bangunan beratap asbes itu terlihat muram. Ada satu pintu yang tidak berdaun. Kami masuk ke dalam, diserbu aroma amis sekaligus gurih.

Sebuah tungku pembakaran lengkap dengan wajan super besar berada di sudut ruangan. Api merah menjilat pantat wajan yang menghitam. Menghantarkan panas dan membuat apapun yang direbus di dalamnya hancur sempurna. Setiap beberapa menit, wajan raksasa itu diaduk manual. Seorang pria bertelanjang dada membawa tongat panjang menyerupai dayung untuk mengaduk cairan hitam di dalam wajan sampai mengental. Keringatnya menetes dari pelipis turun ke leher, melewati dada berotot dan berakhir di ujung karet celana gambrong coklat kumal. Meninggalkan jejak hitam seperti peta.

Sementara di sisi lainnya, beberapa karyawan perempuan berkerudung kotak kecil memilah potongan ikan dan kepala udang untuk di cuci. Mereka memisahkan daging udang yang segar untuk dibuat petis super, sementara kulit dan kepalanya dibuat kualitas biasa.

Aku melangkah menuju tungku. Terpaku pada bunga api yang memercik. Seolah ada sesuatu yang memanggil dan membimbing langkah ini. Kulongokkan kepala melihat cairan hitam meletup-letup di permukaan wajan. Mengepulkan asap beraroma gurih. Rasanya ingin menceburkan diri ke dalamnya. Badanku perlahan condong ke depan, menghirup wangi petis dengan mata terpejam.

"Dien!" Zuhra menepuk pundakku keras sekali. Aku terlonjak. Bingung dengan apa yang terjadi. Wajah gadis berhidung mungil itu pias. Dengan kasar, dia menyeretku keluar gedung. Beberapa pasang mata karyawan menatap heran.

"Apa yang kamu lakukan, Dien!" Zuhra melepaskan genggaman tangannya.

"A-aku hanya melihat-lihat petis diaduk, kok."

"Tidak, Dien. Tadi itu kamu bersiap melompat masuk ke dalam wajan!"

"Hah?! Tidak mungkin!" Aku menyangkal. Tidak masuk akal sama sekali.

Aku mengusap wajah, memikirkan apa yang baru saja terjadi. Zuhra meremas ujung jilbab putihnya.

"Mana Cato?" tanyaku kemudian.

"Dia masih didalam tadi membantu mengupas udang."

"Aaagh!!" Tiba-tiba jeritan terdengar dari dalam, aku segera berlari masuk dan mataku hampir lepas ketika melihat sesuatu yang mengerikan.

"Cato!" teriakku histeris

Bersambung
Diubah oleh noviepurwanti
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Justika1118 dan 28 lainnya memberi reputasi
29
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Tampilkan isi Thread
Halaman 6 dari 12
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
04-05-2019 16:49
Quote:Original Posted By nayanta
jangan2 wajahnya bu ningsih, lagi lukuran pakai petis.
emoticon-Wowcantik


Aw seyem
0
04-05-2019 18:00
Mengumpulkan keringat buruh-buruh yang berceceran di mana-mana
di dinding-dinding kota
dan lantai pabrik yang menua
sama saja dengan mengumpulkan airmata para betina
ketika berkaca dan menyaksikan kerut-merut di muka
lalu membanting cermin dan berkata;
tak ada lagi guna! Semua berlalu begitu saja!

Buruh-buruh yang sama jumlahnya dengan banyaknya butiran hujan
memenuhi jalanan di pagi yang kehilangan candaan
mengalir laksana air menuju di manapun ada lubang
yang digali dari keinginan tuan-tuan
untuk kemudian makan pagi, siang dan malam
di sela-sela selangkangan matahari yang tak jua meninggi
simbol dari harapan-harapan yang terkunci di peti mati

Siapakah yang sanggup memutar mesin-mesin industrialisasi?
jika bukan jari-jari dan kaki
para buruh yang melumasi matanya dengan oli
agar tak perlu melihat jeri pada angka-angka slip gaji
menghindarkan diri dari patah hati
lantas menambah angka-angka statistik tentang jumlah orang bunuh diri

Siapakah yang bisa mendandani wajah zaman yang begitu pesolek?
membubuhkan perona dan wangi-wangian pada tubuhnya yang molek
kalau bukan dengus nafas letih
dan sendi-sendi tulang yang merintih-rintih
dari para buruh yang menyuapi mulutnya setiap hari dengan asa
lalu memuntahkannya saat akhir bulan tiba

Ode ini untuk para buruh dan pekerja yang menggadaikan hari-harinya
pada almanak yang jarang sekali berganti rupa
lusuh dan bersahaja
orang-orang yang menyewakan kelelahannya
pada rencana-rencana yang enggan berenjana
namun tetap bersikukuh menjalaninya dengan niat mulia
0
04-05-2019 20:51
Quote:Original Posted By Surobledhek746
Mengumpulkan keringat buruh-buruh yang berceceran di mana-mana
di dinding-dinding kota
dan lantai pabrik yang menua
sama saja dengan mengumpulkan airmata para betina
ketika berkaca dan menyaksikan kerut-merut di muka
lalu membanting cermin dan berkata;
tak ada lagi guna! Semua berlalu begitu saja!

Buruh-buruh yang sama jumlahnya dengan banyaknya butiran hujan
memenuhi jalanan di pagi yang kehilangan candaan
mengalir laksana air menuju di manapun ada lubang
yang digali dari keinginan tuan-tuan
untuk kemudian makan pagi, siang dan malam
di sela-sela selangkangan matahari yang tak jua meninggi
simbol dari harapan-harapan yang terkunci di peti mati

Siapakah yang sanggup memutar mesin-mesin industrialisasi?
jika bukan jari-jari dan kaki
para buruh yang melumasi matanya dengan oli
agar tak perlu melihat jeri pada angka-angka slip gaji
menghindarkan diri dari patah hati
lantas menambah angka-angka statistik tentang jumlah orang bunuh diri

Siapakah yang bisa mendandani wajah zaman yang begitu pesolek?
membubuhkan perona dan wangi-wangian pada tubuhnya yang molek
kalau bukan dengus nafas letih
dan sendi-sendi tulang yang merintih-rintih
dari para buruh yang menyuapi mulutnya setiap hari dengan asa
lalu memuntahkannya saat akhir bulan tiba

Ode ini untuk para buruh dan pekerja yang menggadaikan hari-harinya
pada almanak yang jarang sekali berganti rupa
lusuh dan bersahaja
orang-orang yang menyewakan kelelahannya
pada rencana-rencana yang enggan berenjana
namun tetap bersikukuh menjalaninya dengan niat mulia


Baper gan bacanya 😭😭😭
profile-picture
Surobledhek746 memberi reputasi
1
04-05-2019 21:14
Quote:Original Posted By noviepurwanti
Baper gan bacanya 😭😭😭


Rintik hujan tak jua memaksamu pulang. Pedal sepeda berputar nyanyikan lagu anak jalanan lapar. Hingga gersang mawar tak lagi tebarkan wangi. Dimana ia sembunyi.

Setiap helai kertas telah aku kuliti. Ia tak juga menampakkan diri. Padahal bulan merah saga sudah menepi pada tempatnya. Padahal semua surat sudah terkirim sampai di tangannya. Belum ada jawaban juga.

Pada buku tersusun kubongkar. Kucari lembaran indah dulu. Ada namamu di sana. Sebaris pesan pernah kau tuliskan. "Jangan menyerah sayang, hidup memang tak gampang." Aku masih ingat semuanya.

Jangan enggan kau bakar perpustakaan. Jika itu membuatmu senang. Hanya untuk sebaris rindu. Padahal tinggal titipkan pada angin malam. Aku masih megharapkan kau datang bawa pesan perdamaian.

Jangan sungkan kau bakar hutan. Jika itu membuatmu lega. Hanya untuk segenggam rasa. Aku masih tak tega kau pergi entah kemana. Mawar tak tinggalkan benih. Tangkai kering tak mungkin bertunas lagi. Dan aku masih di sini. Berkutat dalam sepi.

Aku masih membalik-balik buku. Tempatmu dulu ada di situ. Aku rindu kicau kutilang di pagi hari. Dengan pesan-pesan suci. Semua darimu. Semua untukku. Tak boleh yang lain membagi.

Kini aku masih di sini. Menanti bait terakhir yang pernah kau janjikan dulu. Pada mawar kering. Pada helaian kertas separo terbakar. Pada puing-puing tiang perpustakaan. Aku masih berharap ada pesan.
0
04-05-2019 21:34
Lanjut ganemoticon-Kalahemoticon-Kalahemoticon-Kalah
0
06-05-2019 04:33
Ngeri.
0
06-05-2019 11:54
Hy Bu...
0
06-05-2019 11:55
ijin nyicip
profile-picture
harmagedon77 memberi reputasi
1
07-05-2019 19:40
(SFTH) Tumbal
Tumbal Part 1Pixabay.com


Part 3



Jantung ini berdebar. Segera aku turun dari motor, membuka kenop pintu kokoh yang ternyata tidak di kunci. Pandangan tertuju pada sebuah tangga marmer putih di sisi kanan. Seperti ada yang menuntun, kumelangkah ke atas. Penasaran.

Wangi melati bercampur anyir menyergap hidung. Ruangan lantai dua itu nyaris kosong. Hanya ada satu kamar tepat di ujung ruangan. Pasti itu tempat sosok yang mengintip di balik tirai.

Rasa ingin tahu mengalahkan ketakutan, tak kupedulikan bulu tengkuk yang mulai meremang. Berdebar, melangkah menuju kamar. Sekilas terdengar rintihan yang berasal dari dalam kamar.

Aku terpaku tepat didepan pintu bercat hijau tua. Suara tangisan itu semakin jelas terdengar, seolah tepat berada di belakang. Cepat kumenoleh. Sepi. Tak ada siapapun.

"Hhah ... toloong ... tolong aku ... hhah ...."

Suara itu semakin keras terdengar memenuhi telinga. Aku menutup kedua pendengaran dengan telapak tangan. Rasa berdenyut hebat menghantam kepala.

Tubuhku terhuyung.

Brak!

Tiba-tiba pintu di depan terbuka lebar.

Di atas ranjang yang menempel pada jendela, terbaring telentang sosok yang hanya tulang berbalut kulit. Kepalanya miring, mata kekuningan melotot menatapku tajam.

Dan, Astaghfirullah ... Wajah itu memang benar-benar seperti meleleh.

Nafasku tersengal, seperti ada yang mencekik.

Nenek tua di atas ranjang menarik sebelah mulutnya, menyeringai.

"Tolong ..." bisiknya, bersamaan dengan aroma busuk menyergap hidung.

Perutku langsung mual ingin memuntahkan isinya. Seumur hidup tak pernah aku mencium bau sebusuk ini. Aku hendak berlari ketika pundakku ditepuk dengan kasar.

"Sedang apa kamu di sini, Dien!"

Aku terlonjak. Bu Ningsih! Wanita itu berkacak pinggang, matanya menatapku tajam lalu menutup pintu yang terbuka itu dengan keras. Bau busuk segera lenyap. Perut ini tidak lagi bergejolak.

"Ikut aku!" perintahnya. Aku mengekor seperti kerbau dicocok hidung.

Di bawah, Zuhra sudah menunggu.

"Maaf, Bu Ningsih. Saya tidak bermaksud apa-apa," ujarku penuh penyesalan. "Tapi itu ... itu tadi apa?"

Wanita gemuk itu menghela napas, dia mengempaskan pantatnya yang besar di sofa. Kemudian memberi isyarat agar kami juga duduk.

"Itu tadi nenekku."

"Nenek?" Aku tak habis pikir, apakah umur manusia memang sepanjang itu?

"Suami dan anak-anakku tidak tinggal di sini karena merasa takut dengan nenek. Dialah yang pertama kali mengelola bisnis petis di sini."

"Maaf, sebenarnya nenek Bu Ningsih sakit apa?" tanyaku penasaran.

"Dia tidak sakit. Nenek Surmi ingin mati. Tetapi sampai sekarang, maut sepertinya tidak mau menjemputnya."

Bu Ningsih menyeka mata. Kelelahan terbayang di wajahnya.

"Maaf, Bu kalau boleh tahu. Apakah di tubuh Nenek Surmi ada jimat atau susuk yang ditanam?" Zuhra menyela.

Bu Ningsih mengangguk.
"Kamu kok tahu, Zuhra?"

"Kebetulan Abah biasa membantu orang yang berurusan dengan bangsa Jin. Ruqyah namanya, Bu."

"Sebenarnya aku sudah banyak minta bantuan orang pintar, dukun bahkan Kyai untuk memudahkan Nek Sarmi. Tapi sampai sekarang masih belum ada yang berhasil, makhluk yang bersarang di tubuhnya sangat kuat."

"Saya akan mencoba bicara sama Abah, barangkali beliau bisa membantu Ibu."

"Benarkah, Zuhra?" Mata Bu Ningsih berbinar. Ia sampai memegang tangan gadis berlesung pipi itu.

"Biasanya Abah akan membantu dengan syarat seluruh anggota keluarga berkumpul untuk di ruqyah bersama. Beliau selalu menjaga wudhu, salat malam, tilawah Quran sehari minimal satu juz dan puasa Senin-Kamis. InsyaAllah jika ada kesembuhan itu semua berasal dari Allah, Bu. Yang penting Ibu dan keluarga yakin dan percaya hanya kepada Allah."

Aku menatap Zuhra dengan takjub. Ternyata dibalik sifatnya yang pendiam, ia mempunyai pengetahuan yang lumayan. Entah kenapa hatiku agak berdesir.

"Iya, Terima ..." belum sempat Bu Ningsih menyelesaikan bicara, beberapa pegawai lelaki masuk tergesa. Wajah mereka memerah.

"Bu, gawat! Syukron kecebur wajan petis!"

"Apa!"

Kami segera berlari keluar rumah, menuju ke belakang tempat produksi petis. Orang-orang berkerumun di depan pintu, beberapa pegawai wanita menangis berpelukan.

Bu Ningsih meringsek ke depan, masuk ke dalam bangunan dan langsung menuju ke perapian yang sudah di matikan. Jejak air menggenang, selang panjang berwarna biru masih meneteskan air. Tergeletak di samping tungku.

Aku dan Zuhra nekat mengikuti bu Ningsih. Dengan dada berdebar, kuberanikan diri melihat ke arah wajan.

Tubuh lelaki legam pengaduk petis tertelungkup di dalam adonan yang mengepulkan asap. Wajah itu sepenuhnya tenggelam ke dalam petis, sementara bagian pinggang ke bawah masih berada di luar wajan.
"Aah!" Zuhra terpekik. Dia menutup wajah dengan dua telapak tangan.

Dengan tanggap aku berbalik dan mendekap tubuh gigil itu. Membimbingnya keluar bangunan.

"Cepat telpon polisi dan rumah sakit!" gelegar suara Bu Ningsih terdengar. Buru-buru seorang wanita muda bagian pengepakan mengeluarkan ponsel dan mulai menelpon.

Aku membimbing Zuhra duduk di teras rumah. Memberinya air mineral yang kuambil dari kantor. Dengan jemari gemetar, gadis bertahi lalat kecil di bawah mata itu meminumnya.

"Kamu tidak apa-apa?" tanyaku. Dia hanya mengheleng pelan.

"Kenapa juga kamu ikut masuk, Zuhra."

"Aku kan hanya ngikutin kamu, Dien. Jahat sekali makhluk yang telah mencelakakan manusia. Kasihan juga Bu Ningsih yang harus menanggung semua kesalahan leluhurnya. Aku pasti akan meyakinkan Abah agar membantu." Sorot mata Zuhra menajam. Sepertinya ia telah berhasil mengatasi ketakutannya.

"Mau ku antar pulang sekarang?"

"Nanti saja, nunggu polisi datang."

Ternyata dia gadis yang keras kepala. Di saat seperti itu, bisa-bisanya bibirku menyunggingkan senyum. Antara miris dengan musibah yang terjadi dan senang karena ada pengetuk pintu hati.

"Baiklah, aku akan menunggumu, Zuhra."

"Maksudnya?"

Bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
qisatria dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Lihat 1 balasan
07-05-2019 19:41
Quote:Original Posted By ibunovi
Lanjut ganemoticon-Kalahemoticon-Kalahemoticon-Kalah


Sudah part 3 gan
0
08-05-2019 00:35
Uuwooohhhh emoticon-Hansip
profile-picture
fakhrie... memberi reputasi
1
08-05-2019 08:08
Quote:Original Posted By sekutstaffel
Uuwooohhhh emoticon-Hansip


Selamat membaca gan
0
Lihat 1 balasan
Lapor Hansip
08-05-2019 09:43
Balasan post noviepurwanti
menanti kelanjutan Zahra bhu,,
sembari ndeprok nyeruput kopi,,
0
08-05-2019 10:18
thx sudah update gan/sis.
team zuhra disini.
wah berarti leluhurnya ada yg perjanjian dengan setan kah?
0
Lapor Hansip
08-05-2019 17:17
Balasan post noviepurwanti
Quote:Original Posted By noviepurwanti


Selamat membaca gan


Selamat menulis gansis emoticon-Wakaka
0
08-05-2019 18:20
Makin serem...
Tapi makin menarik
0
08-05-2019 20:03
aduh... saya plg takut horror...
yg lucu2 kpn lagi nih?
0
08-05-2019 20:43
ditunggu updatenya gan
0
09-05-2019 09:40
Tumbal (End)
Tumbal Part 1


Part 4 End



Evakuasi korban yang dilakukan oleh Polisi dan rumah sakit berjalan rumit. Jenazah sudah terendam dalam cairan petis mendidih selama satu jam, tapi pelayan masyarakat itu belum nampak tanda-tanda kedatangannya. Padahal kantor polisi hanya berjarak lima ratus meter dari tempat kejadian. Sementara mobil ambulan sudah datang tiga puluh menit sebelumnya. Pihak rumah sakit tidak berani melakukan pengambilan mayat tanpa pengawasan polisi. Untung saja, beberapa menit kemudian suara sirene memecah siang pertanda mereka sudah datang.

Aku melihat proses evakuasi. Beberapa polisi bersarung tangan dan memakai masker mencongkel tubuh korban dengan alat pengaduk petis. Perawat menyiapkan matras yang menangkap jenazah ketika digulingkan ke bawah. Mayat yang penuh petis itu dibersihkan seadanya dengan air kran. Bagian wajah dan yang tercelup cairan coklat tua itu tampak melepuh, bengkak dan terkelupas. Cepat-cepat mereka membawa ke rumah sakit untuk otopsi. Bu Ningrum ikut naik ke dalam mobil polisi.

Aku menghela napas. Nampaknya, home industri ini akan tutup selama beberapa minggu. Berarti kelompok kami harus segera mencari penggantinya bila ingin mendapatkan nilai.

"Ayo pulang, Dien." Zuhra menyambutku di depan teras. Aku mengangguk dan menyalakan motor hijau. Sepanjang perjalanan, kami membisu. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

***

Sebagai ketua kelompok, akulah yang paling bertanggung jawab. Dengan tampang memelas, aku menghadap dosen. Menjelaskan peristiwa yang terjadi.

Untung saja dosen itu memberi kelonggaran. Kami tidak harus mencari tempat baru, namun melanjutkan analisa tentang usaha petis Bu Ningsih.

"Dien, Abah sudah kuberitahu tentang Bu Ningsih. Beliau mau membantu. Tinggal cari waktu yang tepat. Soalnya Abah juga ngajar SMA,"  ucap Zuhra ketika kami berpapasan di koridor kampus.

"Nanti kamu aja yang menghubungi Bu Ningsih, ya. Aku mau membantu, kok. Oiya, motormu kan hari ini sudah bisa diambil?"

"Iya. Nanti sore aja kuambil. Biar adem."

"Kuanter mau? Aku kebetulan nggak ada acara. Atau sekarang saja gimana? Kita kan nggak ada mata kuliah selama PPL." Senyumku mengembang.

"Tapi aku nggak bawa helm."

"Gampang. Pokoknya beres."

Sebenarnya aku sudah menyiapkan dua helm. Niat banget nganter Zuhra ambil motor. Alasan mengantarkan itu hanya modus supaya lebih dekat dengan gadis semampai itu.

Jarang-jarang aku berjalan berdua dengan lawan jenis. Langkah kali ini benar-benar mantap penuh percaya diri.

Ternyata, jatuh cinta memang indah.

***

Seminggu kemudian, kami berkumpul di rumah Bu Ningsih. Aku, Zuhra, Abah dan ke lima keluarga Bu Ningsih termasuk Nenek Sarmi berdesakan di dalam kamar.

Abah menyuruh kami berwudhu. Setelah itu semua duduk bersila di bawah ranjang. Semua wanita harus menutup aurot, termasuk Nenek Sarmi yang dipakaikan mukenah putih panjang.

"Saya akan memulai proses ruqyah. Selalu berdzikir kepada Allah, jangan sampai pikiran kosong. Mengerti?" Abah berbicara, suaranya sangat berwibawa. Kami semua mengangguk.

Baru pertama kali aku ikut ruqyah, biasanya hanya sekilas melihat di TV.

Abah membaca Ta'awudz dan Basmalah. Lalu beliau berkata lantang,

"Wahai para Jin, kembalilah ke alammu. Jangan mengganggu manusia. Bertaubatlah kalian. Aku akan membantu kalian lepas dari jasad Nenek Sarmi, jangan takut. Allah akan mengampuni hamba-Nya yang berserah diri."

Abah membaca dua kalimat syahadat, lalu bersama kami membaca Surah Annas, Al-Ikhlas, Al-Falaq, Ayat Kursi dan bacaan lain yang aku tidak tahu.

Nenek Sarmi mulai menggeliat, Bu Ningsih dan Zuhra membantu menenangkan tubuh renta itu. Abah masih mengucapkan doa sambil menggerakkan tangannya ke ubun-ubun Nenek Sarmi seolah mencabut sesuatu. Setiap kali tangan Abah bergerak menarik udara, Nenek Sarmi melolong kesakitan.

Nenek Sarmi menggeram seperti harimau, Abah dengan cekatan menebas leher wanita renta itu dengan gerakan tangan. Ketika lengan Nenek Sarmi bergerak menyerupai ular, Abah meraih ujung jarinya dan menarik sesuatu yang kasat mata. Hingga akhirnya Nenek Sarmi muntah-muntah mengeluarkan busa putih di dalam baskom yang sudah disediakan. Setelah itu dia menutup mata dan tertidur lelap. Kelelahan.

"Mari Abah ikut saya." Bu Ningsih mengajak kami semua menuju bangunan belakang rumah.

Di tengah ruangan itu, nampak wajan petis tegeletak.

"Ini wajan petis yang dulu di dapat Nenek dari dukun di sebuah gunung. Wajan ini sudah menelan banyak korban jiwa. Saya harus bagaimana, Abah?"

Abah memerhatikan wajan hitam itu.

"Saya akan meruqyah wajan ini."

Abah kembali melantunkan ayat-ayat suci Alquran sambil sesekali menyentuh wajan. Bulir keringat memenuhi wajah lelaki itu. Dia seperti kepanasan.

'Kretek kretek kretek'

Tiba-tiba wajan gosong itu retak, lalu terbelah menjadi dua. Asap abu-abu seolah keluar dari dalamnya.

"Kuburkan wajan ini di tempat yang aman. Insya Allah semua Jin yang ada di dalamnya sudah kembali ke tempatnya. Jangan lupa kalian selalu terangi rumah ini dengan bacaan Alquran."

Kami semua hanya manggut-manggut. Aku serasa tertampar, kapan ya terakhir aku mengaji? Tiga bulan lalu atau satu tahun yang lalu? Ah, betapa malunya bila Abah tahu kalau calon menantunya ini belum jadi jejaka solih.

Kami berpamitan tak lama kemudian. Abah menolak amplop dari Bu Ningsih. Dia hanya tersenyum.

"Maaf, Bu. Saya tidak memungut biaya apapun. Semoga ini menjadi amal jariyah saya."

Bu Ningsih memandang kami dengan mata berkaca-kaca. Berulang kali ia mengucapkan terima kasih. Aku semakin kagum dengan sosok Abah.

"Ayo kita pulang, Nduk. Oiya, apa ini teman kampus yang pernah kamu ceritakan itu?" Abah menyelidik

"Iya, Abah." Lirih Zuhra.

"Dengar, ya. Kalian konsentrasi kuliah saja dulu. Kamu juga, Le. Kalau memang ada rasa dengan Zuhra buktikan dengan memperoleh nilai bagus lalu kerja yang halal."

"Ah! Abah ini apaan, sih." Zuhra memukul lengan ayahnya. Aku jadi penasaran, memangnya Zuhra cerita apa kepada Abah?

"Inggih, Abah." H"anya itu jawaban yang keluar dari mulutku.

Aku melirik Zuhra yang salah tingkah. Wajahnya merona, dia berjalan cepat belok kiri menuju jalan mendahului kami.

"Zuhra, motornya di sini!" teriakku. Gadis itu berbalik dan berjalan menunduk menuju ke Abahnya yang sudah menyalakan motor. Lalu dia duduk manis di belakang, menjulurkan lidahnya padaku. Manis sekali.

Sepertinya ada lampu hijau dari Abahnya Zuhra. Yes! Aku melompat gembira. Tak perlu susah-susah mencari pacar, sudah ada yang menunggu. Benar-benar rejeki nomplok. Tinggal berusaha memperbaiki dan memantaskan diri menjadi menantu orang alim seperti Abah.

Dua hari kemudian, kudengar Nenek Surmi meninggal dunia. Dan usaha petis Bu Ningsih boleh beroprasi lagi karena akan menggunakan teknologi modern untuk mengaduk petis.

Aku masih berusaha menjadi manusia yang baik dan lebih baik lagi. Kejadian luar biasa yang kualami beberapa hari ini menyadarkanku, betapa manusia adalah makhluk yang amat lemah. Ada sebuah kekuatan Maha Dahsyat yang pada akhirnya akan jadi pemberhentian terakhir.

Selesai
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Cahayahalimah dan 8 lainnya memberi reputasi
9
Lihat 1 balasan
Halaman 6 dari 12
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
akhir-penantian
Stories from the Heart
long-lost-love
Stories from the Heart
milk--mocha
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.