Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
99
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cc2a24caf7e93131f23b722/menikmati-senja-bersamamu-kumpulan-cerpen
Pict by Khadafi05 Kekasihku Ternyata Milik Orang Lain Sabtu sore, semburat senja tampak menguning keemasan. Matahari bergeser tempat ke ufuk barat, tenggelam bersama keramaian alam. Alam menjadi sunyi dan sepi, tapi tidak dengan bangunan megah di depanku. Janur kuning terhias sepanjang pintu masuk dan di sebelah kanan terdapat foto preweding sepasang mempelai. Begitu ramai orang hilir mudik mengen
Lapor Hansip
26-04-2019 13:16

Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]

icon-verified-thread
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]



cover



Kekasihku Ternyata Milik Orang Lain




Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]





Sabtu sore, semburat senja tampak menguning keemasan. Matahari bergeser tempat ke ufuk barat, tenggelam bersama keramaian alam. Alam menjadi sunyi dan sepi, tapi tidak dengan bangunan megah di depanku. Janur kuning terhias sepanjang pintu masuk dan di sebelah kanan terdapat foto preweding sepasang mempelai. Begitu ramai orang hilir mudik mengenakan riasan dan busana yang sangat mewah. Sedangkan aku dan kedua orang tuaku hanya sederhana. Kami datang disambut senyum manis gadis pagar ayu dan buku tamu. Yah, aku sebagai tamu bukan mempelai di atas pelaminan.


Tidak lupa nama Zhe kusematkan di atas kertas, pertanda bahwa diriku benar-benar seorang tamu.



"Terima kasih, Mba." Senyum sang pagar ayu dan kubalas dengan senyum termanisku.



Sesak, rasanya hatiku terasa perih kembali. Aku mencoba tegar dan menghela nafas beberapa kali sampai merasa tenang. Bunda tersenyum melihatku dan memeluk erat tubuh mungilku.



"Kuat, Sayang. Bunda yakin kamu sanggup," ucap Bunda memegang erat tangan dan menuntunku masuk ke dalam.



Akhirnya aku masuk dan terlihat sepasang mempelai raja dan ratu sehari. Senyum mereka sangat menawan meski harus berdiri untuk bersalaman dengan ribuan tamu. Sekali lagi, Bunda menggenggam erat tanganku dan Ayah hanya tersenyum.


Alunan musik menemani setiap kaki melangkah, memasuki ruangan yang penuh hiasan indah. Suara merdu biduan wanita terdengar syahdu dengan irama khas mendayu-dayu, tapi tetap khidmat. Mengiringi sepasang pengantin yang duduk di atas singasana. Cantik nan gagah bersanding bersama dan tidak lupa mereka tersenyum bahagia. Tidak ada sedikit pun raut kecewa apalagi kesedihan.



Ribuan bunga menghiasi di sana-sini. Perpaduan warna biru dan hijau tosca tersebar sampai sudut gedung. Ornamen ukiran pelaminan tidak kalah megah dan mewah. Deretan kursi para tamu pun mulai sesak dan penuh. Aku datang bersama kedua orang tuaku dari sekian ribu tamu undangan.




"Sayang, kamu yakin mau ngantri bareng kami? Sudah siap ketemu sama pengantinnya?" tanya Bunda untuk meyakinkanku lagi, entah kali keberapa bunda bertanya seperti itu.



"Iya, Bunda" jawab singkatku penuh keyakinan.



"Ya sudah, sini samping Bunda. Biar ayahmu di belakang kita."




Barisan para tamu menganti panjang dan sangat melelahkan. Kemudian tiba saatnya pertemuan dengannya. Sekali lagi, rasa sakit kembali menyerang hatiku, tapi kutekan sedalam mungkin. Berusaha tidak menunjukan betapa lemahnya diriku.



"Selamat menempuh hidup baru, Raka. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warohmah." Kuulurkan tangan, lalu gayung bersambut uluran tangannya.



"Terima kasih atas do'amu, Zhe." Mencoba membalas sapanya dengan senyum, walaupun sulit tetap harus aku lakukan. Perih memang, tapi sudahlah. Mungkin nasib cintaku harus berakhir tragis seperti sekarang.




Entah, kekuatan apa yang mampu mendorongku untuk bertemu dengannya. Sungguh kekuatan besar yang mampu membuatku berdiri dan menyapa, menghadapi seseorang yang sekian lama mengisi hatiku. Namun harus menikah dengan orang lain. Kami pun turun dan pergi dari pelaminan untuk menikmati sajian yang ada.



Aku memilih duduk terpisah dari kedua orang tuaku, menikmati sajian yang sejujurnya tidak membuatku nafsu. Aku ingin langsung pulang, tapi Bunda melarang. Mataku memandang ke pelaminan, tidak terasa kilas balik kejadian itu melintas dipandangan.




Jika mengingat senja hari itu, mungkin tidak akan setegar hari ini. Senja yang menciptakan badai begitu dahsyat dan memorak-porandakan dinding hatiku atas nama cinta.






***********





Semilir angin menerpa di senjaku. Duduk di taman indah bertaburan bunga. Anganku melayang di sore itu. Dimana bertemu dengan seseorang yang lama telah kutunggu. Menemani detik demi detik melewati setiap waktu yang berlalu.



Rasanya aku tidak ingin pergi dari tempatku. Tempat yang selalu ku rindukan saat bersamanya, berbagi senyum dan tawa. Tempat yang terlukis kisahku bersamanya.



"Hay, Sayang. Sudah lama nunggu di sini?" Aku menoleh kemudian dia duduk di sampingku.


"Iya, lumayan nunggu daritadi. Lihat jam berapa sekarang?" Wajahku cemberut sambil melihat jam pukul 5 sore di pergelangan tangan.



"Maaf, Sayang. Hari ini pulang kerja kesorean. Dikejar deadline akhir bulan." Wajahnya penuh penyesalan dan lelah, sepertinya benar-benar sibuk.



"Iya, nggak apa-apa." Aku pun tersenyum semanis mungkin. "Kamu ngapain ngajak ketemu di sini? Nggak seperti biasa sore-sore ngajak ketemu." Masih dengan senyuman yang sama.




Dia terdiam, manik-manik mata indahnya menerawang jauh ke depan. Dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, lalu menghembuskan nafas kasar beberapa kali sebelum melanjutkan kalimat.



"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu, Sayang." Ia tampak gusar dan sedih, beberapa kali mengepalkan tangan.



"Ada apa sih? Kayaknya serius banget. Wajah kamu kelihatan berat gitu." Aku berusaha menenangkan kekasihku dengan mengelus punggung dan menggenggam jemari miliknya.



"Maafkan aku, sungguh maafkan aku, Sayang." Ia berkali-kali mengucapkan kalimat maaf dan memegang erat tanganku, seperti tidak ingin melepaskan.



"Sebenernya ada apa? Kenapa?" Aku sungguh bingung dibuatnya.
Sebenarnya ada apa dengannya? Tidak biasanya seperti ini, apakah ada masalah serius yang kekasihku hadapi?



"Ini tentang hubungan kita, Sayang. Tentang masa depan dan mimpi-mimpi indah kita berdua, Sayang." Ia kembali menerawang ke depan dengan tatapan kosong dan membuatku semakin bingung. Hatiku mulai gusar, sepertinya ada sesuatu yang berat akan terjadi pada kami.



"Bukankah kita sudah punya banyak rencana tentang masa depan? Toh tinggal datang ke orang tuaku untuk melamar dan menikahiku. Apa yang membuatmu risau?" Aku masih tetap berusaha tenang, jangan sampai kekasihku melihatku yang mulai gelisah.



Setelah mendengar ucapanku, dia terlihat semakin gelisah, raut wajahnya seperti bingung ingin menjelaskan sesuatu. Aku sendiri semakin tidak nyaman dan penasaran. Namun tetap diam dan menunggu penjelasan darinya.




"Bukan, bukan itu masalahnya. Ada hal yang sangat berat untuk menjelaskannya padamu, Sayang." Muka sendunya terlihat lagi olehku, matanya mulai berkaca-kaca.



Kami saling diam beberapa menit untuk menenangkan pikiran masing-masing.
Aku dengan sejuta pertanyaan dalam pikiranku dan dia dengan kegundahan hatinya. Bagaimana ia harus menjelaskan masalah yang sebenarnya terjadi.



"Aku ... aku telah dijodohkan, Sayang. Orang tuaku memaksaku untuk menerima perjodohan ini." Wajah tampannya berubah sedih dan tak bisa lagi ku artikan.



Deg'



Jantungku berhenti sepersekian detik.






"Aku sudah menolak karena telah memilikimu, Sayang. Bahkan orang tuaku pun tahu bahwa kita saling mencintai. Namun, tetap saja mereka memaksaku dengan alasan demi bisnis keluarga. Gadis yang orang tuaku jodohkan, anak dari rekan bisnis Papa," imbuhnya.



Speechless, tubuhku melemas dan tidak memiliki tenaga untuk sekedar duduk dengan tenang. Seperti ada ribuan anak panah yang menghujam ulu jantungku, dengan serangan secara tiba-tiba, tapi mematikan. Sakit, sungguh sangat menyakitkan sekali.



Apakah ini nyata, Tuhan? Semoga mimpi, semoga mimpi.



Tidak terasa ada butiran hangat mulai menetes di ujung kelopak mataku. Bendungan yang sedari tadi ku coba cegah, akhir'y roboh tidak tersisa. Air mataku deras mengalir seperti hujan di tengah badai. Hancur, hatiku begitu hancur mendengar penjelasan yang ia katakan.



Apakah kisah cintaku yang bertahun-tahun kami jalani, harus kandas dan terputus begitu saja? Ini tidak adil, Tuhan. Sangat tidak adil!! Jeritku dalam diam.



"Haruskah berakhir kisah kita, Raka? Lalu, apa arti semua kebersamaan kita? Jika akhirnya aku harus mengalah, pergi dan terluka. Dari awal kita memang berbeda, tapi perjuanganmu yang membuatku luluh. Nyatanya, sekarang kamu menyerah begitu saja? Apa arti kebersamaan kita selama 5 tahun ini?" Aku mulai menangis disaksikan oleh senja dan ribuan bunga di taman ini. Ia mendekap dan memelukku dengan erat. Mungkin ini pelukannya yang terakhir, sebelum kami benar-benar berpisah.






**********







Ingatanku menerawang jauh ke atas langit. Tidak terasa hari pernikahanya telah datang dan di tanganku ada secarik kertas undangan. Nama yang dulu pernah terukir indah di hatiku, kini milik orang lain.




Raka Prasetyo Atmajaya
Siska Dwiningsih Suryaningrat






Melihat nama yang selalu menemani 5 tahunku kemarin. Sebelum ia benar-benar menjadi milik orang lain. Notif nada ponselku lama berdering, ada panggilan telfon dari ujung sana.



"Assalamualaikum, Bunda," jawabku.



"Waalaikumsalam, Nak. Dimana kamu sekarang? Besok kita akan pergi menghadiri undangan Raka." Sejenak Bunda terdiam, lalu ia melanjutkan lagi. "Kamu di rumah saja, yah?" pinta Bunda.



"Tidak, Bunda. Zhe akan ikut Bunda pergi ke sana. Sebentar lagi Zhe akan pulang." Mencoba berbicara sebaik mungkin, agar Bunda tidak khawatir. Bunda tahu kisah kami. Namun sekali lagi, takdir hanya Tuhan yang tahu dan menentukan.


"Baiklah, Nak. Bunda akan menunggumu pulang. Jika kamu belum siap, Bunda tidak akan memaksa. Bunda mengerti." Bunda seolah mengerti apa yang aku rasakan. Jujur saja aku tidak ingin datang dan memilih pergi untuk selamanya. Namun, di satu sisi hatiku merindukan dirinya.



"Iya, Bunda," jawabku dan mematikan ponsel.


Obrolan kami berakhir dan ponsel kembali kumasukan ke dalam tas. Bunda tahu bahwa putrinya tidak sedang baik-baik saja. Namun, Bunda percaya bahwa putrinya mampu melewati semua badai dengan baik.



Mengbuskan nafas kasar, berdiri dan pergi meninggalkan bangku kosong taman ini. Entah, sejak kapan mulai senang dengan kesendirian. Tepat sebulan setelah perbincangan di senja itu, undangan telah sampai di tanganku dan esok adalah hari pernikahan kekasihku yang ternyata milik orang lain.



Siapa yang tahu takdir dan jodoh seseorang. Manusia hanya mampu berencana dan Tuhan yang menentukan. Nyatanya sekuat apapun cinta kita, tetap saja harus terpisah.






Quote:
Aku dan kamu menjadi bagian masa lalu yang tak pernah ada di kehidupan esok. Biarkan lukaku mengering dengan sendirinya dan waktu yang mengobati. Walaupun berat melihatmu hidup bersama orang lain. Namun, aku cukup bahagia karena pernah menjadi bagian dari hidupmu meskipun hanya masa lalu.




Untukmu yang pernah menjadi bagian hidupku, terima kasih telah menemani dan mengukir kisah kita berdua. Semoga engkau bahagia bersama cinta yang lain.










---TAMAT---







Harusnya aku
Diubah oleh indahmami
profile-picture
profile-picture
profile-picture
novimy dan 30 lainnya memberi reputasi
31
Masuk untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 5
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
26-04-2019 13:18
Diubah oleh indahmami
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tinwin.f7 dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
26-04-2019 13:39
Duh...sakit tapi ga berdarah
profile-picture
syafira87 memberi reputasi
1 0
1
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
26-04-2019 13:45
Quote:Original Posted By I.W.a.K
Duh...sakit tapi ga berdarah


Sakit banget ya bang..
emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
syafira87 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
26-04-2019 14:06
Quote:Original Posted By indahmami


Sakit banget ya bang..
emoticon-Big Grin


as my soul heals the shame,
I will grow trought this pain
0 0
0
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
26-04-2019 14:11
Quote:Original Posted By I.W.a.K


as my soul heals the shame,
I will grow trought this pain



Asal berdamai dengan waktu,,
Rasa sakit itu akan memudar dan perlahan akan sembuh.
emoticon-Smilie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tinwin.f7 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
26-04-2019 14:24
mantap gan lanjuuuut!
0 0
0
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
26-04-2019 14:33

Boneka Cantik

Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]





"Sayang, sini deketan. Jauh amat sih!"

Aku mendekat dan duduk di sampingnya. Namun dia menarik tubuhku tidur di pangkuan, memainkan anak rambut.

"Sayang, nanti sore jalan-jalan, yuk!"

"Kemana?"

"Kemana ajah, pasti seru!" ucapnya semangat masih memainkan anak rambutku.

Langit senja mulai terlihat, entah mengapa aku masih menyukai senja. Mungkin fajar membuat tubuhku membeku. Aku mengenakan outfit tunik, setelan celana jeans, dan rambut kuncir kuda dengan menyisakan sedikit anak rambut menutupi bagian depan. Kubiarkan tergerai begitu saja, polesan warna pastel nude di bibir, dan sedikit taburan bedak di wajah.

"Cantik!" Setelah mematutkan diri di cermin.

"Sayang!" Entah berapa kali panggilan tidak kujawaba.

"Sayang."

Dia menarik tubuhku ke pelukan, mendekat, sampai terdengar desahan napas di telinga. Tangannya meraba bagian punggung, leher, dan berhenti di kepala, melepas kuncir rambutku.

"Jangan dikuncir, Sayang. Aku benci ada orang yang melihat lehermu, selain aku," ucapnya ditelinga. "Kamu milikku!" Lebih ke bisikan tapi penuh penekanan. Tubuhku seperti tersengat aliran listrik.

"Sayang, mau pergi atau diam di situ terus?"

"Eh!"

Sial! Sejak kapan aku diam mematung, kupicingkan mata melihat dia tertawa puas. Motor melaju ke taman kota, pemandangan sore hijau asri, meskipun langit senja menguning.

"Sayang, kamu duluan ke dalam. Aku ada perlu sebentar," ujarnya mencium kening dan pergi meninggalkanku.

Aku berjalan menyusuri jalam setapak penuh dengan aneka bunga. Tanganku menyentuh dan memetik bunga yang paling kusuka. Semoga tidak ada petugas yang melihat. Mataku terus mencari di sudut mana paling nyaman untuk menunggunya.

Kakiku berjalan ke arah kursi berwarna biru berukiran wayang tepat di bawah pohon mangga. Taman kota yang indah, aku mengambil ponsel untuk mengirim pesan di mana posisi sekarang. Namun di ujung sana ada dua anak kecil berbaju lusuh bermain di atas rumput dan yang satu lagi membawa banyak barang. Sepertinya dia menjual sesuatu.

"Sayang." Dia mencium pucuk kepala dan memberi sebuah bonek lucu. "Buat kamu, Sayang."

"Makasih, Sweetheart." Aku tersenyum dan memeluknya. "Lama banget!"

"Iya, bingung milih bonekanya yang mana." Dia menarikku untuk bersandar.

"Sweetheart."

"Iya, Sayang."

"Lihat deh tiga anak di depan sana." Aku menunjuk mereka dan dia mengikuti. "Kasihan yah! Aku boleh beli yang mereka jual?"

"Kenapa harus tanya aku dulu, Sayang. Kamu kan bisa beli langsung." Dia mengusap kepalaku.

"Enakan ngomong dulu ma kamu, Sweetheart. Kalau boneka ini untuk mereka, boleh?"

Dia diam lama, aku tidak berani bertanya lagi. Ah! Bagaimana aku ini? Boneka ini dia beli hanya untukku. Kami masih sama-sama terdiam lama.

"Yakin kamu mau kasih ke mereka, Yang?" Dia mengusap kepalaku setelah lama hening.

"Iya, nanti kan kita bisa beli lagi. Kamu nggak marah kan, Sweetheart?"

Kulihat bibirnya tersenyum dan mencium kening.

"Ayo ke sana. Kasihan belum ada yang terjual."

Dia menarik dan menuntunku berjalan, aku bangga padamu, Sweetheart. Setelah dekat kami seolah-olah ingin membeli barang yang mereka jual. Sedikit tanya jawab sampai pada kesimpulan bahwa mereka anak yang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, ibunya sakit dan ayahnya tidak ada. Ada sesak di dalam dada dan sudut mataku mulai berkaca-kaca. Kupeluk si sulung.

"Oh ya, kakak punya suesuatu untuk kalian. Taraaaa!"

Boneka besar berwarna coklat kuberikan pada mereka, wajah si sulung terlihat ingin menangis. Kupeluk kembali. Sedangkan yang dua lain, mereka bermain dengan kekasihku.

"Jika nanti kita bertemu lagi, kakak akan bawakan kalian buku, untuk belajar." Kuusap kepalanya, dia mengangguk dan tersenyum.

"Kakak pamit, yah. Jaga diri baik-baik."

Baru saja berdiri dia meraih tanganku. "Barangnya tertinggal, Kak."

Aku tersenyum, menerima, dan mengembalikannya lagi. Wajahnya tersirat tanda tanya.

"Kakak sudah beli, jadi ini buat kamu. Kakak kasihkan lagi ke kamu. Uangnya buat kamu saja. Oh ya, kakak masih punya lebih. Ini buat ibu di rumah," kataku tersenyum.

"Makasih, Kak." Dia memelukku lagi dan aku tersenyum, kulihat kekasihku pun tersenyum.

"I love you, Sayang."

"Love you too, Sweetheart."

Meskipun ucapan kami lebih ke isyarat.



Tamat


Diubah oleh indahmami
profile-picture
IndahAssegaf memberi reputasi
1 0
1
Post ini telah dihapus
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
26-04-2019 14:35
Quote:Original Posted By indahmami
Makasih..
Tapi nie cerpen..
emoticon-Big Grin


Nggak nanya
profile-picture
iissuwandi memberi reputasi
1 0
1
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
26-04-2019 14:37
Quote:Original Posted By @soygeboy
Aih kanjeng Mami bikin tret, ijin ngopi ngopi di marih ya Mi. emoticon-Malu (S)

emoticon-Angkat Beer


Ehhh...
Jadi malu ada suhu mampir disini.
emoticon-Embarrassment emoticon-Embarrassment


Monggo,,,
Dinikmatin aja senyaman mungkin..
emoticon-Angel


Quote:Original Posted By cellato


Nggak nanya


Hehe..
Cuma jelasin aja ko'..
emoticon-Embarrassment emoticon-Embarrassment
profile-picture
profile-picture
profile-picture
iissuwandi dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
26-04-2019 16:41
Awan kadang merah merekah kadang hitam kelam tapi alam tetap menerima senja apa adanya
0 0
0
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
26-04-2019 18:53
Cukup sitinurbaya.
Kasian zhe y kak
profile-picture
iissuwandi memberi reputasi
1 0
1
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
26-04-2019 19:09

Balon dan Taman

Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]





Jalanan ramai dipenuhi oleh pedagang, banyak jenis bunga dan tanaman menghiasi seluruh sudut. Kakiku melangkah ke kursi besi berwarna coklat berhiaskan ukiran indah. Mataku menatap canda tawa dari orang-orang di ujung sana.

"Sayang," panggilnya dari arah belakang, menutup kedua mataku.

"Sweetheart."

"Eh, kok ketahuan, Yang?" tanyanya heran tanpa melepas tangan dari kedua mataku.

"Iyalah, suara dan aroma tubuhmu."

Dia mencium pucuk kepala, melepas tangan, lalu duduk di sampingku. Mataku terus mengawasinya.

"Ngelihatnya gitu amat, Yang." Dia mengusap kepala dan menggenggam jemariku.

"Suka banget, Sweetheart," jawabku bersandar di bahunya.

"Kamu suka balon warna apa, Yang?"

Aku mengernyit, tumben dia menanyakan hal seperti itu.

"Apa aja, Sweetheart. Kalau milih warna, takutnya di penjual nggak ada."

Tidak ada jawaban, dia diam lama sekali. Aku tidak peduli. Kemudian aku memeluk tanganya, seperti ada getaran.

"Kamu ngelamun, Sweetheart?"

"Enggak, Yang. Cuma lagi mikir apa yang kamu suka. Bingung, karena selalu jawabannya apa saja."

Aku tersenyum dan kami saling menatap.

"Bukannya kamu seneng kalau aku nggak banyak minta?"

"Tapi bingung, Yang. Jadi jatuhnya harus nebak gimana dan apa yang kamu mau."

Aku tersenyum dan memeluk lagi tangannya yang tidak begitu kekar, tapi berisi.

"Jangan rumit, Sweetheart. Rasakan di sini, bukan di sini." Aku menunjuk hati dan kepalanya, dia membalas dengan senyum, lalu mencium keningku.

"Kamu selalu saja sulit ditebak, Yang." Dia mengelus jemariku yang tidak berisi.

"Jangan ditebak, tapi rasakan, Sweetheart. Semakin dipaksa justru menyiksa."

Kami sama-sama diam cukup lama, menikmati keindahan di depan mata. Angin sepoi menyapa, aku semakin mengeratkan tubuhku padanya.

"Dingin, Yang?"

Aku mengangguk, dia melepas pelukan, dan memakaikan jaketnya padaku.

"Gimana udah anget?"

Aku tersipu malu dan membenamkan diriku pada dada bidangnya.

"I love you, Sayang," bisiknya di telinga.

"Love you too."



TAMAT



Diubah oleh indahmami
profile-picture
profile-picture
iissuwandi dan IndahAssegaf memberi reputasi
2 0
2
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
27-04-2019 21:42
OK Mbak udah betul, tinggal pean panjangin threadnya ya, cerpen jangan langsung di tinggal, minimal ada dua atau tiga cerpen dulu ya
profile-picture
iissuwandi memberi reputasi
1 0
1
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
28-04-2019 01:10
Ijin nenda dulu ya emoticon-linux2 emoticon-Embarrassment
Diubah oleh blank.code
profile-picture
profile-picture
iissuwandi dan bremmakibo memberi reputasi
2 0
2
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
28-04-2019 04:25
Quote:Original Posted By bekticahyopurno
OK Mbak udah betul, tinggal pean panjangin threadnya ya, cerpen jangan langsung di tinggal, minimal ada dua atau tiga cerpen dulu ya


Hehe..
emoticon-Shakehand2 emoticon-Kiss emoticon-Kiss



Quote:Original Posted By blank.code


Ini contoh saran perapihan yang aku kirim tempo hari itu loh via email,. emoticon-Peace semoga membantu.
Nanti saya edit komen ini.. emoticon-Ngakak (S)


Buka aplikasi'y lemot..
Ywdh ku SS aja..
emoticon-Hammer emoticon-Hammer emoticon-Hammer
Diubah oleh indahmami
profile-picture
profile-picture
iissuwandi dan IndahAssegaf memberi reputasi
2 0
2
Post ini telah dihapus
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
28-04-2019 17:10
Wuaaaah bikin story emoticon-I Love Indonesia
Tandain dulu.. nanti saya baca. Asik asik asik...emoticon-Peluk
profile-picture
iissuwandi memberi reputasi
1 0
1
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
28-04-2019 17:53
Quote:Original Posted By fee.fukushi
Wuaaaah bikin story emoticon-I Love Indonesia
Tandain dulu.. nanti saya baca. Asik asik asik...emoticon-Peluk


Aduuhh..
Jadi malu saiyah..
emoticon-Malu emoticon-Malu emoticon-Malu


Hmm..
Menerima kripik pedas sist,,
Biar makin kece kaya punya sista dan suhu dimarih.
emoticon-Embarrassment emoticon-Embarrassment
profile-picture
profile-picture
iissuwandi dan IndahAssegaf memberi reputasi
2 0
2
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
29-04-2019 12:55
good,,
0 0
0
Halaman 1 dari 5
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Stories from the Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia