Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
4603
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a062830dac13e9f048b4567/roman-sejarah-sinar-jingga-ditanah-blambangan
Dahulu Blambangan adalah sebuah kerajaan berdaulat. sebelum ditaklukkan Majapahit atau mungkin Singasari semasa Ken Arok dan keturunannya berkuasa di sana.
Lapor Hansip
11-11-2017 05:29

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

Past Hot Thread
"Dahulu Blambangan adalah sebuah kerajaan berdaulat. sebelum ditaklukkan Majapahit atau mungkin Singasari semasa Ken Arok dan keturunannya berkuasa disana. Majapahit menempatkan Keturunan Empu Kepakisan, yaitu Dalem Kepakisan dari Kediri pada tahun 1265 Caka untuk memerintah Blambangan.
Pembentukan Istana Utara di Panarukan untuk menjaga Bandar pelabuhan Panarukan yang dekat Pelabuhan pelabuhan utama Majapahit. Apalagi sejak Keraton dikuasai Orang orang Majapahit sebagai taklukan, yaitu dari Keluarga Empu Kepakisan. Semakin berkembang saja Keraton Utara itu. Sementara keraton timur berada di Kutalateng, semenanjung Banyuwangi. Disana tinggal keluarga taklukan dari dinasti Blambangan terdahulu.
"





Quote:
ini kisah tentang anak jaman dahulu yang hidup di era
Kerajaan Majapahit.
Jelas ini bukan kisah nyata, ini 100% fiksi!
meski begitu, yang merasa tahu, kenal akan tokoh yang diceritakan. Mohon dengan amat sangat tidak membocorkannya, agar tidak merusak alur cerita.

Bila ada kesamaan kisah hidupnya dengan salah satu tokoh di cerita ini, saya mohon maaf, tidak ada maksud untuk membuka kisah lama Anda.
Saya hanya iseng nulis cerita.

Jadi.. Selamat membaca!

profile-picture
profile-picture
profile-picture
Gimi96 dan 107 lainnya memberi reputasi
102
Tampilkan isi Thread
icon-close-thread
Thread sudah digembok
Halaman 156 dari 219
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
22-04-2019 00:28
OPERASI TULANGBAWANG SEKAMPUNG


Pasukan Jingga yang dipimpin Ki Genter sudah menyusup ke beberapa tambang. Mereka perlahan mempengaruhi pemikiran para pekerja tambang tentang kebebasan, penindasan penguasa yang korup. Prajurit yang memperkaya diri. Mereka menceritakan kondisi di tempat lain yang lebih ideal. Harga emas di pasaran yang jauh dari harga disini.
"Emas yang kalian tambang itu dimakan para pembesar prajurit yang korup. Emas itu hanya sedikit yang diserahkan ke Majapahit."
"Wah biadab sekali, kamu tahu darimana?"
"Karena sebelum kesini, saya pernah di Wilwatikta. Cerita tentang ini sudah menjadi rahasia umum disana."
"Bagaimana caranya?"
"Lihat emas yang kalian tambang, mereka beli dengan harga murah. Emas itu kemudian dicetak. Disanalah kebocorannya, sebagian besar emas itu digelapkan. Hanya sebagian kecil di kapalkan ke Wilwatikta.
Pengiriman emas dari sini sebulan sekali. Dari peti peti kayu yang diusung menuju kapal pengangkut hanya sekitar Limaratus tail emas. Bandingkan dengan hasil kalian menambang setiap bulannya. Seribu tail. Itu satu tempat, di Sekampung ini ada berapa tempat penambangan seperti ini? Selaksa ! Kali kan berapa jumlahnya.
Lalu kemana emas emas murah dari kalian pergi?
Emas emas kalian dibawa diam diam oleh kapal dagang. Menggunakan kurir prajurit yang membawa emas sedikit demi sedikit dikumpulkan di kapal itu. Berapa jumlahnya? Ada sepuluh kali lipatnya dari yang dikirim ke Raja Majapahit.
Jadi intinya, kalian ini diperas, dijadikan budak. Majapahit tidak tahu menahu akan hal ini."
Perlahan ketidakpuasan mengalir dalam darah para penambang. Mereka mulai tidak nyaman dengan keadaannya saat ini. Namun belum sampai pada taraf memberontak. Mereka kini seperti perempuan yang hidup menderita bersuami laki laki brengsek. Merasa tidak bahagia dengan rumah tangganya namun belum sampai tahap harus bercerai karena masih banyak pertimbangan. Dan perilaku suaminya belum sampai merusak pegangan hidup istrinya.

Di tempat lain, sekelompok telik sandi Ki Genter memetakan jalur emas curian dari peleburan menuju kapal pengangkut. Sebuah kapal dagang milik Dutamandala. Untuk menyamarkan kegiatannya, kapal itu datang membawa berbagai macam kebutuhan hidup para prajurit yang bertugas di Tulangbawang dan Sekampung. Kembalinya membawa emas yang sudah dicetak ditutup berbagai hasil bumi seperti lada dan kapas.
Setelah penuh, kapal itu bergerak ke Jawa menuju kantor dagang Dutamandala.
Para telik sandi menghitung kekuatan kapal itu. Mengenakan senjata apa dan berapa personil yang mengamankannya.

Kapal itu dipersenjatai cetbang sebanyak empat buah diletakkan di kedua sisinya. Diawaki sekitar duapuluh orang ABK. Kemudian dijaga sebuah kapal patroli laut Majapahit yang berkekuatan limapuluh orang. Namun karena sudah lama tidak terjadi penghadangan kapal angkut emas itu. Maka kapal patroli mulai jarang mengawal sampai pelabuhan tujuan di Jawa.
Ki Genter menyusuri jalur pelayaran menuju Jawa dari pelabuhan Tulangbawang. Ia menemukan titik terbaik untuk menyergap kapal angkut emas Dutamandala. Tempatnya cukup jauh dari pelabuhan, yaitu di sepasang pulau kecil lepas pantai. Pulau itu titik terluar sebelum berlayar di lautan luas menuju Kerajaan Sunda dan Jawa.

Sebelum hari keberangkatan kapal angkut emas, Pasukan Ki Genter sudah bersiap di kedua pulau itu. Mereka menggunakan lima perahu kecil yang bisa melaju cepat mengejar kapal besar dan satu perahu lebar untuk mengangkut. Arah angin dan kecepatannya sudah diketahui, arus air sudah diketahui. Mereka membuat peta penyergapan dengan segala perhitungan titik pertemuan sesuai arus dan kecepatan angin saat ini.

"Kapalnya sudah berangkat!"
Semua bersiaga. Perahu cepat itu menggunakan kekuatan dayung.
"Berangkat ke titik masing masing!"
Perahu perahu itu bergerak tenang menuju titik masing masing. Demi menyamarkan diri, hanya dua orang yang terlihat di tiap tiap perahu seperti nelayan mancing. Sisanya tiduran ditutup kain.
Ketika kapal sudah pada posisi kejar. Kelima perahu bergerak cepat memotong jalur. Awalnya kapal itu tidak bereaksi, menganggap perahu perahu itu hanyalah perahu nelayan. Ketika salah satu perahu perahu dihalau untuk minggir agar tidak tertabrak. Mereka terkejut ketika perahu itu malah menempel di lambung kiri dan kanan kapal. Dengan tali berpengaruh mereka memanjat dan memantulkan diri keatas geladak. Tak ada ancaman atau peringatan. Mereka langsung menyerang.
Terjadilah pertempuran jarak dekat dengan awak kapal. Awalnya awak kapal terlihat mengepung pasukan awal Ki Genter. Namun setelah tiga perahu lagi sudah menempel dan menaikkan pasukan. Kini yang terkepung terbalik. Jumlah awak kapal yang hanya dua puluh orang kini dikepung empat puluh orang.
"Dalam hitungan kedua, lepaskan senjata kalian! Kalau tidak ingin kami cincang buat pakan cumi cumi!"
"Siapa kalian?!"
"Satu dua!"
Serentak mereka melemparkan senjata masing masing ke dek kapal.
Ke duapuluh awak itu lalu diikat dan ditutup matanya. Dan dibawa masuk kedalam lambung kapal. Disekap disana.

Perahu angkut diperintahkan merapat. Separuh pasukan membongkar peti peti yang disembunyikan dibawah karung lada dan kapas. Emas emas itu dimasukkan karung lalu diturunkan cepat ke perahu angkut.
Proses pemindahan sangat cepat. Setelah berpindah semua, perahu itu melaju cepat menuju pulau.
Ki Genter memerintahkan pasukan perahu kecil segera turun kembali ke perahu. Para tawanan itu sekali lagi diperiksa memastikan mereka tidak melihat keluar kapal. Salah satu abk ikatannya sengaja diikat tidak begitu ketat agar nanti bisa lepas setelah berlayar cukup jauh.
Diatas, dua pasukan Ki Genter mengikat haluan agar bisa berlayar tanpa diarahkan.
Setelah semua selesai, Ki Genter turun ke perahu lalu melaju deras ke balik dua buah pulau kecil.
Dari sana perjalanan diteruskan menuju kapal mereka di pulau pulau kecil tempat membuang kapal rusak. Di kejauhan terlihat kapal Dutamandala terus berlayar ke arah jawa.

Para pasus yang bekerja di tambang, kembali kesana. Mereka mengamati dari dalam bagaimana reaksi para Prajurit yang kehilangan emasnya.
Sepekan kemudian, para prajurit di Sekampung dan Tulangbawang ribut oleh kasus perampasan itu. Tapi mereka tidak bisa secara terbuka membeberkan kasus itu, karena barang yang hilang tidak tercatat dalam administrasi perbendaharaan negara. Jadi secara diam diam mereka melacak keberadaan emas yang dirampok.
Pemeriksaan demi pemeriksaan dilakukan, terutama kepada pihak intern pasukan Majapahit. Mereka terbiasa licik sehingga sesama prajurit saling jebak dan curiga.
Dari saling memeriksa antar komandan pasukan, terungkap bahwa barang yang dikirim ke Dutamandala, juga dicuri oleh masing masing komandan. Terjadilah saling tuduh berujung saling serang dan bantai.
Ki Genter sampai geleng geleng kepala melihat mental prajurit Majapahit sekarang. Harta menjadikan mereka bodoh. Kalau hal ini diketahui lawan, pasti Majapahit akan jadi bulan bulanan mereka.
Perilaku mereka semakin membuat muak masyarakat Lampung. Sudah hilang citra prajurit Majapahit yang terkenal gagah berani dibawah Mpu Nyala dan Gajahmada. Tubuh mereka tambun tambun seperti gentong penuh arak karena kebanyakan makan dan mabuk.

Kondisi semakin kacau, setelah berperang sendiri sehingga banyak memakan korban sesama prajurit. Mereka kemudian memaksa para penambang mengganti emas yang hilang.
Terjadilah penolakan yang berujung penyiksaan kepada pekerja tambang. Kejadian ini memicu kemarahan para penambang. Mereka melawan dan terjadilah perkelahian brutal. Para Prajurit yang sudah lamban karena kegemukan menjadi sasaran kemarahan para pekerja tambang. Para Prajurit itu dibantai. Bahkan tubuhnya dicincang sebagai pelampiasan kebencian selama bertahun tahun ditindas.
Kerusuhan itu terdengar di penambangan lain. Bagai minyak tersulut api, baranya cepat menyebar. Dalam sekejap saja seluruh daerah penambangan emas di Sekampung dan Tulangbawang memberontak melawan. Para Prajurit Majapahit dibantai, yang lolos melarikan diri menuju kota tambang di pesisir Tulangbawang.
Ternyata di Tulangbawang, masyarakat ikut menyerang. Pembunuhan, pembantaian penjarahan terjadi dimana mana. Asap hitam membumbung tinggi dari bangunan bangunan milik Prajurit Majapahit. Bahkan kapal dan perahu juga dijarah dan dibakar.
Hari itu asap menutup seluruh kota pesisir Tulangbawang. Mayat prajurit yang sudah tidak berbentuk berserakan di jalan jalan.

Ki Genter beserta pasukannya segera bertindak untuk mengendalikan situasi. Mereka mencegah tindakan anarkis yang mengarah ke kerusuhan sosial. Beberapa penjahat berusaha menjarah harta benda penduduk. Pasukan Ki Genter langsung menghadang dan menghantam mundur.
Ki Genter sengaja menunjukkan kemampuan agar massa yang hendak menjarah menjadi ketakutan. Tanpa sungkan setiap penjarah dibuat tumbang.
"Yang kalian memusuhi adalah Prajurit yang memeras kalian! Bukan saudara sebangsa kalian! Bubar!"
Yang membandel langsung terkena pentungan.
Tindakan Ki Genter cukup efektif meredam kerusuhan meluas dan semakin liar. Orang orang pribumi yang masih waras mulai ikut bergabung mengendalikan situasi.
"Panggil Raja kalian untuk menenangkan situasi," perintah Ki Genter kepada orang orang yang ikut bergabung menenangkan situasi.
"Raja kami sudah kabur!"
"Siapa saja yang dituakan masyarakat Tulangbawang,"
"Baik!" Mereka lalu menjemput sesepuh Tulangbawang. Seorang yang sudah berumur tapi masih gagah. Ia menunggangi kuda. Ki Genter menemui dan meminta Ki Jura, nama sesepuh itu, memimpin pengendalian situasi Tulangbawang. Sementara Ki Genter dan pasukannya menjadi penyokongnya.

Strategi tersebut cukup efektif. Para perusuh memilih mundur setelah melihat Ki Jura berada di garis depan meredakan kerusuhan.
Dalam sehari, situasi baru bisa diatasi. Kota Tulangbawang nyaris hancur lebur. Ki Genter bersama pasukannya membersihkan jalanan. Mayat mayat dikumpulkan untuk dikubur masal. Salah seorang pasukannya berhasil mengambil buku catatan pengiriman dan penerimaan emas dari Tulangbawang.
Ki Genter menyerahkan buku catatan itu ke Ki Jura. Ki Genter menjelaskan bahwa prajurit Majapahit yang berada disini selama ini adalah Prajurit yang korup. Mereka tidak mengirimkan emas hasil tambang kecuali sedikit saja kepada Majapahit. Dan itu bukan kebijakan Raja Majapahit.
Dan biasanya pasukan seperti itu sangat liar dan buas. Tidak mau berpikir, hanya menyalahkan yang lain yang lebih lemah. Jadi Ki Genter mengingatkan penduduk Tulangbawang dan Sekampung untuk siaga menghadapi serangan pasukan Majapahit yang tidak menerima bagian emas yang dikirim dari sini.
"Kalian ini siapa?"
"Saya dan rekan rekan ini dulunya prajurit. Tapi terbuang karena menentang pimpinan kami yang korup seperti prajurit Majapahit disini. Akhirnya terdampar disini mencoba merubah nasib dengan menjadi penambang."
"Bagaimana kami mempersiapkan diri menghadapi pasukan Majapahit?"
"Kami sekuat tenaga akan membantu melawan mereka. Dan kami bersedia melatih para pemuda menjadi prajurit yang handal kalau tetua berkenan."
Ki Jura sejenak berdiskusi dengan orang orang dekatnya. Mereka terlihat mengangguk mendengar ucapan Ki Jura.
"Baik, kalian dipersilahkan membantu kami dan melatih para pemuda kami. Asal kalian tunduk pada aturan adat istiadat kami,"
"Kami akan patuh pada Tetua," jawab Ki Genter.

Tanpa menunggu lama, Ki Genter bersama Ki Jura berkeliling seluruh kawasan kota Tulangbawang. Mengkonsolidasikan semua kekuatan masyarakat pribumi serta pendatang. Membagi wilayah pengamanan. Membentuk jalur komando dari Ki Jura sampai kelompok kelompok terkecil.
Ki Genter didepan mereka menyampaikan kembali kemungkinan kedatangan pasukan Majapahit yang kalap. Mereka bisa saja datang untuk membumihanguskan seluruh Tulangbawang dan Sekampung sebagai pelampiasan kekesalan mereka.

"Untuk itu sebaiknya mulai sekarang membuat tempat persembunyian didalam hutan. Ungsikan orang orang yang tidak bisa mengangkat senjata. Timbunan makanan disana. Yang disini hanya para laki laki saja.
Kita lihat pasukan yang nanti akan datang hendak apa, bila datang baik baik, kita terima. Bila ingin perusuh. Kita lawan sebagai laki laki."

Sebagai kota tambang, mayoritas penduduknya adalah laki laki di usia produktif. Secara fisik mereka mudah dilatih untuk berperang. Otot otot yang kuat terbiasa ditempa pekerjaan menambang emas. Tinggal di olah sedikit untuk mengayunkan pedang.

Tak ada kesulitan berarti melatih mereka. Apalagi Ki Genter sebelum melatih, menunjukkan kemampuan olah kandungan dihadapan mereka, agar tidak meremehkan saat dilatih.

Para pasukan Ki Genter terus mengawasi kemungkinan datangnya telik sandi pasukan yang akan menyerang Tulangbawang. Seluruh penduduk dikerahkan untuk hati hati dengan kedatangan orang baru.
"Kalau ada yang mencurigakan, jangan diapa apakan. Segera laporkan keberadaan mereka. Nanti kami yang akan mengatasinya."
Untuk pembiayaan, diam diam Ki Genter menggunakan emas hasil rampasan. Emas itu digunakan untuk membeli bahan pokok dan senjata.
Tambang kembali dibuka dengan sistem yang lebih adil. Hal ini agar bisa menjalankan roda ekonomi masyarakat. Menerapkan sistem baru agar tidak terjadi krisis paska kerusuhan. Juga membuka mata masyarakat bahwa mereka bisa hidup mandiri tanpa harus diatur kekuatan diluar mereka sendiri.

Dalam beberapa hari saja, situasi sudah berjalan normal. Bahkan orang yang baru datang akan tidak percaya bila Tulangbawang dan Sekampung baru mengalami kerusuhan besar besaran. Yang berbeda hanyalah tidak terlihatnya prajurit Majapahit yang biasanya lalu lalang di tempat tempat strategis.

Untuk mencegah penyerangan, Ki Genter mengirim surat menjelaskan kejadian yang terjadi beserta buku catatan emas milik prajurit Majapahit ke Markas Jalayudha di Palembang. Dengan catatan itu agar panglima laut di Palembang menyadari kalau selama ini ada penggelapan besar besaran di Tulangbawang.

Masyarakat melaporkan kedatangan beberapa orang yang dicurigai sebagai telik sandi Prajurit Majapahit.
"Tetap awasi kegiatan mereka, beri informasi yang mengalihkan perhatian," perintah Ki Genter kepada yang melapor.

Ki Genter cemas karena utusan yang berangkat ke Palembang sampai sekarang belum ada kabarnya. Seharusnya mereka sudah kembali ke Tulangbawang.

Yang ditakutkan akhirnya datang juga. Kapal perang pengangkut Pasukan Majapahit dari kesatuan Jalapati terlihat bermunculan di lepas pantai. Kapal kapal itu datangnya dari timur. Berarti dari pulau Jawa.
Secara senyap perintah diberikan untuk bersiaga menuju pos masing masing. Hal ini untuk menghindari deteksi telik sandi yang sudah dikirim mereka ke Tulangbawang.

Kapal Kapal perang itu terus mendekat. Telik sandi yang mereka tanam memberi kode aman untuk mendarat. Semua gerak gerik mereka diam diam dipantau pasukan Ki Genter.
"Biarkan mereka mendarat, orang orang di sekitar pendaratan mereka perintahkan mundur perlahan," perintah Ki Genter yang diteruskan sampai ke komandan masing masing kelompok terkecil.

Kapal kapal itupun berlabuh. Para Prajurit berbaris turun. Jumlahnya lumayan banyak. Ada sekitar seribu Prajurit. Jumlah yang cukup untuk menghancurkan Tulangbawang, yang hanya kota tambang tanpa prajurit sendiri.
Dari jauh Ki Jura dan Ki Genter mengamati gerak gerik pasukan yang baru menginjakkan kaki di tanah Tulangbawang. Apakah mereka bergerak rapi meresap masuk tanpa merusak sekitar atau sebaliknya, menyerang membabi buta, merusak apapun yang ada di hadapannya.

Dari lapangan mendapat laporan bahwa pimpinan prajurit Majapahit ingin bertemu dengan sesepuh masyarakat Tulangbawang. Ki Jura langsung bergerak turun dari bukit menemui mereka. Dikawal oleh beberapa pasus Ki Genter.
"Apakah Ki Sanak sesepuh Tulangbawang?"
"Benar Ndoro, hamba Ki Jura adalah yang dituakan masyarakat sini," jawab Ki Jura tenang.
"Jelaskan apa yang terjadi di sini terhadap pasukan Majapahit yang bertugas disini?"
"Kejadian berawal dari adanya kabar dirampoknya kapal pengangkut emas ke Jawa. Lalu para Prajurit saling curiga dan tuduh. Mereka akhirnya berperang sendiri. Baik yang di Tulangbawang maupun di Sekampung.
Peperangan mereka akhirnya berhenti dengan meninggalkan banyak korban termasuk pimpinan Prajurit di Sekampung. Sebagai pemenang, Kesatuan prajurit di Tulangbawang mulai mengumpulkan emas sebagai ganti yang dirampok. Mereka memaksa para penambang menggantinya. Yang menolak disiksa. Akibatnya menimbulkan pemberontakan para pekerja tambang. Timbullah kerusuhan tambang.
Kerusuhan cepat menyebar dari tambang satu ke tambang yang lain. Dan terus menyebar ke Sekampung dan kesini, Tulangbawang. Para pekerja tambang yang depresi selama ini melampiaskan ke apa saja. Termasuk rumah rumah kami menjadi sasaran mereka.
Untunglah kami sigap menjaga kampung kampung kami. Kami melawan para perusuh dan memukul mundur mereka. Mereka lalu melarikan diri kedalam hutan hutan dan gunung sekitar sini."
"Lalu dimana Prajurit Majapahit yang tersisa?"
"Kami tidak tahu, mungkin mereka melarikan diri di tengah kerusuhan saat itu."
"Kamu ikut aku berkeliling," perintah Senopati Tegalarang kepada Ki Jura.
Rombongan Senopati Tegalarang bergerak berkeliling Tulangbawang, memeriksa seluruh tempat. Terutama bekas tempat tempat pasukan Majapahit yang luluh lantak.
Senopati dan para pengawalnya terlihat marah melihat kehancuran itu. Tapi mereka bingung harus dilampiaskan ke siapa.
"Kumpulkan penduduk kalian disini! Aku ingin bertemu langsung dengan mereka!" Senopati Tegalarang memerintahkan kepada Ki Jura untuk mengumpulkan penduduk Tulangbawang.
Ki Jura memerintahkan pengawal dari pasus untuk menyampaikan ke Ki Genter. Ia sepenuhnya percaya kepada Ki Genter.
Ki Genter menerima pesan itu. Ia menarik nafas panjang. Sebuah situasi yang berbahaya. Bila ada kesalahan sedikit, akan terjadi pembantaian.
Kalau menolak, akan dianggap melawan. Bila menerima, lalu berkumpul di tanah lapang tanpa senjata dan perlindungan. Akan sangat rentan bila pasukan Majapahit itu tiba tiba kalap.
"Perintahkan keluar berkumpul ke lapangan orang orang yang masih ada di rumah rumah tanpa kecuali. Jangan sampai prajurit Majapahit menemukan di rumah rumah mereka. Bila ada apa apa, kami siap menjaga."
"Baik Ki,"
Perintah diturunkan. Orang orang mulai keluar dari rumah rumah mereka. Ada sekitar seratus orang.
"Cuma segini?!" Tanya Senopati setengah membentak. Tak percaya penduduk Tulangbawang hanya sedikit.
"Benar Ndoro, selain banyak yang jadi korban kerusuhan, sebagian lagi sudah kabur ke hutan saat pasukan Senopati datang. Masih trauma melihat peperangan," jawab Ki Jura setenang mungkin.
Senopati memerintahkan prajurit investigator menanyai mereka yang hadir di lapangan. Apakah cerita mereka sama dengan cerita Ki Jura. Bahwa kematian prajurit Majapahit dikarenakan perang antar sesama prajurit dan kerusuhan dengan orang tambang.
Setelah sekian lama pemeriksaan, para pemeriksa melaporkan kalau yang diceritakan Ki Jura kurang lebih sama. Orang orang ini banyak tidak tahunya. Mereka hanya tahu terjadi perang sesama prajurit tanpa tahu sebabnya. Terjadi pembakaran dimana mana. Selebihnya mereka kurang begitu faham.
Karena tidak mendapatkan informasi yang berarti. Orang orang yang dikumpulkan di lapangan diperbolehkan kembali ke rumah masing masing. Ki Jura dan Ki Genter meski berjauhan, sama sama menarik nafas lega. Karena bisa lolos ujian pertama.

Keesokan harinya ujian kedua datang. Para laki laki yang kemarin datang ke lapangan. Pagi ini harus berangkat ke pertambangan emas untuk menggantikan penambang yang kabur. Kontan saja para penduduk menolak. Ini sama saja kembali ke massa dulu. Bekerja sebagai budak.
Ki Jura berusaha menenangkan situasi. Mereka diminta mengikuti kemauan Senopati untuk sementara sampai jalan keluarnya disiapkan.

Dengan berat hati para penduduk Tulangbawang berangkat menuju pertambangan. Mereka masih percaya Ki Jura dan Ki Genter. Sementara Ki Jura dan Ki Genter memutar otak bila harus berperang dengan Seribuan Pasukan Majapahit di Tulangbawang.
"Sepertinya, utusan kita ke Palembang gagal. KIta harus menyiapkan strategi lain."
profile-picture
profile-picture
profile-picture
donix91 dan 41 lainnya memberi reputasi
42 0
42
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
22-04-2019 00:34
plong rasane,suwun ki curah salam seger waras
0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
22-04-2019 03:49
Kesuwun ki curah..
0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
22-04-2019 06:28
Mantab ki
0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
22-04-2019 07:18
hatur nuhun kang.
0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
22-04-2019 08:21
semakin menarik dan rumit ki....
lanjutkan....
0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
22-04-2019 08:31
cendol sent biar tambah semangat updatenya ki...
0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
22-04-2019 09:52
Matur nuhun Ki Curah...apdate nya...
0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
22-04-2019 12:46
Nuwun Ki.....
Sehat terus ki
0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
22-04-2019 16:47
Terima kasih ki curah atas updatenya...
0 1
-1
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
23-04-2019 08:30
makasih paman curah atas updatenya...

0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
23-04-2019 18:38
Benar2 ahli strategi.
Pantas dulu penjajah bisa dilawan.
Walaupun harus dijajah berabad2 karena saudara setanah air sendiri yang berkhianat.
emoticon-2 Jempol
Diubah oleh indahmami
profile-picture
nduselmanjah memberi reputasi
1 0
1
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
24-04-2019 08:48
Mantaab ki curah.
Suwun
0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
24-04-2019 12:11
Menanti ki curah update
0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
24-04-2019 16:51
OPERASI TULANGBAWANG SEKAMPUNG II

Ki Jura dan Ki Genter mengadakan pertemuan diam diam. Keberadaan Ki Genter memang dirahasiakan. Untuk mempermudah pergerakan Ki Genter diluar wilayah yang dikontrol Prajurit Majapahit.
"Sepertinya mereka akan menjadikan para penduduk Tulangbawang sebagai budak tambang," Ki Jura menyampaikan kekhawatirannya.
Ki Genter mengangguk membenarkan, Pasukan yang datang ini bisa saja lebih buruk dari Pasukan yang dulu. Jumlahnya yang besar membuat mereka bisa melakukan apa saja kepada masyarakat Tulangbawang. Mereka sekarang tidak membantai langsung, tapi membunuh pelan pelan masyarakat Tulangbawang. Itu lebih sadis dan mengerikan.
"Kita harus menyiapkan pelarian semua penduduk Tulangbawang ke daerah lain yang tidak bisa dijangkau pasukan Majapahit."
"Tolong percepat, aku akan mendampingi mereka yang dipaksa jadi budak tambang," pinta Ki Jura.
"Sekarang akan saya jalankan, setelah itu kami akan membebaskan Ki Jura dan rekan rekan di tambang,"
Pembicaraan terus berlanjut ke hal hal teknis.
Ki Genter lalu pamit keluar melaksanakan rencana pelarian.
Ia memerintahkan seluruh penduduk untuk mengungsi secepatnya menjauh dari Tulangbawang dan Sekampung ke arah barat, menjauh dari arah pantai dan sungai Way Tulangbawang, Way Kiri dan Way Kanan. Karena pasukan Majapahit pasti akan mengejar menggunakan perahu daripada menembus hutan belantara.

Setelah mengatur pelarian selesai, Ki Genter menyiapkan pasukan untuk membebaskan penduduk yang dipaksa menjadi budak tambang.
Lokasi tambang berada di Pagardewa, daerah bertemunya dua sungai besar yaitu Way Kiri dan Way Kanan menjadi Way Tulangbawang. Mereka kesana dikawal dua ratusan prajurit dengan cara diapit kanan kiri.
Tengah hari mereka baru sampai. Komandan Prajurit langsung memerintahkan menambang. Sedang para prajurit beristirahat di sekitar tambang.
Penduduk Tulangbawang menggerutu, Ki Jura menenangkan mereka dan memerintahkan untuk selalu siaga.

Malam hari
Suasana tambang Pagardewa terlihat ramai oleh aktivitas Prajurit. Mereka membuat api unggun sebagai penerangan dan penghangat.
Di dalam kegelapan hutan sekitar tambang. Pasukan Ki Genter sudah bersiap siap. Mereka menunggu saat yang tepat untuk memulai aksi. Salah seorang pasukan Ki Genter sudah menyusup ke gubug penambang. Mengabarkan rencana pelarian sebentar lagi.

Api unggun semakin meredup. Pasukan Majapahit sudah mulai memasuki tenda untuk beristirahat. Ki Genter memberi aba aba untuk bersiap. Ia membawa dua puluh orang untuk serangan kali ini. Sebenarnya Ki Genter tidak ingin menyerang Prajurit Majapahit. Tapi perilaku mereka benar benar tidak menghargai warga pribumi. Mereka hanya mencari keuntungan belaka. Tidak memanusiakan masyarakat Tulangbawang.
Saat Pasukan Majapahit mulai terlelap, tersisa pasukan penjaga yang mengawasi para penambang dan sekitar tenda mereka sendiri.
Ki Genter memberi aba aba menyerang. Dipimpin Ki Genter langsung, Pasukan itu langsung menerjang para penjaga yang sedang berjuang melawan kantuk dengan puluhan anak panah dan lemparan belati. Dalam sekali serang para penjaga itu tewas seluruhnya tanpa banyak menimbulkan suara, hanya Erangan sesaat sebelum mati. Hal itu cukup membangunkan sebagian prajurit yang belum terlelap dalam tidurnya. Mereka berlarian keluar tenda dengan tubuh masih limbung oleh kantuk. Ki Genter memerintahkan melakukan serangan lanjutan. Panah dan belati beterbangan menghujam siapa saja yang keluar dari tenda prajurit. Kembali para prajurit itu bertumbangan diterjang panah dan belati terbang. Teriakan dan erangan kesakitan bergema.
Belum usai teriakan kesakitan dari Prajurit Majapahit. Ki Genter memerintahkan penyerangan menggunakan panah api. Panah itu menghujam tenda tenda prajurit menimbulkan kebakaran. Jadilah malam itu terang benderang oleh api yang membakar tenda tenda itu.
Kekacauan terjadi. Prajurit Majapahit berlarian mencari senjata dan perlindungan.
Namun kekacauan itu mulai bisa diatasi. Pimpinan prajurit itu cukup sigap membaca situasi, memberi perintah perintah menenangkan.
"Musuh di timur!" Teriaknya.
"Serang panah!" Teriaknya lagi memerintahkan membalas dengan panah kearah sumber panah api.
Serangan balik tadi cukup efektif. Terdengar teriakan kesakitan dari arah timur. Penyerangnya tidak menyalakan api lagi untuk membuat panah api. Namun desingan panah masih berseliweran mengincar prajurit yang lengah.
Tiba tiba terdengar siulan panjang di timur. Lalu serangan terhenti. Sepertinya Para penyerang mengundurkan diri.
"Kejar!" Perintah salah satu lurah yang kelompoknya berada paling depan. Ia sendiri berlari mengejar lawannya yang menghilang dalam kegelapan.
Di kejauhan terdengar teriakan untuk cepat kabur, hal itu membakar semangat prajurit Majapahit yang mengejar. Mengira lawannya ketakutan.
Terjadi pengejaran oleh sebagian besar prajurit Majapahit. Apalagi yang dikejar melalui jalan yang dilalui siang tadi. Pertimbangan mereka, dengan mengejar, mereka bisa menumpas penyerangnya. Mengikuti sampai markasnya untuk ditumpas sampai habis.
Sepanjang malam pengejaran terus dilakukan. Perlahan lahan musuh berbelok ke arah utara. Sehingga tidak disadari oleh prajurit yang mengejar. Mereka mengira masih bergerak ke timur, ke arah Tulangbawang. Sementara yang dikejar awalnya seperti hampir tertangkap, namun kini jaraknya semakin lama semakin jauh saja.
Akhirnya mereka menyadari kalau sedang dipermainkan. Mereka dipancing mengejar menjauhi tambang. Dan kini mereka terjebak di tengah hutan belantara. Hari sudah menjelang pagi, namun hutan masih gelap karena rimbunnya hutan belantara.
"Kita kembali ke tambang!" Perintah pimpinan Prajurit yang ikut mengejar.
Mereka berusaha kembali, susah payah menembus hutan lebat itu. Ternyata saat mengikuti jejak dirinya sendiri. Mereka melihat jejak mereka sendiri berputar putar mengelilingi bukit. Jadi semalaman mereka hanya berputar putar mengelilingi bukit. Jejak yang semalaman mereka ikuti adalah jejak mereka sendiri. Lalu dimana para penyerang itu berada?

Pasukan Ki Genter yang memancing pengejaran melakukan manuver dengan menuruni lembah di sebelah kiri jalur ke Tulangbawang. Perlahan mereka membelokkan ke utara mengelilingi bukit di lembah itu. Setelah membuat pasukan Majapahit berputar putar. Pasukan Ki Genter kembali ke tambang.
Di area tambang. Ternyata sudah terjadi pertempuran. Pasukan Majapahit yang tersisa disana, tidak menduga akan diserang para pekerja tambang. Dan mereka terkejut, para pekerja tambang ternyata banyak yang digdaya dan ahli dalam pertempuran. Mereka tidak tahu ada banyak pasukan Ki Genter berbaur disana. Dalam sekejap saja para prajurit sudah bisa ditumpas. Sebagian lagi melarikan diri kedalam hutan.
Ki Jura segera memerintahkan para pekerja tambang yang penduduk asli Tulangbawang untuk melarikan diri menyusul keluarganya ke arah barat laut menjauhi sungai.
Sementara pasukan Ki Genter kembali ke timur dengan menyeberangi sungai menghindari pertemuan dengan pasukan Majapahit yang mengejarnya tadi. Terus bergerak sampai sisi barat pantai Tulangbawang.

Pasukan Ki Genter lalu menyeberang ke Markas mereka di sebuah pulau tempat membuang kapal rusak. Beristirahat mengembalikan tenaga. Disana ternyata telah menunggu rekan rekan yang dikirim ke Palembang untuk meminta bantuan keamanan dan menyerahkan pembukuan pengelolaan tambang emas di Sekampung dan Tulangbawang.
"Apa tanggapan senopati disana?"
"Akan mengirim pengamat dahulu, untuk memastikan,"
"Baguslah, tapi kita tidak bisa menunggu lama." Ki Genter lalu menjabarkan rencananya memberi pelajaran pasukan Majapahit yang saat ini berada di Tulangbawang. Pasukan Majapahit antek Dutamandala.

Pasukan Majapahit yang bertugas di tambang kembali ke Tulangbawang dalam keadaan compang samping kelelahan. Ada tigapuluh orang yang tewas, duapuluh lebih luka luka.
Senopati langsung memerintahkan mengejar dan membumi hanguskan Tulangbawang. Para Prajurit Majapahit bergerak membakar semua bangunan di Tulangbawang. Api membumbung tinggi memenuhi langit Tulangbawang. Asap hitam dan putih menggelapkan pandangan. Tulangbawang kembali hancur lebur. Orang orang Tulangbawang hanya bisa menangis melihat asap membumbung tinggi di kejauhan. Mereka mempercepat perjalanannya agar tidak disusul prajurit Majapahit yang marah.

Ki Genter juga melihat dari jauh asap membumbung tinggi. Bila mereka sudah membumihanguskan seluruh Tulangbawang, berarti mereka akan bergerak. Entah pergi meninggalkan Tulangbawang atau mengejar ke dalam hutan.
Kapal kapal perang Majapahit masih berada di pantai Tulangbawang. Berarti mereka melakukan pengejaran kedalam hutan.
Ki Genter berhitung kecepatan pengejaran dan kecepatan penduduk Tulangbawang melarikan diri. Paling dekat adalah jarak setengah hari perjalanan. Yaitu para penambang dan Ki Jura. Sementara kaum perempuan dan anak anak berjarak satu setengah hari perjalanan.
"Semoga mereka lebih cepat menjauh dari sini. Karena kalau terkejar, aku tidak bisa membayangkan yang terjadi." Ki Genter mencemaskan penduduk Tulangbawang takut tersusul pasukan Majapahit yang bergerak cepat.
"Pantau kekuatan pasukan Majapahit yang tersisa di sini. Kita akan menyerang mereka malam nanti." Ki Genter memerintah telik sandi memantau situasi terkini. Sementara yang lain mempersiapkan strategi dan perlengkapan.

Senopati Tegalarang memimpin langsung pengejaran ke arah Pagardewa. Dikawal pasukan gerak cepat berkuda. Tidak sampai tengah hari Senopati sudah saja di lokasi tambang. Terlihat porak poranda. Banyak mayat dari Prajurit Majapahit berserakan. Sebagian besar terkena panah dan belati.
"Habisi mereka! Jangan sampai bersisa!" Teriak Senopati Tegalarang merah padam. Pasukan gerak cepat mengejar mengikuti jalanan sepanjang sungai Way Kanan. Berharap masih bisa mengejar para penambang itu.

Sementara pasukan jalan kaki terus bergerak menyapu seluruh wilayah Tulangbawang. Setiap bangunan yang ditemukan langsung mereka bakar. Namun tidak ada satupun orang yang ditemui sepanjang jalan. Tulangbawang benar benar kosong. Lewat tengah hari, Pasukan jalan kaki baru sampai di Pagardewa. Mereka memakamkan rekan rekan mereka yang tewas semalam. Lalu melanjutkan pengejaran.
Dari pasukan jalan kaki terdapat pasukan pemburu. Mereka membawa anjing pemburu. Anjing anjing itu yang disuruh melacak jalan para penambang yang berlari kedalam hutan.
Pimpinan pasukan jalan kaki membagi dua. Satu bergerak mengejar ke dalam hutan, satu kelompok lagi menyusuri jalan pinggir sungai Way Kanan yang dilalui pasukan gerak cepat pimpinan Senopati Tegalarang.

Jelang malam, Pasukan berkuda sudah kembali dari pengejaran. Bertemu pasukan jalan kaki yang menyusuri sungai.
"Mana pasukan yang lain?" Tanya Senopati Tegalarang.
"Mengejar kedalam hutan Senopati," jawab Ki Bekel Bodro.
Pasukan itu akhirnya memutuskan kembali ke Pagardewa menunggu kabar dari Pasukan pemburu. Apalagi hari sudah mulai gelap. Di Pagardewa Senopati memutuskan menginap disana.

Saat menikmati makan malam. Salah seorang penjaga melaporkan melihat kobaran api di Tulangbawang.
"Bukankah kita yang membakarnya?" Kata Senopati sambil tertawa.
"Tapi terdengar suara cetbang juga," lanjut penjaga itu.
Seketika Senopati melemparkan makanannya dan berlari kearah pinggir sungai mencari tempat lapang untuk melihat kearah Tulangbawang.
Benar, di tempat terbuka, suara cetbang terdengar lebih jelas dipantulkan air sungai.
Senopati langsung memerintahkan pasukan kembali ke Tulangbawang. Ia sendiri memacu kudanya dikawal pasukan gerak cepat.

***

Malam mulai turun menyelimuti Tulangbawang yang sudah gelap sejak pagi oleh asap pembakaran rumah rumah. Pasukan Ki Genter bergerak senyap, mereka berenang mendekati kapal kapal prajurit Majapahit yang berjajar sebanyak lima kapal. Ki Genter membagi pasukannya menjadi dua kelompok. Masing masing mengincar kapal nomor dua dan nomor empat.
Kapal kapal itu dilengkapi dengan senjata cetbang sepanjang tiga depa. Masing masing sisi sepuluh cetbang.
Dari telik sandi, Pasukan yang berjaga di kapal dan pantai sekitar duaratus limapuluh prajurit. Yang berada di masing masing kapal adalah abk sekitar sepuluh orang. Sementara Ki Genter membentuk masing masing kelompok limabelas orang.

Seluruh pasukan Ki Genter menyelam dengan menutupi diri menggunakan rumput laut. Mereka berenang cukup jauh. Hampir enamratus depa jauhnya.
Asap dari pembakaran rumah rumah yang memenuhi patai sejak pagi cukup membantu penyusupan, asap itu membuat para awak kapal enggan keluar keatas memeriksa sekeliling kapal. Asapnya terasa perih dimata dan membuat sesak pernapasan.

Sampai di masing masing kapal target. Mereka memanjat memanfaatkan celah celah sambungan kayu dinding kapal di sisi luar agar tidak terlihat dari kapal lain. Bagai cicak mereka bergerak naik keatas kapal. Tanpa banyak suara, pasus Jingga menerobos masuk lambung kapal menghabisi semua yang ada didalam. Kalaupun ada suara perkelahian, suaranya tidak sampai keluar dari dalam kapal.
Semua pasukan mengambil tabung tabung mesiu cetbang dan dipasang ke cetbang di sisi kanan kiri kapal.
Setelah siap, mereka menyalakan obor untuk pemantik.
Dalam sekali aba aba, sumbu mesiu cetbang dibakar bersamaan. Sejenak kemudian terdengar ledakan keras hampir bersamaan. Dari ujung cetbang menyembur bola bola gotri membara menghantam kapal kapal di kanan kirinya. Kontan kapal kanan kirinya terhajar dan terbakar. Menimbulkan kepanikan awak kedua kapal itu. Serangan kedua kembali menghajar. Semakin membuat kedua kapal terbakar.
Yang paling parah adalah kapal nomor tiga yang berada di tengah. Ia dihajar kapal nomor dua dan empat. Seketika kapal itu terbakar hebat.

Salah satu kapal menembakkan serangan balasan. Sehingga percikan api menyebar di kapal yang dibajak. Ki Genter dan pasukannya meloncat ke laut, menjauh. Membiarkan kapal yang dibajak ditenggelamkan prajurit Majapahit sendiri.

Menghindari pengejaran, Pasukan Ki Genter lebih banyak menyelam daripada muncul di permukaan. Mereka bergerak cepat ke pulau tempat pembuangan kapal karam.
Tanpa membuang waktu, Pasukan Ki Genter langsung naik kapal bututnya menuju utara, kearah Palembang. Mengangkut setengah emas hasil rampasan dari kapal barang Dutamandala. yang setengah lainnya sudah dibagikan ke Ki Jura untuk nafkah penduduk Tulangbawang selama pelarian.

Dari atas kapal pasukan Ki Genter masih mendengar letusan letusan cetbang di pantai Tulangbawang.

Kala menjelang pagi, dari arah barat terlihat sebuah kapal jung milik pasukan Majapahit. Suasana diatas kapal langsung tegang. Mereka khawatir bila kapal mereka di periksa dan diserang menggunakan cetbang. Sudah pasti mereka akan berakhir di dasar laut. Ki Genter memerintahkan mendekatkan kapal ke pantai sampai dekat pasir pantai, sedang yang mengawaki pura pura memperbaiki kapal.
Suasana semakin tegang kala kapal Majapahit itu bergerak mendekat dan mengurangi kecepatan. Terlihat beberapa orang mengamati dari atas kapal. Beberapa saat kapal itu berhenti pada jarak tembak. Ki Genter memerintahkan dua orang turun ke dinding kapal seolah oleh menambal dinding yang bocor.

Ki Genter akhirnya bernafas lega, setelah melihat kapal prajurit Majapahit itu bergerak ketengah kembali.
"Itu kesatuan Jalayudha yang di Palembang." Kata Ki Genter kepada rekan rekannya.
"Apakah mereka yang akan meninjau Tulangbawang?"
"Bisa saja."
"Sebaiknya kita berbelok ke timur, kita ke Kerajaan Sunda saja."
"Tidak, kita rakyat Majapahit. Sebaiknya tetap di wilayah Majapahit. Perjalanan ini demi Majapahit. Kita datangi tempat tempat lain yang dikuasai kelompok Dutamandala, dan kita kembalikan ke pemilik sebenarnya."
"Apakah hal ini adil bagi masyarakat Tulangbawang yang kehilangan segalanya?"
"Memang tidak adil, namun hal ini sewaktu waktu akan meletus. Bisa apa saja pencetusnya. Dan kita tidak meninggalkan mereka begitu saja. Bila situasi memungkinkan. Kita akan mencari mereka untuk memastikan mereka sudah menjani kehidupan yang layak dan normal."

Mendapat penjelasan seperti itu, Pasukan Ki Genter mengangguk tanda setuju.

***

Pantai Tulangbawang

Para awak kapal Majapahit dari Palembang yang ditugaskan untuk memantau Tulangbawang dibuat terperanga melihat kehancuran besar disana. Tak tampak sebuah rumahpun yang berdiri. Hanya tiang tiang menghitam yang tersisa. Dipantai sama saja. Kapal kapal perang berjajar menghitam. Semua menjadi arang akibat terbakar.
Apakah Ini bekas diserang pasukan Tar Tar? Pikir mereka. Lalu dimana sekarang pasukan penyerang itu?
Melihat kondisi tempat yang akan ditinjau jadi onggokan arang raksasa. Para pengamat dari Palembang memilih tidak turun ke darat. Mereka melempar sauh agak jauh dari pantai. Berjaga jaga bila sewaktu waktu mendapat serangan tak terduga.

"Lihat ada kerumunan orang di pantai,"
"Dari pakaiannya, mereka adalah prajurit Majapahit."
"Apakah dari kesatuan diluar kita?"
"Ya, mereka dari Jalapati."
"Bukankah disini bukan wilayahnya?"
"Itulah, selama ini Senopati kita membiarkan mereka disini. Karena dahulu kesatuan mereka yang menumpas pemberontakan disini. Namun dari laporan, mereka mendirikan kerajaan didalam kerajaan Majapahit."
"Mereka menaiki perahu menuju kita."
"Kita terima mereka, saya ingin tahu kabar apa yang mereka bawa."
Pembicaraan terhenti ketika sebuah perahu yang dinaiki lima orang prajurit merapat dan memohon ijin menghadap. Dari pakaiannya rombongan itu dipimpin seorang bekel.
Sesuai aturan militer, mereka berbalas hormat sesuai kepangkatan.
"Saya Ki Bekel Pembarep, dari pasukan Jalapati. Mohon ijin menghadap,"
"Saya Ki Bekel Turangga, dari pasukan Jalayudha Palembang, silahkan."
"Pasukan kami mengalami musibah, terjadi kerusuhan. Namun situasi sudah kami kuasai." Ki Bekel Pembarep menjelaskan keadaan di Tulangbawang.
"Lalu apa yang bisa kami bantu?" Tanya Ki Bekel Turangga langsung.
"Kami butuh kapal untuk kembali ke Pangkalan kami di Jawa."
"Sayangnya kami hanya membawa satu kapal, dan kami sedang menjalankan tugas dari Senopati kami. Kalau titip pesan, akan kami sampaikan."
"Ya sampaikan saja situasi kami disini dan kebutuhan kami kepada Senopati,"
"Baik, akan kami sampaikan,"
"Baiklah, saya pamit turun, terimakasih,"
"Sama sama, kami juga akan melanjutkan perjalanan."
Ki Bekel Pembarep dan pengawalnya kembali ke perahu. Perlahan menjauh menuju pantai.
"Apa kita kembali sekarang?"
"Ya, sudah cukup, kita kembali sekarang,"

Beberapa waktu kemudian. Senopati Jalayudha di Palembang mengirim misi besar besaran mengambil alih Tulangbawang dari kekuasaan pasukan Jalapati kakitangan Dutamandala. Pasukan Jalapati yang berada di Tulangbawang menyerah tanpa sarat. Semangat prajurit mereka kendor oleh kelaparan karena tinggal di daerah yang kosong tanpa penduduk. Para prajurit mereka ditangkap dan diperiksa. Yang terlibat dan aktif dalam kejahatan di Tulangbawang, diadili di Palembang dan dihukum. Sedangkan Prajurit yang tidak tahu apa apa diberi kesempatan bergabung dengan pasukan Jalapati atau menjadi pekerja tambang di Tulangbawang atau tempat lain. Mereka harus mengabdi dibawah pemerintah Kerajaan Palembang.


-----------------------------
Catatan:

Nama Lampung muncul dalam Negarakretagama karya mpu prapanca, Majapahit era abad 13-15 dan amanat galunggung yang merupakan nasehat Rakeyan Darmasiksa (1175-1297) Kerajaan Sunda
Sementara Sekampung dan Tulangbawang tertulis dalam prasasti keluaran abad ke 7 dari kerajaan Sriwijaya, seperti prasasti Palas Pasemah, Bungkuk dan Batu Bedil. Yang menyatakan daerah tersebut sebagai kekuasaan Sriwijaya.
Dari berita asing Portugis. Perjalanan Tomé Pires pada tahun 1512 hingga 1515 memberikan gambaran tentang Tulangbawang dan Sekampung. Lokasi Tulangbawang berbatasan dengan Sekampung dan Andalas. Daerah ini merupakan penghasil lada, emas, kapas, lilin, rotan, beras, ikan, dan buah-buahan. Jalan masuk melalui sungai. Perdagangan dilakukan dengan Jawa dan Sunda. Perjalanan ke Sunda dalam sehari, sedangkan ke Jawa dua hari (Cortesão, 1967: 158--9).

AMERTA, Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Vol. 31 No. 2, Desember 2013 : 81-150
Diubah oleh curahtangis
profile-picture
profile-picture
profile-picture
brigadexiii dan 34 lainnya memberi reputasi
35 0
35
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
24-04-2019 17:18
wow update
semangat trus ki curah
0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
24-04-2019 17:22
seprtinya ki curah lagi semangat buat apdet ini,
lanjutkan kiemoticon-Cendol Gan
0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
24-04-2019 17:31
Mantab ki curaaah... update lagi.
suwun
0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
24-04-2019 17:48
ki curah memang istimewa..
0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
24-04-2019 17:49
matur sembah nuwun ki curah
profile-picture
sevenblades memberi reputasi
1 0
1
Halaman 156 dari 219
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
tanda-cinra-dari-muntaha
Stories from the Heart
misteri-goa-bawah-tanah
Stories from the Heart
ibuku-pelacur-bertarif-15k
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Stories from the Heart
horror---quotcampingquot
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia