alexa-tracking
News
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5caae5802525c3659d33075f/tok-ma-tetap-hukum-meliana-pengkritik-volume-azan-18-bulan-penjara
Lapor Hansip
08-04-2019 13:09
Tok! MA Tetap Hukum Meliana Pengkritik Volume Azan 18 Bulan Penjara
Past Hot Thread
Tok! MA Tetap Hukum Meliana Pengkritik Volume Azan 18 Bulan Penjara


Quote:Mahkamah Agung (MA) menolak permohonan kasasi Meliana yang mengkritik volume azan. Alhasil, ia harus tetap menjalani hukuman sebagaimana putusan sebelumnya yaitu 18 bulan penjara.

Meliana mengkritik volume azan karena terlalu keras pada Juni 2016. Rumah Meliana di Tanjungbalai dirusak oleh massa. Bahkan Vihara di kota itu dibakar.

Belakangan, jaksa menuntut Meliana 18 bulan penjara dan diamini oleh PN Medan pada 21 Agustus 2018. Atas hal itu, Meliana banding tapi ditolak.
Baca juga: PSI Serukan Hapus Pasal Penodaan Agama

Meliana lewat pengacaranya kemudian mengajukan kasasi. Apa kata MA?

"Amat putusan Tolak," demikian lansir panitera MA dalam websitenya, Senin (8/4/2019).

Perkara nomor 322 K/PID/2019 itu diketuai hakim agung Sofyan Sitompul dengan anggota Desnayeti dan Gazalba Saleh. Perkara dengan panitera pengganti Raja Mamud itu diketok pada 27 Maret 2019.
Baca juga: Bui Pengkritik Azan, Hakim Abaikan Surat Aliansi Umat Islam Dkk

Bagaimana dengan para perusak rumah Meliana dan vihara? Berikut hukuman yang dijatuhkan oleh PN Medan:

1. Abdul Rizal dihukum 1 bulan 16 hari.
2. Restu dihukum 1 bulan dan 15 hari.
3. M Hidayat Lubis dihukum 1 bulan dan 18 hari.
4. Muhammad Ilham dihukum 1 bulan dan 15 hari.
5. Zainul Fahri dihukum 1 bulan dan 15 hari.
6. M Azmadi Syuri dihukum pidana 1 bulan dan 11 hari.
7. Heri Kuswari dihukum 1 bulan dan 17 hari (kena pasal kasus pencurian).
8. Zakaria Siregar dengan pidana 2 bulan dan 18 hari.



Quote:
Belajar dari Kasus Meliana


Tok! MA Tetap Hukum Meliana Pengkritik Volume Azan 18 Bulan Penjara


Notes


Keputusan Pengadilan Tinggi Medan yang menolak banding Meliana atas kasus penistaan agama karena mengkritik volume azan, tentu dapat menjadi pelajaran hidup bagi kita.

Sebuah bangsa yang multikultur, multietnik, dan multiagama seperti di Indonesia, harus dapat saling menghargai, bertoleransi, dan mengedepankan etika sosial-keberagaman.

Saya pribadi tidak melihat pada soal kritik Meliana atas volume azan yang diungkapkan dengan nada kebencian kepada umat muslim, namun pada efek vibrasi lainnya yang lebih besar, terjadi kericuhan, dan pembakaran yang menyasar rumah ibadah agama lainnya.

Padahal, jika didisukusikan dan dimusyawarahkan secara baik-baik, mungkin saja kegaduhan yang disulut oleh kritikan Meliana terhadap toa masjid ini bisa dapat diantisipasi bahkan mungkin tak perlu terjadi.

Saya kira, di berbagai daerah di Indonesia, sudah ada semacam wadah komunikasi antarumat beragama yang disediakan sebagai saluran aspirasi antarumat beragama dalam menjaga sinergitas sosial-keagamaan yang berfungsi sebagai pencegah konflik.

Adalah Forum Komunikasi antar-Umat Beragama (FKUB) dapat menjadi wadah komunikasi yang dapat meredam berbagai gesekan kepentingan keagamaan yang ada di tengah masyarakat.

Seseorang yang merasa “terganggu” akibat kegiatan keagamaan tertentu, dapat melaporkan dan mendiskusikannya dalam jaringan FKUB. Wadah komunikasi antarumat beragama ini dirasa cukup efektif dalam menjaga toleransi dalam berbagai relasi-relasi sosial-keagamaan ditengah masyarakat yang multiagama dan multikultur.

Tok! MA Tetap Hukum Meliana Pengkritik Volume Azan 18 Bulan Penjara

Kasus Meliana yang sejauh ini dibahas ramai sebagai penolakan atas suara azan yang diperdengarkan melalui toa masjid, seolah-olah dipersepsikan masyarakat sebagai bagian dari intoleransi terhadap agama Islam.

Kasus inipun semakin ramai, ketika tiba-tiba pemerintah melalui Kementrian Agama akan mengatur soal volume azan di setiap masjid atau musala. Muncul pro-kontra di tengah publik, bahkan banyak pula informasi hoaks yang beredar di mana pihak pemerintah justru akan melarang azan menggunakan pengeras suara.

Dengan mengedepankan kedewasaan berpikir dengan tidak mendahulukan perasaan emosional, setiap orang tentu saja dapat menjadi pembelajar yang baik dalam menyikapi permasalahan apapun, khususnya masalah sosial-keagamaan yang belakangan justru mudah sekali disikapi secara emosional.

Disadari maupun tidak, kasus Meliana sebenarnya mencuat dalam situasi dan kondisi yang tidak tepat. Ekses tahun politik yang sedemikian kental nuansa “politisasi agama” yang rentan gejolak sosial terhadap isu-isu politik-keagamaan, semakin membawa suasana yang tidak menguntungkan bagi kasus apapun yang dianggap “menodai” agama.

Jika saja kasus ini tidak terjadi di tahun politik, mungkin saja tak sebesar dan seheboh ini perjalanannya, karena mungkin saja masing-masing pihak dapat menahan diri dengan melakukan musyawarah untuk meredam setiap gejolak sosial yang mungkin bisa lebih besar.

Lagi-lagi, kasus seperti ini tentu saja dapat menjadi pelajaran berharga bagi siapapun yang benar-benar mengedepankan akal sehat, bukan sekadar semangat keagamaan.

Menarik bagi saya, di mana “adzan” memang terkait erat dengan “udzun” (telinga) di mana keberadaannya memang diperdengarkan dan diharapkan mereka yang mendengar suara azan akan berbondong-bondong mendatangi tempat ibadah.

Azan tentu saja tidak sebatas pemberitahuan telah datangnya waktu salat bagi umat muslim, namun bagaimana “udzun” dapat menggerakan hati dan termanifestasikan dalam bentuk langkah untuk menyegerakan menuju tempat ibadah.

Namun sejauh ini, benarkah efek azan yang dikumandangkan kemudian menggerakkan setiap muslim untuk bergegas ke arah sumber suara? Saya kira anda akan lebih tahu jawabannya.

Tok! MA Tetap Hukum Meliana Pengkritik Volume Azan 18 Bulan Penjara

Soal azan ini pula barangkali, yang kemudian membuat Meliana berang karena volumenya yang Cumiakkan telinga (udzun), lalu dengan kata-kata terindikasi kebencian dilontarkan kepada pihak lain.

Mungkin saja akan lain halnya, ketika azan diperdengarkan secara merdu yang justru semakin menyentuh kalbu dan telinga juga merasa diperdengarkan sesuatu panggilan yang benar-benar berasal dari Tuhan.

Sebagai pertimbangan saja, bahwa suara azan yang diperdengarkan di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Arab Saudi, justru malah semakin dirindukan oleh siapapun karena memang dilantunkan dengan suara indah dan merdu, bahkan ukuran volume suaranya pas dan pantas sebagai entitas panggilan Tuhan yang diperdengarkan telinga.

Mengatur volume toa masjid atau musala yang lebih pas dan terukur memang dirasa perlu. Hal ini tidak saja untuk mengurangi efek distorsi pelantang yang membisingkan, tetap lebih kepada hal bagaimana suara azan itu sampai menjadi vitamin bagi pendengaran, sehingga menggerakkan setiap orang untuk segera bergegas ke tempat ibadah.

Mengatur volume tentu saja tak identik dengan melarang berkumandangnya azan, sebagaimana yang dipersepsikan beberapa pihak. Pengaturan volume justru lebih mengedepankan aspek toleransi keberagamaan dengan tujuan solidaritas sosial antar umat beragama lebih menguat.

Lagi pula, di beberapa wilayah di Indonesia, masih ada sebagian masyarakat muslim yang enggan memakai pelantang suara ketika azan, karena tak disebut secara khusus dalam ajaran agama Islam.

Tok! MA Tetap Hukum Meliana Pengkritik Volume Azan 18 Bulan Penjara

Kita patut mendapatkan pelajaran penting dari kasus Meliana yang saat ini divonis 18 bulan penjara karena dianggap meresahkan umat beragama.

Pertama dan paling utama, tentu saja selalu mengedepankan akal sehat bukan perasaan emosi, karena agama sesungguhnya adalah nasihat. Betapa sikap emosional telah menggiring setiap orang untuk merusak hal apapun tanpa terkecuali, padahal merusak jelas adalah pelanggaran terbesar dalam aspek beragama.

Kedua, agama tentu saja menuntun akal sehat kita untuk dapat bersikap lurus dan adil (hanifiyah) kepada siapapun, termasuk bagaimana kita berlapang dada (samhah) terhadap setiap realitas perbedaan yang ada. Bersikap “adil” dan “lapang dada” adalah kata kunci dalam aktualisasi sikap keberagamaan yang baik.

Perlu juga untuk diingat, bahwa kita ini hidup di negara Indonesia dengan seperangkat hukum-hukumnya dan keberagaman masyarakatnya yang senantiasa dinamis. Jauh sebelum republik tercinta ini berdiri, seperangkat nilai-nilai sosial, adat, tradisi, bahkan keyakinan agama telah terwujud dan hampir tak pernah ada gesekan-gesekan yang berarti terutama dalam soal perbedaan keyakinan.

Bahkan, kita mempunya dasar negara yang otentik, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa yang walaupun tuhan banyak nama, hanya ada satu Tuhan yang menciptakan, mengatur, dan memberikan kebaikan kepada seluruh alam ini.

Kita patut bersyukur terhadap keindahan dan kemolekan alam Indonesia yang diciptakan Tuhan untuk kita, “lama sebelum mereka menjadi umat Budha, Hindu, Kristen, dan Muslim”, demikian tulis Buya Hamka.

Diubah oleh VolkswagenPutih
16
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Tampilkan isi Thread
Halaman 5 dari 12
09-04-2019 12:05
Quote:Original Posted By eggnostick
Kalo maha kuasa bener2 ada dan menggariskan nasib meliana kaya gini, Dia benar2 tidak pantas disebut maha kuasa.


dude...
0
09-04-2019 12:12
Quote:Original Posted By joop870
cemana pulak muslim tapi minoritas? emoticon-Roll Eyes (Sarcastic)


emoticon-Ngakak
0
09-04-2019 12:35
Congormu harimaumu emoticon-Ngakak
-2
09-04-2019 12:40
eh ane ga paham nih masalahnya gimana kenapa ya kritik volume azan bsa dipenjara sampe 18 bulan? Tp yg lakuin vandalisme karena balas dendam akibat dikritik cmn ditahan beberapa jari, hmmm kl bener cmn kritik doang tp dipenjara smpe ky gtu ya parah juga sih menurut ane
2
09-04-2019 12:40
Quote:Original Posted By aliensia
Cuma kritik. 18 bulan.. Itu yg rusakin vihara dan rumah cuma 2 bulan gk sampe??? Luar biasa sobat gurun ini.... Apa hakim takut di gruduk sobat gurun kah? Sehingga yg rusakin vijara cuma 2 bulan kurang??

Mana keadilan sosial bagi seluruh madyarakat indonesia? Hukum aje gk merata mustinya yg rusakin rumah dan vihara lebih berat


Oke kalo gitu buat yg minoritas gk usah kritik langsung bakar aja tempat ibadahnya banter 2 bulanan gk lebih dipenjara daripada kritik 18 bulan ya kan...emoticon-Ngamuk


liat hukumannya lucu sangat lucu. MA BOBROK BANGET


Umat Agama ane di nih negara barbar anjir


Maksd ente bakar masjid emoticon-Big Grin
Paling di gorok, sama pemuja onta fadang fasir emoticon-Big Grin
Diubah oleh Werewolfvez
2
09-04-2019 12:43
Quote:Original Posted By Werewolfvez
Maksd ente bakar masjid emoticon-Big Grin
Paling di gorok, sama pemuja onta fadang fasir emoticon-Big Grin


Wkwkwkwkwkw... Semua harus seimbang gan emoticon-Big Grin... Ane udah tau reaksi sobat gurun kalo masjid dibakar
2
09-04-2019 12:44
cuma bakar punya minoritas ini ya hukumannya ringan ya akhi emoticon-Maaf Agan
3
09-04-2019 12:45
ktika kalo ajaran itu boleh main hakim sendiri,boleh kritik agama lain tapi dikritik ga mau?
karna mayoritas?
tae## lah..
kami di timur agama mayoritas tapi ga kurang ajar kaya gtu..
tiap pagi kusumpahi gara2 ganggu toa nya emoticon-Ngakak
4
09-04-2019 12:50
Jujur aja, suara adzan itu menganggu bagi yg bukan muslim..
Bunyi 5x sehari, coba kalo agama lain punya ritual seperti itu..
Umat muslim terganggu ndak??
5
09-04-2019 12:50
agama para ANJINGGG.. klen aja yg merasa paling benar.. pelaku perusakan gereja, pura, vihara cuma dihukum ringan2 eeh ini yg ga merusak malah dihukum berat.. KUONTHOLL kalian para manusia radikal
5
09-04-2019 12:51
miris dan sangat menyedihkan...
1
09-04-2019 12:51
hukum dan keadilan di indonesia itu

BULLSHIT
1
09-04-2019 12:51
Indonesia sekarang gini amad yak
1
09-04-2019 12:52
Quote:Original Posted By S1LLHOUTE
Jujur aja, suara adzan itu menganggu bagi yg bukan muslim..
Bunyi 5x sehari, coba kalo agama lain punya ritual seperti itu..
Umat muslim terganggu ndak??


Coba kalo gereja atau vihara pake toa
Seminggu sekali aja pasang volume gede bisa dibakar kali
1
09-04-2019 12:52
Quote:Original Posted By joop870
KALIMAT ANDALAN PEMERINTAH INDON SEPANJANG MASA

DASAR SAMPAH
emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka


sabar gan

jgn meledak ledak gitu
1
Lapor Hansip
09-04-2019 12:52
Balasan post donal.duck
Quote:Original Posted By donal.duck
Bakar vihara, bakar rumah Meliana bahkan ketika keluarga dan anak2nya ada di dalam rumah, cuma itungan bulan doang ? WTF

Cuma protes suara azan malah 1,5 tahun, itu yg menyamakan azan dengan panggilan minum kopi gpp ya ?

Realitanya, bahkan suara toa kadang jadi penentu harga tanah atau rumah, kalo deket harganya jadi agak turun karena faktor polusi suara.

-----

Kenapa ya Indonesia itu terlalu sarat muatan agama, kalo liat di negara lain misal Amerika/Rusia, mereka keknya gak terlalu urus d sama agama, mereka fokus pada urusan duniawi dan nasionalisme, bukan pada yg gaib.

Full nasionalis dan sama sekali gak ada bau agama sedikitpun.



Dari sekian menit video potongan dari berbagai kampanye, hanya ada SATU kata Christian yg disebutkan oleh pak wakil Mike Pence, selebihnya gak ada bawa-bawa agama sedikitpun.


ga mino ga mayo sama saja bos, yang mino banyak yang bebel, yang mayo apalagi. faktor pendidikan yang mempengaruhinya, semakin tingkat pendidikannya, konflik semcam ini bisa dihindarkan.
0
09-04-2019 12:54
pelajaran buat minoritas

beli rumah jgn deket deket "bangunan itu"

pelajaran dari kasus kek gini

mau gimana bener atau paham hukum, ga bakal menang lawan mayoritas

Makanya gr gr kasus ky gini,
Udah antipati gw sama pallywood, suriah, rohnigga & new zealand kmrin
Karma dari kasus kek ginian maybe akibat terlalu egois?
Diubah oleh wen12691
3
09-04-2019 13:00
Quote:Original Posted By uzunyzter
Indonesia sekarang gini amad yak


Makanya kl gw bilang nasionalisme kaum minoritas & anak anak muda itu kurang

Ya karena kasus beginian

Yang bakar vihara dihukum ringan sedangkan ini kasus gaje kritik toa (itupun gede kasusnya gr gr tetangga gosip) dipenjara 1.5 taun!
What the fuck
Our law & justice is bullshit
Diubah oleh wen12691
1
09-04-2019 13:02
initnya saling menghormati antara sesama jangan goblok, volume bisa di kecilin kok dikit gak usah barbar bangsa ini bangsa barbar memang emoticon-Angkat Beer agamnya kuat barbarnya juga level goblok
2
09-04-2019 13:02
yang masalah ya gara2 yang mrotes dgn kasar jadi masa terpancing emosi dan membakar, yang salah ya yang mancing... harusnya protes adzan ada prosedur baik2nya
0
Halaman 5 dari 12
icon-hot-thread
Hot Threads
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.