Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
47
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c9dc2c6a727686e806e2983/api-dendam-di-tanah-pringgading
Tiba-tiba wajah wanita tersebut menegang. Telinganya yang tajam mendengar derap langkah beberapa ekor kuda yang dipacu cepat. Tegesa-gesa seolah sedang mengejar sesuatu. Atau mungkin malah di kejar oleh sesuatu.
Lapor Hansip
29-03-2019 14:01

API DENDAM DI TANAH PRINGGADING

Past Hot Thread
icon-verified-thread
API DENDAM DI TANAH PRINGGADING

SELAMAT DATANG DI THREAD ANE

emoticon-Haiemoticon-Hai



Terima kasih sebelumnya saya ucapkan bagi Agan-agan yang sudah membaca Mendung di Karang Jati

Berkat Agan semua, Thread tersebut pernah menjadi Hot Thread.

Sekali lagi Terima Kasih

Kini, seperti yang saya pernah tulis di thread tersebut, lanjutan kisah novel tersebut akan saya mulai.

Boleh di bilang ini semacam buku ke-2 setelah Mendung di Karang Jati.




1. Apakah ceritanya nyambung dengan MdKJ?

          Nyambung kok, Gan.

2. Apakah tokoh-tokohnya sama?

          Sama, dengan penambahan banyak tokoh baru.

3. Apakah ada sangkut pautnya dengan sejarah daerah tertentu?

          Ngga. Sekali lagi saya katakan ngga.

4. Apakah ada waktu yang jelas tentang update?

          Tergantung kesibukan RL ya Gan. Tapi yang pasti saya akan mencoba memberikan yang  terbaik dengan update secara rutin.

5. Sampai berapa bab ini?

          Lom tahu.

6. Apakah saya harus baca Mendung di Karang Jati dulu sebelum baca yang ini?

          Terserah Agan sih. Nda ada kata wajib. Namun jauh lebih baik Agan sudah punya setting dasar bawaan dari novel Mendung di Karang Jati.

7. Ada link novel sebelumnya nda ?

          Silahkan langsung aja ke TKP , Gan >>> Mendung di Karang Jati



Akhir kata,

Semoga apa yang saya coba persembahkan ini berkenan dan bisa diterima dengan baik.

Tolong jangan samakan dengan para sesepuh yang telah bertahun-tahun berkelana di dunia

per novel an

Karya saya ini belum ada apa-apanya dibandingkan dengan karya-karya mereka

Selamat Menikmati

emoticon-Jempol

Quote:Monggo kalo ada waktu luang silahkan mampir di thread ane yang lain





INDEX

Bab 1
Diubah oleh omboth
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 2
API DENDAM DI TANAH PRINGGADING
29-03-2019 14:03
1.1



Air telaga sedikit beriak saat semilir angin membelai lembut permukaan nya yang semula tenang. Riak air itu membentuk rangkaian gelombang kecil yang makin lama semakin membesar lalu melemah saat akan mencapai tepian. Layaknya hidup insan di dunia, yang pada awalnya ketika muda memiliki semangat hidup yang besar. Semangat hidup yang mampu membua karya-karya nya dikenal luas. Entah karya yang bersifat membangun atau sebaliknya. Menghancurkan. Meninggalkan jejak-jejak kesan bagi semua yang ada di sekitarnya. Lambat laun ketika sampai di penghujung usia, semangat itu pun memudar. Di gantikan semangat-semangat baru dari mereka-mereka yang terlahir kemudian.

Telaga Banyu Asih adalah sebuah telaga yang tak banyak orang tahu keberadaan nya. Bukan hanya tempatnya yang memang susah untuk di jangkau, akan tetapi lebih karena keberadaan hutan yang mengelilingi telaga tersebut terkenal dengan hutan yang masih banyak di penuhi oleh binatang-binatang buas dan beracun. Belum lagi di tambah dengan kabar seringnya terjadi perampokan bagi siapa saja yang berani melewati hutan tersebut. Membuat nama Hutan Bukit Watu Jajar semakin ditakuti orang. Para pedagang dari pedukuhan seberang cenderung lebih memilih menyusuri Kali Pasir dan melewati kawasan Bukit Jamur apabila ingin menjual hasil dagangan mereka di daerah Kademangan Pringgading. Memang akan memakan waktu satu hari perjalanan lebih panjang, namun akan jauh lebih aman. Baik bagi nyawa mereka maupun barang dagangan mereka.

Matahari baru saja muncul di ufuk timur. Sinarnya yang hangat membuat permukaan telaga terlihat berkilau menyilaukan namun tetap indah untuk dinikmati. Suara-suara alam terdengar riuh menyambut datangnya pagi membentuk alunan suara yang membuat siapa pun yang mendengarnya akan merasakan ketentraman dalam diri mereka. Mungkin hal itulah yang sedang dirasakan oleh sebuah sosok yang duduk diam di tepi telaga. Sebuah sosok wanita cantik berambut hitam panjang yang pagi itu asyik duduk melihat ke arah telaga. Terkadang matanya melihat burung-burung yang beterbangan bermain dari satu dahan ke dahan yang lain. Rambutnya yang hitam dan panjang menutupi sebagian punggung nya yang berbalut pakaian berwarna merah. Senyum wanita itu sesekali terbentuk di wajahnya yang cantik yang terlihat segar akibat sinar matahari pagi.

Namun tiba-tiba wajah wanita tersebut menegang. Telinganya yang tajam mendengar derap langkah beberapa ekor kuda yang dipacu cepat. Tegesa-gesa seolah sedang mengejar sesuatu. Atau mungkin malah di kejar oleh sesuatu. Merasa penasaran oleh peristiwa yang jarang terjadi di sekitaran daerah itu, wanita cantik itu lantas berdiri dan menghentakan tubuhnya melompat jauh kedepan ke arah telaga. Kakinya lalu dengan ringan mendarat di permukaan air telaga untuk kemudian berlari layaknya ada sebuah permukaan keras tak kasat mata yang terbentang sampai ke seberang bagian telaga. Begitu sampai di dataran yang kering, tubuh wanita itu lalu melenting tinggi ke atas sebuah pohon. Untuk sesaat, wanita tersebut berdiri diam pada sebuah dahan. Telinganya kembali berkonsentrasi menemukan arah suara derap kuda yang tadi ia dengar. Tak berapa lama, tunuh wanita tersebut melompat kembali dengan cepat dari satu pohon ke pohon yang lain. Menuju ke arah suara.

Tak butuh waktu lama bagi wanita tersebut untuk menemukan sumber kegaduhan yang ia dengar. Tampak di bawahnya empat ekor kuda berlari dengan kencang menyusuri jalan setapak yang membelah Bukit Watu Jajar. Tanpa mengeluarkan suara, wanita itu kemudian kembali melompat dari satu pohon ke pohon yang lain mengikuti rombongan yang belum sadar akan keberadaan nya.

"Apakah masih jauh, Kakang?"

Seorang pria yang menunggang kuda di depan bertanya kepada pria di sebelahnya.

"Sebentar lagi, Adi. Sebentar lagi kita akan sampai di Pedukuhan Brajan."
"Apakah kita bisa beristirahat sebentar, Kakang Yuda?"

Seorang di belakang bertanya. Pria yang dipanggil Yuda itu tampak diam. Mereka sudah semalaman memacu kuda tanpa berhenti.

"Paling tidak, biarkan kuda-kuda kita ini istirahat sejenak, Kakang."

Pria disebelah Yuda kembali berkata. Yuda terlihat mengangguk-anggukan kepalanya.

"Baiklah, kita berhenti sebentar di bawah pohon itu."

Jawaban Yuda di balas dengan helaan lega dua orang di belakang. Yuda tersenyum. Nampaknya memang ada baiknya mereka beristirahat. Sekeluarnya mereka dari hutan ini, mereka sudah akan memasuki daerah Pedukuhan Brajan. Tujuan mereka.

Empat kuda itu memperlambat laju nya untuk kemudian berhenti di bawah sebuah pohon ringin yang besar. Pohon ringin tua dengan sulur-sulur nya terlihat menjuntai di sana-sini. Batang nya besar; mungkin sepelukan tiga pria dewasa. Empat orang itu lalu turun dari kuda mereka masing-masing. Dibiarkan nya kuda-kuda itu merumput di sekitaran sementara para penunggangnya terlihat ada yang duduk meluruskan kaki, ada yang bahkan merebahkan diri.

"Kenapa kau memilih lewat bukit ini, Kakang?"

Seorang pria yang sedang rebahan bertanya. Wajahnya memandang ke arah Yuda yang sedang duduk sambil mengunyah ujung batang rumput liar.

"Kenapa memangnya?"

Yuda balik bertanya. Pemuda yang sedang rebahan itu bangun dari rebahan nya dan berkata.

"Sebenarnya aku ingin kita memilih jalan menyisiri Kali Pasir, Kakang. Melewati Bukit Jamur. Istirahat sebentar di Karang Jati, ..."
" ... Siapa tahu bisa dapat istri."
"Sembarangan ...!"

Yuda tersenyum mendengar candaan dua orang itu.

"Aku sendiri sebenarnya juga lebih memilih melewati pinggiran Kali Pasir. Mampir sebentar di Dukuh Karang Jati. Tapi setelah aku pikir masak-masak, melewati Bukit Watu Jajar jauh lebih baik."
"Apa ada alasan khusus, Kakang?"

Pemuda yang duduk di sebelah Yuda bertanya.

"Dukuh itu belum lama ini mengalami peristiwa besar. Tak perlu aku jelaskan kalian semua pasti sudah mengerti maksudku. Nah, aku tidak ingin kedatangan kita berempat akan membuat gaduh dukuh yang sedang dalam masa pemulihan itu."

Ketiga orang itu saling berpandangan. Ada semacam rasa kurang paham tersirat dari pandangan mata mereka setelah mendengar apa yang Yuda katakan. Yuda yang melihat raut bingung wajah teman-teman nya ini tersenyum dan berkata.

"Kita berempat adalah orang asing di mata warga dukuh Karang Jati. Andaikan saja yang masuk ke dukuh mereka hanya satu atau dua orang asing, tentu tidak akan banyak menimbulkan kecurigaan karena dukuh mereka memang dukuh yang selalu dilewati oleh mereka-mereka yang ingin ke pusat kota Kademangan Pringgading. Tapi kita berjumlah empat orang. Jarang sekali terjadi empat orang berkuda melintas tanpa mengawal sesuatu. Seperti pedagang dengan kereta dagangan nya, atau pejabat pemerintahan."

Tiga orang itu tampak mengangguk-anggukan kepala mereka seperti mulai menangkap maksud perkataan Yuda.

"Nah, daripada menimbulkan kesan yang salah di mata penduduk Karang Jati, aku lebih memilih menghindari dukuh tersebut dengan mengambil jalan ini."

"Tapi bukankah kita sama sekali tidak membawa niatan jahat, Kakang?"

Pemuda yang tadi rebahan bertanya kepada Yuda.

"Kita memang tidak membawa niatan jahat kepada mereka. Tapi bukankah seperti yang aku katakan tadi, warga Karang Jati sedang dalam masa pemulihan. Keberadaan orang asing yang masuk ke dalam dukuh mereka sedikit banyak pasti akan membuat kecurigaan. Aku hanya tidak ingin ada kesalahpahaman muncul."

Tiga orang itu tampak mengangguk-anggukan kepala mereka.

"Nah, marilah kita melanjutkan perjalaan. Aku ingin sebelum matahari condong ke barat, aku sudah mandi bebersih diri di padepokan."

Yuda berkata sembari berdiri. Tiga temannya tanpa banyak bicara lalu ikut berdiri dan berjalan ke arah kuda-kuda mereka. Empat orang itu tanpa banyak berbicara lalu melanjutkan perjalanan mereka kembali. Debu-debu terlihat membumbung tinggi akibat laju kuda yang mereka tumpangi.

Wanita berbaju merah itu pun kembali melompat dengan cepat dari satu pohon ke pohon yang lain. Bergerak tanpa suara ke arah empat pria itu memacu kudanya. Gerakannya yang ringan dan tanpa suara akan membuat siapa saja yang secara tak sengaja melihat akan kaget ketakutan. Takut karena bagi mata mereka sebuah bayangan merah tampak terbang dengan cepat dari pohon ke pohon.

Seperti hantu penunggu hutan yang sedang keluar mencari korban.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
graybpn dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
API DENDAM DI TANAH PRINGGADING
29-03-2019 14:51
wah asik nih, cerita silat & misteri lagi ya gan
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
API DENDAM DI TANAH PRINGGADING
29-03-2019 16:45
asik udah bikin cerita baru lg nih
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
API DENDAM DI TANAH PRINGGADING
30-03-2019 22:13
moga aja sampe tuntas kyk yg karangjati om emoticon-Cool
Diubah oleh bucehoppus
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
API DENDAM DI TANAH PRINGGADING
30-03-2019 22:35
Quote:Original Posted By omboth
Mendung di Karang Jati kan udah tuntas, Gan >.<
Makasih udah di ingatkan sebelumnya.
Doakan semoga lancar ane nulisnya ya ...

emoticon-Salam Kenal


iya maksud ane semoga bisa tuntas kyk yg karang jati itu om. keren ceritanya semangat om
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
API DENDAM DI TANAH PRINGGADING
01-04-2019 01:16
1.2



Pedukuhan Brajan merupakan pedukuhan yang paling pesat pertumbuhannya bila dibandingkan dengan dukuh-dukuh lain di dalam daerah Kademangan Pringgading. Tanah yang subur memberikan hasil alam yang cukup berlimpah bagi penduduk yang tinggal di dukuh ini. Jarak yang dekat dengan ibu kota Kademangan Pringgading juga membuat pedukuhan ini menjadi semacam pintu gerbang Kademangan itu sendiri. Para pedagang ataupun para pengelana yang ingin ke Kademangan sering berhenti sebentar untuk beristirahat di pedukuhan Brajan. Tak heran jika banyak ditemukan kedai-kedai makan dari yang sederhana sampai kedai makan untuk golongan atas ramai akan pengunjung. Rumah-rumah penginapan pun bisa dibilang banyak bermunculan. Sehingga bagi mereka yang pertama kali melintas di dukuh ini, akan dengan mudah tertipu karena menganggap bahwa mereka sudah masuk ibu kota Kademangan.

Dengan semakin ramainya orang yang keluar masuk pedukuhan, membuat pengamanan di dukuh itu sendiri harus semakin di perketat. Tak jarang mereka yang masuk ke dalam dukuh adalah orang-orang yang membawa niatan yang kurang baik. Yang masuk sengaja hanya untuk membuat kerusuhan atau hanya sekedar mencoba menyombongkan diri akan kemampuan mereka. Hal ini mendapat perhatian khusus dari kepala dukuh Brajan langsung. Seorang mantan perwira Kademangan yang sudah undur diri dari dunia keprajuritan, bernama Ki Laksa. Seorang tokoh yang sangat dihormati karena besarnya jasa-jasa beliau dalam mengembangkan Kademangan Pringgading. Karena faktor usia yang tak lagi muda, Ki Laksa kini lebih suka membina dan membantu membangun dukuh Brajan. Cara-cara nya yang selalu bisa merangkul baik itu golongan muda maupun golongan tua membuat segala rencana yang ia terapkan bisa berjalan dengan baik tanpa adanya gesekan yang berarti. Lewat arahan dan kepemimpinannya, pedukuhan Brajan tumbuh sebagai sebuah dukuh yang maju.

Hubungan baik juga tercipta antar Pedukuhan Brajan dengan sebuah padepokan kecil yang terletak di salah satu kaki bukit yang berderet memanjang di belakang pedukuhan. Sebuah padepokan yang dipimpin oleh seorang Kiai bernama Kiai Sentani, seorang tua yang masih memiliki darah biru. Darah bangsawan. Kiai Sentani adalah anak dari salah seorang selir raja yang pernah berkuasa. Karena tak mau ikut campur tangan di dalam urusan negara, ia bersama beberapa orang kepercayaannya lalu meninggalkan istana. Pergi jauh mengembara untuk kemudian menetap dan mendirikan padepokan di salah satu kaki bukit. Hal itu terjadi sewaktu Ki Laksa masih menjabat sebagai seorang perwira. Dan pada suatu peristiwa, karena luka berat akibat suatu pertempuran, Ki Laksa tak sadarkan diri dan dirawat oleh Kiai Sentani. Sejak saat itu, hubungan baik terjalin antara mereka. Bahkan ada yang mengatakan kalau Kiai Sentani adalah penasehat utama yang paling di percaya oleh Ki Laksa.

Banyak para pemuda yang menempa diri mereka di padepokan yang dipimpin oleh Kiai Sentani. Ada yang lalu mendaftarkan diri mereka menjadi prajurit abdi Kademangan, ada yang mencoba peruntungannya mengabdi di Kota Raja, namun tak sedikit yang tetap tinggal di padepokan atau di dukuh Brajan. Mengabdi menjaga tanah kelahiran mereka sendiri. Semuanya oleh Kiai Sentani di berikan kebebasan untuk memilih jalan hidup. Selama jalan hidup mereka tidak bertentangan dengan perintah Yang di Atas dan diabdikan untuk orang banyak. Dengan demikian nama padepokan Kiai Sentani semakin harum, sebagai suatu padepokan beraliran putih yang setiap saat siap memgulurkan tangan bagi yang membutuhkan.

Pagi itu, tampak Kiai Sentani tengah duduk diam sendiri di dalam kamarnya. Hatinya tampak gelisah akan sesuatu hal. Dari semalam ia tidak bisa memejamkan matanya karena perasaannya yang tak kunjung tenang. Ada semacam kekhawatiran bergelanyut di dalam hatinya. Rasa batin nya yang tajam terkadang tak pernah salah dalam mengartikan suatu keadaan. Sesekali tangan nya membelai janggutnya yang sudah putih memanjang.

Sebuah ketokan pelan terdengar dari pintu kamarnya.

"Siapa?"
"Damar, Kiai."
"Masuklah. Pintunya tidak aku kunci."

Seorang pemuda tampak mencul dari balik pintu. Wajah pemuda tersebut terlihat penuh dengan keringat, namun tetap terlihat segar. Sebuah ikat kepala dari kain berwarna coklat tampak sedikit basah pada bagian dahi membelit rapi kepala pemuda tersebut. Rambutnya yang hitam panjang sebahu juga tampak sedikit basah.

"Kalau Kiai mau mandi, saya sudah siapkan airnya di belakang."
"Mungkin nanti. Aku masih ingin keluar jalan-jalan sebentar di halaman."
"Baik, Kiai."

Pemuda itu lalu memnundukan kepalanya dengan hormat dan berjalan keluar kamar.

Kiai Sentani lalu berdiri. Kaki nya melangkah ke arah halaman depan padepokannya. Halaman itu ternyata sudah bersih dari daun-daun kering yang berjatuhan. Tampak bekas sapuan dari sapu lidi terbentuk rapi di tanah. Sebuah senyum tampak terlihat di wajah tua pria itu. Di dalam hati ia memuji kerajinan salah satu anak muridnya, Damar. Dari semua murid yang ia miliki, Damar adalah murid yang paling muda. Usianya masih belumlah genap dua puluh. Namun ia tahu bahwa setiap pagi sebelum matahari terbit, Damar pasti sudah bangun dan mulai bekerja. Membersihkan halaman depan dan belakang serta mengisi tempat penyimpanan air padepokan. Masa depan padepokan itu tidak akan terlampau buruk jika anak muda seperti Damar masih ada.

Kiai Sentani lalu duduk pada sebuah bangku dari kayu yang terletak di bawah sebuah pohon. Matanya tampak memandang jauh ke arah langit yang semakin lama semakin terang. Rasa cemas di dalam hatinya kembali datang. Perasaan yang selama ini sudah jarang sekali ia rasakan semenjak dirinya meninggalkan kehidupan istana. Kini setelah berpuluh-puluh tahun, rasa itu kembali datang dan menghantui dirinya.

Mata Kiai Sentani yang tajam menangkap tiga sosok berjalan di kejauhan. Tiga sosok yang bagi seorang Kiai Sentani yang sudah berpengalaman merupakan tiga sosok dengan hawa membunuh yang tajam. Tanpa berpikir dua kali, Kiai Sentani segera melentingkan tubuhnya dengan cepat ke depan. Melompat menyongsong tiga sosok yang sudah dipastikan akan menuju ke padepokannya. Ia tidak ingin penghuni padepokannya tahu akan apa yang akan terjadi. Toh belum tentu apa yang ia rasakan akan benar-benar menjadi kenyataan. Kalaupun benar, sedapat mungkin ia tidak ingin murid-muridnya ikut menjadi korban.

"Rupanya engkau sudah tahu kedatangan kami."

Salah seorang dari tiga orang itu yang berdiri di tengah berkata setelah menghentikan langkah kakinya karena melihat seseorang berdiri di hadapan mereka.

"Siapakah kalian dan ada keperluan apakah gerangan?"

Kiai Sentani bertanya dengan suara pelan namun jelas terdengar di telinga ketiga orang itu.

"Tidak usah berpura-pura lagi. Aku sudah tahu siapa sebenarnya dirimu. Tak ada gunanya mengganti nama karena wajahmu pasti akan selalu aku kenal."

Orang yang di tengah kembali berbicara. Dua orang temannya tanpa diperintah bergerak mengurung Kiai Sentani dari arah yang berbeda.

"Jadi kalian orang-orang suruhan Kakang Suralaya?"

Ketiga orang itu tidak menjawab. Kiai Sentani tampak menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.

"Tak pernah aku menduga bahwa Kakang Suralaya akan mendendam sedemikian dalamnya terhadap diri ku. Bukankah aku sudah tidak lagi menjadi batu hambatan dirinya dalam meraih kekuasaan?"

"Masalah itu kau tanya lah sendiri. Yang penting sekarang kau harus mau ikut bersama kami kembali ke Lembayung."

"Maksudmu, aku harus pergi bersama kalian kembali ke istana?"

"Ya. Dan kami harap kau tidak membuat segala sesuatu nya menjadi rumit."

"Kalau aku menolak?"

Ucapan singkat Kiai Sentani ini membuat wajah pria itu memerah.

"Tangkap dia. Hidup atau mati."

Sebuah angin tajam menyambar dari arah belakang menuju ke arah kepala Kiai Sentani. Pria tua itu dengan tenang menundukan kepalanya sedikit dan membiarkan senjata orang yang menyerangnya lewat beberapa jari di atas kepalanya. Belum sempat Kiai Sentani menarik napas, sebuah sapuan keras mengarah ke arah kakinya dari samping. Ketika sapuan itu hampir mengenai kakinya, Kiai Sentani dengan cepat bergerak menghindar sekaligus melompat keluar dari kepungan tiga orang itu. Bisa saja dengan mudah ia mengalirkan tenaga dan membuat kakinya sekeras batu dan menghancurkan tulang kaki penyerangnya. Namun ia menyadari bahwa hal itu malah akan semakin membuat suasana menjadi semakin runyam.

Pertempuran berat sebelah pun terjadi. Tiga orang itu dengan cepat menguasai keadaan. Mereka ternyata bukanlah orang sembarangan. Tingkat kemampuan mereka yang tinggi membuat Kiai Sentani sedikit kewalahan. Bukan karena rendahnya ilmu yang dimiliki Kiai Sentani, tapi lebih karena pria tua itu hanya bertahan dengan menghindar serangan-serangan yang datang pada dirinya.

Lambat laun daya tahan Kiai Sentani pun terkuras. Sekuat apapun dirinya bertahan, satu dua pukulan telak telah mendarat di tubuhnya yang tua. Sedangkan serangan tiga orang itu masih terus berdatangan seperti layaknya air bah menerjang. Tampak dari sudut bibir Kiai Sentani sebuah noda merah. Noda darah pertanda dirinya menderita luka dalam.

Tiba-tiba tanpa adanya isyarat, tiga orang itu secara bersama-sama melompat mundur. Mereka berdiri dalam satu formasi. Satu orang di depan dan dua yang lain berdiri dengan tangan menyentuh bahu temannya yang di depan.

Sadar akan bahaya yang akan datang, Kiai Sentani menghentakan kakinya ke tanah membuat kuda-kuda. Ia tahu bahwa lawannya ingin segera menyudahi pertempuran dengan merapal ajian pamungkas. Tanpa berkata-kata, Kiai Sentani segera mengeluarkan tenaga murninya dan mengalirkan tenaga itu ke telapak tangan. Tangan lelaki tua itu tampak bergetar.

"HAH...!!!"

Sebuah hentakan keras keluar dari mulut orang yang berdiri paling depan. Dan sebuah angin tajam melesat cepat ke arah Kiai Sentani yang juga telah menghentakan tenaga di tangannya.

DUARRR ... !!!

Sebuah ledakan besar Cumiakan telinga terdengar. Ledakan tersebut membuat lubang besar menganga di tanah. Debu pasir bercampur asap tampak berhamburan ke segala arah.

Tiga orang itu tampak mundur surut beberapa langkah ke belakang akibat beradunya dua ilmu. Dada mereka bertiga serasa amblas diterjang kaki gajah. Sesak tak bisa bernafas. Setelah beberapa saat mengatur tenaga, rasa sakit di dada mereka berangsur-angsur mereda. Di hadapan mereka, Kiai Sentani tampak jatuh terduduk. Wajah laki-laki tua itu tampak sedikit menghitam. Begitupula dengan kedua belah tangan nya. Berubah warna menjadi hitam sampai ke siku.

"Kalian orang-orang Rawa Racun?"

Suara Kiai Sentani di balas oleh suara tertawa tiga orang itu.

"Tak pernah ada yang bisa selamat dari pukulan racun kami. Termasuk dirimu."

Suara tertawa mereka bertiga semakin keras.

Tiba-tiba dari arah belakang, terdengar teriakan-teriakan. Teriakan para murid padepokan. Setelah beberapa saat, teriakan-teriakan itu berhenti.

Nyala api tampak membakar sedikit demi sedikit bangunan padepokan. Semakin lama, api tersebut semakin membesar membumi hanguskan segala sesuatu di dekatnya. Asap hitam membumbung tinggi di udara membentuk tiang hitam menjulang sampai ke langit.

Dari arah padepokan, tampak empat orang berjalan keluar.

"Tidak ada yang tersisa?"

Salah satu dari tiga pria itu bertanya kepada empat orang yang baru saja datang dari arah padepokan.

"Tidak, Kakang. Tidak ada satupun yang kami biarkan hidup."
"Bagus. Bawa orang tua itu. Kita kembali ke Lembayung."
"Baik, Kakang."

Salah seorang dari empat orang itu lalu menggotong tubuh Kiai Sentani yang terkulai lemah tak bergerak.

Kiai Sentani sendiri yang masih agak sadar melihat padepokan miliknya habis dimakan api. Bersama semua murid-muridnya.

Lalu semuanya gelap dan ia tak sadarkan diri.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
API DENDAM DI TANAH PRINGGADING
01-04-2019 09:07
wihh mantapp gan omboth cerita bru lgie nih...mga2 kisah'a sekeren mendung di karang jati....



ditunggu lanjutan'a gan????
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
API DENDAM DI TANAH PRINGGADING
01-04-2019 13:09
wuiiih mantab gan. lanjutkan
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
API DENDAM DI TANAH PRINGGADING
01-04-2019 16:35
Amin...

Selalu akan saya usahakan yang terbaik.
emoticon-Jempol
2 0
2
API DENDAM DI TANAH PRINGGADING
01-04-2019 17:53
Lanjut gan nulisnya
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
API DENDAM DI TANAH PRINGGADING
02-04-2019 10:40
Mantap gan, gas teruss
thanks
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
API DENDAM DI TANAH PRINGGADING
02-04-2019 13:43
ijin ndeprok gan
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
API DENDAM DI TANAH PRINGGADING
03-04-2019 01:29
emoticon-Jempolemoticon-Jempol emoticon-Selamat emoticon-Selamatemoticon-Jempol emoticon-Jempol

ASIK ... JADI HOT THREAD


Menyusul jejak buku 1 yang duluan jadi HT kini buku 2 juga nda mau kalah ...

Senang rasanya jika ternyata lanjutan cerita novel ane yang pertama bisa diterima dengan baik.
Jujur ane kaget dapat notif kalo cerita ini jadi Hot Thread padahal baru nge post dua chapter.

Apa artinya?

Artinya saya sebagai penulis harus bekerja lebih keras untuk tidak memberikan karya yang mengecewakan pembaca setia novel ini.

Terima kasih buat semua pembaca setia novel ane.
Berkat Agan dan Sista lah novel Api Dendam di Tanah Pringgading bisa menjadi Hot Thread.

Mohon support dan kritikan nya supaya cerita ke dua ini lebih baik ke depannya

Dan kalau berkenan, mohon thread ini di rate ya ... ^^

emoticon-Rate 5 Staremoticon-Rate 5 Star emoticon-Rate 5 Star emoticon-Rate 5 Star emoticon-Rate 5 Star


TERIMA KASIH
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
API DENDAM DI TANAH PRINGGADING
03-04-2019 06:04
Bagus ceritanya gan

Lanjutkan emoticon-Shakehand2 emoticon-Shakehand2
0 0
0
API DENDAM DI TANAH PRINGGADING
03-04-2019 07:00
Dolo waktu masih kuliah di Jogja, ada sodara punya buku cerita karangan SH Mintardja seperti Api di Bukit Menoreh. Waktu baca cerita nya ini, serasa nostalgia balik ke masa-masa kuliah .....

Terusin mas, saya tunggu cerita lanjutannya
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
API DENDAM DI TANAH PRINGGADING
03-04-2019 07:25
Apa tokoh-tokoh di cerita Mendung di Karang Jati akan muncul di cerita yang ini mas?
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
API DENDAM DI TANAH PRINGGADING
03-04-2019 09:23
Terima kasih
emoticon-Jempol emoticon-Jempol
1 0
1
API DENDAM DI TANAH PRINGGADING
03-04-2019 10:16
lanjut om, jangan kasih kendor
0 0
0
API DENDAM DI TANAH PRINGGADING
04-04-2019 11:58
apik gan yg cerita mendung di karang jati.
0 0
0
API DENDAM DI TANAH PRINGGADING
04-04-2019 16:02
Mana lanjutan ceritanya kak....?
0 0
0
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
natsu-no-hanami-n2h---fiksi
Stories from the Heart
you
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia