Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
228
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c8b2d0709b5ca16c40401cc/rumah-terbengkalai-true-story
Kejadian Bermula ketika Yudi membeli sebuah rumah tua peninggalan belanda yang hendak ia renovasi menjadi bangunan mewah berlantai empat. Seiring pembangunan berjalan, kejadian aneh kerap dialami oleh para-pekerja yang membuat meraka merasa tidak nyaman, interaksi keberadaan makhluk tak kesat mata terasa kental ketika malam menjelang. Deni dan empat kawannya yang diberi tugas mengawasi pekerja ta
Lapor Hansip
15-03-2019 11:41

Rumah Terbengkalai (True Story)

Past Hot Thread
Rumah Terbengkalai (True Story)

Hai, Readers.
Saya punya cerita yang mungkin menarik untuk kalian baca, kisah ini saya angkat dari kejadian nyata yang saya alami sendiri.

Sebelumnya saya minta maaf jika ada:
-Kesalahan dalam Post saya
-Update ceritanya lama.
-Saltik atau Typo karena cerita belum sempat di Revisi ulang.

Untuk Versi REVISI DAN TERUPDATE bisa cek di sini: Mangatoon - Rumah Terbengkalai True Story

Quote:
- WARNING -
Dimohon kerjasamanya bagi siapapun yang sudah tahu menahu tentang lokasi di cerita ini untuk tetap MERAHASIAKANNYA. Dan bagi yang MASIH PENASARAN, TS mohon dengan sangat untuk penasaranlah dari segi ceritanya saja (tidak perlu mencari & menerka). Let mystery be a mystery, untuk kebaikan kita bersama & sisi unik dari cerita ini.


Quote:
Note: SAYA HANYA MEMPOST CERITA INI DI KASKUS DAN MANGATOON. SELAIN DI DUA PLATFORM INI CERITA DIJAMIN PLAGIAT ..

----------------------------------------------------------------
Index On Kaskus (Progres)

1. Prolog.
2. Perkenalan.
3. Rumah Tua Part 1.
4. Rumah Tua End.
5. Malam Pertama Part 1.
6. Malam Pertama End.
7. Interaksi Astral Part 1.
8. Interaksi Astral End.


>>> On Going Progres Perpindahan Post: Sabar ya gan.. emoticon-Embarrassmentemoticon-Embarrassment
Maaf kalau dibagi menjadi "Part" karena menghindari jenuh baca dan panjang pada Reply Thread.
----------------------------------------------------------------
Quote:
Plot Story:

Cerita diangkat berdasarkan kisah nyata yang dialami oleh lima Pria remaja asal Bogor Jawa Barat.

Kejadian Bermula ketika Yudi membeli sebuah rumah tua peninggalan belanda yang hendak ia renovasi menjadi bangunan mewah berlantai empat.

Seiring pembangunan berjalan, kejadian aneh kerap dialami oleh para-pekerja yang membuat meraka merasa tidak nyaman, interaksi keberadaan makhluk tak kesat mata terasa kental ketika malam menjelang. Deni dan empat kawannya yang diberi tugas mengawasi pekerja tak luput dari gangguan yang sulit diterima oleh nalar.

Hingga detik ini pembangun telah terhenti, yang tinggal hanya menyisakan rumah besar yang terbengkalai.

Gangguan seperti apa yang mereka rasakan? lalu adakah kisah kelam dibalik berdirinya bangunan besar ini? mari ikuti pengakuannya dalam cerita "Rumah Terbengkalai"
dan pastikan anda tidak membacanya seorang diri.
Diubah oleh wedi
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Gimi96 dan 29 lainnya memberi reputasi
30
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 11
Rumah Terbengkalai (True Story)
15-03-2019 11:44

Prolog

Quote:
Apa yang terbayang dari benak anda saat mendengar bangunan tua yang besar, namun tidak berpenghuni. Kosong, kotor, angket, mungkin hanya kata itu yang tepat untuk menggambarkannya. 

Tapi pernahkah anda berpikir, faktor apa yang membuat bangunan-bangunan itu menjadi terbengkalai? seperti yang kita tahu aneh rasanya jika bangunan yang direncanakan pembangunannya untuk menjadi megah tiba-tiba terhenti begitu saja tanpa alasan yang jelas, jika kita mau mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, semua pasti memiliki akar cerita masing-masing, namun tak sedikit yang menutupinya dengan perkataan logis, tapi tak sedikit pula yang mengkaitkannya dengan peristiwa mistis yang disebabkan oleh hal yang berbau metafisik.

Keluhannya sangat beragam, ada yang mengatakan mahluk kiriman, atau bangunan berdiri di atas lahan yang dulunya bekas pemakaman keramat, ada juga yang menarik kesimpulan jika di lokasi itu memiliki kisah kelam yang pernah terjadi, seperti pembantaian, bunuh diri, atau korban saat penjajahan belanda terjadi.

Kisah yang akan kalian baca bukalah cerita fiksi semata, aku mendapatkan cerita ini langsung dari temanku . Bahkan saat ia menuaikan peristiwa mistis yang dialaminya, ia masih merasakan bulukuduk yang serentak berdiri. Oke langsung aja, seperti ini ceritanya...

***
Yudi adalah seorang anak dari kakak Ibu-ku, namun saat Yudi masih kecil ia sering ditinggal berpergian oleh keluarganya, hingga ia sering dititipkan kepada ibu-ku, tak hayal Yudi kecil lebih senang tinggal bersama keluargaku, hingga menginjak usia 19 tahun. Yudi dewasa lantas mengadu nasip di Kota Serang Banten dan Sukses dengan bisnis batu baranya. Hingga suatu hari ia membeli rumah yang berlokasi di Loji, tepatnya di Bogor Jawa barat. Bukan rumah yang megah dan mewah yang ia beli justru Rumah itu terlihat sangat tua dan kumuh, hanya lahan luas yang menjadi daya tarik Yudi.

Namun tujuan utamanya membeli rumah tua ini, hanya untuk mengambil tanah luas dari bangunan tua itu, direncanakan akan dibangun rumah megah berlantai lima seperti dua rumah yang ia miliki sebelumnya yang berlokasi di Serang Banten.

Namun kali ini keberuntungan tidak memihak kepadanya, selang bangunan yang ia rencanakan separuhnya berjalan. Ia kerap didatangi masalah yang begitu bertubi-tubi, di mulai dari sang Istri yang sering dirasuki makhluk halus, membuat Yudi mengalami stress yang begitu hebat, karena sudah banyak yang mencoba menyembuhkan sang Istri namun usaha itu hanya sia-sia.

Bisnisnya yang mengalami kemunduran saat sebuah kapal pembawa batu bara yang ia investasikan mengalami maslah di perairan Singapura membuatnya merugi ratusan juta. Yudi yang terbelit hutang dengan jumlah besar membuat sang adik menjadi jaminan merasakan dinginnya jeruji besi selama dua minggu (Tukar kepala dengan Yudi) Tidak hanya sampai di situ, Arif terkena suatu penyakit yang cukup aneh, selama berbulan-bulan ia merasakan gatal pada sekujur tubuhnya padahal tidak ada tanda kulit yang mengalami iritasi atau alergi, penyakit itu sungguh sangat sulit untuk disembuhkan, semua obat antibiotik seakan tidak ada khasiatnya, bukan hanya Yudi dan Arif yang merasakan hal buruk.

Aku, Ardan dan Alivien yang selalu berada di rumah yang telah dibangun Yudi ini merasakan hal yang serupa, pada kasus lain Ardan mengalami sakit yang serius, dengan pembengkakan pada lehernya yang mengeluarkan cairan nanah dari mulut selama berbulan-bulan, sempat ia dirawat di R.S Salak Bogor. Tak jelas bermula dari apa penyakit radang yang dideritanya, bahkan dokter hanya mengasumsikan, kalau penyakit itu bermula dari sakit gigi, namun sayangnya, tidak ada riwayat sakit gigi yang dialami Ardan sebelumnya.

Terakhir kejadian itu menimpa kepadaku yang diawali dari penyakit lambung yang aku derita dalam waktu yang sangat lama,  sakit yang aku rasakan awalnya seperti Magh biasa, namun lama kelamaan timbul tiga benjolan yang melintang dari pinggang hingga ulu hati, aku tahu sekali gejala Magh pada umumnya, tapi kali ini jelas sangat berbeda, tidak ada gejala perih atau mual, yang aku rasakan hanyalah ngilu yang begitu hebat jika perutku tersentuh oleh apapun.

Namun kami bersyukur karena sekarang keseharian kami telah kembali normal, semenjak kami tak lagi menginjakan kaki di rumah itu. semua penyakit yang aku derita, tak lagi terasa, sama halnya dengan teman-temanku. berbeda dengan ketika aku masih berkunjung ke rumah tua itu, pasti saja penyakit kami akan kembali kambuh.

***
Hingga saat ini warga sekitar tidak ada yang mau menginjakan kaki ke dalam bangunan itu.
Saat Idul Fitri kemarin aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah Arif yang di Gg Rantai Bogor dan mengajaknya untuk mengunjungi rumah yang berada di Loji.

"Sudah berpindah pemilik, bukan punya bang Yudi lagi," ujar Arif menyeringai tersenyum.

10 tahun telah berlalu, kini kawasan ini sangat ramai, sudah numpak perumahan baru berdiri di sekitar jalan. Kami sempatkan menepi sejenak untuk membeli rokok di  warung yang berada tidak jauh dari rumah Loji.

Aku penasaran dengan pendapat warga dengan rumah tua itu, apakah pernah mendengar hal aneh yang terjadi di rumah itu,  "Ah, itu sih bangunan Tua, sarang setan Mas, yang dari mana-mana masuk ke rumah itu," ujar Hamdi mengkerutkan kedua halisnya dengan lengan mengambil sebungkus rokok yang kami pesan,  "berapa kali diberi lampu, tak lama lampu itu udah mati lagi, jadi dibiarkan saja gelap seperti itu." tambah  pria paruh baya berkulit kecoklatan itu.

Saat tiba Aku hanya di depan rumah dan mempotret bagian depan dan belakang yang terlihat dari jalan. Setelah itu kami bergegas pergi, tak ingin berlama-lama menatap bangunan yang berdiri angkuh tak berpenghuni itu, masih jelas teringat semua kejadian aneh yang kerap kami alami di dalam rumah ini.

Aku orang pertama yang menyadari hal ganjil yang berada di dalam rumah tua itu, entah mengapa aku selalu merasa sedang ada seseorang yang mengawasiku yang bersembunyi dibalik rimbunnya semak dan gelapnya malam.

"Itu pertama kalinya aku merasakan hal yang berada di luar nalar manusia, memang awalnya aku tidak mempercayainya, namun setalah aku kaitkan, semua hal ganjil yang aku alami baru nampak berhubungan," kata Deni (narasumber) yang membalas BBM 'ku.

Kisah seram apa yang ia dapatkan ? pengalaman apa yang ia tahu tentang makhluk tak kesat mata?
Cerita ini tidak akan aku lebih-lebihkan, semua text dari kejadian nyata yang dialami oleh narasumber. Jadi harap menyimaknya. Siapa tau ada kesalahan yang tidak sengaja mereka lakukan hingga mengusik sesuatu dari alam yang berbeda. Mohon maaf jika aku tidak bisa menemukan foto Yudi, bahakan hingga saat ini Deni tidak tahu keberadaannya. Dengar dari sang Ibu, sekarang Yudi menjadi supir Taxi, tapi entahlah itu benar apa tidak.

ada kejadian yang sampai saat ini aku tidak bisa lupakan, itu di saat aku hendak pergi ke kamar mandi, aku melihat sebuah gumpalan hitam yang menyerupai rambut yang nampak dari sudut atas pintu kamar mandi, seakan gumpalan itu ingin memandang dengan penuh amarah, gumpalan hitam itu bergerak samar dan perlahan, sedangkan tinggi pintu itu kurang lebih 2 meter, tanpa ada badan yang terlihat!!
Diubah oleh wedi
profile-picture
profile-picture
profile-picture
axxis2sixx dan 9 lainnya memberi reputasi
10 0
10
Rumah Terbengkalai (True Story)
15-03-2019 11:49

Perkenalan

Berikut perkenalan Cast yang diperankan langsung oleh orang-orang yang terlibat kuat dalam rumah angker Loji. Tapi mohon maaf jika di sini saya tidak bisa Upload Rumah dan Orang yang terlibat. Jika ingin lengkap silahkan menuju link di atas.

*****
Nb# Foto dan nama telah mendapat izin dari pemiliknya.

Nama: Deni S
Umur: 25 tahun.
Tinggi badan: 160cm.
Perkerjaan: IT Support.
Ia lahir di Kota Bogor, pada umur 6 tahun ia pindah ke rumah barunya yang berada di Cilebut Bogor.

Nama: Ardan.
Usa: 25.
Tinggi badan: 160cm.
Perkerjaan: None (tidak tau pekerjaan apa yang ia lalukan sekarang)
Tempat lahir di Bogor.

Nama: Arif.
Usia: 25 Tahun.
Pekerjaan: Kariawan Bank.
Tempat lahir: Di Bogor.
ia tinggal di Gg. Rantai Bogor, memiliki kakak bernama Yudi.

Nama: Alvien
Usia: 25 tahun
Pekerjaan: Koki Lestoran
Ia lahir di Bandung namum sejak kecil ia tinggal di Gg. Rantai Bogor. lumayan jauh dengan rumah Arif dan Ardan.
Diubah oleh wedi
profile-picture
black392 memberi reputasi
1 0
1
Rumah Terbengkalai (True Story)
15-03-2019 11:50

Rumah Tua

Tahun 2001 tepatnya pada bulan Juni. Aku tengah berada di Bandung, tinggal bersama sepupuku yang bernama Arif. Selain kami tinggal bersama, tadinya kami juga satu perguruan di salah satu SMK Negeri di Kota Bandung, namun aku lebih dulu menyelesaikan pendidikan.

Arif memiliki seorang Kakak pria yang berusia 32 Tahun bernama Yudi.
Sejak kecil Yudi tinggal bersama keluargaku, dan dibesarkan oleh ibu-ku. Entah faktor apa yang membuatnya seperti itu, tapi menurut ibu-ku, Keluarganya yang tak mau jika Yudi terjangkit penyakit yang serupa seperti Kakak pertamanya yang selalu sakit-sakitan. (Almarhum.)

Karena itulah Yudi lebih terbiasa tinggal bersama keluargaku dan menganggapku sudah seperti adiknya sendiri. Hingga beranjak usia 17 tahun Yudi merantau bersama temannya untuk menjalankan bisnis batu bara yang kini telah merubah nasibnya secara drastis. Saat itu masa-masa di mana Yudi tengah berada di puncak kejayaannya, bahkan rumah yang aku tinggali bersama Arif ini pun terbilang begitu megah bak Istana yang kerap terlihat di serial TV,

Di sini kami difasilitas cukup mewah dan sedikit berlebihan bagiku. Di garasi bawah, terparkir rapi empat buah motor keluaran terbaru dan tiga unit mobil Honda Jezz berwarna biru dan putih yang siap kami gunakan untuk keperluan sehari-hari.

Hingga suatu ketika Yudi mendapatkan ambisinya untuk membangun rumah sebanyak mungkin, terutama pada daerah yang menurutnya cocok. Apa lagi jika ada tanah yang dijual berukuran luas dengan harga murah, pasti pantang pulang sebelum membelinya.

"Bikin rumah yang banyak, kalau susah bisa dijual atau disewakan." Kurang lebih itulah yang ia ucapkan dengan tawa menangnya.

Hingga kini ia sedang membangun 6 Rumah sekaligus yang berlokasi: di Bandung, Sabi Banten, Pandeglang Banten, dan Satu di Bogor.

***
Akhir-akhir ini cuaca di Bandung terasa sangat menyengat, meliputi seluruh bagian penjuru kota yang tengah mengalami musim kemarau.

Seperti biasa Aku dan Arif lebih memilih menghabiskan waktu luang untuk bermalas-malasan di dalam rumah, seperti hari ini kami sedang berada di lantai tiga yang hampir menyerupai BAR Mini.

Cetar!! Brek!! Brek!!

Bola billiard yang saling beradu terdengar memecah kesunyian dalam ruangan.

Dengan tubuh membungkuk, tatap tajam pada ujung stick, Arif menghentak kuat bola putihnya.
Kami sangat hanyut dalam permainan, hingga akhirnya dering ponsel menghentikan kesenanganku.

Kring..!! kring..!!

Aku berdecak malas, dan menghampiri ponsel yang terletak pada sebuah Sofa Bludru biru tidak jauh dari tempatku berdiri di sisi meja Billiard.

"Cih, siapa sih." gusarku menyambar ponsel dengan cepat.

Dan kulihat panggilan itu dari Yudi, dengan sigap aku mengambil sebuah Remote dan membisukan Musik sesaat.

"Hallo, Bang."
('Bang' panggilan dari 'Babang' artinya sama seperti 'kakak' )

"Den, Babang lagi di jalan, mungkin jam empat Babang sampai di sana, kalian siap-siap ya, kita pulang hari ini." kata Yudi terdengan hening di sekitarnya, sepertinya ia sedang berada di dalam mobil.

"Pulang Bang?" sahutku, memperjelas. "Emang ada apa Bang, kok dadakan."

"Babang mau beli rumah di daerah Bogor, Den," jawab Bang Yudi singkat.

"Loji, Bang?" aku mengerutkan kedua alis, dengan mata berkeliling.

"Iya Loji, nanti juga tahu, ya udah kalian siap-siap," tegas Bang Yudi. "Babang sebentar lagi sampai," lanjutnya, mengakhiri percakapan kami.

Aku menoleh ke arah Arif yang sedang bermain Billiard seorang diri.
"Oe, Rif, ga jadi kita ke rumah Anis, kita disuruh balik," ungkapku, membuat Arif menoleh cepat. "Babang mau beli rumah," tambahku, berjalan lemas, dan duduk menyandar pada meja billiard dengan handphone yang masih kugenggam.

"Jiah, mana gua udah janji mau ke rumah Ratna," sahut Arif, terdengar jengkel. "Lagi tuh orang gak pernah puas beli rumah terus, bukan yang ada diberesin dulu," ia melempar stick billiard ke atas meja dengan keras.

"Biarin aja-lah Rif, mungkin bisnisnya lagi bagus," sahutku, "lagi pula, kalau rumah bisa jadi investasi untuk kemudian hari," aku beranjak untuk mempersiapkan diri.

Aku melirik jam dinding, yang menunjukan sudah hampir jam empat, kami harus segera bergegas sebelum Bang Yudi tiba sesaat lagi, karena Yudi bukan type orang yang penyabar, tidak bisa mengimbangi waktu saat bersamanya maka akan membuat situasi kacau.

Sungguh jauh berbeda dibandingkan dengan Arif, yang lebih senang membuang-buang waktunya, tak pernah serius dalam menyikapi masalah, mungkin karena hidupnya yang terlalu di majakan oleh materi.

"Mau kemana Den?" tanya Arif yang melihatku berjalan hendak keluar ruangan.

"Baiknya lu siap-siap Rif, Babang bentar lagi tiba," singkatku, membuka pintu kaca yang tertutup rapat.

Tak lama aku bersiap, samar terdengar kelakson mobik dari arah depan rumah.

Bip.. bip..

Aku menghampiri jendela kamar, dan mengintip diantara celah korden. Terlihat sebuah mobil sedang memasuki lahan parkir dengan perlahan.

Menyadari Yudi telah tiba, aku segera mengambil Tas Selempang yang tergeletak di atas kasur lalu bergegas keluar kamar.

Sesaat Aku berhenti di depan kamar Arif yang masih tertutup rapat.
"Rif, Babang udah di bawah," teriakku, pada Arif yang mungkin masih bersiap-siap.

Dengan tas selempang yang melintang pada jacket merah muda yang ber-resleting terbuka, celana levis hitam yang sedikit mengecil di pergelangan kaki yang terbalut sepatu putih bergaris hitam. Kini aku siap untuk berpergian.

Wwuuss...!

Seketika pintu terbuka terasa udara panas bercampur debu menabrak kuat wajahku, memang sudah berapa hari ini di Bandung tidak diguyur hujan, tak heran rumah yang berada tidak jauh dari jalan raya akan mendapatkan hadiah berupa debu pada musim kemarau.

"Den, si Arif mana?" kata Bang Yudi dengan nada sedikit keras, ia nampak rapih hari ini, dengan mengenakan kemeja biru yang menutupi tubuh gemuknya, disambung celana panjang hitam, sedikit menutupi sepatunya yang berujung kotok mengkilap.
Ia hanya berdiri disamping pintu mobil menatap ke arahku yang tengah berjalan menghampirinya.

"Lagi siap-siap Bang, bentar lagi juga beres," jawabku, yang baru tiba di belakang mobil.

"Masuk Den," singkatnya, sebelum masuk kembali ke dalam mobil.

Aku lantas masuk dan duduk di kuris depan. Ia nampak sangat sibuk dengan jari yang terus beradu pada keypad handphone-nya.

"Bang, Loji daerah mananya?" tanyaku. "Bukannya Loji ngga ada perumahan ya."

Setahuku di daerah Loji masih jarang rumah, bahkan terbilang masih banyak pohon rimbun dan lahan kosong yang tak jelas siapa pengurusnya.

Sekilas Yudi mengangkat dagu dan menoleh ke araku dengan mata yang masih tertuju pada layar Handphone-nya.
"iya di Loji Den, ada satu rumah pokoknya," jawabnya, membuatku semakin mengingat-ingat, "yang punya hanya Kakek dan Nenek," lanjutnya, tak menjawab pertanyaanku.

Tak lama pintu mobil terbuka diiringi Arif yang merangsak duduk di kursi belakang.
"Sory, lama, nyari jam tanggan lupa naruhnya," ucapnya, sambil nyengir kuda.

"Rif, itu di dalam koper uang buat bayar rumah, jangan dibuka, kunci-nya rusak," tutur Yudi, menaruh handphone miliknya di Dasboard dan mulai bersiap mengemudikan mobilnya.

Menghindari Death Time saat di berjalanan, aku memasang earphone pada kedua telingaku, dan menyandarkan kapala pada kuris.

***

Kurang lebih jam 19:00, kami baru keluar dari pintu Tol Ciawi, hampir dua jam kami di perjalanan, membuat pinggangku terasa remuk. Kulihat Arif sedang sibuk dengan ponselnya, dan Yudi masih fokus dalam mengemudi, walau sesekali dia bergumam akbiat situasi jalan yang begitu padat.

"Den, panggil teman yang lain untuk menemani kalian di rumah yang baru nanti," kata Bang Yudi melirik sesaat padaku.

Aku menoleh ke arah belakang dan menaik turunkan alisku. dengan senyum kecil.
"Rif, Telp yang lain, lupa isi pulsa euy." Arif menurunkan bibirnya dan mengangguk samar.

Dua jam telah berlalu setelah kami berhasil keluar dari kemacetan yang lumayan parah, dan kini kurasakan kendaraan kami seakan berguncang ketika memasuki jalan yang masih berbatu dan sangat berlubang. Jarak pandangku sangat terbatas, karena tiadanya lampu pada bahu jalan, cahaya satu-satunya hanya bersumber dari lampu mobil yang kami kendarai.

Mataku tak henti berkeliling melihat keadaan sektiar jalan dari balik jendela. Entah perasaan cemas atau karena masih asing dengan tempat ini, namun aku merasa tak nyaman melihat pemandangan sekitar yang terkesan menyeramkan, terlalu banyak pohon rimbun dan tanaman liar yang menghimpit bibir jalan, hanya bebarapa rumah saja yang terlihat, itu pun berada tidak jauh dari persimpangan jalan raya.

Pada akhirnya mobil pun menepi, aku menoleh ke arah kanan, tampaklah satu rumah yang terlihat sangat usang, bahkan genting pada bagian depannya sudah tidak tersusun rapih seperti hendak terjatuh. Pagar besi yang melintang membatasi perkarangan rumah yang dipenuhi tanaman liar tak terurus.

Namun di sisi kanan terlihat rumah lainnya, yang ber-cat putih berpagar besi dan tembok yang mengitari setiap sudutnya. Rumah itu sangatlah gelap tanpa ada cahaya sedikitpun. Ditambah tiga pohon besar yang berdiri diantara rimbunnya semak-semak yang memenuhi pekarangannya. Entah rumah itu berpenghuni atau tidak.

Hentakan pada pintu mobil yang tertutup, meliputi Yudi yang telah berada di luar mobil, aku pun segara melepas sabuk pengaman yang melintang di dadaku untuk menyusulnya. 

Wusssss!
seketika terasa hembusan angin malam yang menerpa wajah, Kupingku terasa berdengung mewakili suasana yang sunyi, hanya ada suara ranting pohon yang saling bergesekan terhempas oleh kencangnya angin malam.

Aku melirik arloji, baru jam 8 malam, namun di sini sudah sangat sunyi, tak nampak sebatang hidung pun yang berlalu-lalang di sepanjang jalan.

Arif yang menyusul kami berdiri tepat di sisi kananku, "tempatnya kaya gini? ga salah pilih rumah Bang?" ucap Arif, dengan mata menerawang sekitar.

"Jangan liat rumahnya, liat lahannya dong, mantap," jawab Yudi dengan penuh percaya diri.

Tak ingin membuang waktu lama, kami mulai berjalan mendekati pintu pagar berkarat yang sudah lapuk termakan usia.

Drakk..!! drakk..!! drakk..!!

Yudi mengetuk kuat pagar itu dengan menggunakan kunci mobilnya, melihat jarak ke pintu rumah lumayan jauh, sekita 20 meter.

Cukup lama kami menunggu di sini, hingga akhirnya terdengar suara hentakan kunci, yang diiringin pintu perlahan terbuka. Pintu itu terlihat tua, nampak bergaya khas Blanda yang terbagi dua sisi.

Samar terlihat se-seorang yang berjalan menghapiri kami dengan tertatih-tatih. Derap langkahnya sungguh lambat, terlihat dari cara ia menyeret alas kakinya dan sebilah tongkat untuk mengimbangi tubuh bungkuknya. Lekuk Senyumnya hampir tertutup oleh kerutan layu pada wajahnya. Ia mengenakan Konde Kebaya, bercorak bunga. Pada rambut belakang yang memunggul, terlihat tusuk konde yang menyerupai ekor bangau keemasan. Mungkin usianya lebih dari 78 tahun.

"M-maaf Jang, nunggu lama," ucapnya, dengan nada lirih bergelombang. "Maklum Jang, nenek mah sudah tidak bisa gesit lagi," lanjutnya. Dengan tangan bergetar, ia mencoba membuka ikatan tambang yang membelit pada pagar.

Khawatir tidak akan kuat sang Nenek menahan pagar besi yang sudah doyong ini, aku lantas membantu untuk menahanya. "Sudah, biar aku saja Nek," ucapku.

"Nuhun Jang," balas Sang Nenek, sepertinya ia tersenyum ke arahku.

Segera aku menggeser pagar dengan hati-hati, karana memang kondisinya yang sudah sangat rapuh.

"Nek, si Andre udah ke sini belum," tanya Yudi yang mulai menyelip dari celah pagar yang sudah terbuka.

"Dari pagi teh nenek belum liat dia Jang," sahutnya, mempersilahkan kami masuk. "Kemarin malam mah dia bilang kalau ada yang mau datang," jawab Nenek, berjalan di depan kami.

Aku dan Arif berjalan sejajar, di balakang Yudi dan Nenek itu. Tapi kulihat wajah gelisah Arif yang tak hentinya melirik kiri dan kanan. Entah apa yang ia rasakan, tapi dari caranya memandang, justru membuatku semakin tidak nyaman berada di rumah ini.

"Sssttt. Rif," bisik-ku, membuat Arif menoleh ke arahku, "Kenapa?" lanjutku.

Arif meletakan jari pada pipi kanannya. "Serem Den," bisik Arif, diriingi tubuhnya yang bergidik.

*****
>> Bersambung ...
Diubah oleh wedi
profile-picture
profile-picture
profile-picture
black392 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Rumah Terbengkalai (True Story)
15-03-2019 12:06

Rumah Tua Part 2

Hilir daun dan dahan yang saling bergesekan terdengar mengiringi angin yang berhembus cukup kencang disertai aroma bakaran yang terendus samar di hidungku.

Wajahku tertunduk, menatap tajam pada jalan setapak berbatu yang tengah kami lalui. Aku dan yang lain menyusuri pekarangan rumah yang gelap tanpa satupun cahaya.

"Hati-hati, gelap," ucap Yudi, terlihat kesulitan dalam memilih langkah.

Cahaya satu-satunya hanya ada di teras depan rumah, itu pun tidak begitu terang, cahaya nampak kuning dan redup.

"Silahkan duduk Jang, Nenek buatkan minum untuk kalian," ujar Nenek itu, yang baru tiba di depan rumanya.

"Iya, Nek ngga usah ngerepotin." kata Yudi.

"Nanti Kakek yang menemani kalian di sini," tambanya, dan Nenek itu kembali masuk ke dalam rumah.

Aku dan Arif duduk pada bangku yang terbuat dari anyaman bambu, dan Yudi duduk dihadapan kami pada teras tembok yang memagari bagian depan rumah.

"Bang!" tegur Arif, Yudi menoleh ke arahnya, "yakin mau beli ini rumah?"

"Yakin dong, nantikan mau dibangun ulang," sahut Yudi, penuh semangat. Ia menyisir segala penjuru dengan matanya. "Bangunan tua ini akan digusur, kita hanya mengambil tanahnya saja," tambah Yudi.

"Biar pun dibangun ulang, tetap aja terpencil, Bang," balas Arif, menoleh sisi kiri yang masih dipenuhi tumbahan liar, "Ngga akan merubah kondisi luar walau ini digusur," lanjutnya.

Treeeeekek!!
Kami menoleh pada suara pintu yang terbuka, dan terlihatlah seorang kakek tua, yang mengenakan kaos putih polos, dan sarung yang menjadi bawahannya. Ia berjalan perlahan melewati pintu dengan bantuan tongkat yang dipegangnya.

"Kakek lupa. Kakek lupa. Sudah lama di sini tidak ramai seperti ini Cu," gumamnya, menggelengkan kepala dengan nada mendayu. (Cu, singkatan dari Cucu.)

Entahlah apa yang dibicarakan kakek ini, aku dan Arif saling bertukar pandangan, tidak mengerti dengan apa
bmaksudnya, cuma satu pikiranku: Mungkin dia sudah pikun.

Yudi beranjak dari duduknya untuk bersalaman dengan sang Kakek, diikuti aku dan Arif.
"Kek, saya Yudi, yang kamarin datang dengan anak Kakek ke sini."

Kakek itu duduk pada balai kayu yang tidak jauh dariku. Aku melirik wajahnya yang telah layu dan kering. Kedua matanya hampir terpejam melukiskan rasa lelah yang sangat teramat dalam. Entah mengapa mata kakek ini justru berkaca-kaca, seakan sedang teringat akan satu hal yang menyentuh batinnya.

Dengan nafas pendek kakek itu berkata, "sudah lama Cu."

"Tidak Kek, kami baru tiba," jawab Yudi nampak sedang mencoba menghubungi seseorang dengan ponsel genggamnya.

Udara sekitar semakin terasa menjalar di sekujur tubuhku, hingga lantai rumah pun terasa begitu lembab. Aku merapatkan kedua lengan di atas dada, menahan dinginnya angin malam yang terus berhempus.

Tak lama sang Nenek pun kembali dengan membawa tiga gelas di atas sebuah nampan yang berwarna hitam dan biru pada gagangnya.

"Minum dulu Nak, Nenek buatkan teh hangat," Nenek itu meletakan nampannya pada meja kayu yang berada di sisiku.

"Iya Nek, terimakasih," ucapku.

"Maaf, cuma ada air hangat Jang," tambahnya.

"Jadi ngerepotin Nek," sahut Yudi, sambil menggosok-gosokan lengan, terlihat sungkan.

Arloji yang melingkar di lenganku sudah menunjukan pukul 10 malam, hampir 1 jam kami menunggu di ruamh ini, tapi belum juga ada tanda-tanda dari orang yang kami tunggu. Hingga pukul 10:30, akhirnya terdengar samar suara mobil yang mendekat diiringi cahaya terang memecah kegelapan.

"Itu Andre, sudah datang Nak," ucap Nenek menatap ke arah mobil pickup tersebut. Yudi hanya membalas dengan anggukan kecil.

Nampak seorang pria berbadan tinggi tegap, mulai keluar dari dalam mobil Pick Up berwarna hitam, dan berjalan melewati pintu pagar. Ia terlihat mengenakan kameja kotak-kotak, serta celana levis panjang, sambil menjinjing tas selempang yang berbahan kulit coklat pada lengan kanannya.

"Den, Rif, kalian bermalam di sini ya," ucap Yudi, bangkit dari duduknya. "Tenang saja, Babang beli rumah sudah beserta isinya."

Aku tertegun mendengar apa yang di katakan Yudi, karena sejak tadi aku sudah tak betah berlama-lama di rumah ini.

"Pantas dia minta aku untuk menghubungi teman yang lain, ternyata suruh nginep," bantinku.

"Ya sudah kalian ke dalam gih, istirhat, sudah ada tempat tidur di kamar nomer satu," kata Yudi, lalu menyambut pria yang bernama Andre.

Aku dan Arif hanya membisu dengan memasang raut wajah kecut, bersyarat tak terima dengan apa yang di ucapkan Yudi.

"Hayu dah, kedalam." singkatku, berjalan mengabaikan Yudi yang tengah asik bercengkrama dengan orang yang bernama Andre.

"Kalau tau bakal disuruh nginap, ngapain nunggu di depan rumah kayak orang bego," gusar Arif yang berjalan di depanku dengan lengkah cepat.

"Percuma kaki pada bentol, gw kira bakal balik ini malam," sahutku.

Suasana yang berbeda sekejap terasa ketika Airf membuka pintu rumah yang bergaya khas Belanda itu. Udara dingin dan lembab begitu kental di sini.

Aku melangkah dengan mata melirik ke segala arah. Nampak ruangan tamu yang bagitu luas, membentang hingga sekat tembok belakang. Di sisi kiri terdapat tiga kamar yang berjajar dengan pintu yang tertutup rapat.

Rumah ini sungguh terlihat kusam, dengan Cat tembok berwarna hijau yang telah dipenuhi noda hitam, ditambah terdapat retakan pada setiap sudut ruangan, yang bermula dari atap hingga menyentuh lantai.

"Rif," ucapku, menarik pundaknya dari belakang. "Yakin bisa tidur di rumah kaya gini?"

Sesaat Arif terdiam dengan mata menyusuri ruangan. "Kalau berdua doang mah gw ogah Den." cetusnya.

"Oh iya, anak-anak mau ke sini ya," ucapku, mengembuskan nafas lega.

Pandangku terhenti, pada sebuah pintu kamar yang tertutup kain gorden berwarna kuning, dengan motif bunga coklat putih.

"Suutt, itu kali kamarnya," kataku, menunjuk dengan dagu ke arah kamar tersebut.

"Ya udah, buka aja," singkatnya, berjalan menghampiri pintu itu.

Sesaat gorden terbuka, nampaklah pintu tua berwarna putih kucel, yang telah dipenuhi retakan pada setiap sisinya. Ini membuktikan jika rumah tak pernah di renovasi dalam waktu yang sangat lama.

"Ya ampun, susuh amat," gumam Arif, berusaha mendorong pintu kamar yang sulit di buka.

"Sambil di angkat coba Rif." saranku, tapi Arif malah memaksanya dengan menendang bagian bawah pintu dengan sangat keras.

"Kuncinya pake otot!" serunya yang berhasil membuka pintu.

Sesaat aku berpaling wajah, ketika angin berhembus dari dalam kamar membawa aroma yang tidak sedap.

"Bau ya." ujarku, dan Arif mengangguk samar. "Masuk coba Rif."

"Bau apaan si ini." gusarnya, sambil meraba tembok untuk mencari saklar lampu.

"Kayak bau apek ya," balasku, menengok ke arah belakang.

"Entahlah bau apa," singkat Arif, diiringi lampu yang menyala.

Pandanganku tertarik pada suatu sudut kamar yang terlihat cukup aneh.

"Rif, liat dah," Arif menoleh pada tempat yang kutunjuk, "bekas terbakar ya," lanjutku menghentikan langkah dan sedikit membungkuk.

"Kok, bisa ada di sini ya, bekas bakar apa coba, sampai gosong gini," jawab Arif, menatap bingung pada dinding kamar yang hangus.

"Au ah, skip, ga usah dipikirin, ga guna," cetus-ku, berjalan lemas menuju kamar sebalah.

Hingga aku tiba di ambang pintu nomor dua, dan tanpa basa-basi, aku lantas mendorong kuat pintu kamar itu.

Untuk kesekian kalinya, aku kembali mengendus aroma aneh yang menyengat dari dalam kamar ini, semua itu hanya menimbulkan rasa yang tidak nyaman, menghancurkan keinginanku untuk beristirahat dengan damai.

Seiring cahaya lampu yang memerangi se-isi kamar, nampak jelas tempat tidur tua yang melintang angkuh di tengah ruangan. Tempat tidur ini terbungkus gorden putih yang sangat tipis, mungkin untuk mencegah serangan agar tak masuk ke dalamnya.

Namun, semakin lama aku memandangi tempat tidur itu, semakin aku merasa jika ada sesuatu yang tengah memperhatikanku di balik gorden tersebut.

"Rif ..." lantangku, memanggil Airf yang sedang berada di kamar nomor satu.

"Beh, baru liat aslinya tempat tidur kaya gini," ucap Arif yang baru tiba, . "Jaman dulu si iya ngga ada Krim Anti Nyamuk, makanya cocok pake itu gorden."

"Mending kita lepas saja kali ya gordennya," kataku. dan Arif berjalan mengahampiri tempat tidur itu. "Coba lu bayangin, kalau di atas situ sedang ada wanita terbaring, dengan mata yang menghitam, rambut lebat yamg melilit disekujur tubuhnya." lanjutku, sontak membuat Arif bergidik menggosok tengkuk lehernya.

"Bongkarlah," singkatnya, sambil menarik paksa gorden itu, "Beh, keras banget. Bantulah," gumamnya, dan aku pun ikut membantunya melepas gorden tipis ini.

"Den, Den.." terdengar nada teriakan Yudi dari depan rumah.
"Ya, apa Bang," lantangku.
"Temennya udah di depan nih."

aku menaikkan kedua alis melirik ke arah Arif.
"Iya bang, suruh masuk aja, lagi bongkar korden." sahutku.

Terdengar tawa kecil dari teman-temanku yang bergurau cakap dengan Yudi di terasa depan. Suasana terasa membaik dengan kehadiran mereka di rumah ini.

"Woy, diem-diem bae Pak Bos," lantang Alvien, ia tiba di depan pintu kamar, diikuti oleh Ardan dan Jainal,
"gimana kabar Bos, sehat," lanjut Alvien.

"Wah, Makin gagah aja u Vin," seruku. berjabat tangan dengan semangat.

"Ah, bisa aja lu Pak,"

"Payah, baru ngajak sekaranglah," cibir Ardan.

Kami pun luput oleh rasa bahagia dalam pertemuan. Mengingat sudah hampir satu tahun aku tak berjumpa dengan mereka.

"Sorry-sorry, bukan ngga ngajak, tapi emang ngga pulang-pulang," jawabku.

"Iya deh, orang sibuk," pangkas Jainal.

"Oya, bantu lepas ini dong," ucap Arif.

"Kenapa di lepas Rif, baguskan," balas Alvien.

"Serem vin, tidak cocok dipandang," melihat Arif dalam kesulitan Alvien dan Ardan mendekat untuk membatu kami.

Bip..!! bip..!!

Terdengar suara kelakson dari depan rumah, yang diiringi suara mobil mulai melaju.

"Oe, Babang sudah pergi?" kataku, menjulurkan kepala menatap keluar rumah.

"Ya udah kali, tadi juga emang udah pada siap pergi," jawab Jainal yang berada di luar kamar.

"Den, beli bohlam yang lebih terang kenapa, dari pada kaya gini suram," saran Ardan menatap ke langit-langit.

"Nah, boleh tuh," balasku, dan mengambil dompet. "Beli nih, sekalian beli rokok dan makanan apa-ke, Kopi dan air mineral," lanjutku, menyodorkan uang pada Jainal.

"Udah itu aja?" balasnya.

"Sekalian perlengkapan mandi Nal," tambahku.

"Oke Bos," Jainal mengambil uang yang disodorkanku, lalu pergi.

"Nah, akhirnya," seru Arif, yang berhasil melepas gorden itu. Tak pikir panjang, ia lantas merobohkan diri di atas kasur yang terbungkus oleh seprai putih.

Namun tidak denganku. Aku yang masih penasaran dengan se-isi rumah ini, memutuskan untuk menelusuri kesetiap bagian ruangan.

Di awali dari ruang tamu yang kosong melompong, tanpa ada barang satupun di sini. Langit-langitnya yang masih terbuat dari Bilik terlihat sangat kotor dipenuhi jaring laba-laba dan noda kuning agak kehitaman, seperti genangan air yang membekas.

Dinding di ruang ini terdapat banyak retakan halus dan warna cat-nya pun sebagian telah terkelupas.

"Betapa suramnya rumah ini, tapi tidak masalah, pada akhirnya bangunan tua ini akan lenyap juga." batinku, sambil menggeleng kepala.


Next Episode>🙏
Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan.
Sampai berjumpa lagi di episode berikutnya. 👋👏
Diubah oleh wedi
profile-picture
profile-picture
profile-picture
destinationbali dan 5 lainnya memberi reputasi
5 1
4
Rumah Terbengkalai (True Story)
15-03-2019 19:38
ditunggu lanjutannya.....
profile-picture
veyewe memberi reputasi
1 0
1
Rumah Terbengkalai (True Story)
15-03-2019 21:32
Quote:Original Posted By ekonurwonogiri
ditunggu lanjutannya.....


siap gan, on progres emoticon-Big Grin
0 0
0
Rumah Terbengkalai (True Story)
16-03-2019 23:44

Malam Pertama Part 1

Malam yang semakin larut, hanya menyisakan keraguan yang tak berarti. Baru saja Yudi terlihat pergi beserta seluruh keluarga pemilik rumah ini sebelumnya.

Arif dan Alvien masih sibuk membersihkan kamar yang nanti akan kami gunakan untuk beristirahat, sedangkan aku dan Ardan hanya berdiri di ambang pintu dengan raut wajah yang masih merasa asing dengan rumah ini.

"Den," aku melirik Ardan, "rumah ini udah dibeli sama Bang Yudi bukan," ucap Ardan.

"Ya, begitulah, kenapa memang Dan," balasku, menaikan satu alis.

"Ga apa-apa sih," jawab Ardan, dengan mata mengedar. "Kok mau ya, beli rumah kayak gini," tutupnya.

"Katanya si mau dibangun ulang," sahutku, berjalan ke ruang tamu. "Dan, mending temani gue yuk, cek belakang rumah."

"Hayu."

Dengan langkah ragu aku mulai menyusuri setiap ruang dalam rumah tua ini, mata-ku mengedar menyisir setiap tembok yang dipenuh debu dan jaring laba-laba. Memang tidak ada yang istimewa pada bangunan kosong ini. Bahkan langit-langitnya begitu kotor dan berlubang, meskipun ada beberapa yang ditutup oleh Karung Goni. Untuk  lantainya, rumah ini menggunakan keramik kuning yang terhampar disepanjang ruang. 

Langkahku terhenti pada suatu ruang yang tersekat tembok memisahkan antara ruang tamu dan lorong yang sepertinya menuju dapur. Di sini terdapat meja kayu berbentuk bundar sempurna, dan tidak jauh dari sini tepat dibalik dinding yang membatasi ruang tamu dan ruang ini berdiri kokoh lemari jati dengan lebar kurang lebih satu meter setengah, berwarna coklat pekat yang dihiasi cermin bersegi empat, hampir menutupi semua permukaan pintu yang terbelahmenjadi dua bagian.

"Den, ada kamar lagi," ucap Ardan sambil menarik lengan bajuku, Ia menunjukan satu kamar yang masih tertutup rapat.

Aku tidak begitu tertarik dengan kamar yang Ardan tunjukan padaku, namun tak ada salahnya jika aku melihat isi dari kamar tersebut. Mengingat jumlah kami yang tidak akan cukup dengan hanya satu kamar.

"Buka aja Dan, untuk kamar tidur lu sama alvien, semoga saja ada tempat tidur di dalamnya," jawabku. membuat Ardan menghampiri pintu itu.

Kreeeekkk...
Pintu tua bergaya khas Belanda itu terbuka dengan perlahan ketika Ardan mendorongnya. Pantulan cahaya dari ruang tamu mulai bergeser menerangi seisi kamar yang gelap gulita.

"Gelap amat," pekik Ardan, menyodorkan kepala ke dalam kamar.

Tidak lama kami berdiri di bibir pintu, aku dan Ardan di kejutkan oleh dentuman keras yang berasal dari dalam kamar.

Bruuaaaakkkkk ... !!!

Sontak aku melompat satu lengkah menjauhi pintu tersebut. Dengan wajah memias aku dan Ardan saling menoleh. Entah suara apa itu namun terdengar seperti benda berat yang terjatuh dan menghantam lantai dengan sangat keras, bahkan sampai-sampai menarik perhatian Alvien yang tengah berbincang dengan Arif.

"Suara apaan Den," tanya Alvien, yang baru tiba dengan wajah paniknya. Aku dan Ardan hanya menggelengkan kepala samar.

Aku membungkukan tubuh dengan lengan menahan di kedua lututku, mencoba mengatur nafas yang sudah tak karuan. "Ngga tau-lah Vien, suaranya dari dalam sana," aku menunjuk ke dalam kamar.

"Gelap banget gile," ucap Alvien, membuka kembali pintu yang sudah hampir tertutup rapat.

"Pake senter ngga Vien," kata Ardan. "Ngga bakal keliatan kalau ngga ada cahaya."

"Mana, ada yang punya senter ngga?" sahut Alvien, menyodorkan lengannya ke arahku.

"Ponsel gw ada senternya, bentar," tukasku, sambil mengaktifkan senter.

Dengan lengan yang masih gemetar, aku mencoba menyisir setiap sudut ruangan  dengan cahaya senter dari ponselku. Kamar gelap yang mulai terlihat jelas hanya memperlihatkan ruang kosong tanpa ada satu benda apapun, hanya ada satu jendela kayu di dalam sana yang masih tertutup dengan sangat rapat.

"Dengan suara sebising itu pastilah bendanya sangat besar, namun di mana benda itu?" batinku, yang masih terheran-heran dengan apa yang baru saja terjadi.

"Mungkin hanya tikus, atau sesuatu yang jatuh dibalik kamar ini," kataku, sambil mematikan senter.

"Tikus, mana bisa bikin suara sebesar itu Den," tukas Alvien, menyambar ponselku. "Gue yang lagi di kamar depan aja berasa lantainya bergetar," tukas alvien, menjulurkan kepala hendak melihat ke balik pintu.

"Den, sini deh, ada yang mau gue omongin," kata Ardan menepuk pundakku, dan berlalu.

"Apaan?" sahutku, membuntuti langkahnya.

"Dulu, seinget gue, di daerah sini pernah terjadi kasus bunuh diri yang dilakukan oleh satu keluarga," pernyataan Ardan sontak membuatku terdegub sesaat. "Tapi gue ngga tahu tepatnya di mana, yang pasti kejadian itu ada di daerah sini," lanjut Ardan.

"Ah, yang bener lu," singkatku, dengan nada ragu atas apa yang dikatakan Ardan.

"Kayaknya gue pernah dengar juga deh," tukas Alvien, dengan lirik mata tak menentu, mencoba mengingat sesuatu. "Ada yang bilang bunuh diri, ada juga yang bilang dibantai, ada juga yang bilang tewas terbakar," tambah Alvien.

Aku terdiam sesaat, setelah mendengar perkataan mereka, rasa ganjil di dalam kalbuku kian menjadi. Tidak menutup kemungkinan semua itu bisa saja terjadi, mengingat Ardan dan Alvien sudah sejak kecil tinggal di Gg Rantai, tidak terlalu jauh dengan Gg Loji. Namun aku harus berpikir positif untuk kejadian ini, bisa saja mereka hanya membual mencoba menakut-nakutiku.

Aku menghalakan nafas panjang, memandang sesaat ke arah Alvien dan Ardan. "Kalau pun perkataan kalian benar, pastilah kejadian itu sudah sangat lama, dan belum tentu terjadi di rumah ini," ujarku, sambil berjalan perlahan menuju kamar Arif. "Lagipula pemilik rumah ini sebelumnya Kakek dan Nenek, jelas mereka masih hidup sampai saat ini," lanjutku, menghindari percakapan yang hanya memperkeruh suasana.

Tak lama terdengar lirih suara motor mendekat, memecah kesunyian yang telah terasa semakin mencekam, sepertinya Jainal sudah kembali membawa belanjaan yang kami pesan.

"Nah, tuh si Jainal udah balik," seru Alvien, berjalan penuh semangat hendak menyambut Jainal.

"Kalau mau masak air cek di belakang, mungkin ada kompor yang masih bisa digunakan," pangkasku, melanjutkan langkah.

"Siap, Den," saut Ardan, dan kami pun berpencar, penelusuranku terhenti.

"mungkin lebih baik aku mandi dan beristirahat."

Aku melangkah menuju kamar sebelumnya yang digunakan Arif beristirahat untuk menaruh Tas dan Sweater-ku. dan sesampainya di kamar, terlihat Arif yang sedang berbaring di atas kasur sambil memainkan ponsel genggamnya.

"Mandi dulu Mas baru tidur, biar nyenyak," ucapku, sambil menaruh tas selempang di atas tempat tidur, dan menggantungkan sweater pada sebuah paku yang tertanam pada dinding kamar.

"Males banget mau mandi juga," jawab Arif memeluk guling dan memalingkan tubuhnya.

"Belanja jauh amat di sini," aku menoleh pada Jainal yang baru kembali. "Harus ke jalan raya dulu baru nemu warung, mana jalannya super ancur banget," lanjut Jainal sambil mengintip kantung plastik berwarna putih yang ia bawanya.

"Sini belanjaan gue," aku mengambil kantung plastik yang disodorkan Jainal. "Sisanya taruh di kasur aja Nal, mau mandi dulu gue," tambahku, lantas berjalan keluar kamar, setelah mengambil perlengkapan mandi yang baru dibeli Jainal.

"Den, ini pasang gak lampunya?" kata Ardan, menghentikan lajuku.

"Oh, Iya pasang deh Dan," sahut-ku, kembali berjalan dengan siulan halus.

Senyumku memudar seiring semakin jauh aku terpisah dari yang lain, rasa ragu semakin kental aku rasakan hingga membuatku terhenti. Ruangan di sini terlihat lebih kotor jika dibandingkan dengan ruangan sebelumnya, dan lagi sebagian lantainya masih terbuat dari tanah, dengan atap tak berplafon hingga terlihat bambu-bambu penyanggah genting yang telah dipenuhi jaring laba-laba kecoklatan, di sebalah pojok kiri terdapat tengku api yang masih mengeluarkan asap halus.

Sungguh aku tidak nyaman berada di ruangan dapur ini..

****
>> Bersambung ..
Diubah oleh wedi
profile-picture
profile-picture
profile-picture
forlano dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Rumah Terbengkalai (True Story)
17-03-2019 00:52
ane rate 5 gan...bagus ceritanya
profile-picture
adityawild memberi reputasi
2 0
2
Rumah Terbengkalai (True Story)
17-03-2019 01:29
Quote:Original Posted By aan1984
ane rate 5 gan...bagus ceritanya


trimaksih bnyak gan. emoticon-Malu (S)
profile-picture
zinnhamaru memberi reputasi
1 0
1
Rumah Terbengkalai (True Story)
18-03-2019 18:22

Malam Pertama Part 2

Langkahku terhenti saat menginjakan kaki di ruang bercahaya redup kekuningan yang membentang luas tanpa terhalang dinding pembatas.

Aku menoleh ke segala sudut, ketika firasatku berkata jika ada sesuatu yang tengah mengintaiku dari suatu tempat.

Serentak bulu kuduk-ku berdiri hebat, dari lutut hingga kepala. Aku berbalik cepat, namun tak ada siapa pun di belakangku. Bahuku terasa semakin berat bagaikan memikul beban yang besar, hembusan angin yang tercampur dengan bau bakaran sangat terasa di sini.

Beberapa kali aku menghela nafas panjang untuk menghilangkan rasa cemas yang datang semakin tak menentu.

Ruangan ini lebih nampak suram jika dibandingkan dengan ruang lainnya, asap yang mengepul membuat udara terasa pengap cenderung hangat.

Aku menatap pada tengku api yang terbuat dari tumpukan batako merah lengkap dengan sisa kayu yang masih mengeluarkan asap pada lubang bundar di bagian tengahnya.

"Sejak kapan aku menjadi penakut seperti ini," Aku menghirup udara dalam, dan menghembuskannya. "Mungkin aku terlalu lelah."

Aku memantapkan keyakinan dan kembali melangkah tegap menghampir pintu toilet yang terbuat dari barisan papan.

Aku mendorong pintu yang ada dihadapanku dengan perlahan.
Kreeekkk ... !!!
Dan nampaklah ruang yang cukup luas persegi empat, dengan penampungan air terbuat dari tembok yang cukup besar, mungkin aku bisa berendam di dalamnya. Lantainya sedikit berlumut kerena hanya terbuat dari plesteran semen tanpa keramik.

Rasa ragu sempat menahanku untuk masuk ke dalam toilet yang sedikit berbau tak sedap ini, tapi tak ada pilihan lain bagiku, mungkin hanya ini satu-satunya toilet rumah ini, tanpa ada pertimbangan lain aku segera melangkah masuk.

Namun ketika hendak menutup pintu, aku dikejutkan oleh seekor laba-laba besar seukuran telapak tangan pria dewasa dengan 8 kaki yang berbulu halus berwarna coklat gelap.

Aku kurang bersahabat dengan laba-laba jenis ini, lebih baik aku tak mengusiknya, dengan perlahan aku menutup pintu kemabli untuk menyelesaikan ritual mandiku.

Air segar yang tertampung pada Bak mandi, menyapu seluruh rasa lelah dan dahaga yang kudapat dari hiruk-pikuk ketika di perjalanan. Aku membasuh Shampo pada rambutku dengan merata. Namun saat hendak membilasnya, aku kembali merasakan firasat yang sama jika ada sesuatu yang menarik perhatianku untuk menoleh ke arah kiri, tepat di sudut belakang.

Dengan mata sedikit tertutup, aku melirik di balik air yang melintas di wajahku, dan samar terlihat seuntai kain putih menjuntai tepat di sudut kamar mandi. Semakin lama aku pandangi, bayangan itu semakin nampak jelas bagaikan wayang yang berdiri kaku.

Aku mempercepat kayuhan gayung dengan sangat tergesa-gesa, ingin segera meninggalkan ruangan ini. Karena yang aku tahu saat memasuki toilet ini tak ada kain ataupun benda yang mematung di sudut sana.

Merasa keadaan semakin mencekam, aku bergegas untuk keluar dari ruangan ini. Tapi sungguh sial, ketika aku menarik handuk yang tergantung pada paku pintu, dengan tiba-tiba seekor laba-laba melompat ke tubuhku.

"Berengsekk!!!" aku memukul kuat laba-laba itu hingga menggigit paha kiriku. Rasa gigitannya begitu panas bagai tertusuk jarum tajam.

Ardan yang mendengar kegaduhan yang kutimbulkan saat di kamar mandi lantas bertanya, ketika melihatku tiba di ruang tamu dengan langkah tergesa-gesa. "Kenapa Den."

Sesaat aku tak menghiraukannya. "Ng-nga apa-apa Dan," singkatku, dengan senyum palsu.

Aku menghetikan langkah melihat Ardan dan yang lainnya sedang berusaha memasang bohlam lampu dengan kursi yang diduduki oleh Ardan dan Jainal, Alvien nampak berdiri di sandaran kursi berusaha memutar bohlam lampu yang hampir terpasangnya.

"Sedikit lagi nih," seru Alvien, diiringi lampu yang menyala.

"Nah, ginikan enak," lanjut Ardan.

"Mantaplah, pokoknya." tambahku.

"Buat yang di kamar kedua dan ketiga gimana Den," tanya Ardan, "yakin bisa ngga tuh mangkok lampunya," lanjutnya.

"Wah, kalau itu si ngga tau Dan," aku berjalan dan terhenti di ambang pintu no2. "Kayaknya si bisa deh."

"Kalau gak dicoba mana tau si," tukas Jainal, penuh semangat mengangkat kursi kayu ke kamar nomor dua.

"Gw suka nih, kalau dia udah samangat gitu," seru Alvien. "Bisa-bisa dia lumat semua pekerjaannya."

"Pelan-pelan aja. Hati-hati," sahutku. "Oya, kalau kalian udah beres kunci aja pintunya ya," lanjutku, beranjak menuju kamar Arif.

"Lah, kok tidur? begadanglah, udah lama gak main kartu bereng," pekik Jainal, sedikit berteriak dari dalam kamar no2.

"Besok-besok ... " singkatku.

"Capek dia Pak, butuh istirahat," komentar Alvien.

"Lawan aing heula weh mun boga nyali mh, haha," seru Ardan, membalas perkataan Jainal.

"Boga nyali emang Dan, jadi keun."

Itulah temanku, selama bersama pasti kami selalu ceria di manapun tempatnya, suasana menyenangkan yang mungkin sulit untuk terulang.

Aku menghelakan nafas dan melirik ke arah Arif yang telah tertidur pulas. "Udah tidur aja ini anak," gumamku, sambil merebahkan diri pada tempat tidur hingga menghadap langit-langit kamar yang berwarna putih kusam, sekaligus menjadi pemandangan terakhirku di malam itu.

Sebaiknya esok aku pulang ke rumah, untuk menemui ibuku..

***
Yuut!! Yuuttt!! Yuutt!!
"Sayuurr..!! sayuurr..!!"

Dengan mata sayu dan rasa dingin yang masih melekat, aku membuka mata dan bangkit dari tidurku.a

"Bodohnya ... " batinku tertawa kecil.

Aku tersenyum ketika melihat tempat tidur tua ini telah terisi penuh oleh teman-temanku, bahakan kaki Ardan tidak sepunuhnya berada di atas tempat tidur.

"Dasar bocah-bocah aneh, ngapain kalian bersihkan dan memberi lampu kamar sebelah, jika akhirnya tidur semua di sini ..."

aku beranjak dari tempat tidur dan berjalan perlahan menuju ruang tamu, dengan wajah yang masih kusut, aku menghela nafad panjang sesaat membuka jendela kayu yang tak berkaca ini.

Suasana pagi hari yang sangat berbeda ketika malam berlalu, udara di sini terasa sejuk dan tenang, suara kicauan burung bernada merdu terdengar indah membius keheningan.

Masih dengan rasa penasaran, aku mengedarkan pandang ke setiap sudut, hingga terhenti ketika melihat seorang pria tangguh sedang berusaha mendorong gerobak dagangannya dengan penuh semangat, ia tengah berjuang melewati jalan bergelombang yang dipenuhi bebatuan.

Tidak puas hanya melihat dari balik jendela, aku yang masih penasaran dengan sekitar rumah lantas berjalan menuju pintu depan.

Setibanya di halaman depan rumah, aku sedikit kecewa, pemandangan di sini tidaklah jauh berbeda pada saat malam hari.

Semak belukar dan pohon pisang  terlihat jelas memenuhi bagian sisi kiri halaman depan dan rumah yang berada di sebelah masih terlihat sunyi tanpa ada aktifitas seorang pun di sana, mungkin memang rumah itu tak berpenghuni.

Kring..!! kring..!!
Dering ponsel yang terdengar dari dalam kamar, membuatku beranjak dari teras depan.

"Babang ... "

"Yha, hallo bang."

"Ya, Den. Nanti siang tukang bangunan sampai di situ, tolong kosongin dulu rumahnya yah, mau dibongkar," ujar Yudi, dalam panggilan ponsel.

"Oh, oke bang," singkatku, dan Yudi mengakhiri panggilannya.

Aku menaruh kembali handphone dan berjalan menuju kamar mandi.
Namun langkahku terhenti ketika melihat sebuah pintu bilik yang tertutup angkuh di sudut ruangan dapur.

"baru sadar kalau ada pintu belakang di sini... "

Aku membuka kawat kecil yang sudah berkarat, melilit pada sebuah paku, tanpa aku mendorongnya, pintu bilik itu pun terbuka dengan lebar.

Terlihat semak-semak liar yang rimbun memenuhi lahan luas yang ada di belakang rumah, ada tiga pohon rambutan yang besar lengkap dengan daunya yang lebat, di sisi lain terdapat segelontongan bambu kering yang saling bertumpang tindih tak karuan tersusun tidak jauh dari pohon tersebut.

Dan di sudut kiri terdapat lubang bersegi empat dipenuhi sampah yang berserakan pada ujung bibirnya, namun sesuatu yang nampak aneh, menarik perhatianku.

Dengan sangat hati-hati aku mulai berjalan melintasi rimbunnya semak liar yang setinggi lututku, hingga aku terhenti pada sebuah titik.

"Eh, sumurkah.. "

Terlihat sebuah sumur yang tertutup rapat bersembunyi diantara tingginya semak-semak belukar, aku yang penasaran lantas menggeser tutup sumur yang terbuat dari bilik itu dan melongok ke dalamnya.

Terlihat pinggiran sumur yang telah dipenuhi busah putih yang bergelembung mengitari seluruh lubang sumur, aku tidak mengerti busah kental apa itu.

Aku beranjak dari sumur tua itu dengan rasa penasaran yang telah terobati bergegas untuk membersihkan diri, mengingat hari ini aku akan pulang.

Setibanya di dalam kamar aku yang sudah siap pulang, lalu membangunkan Arif yang masih tertidur lelap bersama teman lainnya.

"Rif bangun, gue mau pulang, ada apa-apa Telp aja," Arif hanya mengangkuk dengan matanya yang masih terpejam.

"Dan, Dan" aku menepuk paha Ardan agar terbangun, "anter sampai jalan raya yu" namun Ardan tak menjawab.

Aku menghelakan nafas, dan berjalan seorang diri berharap bertemu kendaraan yang bisa aku sewa, langkahku semakin jauh meninggalkan rumah tua itu, hingga aku teringat pada perkataan Yudi, "Aih, aku lupa ngasih tau kalau akan ada pekerja yang hendak membongkar rumah hari ini," aku melanjutkan langkah. "ah, sudahlah."

Ini bukan Ending dari kisahku, justru sebaliknya. Ini awal dari semua gangguan yang aku sering rasakan!

*****************
>> Bersambung ...
Diubah oleh wedi
profile-picture
profile-picture
profile-picture
forlano dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Rumah Terbengkalai (True Story)
19-03-2019 11:21
ceritanya bikin merinding
0 0
0
Rumah Terbengkalai (True Story)
19-03-2019 23:46
Quote:Original Posted By r.funker
ceritanya bikin merinding


smoga bisa menghibur gan emoticon-Embarrassment
0 0
0
Rumah Terbengkalai (True Story)
19-03-2019 23:57
buka tenda dulu ah disini 😂
0 0
0
Rumah Terbengkalai (True Story)
20-03-2019 00:22
Quote:Original Posted By cikmoymoy
buka tenda dulu ah disini 😂


monggo gan emoticon-Big Grin
0 0
0
Rumah Terbengkalai (True Story)
20-03-2019 01:08
juttt
0 0
0
Rumah Terbengkalai (True Story)
20-03-2019 10:25
Quote:Original Posted By wedi


smoga bisa menghibur gan emoticon-Embarrassment


bangunan tuanya dirubuhkan lalu dibuat bangunan baru atau cuma direnovasi
0 0
0
Rumah Terbengkalai (True Story)
20-03-2019 16:52
bangunan tua nya di ratain gan, di buat dari awal, karnan pondasinya ngga memadai untk di bngun lantai 5
0 0
0
Rumah Terbengkalai (True Story)
20-03-2019 20:30
Nenda ah emoticon-Embarrassment

bikin serem kk...

beneran yak itu?
profile-picture
jakdi memberi reputasi
1 0
1
Rumah Terbengkalai (True Story)
20-03-2019 21:57
mantap ane bacanya aja sampe merinding sendiri..wkwk..lanjutkan bang ceritanya.
profile-picture
zinnhamaru memberi reputasi
1 0
1
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
Halaman 1 dari 11
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
indigo
Stories from the Heart
loves-bait
Stories from the Heart
your-love-as-pandoras-box
Stories from the Heart
teman-dua-dunia
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Heart to Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia