Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
7748
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a040a4c60e24b61358b456a/hypnophobia--kisah-cintaku
Hidupnya memang unik karena penyakit yang dia derita, Hypnophobia. Yaitu suatu gangguan psikologis, yang menyebabkan penderita akan kesulitan untuk tidur dengan enak, nyaman dan tenang jika tidak ada yang menemaninya. Dalam kasusnya, dia kesulitan tidur jika malam saja. Agak berbeda dengan Insomnia yang memang susah tidur saja.
Lapor Hansip
09-11-2017 14:57

Hypnophobia & Kisah Cintaku

Past Hot Thread
Hypnophobia & Kisah Cintaku

Thanks to agan kkaze22untuk cover-nya



HYPNOPHOBIA & KISAH CINTAKU



Gak nyangka ini tulisan ane bisa masuk rekomendasi Deretan Cerita Penuh Cinta (MADING SFTH)di hari Valentine 2019

Thanks untuk para kaskus officers dan pembaca setia yang selalu meramaikan trit ane


NB: Buat yang minat baca-baca di ponsel android, bisa donlot app-nya gratis di link ini.



Assalamualaikum para rekan penggemar, penghuni dan silent reader di SF SFTH ini. Sudi kiranya semua untuk membaca kisah hidup sahabat baik ane, yang kini orangnya masih hidup, sudah menikah dengan salah satu wanita yang nanti akan ane share satu-satu disini.

Hidupnya memang unik karena penyakit yang dia derita, Hypnophobia. Yaitu suatu gangguan psikologis, yang menyebabkan penderita akan kesulitan untuk tidur dengan enak, nyaman dan tenang jika tidak ada yang menemaninya. Dalam kasusnya, dia kesulitan tidur jika malam saja. Agak berbeda dengan Insomnia yang memang susah tidur saja.

Bagaimana ane bisa mengenal dia? Dia adalah teman sejak SMP. Masuk SMU dan kuliah bareng, kos juga berdekatan. Bedanya, dia lebih tampan dibanding ane dan wanita yang berdekatan dengannya biasanya punya daya tarik diatas rata-rata wanita umumnya. Jadi, para wanita yang nanti ane share disini, ya memang menarik seperti apa adanya. Bahkan, saat ini rumah kami pun hanya kisaran 4-5 km saja bedanya. Keluarga ane kenal dengan keluarganya, bahkan istri ane dan istrinya pun berteman baik. Bisa ane bilang, istrinya cantik banget gan.. kadang suka ngiri juga sih ngeliatnya emoticon-Hammer (S) emoticon-Hammer (S)

Bagaimana ane bisa tahu banyak mengenai detail kata-kata, kalimat perbincangan dan lainnya? Ane sahabat baiknya, gan. Tempat dia menceritakan keluh kesahnya, tangisnya kala galau, tawanya kala senang dan berbagi rejekinya kala dia ketimpa durian runtuh. Walau ane dan dia sangat dekat, kami bukan gay ya gan hahaha... emoticon-Ngakak (S) emoticon-Ngakak (S)

Jadi persentase kebenaran dan fiksi dalam cerita ini bagaimana? Bisa ane katakan 60-70% jalan cerita adalah seperti adanya, mengenai percakapan antara teman ane dengan para pelaku lain disini adalah yang benar TS dan ane ingat serta "bumbu" untuk membuat bacaan jadi menarik.

Jadi tolong ane minta perhatian rekan semua, untuk tidak kepo - membocorkan nama tempat kerja - identitas temen ane - identitas pelaku lainnya dalam cerita ini - dan sejenisnya. Mari kita nikmati saja apa yang akan ane share, jika mau tanya-tanya atau mencocokkan informasi bisa PM ane dan kalau tidak mencurigakan ane akan bantu jawab dengan sopan. Sesekali ane akan muncul di dalam cerita sebagai cameo sahabatnya tokoh utama.

Ane juga membuka diri untuk kritik, saran, cara penyampaian tulisan, apa yang perlu di-edit dan lainnya agar membuat tulisan jadi semakin enak dibaca. Patut diingat, ane gak ngincer apa-apa dengan sharing ini. Cuma mau share aja, bahwa penyakit aneh itu ada dan siapapun bisa mengidapnya. Syukurilah hidup kita yang sehat baik fisik atau mental. Tapi ane gak nolak kalau ini mau di-rate bintang dan dikirim cendol.

NB: Ilustrasi penampakan dari para wanita yang pernah mengisi hatinya dan memberi dampak berarti dalam hidupnya, tapi dalam keadaan di edit secukupnya ada di post index bawah. Yang bisa nebak benar minimal 5 dari 6 penampakan, akan dapat PM dari ane dan Insya Allah ada hadiahnya 1 (satu) unit mechanical keyboard. Ane gak akan publish nama-namanya di-trit (misal: penampakan pertama si A, penampakan kedua si B dan seterusnya). Silakan para pembaca menebak sepuasnya, boleh by PM atau sebut aja di post masing-masing. Hadiah akan diundi ketika cerita berakhir.

Daftar calon Pemenang hadiah undian





Sedikit legend untuk range waktu:

Misal disebut "Early/Awal - Januari", maka rentang waktu antara 1-10 Januari pada bulan dimaksud.
Misal disebut "Mid - Januari", maka rentang waktu antara 11-20 Januari pada bulan dimaksud.
Misal disebut "Late/Akhir - Januari", maka rentang waktu antara 21-31 Januari pada bulan dimaksud.

Karena sepertinya TS sulit mengingat tanggal pasti dari banyak kejadian dalam kisah ini.




Cast (Up to Part 131):

Agung ....................................... Teman Ibey di kantor barunya
Akbar ........................................ Pacar dari Anna
Aldi ........................................... Teman Ibey di kantor barunya
Anggi ....................................... Woman of Interest
Alfian ........................................ Teman kuliah Anna & Anggi
Anna ......................................... Woman of Interest
Avia .......................................... Kakak dari Anggi
Benny ....................................... Kakak dari Anna
Bila ........................................... Sahabat dari Anggi
Bu Ani ...................................... Asisten Rumah Tangga Ibey
Bu Diah .................................... Atasan Ibey di Kantor
Cici ........................................... Pacar Rully
Dila .......................................... Pacar Victor di Bandung
Daud ......................................... Teman Ibey di kantor barunya
David ......................................... Kakak Ipar Anggi
Diana ........................................ Teman Ibey di kantor barunya
Dokter Arifin ............................. Ahli Terapi Hipnotis
Elan ......................................... Kakak Angkat dari Anggi
Erik ........................................... Mantan Pacar Anggi
Fahri ......................................... Teman Kantor Ibey
Farah ........................................ Istri Benny
Fauzan ..................................... Teman Anggi
Febri ........................................ Woman of Interest
Ferdi ........................................ Teman Kantor Ibey
Hafizah .................................... Sahabat dari Anggi
Hardi ........................................ Adik Laki-laki dari Ibey
Ibey ......................................... Tokoh Utama
Kang Deden ............................ Tetangga Rumah dari Ibey
Krisna ...................................... Teman Ibey di kantor barunya
Lani .......................................... Adik Dila di Bandung
Layla ....................................... Anak dari Kak Avia dan Kak David
Lisa ......................................... Teman Ibey di kantor barunya
Izza ......................................... Woman of Interest
Marissa ................................... Teman Ibey di kantor barunya
Manda ..……............................. Woman of Interest
Mas Noval ............................... Tetangga Rumah dari Ibey
Nana ....................................... Woman of Interest
Nini .......................................... Teman Kantor Ibey
Nyimas .................................... Teman Kantor Ibey
Pak Achyat .............................. Ayah Manda
Pak Danu ................................ Ayah Ibey
Pak Darno ............................... Supir Anggi di Surabaya
Pak Gondo ............................. Ayah Anna
Pak Rajo ................................. Ayah Anggi
Pak Tisno ................................ Security rumah Anggi di Surabaya
Rahman .................................. Sepupu Anna di Jakarta
Raja ........................................ Anak dari Kak Avia dan Kak David
Rama ...................................... Teman Kantor Ibey
Rani ........................................ Teman Kantor Ibey
Ria .......................................... Teman Ibey di kantor barunya
Rifki ........................................ Teman Ibey di kantor barunya
Rully ....................................... Ane
Sasha ..................................... Sahabat dari Anggi
Tante Ratna ............................ Tantenya Anggi
Teo ......................................... Teman Ibey di kantor barunya
Vera ........................................ Teman Kantor Ibey
Victor ...................................... Teman Ibey di kantor barunya
Viva ........................................ Adik Perempuan Ibey
Wilma ..................................... Teman Ibey di kantor barunya










Quote:Intro:

(Selatan) Jakarta Mid-Desember 2005,

Aku terbangun sebelum adzan memanggil, karena memang jam biologisku jika tidur ditemani sudah bekerja seperti itu. Tidurku hanya bertahan hingga antara pukul 0400-0415 pagi kecuali jika memang lelah tak terperi. Seperti biasanya sejak beberapa bulan terakhir ini, aku tidur dengan ditemani oleh Febri. Gadis manis teman kantorku.

Hujan yang lebat semalam, membuat AC di kamarku semakin dingin. Namun hangatnya selimut dan tubuh Febri tidak dapat membuatku kembali tertidur. Sambil menatapnya, aku bersyukur bahwa tidurku masih ada yang menemani. Walau dia tidak dapat selalu hadir tiap malam. Tapi masih jauh lebih baik daripada aku tidur sendiri.



AKU:

Aku biasa dipanggil Ibey, lahir di Ibukota ini dengan asal usul ayah asli Jawa Timur dan Ibuku blasteran Jawa-Manado-Belanda. Tinggiku sekitar 172cm dengan berat badan 63kg, sekedar langsing tapi tidak kekar. Karena aku hanya gemar berolahraga bulutangkis seminggu sekali, hobi utamaku adalah di depan PC. Keluarga dan teman menilai perawakanku seperti Ronny Setiawan (almarhum vokalis Element Band).

Namun bukan itu yang jadi perhatian kerabat dan temanku. Yang paling mereka ingat dari aku adalah, penyakit Hypnophobia. Yaitu kesulitan untuk tidur sendiri, namun kasusku belum terlalu parah dan baru aku idap sejak tahun 1990an. Jika tidak ada kawan tidur, maka aku perlu menghidupkan televisi atau musik dan lampu. Yang penting ramai, baik di kamar tidur atau di ruang santai rumahku. Suatu hal yang melelahkan, karena biasanya aku baru terlelap dengan sendirinya menjelang adzan subuh.

Aku tidak merokok, tidak suka minuman keras, menghindari kehidupan malam dan sejenisnya. Karena aku khawatir jika kelelahan dan sulit beristirahat, nantinya akan menyusahkan fisikku yang memang sukar diajak kerjasama kalau malam.

Pada tahun 2005 ini aku sudah bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi pengiriman barang asal Amerika Serikat dengan penghasilan yang cukup bagus bagi fresh graduate. Kegiatan pulang pergi dan operasional, aku menggunakan mobil buatan jerman seri A140. Dan karena sejak kuliah sudah tidak tinggal di rumah, aku pun meminjam uang pada ayahku untukmembeli sebuah rumah kecil di sekitar Bintaro. Dan setiap hari, aku percayakan kebersihan dan keteraturan rumahku pada Bu Ani, istri seorang security kompleks yang datang setiap hari pukul 08 pagi dan pulang pukul 14. Pekerjaannya tidak banyak karena aku tinggal seorang diri (dan mungkin 2-4 kali seminggu ditemani oleh Febri).

Hingga saat ini aku memang belum pernah mempunyai pendamping yang serius. Wanita seperti Febri yang menemani tidurku, bukanlah pacarku. Dia hanyalah teman, seperti segelintir wanita lain yang juga pernah mengisi waktu-waktu malamku untuk menemaniku tidur. Itu pun sifatnya sementara, namun entah dengan Febri saat ini.


-- to be continued .. soon --
Polling

Poll ini sudah ditutup - 205 Suara

Siapakah yang akan menjadi istri Ibey? 
3.41%
Febri
44.39%
Anna
4.88%
Nana
17.56%
Manda
29.76%
Anggi
Diubah oleh rullyrullzzz
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rendy8est dan 220 lainnya memberi reputasi
209
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 299 dari 351
Hypnophobia & Kisah Cintaku
13-03-2019 13:52
siap mas rul
0 0
0
Hypnophobia & Kisah Cintaku
13-03-2019 13:54
Quote:Original Posted By rullyrullzzz

Dear Readers,

Mohon maaf ane lagi hectic banget kerjaan. Ini sambil nyicil-nyicil tulisan untuk part 128. Kalau ane kira-kira dengan pace nyicil ini maka bisa update hari ini cuma waktunya yang gak bisa diperkirakan.

Insya Allah hari ini bisa ya. Untuk komen-komen dan PM, akan ane balas setelah update part 128 dulu.

Best Regards,
RR


Slow gan..ane setia nungguin anggi kok. Waduh..iya gak tuhemoticon-Big Grin
0 0
0
Hypnophobia & Kisah Cintaku
13-03-2019 14:05
Quote:Original Posted By rullyrullzzz

Dear Readers,

Mohon maaf ane lagi hectic banget kerjaan. Ini sambil nyicil-nyicil tulisan untuk part 128. Kalau ane kira-kira dengan pace nyicil ini maka bisa update hari ini cuma waktunya yang gak bisa diperkirakan.

Insya Allah hari ini bisa ya. Untuk komen-komen dan PM, akan ane balas setelah update part 128 dulu.

Best Regards,
RR


santay dan rileks om rull emoticon-Belo
0 0
0
Hypnophobia & Kisah Cintaku
13-03-2019 15:37
Quote:Original Posted By rullyrullzzz

Dear Readers,

Mohon maaf ane lagi hectic banget kerjaan. Ini sambil nyicil-nyicil tulisan untuk part 128. Kalau ane kira-kira dengan pace nyicil ini maka bisa update hari ini cuma waktunya yang gak bisa diperkirakan.

Insya Allah hari ini bisa ya. Untuk komen-komen dan PM, akan ane balas setelah update part 128 dulu.

Best Regards,
RR


Aku sih selow..
Sungguh selow
Sangat selow
Tetap selow
Santai
Santai update gak akan kemana...
Diubah oleh solmeith
1 0
1
Hypnophobia & Kisah Cintaku
13-03-2019 16:31
Quote:Original Posted By rullyrullzzz

Dear Readers,

Mohon maaf ane lagi hectic banget kerjaan. Ini sambil nyicil-nyicil tulisan untuk part 128. Kalau ane kira-kira dengan pace nyicil ini maka bisa update hari ini cuma waktunya yang gak bisa diperkirakan.

Insya Allah hari ini bisa ya. Untuk komen-komen dan PM, akan ane balas setelah update part 128 dulu.

Best Regards,
RR


Roger that
0 0
0
Hypnophobia & Kisah Cintaku
13-03-2019 16:32
ashiap om rully
0 0
0
Hypnophobia & Kisah Cintaku
13-03-2019 16:34
Quote:Original Posted By rullyrullzzz

Dear Readers,

Mohon maaf ane lagi hectic banget kerjaan. Ini sambil nyicil-nyicil tulisan untuk part 128. Kalau ane kira-kira dengan pace nyicil ini maka bisa update hari ini cuma waktunya yang gak bisa diperkirakan.

Insya Allah hari ini bisa ya. Untuk komen-komen dan PM, akan ane balas setelah update part 128 dulu.

Best Regards,
RR

tetap semangat om...RL wajib diutamakan
0 0
0
Hypnophobia & Kisah Cintaku
13-03-2019 18:11
Lanjutkan gan emoticon-Toast
Diubah oleh aftzack
2 0
2
Hypnophobia & Kisah Cintaku
13-03-2019 22:24
ok sam...santai ae
1 0
1
Hypnophobia & Kisah Cintaku
13-03-2019 23:57

Part 128a, Tahun 2013



Quote:

'Aku baru landing di Ngurah Rai ya. Kangen kamu..' - Anggi

Hari ini baru memasuki siang di jadwal hari kedua acara meeting kantorku di Denpasar. Masih ada sehari lagi, besok setelah Jumatan aku bisa bersantai bersama teman-teman kantorku atau aku bisa memilih untuk menghabiskannya bersama Anggi. Tak bisa berbohong, aku merasakan ada sesuatu yang sangat salah sedang berlangsung. Apakah aku sedang berselingkuh? Sepertinya iya.. aku sedang menyenangkan diriku sendiri menghabiskan waktu bersenang-senang dengan Anggi.

Konsentrasiku sudah terpecah sejak dia mengatakan sekitar 2 jam lalu kalau sudah bersiap boarding dari Soekarno-Hatta. Sejujurnya aku belum tahu dia akan menginap dimana, dia tak minta dijemput juga. Cuma dia berjanji akan menghubungiku jika sudah sampai nanti.

Ada rasa pertentangan batin dan akal yang berkecamuk di diriku, terutama tak biasanya Anna menelponku pagi ini sebanyak dua kali begitu pula semalam sebelum aku tidur. Aku tidur bersama Arief, seorang teman jawatanku yang selevel.

Quote:

"Mas, kamu gak susah kan tidur semalam?" Tanya Anna
"Nggak kok. Alhamdulillah. Lagian ini kan udah dinasku yang entah keberapa, Cin.. Gak pernah lagi aku susah tidur sejak nikah sama kamu." Ujarku
"Iya sih, cuma aku kepikiran aja. Sarapan ya.. gak ada aku, entah kenapa jadi kepikiran kamu sarapan hehehe.." Ujar Anna sambil menahan tawa

Aku membayangkan rambutnya yang pendek, di pagi hari begini berpakaian t-shirt atau blus dengan celana pendek sambil memangku Ilana atau menyuapinya di halaman dalam rumah. Matanya yang agak sipit dan lesung pipitnya yang selalu terbentuk setiap aku ajak bercanda, setiap aku cium.

"Kamu udah mandi? Baru jam 7an di Jakarta kan ya?" Tanyaku
"Udah dong.. Ilana nanti jadi males mandi kalau liat aku belum mandi." Kata Anna

Di latar terdengar suara Ilana yang lucu sedang ngomong sendiri sambil sesekali terdengar suara Anna yang mengajaknya bercanda

"Ada teman-teman kamu yang lanjut sampai Minggu? Atau udah pulang besok?" Tanya Anna
"Ada, tapi langsung pindah hotel mungkin sama keluarganya. Ada juga yang pulang.. mungkin bosen hahaha.." Kataku

Perasaan menggelitik itu datang lagi. Keinginan antara pulang atau meneruskan hingga Minggu bersama Anggi. Ada perasaan senang jika Anna terus menelponku begini, tapi disisi lain kunantikan juga kehadiran Anggi.

"Aku nanti malam mau nginap di rumah Ibu aja, Mas. Dipaksa hehehe.. katanya mumpung kamu gak ada, Ilana diculik aja. Viva sama Hardi juga udah pada kangen, padahal kita setiap minggu mampir ya." Kata Anna dengan suara tawanya yang khas
"Iya gak apa-apa, yang penting dia gak cape." Ujarku
"Iya Insya Allah.. Nanti aku telpon lagi ya, sarapan dulu sana. Enakan masakanku sih palingan ya?" Ujar Anna dengan nada suara agak sedikit menyombongkan diri
"Iya lah pasti. Aku yang penting sih keisi aja ni perut. Nanti juga ada tea-break dan lunch bakalan makan-makan lagi." Ujarku
"Kalau malam, makan di mana?" Tanya Anna
"Semalam ke Mang *ngking, padahal di Depok juga ada. Tapi namanya di traktir ya ikut aja." Ujarku
"Maaf ini Ilana gak bisa diam.. nanti aku telpon lagi ya. Aku sayang kamu...banget, Mas." Ujar Anna diikuti oleh suara kecup bibirnya.
"Iya, aku juga." Ujarku dan sambungan pun terputus

Sekitar pukul 10 pagi, Anna kembali menelpon lagi karena mau pamit untuk berangkat ke rumah Ibuku. Memenuhi janjinya untuk menginap selama aku pergi, untuk menghibur Ibuku dan keluargaku juga. Sayangnya Ayahku sedang tidak di Jakarta. Jika sedang di Jakarta, gak akan dia mau kemana-mana tanpa membawa Ilana. Selain karena cucu pertama, Ilana sangat sayang pada Ayahku dan nurut banget kalau dikasih tau.

"Maafin aku kalau nanti jarang-jarang nelpon ya hehehe.. mau istirahat mumpung Ilana ada yang ngajak main. Tapi aku bawaannya kangen melulu nih, tumben. Mungkin lagi mau dibikinin adik untuk Ilana kali ya? hahaha.." Ujar Anna sambil tertawa
"Kamu lagi kepingin?" Tanyaku bercanda
"Nggak juga.. tapi kalau diajak ya gak nolak." Kata Anna
"Siapa suruh diajak kesini gak mau hehehe..." Kataku
"Gak akan bisa ngapa-ngapain juga kalau kesitu... Terus Ilana gimana? Mending nunggu kamu pulang aja ah." Kata Anna

Bagiku perbincangan pagi itu agak gak biasa. Apakah Anna sudah memiliki firasat tertentu kalau ada yang gak beres dengan suaminya? Atau memang hanya dirinya saja yang agak berlebihan hari ini? Aku gak punya jawabannya. Karena pikiranku terbelah ke urusan Anggi dan pekerjaan.




Hanya itu pesan yang aku terima dari Anggi sejak siang tadi. Hingga aku makan malam bersama teman-temanku di Jimbaran, tak ada lagi pesan yang kuterima. Malahan tadi ketika aku baru sampai di Jimbaran ini, Anna yang menelponku menanyakan kabar serta lagi ngapain. Namun karena kukatakan aku sedang bersama teman-teman di Jimbaran, dia pun mengerti serta membiarkanku menikmati waktuku disini. Makan seafood dengan hembusan angin malam serta pemusik keliling yang keliatan niat banget menghibur para pengunjung.

'Malam, Gi.. kamu nginep dimana? Aku lagi di Jimbaran." - aku mengirim WA padanya untuk menanyakan kabarnya

Cukup lama aku gak mendapat balasan darinya. Sehingga aku merasa, sepertinya dia mungkin bersama temannya atau malah mungkin sedang tertidur. Sebentar-sebentar aku mengamati ponselku menanti jawabannya, tapi tak kunjung kudapat jawaban itu.

'Ah... dia tarik ulur nih kayanya.' - ujarku dalam hati, ada perasaan senang tapi kecewa bersatu padu.

Seketika aku usai berpikir seperti itu, ponselku bergetar di kantong celanaku. Aku pun dengan sigap segera melihat nama yang tertera di ponsel itu: Anggi. Gak pakai lama, segera kuangkat panggilan itu.

"Hai.. kemana aja? Kirain lupa sama aku." Ujarku sambil menahan tawa
"Kangen ya sama aku?" Ujarnya dengan nada manja, yang aku tahu wajah itu pasti sedang tersenyum-senyum sekarang
"Biasa aja lah. Tapi ya bisa deh dibilang kangen.. supaya kamu senang." Ujarku masih menahan senyum

Aku agak menjauh sedikit dari teman-temanku. Tapi masih tetap di sekitar mereka, sementara angin malam perlahan meniup tubuhku.

"Maaf, aku abis berenang. Gak mungkin bawa-bawa ponsel dong. Kamu lagi di Jimbaran? Mau ketemu aku atau besok aja setelah acara kamu selesai?" Tanya Anggi
"Kamu nginep dimana? Sendirian?" Tanyaku harap-harap cemas dengan jawabannya
"Deket kok sama kamu..." Ujarnya dengan nada menggoda
"Di Denpasar juga?" Tanyaku polos
"Dekat kamu sekarang. Aku ke Bali sendirian aja. Kamu kan tau aku udah bilang tempo hari, Fauzan lagi ke US sama ayah mertuaku." Kata Anggi
"Kok kamu gak ikut?" Tanyaku
"Kalau Ibu mertuaku ikut, ya aku gak ada alasan nolak. Tapi karena gak ikut jadinya aku pergi beralasan aja. Yang penting aku ada disini sekarang." Kata Anggi
"Hmmm.. Oke deh. Btw, kamu di Jimbaran sini? Ay*na?" Ujarku sambil menyebut sebuah resort yang cukup terkenal karena pantai private dan kolam renangnya yang berada di tebing menghadap Samudera Hindia
"Iya The V*llas. Bosen di Nusa Dua." Ujar Anggi
"Penasaran sama hotel itu, belum pernah aku liat isinya." Ujarku
"Aku jemput kamu besok ya.. kita jalan-jalan dulu, malamnya makan disini atau terserah kamu deh. Aku ikut aja sama kamu." Ujar Anggi terdengar excited banget
"Tunggu dulu, kamu berenang di pantai atau kolam renang?" Tanyaku
"Emang aku gila malam-malam begini berenang di Pantai? Di kolam renang lah, Bey hahaha..." Kata Anggi sambil tertawa

Mendengar tawa dan suaranya, aku pun jadi ikutan riang.

"Baik-baik ya malam ini, sendirian kan kamu?" Tanyaku
"Nggak. Kan ditemeni kamu." Ujar Anggi menggodaku
"Temeni gimana? Aku gak mungkin kan kesitu, nanti ditanya teman sekamarku." Ujarku
"Ditemeni suara kamu juga gak apa-apa malam ini, asal besok kamu nemenin aku disini." Kata Anggi
"Hahaha.." Ujarku hanya tertawa ngakak

Tawa itu tentu saja untuk menutupi ke-grogi-anku yang memuncak.

"Ih.. ketawa doang." Ujar Anggi
"Besok aku jam 14 penutupan, aku temeni kamu jalan-jalan sampai hari Minggu deh. Abis itu aku pulang. Kamu pulang juga?" Tanyaku
"Tergantung mood. Tiketku aja masih open." Ujar Anggi
"Ya nanti kalau gak ketiduran, aku telpon kamu." Ujarku
"Oke... tapi aku gak maksa lho ya. Aku mau ke bar aja palingan." Ujar Anggi
"Awas digodain cowo." Kataku bercanda
"Aku pakai cincin kamu, mereka akan mikir aku sudah nikah. Cukup aku pamer aja cincinnya kalau ada cowo iseng." Ujar Anggi terdengar mantap
"Wow.. speechless. I've nothing more to say." Ujarku sambil nyengir

Sayangnya, selepas makan-malam itu aku tak sempat lagi menelpon Anggi. Karena Arief yang sekamar denganku mengajak diskusi mengenai urusan kerjaan. Baik Anna atau Anggi gak ada yang menghubungiku hingga kami selesai diskusi sekitar pukul 23an. Karena aku gak ingin merusak malam orang, aku putuskan untuk tidak menghubungi siapapun malam ini. Langsung tidur saja.


****

Jumat.

Kegiatanku selesai setelah kami makan siang. Walaupun mesti menunggu sholat Jumat dulu, kami menikmati makan siang agak jauh dari tempat sholat tadi. Ke Sushi *ei Jl. Sunset Road, dengan alasan panitia agar tak bosan dengan menu nusantara. Sementara Anggi, sudah menelponku tadi mengatakan kalau dia akan menjemputku nanti di hotel sekitar pukul 16 karena kami mau menyaksikan sunset di Uluwatu sambil nonton Tari Kecak. Malamnya? Kami belum ada rencana apa-apa.

Sebagian dari kami memutuskan pulang, terutama yang berangkat sendiri dan tak ada keluarga yang menyusul. Hanya aku yang tetap menyendiri namun lanjut hingga Minggu. Arief teman sekamarku pindah hotel karena ada keluarganya yang menyusul.

'Aku mesti hati-hati dalam memilih tempat berjalan-jalan atau saat sedang bersama Anggi hingga Minggu.' - ujarku dalam hati

Untungnya, aku berhasil mengorek itinerary Arief kemana saja dia menuju bersama keluarganya selama di Bali ini. Dan aku yakin, Anggi pun pasti gak akan mau pergi ke tempat-tempat yang berada di pegunungan seperti Pura Besakih, Pura Ulun Danu atau ke Kintamani. Belum aku tanya ke Anggi, tapi paling tidak tujuan kami sekitaran pantai saja. Aku hanya ingin ngobrol dengannya, ingin mengetahui mengenai hidupnya.

Sekitar pukul 15an, rombongan kami sudah kembali ke hotel. Aku yang tak berencana pindahan, memilih bersantai-santai saja di kamar sambil menonton televisi sementara Arief sedang beberes karena mau menyusul keluarganya yang sudah sampai di hotel lain.

"Lo betah sendirian, Bey?" Tanya Arief
"Kalau gak betah ya tinggal pulang." Ujarku sambil nyengir
"Anak lo masih kecil sih ya... serba salah, kasian Anna kalau maksain kesini juga." Kata Arief
"Iya. Padahal gue udah paksa supaya ikut." Ujarku mengingat ajakanku tempo hari
"Menikmati Me-time jadinya deh lo berdua. Lo disini, bini lo di Jakarta. Udah ah.. gue cabs dulu ya. Sampai ketemu Selasa." Kata Arief
"Hati-hati bro, siapa tau kita besok-besok ketemuan di beberapa venue." Kataku
"Mau jalan ama siapa lo? Baek-baek ya jangan kecantol cewe disini... Kasian bini lo di rumah taunya lo jujur hahaha..." Kata Arief lalu mengucapkan salam dan melambaikan tangan saat menutup pintu

Aku tak berkata apa-apa, karena sepenuhnya sadar bahwa apa yang sedang kulakukan bersama Anggi saat ini sudah mendekati perselingkuhan. Aku tak akan tau seberapa jauh aku dan Anggi akan melangkah, yang kutahu Anggi tak ingin melihatku jauh-jauh dari dirinya lagi.


Quote:

Siang itu aku akhirnya mengikuti kehendak Anggi untuk mengunjungi apartemen mewah yang terletak tak jauh dari rumah Wapres di jaman Pak SBY periode pertama. Komplek apartemen ini cukup luas, namun aku tak begitu memperhatikan penampakan luarnya karena perasaanku tak menentu. Kenapa? Karena bisa saja kami akan berakhir di ranjang hari ini. Semua tergantung aku mulai sekarang.

"Gi, kamu punya apartemen disini beli sendiri?" Tanyaku agak bingung
"Iya." Kata Anggi
"Berapa M kamu bayar?" Tanyaku penasaran
"Gak perlu ah disebut... yang penting aku punya. Dan, gak ada yang tau aku punya apartemen ini bahkan mamaku juga gak tau." Kata Anggi
"Tapi ini kan gede, Gi?" Ujarku ketika kami memasuki ruang apartemen Anggi

Hanya satu kata yang aku ingat ketika itu. WAH.

Mungkin luasnya sekitar 250-300m2, terdiri dari 3 kamar tidur dan 3 kamar mandi, ada ruang tamu, ruang santai, ruang makan serta satu ruang lagi yang sepertinya ruang kerja karena ada meja serta lemari yang mestinya diletakkan buku-buku namun berisi hiasan guci serta patung-patung seni tanpa bentuk yang jelas. Overall, apartemen ini terisi dengan baik dihiasi dengan lantai kayu serta karpet di beberapa tempat. Masing-masing kamar tidur tertata rapi dengan hiasan lukisan serta lemari-lemari pendukung keindahan. Hawa yang terasa saat ini adalah: hawa 'tidur'. Godaan begitu kuat kurasakan saat itu, apalagi Anggi begitu dekat menjelaskan masing-masing ruangan yang kami lihat.

"Ada yang bersihin seminggu tiga kali, Bey." Ujar Anggi

Dia lalu menggandeng lenganku mengajak ke balkon. Ya.. ada balkon dengan lebar kurang lebih mungkin 3 meter sepanjang 10-15 meter menghadap ke horizon kota Jakarta. Balkon ini pun dihiasi dengan sofa-sofa serta kursi kayu dan meja serta beberapa pot besar berisi tumbuhan. Angin cukup kencang terasa disini, tapi enak. Sayup-sayup terdengar suara klakson mobil. Anggi mengajakku duduk di salah satu sofa dengan melambaikan tangannya lalu menepuk-nepuk sofa. Aku tersenyum teringat tingkah lakunya ini, seperti saat kami pcaran dulu.

"Aku suka duduk disini jika lagi menyendiri. Ditemani buku, teh atau kopi serta biskuit. Tapi akan lebih enak kalau ada kamu menemani disini." Kata Anggi sambil tersenyum

Dia menggenggam jemariku, memeluk lenganku dan menyenderkan kepalanya ke pundakku dengan santai. Sejenak aku terbawa dengan suasana menyenangkan ini. Tapi kemudian sesuatu menyadarkanku, dan perlahan aku pun bangkit serta pura-pura ingin menuju ke pojokan balkon untuk melihat sisi lain apartemen ini. Jantungku berdegup kencang sekali, karena lenganku kembali menyentuh dada Anggi yang tebal dan lembut itu.

"Mau kemana, Bey?" Tanya Anggi
"Mau lihat pemandangan bagian sana." Ujarku
"Sering-sering aja kesini, temeni aku. Mau ya?" Tanya Anggi
"Apa yang sebetulnya terjadi sama kamu Gi? Kamu kan sudah menikah. Kenapa kamu gak ngajak Fauzan kesini?" Tanyaku dengan mimik serius

Anggi kemudian hanya menggerakkan bahunya sedikit dan menatap ke horizon di balik balkon.

"Aku iri dengan Anna. Aku mau kamu." Kata Anggi
"Tapi kita gak bisa bersama, Gi. Jalan kita sudah beda. Kamu sadar gak kalau yang kita lakukan berdua ini sebetulnya salah. Bisa membuat kita bermasalah juga." Kataku pelan
"Aku sadar. Tapi kenapa rasanya menyenangkan? Sudah sekitar 3 minggu kita kembali dipertemukan, dan aku merasakan kembali kebahagiaan yang dulu pernah kurasa. Emang kamu nggak?" Tanya Anggi sambil menatapku

Aku terdiam sambil menatapnya tanpa putus. Aku dibuat bingung untuk menjawab pertanyaannya. Jika aku jujur, aku memang senang bertemu dengannya lagi, maka kami akan semakin jauh 'berpetualang'. Dan jika aku bohong, tak menutup kemungkinan juga Anggi akan semakin gencar mengejarku. Aku sudah memasuki jalan yang salah terlalu dalam kali ini.

"Mata kamu gak bisa bohong." Kata Anggi sambil tersenyum
"Kenapa sih kamu kayanya berat banget mau cerita tentang hidup kamu sampai menikah ini?" Tanyaku
"Karena kalau kamu tau, kamu akan ninggalin aku. Dan aku gak mau itu terjadi." Kata Anggi
"Ya gak gitu juga, Gi... kita bisa tetap berteman kan." Ujarku
"Aku janji akan cerita pelan-pelan. Toh pelan-pelan kamu aku bukain rahasiaku yang orang lain gak tau... ini contohnya, apartemen yang cuma kamu tau selain aku." Ujar Anggi
"Tapi benar kan.. kamu gak bahagia dengan pernikahan kamu?" Tanyaku untuk yang entah keberapa kalinya
"Iya.. pernikahanku hanya topeng. Entah Fauzan bahagia atau tidak denganku. Tapi aku nggak merasakan apa-apa dengan pernikahan ini." Ujar Anggi sambil menatap kosong

Lalu hening diantara kami berdua. Masing-masing dari kami dipenuhi oleh berbagai pikiran atau pertanyaan yang mungkin akan kami tanyakan. Tapi itu semua hanya berputar-putar di kepala kami saja.

"Aku janji kita akan ngobrol lagi next-time.. tapi aku kayanya mesti kembali ke kantor." Ujarku setelah melihat jam yang sudah melewati pukul 13.
"Di Bali kita ngobrol ya? Janji?" Tanya Anggi yang beranjak berdiri dan mendekatiku
"Kalau kamu bisa nyusul, ya kita ngobrol. Ngobrol aja kan?" Tanyaku
"Ngobrol aja, emang kamu gak mau makan-minum-jalan?" Ujar Anggi sambil tersenyum menggemaskan dan bertolak pinggang
"Pertanyaan kamu konyol." Ujarku tersenyum dan mengucek-ucek rambutnya

Sekilas dia seperti hendak memelukku, tapi gak jadi. Dia hanya berkata lirih, yang aku agak kurang jelas dengar. Tapi aku yakin bibirnya berkata;

"I'm still in love with you."

Namun aku pura-pura gak dengar. Hingga dia kembali mengantarku ke kantor siang itu, tak banyak yang kami perbincangkan. Aku agak merasa risih sebetulnya, tapi ada sisi lain dariku yang tertantang. Apalagi setelah melihat apartemen Anggi tadi, aku jadi memiliki fantasi tertentu.

"Hati-hati ya, Bey. Salam buat Ilana, penasaran sih aku mau ketemu dia." Kata Anggi ketika aku akan turun
"Buat Anna-nya gak mau nitip salam?" Tanyaku
"Ilana aja." Ujar Anggi sambil tersenyum
"Hahaha... Insya Allah aku sampaikan." Kataku, tentu saja gak yakin Ilana akan mengerti jika aku sampaikan

Hari itu terakhir kami bertemu sebelum secara 'nakal' janjian akan ke Bali nantinya. Tapi pesan-pesan WA antara kami berdua tetap berlangsung, hingga kami tiba di Bali beberapa hari kemudian.



profile-picture
profile-picture
profile-picture
rendy8est dan 26 lainnya memberi reputasi
27 0
27
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Hypnophobia & Kisah Cintaku
13-03-2019 23:57

Part 128b, Tahun 2013


Quote:

Sepertinya aku tertidur karena menunggu Anggi atau karena lelah dan kenyang, aku agak kaget ketika mendengar dering ponselku memanggil. Benar saja, itu Anggi. Langsung saja aku menjawab panggilan itu.

"Bey, kamu gak kenapa-kenapa kan?" Tanya Anggi dengan suara agak khawatir
"Maaf, Gi. Aku kayanya ketiduran nih. Kamu dimana?" Kataku
"Aku udah di lobi hotel kamu, coba deh liat udah berapa kali tuh aku missed-call. Aku pikir kamu gak mau ketemuan aku terus pulang diam-diam.." Kata Anggi

Dari nadanya sepertinya dia hampir menangis.

"Maaf.. maaf, bentar aku turun ya. Ganti baju dulu, aku masih pakai baju batik soalnya. mau ganti pakaian santai dulu. Oke?" Kataku berusaha menenangkan Anggi
"Iya.. jangan lagi-lagi kaya gitu ya. Rasanya gak enak tau." Ujar Anggi
"Ya nanti kan ngobrol juga. Tunggu deh." Kataku dengan perasaan gak menentu, lalu menutup panggilan itu

Rasanya aneh, dia bukan siapa-siapaku juga. Cuma mantan pacar, tapi kenapa aku jadi ngerasa gak enak begini sama dia? Begitu juga dia, terdengar agak kecewa dan mengharap sekali kehadiranku segera. Aku dengan cepat segera berganti pakaian, mengenakan kaos polo tapi gak ganti celana karena masih mengenakan jeans. Setelah menyempatkan melihat jam sejenak, ternyata sudah masuk waktu Ashar. Sehingga aku memutuskan untuk sholat dulu sebelum segera turun ke lobi.

Aku melihat Anggi sedang duduk di lobi memainkan ponselnya. Dia terlihat menggemaskan dengan mengenakan kemeja putih lengan panjang berbahan tipis tembus pandang dengan 2-3 kancing atasnya dibiarkan terbuka, tapi dibaliknya dia mengenakan tanktop. Kakinya dibungkus dengan celana panjang chino biru se-mata kaki serta sepatu sport berwarna biru. Rambutnya digelung indah membiarkan beberapa helai rambutnya bebas serta aku bisa melihat lehernya juga. Entah kenapa waktu itu aku rasanya dag-dig-dug gak karuan melihatnya. Jujur saja... aku melupakan Anna dan Ilana saat itu.

"Hai, Gi... Maaf ya." Kataku ketika menghampirinya
"Berapa banyak aku missed-call." Ujarnya dengan wajah mencucu dan menyilangkan kedua lengannya
"Hmmm... 10 kali. Maaf hehehe... aku cape, jadi ketiduran. Mau langsung jalan atau ngobrol dulu?" Tanyaku

Anggi pun bangkit dan menyerahkan kunci mobil padaku sambil tersenyum. Harum tubuhnya membuat 'gairah lelaki'-ku terusik. Kutahu, dia memang sejak dulu selalu seperti ini. Bahasa tubuh dan kemampuannya merawat tubuh selalu membuatku penasaran. Untuk urusan ini, dia memang lebih baik dibanding Anna. Tapi kusadari, perbedaan kasta ekonomi tentunya yang membuat Anggi memiliki kelebihan disitu.

"Ayo deh." Ujarku sambil melirik kunci mobil yang dipegangnya, mobil ber-merk sama dengan yang dia pakai di Jakarta
"Ke Uluwatu ya. Nonton Tari Kecak." Kata Anggi
"Iya aku ingat kok. Abis itu?" Tanyaku
"Terserah kamu. Nginep ya di tempatku?" Tanya Anggi pelan

Aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Bukan menolak, tapi seperti gak percaya dengan ajakan Anggi. Walaupun aku sudah bisa menduganya. Karena apalagi yang akan diharapkan dari kedua orang yang sudah menikah, lalu melakukan apa yang sedang kami lakukan sekarang ini (selingkuh?) jika gak mencari tempat untuk berduaan?

Awal perjalanan, kami banyak diam. Ada perasaan aneh menjalar diantara kami berdua pastinya. Kami sadar bahwa kami berdua saling rindu, tapi ini tak benar. Beberapa kali kulihat Anggi memainkan ponselnya, atau kadang jemarinya beberapa kali hendak meraih lengan kiriku yang berada di tuas persneling. Ketika kami mulai melewati GWK, barulah sepertinya Anggi gak tahan. Jemari lembut itu akhirnya mulai memegangi lenganku atau jemariku ketika aku tak mengganti posisi gear. Aku terbawa suasana dan akhirnya ikut merasakan nikmatnya kembali genggaman jemari itu. Jalanan yang tak terlalu ramai tentunya membuat kami bisa bebas berpegangan tangan.

"Ada yang tau kamu kesini?" Tanyaku pada Anggi ketika kamu sudah mulai masuk ke area Pura Pecatu di Uluwatu
"Mama aja yang tau." Kata Anggi
"Kita nakal ya, Gi?" Tanyaku pada Anggi sambil nyengir ketika kami akan turun dari mobil
"Iya.. kalau nakal jangan nanggung-nanggung. Rugi lho.." Ujarnya sambil mencubit lenganku

Yang terlintas di kepalaku saat itu, she wants 'it'. Aku bisa merasakan gejolak birahi yang tinggi dari Anggi. Cuma saja, dia kini lebih mahir dan cerdas dalam mengendalikannya. Tapi tetap, aku bisa merasakannya.

Sore itu, kami berdua menikmati tontonan Tari Kecak sementara aku membiarkan Anggi memeluk lenganku dan menempelkan tubuhnya ke lenganku itu. Tiupan angin dari laut lepas yang menerpa tebing di Uluwatu ini cukup dingin tapi tak mengkhawatirkan. Beberapa kali Anggi mengecup pundakku dan aku biarkan dia melakukan itu. Sama sekali tak ada perkataan atau ucapan yang keluar dari mulut kami berdua, tapi lagi-lagi aku makin bisa merasakan kalau Anggi sudah gelisah dan gak bisa diam. Bukan dalam artian dia gak suka berada disini, tapi dia ingin 'lebih'.

Dia sudah merasakan ada 'angin segar' dari diriku dengan perilakunya ini. Sementara dia begitu, aku masih diliputi oleh pertentangan batin. Bayangan Anna dan Ilana yang menanti di rumah, senyum dan tawa mereka. Namun bayangan itu kadangkala terlewati ketika tubuh hangat dan sentuhan Anggi yang bertubi-tubi disebelahku ini terus menggedor dinding akal sehatku. Entah apa yang ada di pikiran Anggi, dia sepertinya begitu menikmati kebersamaannya denganku. Apa yang dia lakukan terasa lepas dan tanpa ada keraguan sedikitpun. Membuatku semakin penasaran apa alasan dia melakukan semua ini.

Sedikit-demi-sedikit, rasa penasaranku terjawab. Ketika kami makan malam di Jimbaran, restoran yang berbeda dengan tempatku makan semalam, tapi dengan suasana yang kurang lebih sama saja.

"Aku mulai kembali dikenalkan pada Fauzan setelah kamu nikah dengan Anna." Kata Anggi, kami sudah selesai makan saat itu.

Dengan sendirinya Anggi berkata-kata, setelah aku bertanya kapan dia bertemu dengan Fauzan.

"Kamu gak pacaran sama orang lain dulu?" Tanyaku
"Nggak. Dia yang saat itu sedang pacaran sama bule." Kata Anggi
"Dia tau kamu mau dijodohkan denganmu?" Tanyaku lagi
"Iya dia tau. Kami sudah kenal sejak dulu, Bey. Tapi aku gak pernah anggap itu serius karena kami kenal ya sekedar kenal aja jaman masih sekolah. Kak Avia yang pernah menceritakan dulu." Kata Anggi

Quote:

Ketika itu, sedang ada sebuah acara undangan pernikahan yang dihadiri oleh keluarga Pak Rajo juga.

"Gi, itu si Fauzan anaknya Pak Cokro. Kata papa sih, kamu cocok buat dikenalin sama dia." Kata Kak Avia
"Kenalin ya kenalin aja.. emang mau ada apa juga?" Tanya Anggi polos
"Buat dijodohin kali hahaha.." Kata Kak Avia

Waktu itu, Kak Avia pun gak tahu menahu mengenai rencana masa depan dia yang juga akan dijodohkan. Anggi masih SMP sementara Kak Avia masih kuliah semester awal.

"Ada-ada aja sih papa. Kalau cakep boleh juga hehehe.." Kata Anggi
"Cakep kok, tuh liat orangnya." Kata Kak Avia

Ternyata memang dia pria yang keren, untuk ukuran anak orang kaya. Kurang lebih, bisa lah dibandingkan dengan Aldi Bragi. Tapi posturnya lebih gemuk dan, tapi bukan gemuk yang letoy. Agak gempal dan berkulit putih seperti kamu, Bey.




"Terus, sejak itu kalian gak pernah ketemuan?" Tanyaku
"Ya pernah sih.. jaman aku SMU. Tapi aku juga masih sama, biasa aja saat itu. Kan aku udah punya pacar." Kata Anggi
"Dia?" Tanyaku
"Nggak tau lah.. aku gak nanya-nanya hehehe..." Kata Anggi
"Kamu gak kedinginan?" Tanyaku melihat bajunya yang agak melambai-lambai tertiup angin
"Biasa aja kok. Mau peluk aku ya?" Tanya Anggi dengan nada menantang tapi sambil nyengir
"Nggak. Kalau aku aku peluk nanti kamu ketagihan." Kataku bercanda
"Aku mau kok ketagihan dipeluk kamu. Udah lama gak dipeluk soalnya." Ujar Anggi masih menatapku nakal
"Gila kamu.." Ujarku gak berani menatapnya
"Hahaha..." Anggi hanya tertawa renyah
"Gimana rasanya kenalan lagi setelah lama gak ketemu?" Tanyaku

Saat bertanya itu, ada sedikit rasa cemburu yang kurasakan di hatiku. Entah kenapa perasaan itu timbul. Apakah karena suasana kami berdua saat ini sedang 'on-fire'? Atau memang sebetulnya aku masih sayang padanya? Atau ada hal lainnya?

"Ya... kamu cemburu ya?" Ujar Anggi hendak menjawab, tapi dia malah menggodaku dengan bertanya

Aku suka sekali wajahnya jika sedang menggodaku. Mimik wajahnya itu jujur saja membuatku jadi lupa kalau di Jakarta aku sudah terikat dengan Anna dan Ilana.

"Lho.. kok mikir kesana?" Tanyaku dengan menahan senyum
"Iya deh, aku gak jadi nanya.. hahahaha.." Kata Anggi sambil meraih dan menggenggam jemariku, yang tentu saja aku biarkan
"Terus lah... kan aku nanya." Ujarku gemas
"Ehem.. biasa aja sih waktu itu. Gak ada rasa apa-apa.. kan akunya masih kepikiran kamu. Kami dikenalkan sama Ibunya Fauzan. Kebetulan Bu Cokro itu lagi liburan, dan dia diingatkan oleh Pak Cokro kalau aku kuliah disana juga. Ya udah.. ketemuan lah kami. Agak canggung awalnya, tapi aku tau dia agak tertarik padaku. Agak lho ya.. soalnya dia sedang pacaran sama bule waktu itu." Kata Anggi
"Cakepan kamu dong daripada bulenya?" Ujarku bercanda
"Ya iya lah... coba kamu elus nih kulit aku.. bule mana bisa nyaingin kulit kita sih? Buat yang senang ngelus-ngelus, orang asia udah paling the best deh kulitnya. Kita tuh cuma kalah sama ras sipit. Apalagi orang Jepang, juara deh mereka kalau urusan kulit mulus. Tapi aku mana bisa dikalahin sama mereka." Ujar Anggi agak menyombongkan diri.

Ya wajar sih, dia selalu menggunakan perawatan kelas wahid. Spa, pijat, salon dll. Saat bersamaku dia gak pernah mengajakku ke salon atau tempat perawatan karena dia maunya saat aku hadir maka waktunya harus habis bersama denganku saja. Salah satu poin plus yang aku gak bisa lupa darinya.

"Hahaha.. sombong bener." Kataku tertawa lepas
"Becanda, Bey.. gitu aja kamu anggap serius hahaha..." Kata Anggi ikutan tertawa
"Ya udah lanjut.. terus kalian pacaran?" Tanyaku
"Eh.. to the point banget? Beneran nih kamu pasti cemburu hahaha..." Kata Anggi

Aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepala sambil tetap menatapnya.

"Kami gak bisa disebut pacaran. Gak pernah ada komitmen di antara kami berdua. Yang kutahu, Fauzan kayanya terpaksa putus dari si bule itu. Bibit-bebet-bobot .. kamu tau lah. Sama kaya aku yang terpaksa putus sama kamu." Ujar Anggi dengan datar
"Udah lah.. masa itu udah lewat, Gi." Ujarku sambil menggenggam jemarinya
"Skip-skip... masa menjelang nikah, gak ada yang istimewa. Kebersamaan kami kayanya datar aja, dia nggak sih. Aku yang ngerasa datar, I don't love him. I just care for him. Dia baik, tapi aku gak cinta sama dia. Aku berusaha mencintai dia tapi gak bisa, Bey. Yang ada... aku jadi kasihan sama dia. Saat menikah dengannya, aku menangis. Sama seperti banyak mempelai wanita yang pasti nangis saat ijab qobul." Kata Anggi
"Tapi?" Tanyaku
"Tangisku bukan karena aku sedih berpisah dengan keluargaku atau akan dinikahi orang." Kata Anggi getir

Aku tetap menanti jawabannya. Kutatap wajahnya, dia sedang menggigit bibirnya yang bergetar sementara beberapa kali dia membuang pandangan matanya.

"Aku waktu itu menangis karena aku sedih, aku menyia-nyiakan hidupku untuk dinikahi orang yang tidak aku cintai sama sekali. Until this day and maybe later on." Kata Anggi, jemarinya memegang jemariku dengan erat sekali

Kulihat bulir-bulir air mata mulai menetes dari matanya. Aku seperti sedang menggali kuburnya, yang mungkin sudah lama dia timbun rasa sakitnya.

"Sori, Gi. Aku gak bermaksud sejauh ini menggali ingatanmu." Ujarku menyesal
"It's ok, Bey. Aku yang mau sharing denganmu. Aku senang bisa share ini dengan kamu kok. Sedih sih.. tapi ya udah. It's my life..." Kata Anggi dengan mata berkaca-kaca tapi bibirnya tersenyum
"Tapi dia cinta sama kamu kan?" Tanyaku mencari celah untuk menghiburnya
"Aku gak tau.. mungkin dia cinta, tapi mungkin juga dia merasakan yang sama denganku." Kata Anggi
"Kalian ... " aku hendak bertanya mengenai kehidupan sex mereka, menggunakan tatapan mata dan anggukan kepala

Anggi tersenyum sebelum menjawab.

"Dia laki-laki pertama yang ... ya kamu tau lah.. tapi bukan sebelum nikah. Kami melakukannya resmi setelah menikah, dan itu sulit sekali karena aku tidak menikmatinya. Dia yang menikmatinya." Ujarnya
"Sampai sekarang kalian masih..?" Tanyaku dengan tatapan yang sama
"Iya, tapi jarang. Aku gak pernah minta, aku melayani dia sepenuh badan saja tanpa menolaknya sekalipun. Karena aku gak pernah menikmatinya." Kata Anggi
"Apa yang ada dipikiran kamu, Gi? Bagaimana dia bisa enjoy seandainya kamu seperti itu?" Tanyaku penasaran banget

Aku gak pernah menghadapi wanita yang seperti sedang 'diperkosa' secara resmi seperti itu di atas ranjang. Jadi kasus Anggi ini bagiku menarik untuk aku kupas lebih dalam.

"By faking it. Banyak lah cara.. pelumas salah satunya." Kata Anggi pelan
"Wow.. dia gak curiga?" Tanyaku
"Setauku, dia gak curiga. Kalau lagi kepingin, ya dia udah mancing-mancing .. jadi aku sudah tau dan mempersiapkan diri. Gak pernah kami spontan, karena kalau spontan.. biasanya aku tolak." Ujar Anggi lugas

Aku pun mengangguk-anggukan kepala saja mendengar penjelasan Anggi. Satu sisi ada rasa iba yang aku rasakan pada Fauzan, namun di sisi lain aku pun bersyukur serta berharap semoga Anna gak berlaku yang sama seperti Anggi.

"Gi, udah malam nih. Mau jam 22... pulang yuk." Ajakku sambil melihat jam
"Kamu anter aku dulu ya? Lalu kamu nanti bawa aja mobilnya. Besok jemput aku pagi-pagi." Kata Anggi
"Emang kamu gak mau kemana-mana lagi malam ini?" Tanyaku
"Nggak. Mau istirahat aja, biar besok jalan sama kamu seharian jadi enak dan segar." Katanya tersenyum
"Oke.." Ujarku

Tak lama kami pun sudah kembali ke mobil, dan segera meluncur ke tempat Anggi menginap yang tak jauh dari posisi kami makan malam tadi. Aku antar dia hingga sampai ke pintu masuk bungalow-nya. Jantungku makin berdegup kencang, karena angin malam semilir sementara tangan kami berdua saling menggenggam dengan erat sehingga membuat hangat-hangat 'birahi'. Bau tubuh Anggi yang khas dan bercampur parfumnya tak berubah sejak aku mengenalnya dulu.

"Masuk dulu ya?" Ajaknya sambil menarik tanganku.

Dan aku pun tak kuasa menolak, karena lagi-lagi rasa penasaran kaum jelata seperti diriku yang ingin menikmati keindahan tempat menginap jetset ini. Begitu masuk, bau harum semerbak tercium. Bukan harum horor tapi harum yang membuat nyaman. Aku terpana melihat bagian dalam bungalow ini. Begitu luas, banyak pintu-pintu yang menghubungkan ke ruang duduk, kamar tidur, kamar mandi lalu ke teras yang pintunya terbuka dan terasa angin bertiup ke dalam.

Terdengar pula sayup-sayup deburan ombak, serta gemericik air yang tak jauh. Sepertinya di depan teras ada kolam renang. Walaupun sudah malam, tetap kita bisa melihat ada apa di balik kolam renang itu. Lautan lepas samudera Hindia. Aku pun hanya berdiri saja di pintu teras itu menatap keindahan alam yang terbungkus remang-remang gelap malam dan dihiasi oleh sinar bulan.

"Kamu sendirian nginep disini gak apa-apa, Gi? Tempat ini gede banget. Setengah apartemen kamu mungkin gedenya." Kataku sambil menatapnya yang berdiri di sampingku
"Aku kan udah ajak kamu nginep. Tapi kamu gak mau, kita bisa ngobrol sepuasnya disini. Mungkin kamu mau berenang malam-malam, atau tiduran di bale-bale itu sambil ngeliatin langit malam diatas Samudera Hindia itu." Ujar Anggi menggoda

Diubah oleh rullyrullzzz
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rendy8est dan 30 lainnya memberi reputasi
31 0
31
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Hypnophobia & Kisah Cintaku
13-03-2019 23:58

Part 128c, Tahun 2013



Quote:

Jemari kami masih saling menggenggam.

"Aku memilih pulang aja deh hahaha... Besok pagi aku kesini lagi setelah sarapan." Ujarku
"Aku gak bisa melarang. Kita istirahat aja dulu ya masing-masing. Supaya besok fit. Kemana kita besok?" Tanya Anggi
"Makan siang di Bedugul gimana? Ada ayam taliwang enak. Sorenya kita ke Tanah Lot liat sunset lagi. Malamnya... terserah kamu." Kataku
"Terserah aku ya?" Tanya Anggi
"Iya. Kalau boleh, aku mau explore tempat ini. Numpang santai.." Ujarku
"Oke.. kita pesan dinner disini aja besok ya." Kata Anggi
"Deal. Sekarang aku pulang dulu." Ujarku
"Iya. Thanks ya udah nemenin aku dan mau jadi pendengar keluh kesahku." Ujar Anggi
"No problem." Ujarku

Setelah menutup pintu bungalow dan memastikan dia menguncinya, aku pun meninggalkan bungalow itu untuk termenung dulu di mobil sewaan Anggi yang akan aku bawa pulang ke tempatku menginap. Aku tak termenung untuk urusan penginapan, tapi memikirkan mengenai perilaku yang telah kulakukan dengan Anggi sejak tadi. Salah.. salah banget tapi kenapa terasa enak dan nyaman. Dan sebagai penebus rasa bersalah itu, aku pun menyempatkan menelpon Anna saat itu juga.

Mendengar suaranya dan suara Ilana, bercanda dengan mereka sejenak dan menyimak apa yang mereka lakukan. Tak terasa 20 menit aku menghubungi Anna dari dalam mobil, tapi mobil masih terparkir. Aku sudahi juga perbincangan dengan Anna itu dan aku menuju ke penginapanku. Ditutup dengan pesan WA dari Anggi;

'Selamat istirahat Bey. Aku senang banget walau cuma sebentar. Can't wait for tomorrow. XOXO' - Anggi

****

Sabtu.

Setelah pagi menelpon Anna untuk bertukar salam dan kangen (atau melepas rasa bersalah?), aku menyempatkan untuk sarapan walau sedikit. Anggi pun sudah mengirim WA menanyakan kabarku, dengan kata lain ngabsen menanyakan kepastian untukku datang kembali ke tempatnya. Aku katakan padanya sekitar pukul 8 pagi mungkin aku sudah akan mengetuk pintu bungalow-nya. Dan memang begitu adanya.

Dia menyambutku dengan senyum yang lebar, sudah cantik dan sudah siap untuk berangkat. Sementara aku hanya mengenakan kemeja lengan pendek dan celana jeans, dia mengenakan semacam kemeja berbahan tipis tapi tak tembus pandang dan tanpa lengan serta celana jeans diatas mata kaki yang tak ketat. Dia juga mengenakan sepatu yang sama dengan kemarin, gak akan nyaman jika dia mengenakan sepatu heels. Rambutnya pun juga digelung seperti kemarin, biar gak gerah karena kita pasti paham kalau suhu di Bali pasti panas dan gerah.

"Kamu kok pakai baju lengan terbuka? Gak takut terbakar kulitmu?" Tanyaku
"Matahari kita bagus untuk vitamin D, Bey. Itu kenapa bule-bule senang kulitnya kena matahari." Kata Anggi
"Oooh... Udah sarapan?" Tanyaku lagi sambil duduk manis di salah satu sofa
"Udah dong, berangkat buruan yuk. Katanya nanti malam mau santai disini, jangan pulang buru-buru ya nanti. Macet lho kalau malam mingguan, dinner disini aja. Aku udah pesan makan malam, nanti disiapkan mungkin sebelum jam 20." Kata Anggi
"Iya deh." Kataku

Dan kami pun berangkat langsung ke arah utara dari Jimbaran, karena letak Pura Ulun Danu itu agak ke tengah dari pulau Bali ini. Sebelumnya kami memastikan untuk memenuhi tangki bensin agar nyaman serta kami berdua menyempatkan mampir ke salah satu jaringan mini market yang menjamur (cuma ada tiga sih waktu itu I-maret, A-maret dan Lingkaran-K) di Bali ini. Membeli minuman, biskuit dan permen. Tak bisa dipungkiri, kalau ada kenalan atau orang yang melihat kami berdua sudah dapat dipastikan kalau kami pasti dianggap suami istri atau sedang pacaran. Paling tidak itu yang aku rasakan saat itu, mungkin Anggi pun begitu.

Jarak perjalanan kalau dikira dan dihitung sekarang, sekitar 69km dengan waktu tempuh mungkin 2 jam untuk sampai ke Pura itu. Tapi nanti jika sampai disana pun kami gak tau mau ngapain, selain mau makan siang yang kepikiran di kepalaku. Tempat makan Ayam Taliwang yang tak jauh dari mesjid di seberang Pura itu memang memorable untukku. Karena saat bulan madu dengan Anna, aku sampai dua kali balik kesana hanya untuk makan itu saja dan sekalian sholat Jumat juga disitu. Dan kini, aku mungkin akan mengukir kenangan baru dengan pergi bersama Anggi kesana. Semoga saja karyawan tempat itu gak ingat dengan siapa aku pergi dulu.

Anggi berkali-kali menarik lenganku untuk dikecup dan dicium olehnya. Membuatku merinding dan awalnya risih, tapi karena dia terlalu sering melakukannya jadinya aku merasa tergelitik hingga ke selangkangan. Dia begitu melampiaskan kerinduannya dan sibuk dengan memainkan lenganku yang emang nganggur karena mobil ini matic. Walaupun perjalanan agak ramai, karena ini Sabtu dan tentunya kami gak sendirian yang ke Ulun Danu, kebanyakan aku hanya menggunakan rem tanpa mengganti posisi gear. Sehingga secara gak langsung aku mendukung tingkah laku Anggi yang makin menjadi-jadi itu.

"Kenapa kamu dulu gak mau sih begini?" Tanya Anggi
"Nggak tau." Jawabku
"Ini enak banget." Kata Anggi lalu menggigit lenganku dengan lembut, kurasakan dia sedikit menyedot kulitku dengan pelan
"Aduh... sakit lah." Kataku kaget, padahal gak sakit
"Mana sakit... aku gak gigit pake tenaga." Kata Anggi sambil memeluk-meluk lenganku

Bahan baju yang tipis itu ditambah ketebalan bemper Anggi yang kenyal membuat lenganku merinding dan tentu saja berpengaruh pada keadaan di sekitar selangkanganku. Dan dia melakukan itu hampir sepanjang perjalanan.

"Kita gak perlu foto-foto kan ya? Soalnya aku lihat kamu gak bawa kamera." Kataku sedikit mengalihkan pembicaraan
"Aku belum gila, Bey. Biar aja memori ini semua tersimpan di otak kita." Kata Anggi sambil nyengir
"Berarti sekali lagi... kita sadar ya kalau kita ini lagi ngapain?" Tanyaku pada Anggi
"Aku sih sadar tapi gak peduli... kamu? Kepikiran Anna ya?" Tanya Anggi

Aku terdiam sambil menatap jalanan yang membentang di hadapanku. Tak bisa menjawab.

"Jangan diungkit-ungkit kalau gitu, Bey. Kita nikmati aja ya?" Kata Anggi

Di luar dugaanku, dia pun meraih kepalaku dan mengecup pipiku cukup lama. Membuatku agak kaget tapi seperti kesetrum, ada semacam pemicu yang membuatku ingin kembali diperlakukan seperti itu oleh Anggi. Padahal kalau aku pikir dengan seksama, pertanyaan yang tadi aku ajukan pada Anggi adalah pengendali akal sehatku yang sebenarnya. Itu yang membuatku seharusnya bisa mengendalikan diri. Mengenai cium pipi barusan, tak menutup kemungkinan akan membuka jalan menuju ke hal-hal lain. Setelah itu, Anggi agak kalem dibanding tadi. Mungkin dia merasa malu secara tiba-tiba mencium pipiku. Mungkin juga dia merasa seperti kembali ke masa kami awal-awal pacaran dulu. Dan kurang ajarnya, aku pun seperti lupa kalau sebetulnya sudah menikah.

Siang itu, aku dan Anggi cukup lama berada di Pura Ulun Danu. Menikmati hawa sejuk sambil duduk-duduk di salah satu pendopo yang menghadap ke arah danau. Menyaksikan turis yang berlalu lalang, sambil berharap gak ada orang lain yang mengenal kami berdua. Dan memang kami sepertinya agak 'beruntung' siang itu karena tak ada yang mengenal kami. Anggi dan aku sama-sama mengenakan sunglasses, sebagai salah satu cara kami berdua sedikit menyamarkan diri. Kami berdua berbincang banyak mengenai kegiatan kami sehari-hari. Tentunya sama sekali gak menyinggung mengenai kehidupan rumah tangga kami berdua. Tak akan muat jika satu-persatu aku jabarkan disini.

Setelah makan siang, kami mampir dulu di mesjid yang tak jauh dari tempat makan dan kemudian melanjutkan kembali perjalanan menuju selatan ke arah Tanah Lot, sebelum nanti kami kembali ke Jimbaran untuk makan malam di tempat menginap Anggi.

Di Tanah Lot itu, aku yang dari tadi merasa ragu-ragu dan agak menahan diri malah terbawa oleh suasana dan mulai berani merangkul-rangkul Anggi. Enak rasanya kembali bisa merengkuh lengan lembut Anggi yang terbuka itu. Sementara dia pun juga cuek aja mulai memeluk-meluk diriku setiap ada kesempatan. Cuma ciuman aja yang belum kami lakukan, tapi melihat apa yang kami 'capai' di hari ini. Aku rasa, hal itu akan terjadi. Jika tidak pada hari ini, akan terjadi segera di waktu yang dekat. Kami berdua sudah semakin hanyut dalam dosa yang memabukkan ini. Rasa penasaranku dan rindu tak tertahankan yang dirasa Anggi, kini melebur jadi adonan perselingkuhan yang nikmat dan nyandu.

Tak banyak yang kami bahas di Tanah Lot ini, selain hanya menikmati sunset dan .. berpelukan tanpa canggung. Kami melupakan posisi kami yang sudah menjadi suami dan istri orang.

"Aku lapar Gi.. Gak keberatan kan kalau kita balik sekarang?" Ujarku
"Iya.. ayo kalau gitu. Tumben kamu lapar begini hehehe.." Kata Anggi masih memelukku, sambil kami berjalan bareng menuju parkiran
"Entah nih kenapa.. tapi ya emang lapar beneran. Kamu pesan apa buat makan malam di tempat kamu?" Tanyaku
"Their best menu, Lobster and Steak. Terserah kamu mau yang mana, aku suka diantara keduanya." Katanya
"Tiga hari disini, makananku udah kaya sebulan makan kali ini kolesterolnya hahaha..." Kataku sambil tertawa
"Kan kita cape, wajar kayanya makanan enak untuk menggantikan energy-nya." Kata Anggi

Dan akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke The V*llas, sepanjang jalan kami berdua bersenandung ibarat orang pacaran mengikuti lagu-lagu yang diputar oleh radio. Hingga kami tiba di tujuan, dengan tubuh agak peliket. Bodohnya, aku sadar kalau gak bawa baju ganti. Sementara Anggi karena menginap disini tentu saja dia bisa dengan mudah berganti pakaian.

"Gi, aku gak bawa baju ganti. Gak apa ya, kalau ada bau gak enak." Ujarku sambil mencium-cium bau tubuhku sendiri yang sudah bercampur dengan parfum.
"Kamu gak BB kok, Bey. Dari tadi aku suka kok meluk-meluk kamu. Aku BB gak?" Tanya Anggi sambil menggandengku menuju ke kolam renang
"Kamu juga gak BB, enak-enak aja nih baunya." Ujarku sambil mengendus Anggi

Dan dia kembali mencium pipiku.

"Thanks Bey.. padahal aku peliket gini." Katanya

Rupanya di bale-bale sudah terhias dengan lilin serta lampu minyak. Kami tinggal menunggu kedatangan pelayan resort mengantar makanan. Sekitar 30 menit kami menanti, datanglah mereka membawa makanan yang kami tunggu. Karena aku dan Anggi sama-sama merasa gak enakan, kami putuskan untuk suit sambil tertawa-tawa untuk memilih diantara Lobster seukuran lengan tangan atau daging steak yang tersaji dalam keadaan medium dihangatkan dengan hot-stone. Pemenang suit, mendapatkan Lobster dan yang kalah dapat steak. Aku yang akhirnya mendapatkan lobster itu.

Kami makan malam disitu sambil bercanda-canda, melupakan diri kami yang sudah menikah dan memiliki pasangan masing-masing nun jauh dari sini. Tubuh lelah dan peliket, pun kami lupakan. Hingga Anggi mengajakku berenang malam.

"Renang yuk Bey. Biar peliket ini hilang." Kata Anggi bersemangat, ketika piring-piring dan berbagai perkakas makan sudah dibereskan dan dijemput oleh para pelayan
"Aku gak bawa baju ganti, Gi. Apalagi celana renang. Besok pagi aja deh aku numpang berenang." Ujarku
"Pake celana dalam aja hahaha..." Ujar Anggi
"Nggak ah.. malu hehehe.." Kataku
"Aku gak malu.. gak tahan. Kamu mau nonton aja terserah ya.. aku duluan." Kata Anggi

Aku awalnya mengira dia bercanda, tapi ternyata dia dengan cueknya menuju ke kolam renang dan menanggalkan pakaiannya membelakangiku dan membiarkan dirinya nyemplung ke kolam renang cuma mengenakan bra dan celana dalamnya. Jujur saja, aku menganga melihatnya seperti itu. Lelah yang kurasa seharian ini tiba-tiba hilang dan darah mengalir dengan cepat ke otak serta selangkanganku.

"Ayo Bey, sini. Ngapain sih malu?" Katanya di pinggir kolam renang memamerkan pundaknya yang bersinar dihias dengan tali bra-nya
"Aku nonton aja deh." Ujarku dari pinggir kolam renang
"Apa aku mesti jemput kamu nih?" Katanya menantang
"Boleh sini jemput." Ujarku sambil tertawa bercanda, mengira dia gak akan berani

Tiba-tiba dia keluar dari kolam, dan tubuh indah itu terpampang di depanku. Seketika aku seperti berhenti bernapas, jantungku berdegup kencang, panca inderaku tak bisa kugerakkan. Walaupun kedua titik surga dunia itu tertutup oleh underwear dan bukan baju renang, justru itu yang membuatku serba salah. Karena lekuk-lekuk tubuhnya justru semakin terlihat. Dia berdiri saja sejenak di depanku sambil bertolak pinggang.

Tapi dengan refleks malah aku mengambil handuk dan menyerahkan padanya.

"Dingin ah .. jangan kelamaan di luar kolam." Ujarku
"Kamu selalu pura-pura jual mahal. Aku udah gak bisa nahan lagi kali ini, karena aku tau kamu sebetulnya juga menginginkan aku." Ujar Anggi terdengar percaya diri

Lalu dia menepis handuk yang ada di tanganku. Dan tubuh basah itu mendekat, jemarinya meraih leherku sementara aku terdiam dalam kaget yang 'menyenangkan'. Dalam hitungan detik, apa yang aku pikirkan tadi sore pun kini sudah terjadi. Dulu aku yang memulai ini, namun kini Anggi sudah bukan gadis yang malu-malu seperti dulu. Dia sudah menjadi wanita seutuhnya yang mengerti dan menikmati salah satu kenikmatan dunia ini. Begitu bibir beradu, maka hilanglah semua malu dan takut. Yang ada hanyalah rasa nyaman dan birahi.

Awalnya aku berusaha mundur dan menolak, tapi kelembutan bibir dan hembusan napas Anggi serta tubuhnya yang hangat-hangat basah membuat pertahananku jebol. Ingatan tentang Anna dan Ilana di Jakarta buyar seiring dengan jemari Anggi yang perlahan menarik jemari dan lenganku untuk memeluk pinggangnya. Begitu aku memeluk tubuhnya, Anggi pun perlahan mulai satu persatu melepas pakaianku. Menyebabkan aku kehilangan kontrol akan diriku sendiri.

Dan perlahan.. aku pun mulai terhanyut, terbawa arus dan tenggelam makin dalam ketika kami dengan lambat namun pasti mulai menanggalkan satu persatu apa yang kami kenakan. Anggi yang sekarang benar-benar sudah berbeda dengan yang kukenal dulu. Apa yang dulu tak bisa kami nikmati, kini bisa kami rengkuh dengan bebas walaupun bukan tanpa beban.

Kami seperti tak peduli lagi dengan status yang kami miliki sekarang. Yang ada di hadapan kami adalah seperti saling berlomba untuk mencari kenikmatan, kepuasan, rasa penasaran dan keinginan untuk saling memuaskan.

Semua dimulai dari bibir, dihiasi dan diakhiri oleh bibir pula.. Apakah aku menyesal telah melakukannya dengan Anggi?

-- to be continued soon .. --



profile-picture
profile-picture
profile-picture
rendy8est dan 31 lainnya memberi reputasi
32 0
32
Lihat 12 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 12 balasan
Hypnophobia & Kisah Cintaku
14-03-2019 00:00


Dear Readers,

Walau telat ane masih tepat janji ya. Sebelum hari berubah hehehe...

Maaf kalau mungkin jalan cerita gak sesuai dengan harapan, tapi ane berusaha sebisa mungkin menggambarkan sesuai timeline dan ingatan yang punya pengalaman hidup.

Semoga bisa update berikut dengan lebih cepat ya. Besok baru ane bisa bales-bales komen dan PM.

Thanks and best regards,
RR

17 0
17
Hypnophobia & Kisah Cintaku
14-03-2019 00:09
Wah gawat nih si ibey..
Ngerti aja klo ada binor lgsung semangat emoticon-Ngakak (S)
Woy inget ilana woyy
1 0
1
Hypnophobia & Kisah Cintaku
14-03-2019 00:20
Waduh
Mas ibey mulai jlan trllu jauh ini
Mesti digetok dlu kepalanya
Biar sadar
Kasian Ilana dirmah mas
Diubah oleh wongzelek
1 1
0
Hypnophobia & Kisah Cintaku
14-03-2019 00:21
haduh si ibey minta di bakar nih emoticon-Mad (S)

Ntar abis ibey nganu sama Anggi trus di foto anggi dan di kirim ke Anna, langsung savage ini emoticon-Ngakak (S)
Diubah oleh bishamon19
2 0
2
Hypnophobia & Kisah Cintaku
14-03-2019 00:39
di part kali ini ibey memerakan peranya dengan sangat lihai emoticon-Malubetty
1 0
1
Hypnophobia & Kisah Cintaku
14-03-2019 00:44
Lancrotkeun emoticon-Big Kiss
1 0
1
Hypnophobia & Kisah Cintaku
14-03-2019 00:48
Dan terjadi lagi kisah lama yang terulang kembali .... emoticon-surprised:
1 0
1
Hypnophobia & Kisah Cintaku
14-03-2019 00:57
Cinta Lama Belum Kelar 😂
1 0
1
Halaman 299 dari 351
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
diary-wanita-lajang-perkotaan
Stories from the Heart
you-stole-my-heart-true-story
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
cara-sederhana-untuk-bahagia
B-Log Collections
Heart to Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia