alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c5e4e83eaab254d1e2fa17f/journey-of-love-catatan-perjalanan-makkah---madinah
Lapor Hansip
09-02-2019 10:52
Journey Of Love [Catatan Perjalanan Makkah - Madinah]
Past Hot Thread
Journey Of Love [Catatan Perjalanan Makkah - Madinah]

PROLOGUE

 
 
                “Rasanya pengen banget umrah...”
                “Iya, aku juga... tapi bagaimana caranya ya?”
                “Uang kita gak cukup ya?”
                “Ya enggak lah... hahaha..”
                “Dateng ke pameran umrah aja yuk, mumpung lagi ada di JHCC”
                “Ntar malah makin kepengen..”
                “Ya gak apa-apa, kan bisa jadi penambah semangat!”
                “Iya ya, kita jadiin aja ini bagian dari doa, ikhtiar dan tawakal-nya kita, biar ntar hasil akhirnya Allah yang nentuin..”
 
(percakapan 4 bulan sebelumnya)



Gaes...
Kisah ini adalah catatan perjalanan umrah yang aku lakukan beberapa tahun lampau. Agan bakal nemuin the other stories of umrah, sisi lain dari perjalanan di Makkah dan Madinah. Semoga kisah-kisah tersebut bisa bikin agan-agan yang udah umrah, jadi terobati rasa kangennya... dan bagi agan-agan yang belum umrah, jadi makin semangat nabung... 

Yang jelas, jangan kubur impian agan untuk umrah.. percayalah, keajaiban itu selalu ada!

Salam,
Ruli Amirullah

INDEX
Bab I - Menuju Tanah Haram
#1 - Melangkah Mendekat (Di Bandara Soekarno-Hatta)
#2 - Di Pesawat Yang Menjemukan
#3- Melayang Mendekati Madinah
#4 - Aku Pucat Di Bandara Madinah
#5 - Apa Kabar Indonesia?
#6 - Tak Asing Di Negeri Asing

Bab II - .....

Masih terus nyambung nih yaa..
Diubah oleh abangruli
2
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Tampilkan isi Thread
Halaman 2 dari 2
Lapor Hansip
12-02-2019 08:18
Balasan post kotsu
Selama ada niat dan keinginan insyaAllah akan kesampaian gan.. aamiin... makasih cendolnya ya gan!
0
Lapor Hansip
12-02-2019 08:21
Balasan post abangruli
Ok gan makasih, Sama2 gan
Lanjutanya mana gan? Hehe
0
Lapor Hansip
12-02-2019 08:34
#4 - Aku Pucat di Bandara Madinah

Bandara di kota ini berbanding terbalik dengan bandara di Riyadh yang megah dan gemerlap. Bandara Madinah kecil dan mungil. (Note: itu dulu, di tahun 2011, terakhir ke bandara Madinah di tahun 2018, bandaranya udah besar dan keren!) Bahkan pada malam itu, kami menjadi pesawat satu-satunya yang landing, sehingga kami tidak perlu antre panjang dengan penumpang pesawat lain saat melalui pemeriksaan imigrasi.

Agak gugup juga ketika sedang antre. Karena aku punya pengalaman tidak enak saat dulu pertama kali mengunjungi Semenanjung Arab beberapa tahun sebelumnya. Ada dua pengalaman. Yang pertama adalah saat aku dihampiri oleh seorang tentara. Mungkin masih mending jika yang datang adalah tentara kita yang tampangnya walaupun seram masih tetep melayu. Ini yang datang tentara kerajaan Saudi Arabia! Kacamata hitam, tampang keras dan lempeng kayak kayu jati, plus badan entah berapa kali lipatnya aku saat itu. Seperti ini cerita lengkapnya;

Saat itu lagi jamannya mau perang teluk pertama. Gara-gara itu, di bandara banyak pesawat militer. Dari pesawat angkut hingga ke pesawat tempur. Masalah berawal sewaktu aku turun dari pesawat. Melihat ada seseorang manusia (walau masih kecil) menenteng kamera di pundaknya, seorang tentara berseragam lengkap dengan senjata, datang menghampiri. Tanpa basa basi (mungkin menurutnya, percuma basa basi, karena toh aku tidak akan mengerti juga) langsung tangan besarnya meraih kamera dari pundakku, buka dan menarik gulungan filmnya (jaman dulu masih pake rol film, belum ada teknologi digital). Setelah itu kamera kosongnya dibalikkin ke aku yang hanya bisa bengong terpana, atau lebih tepatnya pucat pasi.

Aku tersenyum mengingatnya, terlebih lagi kemudian ingat bahwa ada pengalaman lagi yang jauh lebih menarik. Kini giliran kakakku yang bikin kejutan. Ceritanya jauh lebih menarik;
Mana?
Ntar yaa.. abis ini aku update lagi... :P
0
Lapor Hansip
12-02-2019 08:35
Balasan post kotsu
Tuh Gan udah ane update.. special buat agan kotsu!
0
Lapor Hansip
12-02-2019 11:40
Balasan post abangruli
Mimpi ingin naikin haji emak...
0
Lapor Hansip
12-02-2019 11:56
Balasan post Gatotsby94
Berawal dari mimpi.. ayo semangaaadd.. insyaAllah bisa menjadi kenyataan kok..
0
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support17
Lapor Hansip
12-02-2019 18:18
#5 - Apa Kabar Indonesia?

Aku tersenyum mengingatnya, terlebih lagi kemudian ingat bahwa ada pengalaman lagi yang jauh lebih menarik. Kini giliran kakakku yang bikin kejutan. Ceritanya jauh lebih menarik. Momentnya sama, waktu aku masih kecil....

Setelah kejadian perampasan film, kemudian kami sekeluarga melangkah di dalam terminal kedatangan, tiba-tiba serombongan tentara, juga lengkap dengan senjatanya, lari menyergap kakakku. Beneran menyergap seperti yang sering kita saksikan di film action! Tubuh kakakku yang kurus itu didorong menghadap ke tembok, tangan dipaksa untuk menempel di dinding, kaki diregangkan. Dan di bawah todongan beberapa moncong senapan mesin, kakakku digeledah. Tujuan utama mereka adalah tonjolan yang tampak dibalik jas kakakku. Setelah disingkap, tampaklah gulungan koran yang ia letakkan di saku belakang celana. Melihat ternyata itu hanyalah koran, bukan senjata, akhirnya para tentara itu pergi meninggalkan kakakku yang mukanya jauh lebih pucat pasi dibanding aku tadi...

Cukup menyeramkan memang tapi saat ini aku sudah bisa mengingatnya sambil tertawa geli. itulah salah satu pengalaman lucu saat aku kecil dulu. Beruntung kali ini tidak sedang perang teluk. Aku sedikit lega saat melihat orang di depanku tampak tak terlalu lama pemeriksaannya. Petugasnya pun terlihat cukup ramah, sesuai dengan karakter penduduk Madinah yang cenderung halus. Walau begitu tetap saja tegang saat tiba giliranku. Aku tersenyum sambil menyapa “Assalamualaikum…”

“Wa’alaikum salam..” jawabnya. Tapi ia tidak membalas senyum yang aku kembangkan. Biarlah yang penting tidak ada wajah ketus atau galak. Dan yang terpenting adalah, tidak ada senjata yang moncongnya mengarah padaku.

Aku semakin bersyukur karena tidak banyak pertanyaan yang diajukan, malah sebenarnya tidak ada. Hanya melihat paspor, mengamati wajah, meminta aku untuk meletakkan jari-jari di scanner, kemudian menyuruh aku untuk menatap pada kamera digital.
Klik!

Akupun di foto olehnya. Tentu bukan karena ia mengagumiku. Itu semua bagian dari prosedur imigrasi. Setelah selesai, aku langsung menyusul istriku yang telah lebih dulu selesai pemeriksaan paspornya, kami bergerak menuju tempat pengambilan bagasi.

Alhamdulillah, Proses pengambilan barang juga berlangsung singkat, karena ternyata barang sudah menumpuk, kami tinggal memilih koper kami saja. Dan lagi-lagi pemeriksaan barang berlangsung singkat, karena barang kami tidak ada yang dibuka untuk diperiksa satu persatu. Semua barang hanya masuk alat deteksi dan selesai. Tinggal selangkah sebelum kami benar-benar keluar dari bangunan bandara. Ada satu pemeriksaan paspor lagi. Tapi ini juga entah apa yang dilihat, karena hanya sekilas sang petugas melihat paspor dan mengembalikan kepada kami. Bahkan, berbeda dengan petugas imigrasi yang pertama, petugas yang ini dengan wajah ramah dan senyum yang mengembang menyapa kami satu persatu dengan bahasa yang begitu familiar bagi kami, “Apa kabar Indonesia?”

Ya, ia menyapa dalam bahasa Indonesia.

“Baik, baik…” jawabku dengan gembira. Merasa senang disapa oleh petugas kerajaan dengan menggunakan bahasa yang aku mengerti.
Ah, penduduk Madinah memang ramah.
Tak heran Rasul memilih Madinah sebagai tempat tinggalnya….
0
Lapor Hansip
12-02-2019 20:16
Balasan post abangruli
Semangat om nulisnya, ane ijin nenda disini
ane antusias banget kalo denger mekkah / madinnah, semoga bisa menunaikan ibadah disana emoticon-Smilie
0
Lapor Hansip
12-02-2019 20:39
ajakin ana donk gan
0
Lapor Hansip
13-02-2019 12:12
Balasan post kapaljetz
Cemangaaad cemangaaad... hehe... iya Gan, and juga kalo denger kata2 Makkah Madinah rasanya gimanaaa gitu.. kangen gan...
0
Lapor Hansip
13-02-2019 12:13
Balasan post abangruli
Sippp... gimana Kalo kita usul, kaskus ngadain umrah bareng?? Sip ga tuh. Hehe
0
Lapor Hansip
Kemarin 09:59
#6 - Tak Asing Di Negeri Asing

Sesaat setelah keluar bandara, kami semua diajak menaiki bis berwarna hijau untuk menuju hotel. Baru saja kami duduk di bangku bis, seorang Arab masuk ke dalam bis dengan wajah riang. Suaranya yang nyaring menyapa kami semua, lagi-lagi, dalam bahasa Indonesia. Menyenangkan sekali! Ternyata ia menawarkan kartu perdana untuk ponsel. Seperti yang diinfokan beberapa orang, jika memang memutuskan untuk tetap berkomunikasi ke tanah air melalui ponsel selama umrah, lebih baik menggunakan kartu local dibanding bila menggunakan kartu dari Indonesia. Memang akan menjadi kan nomer kita berubah, tapi dari segi biaya akan lebih hemat. Biaya sms-nya lebih murah (jaman saya umrah yang ini, masih belum ada WA), hanya setengah riyal/sms. Itu sebanding dengan sekitar Rp.1200. Begitulah garis besar yang dikatakan pedagang tersebut. Dan uniknya, pedagang itu ternyata menerima pembayaran dengan menggunakan uang rupiah, bahkan ia juga sudah membawa uang kembalian. Jadi tak perlu khawatir bila ingin membeli tapi belum sempat ke money changer untuk menukar uang. Berikan saja lembaran rupiah kita, maka ia akan segera menerimanya dengan senang hati.

Bis yang Setia Mengantar Kami


Aku dan istriku kadang tertawa mendengar celotehan lucu si pedagang yang berupaya membuat dagangannya laku. Lumayan menghibur sambil menunggu semua anggota rombongan beserta seluruh barang bawaan naik ke dalam bis.

Saat bis mulai berjalan menuju hotel, kami semua disuguhi pemandangan kota Madinah di malam hari. Ustad yang menyertai perjalanan kami menjelaskan secara singkat tentang Madinah, doa yang kami baca saat masuk kota, beberapa keistimewaan Madinah dan instruksi-instruksi teknis saat kami tiba di hotel nanti. Sambil mendengarkan, mataku tak bisa lepas dari jendela bis yang sedang menampilkan suasana kota. Rasanya jauh lebih ramai bila di bandingkan dengan terakhir aku umrah tahun 2002. Toko-toko yang menjual barang maupun kedai makanan terlihat begitu banyak. Bahkan mataku sering melihat adanya kedai makanan yang menjual bakso dan makanan Indonesia.

“Tuh ada yang jual bakso” kataku sambil menunjuk sebuah restoran yang memajang tulisan ‘JUAL BAKSO’ di depan gerainya. Bakso memang makanan kami berdua. Walau sebenarnya aku tidak berniat untuk makan bakso setelah jauh-jauh menempuh ribuan kilometer. Aku lebih tertarik mencoba aneka makanan setempat dengan rasa asli. Tapi aku tahu, istriku pasti tetap berminat untuk makan bakso di negeri padang pasir ini.

“Wah iya.. ntar kita kesana ya..” jawabnya antusias
Sudah kuduga, hehehe.
Melihat kenyataan banyak warga Arab yang bisa berbahasa Indonesia, kemudian mata uang Rupiah diterima sebagai alat transaksi dan ditambah dengan banyaknya penjual makanan ala Indonesia menjadikan aku tidak merasa asing walaupun di negeri asing.

Nyaman…
Kurang dari setengah jam, akhirnya kami semua sampai di hotel Al Haram. Sebuah hotel yang berada di baris kedua bila dihitung dari area masjid Nabawi. Di baris pertama, alias yang langsung berhadapan langsung dengan pelataran masjid ada hotel Movenpick, Dar al Taibah dan beberapa hotel lainnya. Sementara Hotel Al Haram berada di baris kedua, jadi walaupun tidak langsung menghadap masjid, tapi jaraknya masih tetap lumayan dekat.

Pemandangan kota Madinah dari Kamar Hotel

Setibanya di hotel kami semua menuju lobby yang terletak di lantai dua. Seperti pada umumnya hotel-hotel di Madinah yang ada pertokoan di lantai dasarnya, begitu pula dengan hotel Al haram. Karena itu kami harus menaiki escalator untuk menuju lobby hotel dan kemudian langsung ke restaurannya. Hidangan prasmanan ala Indonesia sudah tersedia menyambut kami semua. Sambil menikmati panganan, petugas membagikan kunci kamar hotel yang berbentuk kartu magnetik. Kami diberi tahu tak usah khawatir untuk masalah koper, karena semua koper dan barang akan diantar di lantai kamar masing-masing. Aku sudah tidak sabar ingin segera melaksanakan sholat di masjid!

Catatan Kaki - tentang Hotel

0
Halaman 2 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
arkarna-city---tricky-teen
Stories from the Heart
wanita-srigala
Stories from the Heart
reborn-aku-memilih-bahagia
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.