alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
1024
1024
KASKUS
51
244
5 stars - based on 3 vote 5 stars 0 stars
https://www.kaskus.co.id/thread/5c5e4e83eaab254d1e2fa17f/journey-of-love-catatan-perjalanan-makkah---madinah
Lapor Hansip
09-02-2019 10:52
Journey Of Love [Catatan Perjalanan Makkah - Madinah]
Past Hot Thread
Journey Of Love [Catatan Perjalanan Makkah - Madinah]

PROLOGUE

 
 
                “Rasanya pengen banget umrah...”
                “Iya, aku juga... tapi bagaimana caranya ya?”
                “Uang kita gak cukup ya?”
                “Ya enggak lah... hahaha..”
                “Dateng ke pameran umrah aja yuk, mumpung lagi ada di JHCC”
                “Ntar malah makin kepengen..”
                “Ya gak apa-apa, kan bisa jadi penambah semangat!”
                “Iya ya, kita jadiin aja ini bagian dari doa, ikhtiar dan tawakal-nya kita, biar ntar hasil akhirnya Allah yang nentuin..”
 
(percakapan 4 bulan sebelumnya)



Gaes...
Kisah ini adalah catatan perjalanan umrah yang aku lakukan beberapa tahun lampau. Agan bakal nemuin the other stories of umrah, sisi lain dari perjalanan di Makkah dan Madinah. Semoga kisah-kisah tersebut bisa bikin agan-agan yang udah umrah, jadi terobati rasa kangennya... dan bagi agan-agan yang belum umrah, jadi makin semangat nabung... 

Yang jelas, jangan kubur impian agan untuk umrah.. percayalah, keajaiban itu selalu ada!

Salam,
Ruli Amirullah

INDEX
Bab I - Menuju Tanah Haram
#1 - Melangkah Mendekat (Di Bandara Soekarno-Hatta)
#2 - Di Pesawat Yang Menjemukan
#3- Melayang Mendekati Madinah
#4 - Aku Pucat Di Bandara Madinah
#5 - Apa Kabar Indonesia?
#6 - Tak Asing Di Negeri Asing
#7 - Subuh Yang Indah di Madinah
#8 - Pesan Tentang Kesombongan di Jabal Uhud
#9 - Masjid Quba, Masjid dengan Pahala Umrah
#10 -Gadis Kecil yang Manis tapi Masam
#11 - Belanja di Pasar Kurma
#12 - Bersimpuh di Taman Surga
#13 - Lapangan Berbatu Itu Tempat Para Syuhada
#14 - Ya Rasul Salam Alaika
#15 - Pengalaman Istri di Raudah

Bab II - .....

Masih terus nyambung nih yaa..
Diubah oleh abangruli
4
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Tampilkan isi Thread
Halaman 2 dari 3
Lapor Hansip
12-02-2019 08:18
Balasan post kotsu
Selama ada niat dan keinginan insyaAllah akan kesampaian gan.. aamiin... makasih cendolnya ya gan!
0
Lapor Hansip
12-02-2019 08:21
Balasan post abangruli
Ok gan makasih, Sama2 gan
Lanjutanya mana gan? Hehe
0
Lapor Hansip
12-02-2019 08:34
#4 - Aku Pucat di Bandara Madinah

Bandara di kota ini berbanding terbalik dengan bandara di Riyadh yang megah dan gemerlap. Bandara Madinah kecil dan mungil. (Note: itu dulu, di tahun 2011, terakhir ke bandara Madinah di tahun 2018, bandaranya udah besar dan keren!) Bahkan pada malam itu, kami menjadi pesawat satu-satunya yang landing, sehingga kami tidak perlu antre panjang dengan penumpang pesawat lain saat melalui pemeriksaan imigrasi.

Agak gugup juga ketika sedang antre. Karena aku punya pengalaman tidak enak saat dulu pertama kali mengunjungi Semenanjung Arab beberapa tahun sebelumnya. Ada dua pengalaman. Yang pertama adalah saat aku dihampiri oleh seorang tentara. Mungkin masih mending jika yang datang adalah tentara kita yang tampangnya walaupun seram masih tetep melayu. Ini yang datang tentara kerajaan Saudi Arabia! Kacamata hitam, tampang keras dan lempeng kayak kayu jati, plus badan entah berapa kali lipatnya aku saat itu. Seperti ini cerita lengkapnya;

Saat itu lagi jamannya mau perang teluk pertama. Gara-gara itu, di bandara banyak pesawat militer. Dari pesawat angkut hingga ke pesawat tempur. Masalah berawal sewaktu aku turun dari pesawat. Melihat ada seseorang manusia (walau masih kecil) menenteng kamera di pundaknya, seorang tentara berseragam lengkap dengan senjata, datang menghampiri. Tanpa basa basi (mungkin menurutnya, percuma basa basi, karena toh aku tidak akan mengerti juga) langsung tangan besarnya meraih kamera dari pundakku, buka dan menarik gulungan filmnya (jaman dulu masih pake rol film, belum ada teknologi digital). Setelah itu kamera kosongnya dibalikkin ke aku yang hanya bisa bengong terpana, atau lebih tepatnya pucat pasi.

Aku tersenyum mengingatnya, terlebih lagi kemudian ingat bahwa ada pengalaman lagi yang jauh lebih menarik. Kini giliran kakakku yang bikin kejutan. Ceritanya jauh lebih menarik;
Mana?
Ntar yaa.. abis ini aku update lagi... :P
0
Lapor Hansip
12-02-2019 08:35
Balasan post kotsu
Tuh Gan udah ane update.. special buat agan kotsu!
0
Lapor Hansip
12-02-2019 11:40
Balasan post abangruli
Mimpi ingin naikin haji emak...
0
Lapor Hansip
12-02-2019 11:56
Balasan post Gatotsby94
Berawal dari mimpi.. ayo semangaaadd.. insyaAllah bisa menjadi kenyataan kok..
0
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support17
Lapor Hansip
12-02-2019 18:18
#5 - Apa Kabar Indonesia?

Aku tersenyum mengingatnya, terlebih lagi kemudian ingat bahwa ada pengalaman lagi yang jauh lebih menarik. Kini giliran kakakku yang bikin kejutan. Ceritanya jauh lebih menarik. Momentnya sama, waktu aku masih kecil....

Setelah kejadian perampasan film, kemudian kami sekeluarga melangkah di dalam terminal kedatangan, tiba-tiba serombongan tentara, juga lengkap dengan senjatanya, lari menyergap kakakku. Beneran menyergap seperti yang sering kita saksikan di film action! Tubuh kakakku yang kurus itu didorong menghadap ke tembok, tangan dipaksa untuk menempel di dinding, kaki diregangkan. Dan di bawah todongan beberapa moncong senapan mesin, kakakku digeledah. Tujuan utama mereka adalah tonjolan yang tampak dibalik jas kakakku. Setelah disingkap, tampaklah gulungan koran yang ia letakkan di saku belakang celana. Melihat ternyata itu hanyalah koran, bukan senjata, akhirnya para tentara itu pergi meninggalkan kakakku yang mukanya jauh lebih pucat pasi dibanding aku tadi...

Cukup menyeramkan memang tapi saat ini aku sudah bisa mengingatnya sambil tertawa geli. itulah salah satu pengalaman lucu saat aku kecil dulu. Beruntung kali ini tidak sedang perang teluk. Aku sedikit lega saat melihat orang di depanku tampak tak terlalu lama pemeriksaannya. Petugasnya pun terlihat cukup ramah, sesuai dengan karakter penduduk Madinah yang cenderung halus. Walau begitu tetap saja tegang saat tiba giliranku. Aku tersenyum sambil menyapa “Assalamualaikum…”

“Wa’alaikum salam..” jawabnya. Tapi ia tidak membalas senyum yang aku kembangkan. Biarlah yang penting tidak ada wajah ketus atau galak. Dan yang terpenting adalah, tidak ada senjata yang moncongnya mengarah padaku.

Aku semakin bersyukur karena tidak banyak pertanyaan yang diajukan, malah sebenarnya tidak ada. Hanya melihat paspor, mengamati wajah, meminta aku untuk meletakkan jari-jari di scanner, kemudian menyuruh aku untuk menatap pada kamera digital.
Klik!

Akupun di foto olehnya. Tentu bukan karena ia mengagumiku. Itu semua bagian dari prosedur imigrasi. Setelah selesai, aku langsung menyusul istriku yang telah lebih dulu selesai pemeriksaan paspornya, kami bergerak menuju tempat pengambilan bagasi.

Alhamdulillah, Proses pengambilan barang juga berlangsung singkat, karena ternyata barang sudah menumpuk, kami tinggal memilih koper kami saja. Dan lagi-lagi pemeriksaan barang berlangsung singkat, karena barang kami tidak ada yang dibuka untuk diperiksa satu persatu. Semua barang hanya masuk alat deteksi dan selesai. Tinggal selangkah sebelum kami benar-benar keluar dari bangunan bandara. Ada satu pemeriksaan paspor lagi. Tapi ini juga entah apa yang dilihat, karena hanya sekilas sang petugas melihat paspor dan mengembalikan kepada kami. Bahkan, berbeda dengan petugas imigrasi yang pertama, petugas yang ini dengan wajah ramah dan senyum yang mengembang menyapa kami satu persatu dengan bahasa yang begitu familiar bagi kami, “Apa kabar Indonesia?”

Ya, ia menyapa dalam bahasa Indonesia.

“Baik, baik…” jawabku dengan gembira. Merasa senang disapa oleh petugas kerajaan dengan menggunakan bahasa yang aku mengerti.
Ah, penduduk Madinah memang ramah.
Tak heran Rasul memilih Madinah sebagai tempat tinggalnya….
0
Lapor Hansip
12-02-2019 20:16
Balasan post abangruli
Semangat om nulisnya, ane ijin nenda disini
ane antusias banget kalo denger mekkah / madinnah, semoga bisa menunaikan ibadah disana emoticon-Smilie
0
Lapor Hansip
12-02-2019 20:39
ajakin ana donk gan
0
Lapor Hansip
13-02-2019 12:12
Balasan post kapaljetz
Cemangaaad cemangaaad... hehe... iya Gan, and juga kalo denger kata2 Makkah Madinah rasanya gimanaaa gitu.. kangen gan...
0
Lapor Hansip
13-02-2019 12:13
Balasan post abangruli
Sippp... gimana Kalo kita usul, kaskus ngadain umrah bareng?? Sip ga tuh. Hehe
0
Lapor Hansip
15-02-2019 09:59
#6 - Tak Asing Di Negeri Asing

Sesaat setelah keluar bandara, kami semua diajak menaiki bis berwarna hijau untuk menuju hotel. Baru saja kami duduk di bangku bis, seorang Arab masuk ke dalam bis dengan wajah riang. Suaranya yang nyaring menyapa kami semua, lagi-lagi, dalam bahasa Indonesia. Menyenangkan sekali! Ternyata ia menawarkan kartu perdana untuk ponsel. Seperti yang diinfokan beberapa orang, jika memang memutuskan untuk tetap berkomunikasi ke tanah air melalui ponsel selama umrah, lebih baik menggunakan kartu local dibanding bila menggunakan kartu dari Indonesia. Memang akan menjadi kan nomer kita berubah, tapi dari segi biaya akan lebih hemat. Biaya sms-nya lebih murah (jaman saya umrah yang ini, masih belum ada WA), hanya setengah riyal/sms. Itu sebanding dengan sekitar Rp.1200. Begitulah garis besar yang dikatakan pedagang tersebut. Dan uniknya, pedagang itu ternyata menerima pembayaran dengan menggunakan uang rupiah, bahkan ia juga sudah membawa uang kembalian. Jadi tak perlu khawatir bila ingin membeli tapi belum sempat ke money changer untuk menukar uang. Berikan saja lembaran rupiah kita, maka ia akan segera menerimanya dengan senang hati.

Bis yang Setia Mengantar Kami


Aku dan istriku kadang tertawa mendengar celotehan lucu si pedagang yang berupaya membuat dagangannya laku. Lumayan menghibur sambil menunggu semua anggota rombongan beserta seluruh barang bawaan naik ke dalam bis.

Saat bis mulai berjalan menuju hotel, kami semua disuguhi pemandangan kota Madinah di malam hari. Ustad yang menyertai perjalanan kami menjelaskan secara singkat tentang Madinah, doa yang kami baca saat masuk kota, beberapa keistimewaan Madinah dan instruksi-instruksi teknis saat kami tiba di hotel nanti. Sambil mendengarkan, mataku tak bisa lepas dari jendela bis yang sedang menampilkan suasana kota. Rasanya jauh lebih ramai bila di bandingkan dengan terakhir aku umrah tahun 2002. Toko-toko yang menjual barang maupun kedai makanan terlihat begitu banyak. Bahkan mataku sering melihat adanya kedai makanan yang menjual bakso dan makanan Indonesia.

“Tuh ada yang jual bakso” kataku sambil menunjuk sebuah restoran yang memajang tulisan ‘JUAL BAKSO’ di depan gerainya. Bakso memang makanan kami berdua. Walau sebenarnya aku tidak berniat untuk makan bakso setelah jauh-jauh menempuh ribuan kilometer. Aku lebih tertarik mencoba aneka makanan setempat dengan rasa asli. Tapi aku tahu, istriku pasti tetap berminat untuk makan bakso di negeri padang pasir ini.

“Wah iya.. ntar kita kesana ya..” jawabnya antusias
Sudah kuduga, hehehe.
Melihat kenyataan banyak warga Arab yang bisa berbahasa Indonesia, kemudian mata uang Rupiah diterima sebagai alat transaksi dan ditambah dengan banyaknya penjual makanan ala Indonesia menjadikan aku tidak merasa asing walaupun di negeri asing.

Nyaman…
Kurang dari setengah jam, akhirnya kami semua sampai di hotel Al Haram. Sebuah hotel yang berada di baris kedua bila dihitung dari area masjid Nabawi. Di baris pertama, alias yang langsung berhadapan langsung dengan pelataran masjid ada hotel Movenpick, Dar al Taibah dan beberapa hotel lainnya. Sementara Hotel Al Haram berada di baris kedua, jadi walaupun tidak langsung menghadap masjid, tapi jaraknya masih tetap lumayan dekat.

Pemandangan kota Madinah dari Kamar Hotel

Setibanya di hotel kami semua menuju lobby yang terletak di lantai dua. Seperti pada umumnya hotel-hotel di Madinah yang ada pertokoan di lantai dasarnya, begitu pula dengan hotel Al haram. Karena itu kami harus menaiki escalator untuk menuju lobby hotel dan kemudian langsung ke restaurannya. Hidangan prasmanan ala Indonesia sudah tersedia menyambut kami semua. Sambil menikmati panganan, petugas membagikan kunci kamar hotel yang berbentuk kartu magnetik. Kami diberi tahu tak usah khawatir untuk masalah koper, karena semua koper dan barang akan diantar di lantai kamar masing-masing. Aku sudah tidak sabar ingin segera melaksanakan sholat di masjid!

Catatan Kaki - tentang Hotel

0
Lapor Hansip
16-02-2019 13:23
#7 - Subuh Yang Indah di Madinah

Layar ponselku menunjukkan pukul 03.20 waktu setempat. Adzan pertama sudah berkumandang, menandakan dalam waktu satu jam lagi waktu subuh akan segera tiba. Aku beserta istri bergegas melangkah menuju masjid Nabawi. Tak hanya kami, namun ribuan orang juga berduyun-duyun menyambut panggilan. Dari beragam warna kulit, beragam suku, beragam bahasa, beragam budaya. Semua bergerak bersama bagai gelombang air laut yang bergerak menuju bibir pantai. Menakjubkan.

Udara dingin menerpa wajah kami. Terasa mengigit, tapi gejolak dalam diri membuat gigitan dingin tersebut menjadi tidak menganggu. Bahkan begitu kunikmati. Kurang dari lima menit kami sudah tiba di pelataran masjid. Apabila mata tadi sempat kagum terhadap banyaknya jamaah yang hendak melakukan sholat subuh berjamaah, maka kini mataku terpana pada sosok megah masjid Nabawi.

Menara-menaranya yang tinggi menjulang ke langit seolah menjadi mercusuar bagi para insan yang hendak kembali ke jalanNYA. Gerbang-gerbangnya yang besar berwarna coklat dengan hiasan emas terbuka lebar bagai menyambut anak cucu Adam yang hendak bertemu denganNYA. Dinding-dindingnya yang begitu kokoh, membuat hati begitu tenang damai karena menjadikan diri ini bagai memasuki benteng yang kokoh, benteng yang melindungi siapapun yang berada di dalamnya.

Siapa yang sangka aku yang kemarin masih berada di hiruk pikuknya Jakarta kini telah berada dihadapan Masjid yang mulia ini?
Bagaimana mungkin aku bisa disini tanpa campur tanganNYA?
Bagaimana mungkin aku bisa menjejakkan kakiku dikemuliaan masjid ini tanpa ijinNYA?
Bagaimana mungkin aku yang masih penuh dosa ini bisa melangkah masuk ke salah satu tempat mulia ini tanpa kasih sayangNYA?
Bagaimana mungkin??

‘Tentu saja karena cintaNYA! Tentu saja karena nikmatNYA!’, Jerit hatiku pada diriku sendiri, ‘Tanpa nikmatNYA, tanpa ijinNYA, tanpa cintaNYA, aku tak mungkin bisa berada di tempat suci ini….’

Mataku mulai menghangat di subuh yang dingin itu. Aku benar-benar tidak menyangka bisa kembali berada di kota Nabi ini. Aku memandang pada istriku, hanya memandang walau bibir tadinya hendak berkata ribuan kata. Tapi aku tidak sanggup. Akhirnya aku hanya bisa tersenyum, dan kemudian mengantarkannya hingga ke pintu tempat jamaah wanita masuk ke dalam masjid. Kami telah janjian, akan bertemu lagi ditempat yang sama saat sholat telah selesai nanti.

Setelah itu, aku kemudian masuk melangkah ke dalam masjid. Berhenti sejenak untuk meminum air zam-zam yang tersedia di sepanjang lorong masjid. Kemudian kembali melangkah dengan kaki sedikit gemetar akibat menahan getaran hebat dalam diri. Aku terus melangkah sedapat mungkin ke tempat yang paling depan. Pikiran masih berkecamuk memikirkan kenyataan bahwa aku kini berada di masjid Nabawi. Aku berhenti sekitar 10 meter dari mimbar Nabi dan melakukan sholat sunnah. Depanku sudah cukup penuh sehingga aku memang harus berhenti.

Setelah sholat sunnah, sempat terpikir untuk membaca surat Ar Rahmaan dari salah satu mushaf Quran yang ada di tiang dekatku. Fungsi tiang di masjid ini memang cukup banyak. Selain sebagai penyangga, juga menjadi saluran pendingin, tempat penyimpanan Al Quran dan dibagian bawah tiang ada rak 2 tingkat sebagai tempat penyimpanan sandal jamaah. Aku menatap Quran berwarna biru tua itu untuk sesaat, tapi aku akhirnya urungkan karena khawatir akan tumpah tangisku.

Surat tersebut memang sering membuatku menangis apabila aku baca dalam keadaan ‘ingin dekat denganNYA’, entah ketika rasa ini sedang sedih entah saat bahagia. Surat tersebut seakan akan menentramkan hati. Menjawab segala keluh kesah, menjawab segala kebahagiaan. Kalimat “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” seolah mampu menjawab segala bentuk pertanyaan yang seringkali hadir dalam benak. Akhirnya aku memutuskan untuk membaca surah yang lain hingga qomat mulai bergema.

Para jamaah mulai berdiri bersiap-siap melaksanakan shlolat. Termasuk juga aku. Sholat subuh pertamaku di Madinah. Bacaan Alfatihah begitu menggetarkan jiwa. Entah mengapa. Apakah aura sang imam begitu kuat terpancar ke seluruh jamaah?
Ataukah aura masjid Nabawi sendiri yang memang sudah begitu kuat karena selama berabad-abad menjadi saksi bagaimana para kekasihNYA bermunajat padaNYA?
Entahlah, yang jelas aku begitu meresapi setiap kata yang ia ucapkan. Ketika bacaan Al Fatihah selesai, sang imam kemudian melanjutkan dengan bacaan berikutnya. Dan terdengarlah bacaan tersebut..

“Ar rahmaan, alamal quran….”
Aku mengigit bibir. Surah Ar Rahmaan??
Ternyata benar, sang imam melantunkan surah yang begitu aku senangi. Surah yang mampu mengguncang diri. Bahkan untuk saat ini seperti menghujam, karena seolah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tadi selalu berkelebat di benak.
Mengapa aku bisa ada disini?
Mengapa aku bisa berada di Madinah?
Mengapa aku bisa sampai di dalam masjid Nabawi?
Mengapa aku…

Semua seakan terjawab dan ditegaskan dalam kalimat yang pada subuh itu secara berulang-ulang keluar dari mulut sang imam..
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
[/I
Mataku semakin basah seiring dengan lantunan indah tersebut
Kalimat yang mampu masuk ke dalam telinga, meresap menuju seluruh aliran darah di tubuh, merangkul benak memeluk jiwa, dan mewangi di dalam hati…

Aku merasa sedang disambut olehNYA, disambut dengan surat Ar Rahmaan. Disambut dengan kasih sayangNYA. Mendapat sambutan seperti itu, aku seolah meledak dalam galaksi kebahagiaan, menjadi tiada sekaligus begitu nyata…

Masjid Nabawi


Payung Raksasa di Pelataran Masjid


[I]
Info Seputar Masjid Nabawi



0
Lapor Hansip
16-02-2019 22:33
bagus banget cerita nya seakan2 ikut merasakan ada di sana ane jd terharu baca nya update trus gan...
Diubah oleh gearbox13
0
Lapor Hansip
18-02-2019 17:20
#8 - Pesan Tentang Kesombongan di Jabal Uhud

Aku membaca jadwal perjalanan, pagi ini kami semua akan mengadakan city tour di Madinah. Yang akan di kunjungi adalah Jabal Uhud, Masjid Quba, Masjid Qiblatain dan pasar Kurma. Sesuai petunjuk di buku perjalanan, maka kami diminta untuk menggunakan seragam sama seperti saat kemarin berangkat. Walau agak kurang setuju karena baju yang sama sudah dipakai sebelumnya, aku dan istriku tetap memakai baju tersebut. Jam sembilan pagi kurang, kami segera turun ke lobby hotel. Saat itulah kami sadar bahwa ternyata jamaah lain malah menggunakan baju bebas, bukan seragam.

“Wah, gak kompak neh, tau gini kita pake baju yang baru juga ya..” kataku pada istri.
“Iya, atau kita ganti baju aja sekarang?” usulnya. Tapi karena petugas meminta kami untuk tidak naik lagi ke kamar agar tidak lama berangkatnya, kami pun mengurungkan niat tersebut. Jadilah kami berwarna biru, sementara jamaah lain menggunakan baju bebas yang umumnya berwarna putih.

Sambil menanti jamaah lain turun, kami memutuskan untuk menunggu di pelataran hotel. Sekalian melihat-lihat kios-kios yang ada disekitar. Money changer begitu mudah ditemukan, begitu pula orang-orang yang menjual pulsa dan kartu perdana. Untuk keperluan oleh-oleh tak perlu ditanya, karena sangat banyak. Aneka tasbih, minyak wangi khas arab, baju gamis, abaya hingga ke berbagai nampan, cangkir serta barang-barang lainnya begitu mudah kita dapatkan. Kurma juga ada, tapi karena nanti siang ada rencana ke perkebunan kurma, jadi sekalian saja kami membeli disana. Mungkin kios makanan yang tidak kami temukan di area dekat hotel Al Haram. Tapi kalau sekedar mini market ada, walau benar-benar mini karena tampaknya hanya muat 4 orang.

Akhirnya rombongan kami berangkat memulai acara city tour. Bus yang kami gunakan masih sama dengan kemarin, begitu pula pengemudinya yang ternyata sangat ramah dengan senyum lebar selalu menghiasi wajahnya. Kamipun meluncur menuju Jabal Uhud.

Jabal Uhud
Menurut yang aku baca di Internet, Jabal Uhud atau bukit Uhud artinya adalah bukit yang menyendiri. Diberi nama demikian karena memang letak bukit ini terpisah dari bukit-bukit lain. Biasanya, bukit di daerah Madinah letaknya berdekatan antara satu bukit dengan bukit lainnya. Sementara Jabal Uhud tidak demikian sehingga ia berkesan menyendiri.

Tak butuh waktu lama untuk mencapai bukit yang memiliki ketinggian sekitar 1.000 meter tersebut. Jaraknya memang hanya lima kilometer dari pusat kota Madinah. Sesaat turun dari bis, kami langsung disapa oleh sinar mentari yang begitu terik. Beruntung ada kaca mata hitam yang melindungi mata dari silaunya cahaya matahari. Aku memang tidak tahu berapa suhu pada saat itu, tapi biasanya pada bulan Mei, suhu Madinah memang sedang menuju pada puncak musim panas. Itu berarti sekitar 40 celcius. Cukup panas, tapi tidak membuat aku berkeringat, karena memang di tanah Arab kelembabannya sangat rendah. Aku memandang sejenak pada bukit bebatuan yang dari jauh tampak berwarna kemerahan. Sedikit terbayang mengenai suasana perang hebat yang dulu berkecamuk tepat dihadapan ku. Tak lama aku membayangkan karena setelah itu langsung mengayunkan kaki menyusul ustad pembimbing yang telah lebih dulu berjalan. Kami menuju makam para syuhada yang gugur saat perang uhud terjadi.

Journey Of Love [Catatan Perjalanan Makkah - Madinah]
Jabal Uhud

Aku akan menceritakan sedikit kilas balik tentang perang di kawasan ini.

Pada tanggal 15 Syawal 3H, sekitar 700 prajurit muslimin berhadapan dengan 3000 orang pasukan dari kaum musyrikin yang hendak balas dendam akibat kekalahan mereka pada perang Badr. Dengan jumlah pasukan yang lebih sedikit, maka diperlukan strategi khusus untuk menghadapi ancaman serangan ini. Rasulullah kemudian memerintahkan agar 50 pasukan pemanah ditempatkan di puncak Jabal Uhud. Sementara pasukan lainnya berada di celah bukit. Strategi tersebut terbukti manjur, karena kemudian pihak Muslimin berhasil memenangkan pertempuran.

Tapi justru kemenangan ‘sementara’ inilah yang kemudian menjadi awal kekalahan. Melihat banyaknya barang-barang kaum musyrikin yang ditinggalkan oleh pemiliknya di lembah Uhud, para pasukan pemanah yang seharusnya bertugas menjaga situasi dari atas bukit malah turun. Ini bertentangan dengan instruksi Rasulullah yang meminta mereka untuk tidak turun dari bukit apapun yang terjadi. Mereka tergiur oleh kemilau harta sehingga melupakan ketaatan pada Rasulullah.

Melihat keadaan demikian, Khalid bin Walid yang saat itu masih kafir dan menjadi panglima kaum musyrikin segera berbalik arah. Dengan tentara berkudanya, ia kemudian menyerang kembali pasukan muslimin. Tanpa perlindungan dari pasukan pemanah, kaum muslimin mengalami kekalahan. Begitulah, akhirnya pada pertempuran tersebut gugur 70 orang syuhada, termasuk di antaranya Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad SAW.

Sebenarnya mungkin kisah ini selalu terulang kembali pada diri kita. Sudah berapa kali kita seharusnya bisa memperoleh kemenangan gemilang dalam menyikapi hidup, tapi kemudian kita tergelincir dalam kekalahaan karena kita akhirnya tunduk pada hawa nafsu. Kalah pada nafsu justru disaat kita merasa menang melawan bala tentara nafsu itu. Jatuh karena memang kita berada di puncak keberhasilan.

Sudah berapa kali kita tersenyum sombong saat kebaikan berhasil kita lakukan?
Sudah berapa kali kita berdiri angkuh saat orang lain memuja segala perbuatan bijak kita?
Sudah berapa kali kita merasa lebih baik dari orang lain?


Aku memandang area pemakaman yang hanya dibatasi tembok dan pagar besi. Tampak begitu sederhana, tidak ada nisan yang menghiasinya. Padahal disana tempat berbaringnya jasad para perinduNYA. Andai aku juga mampu menyerahkan segenap jiwa dan ragaku padaNYA, alangkah bahagianya…
Semoga saja, semoga aku mampu…
0
Lapor Hansip
19-02-2019 15:25
ijin mejeng gan,, keren cerita nya plus ada foto foto kota arab jdi bisa tau lokasi yg ada di sana,,emoticon-Jempol emoticon-Jempol
Diubah oleh parabola.cs
0
Lapor Hansip
20-02-2019 08:45
Balasan post parabola.cs
Sipppp... silahkan mejeng gan.....emoticon-Salam Kenal
0
Lapor Hansip
20-02-2019 10:03
masya allah, jadi rindu pingin kesana, dilanjut kak critanya
0
Lapor Hansip
20-02-2019 12:12
Balasan post maimunnah
InsyaAllah bentar lagi Ada lanjutannya... tungguin yaa
0
Halaman 2 dari 3
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
pacarku-hidup-kembali
Stories from the Heart
fantasy-fragments-of-power
Stories from the Heart
cahaya-di-antara-kegelapan
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.