alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
1024
1024
KASKUS
51
244
4.33 stars - based on 39 vote 5 stars 0 stars
https://www.kaskus.co.id/thread/5a55d3b62e04c8a62a8b4572/cerita-kita-untuk-selamanya-harpocrates-a-sekuel
Lapor Hansip
10-01-2018 15:49
Cerita kita untuk selamanya: HARPOCRATES [A SEKUEL]
Past Hot Thread
Cerita kita untuk selamanya: HARPOCRATES [A SEKUEL]

@CERITAKITAUNTUKSELAMANYAemoticon-Malu


"Harpocrates had become the symbol for secrets and mysteries. I have no qualms about representing silence, but to me silence does not mean keeping secrets, it means serenity. It is in silence that one meditates. It is in silence that words of poetry find their source. And it is in silence that a kiss is given"

---------------------------------------------------------

Quote:Original Posted By adekgantengom
Om, adek dah mampil cini nih emoticon-Baby Boy


emoticon-Betty emoticon-Betty emoticon-Betty

Seperti biasa, sebelum masuk ke inti cerita, ada beberapa hal yang harus gw jelasin dulu disini yah. Gak banyak kok dan sifatnya juga sepele, tapi demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan kedepannya hal-hal sedikit dan sepele ini tetep harus disampaikan emoticon-Big Grin

Pertama, dan yang paling penting, adalah cerita ini merupakan lanjutan dari cerita yang sudah gw tulis sebelumnya (Cerita kita untuk selamanya). 70% formatnya masih sama, cuma di cerita ini nanti ada beberapa tokoh baru dan latar baru juga. Anggap cerita ini fiksi supaya tidak ada asumsi-asumsi yang tidak diinginkan yang lahir dari anggapan kalau cerita ini non-fiksi, apa sihemoticon-Big Grin

Kedua, Bibi masih ada? masih. bibi selalu ada didalam hati dan sanubari gw jadi dia masih dapet porsi dicerita ini, gak besar-besar amat tapi cukup, kalian ngertilah maksud gw apa.

Ketiga, karena cerita ini lanjutan dari cerita sebelumnya, jadi gw saranin kalian buat baca dulu cerita yang pertama sebelum lanjut ke cerita ini.

Ke-empat, poin ini masih gw tujukan untuk menjelaskan betapa apresiasi dari kalian itu berharga banget buat gw, jadi kalau berkenan selalu tinggalkan komen dan kalau suka jalan ceritanya bisa tinggalkan ratenya, it reaaallly means something guys for me, halah emoticon-Big Grin

Terakhir, sebelum baca cerita ini jangan lupa berdoa dulu, karena bakal ada adegan horror yang terjadi. jadi persiapkan diri kalian. Untuk genre, story lanjutan ini genre nya horror - romance - comedy

Jadwal update? Diusahakan tiap ada waktu luang.

Masih ada pertanyaan? we are good to go to first chapter?

Okeey, lets gooo. emoticon-Big Grin


INDEKS:

KHATMANDU - PROLOG

PART I
DHAULAGIRI

Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7
Chapter 8
Chapter 9
Chapter 10
Chapter 11
Chapter 12
Chapter 13
Chapter 14
Chapter 15
Chapter 16
Chapter 17
Chapter 18
Chapter 19
Chapter 20
Chapter 21
Chapter 22
Chapter 23
Chapter 24
Chapter 25
Chapter 26
Chapter 27

PART II
MACHAPUCARE

Chapter 28
Chapter 29
Chapter 30
Chapter 31
Chapter 32
Chapter 33
Chapter 34
Chapter 35
Chapter 36
Chapter 37
Chapter 38
Chapter 39
Chapter 40
Chapter 41
Chapter 42
Chapter 43
Chapter 44
Chapter 45
Chapter 46
Chapter 47
Chapter 48
Chapter 49
Chapter 50
Chapter 51
Chapter 52
Chapter 53
Chapter 54
Chapter 55
Chapter 56

PART III
ANNAPURNA

Chapter 57
Chapter 58
Chapter 59 - Truth or Dare Part I
Chapter 60
Chapter 61
Chapter 62
Chapter 63
Chapter 64
Chapter 65
Chapter 66
Chapter 67
Chapter 68
Chapter 69
Chapter 70
Chapter 71
Chapter 72
Chapter 73
Chapter 74
Chapter 75
Chapter 76
Chapter 77
Chapter 78
Chapter 79
Chapter 80
Chapter 81
Chapter 82
Chapter 83
Chapter 84

PART IV
FINAL PART

Chapter 85
Chapter 86
Chapter 87

SHORT STORY:
Hi, I am Valentine!
Happy Valentine, Bi! emoticon-heart

BONUS:
Gallery foto Semarang

Playlist #CERITAKITAUNTUKSELAMANYA on Spotify

Cerita Kita Untuk Selamanya : Harpocrates [Versi Wattpad]

Hints: Alur part II machapucare nyambung ke alur Prolog di story pertama. Dalam beberapa chapter lagi cerita ini bakal masuk ke episode khatmandu. Yang mau ngeramal apa yang bakal terjadi di khatmandu waktu dan tempat dipersilahkan. emoticon-Big Grin

Eh bre, 3 bulan lagi bibi ulang tahun. Gw bakal berterimakasih banget buat siapapun yang mau ngucapin selamat ulang tahun ke dia. Beneran. emoticon-Big Grin Semoga cerita yang gw tulis ini ngasih manfaat, kalau bukan karena bibib mungkin cerita ini gak bakal ada. emoticon-Big Grin

Cerita kita untuk selamanya: HARPOCRATES [A SEKUEL]

Makasih buat penulis #temantapimenikah yang mau berpartisipasi dalam rangka ngucapin ulang tahun ke bibib. semoga segala sesuatu yang berhubungan sama peluncuran filmnya lancar.

Makasih juga buat semuanya yang udah berpartisipasi meramaikan story ini. Kalian terbaik!

emoticon-Betty


Quote:
Cerita kita untuk selamanya: HARPOCRATES [A SEKUEL]

"Bi?"
"Ya?"
"Aku mau nulisin cerita buat kamu, 100 chapter lebih"
"Banyak banget, yakin selesai?"
"Yakin lah, ceritanya aku mulai dari sini yaaah bibkuu..."


emoticon-Betty

Based on true story.
#ADSR
#IndonesiaMembaca
Cerita kita untuk selamanya: HARPOCRATES [A SEKUEL] CERITA KITA UNTUK SELAMANYA [TAMAT]
emoticon-heart


Ada yang pengen diseret emoticon-Leh Uga

Quote:Original Posted By fenrirlens
seret ke pejwan ren.. daripada di acak2


Disclaimer:

Quote:Original Posted By blezzernet
dont smoke, its.......... bad for ur health... trust me emoticon-Smilie


Cerita kita untuk selamanya: HARPOCRATES [A SEKUEL]

emoticon-Tepuk Tangan emoticon-Tepuk Tangan emoticon-Tepuk Tangan emoticon-Tepuk Tangan
Polling

Poll ini sudah ditutup - 8 Suara

Perlu ditambah gak bre adegan BB17? 
25%
perlu
12.5%
sangat perlu
0%
bentar gw baca dulu
62.5%
sesempet yang nulis aja
Diubah oleh rendyprasetyyo
1
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Tampilkan isi Thread
Halaman 34 dari 35
Lapor Hansip
22-01-2019 09:38
Chapter 65.

Kantor Imigrasi Bandara Soekarno Hatta.
Jam 07.07 WIB


“Udah daftar online kan, Mas? Bisa liat bukti online-nya?” Seorang satpam dengan pakain putih hitam dan rambut cepak menjawab pertanyaan gw sambil memberikan senyuman tipis agak terpaksa. Kantor imigrasi bandara Soekarno Hatta ini letaknya bersebrangan dengan terminal satu, gak langsung bersebrangan banget juga, tepatnya setelah melintasi area parkiran yang ukurannya cukup besar sih.

“Sudah pak, bener kan ya ini kantor imigrasi soekarno hatta?” gw menjawab pertanyaan satpam tersebut sambil mengulurkan handphone yang memperlihatkan bukti pendaftaran online. Kantor ini sekarang belum terlalu rame.

“Iya Mas betul, silahkan ambil formulir di meja pendaftaran terus diisi dulu formulirnya ya” Pak satpam tersebut menjawab sambil menunjuk arah pintu masuk gedung yang didalamnya terlihat ada meja resepsionis yang dijaga oleh seorang ibu-ibu berambut ikal dan berkaca-mata.

“Siap pak, terima kasih”gw jawab sambil mengambil handphone yang diberikan oleh satpam tersebut dan langsung menuju pintu masuk yang diberitahukan barusan.

Hampir belum ada antrian sekarang, pengantri yang sudah datang beberapa duduk dikursi besi untuk mengisi formulir sementara ada beberapa yang keluar untuk mengisi formulir di area kantin kecil disamping belakang kantor untuk disambilkan dengan sarapan. Meja resepsionis yang kosong membuat gw bisa langsung berhadapan dengan ibu ibu resepsionis yang sejak gw masuk penglihatannya udah tertuju ke gw.

“Pagi Bu, kata satpam didepan bisa…” gw yang berniat mengklarifikasi informasi dari satpam harus mendadak berhenti karena si ibu tiba-tiba menyodorkan sebuah formulir kosong.

“Di isi ya Mas, selengkap mungkin, setelah itu masukkin aja ke map ini barengan sama syarat-syaratnya” Si ibu resepsionis menjawab. Resepsionis ini keliatan sibuk banget pagi ini. Banyak tumpukan formulir dan map yang sudah terisi diatas mejanya.

“Iya Bu, boleh pinjem pulpennya?” gw menjawab sambil mengambil formulir dan map kosong yang diberikan oleh resepsionis. Satu hal yang gw lupakan adalah pulpen. Biasanya gw emang gak pernah bawa pulpen sih.

“Di kantin ada mas, bisa diisi disana, kalau mau fotocopy disana juga disediakan.” Si ibu menjawab sambil menyunggingkan senyum.

“Baik Bu” gw menjawab tawaran si ibu dan bergegas langsung menuju kantin yang dimaksud. Setibanya dikantin gw lihat memang ada beberapa orang yang juga punya maksud yang sama dengan gw datang ke tempat ini. Kantin ini gak cukup luas, didalamnya ada 4 meja dan kursi kayu cukup panjang berjajar dengan banyak menu makanan ringan diatasnya. Seorang ibu paruh baya gw lihat dibagian sudut kantin sedang membereskan penggorengan yang kayaknya masih bakal dipakai. Setelah ngobrol-ngobrol sedikit dengan si ibu tersebut, gw dapatkan satu buah pulpen dan duduk disalah satu meja yang masih kosong untuk mengisi formulir.

Tadi pagi, setelah mendengar cerita serem dari mas kosan semalem, gw langsung berangkat ketempat ini tanpa sempat untuk sarapan. Sebenernya memang gak ada pilihan makanan sih sepagi itu. Beberapa gorengan dan makanan ringan yang ada didepan tempat duduk gw sekarang berhasil menggoda naluri manusia gw untuk keluar dan sekedar mengganjal perut. Hari ini, setelah proses ini selesai, gw masih harus balik lagi kekantor dan lanjut kerja sampai jam 4 sore. Gw butuh banyak energi, dan butuh banyak rokok setelahnya dimalam hari untuk merayakan momen didapatnya paspor setelah berbulan-bulan.

Gak butuh waktu lama untuk mengisi formulir dan menyiapkan persyaratan. Setelah, hampir 30 menit, proses pengisian selesai gw putuskan untuk sekedar mengecek handphone, cuma untuk jaga-jaga aja seandainya lisa ngebales pesan yang tadi pagi gw kirim. Dan ternyata belum ada balasan.

Semakin siang pengantri yang datang semakin banyak, sekarang didepan gw sudah ada satu orang bapak dan anak laki-lakinya yang mungkin baru menjalani perkuliahan sedang mengisi formulir yang sama. Dari luar terdengar banyak suara obrolan yang mungkin datang dari para pengantri yang sedang mengisi formulir. Gw harus langsung menyelesaikan proses ini sebelum semuanya semakin rame dan ngejelimet. Setelah selesai mengembalikan pulpen gw langsung kembali keruangan antri untuk menyerahkan dokumen dan persyaratan yang sudah gw masukan ke map.

Dan benar diruangan antri beberapa yang sudah selesai mengisi formulir dipersilahkan antri lagi untuk diperiksa petugas sebelum masuk keruangan interview. Untungnya gw masih dapat antrian awal-awal dijam yang belum menunjukkan pukul 8 pagi. Perkiraan untuk kembali ke kantor sebelum pukul 10 mungkin bisa gw lakukan. Dalam kurang lebih 1 jam kedepan, akhirnya gw menyelesaikan pembuatan paspor dan terhitung 7 hari kedepan paspor mungkin udah ada ditangan gw. Dan yang paling penting, gw bisa lanjut mempersiapkan hal lain bareng lisa.
1
Lapor Hansip
24-01-2019 11:25
Chapter 66.

Gw udah usaha, usaha gw udah maksimal.

Itu yang terbersit dipikiran gw sekarang. Sekarang di rooftop, dan hujan, gw berusaha meyakinkan diri gw sendiri kalau gw udah melakukan hampir segala kemungkinan untuk bisa mendapatkan paspor sebelum berangkat ke khatmandu. Gw berusaha meyakinkan diri gw sendiri kalau udah banyak banget pengorbanan yang gw lakukan untuk menyelesaikan urusan pembuatan paspor. Gw udah usaha.

Tapi kadang memang hasil datang tidak sesuai keinginan. Kadang hasil yang didapat setelah melakukan banyak pengorbanan datang dengan jumlah tidak sebanding. Setelah berhari-hari mencari jadwal kosong, setelah perjalanan panjang menuju kantor imigrasi berbeda, dan setelah waktu-waktu dikorbankan, ternyata paspor tidak kunjung gw dapat. Tadi pagi, di kantor imigrasi

“Persyaratan lengkap semua kan?” Seorang petugas kantor imigrasi mengajukan pertanyaan ketika setelah gw memberikan map yang berisi persyaratan yang sudah gw bawa.

“Iya, Pak” gw jawab. Berusaha untuk setenang mungkin.

“KTP nya bukan untuk daerah jakarta ya?” petugas tersebut memeriksa fotokopi KTP yang sudah gw selipkan didalam map.

“Bukan, Pak. Itu KTP purwakarta karena saya tinggal disana.” gw jawab dengan nada sedikit gugup. Perihal KTP harus asli jakarta atau gak ini masih abu dipikiran gw.

“Wah di Jakarta ngapain?”
“Kerja, pak”
“Punya surat keterangan kerja?”
“Wah saya gak bawa”
“Gak bisa dong kalau gitu”
“Maksudnya pak?”
“Kita gak bisa bikin kalau gak ada surat keterangan kerja”
“Tapi kan.. Di website gak ada info kayak gitu, pak..”
“Gimana kalau pake nametag kantor? Bawa?”
“Gak bawa juga, pak”
“Maaf mas, kita gak bisa”

Dan setelahnya gw kehilangan fokus. Gw berdiri dan meninggalkan ruangan interview pembuatan paspor tersebut dengan perasaan remuk. Maksud gw, plis cuma karena surat keterangan kerja pembuatan paspor gw dibatalkan? Setelah semua yang gw lakukan semua harus gagal karena gw lupa bawa nametag kantor yang biasanya gw kalungin kemana-mana?

Dunia gak adil, memang. Rencana untuk kembali ke kantor gw batalkan karena gw mendadak kehilangan minat untuk melakukan apapun. Gw duduk didepan pintu terminal 1 bandara soekarno hatta hampir 2 jam sebelum akhirnya memutuskan pulang ke kosan.

Ini kesempatan terakhir gw untuk mengurus paspor. Waktu tinggal 10 hari lagi dan semua kantor imigrasi terdekat penuh. Pun meminta jatah libur satu hari lagipun peluangnya sudah mendekati mustahil. Rencana ke khatmandu kemungkinan besar batal.
1
Lapor Hansip
24-01-2019 17:58
emoticon-Pelukemoticon-Pelukemoticon-Mewek
1
Lapor Hansip
08-02-2019 15:22
Chapter 67.
Malam hari di tanggal 5 Desember 2017.


“Calo”

Pesan lisa masuk. Gw yang sempat beberapa kali mengirim pesan tak berbalas mencoba menafsirkan apa maksud 4 huruf dari pesan yang dia kirim barusan. Bisa banyak kemungkinan yang terjadi dibalik kata calo, tapi setelah beberapa analisa-analisa, kemungkinan besar yang lisa maksud adalah bikin paspor lewat Calo.

“Gak ada pilihan lain, rendy”

Pesan kedua lagi-lagi masuk gak lama berselang. Pesan selanjutnya ini seolah menyiratkan kalau gw memang gak ada pilihan lain selain menjajal opsi calo ini mengingat waktu semakin mepet. Opsi buat mencari jadwal dikantor imigrasi lain? Gak bakal bisa. Opsi datang ke bogor? Males. Setelah berhasil mencerna secara keseluruhan situasi yang terjadi sekarang harapan untuk bisa dapat paspor muncul lagi dengan adanya opsi “CALO” yang lisa tawarkan. Dan tanpa menunda-nunda, sekarang, dikantor, gw langsung coba untuk mengumpulkan informasi tentang apa dan bagaimana jalur tidak resmi membuat paspor bisa gw tempuh mengingat lisa juga gak memberi pilihan lebih lanjut.

Pilihan untuk membuat paspor lewat jalur tidak resmi ini pilihan riskan. Setelah mengumpulkan beberapa informasi dari internet gw berkesimpulan kalau pilihan untuk membuat paspor lewat jalur tidak resmi memang lebih baik dijadikan sebagai pilihan terakhir oleh orang-orang dengan tingkat kecerobohan dan menyepelekan sesuatu kayak gw (kemungkinan besar lisa udah tahu hal ini sih). Alasan pertama yang menjadikan pilihan calo ini sebagai pilihan terakhir dan pilihan paling gak banget adalah adalah masalah biaya pembuatan. Pembuatan paspor lewat jalur tidak resmi memakan biaya 3 kali lipat dibandingkan pembuatan paspor lewat jalur resmi dan ini juga tergantung durasi pembuatan (harga selesai 1 hari beda dengan harga selesai 1 minggu). Jumlah ini, untuk beberapa orang yang punya simpanan berlebih dan punya tingkat urgensi tinggi mungkin terlihat sepele. Tapi untuk gw yang punya budget terbatas pilihan ini pilihan agak sulit karena gw masih harus mempersiapkan uang untuk ke khatmandu berarti kerugian gw bakal lebih besar yang diterima kalau seandainya pembuatan paspor dibatalkan

Alasan kedua adalah masalah kepercayaan. Intuisi gw bilang kalau mereka-mereka yang membantu orang-orang goblok dan ceroboh kayak gw untuk membuat paspor lewat jalur tidak resmi adalah mereka-mereka yang mungkin punya reputasi negatif sebelumnya. Ini dugaan gw aja, mungkin bisa juga kenyataan gak seperti itu. Cukup banyak yang menyediakan jasa pembuatan paspor tidak konvensional ini yang beredar di Internet jadi makan banyak waktu pula buat gw memilih mana organisasi atau personal yang bisa gw percaya untuk menyelesaikan urusan pembuatan paspor gw. Setelah menghubungi beberapa calon yang telah gw dapatkan informasinya di Internet, gw masih harus memastikan kalau mereka benar-benar masih memberi jasa pembuatan paspor mengingat jasa pembuatan yang mereka cantumkan di Internet bisa jadi merupakan pekerjaan lama mereka. Setelah melakukan beberapa kali metoda penyaringan ini, akhirnya gw punya satu orang yang mungkin bisa membantu gw untuk menyelesaikan urusan pasport.

“Besok datang langsung ya mas, foto dan wawancara. Uangnya bisa ditransfer setelah paspor udah ditangan”

Begitu pesan mas-mas baik hati yang gw dapat kontaknya dari internet setelah beberapa kali berkirim pesan. Mas ini bilang gw tinggal datang besok untuk foto dan wawancara tanpa harus mengantri terlebih dahulu di kantor imigrasi jakarta pusat. Langsung datang untuk foto dan wawancara ini sebenernya sedikit membingungkan. Tanpa harus mengantri, tanpa harus daftar online, gimana caranya gw bisa datang langsung kesana dan secara tiba-tiba minta di interview? Dilabrak satpam mungkin iya.

“Nanti ketemu sama teman saya, ibu-ibu paruh baya, dia yang mengurus pendaftaran dan ngambil nomer antrian sebelumnya”

Balasan atas kebingungan gw? Si Mas yang gw simpan kontaknya dengan nama “ONLINE” ini bilang kalau nanti dikantor imigrasi jakarta pusat gw bakal bertemu dengan ibu-ibu paruh baya yang sebelumnya sudah mengambil nomer antrian dan mengurus pendaftaran gw dari beberapa file yang gw kirim secara online. Terlalu beresiko untuk dipercaya? Banget lah. Tapi terlalu sayang juga kalau gw gak coba cara ini.

Karena proses pengambilan nomer antrian bisa gw lewati jadi gw juga gak perlu minta izin untuk menyelesaikan pengurusan paspor ketiga kalinya ini. Gw cukup pulang jam 4 dan langsung menuju kantor imigrasi jakarta pusat. Izin pulang jam 4 jelas jadi pilihan paling masuk akal dari semua pilihan yang ada, walaupun sebenernya gw gak punya pilihan lagi. Semua rencana ini harus berhasil. Harus.

“Tujuan ke khatmandu ngapain?”
“Liburan, pak”
“Sebelumnya udah pernah ngurus paspor?”
“Belum”

Beberapa pertanyaan yang mungkin bakal dikeluarkan saat interview lalu lalang dipikiran gw.
1
Lapor Hansip
08-02-2019 15:23
Balasan post ms.nobodyhere
seliweran aja
0
Lapor Hansip
11-02-2019 08:56
Chapter 68.
Kamis, 14 Desember 2018
2 hari sebelum pemberangkatan.
Menuju pukul 16.00 WIB
Dikantor


“Hujan, mas. Jadinya saya tunggu depan mall atau si masnya dateng ke kantor?” gw mengetik pesan ke mas “online” yang sebelumnya bersedia untuk membantu menyelesaikan urusan pembuatan paspor. Hari ini, kurang lebih 7 hari setelah wawancara, dia ngasih kabar kalau paspor sudah bisa diambil dan minta jadwal ketemu sore ini sepulang kantor.

Beberapa hari ini, setelah mendapat angin segar kalau pembuatan paspor ada yang bantu, gw mengurus beberapa urusan lain yang juga gak lebih penting dari urusan pembuatan paspor. Urusan izin cuti. Mengingat gw bakal izin dengan waktu diluar kebiasaan pegawai normal, jadi gw harus memilah milih momen yang tepat untuk menyampaikan maksud dan tujuan gw, dan gw gak bisa bohong. Maksudnya ya gw benar-benar harus bilang kalau gw mau izin ke khatmandu buat liburan, iya liburan, selama 10 hari.

Selama beberapa hari ini gw sibuk memilih momen ini. Untungnya, gw terbantu dengan momen natal dan tahun baru. Seenggaknya, kak tris juga lagi sibuk dengan euphoria natal dan harusnya pemilihan momen ini gak terlalu ribet prosesnya. Gw tinggal memilih waktu-waktu kosong dimana kak tris terlihat rileks dan gw bisa ngobrol untuk membicarakan masalah perjalanan ke khatmandu ini. Dan ini gw lakukan sekitar 3 hari lalu, hari senin.

“Kakak, sibuk?” sore itu, dengan ketidakyakinan, gw datang ke ruang kerja kak Tris. Kak Tris terlihat sibuk mengetik sesuatu, tapi karena sekarang sudah jam pulang kantor, kemungkinan besar memang masih ada urusan pekerjaan yang harus kak tris selesaikan.

“Masuk, Ren, kenapa-kenapa?” Kak tris menjawab sambil mempersilahkan gw duduk didepan meja kerjanya.

“Kak, aku mau cuti sampai tanggal 27” gw utarakan langsung maksud tujuan gw.
“Dari tanggal?” kak tris menjawab sambl merapikan meja dan menghentikan aktifitas pengetikan. Tatapannya sih masih tajam aja. Gw takut? Iya. Dega-degan lebih tepatnya.

“Dari tanggal 16, kak” gw jawab pertanyaan kak tris.
“Kamu mau kemana?”
“Khatmandu, Kak”
“Khatmandu? Dimana itu?”
“Nepal, aku mau naik gunung kak kesana”
“Wah iya katanya nepal bagus, pernah ada cerita katanya ada dosen yang sengaja ngirim mahasiswanya kesana dengan bekal seadanya untuk mencari jati diri”
“Aku belum pernah denger sih kak, tapi sih emang katanya banyak yang mencari ketenangan disana, banyak kuil kak disana”
“Kesana sama siapa emang?”
“Temen kuliah aku kak, ber-empat. 2 cewek dan 2 cowok.”
“Sisa cuti kamu berapa hari lagi emang?”
“Ada 5 hari kak ditambah 2 hari libur. Jadi aku mau minta tambahan izin 3 hari sekarang”
“10 hari ya, lama banget. Kamu yakin mau naik gunung? Pernah naik gunung sebelumnya?”
“Udah lama enggak sih kak, aku ngikut aja temen ku yang ngajak”
“Yakin?”
“Yakin kak”
“Ya sudah, bikin surat izinnya ya, besok ditanda-tangani”

Sederhana dan gak banyak drama? Iya. Semua yang gw kira bakal banyak proses memutar balikan fakta ternyata berjalan lancar dak gak makan banyak waktu. Setelahnya? Surat izin pun ditanda tangani. Permasalahan izin lain yang harus gw selesaikan dan gak kalah penting adalah izin ke nyokap. Gw sempet melakukan banyak pertimbangan untuk hal yang satu ini. Izin ke nyokap dan bilang kalau gw harus ke khatmandu udah pernah gw singgung beberapa bulan lalu dan waktu itu respon nyokap persis dengan perkiraan gw, nyokap nolak. Gw punya firasat kalau apapun yang akan gw utarakan ke nyokap tentang keberangkatan ke khatmandu bakal dimentahkan dan dengan dasar ini gw memutuskan untuk gak minta izin ke nyokap. Paling nanti dibawain oleh-oleh aja.

“Tunggu didepan mall aja ya mas, hujannya juga gak terlalu besar. Saya kesana sekarang” sebuah pesan masuk dan bilang kalau gw harus nunggu si mas online ini didepan mall yang ada disekitar kantor untuk pengambilan paspor.

Bentar deh, gw belum pernah cerita tentang keberadaan mall ini secara detail ya. Jadi lokasi kantor yang kebetulan di pusat kota, memfasilitasi gw dengan keberadaan halte sentral busway, stasiun kereta gambir, dan banyak pusat transportasi umum dengan fasilitas mempuni lain yang bisa diakses dengan berjalan kaki sekitar 10 menit. Diantara fasilitas umum itu, ada sebuah mall yang juga jaraknya dekat dengan kantor gw. Mall ini, se-ceritanya bibi ke gw, katanya jadi tempat dimana temen-temen kantor gw menghabiskan waktu kalau lagi penat, ya terutama di hari-hari kerja. Setelah kepergian Bibi, dia pernah bilang kalau dia pernah kesini lagi dan gw baru dikasih tahu beberapa hari setelahnya.

“Iya mas, saya berangkat sekarang, ya, nanti ditunggu didepan mall yang banyak parkiran motor ojek online-nya” gw ngebales pesan si mas paspor.

Diluar kantor memang hujan, tapi gak cukup lebat untuk menghentikan aktifitas orang-orang yang baru saja pulang dari jam kerja. Gw memutuskan untuk tetap menerobos hujan ini walaupun tanpa jaket dan tanpa payung. Hujan dan sekarang sedang menuju ke mall membuat memori gw membawa kembali memori tentang bibi. Haruskah gw bilang juga ke bibi tentang keberangkatan ke khatmandu?

Beberapa orang, yang kebanyakan cewek, berkumpul didepan mall sambil membawa payung, yang menurut perkiraan gw sedang menunggu jemputan. Gw memutuskan untuk duduk menjauh dari keramaian untuk sekedar menyalakan rokok. Beberapa memori melintas sampai akhirnya si mas online datang dan menyerahkan paspor yang dia janjikan sebelumnya.

“Ini mas paspornya, awas basah, nanti aja dibuka di rumah” si mas menyerahkan sebuah bungkusan coklat seukuran buku saku yang dibagian luar terbungkus lagi dengan plastik bening transparan tanpa melepas helm dan turun dari motor. Gw yang dibeberapa bagian tubuh sudha mulai basah karena air hujan membalas dengan ucapan terimakasih sambil tersenyum lalu segera kembali ke tempat berteduh gw sebelumnya.

Urusan paspor selesai dan begitu juga urusan dengan si mas ini. Sekarang dan setelahnya gw gak bakal berhubungan lagi dengan mas yang gw gak tau namanya ini. Paspor selesai. Dan orang pertama yang bakal gw hubungin tentang kabar gembira ini adalah, Lisa.

“Lis, paspor gw udah jadi”
0
Lapor Hansip
11-02-2019 10:38
Chapter 69

Gw sekarang dirooftop.

Setelah menyelesaikan proses transaksi paspor dan menghubungi lisa, gw langsung menuju kosan untuk mempersiapkan hal lain yang gw butuhkan karena waktu keberangkatan cuma menyisakan satu hari terakhir untuk mempersiapkan segalanya yang ada didaftar barang bawaan yang udah dikirim lisa via email beberapa hari yang lalu.

“BENERAN UDAH? GAK BOHONG KAN LU?” sebuah pesan masuk. Pesan lisa.

“Gak lisa, ini gw foto kalau gak percaya ya” gw bales dengan mengirimkan foto paspor gw yang sebelumnya sudah gw buka pembungkus berwarna coklat. Dan gak beberapa lama setelahnya telfon gw bunyi, lisa nelfon.

“Persiapan udah semua? rute-rute tracking yang gw kirim udah ngerti?” Suara lisa terdengar dikejauhan.

“Buat apa gw ngerti yang kayak begituan? Kan ada elu. Ada beberapa barang yang gak gw bawa, boleh?”
“Buat apa? Bentar, ada benernya sih, kita juga nanti disana bakal nyewa guide. Gini ya Rendy, itu list barang-barang yang gw bawa pribadi. Lu mau bawa barang apa aja gw gak peduli”
“Guide? Udah dapet agen guide yang murah emang? Bukannya kemaren masih nyari-nyari kontak?”
“Udah, kemungkinan besar sih jadi, tapi gw minta kita transaksi pembayaran setelah ketemu langsung dengan guide disana. Kalau gw gak sreg bisa minta langsung ganti”
“Boleh, seperti biasa gw ngikut.”
“Susah banget buat lu berkontribusi di rencana perjalanan ini, ya?”
“Bukan gitu, gw cuma gak mau ngeganggu fokus lu LISA. semua juga beres kan walaupun gw gak bantuin, nanti pasti dateng porsi kerjaan buat gw, gw yakin”
“Terlalu pintar mencari alasan. Udah tahu kabar terbaru vivi dan budi?”
“Menurut lu gimana? Gw punya ajian telepati yang bisa gw pake kapan aja buat berhubungan sama mereka emang?”
“Oke, gw jelasin sekarang. Vivi dan budi akan berangkat duluan ke khatmandu, jumat malem, lebih tepatnya besok malem. Mereka bakal duluan nempatin hotel yang udah kita (gw dan vivi dan budi) booking sebelumnya. Hari sabtunya kita nyusul, dan baru akan sampai di khatmandu sekitar malam jam 9.”
“Vivi dan budi duluan? Gak masalah sih. Atur aja.”
“Gak ada komentar apapun tentang jadwal ketemu kita nanti hari sabtu di terminal 2?”
“Oh boleh kita bahas sekarang aja, jadi kamu lisa, pengen ketemu jam berapa nanti dibandara?”
“Jam 9?”
“Gak sekalian nyubuh dibandara aja?”
“Kalau lu mau sih oke”
“Ya gw dateng paling jam 12 an.”
“Fine, pembicaraan kita sampai disini aja”
“Eh bentar-bentar, iya-iya gw kesana jam 9.”
“Gak usah naro ransel dibagasi, gw juga gak bakal naro disana.”
“Ada lagi instruksinya?”
“Makan yang banyak karena lu butuh banyak energi, lu mungkin gak bakal suka momen pertemuan kita setelah lima tahun ini”
“Kok ada nada ngancemnya? Gw gak ada salah apa-apa, masalah kita udah kelar kan? Paspor udah jadi”
“Sekarang gw tidur dulu, sampe ketemu dibandara hari sabtu jam 9 pagi”
“Lis.. lis… bentar…”
Dan telfon ditutup.
0
Lapor Hansip
12-02-2019 14:36
Chapter 70
H-1 pemberangkatan


Khatmandu. sebelumnya gw belum pernah punya bayangan apapun tentang kota ini, bahkan gw belum pernah denger juga namanya. Beberapa bulan lalu, Momen pertama kali lisa ngajak, ntah kenapa menimbulkan satu sensasi beda yang gw rasain dan bikin gw manggut-manggut menyetujui rencana lisa untuk pergi kesana.

“Eh lu sibuk apa sekarang? Travel yuk?”
“Gw sibuk kerja. Travel kemana emang?”
“Nepal?”
“Nepal?”

Seorang lisa ngajak traveling dan negara yang jadi tujuan nya adalah nepal? Ini bener-bener amazing. Gw kaget, syok udah jelas. Dan mungkin karena dalam kondisi syok lah otak gw seakan-akan belum bisa memproses apapun dan cuma berkata iya atas respon ajakan lisa tersebut. Ternyata, setelah penantian berbulan-bulan, rencana tersebut benar-benar terwujud. besok adalah hari dimana gw, lisa, vivi, dan budi untuk benar-benar kesana. Jujur gw masih syok.

Kenapa lisa memilih nepal? Gw belum tau jawaban pertanyaan ini. Alasan pasti kenapa dia memilih negara ini mungkin bisa gw tanya langsung besok. Terus kenapa gw mau ikut? Gw, lagi-lagi gw tekankan, sebenernya bukan tipe yang suka travel. Jangankan keluar negri, tetanggaan kompleks beda blok aja gw gak kenal. Gw ikut lisa karena gw ngerasa gw butuh tempat buat merefresh otak dengan sesuatu yang baru. Gw butuh tempat yang gak cuma menawarkan liburan tapi juga menawarkan pengalaman lain yang bisa gw petik pelajaran dari tempat tersebut. Dan, atas ajakan lisa untuk ke Nepal ini, gw mengapresiasi dan sangat menghargai dia karena dia tetap ngajakin gw walaupun dia tahu mungkin aja gw nolak ajakan dia. Klise sih, tapi kenyataan memang seperti itu.

Malam ini gw memastikan kembali semua perlengkapan yang gw bawa itu benar-benar penting dan gak bakal merepotkan gw nanti ketika disana. Hal terakhir yang harus diputuskan terkait persiapan ini adalah “pentingkah gw bawa papan skateboard?” dan beberapa hari terakhir jawabannya terlalu mengarah ke arah “tidak” karena pertimbangan rute yang bakal gw lewatin nanti. Selain skateboard, masih ada beberapa item lagi yang menurut gw gak penting dan gw pilih untuk ditinggal demi meminimalisasi beban tas yang bakal gw bawa nanti.

Secara keseluruhan, rencana yang sudah dibuat lisa dalam 10 hari kedepan ketika berada dikhatmandu itu mungkin gini:
Hari pertama : Sampai di khatmandu (sampai jam 21.00 WIB)
Hari kedua : Menuju Pokhara (8 jam perjalanan)
Hari ketiga : Keliling pokhara
Hari keempat - Hari kedelapan : Tracking poonhill
Hari kesembilan : Menuju Khatmandu
Hari kesepuluh : Pulang.

3 hari pertama, gw dan yang lain bakal ngelakuin city sight. Keliling kota pokhara. Biar lebih gampang mungkin informasi ini membantu memberi gambaran tentang khatmandu dan pokhara: Khatmandu adalah ibukota dari NEPAL. Mirip statusnya kayak Jakarta. Pokhara? Pokhara adalah satu dari sekian banyak titik start tracking untuk melakukan perjalanan dihimalaya. Kalau di Indonesianya mungkin lebih mirip sama Bandung. Khatmandu dan pokhara adalah dua kota besar di Nepal. Mengingat gw akan sampai di khatmandu hampir tengah malam dan jarak dari khatmandu dengan pokhara yang lumayan jauh, jadi perjalanan ke pokhara harus ditunda sampai minggu pagi. Gw sempat melihat rencana yang lebih detail yang sudah dibuat lisa. Dia pernah bikin list tentang “kuil yang wajib dikunjungi” di pokhara dan khatmandu. Dan banyak banget kuil yang masuk ke dalam list yang lisa buat. Gw udah jelas gak punya hak protes untuk semua jadwal yang sudah dia buat kayak gini. Walaupun terkesan semena-mena sih.

Satu lagi hal penting, Uang. Tanpa uang, mungkin gw cuma bakal jadi gembel di Nepal. Tadi sore gw udah menukarkan sejumlah uang dalam bentuk dollar US. Lisa bilang memang sebelum sampai Nepal mungkin kita bakal kesulitan buat nyari money changer yang menyediakan Rupee Nepal jadi harus bersabar untuk menukar uang ketika benar-benar sampai di khatmandu dengan nilai pertukaran 1 dollar US = 100 Nepal Rupee

Ada banyak pertanyaan lain sebenernya yang gw belum tau jawabannya. Apa itu poonhill? Apa hubungannya poonhill dengan everest? Lisa benar-benar datang besok? Menerawang jawaban pertanyaan - pertanyaan ini bikin mata gw berat dan…. Gw tidur...
1
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support17
Lapor Hansip
13-02-2019 09:56
Chapter 71
16 Desember 2017, Jakarta


“Berangkat sekarang?” Mas kosan, yang masih setengah sadar, keluar dari kamar dan duduk didepan posisi duduk gw di ruang tamu kosan. Sekarang jam 6 Pagi. Gw baru aja menyelesaikan segala persiapan untuk berangkat ke bandara. Setelah mandi, shalat, sarapan roti sobek, dan minum susu, gw keluar membawa 1 ransel besar dengan muatan 55 liter untuk menunggu jemputan menuju bandara. Didalam ransel ini ada banyak pakaian, makanan, kamera, alat-alat gadget, dan beberapa aksesoris yang semua ada di list barang bawaan yang lisa kirim ke gw.

“Iya, mas. Aku titip kamar selama 10 hari kedepan, ya” gw jawab pertanyaan mas andri sambil mengetik beberapa kalimat untuk dikirim ke lisa. Tapi semua gw batalkan.

“Pergi sama siapa, sih?” mas andri melemparkan pertanyaan lagi. “Sendiri ya?”

“Sama temen kuliah mas” gw jawab. “Aku juga udah lama sih gak ketemu mereka”

“Hati-hati ya, ren. Bisa aja terjadi teman makan teman” mas andri menjawab. “Jangan lupa oleh-oleh”

“Iya mas. Teman makan makanan teman? Yang ada aku yang ngabisin makanan mereka kali. Nanti jangan kangen ya” gw jawab. “Aku bakal pergi lama, mungkin juga gak balik lagi”

“Lah kok ngomong gitu sih” Mas andri nimpalin. di pagi ini, untuk pertama kalinya dia keliatan benar-benar keliatan sudah bangun dari tidur

“Maksudnya gak balik lagi dalam 10 hari” gw kasih dia penjelasan. “Setelah 10 hari aku balik lagi kesini kan harus kerja”

“Nah gitu baru bener” maas andri ngejawab lagi. “Izin ke orang tua udah?”
“”Belum” gw jawab. “Gak bakal boleh lah mas”

“Ya tapi tetep aja kan harus ngomong” mas andri ngejawab lagi. “Biar gampang apa-apanya nanti”

“Kalau ngomong sih udah” gw jawab. “Tapi kalau bener-bener minta izin belum”

“Emang hidup ini penuh misteri” mas andri tiba-tiba nyeletuk.”Banyak hal yang gak kita tahu ren”

“Lah?” gw yang kebingungan dengan gelagat dia mencoba memperjelas situasi sekarang. “Kok tiba-tiba nyambung kearah sana”

“Ya gak nyangka aja kamu tiba-tiba bisa ke khatmandu sekarang” mas andri ngejawab. “Misteri”

“Oh gitu” gw jawab singkat. “Ya aku sendiri aja gak nyangka sih mas sebenernya. Tapi ya jalanin aja buat pengalaman”

“Iya bener, kalau bukan sekarang kapan lagi ya ren” mas andri menambahkan. “Nanti keburu nikah susah, jalannya pasti sama anak istri”

“Iya bener”. Gw jawab. “Kayaknya jemputan aku bentar lagi nyampe, mau bantuin bawa tas ini kedepan?”

“Mandiri dong” mas andri menolak. “Ya sudah berangkat, ketemu lagi dalam 10 hari”

“Hufft sudah kuduga, ya sudah aku berangkat sekarang” gw jawab singkat

Ransel berukuran 55 liter yang berisi perlengkapan travel dengan berat hati disandangkan dipunggung gw sekarang. Bener, begitu gw keluar dari kosan gak lama berselang jemputan untuk menuju bandara datang. Kemungkinan besar sebelum jam 09.00 gw udah sampe disana, kalau gak macet.

Sebenernya ada opsi lain untuk berangkat ke bandara dan menghindari kemacetan yaitu dengan menggunakan kereta api bandara. Beberapa hari sebelum berangkat gw coba cari informasi tentang peresmian kereta api bandara ini tapi berdasarkan hasil pencarian informasi ternyata kereta memang sudah bisa beroperasi tapi belum bisa disediakan untuk pengunaan umum.

Perjalanan menuju bandara pagi ini diselimuti keheningan. Gw gak begitu tertarik untuk mengobrol dengan driver yang sedang menemani gw sekarang. Beberapa pertanyaan kayak “Mau kemana, mas?” atau “Sendiri aja?” gw jawab seperlunya tanpa menambahkan embel-embel lain sebagai tanda kalau gw memang bukan dikondisi enak diajak ngobrol.

“Nanti tunggu di ATM center terminal 2” sebuah pesan lisa masuk yang bilang kalau dia pengen ketemu di ATM center terminal 2.

Gak, gw gak boleh keliatan canggung didepan lisa nanti. Kurang lebih 4 tahun tanpa kontak dan sekarang harus travel bareng pasti butuh penyesuaian mengingat lisa yang gw kenal dulu mungkin aja udah berubah dengan lisa yang gw kenal sekarang. Lisa yang dulu lebih sering membiarkan rambut terurai panjang sekarang lebih suka menutup rambut dengan jilbab (pengamatan gw di foto profile whatsapp-nya). Lisa yang dulu tingkat feniminitas nya melambung jauh sampai ketingkat atmosfir pluto sekarang jadi cewek galak gak kenal kompromi (berdasarkan pengalaman paspor). Dan lisa yang sekarang mungkin, ya mungkin aja, berubah karena dia… Karena dia… karena dia bukan lisa.

Jalan menuju bandara macet? Iya, tapi dengan penuh perjuangan akhirnya gw sampe di terminal 2 sebelum jam 09.00 pagi. Bandara Soekarno Hatta gak bakal pernah sepi, seenggaknya sampai indonesia punya satu bandara lagi yang punya segala hal lebih baik dibandingkan bandara soekarno hatta. Lisa kemungkinan besar juga sudah disini sekarang karena selama hampir 2 tahun gw kenal dia belum pernah telat sekalipun, bahkan waktu disuruh datang jam 4 pagi sebagai bentuk tanggung jawab panitia ospek (waktu itu gw dateng jam 6).

“Lis, gw udah di terminal 2” sebuah pesan gw kirim untuk mengabarkan lisa kalau gw udah sampai diterminal 2.

“Sini yuk, gw di ATM Center, bantuin gw” balasan lisa masuk. Dan gw bales dengan pesan yang bilang kalau gw bakal kesana sekarang.

Pencarian ATM center terminal 2 agak terganggu dengan beban ransel yang gw bawa. Terminal 2 pagi ini penuh dengan orang-orang dengan keberagaman ras. Maksud gw gini, di beberapa tempat gw sempat melihat beberapa kerumunan orang dengan wajah khas timur tengah, dibeberapa tempat lain gw liat wajah-wajah bule ke-eropa-an membawa ransel. Dibeberapa tempat lain gw liat ada beberapa wajah khas asia selatan (india) sedang mengantri di money changer, membentuk antrian lebih tepatnya karena money changer tersebut belum buka.

Dikejauhan gw liat seorang cewek dengan wajah familiar sedang duduk dideretan bangku besi yang disediakan didepan ATM center. Cewek dengan setelan kaos hitam dan jaket biru tua kehitaman dengan rambut panjang dikuncir sibuk memainkan gadget dan membiarkan ransel besarnya tergeletak disebelah bangku kursinya. Semakin dekat gw semakin yakin kalau itu Lisa, lisa teman ospek gw beberapa tahun yang lalu.

“Lis?” gw panggil dia.
“Ya? Eh Rendyyyyy, gw kangen” lisa berdiri dan nyaris memeluk gw kalau seandainya gw gak bergeser sedikit untuk menghindari pelukan dia. “Bantuin gw jagain ransel gw, ya. Gw mau keatm sebentar, belum nuker uang”

“Eh eh, Lis bentar, gw mau narik nafas dulu” gw jawab permintaan dia. “Belum beberapa detik nyampe terus disambut dengan sambutan kayak gini bakal bikin orang gila pun syok”

“Ahhhh, udah pokoknya tungguin ransel gw disini” Lisa menambahkan. “Gw ke atm sekarang, terus kita ke money changer terus sarapan baru ke imigrasi”

Dan tanpa menunggu jawaban gw lisa langsung menuju ATM center.
0
Lapor Hansip
13-02-2019 17:54
bikin banyak galaunya, gelar tiker dulu la
1
Lapor Hansip
14-02-2019 09:44
Chapter 72

“Jadi?” lisa memulai perbincangan. Setelah selesai melakukan pertukaran uang, gw dan dia memutuskan untuk duduk disalah satu tempat makan diterminal 2. Sekarang baru jam 10.00. Pesawat yang bakal gw dan lisa tumpangi baru bakal berangkat nanti jam 1. Kenapa gak masuk dulu aja ke ruang tunggu pesawat? Lisa bilang jangan, pilihan makanan disana terbatas.

“Jadi apanya?” gw jawab statement singkat dari dia. Feeling gw gak enak. Lisa dan gw lagi memilih menu sarapan apa yang bakal dipesan untuk mengganjal perut sampai jam 1 siang nanti. Dan gak banyak pilihan sih memang.

“Jadi lu mau mulai ngejelasin ke gw dari mana?” lisa menjawab pertanyaan gw. Masih memilih menu apa yang bakal dipesan. Sementara gw mulai membuka menu minuman dan tertarik untuk memesan coklat panas.

“Maksudnya? Apa yang harus gw jelasin ke elu?” gw jawab lagi pertanyaan dia. Setelah selesai dengan proses pemilihan makanan, gw tutup buku menu dan mulai fokus ke pembicaraan lisa.

“Bentar, 5 tahun yang lalu kalau gak salah, waktu lu lagi sibuk ngecengin maba, lu pernah ngomong sesuatu deh ke gw” lisa menjawab sambil menutup buku menu yang dia buka sebelumnya, memanggil pelayan, dan mulai menatap ke arah gw. Mati.

“5 tahun yang lalu?” gw menjawab dan mulai mengalihkan pandangan kearah lain untuk menghindari tatapan lisa. “eh papan skateboard gw mana ya lis?”

“Gw inget banget, waktu habis evaluasi acara dies natalis lu tiba-tiba nyamperin gw dan bilang ‘Lis, mending kita jaga jarak, pacar gw gak suka’” lisa menjawab. “Udah gitu doang, tanpa penjelasan apapun dan lu langsung pergi, sampe akhirnya kita ketemu sekarang. Gak usah pura-pura, daritadi gw gak liat lu bawa papan skateboard rendy!!”

“Oh waktu ku-ku-kuliah ya, gw lupa hehehe” gw jawab seadanya dan masih usaha buat mengalihkan topik pembicaraan. “Gw bawa lisa tadi gw kaitin ke ransel!”

“Waktu itu lu juga bilang kalau gw cuma bakal ngeganggu hubungan lu sama pacar lu” lisa menambahkan jawaban. “Maksudnya apa?”


“Oh iya, gw tinggalin ya papan skateboard” gw bergumam sendiri. “Gimana-gimana lis, vivi dan budi udah sampai khatmandu sekarang?”

“GAK ADA YANG NGEBAHAS VIVI DAN BUDI!” lisa marah dengan suara agak sedikit meninggi, bandara yang masih secara kasat mata masih sepi dan minim suara mendadak rame karena suara lisa. “Jawab pertanyaan gw atau gw pergi sekarang!”

“I-Iya iya…” gw jawab segera. “Maaf Lis, maaf.. Gw waktu itu.. Khilaf…”

“Hufftt… gw harus bisa ngontrol emosi. Bener, mending kita fokus ke rencana khatmandu sekarang.” lisa yang sebelumnya keliatan marah langsung berubah drastis. Pergolakan hormon cewek emang gak ada yang bisa menduga. “Iya, vivi dan budi udah sampai khatmandu sekarang. Mereka lagi keliling thamel katanya sambil nunggu kita”

“Setelah gw ketemu ami, kehidupan gw penuh sama ami lis, semua selalu tentang dia. Tapi setelah lulus dan pisah, gw menarik diri dari keramaian. Sampai akhirnya kerja dan ketemu bibi” gw membalas perkataan lisa. “Dan semua berlanjut sampai sekarang gw ketemu lu lagi”

“Ini jawaban apa lagi?” lisa keliatan bingung. Makanan yang gw dan lisa pesan gak lama berselang datang. 2 piring nasi goreng dan 2 piring coklat panas. “Pengen denger cerita kehidupan gw?” lisa tiba-tiba menambahkan.

“Jawaban atas pertanyaan ‘jadi mau mulai darimana’” gw jawab. “Ya gw jawab mmulai dari ketemu ami sampai sekarang. Lu mau mulai cerita darimana lisa? Gw gak laper sih sebenernya, tapi ya mungkin sekarang terakhir kali kita bisa makan makanan Indo”

“Setelah lulus kuliah, gw lulus duluan btw dibanding lu sorry, gw sempat bingung mau kerja dimana. Dan ya setelah beberapa kali ganti kerja, akhirnya gw disini sekarang” Lisa menjawab. “Jadi bibi, dimana dia sekarang?”

“Bibi? Mau bahas bibi sekarang? Gak ada yang perlu dibahas tentang bibi. Gak ada yang perlu lu tau lebih tepatnya lis” gw jawab sambil mencicipi nasi goreng yang baru datang. Makanan-makanan ini datang diantar oleh seorang pramusaji wanita yang berumur kira-kira 20 tahun dengan memakai seragam hitam, dan pramusaji ini tadi tersenyum.”Vivi dan budi apa kabar? Udah lama gak kontek mereka.”

“Mereka baik kok. Beberapa kali sempet nanyain lu karena mereka ragu lu bener-bener mau ikut” lisa menjawab. “Gw bilang aja kalau lu serius mau ikut karena kalau sampe gak ikut siap-siap dapet teror dari gw, seumur hidup. Gitu”

“Oke, fine, gak apa apa. Gw ngerti.” gw menjawab sambil meneguk coklat panas, pakai sedotan. “Lu banyak berubah ya sekarang”

“Gw cuma belajar untuk jadi lebih baik, itu aja” lisa menjawab. “Gw mulai ngerasa kalau kita gak bisa gitu-gitu terus, harus ada sesuatu yang berubah kalau pengen semua lebih baik.”

“Selain vivi dan budi, lu masih kontek sama temen-temen BEM yang lain?” gw terus membuka pembicaraan sambil menikmati beberapa suap nasi goreng yang tersisa. “Gw sih gak lis, terakhir-terakhir gw kontek rhamdan dan dia sempat satu kali nginep dikosan karena ada urusan didaerah jakarta pusat”

“Gw juga gak pernah. Semua udah punya urusan masing-masing”lisa menjawab. “Termasuk urusan pernikahan”

“Pernikahan? Jadi kapan lu nikah?” gw sambung pertanyaan gw. “Plis jangan tanya gw balik, ya.”

“Semua serba membingungkan, katanya emosional kontak itu justru yang sering menghancurkan kita.” lisa menjawab. “Tiap kali gw berusaha untuk menjalani kontak emosi dengan seseorang, tiap kali itu juga gw ngerasa hidup yang gw bangun susah payah sebelumnya perlahan berantakan. Gw belum terbiasa. Gw gak bakal nanya balik. Gw tahu semua, karena gw udah memperhatikan lu beberapa bulan terakhir”

“Dewasa ya, sekarang.” gw melanjutkan.”Eh bentar-bentar. Maksud lu melihat? Memata-matai? Sejenis padanan kepo?”

“Ya bisa dibilang gitu” lisa menjawab. Sekarang nasi goreng gw dan lisa sudah habis. Cuma bersisa coklat panas yang tinggal setengah gelas. “Gw, se-enggaknya, punya gambaran gimana kondisi psikis lu sekarang. Ya bukan gambaran secara keseluruhan juga, tapi perlahan nanti dikhatmandu kita sama-sama belajar aja tentang kehidupan masing-masing.” lisa meneruskan.

“Gw gak peduli sama kehidupan siapapun. Maksudnya gak mau ikut campur, lu tau kan” gw jawab perkataan dia. “Kecuali kalau diminta sih”

“Lu bakal ikut campur kemasalah yang ini, gw yakin” lisa meneruskan. “Ini bukan tentang gw aja, ini tentang kita”

“Maksudnya?” gw bingung dengan jawaban lisa. “Kehidupan kita berdua gak pernah bersinggungan selama 5 tahun dan sekarang lu bilang kita punya masalah yang sama?”

“Nanti juga lu ngerti rendy” lisa menjawab. “Gw butuh ketenangan, gw butuh tempat buat membuka pikiran gw. Dan itulah alasan kenapa gw pengen ke khatmandu. Banyak hal yang kita bisa pelajarin nanti disana, dan ya untungnya lu mau ikut. Udah hampir jam 11, kita masuk ke imigrasi sekarang yuk. Siapa tahu jadwal terbang berubah”

“Iya, hidup gw berasa berat beberapa bulan terakhir” gw menjawab. “Makasih udah ngajakin, gw juga butuh tempat kayak gitu”

“Kan gw bilang, i see you, rendy.” lisa menutup pembicaraan. “Yuk sekarang ke imigrasi”
Diubah oleh rendyprasetyyo
1
Lapor Hansip
14-02-2019 09:44
Balasan post lara.kumal
siaap
0
Lapor Hansip
15-02-2019 09:40
Chapter 73

“Harus banget bawa barang sebanyak ini? Terus kenapa juga gak masuk bagasi aja?” gw protes ke lisa. Proses imigrasi dan segala tentang pemeriksaannya udah selesai dengan segala keribetan ransel gw dan lisa yang ukurannya gak lazim.

“Yee kan kita pergi 10 hari. Segini juga masih kurang” lisa menjawab sambil mencari-cari tempat duduk kosong yang bisa ditempatin. “Gate kita nanti disana deh, mending jangan jauh-jauh”

“Gak bakal jauh-jauh kalau ranselnya aja bikin ribet kayak gini” gw jawab.

“Nih bawain, kita duduk disana aja” lisa tiba-tiba menyodorkan tas kecil kearah gw sambil menunjuk salah satu kursi kosong yang letaknya tidak jauh dari gate H, gate dimana pesawat akan lepas landas nanti.

“Dihh, gak gitu juga kali” gw protes. Tapi disaat kayak gini semua bentuk protes kayaknya gak ada gunanya. “Masih di Jakarta, masuk pesawat aja belum tapi gw udah harus ngerjain hal-hal kayak gini”

“Ren, gw cewek, inget ya.” Lisa menjawab sambil berjalan menuju kursi yang sebelumnya dia tunjuk.

“Oke” gw jawab singkat dan duduk dengan posisi bersebelahan dengan lisa. “Lis lu yakin, kan?”

“Yakin apanya?” Lisa menjawab sambil mengerenyutkan dahi. “Ke khatmandu? Yakin lah, lu yakin gak?”

“Ya yakin” gw jawab. “Maksud gw, liat coba kearah sana, budaya dan bahasa dan segala tentang khatmandu itu beda banget sama budaya kita. Dan disana gak ada yang dikenal sama sekali lisa. Gw ragu bahkan ada kedubes RI disana.” gw melanjutkan sambil diam-diam menunjuk kearah beberapa orang berwajah asia selatan sedang mengobrol.

“Justru itu alasannya. disana nanti kita belajar” lisa menjawab. “Rasain gimana rasanya jadi totally stranger. Gak kenal siapa-siapa tapi lu dipaksa survive disana. Lagian punya destinasi lain? Singapura? Malaysia? Thailand? Terlalu mainstream. Atau ke lombok? Bali? Raja empat? Gak ada tantangannya rendy. Gw pengen ke islandia sebenernya, tapi masih kejauhan, buat sekarang nepal udah jadi pilihan destinasi yang paling pas”

“Lis, lu sekarang liar ya.” gw menjawab setelah lisa selesai menyampaikan argumennya.

“Gw cuma belajar untuk jadi pribadi yang lebih baik” lisa menjawab. “Tenang, gw udah banyak riset tentang khatmandu dan himalaya, mulai dari makanannya, geografinya, keberadaan kuilnya, masyarakatnya, transportasinya, banyak pokoknya. Kita gak benar-benar pergi dengan nol informasi. Kalau ada apa-apapun ya itu jadi tugas lu sama budi”

“Gw tahu pasti akhirnya bakal jadi kayak gini” gw jawab singkat sambil mengambil minuman botol yang lolos dari proses penyitaan petugas bandara. “Gw deg-degan btw. Sekarang kita ke malaysia dulu transit 2 jam terus lanjut khatmandu?”

“Yes betul sekali” lisa menjawab sambil melirik kearah gw dan mengambil minuman botol yang ada ditangan gw. “Di malaysia nanti cuma buat ganti pesawat. Nah itu dia alasan kenapa gw gak mau naro ransel dibagasi, takut ranselnya kenapa-napa karena harus ganti pesawat itu”

“Parno gak ilang-ilang” gw kembali menatap kearah gerombolan orang berwajah asia selatan yang lagi berkerumun di meja registrasi. “Oh wajar sih, waktu itu kan sempet nangis-nangis gak jelas karena ransel ospek gw tinggalin di kos”

“Jadi gitu sekarang, oke fine, gw gak mulai cari masalah ya” lisa menjawab tenang. “Semisal nanti terjadi keributan jangan salahin gw”

“E-enggak gitu juga” gw dengan cepat membantah. “Gw cuma nostalgia, lisa”

Para penumpang dengan nomer penerbangan D310 dimohon untuk bersiap dan menunggu diruang tunggu karena pesawat sebentar lagi akan lepas landas.

“Lis, gw deg-degan” gw bergumam.

“Karena?” lisa tiba-tiba membalikan tubuh dan melihat kearah gw.

“Gak tau sih” gw jawab. “Deg-degan aja”

“Huffffft, jangan bikin parno rendy” lisa menjawab sambil memeriksa ulang isi ransel dan memastikan beberapa perlengkapan lain gak ketingalan. “Dalam beberapa jam kedepan, sekitar 7 mungkin, kita bakal sampai di khatmandu”

“7 jam yang panjang” gw jawab sambil melakukan aktifitas yang sama dengan apa yang lisa lakukan. “Gw gak ngasih tau bibi gw mau ke khatmandu”

“Gw juga gak ngasih tau… ngasih tau… ada pokoknya” lisa menjawab singkat. “Masing-masing kita punya kesamaan, so dont worry”

“Oke” gw jawab singkat.

Waktu terasa panjang. Setelah pemeriksaan perlengkapan selesai, gw pamit untuk pergi ke smoking area dan memutuskan untuk menenangkan diri disana. Smoking area letaknya bersebelahan dengan gate pesawat gw dan dari smoking area ini dan disana gw bisa lihat banyak pesawat sedang dipersiapkan untuk diterbangkan. Gw butuh waktu-waktu untuk sendiri kayak gini. Gw harus benar-benar siap mental sebelum pesawat terbang dan meninggalkan Indon

Puffttt….
Hembusan rokok pertama hari ini, sebelum nanti kemungkinan besar gak bakal ada hembusan-hembusan rokok lain dikhatmandu.
Diubah oleh rendyprasetyyo
1
Lapor Hansip
18-02-2019 13:58
Chapter 74
Jam 20.00 WIB Waktu Asia Bagian Selatan

Langit diluar keliatan gelap. Beberapa kali gw diberi kesempatan untuk melihat bayangan awan dibalik temaram lampu-lampu pesawat. Pandangan gw keluar sudah berlangsung hampir setengah jam setelah sebelumnya gw coba untuk tidur dan terbangun karena bayangan cewek berdress putih datang lagi ke kepala gw.

Dan selama kurang lebih setengah jam gw mulai sadar kalau disini, diatas sini, begitu tenang. Hampir tidak ada potensi gangguan yang akan terjadi selama setengah jam terakhir. Disini, diatas awan, suasana tenang bukan lagi angan-angan. Lu, gw dan kita semua bakal ngerasain definisi hidup tenang dengan sebenar-benar definisi. gw salut dan gak heran kalau ada beberapa dari kita, manusia, punya mimpi untuk bisa hidup diatas awan. Dibandingkan dengan hiruk pikuk didataran, berada diatas sini mungkin bisa jadi alternatif penghilang penat yang paling tokcer.

Ironinya adalah, dibeberapa tempat, beberapa dari kita rela menghancurkan ketenangan-ketenangan kayak gini demi sesuatu yang menurut gw fana. Ntah lah, gw masih belum ngerti alasan kenapa beberapa diantara kita rela menghancurkan atau merebut suasana tenang dan damai demi kekuasaan, materi, dan hal-hal sepele lain. Maksudnya, ya apa sih yang salah dari hidup tenang? Tanpa harus berburuk sangka? Tanpa harus teriak caci maki? Masing-masing mengurus pekerjaannya, tanpa harus ada pikiran-pikiran negatif.

Ntah, mungkin setelah keberangkatan dari malaysia tadi, gw dan lisa sudah terbang sekitar 3 jam, masih ada jarak tempuh 2 jam sebelum gw bisa sampai di khatmandu, dibandara Tribhuvan lebih tepatnya. Berbeda dengan penumpang sebelum malaysia, setelah transit dan berganti penumpang, pesawat yang gw dan lisa tumpangi didominasi hampir 80% orang berwajah khas asia selatan. Dengan logat-logat khas india yang sering gw denger dulu waktu kecil, gw makin yakin kalau pesawat ini emang menuju ke Nepal, Bukan kanada, apalagi Afrika.

Lisa tidur. Duduk tepat disebelah gw. Sebelumnya, tepat setelah lepas landas dari kuala lumpur, dia menyibukkan diri dengan menonton “How to train your dragon” di monitor yang disediakan didepan tempat duduk nya, monitor yang juga disediakan ditempat duduk semua penumpang.

“Gw cuma nyiapin satu selimut jadi maaf kalau lu gak kebagian” lisa dengan percaya diri mengeluarkan sebuah selimut dari dalam tas kecil dan langsung menyelimuti diri.

“Gw gak minta” gw jawab sambil memilih opsi untuk memutar film “Harry Potter and the deathly hallows” part 1 di monitor. “Eh, lu nonton apa?”

“How to train your dragon” lisa jawab. “Fans garis keras hiccup”

“Oh, oke” gw jawab singkat tanpa menoleh sedikitpun karena film didepan gw sudah mulai diputar. “Selamat berhiccup ria kalau gitu”

Dan 2 jam setelahnya, lisa tidur. Wajar sih, karena dipertengahan film tadi lampu pesawat dimatikan. Jadi hampir setengah lebih bagian film harus ditonton dengan suasana gelap. Dimatikannya lampu pesawat ini bikin suasana makin campur baur menurut gw dan kadang membuat cahaya kelap-kelip bintang diluar sana makin kontras. Iya, selain awan, diluar sana gw juga kadang melihat kelap kelip bintang.

Melihat bintang katanya sama seperti melihat masa lalu. Cahaya kelip bintang yang sampai ke mata kita mungkin cahaya yang dikirim bertahun tahun yang lalu. Jarak yang jauhnya kebangetan lah yang jadi alasannya kenapa cahaya ini butuh waktu yang lama untuk sampai dibumi. Dan fenomena ini yang jadi jawaban atas pertanyaan “Seseram itu kah melihat masa lalu?”

Dan nyokap.

Apa yang terjadi kalau nyokap tau anaknya sekarang lagi dalam perjalanan ke khatmandu?

Ntah lah, gw belum bisa ngebayangin apa dan gimana nanti cara gw ngejelasin ke nyokap tentang perjalanan ini. Yang jelas sekarang, dan 10 hari kedepan, handphone dan nomer telfon gw bakal gak aktif kecuali dibeberapa tempat yang punya akses wifi. Untuk sementara, nyokap cukup tau kalau gw masih dijakarta dalam rangka kerja akhir tahun dan belum sempat menghubungi siapapun kecuali teman-teman kerja. Selebihnya, gw gak peduli.

Pesawat beberapa kali bergetar, dan getaran ini cukup untuk membuat irama jantung gw meningkat seenggaknya 4-5 ketuk. Gw fobia ketinggian. Jangankan ketinggian lebih dari 10K kaki kayak gini, ngelewatin jembatan aja gw takut. Dikejauhan gw bisa lihat titik-titik cahaya kecil dibawah sana. Mungkin itulah khatmandu, mungkin beberapa saat lagi pesawat ini bakal mendarat disalah satu titik cahaya disana.
1
Lapor Hansip
21-02-2019 13:03
Chapter 75
Minggu, 17 Desember 2017
Jam 04.30 Waktu asia bagian selatan
Khatmandu


“Ren…. Ren… Bangun….” samar-samar gw dengar suara cewek memanggil gw.

“Susah” suara itu tiba-tiba berkata. “Coba lu yang bangunin lis”

Gak lama berselang, suara kedua terdengar dengan frekuensi berbeda dan gak kira-kira.

“REN BANGUN” suara lisa terdengar diikuti sama hantaman bantal mungkin ke badan gw, gak cuma sekali tapi berkali-kali. “ BANGUN GAK!!!”

“Apaan sih, kalem” gw terbangun dan mencoba duduk sambil membuka mata. “Orang sepenginepan juga bakal bangun kalau suara lu gak woles kayak gitu lisa”

“Ya seenggaknya lu bangun kan” lisa menjawab sambil melempar bantal kearah wajah gw. “Mandi sana, airnya dingin banget, gw gak kuat sekarang, gw nanti aja tunggu air panasnya idup dulu”

“Yaudah gw juga nanti” gw jawab sambil merebahkan tubuh, lagi. “Gw juga tunggu air panas idup dulu”

“Gak ada waktu lagi, rendy” lisa menjawab dan duduk disamping kepala gw sambil memukul-mukul bantal, lagi. “kita berangkat jam 6”

“Hmmm, jangan ganggu kesenangan orang bisa gak sih” gw bergumam sambil tetap memejamkan mata.

“LU yang ganggu kesenangan kita, bus-nya cuma sehari sekali nanti berangkat jam 6” lisa menjawab dan dengan nada yang sama seperti sebelumnya.

“Iya.. Iya..” gw dengan terpaksa bangun dan perlahan mulai sadar akan kondisi sekitar.

Setelah semalam nyampe khatmandu, dari bandara Tribhuvan gw dan lisa langsung menuju Thamel yang merupakan pusat pariwisata di daerah khatmandu. Bandara Tribhuvan, yang merupakan satu-satunya bandara internasional di Nepal, berbeda segala sisi dibandingkan bandara soekarno-hatta. Fasilitas, pelayanan, tata ruang, semua masih terlihat kuno dibeberapa sisi. Ntah, mungkin sengaja dibiarkan seperti itu supaya para turis yang dateng langsung dapet feel klasik-nya.

Setelah bernegosiasi dengan supir taxi yang ada didepan bandara (sebenernya ada opsi lain dengan memesan di agen taxi dalam bandara tapi harganya mahal), gw dan lisa langsung menuju thamel. Sepanjang jalan bebeberapa kali mobil berguncang karena harus melewati lubang-lubang jalan. Malam kemarin, sepengamatan gw, jalanan khatmandu sepi. Suasan sepi langsung hilang ketika memasuki kawasan thamel. Ruko-ruko bergaya hindu klasik berjajar dengan dibatasi jalan selebar satu mobil. Banyak bendera berbentuk persegi dan berwarna-warni digantung dilangit langit jalan. Berbagai papan dengan tulisan “Annapurna trip”, “Himalayan healing”, “tibet tea” terpampang didepan-depan ruko. Dan setelah pencarian yang panjang akhirnya gw dan lisa tiba dilokasi penginapan bertepatan dengan vivi dan budi yang baru saja pulang dari berburu power bank.

Gw buka mata gw pagi ini. Penginapan ini, penginapan yang sekarang gw, lisa, vivi, dan budi tempatin, punya ukuran kamar jumbo. Ada 4 kasur (masing-masing 2 dibatasi oleh sebuah dinding besar dengan lorong ditengahnya) disediakan dan kamar mandi yang posisinya tepat berada disebrang kasur gw. Budi terlihat masih tidur-tiduran dikasur sebrang, sedang memainkan handphone. Vivi? Ntah lah, setelah sebelumnya gw denger suara dia, sekarang dia mungkin sedang mempersiapkan barang bawaan untuk ke pokhara di area kasur khusus perempuan. Dan Lisa sedang berada dikasur gw, marah-marah gak jelas.

“Bud, lu mau mandi duluan?” gw tanya budi dengan mata setengah tertutup.”Gw males beneran”

“Sama gw juga” budi menjawab sambil melirik sebentar kearah gw.”dingin banget”

“Ehem..” lisa berdeham

“Ya udah gw duluan” gw yang sadar kalau lisa masih disini berinisiatif untuk mandi duluan supaya mood ke pokhara gak hancur oleh lisa. “Gw mandi duluan ya lis, astaga udah jam 04.40 sekarang”

“Iya” lisa menjawab “cepet ya rendy”

Gw bangun dan segera mengambil ransel 55 liter yang udah gw packing di Jakarta. Barang bawaan gw gak banyak. Ada 3 buah jaket (1 jaket windproof dan water proof, 2 jaket katun berhoodie), beberapa lembar pakaian, handuk, alat mandi, kamera, dan tas kecil berukuran 15 Liter yang bakal gw bawa kemana-mana, dan beberapa perintilan kecil lain yang gak terlalu makan tempat. Simpel? Iya begitulah. Yang ada dibenak gw cuma semaksimal mungkin meminimalisir beban.

Gw duduk sebentar ditempat tidur, berencana mencerna apa yang sebenernya sedang terjadi sampai tiba-tiba suara lisa terdengar lagi.

“Cepet mandi!”

Gw bergegas masuk kamar mandi dan bener kata lisa, airnya terlalu dingin. Terlalu… dingin...
3
Lapor Hansip
09-03-2019 22:05
neduh gan. emoticon-raining
Ni dah lama gak update ya gan. Masih lanjut kah?
1
Lapor Hansip
19-03-2019 10:35
Chapter 76

“How much we must pay?” Lisa terlihat sedang mengobrol dengan seorang staf resepsionis hotel di koridor lantai 3. Kamar gw, lisa, budi, dan vivi tempatin sekarang memang ada di lantai 3 dari 5 lantai yang tersedia. Sang staf telihat sedang menyapu koridor dan membereskan kamar nomer 10 yang letaknya bersebelahan dengan kamar yang sedang gw tempatin. Staff ini terlihat memakai kemeja berwarna biru dan membawa beberapa lap dan sapu ditangannya. Mungkin pagi ini sebelum aktifitas dimulai dia diberi tugas untuk bebersih.

“Please go to chasier, he will explain” sang staf menjawab, senyum, dan masuk kedalam kamar nomer 10 sambil membawa sapu. Sekilas gw liat kalau si kasir juga keliatan bingung dengan pertanyaan lisa.

“Harus banget nanya harga ke staf yang lagi bersih-bersih?” gw yang baru saja keluar dari kamar dan samar-samar menangkap ekspresi sang staf langsung menghampiri lisa, yang masih terus berusaha berkomunikasi dengan staf tersebut. “Iya udah jelas harus tanya ke bawah lah dia mana tau”

“Gw ngetes bahasa inggris gw doang” lisa menjawab sambil melirik kedalam kamar nomer 10 yang keadaannya setengah gelap. “Thank you, sir!” dia tiba-tiba menambahkan sambil melambaikan tangan kearah staf tersebut yang samar terlihat sedang merapihkan bagian kasur. Dan setelahnya sang staf hanya senyum.

“Lis, ini ransel lu? Nutupin jalan gw mau keluar” suara budi tiba-tiba terdengar. Mengangetkan gw dan lisa yang sedang mencari tahu keadaan kamar nomer 10. “Eh kita gak balik lagi kesini kan? Langsung ke pokhara sampai hari terakhir?”

“Iya, gak sampai hari terakhir juga. H-2 kepulangan kita balik lagi ke khatmandu kok, keliling-keliling sambil beli oleh-oleh, ya gak ren?” lisa menjawab sambil menepuk bahu gw yang sekarang sedang berdiri tepat disamping dia. “Eh, Ren tolong ambilin ransel gw, ya, disana tuh, depan kamar. tanya aja ke budi coba”

“Seriusan?” dengan muka terpaksa gw jawab perintah dia sambil melirik kearah ransel super besar didepan pintu yang letaknya gak terlalu jauh dari tempat gw berdiri sekarang.”its too big, lisa”

“Udah gak usah sok inggris, ambil sana, gw tunggu diresepsionis lantai 1” lisa menjawab sambil berjalan menuju kearah tangga. “Gw mau bayaran dulu sekarang, biar gak ribet nanti kita keluar hotel-nya. ranselnya gw percayain ke lu pokoknya”

“Eh, eh, lis. Gak dibawain kebawah juga” gw protes sebelum dia akhirnya hilang dari pandangan dan turun menuju lantai 1.

Setelah semua persiapan pagi ini selesai, sekarang jam setengah enam pagi kurang sedikit, gw dan yang lain udah siap untuk berangkat ke pokhara. Tempat tujuan selanjutnya ini yang bakal jadi titik start treking 2 hari yang akan datang. Lisa sebelumnya memutuskan untuk gak menghabiskan waktu di khatmandu dulu. Katanya, “nanti aja kita keliling khatmandu, sekalian pulang dan beli oleh-oleh” gitu. Gw nurut aja.

Bangunan hotel yang sekarang gw tempatin ini standar sih, maksudnya ya gak mewah-mewah amat dan gak terlalu sederhana juga. Dengan biaya permalam sekitar 10 dollar, penginapan yang letaknya di jantung kota khatmandu ini punya banyak review positif disebuah situs penyediaan penginapan online, kata lisa. Dilorong-lorong kamar banyak lukisan pemandangan himalaya berjajar, lampu-lampu kuning redup yang sinarnya terpantul dengan dinding dengan cat berwarna merah marun, dan beberapa ornamen lain khas tibet. Kesan hindu klasik masih kental dibeberapa bangunan khatmandu, tidak terkecuali untuk hotel ini.

Setelah selesai menuruni tangga dan tiba dilantai 1, gw liat lisa sudah menyelesaikan urusan pembayaran dan duduk disalah satu sofa ruang tunggu sambil memainkan handphone. Jaket tebal berwarna biru dongker dengan bulu-bulu putih dibagian hoodienya kontras dengan warna kulit lisa dan membuat, ntah menurut gw, lisa keliatan lebih cerah. Celana dan sepatu gunung yang dia pakai sekilas bikin lisa terlihat seperti cewek gunung yang strong, padahal ya nanti yang bakal direpotin juga gw dan budi. Dan alasan kenapa dia lepas jilbab masih belum gw tahu sejak pertama kali bertemu di bandara soekarno hatta dan sekarangpun bukan waktu yang pas buat menanyakan hal ini ke lisa.

“Ayo kita berangkat” lisa yang sadar akan keberadaan gw, budi, dan vivi tiba-tiba berdiri. “Semua udah gw bayar. Gw juga udah mesen taksi buat ke terminal, taksinya lagi nunggu diluar sekarang, bud coba cek dulu supirnya”

“Oke” budi menjawab sambil langsung menuju keluar. Dia, sama seperti gw pakai setelan jaket tebal dan kupluk berwarna biru untuk menahan dingin. Gw? Gw pakai jaket kombinasi hoodie + parasut dengan warna putih dan hijau tanpa kupluk atau

“Ranselnya?” gw langsung mengingatkan lisa tentang ransel yang susah payah gw bawa turun dari lantai 3.

“Ren, tinggal dikit lagi buat nyampe taksi” lisa memelas. “Itu taksinya udah nunggu diluar, ren”

“Fine” gw jawab. “Kalau bukan karena alasan untuk gerak mungkin ini ransel masih gw tinggalin diatas”

“Bodo amat” lisa menjawab sambil berjalan bersampingan dengan vivi yang sibuk memainkan handphone.”yang penting dibawain. Eh vi, lu bawa kamera kan?”

“Bawa dong” vivi menjawab sambil tersedikit melirik kearah lisa. Lorong keluar penginapan ini sekarang mulai terasa dingin, suhu diluar mulai terasa masuk dari pintu keluar penginapan. “Nih gw gantungin, gw kan tim foto-foto bareng rendy”

“Sejak kapan kita bentuk tim foto-foto” gw yang berjalan dibelakang mereka protes.

“Ren, sebelum semuanya dimulai gw pengen ngasih tau lu dulu sesuatu.” lisa tiba-tiba berhenti dan melirik kearah gw.

“Apa?” gw jawab sambil terpaksa ikut menghentikan langkah karena lisa ada didepan gw. “Apa yang mau lu kasih tau ke gw?”

“Semua bentuk foto yang nanti lu ambil” lisa berkata sambil menatap mata gw “jangan sampai ada yang diupload ke sosmed, satupun jangan sampe. Lagian gw juga gak punya sosmed apa-apa”

“Oke” gw jawab singkat. “ udah? Bisa lanjut jalan? Katanya bisnya sebentar lagi berangkat? Kita jam segini aja belum nyampe terminal.”

“Lis, cepeeeet” suara vivi terdengar dari luar. Samar terlihat kalau budi dan vivi udah didalem taksi. Budi duduk dikursi depan.

“Jangan arah-arahin kamera kearah gw pokoknya” lisa menambahkan sebelum akhirnya berjalan kembali kearah taksi. Diluar sudah mulai cerah tapi udara masih terasa dingin. Beberapa penduduk lokal mulai melakukan aktifitas. Bendera-bendera kotak persegi berwarna-warni dengan berbagai macam tulisan sangat banyak digantung dilangit-langit jalan antar 2 bangunan. Petualangan di nepal dimulai, hari ini.
1
Lapor Hansip
19-03-2019 10:36
Balasan post Alea2212
Masih, barusan sudah update emoticon-Smilie
0
Lapor Hansip
20-03-2019 21:53
tak kira ga lanjut gan. LANJUTKAN
0
Halaman 34 dari 35
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
pacarku-hidup-kembali
Stories from the Heart
fantasy-fragments-of-power
Stories from the Heart
cahaya-di-antara-kegelapan
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.