alexa-tracking
News
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
4 stars - based on 4 vote 5 stars 0 stars
https://www.kaskus.co.id/thread/5c55c3166df2311e3d6d1895/pilpres-2019-berlomba-lomba-melenggang-ke-kanan
Lapor Hansip
02-02-2019 23:19
Pilpres 2019: Berlomba-lomba Melenggang ke Kanan
Quote:Pilpres 2019: Berlomba-lomba Melenggang ke Kanan

01 Februari 2019

Made Supriatma. Peneliti Politik dan Militer
Pilpres 2019: Berlomba-lomba Melenggang ke Kanan

Beberapa pekan lalu, Jaksa Agung Muhammad Prasetyo berjanji akan melakukan razia besar-besaran terhadap “buku-buku PKI” yang diklaim sudah sedemikian meluas peredarannya. Itu diucapkannya saat rapat evaluasi kerja dengan Komisi III DPR. Dia mengklaim bawahannya menyita banyak “buku PKI” yang beredar di toko-toko buku kecil. Sebelumnya, aparat sudah melakukan razia di Kediri, Tarakan, dan Padang sepanjang Desember 2018-Januari 2019.

Gayung Prasetyo pun bersambut. Sesama anggota kabinet pemerintahan Presiden Jokowi, Menteri Pertahanan Jendral Ryamizard Ryacudu, langsung menyetujuinya. Dia bahkan mengatakan kini pergerakan komunis muncul lagi dan sering menggelar rapat di tempat-tempat makan.

Isu komunis memang laku dan menarik. Apalagi dalam politik elektoral di Indonesia. Survey Wahid Foundation pada Oktober 2017 membuktikannya. Survey yang mengambil sampel 1,500 responden di 34 Propinsi ini menanyakan: kelompok mana yang paling tidak disukai? 21,9% responden menjawab komunis; 17,8% LGBT; 7,1% Yahudi. Setelah tiga besar ini, barulah masuk kelompok Kristen (3%); Ateis (2,5%); Syiah (1,2%); Cina (0,7%); Wahabi (0,6); Katolik (0.6%), dan Budha (0.5%).

Tiga besar kelompok yang paling tidak disukai (komunis, LGBT, dan Yahudi) inilah yang paling menarik. Ketiganya adalah kelompok yang abstrak, yang mangkir dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Kaum komunis dibabat habis pada tahun 1966/67. Rejim militer Orde Baru sudah menumpas habis pendukung PKI dan organisasi pendukungnya. Tidak itu saja, Pemerintah Orde Baru juga memberlakukan kebijakan ‘Bersih Lingkungan’ yang menyaring semua orang yang terimplikasi dengan PKI dan melarang mereka untuk bekerja sebagai pegawai negeri, menjadi tentara/polisi, atau bekerja di perusahan-perusahan di sektor-sektor strategis.

Kebijakan ini tak ubahnya seperti kebijakan apartheid yang meniadakan hak-hak keluarga bekas pendukung PKI ini sebagai warga negara. Kebijakan ini secara efektif mengawasi mereka dan membuat hidup mereka dibawah rumah kaca Orde Baru.

Namun, isu kebangkitan PKI masih tetap hidup. Ryamizard Ryacudu setengahnya mengakui khawatir dengan soal PKI karena baginya ini adalah “masalah dendam”. Dalam imajinasi Ryamizard, dendam dari para pendukung PKI ini tidak akan pernah surut.

Namun, LGBT, kelompok lain yang sama dibencinya dengan komunis, kehadirannya dalam masyarakat juga tidak pernah terang benderang. Mereka adalah komunitas yang terkucil. Dalam masyarakat konservatif seperti Indonesia, mereka memilih untuk menyembunyikan diri.

Kaum Yahudi juga sama saja. Hampir tidak ada orang Yahudi hidup di Indonesia. Namun toh kebencian terhadap Yahudi itu kuat dan nyata, seakan-akan orang Yahudi ada dalam satu RT dengan kita.

Jelas bahwa kebencian dan ketakutan itu imajinatif. Namun, persoalannya adalah mengapa imajinasi ini muncul?

Hampir bisa dipastikan bahwa imajinasi ini muncul karena memang dikonstruksi. Maksudnya, ketakutan dan kebencian yang imajinatif ini ada karena memang sengaja diciptakan. Penciptanya adalah para politisi yang perlu memobilisasi massa untuk kepentingan pemilihan.

Tidak salah kalau dikatakan bahwa kebencian dan ketakutan yang imajinatif ini adalah infrastruktur dari politik elektoral kita.

Juga tidak perlu heran bila imajinasi ini muncul dalam Pilpres 2019. Kedua pasangan kandidat yang bertarung di Piplres 2019 sama-sama mengeksploitasi imajinasi ini. Untuk Jokowi, isu PKI adalah isu yang perlu diredam. Ia dituduh sebagai keturunan PKI. Pada Pilpres 2014, isu ini sempat menurunkan elektabilitasnya.

Dalam Pilpres kali ini, Tim Jokowi melakukan tindakan offensive . Prinsipnya, menyerang adalah pertahanan yang terbaik. Isu PKI dimunculkan oleh orang-orang dalam kabinetnya sebelum isu itu dieksploitasi oleh pihak lawan. Dengan demikian, Tim Jokowi mengharapkan bisa mengontrol narasi yang beredar di publik tentang PKI.

Selain isu PKI yang dimunculkan oleh pihak pemerintah, isu anti-LGBT juga muncul di beberapa daerah. Tim kedua kampanye memang tidak secara langsung bertarung atas isu ini. Namun, cukup jelas bahwa kedua tim membiarkan isu ini berkembang karena akan mengentalkan dukungan pada segmen pemilih Islam sayap kanan.

Mencari Pendukung Baru, Mengasingkan Pendukung Lama

Pertarungan Pilpres 2019 adalah pertarungan untuk bergerak ke kanan. Kesan itu sama sekali tidak bisa dihindari. Baik kubu Prabowo Subianto maupun kubu petahana, Joko Widodo, sama-sama bergerak ke kanan.

Keduanya menganggap bahwa kunci kemenangan berasal dari pemilih Muslim konservatif. Ada kesan bahwa kubu Prabowo Subianto akan mengulangi taktik dalam pemilihan gubernur (Pilgub) DKI tahun 2016. Ketika itu, calon yang didukung oleh Prabowo, yakni Anies Baswedan-Sandiaga Uno berhasil mengalahkan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat dengan cukup telak. Padahal Basuki-Djarot didukung oleh presiden yang partai berkuasa.

Pilgub DKI 2016 dianggap sebagai keberhasilan memobilisasi pemilih Islam sayap kanan. Tim Jokowi pun mengkalkulasi bahwa Tim Prabowo, yang didukung oleh koalisi partai yang sama dengan Pilgub DKI 2016, akan mengulang taktik yang sama.

Jokowi menanggapi kemungkinan taktik ini dengan mengambil Ketua MUI Ma’ruf Amin yang konservatif sebagai calon wakil presidennya. Namun, Prabowo, yang sekalipun disyaratkan oleh Ijtima Ulama untuk mengambil kalangan Islam sebagai calon wakilnya, ternyata tidak mengikuti pakem itu.

Tim Prabowo berhitung bahwa kalangan Islam sayap kanan solid dalam genggamannya. Tanpa diduga, dia memilih Sandiaga Uno sebagai calon wakil presidennya.

Di dalam kampanye ini, sangat jelas terlihat bahwa Prabowo hendak membuktikan bahwa dia tidak sepenuhnya berada di bawah kontrol Islam sayap kanan seperti yang diduga oleh banyak pendukung Jokowi.

Dalam medan kampanye, Prabowo-Sandi sangat jelas terlihat mengeksploitasi isu-isu ekonomi. Mereka sangat percaya dukungan solid di sayap kanan dan oleh karenanya berkampanye dengan posisi kebijakan yang cukup centrist (tengah).

Prabowo juga tidak segan-segan menunjukkan bahwa dia tidak intoleran seperti yang dituduhkan para pengkritiknya. Dia mengekspos perayaan Natal bersama keluarga besarnya. Dia tidak menyangkal kalau sebagian besar keluarganya adalah Kristen.

Pendukung-pendukung Jokowi berkali-kali mempertanyakan mengapa Prabowo tidak pernah terlihat melakukan sholat Jumat. Dia diejek karena tidak pernah menjadi imam sholat. Namun, untuk Prabowo, isu itu tidak terlalu dia hiraukan. Saat ini dia berusaha tampil sebagai seorang centrist . Serangan-serangan ini tampaknya justru menjadi bumerang, karena justru image itulah yang dibutuhkan Prabowo. Dia tidak ingin dilihat sebagai ekstremis pendukung Islam sayap kanan.

Prabowo juga cukup cerdik untuk tidak memainkan kartu politik identitas. Tidak ada lagi serangan terhadap minoritas seperti yang dia lakukan pada Pilpres 2014. Sekalipun isu itu tetap laku untuk basis pemilih Prabowo, setidaknya dia tidak mengeksploitasinya menjadi narasi besar
(grand narrative) kampanyenya di tingkat nasional. Isu-isu ini cukup diecerkan oleh pendukungnya.

Sebaliknya yang terjadi dengan Jokowi. Dia dan timnya selalu merasa kurang Kanan. Dalam banyak hal, koalisi Jokowi sesungguhnya lebih berwarna-warni ketimbang koalisi yang mendukung Prabowo. Jokowi didukung oleh kalangan nasionalis, kaum progresif perkotaan, dan juga kalangan minoritas (Kristen dan kalangan suku Cina-Indonesia) yang pada 2014 mendukungnya secara besar-besaran.

Dalam kampanye, Jokowi berusaha untuk meredam isu bahwa dirinya anti-Islam. Dia pun merasa harus memperlihatkan kefasihannya untuk berbicara dengan bahasa agama.

Jokowi bertarung sebagai petahana. Berbeda dengan 2014, sekarang dia sudah memiliki rekam jejak—bukan hanya gagasan tentang bagaimana memerintah Indonesia.

Kita tidak tahu bagaimana Jokowi akan berhasil dengan bergerak ke Kanan. Namun, ada tanda-tanda bahwa koalisinya tidak serekat 2014. Beberapa kebijakannya mengecewakan elemen dalam koalisinya.

Yang ditakutkan oleh Tim Jokowi saat ini adalah bahwa bergerak ke Kanan tidak akan memberinya dukungan yang cukup dari Kanan, yang memang solid di bawah Prabowo. Sebaliknya, langkah ini akan mengasingkan sebagian pendukung, terutama dari sektor progresif dan minoritas. Selain itu, pilihan calon wakil presidennya memiliki daya tarik elektoral yang sangat terbatas.

Penanganan hak-hak asasi manusia, yang menjadi salah satu janji penting kampanyenya di 2014, misalnya, tidak bisa dia penuhi. Ini sendiri sudah membuat pendukung dalam koalisinya patah arang. Walaupun tidak secara serta merta membuat sebagian pendukung Jokowi berbelok ke Prabowo, namun kekecewaan ini cukup membuat mereka mengancam untuk tidak memilih (golput).

Itulah sebabnya Tim Jokowi sekarang gencar melakukan kampanye anti-Golput. Jokowi seakan-akan menghadapi dua lawan: Prabowo-Sandi dan kaum Golput. Hal ini pun disadari oleh Tim Prabowo. Mereka tampaknya dengan sadar mengipasi Golput.

Mungkin Jokowi masih aman untuk memenangkan Pilpres 2019 ini. Namun jalan menuju kemenangan itu makin terjal. Jika pun Jokowi menang, dia akan memberi konsesi yang sangat besar kepada koalisi yang sekarang mendukungnya dan tidak bisa sepenuhnya ia kontrol.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id .

Sumber : https://amp.tirto.id/pilpres-2019-be...-ke-kanan-dfsC

*Ketika Jokowi mengatakan : "Pisahkan antara politik dan agama", sebenarnya hal itu sudah sangat bagus sekali, dapat sambutan hangat dari masyarakat, titik cerah menuju Indonesia yang Pluralisme, atau sekulerlah. Tapi eh ladalah..., lha kok makin kesini malah semakin nikung ke kanan sak pole. Dan terkesan ikutan latah juga dengan memunculkan Hantu PKI, dengan tujuan agar pemilih konservatif melirik kemudian memilih dan mendukung Petahana. Mungkin saja. Terlihat juga seperti seakan-akan meninggalkan pemilih lamanya dan mencari dukungan baru. Memicu sebagian golongan minoritas yang dulunya mendukung kemudian pelan-pelan meninggalkan petahana, pilih Golput. Mungkin juga.

*Jika pun Jokowi menang, dia akan memberi konsesi yang sangat besar kepada koalisi yang sekarang mendukungnya dan tidak bisa sepenuhnya ia kontrol. Dan semoga PSI ngak anti dengan kubu konservatif, jika bisa masuk ke senayan kelak.

*
Quote:Pendukung-pendukung Jokowi berkali-kali mempertanyakan mengapa Prabowo tidak pernah terlihat melakukan sholat Jumat. Dia diejek karena tidak pernah menjadi imam sholat. Namun, untuk Prabowo, isu itu tidak terlalu dia hiraukan. Saat ini dia berusaha tampil sebagai seorang centrist . Serangan-serangan ini tampaknya justru menjadi bumerang, karena justru image itulah yang dibutuhkan Prabowo. Dia tidak ingin dilihat sebagai ekstremis pendukung Islam sayap kanan.


*Semua retrorika politik dilakukan, saling berlomba-lomba dalam menarik simpati dan dukungan dari semua kalangan, ngak masalah, wajar. Demi elektabilitas. Kubu Prabowo terlihat tenang, tone nya bagus juga. Sementara kubu jokowi seperti keteteran, dan ngak perlu terlalu geser ke kanan ( sebab hal itu sepertinya bukan karakter jokowi ), garap abis aja konstituen yang selama ini sudah setia dengan serieus. Hati-hati jangan banyak blunder lagi ( gaya komunikasi ) baik dari anggota TKN dan juga dari menteri kabinet kerja.

Sebuah opini yang bagus dari si Penulis.
Diubah oleh 54m5u4d183
8
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Tampilkan isi Thread
Halaman 2 dari 2
Lapor Hansip
03-02-2019 08:39
mirip Trump
1
profile picture
Lapor Hansip
03-02-2019 09:03
Quote:Original Posted By basshits
Trump menang juga karena banyak yang golput dan tidak memilih karena yakin kalau Hillary menang, sedangkan pemilih Trump adalah orang2 yang sangat loyal terus mengawal hingga sampai pencoblosan.

Jokowi yang elektabilitas sekarang menang akan bernasib sama, apalagi ada pihak pihak yang pamer akan golput dengan berbagai alasan dan mungkin juga mengajak yang lainnya untuk golput juga.


Tren golput sangat berpengaruh bagi elektabilitas petahana, kalau bagi Prabowo-Sandi enggak begitu berpengaruh. Dan Jokowi mengakui penurunan elektabilitas nya di Jateng, turun 2 persen dalam kurun waktu 4 minggu ke belakang berbarengan dengan peresmian Posko BPN Prabowo-Sandi di Kota Solo, Jawa Tengah pada 11 Januari lalu. Tapi sekarang udah naik kata jokowi.

Pada 25 Januari 2019 kemarin, Ketua Tim Cakra19 ( Tim senyap, kumpulan purnawirawan jenderal pendukung 01 ) mengatakan, jangan terlalu besarkan Nurhadi-Aldo, paslon fiktif. Hati-hati dengan capres ketiga. Jangan ikut gede-gedein. Walaupun itu lucu-lucuan, kalau gede beneran, kita ( jokowi-ma'ruf ) yang cenderung kena.

Tim medsos 02, main nya hashtag, hashtag primer, main dini hari ketika semua pada tidur, ketika bangun buka HP, tiba2 sudah jadi trending. Unik.

Ya buat petahana hati-hatilah dalam dua bulan lebih kedepan.
Diubah oleh 54m5u4d183
3
Lapor Hansip
03-02-2019 09:18
kenapa ya,nastak dan nasbung gak bisa lihat "tuhan" mereka yang agungkan itu di kendalikan kepentingan Korup dan nepotisme
2
profile picture
Lapor Hansip
03-02-2019 10:18
Quote:Original Posted By basshits


Trump menang juga karena banyak yang golput dan tidak memilih karena yakin kalau Hillary menang, sedangkan pemilih Trump adalah orang2 yang sangat loyal terus mengawal hingga sampai pencoblosan.

Jokowi yang elektabilitas sekarang menang akan bernasib sama, apalagi ada pihak pihak yang pamer akan golput dengan berbagai alasan dan mungkin juga mengajak yang lainnya untuk golput juga.



Yang bikin mindset "pasti menang" justru survei-survei yang duluan menyatakan Jokowi menang jauh. Survei tersebut digembor-gemborkan TPN Jokowi sebagai bentuk kesuksesan, padahal hak pilih yang penting cuma di bilik suara. Ini bisa membuat pendukung Jokowi malah golput di hari H (karena absen).

Soal golput, gue memandangnya sebagai reaksi atas sikap Jokowi yang membuat pendukungnya mengalami cognitive dissonance. Bagi kaum progresif, kemenangan Jokowi harusnya jadi momentum kiri untuk melakukan rombak total (inilah kenapa jargon revolusi mental sangat populer), tapi kebijakan 5 tahun terakhir malah menyingkap bahwa Jokowi sebenarnya bukan orang kiri. Rasa kecewa ini yang membuat kaum progresif dan liberal malah beralih jadi golput.
2
profile picture
Lapor Hansip
03-02-2019 10:39
Balasan post levyrtrow
Quote:Original Posted By levyrtrow


Yang bikin mindset "pasti menang" justru survei-survei yang duluan menyatakan Jokowi menang jauh. Survei tersebut digembor-gemborkan TPN Jokowi sebagai bentuk kesuksesan, padahal hak pilih yang penting cuma di bilik suara. Ini bisa membuat pendukung Jokowi malah golput di hari H (karena absen).

Soal golput, gue memandangnya sebagai reaksi atas sikap Jokowi yang membuat pendukungnya mengalami cognitive dissonance. Bagi kaum progresif, kemenangan Jokowi harusnya jadi momentum kiri untuk melakukan rombak total (inilah kenapa jargon revolusi mental sangat populer), tapi kebijakan 5 tahun terakhir malah menyingkap bahwa Jokowi sebenarnya bukan orang kiri. Rasa kecewa ini yang membuat kaum progresif dan liberal malah beralih jadi golput.


Orang jg banyak golput krn Jokowi memilih Maruf Amin jd wapresnya. Kenapa? Karena Maruf Amin pernah menjadi saksi yg memberatkan Ahok dan sudah tua. Seandainya Jokowi mengangkat Mahfud MD sebagai wapresnya, tentu orang yg bakal golput ga sebanyak sekarang walaupun serangan anti Islam tetap ditujukan kepadanya dan dukungan NU ga sebesar sekarang.

Jokowi:
+ Petahana
+ Pembangunan infrastruktur
+ Pemberantasan korupsi
+ Penanganan maling ikan

Prabowo:
+ Buzzer socmed
+ Militansi simpatisan (berkat PKS)
+ Menggiring opini negatif terhadap pemerintah
+ Memancing kubu petahana untuk masuk ke dalam permainan mereka.
1
profile picture
Lapor Hansip
03-02-2019 11:32
Quote:Original Posted By rocketman90
Orang jg banyak golput krn Jokowi memilih Maruf Amin jd wapresnya. Kenapa? Karena Maruf Amin pernah menjadi saksi yg memberatkan Ahok dan sudah tua. Seandainya Jokowi mengangkat Mahfud MD sebagai wapresnya, tentu orang yg bakal golput ga sebanyak sekarang walaupun serangan anti Islam tetap ditujukan kepadanya dan dukungan NU ga sebesar sekarang.

Jokowi:
+ Petahana
+ Pembangunan infrastruktur
+ Pemberantasan korupsi
+ Penanganan maling ikan

Prabowo:
+ Buzzer socmed
+ Militansi simpatisan (berkat PKS)
+ Menggiring opini negatif terhadap pemerintah
+ Memancing kubu petahana untuk masuk ke dalam permainan mereka.


https://majalah.tempo.co/read/157070...golongan-putih

Untuk lebih jelasnya, silahkan baca 5 artikel gratis di majalah tempo. Tapi harus register dulu.

Pilpres 2019: Berlomba-lomba Melenggang ke Kanan
1
Lapor Hansip
03-02-2019 12:03
Quote:Original Posted By 54m5u4d183


Tren golput sangat berpengaruh bagi elektabilitas petahana, kalau bagi Prabowo-Sandi enggak begitu berpengaruh. Dan Jokowi mengakui penurunan elektabilitas nya di Jateng, turun 2 persen dalam kurun waktu 4 minggu ke belakang berbarengan dengan peresmian Posko BPN Prabowo-Sandi di Kota Solo, Jawa Tengah pada 11 Januari lalu. Tapi sekarang udah naik kata jokowi.

Pada 25 Januari 2019 kemarin, Ketua Tim Cakra19 ( Tim senyap, kumpulan purnawirawan jenderal pendukung 01 ) mengatakan, jangan terlalu besarkan Nurhadi-Aldo, paslon fiktif. Hati-hati dengan capres ketiga. Jangan ikut gede-gedein. Walaupun itu lucu-lucuan, kalau gede beneran, kita ( jokowi-ma'ruf ) yang cenderung kena.

Tim medsos 02, main nya hashtag, hashtag primer, main dini hari ketika semua pada tidur, ketika bangun buka HP, tiba2 sudah jadi trending. Unik.

Ya buat petahana hati-hatilah dalam dua bulan lebih kedepan.


Quote:Original Posted By levyrtrow


Yang bikin mindset "pasti menang" justru survei-survei yang duluan menyatakan Jokowi menang jauh. Survei tersebut digembor-gemborkan TPN Jokowi sebagai bentuk kesuksesan, padahal hak pilih yang penting cuma di bilik suara. Ini bisa membuat pendukung Jokowi malah golput di hari H (karena absen).

Soal golput, gue memandangnya sebagai reaksi atas sikap Jokowi yang membuat pendukungnya mengalami cognitive dissonance. Bagi kaum progresif, kemenangan Jokowi harusnya jadi momentum kiri untuk melakukan rombak total (inilah kenapa jargon revolusi mental sangat populer), tapi kebijakan 5 tahun terakhir malah menyingkap bahwa Jokowi sebenarnya bukan orang kiri. Rasa kecewa ini yang membuat kaum progresif dan liberal malah beralih jadi golput.


Sepakat, karena untuk menggembosi suara 01 sangat sulit untuk merubah ke 02, paling masuk akal bikin golput.


Dalam waktu 2 bulan ini 01 cukup mempertahankan suaranya agar tidak golput saja aman, dengan golput akan memberikan kemenangan ke pihak lawan.
1
profile picture
Lapor Hansip
03-02-2019 12:04
Quote:Original Posted By basshits
Sepakat, karena untuk menggembosi suara 01 sangat sulit untuk merubah ke 02, paling masuk akal bikin golput.


Dalam waktu 2 bulan ini 01 cukup mempertahankan suaranya agar tidak golput saja aman, dengan golput akan memberikan kemenangan ke pihak lawan.
0
Lapor Hansip
03-02-2019 15:45
Quote:Original Posted By levyrtrow


Yang bikin mindset "pasti menang" justru survei-survei yang duluan menyatakan Jokowi menang jauh. Survei tersebut digembor-gemborkan TPN Jokowi sebagai bentuk kesuksesan, padahal hak pilih yang penting cuma di bilik suara. Ini bisa membuat pendukung Jokowi malah golput di hari H (karena absen).

Soal golput, gue memandangnya sebagai reaksi atas sikap Jokowi yang membuat pendukungnya mengalami cognitive dissonance. Bagi kaum progresif, kemenangan Jokowi harusnya jadi momentum kiri untuk melakukan rombak total (inilah kenapa jargon revolusi mental sangat populer), tapi kebijakan 5 tahun terakhir malah menyingkap bahwa Jokowi sebenarnya bukan orang kiri. Rasa kecewa ini yang membuat kaum progresif dan liberal malah beralih jadi golput.


Quote:Original Posted By rocketman90


Orang jg banyak golput krn Jokowi memilih Maruf Amin jd wapresnya. Kenapa? Karena Maruf Amin pernah menjadi saksi yg memberatkan Ahok dan sudah tua. Seandainya Jokowi mengangkat Mahfud MD sebagai wapresnya, tentu orang yg bakal golput ga sebanyak sekarang walaupun serangan anti Islam tetap ditujukan kepadanya dan dukungan NU ga sebesar sekarang.

Jokowi:
+ Petahana
+ Pembangunan infrastruktur
+ Pemberantasan korupsi
+ Penanganan maling ikan

Prabowo:
+ Buzzer socmed
+ Militansi simpatisan (berkat PKS)
+ Menggiring opini negatif terhadap pemerintah
+ Memancing kubu petahana untuk masuk ke dalam permainan mereka.


Yang saya bold kurang lebih sudah mencakup alasan kenapa saya golput.

Jelas saya tidak akan memilih Prabowo-Sandi, "keberpihakan" mereka lebih kelihatan ke golongan ultrakonservatif dan garis keras. Ditambah lagi timsesnya yang cenderung merendahkan minat kaum muda seperti ini: https://youtu.be/n59wGxYQz6g?t=471

Andai Nurhadi-Aldo bukan capres/cawapres fiktif..
1
profile picture
Lapor Hansip
03-02-2019 21:23

Pilpres kali ini kelihatannya bukan untuk memilih yg terbaik, tapi untuk mencegah yg terburuk berkuasa.


Ane setuju kalau Maruf Amin memperburuk pilihan pendukung Jokowi dan Ahok, tapi ketimbang gerombolan khilafah HTI, FPI, mafia migas, cendana, kroni orba dll di pihak sana yg berkuasa, maka mau tidak mau yg kecewa pun harus nyoblos Jokowi.
2
profile picture
Lapor Hansip
04-02-2019 06:31
ke kiri aj
1
profile picture
Lapor Hansip
04-02-2019 09:39
Quote:Copas dari akun FB Made Supriatma.

Perdebatan di Kiri: Setelah melenggang ke Kanan, mungkin baik kita kaji lagi perdebatan di Kiri. Pada bulan Agustus tahun lalu, Martin Suryajaya menuliskan Tesis Agustusnya. Idenya menurut saya sangat solid dan tertata rapi.

Sebulan kemudian, Gus Roy Murtadho menulis Tesis September-nya. Juga dengan landasan berpikirnya yang sangat legitimate dan solid.

Keduanya dikenal sebagai pemikir yang progresif. Mereka berada di Kiri jalan. Keduanya memberikan argumen mengapa memilih -- dalam hal ini Martin tegas mengatakan memilih Jokowi -- adalah pilihan yang logis. Hal ini dibantah oleh Gus Roy Murthado.

Jelas disini, untuk kaum Kiri, tidak ada pilihan untuk Prabowo Subianto. Dia adalah persona non-grata di ranah Kiri. Persoalannya kemudian tinggal apakah memilih Jokowi atau tidak memilih.

Sodara, demokrasi adalah soal berpikir. Soal memilih pilihan-pilihan yang sulit dengan pertimbangan dan argumen yang matang.

Silahkan nikmati kembali perdebatan ini. Saya mengharap akan lahir juga Tesis Februari dan tesis-tesis lanjutannya.

Jika olahraga membutuhkan latihan untuk membuahkan prestasi, intelektualitas juga membutuhkan perdebatan untuk membuahkan pikiran dan sikap yang solid.

Hanya mempertanyakan kapan lawan Anda sholat Jumat, atau sebaliknya mengejek lawan Anda hanya seekor kodok penipu, sama sekali tidak akan membuahkan apa-apa kecuali kebencian.

Demokrasi membutuhkan perdebatan. Perdebatan membutuhkan argumen. Dan argumen yang solid tidak saja membutuhkan fakta dan data, namun juga logika dan daya persuasi yang kuta.

Demokrasi yang berdasar kebencian, insinuasi, dan penyebaran rasa takut hanya menghasilkan fasisme dan kediktatoran, atau autokrasi.
Sodara masih punya kurang lebih dua bulan untuk menentukan sikap. Alangkah indahnya jika Anda memutuskan sesuatu dengan pikiran yang solid, landasan moral yang kuat, dan keyakinan yang teguh.

Mari kita nikmati perdebatan di kedua Tesis ini.

https://indoprogress.com/2018/08/tes...-pilpres-2019/

https://indoprogress.com/2018/09/tes...-pilpres-2019/

Pilpres 2019: Berlomba-lomba Melenggang ke Kanan
Pilpres 2019: Berlomba-lomba Melenggang ke Kanan
0
Halaman 2 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.