alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c30899682d4955fd87b44d0/aku-suci-true-story-17
Lapor Hansip
05-01-2019 17:40
AKU SUCI (True Story 17+)
Past Hot Thread
AKU SUCI (True Story 17+)
Broken Home. Mungkin sudah tidak asing lagi bagi kalian ya, jujur saja gua baru beberapa tahun lalu tau istilah ini. Kata itu mungkin paling dibenci oleh semua orang, termasuk diriku yg sudah merasakan dan mengalami hal itu. Yah semua orang tidak ada yg menginginkan hal itu, karena kita semua menginginkan yg terbaik untuk keluarga kita. Bukan begitu?

Pacaran sama kaka tiri, nemenin tidur kaka tiri. Dulu gua hanya baca hal kaya gitu di cerita-cerita dewasa yg kemungkinan besar juga fake/palsu. Tapi sekarang semua itu terjadi di kehidupan nyata. Dan gua sekarang melihat hal itu sangat biasa atau tidak aneh. Berbeda dengan dulu yg membaca ceritanya saja keringet bercucuran sampai celana basah dan napas ga beraturan (apaan sih? emoticon-Hammer )

Sebelumnya perkenalkan nama aku Dika umur sekarang 20 tahun. Enakan aku atau gua sih bahasanya? Gua aja kali ya? Oke deh!.

Sebenernya gua asli Jawa tapi karena sudah lama di Ibu Kota Jadi sudah terbiasa pake Bahasa Indonesia tapi bagusnya tidak sedikitpun bahasa Jawa gua hilang atau gua lupakan karena asal usul memang kudu selalu dijaga dan diingat. Gua udah lumayan lama liat2 cerita di forum ini khususnya curhatan orang2 di hth dan jadi tertarik sama forum hth & sfth karena tidak sengaja waktu itu lagi nyari2 cerita horor di google dan nyasar masuk ke forum ini jadi tau ada tempat untuk mencurahkan isi hati atau pengalaman unik kaya hth & sfth ini dan bagusnya daftar kaskus gampang ga ribet tanpa perlu ktp kk (dikira mau kredit motor kali emoticon-Big Grin).

Mohon ijin buat belajar nulis pengamalan hidup disini, kalo berantakan dan kurang dipahami tulisanya atau ada salah tempat mohon dikritik dan luruskan ya karena memang gua belum terlalu paham dengan fitur2 kaskus. Sebelumnya terimakasih dan happy reading gan/sis emoticon-Smilie
AKU SUCI (True Story 17+)


PART 1

Quote:Kampung Yang Asri

Suara burung berkicau menandakan fajar, sangat indah burung itu bersautan terdengar. Di halaman depan rumah juga terdengar sapu lidi bergesekan degan tanah. Yah itu suara ibu sedang membersihkan halaman depan, rutinitas yg selalu dilakukan setiap pagi oleh ibuku setelah selesai memasak sarapan. Kebetulan hari ini adalah hari minggu dimana banyak acara seru dan favorit tayang di tv. Bapak aku lihat sudah tidak ada mungkin sudah berangkat ke sawah untuk melihat padi yang hampir siap dipanen. Hari ini ibu mengajaku ke kebun untuk memetik tomat dan cabe yang sudah memerah, itu adalah hal yang paling aku sukai ketika libur sekolah, membantu ibu dan bapak memetik tomat dan terkadang aku menemukan beberapa jenis buah di kebunku yang sudah matang di pohon dan mengambilnya dengan antusias.

"Hati-hati manjatnya nak.."
"Nggih bu ini hati-hati.."

Akupun memanjatnya dan medapatkan 3 buah jambu klutuk atau biji yang sudah matang dan bergegas turun. Aku benar-benar bahagia dengan kehidupanku yg serdehana ini, rumah yang dikelilingi pohon mangga, kelapa juga nangka dan ada sungai kecil juga yang mengalir didepan rumah mengairi sawah-sawah di samping rumahku.

Sampai suatu ketika ibu menerima tawaran bekerja dikota, bapak dan aku benar-benar merasa keberatan karena semua pasti akan berubah apabila ibu bekerja keluar kota karena tidak ada yg mengurus rumah dan lainya. Tapi tekad ibu sudah bulat memutuskan untuk menerima tawaran itu dan bapak pun mengizinkannya meskipun dengan gestur berat hati.

**Stasiun

Pukul 3 sore aku, ibu dan bapak sampai di stasiun kereta. Hari ini adalah keberangkat ibu ke kota untuk bekerja, dengan berat hati aku melepaskan pelukan ibuku.

"Ibu berangkat dulu ya nak, jangan nakal dirumah nurut sama bapak ya dan harus bisa bangun pagi sendiri mulai besok.. nanti kalo butuh apa2 kabari ibu aja ya.. ibu berangkat dulu.." ucap ibu sambil mengecup kening dan pipiku.

Setelah berpamit denganku dan bapak ibu masuk kedalam gerbong kereta dengan mata yang berkaca-kaca melihatku menangis tidak rela melihat kepergian ibu ke kota. Bapak disampingku mengusap-usap kepalaku dan berjanji akan membelikanku bola sepak baru sepulang dari sini. Aku sedikit terhibur dengan tawaran itu. Kereta pun berangkat ibu melambaikan tangan dari dalamnya, perlahan-lahan ibu menjauh dan tak terlihat dari pandanganku. Memang dari kecil aku tidak bisa jauh dengan ibu paling jauh ibu pergi belanja kepasar itupun aku bawel bertanya berapa lama dan kapan pulang secara terus-menerus.

"Ayo pulang le.."
"Dika boleh nyusul ibu ga pak?"
"Boleh, tapi nanti kalo kamu sudah lulus sekolah dan siap kerja, makanya belajar yg bener ya kamu biar bisa kerja sesuai yg kamu mau di kota. Ayo pulang udah sore nanti keburu tutup toko bolanya.."

Aku hanya mengangguk dan berulang kali melihat ke arah peron berharap kereta yg dinaiki ibu kembali lagi, tapi hal itu tidak mungkin terjadi.

**
Hari ini pertama kalinya aku dan bapak menjalani hidup tanpa ibu, biasanya pagi hari ada yg menyiapkan seragam sekolah dan sarapan tapi kali ini aku harus mempersiapkan itu sendiri dibantu bapak yg terlihat sangat tegar tidak sepertiku.

"Itu bapak sudah buatin ubi rebus buat bekel uang jajan kamu biasa di meja tv ya le, bapak mau ke kelurahan dulu"
"Iya pak, hati-hati ya pak.."

Bapak pergi bekerja dengan menggunakan motor tua kesayangannya. Sedangkan aku berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki, karena memang jarak rumah ke sekolahku sangat dekat. Kebetulan aku anak satu-satunya dikeluarga ini jadi tidak ada adik atau kaka yg menemaniku.

Hari terus berlalu dan berganti, ibu sudah 3 bulan lebih bekerja dikota aku benar-benar merindukan sosoknya yg sangat membantuku dan benar-benar menjadi ibu yg sempurna untuku. Kali ini peran ibu sudah digantikan oleh bapak, beliau beperan sebagai kepala keluarga juga sekaligus sebagai ibu untuku dan dia juga sangat menyayangiku seperti ibu.

Hari ini sepulang sekolah aku sangat bahagia karena ada tukang pos mengantar paket dari ibu untuku. Saat aku buka ternyata isinya dua buah sepatu yg terlihat untuku dan bapak dan juga ada sebuah handphone keluaran terbaru yg sudah bisa kamera dan mp3, dimana hanya baru beberapa orang saja yg sudah memiliki handphone seperti itu disini karena memang dijaman itu harganya lumayan mahal.

**
Bulan terus berganti, ibu yg biasanya selalu menelepon dan memberi kabar setiap 3 hari sekali tapi 3 bulan kebelakang sudah jarang memberi kabar kepadaku dan bapak. Dan yg membuatku bingung sekalinya ibu menelpon bapak, selalu saja mereka bertengkar ditelepon, entah karena apa mereka seperti itu yg pasti aku sangat terpukul karena baru kali ini aku melihat bapak semarah itu kepada ibu. Aku benar-benar merasa semua sudah berubah dan tidak seindah dulu.

**
Hari ini ibu pulang dari kota, tapi entah kenapa suasana dirumah tidak seperti yg aku inginkan, lagi-lagi bapak dan ibu bertengkar dan kali ini lebih hebat sampai2 piring dan gelas pecah terlempar dan hampir melukai bapak. Aku hanya bisa berteriak "stop.. stop.. malu didengar tetangga"

"Aku mau kita pisah mas..." suara ibu berteriak

Aku yg mendengar itu hanya terdiam lemas dan tidak menyangka ibu yg selama ini aku hormati dan sayangi bisa mengeluarkan kata2 seperti itu, aku merasa ibu sudah benar-benar berubah.

"Yowis kalo itu maumu aku gabisa melarang, semoga kamu bahagia karo sing anyar.. Gusti Allah mboten sare aku ikhlas.." Bapak menjawabnya dengan tenang dan tersenyum.

Aku lagi2 hanya bisa terdiam semakin bingung dengan apa yg sedang terjadi, bapak menyuruhku masuk ke kamar sedangkan ibu merapihkan baju ke koper dan bergegas pergi tanpa aku bisa mencegahnya.

Apa ini yg kala itu bapak khawatirkan sehingga beliau tidak langsung mengijinkan ketika ibu mau bekerja dikota. Aku melihat bapak begitu tegar tapi aku yakin hatinya sangat kecewa dengan yg sudah terjadi. Perpisahan yg selama ini aku tidak pernah pikirkan hari ini terjadi dan terucap dari mulut kedua orang tua yg aku sangat sayangi.

"(Tok tok tok..) le tidur ya?"
"Belum pak masuk aja"
"Bapak mau ada yg diomongin sama Dika.." ucap beliau masuk

"Dika kan cowok udah gede udah mau masuk sma jadi pasti Dika tau mana yg baik dan buruk, ibu udah punya pilihan sendiri dan besar kemungkinan bapak gabisa ngurusin kamu lagi le jadi bapak mau pesan dengan siapapun kamu tinggal nanti tetep jadi anak yg baik dan berbakti sama orang tua ya.."

Ucap Bapak dengan wajah yg begitu kuat, aku mulai paham dengan apa yg sudah terjadi. Aku hanya bisa memeluk Bapak tanpa bisa berkata apa-apa.
Hari berganti tetangga sekitar sudah tau semua dengan apa yg terjadi dikeluargaku apalagi hidup di kampung yg orangnya sangat care dan selalu mau tau dengan apa yg terjadi di sekitarnya. Bapak belakangan ini juga banyak diam dan banyak menghabiskan waktu di masjid.

Seorang pengacara datang kerumahku dengan membawa sebuah surat dan bertemu dengan bapak.

"Sudah resmi ya pak, silahkan bapak baca dan tanda tangan disini. Hak asuh dimenangkan pihak perempuan ya pak.."

Kurang lebih seperti itu yg aku dengar dari obrolan mereka diruang tamu. Rasanya seperti mimpi, beberapa bulan yg lalu kami bertiga masih bercanda bersama tapi hari ini semuanya sudah berubah. Coba saja ya waktu itu ibu ga nerima tawaran itu pasti ini semua tidak akan terjadi. Andai waktu bisa diputar pasti aku bisa mencegahnya agar semua baik-baik saja. Tapi nasi sudah menjadi bubur.

Pengacara itupun bergegas pergi setelah menghabiskan teh di gelas. Bapak hanya terdiam melihat surat itu.

"Pak.. boleh Dika baca surat itu?"
"Eh kamu le, tolong beliin bapak obat sakit kepala sama koyo ya ke warung depan.." ucap bapak mengalihkan ucapanku

Saat berjalan ke warung hampir saja aku menginjak ular berwarna hitam putih yg sedang bersembunyi dibalik dedaunan, refleks aku menyebut nama Tuhan dan mengusir ular itu dengan kayu.

"Kamu yg sabar ya dik, semua orang yg hidup pasti ada cobaan dan kali ini keluarga kamu yg lagi di uji seperti ini.. tetep jadi anak yg baik ya" ucap tetanggaku atau pemilik warung
"Nggih bu.. matursuwun sanget.." jawabku sambil memberikan uang

Sampainya di rumah aku melihat bapak sedang mengemas barang-barang dan bajunya.

"Loh bapak mau kemana?"
"Besok bapak ijin pulang ke rumah mbah ya le, bapak udah ga ada hak tinggal disini lagi.. Lusa ibu kamu dateng jadi besok kamu dirumah bude dulu ya.."
"Kalo gitu Dika ikut bapak aja daripada ikut ibu"
"Lee.. kalo kamu ikut bapak nanti bapak salah. Inget pesen bapak kemarin toh, harus nurut dan tetep jadi anak baik ya dimanapun dan sama siapapun kamu tinggal nanti.."
"Tapi pak.."
"Kamu nanti kapan aja bisa ketemu bapak dan boleh main ke rumah mbah.. saiki kamu turu sesuk sekolah.. nurut yo.."

Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Malam ini mataku susah untuk dipejamkan mengingat masa-masa indah yg dulu terbangun di keluarga ini sudah hancur karena orang ketiga. Ibu yg aku sangat hormati telah melalukan kesalahan dengan menyakiti bapak yg sudah mati2an menjaga keluarga ini. Siapapun laki2 itu aku bakal membuat perhitungan kepadanya.
Diubah oleh d11kaa
profile-picture
profile-picture
profile-picture
die31 dan 126 lainnya memberi reputasi
119
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 107
05-01-2019 17:57
PART 2

Dua tahun sudah berlalu, rumah yg dari bayi aku tinggali sudah kosong tidak ada yg menempati dan semakin tidak terawat. Ya semenjak perpisahan orang tuaku aku tinggal bersama bude dan menolak ikut dengan ibu ke kota, dan aku sudah 1 tahun tidak bertemu dengan bapak. Aku sangat berharap bisa bertemu dengan beliau, tetapi sampai saat ini nomernya tidak aktif terkahir bapak kasih kabar 3 bulan yg lalu. Bisa saja aku pergi ke rumah mbah tapi jaraknya lumayan jauh berada di kabupaten sebelah jadi aku selalu tidak di ijinkan pergi kesana, atau mungkin karena ibuku melarangku bertemu dengan bapak? Jadi bude selalu tidak memberi ijin kepadaku pergi ke rumah mbah. Apabila itu benar aku tidak habis pikir.

"Dika tangi iku ene temenmu neng ngarep.." suara bude memanggilku karena ada temenku di depan rumah

Ternyata Fera temen sekelasku, atau lebih tepatnya cewek yg sekarang sangat dekat denganku tapi tanpa status (digantung emoticon-Hammer). Singkat tentang Fera, dia osis di smk tempatku bersekolah, badanya paling tinggi diantara cewek lain di kelasku dengan bodi yg bisa dibilang bagus atau menarik bagi cowok2 dan pipinya itu loh lumayan enak kalo diremas eh maksudnya dicubit. Dan kalo dia senyum satpam sekolah pun luluh olehnya, yah bisa dibilang dia cewek unggulan di sekolah, sangat beruntung memang cowok yg sering masuk ruang bp kaya aku bisa dekat denganya.

"Eh kamu ra tumben kesini?" Tanyaku ke Fera
"Mau nengokin kamu, tadi anak2 bilang kamu sakit jadi gamasuk sekolah.."
"Rada meriang aja badanku ra.. kamu sendiri aja?"
"Oh gtu.. iya sendiri.."
"Yaudah sini masuk, nanti item lagi diluar situ terus.."
"Makasih.."
"Puasa ga?" Tanyaku kepadanya
"Lagi merah jadi engga hehe.."
"Kalo aku lagi S jadi engga juga emoticon-Big Grin"
"Kamu emang kapan sih puasa, istirahat aja nyari jajan bukanya ngaji emoticon-Stick Out Tongue"
"Sssst.. jangan keras2 nanti kedengeran budeku"
"Ehh.. hehe maaf"

Setelah membuatkan minum aku kembali ke gazebo tua yg ada disamping rumah dan melihat Fera sedang asik dengan novel yg ia bawa.

"Wah novel baru tuh.." ucapku mengagetkanya
"Tau aja sih kamu, iya ini oleh-oleh dari Bapak yg kemarin baru pulang dari Jogja.."
"Orang harganya masih nempel emoticon-Big Grin Tentang apa tuh?"
"Aih jadi malu, Cinta yg tergantung.."
"Eheemm.. pas banget sih.." ledeku ke Fera

Dia hanya tersenyum malu, yah mungkin dia merasa menggantungku. Sudah 1 bulan lebih aku mengungkapkan rasa kepadanya tapi masih belum ia jawab juga, ya meskipun aku kala itu memberikan kelonggaran kapan saja dia siap dan ga perlu buru2 untuk menjawabnya, tapi gataunya dia terlalu santai dan sampai saat ini nothing jawaban emoticon-Hammer

"Mau jalan2 sore ga sekalian ngabuburit?" Ajaku ke Fera
"Kan lagi sakit kamunya, lagian kaya puasa aja ngabuburit" jawabnya menjulurkan lidah
"Mau ga nih?"
"Iya mau.."
"Sok jual mahal ya sama cowok ganteng"
"Ih pede banget ya.."
"Haha.. fakta jangan ditutup-tutupi lah.."
"Gelueh da.." jawabnya menjulurkan lidah lagi (untung lagi puasa emoticon-Hammer)

Sepanjang jalan hamparan sawah yg luas berwarna kekuningan menjadi pemandangan indah di sore yg cerah ini. Dibelakang Fera bernyanyi pelan dengan tangan masuk ke kantong sweaterku. Oh iya Fera itu asli Sunda yg pindah ke desa sebelah dan masuk ke sekolahku jadi bahasa jawa dia masih belum begitu fasih terkadang aku suka tertawa geli ketika dia salah mengucapkan kata dalam bahasa jawa yg membuat kalimatnya menjadi ambigu. Disekolah kita sering belajar bahasa Sunda dan Jawa bersama, dia mengajariku Sunda sedangkan aku sebaliknya. Anak2 disekolahku taunya kita pacaran, padahal boro2 pacaran dijawab aja belum ungkapan isi hatiku (dukun bantu aku dukun emoticon-Hammer)

"Itu pohon tomat ya?" Tanya Fera sambil menunjuk ke arah pematang sawah
"Bukan tapi semangka.."
"Ih itu tomat.."
"Udah tau nanya.."
"Ih dia mah.." jawabnya sambil mencubit perutku
"Sakit taooo.. maneh mah.."
"Lagian si!! hayang metik tomat dong.." ucapnya memasang wajah memohon yg membuat tanganku gemas melihat pipinya (remes jangan remes jangan emoticon-Genit)
"Nanti beberapa ratus meter kedepan aja disana lebih lengkap ada cabe, tomat, sama timun.."
"Dimarahin yg punya ga?"
"Bebas.."
"Asiiikkk.." teriaknya histeris yg membuat motor goyang kaya odong2 anak2 naik turun

Sampainya di tempat yg aku maksud Fera langsung turun dan sangat semangat melihat pohon tomat dan timun yg sangat lebat buahnya. Tidak jauh berbeda sawah dan kebun ini, ucapku lirih. Dahulu di hari minggu aku selalu semangat saat diajak ibu dan bapak ke sini, hari ini semua itu hanya menyisakan kenangan, kenangan yg tidak mungkin bisa terulang kembali.

"Dika.. liat!" Fera menunjukan timun yg sangat besar
"Ah masih gedean punyaku.."
"Mesum deh Dika mah.."
"Apaan hih, nih liat maksudku ini.. emoticon-Big Grin" jawabku sambil menunjukan timun didepanku yg masih menggantung di pohon
"Ehh kirain hehe.."
"Dasar πŸ˜‚ ambil yg banyak ra buat mamah kamu dirumah.."
"Gapapa emang?"
"Iya gapapa ambil aja sok.."

Selesai memetik tomat dan timun lumayan banyak kami bergegas pulang karena hari sudah sore.
Quote:Fera : Dika aku mau ngomong sesuatu boleh?"
Me : silahkan ra aku pelanin nih motornya biar kedengeran.."
Fera : aku mau.."
Me : mau apa? Es buah?"
Fera : bukan!
Me : terus naon atuh neng?
Fera : aku gelem dadi pacarmu (tumben nih bahasa jawanya bener πŸ˜‚)
Me : serius? Bercanda ga nih? Atau kepaksa lagi gara2 tadi aku sindir emoticon-Nohope"
Fera : aku serius, aku juga nyaman dan tresno awakmu"

Aku langsung menghentikan motor dan berteriak "yeahh akhirnya inyong ora jomblo lagi maaakkkk.." ke arah sawah kaya orang gila. Fera hanya tertawa dan menutup wajahnya karena malu diliatin orang2 yg lewat. Akhirnya penantian panjangku berkahir sudah.

"Makasih ra, jadi malam takbiran ada yg nemenin aku takbir keliling.." ucapku menyubit pipinya menandai bahwa sudah sah dia menjadi pacarku.
"Oooohh.. jadi nembak aku hanya karena buat nemenin malam takbiran doang.." jawabnya dengan memasang wajah judes
"Eit tidak atuh, karena memang aku cintaaaaa sangat ka anjeun.." jawabku sedikit mendrama (reader : alay ieeuhh emoticon-Busa emoticon-Ngakak (S))

Fera hanya tertawa geli, hari sudah sore kami melanjutkan perjalanan pulang, bude juga sudah menelponiku terus2an tidak seperti biasanya. Laju motor aku percepat tangan halusnya Fera lagi2 masuk ke kantong sweater bukan melingkar ke pinggulku (iyalah puasa2 bukan mukhrim woyy emoticon-Hammer)

Sampainya dirumah terlihat mobil berplat B terparkir di depan rumah bude. Sepertinya aku tidak asing dengan mobil itu, benar saja ternyata ibu pulang bersama suami dan anak tirinya.
Quote:Ibu : Dika dari mana kamu nak katanya lagi sakit ko main?
Me : biasa ngabuburit bu, kenalin nih Fera temen Dika bu
Fera : Fera bu
Ibu : iyah, sini masuk dulu nak sama Dika
Fera : gausah bu aku langsung aja soalnya udah mau maghrib
Ibu : yaudah hati2 ya dijalanya nak
Fera : iya bu, Dika makasih ya buat ini
Me : you're welcome dear (jawabku sambil mengedipkan mata)
Ibu : yee anak ibu udah mulai nakal ya (ibu menjewerku)
Me : bercanda bu, pulang sama siapa aja?
Ibu : Ayah sama kaka kamu, kaka kamu pengin ketemu kamu sekalian lebaran dan liburan disini, sana masuk ke dalem salim
Me : oh si om itu
Ibu : panggil ayah
Me : om..
Ibu : Dikaaa!!
Me : OM!!!

Akupun masuk kedalam, benar saja sudah ada laki2 yg aku benci dan perempuan muda seumuranku.

"Abis ngabuburit kamu dik?" Tanya ayah tiriku
"Iya om.." jawabku sengaja mengeraskan suara
"Dika yg sopan.." ucap Ibu
"Udah gapapa.." ayah tiriku menimpali
"Salim sama ayah dan kaka kamu dong nak.." ibu memaksaku

Terpaksa akupun salim dengan dua orang asing yg sekarang manjadi bagian keluargaku. Lebih tepatnya keluarga mamah, karena sampe detik ini aku memang tidak bisa menerima mereka apalagi sampe manggil laki2 itu ayah. Itu sangat tidak mungkin karena bagiku hanya ada satu sosok kepala keluarga untuku yaitu Bapak!.

"Dinda emoticon-Smilie" ucap anak perempuan yg sudah jadi kakak tiriku ku ini
"Dika" jawabku singkat

Terlihat sangat jauh berbeda memang cewek kota dengan desa. Yah gua akui Dinda memang cantik dan banyak kelebihnya sejauh ini terlihat dimataku, tapi untuk saat ini aku tidak tertarik denganya malahan aku lebih tertarik dan fokus ke laki2 disampingnya atau ayahnya.

Quote:Pura2 bikinin kopi buat laki2 breng**k ini terus aku kasih racun tikus yg ada di gudang kayaknya ide bagus jga nih, biar tau rasa laki2 perusak kebahagiaan keluargaku ini. Terlintas sebuah ide jahat dari otakku.




Diubah oleh d11kaa
profile-picture
profile-picture
profile-picture
chamak21 dan 39 lainnya memberi reputasi
38
05-01-2019 19:15
anak broken home kebanyakan dipandang bakal bandel atau diluar aturan. Semoga saja ts yg ini tidak, ijin nandai sambil nunggu kelanjutannya
2
05-01-2019 20:07
izin ninggalin jejak πŸ‘£
profile-picture
ganyolfc memberi reputasi
2
05-01-2019 21:35
izin gelar tiker gan
profile-picture
liamseka memberi reputasi
3
05-01-2019 22:26
bikin index nya bre ..
profile-picture
profile-picture
laksitapnjwsn dan yakuza24 memberi reputasi
1
06-01-2019 00:39
PART 3

Quote:Pura2 bikinin kopi buat laki2 breng**k ini terus aku kasih racun tikus yg ada di gudang kayaknya ide bagus jga nih, biar tau rasa laki2 perusak kebahagiaan keluargaku ini. Terlintas sebuah ide jahat dari otakku.


"Satu lagi le yg harus selalu kamu ingat sejahat apapapun orang lain ke kita, kita gaboleh membasalnya dengan kejahatan lagi, biarkan Gusti Allah yg membalasnya.."

Tiba2 aku mengingat pesan Bapak, akupun mengurungkan niat jahat itu dan memilih pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan.

"Selesai bersih2 langsung ke sini ya nak, sambil nunggu buka puasa mau ada yg ibu omongin sama kamu" perintah ibu kepadaku dan aku membalasnya dengan anggukan.

**
Ruang Tamu

Dinda atau kaka tiriku dari awal bertemu denganku selalu memandangiku dengan tatapan penasaran, tidak pernah liat cowok seganteng aku kali ya di kota, ucapku dalam hati menghibur diri. Ibu mulai membuka obrolan dengan sebuah kalimat yg membuatku marah dan syok. Yah kali ini ibu tidak main2 ingin membawaku ke kota dan pindah sekolah disana. Oh jadi ini jawaban kenapa belakangan ini Bude sering bolak-balik ke sekolahku, ternyata Bude sudah dari jauh2 hari mengurus kepindahanku ke kota. Kali ini aku tidak bisa berbuat banyak mau tidak mau aku harus ikut dengan kemauan ibuku dan Bude jga selalu mendorongku untuk mengikuti kemauan ibu demi kebaikanku ucapnya. Kali ini aku bingung harus bicara apa ke Fera, baru saja aku diterima cintanya oleh dia setelah sekian lama digantung, tapi harus ada kenyataan pahit yg harus kita terima. Mau tidak mau kita harus ldr atau yg lebih parah, PUTUS. Ya tuhan kenapa harus sesingkat ini kebahagiaan yg baru saja aku rasakan.

Adzan maghrib berkumandang, buka puasa di rumah bude sore ini lebih rame dari biasanya. Setelah meminum segelas sirup aku beranjak untuk melaksanakan solat maghrib dan siap2 untuk berangkat solat isya & tarawih ke masjid.

"Nak ibu sama ayah mau ke rumah tante, kamu ajak kaka kamu solat tarawih ya.." perintah ibu

Dinda keluar dari kamar sudah mengenakan mukena, terlihat semakin sempurna memang wajahnya tapi bagiku tetap Fera yg paling cantik dan manis dihidupku. Aku masih kaku denganya, sepanjang jalan ke masjid kami berdua lebih banyak diam. Oh iya Dinda itu umurnya satu tahun di atasku atau lebih tepatnya dia saat ini kelas 3 smk, badanya lebih pendek dariku tapi dia lebih berisi dan yg pertama kali aku lihat saat bertemu denganya sore tadi adalah bagian depanya, aku akui milik dia lebih unggul dari Fera dan besarnya juga di atas rata2 anak seumuranya, untung saja hari ini aku tidak puasa bisa2 berkurang banyak pahalaku apabila tadi sedang puasa dan fokus ke air bagnya itu emoticon-Hammer

"Gua dulu juga sama kaya lu ko.." tiba-tiba Dinda berbicara dengan logat kotanya
"Maksudmu?" Jawabku keheranan
"Iya, awal2 ibu lu hadir di hidup gua, gua jga sama kaya lu gabisa nerima dan butuh waktu lumayan lama untuk bisa nerima sosoknya. Tapi sekarang perlahan gua sadar dan bisa nerima dia. Bagaimanapun ini hidup kita yg sekarang meskipun kita gasuka mau ga mau kita harus terima dan menjalaninya, nanti juga lu bakal paham ko" Dinda tersenyum ke arahku dan aku hanya terdiam mendengar ucapanya

Tidak terasa kami sudah sampai di depan masjid, setelah aku memberi tahu Dinda dimana tempat wudhu aku langsung bergegas ke tukang cilok yg biasa mangkal di depan masjid.

"Woy dik.." sapa Amin dan Jono teman mainku yg sedang duduk memainkan sarung
"Ehh kalian, sini jajan lah kasian nih masnya masih banyak ciloknya.." jawabku sambil memasukan saos kedalam plastik
"Gak bawa duid aku.." jawab Jono
"Nih ada 7 ribu, bisa jadi dua.."
"Asik.. emang kamu tok dik sing eman.." jawab Jono sambil mendekat
"Sopo cewek yg tadi bareng kamu dik?" Tanya Amin
"Oh iku, anak tirinya ibuku.."
"Wah ayu yoo putih lagi.. bagi nomernya sini.."
"Boro2 nomer aku kenal aja baru tadi sore.."
"Yah gimana si, punya mbak ayo koyo ngono ngga due nomernya.." Jono menimpali
"Balik traweh aja mbakmu nongkorng di warung mendoan yo, siapa tau aku bisa kenalan emoticon-Big Grin" ucap amin
"Betu kui kenalin sama kita2 dik.." Jono lebih antusias
"Ah kalian kaya ga pernah liat cewek putih aja sampe segitunya, manisan jga Fera.."
"Walah kamu emang Fera terus.. gie momen langka dik ana cewek kota ke desa kita apalagi dia sudah jadi saodara kamu.." ucap Jono sambil mulut mengunyah cilok
"Iyo iyo nanti aku ajak ke sana, mata kalian memang ya gabisa liat yg bening dikit, udah ayo ambil wudhu keburu komat nanti.."

Ya beginilah hidup di kampung, penuh dengan keluguan dan selalu heboh apabila ada hal yg baru apalagi yg berbau kota. Dan yg membuat ramadhan di kampungku seru adalah masjid penuh oleh orang tua sampai anak2 kecil, terus bagian terasik adalah ketika selesai solat tarawih anak2 muda ada yg menyalakan petasan yg dibuat sendiri dan sebagian bermain bedug dan kentongan sedangkan anak2 kecil asik berebut makanan yg dibagikan. Aku bakal kangen dengan suasan ini dan suasana seru sore hari yg biasa aku lakukan dengan teman2ku pastinya nanti apabila aku sudah ikut ibu.

Selesai memainkan bedug masjid dan melihat anak2 kecil berbebut makanan aku langsung mengajak Dinda ke warung mendoan, disana sudah banyak teman2ku berkumpul dan heboh melihat kedatangan aku dan Dinda. Haduh udah kaya mau ketemu artis aja sampe segitunya, ucapku dalam hati.
Setelah lumayan lama di warung ini Dinda minta pulang karena sudah mulai ngantuk dan mungkin sudah cape meladeni pertanyaan dan gombalan yg di lontarkan oleh teman2ku, aku hanya tertawa geli melihat kaka tiruku diperlakukan bak seperti tuan putri eh atau malah kaya sebuah mainan, jahat kamu dik (ucapku ke diri sendiri emoticon-Hammer)

"Suwun ya dik sesuk dolan maning yo ajak mbakmu.." ucap Amin kegirangan karena sudah tau nama dan nomor telepon Dinda
"Imbalanya obat mercon sama karbit yaa.." jawabku
"Iso di atur kalo itu emoticon-Big Grin"

Jahat ga sih diriku? Memanfaatkan kaka tiri untuk keuntungan pribadi? Haha masa bodo ah yg penting besok stok obat mercon dan karbitku bakal bertambah, kebetulan Amin dirumahnya menjual obat mercon dan karbit jadi pasti dia tidak keberatan aku meminta itu emoticon-Big Grin Sampai di rumah ibu belum pulang sedangkan bude sedang membuat kue untuk lebaran, akupun membantunya atau lebih tepatnya merecokinya karena yg aku lakukan hanya memakan dan merusak kue2 yg sudah jadi emoticon-Hammer

"Itu wcnya gabisa dipake ya?" Dinda mengagetkan kami
"Oh iya ndu iku baru di benerin tadi sore jadi belum bisa dipake.." jawab Bude
"Perut Dinda sakit bude.."
"Kebelakang aja ndu di anter sama Dika ya, bawa senter pakde nih soalnya gelap.."
"(Ah ngerepotiin aja deh nih cewek, gatau aku lagi asik ngemil apa)" ucapku dalam hati

Dengan berat hati akupun mengantar Dinda ke empang yg ada di belakang rumah, betul sekali meskipun setiap rumah sudah memiliki wc tapi empang dengan kaskus tradisional masih tetap lestari sampai sekarang dikampungku. Selain membawa senter aku menyuruh Dinda membawa ember dan gayung untuk menadahi air yg mengalir.

"Jangan ngintip awas ya!"
"Enak aja, mending aku liatin bintang sama layangan yg cantik dengan kelap-kelip lampunya di atas.."
"Jangan jauh2 jga dong lunya.." teriak Dinda
"Ribet kamu ya, tadi gamau aku deket2 sekarang gaboleh jauh2 jga.."
"Takut gelap banget gini, mana banyak nyamuk gigitin lagi.."
"Namanya juga pedesaan, komen aja nih emoticon-Nohope"
"Ini bau apa?"
"Ga asing baunya, bau singkong bakar" jawabku sedikit merinding
"Emang ada orang bakar2 singkong malem2 gini?"
"Ga ada sih aku liat, tapi mitosnya sih disini kalo bau singkong gini ada genderuwo.." jawabku sambil melihat ke arah pohon randu yg sangat besar

"Dikaaaaa..."
Diubah oleh d11kaa
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nitaita1406 dan 21 lainnya memberi reputasi
22
06-01-2019 00:57
Quote:Original Posted By fe.febrian27 β–Ί
anak broken home kebanyakan dipandang bakal bandel atau diluar aturan. Semoga saja ts yg ini tidak, ijin nandai sambil nunggu kelanjutannya

Rata2 begitu gan. Amin
Quote:Original Posted By loongbeach77 β–Ί
izin ninggalin jejak πŸ‘£

Monggo emoticon-Cendol (S)
Quote:Original Posted By maman.id β–Ί
izin gelar tiker gan

Iya gan emoticon-coffee
Quote:Original Posted By andelagambut β–Ί
bikin index nya bre ..

Siap gan nanti belajar dulu
2
06-01-2019 01:04
ijin nenda gan
1
06-01-2019 01:10
Quote:Original Posted By moukiddi β–Ί
ijin nenda gan


Sumonggo gan, kritik dan saranya bakal selalu diterima emoticon-coffee
profile-picture
harvey7 memberi reputasi
2
06-01-2019 01:37
Yah kentang nih

Dindaaa
Aku padamu hahah
emoticon-Betty emoticon-Betty
1
06-01-2019 13:40
ikut mantau hu
1
06-01-2019 14:26
waduuhh kentang lagi nih... semangat gan apdetnyaaa.... biar banyak yg baca. muehehehe emoticon-Big Grin
1
06-01-2019 15:02
ijin matau ceritanya gan
profile-picture
rosie.teq memberi reputasi
2
06-01-2019 15:20
Dindaaaaa.. Aku padamu emoticon-Big Kiss emoticon-Big Kiss

Izin nenda gan.. Lanjutin ceritanya bagus nih emoticon-Hansip
2
06-01-2019 17:12
Mantap nih ada yg baru
2
06-01-2019 22:44
ikutan nimbrung ahh di cerita baru ..
mangga di lanjut lg sampe tamat ya mas dika ..😊😊
2
07-01-2019 13:37
Kirain uda panjang masi baru toh..
Kapan" aja bacanya dah kalo inget..
profile-picture
yohanesyn memberi reputasi
0
07-01-2019 13:44
Kayanya seru nii
2
07-01-2019 14:19
aku suci kelen penuh dosyah

gembok sekalian
profile-picture
anita.sutanty memberi reputasi
2
07-01-2019 15:26
PART 4


"Dikaaaa.." teriak Dinda Histeris
"Kamu apaan sih teriak2 gitu, nanti dikira aku ngapa2in kamu lagi!"
"Iiii...tuuu.. apaan matanya ko nyala.."

Dinda tiba2 sudah ada di depanku dan mengucapkan kalimat itu dengan terbata2 sambil menunjuk ke arah sawah, bau singkong bakar semakin jelas menyengat hidung. Aku melihat ke arah yg Dinda maksud dan memperhatikan seperti dua bolah mata yg menyala, bulu kuduku kali ini sudah benar2 berdiri semua. Saat aku memperjelas pandanganku ke arah yg terlihat seperti dua bola mata itu tiba2 dua benda itu terbang dan berpencar. Apah? kan sudah kuduga pasti itu hanya dua kunang2 yg terbang sejajar, lagi pula ini bulan ramadhan mana mungkin ada setan, gerutuku dalam hati merasa kesal. Tapi darimana bau singkong ini berasal?


"Udah buka mata kamu itu hanya kunang2 ko bukan setan, terus lepasin aku.." ucapku sambil mencoba meyakinkanya
"Bener?"
"Iya bener, yaudah sana lanjutin lagi katanya mules"
"Gamau gua udah ga mules, mending kita balik aja!!"
"Yaudah lepasin aku dong, ayo kita balik ke rumah.."

Empuk dan seperti ada yg mendorong dadaku yg aku rasakan dan ini adalah first time aku dipeluk cewek dan merasakan kenyalnya sebuah balon kembar, sebelumnya aku hanya bisa berimajinasi saja dengan hal seperti ini emoticon-Hammer Dinda berjalan duluan didepanku sedangkan aku berjalan dibelakangnya memegangi senter, sesekali aku iseng mengarahkan senter itu ke badanya dari atas sampai bawah tanpa ia ketahui, bagus juga lekukan bodinya, ucapku lirih.

"Ngomong apa lu tadi?" Ucap Dinda berhenti dan menatapku
"Endak, aku ga ngomong apa2" jawabku sambil mengarahkan senter ke depan agar tidak ketauan
"Awas aja ya kalo nakut2in, gua bilangin ibu nanti!"
"Dasar penakut"
"Bodooo!!"

Masa iya sih cewek kaya dia harus jadi kakaku, belum apa2 aja sudah membuatku repot apalagi nanti kalo sudah tinggal satu rumah. Tetapi bukanya aku dari dulu pengin banget punya kaka perempuan ya agar ada yg bisa membantuku ngerjain tugas atau jadi temen curhat apapabila aku sedang galau, dan mungkin sekarang Tuhan mengabulkan hal itu dengan cara yg seperti ini.

Sampai di rumah aku lihat ibu sudah pulang membawa belanjaan yg lumayan banyak, mungkin untuk persiapan hari raya dan sekalian membelikan kebutuhan untuk bude juga. Sedangkan Dinda langsung masuk ke kamarku, yah dia menempati kamarku sedangkan aku harus mengalah tidur di depan tv, memang ngeselin cewek itu baru sehari saja disini udah berhasil membuatku terusir dari kamar.

Jam menunjukan pukul 21:45 malam, aku mencoba menelpon Fera untuk memberi kabar kepindahanku ke kota, tapi niat itu aku urungkan dan memilih berbicara langsung saja besok pagi atau sore di tempat biasa aku, Jono, Amin dan anak2 lainya menghabiskan waktu sore hari sambil bermain petasan dan jeblukan atau meriam dari bambu. Lalu aku beralih ke nomer bapak, saat aku telepon tetap saja nomer beliau tidak aktif jga. Semoga bapak baik2 saja dan sehat. Besok aku bakal minta ijin ke ibu untuk kerumah mbah dan harus bisa karena beberapa hari lagi aku sudah berangkat ke kota dan harus bertemu dengan bapak terlebih dahulu.

Pukul 03:00

Suara remaja dan anak2 terdengar jelas membangunkan sahur dengan bedug dan kentongan yg di arak keliling. Seperti inilah tradisi dikampungku setiap bulan suci hadir, banyak kemeriahan dan keseruan yg bisa kita lakukan.

"Sahur... Sahur... Sahur.."
"Dika Dinda tangi sahur sahur sahur.."

Suara itu terdengar dari depan rumah bude dan tidak asing bagiku suara itu, Jono dan Amin. Mereka berdua selalu rajin membangunkan orang2 dikampung ini untuk sahur dan dari hari pertama puasa mereka tidak pernah absen melakukan hal itu, tidak sepertiku yg lebih banyak menghabiskan waktu dirumah dan susah bangun saat sahur emoticon-Hammer

Selesai sikat gigi dan cuci muka aku lihat orang2 rumah sudah siap di meja makan termasuk laki2 yg berusaha menggantikan posisi bapak dan juga Dinda, rajin juga anak ini. Ramadhan tahun ini banyak banget acara seru di tv dan menjadikan makan sahur lebih berwarna.


"Tadi ibu denger ada yg bangunin sahur manggil nama kamu dan kak Dinda nak emang udah pada kenal sama kaka kamu?" Tanya ibu sambil mengambilkan ayam kecap kesukaanku ke piring
"Iya sudah bu, kan tadi abis solat teraweh Dika sama Dinda main ke warung mendoan mbok jum.."
"Oh pantesan, tadi itu suaranya Amin kan anaknya pak rt?"
"Iya betul bu itu amin, dia langsung suka loh bu sama Dinda baru sekali liat juga.."
"(Dinda yg ada di sebelahku molotot ke arahku tanda dia keberatan dengan kata2ku)"
"Terus udah minta nomer Dinda jga loh bu.." sengaja aku menceritakan lengkap dan membuatnya lebih kesal, kali ini dia menginjak kakiku dibawah meja lumayan keras
"Dasar ya anak2 .." jawab ibu tertawa


Aku merasa puas dan tertawa kecil karena sudah membuat malu cewek ngeselin disampingku ini dan melanjutkan makan sahur tanpa menghiraukan tatapan kesal Dinda disampingku. Setelah selesai makan sahur aku langsung pamit ke bude dan ibu untuk pergi ke masjid melaksanakan solat subuh menggunakan sepeda kesayangan yg aku beli saat aku disunat dulu.

Matahari mulai menampakan wajahnya di ufuk timur, embun di dedaunan masih terlihat jelas. Pagi ini desaku terasa lebih dingin dari bulan2 sebelumnya, mungkin karena sudah memasuki musim kemarau. Kakiku mempercepat mengayuh sepeda, di depanku Fera meledeku dengan kata2 "dasar lemah" yg membuatku semakin terpacu mempercepat laju sepedaku. Pagi ini setelah solat subuh kami berdua berolahraga bersama dengan mengelilingi desa. Fera menghentikan sepedanya diikuti olehku dan kami duduk menghadap ke kebun jeruk yg terbentang luas.


"Pertama kali liat kamu pas aku masuk ke sekolah kita, aku pikir kamu cowok yg ga normal dik.." Fera membuka obrolan
"Maksudmu aku ga doyan cewek?"
"Iya.." jawabnya tertawa geli
"Sembarangan, ko bisa2nya kamu berpikir kaya gtu?"
"Ya abisnya udah badanya putih, rajin pake lotion tangan terus ngomongnya alus banget kaya cewek.."
"Jahat kamu ra emoticon-Nohope"
"Bercanda dik hehe.. jujur dari pas kamu ngangkat aku ke uks pas pingsan dan nungguin aku sampe sadar, kamu langsung ada nilai plus dimataku.." ucap Fera tersenyum menatap mataku (duh diabetes deh emoticon-Genit)
"Bilang aja kamu langsung luluh dan suka sama aku 😎 segala bilang ada nilai plus.." ledeku ke Fera
"Ih apaan sih.. engga yee.." balasnya sambil menabok lenganku dengan komik yg ia pegang
"Dasar jaimπŸ˜‚"
"Oh ya mau nanya boleh ra?"
"Iyah apa?"
"Misalkan aku pergi jauh apa hati kita tetap bisa sama2?"
"Mau kemana?"
"Jawab dulu ra"
"Teu nyaho.."
"Kenapa gatau?"
"Coba kamu jelasin dulu maksud kamu nanya gini apa?"

Akupun menjelaskan kepadanya tentang kepindahanku ke kota, setelah panjang lebar aku menjelaskan nampak raut kekecewaan dari wajah Fera matanya yg sebelumnya biasa saja kali ini memerah, dia beberapa detik menatap kosong ke arah kebun yg ada didepan kami. Aku tau dia sangat kecewa dengan hal ini, bertahun-tahun kita dekat dan bersama seperti pacaran ya walaupun baru kemarin kita memiliki status hubungan yg jelas, tapi beberapa hari kedepan harus dipisahkan karena keadaan.


"(Fera tersenyum dan menatapku)"
"Itu yg terbaik buatmu dik, kamu harus nurut sama ibu dan gaperlu mikirin aku disini. Masa depanmu lebih penting daripada hubungan ini.."
"Sejauh apapun kita nanti dan meskipun sudah tidak sama2 lagi, yg kamu harus tau aku bakal tetap menjaga perasaan ini buat kamu.."
"Satu lagi, aku pesen buat kamu tetap jadi Dika yg aku kenal ya. Baik, tidak aneh2 dan harus bisa jaga diri dari hal2 negatif"

Fera mengakhiri ucapanya dengan menarik hidungku. Aku terdiam mendengar kata2 itu semua, dan aku sangat paham maksud dari kata2 yg terucap darinya. Ya mungkin inilah yg terbaik untuk kita, jalan masih panjang dan bukan tidak mungkin nanti aku kembali denganya dan membangun sebuah hubungan lagi. Suara kicauan burung terdengar lirih tidak seperti biasanya seakan-akan tahu dengan apa yg sedang kami rasakan.

Quote:Fyi : Hubungan gua dengan Fera bisa dibilang pengalaman pacaran terunik dari hubungan yg lainya, karena itu sebuah hubungan/pacaran tercepat yg pernah gua alami semasa hidup gua. Satu hari jadian ke esokan harinya sudah berubah lagi statusnya, bukan karena tidak cinta atau Fera menyesal telah menerima cintaku πŸ˜‚ tapi karena kehidupan gua yg penuh drama emoticon-Hammerdan sampai detik ini kisah cinta gua dengan Fera masih menjadi pemegang rekor terunik yg pernah gua alami. (Ini gua cuma ngasih tau ya bukan cari simpati atau biar di kasihaniπŸ˜‚ emoticon-Hammer Reader : Kaga nanya woy!! emoticon-Ngakak (S))
Diubah oleh d11kaa
profile-picture
profile-picture
profile-picture
brokensteinn dan 26 lainnya memberi reputasi
19
Halaman 1 dari 107
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
akhir-penantian
Stories from the Heart
long-lost-love
Stories from the Heart
milk--mocha
icon-jualbeli
Jual Beli
Β© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.