alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
2140
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bd16b91dc06bd44528b456a/tamat-pacarku-kuntilanak
Suasana sedih kembali menyeruak di kamar Asnawi. Febri dan Eka seakan akan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Mereka pun meninta Asnawi menjelaskan semuanya. Asnawi akhirnya manceritakan semua kejadian yang menimpa Hayati dan dirinya di Sumadra sampai kejadian perginya Hayati ke alam baka. Febri pun tidak kuasa menitikan air mata ketika mendengar Hayati pergi,sementara Eka hanya terdiam da
Lapor Hansip
25-10-2018 14:06

PACARKU KUNTILANAK (Romance, Horror, Ecchi, BB17+)

Past Hot Thread
[TAMAT] PACARKU KUNTILANAK

Sebelumnya ane Mohon izin kepada para sesepuh di Forum SFTH, ane mau sharing cerita fiksi yang ane dapet dari wangsit di alam mimpi semalem berhubung kisah hidup ane nggak menarik buat di share jadi ane share cerita fiksi. 
ane mohon maaf juga bila ada kata-kata yang tidak berkenan di hati agan-agan yang baik dan penulisan yang berantakan karena ini pertama kalinya ane menulis wangsit yang ane terima ke dalam sebuah karya tulis.
Sinopsis



INDEX


Penampakan



Mohon Commentnya ya gan, biar ane semangat Update wangsit nya emoticon-Blue Guy Peace
emoticon-Blue Guy Peace emoticon-Blue Guy Peace emoticon-Blue Guy Peace emoticon-Blue Guy Peace

Ane mau ngucapin terima kasih banyak buat Agan-agan yang baik hati yang udah ngasih Cendol Manis, Semoga Rezeki Agan-agan yang baik hati semakin Berlimpah ......emoticon-thumbsup emoticon-Salaman emoticon-Smilie emoticon-Smilie emoticon-Smilie
[TAMAT] PACARKU KUNTILANAK
[TAMAT] PACARKU KUNTILANAK

Akhirnya kisah ini selesai dengan meninggalkan banyak misteri yang belum terkuak, untuk itu nantikan kisah selanjutnya di novel lanjutan cerita ini


Follow Instagram Martincorp_Official di : Martincorp69

Kunjungi juga Wattpad ane di Link : PACARKU KUNTILANAK
Polling
393 Suara
Siapakh Karakter Favorit Agan ? 
Diubah oleh Martincorp
profile-picture
profile-picture
profile-picture
black392 dan 179 lainnya memberi reputasi
174
Tampilkan isi Thread
Halaman 7 dari 108
[TAMAT] PACARKU KUNTILANAK
18-11-2018 17:05
Sundul juragan, lancrotkan..
0 0
0
[TAMAT] PACARKU KUNTILANAK
18-11-2018 18:51
lanjutkann
0 0
0
[TAMAT] PACARKU KUNTILANAK
18-11-2018 18:52
Lanjut dong gan
0 0
0
[TAMAT] PACARKU KUNTILANAK
18-11-2018 18:54
lanjutkan gan
0 0
0
[TAMAT] PACARKU KUNTILANAK
18-11-2018 19:06
nitip sendal
0 0
0
[TAMAT] PACARKU KUNTILANAK
18-11-2018 19:09
komen ah biar dikira update emoticon-Wkwkwk
0 0
0
[TAMAT] PACARKU KUNTILANAK
18-11-2018 20:28
anjer emoticon-Ngakak
Gw kira bakalan serius jalan ceritanya
0 0
0
[TAMAT] PACARKU KUNTILANAK
18-11-2018 20:56
Mantap euy alur ceritanya

Lancrotkan rudolfo emoticon-Om Telolet Om!
0 0
0
[TAMAT] PACARKU KUNTILANAK
18-11-2018 20:59
Lancrotkan hu.. Mantap ikehh
0 0
0
[TAMAT] PACARKU KUNTILANAK
18-11-2018 22:15
di tunggu lanjutan nya 😁
0 0
0
[TAMAT] PACARKU KUNTILANAK
18-11-2018 22:20
Mantappp gan..emoticon-Toast ..lanjutkan..penasaran sama ceritanya....emoticon-Jempol ...saya kasih cendol dulu gan biar nambah semangat...emoticon-Cendol Gan ..
0 0
0
[TAMAT] PACARKU KUNTILANAK
18-11-2018 22:31
Endi iki lanjutan e
0 0
0
[TAMAT] PACARKU KUNTILANAK
18-11-2018 23:08
emoticon-Sundulemoticon-Sundulemoticon-Sundulemoticon-Sundulemoticon-Sundulemoticon-Sundulemoticon-Sundul
0 0
0
[TAMAT] PACARKU KUNTILANAK
18-11-2018 23:16
Lanjuuuttt
0 0
0
[TAMAT] PACARKU KUNTILANAK
18-11-2018 23:38
bhahhaa..alejandro anjaylah
0 1
-1
[TAMAT] PACARKU KUNTILANAK
19-11-2018 03:23
lanjut kang, seru nih crt serem2 kocak
0 0
0
[TAMAT] PACARKU KUNTILANAK
19-11-2018 03:28
Menunggu kelanjutannya 😁
0 0
0
[TAMAT] PACARKU KUNTILANAK
19-11-2018 06:02
btw ini uda abis y atau masih ada lanjutannya ?

g cengar cengir sendiri baca trit u.
cm bs ksh yg ijo2 dikit doank maklum msh kyubi ehh newbie
0 0
0
[TAMAT] PACARKU KUNTILANAK
19-11-2018 07:59
BAGIAN 19
PORTAL POHON

Jam dinding menunjukkan pukul 11.00 malam, Asnawi berbaring terlentang di tempat tidur dengan Cascade di sebelahnya yang sudah tertidur sambil memeluk tubuh Asnawi. 3 jam sudah Asnawi malewati ujian berat ini dan akhirnya untuk pertama kalinya dia berhasil lulus dengan sempurna dari ujian berat kamar Cascade. Doa Asnawi dikabulkan Tuhan, dia sangat senang melihat dia berbaring dengan baju yang masih lengkap dan tidak terbuka sedikitpun. Begitu juga Cascade yang terlelap tidur dengan baju yang masih lengkap. Asnawi berhasil menahan gejolak Syahwatnya dan mencegah keluarnya Monster Kyubii yang dari tadi terus menerus mendesak tubuhnya.
Dipikirannya hanya terbayang wajah Hayati yang tesenyum manis kepadanya dan dan kenangan ketika pertama kali bertemu di jalanan angker itu. Asnawi juga membayangkan dirinya membenamkan wajah ke dada Hayati yang besar, empuk dan dingin seperti bantal yang terbuat dari salju.
Dia langsung melepas pelukan Cascade yang tertidur dan bangkit dari tempat tidur. Asnawi berdiri sejenak untuk melihat Cascade yang terlelap, kemudian dia menyelimuti tubuh Cascade dan mencium keningnya. “Sorry yah Cas.....sekarang hati gue udah beralih ke Hayati, sesuai keinginan lu” gumam Asnawi berbicara ke Cascade yang terlelap. Asnawi kemudian memakai jaketnya dan berjalan keluar kamar dengan pelan. Setelah keluar Asnawi berjalan perlahan juga menuju keluar rumah sambil celingak-celinguk takut ada Bi Asih yang bisa dipastikan akan memberikan gelombag tsunami susulan, mengingat Asnawi sudah tidak bisa lagi menahannya lagi. Akhirnya dia mendekati pintu keluar dan mulai bernapas lega karena tiak ada kehadiran Bi Asih. Kemungkinan Bi Asih sudah tertidur di kamarnya, dengan muka bahagia dia membuka pintu keluar, tiba-tiba ada sesosok perempuan memakai baju daster putih panjang, memakai masker wajah warna putih dan rambut panjang yang terurai. Asnawi kaget dan langsung terjengkang ke belakang.
“Aden kenapa....ketakutan banget liat Bibi...” kata Bi Asih heran.
“ maaf Bi,...kirain Bi Asih Kuntilanak....hehehehe “ kata Asnawi sambil kembali berdiri.
“mau kemana Den...? bukannya mau nginep disini?”
“mau pulang Bi, jemput temen...Bi Asih lagi ngapain malem-malem gini ada di luar?”
“aku udah nyiapin mobil buat besok ke Pasar Den....” jawab Bi Asih yang menujuk ke sebuah mobil Range Rover Evoc warna putih yang terparkir di halaman.” Udah Den jangan pulang, nginep disini aja yah, nemenin Bibi yang gak bisa tidur seperti biasanya....hehehe” ajak Bi Asih yang memegang tangan Asnawi dan berusaha menarik kembali ke dalam rumah. Asnawi langsung melepas pegangan tangan Bi Asih dan langsung menaiki motornya.”Punten Bi Asih....akunya lagi buru-buru banget...maafin yah, lain kali aja yah Bi....dadah” Asnawi langsung menancap gas dan pergi meninggalkan Bi Asih, terlihat Bi Asih melayangkan ciuman udaranya ke Asnawi sebagai tanda perpisahan. “untung aje gue bisa ngehindar Bi Asih, kalo engga.....hancur deh gue” gumam Asnawi dalam hati.
Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, Asnawi berhenti di sebuah SPBU untuk mengisi bensin motor dan menelepon Febri.
“HALO....Brooooo”
“woy........kemana aje lu, dari tadi ga balik-balik? Kita-kita laper nih nungguin lu bawain makan...”
“Sorry banget brooo...sekarang gue lagi dijalan, mau ke tempat Hayati”
“APAAAAA??!!....serius lu mau datengin tempat angker itu lagi sekarang?”
“iya brooo.......gue udah gakuat galau terus, bener kata si Eka, gue musti ngedatenginya dan minta maaf ke dia”
“oke brooo....GOOD LUCK yah..hati hati dijalan, semoga lu bisa ketemu Hayati dan kembali kaya dulu”
“Thank’s ya broo....doain gue biar selamet”
Telepon langsung ditutup Asnawi. Febri yang masih tidak percaya segera membangunkan Eka yang sudah tertidur untuk memberitahunya tentang Asnawi. Kebetulan Utami berada di kamar kos mengawasi gerak gerik Febri dan Eka. Betapa kagetnya Utami setelah mendengar cerita Febri yang tentang Asnawi yang pergi sendirian malam ini ke tempat asal Hayati untuk meminta maaf dan menjemputnya. “duh GAWAT, kenapa si Asnawi malah pergi ke tempat angker itu, padahal kan selama ini Mbak Kunti berada di taman......hmmmm.. aku musti ngasih tau Mbak Kunti sekarang juga” gumam Utami yang panik. Kemudian dia melayang keluar kamar dan pergi menuju taman. Utami terbang dengan sangat cepat seperti Superman yang sedang mengejar musuh. Begitu masuk taman Utami langsung terbang ke pohon tempat Hayati berada, namun di atas pohon cuma ada Ratih yang sedang duduk di batang pohon sambil memotong kukunya dengan golok.
“mbak Ratih.......mbak Kunti kemana yah????.....ada urusan gawat darurat nih!!” tanya Utami dengan napas terengah-engah.
“dari tadi sore dia pergi ke pohon mahoni yang di pinggir jalan sambil bawa tali tambang..gatau tuh dia mau ngapain...emang darurat apa sih sampe segitunya lu pengen ketemu dia?” Jawab Ratih.
“anterin dong mbak....plissss.....aku takut kesana sendirian, gelap banget..hehehe” kata Utami dengan wajah memelasnya.
“yaelah.......lu mah yah, setan paling penakut yang pernah gue kenal.....” keluh Ratih yang kemudian menarik tangan Utami dan membawanya pergi menuju pohon mahoni tempat Hayati berada. Pohon mahoni itu berada di ujung hutan kota, cukup jauh dari tempat tinggal Ratih. Setelah beberapa menit mereka terbang melayang melewati hutang kota yang cukup lebat, akhirnya sampailah mereka ke pohon mahoni itu. Terlihat tubuh Hayati yang tergantung di pohon dengan leher yang masih tejerat sebuah tali tambang. Utami dan Ratih kaget melihat keadaan Hayati yang melakukan aksi gantung diri, bahkan Utami sampai mengeluarkan air matanya kerika melihat pemandangan itu, karena dia teringat bagaimana sakitnya gantung diri, sementara Ratih hanya menggeleng-gelengka kepala karena heran dengan kelakuan konyol Hayati.
“Dasar Kuntilanak alay......ckckckckc....mana mungkin dia mati gantung diri..toh dia sendiri udah mati” kata Ratih heran.
“yuk mbak kita ke atas, melepas ikatan Mbak Kunti....” ajak Utami.
Mereka kaget, ketika sampai ke atas tempat Hayati gantung diri, tampak ekspresi wajah Hayati yang mengerikan dengan kedua mata melotot, lidah menjulur dan tulang leher yang tampak patah.
“mbak...bangun mbak....mbak....Asnawi mbak.....Asnawi nyariin mbak...!!” kata utami yang berusha membangunkan Hayati.
“Apaaaahhhhh....????............di mana dia?......dimana mas Nawi Ku?” tiba-tiba Hayati terbangun dan menanyakakan keberadan Asnawi .
“dia pergi ke tempat asal mbak di Garut....” jawab Utami.
“kenapa kamu ga bilang ke mas Nawi kalo selama ini aku ada di taman....??” tanya Hayati ngegas.
“aku sekarang ga bisa komunikasi sama Asnawi, dia jadi ga bisa melihatku, bahkan ngerasain kehadiran ku juga engga bisa..” jawab Utami.
“duuh gawat banget nih kalo mas Nawi sampe kesana sendirian....dia..dia bisa ditangkep sama bos ku” kata Hayati dengan raut wajah cemas.
“emang bos kamu siapa Jeng...?” tanya Ratih.
“Siluman Wewe Gombel Jeng....dia suka mangincar jiwa-jiwa pria yang tersesat....duuh gimana yah....aku PANIK......PANIK” Hayati mulai mengoceh tidak jelas.
“Kalem Jeng.......lu bisa pake Portal Pohon gue buat nyampe dengan cepat ke tempat asal lu” kata Ratih dengan santai.
“kamu punya Portal Pohon Jeng..???” tanya Hayati dan dijawab dengan anggukan kepala Ratih.
“Yesss...yesss....akhirnya aku bisa cepat nyampe kesana...tapi..tapi...tolong lepasin tali ini dong Tami.....Plisssss” kata Hayati.
Utami dengan keras berusaha membuka simpul tali yang menjerat leher Hayati. Dia dibantu oleh Ratih yang juga mengalami kesulitan dalam membuka simpul talinya.
“yaah..mbak susah banget bukanya...hmmmm..eh mbak Ratih tolong dong otong talinya pake golok mbak..?” kata Utami
Kemudian Ratih mulai mengeluarkan goloknya dan langsung mengayunkannya ke arah tali, namun tiba-tiba tebasan golok Ratih meleset. Bukannya menebas tali tetapi malah menebas leher Hayati sampai terputus. Tubuh Hayati langsung terjun bebas dari atas pohon ke permukaan tanah dan kepalanya masih terikat di tali. Utami seketika menjerit ketik darah Hayati muncrat ke wajahnya.
“aduh....maaf Jeng...gue salah nebas...abisnya disini gelap banget..hehehehe” kata Ratih dengan eskpresi wajah tanpa dosanya.
“Gapapa Jeng.........Tami tolong dong sambungin kepala sama badan mbak yah...plissss.”kata Hayati
“ihhh...gamau mbak....aku takut banget” kata Utami dengan wajah ngeri sambil membersihkan darah Hayati di mukanya.
“ayooo dong...kamu kan adek ku yang terbaik...hehe” Hayati memelas.
Akhrinya dengan tangan gemetaran utami memaksakan diri mengambil kepala Hayati yang masih tergantung dan mengangkatnya perlahan menuju badan Hayati yang tergeletak di atas tanah. Utami menempelkan kepala Hayati dengan badannya secara perlahan, kemudian beberapa detik kemudian leher Hayati mulai tersambung kembali dan Hayati langsung bangun.
“ayo Jeng....kita musti cepet-cepet ke pohon kamu” ajak Hayati.
“whoa...whoa..kalem dulu dong.....emang kenapa musti cepet-cepet?” tanya Ratih.
“ aku takut kalo mas Nawi udah ketangkep sama Wewe Gombel dan kena ciuman mautnya”. Jawab Hayati.
“waduh...bisa gawat banget nih...hayu kita pergi” kata Ratih.
Mereka bertiga kemudian melayang dan terbang menuju puhun Ratih yang berada di tengah hutan kota. Utami masih kebingungan dengan perkataan Hayati tentang ciuman maut Wewe Gombel.
“mbak Kunti....maksudnya ciuman maut Wewe Gombel tuh apa?”tanya Utami
“itu cara Wewe Gombel mengambil jiwa manusia, melalui sebuah ciuman yang langsung menarik jiwa keluar dari raganya...” jelas Hayati.
Beberapa saat kemudian mereka sampai ke pohon beringin tempat tinggal Ratih. Di batang utama terdapat sebuah lubang gelap dengan diameter sekitar 60 cm. Ratih kemudian mengammbil sebuah tempayan yang terbuat dari batok kelapa dari dalam lubang itu.
“Jeng...coba kamu alirkan darah ke tempayan ini untuk mengetahui koordinat tujuan mu..” kata Ratih sambil menyodorkan tempayan ke Hayati. Kemudian Hayati menyayat tangan kanannya dengan golok Ratih dan mengalirkan darahnya cukup banyak kedalam tempayan. Setelah tempayannya penuh dengan genangan darah Hayati, kemudian Ratih menyimpan tempayan itu kedalam lubang pohon dan menunggu beberapa saat. Ratih kemudian merogoh sesuatu di dadanya dan mengambil suatu botol kecil yang berisi cairan bening. Botol itu disimpan diatara jepitan buah dada Ratih.
“nih ambillah, kasiin ke pacarmu jika semuanya sudah terlambat.....semoga cairan itu bisa menyelamatkan pacarmu..” kata Ratih yang memeberikan botol kecil itu ke Hayati.
“mbak..itu cairan apaan” tanya Utami bingung.
“itu cairan perawan....” jawab Ratih singkat.
“tapi cairan perawan gimana maksudnya....aku ga ngerti..”tanya utami lagi.
Hayati kemudian mendekati telinga utami dan membisikan sesuatu penjelasan tentang cairan perawan itu. Utami hanya terdiam dan kaget ketika mendapat bisikan dari Hayati.
“ ngerti kan Tami...??” tanya Hayati dan dijawab dengan anggukan kepala utami dengan ekspresi jijik.
Beberapa menit kemdian tiba-tiba muncul sinar berwarna biru di lubang pohon dan membentuk seperti pusaran. Ratih memberitahu Hayati dan Utami untuk cepat memasuki lubang pohong itu. Mereka akan langsung tiba di tempat tujuan ketika memasuki lubang pohon itu. Portal pohon adalah sejenis wahana transportasi berkecepatan cahaya yang saling tehubung antara satu tempat ke tempat lainnya. Wahana ini hanya bisa digunakan oleh mahluk gaib. Apabila mahluk hidup termasuk manusia mencoba memasukinya, maka tubuhnya akan langsung hancur berkeping-keping. Pohon merupakan rumah tinggal beberapa kuntilanak, mereka menandai kepemilikan pohon tersebut dengan darah yang disiramkan ke akar pohon sebagai tanda pengikat. Maka untuk mengetahui kemana tujuan keberangkatan, diperlukan darah untuk menandai koordinat tempat tujuan. Utami sangat terpukau dengan teknologi yang super canggih ini, bahkan manusia yang memiliki kecerdasan yang tinggi masih belum bisa menciptakan alat transportasi berbasis teleportasi.
“semoga berhasil yah kalian disana....dan untukmu Jeng..selamatkan pacarmu itu, dia orang baik...lu layak banget menjadi kekasihnya” kata Ratih sambil memeluk Hayati.
Kemudian Hayati dan utami lompat secara bersaman dan berpegangan tangan masuk kelubag pohon itu dan menghiang seketika meninggalkan Ratih sendirian.
.............................................

KAU AKAN MENDAPATKAN CINTA ITU ESMERALDA....emoticon-Peluk

HOHOHOHO.........TIDAK SEMUDAH ITU FERGUSOO...!! emoticon-Betty
Diubah oleh Martincorp
profile-picture
andir004 memberi reputasi
12 0
12
[TAMAT] PACARKU KUNTILANAK
19-11-2018 08:28
BAGIAN 20
6 KUNTILANAK

Dua jam sudah Asnawi mengendarai motornya menuju tempat asal Hayati di daerah irigasi Cimanuk. Dia memacu motornya dengan semangat yang berlipat ganda untuk memperbaiki hubungannya dengan Hayati dan membawanya kembali pulang ke kosannya. Dengan perasaan harap-harap cemas dia mulai melewati jalanan yang sangat sepi menuju ke daerah irigasi itu. Kali ini tidak ada cahaya rembulan yang menerangi Asnawi ketika memasuki kawasan itu, dia mulai melambatkan laju motornya dan sambil mengingat-ingat, dia mencari tempat dimana pertama kali dirinya bertemu dengan Hayati. Dengan keras dia berusaha terus mengingat dan tidak menghiraukan ketakutannya. Akhirnya dia menemukan sebuah pohon besar tempat mereka pertama kali bertemu yang berada di pinggir jalan. Asnawi menghentikan motor dan memarkirkannya di depan pohon itu. Kondisi di sekitar Asnawi sangat gelap sehingga Asnawi menggunakan senter dari smartphonenya. “HAYATI....KAMU DIMANA??” Asnawi berteriak memanggil Hayati sambil berjalan perlahan memasuki wilayah itu hanya dengan penyinaran dari lampu Smartphone. Asnawi berjalan semakin menjauhi tempat dia memarkirkan motor dan mulai masuk ke dalam sebuah tempat yang lebh mirip hutan. Setengah jam sudah Asnawi berkeliling sambil berteriak memanggil Hayati, namun cuma hasil nihil yang diterima, bahkan Smartphonenya mendadak mati karena kehabisan baterai dan cahaya pun lenyap seketika meninggalkan Asnawi sendirian didalam kegelapan malam yang sangat mencekam. Asnawi kemudian duduk di atas tanah sambil merogoh-rogoh saku jaketnya untuk mencari pemantik api . Akhirnya setelah merogoh semua saku jaket dan celana, dia menemukan pemantik api dan langsung menyalakannya. Cahaya remang-remang mulai berpendar dari api yang terpancar dari pemantik api dan langsung kembali menerangi Asnawi terbebas dari kungkungan kegelapan. Asnawi berjalan pelan dan memutar-mutar badan untuk melihat kondisi di sekitarnya. Beberapa saat kemudian dia melihat sebuah sosok perempuan berambut panjang dengan memakai baju gaun putih panjang tengah berjalan dengan posisi memunggungi Asnawi. Sosok perempuan itu berjalan perlahan menjauhi Asnawi. Melihat sosok prempuan itu, Asnawi langsung berlari menghampirinya sambil berteriak-teriak memanggil nama Hayati.
“HAYATI.....HAYATI...akhirnya aku nemuin kamu...maafin aku Hayati...huft..huft” kata Asnawi yang langsung memeluk sosok perempuan itu dai belakang dan menempelkan pipi ke pundaknya. Asnawi merasakan tubuh sosok perempuan itu yang dingin sama seperti Hayati, dia kemudian mengelus-elus dada perempuan itu. “Mas.....mas siapa” tanya perempuan itu. Sontak Asnawi kaget mendengar suara perempuan itu yang berbeda dengan Hayati. Dia langsung melepaskan pelukannya.
“loh ko mas malah ngelepasin aku...hihihihihi” kata perempuan itu yang masih memunggungi Asnawi.
“ siapa kamu...??” tanya Asnawi yag mulai merasakan takut dan mulai menyadari bahwa sosok itu bukan Hayati. Asnawi baru ingat bahwa ketika terakhir bertemu denganya, Hayati tidak memakai baju kuntilanaknya tetapi memakai baju manusia. Tiba-tiba sosok perempuan itu menoleh ke Asnawi dan menunjukan wajah aslinya yang sangat mengerikan. Perempuan berwajah rata, tidak mempunyai mata dan hidung . wajahnya hanya memilik mulut dengan gigi menyerupai gigi gergaji. Perempuan itu tersenyum lebar menyeringai ke Asnawi seperti senyuman seorang psikopat. Asnawi langsung lari setelah meliat wajah Kuntilanak itu. Dengan diterangi oleh cahaya remang-remang dari pemantik api, dia berlari dengan sangat kencang menjauhinya dan semain masuk ke dalam hutan menerjang semak-semak yang cukup tinggi, hingga akhirnya kaki Asnawi tersandung dan jatuh berguling guling ke sebuah turunan kecil. Asnawi terkapar dengan pemantik apinya yang mati, dia berusaha bangkit dan mencoba meyalakan pemantiknya.
Setelah pemantik kembali menyala, Asnawi kaget, ternyata tepat dihadapannya terdapat sebuah bangunan besar yang sangat angker. Bangunan dengan gaya arsitektur belanda ini terlihat sangat tidak terawat dengan kaca jendela yang pecah dan cat tembok yang sudah berlumut. Asnawi lagsung melihat ke arah dirinya jatuh tadi, ternyata Kunti Muka Rata masih mengikutinya, dia langsung kembali berlari menghindari pengejaran Kunti muka rata dan mencoba untuk masuk ke gedung tua itu. Dia mencoba satu persatu pintu masuk yang berjajar banyak di sepanjang dinding depan. Setidaknya ada 4 pintu berukuran kecil yang tersedia, namun semuanya dalam keadaan terkunci dan sampai akhirnya Asnawi sampai ke pintu utama yang berada di bagian tengah gedung, pintu itu berukuran besar. Asnawi mencoba membukanya dan berhasil.
Asnawi masuk melewati pintu besar menuju sebuah koridor yang panjang dan gelap. Dia tidak menutup kembali pintu besar itu supaya dapat mempemudahnya utuk melarikan diri bila bertemu dengan Kunti muka rata. Asnawi berjalan perlahan memasuki koridor gelap itu dengan cahaya dari pemantik api. Kondisi ruang sangat berantakan, banyak bangku dan meja yang sudah lapuk dimakan usia tergeletak begitu saja. Baru sepuluh langkah Asnawi menyusuri koidor itu, tiba-tiba pintu utama menutup dengan suara keras. Asnawi kaget dan langsung menengok ke arah pintu masuk. Dia memperthatikan dengan seksama pintu itu, takutnya kunti muka rata mengikutinya dan menutup pintu itu. Asnawi kemudian melanjutkan perjalanannya menyusuri koridor. Setiap kali dia melangkah selalu terdengar suara seperti benda yang begesekan, dia tidak menghiraukannya dan tetap melanjutkan langkahnya, namun makin lama suara gesekan itu semakin dekat dan serasa benda yang bergesekan itu berada di sebelah kirinya. Akhirnya dia menghentikan langkahnya, dengan tubuh yang gemetaran dan darah yang seakan mendidih karena hawa ketakutan, Asnawi menoleh dengan pelan ke arah pintu masuk. Ternyata tidak ada apa-apa di pintu dan untuk beberapa saat Asnawi mengehela napas leganya, namun tiba-tiba dia merasakan ada sesuatu yang mengenai pundak kirinya, terasa seperti sentuhan sebuah rambut. Dari situ dia kembali ketakutan dan kembali bernapas dengan cepat, kepalanya masih menoleh ke arah kanan karena tidak berani untuk melihat ke arah kiri. Dia mencoba memegang benda yang mirip rambut itu tanpa melihat. Ternyata banda itu adalah memang benar adalah rambut, kemudian Asnawi memberanikan diri untuk menoleh ke arah kiri, ternyata tepat di depan mukanya ada Kuntilanak yang bermuka hangus. Asnawi langsung teriak dan terjengkang saat menghindari kontak dengan kunti muka hangus itu. Seakan kakinya kaku, dia sangat sulit untuk sekedar bangkit. Kunti muka hangus itu menempel dan merayap di dinding, dia terus memandangi Asnawi yang ketakutan parah. Kunti itu mulai bergerak merayap dan mendekati Asnawi. Asnawi langsung berdiri dengan cepat. Dia langsung berlari meloncati bangku-bangku yang berserakan untuk segera menjauhi kunti muka hangus. Asnawi melihat sebuah pintu kecil yang terbuka diujung koridor. Dengan susah payah dan tergesa-gesa, Asnawi melewati bangku-bangku itu untuk mancapai pintu dan akhirnya dia pun sampai. Ketika masuk kedalam ruangan dibalik pintu itu tiba-tiba Asnawi terperosok ke sebuah lubang yang menganga di lantai dan jatuh kedalamnya.
Asnawi jatuh dengan keras dari ketinggan sekitar 5 meter. Tapi dia merasakan keanehan ketika dia membentur lantai, pantatnya sepertinya mengenai suatu benda yang empuk, sehingga dia tidak meraskan sakit akibat jatuh. Pemantik apinya padam dan terjatuh. Dalam keadaan gelap, Asnawi merasa dia duduk di atas benda empuk itu dan dia berusaha menyapu tangannya ke lantai untuk mencari pemantik apinya sambil tetap duduk. Beberapa saat kemudian dia berhasil menemkan pemantik apinya dan menyalakan kembali api. Dia penasaran dengan benda empuk yang didudukinya, dia menoleh ke bawah dengan perlahan. Asnawi melihat sesosok tubuh perempuan yang telungkup dengan Cumiai gaun putih dan berambut panjang. “ASTAGFIRULLAH.....” gumam Asnawi dengan ngeri setelah mengetahui bahwa benda yang didudukinya adalah Kuntilanak. Tiba-tiba dengan kepala kunti itu memutar kebelakang dan menampakkan wajahnya ke Asnawi. Kunti ini tidak mempunyai rahang, sehingga wajahnya hanya terlihat mata, hidung, bibir dan gigi bagian atas, sementara lidahnya tampak panjang dan bergerak-gerak ke arah Asnawi. Seketika Asnawi langsung berdiri dan berlari menjauhi kunti tanpa rahang. Ruangan bawah tanah itu sangat besar. Di dalamnya banyak sekali meja dan kursi yang ditumpuk di kedua belah sisi ruangan, sehingga membentuk suatu celah kecil di tengah ruangan sebagai jalan keluar. Asnawi melewati celah kecil itu dan melihat terdapat 3 buah pintu di ujung ruangan.
Asnawi mencoba membuka pintu pertama yang berada di sebelah kirinya dan terkunci. Begitu juga dengan pintu kedua yang berada di sebelahnya yang terkunci dan akhirnya dia mencoba membuka pintu yang ketiga. Asnawi berhasil membuka pintu ketiga dan langsung melewatinya. Dibalik pintu ketiga ternyata sebuah lorong yang panjang. Asnawi berjalan menelusuri lorong itu untuk mencari ujungnya dan keluar dari bangunan ini, namun baru beberapa langkah, Asnawi kembali terdiam. Dia melihat Kuntilanak yang berjalan mengesot diatas lantai. Kuntilanak ini berambut panjang dan menutupi seluruh wajahnya sampai tidak terlihat. Asnawi kembali lari berbalik arah kembali ke pintu yang tadi, dengan cepat dia membuka pintu itu dan masuk kembali ke ruangan besar yang tadi. Asnawi bersandar di pintu tadi untuk sekedar menghela napas dan dan istirahat sejenak, namun tiba tiba di depan pintu pertama tadi berdiri sesosok kuntilanak yang mamandangi dirinya. Asnawi sempat kaget namun setelah melihat wajahnya yang normal tidak seburuk rupa kuntilanak-kuntilanak sebelumnya. “cukup..cukup..aku sudah lelah daritadi dikejar terus sama kunti” kata Asnawi yang mencoba berkomunikasi ke kunti itu. Tiba tiba kunti itu melesat dengan cepat dan langsung berada di sebelah Asnawi. Kunti itu langsung menyeringai dan menunjukkan taringnya. Asnawi kembali kaget melihat kunti bertaring dan langsung berlari ke arah tempat kunti tanpa rahang berada.
Setelah melewati celah diantara tumpukan bangku, Asnawi tiba di tempat dirinya jatuh. Dia tidak melihat adanya kunti tanpa rahang yang didudukinya tadi dan dia memiliki ide untuk menyusun bangku bangku yang berserakan tadi untuk dipanjati ke arah lubang yang membuat dirinya terperosok. Asnawi menyimpan pemantik apinya di lantai untuk tetap meneranginya, dia mulai mengangkat, menggeser beberapa meja dan menyusunnya sampai menjulang ke atas mendekati lubang. Setelah tumpukan bangku dikirinya tinggi dan memungkinkan untuk dipanjat, Asnawi mulai bersiap. Dia memanjat ke tumpukan itu dengan sangat perlahan karena kondisi bangku-bangku yang sudah lapuk dimakan usia. Pemantik api sengaja disimpan diatas lantai oleh Asnawi dengan tujuan tetap meneranginya ketika memanjat. Tinggi tumpukan bangku hanya 3 meteran, akan tetapi karena dalam keadaan panik, takut dan lelah, Asnawi merasa seperti mendaki sebuah bukit. Tidak lama setelah Asnawi mulai memanjat naik, akhirnya dia sampai di puncak, ternyata jarak antara puncak dengan lubang masuk tadi masih cukup jauh, Asnawi dengan susah payah berusaha menggapai tepian lubang dan hampir jatuh. Tiba-tiba sebuah tangan mengulur ke arah Asnawi dan dengan spontan dia langsung menyambut uluran tangan itu. Namun Asnawi merasa aneh ketika memegang tangan itu, dalam hatinya bertanya-tanya tentang tangan siapakah itu. Perlahan lahan sosok yang mengulurkan tangan itu mulai terlihat jelas terkena pancaran dari cahaya api dari pemantik yang disimpan di lantai. Ternyata sosok itu adalah kuntilanak dengan muka tersayat (Scarface) yang tengah jongkok dan melemparkan sebuah senyuman mengerikan ke Asnawi. Di sebelah kunti muka tersayat berdirilah sang kunti muka rata yang terus-menerus tersenyum menyeringai.
“ANJIIINGGG....!!!” teriak Asnawi yang langsung melepaskan pegangan tangannya dan terjatuh dari tumpukan bangku menuju lantai. Asnawi merasakan sakit dibagian punggung akibat tubuhnya yang terhujam dan membentur keras ke lantai, tapi itu tidak membuatnya berdiam diri sementara kedua kunti mengerikan masih berada di atas dan memeandang Asnawi dengan senyuman horornya. Asnawi langsung berdiri dan berlari ke arah lain di ruangan itu, dia bingung mencari jalan keluar dan berharap menemukannya di sisi lain ruangan itu. Dia berlari dengan sedikit pincang menjauhi tumpukan bangku. Tiba-tiba Asnawi kembali tersandung sesuatu dan terjatuh. Dia berusaha merangkak terus mendekati ujung ruangan yang ternyata sebuah dinding tanpa adanya pintu keluar. Asnawi kemudian duduk dan menghadapkan tubuhnya ke arah dia datang. Dia melihat sesuatu yang membuat dirinya tersandung. Sesuatu itu adalah tubuh kunti tanpa rahang yang tengah tengkurap. Kunti itu kembali memutar kepalanya ke arah Asnawi. Dari atas dinding Asnawi juga melihat kunti bermuka hangus yang menembus tembok dan kemudian merayap mendekati dirinya. Dari kejauhan kunti ngesot dan kunti bertaring juga tengah melayang menghampirinya. Dan yang terakhir kunti bermuka rata dan kunti bermuka tersayat terbang dari lubang dan tiba tiba berdiri dihadapan Asnawi yang tengah terduduk lemah bersandar di dinding. Keenam kuntilanak itu sangat buruk rupa, Asnawi langsung pasrah dengan keadaanya kali ini. Dia tidak tahu harus lari kemana di tengah kepungan para kuntilanak. “FIX gue bakalan di GANGBANG oleh para kunti ini” gumam Asnawi dalam hati yang pasrah.


.......................................

AKU PASRAH ROBERTO............emoticon-Betty

profile-picture
andir004 memberi reputasi
13 0
13
Halaman 7 dari 108
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
cinta-pada-pelukan-pertama
Stories from the Heart
warna-luka
Stories from the Heart
rasa-yang-tak-pernah-ada
Stories from the Heart
jumiati-itu-adalah-aku
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.