alexa-tracking
News
Batal
KATEGORI
link has been copied
19
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bb82d80dcd77019108b4567/kubu-jokowi-duga-ada-propaganda-ala-rusia-dalam-hoaks-ratna
Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 06/10/2018 02:02 WIB Ratna Sarumpaet. (CNN Indonesia/Andry Novelino). Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo Maruf Amin, Arsul Sani menduga ada teknik propaganda ala Rusia yang dikenal sebagai ''firehose of the falsehood'' di balik kasus hoaks penganiayaan yang dilakuka
Lapor Hansip
06-10-2018 10:35

Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna

Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna
Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 06/10/2018 02:02 WIB

Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna
Ratna Sarumpaet. (CNN Indonesia/Andry Novelino).

Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo Maruf Amin, Arsul Sani menduga ada teknik propaganda ala Rusia yang dikenal sebagai ''firehose of the falsehood'' di balik kasus hoaks penganiayaan yang dilakukan Ratna Sarumpaet.

Atas dugaan itu, ia mendesak kepolisian untuk menyelidiki kasus tersebut secara lebih luas, tidak hanya sebatas pada unsur-unsur pasal pidana yang dipersangkakan.

"Lebih jauh dari itu diharapkan menyelidiki kasus ini dalam spektrum yang lebih luas, yakni ada tidaknya penerapan teknik propaganda ala Rusia yang dikenal sebagai firehose of the falsehood," ujar Arsul dalam pesan singkat, Jumat (5/10).

Arsul menjelaskan teknik propaganda ala Rusia tersebut memiliki ciri khas, yakni melakukan kebohongan-kebohongan nyata untuk membangun ketakutan publik. Ia menyebut kebohongan dengan teknik propaganda tersebut juga dilakukan berulang kali.

Tujuan dari teknik itu untuk mendapat keuntungan politik sekaligus menjatuhkan posisi politik lawannya.

Lihat juga:  Pihak Terkait Hoaks Ratna Sarumpaet Terancam Pasal 55 KUHP

Lebih lanjut, Arsul menyampaikan dugaan penerapan teknik propaganda tersebut diperkuat dengan kejadian-kejadian sebelumnya. Ia mencontohkan soal kejadian terbakarnya mobil pribadi Neno Warisman. Ia melihat kasus tersebut memiliki tujuan yang sama dengan kasus Ratna.

"Sebelumnya dikembangkan pemberitaan tentang pembakaran mobil Neno Warisman yang diselidiki ternyata bukan dibakar oleh orang lain, tapi terjadi korsleting pada mobilnya," ujarnya.

Tak hanya menimbulkan ketakutan publik, politisi PPP ini menyebut pola propaganda tersebut juga disertai dengan teknik playing victim. 

Ia berkata teknik itu membuat publik berpandangan bahwa pelaku adalah korban yang teraniaya oleh satu pihak yang biasanya diasosiasikan dengan kelompok penguasa.

"Teknik propaganda tersebut merupakan salah satu sumber pengembangan hoaks dan ujaran kebencian," ujar Arsul.

Lebih dari itu, ia menyatakan untuk memerangi hoaks dan ujaran kebencian hanya bisa dilakukan lewat penyelidikan yang secara luas oleh kepolisian.

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20181005134554-32-336023/kubu-jokowi-duga-ada-propaganda-ala-rusia-dalam-hoaks-ratna

Quote:Sekjen PDI-P Sebut Tim Prabowo Gunakan Jasa Konsultan Asing
28/09/2018, 21:54 WIB

Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna
 Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto saat ditemui di Kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (26/9/2018).(Reza Jurnaliston) 

JAKARTA, KOMPAS.com - Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin, Hasto Kristiyanto mengklaim bahwa timnya tak menggunakan konsultan asing dalam Pileg 2019. Hasto justru menyinggung capres nomor urut 02 Prabowo Subianto yang telah   jasa konsultan asing sejak Pilpres 2014. 

"Pak Jokowi-Ma'ruf Amin ini konsisten di dalam menggelorakan martabat dan kebanggaan kita sebagai bangsa, maka kita tidak pakai konsultan asing. Berbeda dengan yang di sana (capres nomor urut 02 Prabowo Subianto) sudah pakai konsultan asing sejak 2014 yang lalu mencoba membangun persepsi baru, 'The New Prabowo'," ujar Hasto di Posko Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (28/9/2018). 

Meski demikian, Hasto tak mengungkap identitas konsultan asing yang dimaksud tersebut. Diketahui dari hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menunjukkan, isu 'The New Prabowo' yang beberapa kali disampaikan calon wakil presiden Sandiaga Uno, tidak banyak berpengaruh pada dukungan pasangan nomor dua tersebut. Baca juga: Jubir Prabowo-Sandiaga Sebut Etika Politik Kubu Jokowi-Maruf Rendah 

"Hasil survei kemarin juga menunjukkan, upaya-upaya dengan menghadirkan berbagai konsultan itu, ternyata rakyat melihat secara jernih mana pemimpin yang benar-benar hadir apa adanya," tutur Hasto. Diberitakan sebelumnya, dari hasil survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA terhadap 1.200 responden, hanya 13 persen masyarakat yang pernah mendengar dan mengetahui isu 'The New Prabowo'. 

Lanjutkan membaca artikel di bawah Video Pilihan Jokowi-Ma'ruf Nomor Urut 1, Prabowo-Sandiaga Nomor Urut 2 Sementara yang menyukai isu tersebut, berada di angka 54,9 persen. "Hal ini memperlihatkan isu 'The New Prabowo' belum populer, didengar kurang dari 20 persen masyarakat," kata peneliti LSI Denny JA, Ardian Sopa, di kantor LSI Denny JA, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (27/9/2018).
https://nasional.kompas.com/read/2018/09/28/21542191/sekjen-pdi-p-sebut-tim-prabowo-gunakan-jasa-konsultan-asing


Paslon Capres-cawapres, Hacker Rusia, Media Sosial dan Perang Udara
Selasa, 25 September 2018 00:52

Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna
Bakal Calon Presiden Joko Widodo bersama Bakal Calon Wakil Presiden Maruf Amin dan Bakal Calon Presiden Prabowo Subianto dan Bakal Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno saat menghadiri rapat pleno penetapan nomor urut Capres dan Cawapres di Gedung KPU, Jakarta Pusat, Jumat (21/9/2018). Jokowi dan Maruf Amin mendapatkan nomor urut 1 dan Probowo Sandi nomor urut 2. Tribunnews/Jeprima 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Sejumlah peretas atau hacker asal Rusia disebut-sebut telah berada di Indonesia. Mereka disebut telah tiba pada saat pencalonan presiden sedang berjalan. Peretas Rusia yang dimaksud juga merupakan 'think-tank' saat kampanye pemenangan Donald Trump di Amerika Serikat pada 2016.

Bukan hanya di AS, para peretas ini juga pernah terlibat di dalam delapan pilpres negara lainnya. Hal itu diungkapkan oleh pengamat intelijen, Nuruddin Lazuardi, kepada Tribun di Jakarta, Senin (24/9).
Berdasar data yang dimilikinya, Nuruddin menjelaskan, para peretas tersebut sudah bertemu dengan beberapa petinggi partai politik di Indonesia.


"Iya saya sudah tahu soal itu. Ada pembicaraan antara mereka dengan beberapa politisi. Tim ini sudah ada sejak lama dan itu hal yang biasa saja," ungkap Nuruddin.


Namun, dia masih belum tahu apakah dalam pembicaraan tersebut agen Rusia ini mengatasnamakan pemerintah Rusia atau bergerak membawa institusi perusahaan. "Nah yang itu saya belum tahu. Apa mereka atas nama pemerintah Rusia atau murni bisnis, saya tidak paham," ujarnya.


Dalam pekerjaannya, peretas dari Rusia ini akan lebih banyak bermain di media sosial, sama halnya saat kampanye Trump di Amerika Serikat. Mereka, lanjutnya, akan bermain di algoritma media sosial.
"Mereka akan mengandalkan teknologi yang dimiliki untuk Pilpres 2019 ini. Mereka main di Facebook dan Twitter khususnya. Kalau Instagram saya pikir tidak," jelas dia.


Caranya, agen tersebut akan 'memotong' algoritma di jejaring Facebook dan Twitter yang mengunggah konten tidak menyenangkan bagi pasangan calon yang dibela. Selain itu, mereka juga akan memviralkan pasangan calon yang dibela di semua media sosial. Ketika sudah viral, maka konten tersebut akan diangkat menjadi pemberitaan oleh media arus utama.

"Mainnya di viral. Kalau ada konten yang menyudutkan, biasanya oleh mereka di-"cut" langsung. Kalau sudah viral, nanti kan jadi berita juga di media mainstream," urainya.

Nuruddin enggan menjawab saat ditanya untuk siapa para agen tersebut bekerja. "Ya lihat saja nantilah. Siapa yang beri jatah banyak untuk Rusia kalau menang, ya itu dia yang pegang," tukasnya.

Tribun mencoba mengklarifikasi informasi tersebut ke dua kubu pasangan calon presiden dan wakil presiden yang bertarung dalam Pilpres 2019, Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno.

Wakil Direktur Informasi dan Teknologi Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga Uno, Vasco Ruseimy, membantah adanya peran agen yang menaungi hacker asal Rusia itu.

Menurutnya, tidak ada akses kubu mereka ke peretas asal Rusia tersebut. Terlebih, pasangan nomor urut 2 sudah merasa cukup dengan adanya bantuan dari relawan yang bergerak selama ini di media sosial.
"Enggaklah. Kita cukup dengan relawan saja. Lagian, enggak ada akses ke mereka," ucapnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan, terlalu jauh mengaitkan Pilpres 2019 kali ini dengan hadirnya peretas Rusia yang pernah terlibat dalam kampanye Donald Trump di Amerika Serikat. "Terlalu jauhlah. Saya kira tidak ada yang seperti itu di pilpres Indonesia," imbuhnya. Wakil Sekretaris Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf, Raja Juli Antoni mengatakan, sejauh ini timnya masih percaya dengan kemampuan anak bangsa.

Masyarakat, kata dia, menjadi konsultan politik pasangan nomor urut 01 itu. "Tidaklah. Kami masih percaya dengan anak bangsa. Tidak perlu konsultan politik dari luar negeri," tegasnya.

Dia menyatakan, apabila benar ada pihak yang menggunakan jasa asing, maka sudah dapat dipastikan akan diintervensi kebijakan-kebijakannya. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) harus memperhatikan informasi tersebut.

"Itu kan berarti ada intervensi dari asing. Kalau benar ada, ya Bawaslu harus bisa mengawasi ini," imbuhnya.
Setidaknya ada 200 orang operator disiapkan oleh kubu Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno dikerahkan untuk 'perang udara' untuk kampanye dan counter di media sosial atau cyber pada Pilpres 2019 kali ini.

Wakil Ketua Direktur Informasi dan Teknologi pasangan Prabowo-Sandi, Vasco Ruseimy menjelaskan, sejauh ini terdapat 200 orang yang terdiri atas sukarelawan, anggota masyarakat dan anggota parpol sudah menyebarkan kebaikan Prabowo-Sandi, sesaat setelah pengumuman pasangan calon awal Agustus 2018 lalu.
"Kalau mulai sih dari kemarin. Mereka sudah banyak menyebarkan kebaikan dan program Pak Prabowo dan Pak Sandiaga setelah pengumuman," beber Vasco kepada Tribun, Jakarta, Sabtu (22/9).


Ia menjelaskan, cara kerja para pasukan tim udara kubunya itu. Sejauh ini, 200 orang tersebut masih bekerja secara mandiri. Dengan modal telepon genggam atau gadget di tangan dan bergerak secara mobile, mereka menyebarkan agenda dan apa saja yang sudah dilakukan oleh pasangan nomor urut 02 tersebut kapanpun mereka inginkan ke media sosial dan aplikasi percakapan.


"Sejauh ini memang mereka sendiri-sendiri. Toh, sekarang juga kan, baru mau dibentuk timnya," urainya.
Di bawah komando, Mayjen TNI (Purn) Wiryono, nantinya pasukan siber tersebut akan diberikan arahan agar menciptakan suatu konten atau materi-materi yang diperlukan untuk disebarkan ke media sosial.


"Setelah ini, kalau timnya sudah pasti, akan ada perencanaan untuk konten yang bisa disebarkan di media sosial. Tapi, percayalah kami masih unggul di media sosial dibanding pemenangan sebelah," imbuhnya.
Sekretaris Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf, Verry Surya Hendrawan menjelaskan, justru pihaknya lebih siap untuk 'pertempuran udara'. Dia menceritakan, beberapa hari lalu sudah ada pelatihan untuk para 'pasukan udara' Jokowi-Ma'ruf Amin di Gedung High End, Jakarta.


"Jumlahnya kalau ditotal itu, hampir samalah 200 orang. 90 orangnya, kami dari partai politik pengusung, sisanya dari sukarelawan. Kami sudah pelatihan awal kemarin. Jadi, tinggal follow up saja," katanya saat ditemui di Kantor KPU, Jakarta.

http://jateng.tribunnews.com/2018/09...n-perang-udara


-----------------------------------

Dihitung sendiri saja ... negeri mana yang paling banyak diuntungkan (baik secara ekonomi, politik dan geo-politik) dengan kemenangan Jokowi atau Prabowo itu nanti.  Dulu saat Rusia 'membantu' pemenangan Donald Trump dalam Pilpres AS, kepentingannya jelas, yaitu bila yang menang sebagai Presiden AS adalah Hillary Clinton yang cerdas dan berpengalaman itu, maka  kepentingan Rusia akan banyak terancam di seluruh dunia. Bahkan juga ancamam nuklir yang lebih masiv ke Rusia. 

Sebaliknya, bila yang menang adalah Trump, maka dia akan sibuk untuk memperbaiki kondisi dalam negerinya sendiri yang 'porak poranda' diserbu barang-barang China dan dominasi utang modalnya melalui perdagangan internasional yang tidak fair. Sehingga Trump pasti nggak sempat lagi untuk berfikir agresiv dengan lebih banyak mencampuri urusan dalam negeri negara-negara lain, termasuk Rusia. 

Kayaknya sih, prediksi Vladimir Putin cukup jitu! Boss Rusia itu kayaknya sih lebih suka pemimpin yang nggak terlalu 'smart' untuk Amerika, sebab bila yang memimpin model Hillary yang cerdas dan visioner itu tentu akan bisa merepotkan kepentingan nasional negaranya. Memang dimana-mana itu bila terjadi yang naik menjadi pimpinan sebuah negara adalah tokoh yang cerdas dan visioner, pasti akan merepotkan negara-negara yang berhubungan dengannya, seperti Soekarno dulu contohnya 



emoticon-Wakaka


Diubah oleh naniharyono2018
-1
Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna
06-10-2018 10:38
Mengapa cawapres nya bukan didit emoticon-Frown
0 0
0
Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna
06-10-2018 10:40
fix sesuai komen ts, capres yg tidak terlalu smart apalagi mudah kemakan hoax plus nyebarin jelas tidak salah lagi tiada duanya yaitu... emoticon-Ngakak
0 0
0
Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna
06-10-2018 10:41
Benar ini mesti di selidiki biarpun pihak wowo menyangkal tetap mesti di selidiki dengan seksama!


Quote:Original Posted By pangpung883
Pdhal brosur dah siap...tinggal turun ke jalan

Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna


Dorce juga kena tiputipu dan hoax!, keistimewaan dari photo ini adalah Pamflet yang sudah siap di edarkan, siapa yang mencetak dan di cetak di mana?

Dasar Pinokio


Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna

Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna


Nanti ada Piala Ratu Hoax Mak Lampir er Mak Ratna Sarumpaet

Jangan di lupakan Operasi Plastik Facelift 90 JUTA di RSK Bina Estetika! Menteng, DKI Jakarta (/bukan luka dianiaya dan di jahit di IGD Cimahi Bandung)

Juga pergi ke Chile 70 JUTA SPONSORSHIP dari Dki Jakarta oleh Anies Bawesdan!

Ini yang di ketahui saat ini!, yang tidak di ketahui ???


Lihat lihat dan lirik lirik mata ke sebelah Sandiaga Uno baru menjual saham dan mendapat dana CRING cring CRING 196 MILYAR! Hmmmm hmm Hmmmm Ehmmmm Ehmmm Eng Eing Eng Mantap!

Ohhh untuk Buzzer bayaran wowo jangan silau dengan 196 milyar karena kalian jatah nya cuma setipis rambut saja! Dan selamat kepada buzzer bayaran wowo semoga kalian banyak mendulang rejeki di masa masa pilpress 2019 ini!,

dan bagi para buzzer pihak lain nya selamat juga semoga banyak rejekinya mengalir di massa pilpress 2019 ini



Note:
Cring cring = Sounds Effect biar bisa imagine Paman GOBER lagi berenang renang ria di lautan uang nya


Quote:Original Posted By noisscat


Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna

Namun, dalam newsletter yang yang dikeluarkan pada Agustus 2018, ada nama Ratna Sarumpaet dalam jajaran penasihat senior atau senior advisor .
Ada nama Ratna Sarumpaet di Women Playwrights International Conference di Chile (WPIC Newsletter)


0 0
0
Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna
06-10-2018 10:42
Strategi lain, bukan membantu tapi negara dalam keadaan bencana diserang buat dapatkan kekuasaan

"RAMPOK LAH RUMAH YANG SEDANG TERBAKAR"

0 0
0
Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna
06-10-2018 10:45
prabowo diambang kebangkrutan mentalnya emoticon-Berduka (S)
0 1
-1
Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna
06-10-2018 11:02
Quote:Semua itu harus dibuktikan.
Diubah oleh 54m5u4d183
0 0
0
Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna
06-10-2018 11:11


Kelihatannya memang masih dan terstruktur emoticon-Matabelo
0 0
0
Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna
06-10-2018 11:13
Quote:Original Posted By MyOwnId
Strategi lain, bukan membantu tapi negara dalam keadaan bencana diserang buat dapatkan kekuasaan

"RAMPOK LAH RUMAH YANG SEDANG TERBAKAR"



bahaya kalo begini.......
0 0
0
Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna
06-10-2018 11:16
makjang
coba dah nonton dokumenter Active Measures (2018), ngeri2 sedap langkah2 Rusia
1 0
1
Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna
06-10-2018 11:21
ukhti ratna auto nastaq

emoticon-Ngakak
0 1
-1
Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna
06-10-2018 11:29
KETULARAN GOBLOK? emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak

From russia with love emoticon-Ngakak
0 0
0
Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna
06-10-2018 11:33
jauh amat lokalan ajah lah intinya si rumpet ini hanya org yg ceri duit dengan cara yg dia tau... yaitu berbohong dan mengonggong
0 0
0
Lihat 1 balasan
Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna
06-10-2018 12:22
Apalagi ada si fanboy Russia di partai Gerindra. emoticon-Traveller
0 0
0
Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna
06-10-2018 12:25
trlalu panik smpe menghayal. kbnyakan nntn pilm yaa
0 0
0
Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna
Lapor Hansip
06-10-2018 12:26
Balasan post yuswijaya
Quote:Original Posted By yuswijaya
jauh amat lokalan ajah lah intinya si rumpet ini hanya org yg ceri duit dengan cara yg dia tau... yaitu berbohong dan mengonggong


Mau nungging uda gada yg mau emoticon-DP
1 0
1
Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna
06-10-2018 12:49
Sampai saat ini tidak ada bukti yang menyatakan hubungan antara Russia dan team kampanye Trump. Justru yang terlibat dengan Russia adalah HRC dengan Uranium One-nya.. Saham Uranium One sebesar 20% dijual ke Russia saat Hillary menjadi US Secretary od State..

Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna

Dari berbagai evidence maupun dokumen yang dibuka ke US publik ternyata merupakan konspirasi dari Team Kampanye HRC, Obama, HRC, penyalahgunaan wewenang (abuse of power) dari beberapa pejabat FBI dan Brennan termasuk ketelibatan agent asing (MI6, Steele)...

Trump itu seorang smart terbukti dia bisa menjadi billionaire, janji kampanyenya hampir semuanya dipenuhinya..
- US Economy booming
- unemployment terendah dalam sejarah
- industri baja dan aluminium mengalami revival
- manufacturing yang dianggap obsolete oleh Obama kembali mengalami revival
- Menjadi producer oil terbesar mengalahkan Russia dan Saudi Arabia..
- Dan sebagainya


Dan terbukti Trump adalah US President yang paling "keras" terhadap Russia:
- Menjatuhkan paling banyak sanksi terhadap Russia
- Mengusir diplomat US paling banyak dalam sejarah
- Dan sebagainya


Quote:
7 Ways President Trump Has Been Tough on Russia Despite Wild Charges of ‘Treason’

The most hysterical overreactions to President Donald Trump’s press conference with Russian President Vladimir Putin have accused President Trump of treason; compared his performance to Kristallnacht, Pearl Harbor, and the 9/11 attack; declared war against Russia; and called on the U.S. military to remove President Trump from office in a coup.

All of these hysterics are predicated on the idea that Trump is a hapless victim of Putin’s sinister manipulation, if not an outright agent of the Kremlin, a veritable Manchurian candidate. Those allegations are difficult to stomach when looking at Trump’s actions towards Russia. His administration has been quite hard on them. It is not difficult to make the case he has been tougher than his predecessor Barack Obama, especially considering Obama’s soft response to what his party now insists was an “attack” on par with Pearl Harbor.

Sanctions: The Trump administration imposed several rounds of tough sanctions against Russian individuals and entities over the past two years. The sanctions announced in March and June of 2018 were explicitly in response to Russian cyberwarfare, which somewhat perplexed media organizations comfortable with the storyline that Trump does not care about hackers and had to be restrained by Congress from lifting every sanction against Russia.

Quite a few of the persons and operations targeted by Trump administration sanctions were directly linked to the 2016 “election meddling” case. Others were sanctioned over Russia’s actions in Ukraine and Crimea, and for helping Iran and North Korea evade sanctions against them.

High-ranking members of the Russian government and intelligence services have been affected, including members of Putin’s inner circle, and even his son-in-law.

Attorney General Jeff Sessions announced the indictment in March 2017 of four Russians for hacking millions of Yahoo accounts in 2014. Two of the indicted were officers of the Russian Federal Security Service (FSB). “The criminal conduct at issue, carried out and otherwise facilitated by officers from an FSB unit that serves as the FBI’s point of contact in Moscow on cybercrime matters, is beyond the pale,” remarked Acting Assistant Attorney General Mary McCord.



Russia’s Analytical Credit Ratings Agency issued a report in July that found up to 21 percent of the Russian economy has been affected by sanctions dating from 2014 to the present. Moscow’s counter-sanctions were found to have contributed to a decline in Russian household incomes of two to three percent over the same period.

Trump signed a sanctions bill in August 2017 despite Russian warnings that it amounted to a “full-scale trade war,” and criticism from Trump himself that the bill was “seriously flawed.” The president has pushed ahead with several measures against Russia that he expressed personal disagreement with. Does that make him softer or tougher against Moscow?

Russian diplomats and intelligence officers expelled. Another action Trump voiced reservations about but proceeded with anyway was the shuttering of the Russian consulate in Seattle in March, along with the expulsion of 60 Russian diplomatic personnel and intelligence officers. In a Russian consulate, it is not easy to tell where the diplomatic personnel end and the intelligence officers begin.



12 Russian intelligence officers stationed at the United Nations in New York were also ordered to leave. “Here in New York, Russia uses the United Nations as a safe haven for dangerous activities within our own borders,” charged the Trump administration’s ambassador to the United Nations, Nikki Haley.

This action was taken in response to the poisoning of former spy Sergei Skripal and his daughter in London with a military-grade nerve agent. The Kremlin was furious, insisting it had nothing to do with the Skripal hit despite a considerable amount of evidence against it. This is something to bear in mind when speculating about whether it would ever be possible to make the Russians admit to something far sketchier and more deniable, such as meddling in an election.

Cybersecurity: In December 2017, the Trump administration banned the use of software from Russian cybersecurity giant Kaspersky Labs, citing concerns about security exploits in the software and “ties between certain Kaspersky officials and Russian intelligence and other government agencies.” Kaspersky sued the Trump administration over the ban, but has made little progress in the courts so far; a motion for injunction filed by Kaspersky was denied in the U.S. Court of Appeals last weekend.



President Trump’s National Security Strategy made cybersecurity a top priority and named Russia one of the top threat vectors, in addition to repeatedly citing Russia as a major military and economic security concern.

The administration has also worked with state governments to protect election infrastructure, crucial for preventing actual “election hacking,” a term often confused with influence operations designed to “meddle” in elections by confusing voters. Unsurprisingly, not everyone was completely satisfied with the administration’s efforts at a meeting with lawmakers in May, but even some Democrats critical of the administration admitted that election infrastructure is now in better shape than it was in 2016.

Enforcing arms control violations: The Trump administration punished Russian companies in December 2017 for helping the Kremlin develop a cruise missile that violated Cold War arms control treaties.

The administration brushed aside Russian complaints that some U.S. anti-missile technology also violates the treaties and said export controls slapped on the Russian companies were intended to “change the economic calculus” of the Putin government.

Weapons to Ukraine: The Trump administration approved the sale of $41.5 million in lethal weapons to Ukraine in December 2017, taking a step to defend Ukraine from Russian aggression that the Obama administration refused to take after Congress authorized such sales in the 2014 Ukraine Freedom Support Act.

The decision was reportedly made personally by President Trump after consulting with Secretary of Defense Jim Mattis and then-Secretary of State Rex Tillerson. Trump did this even though he was well aware his supporters were worried about the U.S. getting drawn into an escalating Ukraine conflict, and that Russia would be strongly displeased by the weapons sales.



Enforcing the “red line” in Syria: President Trump ordered missile strikes against Russia’s ally Syria in response to the use of chemical weapons by dictator Bashar Assad. Trump directly called out Russia for supporting the Assad regime and taunted the Russian military for its inability to protect the “gas killing animal” in Damascus from American weapons.

When Russian military contractors aided Syrian forces in a February attack on a position held by Kurdish and Arab forces with a small number of American special forces, the Americans utterly annihilated the Russian unit while taking no casualties themselves. The exact number of Russians killed is a matter of dispute, as is their precise identity, but they are believed to have come from a mercenary unit employed by the Kremlin for plausibly deniable operations.

Trump approved pre-summit indictments: Here is a surprise entry for the list. When the Justice Department announced the indictment of 12 Russians on charges of election meddling just before his summit with Putin, it was widely assumed by the president’s critics that DOJ timed the indictments to rebuke and embarrass Trump.

Instead, it was reported on Tuesday that President Trump made the choice to announce the indictments only 72 hours before the summit, believing it might “strengthen his hand in the talks” with Putin, as sources put it.

Deputy Attorney General Rod Rosenstein had previously disclosed Trump was briefed on the indictments but did not indicate Trump made the decision to announce them before the summit. Trump himself disingenuously claimed last weekend that he “hadn’t thought” about discussing the indictments with Putin until that very moment.

[URL="7 Ways President Trump Has Been Tough on Russia Despite Wild Charges of ‘Treason’"]7 Ways President Trump Has Been Tough on Russia Despite Wild Charges of ‘Treason’[/URL]


emoticon-Angkat Beer


Quote:Original Posted By naniharyono2018
Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna
Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 06/10/2018 02:02 WIB

Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna
Ratna Sarumpaet. (CNN Indonesia/Andry Novelino).

Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo Maruf Amin, Arsul Sani menduga ada teknik propaganda ala Rusia yang dikenal sebagai ''firehose of the falsehood'' di balik kasus hoaks penganiayaan yang dilakukan Ratna Sarumpaet.

Atas dugaan itu, ia mendesak kepolisian untuk menyelidiki kasus tersebut secara lebih luas, tidak hanya sebatas pada unsur-unsur pasal pidana yang dipersangkakan.

"Lebih jauh dari itu diharapkan menyelidiki kasus ini dalam spektrum yang lebih luas, yakni ada tidaknya penerapan teknik propaganda ala Rusia yang dikenal sebagai firehose of the falsehood," ujar Arsul dalam pesan singkat, Jumat (5/10).

Arsul menjelaskan teknik propaganda ala Rusia tersebut memiliki ciri khas, yakni melakukan kebohongan-kebohongan nyata untuk membangun ketakutan publik. Ia menyebut kebohongan dengan teknik propaganda tersebut juga dilakukan berulang kali.

Tujuan dari teknik itu untuk mendapat keuntungan politik sekaligus menjatuhkan posisi politik lawannya.

Lihat juga:  Pihak Terkait Hoaks Ratna Sarumpaet Terancam Pasal 55 KUHP

Lebih lanjut, Arsul menyampaikan dugaan penerapan teknik propaganda tersebut diperkuat dengan kejadian-kejadian sebelumnya. Ia mencontohkan soal kejadian terbakarnya mobil pribadi Neno Warisman. Ia melihat kasus tersebut memiliki tujuan yang sama dengan kasus Ratna.

"Sebelumnya dikembangkan pemberitaan tentang pembakaran mobil Neno Warisman yang diselidiki ternyata bukan dibakar oleh orang lain, tapi terjadi korsleting pada mobilnya," ujarnya.

Tak hanya menimbulkan ketakutan publik, politisi PPP ini menyebut pola propaganda tersebut juga disertai dengan teknik playing victim. 

Ia berkata teknik itu membuat publik berpandangan bahwa pelaku adalah korban yang teraniaya oleh satu pihak yang biasanya diasosiasikan dengan kelompok penguasa.

"Teknik propaganda tersebut merupakan salah satu sumber pengembangan hoaks dan ujaran kebencian," ujar Arsul.

Lebih dari itu, ia menyatakan untuk memerangi hoaks dan ujaran kebencian hanya bisa dilakukan lewat penyelidikan yang secara luas oleh kepolisian.

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20181005134554-32-336023/kubu-jokowi-duga-ada-propaganda-ala-rusia-dalam-hoaks-ratna



-----------------------------------

Dihitung sendiri saja ... negeri mana yang paling banyak diuntungkan (baik secara ekonomi, politik dan geo-politik) dengan kemenangan Jokowi atau Prabowo itu nanti.  Dulu saat Rusia 'membantu' pemenangan Donald Trump dalam Pilpres AS, kepentingannya jelas, yaitu bila yang menang sebagai Presiden AS adalah Hillary Clinton yang cerdas dan berpengalaman itu, maka  kepentingan Rusia akan banyak terancam di seluruh dunia. Bahkan juga ancamam nuklir yang lebih masiv ke Rusia. 

Sebaliknya, bila yang menang adalah Trump, maka dia akan sibuk untuk memperbaiki kondisi dalam negerinya sendiri yang 'porak poranda' diserbu barang-barang China dan dominasi utang modalnya melalui perdagangan internasional yang tidak fair. Sehingga Trump pasti nggak sempat lagi untuk berfikir agresiv dengan lebih banyak mencampuri urusan dalam negeri negara-negara lain, termasuk Rusia. 

Kayaknya sih, prediksi Vladimir Putin cukup jitu! Boss Rusia itu kayaknya sih lebih suka pemimpin yang nggak terlalu 'smart' untuk Amerika, sebab bila yang memimpin model Hillary yang cerdas dan visioner itu tentu akan bisa merepotkan kepentingan nasional negaranya. Memang dimana-mana itu bila terjadi yang naik menjadi pimpinan sebuah negara adalah tokoh yang cerdas dan visioner, pasti akan merepotkan negara-negara yang berhubungan dengannya, seperti Soekarno dulu contohnya 



emoticon-Wakaka


Diubah oleh dishfire
0 0
0
Lihat 1 balasan
Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna
Lapor Hansip
06-10-2018 13:09
Balasan post dishfire
Quote:Original Posted By naniharyono2018
Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna
Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 06/10/2018 02:02 WIB

Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna
Ratna Sarumpaet. (CNN Indonesia/Andry Novelino).

Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo Maruf Amin, Arsul Sani menduga ada teknik propaganda ala Rusia yang dikenal sebagai ''firehose of the falsehood'' di balik kasus hoaks penganiayaan yang dilakukan Ratna Sarumpaet.

Atas dugaan itu, ia mendesak kepolisian untuk menyelidiki kasus tersebut secara lebih luas, tidak hanya sebatas pada unsur-unsur pasal pidana yang dipersangkakan.

"Lebih jauh dari itu diharapkan menyelidiki kasus ini dalam spektrum yang lebih luas, yakni ada tidaknya penerapan teknik propaganda ala Rusia yang dikenal sebagai firehose of the falsehood," ujar Arsul dalam pesan singkat, Jumat (5/10).

Arsul menjelaskan teknik propaganda ala Rusia tersebut memiliki ciri khas, yakni melakukan kebohongan-kebohongan nyata untuk membangun ketakutan publik. Ia menyebut kebohongan dengan teknik propaganda tersebut juga dilakukan berulang kali.

Tujuan dari teknik itu untuk mendapat keuntungan politik sekaligus menjatuhkan posisi politik lawannya.

Lihat juga:  Pihak Terkait Hoaks Ratna Sarumpaet Terancam Pasal 55 KUHP

Lebih lanjut, Arsul menyampaikan dugaan penerapan teknik propaganda tersebut diperkuat dengan kejadian-kejadian sebelumnya. Ia mencontohkan soal kejadian terbakarnya mobil pribadi Neno Warisman. Ia melihat kasus tersebut memiliki tujuan yang sama dengan kasus Ratna.

"Sebelumnya dikembangkan pemberitaan tentang pembakaran mobil Neno Warisman yang diselidiki ternyata bukan dibakar oleh orang lain, tapi terjadi korsleting pada mobilnya," ujarnya.

Tak hanya menimbulkan ketakutan publik, politisi PPP ini menyebut pola propaganda tersebut juga disertai dengan teknik playing victim. 

Ia berkata teknik itu membuat publik berpandangan bahwa pelaku adalah korban yang teraniaya oleh satu pihak yang biasanya diasosiasikan dengan kelompok penguasa.

"Teknik propaganda tersebut merupakan salah satu sumber pengembangan hoaks dan ujaran kebencian," ujar Arsul.

Lebih dari itu, ia menyatakan untuk memerangi hoaks dan ujaran kebencian hanya bisa dilakukan lewat penyelidikan yang secara luas oleh kepolisian.

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20181005134554-32-336023/kubu-jokowi-duga-ada-propaganda-ala-rusia-dalam-hoaks-ratna



-----------------------------------

Dihitung sendiri saja ... negeri mana yang paling banyak diuntungkan (baik secara ekonomi, politik dan geo-politik) dengan kemenangan Jokowi atau Prabowo itu nanti.  Dulu saat Rusia 'membantu' pemenangan Donald Trump dalam Pilpres AS, kepentingannya jelas, yaitu bila yang menang sebagai Presiden AS adalah Hillary Clinton yang cerdas dan berpengalaman itu, maka  kepentingan Rusia akan banyak terancam di seluruh dunia. Bahkan juga ancamam nuklir yang lebih masiv ke Rusia. 

Sebaliknya, bila yang menang adalah Trump, maka dia akan sibuk untuk memperbaiki kondisi dalam negerinya sendiri yang 'porak poranda' diserbu barang-barang China dan dominasi utang modalnya melalui perdagangan internasional yang tidak fair. Sehingga Trump pasti nggak sempat lagi untuk berfikir agresiv dengan lebih banyak mencampuri urusan dalam negeri negara-negara lain, termasuk Rusia. 

Kayaknya sih, prediksi Vladimir Putin cukup jitu! Boss Rusia itu kayaknya sih lebih suka pemimpin yang nggak terlalu 'smart' untuk Amerika, sebab bila yang memimpin model Hillary yang cerdas dan visioner itu tentu akan bisa merepotkan kepentingan nasional negaranya. Memang dimana-mana itu bila terjadi yang naik menjadi pimpinan sebuah negara adalah tokoh yang cerdas dan visioner, pasti akan merepotkan negara-negara yang berhubungan dengannya, seperti Soekarno dulu contohnya 



emoticon-Wakaka




Quote:Original Posted By dishfire
Sampai saat ini tidak ada bukti yang menyatakan hubungan antara Russia dan team kampanye Trump. Justru yang terlibat dengan Russia adalah HRC dengan Uranium One-nya.. Saham Uranium One sebesar 20% dijual ke Russia saat Hillary menjadi US Secretary od State..

Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna

Dari berbagai evidence maupun dokumen yang dibuka ke US publik ternyata merupakan konspirasi dari Team Kampanye HRC, Obama, HRC, penyalahgunaan wewenang (abuse of power) dari beberapa pejabat FBI dan Brennan termasuk ketelibatan agent asing (MI6, Steele)...

Trump itu seorang smart terbukti dia bisa menjadi billionaire, janji kampanyenya hampir semuanya dipenuhinya..
- US Economy booming
- unemployment terendah dalam sejarah
- industri baja dan aluminium mengalami revival
- manufacturing yang dianggap obsolete oleh Obama kembali mengalami revival
- Menjadi producer oil terbesar mengalahkan Russia dan Saudi Arabia..
- Dan sebagainya


Dan terbukti Trump adalah US President yang paling "keras" terhadap Russia:
- Menjatuhkan paling banyak sanksi terhadap Russia
- Mengusir diplomat US paling banyak dalam sejarah
- Dan sebagainya




emoticon-Angkat Beer




Kontras banget komen orang dua ini. Satu kentang, satu betulan pengamat berita.
0 0
0
Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna
06-10-2018 14:47
Pokok semua energi Projo dicurahkan abis abisan untuk kasus Sarumpaet ini.... Mumpung koalisi bikin kesalahan. Serang teruss.. cari celah sekecil apapun.
Supaya semua lupa sama kondisi ekonomi.
0 0
0
Kubu Jokowi Duga Ada Propaganda ala Rusia dalam Hoaks Ratna
06-10-2018 19:38
Jgn lupa si unok pernah ke ruski
Jgn lupa si trumphh menang dicurigai menggunakan jasa ruski supaya menang
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.