News
Batal
KATEGORI
link has been copied
66
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b38ebcd31e2e66f318b4567/cerita-serial---quot-86-hari-quot---fiksi-militer
PROLOG Pada pertengahan tahun 2014 dua orang peneliti Alumni Institut Teknologi Bandung ( ITB ) dikabarkan hilang di pedalaman hutan Papua, mereka positif dinyatakan tidak diketahui keberadaannya setelah putus kontak dengan sejumlah peneliti lainnya selama 2 hari, kabar akan hilangnya dua peneliti itu menjadi semakin rumit karena timbul banyak spekulasi perihal penyebab hilangnya kedua peneliti te
Lapor Hansip
01-07-2018 21:57

[ CERITA SERIAL ] " 86 Hari " [ fiksi/militer ]

PROLOG
Pada pertengahan tahun 2014 dua orang peneliti Alumni Institut Teknologi Bandung ( ITB ) dikabarkan hilang di pedalaman hutan Papua, mereka positif dinyatakan tidak diketahui keberadaannya setelah putus kontak dengan sejumlah peneliti lainnya selama 2 hari, kabar akan hilangnya dua peneliti itu menjadi semakin rumit karena timbul banyak spekulasi perihal penyebab hilangnya kedua peneliti tersebut.
Keadaan semakin buruk ketika masing - masing dari sejumlah media informasi mengaitkan peristiwa ini dengan Organisasi Papua Merdeka ( OPM ) dan keberadaan sejumlah Organisasi Asing yang terselubung mengingat kedua peneliti yang hilang sedang melakukan penelitian tentang potensi hutan dan tanah Papua yang belum banyak diketahui sebagaimana sebenarnya yang hanya diketahui oleh Organisasi - organisasi Asing yang mengambil alih hampir keseluruhan potensi hutan dan tanah Papua.
Bagi pemerintah ini benar -benar sungguh situasi darurat, pasalnya salah satu dari dua peneliti yang hilang tersebut adalah putra sulung dari Bapak Wakil Presiden Republik Indonesia Ir.Hasbi Daud.
Pihak Badan Intelijen Negara ( BIN ) memastikan bahwa identitas putra sulung Bapak Wakil Presiden Republik Indonesia masih aman belum diketahui pihak media dan pihak manapun, namun mereka juga menjelaskan bahwa ini tidak akan bertahan lama sampai identitas putra sulung Bapak Wakil Presiden Republik Indonesia benar -benar diketahui, untuk itu atas dasar arahan dari Presiden yang diteruskan kepada Panglima TNI, pemerintah mengirim 1 regu yang berjumlah 4 orang dari satuan komando Strategi Angkatan Darat ( KOSTRAD ) untuk Menyelidiki dan Mencari kedua peneliti yang hilang tersebut.

PART 1
CHAPTER 01 "  Krusial "


Sayup - sayup terdengar suara seorang wanita tengah memanggil - manggil dari kejauhan, terdengar pula suara percikan air disertai gemerincing suara piring yang bersenggolan.

" Mas ..mas bangun mas, udah pagi lho .." panggil wanita itu sedari tadi.

Sembari mengucek mata seorang pria segera bangun dan dengan sigapnya berlari ke arah wanita tersebut.

" Iya ade.. Ayah sudah bangun ni .." Ucap pria tersebut sembari mendekatkan wajahnya pada perut wanita tadi yang terlihat membesar.

" ih.. liat tuh de... kan mama yang bangunin ade yang langsung di sapa .." sahut wanita itu cemberut.
" iya mama.. gitu aja cemberut, liat tuh de.. mama iri ade dapet perhatian lebih dari ayah .." ucap pria tersebut sambil memeluk mesra wanita yang terlihat sedang hamil itu.

Pria tersebut adalah SERKA Amri yang merupakan salah satu Prajurit Cakra KOSTRAD, ia lulus dengan Predikat terbaik dan menjadi kebanggan di keluarga serta Negaranya.
Sudah 2 kali ia dipilih menjadi bagian dari Pasukan Kontingen Garuda untuk PBB, berbagai penghargaan dalam bidang Olah raga dan kemiliteran telah diraihnya di usia yang terbilang muda, dan baru beberapa bulan ini ia menikahi wanita pujaannya untuk sebagai teman hidupnya.

" Permisi.. permisi "
Suara panggilan dan ketokan pintu dari luar tiba - tiba menghentikan kegiatan mesra - mesranya pasangan suami istri pagi itu.

" Ada tamu coba liat dulu gih.." pinta istrinya
" Iya bantar ma.., siapa ya..? kan papa sedang IB 2 hari .." sahut Amri sembari berjalan menuju pintu depan rumahnya.

" Pagi bang,  kita ada panggilan bang.. " ucap seseorang berseragam loreng yang berdiri di depan pintu langsung ketika Amri membuka pimtu rumahnya.

" oke tunggu sebentar Her.. " sahut Amri segera berbalik masuk terburu -buru.
" Baik bang.. " ucap seseorang tadi mengiyakan.

" siapa mas..? kok gak disuruh masuk sih..? " tanya istri Amri yang masih terlihat sibuk mencuci piring.
" Heri.., ngasih kabar bahwa ada latihan gabungan tiba - tiba hari ini .." jawab Amri sambil buru - buru mengenakan seragamnya.

SERTU Heri, salah satu Prajurit CAKRA yang paling handal dalam menembak, ia juga pernah menjadi bagian dari salah satu Atlit penembak TNI untuk Australian Army of Skill Arms at Meeting (AASAM) dan meraih medali emas dalam kategori Penembak Runduk.

" Ma.. ayah berangkat ya.." ucap Amri sambil mencium kening istrinya.
" Ga sarapan dulu mas..? " tanya istrinya
" Ga usah ma.. sarapan di barak aja nanti sama Heri..  "
" De.. ayah pergi dulu ya.. jaga mama mu ya nak.." lanjut Amri sembari menciumi perut besar istrinya.

Sang istri hanya memandangi dari balik pintu melihat suaminya pergi, terkadang perasaan sedih berusaha melemahkannya mengingat ia sedang mengandung sang jabang bayi dari pria yang mencuri hatinya sejak jaman SMA dahulu, namun hati tegarnya selalu berkata bahwa sang suami pergi sebagai anak Negara, untuk Negara, hanya do'a yang bisa ia persembahkan kepada suami tercintanya.
..................

Sebuah mobil SUV hijau berplat militer melaju kencang membelah lalu lintas yang mulai ramai, sesekali klakson keras berbunyi untuk meminta pengemudi kendaraan lain memberi jalan.

" Kita langsung ke Mabes di Jakarta? Her.. kenapa gak ada semacam brifing dari atasan kita..?" tanya Amri yang merasa heran, karena mereka berdua berangkat tanpa arahan dari atasan langsung mereka di Batalyon.
" Saya juga kurang paham sih bang.. tapi Abdi dan bang Lubis juga sudah berangkat kr Mabes bg.." jawab Heri pelan.

" dek.. adek ada dengar kasak kusuk gak..?" tanya Amri kepada prajurit muda yang menjadi joki kendaraan yang ditugaskan untuk mengantar ia dan Heri.
" Siap bang.. setahu saya ini ada hubungannya dengan 2 peneliti yang hilang di Papua bang.." jawab Prajurit muda itu.
" Mati aku Her.. aku bilang cuma latihan tadi sama kakakmu, kalau positif kolamnya Papua waduh kasian kakakmu Her.." ucap Amri sedikit terkejut.
" telpon aja bang dulu ke rumah.." sahut Heri.

Tampak Amri mengerutkan dahi seakan memikirkan sesuatu, sesekali ia pandangi Hp yang segera ia keluarkan dari sakunya.

" Gimana bang..? jadi telpon kakak..? atau biar saya yang mengabarkan kakak bang..?" tanya Heri seakan mengerti makna kerutan dahi Amri.
" Tak usah lah Her.. kalau diberitahu kata Papua saja bisa panik kakakmu,kam kamu tau keadaan di Papua gimana sekarang.." jawab Amri serius.

Jawaban Amri seolah mengisyaratkan kerisauan yang bisa dimengerti, Heri juga mulai berfikir yang tidak - tidak namun segera ia tepis karena apapun itu adalah tugas yang diberikan Negara untuknya.
.................
SERKA ABDI adalah Prajurit CAKRA yang paling garang, ia adalah Atlit Binaragawan-nya TNI, otot - otot kekarnya masih bisa menyembul dibalik seragam dinasnya, jadi soal ketahanan fisik tak bisa diragukan lagi.
LETDA LUBIS adalah Danru dari grup kecil ini, meskipun ia berbadan kurus, tapi dikepala dan didadanya terdapat jiwa kepemimpinan yang mumpuni, ditambah ia adalah lulusan Ilmu Kedokteran menjadikannya seseorang yang berkepala dingin.

Matahari sudah mulai menampakkan kedigdayaannya menerangi bumi, beragam aktivitas juga sudah meramaikan dunia disela -sela rotasinya sebagai planet indah yang disebut bumi.
Dalam beberapa jam Amri dan Heri telah sampai di Komando Utama ( KOTAMA ) Markas Besar TNI, sejumlah perwira langsung menyambut mereka dengan mimik tegang, alih - alih ingin meminta izin untuk sarapan pun terpaksa mereka urungkan.
Beberapa menit kemudian mereka sudah berada di ruang pusat kendali KOTAMA bersama sejumlah Petinggi militer dan Negara, sesekali Amri memandangi wajah kedua rekannya yang lain yaitu Abdi dan Lubis yang terlebih dulu sampai.

" Boy.. baru kemarin kita pisah IB, eh.. ngumpul lagi kita.." bisik Abdi kepada Amri.
" Nikmatin aja boy.. namanya tugas.." sahut Amri pelan.
" . . . "
Tatapan Danru Lubis menghentikan candaan mereka, buru - buru Abdi mengangguk seolah mengerti maksud tatapan Danrunya tersebut, benar saja .. brifing situasi, solusi, dan tindakan satu persatu dijelaskan secara detil dan menyeluruh oleh Panglima TNI, berbagai opsi tindakan dijabarkan secara fleksibel, namun mengingat daerah operasi adalah daerah rawan, bantuan jumlah grup tambahan ataupun personil dirasa akan dapat memicu spekulasi dan dapat menimbulkan kesalahpahaman pandangan dari berbagai pihak kelak, Panglima khawatir jika misi pencarian dan penyelamatan ini dilakukan secara terbuka dapat menyalakan kembali Api konflik di Papua, jadi diputuskan grup kecil beranggotakan 4 orang terjun langsung ke pusat target operasi secara diam - diam.

" Sandi kalian adalah 'Wayang',, kalian akan diterjunkan secara HALO, dan hanya memiliki akses meminta Ekstrasi 1 kali karena semua kita lakukan secara senyap.." terang Panglima di akhir -akhir brifing,
" Saya tau kalian pasti heran kenapa kalian harus turun di misi pencarian ini.. inilah yang harus kalian ketahui... " sambung Panglima sembari menunjukkan sebuah foto dilayar.
" salah seorang peneliti yang hilang tersebut adalah putra sulung dari Wakil Presiden kita.. menurut Intelijen identitasnya belum diketahui, tapi itu tidak akan bertahan lama.. kalau sampai identitasnya diketahui.. pasti pihak - pihak tertentu akan berusaha mencari keuntungan dari situasi seperti ini..." sambung Panglima dengan mimik serius.

" !?!? "
Sontak Amri dan yang lainnya terkejut, mereka sekarang paham betapa krusialnya misi penyelamatan ini.

" Pastikan kalian menemukannya.. NEGARA SEDANG MEMBUTUHKAN KALIAN...! BERJUANGLAH..!!!" tutup Panglima dengan berkobar - kobar.

Brifing selesai, rencananya setelah jeda persiapan mereka berempat akan langsung diberangkatkan ke Papua dengan bantuan dari TNI AU sebagai tanduk bantuan utama tim kecil ini apabila situasi benar - benar darurat.

( to be continued... )
Diubah oleh 1306hatake
0
Tampilkan isi Thread
icon-close-thread
Thread sudah digembok
Halaman 2 dari 4
[ CERITA SERIAL ] " 86 Hari " [ fiksi/militer ]
09-07-2018 18:22
1 Team 4 orang mengingatkan sama
Team Operation Redwing-Lone Survivor
Team Metal 01-COD MW 3
0 0
0
[ CERITA SERIAL ] " 86 Hari " [ fiksi/militer ]
12-07-2018 09:42
Seru. Cuman mau komen dikit soal bahasa selama misi berlangsung. Dari pengalaman pakde dulu, selam misi biasanya pake bahasa gak baku. Malah tim pakde yg kebanyakan dr jawa pake bhs jawa. Pakde enak aja kontak ke atasan pake kromo inggil. Berasa kayak windtalker emoticon-Big Grin
0 0
0
[ CERITA SERIAL ] " 86 Hari " [ fiksi/militer ]
12-07-2018 09:59
Quote:Original Posted By novembermann
Seru. Cuman mau komen dikit soal bahasa selama misi berlangsung. Dari pengalaman pakde dulu, selam misi biasanya pake bahasa gak baku. Malah tim pakde yg kebanyakan dr jawa pake bhs jawa. Pakde enak aja kontak ke atasan pake kromo inggil. Berasa kayak windtalker emoticon-Big Grin


No problem sih, daripada ntar yang bikin kerepotan gara2 perlu menerjemahkan bahasa jawa ke bahasa Indonesia.
Mending pakai bahasa umum aja, for the sake of the story.
1 0
1
[ CERITA SERIAL ] " 86 Hari " [ fiksi/militer ]
14-07-2018 01:45
Chapter : 06 " BASE "

Tak terasa langit telah meredup ditinggalkan sang matahari, tim wayang terlihat telah selesai menguburkan dua kerangka manusia yang mereka temukan siang tadi, sang Danru masih saja tampak memperhatikan kembali map yang diberikan oleh satuan Intelijen yang dirasa jauh dari akurat.

" Menurutmu apa yang terjadi pada mereka..?" tanya Abdi pada Amri sambil menunjuk dua gundukan tanah dimana mereka menguburkan kedua kerangka yang mereka temukan.

" sepertinya ditembak jatuh dengan RPG atau semacamnya.." jawab Amri sambil menyela keringat di dahinya.

" menurutku tidak bang, dengan hutan rimbun begini sulit untuk menembak helikopter dengan RPG ..." sahut Heri menimpali.

" jadi maksudmu semacam roket..? begitu..?" tanya Abdi lagi.

" yah bisa saja.. tapi apa benar musuh memiliki senjata seperti itu..? kalau memang iya.. wah.." Sahut Heri sambil menjauh mendekati Danru Lubis.

" hmm... entahlah.. yang jelas mereka tidak terkena tembakan dari sini.. sepertinya mereka berputar- putar jauh setelah tertembak dan jatuh disini.." sambung Amri juga beranjak mendekati Danru.

" Yah.. setidaknya kita akan kembali kesini kelak untuk membawa mereka pulang jika misi ini selesai.." sahut Abdi juga bangkit untuk berkumpul dengan yang lainnya.

" Bagaimana selanjutnya Ndan..? " tanya Heri.

" Keluarkan NVG kalian.. pergerakan kita akan lebih cepat dan aman pada malam hari, karena musuh pasti tak akan bergerak pada malam hari.." Terang Danru Lubis sambil melipat kembali map yang ia pegang sedari tadi.

" hmm.. seandainya kita langsung menggunakan ini saat penerjunan.. mungkin saja aku tak akan bertemu macan.." Ucap Amri menggerutu.

" bagaimana lagi.. medan di anggap terlalu ekstrim, jadi lebih penting keselamatan peralatan .. heheheh " Sahut Abdi meledek.

" serah dah.." ucap Amri sambil memasangkan NVG di helmnya.

*( NVG : Night Vision Google )

Hari mulai gelap ditandai dengan riuh suara binatang malam penghuni hutan saling bersahutan bak sebuah backsound dari orkes drama kolosal.
Setelah kegiatan TB-2 dan diskusi formasi pergerakan tim yang dipimpin oleh sang Danru, tim Wayang memutuskan segera bergerak menyusuri hutan secara cepat karena pada malam hari bisa dipastikan mereka akan sangat mudah mengetahui jika ada musuh disekitar mereka.

Tim bergerak dengan formasi jembatan, dua didepan adalah Amri dan Abdi, sedangkan Danru dan Heri berada melebar beberapa meter disamping belakang.
Tak ada jeda pengamatan, mereka terus bergerak sesuai dengan arahan sang Danru, meskipun jarak pandang NVG yang mereka gunakan maksimal jelas 10 - 15 meter, hanya menjadi beberapa meter saja karena semak belukar membatasi sorotan infra merah yang menjadi tumpuan NVG untuk melihat dalam gelap dalam sketsa serupa berwarna hijau.

" ! "

Abdi merasa melihat titik cahaya dalam pandangannya jauh didepan, namun ia belum yakin dengan apa yang dilihatnya.

" Heri 4 klik jam sepuluh.. " Ucap Amri meminta Heri yang berada dibelakangnya agar juga mengamati sekedar untuk memastikan.

" Negatif .. sepertinya itu biasan mata hewan atau sejenisnya.." jawab Heri cepat karena iya tak melihat apa - apa.

Tim wayang terus bergerak cepat fokus dengan apa yang dilihat, tidak akan ada jeda pengamatan sama sekali sampai jika salah satu dari mereka melihat sesuatu yang dirasa musuh, menyusup dari pohon yang satu ke pohon lainnya, dari semak dan tumbuhan liar yang satu ke lainnya dengan tangkas, sampai akhirnya pergerakan mereka terhenti ketika Talkie musuh yang mereka dapatkan tiba - tiba saja berbunyi.

" SREEEEETTTTTHHH....SRRKKKKK "

" !!!!!! "

Sontak semuanya langsung merunduk diam mengambil posisi siaga.

" Apa itu Ndan..? " tanya Amri sedikit kaget.

" Talkie musuh.. sepertinya sudah berada pada jangkauan sinyalnya.." terang Danru sambil segera mengecilkan suara volume Talkie yang agak besar.

" jadi sudah dekat ya..? " ucap Heri menebak.

" bisa jadi.. kalau di pikir mungkin saja pos sebelumnya jauh terdepan.. dan yang memegang Talkie ini sedang menyidak anggotanya kesana.. jadi wajar saja saat kita berada disana Talkie ini tak berbunyi sama sekali karena tak dapat sinyal..." Sahut Abdi coba menganalisa.

" masuk akal ... jadi bagaimana Ndan..? " timpal Amri.

" Mungkin sekitaran seratusan meter atau lebih dalam area ini terdapat pos musuh... situasi menguntungkan kita untuk mengamati, Amri dan kamu Abdi susuri area pastikan apakah yang saya pikirkan benar untuk jaga - jaga .. " jelas Danru Lubis.

" Ayo.. kita bergerak " ucap Amri mengajak Abdi.

Keduanya bergerak menyusuri dengan menyamping dari arah pergerakan mereka sebelumnya untuk mendapatkan area penyisiran keseluruhan dengan pola lajur lingkaran dalam pergerakan mereka.

Tak jauh dari posisi tim Wayang....
....
...
..

" Kenapa tak ada jawaban hee... " Ucap seorang bertubuh besar dengan janggut lebat sembari menekan -nekan tombol merah sebuah Talkie yang ia genggam.

" Mungkin tak ada sinyal hee.. sudahlah.. suruh mereka punya jenset itu hidupkan.. sudah gelap ini.." Sahut seorang lagi yang tampak duduk sambil merokok disebuah barak beratapkan tenda.

" haduh... begitu banyak orang tak ada satupun yang bisa betulkan itu jenset hee.. " sambung seorang tadi berlalu menuju sebuah bangunan yang tampak dibangun dengan batang pohon yang di belah - belah, sebuah tiang tertancap tak jauh dari situ dengan bendera bintang bergaris di pucuknya yang sesekali melambai tertiup angin.

Sebuah pos dengan beberapa bangunan darurat serta sejumlah barak, dikelilingi rawa, tampak tumpukan karung pasir terlihat berjejer dibeberapa sudut...

TO BE CONTINUED.....

1 0
1
[ CERITA SERIAL ] " 86 Hari " [ fiksi/militer ]
16-07-2018 06:56
Wah apdet kanjutkan bossqu
Btw heli tni au bkan bagian dri ekpedisi anak wapres hilang kan?

Klo keren misal mrk dbantu warga lokal yg mau membela negara utk lwan opm kan keren emoticon-Smilie
Saran aja
Diubah oleh ruhnama
1 0
1
[ CERITA SERIAL ] " 86 Hari " [ fiksi/militer ]
16-07-2018 14:25
Wah keselamatan peralatan lebih penting daripada keselamatan personil hahaha
0 0
0
[ CERITA SERIAL ] " 86 Hari " [ fiksi/militer ]
16-07-2018 14:33
Quote:Original Posted By venom.jeka
Wah keselamatan peralatan lebih penting daripada keselamatan personil hahaha


Sad but true emoticon-Big Grin
1 0
1
[ CERITA SERIAL ] " 86 Hari " [ fiksi/militer ]
16-07-2018 18:26
Cerita baru, sepertinya alur cerita nya cukup cepat

Semoga bisa tamat ya gan
0 0
0
[ CERITA SERIAL ] " 86 Hari " [ fiksi/militer ]
16-07-2018 19:43
Quote:Original Posted By jenyserhan
Cerita baru, sepertinya alur cerita nya cukup cepat

Semoga bisa tamat ya gan


Ditunggu juga diikuti aje ganemoticon-Big Grin

ntar kan terungkap bijimane alur cerita nyeemoticon-Wink
0 0
0
[ CERITA SERIAL ] " 86 Hari " [ fiksi/militer ]
17-07-2018 04:39
Quote:Original Posted By stuka1788


Sad but true emoticon-Big Grin


Kedengarannya Indonesia banget yah mod hehe.
Hmm makin tdk sabar nunggu kelanjutannya nih, ngopi dl aah

0 0
0
[ CERITA SERIAL ] " 86 Hari " [ fiksi/militer ]
20-07-2018 10:11
Kentang euy
Sdh 6 hri blm jg ada update emoticon-sad
0 0
0
[ CERITA SERIAL ] " 86 Hari " [ fiksi/militer ]
20-07-2018 10:29
Gak ada cerita posisi ambush ketahuan gara2 rokok ya, akhirnya di-ambush balik? emoticon-Big Grin
0 0
0
[ CERITA SERIAL ] " 86 Hari " [ fiksi/militer ]
21-07-2018 15:11
gelar karpet dulu, seru juga bacanya
0 0
0
[ CERITA SERIAL ] " 86 Hari " [ fiksi/militer ]
22-07-2018 12:06
Waah ... udah muai rame ni emoticon-Wink
0 0
0
[ CERITA SERIAL ] " 86 Hari " [ fiksi/militer ]
22-07-2018 12:46
Gelar tikar sambil ngopi,.
0 0
0
[ CERITA SERIAL ] " 86 Hari " [ fiksi/militer ]
22-07-2018 15:46
Eh kirain ada lanjutannya, emang sih bikin cerita itu pasti susah dan tergantung mood juga namun gimana lagi dah terlanjur penasaran hehehe. Semoga tdk lama lagi keluar lanjutannya hehehe
0 0
0
[ CERITA SERIAL ] " 86 Hari " [ fiksi/militer ]
24-07-2018 15:31
Chapter : [U]07[/U] " Kolam Ikan "


Sementara itu Amri dan Abdi terus bergerak memutar untuk memastikan perkiraan sang Danru dimana diperkirakan kemungkinan ada 'base' musuh dalam area gerak mereka, dengan keahlian dan kerjasama mereka sebagai bagian dari salah satu Tim pasukan Elit bukanlah hal sulit untuk bergerak cepat dalam rimbun hutan belantara, ditambah insting mereka yang terlatih dan sudah terlalu sering terasah, tak butuh waktu lama keduanya telah menyadari ada sesuatu dihadapan mereka.


" Tunggu.. kau melihatnya..? " Tanya Abdi sambil bergegas merunduk.

" Yah, sebaiknya kita mencari posisi intai yang tepat.. " sahut Amri juga langsung merunduk ketika melihat secercah titik merah yang kelihatannya seperti api rokok.

Secara perlahan keduanya segera merayap mendekat untuk memastikan, perlahan mereka merayap menapaki permukaan tanah yang sepertinya sedikit miring dan menurun, serta semakin banyak tampak semak dan ilalang berbaur dengan tumbuhan liar yang mungkin saja mereka tak tahu jenis tumbuhan apa itu.

Tapi belum lama mereka berdua merayap tiba - tiba saja Abdi yang berada didepan memberi tanda berhenti kepada Amri yang posisinya sedikit berada dibelakang dengan sejumlah ilalang liar merubungi mereka.

" kenapa ..? " Tanya Amri

" sial.. basah, sepertinya rawa.. kukira cuma peceran.. " keluh Abdi sembari mengusap - usapkan wajahnya ke bahunya.

" ilalang ini mengganggu pandangan kita.. " ucap Amri sambil memperhatikan sekelilingnya.

" tunggu disini sebentar, aku akan ke atas .. " sambung Amri sambil menunjuk ke arah pohon disebelahnya.

Dengan cepat Amri sudah nangkring disalah satu cabang pohon dan dengan perlahan ia menyibak dedaunan yang ada didepannya untuk mendapatkan pandangan yang lebih jelas.

' Grennnnggggggg!!! '

Tiba - tiba saja terdengar raungan suara mesin yang kemudian diikuti sorot cahaya lampu yang muncul perlahan dan semakin terang...

' !!! '

Sontak Abdi langsung membenamkan seluruh badannya kedalam genangan rawa yang penuh dengan ilalang didepannya karena sorot lampu itu cukup terang dan jangkauannya juga lumayan cukup luas, hanya bagian kepala saja yang berusaha tetap dipermukaan untuk memantau keadaan sekitar, sementara itu Amri juga buru - buru untuk naik lebih tinggi bersembunyi didedaunan yang lebih rimbun.

" kampret... " umpat Amri dalam hati karena sesaat tadi hampir saja ia terjatuh.

' !!! '

Sorot lampu yang berasal dari sebuah mesin genset itu membuat kawasan tempat dimana Amri dan Abdi berada yang semula gelap menjadi terang bak cahaya ilahi yang memberikan hidayah, tapi kali ini hidayah atau lebih tepatnya petunjuk secara gamblang untuk Amri dan Abdi.

" ! "
Amri dan Abdi baru menyadari bahwa didepan mereka adalah markas musuh yang berstatus aktif dilihat dari sejumlah barak dan personel yang terlihat, ditambah benteng yang terbuat dari tumpukan karung berisi pasir diberbagai titik dan dikelilingi oleh rawa.

" Ndan... " bisik Amri melalui radio.

" masuk.. apa yang kalian temukan..? " sahut Danru seolah tahu ada sesuatu, karena samar - samar suara dengungan mesin sebelumnya juga terdengar olehnya.

" Kolam Ndan.. peranakan Nila sepertinya.. " terang Amri menjelaskan.

" hmm.. bagaimana status kalian..? " tanya Danru Lubis.

" Saya bersih di atas pohon Ndan, Abdi selancar karena kolam dikelilingi rawa.. status aman untuk saat ini .. " terang Amri sambil melirik ke arah Abdi yang tampak tengah mengacungkan 2 jarinya ke arah timur seolah hendak memberi tahu sesuatu.

Segera saja Amri menyadari maksud dari rekannya itu karena ia melihat 2 orang bersenjata tampak berjalan ke arah bibir rawa dimana terdapat benteng karung pasir yang berada diseberang dari posisi Abdi bersembunyi, dengan kelebaran rawa yang hanya sekitaran 4 -5 meter tentu sangat beresiko bagi Abdi.

" sebentar Ndan... dua ikan mendekat .. " ucap Amri sambil mengkode Abdi untuk tetap menunduk dan berlindung dibalik ilalang liar.

" sial... " umpat Amri sambil memperhatikan sekitar seakan sedang mencari sesuatu untuk digunakan, karena dalam situasi ini kemungkinan keberadaan Abdi terlihat oleh musuh sangat besar.

...
..
.

" bagaimana Ndan...? " tanya Heri menggenggam erat senapannya seolah bersiap akan sebuah pertempuran.

" ayo kita bergerak.. " jelas Danru Lubis.

" Siap Ndan..!"

....
...
..
.

" Sudah terang kita punya markas kenapa harus cek sana cek sini..? " ujar salah seorang pemberontak yang terlihat menenteng senapan tipe AK-47.

" Sudahlah kawan.. ikuti saja kata pak bos he.. " sahut seorang lainnya dengan rokok masih dimulutnya.

Keduanya berjalan ke arah benteng karung pasir yang berada dipinggir rawa, sejumlah bambu tampak ditancapkan dan diikat sedemikian rupa untuk menjadi penyangga lampu dibeberapa sudut, salah satunya tepat dibenteng yang mereka datangi dimana beberapa meter didepan Abdi tengah bersembunyi.

to be Continued...
0 0
0
[ CERITA SERIAL ] " 86 Hari " [ fiksi/militer ]
25-07-2018 06:44
Wah ada update nih, kasian yg dirawa berendam lumpr lol
Diubah oleh venom.jeka
0 0
0
[ CERITA SERIAL ] " 86 Hari " [ fiksi/militer ]
26-07-2018 11:32
seru, menunggu update
0 0
0
[ CERITA SERIAL ] " 86 Hari " [ fiksi/militer ]
28-07-2018 14:32
Ayo gan di update,seru nih...
0 0
0
Halaman 2 dari 4
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia