Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
2373
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/573370ce96bde6f9788b4569/kembalilah-tak-terungkap--ketulusan-cinta-para-bidadari--r-17
Cinta adalah saat kita menginginkan orang yang kita cintai bahagia. Tidak peduli seberapa sakitnya kita dibuatnya karena ketulusan yang akan mengobati semua sakit.
Lapor Hansip
12-05-2016 00:50

Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17

Past Hot Thread
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17

Quote:
MAIN STORY UPDATE
18.10 (EP301) 17/02/2020

SIDE STORY UPDATE
Senyuman di Tanah Celebes 10/02/2020


Silakan add Line ID cautheliaatau aluna.amelia untuk kabar terbaru dari thread ini, terima kasih.





Apa kau percaya dengan Hukum Kekekalan Energi?
Kalau aku percaya dengan Hukum Kekekalan Cinta.
Bahwa Cinta itu tidak dapat dibuat atau dimusnahkan.
Tetapi hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Itulah cinta yang kupercaya.

Ini adalah kisah nyata tentang mereka.
Tentang semua cinta yang tak terbalas.
Tentang semua rasa yang tak terungkap.
Yang terukir indah dalam 874 lembar buku harianku sejak SMA.
Ditambah 101 halaman dari kisahku yang hilang bersama seseorang.
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17

Maka, saat kau bertanya, mengapa kau masih ingat?
Buku harianku yang mengingatkanku.
Disana tertulis nama lengkap mereka.
Disana tertulis semua perkataan antara aku dan mereka
Disana tertulis semua proses pendewasaanku.

Ini kisah nyata.
Buku harian 975 lembar letter size itu saksi sejarahnya.
Ditulis dengan font Times New Roman 10 Pt.
Dan akan kutulis ulang semuanya untuk kalian.
Bidadari yang pernah datang mengisi hariku.
Bidadari yang mendewasakanku.



Orang bilang, jatuh cinta itu menyenangkan.
Aku mengakui itu, sepanjang aku jatuh cinta, rasanya menyenangkan.

Tetapi orang juga bilang, jatuh cinta itu menyakitkan.
Entah, tetapi aku tidak pernah setuju dengan frasa bahwa cinta itu menyakitkan.

Cinta adalah saat kita menginginkan orang yang kita cintai bahagia.
Tidak peduli seberapa sakitnya kita dibuatnya.
Karena ketulusan yang akan mengobati semua sakit.
Di atas senyum bahagia, dia yang kita cintai.

Namum, apabila ada banyak hati yang saling mencinta.
Apakah akan berakhir bencana?
Ataukah ketulusan yang akan menyembukan mereka.
Ini kisah tentang mereka.

Bidadari sempurna yang hadir dalam hidupku.



Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari


Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17



MAKLUMAT

Cerita ini berdasarkan kisah nyata, nama karakter disamarkan sesuai dengan kebutuhan untuk melindungi privasi dari tokoh yang ada di dalam cerita ini. Dan cerita ini sebisa mungkin menggunakan kaedah sastra secara teknis, sehingga akan dibutuhkan waktu yang lama untuk dicerna.

Rating dalam cerita ini adalah R-17, dengan kata lain, cerita ini mengandung bahasa yang kasar dan juga isi cerita yang hanya sesuai untuk usia 17 tahun atau di atasnya, dan atau usia di bawahnya dengan bimbingan orang yang lebih dewasa.

Perlu diingat, rating Restricted tidak serta merta hanya mengacu kepada konten cerita yang mengandung adegan dewasa, belajar dari cerita sebelumnya, saya selaku author akan meminimalisir cerita dengan adegan dewasa di thread ini. Restricted di sini mengacu kepada kompleksitas cerita yang akan mempengaruhi ideologi pada pembaca, khususnya remaja yang memiliki usia di bawah 17 tahun.

Penggunaan bahasa yang tidak pantas, serta adegan yang penuh dengan konspirasi dan atau tindakan kejahatan juga menjadi pertimbangan saya untuk tetap mempertahankan rating Restricted di dalam cerita ini, jadi terlebih dahulu harus dipahami mengapa saya tetap menggunakan rating R-17 pada cerita ini, dan bukan serta merta karena adanya adegan yang kurang pantas di sini.

Mohon untuk pembaca memahami bahwa tidak semua adagan dalam cerita ini bisa dicontoh, ditiru, dan atau diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, terlebih untuk material yang hanya boleh dilakukan untuk pasangan pernikahan yang sah. Pembaca dimohon untuk mengambil hikmah dari cerita ini sebaik-baiknya.

Kritik dan saran dari pembaca sangatlah saya harapkan, dan mohon maaf apabila banyak tulisan dari karya saya yang masih jauh menyimpang dari Sastra Indonesia. Saya mohon koreksinya dari pembaca, karena saya ingin tetap mempertahankan kaedah menulis Sastra, bukan asal cerita.

Demikian maklumat dari saya, Terima Kasih.


Quote:
Peraturan di Thread ini

  1. Mohon diperhatikan untuk membaca dan memahami peraturan ini sebelum melakukan reply post Peraturan Pertama, Peraturan Kedua, dan Peraturan Ketiga.
  2. Dilarang keras untuk melakukan posting yang bersifat SARA dan yang menyinggung Kaskuser lainnya, sanksi delete apabila dilakukan pertama kali, dan sanksi banned apabila diulang sampai tiga kali.
  3. Dimohon dengan sangat untuk tidak melakukan postingan OOT, One Liner dan atau yang bersifat Junk lainnya, sanksi delete apabila dilakukan pertama kali, dan sanksi banned apabila diulang sampai tiga kali, minimum posting harus 8 kata.
  4. Apabila ada pertanyaan mengenai thread yang tidak harus ditanyakan di thread, bisa add Line cauthelia untuk pertanyaan OOT yang bersifat pribadi dan atau tidak ada sangkut pautnya dengan thread.



Quote:
Tanya Jawab Umum

T: Apakah ini kisah nyata?
J: Kisah ini berdasarkan kisah nyata, berasal dari jurnal yang saya tulis sendiri setiap malam sebelum tidur, tanpa ada penambahan dan pengurangan. Saya hanya melakukan modifikasi pada timeframe, itu pun tidak semua. Tentu saja ada maksud dan tujuan saya melakukan hal tersebut.

T: Saya tidak yakin ini asli, pasti fiksi atau ada dramatisasi supaya seru?
J: Apabila Anda menganggap ini karya fiksi, itu kembali kepada Anda, tidak masalah Anda ingin menganggap kisah ini fiksi dan atau layaknya sebuah sinetron kejar tayang setiap hari.

T: Apakah nama karakter yang digunakan adalah nama yang sebenarnya?
J: Tentu saja tidak, untuk nama saya samarkan jauh dari nama aslinya. Meskipun beberapa tokoh utama muncul di sini, tetapi kami tetap menjaga privasi kami.

T: Muncul di thread?
J: Tentu saja, Anda dapat berinteraksi langsung dengan Cauthelia Nandya (deesanti) dan Aluna Amelia (ms.mriva) mereka juga akan memposting update main story atau side story.

T: Saya penasaran dengan karakter di sini, bolehkah gan?
J: Silakan, tidak masalah tanya saja sesuka pembaca, kalau sekiranya hal tersebut sudah mengganggu privasi saya, atau tokoh lainnya, kami berhak tidak menjawabnya.

T: Bagaimana status cerita ini?
J: Ongoing project, diupdate setiap hari, saya menjamin bahwa thread akan diupdate setiap hari.

T: Jam berapa jadwal update-nya gan?
J: Tentative, tergantung dari jadwal dan kesibukan saya dan Editor, dalam hal ini semua bidadari yang hadir dalam hidup saya adalah editor saya.


Quote:



Quote:



Music and Drum by Tama
Lead Guitar by Riswan
Rhytm Guitar by Dimas
Bass by Apri
Vocal by Billy

Kembalilah kau kepadaku di sini
Kenang kembali kisah manis yang telah pergi
Kan kurangkai kata indah yang tak sempat terungkap
Saat berbagi rasa ingin memiliki dirimu



Quote:


Music and Drum by Tama
Lead Guitar by Riswan
Rhytm Guitar by Dimas
Bass by Apri
Vocal by Billy



Music, Vocal, and Drum by Tama
Lead Guitar by Riswan
Rhytm Guitar by Rian
Bass by Apri




OVERTURE


     Selamat pagi rekan-rekan Kaskuser, khususnya di Sub-Forum Story from the Heart, perkenalkan, saya Faristama Aldirch, selaku Nubie SR di sini untuk berbagi kisah. Sebelumnya pasti rekan-rekan semua tahu apa alasan saya menggunakan User ID m60e38, tentunya ada hubungannya antara mesin BMW M60 dan sasis BMW E38.

     Tentu saja, cerita ini berawal dari saya yang jatuh cinta kepada Aerish Rivier, menyatakan cinta kepada gadis itu, dan membuat saya menanti akan sebuah balasan yang tak berujung. Menutup hati dari banyak hati yang berusaha mengisi hati saya dan berusaha tak acuh dengan apa yang saya alami sendiri. Hingga pada akhirnya banyak hal yang terlewatkan hingga semuanya menjadi satu.

     Tetapi, hal tersebut tidak pernah disadari oleh saya, Cauthelia Nandya datang dengan membawa cinta dan keikhlasan yang begitu luar biasa, tertuang dalam diary-nya sejak tahun 2002. Nadine Helvelina datang dengan cinta dan ketulusan yang tidak pernah bisa diragukan. Shinta Adinda yang menjadi sahabat terbaik saya juga datang dengan ketulusan yang benar-benar membuat saya berpikir tidak akan meninggalkannya.

     Arteana Andrianti, seorang Guru penjaga UKS yang merasakan bahwa saya adalah laki-laki yang telah menyelamatkannya di satu peristiwa pada pertengahan 2006. Hingga Aluna Amelia, gadis berdarah Oriental yang begitu cantik, mempercayakan segala perasaannya kepada saya atas semua apa yang pernah saya lakukan kepadanya.

     Ketulusan mereka semua sudah tidak mungkin diragukan lagi, apapun mereka lakukan bukan serta merta menginginkan saya bahagia, tetapi ingin yang lainnya bahagia. Memang ini terlihat menyenangkan, dicintai banyak wanita sekaligus, dan mereka terlihat begitu akrab dan juga akur satu sama lainnya, padahal hal tersebut benar-benar menjadi sebuah beban yang begitu luar biasa untuk saya.

     Semenjak kedatangan Erik di kehidupan saya, semuanya mulai terasa begitu berat, dengan anak buahnya, ia berusaha untuk mendekati satu per satu bidadari untuk sekadar mengancam saya, atau mungkin melakukan hal yang buruk kepada mereka. Hal tersebut membuat saya benar-benar was-was, terlebih saat ini saya tidak bisa tenang karena Cauthelia tidak bisa dihubungi.

     Satu persatu masalah muncul dan semuanya bermuara ke satu nama, yaitu Markus, siapakah orang itu? Entahlah, hanya Sang Jabbar yang tahu siapakah Markus itu, yang pasti semenjak kedatangan Nancy malam itu, setidaknya selain hengkangnya Erik perlahan dari kehidupan saya, muncul aliansi baru yang akan membantu saya mengungkap siapa dan apa tujuan Markus sebenarnya.

     Semoga cerita ini bisa menjadi salah satu kawan di kala senggang untuk rekan-rekan Kaskuser yang senang membaca cerita dengan format baku seperti yang saya suguhkan. Tidak perlu banyak kata-kata dalam pembukaan ini, saya akan melanjutkannya pada kisah yang akan saya tulis dengan format yang sama seperti cerita saya sebelumnya. Atas perhatian dan kerjasama Anda, saya mengucapkan Terima Kasih.

Quote:
INDEKS CERITA


Quote:


Quote:


Quote:
BAB 18: TENTANG SEBUAH NAMA: TALITA

| 18.1 (EP292) | 18.2 (EP293) | 18.3 (EP294) | 18.4 (EP295) |
| 18.5 (EP296) | 18.6 (EP297) | 18.7 (EP298) | 18.8 (EP299) |
| 18.9 (EP300) | 18.10 (EP301) NEW UPDATE! |


Polling
99 Suara
Siapa Karakter Perempuan Favorit Reader dalam Cerita Ini? 
Diubah oleh m60e38
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tukangdjagal dan 21 lainnya memberi reputasi
20
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 112 dari 119
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
27-05-2018 08:39
Quote:Original Posted By ka13apri
saya gan masih mengikuti trit ini mulai dari awal


Alhamdulillah Agan masih diberi kekuatan untuk mengikuti dan membaca thread yang memusingkan ini dari awal, karena memang saya merasa bahwa thread ini sangatlah memusingkan, hahahahahaha.

Quote:Original Posted By urirureworewo
ak masih nyimak terus lho mas Tam..haha


Luar biasa, berarti sejak 2015 ya Mas Ulil mengikuti thread yang memusingkan ini. Apa kabarnya Mas? Sehat dan lancar selalu kan?

Quote:Original Posted By kkaze22


sama Gan ane juga masih nyimak emoticon-Blue Guy Peace. lama-lama view naik drastis ini he he.
Tapi
masih stuck di grand final part 240 tred pertama>_< ada yang punya pm dunk hikz.

lom baca sampai sini saya T_T.


Grand Finale itu sebenarnya tidak ada yang harus ditunggu, semua hal yang ada sana sama seperti part lainnya. Hanya saja saya menggunakan time skipping, sehingga Grand Finale jadi singkat. Adapun kalau saya mau menulis Grand Finale lagi, saya akan menggunakan satu bab sendiri khusus Grand Finale yang mungkin dipecah beberapa bagian, itu pun kalau saya ada waktu untuk melihat kembali jurnal saya di waktu itu.

Percayalah, tidak ada hal yang disembunyikan di Grand Finale, karena akhiran Grand Finale memang diteruskan ke thread ini.
0 0
0
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
27-05-2018 09:21
Quote:Original Posted By m60e38



thank you tam emoticon-Big Grin lanjut baca.
0 0
0
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
27-05-2018 13:38
Quote:Original Posted By m60e38

Luar biasa, berarti sejak 2015 ya Mas Ulil mengikuti thread yang memusingkan ini. Apa kabarnya Mas? Sehat dan lancar selalu kan?
.


Bener jg dr 2015 ternyata..ga kerasa mas..hahaa..
Alhamdulillah baik... Aamiin...
Sehat dan lancar trs juga buat kalian mas...
0 0
0
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
28-05-2018 10:06
Quote:Original Posted By m60e38
Biarkan saja Gan, tidak masalah, karena seperti yang saya katakan tidak semua orang memiliki kisah yang sama. Dan kembali lagi, kalau thread ini sepi malah bagus, tidak seramai thread yang lalu, karena mungkin tidak akan banyak orang yang suka dengan kisah seperti ini.


Saya jg masih selalu ngikuti thread nya Bang Tama
Malah berharap kalo bisa update tiap hari emoticon-Wink
Krn dari thread ini saya belajar tentang cinta dan ketulusan emoticon-Smilie
0 0
0
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
29-05-2018 03:00
Quote:Original Posted By urirureworewo
ak masih nyimak terus lho mas Tam..haha


lah sama mas... hehehe
0 0
0
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
29-05-2018 23:41
marathon baca akhirnya sampe sini juga...
emosi pas tau kelakuan Nadine..
0 0
0
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
30-05-2018 01:00
Nadine... memang seperti itu... bikin kesal dan penasaran..hahaa
0 0
0
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
30-05-2018 06:15
Quote:Original Posted By urirureworewo
Nadine... memang seperti itu... bikin kesal dan penasaran..hahaa


naaah iyaa gan, greget bener nih si Nadine maah.. hahahha..
0 0
0
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
05-06-2018 03:23
belum dilanjutkan kah?
Diubah oleh ka13apri
0 0
0
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
12-06-2018 13:30
Bang tama belum ada lanjutannya ya?
0 0
0
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
01-07-2018 11:24

Tentang Sebuah Nama: Talita | Bagian 2

TENTANG SEBUAH NAMA: TALITA (BAGIAN 2)


      April 2006.

      “Kamu masih ada rasa kah sama Aerish?” tanyanya pelan, seraya ia menghentikan langkahnya yang saat ini tampak begitu berat.

      Aku langsung memandang ke arah gadis itu, wajah merahnya tampak sangat penasaran menanti untaian lisanku untuk menjawab pertanyaan yang seharusnya ia tahu sendiri jawabannya. Kuhela napas, diakhiri dengan seutas senyuman yang mungkin terlihat cukup aneh seraya kuanggukkan kepalaku pelan.

      Seharusnya ia mengetahui apa maksud senyuman dan anggukan itu, dan aku tau ia paham dari senyuman yang membiaskan sesuatu di dalam pikirannya yang tidak mungkin kugapai saat ini. “Ternyata kamu setia juga ya Tam,” ia tertawa kecil seraya memandangku dengan matanya yang begitu jernih.

      “Emang gak mungkin apa ada hati laen yang ngisi di hati kamu gitu?” tanya Talita, ia lalu menggerakkan lagi kakinya, kali ini nampak ia yang memimpin langkah untuk menuju tempat di mana kami harus melakukan penelitian satu hari tersebut.

      “Entah,” jawabku, mengambang layaknya angin yang bertiup, “gue juga gak tahu kenapa hati gue begitu terpaku sama Aerish.”

      “Kamu lucu ya Tam,” ujar Talita, ia tertawa kecil, “tapi aku seneng sama prinsip kamu buat setia,” ujarnya lagi.

      “Gak ada alasan aku Lit buat gak setia sama perasaan aku sekarang,” ujarku lalu menghela napas, “seenggaknya aku bisa terus semangat karena mikirin Aerish.”

      “Buka hati kamu Tam,” ujar Talita, “setia itu enggak harus bertahan sama satu pilihan kan?”

      Ia tersenyum lalu menarik tanganku yang masih terpagut genggaman kedua jemari lembutnya, memimpin langkah agar cepat sampai di sebuah aula di mana kami akan mendengarkan presentasi dari perwakilan institusi yang mengelola tempat ini.

      Semua siswa kelas XI membaur menjadi satu, tidak ada batasan antara kelas XI IPA yang saat ini melakukan karya wisata ke tempat ini. Sementara, para murid kelas XI IPS melakukan karya wisata ke Yogyakarta, meskipun durasinya lebih singkat, yaitu dua hari satu malam.

      “Di sini aja Tam,” ujar Talita, ia lalu memilih salah satu kursi yang letaknya agak di belakang, di sebelah seorang Guru penjaga UKS, Teana namanya. Selain penjaga UKS, ia juga sering terlihat di dalam perpustakaan.

      Ia menyunggingkan senyuman ke arah kami, dan satu hal yang membuatku sedikit heran adalah, mengapa ia berada di sini? Padahal seharusnya ia berjaga di sana karena yang ikut saat ini hanyalah seluruh murid kelas XI. Sementara, murid kelas X dan XII masih berada di sekolah, mengikuti jadwal pelajaran seperti biasa.

      “Masa bodoh, itu bukan urusanku,” gumamku di dalam hati seraya menghela napas panjang. Talita, sedari tadi masih belum melepaskan pagutan tangannya, padahal ia tampak serius mendengarkan pengarahan yang cukup inspiratif dari orang yang saat ini berbicara di atas panggung setinggi lima-puluh-centimeter tersebut.

      “Tam,” panggil suara itu, dan saat aku menoleh ternyata ia adalah Nadine, “loe dari tadi nempel terus sama Talita, naksir ya?” tanya Nadine, nadanya meledekku, terkekeh seraya menepuk-nepuk pundakku agak kencang.

      “Kagak,” jawabku singkat, “gue cuma nemenin dia doang aja.”

      Talita memandang ke arah Nadine, ia tersenyum di bawah cahaya lampu temaram yang berpendar di sekitar ruangan yang mulai riuh karena obrolan masing-masing. “Tama mana mungkin naksir sama cewek selaen Aerish,” Talita tertawa kecil, dan saat itu langsung disambut oleh senyum penuh makna dari Nadine.

      “Ya loe tau Lit, Faristama Aldrich itu anak yang aneh,” Nadine lalu tertawa, meledek keteguhan hati yang kubangun hanya untuk Aerish, mengejek kesempurnaan cinta yang kugenggam sendiri untuk gadis yang saat ini mungkin sedang belajar di sekolahnya.

      “Cape deh,” ujarku lalu menghela napas.

      “Lah, loe masih megang tangannya Tama aja, kenapa emangnya Lit?” tanya Nadine, akhirnya ia penasaran dengan pagutan jemari di kedua tangan Talita di pergelanganku.

      “Aku takut ilang, makanya aku pegangan sama Tama,” ujar Talita, ia lalu tertawa kecil, sementara Nadine hanya tersenyum mendengar jawaban Talita.

      Sejurus, arah pandangnya berubah kepadaku. Ada sebuah perasaan yang tersirat dari pandangannya kepadaku barusan, entahlah apa, tetapi aku tidak ingin mengambil pusing tentang apa yang ia simpan di balik sorot matanya yang terlihat sedikit nanar itu.

      Tidak terasa, setelah penjelasan panjang dari pihak institusi dan juga serangkaian kegiatan yang dijadwalkan kepada kami, tibalah saatnya makan siang. Bukan sesuatu yang spesial, hanya nasi kotak yang dipadukan dengan ayam bakar, lalapan, sambal, serta kerupuk dan satu buah pisang. Sederhana tapi nikmat, itu yang selalu kuucap dalam hati seraya lidah ini terus mengecap butir demi butir nasi yang hendak kutelan.

      Setelah makan siang, kami melanjutkan kegiatan kami kembali, dan Talita kini sudah tidak berada di sebelahku lagi. Andini yang merupakan sahabatnya sejak mereka masih duduk di bangku SMP mengajaknya untuk melakukan kegiatan ini bersama-sama. Sementara, aku lebih memilih melanjutkan kegiatan ini bersama Nadine yang sejak tadi tampak begitu setia bersamaku.

      “Abis ini kemana Nad?” tanyaku di sela luang waktu kami ketika seluruh kegiatan yang dijadwalkan kuselesaikan lebih dahulu.

      “Kayaknya langsung ke Lembang deh Tam,” ujar Nadine pelan, “taun depan juga perpisahan katanya ke Lembang lagi.”

      “Lembang lagi, tiga taun berturut-turut cuma ke Lembang,” ujarku menghela napas seraya memandang ke arah Nadine yang saat ini masih tersenyum kepadaku.

      “Gak masalah Tam, yang penting gak di Jakarta,” ujar Nadine, ia lalu tertawa kecil.

      “Tam,” panggilnya lagi pelan, “loe ada hubungan apa sama Talita?”

      Kuhela napas seraya tersenyum ke arah gadis itu, ia tampak begitu penasaran mengapa tiba-tiba Talita begitu akrab denganku hari ini, dan mungkin itu terlihat begitu aneh untuknya. “Gak ada hubungan apa-apa Nad, gue sama Lita ya sama kayak ke loe sama Lita.”

      “Tapi kayaknya Lita nyaman banget di samping loe Tam.”

      “Ah, mana mungkin,” ujarku lalu tertawa, “Lingga jelas jauh lebih di atas gue Nad.”

      “Asal loe tau Tam,” ujar Nadine pelan, “gak semua hal bisa diukur sama sesuatu yang kasat mata,” intonasi Nadine sekejap berubah seraya dengan pernyataanya barusan.

      “Gue paham Nad,” ujarku lalu menghela napas, “tapi bukan berarti Lita deket sama gue, terus Lita jadi naksir sama gue.”

      “Nangkep juga loe Tam,” ujar Nadine pelan, “gue pikir loe gak paham maksud gue.”

      Aku tersenyum kepada gadis itu, “apa yang loe pikirin sih Nad?”

      Ia menggelengkan kepalanya pelan, “bukan apa-apa sih, cuma aneh aja ngeliat loe yang biasa begitu memuja Aerish, terus sekarang bisa deket sama cewek laen.”

      “Gue cinta sama Aerish, tapi gue gak memuja dia,” ujarku datar, “gue cuma mau tetep ada di perasaan ini ke Aerish, tanpa pernah berubah ke siapapun,” kupandang wajah Nadine yang hanya berjarak lima-belas-centimeter dari wajahku saat ini.

      “Gak akan berubah buat siapapun?” tanya Nadine, intonasinya berubah seketika, “setelah apa yang mungkin terjadi sama loe, terus loe tetep akan jaga perasaan itu ke Aerish?”

      “Mungkin ada ruang di hati gue, buat orang yang udah kasih segitu banyak perhatiannya ke gue, tapi apa orang itu mau berbagi sama Aerish?”

      Hening. Hanya suara embusan angin yang terdistorsi oleh deru mesin-mesin Otto yang mengharmoni bersama decitan karet bundar di atas aspal yang berada tidak jauh di depan kami. Lisan Nadine seolah terbungkam dengan kata-kata yang kulontarkan barusan. Ia hanya memandangku, dadanya naik turun seraya hela napasnya yang lembut cukup menggetarkan indraku saat ini.

      Ia hanya tersenyum getir setelah sekian lama memandangku, menggelengkan pelan kepalanya seraya pandangan nanar yang seolah menyiratkan kekecewaan dari dalam hatinya saat ini. Ia mengerti akan kata-kataku barusan, dan saat ini pun hanya membenamkan segala lisannya, tanpa mengatakan sepatah katapun.

      Tetapi, aku bisa lihat matanya yang berbicara, ada hal yang tampaknya begitu ia pahami, bagaikan merajuk kepada yang kasih, dan itu membuatnya sedikit menggelengkan kepalanya. “Gue paham maksud loe Tam, tapi seharusnya loe bisa kasih prioritas buat siapa yang udah perhatian sama loe.”

      Sekejap lalu, ia menepuk pelan pundakku dan beranjak dari tempatnya saat ini. Tidak ada ucapan apapun dari lisannya, hanya harum tubuhnya yang begitu khas berlalu seraya presensinya hilang dari jangkauan indraku. Tidak ada niatanku bahkan untuk menoleh ke arahnya saat derap langkahnya semakin hilang.

      “Biarlah,” gumamku di dalam hati, aku tidak ingin memikirkan hal seperti itu saat ini. Hanya udara Bandung yang saat ini benar-benar bisa menenangkan segenap perasaan yang saat ini menghujaniku dengan kenangan tentang Aerish setahun yang lalu.

      “Tama,” panggil suara itu, seraya aku memandang ke arah asal suara yang saat ini berada di perimeterku, “bengong aja sendirian di sini.”

      “Lita,” sahutku seraya memandang ke arahnya, “loe udah kelar makan juga?” tanyaku seraya membereskan kotak nasi yang saat ini ada di depanku.

      Gadis itu menganggukkan kepalanya pelan, “gak seberapa laper sih, tapi aku udah kelar dari tadi sih Tam.”

      “Abis ini kita ke mana ya Tam?” tanya Talita, ia lalu memandangku.

      “Seinget gue kata Nadine tadi kita langsung ke Lembang Lit,” jawabku seraya mengangkat kedua bahuku, sebuah sikap tidak konsisten yang sepertinya tidak semua orang suka.

      “Ke tempat yang waktu lagi ya?” tanya Talita, “tapi gak mungkin, kita kan masih ada jadwal besok sama lusa, jadi kayaknya mungkin tempat nginep ya?”

      “Gue juga gak tau Lit, tadi sih kata Nadine gitu,” ujarku lalu menegakkan tubuhku, “loe mau ikut gue gak?”

      “Ke mana Tam?” sahut Talita, tampak ribuan tanya langsung tersirat di sorot matanya, “kita kan masih ada acara lagi abis ini,” nadanya berbeda, antara takut dan penasaran.

      “Gak jauh-jauh, cuma jalan keluar tempat ini sebentar aja,” ujarku lalu memimpin langkah.

      Tanpa sepatah katapun, ia langsung menggenggam tanganku. Sungguh aku sedikit terkejut dengan apa yang ia lakukan, hanya senyum yang teruntai dari bibirnya yang begitu mungil, seraya memancarkan segenap keindahan yang tidak terbantahkan dari seorang Talita.

      “Kamu yakin Tam?” tanyanya, meskipun aku tahu tidak ada ragu yang tersirat dari kata-katanya barusan, langkahnya begitu ringan mengikuti kemana aku berjalan saat ini.

      “Jujur, gue bosen di sini. Lagian, tugas yang diminta sama Pak Galih udah gue kelarin semua kok.”

      “Ah kamu beneran Tam?” tanya Talita, aku hanya mengangguk lalu mengeluarkan kertas yang sudah kuisi penuh, bahkan sebelum tugas diberikan kepada kami.

      “Loe boleh liat punya gue Lit,” ujarku lalu tersenyum, “seenggaknya sampe jam setengah tiga kita bisa muter-muter daerah sini.

      Mereka menyebutnya Dago. Pohon di sini begitu rindang, dipadukan dengan embusan angin lembut nan sejuk yang menemani langkah kami saat menyusuri trotoar yang tidak begitu rapi ini. Entah mau kemana aku melangkah, tetapi aku terus mengagumi kota ini, seolah akan ada banyak hal yang terjadi antara aku dan Bandung.

      “Kita kayak orang pacaran aja ya Tam,” ujar Talita, ia tertawa kecil seraya memandang ke arahku.

      “Pacar sehari kali ya,” ujarku lalu tertawa, “gue gak bisa bayangin kalo sampe beneran gue macarin loe.”

      “Loh, emangnya kenapa? Salah yah?” tanyanya, nadanya sedikit keheranan.

      Aku menggelengkan kepalaku pelan, “gak ada yang salah Lit, cuma gue gak mau aja disangkain perebut pacar orang.”

      “Kan kamu sendiri yang ngomong tadi. Kalo kamu gak peduli sama omongan orang, terus kenapa kamu masih mikirin aja Tam?” tanya Talita, ia tampak serius dengan nada bicaranya.

      “Kadang, ada hal yang harus kita pertimbangin Lit, emang gak cuma dengerin kata-kata orang laen aja sih,” ujarku lalu menahan tangan Talita, “awal Lit, ada lobang, loe ke kanan.”

      Talita mengikuti arahanku, dan kubiarkan ia tetap berjalan di atas trotoar yang rata, sementara aku memilih berada di sisi luar seraya tetap menggenggam tangannya. Sesekali aku memandangnya, wajahnya begitu merah saat ia juga memandang ke arahku. Sungguh sebuah hal yang aneh, tetapi aku tidak merasakan ada getaran apapun dari genggaman ini.

      Apakah hatiku sudah terkunci untuk Aerish?

      Atau memang aku terlalu dingin untuk menggapai kehangatan Talita yang tampak begitu nyata kini?

      Entahlah, hanya saja ini semua terasa hambar. Genggaman hangat Talita di dinginnya udara Bandung seolah memberikan sebuah cahaya di hatiku yang hanya memandang ke arah Aerish.

      Entahlah, ini semua terasa biasa saja, tidak ada yang spesial. Berbeda dengan pandangan Nadine yang kehangatannya bisa kuterima dengan mudah tahun lalu saat kami baru turun dari Tangkuban Parahu ke lahan parkir.

      “Aneh ya Tam,” ujar Talita, memecah keheningan lisan yang merundung kami sejak tadi, “aku ngerasa nyaman ada di sebelah kamu, meskipun aku tahu, kamu mungkin gak nyaman di deket aku.”

      Aku menghela napas, lalu memandang ke arah Talita dengan senyuman yang mungkin terlihat begitu canggung saat ini, “gue nyaman di sebelah loe Lit, cuma gue gak enak aja sama loe.”

      “Pasti masalah Lingga,” ujar Talita, ia tertawa kecil, “kan aku udah ngomong berulang kali sama kamu Tam, aku udah putus lama sama Lingga, tapi ya anak-anak gak ada yang tau aja.”

      “Mungkin,” ujarku, mengambang seraya menghela napas dan menghentikan langkahku, “atau mungkin hati gue yang udah terlalu dingin saat ini.”

      “Aerish deh pasti,” ujar Talita lalu tertawa kecil, “kenapa kamu gak langsung nyatain aja sama dia Tam, dari pada cuma bikin kamu begini?”

      Talita tersenyum, ia mengeratkan genggaman tangannya, “karena aku tahu gak banyak cowok kayak kamu Tam, dan jujur itu yang ngebuat aku ngerasa beda pas ada di deket kamu.”

      Aku tidak dapat berkata apapun saat Talita mengatakan hal itu. Hanya ada helaan napas yang begitu terdengar sendiri di telingaku kini, meskipun kami berdua benar-benar sudah berada di tepian jalan raya, agak jauh dari institusi yang kami datangi pagi ini.

      Sungguh, seperti ada yang berbeda dari ucapan Talita. Segenap intonasi yang dibalut dengan senyuman yang seolah tidak lelah teruntai dari bibir mungilnya seolah menyiratkan perasaannya. Bodohnya, aku tidak mengetahui perasaan apa yang ia ingin sampaikan kepadaku, dan mungkin sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau menanyakan itu semua dari Talita.

      “Eh Tam, nanti kalo kita ditinggal gimana?” tanya Talita, nadanya cemas.

      “Tenang aja Lit, kan loe sama gue, kalo ditinggal ya kita balik naek kereta,” ujarku santai lalu menarik lagi tangan Talita, “udah loe ikut gue aja, masih banyak waktu kita buat muter-muter di sini.”

      “Kamu tahu gak Tam,” ujar Talita, nadanya terdengar samar, “sikap kamu yang begitu yang ngebuat aku nyaman sama kamu.”

      “Maksud loe?” tanyaku keheranan.

      Ia membalasku dengan senyuman, menggelengkan kepalanya seraya menundukkan kepalanya, seolah ia tidak ingin aku mengetahui apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Sungguh, aku tidak mengerti dengan apa yang ia maksud dengan itu, tetapi ada segelintir rasa yang memicu sedikit getaran di dalam hatiku kini.

      “Aku gak harus jawab kan Tam, kamu pasti udah paham,” ujar Talita, ia lalu menyandarkan tubuh mungilnya di tubuhku.

      “Ga kerasa dinginnya Bandung kalo di samping kamu Tam.”

      Kuhela napas panjang seraya memandang ke arah Talita, sungguh aku tidak tahu harus bagaimana dan mengatakan apa. Ini adalah hal teraneh dan tercanggung yang pernah kurasakan seumur hidupku, seorang gadis yang juga teman sekelasku sendiri melakukan ini.

      Shinta pun pernah menyandarkan tubuhnya di tubuhku, tetapi aku sudah mengenal Shinta sejak aku masih duduk di bangku sekolah dasar.

      “Lit,” panggilku pelan.

      “Iya Tam,” jawabnya dengan nada yang tidak pernah kudengar sebelumnya terlontar dari lisan Talita.

      “Aku mau tanya satu hal sama kamu,” ujarku, menghela napas pendek lalu memandang ke arah Talita.

      Hening. Hanya terdengar suara mesin yang menderu, silih berganti, terharmonisasi dengan suara angin yang terembus lembut namun cukup untuk menusuk kulit dengan tajamnya hawa dingin khas pegunungan yang terasa semakin kental seraya mega terus menundukkan pendaran Sol yang berada jauh di atas kami.

      Lisanku justru terkunci, bodohnya aku malah ingin bertanya ihwal yang tidak jelas. Seharusnya aku tidak melontarkan frasa itu, tetapi mengapa itu berlalu begitu saja?

      “Hmm?” Talita bergumam di atas senyumannya yang begitu manis, matanya yang begitu jernih seolah menguliti isi kepalaku dengan segenap rasa ingin tahunya.

      “Aku mau tanya, menurut kamu aku itu gimana?” tanyaku pelan, entah mengapa rasanya canggung aku mengucapkan kata-kata itu.

      Talita lalu menghela napas, menegakkan tubuhnya lalu bergerak dua-tiga-langkah ke belakang, “menurut aku, kamu itu,” ujarnya ragu.

<<< SEBELUMNYA (EP292)


Diubah oleh m60e38
0 0
0
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
04-07-2018 09:40
numpang jejak di cerita ini ya kakak2 disini
Ak udah maraton dari cerita sebelum nya dan akhir nya selesai sampe part terakhir ini cerita nya bagus banget lah pkok nya semoga bisa selalu update sampe tamat
0 0
0
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
04-07-2018 22:48
nice story ..marathon trus smpe 2 mingguan akhir nya nyampe jg ke part ini ..
semoga kalian ( mama panda + kk panda + pap + anak2 nya ) selalu bahagia ya dan hidup rukun 2 selalu ..
0 0
0
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
04-07-2018 22:50
masih ada lanjutan nya kan ?? mudah2an lancar update terus smpai kelar ga bikin kentang 😁😁😁
0 0
0
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
09-07-2018 01:44
lanjutt terus, marathon 4hari baru kelar, tinggal baca side storynyaemoticon-Jempol
0 0
0
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
09-07-2018 01:54
Ijin bikin tenda
0 0
0
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
24-07-2018 17:40
Gan tama belum update
0 0
0
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
27-07-2018 13:30
wuihhh tumben nih mas tam lama ga update
0 0
0
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
27-07-2018 18:17
mampir ah.. siapa tau lgsg update
0 0
0
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
11-08-2018 11:33
Gan tama belum update
0 0
0
Halaman 112 dari 119
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
tanda-cinra-dari-muntaha
Stories from the Heart
misteri-goa-bawah-tanah
Stories from the Heart
ibuku-pelacur-bertarif-15k
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Stories from the Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia