- Beranda
- Stories from the Heart
SFTH - Change With You
...
TS
jkdragon
SFTH - Change With You
Oke GanSis semuanya, berhubungan dengan ramainya thread thread keren di forum SFTH yg menjamur. Ane juga kepengin berbagi cerita fiksi yang pernah ane buat dulu nih, kalo banyak yang suka, ane bkal lanjutin ya ...

Buat sekarang, no mulustrasi atau edit ya Gan. Jadi ane salin lngsng dri file buatan ane dulu.

No Basa Basi, langsung aja check it out for the 1st Part.
Oh ya, genre nya? Slice of Life deh ..


Buat sekarang, no mulustrasi atau edit ya Gan. Jadi ane salin lngsng dri file buatan ane dulu.

No Basa Basi, langsung aja check it out for the 1st Part.
Oh ya, genre nya? Slice of Life deh ..

PANDANGAN
Quote:
Baiklah, aku akan mulai saja dengan memberitahu kalian cara pandangku.
Aku mulai secara umum, dengan pernyataan bahwa, aku percaya dunia ini semakin membusuk. Ketika kemajuan yang memudahkan manusia seharusnya dapat digunakan untuk kebaikan manusia, masih banyak saja segelintir orang-orang menjijikan yang menggunakannya untuk keperluan sendiri, bahkan merugikan orang lain.
Dan hal ini tak terjatuh hanya pada satu aspek teknologi saja, tapi telah menjalar ke seluruh elemen kehidupan. Aku tipe pria yang memandang sesuatu dari sisi yang berbeda, karena selalu melihat hal buruk terlebih dahulu. Alasannya sederhana, karena hal buruk biasanya datang terlebih dahulu.
Kebanyakan dari mereka berpikir aku tak bersahabat, terlalu sombong dan individualis. Tapi nyatanya, menghabiskan waktu bersama orang-orang bodoh dan melakukan kebodohan pula, hal itu sangat menganggu. Sama seperti bersama orang-orang yang tak kita sukai, bahkan jika kita telah mengenalnya. Kebanyakan orang akan menjadi pembohong dan berpura-pura menikmati waktu-waktu itu, sedangkan sebagian lainnya lebih jujur dalam sikap atas ketidaksukaan mereka, dan akan pergi menjauh.
Aku tidak berada di kedua bagian itu. Aku akan menunjukkan sikap benci dan menjauh, tapi dengan sedikit kenangan buruk bagi mereka. Agar tak ada kejadian serupa yang terulang.
Seperti saat itu.
Ketika itu diselenggarakan sebuah pesta, dalam rangka kelulusan sarjana bersama beberapa teman, di rumah seorang dosen. Aku seperti biasanya, mengenakan jas hitam pergi bersama Rain yang merupakan satu-satunya teman dekat bahkan sampai sekarang. Kami mendiskusikan dan membicarakan banyak hal, kukira juga sedikit bersenang-senang.
Alasan kenapa aku juga ikut berpatisipasi dalam acara itu, karena kebanyakan orang di sana cukup kukenal baik, kebanyakan dari mereka memiliki gaya yang mirip denganku. Contohnya pada hal-hal yang tak sebaiknya terjadi atau yang sebaiknya terjadi di pesta.
Selera yang sama, kau bisa menyebutnya begitu. Seperti yang kuharapkan, jas hitam atau kemeja batik, wanita dengan pakaian berbagai nama, memutar alunan piano pelan dan beberapa musik instrumen lainnya, minuman manis yang sehat atau kue-kue rendah gula. Aku tipe pria yang tak suka ‘Sesuatu’ berada diluar jalur, dan apa yang dipersiapkan untuk pesta ini sudah sangat baik.
Mereka berada di jalur, sampai seseorang di pesta ini, yang kebetulan tak kukenal juga mulai berlakon mabuk, serta berkata dengan lakonnya itu "Hei kalian semua! Ayo kita putar musik yang lebih menarik!"
Itu berarti ia berada di luar jalur.
Itu adalah candaan, dan beberapa orang menerima candaannya. Beberapa dari mereka bahkan tertawa, tapi aku tak dapat menerimanya. Tetap kubiarkan dirinya mempermalukan diri dan menjadi objek tertawaan karena tingkahnya, tapi heran juga bagaimana hal udik seperti itu bisa memancing orang lain untuk tertawa.
Tapi tak bisa kubiarkan lagi ketika ia mendekatiku, seolah mengenalku dan berbicara padaku "Hei kau di sana!? Bisa beri aku lebih banyak arak!" Dan mulai meminum gelas kecil yang sebenarnya berisi sirup merah di tangan kirinya.
Aku berujar "Ini bukan arak, lidah rusak. Baik yang kau minum dan yang aku pegang hanya sirup biasa.
Tapi ia terus berusaha seolah ingin mengajakku ikut ‘permainannya’. Tapi jika itu berarti mempermalukan diri, bolehkah kusiram saja wajah pria ini sebagai jawaban?
"Aku mulai tak tahan dengan tingkahmu, berhentilah udik, atau kutumpahkan ini ke wajahmu." Dan dengan kata-kata kasar itu, masihlah aku berada di fase kesabaran. Rain juga, sedang permisi ke toilet, jadi tak ada yang akan menjauhkannya dariku.
"Baik-baik," Tapi ia tetap dengan lakon mabuknya, pria itu berputar dan berteriak "Ayo dansa!" Dan berputar ke arahku lagi, itu adalah sikap yang bodoh, apalagi saat ia berkata "Mau ikut dan—"
Dan langsung kusemburkan air sirup itu ke wajahnya.
"HEI ROVER! APA YANG KAU LAKUKAN?!" Teriak Rain berlari terburu-buru, kurasa setelah ke toilet ia mencoba beberapa kue, ia langsung mendekati kami seketika melihat kejadian ini.
Yang lain juga terkejut sampai terdiam membisu, tak kalah terkejutnya raut wajah mereka dengan pria yang tersembur air di hadapanku ini.
"Aku hanya menghentikan kebodohannya yang mempermalukan diri sendiri," Kataku acuh, melihat pria itu mencoba mengelap wajah dan matanya yang kelilipan.
"Apa kau bercanda?!" Teriak Rain, ia mencoba membantu pria itu, "Maaf teman, kurasa rekanku sedang dalam masalah. Jadi—"
"Tak apa.” Tukasnya, “Kurasa itu juga salahku," Selesai dengan jas basahnya, ia berbalik dan melambaikan tangan. Sebelum pergi dari kerumunan, ia sempat berkata "Tak apa! Ini hanya sedikit kesalahpahaman, ia menjatuhkan air di wajahku. Tapi tentu kalian bisa lanjutkan pestanya!" Ia pun buru buru keluar dari area halaman rumah milik seorang dosen ini.
Sedangkan aku, yang terpaku hanya bisa memikirkan alasan klisenya , ‘tak sengaja menjatuhkan’. Aku yakin tak akan ada yang percaya. Alasan itu malah membuatku terdengar semakin jahat.
"Ada apa ini?!" Tanya dosen si pemilik rumah sekaligus penyelenggara, setelah baru saja ada kehebohan di pestanya. Ia mengenakan batik cokelat dan kaca mata.
"Hanya sedikit.. Kesalahpahaman.." Kata Rain, menghisap nafasnya.
"Dan sedikit kesalahan dalam berperilaku." Potongku.
Setelah berkata “Permisi,” pada sang dosen, kulangkahkan dengan cepat kedua kaki ini, ikut menembus keramaian dan keluar dari area pesta, meninggalkan mereka dengan hanya Rain yang mengikuti.
"Apa yang baru saja kau lakukan?!" Rain berjalan cepat di sebelahku, berkata lagi
"Membuat pesta jadi buruk seperti ini? Kurasa ia hanya bosan dengan pesta monoton dan berusaha menghibur! Takkah kau mengerti!?”
”Tentu saja aku mengerti...” Kataku, lagi-lagi acuh dan dingin.
“Bahkan jika kau punya masalah pribadi, tak seharusnya kau lakukan hal itu..."
Aku berhenti sejenak ketika mendengarnya. Nafasku kutahan, seperti ada teriakan di kepalaku, sebelum berujar cepat "Biar kukatakan padamu anak sopan, aku tak punya masalah apapun, hanya saja orang itu mengangguku dan membuat pesta yang seharusnya tenang menjadi berantakan karena tingkah bodohnya. Mengapa aku harus peduli dengan apa yang kulakukan?!"
"Termasuk menyiramnya dan mempermalukannya?"
"Ia telah mempermalukan diri sendiri. Apa bedanya?"
Kemudian terjadi hening dua detik, aku berjalan menjauh dan Rain tetap di belakangku, ia seakan tak bisa memikirkan kata apa-apa lagi, jadi hanya bisa berseru, "Kau tahu!? Semua hal tak bisa berjalan sesuai garismu Rover!"
Dan aku yang sudah berada di depan pintu mobil, menariknya kembali dan berdiri di hadapannya, pria ini terlihat sedikit kaget. Aku tak kalah kaget, apa yang membuatnya berteriak begitu, biasanya ia tak seperti ini.
Aku pun berkata "Kau ingin tahu sesuatu Rain? Aku tak butuh pesta seperti ini, aku tak butuh mereka yang mencoba menghibur namun nyatanya menganggu, aku tak butuh nasihat pria bertopeng sepertimu. Enyahlah..."
Aku membuka pintu mobil, meninggalkannya di sana. Seharusnya kami pulang bersama, tapi karena pertengkaran itu, aku tak sudi berada satu mobil dengannya. Jadi aku pulang sendiri. Sedari dulu pria itulah yang membutuhkanku, bahkan nyatanya memang tak ada yang dibutuhkan seorang Rover.
Aku tak pernah membutuhkan siapapun, jadi aku tak peduli pada siapapun. Kecuali pada satu orang, dan dia hanya seorang adik. Dan untuk 'Teman' seperti Rain? Selalu ada pengganti untuk seseorang yang diberi gelar semacam itu. Selalu ada. Aku tak membanggakan diri, aku hanya mengatakan apa yang kurasa.
Begitulah pandanganku, yang dianggap sangat buruk oleh orang-orang.
Aku mulai secara umum, dengan pernyataan bahwa, aku percaya dunia ini semakin membusuk. Ketika kemajuan yang memudahkan manusia seharusnya dapat digunakan untuk kebaikan manusia, masih banyak saja segelintir orang-orang menjijikan yang menggunakannya untuk keperluan sendiri, bahkan merugikan orang lain.
Dan hal ini tak terjatuh hanya pada satu aspek teknologi saja, tapi telah menjalar ke seluruh elemen kehidupan. Aku tipe pria yang memandang sesuatu dari sisi yang berbeda, karena selalu melihat hal buruk terlebih dahulu. Alasannya sederhana, karena hal buruk biasanya datang terlebih dahulu.
Kebanyakan dari mereka berpikir aku tak bersahabat, terlalu sombong dan individualis. Tapi nyatanya, menghabiskan waktu bersama orang-orang bodoh dan melakukan kebodohan pula, hal itu sangat menganggu. Sama seperti bersama orang-orang yang tak kita sukai, bahkan jika kita telah mengenalnya. Kebanyakan orang akan menjadi pembohong dan berpura-pura menikmati waktu-waktu itu, sedangkan sebagian lainnya lebih jujur dalam sikap atas ketidaksukaan mereka, dan akan pergi menjauh.
Aku tidak berada di kedua bagian itu. Aku akan menunjukkan sikap benci dan menjauh, tapi dengan sedikit kenangan buruk bagi mereka. Agar tak ada kejadian serupa yang terulang.
Seperti saat itu.
Ketika itu diselenggarakan sebuah pesta, dalam rangka kelulusan sarjana bersama beberapa teman, di rumah seorang dosen. Aku seperti biasanya, mengenakan jas hitam pergi bersama Rain yang merupakan satu-satunya teman dekat bahkan sampai sekarang. Kami mendiskusikan dan membicarakan banyak hal, kukira juga sedikit bersenang-senang.
Alasan kenapa aku juga ikut berpatisipasi dalam acara itu, karena kebanyakan orang di sana cukup kukenal baik, kebanyakan dari mereka memiliki gaya yang mirip denganku. Contohnya pada hal-hal yang tak sebaiknya terjadi atau yang sebaiknya terjadi di pesta.
Selera yang sama, kau bisa menyebutnya begitu. Seperti yang kuharapkan, jas hitam atau kemeja batik, wanita dengan pakaian berbagai nama, memutar alunan piano pelan dan beberapa musik instrumen lainnya, minuman manis yang sehat atau kue-kue rendah gula. Aku tipe pria yang tak suka ‘Sesuatu’ berada diluar jalur, dan apa yang dipersiapkan untuk pesta ini sudah sangat baik.
Mereka berada di jalur, sampai seseorang di pesta ini, yang kebetulan tak kukenal juga mulai berlakon mabuk, serta berkata dengan lakonnya itu "Hei kalian semua! Ayo kita putar musik yang lebih menarik!"
Itu berarti ia berada di luar jalur.
Itu adalah candaan, dan beberapa orang menerima candaannya. Beberapa dari mereka bahkan tertawa, tapi aku tak dapat menerimanya. Tetap kubiarkan dirinya mempermalukan diri dan menjadi objek tertawaan karena tingkahnya, tapi heran juga bagaimana hal udik seperti itu bisa memancing orang lain untuk tertawa.
Tapi tak bisa kubiarkan lagi ketika ia mendekatiku, seolah mengenalku dan berbicara padaku "Hei kau di sana!? Bisa beri aku lebih banyak arak!" Dan mulai meminum gelas kecil yang sebenarnya berisi sirup merah di tangan kirinya.
Aku berujar "Ini bukan arak, lidah rusak. Baik yang kau minum dan yang aku pegang hanya sirup biasa.
Tapi ia terus berusaha seolah ingin mengajakku ikut ‘permainannya’. Tapi jika itu berarti mempermalukan diri, bolehkah kusiram saja wajah pria ini sebagai jawaban?
"Aku mulai tak tahan dengan tingkahmu, berhentilah udik, atau kutumpahkan ini ke wajahmu." Dan dengan kata-kata kasar itu, masihlah aku berada di fase kesabaran. Rain juga, sedang permisi ke toilet, jadi tak ada yang akan menjauhkannya dariku.
"Baik-baik," Tapi ia tetap dengan lakon mabuknya, pria itu berputar dan berteriak "Ayo dansa!" Dan berputar ke arahku lagi, itu adalah sikap yang bodoh, apalagi saat ia berkata "Mau ikut dan—"
Dan langsung kusemburkan air sirup itu ke wajahnya.
"HEI ROVER! APA YANG KAU LAKUKAN?!" Teriak Rain berlari terburu-buru, kurasa setelah ke toilet ia mencoba beberapa kue, ia langsung mendekati kami seketika melihat kejadian ini.
Yang lain juga terkejut sampai terdiam membisu, tak kalah terkejutnya raut wajah mereka dengan pria yang tersembur air di hadapanku ini.
"Aku hanya menghentikan kebodohannya yang mempermalukan diri sendiri," Kataku acuh, melihat pria itu mencoba mengelap wajah dan matanya yang kelilipan.
"Apa kau bercanda?!" Teriak Rain, ia mencoba membantu pria itu, "Maaf teman, kurasa rekanku sedang dalam masalah. Jadi—"
"Tak apa.” Tukasnya, “Kurasa itu juga salahku," Selesai dengan jas basahnya, ia berbalik dan melambaikan tangan. Sebelum pergi dari kerumunan, ia sempat berkata "Tak apa! Ini hanya sedikit kesalahpahaman, ia menjatuhkan air di wajahku. Tapi tentu kalian bisa lanjutkan pestanya!" Ia pun buru buru keluar dari area halaman rumah milik seorang dosen ini.
Sedangkan aku, yang terpaku hanya bisa memikirkan alasan klisenya , ‘tak sengaja menjatuhkan’. Aku yakin tak akan ada yang percaya. Alasan itu malah membuatku terdengar semakin jahat.
"Ada apa ini?!" Tanya dosen si pemilik rumah sekaligus penyelenggara, setelah baru saja ada kehebohan di pestanya. Ia mengenakan batik cokelat dan kaca mata.
"Hanya sedikit.. Kesalahpahaman.." Kata Rain, menghisap nafasnya.
"Dan sedikit kesalahan dalam berperilaku." Potongku.
Setelah berkata “Permisi,” pada sang dosen, kulangkahkan dengan cepat kedua kaki ini, ikut menembus keramaian dan keluar dari area pesta, meninggalkan mereka dengan hanya Rain yang mengikuti.
"Apa yang baru saja kau lakukan?!" Rain berjalan cepat di sebelahku, berkata lagi
"Membuat pesta jadi buruk seperti ini? Kurasa ia hanya bosan dengan pesta monoton dan berusaha menghibur! Takkah kau mengerti!?”
”Tentu saja aku mengerti...” Kataku, lagi-lagi acuh dan dingin.
“Bahkan jika kau punya masalah pribadi, tak seharusnya kau lakukan hal itu..."
Aku berhenti sejenak ketika mendengarnya. Nafasku kutahan, seperti ada teriakan di kepalaku, sebelum berujar cepat "Biar kukatakan padamu anak sopan, aku tak punya masalah apapun, hanya saja orang itu mengangguku dan membuat pesta yang seharusnya tenang menjadi berantakan karena tingkah bodohnya. Mengapa aku harus peduli dengan apa yang kulakukan?!"
"Termasuk menyiramnya dan mempermalukannya?"
"Ia telah mempermalukan diri sendiri. Apa bedanya?"
Kemudian terjadi hening dua detik, aku berjalan menjauh dan Rain tetap di belakangku, ia seakan tak bisa memikirkan kata apa-apa lagi, jadi hanya bisa berseru, "Kau tahu!? Semua hal tak bisa berjalan sesuai garismu Rover!"
Dan aku yang sudah berada di depan pintu mobil, menariknya kembali dan berdiri di hadapannya, pria ini terlihat sedikit kaget. Aku tak kalah kaget, apa yang membuatnya berteriak begitu, biasanya ia tak seperti ini.
Aku pun berkata "Kau ingin tahu sesuatu Rain? Aku tak butuh pesta seperti ini, aku tak butuh mereka yang mencoba menghibur namun nyatanya menganggu, aku tak butuh nasihat pria bertopeng sepertimu. Enyahlah..."
Aku membuka pintu mobil, meninggalkannya di sana. Seharusnya kami pulang bersama, tapi karena pertengkaran itu, aku tak sudi berada satu mobil dengannya. Jadi aku pulang sendiri. Sedari dulu pria itulah yang membutuhkanku, bahkan nyatanya memang tak ada yang dibutuhkan seorang Rover.
Aku tak pernah membutuhkan siapapun, jadi aku tak peduli pada siapapun. Kecuali pada satu orang, dan dia hanya seorang adik. Dan untuk 'Teman' seperti Rain? Selalu ada pengganti untuk seseorang yang diberi gelar semacam itu. Selalu ada. Aku tak membanggakan diri, aku hanya mengatakan apa yang kurasa.
Begitulah pandanganku, yang dianggap sangat buruk oleh orang-orang.
anasabila memberi reputasi
1
1.6K
Kutip
8
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.7KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya