News
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Segera Daftarkan Komunitas Kalian Disini
286
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a80349460e24b9d2a8b4567/haji-identitas-warisan-pemerintah-kolonial
Masyarakat Indonesia adalah mayoritas pemeluk agama Islam maka tidak mengherankan jika banyak diantara kita yang memiliki gelar Haji dan sudah menunaikan Ibadah Haji. Di dalam Islam, menunaikan haji adalah sebuah kewajiban yang tertuang di dalam rukun Islam. Jika sudah berhaji maka bisa dikatakan ibadahnya sempurna.
Lapor Hansip
11-02-2018 19:18

Haji, Identitas warisan Pemerintah Kolonial

Past Hot Thread
Assalamualaikum WR WB



Haji, Identitas warisan Pemerintah Kolonial

Masyarakat Indonesia adalah mayoritas pemeluk agama Islam maka tidak mengherankan jika banyak diantara kita yang memiliki gelar Haji dan sudah menunaikan Ibadah Haji. Di dalam Islam, menunaikan haji adalah sebuah kewajiban yang tertuang di dalam rukun Islam. Jika sudah berhaji maka bisa dikatakan ibadahnya sempurna. Fenomena ibadah ini akan diikuti dengan penambahan gelar H. untuk Pria dan Hj (Hajjah) untuk wanita. Sebuah fenomena unik karena di hal ini hanya berlaku di Indonesia. Secara otomatis mereka yang sudah pulang dari Tanah Suci akan menyandang gelar tersebut.

Hal ini ternyata dapat ditelusuri jejak sejarahnya di Indonesia. Tercatat jauh sebelum kedatangan Belanda, sudah banyak orang Indonesia yang pergi berhaji. Ludovico di Barthema, penjelajah dari Roma pertama yang mengunjungi Makkah pada tahun 1503, melihat jamaah haji dari kepulauan Nusantara yang dia sebut "India Timur Kecil". Di perkirakan mereka berasal dari Kesultanan Samudra Pasai, hal ini di buktikan dengan catatan berbahasa Portugis yang menyebutkan telah ada lima kapal besar Aceh yang berlabuh di Jeddah. selain untuk berhaji, mereka disana juga melakukan proses perdagangan dan juga mencari Ilmu agama. kebanyakan dari mereka adalah utusan Sultan. Sejak kedatangan Bangsa Belanda, animo masyarakat untuk pergi berhaji juga sangat besar. oleh karena itu, pemerintah Kolonial berinisiatif mendirikan badan khusus untuk urusan haji. Pada masa itu, berhaji merupakan sebuah perjuangan yang berat karena lamanya waktu tempuh, minimal mereka melakukan pelayaran selama 3 Bulan dengan melakukan transit beberapa kali. Selain itu biaya yang dikeluarkan juga tidak sedikit, Pada 1825 pemerintah Hindia Belanda menerbitkan ordonansi baru berupa keharusan bagi calon haji untuk memiliki pas jalan. 110 gulden adalah hal yang harus disiapkan, yang ketika itu nilainya sepadan dengan harga rumah yang cukup besar. Namun animo masyarakat justru semakin meningkat, buktinya pada 1878 (dengan kapal layar) jamaah haji Indonesia sekitar 5.331 oarng. Setahun kemudian (1880), menjadi 9.542 jamaah atau naik hampir dua kali lipat.


Haji, Identitas warisan Pemerintah Kolonial


Di atas kapal, para calon jamaah haji ini banyak melakukan kegiatan antara lain melakukan pengajian dan juga diskusi tentang agama. diatas Kapal ini pikiran mereka terbuka dengan dialog-dialog yang di diskusikan. selain belajar agama, mereka juga banyak belajar tentang konsep kebebasan dan persamaan hak. Setibanya di Jeddah, pelabuhan Arab Saudi saat itu mereka yang berhaji selain melakukan ibadah wajib namun juga banyak belajar ilmu, bukan hanya ilmu tentang agama namun juga ilmu politik, hukum. mereka banyak belajar melalui masjid-masjid di Mekkah. pikiran mereka terbuka dan membawa gagasan Nasionalisme Islam. Sekembalinya mereka ke Tanah air mereka banyak menelurkan ilmunya kepada masyarakat sekitar dengan melakukan dakwah dan juga banyak dari mereka yang mendirikan layanan Pendidikan berupa Pondok Pesantren. Pikiran Kritis para haji membuka pikiran sempit masyarakat Hindia saat itu terutama di Jawa dan Sumatra. Mereka yang pergi berhaji dianggap melakukan pemurnian agama Islam.

Haji, Identitas warisan Pemerintah Kolonial

Pemerintah Kolonial mulai menaruh curiga terhadap para haji yang kebanyakan memiliki pengikut dalam jumlah besar, mereka khawatir akan terjadi sebuah usaha pemberontakan. mereka menganggap para haji sebagai orang-orang fanatik dan pemberontakan. apalagi jumlah orang Hindia (Indonesia) di Mekkah sangat besar. Kekhawatiran tersebut terbukti dengan banyak terjadi pergolakan yang di pelopori oleh Para Haji, peristiwa Cianjur (1883), Cilegon (1888), dan Garut (1919) adalah sebagian kecil saja yang tercatat. hal tersebut berlanjut di Tambun (Bekasi) dan Tangerang pada 1924. Para Haji menganggap bahwa orang Belanda sebagai Iblis yang menyengsarakan orang mukmin. Tokoh-tokoh itu berpidato di hadapan massa sambil menyerukan perlawanan terhadap Belanda dengan ucapan Allahu Akbar.

Haji, Identitas warisan Pemerintah Kolonial

Untuk menanggulangi masalah ini, Pemerintah Kolonial berupaya melakukan moratorium keberangkatan haji, di beberapa daerah arogansi penjajah bahkan ditunjukkan dengan adanya pelarangan haji secara terang-terangan. Namun, Pemerintah Kolonial mencabutnya karena besarnya pendapatan yang diperoleh Pemerintah Kolonial dari jasa pemberangkatan haji ini. Oleh karena itu kemudian pemerintah Kolonial melakukan pemberlakuan administratif berupa penambahan gelar di depan nama, yaitu H. (haji) dan Hj. (hajjah). Selain itu para Haji juga diharuskan menggunakan identitas baru dengan peci putih serta sorban setiap kali pergi untuk beraktifitas maupun kegiatan dakwah. Selain itu Pemerintah Kolonial melalui Kerajaan Belanda juga membuka Konsulat jendral di Jeddah dan berubah menjadi Kedutaan Besar dalam upaya untuk melakukan pengawasan. Dengan identitas baru mereka, para haji akan mudah dalam dilakukan pengawasan dengan ciri-ciri khusus serta nama mereka.

Haji, Identitas warisan Pemerintah Kolonial

istilah Haji dan Hajjah ini memang unik dan hanya ada di Indonesia dan menariknya masih terus berlanjut sampai sekarang. menurut sebagian ulama mengatakan bahwasannya menggunakan gelar Haji dan Hajjah adalah riya, namun di masyarakat sudah menjadi kebiasaan yang lazim dengan menambahkan Haji dan Hajjah di depan nama mereka. JAS MERAH

NO SARA
Menerima Kritik dan saran emoticon-thumbsup
Mohon rate bila berkenan emoticon-Blue Guy Peace
Cendol dan Bata masih di harapkan emoticon-Toast

SUMBER 1
SUMBER 2
Historiografi haji Indonesia karya M. Saleh Putuhena
Diubah oleh gurusejarah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sposolo dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 10 dari 15
Haji, Identitas warisan Pemerintah Kolonial
03-03-2018 13:17
Quote:Original Posted By xbros99


kalo udah pernah ya mending buat bantu, tapi kalo ada yg ngomong buat apa haji cuma ngayaain arab kya kata sujiwo tejo , saya ga setuju....

poin dari agan 3770372 kan emang begitu, terus sama anda apa yang dipermasalahkan?
kalau udah pernah haji, terus punya uang lebih ya mending buat bantu sesama disini kan ya bener juga kalau sampe berkali-kali haji hanya untuk satu orang sama aja memperkaya saudi. makanya beri orang lain kesempatan untuk haji, kasian yg udah nunggu bertahun tahun, yang udah pernah haji kalau ada uang lebih bantu disini, hajiin orang laen jangan serakah untuk sendiri. poin utamanya gitu kan.
0 0
0
Haji, Identitas warisan Pemerintah Kolonial
03-03-2018 13:23
yap emang pemerintah belanda sendiri menganggap orang - orang yang telah berangkat haji akan menyebarkan paham ke pada masyarakat yang kemudian akan mengancam pemerintahan Belanda. sebenernya pemerintah kolonial sendiri emang udah gak suka sama orang - orang islam disini karena dianggap radikal.

ada kantor yang dikhususkan dalam pemberian gelar haji tersebut dan juga mengawasi keberangkatan haji namanya "Het Kantoor van Indlandsche zeken" yang dimana Snouck Hurgronje orang belanda yang ahli tentang agama Islam kerja disana.
0 0
0
Haji, Identitas warisan Pemerintah Kolonial
03-03-2018 13:28
Quote:Original Posted By gurusejarah


forsex apaan sih? gapaham ane ganemoticon-Blue Repost


for sex emoticon-Kiss
0 0
0
Haji, Identitas warisan Pemerintah Kolonial
03-03-2018 13:32
sudah menjadi budaya dan dibeberapa daerah sudah menjadi sebuah status dalam masyarakat

didaerah saya malah kalo sudah haji dan tidak dipanggil “haji” ada yg tersinggung
1 0
1
Haji, Identitas warisan Pemerintah Kolonial
03-03-2018 13:36
Kalo orang2 naek haji jaman dulu gak sekedar naek haji gan emoticon-Big Grin tapi ya berdagang belajar agama belajar ilmu2 laen yg bisa membuka wawasannya emoticon-Big Grin ilmu itu yg jadi oleh2 mereka sewaktu pulang ke tanah air emoticon-Big Grin kalo jaman skg mah kebanyakan orang naek haji oleh2nya lebih mengarah ke kurma terus barang2 laen yg bisa menaikan prestise soalnya beli di arab emoticon-Ngakak (S) ya gak salah sih emoticon-Big Grin lagian jga mereka pada naek haji demi ngejar gelar hajinya yg sama dengan naek status sosialnya di masyarakat emoticon-Ngakak (S) di kasi undangan terus lupa ngasih gelar haji di namanya langsung mencak2 emoticon-Ngakak (S) tapi kelakuan sebelum dan setelah naek haji gak ada berubahnya blas emoticon-Ngakak (S)

Di page2 depan kok pada ribut belanda melakukan kristenisasi portugis katolikisasi emoticon-Ngakak (S) emoticon-Ngakak (S) wong pada akhirnya tuh dua agama ya nyebar jga di tanah air emoticon-Ngakak (S) wong pada akhirnya pejuang2 yg agamanya katolik kristen islam ya sama2 bersatu memerangi penjajah emoticon-Ngakak (S) emoticon-Ngakak (S)
0 0
0
Haji, Identitas warisan Pemerintah Kolonial
03-03-2018 13:46
Selalu saja ada orang merasa pintar yang merasa benar, merasa maha tau akan segala hal. Ane bisa dengan mudah gugling informasi tentang mesin motor, tapi itu sama sekali ga buat ane jadi ahli mesin motor.

Entahlah, makin banyak singa2 sosial media yang garang di maya tapi ga lebih dari online game addict di nyata.
0 0
0
Haji, Identitas warisan Pemerintah Kolonial
03-03-2018 13:49
Sudah kuduga pasti kayak gitu gan wkwk
0 0
0
Haji, Identitas warisan Pemerintah Kolonial
03-03-2018 14:05
Quote:Original Posted By mamorukun
Pemerasan Jemaah Haji Indonesia
Mengapa jemaah haji Indonesia kerap diperas pada masa kolonial?

Jemaah haji asal Indonesia pada abad ke-19 hingga abad ke-20 acapkali diperdaya penduduk Arab. Mereka kerap diperas, baik oleh syekh, mutawif, maupun pedagang tanpa ampun.

Biasanya, para jemaah disuruh melakukan bermacam ziarah yang aneh, mahal, dan melelahkan karena mereka tak tahu ritus-ritus yang dijalankan dalam ibadah haji. Sasaran utamanya adalah jemaah haji asal Jawa. Orang Arab bahkan menyematkan julukan bernada menghina sebagai sebutan terhadap orang Jawa: farukha (ayam itik) dan Baqar (hewan ternak).



Menurut Islamolog terkemuka Snouck Hurgronje, dikutip Henri Chambert-Loir dalam Naik Haji Masa Silam 1482-1890, peziarah Nusantara menjadi sasaran empuk karena umumnya tak menguasai bahasa Arab dan tak tahu rukun, kewajiban, dan sunah haji.

“Mereka cenderung mengagumi segala sesuatu yang berbau Arab; meyakini diri mereka berasal dari suatu peradaban yang hina dan menganggap perlu membersihkan diri dari berbagai kenistaan itu,” tulis Chambert-Loir.


Tipu muslihat ini terus berlangsung dari waktu ke waktu hingga berdirinya Kerajaan Arab Saudi yang kemudian menerapkan regulasi.

http://historia.id/ragam/pemerasan-j...haji-indonesia

ada artikel menarik, bukti di abad 19 Haji termasuk perjuangan ibadah yg beresiko. Dan yg berhasil menjalani nya memang orang yg berilmu saat kembali ke tanah air.
Mungkin yg di bold hanya bentuk pandangan Islamolog/orientalis saja

tp antara kurang ilmu dan inferior complex memang jadi masalah sampai sekarang emoticon-Big Grin


Snouck Hurgronje itu kan orientalis yg pura pura Islam supaya bisa ngancurin Islam dari dalem ya
0 0
0
Haji, Identitas warisan Pemerintah Kolonial
03-03-2018 14:05
haji kok pamer
0 0
0
Haji, Identitas warisan Pemerintah Kolonial
03-03-2018 14:07

ok



Quote:Original Posted By gurusejarah
Assalamualaikum WR WB



Haji, Identitas warisan Pemerintah Kolonial

Masyarakat Indonesia adalah mayoritas pemeluk agama Islam maka tidak mengherankan jika banyak diantara kita yang memiliki gelar Haji dan sudah menunaikan Ibadah Haji. Di dalam Islam, menunaikan haji adalah sebuah kewajiban yang tertuang di dalam rukun Islam. Jika sudah berhaji maka bisa dikatakan ibadahnya sempurna. Fenomena ibadah ini akan diikuti dengan penambahan gelar H. untuk Pria dan Hj (Hajjah) untuk wanita. Sebuah fenomena unik karena di hal ini hanya berlaku di Indonesia. Secara otomatis mereka yang sudah pulang dari Tanah Suci akan menyandang gelar tersebut.

Hal ini ternyata dapat ditelusuri jejak sejarahnya di Indonesia. Tercatat jauh sebelum kedatangan Belanda, sudah banyak orang Indonesia yang pergi berhaji. Ludovico di Barthema, penjelajah dari Roma pertama yang mengunjungi Makkah pada tahun 1503, melihat jamaah haji dari kepulauan Nusantara yang dia sebut "India Timur Kecil". Di perkirakan mereka berasal dari Kesultanan Samudra Pasai, hal ini di buktikan dengan catatan berbahasa Portugis yang menyebutkan telah ada lima kapal besar Aceh yang berlabuh di Jeddah. selain untuk berhaji, mereka disana juga melakukan proses perdagangan dan juga mencari Ilmu agama. kebanyakan dari mereka adalah utusan Sultan. Sejak kedatangan Bangsa Belanda, animo masyarakat untuk pergi berhaji juga sangat besar. oleh karena itu, pemerintah Kolonial berinisiatif mendirikan badan khusus untuk urusan haji. Pada masa itu, berhaji merupakan sebuah perjuangan yang berat karena lamanya waktu tempuh, minimal mereka melakukan pelayaran selama 3 Bulan dengan melakukan transit beberapa kali. Selain itu biaya yang dikeluarkan juga tidak sedikit, Pada 1825 pemerintah Hindia Belanda menerbitkan ordonansi baru berupa keharusan bagi calon haji untuk memiliki pas jalan. 110 gulden adalah hal yang harus disiapkan, yang ketika itu nilainya sepadan dengan harga rumah yang cukup besar. Namun animo masyarakat justru semakin meningkat, buktinya pada 1878 (dengan kapal layar) jamaah haji Indonesia sekitar 5.331 oarng. Setahun kemudian (1880), menjadi 9.542 jamaah atau naik hampir dua kali lipat.


Haji, Identitas warisan Pemerintah Kolonial


Di atas kapal, para calon jamaah haji ini banyak melakukan kegiatan antara lain melakukan pengajian dan juga diskusi tentang agama. diatas Kapal ini pikiran mereka terbuka dengan dialog-dialog yang di diskusikan. selain belajar agama, mereka juga banyak belajar tentang konsep kebebasan dan persamaan hak. Setibanya di Jeddah, pelabuhan Arab Saudi saat itu mereka yang berhaji selain melakukan ibadah wajib namun juga banyak belajar ilmu, bukan hanya ilmu tentang agama namun juga ilmu politik, hukum. mereka banyak belajar melalui masjid-masjid di Mekkah. pikiran mereka terbuka dan membawa gagasan Nasionalisme Islam. Sekembalinya mereka ke Tanah air mereka banyak menelurkan ilmunya kepada masyarakat sekitar dengan melakukan dakwah dan juga banyak dari mereka yang mendirikan layanan Pendidikan berupa Pondok Pesantren. Pikiran Kritis para haji membuka pikiran sempit masyarakat Hindia saat itu terutama di Jawa dan Sumatra. Mereka yang pergi berhaji dianggap melakukan pemurnian agama Islam.

Haji, Identitas warisan Pemerintah Kolonial

Pemerintah Kolonial mulai menaruh curiga terhadap para haji yang kebanyakan memiliki pengikut dalam jumlah besar, mereka khawatir akan terjadi sebuah usaha pemberontakan. mereka menganggap para haji sebagai orang-orang fanatik dan pemberontakan. apalagi jumlah orang Hindia (Indonesia) di Mekkah sangat besar. Kekhawatiran tersebut terbukti dengan banyak terjadi pergolakan yang di pelopori oleh Para Haji, peristiwa Cianjur (1883), Cilegon (1888), dan Garut (1919) adalah sebagian kecil saja yang tercatat. hal tersebut berlanjut di Tambun (Bekasi) dan Tangerang pada 1924. Para Haji menganggap bahwa orang Belanda sebagai Iblis yang menyengsarakan orang mukmin. Tokoh-tokoh itu berpidato di hadapan massa sambil menyerukan perlawanan terhadap Belanda dengan ucapan Allahu Akbar.

Haji, Identitas warisan Pemerintah Kolonial

Untuk menanggulangi masalah ini, Pemerintah Kolonial berupaya melakukan moratorium keberangkatan haji, di beberapa daerah arogansi penjajah bahkan ditunjukkan dengan adanya pelarangan haji secara terang-terangan. Namun, Pemerintah Kolonial mencabutnya karena besarnya pendapatan yang diperoleh Pemerintah Kolonial dari jasa pemberangkatan haji ini. Oleh karena itu kemudian pemerintah Kolonial melakukan pemberlakuan administratif berupa penambahan gelar di depan nama, yaitu H. (haji) dan Hj. (hajjah). Selain itu para Haji juga diharuskan menggunakan identitas baru dengan peci putih serta sorban setiap kali pergi untuk beraktifitas maupun kegiatan dakwah. Selain itu Pemerintah Kolonial melalui Kerajaan Belanda juga membuka Konsulat jendral di Jeddah dan berubah menjadi Kedutaan Besar dalam upaya untuk melakukan pengawasan. Dengan identitas baru mereka, para haji akan mudah dalam dilakukan pengawasan dengan ciri-ciri khusus serta nama mereka.

Haji, Identitas warisan Pemerintah Kolonial

istilah Haji dan Hajjah ini memang unik dan hanya ada di Indonesia dan menariknya masih terus berlanjut sampai sekarang. menurut sebagian ulama mengatakan bahwasannya menggunakan gelar Haji dan Hajjah adalah riya, namun di masyarakat sudah menjadi kebiasaan yang lazim dengan menambahkan Haji dan Hajjah di depan nama mereka. JAS MERAH

NO SARA
Menerima Kritik dan saran emoticon-thumbsup
Mohon rate bila berkenan emoticon-Blue Guy Peace
Cendol dan Bata masih di harapkan emoticon-Toast

SUMBER 1
SUMBER 2
Historiografi haji Indonesia karya M. Saleh Putuhena

Salute buat para haji dan hajjah, karena bukan hanya masalah gelar tapi atas izinNya lah para hajidan hajjah ini bisa pergi kemakkah beribadah haji. Awsome, indonesia memang sudah besar dan unik sejak dulu kala. Amazing
0 0
0
Haji, Identitas warisan Pemerintah Kolonial
03-03-2018 14:09
Quote:Original Posted By liamonters
No belanda sendiri sebenarnya menghalangi misi kristenisasi di indonesia


Klo ga salah, Dutch Republic saat itu mayoritas Protestan, jadi ini bisa saja yg dimaksud Kristen Katolik.
Cmiiw
0 0
0
Haji, Identitas warisan Pemerintah Kolonial
03-03-2018 14:17
kalo ulama mereka berkata itu adalah Riya, kenapa masih diterusin?
riya emang nikmat
0 0
0
Haji, Identitas warisan Pemerintah Kolonial
03-03-2018 14:17
Quote:Original Posted By synthmetal


Snouck Hurgronje itu kan orientalis yg pura pura Islam supaya bisa ngancurin Islam dari dalem ya


thats why ane ngomong orientalis yg meneliti Islam.
Snouck Hurgronje memang dikirim ke Aceh utk meneliti dan menganalisa sistem sosial di Aceh , Karena Belanda menganggap perang saja tidak bisa mengakhiri perlawanan rakyat Aceh.
karena pengetahuan Islam nya lah akhirnya dia bisa masuk dan meneliti dari dalam.

Tapi kalo menghancurkan Islam ane kurang paham, apa dia hanya meneliti atau menyisipkan ide2 sesat dalam Islam. mungkin agan bisa bantu ?
0 0
0
Haji, Identitas warisan Pemerintah Kolonial
03-03-2018 14:18
Edited emoticon-Malu
Dah baca pekiwan emoticon-Big Grin
Diubah oleh irsyad30
0 0
0
Haji, Identitas warisan Pemerintah Kolonial
03-03-2018 14:25
Nyimak aja sy agan TS, memang rambut sama hitam, pikiran beda2, tergantung sama agan2 YG celoteh di mari, niat'a apa? anyway salut buat TS dah sempet bikin thread ini terlepas dri niat TS sendiri...
0 0
0
Haji, Identitas warisan Pemerintah Kolonial
03-03-2018 14:26
Quote:Original Posted By macan999
kalo ulama mereka berkata itu adalah Riya, kenapa masih diterusin?
riya emang nikmat


Ulama bilang itu riya namun sudah menjadi ciri khas dalam masyarakat n blablabla... tapi mereka sendiri kalau diundang untuk dakwah dan pernah berhaji namun undangan berdakwahnya tidak memakai gelar "H= Haji" yakin dalem hatinya pasti...emoticon-Ngamuk

Kejadian nyata soalnya haha kayak yang sebel gitu si "ulama"nya
0 0
0
Haji, Identitas warisan Pemerintah Kolonial
03-03-2018 14:27
Hmmm.. Ternyata hanya warisan sejarah.. emoticon-Big Grinemoticon-Big Grinemoticon-Big Grin

Klo menurut gw emang riya sih.. emoticon-Smilie
0 0
0
Haji, Identitas warisan Pemerintah Kolonial
03-03-2018 14:29
Quote:Original Posted By liamonters
No belanda sendiri sebenarnya menghalangi misi kristenisasi di indonesia


klo dikrestinisasi gk jadi menjajah dong.. masak menjajah seagama.. emoticon-Cape deeehh
0 0
0
Haji, Identitas warisan Pemerintah Kolonial
03-03-2018 14:35
ohh iyaa tempat karantina haji pada saat itu ada juga di kepulauan seribu tepatnya di pulau onrust coba aja deh kesana banyak sejarah yg saya baru tau juga dri sana...
0 0
0
Haji, Identitas warisan Pemerintah Kolonial
03-03-2018 14:37
Kin sy jadi mengerti, terima kasih pak guru, kalau ada sejarah lainnnya pak, tolonglah di buatken trit serupa, JasMerah.
0 0
0
Halaman 10 dari 15
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia