Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
581
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a36741e1854f7744a8b4569/romance-dua-cinta-satu-kamar-tamat
Seorang pemuda bernama Ian merasa tidak betah berada di rumahnya akibat satu dan lain hal. Pekerjaannya sebagai pekerja lepas di salah satu perusahaan di kotanya terbebani oleh suasana rumah yang berisik dan tidak kondusif. Dia pun akhirnya mencari sebuah kamar kos untuk ditempatinya. Sebenarnya dia bisa datang ke kantor setiap hari untuk mengerjakan pekerjaannya, tetap
Lapor Hansip
17-12-2017 20:41

[ROmance] Dua Cinta, Satu Kamar

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Quote:
Quote:Sinopsis

Quote:Seorang pemuda bernama Ian merasa tidak betah berada di rumahnya akibat satu dan lain hal. Pekerjaannya sebagai pekerja lepas di salah satu perusahaan di kotanya terbebani oleh suasana rumah yang berisik dan tidak kondusif. Dia pun akhirnya mencari sebuah kamar kos untuk ditempatinya.

Sebenarnya dia bisa datang ke kantor setiap hari untuk mengerjakan pekerjaannya, tetapi suasana kantor yang sangat dia jauhi, terpaksa membuatnya mengambil jalan lain.

Kehidupannya saat tinggal di kamar kos ternyata di luar ekspetasinya. Kejadian-kejadian tidak terduga pun harus dia alami. Penghuni kos lain ternyata membawa kisah tersendiri bagi diri Ian. Apakah yang akan terjadi dengan kehidupannya ke depan?


Quote:
[ROmance] Dua Cinta, Satu Kamar [TAMAT]
credit to agan kkaze22


Cerita ini hanyalah fiksi belaka.


Quote:
Quote:
Part 1

Quote:Matahari masih saja terik sore ini. Panasnya tidak terlalu terasa karena kota ini masih menyimpan kesejukan walau tak seberapa. Mobil-mobil menyesaki jalanan kota, berhenti di perempatan menunggu lampu merah berganti hijau, dan ada pula yang memotong jalur mobil lain sembarangan.

Gue sedang duduk di dalam mobil kaum urban dengan ukuran kecil ini. Teman gue yang mengemudi dengan serius mengantri untuk menembus kemacetan. Jika dia sedang serius, gue tidak bisa mengajaknya mengobrol barang sekedar basa basi. Gue hanya melihat motor-motor yang lewat dari sebelah kiri mobil ini.

“Berhenti di sana aja, bro, itu depan apotek,” ucap gue pada teman gue sambil menunjuk ke apotek 50 meter di depan mobil ini.

“Duh, mau ke mana sih lu sebenernya?” tanya teman gue sambil meminggirkan mobilnya.

“Dibilangin mau minggat, makanya kalau gue lagi ngobrol ya dengerin, jangan serius nyetir.” Gue pun turun dari mobil.

Aroma nikmat masakan menyambut gue saat keluar dari mobil. Terasa lezat semua masakan-masakan yang sedang dibuat oleh restoran-restoran pinggir jalan yang mengapit apotek ini. Membuat lapar perut saja.

Pintu bagasi dibuka dengan tuas oleh teman gue dari kursi kemudi, dan gue pun mengambil sebuah tas ransel berukuran sedang dan sebuah koper yang akan gue bawa. Pintu bagasi gue tutup kembali setelah gue mengeluarkan tas dan koper gue.

Gue berjalan kembali ke depan untuk sekedar pamit. Kaca pintu mobil ini gue ketuk isyarat untuk teman gue menurunkan kaca mobilnya. Gue pun sedikit menunduk agar bisa melihat teman gue yang tengah duduk.

BTW, makasih udah nganterin, ya, bro,” ucap gue sambil menjulurkan tangan tanda bersalaman.

“Iya, santai aja kali. Lu sebenernya mau kemana, sih?” tanyanya sambil menjabat tangan gue.

“Udah, lu enggak usah tahu, ya,” jawab gue sambil menarik tangan gue. “Oh, iya, kalau bokap nyokap gue tanya, lu bilang enggak tahu, ya,”

“Iya, emang gue enggak tahu lu kemana, kan?” ucapnya membuat gue tersenyum kecil.

“Yaudah, sana kalau mau balik, hati-hati.” Gue pun melangkah mundur sedikit menjauh dari mobil itu.

Mobil merah berplat D itu lalu menyalakan lampu sein ke kanan, tanda karena akan berbelok dan mengambil kembali jalur jalan raya. Mobil itu berjalan agak cepat dan berputar arah sekitar 20 meter dari tempat gue berdiri. Gue melihat dia melambaikan tangan saat mobilnya melewatiku setelah berputar balik. Gue pun membalasnya.

Kehidupan baru gue akan dimulai hari ini. Memang gue terpaksa harus seperti ini, karena keadaan di rumah yang sangat tidak kondusif bagi gue yang bekerja sebagai freelance ini. Bokap nyokap gue selalu membuat gue tidak bisa berkonsentrasi dan membuat kegaduhan dengan ocehan-ocehan mereka yang sangat mengganggu. Andai gue bisa mengecilkan volume suara ocehan-ocehan mereka, gue enggak perlu sampai sewa kamar begini.


Quote:Setelah beberapa menit, gue berjalan menyebrang saat jalan sedikit sepi. Empat ruas jalan yang dibatasi separator ditengahnya, membuat gue kerepotan karena membawa koper dengan beban yang cukup berat. Akhirnya, sampai juga di seberang, ucap gue setelah berhasil menyebrangi jalan itu.

Gue melanjutkan jalan untuk bisa sampai menuju tempat kos yang gue sewa. Setelah memasuki jalan perumahan, gue bisa merasakan sedikit ketenangan di sini. Rumah-rumah sederhana berjajar rapi nan indah, satu dua rumah mewah pun berdiri angkuh diantara rumah-rumah sederhana itu.

Suara berisik kendaraan kini berganti dengan suara berisik dari roda koper yang gue tarik ini. Beberapa warga terlihat tengah santai di beranda rumahnya, anak-anak pun ada yang tengah berlari melewatiku. Entah dari mana datang mereka.

Sampai gue berhenti di depan gerbang berwarna biru langit. Tinggi gerbang ini gue rasa sekitar dua meter. Pagar geser ini terbuka setengah dan gue pun melangkah masuk. Suasana hening menyambut dari kosan ini, tempat yang cocok bagi seorang seperti gue ini.

Terdapat empat kamar di sebelah kiri dan tiga buah kamar mandi di ujungnya, serta lima kamar di sebelah kanan yang terpisah oleh jalan selebar empat meter. Mungkin jalan ini untuk parkir motor bagi para penghuni. Di depan kamar mandi terdapat bangunan menyerupai kamar juga. Mungkin itu dapur gue rasa karena pintunya terbuka dan terlihat kompor dari sini.

Suara musik dangdut koplo terdengar memecah lamunan gue. Dua orang wanita tengah duduk di depan kamar yang terbuka. Sedari tadi gue hanya melihat dua motor di depan kamar tersebut yang tengah terparkir, dan gue tidak melihat dua wanita itu.

“Mudah-mudahan gue enggak diganggu sama dua mahluk itu,” ucap gue pelan.

Gue pun berjalan agak ke kiri agar sedikit jauh saat melewati kedua wanita itu. Suara roda koper gue kian lama kian berisik seiring gue mendekati mereka. Dalam hati gue berharap agak gue tidak dilihat atau setidaknya gue tidak disapa oleh mereka berdua. Gue mencoba tetap tenang.

“Hai cowok!” teriak seorang dari wanita itu.

Sial! Gue hanya memberikan senyum datar sambil terus berjalan. Jangan sampai ngikutin gue, ucap gue dalam hati berulang-ulang.

“Hih, sombong banget, sih!” ucap wanita itu yang masih terdengar olehku.

“Ngapain sih lu, pake ngagetin gue aja,” ucap teman wanita itu sedikit memarahinya.

“Enggak liat lu ada orang baru, masa enggak mau kenalan?”

Gue melihat dari ekor mata, kedua wanita itu sekarang menatap ke arah gue. Sebuah kamar gue lewati dan akhirnya gue berhenti di depan pintu kamar ke lima yang merupakan kamar paling ujung di sebelah kanan. Syukurlah masih ada satu kamar yang memisahkan kamar gue dengan kamar kedua wanita itu, eh, bahkan gue tidak tahu apakah mereka berdua tinggal di kamar itu.

Gue pun mencari kunci kamar ini yang gue simpan di tas. Samar-samar gue mendengar kedua itu berbicara tentang gue yang merupakan penghuni baru di kosan ini.

“Oh, itu penghuni baru kamar itu, kan udah lama enggak ditempatin,” ucap wanita yang menyapa gue tadi.

“Itukan kamar VIP, mana ada karyawan kaya kita yang mau tinggal di situ, mahal,” sahut wanita yang lain.

“Tapi benerkan kamar itu udah lama enggak ada yang nempatin.”

“Terus kenapa? Lu mau nakut-nakutin dia?” tawa kedua wanita itu pecah, gue pun mendengarnya dengan jelas saat pintu kamar gue sudah gue buka.

“BRUK!” Gue menutup pintu sedikit kencang agar kedua wanita itu berhenti tertawa. Entah apakah itu berhasil, gue tidak mengetahuinya.

Ah, suasana kamar yang gue idam-idamkan terasa kini. Walau kamar ini sudah lama tidak ada yang menempati, tetapi gue meminta kepada pemilik kos untuk membersihkan dan membenahi kamar ini. Pemilik kos menyanggupi ini karena gue menyewa kamar ini untuk setahun dan dibayar di muka. Kalau dengan uang, yang enggak bisa malah jadi bisa.

Warna cat hija yang terlihat baru, tempat tidur dan karpet baru sesuai dengan pesanan gue. Walau lemari dan meja yang akan gue gunakan untuk kerja masih terlihat barang lama, yang hanya dibersihkan dan dicat ulang.

Gue menyimpan tas ransel dan koper di dekat pintu, lalu melepaskan sepatu yang sedari siang gue pakai. Kamar ini cukup luas, gue rasa ukurannya 3x4 meter yang termasuk dengan kamar mandi. Gue lalu mencuci muka dan kaki agar kembali segar.


Quote:Walau harga kamar ini diatas kamar lainnya dan tentu lebih mahal, tetapi tidak ada AC dan bahkan kipas angin sekali pun. Gue hanya bisa membuka jendela agar sirkulasi udara kamar selalu segar.

Laptop kerja gue keluarkan dari ransel, alat-alat pendukungnya seperti charger dan tetikus gue keluarkan juga. Gue nyalakan laptop itu dan gue membuka file-file pekerjaanku yang belum rampung.

“Sekarang udah jam empat lebih, sedangkan ada tiga kerjaan yang udah kelewat deadline,” ucapku sambil melihat jam di bagian kanan bawah layar. “Terpaksa deh gue mesti beresin hari ini.”

Gue pun mulai mengerjakan pekerjaan-pekerjaan gue walau hingga pagi. Walau kerjaan ini sudah kelewat deadline, tetapi klien masih bisa memberikan tambahan waktu buat gue. Jarang-jarang juga punya klien seperti ini, atau mungkin bayaran gue bakal dipotong. Sial.

Gue serius mengerjakan pekerjaan satu demi satu. Langit berubah jingga hingga langit hitam pekat gue tidak beranjak dari depan laptop gue. Hanya sesekali gue merogoh bungkus makanan ringan sekedar mengganjal perut ini. Satu pekerjaan selesai pukul sepuluh malam, tersisa dua pekerjaan lagi yang membutuhkan waktu yang tidak bisa diprediksi.

Adzan subuh berkumandang saat gue selesai menyimpan file pekerjaan gue yang ketiga. Dengan kantuk yang semakin berat, gue memaksakan untuk mengirim file pekerjaan itu sekarang juga melalui e-mail. Dan saat gue selesai mengirim semuanya, adzan subuh pun selesai dikumandangkan.

“Akhirnya, beres juga.” Gue bangkit dan meregangkan otot-otot tubuh ini. Gue lalu pergi ke kamar mandi untuk mandi setelah mematikan laptop gue yang sudah panas itu. Mungkin kalau laptop gue bisa diajak mandi, gue mandikan sekalian laptop itu.

Air terasa sangat dingin di kota ini saat waktu pagi buta seperti ini. Mau tidak mau gue memaksakan mandi dengan air dingin itu. Setelah kegiatan mandi dan pendukungnya selesai, gue keluar dan berbaring di atas kasur gue. Tidak lupa gue mengabari klien bahwa pekerjaan gue sudah gue kirim dan tidak lupa mengingatkan mereka untuk mentransfer upah gue dengan segera. Kerjaan ngaret tapi bayaran mesti on-time, itulah prinsip gue.

“Gina!! Gue dulu yang mandi, lu kalau mandi suka lama, nanti gue telat!” suara wanita tengah berteriak di depan salah satu kamar mandi yang gue dengar.

Gue pun bangkit dan menengok dari jendela yang sedikit terbuka. Ternyata itu wanita yang kemarin. Dia berusaha menggedor-gedor kamar mandi itu dengan susah payah.

“Salah sendiri lu susah bangun, gue juga kerja kali, sabar aja udah tungguin gue kelar!” sahut suara dari dalam kamar mandi terdengar samar-samar.

Gue rasa tiga kamar mandi cukup untuk kebutuhan delapan kamar, namun tidak untuk satu kamar dua orang seperti itu. Gue pun menutup jendela kamar agar suara berisik itu tidak mengganggu tidur gue yang akan gue tunaikan sebentar lagi.

Nikmatnya selimut hangat di pagi hari seperti ini mengundang kantuk gue semakin menjadi. Gue merasa terlelap tanpa butuh waktu yang lama, tetapi ...

“Tok... tok... tok!!!” suara pintur kamar gue diketuk keras. Suara ketukan itu terus menerus dan sangat mengganggu gue yang sudah tertidur ini.

“Siapa sih?! Orang mau tidur juga, ganggu aja,” ucap gue sedikit keras sambil mencoba bangkit.

Dengan terpaksa gue bangkit dan dengan jalan yang sedikit juntai gue menuju pintu untuk membukanya. Gue pun terkaget karena gue meliat wanita yang tadi mengetuk kamar mandi di sana, kini berpindah mengetuk kamar gue. Dia mengenakan tank top dan celana pendek berwarna merah muda serasi. Handuknya diselendangkan di pundak dan di tangan kanannya membawa gayung yang berisi peralatan mandi. Bibirnya tersenyum tanggung.

“Maaf, Ka, boleh numpang mandi enggak?” ucapnya sambil tersenyum malu-malu.

Kalau bukan karena rasa ngantuk gue yang udah berat ini, gue mau ajak berdebat wanita yang satu ini. Sudah mengganggu gue, sekarang mau pake kamar mandi gue.

“Yaudah sana,” ucap gue sambil menunjuk letak kamar mandi. “Kalau udah beres, tutup aja pintu kamar gue, gue mau tidur jangan diganggu lagi.”

Wanita itu hanya mengangguk senang dan segera menuju ke kamar mandi gue. Kalau gue enggak ngantuk gini, gue intip juga tuh cewek lagi mandi, ucap gue dalam hati berkhayal.

Tanpa berlama-lama, gue menutup pintu kamar gue dan segera mengambil posisi yang nikmat untuk tidur. Sambil terpejam, terbersit pikiran bagaimana kalau gara-gara wanita itu barang di kamar gue ada yang hilang. Tetapi gue langsung terlelap sebelum menemukan jawaban pertanyaan itu.

***
Diubah oleh fadw.crtv
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kadalbuntingzzz dan 17 lainnya memberi reputasi
16
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 12 dari 30
[ROmance] Dua Cinta, Satu Kamar [TAMAT]
06-01-2018 15:54
Quote:Original Posted By kkaze22
Ada cewek 1 lagi di kamar no1 lebih wah Dari Gina Dan asti emoticon-Matabelo konflik is coming emoticon-Ngakak


huftt..emoticon-Nohope.. yg ente maksud lebih wah, pasti kayak gini kan...!? emoticon-Mad
[SPOILER=lebih wah][ROmance] Dua Cinta, Satu Kamar [TAMAT][/SPOILER]

sorry ts.. oot dikit.. !? emoticon-Peace

lanjutken... emoticon-thumbsup
Diubah oleh coeksby
0 0
0
[ROmance] Dua Cinta, Satu Kamar [TAMAT]
06-01-2018 16:07
Quote:Original Posted By rarana05
SiPanca harus dipantau kayaknya....
Cewe kamar no 1,hmmmm
mungkin yang dibawa pak irfan yaemoticon-Big Grin

Kayanya penghuni lama gan, bkn yang di bawa pak Irfan. :sudahkuduga

Quote:Original Posted By coeksby
huftt..emoticon-Nohope.. yg ente maksud lebih wah, pasti kayak gini kan...!? emoticon-Mad

sorry ts.. oot dikit.. !? emoticon-Peace

lanjutken... emoticon-thumbsup


Spoilernya benerin bre, ngg kuat ane liatnya emoticon-DP
0 0
0
[ROmance] Dua Cinta, Satu Kamar [TAMAT]
06-01-2018 18:26
Anjayy emoticon-Leh Ugaemoticon-Leh Uga

Nambah 1 lagi nih korban TS emoticon-Leh Ugaemoticon-Leh Uga

Eh BTW si Gina ama Asti tau ga yaa ama kamer no 1
0 0
0
[ROmance] Dua Cinta, Satu Kamar [TAMAT]
06-01-2018 18:29
Quote:Original Posted By fadw.crtv

Kayanya penghuni lama gan, bkn yang di bawa pak Irfan. :sudahkuduga



iya penghuni lama yang kenal ama gina,terus jalan bareng ama pak tio dan pak irfanemoticon-Leh Uga
0 0
0
[ROmance] Dua Cinta, Satu Kamar [TAMAT]
07-01-2018 06:33
Quote:Original Posted By rarana05
iya penghuni lama yang kenal ama gina,terus jalan bareng ama pak tio dan pak irfanemoticon-Leh Uga


bteul Gan orang yg di liat tempat makanemoticon-Leh Uga jadi bingun ane Gina yg demen ato cewek kamar no 1 ntar huftemoticon-Sundul Gan (S)
Diubah oleh kkaze22
0 0
0
[ROmance] Dua Cinta, Satu Kamar [TAMAT]
07-01-2018 16:42
wah ternyata ada cewek bau lgi..
0 0
0
[ROmance] Dua Cinta, Satu Kamar [TAMAT]
07-01-2018 17:07
ane kira ada update emoticon-Shutup
0 0
0
[ROmance] Dua Cinta, Satu Kamar [TAMAT]
07-01-2018 17:14
Quote:Original Posted By fadw.crtv
ane kira ada update emoticon-Shutup


Kapan nih updatenya lagi gan? Ane udah nunggu neh emoticon-Hammer2
0 0
0
[ROmance] Dua Cinta, Satu Kamar [TAMAT]
07-01-2018 17:18
Nimbrung juga lah gan
0 0
0
[ROmance] Dua Cinta, Satu Kamar [TAMAT]
07-01-2018 18:07
kamar 1 layak ditunggu biar gak flat ini ceritaemoticon-Smilie

delivery nya enak and naturalemoticon-Leh Uga
0 0
0
[ROmance] Dua Cinta, Satu Kamar [TAMAT]
07-01-2018 19:23
lanjutkaaan, seru nih
0 0
0
[ROmance] Dua Cinta, Satu Kamar [TAMAT]
07-01-2018 20:47
Quote:Original Posted By fadw.crtv
ane kira ada update emoticon-Shutup


ZZZZZZZZZZzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzxxxxxzxxzzzzzzzzzzzzzzzzzzzZzzZzZZZZzzzzzzzzzzzzzzzemoticon-Cape d... (S)
profile-picture
rendevousz memberi reputasi
1 0
1
[ROmance] Dua Cinta, Satu Kamar [TAMAT]
07-01-2018 20:52
..oooO..............
...(....).....Oooo...
....\..(.......(...)....
.....\_).......)../.....
...............(_/......
0 0
0
[ROmance] Dua Cinta, Satu Kamar [TAMAT]
08-01-2018 20:23

Part 14

Quote:
Quote:Suara peluit ditiupkan oleh seorang wasit. Gemuruh sorak sorai para pendukung kedua kesebelasan pun pecah memenuhi kamar Anton saat ini. Gue dan Anton tengah bertanding dengan tim favorit masing-masing melalui konsol permainan.

Gue tidak mengira, ternyata Anton mempunyai satu set home theater di kamar kos yang lebih kecil dari kamar kos gue. Suara yang dihasilkan pun membawa gue terbawa ke dalam suasana stadion yang benar-benar seperti nyata.

Sudah lama gue tidak bermain permain seperti ini, rasa-rasanya jari-jari gue kembali kaku. Jadi kalau gue kalah, tentunya gue punya alasan yang tidak terlalu klasik.

“Jadi dua cewek di sana, yang mana pacar kau?” tanyanya disela-sela pertandingan.

“Cuma temen lah, Bang, masa baru kenal udah pacaran,” jawab gue sekenanya.

“Bah, enggak usah malu-malu sama aku, jadi kalau nanti aku bermanuver, aku pilih yang bukan pacar kau.”

“Kalau mau manuver kenapa enggak dari dulu?” tanya gue heran.

“Ya, ya gitulah, aku ditolak sama mereka, kan sedih aku,” jawabnya membuat gue tertawa.

“Badan aja gede, Bang, tapi bisa sedih juga.”

“Jangan salah kau, selama manusia punya hati, pastinya dia bisa menangis lah.”

“Ya, saya juga gitu, Bang. Saya suka sendiri, malah lebih nyaman sendiri ketimbang dikeramaian. Tapi setelah dua cewek itu datang ke kehidupan saya, saya jadi ... Goooollll!” ucapan gue yang terputus karena gue berhasil menggolkan ke gawang tim Anton.

“Sial, gara-gara aku dengar curhatan kau, jadi bek aku lengah,” jawab Anton membela diri.

“Jangan salahin curhatan saya, Bang. Tadi juga saya dengerin curhatannya tapi enggak gol.” Gue pun tertawa kecil.

“Yasudah, lanjutkan lagi yang tadi terputus, aku jadi penasaran.” Kick off pun dilakukan Anton.

“Saya jadi ngerasa kosong. Rasa-rasanya aneh lah setelah mereka berdua jadi sibuk gini, Bang. Cewek yang satu sibuk karena naik jabatan, tapi yang satu saya enggak tau dia sibuk kenapa.” Gue berhasil merebut bola dari Anton.

“Ya, ibaratkan saja tanah, kau tanam singkong lalu kau cabut saat sudah tumbuh, bakal ada lubang pastinya, kan. Tidak aneh itu. Kau harusnya bisa mengisi lubang itu dengan singkong yang lain atau tanaman yang lain yang kau ingin coba tanam.” Tendangan Anton membentur mistar gawang.

“Kalau beli singkong dimana emang, Bang? Mau coba saya tanam,” ucap gue sambil mengoper bola ke bek.

“Bah, otak kau pendek amat. Maksud aku, kau cari teman lain atau pacar lain untuk mengisi kosong hati kau itu.”

“Tapi mereka itu ibaratkan singkong spesial, Bang. Enggak ada tiganya.” Bola keluar lapangan menghasilkan tendangan sudut bagi tim gue.

“Bah, bisa sampai tiga gitu. Makanya kalau kau mau, aku kenalkan dengan cewek kamar sebelah ini,” ucap Anton menunjuk.

“Tapi kalau saya sampai kenal terus ... Gol lagi!” ucap gue yang kembali terputus karena gol kedua.

“Aduh sial sekali aku hari ini. Baru babak pertama sudah kemasukan dua gol,” sesal Anton. “Sudah lanjutkan lagi omongan kau yang barusan.”

“Kalau sampai kenal terus saya pacaran sama dia, emang Abang enggak nyesel?” ucap gue bercanda.

“Iya, juga, ya. Nanti cewek-cewek di kosan ini kau embat semua. Sialnya kau jadi cowok!” ucap Anton cukup keras.

Pertandingan pun berakhir paruh pertama. Gue meminum segelas air yang gue bawa dari dapur, sedangkan Anton menyalakan rokoknya.

“Tapi kayanya saya tetep setia sama salah satu cewek yang di kamar sana aja, Bang.” Babak kedua pun kembali dimulai.

“Iya, bagus itu, jangan kau embat semuanya,” ucapnya yang membuat gue tersenyum kecil.

“Tapi saya kaya ngerasain yang namanya awal karma.” Kiper tim gue berhasil menangkis tendangan tim Anton.

“Ada dosa apa kau sama mantan kau?” tanya Anton seperti mengetahui masa lalu gue.

“Ya, kaya gini. Awal saya dapet kerjaan, ambisi saya gede. Tujuan cuma satu, dapet duit banyak. Akhirnya saya nganggurin mantan saya, dia ngamuk deh akhirnya mutusin saya.”

“Emang pacarmu yang sekarang kaya gitu?”

“Jangan bilang pacar deh, Bang. Bilang aja teman,” ucap gue menegaskan. “Keliatannya kaya gitu, soalnya kita cuma ketemu dan jalan cuma pas Sabtu Minggu aja,” lanjut gue.

“Bah, pacar kau yang itu rupanya,” ucapnya seperti mengetahuinya. “Aku sering lihat kau jalan sama cewek yang itu, siapa namanya? Aku lupa.”

“Lupa atau emang enggak tahu?” tanya gue memastikan.

“Lupa aku, lupa kalau udah pernah ditolak sama dia.” Tawanya pun pecah dan cukup keras.

“Kampret lu, Bang. Saya bantai juga, nih,” ucap gue mengancam.

“Coba saja kau bantai. Nah, lihat nih, lihat,” ucapnya sambil mengendalikan pemainnya meliak-liuk di antara bek tim gue.

Sebuah tendangan akhirnya dihempaskan yang tak bisa dijangkau oleh kiper tim gue. “Goooolllll!!!” teriak Anton ricuh dan sangat berisik hingga berjingkrak-jingkrak senang bukan kepalang.

Dia berteriak-teriak seperti menunjukan bahwa dia belum habis. Suasana yang sudah riuh dengan suara dari speaker itu ditambah dengan suara Anton ini memecah sepinya kosan. Gue pun merasa heran dengan hal yang dilakukannya.

Hingga, sebuah suara bantingan pintu terdengar dari luar kamar ini. “BRAK!” Dan tak lama seseorang membuka pintu kamar Anton dengan cepat.

“Woy, berisik aja lu, bisa tenangan sedikit kagak!” bentak seorang wanita dari balik pintu dengan membawa emosinya yang meledak.

Gue hanya melihat wanita itu dan sesekali melihat ke arah Anton yang sepertinya sudah biasa dengan bentakan itu.

“Muncul juga batang hidung kau,” ucap Anton santai. “Lagi ada tamu, ya?”

“Sialan lu, gue bilangin gue bukan p***k, walau baju gue seksi gini tapi gue masih perawan,” ucapnya dan gue melihat tubuhnya dari ujung kaki ke ujung kepala.

Penampilannya memang seksi, dengan tanktop yang membungkus badan dan benda berharganya yang ukurannya lumayan tanpa dalaman, dan celana yang dipakainya pun kelewat mini.

“Bah, maksudku tamu dari bulan. Pikiran kau negatif saja sama aku,” ucap Anton membela.

“Sekali lagi lu berisik, gue bakar, lu!” ucap wanita itu saking emosinya.

Pintu pun ditutupnya kembali membuat gue menatap Anton dengan tatapan heran. Namun, sebelum pintu itu tertutup dengan sempurna, pintu itu kembali terbuka. Wanita yang tadi emosi kini berubah ramah.

“Oh, iya, gue belum kenalan sama orang baru,” ucapnya sambil mendekati gue. “Nama gue Ussi, nama kamu siapa?” lanjutnya sambil memberikan tangan untuk bersalaman.

“Kalau malem Ussi, Kalau siang Usro,” celetuk Anton.

“DIEM!” teriak Ussi yang membuat telinga gue sedikit berdengung.

“Gue Ian,” ucap gue tak berlama-lama dan kami pun bersalaman.

“Kalau butuh gue tinggal ketuk aja kamar gue.” Gue hanya mengangguk mendengar tawarannya.

Dia pun berjalan keluar dan menutup pintu kamar Anton sambil melambai ke arah gue. Sebelum pintu tertutup sempurna, gue melihat sekelebat motor yang masuk ke dalam kosan. Mungkin sekarang sudah jam pulang salah satu dari wanita yang telah mengisi hari gue lebih dulu.

“Galak amat tuh cewek,” ucap gue sambil kembali memegang stik permainan.

“Tapi cantikan, kata aku juga apa,” ucap Anton bangga.

“Saya rasa dia bukan tipe saya, Bang.”

“Bah, kau tak suka dengan cewek berbadan semok seperti dia itu?” tanya Anton terkaget.

“Suka sih suka, namanya juga laki. Cuma, ya, terlalu berlebihan aja kayanya.”

“Bagus, sih, jadi saingan aku tidak bertambah.” Anton tampak tenang.

“Emang dia suka sama Abang?” ucap gue meledek.

“Sial kali kau, sudah lanjut main, aku sudah berhasil menggolkan ke gawang kau.”

Kami pun kembali melanjutkan pertandingan yang tertunda itu. Mungkin setelah pertandingan ini selesai gue kembali ke kamar untuk melihat siapa yang telah pulang lebih dulu.

Ngomongin soal wanita yang barusan datang. Selama tiga bulan lebih gue tinggal di sini, rasa-rasanya gue belum pernah melihatnya. Tapi tentunya itu bukan masalah. Toh, gue juga enggak butuh bantuan atau perlu dengan dia. Jangan sampai deh karena cinta gue hanya di satu kamar bukan di kamar satu.

***
Diubah oleh fadw.crtv
profile-picture
maccer4 memberi reputasi
2 0
2
[ROmance] Dua Cinta, Satu Kamar [TAMAT]
08-01-2018 21:39
cieeee...
setia nih kisahnya emoticon-Big Grin
astinya aja sibuk, tau jangan ama tu partner kerjanya emoticon-Ngakak

Wkwkwkaburrrrr emoticon-Ngacir2
0 0
0
[ROmance] Dua Cinta, Satu Kamar [TAMAT]
08-01-2018 21:44
sikat aja gan si kamar 1
0 0
0
[ROmance] Dua Cinta, Satu Kamar [TAMAT]
08-01-2018 22:29
“Tapi mereka itu ibaratkan singkong spesial, Bang. Enggak ada tiganya..”

Masa ngak Ada 3nya emoticon-Betty (S) emoticon-Wink
0 0
0
[ROmance] Dua Cinta, Satu Kamar [TAMAT]
08-01-2018 23:01
“Kalau butuh gue tinggal ketuk aja kamar gue.” anjir, ni line. undangan secara halus gan,
mana masih perawan emoticon-Ngakak
backstreet lagi aja, kan nggak ada yang tahu
0 0
0
[ROmance] Dua Cinta, Satu Kamar [TAMAT]
09-01-2018 00:23
Quote:Original Posted By fadw.crtv
Jangan sampai deh karena cinta gue hanya di satu kamar bukan di kamar satu.


fix.. ini pasti clue... bang Anton..! emoticon-Big Grin

G.E.M.B.O.K.E.D by kuncen sunan kuning...
Diubah oleh coeksby
0 0
0
[ROmance] Dua Cinta, Satu Kamar [TAMAT]
09-01-2018 03:52



kos2annya mantap betul... emoticon-Genit



0 0
0
Halaman 12 dari 30
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
darah-haid-makanan-makhluk-gaib
Stories from the Heart
separuh-luka-yang-tertinggal
Stories from the Heart
yang-terdalam
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Stories from the Heart
B-Log Collections
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia