News
Batal
KATEGORI
link has been copied
854
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/53cce150a3cb17a8758b4676/pojok-tanya-jawab-masalah-pajak-sepuas-puasnya-fast-respone
halo agan-agan ane cuma pengen membantu temen-temen yang masih galau untuk masalah perpajakan di Indo. ane bisa bantu sebisa ane. :malus monggo silahkan bertanya gan
Lapor Hansip
21-07-2014 16:45

Pojok Tanya Jawab Masalah Pajak Sepuas-puasnya (fast respone)

halo agan-agan ane cuma pengen membantu temen-temen yang masih galau untuk masalah perpajakan di Indo. ane bisa bantu sebisa ane. emoticon-Malu (S) monggo silahkan bertanya gan
profile-picture
profile-picture
bos.kutang dan tata604 memberi reputasi
2
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 25 dari 38
Pojok Tanya Jawab Masalah Pajak Sepuas-puasnya (fast respone)
11-12-2017 09:38
Mau bertanya Gan? Klw Si A punya rumah/ apartment di jual, pajak apa yg harus dibayarkan, tarifnya dan tata caranya....oh iya casenya.... rumah / apt itu di laporkan dalam setiap laporan pajak tahunan ( SPT) , terima kasih 🙏🏼
0 0
0
Pojok Tanya Jawab Masalah Pajak Sepuas-puasnya (fast respone)
12-12-2017 08:36
Quote:Original Posted By myden
Mau bertanya Gan? Klw Si A punya rumah/ apartment di jual, pajak apa yg harus dibayarkan, tarifnya dan tata caranya....oh iya casenya.... rumah / apt itu di laporkan dalam setiap laporan pajak tahunan ( SPT) , terima kasih 🙏🏼


PPh Final atas jual tanah gan 5%. Nanti biasanya di setor oleh PPAT sewaktu transaksi. CMIIW
Diubah oleh g_meister
0 0
0
Pojok Tanya Jawab Masalah Pajak Sepuas-puasnya (fast respone)
12-12-2017 14:30
Quote:Original Posted By h.Rz
gan.. permisi mau nanya donk.. kalau kerja di luar negeri, lapor SPT nya kyk gimana ya?


Quote:Original Posted By h.Rz


uda hampir 3 taun gan ane..

uda 2 kali terakhir ane lapor SPT ane tulis 0 penghasilannya..

ini kedepannya musti kyk gimana ya?

ke depannya agan ada rencana balik kerja di Indonesia gak?
udah 3 tahun berarti sudah masuk kategori meninggalkan Indonesia untuk selama2nya, wkwkwkwk
ya kalau sudah melewati time test 183 hari dalam 1 tahun buku, berarti saat ini agan udah menjadi subjek pajak luar negeri, selamat yah

emoticon-Ultah

kalau udah jadi subjek pajak LN ya mending di non-efektifkan atau ditutup saja NPWPnya, bisa minta tolong ke keluarga agan di Indonesia ke KPP tempat agan terdaftar, kalau gtau KPP mana lihat 3 kode sebelum 000 terakhir di NPWP agan (-411.000, 411 = KPP Serpong), google aja itu kode KPP mana, tapi harusna tahulah ya secara udah 2 taun lapor SPT tahunan

kalaupun suatu saat agan balik lagi ke Indonesia dan menetap lebih dari 183 hari (entah kapan) setelah NPWP diNE/dihapus, kan bisa diaktifkan/diefektifkan kembali atau bisa buat lagi kalau udah dihapus, secara otomatis kalau udah >183 hari balik lagi jadi subjek pajak DN, nah nanti setelah diaktifkan/bikin ulang baru deh agan aktif lagi lapor SPT Tahunan, kalau sumber penghasilan agan cuma dari luar negeri doank dan udah kena potong disana, ya tinggal isi + masukin jumlah yang udah dipotong disana sebagai kredit pajak, pasti nihil, tapi nanti kalau ada penghasilan di dalam negeri, nanti yang dipotong disana dihitung ulang yg boleh jadi Kredit pajak (namanya PPh pasal 24 mana yang tertinggi antara yang dipotong disana sama perhitungan proporsional dengan jumlah seluruh penghasilan dan pajak terutang disini)

kalau memang ada rencana balik ke Indo ya sebaiknya g usah di NE atau di hapus, lapor pajak SPT Tahunan OP sekarang bisa lewat Online koq, bisa dari website DJPonline langsung atau website2 partner kayak online-pajak.com.


Quote:Original Posted By ks.makeproud98
Halo gan, saya mau tanya seputar pajak karena saya sangat awam untuk masalah ini, kasusnya sbb
1. Pemilik usaha punya bruto perbulan sekitar 1.3M sampai 1.7M, netto perbulan mencapai 90-100jt an, punya npwp, untuk perhitungan pajak pribadi dan pajak badan usahanya gimana ya? Apakah nilai pajak yg harus dibayarkan bisa lebih ditekan lagi? Fyi, perusahaan berbentuk UD
2. Tiap bulan pemilik usaha setor pajak sekitar 5jt an, ini pajak jenis apa ya? Apakah pajak pribadi?
3. Rencananya pemilik usaha mau merubah perusahaan yg sekarang berbentuk UD mau di ubah ke CV, nah pengakuan aset dari UD ke CV itu gimana ya dan cara perhitungan pajaknya gimana?
Mohon masukannya gan, terimakasih

1. ini saya bingung, bruto sebulannya 1,3M-1,7M apa 90-100 jutaan? atau typokah? asumsi 1,3M-1,7M setahun. untuk perhitungan pajak pribadi ini tergantung, UDnya itu punya NPWP gak? cm setau ane sih UD itu g perlu di NPWPkan malah rempong, asumsi gak ada, berarti agan memperoleh Fasilitas Perhitungan Pajak Final (well dibilang fasilitas jelek juga kalau rugi tetep bayar pajak), karena berdasarkan PP 46 tahun 2013, peredaran bruto agan <4,8M setahun, artinya bisa menggunakan tarif PPh final untuk PPh 25 setiap bulan sebesar 1% dari penghasilan Bruto

2. lah saya gak tahu 5 juta itu darimana perhitungannya, tanyakan sama pemiliknya dulu gan itu bayar apa, pajak yang setor tiap bulan bisa PPN bisa PPh, cuma saya asumsikan itu setoran PPh 25 masa, karena PPN ga mungkin karena ga ada informasi dari agan kalau dia Pengusaha Kena Pajak (walau bisa jadi kalau dia memilih menjadi PKP), nah seandainya 5 juta itu mengikuti ketentuan fasilitas PP 46 tahun 2013, 1% kan 5 juta, berarti omzetnya per bulan 500 juta donk, setahun berarti 6M donk, jadi g mungkin itu PPh 25 menggunakan PP 46, pasti menggunakan perhitungan angsuran PPh 25 dari SPT tahun sebelumnya menggunakan tarif Pasal 17 UU PPh. Bisa dilihat juga dari setoran E-Billingnya yang dicetak kan ada kode MAP disitu tertulis bayar pajak apa koq.

3. dari UD ke CV? berarti jadi badan hukum donk ya, artinya mesti punya NPWP nanti CVnya, meskipun yang punya satu orang, dan di UU PPh, pembagian keuntungan dari perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham, firma, kongsi, dan persekutuan kepada para anggotanya tidak termasuk Objek Pajak, beda sama PT kalau bagi dividen ada PPh atas Dividen ke pemegang sahamnya

kalau masalah pengakuan aset, berapa yang diserahkan ke CV dari sekutu aktif/pasif bukan merupakan penghasilan bagi CV, bikin CV kan kalau gak salah pakai sertifikat juga, di sertifikat CV pasti ada tertulis berapa aset/modal yang disetor dari pihak anggota CV, kalau pajak kan melihat mana yang harta pribadi mana yang harta perusahaan, nah baik UD maupun CV ini sebenarnya secara perlakuan harta mah sama aja, gak ada perbedaan entitas layaknya PT yang harus ada dompet pribadi dan dompet perusahaan, atau aset pribadi dan perusahaan, kalau CV tidak ada batasan yang jelas mana yang aset pribadi dan CV makanya tanggung jawab pengurus CV itu tak terbatas, gak kayak PT yang terbatas dari persentase saham saja

nah aspek perpajakan CV ya harus punya NPWP, harus mengukuhkan diri sebagai PKP (kalau peredarannya >4,8M) tapi bisa memilih untuk mengukuhkan diri tanpa harus nunggu 4,8M otomatis punya kewajiban terkait PPN, tentu harus menyelenggarakan pembukuan/pencatatan, keuntungan CV, PPhnya dikenakan 1x yaitu saat perhitungan Laba CV di akhir tahun (atau kalau peredaran bruto kurang dari 4,8M bisa pakai fasilitas tarif 1% PP 46/2013), nah untungnya CV daripada PT dari segi pajak ya ketika laba bersih CV setelah pajak dibagikan ke para sekutu, itu gak kena PPh lagi



Quote:Original Posted By nitrammmm
suhu

ogut karyawan punya npwp sejak pertama kerja tapi belum pernah lapor spt

tahun depan mau lapor....prosedurnya bagaimana ya ? dan perhitungan dendanya bagaimana ?

mohon ilmunya

pertama kerja itu kapan?
g usah mikirin denda gan, kalau ente cuma karyawan, PPh ente (seharusnya) sudah dipotong sama perusahaan agan, kecuali situ sempet pindah kerja di tengah2 tahun (ga mesti tengah2 di bulan Juni juga ngertilah maksudnya) pasti ada kurang bayar di akhir tahun

denda agan paling denda ga lapor SPT Tahunan aja, kecil koq cuma 100 ribu, ya kalau agan kerja dari tahun 1983 di perusahaan yang sama, sejak UU KUP muncul, kan g nyampe ratusan juta juga, itu juga kalau ARnya sudi nyetak STP, masukin amplop, ngirim surat cinta ke agan dan nagih

jadi ya lapor2 aja tahun depan untuk tahun buku 2017 ini, lampirkan Bupot 1721-A1/A2 agan yang diperoleh dari kantor agan, entah ente PNS (terlalu lw gan kalau iya) atau swasta, tulis harta yang dimiliki di akhir tahun 2016 berapa, jangan lupa juga sisa utang (termasuk sisa kreditan mobil/motor/rumah jangan masuk ke harta dulu kalau belom lunas) dimasukin juga


Quote:Original Posted By myden
Mau bertanya Gan? Klw Si A punya rumah/ apartment di jual, pajak apa yg harus dibayarkan, tarifnya dan tata caranya....oh iya casenya.... rumah / apt itu di laporkan dalam setiap laporan pajak tahunan ( SPT) , terima kasih 🙏🏼


Si A jual rumah/apartemen = dikenakan PPh 4 Ayat 2

Si pembeli rumah/apartemen = dikenakan BPHTB ketika balik nama sertifikat

siapa yang bayar? silakan dinegosiasikan antar A dan B, g harus si A dipotong B PPh 4 ayat 2, bisa aja si A maunya terima bersih, pajaknya si B yang nanggung, atau sebaliknya, semua yang nanggung A termasuk BPHTBnya kewajiban si B ketika balik nama sertifikat, kalau misalnya si B maunya terima jadi


btw, koq ada 2 Thread sejenis ya? ada yang di Sticky, ada yang ini
0 0
0
Pojok Tanya Jawab Masalah Pajak Sepuas-puasnya (fast respone)
12-12-2017 15:02
Quote:Original Posted By KyraAltair



ke depannya agan ada rencana balik kerja di Indonesia gak?
udah 3 tahun berarti sudah masuk kategori meninggalkan Indonesia untuk selama2nya, wkwkwkwk
ya kalau sudah melewati time test 183 hari dalam 1 tahun buku, berarti saat ini agan udah menjadi subjek pajak luar negeri, selamat yah

emoticon-Ultah

kalau udah jadi subjek pajak LN ya mending di non-efektifkan atau ditutup saja NPWPnya, bisa minta tolong ke keluarga agan di Indonesia ke KPP tempat agan terdaftar, kalau gtau KPP mana lihat 3 kode sebelum 000 terakhir di NPWP agan (-411.000, 411 = KPP Serpong), google aja itu kode KPP mana, tapi harusna tahulah ya secara udah 2 taun lapor SPT tahunan

kalaupun suatu saat agan balik lagi ke Indonesia dan menetap lebih dari 183 hari (entah kapan) setelah NPWP diNE/dihapus, kan bisa diaktifkan/diefektifkan kembali atau bisa buat lagi kalau udah dihapus, secara otomatis kalau udah >183 hari balik lagi jadi subjek pajak DN, nah nanti setelah diaktifkan/bikin ulang baru deh agan aktif lagi lapor SPT Tahunan, kalau sumber penghasilan agan cuma dari luar negeri doank dan udah kena potong disana, ya tinggal isi + masukin jumlah yang udah dipotong disana sebagai kredit pajak, pasti nihil, tapi nanti kalau ada penghasilan di dalam negeri, nanti yang dipotong disana dihitung ulang yg boleh jadi Kredit pajak (namanya PPh pasal 24 mana yang tertinggi antara yang dipotong disana sama perhitungan proporsional dengan jumlah seluruh penghasilan dan pajak terutang disini)

kalau memang ada rencana balik ke Indo ya sebaiknya g usah di NE atau di hapus, lapor pajak SPT Tahunan OP sekarang bisa lewat Online koq, bisa dari website DJPonline langsung atau website2 partner kayak online-pajak.com.



1. ini saya bingung, bruto sebulannya 1,3M-1,7M apa 90-100 jutaan? atau typokah? asumsi 1,3M-1,7M setahun. untuk perhitungan pajak pribadi ini tergantung, UDnya itu punya NPWP gak? cm setau ane sih UD itu g perlu di NPWPkan malah rempong, asumsi gak ada, berarti agan memperoleh Fasilitas Perhitungan Pajak Final (well dibilang fasilitas jelek juga kalau rugi tetep bayar pajak), karena berdasarkan PP 46 tahun 2013, peredaran bruto agan <4,8M setahun, artinya bisa menggunakan tarif PPh final untuk PPh 25 setiap bulan sebesar 1% dari penghasilan Bruto

2. lah saya gak tahu 5 juta itu darimana perhitungannya, tanyakan sama pemiliknya dulu gan itu bayar apa, pajak yang setor tiap bulan bisa PPN bisa PPh, cuma saya asumsikan itu setoran PPh 25 masa, karena PPN ga mungkin karena ga ada informasi dari agan kalau dia Pengusaha Kena Pajak (walau bisa jadi kalau dia memilih menjadi PKP), nah seandainya 5 juta itu mengikuti ketentuan fasilitas PP 46 tahun 2013, 1% kan 5 juta, berarti omzetnya per bulan 500 juta donk, setahun berarti 6M donk, jadi g mungkin itu PPh 25 menggunakan PP 46, pasti menggunakan perhitungan angsuran PPh 25 dari SPT tahun sebelumnya menggunakan tarif Pasal 17 UU PPh. Bisa dilihat juga dari setoran E-Billingnya yang dicetak kan ada kode MAP disitu tertulis bayar pajak apa koq.

3. dari UD ke CV? berarti jadi badan hukum donk ya, artinya mesti punya NPWP nanti CVnya, meskipun yang punya satu orang, dan di UU PPh, pembagian keuntungan dari perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham, firma, kongsi, dan persekutuan kepada para anggotanya tidak termasuk Objek Pajak, beda sama PT kalau bagi dividen ada PPh atas Dividen ke pemegang sahamnya

kalau masalah pengakuan aset, berapa yang diserahkan ke CV dari sekutu aktif/pasif bukan merupakan penghasilan bagi CV, bikin CV kan kalau gak salah pakai sertifikat juga, di sertifikat CV pasti ada tertulis berapa aset/modal yang disetor dari pihak anggota CV, kalau pajak kan melihat mana yang harta pribadi mana yang harta perusahaan, nah baik UD maupun CV ini sebenarnya secara perlakuan harta mah sama aja, gak ada perbedaan entitas layaknya PT yang harus ada dompet pribadi dan dompet perusahaan, atau aset pribadi dan perusahaan, kalau CV tidak ada batasan yang jelas mana yang aset pribadi dan CV makanya tanggung jawab pengurus CV itu tak terbatas, gak kayak PT yang terbatas dari persentase saham saja

nah aspek perpajakan CV ya harus punya NPWP, harus mengukuhkan diri sebagai PKP (kalau peredarannya >4,8M) tapi bisa memilih untuk mengukuhkan diri tanpa harus nunggu 4,8M otomatis punya kewajiban terkait PPN, tentu harus menyelenggarakan pembukuan/pencatatan, keuntungan CV, PPhnya dikenakan 1x yaitu saat perhitungan Laba CV di akhir tahun (atau kalau peredaran bruto kurang dari 4,8M bisa pakai fasilitas tarif 1% PP 46/2013), nah untungnya CV daripada PT dari segi pajak ya ketika laba bersih CV setelah pajak dibagikan ke para sekutu, itu gak kena PPh lagi




pertama kerja itu kapan?
g usah mikirin denda gan, kalau ente cuma karyawan, PPh ente (seharusnya) sudah dipotong sama perusahaan agan, kecuali situ sempet pindah kerja di tengah2 tahun (ga mesti tengah2 di bulan Juni juga ngertilah maksudnya) pasti ada kurang bayar di akhir tahun

denda agan paling denda ga lapor SPT Tahunan aja, kecil koq cuma 100 ribu, ya kalau agan kerja dari tahun 1983 di perusahaan yang sama, sejak UU KUP muncul, kan g nyampe ratusan juta juga, itu juga kalau ARnya sudi nyetak STP, masukin amplop, ngirim surat cinta ke agan dan nagih

jadi ya lapor2 aja tahun depan untuk tahun buku 2017 ini, lampirkan Bupot 1721-A1/A2 agan yang diperoleh dari kantor agan, entah ente PNS (terlalu lw gan kalau iya) atau swasta, tulis harta yang dimiliki di akhir tahun 2016 berapa, jangan lupa juga sisa utang (termasuk sisa kreditan mobil/motor/rumah jangan masuk ke harta dulu kalau belom lunas) dimasukin juga




Si A jual rumah/apartemen = dikenakan PPh 4 Ayat 2

Si pembeli rumah/apartemen = dikenakan BPHTB ketika balik nama sertifikat

siapa yang bayar? silakan dinegosiasikan antar A dan B, g harus si A dipotong B PPh 4 ayat 2, bisa aja si A maunya terima bersih, pajaknya si B yang nanggung, atau sebaliknya, semua yang nanggung A termasuk BPHTBnya kewajiban si B ketika balik nama sertifikat, kalau misalnya si B maunya terima jadi


btw, koq ada 2 Thread sejenis ya? ada yang di Sticky, ada yang ini


enggak gan.. ane ms orang indo..

ane cuman kerja doank di LN.. tapi masih tetep balik indo minimal setahun sekali..

2 taun sebelumnya ane lapor SPT via online sih.. gak pernah ke kantor pajak.. emoticon-Big Grin

terima kasih gan jawabannya..

ane takutnya misal suatu saat ane mau beli rumah atau mobil atau apa2 di indo, dipermasalahin karena SPT ane selalu lapor 0..

terus karena penghasilan ane lapor nihil, ada masalah gak kalau laporan harta ane bertambah?
0 0
0
Pojok Tanya Jawab Masalah Pajak Sepuas-puasnya (fast respone)
12-12-2017 15:36
Quote:Original Posted By h.Rz


enggak gan.. ane ms orang indo..

ane cuman kerja doank di LN.. tapi masih tetep balik indo minimal setahun sekali..

2 taun sebelumnya ane lapor SPT via online sih.. gak pernah ke kantor pajak.. emoticon-Big Grin

terima kasih gan jawabannya..

ane takutnya misal suatu saat ane mau beli rumah atau mobil atau apa2 di indo, dipermasalahin karena SPT ane selalu lapor 0..

terus karena penghasilan ane lapor nihil, ada masalah gak kalau laporan harta ane bertambah?


hukum pajak kita gak mengenal asas kelahiran gan, walaupun secara identitas agan masih WNI
tapi kalau sudah menetap di LN >183 hari, berarti agan udah berubah status jadi Subjek Pajak LN
samalah kaya Expat yang tadinya kerja di Indo terus pergi pulang ke negaranya abis proyek selesai ga balik2 lagi dan udah sempet kerja >183 hari dalam satu tahun

ga masalah donk gan, kan intinya sudah dipotong di luar negeri, dan status agan juga SPLN, para karyawan2 di Indonesia yang cuma kerja di 1 pemberi kerja mau Take Home Paynya cuma 1 juta atau 1 triliun setaun juga pasti nihil koq SPT tahunannya (kalau perusahaannya bener2 memotong pajak/menanggung pajak dan memberi bukti potong)

jadi pertanyaan itu kalau penghasilannya 5 juta, tapi bisa beli rumah mobil kapal pesiar, nah artinya ada penghasilan yang disembunyikan bin kurang kerjaan tu orang terlalu polos, atau korban koruptor2 yang mengatasnamakan harta mereka ke sopir/pembantu eh dilaporkan atas harta tsb di SPT

lapor 0 juga bukan berarti lapor kosong melompong lo gan, kolom isian penghasilan luar negeri tetep ada, sama jumlah yang dipotong, cuma ya nihil.

btw, CMIIW ya suhu2 Pajak dan Ex-Rekan Sejawat DJP

emoticon-Wakaka emoticon-Wkwkwk
0 0
0
Pojok Tanya Jawab Masalah Pajak Sepuas-puasnya (fast respone)
12-12-2017 16:11
Quote:Original Posted By KyraAltair



ke depannya agan ada rencana balik kerja di Indonesia gak?
udah 3 tahun berarti sudah masuk kategori meninggalkan Indonesia untuk selama2nya, wkwkwkwk
ya kalau sudah melewati time test 183 hari dalam 1 tahun buku, berarti saat ini agan udah menjadi subjek pajak luar negeri, selamat yah

emoticon-Ultah

kalau udah jadi subjek pajak LN ya mending di non-efektifkan atau ditutup saja NPWPnya, bisa minta tolong ke keluarga agan di Indonesia ke KPP tempat agan terdaftar, kalau gtau KPP mana lihat 3 kode sebelum 000 terakhir di NPWP agan (-411.000, 411 = KPP Serpong), google aja itu kode KPP mana, tapi harusna tahulah ya secara udah 2 taun lapor SPT tahunan

kalaupun suatu saat agan balik lagi ke Indonesia dan menetap lebih dari 183 hari (entah kapan) setelah NPWP diNE/dihapus, kan bisa diaktifkan/diefektifkan kembali atau bisa buat lagi kalau udah dihapus, secara otomatis kalau udah >183 hari balik lagi jadi subjek pajak DN, nah nanti setelah diaktifkan/bikin ulang baru deh agan aktif lagi lapor SPT Tahunan, kalau sumber penghasilan agan cuma dari luar negeri doank dan udah kena potong disana, ya tinggal isi + masukin jumlah yang udah dipotong disana sebagai kredit pajak, pasti nihil, tapi nanti kalau ada penghasilan di dalam negeri, nanti yang dipotong disana dihitung ulang yg boleh jadi Kredit pajak (namanya PPh pasal 24 mana yang tertinggi antara yang dipotong disana sama perhitungan proporsional dengan jumlah seluruh penghasilan dan pajak terutang disini)

kalau memang ada rencana balik ke Indo ya sebaiknya g usah di NE atau di hapus, lapor pajak SPT Tahunan OP sekarang bisa lewat Online koq, bisa dari website DJPonline langsung atau website2 partner kayak online-pajak.com.



1. ini saya bingung, bruto sebulannya 1,3M-1,7M apa 90-100 jutaan? atau typokah? asumsi 1,3M-1,7M setahun. untuk perhitungan pajak pribadi ini tergantung, UDnya itu punya NPWP gak? cm setau ane sih UD itu g perlu di NPWPkan malah rempong, asumsi gak ada, berarti agan memperoleh Fasilitas Perhitungan Pajak Final (well dibilang fasilitas jelek juga kalau rugi tetep bayar pajak), karena berdasarkan PP 46 tahun 2013, peredaran bruto agan <4,8M setahun, artinya bisa menggunakan tarif PPh final untuk PPh 25 setiap bulan sebesar 1% dari penghasilan Bruto

2. lah saya gak tahu 5 juta itu darimana perhitungannya, tanyakan sama pemiliknya dulu gan itu bayar apa, pajak yang setor tiap bulan bisa PPN bisa PPh, cuma saya asumsikan itu setoran PPh 25 masa, karena PPN ga mungkin karena ga ada informasi dari agan kalau dia Pengusaha Kena Pajak (walau bisa jadi kalau dia memilih menjadi PKP), nah seandainya 5 juta itu mengikuti ketentuan fasilitas PP 46 tahun 2013, 1% kan 5 juta, berarti omzetnya per bulan 500 juta donk, setahun berarti 6M donk, jadi g mungkin itu PPh 25 menggunakan PP 46, pasti menggunakan perhitungan angsuran PPh 25 dari SPT tahun sebelumnya menggunakan tarif Pasal 17 UU PPh. Bisa dilihat juga dari setoran E-Billingnya yang dicetak kan ada kode MAP disitu tertulis bayar pajak apa koq.

3. dari UD ke CV? berarti jadi badan hukum donk ya, artinya mesti punya NPWP nanti CVnya, meskipun yang punya satu orang, dan di UU PPh, pembagian keuntungan dari perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham, firma, kongsi, dan persekutuan kepada para anggotanya tidak termasuk Objek Pajak, beda sama PT kalau bagi dividen ada PPh atas Dividen ke pemegang sahamnya

kalau masalah pengakuan aset, berapa yang diserahkan ke CV dari sekutu aktif/pasif bukan merupakan penghasilan bagi CV, bikin CV kan kalau gak salah pakai sertifikat juga, di sertifikat CV pasti ada tertulis berapa aset/modal yang disetor dari pihak anggota CV, kalau pajak kan melihat mana yang harta pribadi mana yang harta perusahaan, nah baik UD maupun CV ini sebenarnya secara perlakuan harta mah sama aja, gak ada perbedaan entitas layaknya PT yang harus ada dompet pribadi dan dompet perusahaan, atau aset pribadi dan perusahaan, kalau CV tidak ada batasan yang jelas mana yang aset pribadi dan CV makanya tanggung jawab pengurus CV itu tak terbatas, gak kayak PT yang terbatas dari persentase saham saja

nah aspek perpajakan CV ya harus punya NPWP, harus mengukuhkan diri sebagai PKP (kalau peredarannya >4,8M) tapi bisa memilih untuk mengukuhkan diri tanpa harus nunggu 4,8M otomatis punya kewajiban terkait PPN, tentu harus menyelenggarakan pembukuan/pencatatan, keuntungan CV, PPhnya dikenakan 1x yaitu saat perhitungan Laba CV di akhir tahun (atau kalau peredaran bruto kurang dari 4,8M bisa pakai fasilitas tarif 1% PP 46/2013), nah untungnya CV daripada PT dari segi pajak ya ketika laba bersih CV setelah pajak dibagikan ke para sekutu, itu gak kena PPh lagi




pertama kerja itu kapan?
g usah mikirin denda gan, kalau ente cuma karyawan, PPh ente (seharusnya) sudah dipotong sama perusahaan agan, kecuali situ sempet pindah kerja di tengah2 tahun (ga mesti tengah2 di bulan Juni juga ngertilah maksudnya) pasti ada kurang bayar di akhir tahun

denda agan paling denda ga lapor SPT Tahunan aja, kecil koq cuma 100 ribu, ya kalau agan kerja dari tahun 1983 di perusahaan yang sama, sejak UU KUP muncul, kan g nyampe ratusan juta juga, itu juga kalau ARnya sudi nyetak STP, masukin amplop, ngirim surat cinta ke agan dan nagih

jadi ya lapor2 aja tahun depan untuk tahun buku 2017 ini, lampirkan Bupot 1721-A1/A2 agan yang diperoleh dari kantor agan, entah ente PNS (terlalu lw gan kalau iya) atau swasta, tulis harta yang dimiliki di akhir tahun 2016 berapa, jangan lupa juga sisa utang (termasuk sisa kreditan mobil/motor/rumah jangan masuk ke harta dulu kalau belom lunas) dimasukin juga




Si A jual rumah/apartemen = dikenakan PPh 4 Ayat 2

Si pembeli rumah/apartemen = dikenakan BPHTB ketika balik nama sertifikat

siapa yang bayar? silakan dinegosiasikan antar A dan B, g harus si A dipotong B PPh 4 ayat 2, bisa aja si A maunya terima bersih, pajaknya si B yang nanggung, atau sebaliknya, semua yang nanggung A termasuk BPHTBnya kewajiban si B ketika balik nama sertifikat, kalau misalnya si B maunya terima jadi


btw, koq ada 2 Thread sejenis ya? ada yang di Sticky, ada yang ini


paling adanya bupot dari persh yg 2017 aja gan...yg lalu lalu uda susah mintanya lah...hehe itu gpp kali ya ?


0 0
0
Pojok Tanya Jawab Masalah Pajak Sepuas-puasnya (fast respone)
13-12-2017 23:30
[Tanya] curhat Tentang harga pasar wajar tanah atau bangunan

Permisi gan... Ane secara kebetulan dan tidak sengaja kebeli rumah... tapi .....

Pada akhir februari 2017 ane beli sebidang tanah seharga 50jt dari si B. Ketika nego2 harga terungkaplah bahwa si B memang sedang benar2 membutuhkan uang untuk operasi jantung dan secara kebetulan adik kandung saya dengan anak si B ternyata 1 kampus di JKT dan berteman baik... Ngobrol ngalor ngidul dengan si B. Si B mengatakan ingin jual mobilnya untuk tambahan operasi nya. Berhubung sudah saling kenal dan percaya saya tidak keberatan meminjamkan uang saya 150jt pada Maret 2017 karena sudah sangat mendesak. Dan beliau berjanji mengembalikan jika ada salah satu rumah beliau yang laku dijual nanti setelah operasi...

November 2017 saya butuh uang sedangkan si B belum punya uang. Sedangkan jika beliau gadaikan sertifikat rumahnya. Bank tidak bisa memberi kredit lagi. Dan beliau mengatakan salah satu rumahnya itu untuk saya saja sebagai pembayar 150 juta hutangnya sekaligus rasa terima kasihnya untuk saya karena sangat terbantu, sedangkan saya butuh uang bukan butuh sertifikat. Maka saya berniat menggadaikan sertifikat itu ke bank untuk memperoleh uang. Tapi bank ingin dibalik nama dulu sertifikatnya

Masalahnya... Ketika pengurusan AJB dan validasi PPh di KPP. Pihak KPP mengatakan harga 150 jt tersebut belum mencerminkan harga pasar wajar tanah yang menurut petugas 450jt.

Sedangkan si B bersikukuh tetap 150jt. Malah ngoceh2 suruh aja orang pajaknya beli seharga segitu nanti uangmu saya kasih 250jt kalo laku segitu. Si B sudah tua dan emosional sehingga menguasakan pengurusan validasi ke saya.

Yg ingin saya tanyakan
1. harga pasar wajar 450jt dapat darimana?
2. Apa yg harus saya lakukan. Disatu sisi saya sebenarnya bersedia saja membayar kekurangan pajak trsbt karena ketika memberikan sertifikat itu si B sudah bilang pajak balik nama kamu tanggung sendiri. Tapi kan saya membeli itu bukan karena banyak uang tapi pinjam uang ke bank. Bahkan saya sendiri pun sudah menawarkan ke beberapa pihak agar beli rumah. Tapi belum ada yg minat.
Dan lagi kami benar2 transaksi 150jt. Bisa dibuktikan dengan RTGS di bulan maret 2017 sebesar 150jt.

Minta sarannya suhu2 disini... Terima kasih
0 0
0
Pojok Tanya Jawab Masalah Pajak Sepuas-puasnya (fast respone)
16-12-2017 01:47
Mohon Pencerahannya , saya belanja on line diluar negeri pas dapat diskon black Friday harga barangnya $77 (Rp.1.060.000).
seminggu sebelum barang kerumah dapat telpon untuk konfirmasi kalo betul barang saya ,3 hari setelah itu barang datang dibawa JNE katanya dari UPS Jakarta dan saya disuruh bayar sebesar Rp.890.000 .

Terus saya tolak karena kemahalan n langsung telpon UPS Jakarta minta penjelasan biaya apa itu karena setahu saya kalo tax barang itu pake rumus berapa persen dari harga barang.
Tapi CS nya kagak bisa kasi jawaban yg memuaskan ,terus saya minta invoice nya sudah satu Minggu tdk dikirim2 lewat email katanya langsung mau dikirim.

Ada yg bisa kasi solusi mas bro , soalnya barang saya kagak jelas statusnya n gue udah bayar dari penjual nya , masa tax sampe 90% dari harga barang
0 0
0
Pojok Tanya Jawab Masalah Pajak Sepuas-puasnya (fast respone)
19-12-2017 11:22
Quote:Original Posted By OriginaliVespa
[Tanya] curhat Tentang harga pasar wajar tanah atau bangunan

Permisi gan... Ane secara kebetulan dan tidak sengaja kebeli rumah... tapi .....

Pada akhir februari 2017 ane beli sebidang tanah seharga 50jt dari si B. Ketika nego2 harga terungkaplah bahwa si B memang sedang benar2 membutuhkan uang untuk operasi jantung dan secara kebetulan adik kandung saya dengan anak si B ternyata 1 kampus di JKT dan berteman baik... Ngobrol ngalor ngidul dengan si B. Si B mengatakan ingin jual mobilnya untuk tambahan operasi nya. Berhubung sudah saling kenal dan percaya saya tidak keberatan meminjamkan uang saya 150jt pada Maret 2017 karena sudah sangat mendesak. Dan beliau berjanji mengembalikan jika ada salah satu rumah beliau yang laku dijual nanti setelah operasi...

November 2017 saya butuh uang sedangkan si B belum punya uang. Sedangkan jika beliau gadaikan sertifikat rumahnya. Bank tidak bisa memberi kredit lagi. Dan beliau mengatakan salah satu rumahnya itu untuk saya saja sebagai pembayar 150 juta hutangnya sekaligus rasa terima kasihnya untuk saya karena sangat terbantu, sedangkan saya butuh uang bukan butuh sertifikat. Maka saya berniat menggadaikan sertifikat itu ke bank untuk memperoleh uang. Tapi bank ingin dibalik nama dulu sertifikatnya

Masalahnya... Ketika pengurusan AJB dan validasi PPh di KPP. Pihak KPP mengatakan harga 150 jt tersebut belum mencerminkan harga pasar wajar tanah yang menurut petugas 450jt.

Sedangkan si B bersikukuh tetap 150jt. Malah ngoceh2 suruh aja orang pajaknya beli seharga segitu nanti uangmu saya kasih 250jt kalo laku segitu. Si B sudah tua dan emosional sehingga menguasakan pengurusan validasi ke saya.

Yg ingin saya tanyakan
1. harga pasar wajar 450jt dapat darimana?
2. Apa yg harus saya lakukan. Disatu sisi saya sebenarnya bersedia saja membayar kekurangan pajak trsbt karena ketika memberikan sertifikat itu si B sudah bilang pajak balik nama kamu tanggung sendiri. Tapi kan saya membeli itu bukan karena banyak uang tapi pinjam uang ke bank. Bahkan saya sendiri pun sudah menawarkan ke beberapa pihak agar beli rumah. Tapi belum ada yg minat.
Dan lagi kami benar2 transaksi 150jt. Bisa dibuktikan dengan RTGS di bulan maret 2017 sebesar 150jt.

Minta sarannya suhu2 disini... Terima kasih

anjaayyyy beli rumah pake kebetulan sama gak sengaja

udah kayak beli gorengan, iseng2 nyobain

emoticon-Wakaka emoticon-Wkwkwk

harga pasar wajar itu ada penghitungannya gan, biasanya pakai jasa Penilai, tapi DJP sendiri ga butuh jasa Penilai dari luar karena, PKN STAN salah satunya swasembada Penilai, terlebih dulu PBB P2 belum dialihkan ke Pemda, jadi penilaian NJOP itu para Penilai2 dari DJP, tentu ada krtieria2nya yang tentu ga sembarangan, secara saya kebetulan bukan spesialisasi Penilai dulu jadi g begitu tahu, ibaratnya Penilai itu orang Teknik Sipilnya DJP, ilmu pastinya DJP

untuk BPHTB itu enggak melihat Nilai Jual saja mas bro, tapi mana yang lebih besar antara Nilai Jual Pasar Wajar, atau Nilai Jual Real, kan bisa2 aja untuk menghindari BPHTB jual rumah yang secara NJOP di SPPT PBBnya 1 miliar, eh diakalin ngakunya dijual cuma 100 juta di Akta Jual Beli, nah berhubung emang real dijual 150 juta, tapi secara NJOP ntu rumah harganya 450 juta, ya yang dijadikan dasar perhitungan BPTHTBnya tetep 450 juta bro

ane tahu sih ente lagi btuh duit, udah gitu jual rumah mesti di balik nama dulu baru Bank mau kasih pinjeman, tapi ya apa boleh buat, ente harus modal pinjeman dulu

perhitungan BPHTB itu 5% (NJOP - NJOPTKP), nah NJOP disini 450 juta karena gedean NJOP SPPT PBB, untuk NJOPTidakKenaPajak itu tergantung daerah gan, bisa di google aja daerah ente dimana, anggap saja NJOPTKP di Jakarta 15 Juta, berarti yang harus agan bayar BPHTBnya sekitar 20 jutaan, bisalah gadai motor or something dulu sampe dapat kredit dari bank

emang sih ini transaksinya agak rumit karena gak beneran beli rumah, karena kalau beneran beli rumah itu si penjual kena PPh 4 ayat 2 dulu, jadi ga 150 juta dapetnya

kalau udah gini ya mau gmau agan mesti modal, karena pihak seller jg lepas tangan full


Quote:Original Posted By rindink81
Mohon Pencerahannya , saya belanja on line diluar negeri pas dapat diskon black Friday harga barangnya $77 (Rp.1.060.000).
seminggu sebelum barang kerumah dapat telpon untuk konfirmasi kalo betul barang saya ,3 hari setelah itu barang datang dibawa JNE katanya dari UPS Jakarta dan saya disuruh bayar sebesar Rp.890.000 .

Terus saya tolak karena kemahalan n langsung telpon UPS Jakarta minta penjelasan biaya apa itu karena setahu saya kalo tax barang itu pake rumus berapa persen dari harga barang.
Tapi CS nya kagak bisa kasi jawaban yg memuaskan ,terus saya minta invoice nya sudah satu Minggu tdk dikirim2 lewat email katanya langsung mau dikirim.

Ada yg bisa kasi solusi mas bro , soalnya barang saya kagak jelas statusnya n gue udah bayar dari penjual nya , masa tax sampe 90% dari harga barang


ini beli lewat platform apa gan, Ebay?
emoticon-Bingung

biasanya kalau belanja online udah ada perkiraan berapa total yang mesti dibayar kalau cuma sampai ke pelabuhan
seharusnya agan pilih opsi yang sampe ke rumah, jadi full diurusin, emang lebih mahal tapi ane yakin ga sampe segitu

normally kan ngimpor barang itu CIF, Custom, Insurance and Freight, yg jelas g mungkin sampe 90% harga barang, karena maennya persentase yang artinya juga semakin kecil nilai barang ya semakin kecil juga CIFnya, kecuali ada biaya-biaya flat itu yang mesti diperhatikan
0 0
0
Pojok Tanya Jawab Masalah Pajak Sepuas-puasnya (fast respone)
20-12-2017 19:18
........... ga jadi...........................................................................
Diubah oleh xXSiBebekIjoXx
0 0
0
Pojok Tanya Jawab Masalah Pajak Sepuas-puasnya (fast respone)
01-01-2018 14:46
Gan ane mau tanya dunk yang di perlukan untuk laporan spt tahunan badan apa ajah ?
Terus flow chart nya seperti apa ?
Thanks
Diubah oleh cweetiepie
0 0
0
Pojok Tanya Jawab Masalah Pajak Sepuas-puasnya (fast respone)
05-01-2018 11:47
Quote:Original Posted By cweetiepie
Gan ane mau tanya dunk yang di perlukan untuk laporan spt tahunan badan apa ajah ?
Terus flow chart nya seperti apa ?
Thanks


maksudnya apa nih yg diperlukan?

data Laporan Keuangan?

emoticon-Bingung

kalau selain Laporan Keuangan berarti dokumen2 Kredit Pajak dalam negeri/luar negeri
0 0
0
Pojok Tanya Jawab Masalah Pajak Sepuas-puasnya (fast respone)
05-01-2018 17:11

Transaksi antar Wapu

Halo gan, saya minta bantuannya dong
Tempat kerja ane (BUMN) terlibat transaksi pembelian JKP dengan salah satu BUMN. Nah yg pengen saya tanyakan adalah siapa yang berhak memungut dan menyetor PPN ?
Dulu pernah dikasih faktur 010.xxxxx dan BUMN pemberi jasa yang nyetor. Tapi untuk transaksi terbaru, dikasihnya faktur pajak 030.xxxxx.
Saya bingung gan mana yang bener, trus apakah ada dampak terhadap pajak masukan di tempat kerja ane?
Oiya semua transaksi nilainya diatas 10jt.
Terima kasih atas respon agan2 sekalian.
0 0
0
Pojok Tanya Jawab Masalah Pajak Sepuas-puasnya (fast respone)
06-01-2018 11:39
Numpang tanya donk gan soal pajak badan usaha.
Boleh ga sih kalo satu toko terdiri dari CV PKP DAN CV non-PKP gan?
Jadi ceritanya omzet sudah +4,8M nih, tapi kalo PKP kan harus mungut PPN, jadi butuh pajak masukan, masalahnya supplier ane ada juga yang dari non-PKP gan, alias ga ada pajak masukannya.
Niatnya pembelian dan penjualan barang dari supplier PKP masuk ke pembukuan CV PKP
sementara pembelian dan penjualan barang dari supplier non-PKP masuk ke pembukuan CV yang Non-PKP.

Nah kalo ane bagi jadi seperti itu boleh ga sih gan?
0 0
0
Pojok Tanya Jawab Masalah Pajak Sepuas-puasnya (fast respone)
08-01-2018 15:24
Permisi gan mau tnya ya( maaf klau pertanyaannya agak konyol)
1.Sebetulnya pajak yg kita byar itu untuk periode berjalan atau tahun sebelumnya?jadi sekarang tahun 2018 kita byar pajak untuk penghasilan selama tahun 2017 kah?
2.Berkaitan dengan pertanyaan diatas klau g slah pajak itu byarnya boleh diangsur ya?jadi penghasilan selama sethn diangsur tiap bulannya apakah benar?
3.bolehkah NPWP pribadi dan NPWP badan menggunakan alamat rumah yang sama?
0 0
0
Pojok Tanya Jawab Masalah Pajak Sepuas-puasnya (fast respone)
08-01-2018 15:49
Permisi numpang tanya gan.

Begini, mertua saya yang sudah usia pensiun akan mendapatkan pengembalian hutang dari saudaranya dalam bentuk emas batangan senilai kurang lebih Rp 3 milyar. Nah, dia ingin menanyakan apakah masih harus membayar pajak untuk emas tsb? Sebab, dia tidak sudah tidak bekerja (karena usia pensiun) dan tidak memiliki NPWP. Jika memang harus membayar pajak, jenis pajak apakah itu dan bagaimana aturan secara perincian jumlah yang harus dibayar?

Terima kasih atas pencerahannya.

0 0
0
Pojok Tanya Jawab Masalah Pajak Sepuas-puasnya (fast respone)
11-01-2018 19:08
_______
Diubah oleh nomore07
0 0
0
Pojok Tanya Jawab Masalah Pajak Sepuas-puasnya (fast respone)
17-01-2018 09:57
Quote:Original Posted By mbombod
Halo gan, saya minta bantuannya dong
Tempat kerja ane (BUMN) terlibat transaksi pembelian JKP dengan salah satu BUMN. Nah yg pengen saya tanyakan adalah siapa yang berhak memungut dan menyetor PPN ?
Dulu pernah dikasih faktur 010.xxxxx dan BUMN pemberi jasa yang nyetor. Tapi untuk transaksi terbaru, dikasihnya faktur pajak 030.xxxxx.
Saya bingung gan mana yang bener, trus apakah ada dampak terhadap pajak masukan di tempat kerja ane?
Oiya semua transaksi nilainya diatas 10jt.
Terima kasih atas respon agan2 sekalian.

transaksi antar Wapu dengan kode 030
PPN yang setor yang beli gan
penjual dianggap seperti rekanan biasa, jadi seolah2 seperti PKP penjual non Wapu
jadi kalau perusahaan ente yang beli, brarti ente yang setor, jangan dikasih duit PPNnya ke lawan transaksi Wapu, mereka yang keder tar

Quote:Original Posted By dtsj
Numpang tanya donk gan soal pajak badan usaha.
Boleh ga sih kalo satu toko terdiri dari CV PKP DAN CV non-PKP gan?
Jadi ceritanya omzet sudah +4,8M nih, tapi kalo PKP kan harus mungut PPN, jadi butuh pajak masukan, masalahnya supplier ane ada juga yang dari non-PKP gan, alias ga ada pajak masukannya.
Niatnya pembelian dan penjualan barang dari supplier PKP masuk ke pembukuan CV PKP
sementara pembelian dan penjualan barang dari supplier non-PKP masuk ke pembukuan CV yang Non-PKP.

Nah kalo ane bagi jadi seperti itu boleh ga sih gan?

kalau kayak gitu artinya ada 2 entitas, 2 NPWP, yang satu PKP satu lagi belum
omzet yang 4,8M+ ini CV yang mana, kalau ada 2 CV berarti ada 2 penghasilan, mana bisa 1 penghasilan tp 2 CV
kalau kasusnya 1 toko 1 penghasilan tapi 2 entitas itu sudah gugur semua pertanyaan agan, alias enggak bisa

kalau mau 2 CV ya berarti harus ada 2 transaksi penjualan dari 2 CV berbeda, misal saya asumsikan ente toko Elektronik, CV 1 misalnya khusus jualan Komputer + Laptop, CV 2 khusus jualan Aksesorisnya, otomatis nanti ada struk/kwitansi dengan nama CV berbeda, tokonya sih satu tempat gak masalah, itu baru bisa

lagian masalahnya dimana y gan kalau ada supplier yang non PKP, spertinya agan blom ngerti konsep PPN, kalau ente jualan PPN itu bukan beban agan, justru Pajak Masukan yang jadi beban agan, kalau PPN Keluaran kan dibebankan ke pembeli, ente jual barang 100 itu udah ada untung, pembeli bayar ke agan 110, 10nya PPN yg mesti ente setor ke kas negara


Quote:Original Posted By Benny18
Permisi gan mau tnya ya( maaf klau pertanyaannya agak konyol)
1.Sebetulnya pajak yg kita byar itu untuk periode berjalan atau tahun sebelumnya?jadi sekarang tahun 2018 kita byar pajak untuk penghasilan selama tahun 2017 kah?
2.Berkaitan dengan pertanyaan diatas klau g slah pajak itu byarnya boleh diangsur ya?jadi penghasilan selama sethn diangsur tiap bulannya apakah benar?
3.bolehkah NPWP pribadi dan NPWP badan menggunakan alamat rumah yang sama?

1. Bahas pajak apa gan, banyak jenisnya, kalau bahas PPh 29 atau Kurang Bayar pada saat akhir tahun SPT Tahunan, itu tahun sebelumnya, kaya sekarang 2018, itu laporan tahun 2017, bayar PPhnya (kalau KB) ya PPh 29 2017
2. itu Angsuran PPh 25, PPh 29 yang ente bayar (andai hasilnya KB) itu hasil perhitungan PPh dari penghasilan selama tahun 2017, dikurangi berapa yang sudah ente angsur selama 2017, hasilnya PPh 29, darimana muncul angsuran tsb? nah itu muncul dari hasil perhitungan ketika ente laporan SPT tahun 2016, begitu juga sekarang ente mau lapor Tahun 2017, nah angsuran 2018 itu berdasarkan hasil perhitungan dari laporan SPT 2017
3. Bebas, selama memang dat SIUP dll saat daftar NPWP badan memang sama, kan g ada larangannya ente punya kantor segede Indofood tower, terus bikin penthouse di puncaknya

Quote:Original Posted By awesomelongdong
Permisi numpang tanya gan.

Begini, mertua saya yang sudah usia pensiun akan mendapatkan pengembalian hutang dari saudaranya dalam bentuk emas batangan senilai kurang lebih Rp 3 milyar. Nah, dia ingin menanyakan apakah masih harus membayar pajak untuk emas tsb? Sebab, dia tidak sudah tidak bekerja (karena usia pensiun) dan tidak memiliki NPWP. Jika memang harus membayar pajak, jenis pajak apakah itu dan bagaimana aturan secara perincian jumlah yang harus dibayar?

Terima kasih atas pencerahannya.


Emas Batangan PPh 22nya dibebankan ke Penjual/Produsen, jadi udah dibayarkan ketika si penjual emas batangannya jual ke saudaranya mertua ente, nah kalau buat mertua ente sendiri kalau dalam bentuk emas batangan y g ada pajaknya lagi secara itu cuma bayar hutang, artinya kan dulu mertua ente punya harta 3M yang udah dilaporkan, entah dalam bentuk cash atau harta lancar lain, trus dipinjamkan (gak hilang donk, beda sama dijual) sekarang dibalikin dalam bentuk emas, artinya kan ga ada tambahan penghasilan apapun, IMHO
0 0
0
Pojok Tanya Jawab Masalah Pajak Sepuas-puasnya (fast respone)
20-01-2018 20:45
halo gan mau tanya saya kan ada rekening bank satu yang belom terlapor di penghasilan bruto bulanan dan jika saya melapor pada saat spt tahunan apakah ada denda yang harus di bayar
0 0
0
Pojok Tanya Jawab Masalah Pajak Sepuas-puasnya (fast respone)
22-01-2018 08:28
Quote:Original Posted By suryahalim
halo gan mau tanya saya kan ada rekening bank satu yang belom terlapor di penghasilan bruto bulanan dan jika saya melapor pada saat spt tahunan apakah ada denda yang harus di bayar


kalo melaporkan di tahun pajak selanjutnya tidak akan kena denda gan.
tapi apabila melakukan pembetulan sendiri/di ketahui oleh pajak maka akan dikenakan denda emoticon-Big Grin pasal 8 KUP
CMIIW emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin
0 0
0
Halaman 25 dari 38
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia