alexa-tracking
others
Batal
link has been copied
0
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a32b2f59e74043b378b4567/city-of-eternal-conflicts
“I have determined that it is time to officially recognize Jerusalem as the capital of Israel,” Yep, Unca Donald done it again. Dalam short speech di White House beberapa hari lalu, secara terbuka Presiden USA ke-45 ini kembali mengundang protes dunia lewat pernyataan kontroversialnya. Shocking, but not unforeseen. Unca Donald secara sepihak mengungkapkan salah satu pernyataan paling gilanya d
Lapor Hansip
15-12-2017 00:20

City of Eternal Conflicts

“I have determined that it is time to officially recognize Jerusalem as the capital of Israel,”

Yep, Unca Donald done it again. Dalam short speech di White House beberapa hari lalu, secara terbuka Presiden USA ke-45 ini kembali mengundang protes dunia lewat pernyataan kontroversialnya. Shocking, but not unforeseen. Unca Donald secara sepihak mengungkapkan salah satu pernyataan paling gilanya dalam dua tahun ini.

Di hari Rabu waktu Washington, Unca Donald mengumumkan kalau dirinya -dan secara langsung, US- mendukung pemindahan ibukota Israel dari Tel Aviv ke Jerusalem. Hal ini sudah lama diungkapkan pihak Israel, tapi selalu gagal karena ditentang dunia. Dengan pernyataan Trump, efeknya langsung terasa.


Hal ini merubah sejarah 70 tahun US yang gagal mengenali Jerusalem sebagai ibukota Israel. Di hari yang sama, Trump menandatangani dokumen bahwa US tidak akan memindahkan lokasi kedutaan besar mereka ke Jerusalem dalam rentang waktu 6 bulan kedepan.

Tapi setelah 6 bulan, sudah bisa dipastikan kedubes US akan berada di Jerusalem. Dan setelahnya, well… peace atau bahkan treaty untuk konflik Palestina-Israel tidak akan pernah berakhir, untuk menemui titik temu sekalipun. Al-Quds menjadi tidak begitu suci lagi.

Secara politik, memindahkan kedubes negara manapun ke Jerusalem adalah tindakan beresiko. Sebagai kota suci yang penuh dengan intrik dan konflik, bahkan saat ini pun Jerusalem bisa dibilang stateless city, alias tidak ada sebagai bagian dari negara manapun.

Baik Palestina dan Israel sama-sama mengklaim Jerusalem. Israel memandang Jerusalem sebagai “ibukota asli” mereka sejak ribuan tahun lalu, sementara Palestina menganggap Jerusalem Timur -sebagai hasil dari UN Security Council Resolution 242- sebagai ibukota negara Palestina masa depan.

Setelah perang Arab-Israel berakhir pada 1948, UN menempatkan Jerusalem kedalam zona internasional. Selama perang, Israel mengambil bagian barat Jerusalem, baru pada 1967 Jerusalem Timur juga berada dalam administratif Israel, meski tidak pernah diakui resmi oleh UN.

Jerusalem in History
Sejarah Jerusalem tidaklah sebentar, bahkan bisa dibilang merentang sepanjang sejarah Timur Tengah, sama seperti sejarah kebudayaan-kebudayaan kuno. Kota suci bagi tiga agama samawi, plus kota penting dalam sejarah dunia. Juga, sekarang ini, simbol perdamaian.

Banyak dokumenter tentang Jerusalem yang bisa ditemukan, ada dari BBC dan Natgeo -dua sumber yang selalu recommended- aku akan merekomendasikan Jerusalem yang dinarasikan oleh aktor Sherlock Holmes dan Doctor Strange; Benedict Cumberbatch.


Terlepas dari sinematografinya yang superb, dokumenter yang menggambarkan Jerusalem dari sudut pandang tiga remaja, tentang perbedaan yang ada dan arti Jerusalem bagi mereka dan keluarga ini lack of depth. Dalam artian tidak digambarkan gesekan antara tiga agama, yang mana pasti ada.

Fokus pada penggambaran masing-masing kepercayaan, film yang mungkin ditujukan pada anak sekolah atau untuk pariwisata ini memang tidak salah, karena sejauh yang kutahu, penggambaran sejarah dan realita di Jerusalem yang akurat. Jika kalian ingin melihat dokumenter ini, di Youtube ada.

Peran penting Jerusalem yang secara harfiah dibangun dari kota yang hancur tiap kali terjadi pengambilalihan kekuasaan tidak bisa dipisahkan dari tiga agama Samawi. Karena sejarahnya, lebih dari 40 kali Jerusalem berpindah tangan, dan karena itu, banyak pihak yang mengklaim hak atas kota ini.

Mengingat bukti sejarah, aku tidak berpendapat hanya satu pihak saja yang layak untuk mendapat hak atas Jerusalem. Apalagi jika membicarakan soal agama, mengingat tiga agama menganggap kota ini sebagai kota suci. Terutama Temple Mount, area tersuci di Jerusalem.


Bagi kaum Yahudi, Temple Mount menjadi tempat dimana Adam diciptakan dari debu tempat ini. Tempat dimana Abraham diuji untuk mengorbankan putranya, David membawa Ark of the Covenant, dan tempat dimana King Solomon membangun First Temple. Juga Western Wall, bagian tersisa dari Second Temple dan kini menjadi situs tersuci bagi Yahudi.

Bagi penganut Kristen, Jerusalem tidak kalah penting karena terdapat dua situs paling suci. Yaitu Church of Holy Sepulchre yang di dalamnya terdapat rock of Golgotha, tempat dimana Jesus meninggal dan makamnya, yang seperti menjadi pengetahuan umum, kosong, karena disinilah Dia kemudian dibangkitkan.

Terakhir bagi Muslim, di kota ini terdapat tempat suci ketiga; Masjidil Aqsa, tempat dimana Nabi Muhammad naik ke langit ketujuh dan Dome of The Rock, dimana di dalamnya ada batu yang disebut menjadi titik dimana Isra Mi’raj terjadi. Sekaligus batu yang menjadi titik sentral dari semua kisah religius di Jerusalem.

How US changed it’s policy

Kenapa permasalahan ini menjadi besar, adalah karena peran US yang berubah. Selama berpuluh tahun US menempatkan diri sebagai mediator utama bagi Israel dan Palestina. Netralitas yang dipegang US berperan dalam menjaga stabilitas Timur Tengah.

Namun status politik yang juga berubah setelah kaum Evangelis dan Jews masuk dalam elit politik US medio 1980, perlahan tapi pasti US berada di sisi Israel. Dan tiap kandidat presiden US sejak saat itu mengkampanyekan untuk memindahkan kedubes US ke Jerusalem, namun selalu ditunda sampai akhirnya Trump datang.

Wapres Mike Pence berdiri di belakang Trump saat pidato, menyimbolkan dukungan Kristen konservatif yang diwakilinya. Tapi ini juga sedikit berbeda dengan langkah menantu Trump, Jared Kushner dalam mengarsiteki perdamaian dengan dukungan Liga Arab, yang dipandang menjanjikan, tapi malah ada pernyataan kontroversi ini.

Tiga presiden US sebelumnya sudah meletakkan dasar bagi hal ini, Trump membunyikan peluit terakhir. Protes yang menjurus anarki, terutama dari bangsa Arab yang tidak pernah benar-benar melihat US sebagai mediator netral, mengecam aksi Trump. Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyatakan bahwa US sudah melepas kedudukan sebagai mediator.

Kini Liga Arab berencana menghubungi Dewan Keamanan PBB untuk aksi lebih lanjut, karena statement Trump dinilai mengundang aksi keras. Termasuk dalam hubungan diplomatik, politik, ekonomi, dan finansial. Bahkan bukan hal yang aneh kalau ada desas-desus akan sanksi ekonomi yang bisa diberlakukan.

Apa efek dari pernyataan US?

Permasalahan Jerusalem dianggap sebagai “titik final” dalam perdamaian Israel-Palestina. PM Inggris Theresa May mengatakan pernyataan Trump “sama sekali tidak membantu akan prospek damai” dan menyatakan UK tidak akan mengikuti, Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Prancis Emanuel Macron pun berpendapat serupa.

Presiden Turki Erdogan mengatakan Trump membuat Timur Tengah menjadi lautan api. Russia menyatakan keputusan US “berbahaya dan konsekuensi yang diluar kontrol” Pope Francis mendukung status quo dan mengikuti UN.

Di hari Kamis waktu setempat, Saudi Arabia menyatakan tindakan US “tidak dapat dibenarkan dan tidak bisa dipertanggungjawabkan”, langkah serupa diikuti oleh Turki, Yordania, Mesir, dan Lebanon. Satu-satunya nada positif datang dari PM Israel, Benyamin Netanyahu, sebagai “langkah penting menuju perdamaian”

“Sekarang, Jerusalem adalah pusat dari pemerintahan modern Israel. Tempat dari parlemen Israel, Knesset, juga jaksa agung Israel. Jerusalem adalah kediaman resmi dari Perdana Menteri dan Presiden, juga pusat dari kementrian Israel. Pengakuan ini adalah langkah akhir yang selalu ditunda, sekaligus untuk melangkah lebih jauh pada proses perdamaian”

Bisa disimpulkan Trump menganggap bahwa peran Jerusalem dalam pemerintahan Israel memiliki efek positif pada negosiasi damai. Termasuk dalam langkahnya untuk membuat kedubes US di Jerusalem. Namun untuk sekarang, sisi negatif masih menang.

Di hari Jumat, aparat bersiaga di Jerusalem dan kota-kota sekitar seperti West Bank untuk mengantisipasi kerusuhan. Sehari sebelumnya kerusuhan terjadi di Gaza, Bethlehem, Hebron, dan Ramallah, tepat setelah pernyataan Trump.

Demo juga terjadi di Yordania dan Tunisia, lalu di negara-negara lain termasuk Indonesia. 8 dari 15 negara DK PBB bertemu di hari Jumat membahas masalah Jerusalem. Kepala dewan hubungan luar negeri EU, Federica Mogherini mengatakan bahwa Jerusalem harus menjadi ibukota baik Israel maupun Palestina.


Aku sendiri jelas akan berada di pihak yang menentang keputusan Trump atas statement Jerusalem sebagai ibukota Israel. For me, it was better for Al-Quds to distinct itself from political contoversy. Something that makes Mecca, or Vatican, Tibet, couldn’t stand as political base.

Well, aku belum melihat bagaimana pengakuan Trump ini akan membantu mempercepat proses damai atau bahkan membuat situasi lebih kondusif. Jika tujuannya adalah damai dalam konteks “Israel-lah pemenangnya” maka langkah ini tepat, tapi untuk win-win solution, not at all. Mengcopy artikel politik tanpa izin, bodohnya diriku.

Meski baru dalam tahap awal dan paling cepat masih 6 bulan lagi baru rencana US akan mulai terealisasi, namun dengan cepatnya perubahan sekarang, aku tidak akan heran jika akan ada kerusuhan yang pecah lagi. Karena baik Hamas dan Hizbullah sudah menyatakan penolakan mereka.

And until everything got clearer, let’s pray for Jerusalem. Not for one side only, but for peace to take one step further.
0
icon-hot-thread
Hot Threads
icon-jualbeli
Jual Beli
Copyright © 2019, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia