alexa-tracking
News
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a255d9e5a5163e8508b4569/ekonom-daya-beli-masyarakat-masih-lanjut-melemah-hingga-2018
Lapor Hansip
04-12-2017 21:37
Ekonom: Daya Beli Masyarakat Masih Lanjut Melemah hingga 2018
Senin, 04 Desember 2017 21:00
Jakarta: Ekonom Indef Enny Sri Hartati memproyeksikan, tingkat daya beli masyarakat Indonesia masih belum mengalami perbaikan hingga 2018. Dengan begitu, daya beli masyarakat masih akan melemah di tahun depan.
Enny menyebutkan, salah satu faktor penyebab daya beli masih lesu di sepanjang tahun depan, karena masih tingginya angka pengangguran.
"Ketersediaan lapangan kerja masih di bawah capacity (kapasitas), banyak pengangguran terselubung yang sumber pendapatannya terbatas. Maka indeks keyakinan mendapatkan pekerjaan masih 80 persen kan sekarang, ini akan pengaruhi daya beli masyarakat di 2018," ujar Enny, ditemui di Graha CIMB Niaga, Jakarta, Senin, 4 Desember 2017.
Menurut Enny, ketersediaan lapangan kerja sangat mempengaruhi tingkat pola konsumsi masyarakat. Sedangkan lapangan kerja masih kurang memenuhi tenaga kerja di negara ini.
Kemudian, bilang Enny, faktor lain yang mempengaruhi daya beli masyarakat di tahun depan, yakni stabilitas harga kebutuhan barang pokok.
"Lalu stabilnya harga kebutuhan pokok, apalagi sekarang PLN mau ada penyederhanaan segala macam. Sekarang berbagai macam infrastruktur dibangun, sektor riil kita terpuruk," pungkas Enny.

http://www.metrotvnews.com/embed/aNrwdrab

Editor : Arif Wicaksono

Sumbernya metro tv lho...
Metro tv news fix udah jadi nasbung dan saracen
Serang tak emoticon-Mad emoticon-Mad emoticon-Bata (S) emoticon-Bata (S)
0
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 3
04-12-2017 21:38
abis 2018 gimana??
naek apa turun??
0
04-12-2017 21:40
.
tahun kemarin hampir tiap hari ada yg ngundang mauludan, bahkan sehari bisa lbh dr 1 tempat
.
tahun ini dlm seminggu baru 3 doang emoticon-Hammer (S)
.
0
04-12-2017 21:40
Quote:Original Posted By mbahmomon
abis 2018 gimana??
naek apa turun??


Gak tau mbah tanya aja ahli dari indefnya langsung ya... Ane cuman share berita dari metronasbung bin saracen
0
04-12-2017 21:40
Apik to iso nggo bahan kampanye emoticon-Big Grin
0
04-12-2017 21:43
Mauludan tiap hari?
0
04-12-2017 21:43
Quote:Original Posted By ariadeneva
.
tahun kemarin hampir tiap hari ada yg ngundang mauludan, bahkan sehari bisa lbh dr 1 tempat
.
tahun ini dlm seminggu baru 3 doang emoticon-Hammer (S)
.


Waduh sepi bener bray...
0
04-12-2017 21:52
Quote:Original Posted By mbahmomon
abis 2018 gimana??
naek apa turun??


Tahun 2019 meroket. Kaos jaket sepeda buku tulis seragam alat tulis diborong semua buat kampanye.

emoticon-Ultah
0
04-12-2017 21:53
Ditambah token listrik naik lagi,jaman sby beli 200k dapat 188kwh sejak singanu mimpin 200k dapat 170 kemarin turun jd 150 tadi sore beli cuma dapat 138. Orang kismin kuat-kuatin aja deh sampai 2 tahun lagi di tipu nganu.
0
04-12-2017 21:57
JAKARTA. Rhenald Kasali, Guru besar Universitas Indonesia menyatakan tidak setuju dengan pandangan beberapa ekonom yang menyatakan penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia disebabkan turunnya daya beli masyarakat.

Menurutnya, tidak ada pelemahan daya beli masyarakat, kini masyarakat justru mengalami perpindahan (shifting) dari ekonomi konvensional menjadi online atau yang biasa dikenal kini sebagai e-commerce.

"Ada shifting dari kalangan menengah ke atas karena disruptive economy dari konvensional ke serba online. Perubahan ini bukan mengakibatkan tumbuhnya infrastruktur baru, tetapi pemerataan ekonomi di masyarakat," ujarnya ketika dihubungi KONTAN via telepon pada Jumat (28/7).

Ia mencontohkan, penjualan batik Trusmi dari Cirebon yang tidak memiliki lapak di Tanah Abang, tetapi membuka lapak online. Ketika dicek olehnya pada Jumat pagi tadi, batik Trusmi justru memiliki pertumbuhan sebesar 20% di semester I.

"Beda dengan yang saya tanyakan pada yang punya lapak di Tanah Abang justru mereka turun sekitar 20%. Banyak yang mengatakan cemas dan takut jatuh karena ini," katanya.

Selain itu, dari sektor barang elektronik seperti di Electronic City justru sepi. Sebaliknya dari Harco Glodok yang membuka lapak online justru ramai pembeli.

Rhenald menyatakan banyak pedagang beras di Kalimantan kini lebih banyak yang membeli beras dan minyak goreng lewat Tokopedia dari Surabaya, Lombok, Makasar dan daerah lain.

Angkutan kargo udara dari Solo pun naik pesat untuk pengiriman garmen dan barang-barang kerajinan.

"Hal ini mungkin belum bisa didapat datanya, tetapi jika dilihat dari titik periode barang ini tumbuh pesat. Tokopedia dan Lazada tumbuh terus," katanya.

Rhenald menyatakan, dulu masyarakat bawah selalu mendapatkan untung yang terbatas. Tetapi dengan adanya dunia maya dan menciptakan masyarakat maya, masyarakat bawah bisa mengakses.

"Dulu taksi itu masyarakat tidak bisa akses karena mahal. Masyarakat hanya jadi penonton, tapi sekarang semua bisa akses, bahkan masyarakat bisa jadi pemain langsung. Semua ekonominya berpindah. Ini jelas bukan tanda pelemahan daya beli," jelasnya.

Menurut Rhenald, jika ada pelemahan daya beli maka seharusnya pelemahan ini merata di seluruh bidang.

Tetapi saat ini banyak data yang menunjukkan bahwa penyebabnya justru bukan dari lemahnya daya beli, tetapi perubahan ekonomi di masyarakat.

"Pelemahan ini hanya pada para elit sekarang yang sedang sulit karena peran sebagai "middleman" mereka pudar akibat disruptive innovation, lalu mereka meneriakkan "daya beli turun," ujarnya.
0
04-12-2017 22:03
Bank BC* saja ramai, skrg sepi juga. Sbb banyak yang kena krisis
0
04-12-2017 22:04
Yailah....masih aja berita tipu2 melemah melemah. Cek FJB, toped, BL, dan lain sebagainya. Laku keras!!!
Posting jam 5 jam 5.05 sold.
Nggak ada itu istilah daya beli melemah.
Belum musim kmapanye, jangan black kempen.
-1
04-12-2017 22:06
itukan proyeksinya INDEF....

kita tunggu aja tahun 2018 emoticon-Cool

prediksi gue 2018 rebound, bahkan pertumbuhan kita bisa nyerempet India & China yg bahkan kecederungannya turun emoticon-Big Grin

angka kemiskinan sangat mungkin setuh single digit pertamakalinya tahun 2018 emoticon-Big Grin

ga usah jauh-jauh 2017 aja bisa exceed dalam hal target makro APBN

0
04-12-2017 22:08
Liat aja kiri kanan bray. Online apanya ?
0
04-12-2017 22:09
trendnya bakal terus berlanjut brey

emoticon-Ngakak (S)
0
04-12-2017 22:13
Quote:Original Posted By samsuadi83
JAKARTA. Rhenald Kasali, Guru besar Universitas Indonesia menyatakan tidak setuju dengan pandangan beberapa ekonom yang menyatakan penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia disebabkan turunnya daya beli masyarakat.

Menurutnya, tidak ada pelemahan daya beli masyarakat, kini masyarakat justru mengalami perpindahan (shifting) dari ekonomi konvensional menjadi online atau yang biasa dikenal kini sebagai e-commerce.

"Ada shifting dari kalangan menengah ke atas karena disruptive economy dari konvensional ke serba online. Perubahan ini bukan mengakibatkan tumbuhnya infrastruktur baru, tetapi pemerataan ekonomi di masyarakat," ujarnya ketika dihubungi KONTAN via telepon pada Jumat (28/7).

Ia mencontohkan, penjualan batik Trusmi dari Cirebon yang tidak memiliki lapak di Tanah Abang, tetapi membuka lapak online. Ketika dicek olehnya pada Jumat pagi tadi, batik Trusmi justru memiliki pertumbuhan sebesar 20% di semester I.

"Beda dengan yang saya tanyakan pada yang punya lapak di Tanah Abang justru mereka turun sekitar 20%. Banyak yang mengatakan cemas dan takut jatuh karena ini," katanya.

Selain itu, dari sektor barang elektronik seperti di Electronic City justru sepi. Sebaliknya dari Harco Glodok yang membuka lapak online justru ramai pembeli.

Rhenald menyatakan banyak pedagang beras di Kalimantan kini lebih banyak yang membeli beras dan minyak goreng lewat Tokopedia dari Surabaya, Lombok, Makasar dan daerah lain.

Angkutan kargo udara dari Solo pun naik pesat untuk pengiriman garmen dan barang-barang kerajinan.

"Hal ini mungkin belum bisa didapat datanya, tetapi jika dilihat dari titik periode barang ini tumbuh pesat. Tokopedia dan Lazada tumbuh terus," katanya.

Rhenald menyatakan, dulu masyarakat bawah selalu mendapatkan untung yang terbatas. Tetapi dengan adanya dunia maya dan menciptakan masyarakat maya, masyarakat bawah bisa mengakses.

"Dulu taksi itu masyarakat tidak bisa akses karena mahal. Masyarakat hanya jadi penonton, tapi sekarang semua bisa akses, bahkan masyarakat bisa jadi pemain langsung. Semua ekonominya berpindah. Ini jelas bukan tanda pelemahan daya beli," jelasnya.

Menurut Rhenald, jika ada pelemahan daya beli maka seharusnya pelemahan ini merata di seluruh bidang.

Tetapi saat ini banyak data yang menunjukkan bahwa penyebabnya justru bukan dari lemahnya daya beli, tetapi perubahan ekonomi di masyarakat.

"Pelemahan ini hanya pada para elit sekarang yang sedang sulit karena peran sebagai "middleman" mereka pudar akibat disruptive innovation, lalu mereka meneriakkan "daya beli turun," ujarnya.



Rhenald Kasali udah gak minum jamu tolak angin lagih emoticon-Leh Uga

sampe gak bisa liat realita di lapangan emoticon-Ngakak


0
04-12-2017 22:15
Quote:Original Posted By cinakhuahua
Rhenald Kasali udah gak minum jamu tolak angin lagih emoticon-Leh Uga

sampe gak bisa liat realita di lapangan emoticon-Ngakak


Elu ekonom bukan ?
Elu sudah hebatkah dari Pak Rhenald Kasali ?
0
04-12-2017 22:19
Quote:Original Posted By samsuadi83


Elu ekonom bukan ?
Elu sudah hebatkah dari Pak Rhenald Kasali ?



kasih tolak angin lagih tu si Rhenald Kasali emoticon-Wkwkwk


0
04-12-2017 22:19
IHSG Bisa tembus 6000 pecah telor. Tahun depan harapannya naik lagi biar cuan. Optimis biar cuan gan
0
04-12-2017 22:22
Quote:Original Posted By cinakhuahua
kasih tolak angin lagih tu si Rhenald Kasali emoticon-Wkwkwk


elu ekonom bukan ?
0
04-12-2017 22:23
Quote:Original Posted By samsuadi83
JAKARTA. Rhenald Kasali, Guru besar Universitas Indonesia menyatakan tidak setuju dengan pandangan beberapa ekonom yang menyatakan penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia disebabkan turunnya daya beli masyarakat.

Menurutnya, tidak ada pelemahan daya beli masyarakat, kini masyarakat justru mengalami perpindahan (shifting) dari ekonomi konvensional menjadi online atau yang biasa dikenal kini sebagai e-commerce.

"Ada shifting dari kalangan menengah ke atas karena disruptive economy dari konvensional ke serba online. Perubahan ini bukan mengakibatkan tumbuhnya infrastruktur baru, tetapi pemerataan ekonomi di masyarakat," ujarnya ketika dihubungi KONTAN via telepon pada Jumat (28/7).

Ia mencontohkan, penjualan batik Trusmi dari Cirebon yang tidak memiliki lapak di Tanah Abang, tetapi membuka lapak online. Ketika dicek olehnya pada Jumat pagi tadi, batik Trusmi justru memiliki pertumbuhan sebesar 20% di semester I.

"Beda dengan yang saya tanyakan pada yang punya lapak di Tanah Abang justru mereka turun sekitar 20%. Banyak yang mengatakan cemas dan takut jatuh karena ini," katanya.

Selain itu, dari sektor barang elektronik seperti di Electronic City justru sepi. Sebaliknya dari Harco Glodok yang membuka lapak online justru ramai pembeli.

Rhenald menyatakan banyak pedagang beras di Kalimantan kini lebih banyak yang membeli beras dan minyak goreng lewat Tokopedia dari Surabaya, Lombok, Makasar dan daerah lain.

Angkutan kargo udara dari Solo pun naik pesat untuk pengiriman garmen dan barang-barang kerajinan.

"Hal ini mungkin belum bisa didapat datanya, tetapi jika dilihat dari titik periode barang ini tumbuh pesat. Tokopedia dan Lazada tumbuh terus," katanya.

Rhenald menyatakan, dulu masyarakat bawah selalu mendapatkan untung yang terbatas. Tetapi dengan adanya dunia maya dan menciptakan masyarakat maya, masyarakat bawah bisa mengakses.

"Dulu taksi itu masyarakat tidak bisa akses karena mahal. Masyarakat hanya jadi penonton, tapi sekarang semua bisa akses, bahkan masyarakat bisa jadi pemain langsung. Semua ekonominya berpindah. Ini jelas bukan tanda pelemahan daya beli," jelasnya.

Menurut Rhenald, jika ada pelemahan daya beli maka seharusnya pelemahan ini merata di seluruh bidang.

Tetapi saat ini banyak data yang menunjukkan bahwa penyebabnya justru bukan dari lemahnya daya beli, tetapi perubahan ekonomi di masyarakat.

"Pelemahan ini hanya pada para elit sekarang yang sedang sulit karena peran sebagai "middleman" mereka pudar akibat disruptive innovation, lalu mereka meneriakkan "daya beli turun," ujarnya.


ea sekarang ibu rumah tangga beli cabe sama sama garam via onlen.
0
Halaman 1 dari 3
icon-hot-thread
Hot Threads
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.