alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/547a9ce1d44f9fa5638b4570/my-fictions---cerita-tentang-kita
Lapor Hansip
30-11-2014 11:28
CERITA TENTANG KITA
Quote:
DISCLAIMER
Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Apabila ada kesamaan nama, karakter, tempat, maupun cerita, itu semua hanyalah kebetulan yang tidak disengaja.


Quote:Title : CERITA TENTANG KITA
Author : NVRstepback
Genre : Slice of Life, Drama, Romance, Family


INDEKS
:
Quote:Act 1 - "A Meeting"
Act 2 - "Crash!"
Act 3 - "Awake"
Act 4 - "A 'Normal' Day"
Act 5 - "Jealous"
Act 6 - "Preparation"
Act 7 - "Surprise!"
Act 8 - "His Story"
Act 9 - "An Old 'Friend'"*NEW!
Act 10 - "Memory" *NEW!





Quote:
note nov2017: lanjut lagi setelah kentang 3 taun..
update index, linkpost menyusul
Diubah oleh nvrstepback
0
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Tampilkan isi Thread
Halaman 2 dari 2
15-11-2017 11:36
Quote:
Quote:
Act 6 - "Preparation"


Quote:
Kenzo sudah sampai di rumah. Sesuai pesan Alea, Kenzo pun mengirim sms ke Alea. Kemudian dia masuk ke rumah, minum obat kemudian istirahat. Tapi di pikiran Kenzo masih terbayang dua hal. Emily, dan… Rara! Dia merasa senang karena akhirnya dia bisa bertemu dengan cewek yang bisa membuatnya tertarik. Tapi di sisi lain dia merasa bingung kenapa Rara mengejarnya.
“Kok tadi si Rara aneh banget ya? Kan biasanya dia cuek banget sama gue. Lah ini tadi malah berubah agresif gitu.” Pikir Kenzo. Karena sudah terlalu lelah, Kenzo pun akhirnya tertidur.
Di tempat lain, Alea bersama teman-temannya sedang membantu Liana mengerjakan tugas dari Pak Darma. Dengan sabar Alea dan Gea membantu Liana yang begitu cerewet tanya ini itu. Sedangkan Emily sedang membuat kokat untuk keperluan makrab. Di wajah Emily nampak tersungging senyuman. Senyuman yang diakibatkan oleh efek berantai dari perasaannya terhadap Kenzo dan senyum Kenzo yang dia lihat sore tadi.
“Al, nih ada sms dari tadi lho. Gak mau dibuka?” tanya Emily sambil mengulurkan hp ke Alea.
“Paling dari kak Kenzo.” Kata Alea sambil menerima hp dari Emily. “Tu kan bener. Syukur deh kakak udah nyampe rumah.”
“Emang kak Kenzo kenapa Al?” tanya Emily penasaran.
“Ya dia kan baru keluar dari rumah sakit, udah naik motor. Kan aku khawatir. Besok makrab kayaknya dia gak ikut dulu deh, biar dipake buat istirahat.” Jawab Alea sambil membuka-buka buku.
“Kak Kenzo gak ikut makrab?” tanya Emily dengan nada kecewa.
“Ciee.. Ada yang kecewa nih kak Kenzo gak ikut makrab.” Celetuk Liana tiba-tiba.
“Ahh, dasar cerewet. Diselesaiin dulu tu tugas.” Kata Emily sewot. Alea dan Gea tertawa melihat pipi Emily yang memerah.
***
“Kakak!” panggil Alea yang daritadi menunggu di depan pintu.
“Eh, maaf Al kakak tadi dari kamar kecil. Jadi lama deh. Hehe.” Kata Kenzo sambil membuka pintu.
“Ihhh, kakak ni dasar.” Kata Alea sambil memencet hidung Kenzo. Kenzo pun berteriak kesakitan. Mereka pun bergegas masuk.
“Sakit Al. Aduuh. Oiya, tadi di rumah Liana gimana?” tanya Kenzo.
“Tugasnya Liana udah lumayanlah tinggal dikit.” Jawab Alea sambil duduk di sofa empuk di ruang keluarga. Kemudian menyalakan TV. Kenzo nampak sibuk membaca buku catatannya. Alea pun nampak penasaran.
“Baca apaan sih kak serius banget?” tanya Alea. Kenzo tak menjawab karena begitu fokus ke tulisan di buku catatannya.
“Kakaaak.” Panggil Alea agak keras sehingga Kenzo pun terkejut.
“Eh, kenapa Al? kok teriak-teriak segala. Biasa aja kali.” Kata Kenzo.
“Kakak sih ditanya biasa aja gak dijawab. Itu lagi baca apaan?” tanya Alea lagi.
“Oh, ini baca daftar perlengkapan buat acara makrab. Kayaknya perlengkapan yang buat peserta terlalu ribet deh.” Jawab Kenzo.
“Emang kenapa kak? Kakak mau datang ke makrab ya?” tanya Alea.
“Iya dong. Kan kakak ketua panitia, masa gak datang.” Kata Kenzo.
“Tapi kakak kan baru aja keluar dari rumah sakit, belum pulih betul. Kakak gak usah datang, istirahat di rumah dulu aja.” Kata Alea menasehati Kenzo.
“Tapi Al, sebagai ketua kakak harus…” kenzo mencoba menyanggah tapi keburu dipotong Alea.
“Pokoknya gak boleh! Kakak harus istirahat di rumah. Alea gak mau kakak kenapa-kenapa pas di acara makrab.” Kata Alea. Nampak di ujung matanya ada air yang siap tumpah.
“Yaudah, kalo gitu kakak nurut sama Alea. Kakak akan istirahat.” Kata Kenzo tersenyum sambil mengelus-elus kepala Alea. Alea pun tersenyum dan berusaha mengusap matanya.
“Tapi kakak mau minta tolong ke kamu Al.” kata Kenzo tiba-tiba.
“Minta tolong apa kak?” tanya Alea.
“Kakak udah bikin rancangan buat acara makrab malam terakhir. Ini nih rancangannya. Tolong besok kamu kasihin terus kamu jelasin ke wakil ketua panitia ya.” Kata Kenzo menjelaskan.
“Nahlo. Wakil ketuanya siapa?” tanya Alea bingung.
“Evan.” Jawab Kenzo singkat.
“Kak Evan?” tanya Alea lagi. Kali ini pipinya bersemu merah.
“Iya sayang. Kak Evan. Gimana? Mau nolongin kakak kan?” tanya Kenzo.
“Iya iya kakakku sayang. Besok Alea sampein. Emang besok kakak mau kemana?” tanya Alea.
“Besok kakak mau ke dokter. Mau kontrol.” Jawab Kenzo.
“Abis itu?” tanya Alea lagi.
“Ya pulang to ya. Mau nyicil ngerjain skripsi. Kakak kan udah semester 7, targetnya semester 8 kakak lulus.” Jawab Kenzo sambil tersenyum.
“Terus kalo udah lulus?” tanya Alea.
“Kakak pengen jadi system analyst kakak papa.” Kata Kenzo sambil memandang foto keluarga yang tergantung di tembok di hadapannya.
“Tapi kakak tetep di sini nemenin Alea kan?” tanya Alea sambil menggenggam tangan Kenzo.
“Iya adikku yang cantik. Kakak akan tetap di sini sama Alea.” Jawab Kenzo. Alea pun tersenyum. Kenzo kemudian memberikan rancangan acara tersebut ke Alea.
***
Hari Kamis, hari terakhir sebelum berangkat makrab. Di depan hall, nampak kelompok Alea sedang berkumpul untuk kliring masalah perlengkapan yang harus dibawa. Tapi ada satu orang yang sepertinya belum bergabung. Alea.
“Oke guys, kita hari ini kumpul untuk ngebahas perlengkapan yang mau kita bawa besok.” Kata Gian.
“Untuk kokat nama, udah slesai. Oiya, kalian bawa foto sesuai permintaan gue kan?” Tanya Emily. Gian pun mengumpulkan foto dari anggota kelompok dan menyerahkannya ke Emily.
“Oiya, si Alea kemana Mily? Kok gak ada?” Tanya Wisnu tiba-tiba.
“Katanya tadi mau ketemu kak Evan, nyerahin titipan dari kan Kenzo.” Jawab Liana.
“Titipan apa Li?” Tanya Wisnu lagi.
“Uh, dasar kepo loe ya. Ntar loe tanya Alea sendiri aja.” Jawab Liana sewot.
“Udah udah. Sekarang kita kroscek dulu ceklis perlengkapannya. Tika.” Panggil Gian ke Tika selaku penanggung jawab perlengkapan.
Tika pun mulai membaca satu persatu ceklis yang dia bawa, kemudian memberikan tanda cek ke peralatan yang sudah fix.
“Ok. Semuanya udah fix. Tinggal nempelin foto ke kokat aja. Umm.. Kalo kita tempel sekarang aja gimana?” tanya Tika ke Emily.
“Aduh, kokatnya gak aku bawa. Masih di rumah. Nanti sore aja ku tempelin sendiri.” Jawab Emily.
“Yaudah, kalo gitu kita bisa nglanjutin aktivitas. Gue duluan ya guys.” Kata Gian pamit seraya melangkah pergi. Diikuti Tika, Nissa, Venus dan Mars.
“Eh, loe masih di sini Nu?” tanya Liana ke Wisnu yang masih di tempatnya.
“Iya. Gue nungguin Alea.” Jawab Wisnu sambil tersenyum.
“Eh, loe Gea. Ngapain pipi loe merah gitu?” tanya Wisnu tiba-tiba ke Gea. Ternyata daritadi Gea memperhatikan Wisnu yang sedang tersenyum. Seketika Gea pun mengelak.
“Udah ah. Yuk Mily, Gea ke kantin.” Ajak Liana.
“Trus Alea gimana?” tanya Emily.
“Udah gue SMS. Yuk.” Jawab Liana. Tiba-tiba Wisnu menghentikan Liana.
“Eh, gue boleh minta nomor hpnya Alea gak?” tanya Wisnu.
“Dasar loe. Minta sendiri!” jawab Liana sewot kemudian pergi bersama Emily dan Gea meninggalkan Wisnu.
“Ya ampun. Tu cewek galaknya kayak singa. Yaudah lah. mending balik aja.” Kata Wisnu kemudian berbalik pergi.
Di tempat lain, Alea sedang bersama Evan. Mereka tampak canggung karena hanya ada mereka berdua. Sebenarnya, ketika datang tadi ada Wayan dan Tara. Tapi tiba-tiba mereka berdua pergi ketika Alea datang. Tapi sebenarnya mereka hanya berada di luar ruangan mencoba menguping perbincangan Evan dan Alea.
“Eng. Kak, ini ada titipan dari kak Kenzo. Rancangan acara malam terakhir makrab.” Kata Alea sambil menyerahkan lembaran kertas yang di-clip ke Evan.
“Iya. Makasih ya Al. Emang kak Kenzo gak dateng ke makrab?” tanya Evan.
“Aku gak bolehin kak. Biar kak Kenzo istirahat dulu supaya cepet pulih.” Jawab Alea.
“Oh. Iya bener. Tapi ntar dia di rumah sama siapa?” tanya Evan.
“Sendiri kak.” Jawab Alea singkat.
“Kasian kalo dia di rumah sendiri. Biar nanti gue, Tara, sama Wayan gantian ke rumahmu nemenin Kenzo.” Kata Evan.
“Lho. Emang gakpapa kak bolak-balik gitu?” tanya Alea.
“Gakpapa dong. Kan panitia.” Jawab Evan sambil tersenyum. Senyum yang membuat Alea semakin klepek-klepek.
“Eng. Yaudah kak. Alea pamit dulu ya, mau ke kantin.” Kata Alea pamit.
“Lho. Ke kantin sendiri?” tanya Evan. Alea menggeleng.
“Sama temen-temen kak. Mereka udah di sana. Tadi aku di sms Liana.” Jawab Alea kemudian melangkah keluar pintu. Sebelum meninggalkan ruangan itu, dia sempat melempar senyuman ke arah Evan. Tapi saat berbalik, Nampak Tara dan Wayan yang nyender di tembok. Alea pun memadang mereka dengan pandangan tajam.
“Kak Tara sama kak Wayan ngapain di situ? Nguping ya?” tanya Alea. Mendengar Alea, Evan pun mendekat.
“Hehe. Kita tadi kebetulan mau masuk, eh loe mau keluar Al.” kata Tara ngeles.
“Eh, dasar kunyuk sama kriting. Ngapain loe?” tanya Evan sambil mengulurkan tangannya meraih pundak Wayan.
“Kabur Tar!!” kata Wayan sambil berlari menjauh. Tara pun mengikuti Wayan yang sudah berlari mendahuluinya. Meninggalkan Evan dan Alea yang berdiri di depan ruang BEM. Lagi-lagi awkward moment terjadi antara Evan dan Alea. Mereka tak sadar ada seseorang yang sedang mengamati mereka berdua.

Will be continued...

Diubah oleh nvrstepback
0
16-11-2017 13:40
Quote:
Quote:
Act 7 - "Surprise!"


Quote:Emily, Liana, dan Gea sedang berjalan menuju kantin kampus. Mereka masih membahas masalah tugas Liana yang tinggal sedikit lagi selesai. Sesekali mereka membicarakan hubungan Evan-Alea dan Kenzo-Emily.
“Eh, kak Evan sama Alea udah jadian belom sih? Kok kayaknya mereka sekarang sering ketemu gitu?” tanya Liana ke teman-temannya.
“Kayaknya belum deh Li. Kalopun udah pasti dia bakal cerita ke kita dong.” Kata Emily.
“Iya juga ya. Eh, terus loe sama kak Kenzo gimana Mily?” tanya Liana ke Emily.
“Apaan sih Li. Kan belum tentu juga kak Kenzo suka sama gue.” Jawab Emily berusaha mengelak.
“Nah, berarti loe emang suka sama kak Kenzo kan?” tanya Liana dengan nada menggoda.
“Dasar kepo loe.” Jawab Emily sewot. Liana dan Gea pun tertawa.
Saat sedang asyik ngobrol dan bercanda, tiba-tiba ada seseorang yang menabrak Liana dari belakang. Liana dan orang itu pun terjatuh. Emily dan Gea pun segera membantu Liana yang kesakitan. Setelah kembali berdiri, Liana langsung mendatangi orang sudah menabraknya yang sedang sibuk merapikan bajunya.
“Eh, kalo jalan pake mata dong!” Teriak Liana galak. Setelah orang itu menoleh, ternyata Wayan yang sudah menabraknya.
“Eh, singa. Biasa aja dong jangan teriak-teriak gitu. Gue juga jatuh nih.” Kata Wayan membela dirinya. Dia sama sekali tak menatap Liana karena masih sibuk membersihkan baju dan celananya yang kotor karena terjatuh.
“Biasa gimana? Loe tu yang seenaknya lari-larian gak liat depan.” Kata Liana menyerang Wayan.
“Wow wow. Kenapa nih kok seru banget? Ada apaan ni?” tanya Tara yang tiba-tiba datang dari arah belakang Wayan.
“Nih, cewek singa. Gue kan gak sengaja nabrak karena gak bisa ngerem.” Kata Wayan menunjuk Liana.
“Singa? Maksud loe apaan kak?” tanya Liana galak.
“Tuh, liat galaknya kayak singa kan.” Kata Wayan.
“Udah udah. Tadi yang nabrak siapa?” tanya Tara.
“Gue.” Jawab Wayan singkat.
“Yaudah. Sekarang loe minta maaf ke Liana deh Yan. Kan loe yang nabrak, berarti loe yang salah. Buruan.” Kata Tara ke Wayan.
“Enak aja. Gue kan gak sengaja. Lagian dia juga ngomong kayak gitu. Galaknya gak kira-kira. Ogah gue.” Kata Wayan.
“Dasar loe kayak anak kecil Yan. Liana, maafin Wayan ya. Tadi dia emang larinya gak kira-kira jadi nabrak loe. Maafin dia ya.” Kata Tara ke Liana. Tampak wajah Liana masih diselimuti kemarahan.
“Udah yuk Li. Kita ke kantin aja.” Ajak Gea. Emily pun merespon dengan menarik Liana pergi. Tampak tatapan tajam Liana dan Wayan yang saling beradu, menyebabkan aliran elektron yang berputar-putar membentuk angin puting beliung. Tara pun bergegas mengajak Wayan pergi.
“Siapa sih tu cewek?” tanya Wayan ke Tara.
“Liana, temennya Alea adik Kenzo.” Jawab Tara.
“Gila ya. Si Alea punya temen galak kayak singa.” Kata Wayan.
“Haha. Biasa aja kali Yan. Loe tadi juga gak kalah galak.” Kata Tara bercanda.
***
Kenzo baru saja sampai rumah setelah melakukan kontrol ke dokter. Dia merebahkan dirinya di sofa sambil mendengarkan musik dari iPod kesayangannya. Karena merasa haus, dia beranjak ke dapur untuk mengambil air minum di kulkas. Gurat wajahnya begitu lesu tak bersemangat. Setelah itu, dia kembali ke sofa untuk istirahat. Saat akan tertidur, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Sekali dua kali, Kenzo tak menghiraukannya. Tapi akhirnya dia merasa terganggu karena berkali-kali ketukan pintu.
“Aduh, siapa sih ni.” Gerutu Kenzo. Dia pun bergegas membukakan pintu.
“Siapa ni? Ada keperluan apa?” tanya Kenzo sambil mengucek kedua matanya. Sehingga dia tidak memperhatikan siapa yang berada di depannya. Orang yang ada di depan Kenzo itupun hanya tersenyum. Tiba-tiba mengulurkan tangan kemudian mengacak-acak rambut Kenzo. Mendapat perlakuan seperti itu, Kenzo pun kaget. Dia pun menatap orang itu.
“Mama!!” teriak Kenzo kemudian memeluk orang yang ternyata Mamanya. Beliaupun menyambut pelukan Kenzo dengan hangat.
“Mama kapan dateng? Kok gak ngasih kabar dulu? Papa mana?” tanya Kenzo.
“Mama sengaja mau kasih kejutan sayang. Papa gak ikut, lagi ngerjain proyek di sana.” Jawab Mama Kenzo lembut.
“Yaudah, masuk yuk Ma. Kenzo mau telpon Alea dulu. Mau ngasih kabar kalo Mama pulang.” Kata Kenzo. Mereka berdua pun masuk. Saat Kenzo akan menelpon Alea, tiba-tiba Mama mencegahnya.
“Lho. Kenapa Ma?” tanya Kenzo.
“Jangan. Eh, Kenzo, kamu inget kan besok tanggal berapa?” tanya Mama.
“27 September?” jawab Kenzo.
“Terus, kalo 27 September?” tanya Mama lagi. Kenzo pun mengernyitkan dahinya berusaha mengingat sesuatu. Kemudian dia teringat sesuatu.
“Ulang taunnya Alea!!” teriak Kenzo. Mama Kenzo pun tersenyum.
“Nah, Mama sengaja pulang buat ngasih kejutan buat dia. Tapi sayangnya, Papa malah gak bisa dateng.” Kata Mama Kenzo.
“Tapi Ma. Hari Jumat, Alea ada acara makrab jadi gak di rumah.” Kata Kenzo menjelaskan ke Mamanya.
“Yah. Terus gimana dong sayang?” tanya Mama agak kecewa.
“Emm. Gampang deh, nanti Kenzo yang atur. Pokoknya Mama siapin aja kejutannya. Besok malem, kita kasih ke Alea.” Jawab Kenzo dengan wajah yakin. Melihat raut wajah Kenzo, Mama pun tersenyum. Dalam hati, beliau percaya dengan apa yang direncanakan Kenzo.
“Oiya. Kamu udah makan belum?” tanya Mama.
“Hehe. Belum Ma. Males masak.” Jawab Kenzo sambil nyengir.
“Idih. Anak Mama yang satu ini kok malesnya gak ilang-ilang sih. Yaudah, Mama masakin dulu.” Kata Mama sambil mengacak-acak rambut Kenzo. Kemudian melangkah ke dapur.
***
“Temen-temen, aku duluan ya.” Kata Alea pamit ke teman-temannya.
“Ok Al. Ati-ati ya.” Kata Emily. Gea dan Liana melambaikan tangannya. Alea pun tersenyum. Hari ini Alea ingin pulang lebih cepat untuk bertemu kakaknya. Dia tidak ikut ke rumah Emily untuk menyelesaikan tugas Liana. Saat akan keluar pintu gerbang, ada seseorang yang menghampirinya dengan motor.
“Bareng yuk Al.” kata orang itu yang ternyata Wisnu. Alea kaget.
“Eh, Wisnu. Gak ah kan rumah kita beda arah.” Kata Alea mencoba menolak.
“Udah gakpapa. Yuk.” Ajak Wisnu lagi. Tapi Alea berkeras menolak.
“Yaudah kalo gitu. Gue duluan ya.” Kata Wisnu dengan nada kecewa. Kemudian memacu motornya. Alea pun kembali berjalan. Hari ini Kenzo tidak masuk sehingga Alea harus pulang sendiri. Dan sudah menjadi kebiasaannya di Jepang, berjalan kaki pulang daripada naik angkutan umum semacam bus.
“Al.” ada yang memanggil Alea dari arah belakang. Alea pun menoleh.
“Kak Evan, dari mana?” tanya Alea.
“Dari swalayan, belanja. Oiya, kamu kok jalan kaki?” tanya Evan.
“Kan kak Kenzo gak masuk kak. Yaudah, aku pulang sendiri.” Jawab Alea enteng.
“Bareng yuk.” Ajak Evan. Alea hampir melompat mendapat ajakan dari Evan. Alea pun tak menjawab.
“Kamu tunggu sini bentar, aku ambil motor dulu.” Kata Evan. Tak berapa lama, Evan sudah kembali dengan motornya.
“Yuk.” Ajak Evan. Dengan malu-malu, Alea naik membonceng Evan. Sepanjang jalan, Evan mengajak Alea ngobrol dan bercanda. Mereka berdua pun sesekali cekikikan.
Tak berapa lama, mereka sampai di rumah Alea.
“Makasih ya kak, udah dianterin. Yuk masuk dulu.” Ajak Alea.
“Sama-sama Al. gak ah, ni belanjaannya udah ditungguin bundaku.” Kata Evan.
“Yaudah kalo gitu. Ati-ati ya kak.” Kata Alea. Evan pun segera pergi. Alea masuk ke rumah, kemudian duduk di samping Kenzo yang sedang menonton TV.
“Al, tadi bareng sama siapa?” tanya Kenzo.
“Kak Evan, kak.” Jawab Alea malu-malu.
“Ciee. Asik-asik.” Kata Kenzo menggoda Alea.
“Aduh, apaan siih Al.” kata Kenzo memegangi hidungnya yang dicubit Alea.
“Kakak sih, makanya jangan ngegodain Alea terus. Daripada ngegodain Alea, mending si Mily aja yang digodain.” Kata Alea kemudian tertawa.
“Kamu ya.” Kenzo kemudian mengacak-acak rambut Alea. Mereka berdua tampak sangat akur. Dari dalam kamar tepat di belakang Kenzo dan Alea, Mama melihat kedua buah hatinya yang telah beranjak dewasa itu dengan senyum bahagia. Beliau sengaja bersembunyi karena ingin memberikan kejutan tepat saat hari ulang tahun Alea.
“Andai aja Papa mau ikut Mama pulang.” Kata Mama lirih.
“Udah ah, aku mau ambil minum dulu.” Kata Alea kemudian berjalan ke dapur. Sesampainya di dapur, dia melihat meja makan yang berisi makanan. Alea pun memanggil kakaknya.
“Kakaaak!! Kak Kenzooo!!” teriak Alea. Kenzo pun berlari menghampiri Alea.
“Heh, dasar. Ngapain teriak-teriak?” tanya Kenzo sambil menjitak kepala Alea.
“Aduh. Ni, kok ada makanan banyak?” tanya Alea sambil menunjuk ke arah meja makan. Kenzo agak gugup, kemudian berusaha tetap santai menjawabnya.
“Ini tadi kakak beli kok. Ya, itung-itung nyiapin sebelum kamu berangkat makrab gitu biar bisa makan enak.” Kata Kenzo sambil nyengir.
“Kalo gitu, makan ah.” Kata Alea kemudian duduk dan makan makanan itu. Kenzo ikut duduk kemudian memperhatikan Alea yang makan dengan lahap.
“Kak.” Kata Alea.
“Iya Al, kenapa?” tanya Kenzo.
“Gakpapa. Gak jadi.” Kata Alea kemudian melanjutkan makannya.
“Yaudah. Kakak tidur duluan ya, udah ngantuk.” Kata Kenzo.
“Iya kak.” Jawab Alea. Kenzo pun meninggalkan Alea sendiri di meja makan.
Selesai makan, Alea mencuci piring kemudian kembali ke ruang keluarga untuk menonton TV. Saat berjalan menuju ruang keluarga, Alea masih memikirkan soal makanan yang ada di meja makan tadi. Dia tidak percaya kalo Kenzo membelinya karena rasa makanan itu begitu familiar untuknya.
“Rasanya familiar banget. Kayak masakan Mama. Tapi Mama kan di Jepang? Ah udah lah.” batin Alea. Karena sudah mengantuk, dia pun bergegas ke kamar untuk tidur.
Jam menunjukkan pukul 1 pagi. Tidur Alea terusik dengan bunyi di dapur. Karena penasaran, Alea pun turun untuk memeriksa. Dengan berjingkat, Alea menuju ke dapur. Di sana, dia kaget melihat siapa yang sedang mencuci piring dan gelas kotor. Mamanya! Dengan perlahan, Alea mendekat kemudian memeluk Mamanya dari belakang. Mama kaget, tapi kemudian sadar siapa yang sedang memeluknya.
“Alea kebangun ya.” Kata Mama lembut.
“Kok Mama gak bilang-bilang kalo mau pulang?” tanya Alea. Mama pun melepas pelukan Alea kemudian berbalik.
“Sayang, Mama pengen kasih kejutan ke kamu. Eh, malah ketahuan duluan.” Jawab Mama sambil tersenyum.
“Mama pulang sendirian?” tanya Alea lagi. Nampak ada raut wajah menyesal di wajah Mama ketika mendengar pertanyaan Alea itu.
“Iya sayang. Maafin Papa, dia masih ada proyek di sana. Jadi gak bisa ikut.” Jawab Mama dengan nada berat.
“Selalu aja gitu. Selalu sibuk sama kerjaan. Gak pernah ada waktu buat anaknya.” Kata Alea.
“Alea! Kenapa kamu ngomong gitu!” kata Mama dengan nada agak tinggi.
“Itu kenyataan Ma! Papa terlalu sibuk sama kerjaannya! Itu sebenernya alasan Alea pulang ke Indonesia trus tinggal sama kak Kenzo. Karena di sana Papa gak pernah punya waktu buat Alea, buat kita. Selama Alea di sini pun, cuma Mama yang sering telpon Alea sama kak Kenzo. Papa sama sekali gak nanyain kabar Alea sama kakak. Papa udah lupa sama…” Kata-kata Alea terputus oleh tamparan dari Mama. Alea tersentak kaget. Dengan memegangi pipinya, Alea berlari ke kamarnya sambil menangis.
Mama tampak menyesal telah menampar putri kesayangannya. Beliau tak tahan mendengar semua kata-kata dari Alea tadi. Semua rencana yang sudah disusun untuk memberi kejutan ke Alea telah hancur berantakan..

Will be continued...

Diubah oleh nvrstepback
0
16-11-2017 13:53
izin baca dl gan,semoga lancar sampe selesaiemoticon-Smilieemoticon-shakehand
0
16-11-2017 17:53
Quote:Original Posted By miraclenovt
izin baca dl gan,semoga lancar sampe selesaiemoticon-Smilieemoticon-shakehand


silakan gan emoticon-shakehand
0
16-11-2017 18:04
Ane kira dah di Closed nih trit
Ts 3 tahun kemana aja sih?
0
16-11-2017 19:29
Quote:Original Posted By kleponis
Ane kira dah di Closed nih trit
Ts 3 tahun kemana aja sih?


ke masa lalu gan. berdamai dengan kenangan. emoticon-Malu (S)
0
22-11-2017 19:10
Quote:
Quote:
Act 8 - "His Story"


Quote:Tumpukan buku-buku tebal, rangkaian papan sirkuit, dan rangka body robot adalah 3 benda yang mendominasi meja Evan. Hampir setiap saat dia terpaku pada benda-benda itu. Entah membaca, atau bermain-main dengan komponen berukuran kecil dan rangkaian sirkuit. Tapi kali ini berbeda. Kegiatan makrab sudah tentu mengalihkan perhatian Evan dari kegemarannya itu. Namun ada satu hal lagi yang kini tengah sibuk mengalir bolak-balik di dalam rangkaian sirkuit otaknya. Alea.

"Gue nggak nyangka bakal ngerasa kayak gini lagi," guman Evan.

Dia perlahan bangkit. Matanya kemudian tertuju ke sebuah foto yang dibingkai oleh frame kayu dengan pernak-pernik cantik. Tatapannya berubah sendu. Dia menghela napas.

"Apa memang udah saatnya?" Evan bergumam lagi.

Baru saja dia berdiri, ponsel hitam yang terserak di atas meja bersama part-part robot berbunyi. Evan buru-buru mencari dan segera menemukannya. 1 pesan masuk dari Kenzo.

"Semesta mendukung." Sesungging senyum menghiasi wajah-bangun-tidur Evan.

***

Suasana sarapan pagi ini terasa dingin. Terlebih atas apa yang baru saja terjadi semalam. Mama terlihat lebih sibuk mengaduk-aduk semangkuk sup di hadapannya. Sementara Alea hanya diam. Kenzo yang dari tadi sibuk menikmati makan pun secara perlahan berhenti. Matanya secara bergantian menatap Mama dan Alea. Ingin rasanya Kenzo mencairkan suasana dengan sebuah candaan. Tapi dia tahu hal itu akan percuma. Dia mengenal dengan baik suasana ini. Dia tahu itu.

"Al-"

"Alea berangkat dulu."

Baru saja Kenzo akan berbicara, Alea sudah bangkit berdiri dan kemudian berjalan pergi. Perhatian Kenzo kini beralih ke Mama yang terlihat sudah mulai tidak bisa menahan air mata. Dada Kenzo semakin kalut. Hari ini seharusnya tidak berjalan seperti ini. Tanpa menunggu aba-aba, dia bangkit dan segera berlari mengejar Alea yang pasti belum jauh.

Kenzo baru saja melewati pintu ketika tiba-tiba kepalanya berdenyut nyeri. Dia berusaha mengabaikan rasa sakit itu dan mencoba berlari. Tapi sepertinya tekad Kenzo masih kalah kuat dari sakitnya. Matanya samar menatap Alea yang melewati gerbang. Gelap kemudian merenggutnya beserta kesadarannya.

***

Alea berjalan pelan. Kilas kejadian semalam masih begitu jelas membayanginya. Ada rasa sesal yang dengan mudah mengalahkan amarah. Dia sangat menyayangi Mama. Kata-katanya yang menusuk, yang sudah membuat Mama marah sangat Alea sesali. Alea sangat merindukan Mama. Kedatangan Mama adalah hadiah terbaik yang bisa Alea dapatkan. Tapi pada akhirnya dirinya lah yang sudah membuat semuanya berantakan. Hatinya diselimuti kebimbangan. Sampai-sampai dia tidak sadar kalau ada motor yang melaju kencang ke arahnya.

"Aaah!"

"Kalau jalan lihat-lihat dong,' ujar si pengendara motor yang dengan sigap menghindari Alea dan berhenti tepat di depannya.

"Nggak papa?" Alea mendongak. Mendapati wajah yang tak asing.

"Kak Evan." Alea berdiri dibantu oleh Evan.

"Pakai nih." Evan menyerahkan sebuah helm kepada Alea. "Temenin Aku bentar yuk."

Tanpa mengucapkan apapun, Alea menuruti kata-kata Evan. Ada sedikit kelegaan yang tiba-tiba muncul ketika dia berada di dekat Evan. Hal yang biasanya diberikan oleh Kenzo.

Jalanan pagi ini cukup lengang. Hanya ada satu dua kendaraan umum dan pribadi yang terlihat melintas. Deru halus dari mesin motor Evan adalah satu-satunya suara yang mengisi sunyi di antara Evan dan Alea. Mereka kini tengah melaju menekuri jalan pikiran masing-masing.

Setelah sekitar 15 menit, Evan mengarahkan motornya memasuki tempat parkir sebuah areal pemakaman. Alea bertanya-tanya, ke mana Evan ingin mengajaknya? Setelah turun dari motor, mereka berjalan memasuki areal pemakaman. Ada hawa sendu yang tiba-tiba menyergap Alea. Dengan langkah kakinya yang kecil, dia berusaha mengikuti langkah kaki lebar Evan. Hingga mereka berhenti di depan 2 buah makam.

"Ini makam almarhum ayah dan bundaku." Evan akhirnya bersuara. Alea tercekat. Dia baru tahu kalau Evan adalah seorang yatim piatu.

"Mereka meninggal waktu Aku masih SMP." Evan kembali sukses menyekap Alea dalam hening.

"Sekarang Aku tinggal di tempat om dan tanteku, Al. Beliau berdua divonis nggak bisa memiliki keturunan, jadi mereka ngerawat Aku sejak saat itu," terang Evan seolah bisa membaca pikiran Alea.

"Mereka baik banget. Kalau nggak ada mereka, Aku nggak tahu gimana nasibku sekarang." Evan tertawa kecil. Tawa yang menggoreskan sebuah rona merah di wajah Alea yang sejak tadi menatapnya.

"Tapi jujur, kehadiran mereka nggak akan pernah bisa menggantikan kepergian ayah dan bundaku. Sampai sekarang, Aku masih sering rindu mereka, Al. Bahkan kalau lagi baper-bapernya, aku bisa sampai nangis, lho. Malu-maluin nggak tuh?" Kembali Evan tertawa. Kini sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Alea tak tahu harus berbuat apa selain ikut tertawa.

"Aku masih sering nyesel, Al. Kenapa mereka dipanggil secepat itu sementara Aku belum bisa kasih apa-apa buat mereka? Pas lagi terpuruk, pertanyaan itu sering datang. Kadang Aku juga ngerasa apa yang selama ini Aku lakuin nggak akan ada gunanya kalau nggak ada mereka. Tapi kalau inget om dan tante, dan juga sahabat-sahabatku, Aku selalu bisa bangkit lagi. Nggak peduli seburuk apapun, mereka selalu ada buatku.

"Mungkin Aku udah nggak punya kesempatan buat nunjukin seberapa besar cintaku ke ayah dan bundaku. Tapi seenggaknya, Aku masih punya mereka." Evan tersenyum.

Kalimat-kalimat Evan dengan jitu memasuki ruang hati Alea. Kegelisahannya perlahan luntur. Meluruh bersama air mata yang kini tak lagi biasa dia bendung. Alea terduduk, memeluk lututnya. Berusaha menyembunyikan tangis itu dari Evan yang ada di sampingnya.

"Kamu masih punya mereka, Al. Papa dan mama kamu. Masih ada waktu buat kamu untuk nunjukin seberapa besar cinta kamu kepada papa dan mamamu." Evan menepuk lembut ujung kepala Alea. Membiarkannya menyembunyikan tangis lirih itu.

Tiba-tiba ponsel Evan berdering. Sebuah panggilan singkat. Raut wajah Evan mendadak berubah. Dia segera menghampiri Alea yang sudah sedikit tenang.
"Al, Kenzo pingsan."

Will be continued...

0
20-12-2017 15:27
Quote:
Quote:
Act 9 - "An Old 'Friend'"


Quote:Lapangan area timur kampus nampak riuh. Para mahasiswa tahun pertama tengah berkumpul menunggu kegiatan terakhir dari rangkaian acara ospek dimulai. Masing-masing sudah berkumpul dengan kelompok dan pengawasnya. Beberapa sibuk mengecek barang dan peralatan, sementara yang lain sibuk melakukan aktivitas lain. Mengabsen anggota. Salah satunya kelompok Alea.
"Aduh, Alea di mana sih." Liana masih saja bergumam sambil terus berkutat dengan smartphone-nya.
"Udah coba ditelpon?' Gian bertanya.
"Nggak diangkat. WA sama BBM juga nggak dibaca," sahut Emily. Dia tidak bisa menyembunyikan kepanikannya.
"Kita tunggu aja dulu. Siapa tahu Alea masih di jalan, jadi nggak bisa buka hp." Nissa menenangkan.
"Itu Alea." Tangan Gea menunjuk ke arah tempat parkir fakultas yang berada tak jauh dari tempat mereka kini berdiri.
"Dia sama siapa ya? Itu kayaknya bukan motor kak Kenzo deh." Liana mengernyitkan dahi.
Alea tampak menyerahkan helm yang baru saja dilepasnya kepada si pengendara. Wajahnya masih tertunduk lesu. Evan pun melepas helm-nya, memberikan jawaban kepada rasa penasaran teman-teman Alea. Beberapa dari mereka terlihat kaget.
"Woh, Alea perkembangannya udah jauh. Lo kapan, Em?" Liana menyikut Emily yang tidak bisa membalas karena mukanya memerah.
"Tapi kok Alea kayak sedih gitu?" Nissa menimpali.
"Abis ditolak kali." Wisnu berkelakar yang langsung disambut dengan ayunan tangan Mars ke kepala Wisnu.
"Mending Lo nyerah, Wis. Dibandingin kak Evan, Lo tuh nggak ada apa-apanya. Ibarat langit sama sumur." Kali ini Venus yang bersuara.
"Sumur? Dalem dong," timpal Mars. Yang lain pun tertawa.
Di parkiran, Alea masih berdiri membisu. Rasa khawatirnya kepada Kenzo membuatnya kehilangan minat pada acara makrab ini. Evan yang dari tadi diam mengamati Alea pun akhirnya menghela napas lalu mengangkat tangannya, menyentuh kedua pipi Alea. Membuat wajah penuh mendung itu terangkat.
"Hei." Suara Evan sukses mengambil perhatian Alea.
"Percaya sama Kenzo. Dia emang suka bikin orang lain khawatir. Tapi dia bukan tipe orang yang suka bohong apalagi ingkar janji." Evan berusaha menenangkan Alea. Kali ini kedua mata mereka saling bertemu. Tanpa saling mengalihkan pandangan. Begitu dekat.
Alea tidak tahu harus berkata apa. Perlahan, rasa cemas dan khawatir yang sejak tadi memenuhi seisi kepalanya mulai berganti dengan tenang. Alea pun sepenuhnya mengerti. Dia jatuh cinta kepada Evan.
"Makasih, kak." Alea tersenyum.
"Ya udah. Kamu langsung ke lapangan, ya. Temen-temenmu pasti udah di sana." Alea mengangguk kemudian berbalik. Meninggalkan Evan yang masih mengawasi Alea berjalan maju. Tiba-tiba dia mendelik.
"Sial. Gue lupa kasih hadiahnya."
***
"Duh, maaf ya Aku telat." Alea baru saja tiba dan bergabung dengan kelompoknya.
"Darimana aja, Al?" tanya Emily. Alea tak langsung menjawab. Kombinasi rasa cemas dan bahagia dalam dirinya masih terus berputar-putar. Membuatnya bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan Emily.
"Tadi diajak pergi kak Evan." Akhirnya jawaban itu yang bisa Alea temukan. Jawaban yang langsung mendapatkan reaksi histeris dari teman-temannya.
"Al! Kak Evan nembak Lo? OMG! Udah resmi dong?!" Liana yang paling bersemangat.
"Enggak. Cuma diajak aja," jawab Alea kalem.
Liana sepertinya tidak terima dengan jawaban Alea. Dia baru akan menginterogasi Alea ketika ponsel Alea berdering. Alea meraih ponselnya. Panggilan dari Kenzo. Tanpa pamit pada teman-temannya, Alea segera ngeloyor pergi.
"Kak Kenzo! Kakak nggak papa? Kakak sakit lagi?" Alea segera memberondong Kenzo dengan banyak pertanyaan.
"Al, kakak nggak papa. Kakak udah periksa ke dokter dan kata dokter nggak ada yang nggak beres. Semuanya sehat."
Alea menghela napas lega, "syukur deh kalo gitu."
"Tadi kamu bareng Evan sampai kampus?" tanya Kenzo. Muka Alea memerah mendengar pertanyaan Kenzo.
"Hahaha. Nggak usah malu sama kakak. Emang tadi kakak yang suruh Evan jemput kamu."
"Hah? Jadi kakak yang nyuruh kak Evan?" Alea bersungut-sungut.
"Iya. Karena kakak tahu, Evan bakalan bisa bikin kamu lebih tenang. Apalagi setelah kejadian semalam." Mendengar penjelasan Kenzo, Alea hanya bisa terdiam. Ternyata kakaknya tahu.
"Al."
"Ya, kak."
"Mama pengen ngomong sesuatu sama kamu." Kalimat Kenzo tiba-tiba membuat jantung Alea mengkerut. Dia sudah bisa menerima apa yang terjadi semalam. Tapi untuk bicara dengan Mama lagi, dia masih belum mampu.
"Hal-"
"Klik." Alea reflek mengakhiri panggilan itu. Ada rasa sesal yang kembali muncul. Tapi ada rasa sungkan yang menimpalinya. Dengan langkah gontai, Alea kembali ke teman-temannya. Dan suara salah seorang panitia memberi komando untuk berkumpul memberi tanda bahwa kegiatan makrab akan segera dimulai. Menghentikan rentetan pertanyaan dari Liana. Meminta Alea sejenak menunda berbagai hal yang berkecamuk dalam pikirannya.
***
Evan melangkah menuju ruang panitia dengan senyum yang tak bisa disembunyikan. Waktu singkat bersama Alea tadi begitu berkesan baginya. Kenzo pun sudah memberikan lampu hijau. Tinggal dirinya yang harus nge-gas. Tapi sayang, hadiah yang sudah dia siapkan dengan terburu-buru pada akhirnya gagal dia berikan. Masih beberapa meter dari tempat tujuan, ponselnya berdering.
"Halo, sob. Kondisi Lo gimana?"
"Gue nggak apa-apa. Sarapan tadi kurang banyak kayaknya." Kenzo tertawa di seberang sana.
"Dasar perut karet."
"Alea tadi gimana?" Kenzo kembali ke topik.
"Masih cemas, tapi udah mendingan lah bisa senyum," jawab Evan.
"Syukur deh kalo gitu. Titip acaranya, ya. Sorry nggak bisa datang."
"Udah, nggak apa-apa. Yang penting Lo cepet pulih."
"Van."
"Ha?"
Ada jeda cukup lama yang memaksa Evan menghentikan langkah.
"Ada apa, sob?" tanya Evan penasaran. Sesuatu tengah dipikirkan sahabatnya.
"Nggak. Nggak ada apa-apa. Ya udah semoga kegiatannya lancar." Kenzo mengakhiri panggilan. Evan tahu, Kenzo belum siap bercerita dan dia mengerti.
Panggilan dari Kenzo berakhir tepat ketika Evan melewati pintu ruang panitia. Senyum Evan tiba-tiba lenyap. Di dalam ruangan, ada Tara yang sibuk dengan ponselnya. Dan satu orang lagi, sosok yang sangat tidak ingin Evan temui. Rara.
"Hai, Van." Rara menyapa Evan dengan ceria. Yang disapa hanya melengos.
"Eh jabrik." Evan menjitak kepala Tara. "Itu cewek ngapain ada di sini?"
"Gue gantiin Ve," jawab Rara tanpa diminta. Evan mengernyitkan dahi.
"Ve keluar gara-gara insiden tempo hari." Tara menimpali. Raut wajah Evan berubah. Seolah ingin berkata "oh gitu" tapi enggan mengucapkan apapun.
"Kenzo mana?"
"Ngapain Lo tanya-tanya di mana Kenzo?" tanya Evan ketus.
"Gue cuma-"
"Cuma apa ha?! Lupa ya gimana dulu Lo udah bikin Kenzo hancur? Dan sekarang dengan enaknya tiba-tiba nongol nyariin Kenzo?!" Amarah Evan tak lagi bisa ditahan. Dan Tara tahu, jika dibiarkan lebih lama, Evan bisa berubah menjadi orang yang berbeda.
"Sob udah." Tara bangkit. Menarik Evan menjauhi Rara. "Nggak ada gunanya Lo marah-marah ke Rara. Biarin yang udah lewat. Beruntung Kenzo amnesia soal kejadian waktu itu. Cukup kita aja yang ingat."
Evan menghela napas. Berusaha menenangkan diri. "Lo bener, Tar. Sial Gue kelepasan."
"Ya udah. Cabut yuk." Tara dan Evan meninggalkan Rara sendiri dalam diam.
Rara tertunduk. Hanya sepi yang mampu mendengar isak lirih itu. Dan hanya Rara sendiri yang tahu bagaimana sulitnya memendam sesal dan dikekang rasa takut. Semua karena kesalahan fatalnya di masa lalu.
"Gue cuma mau minta maaf."

Will be continued...

0
28-12-2017 08:26
Quote:
Quote:
Act 10 - "Memory


Quote:Di rumah, wajah Mama masih murung. Beliau duduk sendirian di ruang keluarga dan membiarkan TV menyala begitu saja. Kenzo yang baru saja muncul dari dapur langsung duduk di samping ibunda tercintanya. Meletakkan secangkir teh di meja.
"Mama nggak usah khawatir. Alea pasti udah ngerti kok." Kenzo berujar tanpa menoleh. Tangannya meraih remote TV dan mengganti channel ke mode AV.
"Ini-"
Mama terdiam. Kata-kata yang hendak diucapkan mendadak enggan keluar. Berganti dengan senyum yang perlahan mengembang. Video rekaman hari ulang tahun Alea yang ke-7.
Beliau benar-benar rindu kepada Kenzo. Dan saat ini, rasa rindu itu telah terobati. Kenzo yang pandai membaca suasana. Kenzo yang dengan cara sederhana mampu menghapus duka dan menghadirkan bahagia. Mama menyeka bulir air mata yang sudah siap jatuh. Berusaha menggantinya dengan raut bahagia.
"Kenzo selalu pasang rekaman ini, Ma. Supaya kalo Kenzo kangen Papa sama Mama, Kenzo tinggal pencet tombol. Nggak bisa sepenuhnya ngobatin, sih. Tapi minimal bisa bikin hati tenang."
"Kamu mau ke mana?" tanya Mama ketika Kenzo bangkit berdiri.
"Garasi."
Sejenak, perhatian Mama teralihkan. Bukan karena penasaran. Mama tahu betul garasi yang dimaksud Kenzo adalah pojok kecil garasi tempat Kenzo menyimpan alat-alat lukis. Tempat Kenzo dulu menghabiskan waktu. Tapi sudah sejak lama Kenzo seperti lupa pada tempat itu.
Mungkin Kenzo kangen melukis.
Di garasi, Kenzo berdiri sambil mengamati tumpukan kaleng cat dan kuas yang sudah kering. Beberapa kain putih menutupi kanvas yang dibiarkan bersandar begitu saja. Mata Kenzo mencari, dan menemukan sebuah kanvas tertutup kain yang dipisahkan. Dengan sekali tarik, kanvas itu memperlihatkan isinya. Kenzo tersenyum. Tangan kanannya memegang dada sebelah kiri.
"Ternyata rasa sakitnya masih ada."
***
Kenzo sedang sibuk membuat lukisan dari foto Rara yang dia pegang. Di sampingnya, ada Evan yang sabar menemani Kenzo menyelesaikan lukisannya.
“Sob. Loe yakin mau kasihin lukisan ini ke Rara?” tanya Evan ragu-ragu.
“Yakinlah sob. Soalnya cuma ini yang gue punya. Gue di sini kan hidup sendiri, duit dari ortu harus gue atur bener-bener buat kebutuhan gue. Dan gue yakin, Rara pasti suka sama lukisan ini.” Jawab Kenzo yang masih sibuk menggoreskan kuasnya ke kanvas. Evan hanya tersenyum melihat sahabat terbaiknya itu dengan tulus menyelesaikan lukisan itu. Namun Evan merasa kasihan karena Kenzo tampak begitu pucat karena telat makan.
“Kenzo, Evan. Berangkat jam berapa nih?” tanya Tara yang tiba-tiba nyelonong masuk.
“Elo Tar. Permisi dulu kenapa? Jangan asal nyelonong gitu.” Kata Evan memarahi Tara.
“Sori Van. Soalnya udah jam 7 nih. Kan pesta ulang tahunnya si Rara udah mulai.” Kata Tara menjelaskan.
“Yuk berangkat. Lukisannya udah selesai.” Kata Kenzo mantap. Dia sudah menenteng lukisan yang tertutup kain putih. Dengan mobil Tara, mereka bergegas meluncur ke tempat pesta Rara.
Sesampainya di sana, suasana tampak ramai. Begitu banyak teman Rara yang diundang. Dengan segera, Kenzo ditemani Evan dan Tara pun bergegas masuk. Dengan hati-hati, Kenzo membawa lukisannya. Dia menoleh ke sana ke mari mencari di mana Rara berada. Karena tak kunjung ketemu, Kenzo pun bertanya ke salah seorang tamu.
“Rara di mana ya?” tanya Kenzo ke salah seorang tamu.
“Oh, Rara kayaknya lagi di kolam renang belakang tadi.” Jawab Tamu itu. Kenzo pun bergegas mengajak Evan dan Tara ke sana.
“Evan, Tara. Yuk.” Ajak Kenzo bersemangat. Evan tampak kasihan melihat semangat yang dibalut tubuh lemah dan wajah pucat Kenzo. Mereka bertiga berjalan menuju ke kolam renang yang berada di halaman belakang rumah Rara. Tapi langkah kaki Kenzo mendadak terhenti, tubuhnya bergetar hebat. Evan dan Tara pun ikut menghentikan langkah mereka.
“Kok berhenti Zo?” tanya Tara ke Kenzo.
“Iya sob. Kok mendadak berhenti kenapa?” Evan juga bertanya ke arah Kenzo. Tapi Kenzo tidak menjawab.
Mulut Kenzo terkunci melihat pemandangan yang ada di depan matanya saat ini. Tara dan Evan yang mengetahui hal itu pun ikut memandang ke arah pandangan Kenzo. Mereka pun juga terkejut. Tara ikut-ikut berdiri mematung. Mereka melihat Rara sedang berciuman dengan sangat mesra dengan seorang lelaki. Tak lama, Rara pun menyadari kehadiran Kenzo-Evan-Tara. Dia pun nampak gugup.
“Eh, Kenzo.” Kata Rara sambil merapikan rambut dan bajunya. Kenzo tersenyum kecut. Lukisan yang daritadi dia pegang dia letakkan begitu saja. Kemudian dengan langkah gontai, dia pergi meninggalkan tempat itu.
“Kenzo. Tunggu!” teriak Tara berlari mengikuti Kenzo.
“Keterlaluan loe Ra! Mainin perasaan tulus Kenzo! Dasar cewek murahan! Loe gak pantes nerima apapun dari Kenzo!” kata Evan penuh amarah. Evan kemudian berlari mengejar Kenzo dan Tara.
Rara kebingungan karena dia tertangkap basah oleh kedua mata Kenzo. Dilihatnya lukisan Kenzo yang tergeletak dan masih tertutup kain putih. Setelah disingkapkan, nampaklah lukisan wajahnya yang begitu cantik. Goresan kuas Kenzo yang begitu tulus, yang kini hanya tergeletak begitu saja. Tak lagi punya arti. Rara pun bergegas mengejar Kenzo.
Sesampainya di luar rumah Rara, Tara berhenti sejenak mengatur nafasnya. Tapi dilihatnya Kenzo yang nampak terus berjalan tanpa arah, melangkah menuju jalan raya yang ramai. Apalagi mendadak hujan turun dengan deras.
“Kenzo!!” teriak Tara melihat sebuah mobil melaju ke arah Kenzo. Beruntung Kenzo langsung mendengar dan berusaha menghindar. Tapi sayang, Kenzo kehilangan keseimbangan. Dia terjatuh dan kepalanya terantuk bahu jalan. Kenzo pun kehilangan kesadaran. Evan yang baru bisa menyusul Tara, kemudian berlari diikuti Tara ke tempat Kenzo terjatuh.
“Kenzo! Kenzoo!!!” teriak Evan kebingungan. Dari belakang, muncul Rara yang kemudian jatuh terduduk melihat kondisi Kenzo.
***
"Kenzo." Suara Mama dari belakang membuyarkan lamunannya. Dia masih duduk di bangku kecil sambil memandangi sebuah lukisan yang tak lagi tertutup kain.
"Sayang, kamu kenapa?" Tangan Mama terulur menyeka air mata Kenzo.
"Lho, kenapa in? Kok tiba-tiba Aku nangis?" Tangan Kenzo ikut menyeka matanya sendiri. Ada kesedihan yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Ingatan yang selama ini hilang, perlahan mengemuka. Muncul bagai potongan-potongan film di dalam kepalanya. Bersama dengan rasa sakit yang begitu familiar. Dia menjatuhkan diri ke dalam pelukan Mamanya. Menangis seperti anak kecil yang terluka di pelukan sang Ibunda.
"Kenzo keinget Rara, Ma."
Satu kalimat itu cukup menjelaskan kondisi Kenzo saat ini. Ingatan Kenzo sudah sepenuhnya kembali. Dan waktu sudah benar-benar bergerak. Meminta Kenzo untuk menerima. Dan sepenuhnya bergerak maju.
"Kenzo," panggil Mama setelah Kenzo sudah lebih tenang. "Mama mau ngomong sesuatu yang penting sama kamu."
"Soal apa, Ma?"
"Alasan Mama kemari."
***
Rara duduk sendirian sambil menatap layar ponselnya. Sebuah foto terpampang sebagai wallpaper. Foto lukisan Kenzo waktu itu. Pada saat-saat seperti inilah Rara menyendiri menghabiskan waktu sambil melihat foto tersebut. Merenungi masa itu. Saat di mana dirinya belum bisa menghargai apa itu cinta. Lukisannya sendiri masih terpasang rapi di dinding kamar Rara. Meski warnanya ada yang agak luntur karena hujan kala itu.
"Kenzo ...." Suara lirih itu tertelan riuhnya acara pentas seni yang saat ini sedang berlangsung di aula.
"Lo beneran nyesel, Ra?" Rara mendongak. Wajahnya nampak tidak siap ketika mendapati sosok Evan yang sedang berdiri di hadapannya.
"Sebenarnya Gue males, Ra nyamperin Lo ke sini." Evan mendudukkan dirinya di sebelah Rara.
"Terus?" Rara bertanya. Tangannya sibuk mengusap kedua mata.
"Tara yang nyuruh Gue. Meskipun dia kelihatan kayak anak kecil, dia punya hati yang besar." Evan menengadah memandang langit.
"Iya juga sih. Dari kalian bertiga, Tara yang kelihatan paling sering ketawa." Rara menanggapi.
"Jadi, Lo beneran nyesel?" Evan kembali ke kalimat pertamanya. Matanya masih belum mau menatap Rara. Senyum Rara meredup.
"Gue bener-bener nyesel, Van. Dan sampai detik ini, Gue masih belum bisa maafin diri Gue sendiri." Rara menunduk. Berusaha menyembunyikan wajahnya.
"Lo tahu kan, kondisi Kenzo sekarang kayak gimana? Shock yang dia alami bikin dia trauma. Dan ingatan Kenzo tentang malam itu, tentang Lo, hilang."
"Iya, Van. Gue tahu. Tahu banget. Dan hal itu bikin Gue nggak tahu harus berbuat apa. Berkali-kali Gue berusaha buat deketin Kenzo untuk minta maaf. Dan berkali-kali juga dia cuma lihat Gue sekilas. Dia bener-bener lupa sama Gue. Dan itu yang bikin Gue tambah sakit." Wajah Rara terangkat. Ada tangis yang berusaha dia tahan. Terdengar helaan napas Evan.
"Seandainya ada kesempatan, Lo mau minta maaf ke Kenzo?" tanya Evan.
"Gue mau." Rara menjawab mantap.
Evan berdiri. Tanpa memalingkan wajah, dia berkata kepada Rara. "Ingatan Kenzo udah kembali normal."
***


Will be continued...

0
Halaman 2 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
misterlady
Stories from the Heart
everytime
Stories from the Heart
rahasia-malam
Stories from the Heart
my-final-journey
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.