Story
Pencarian Tidak Ditemukan
KOMUNITAS
link has been copied
487
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a07bd356208817e268b4569/tak-ada-gading-yang-tak-retak-true-story
Ketika semua orang mengatakan tidak ada sesuatu yang sempurna, tetapi aku memiliki sesuatu yang begitu sempurna di hidupku.Gading, sebuah arti dari nama Ivory. Ia adalah sesosok wanita yang amat sempurna, tidak retak seperti apa yang orang selalu katakan. Di dalam kesempurnaan itu, ada hal yang membuatku semakin tidak mungkin untuk menyakitinya.
Lapor Hansip
12-11-2017 10:17

[Tak Ada] Gading yang Tak Retak (True Story)

[TAK ADA] GADING YANG TAK RETAK (TRUE STORY)





Ketika semua orang mengatakan tidak ada sesuatu yang sempurna, tetapi aku memiliki sesuatu yang begitu sempurna di hidupku.

Gading, sebuah arti dari nama Ivory. Ia adalah sesosok wanita yang amat sempurna, tidak retak seperti apa yang orang selalu katakan. Di dalam kesempurnaan itu, ada hal yang membuatku semakin tidak mungkin untuk menyakitinya.

Gading, tak kuasa aku menyakitinya dengan segala keindahan dan kesempurnaan yang ia miliki. Bahkan terlalu sempurnanya ia, sampai ia pun ingin orang yang mencintaiku juga merasakan kebahagiaan yang sama dengannya.

Gading yang Tak Retak.




Selamat datang di thread kedua saya. Perkenalkan saya adalah Sani, seorang setengah pedagang yang masih mencari peruntungan dari banyak hal. Apabila belum pernah membaca thread saya, saya persilakan untuk membaca terlebih dahulu thread saya sebelumnya.



Pada cerita sebelumnya, saya berhasil memberikan jawaban kepada hati saya sendiri yang begitu bimbang atas pilihan di antara Cahaya, mantan istri saya, dan Ivory yang saat ini menjadi Istri saya. Perselingkuhan sistematis sebenarnya sudah dimulai sejak saya dan Cahaya masih berpacaran dahulu, ia lebih memilih mantan kekasihnya semasa SMA ketimbang harus setia kepada saya.

Dan saat kebimbangan itu mulai merasuk jauh ke dalam hati saya, datanglah Ivory, gadis yang saat itu masih berumur delapan-belas-tahun, memberikan saya cinta sejati yang mungkin tidak akan pernah saya rasakan sebelumnya.

Semuanya tidak berhenti ketika Rahma, mantan kekasih saya dan Anita, seorang wanita yang begitu luar biasa, juga datang ke kehidupan saya, menawarkan cinta yang begitu indah pula untuk saya pilih ketika saya sedang berada di ambang kebimbangan.

Hanya satu permintaan Ivory kepada saya, ia ingin saya juga membahagiakan orang yang juga mencintai saya. Itu berarti saya harus memilih lagi untuk menikahi antara Cahaya, Rahma dan Anita. Kisah ini menjadi sangat rumit ketika seseorang datang ke dalam hidup saya dan mengatakan ia tengah hamil anak saya.

Apakah saya harus memilih salah satu dari mereka?

Atau tidak sama sekali?

Quote:Original Posted By "PERATURAN"

  1. Selalu ikuti dan patuhi Rules SFTH dan Grand Rules H2H.
  2. Dilarang kepo yang berlebihan di thread, apabila mau bertanya, ada PM yang akan dijawab.
  3. Silakan apabila Anda menganggap tulisan ini hanyalah sebuah ilusi dan karangan belaka, justru itu sangat baik karena tidak akan ada yang mencoba mencari tahu siapa saya dan tokoh lainnya yang saya sebutkan di sini.
  4. Saya tidak bisa memberikan ilustrasi karakter, takut-takut akan mengganggu kehidupan nyata para tokoh yang saya sebutkan di sini.
  5. Saya tidak bisa memberikan janji update, mengingat saya harus menjaga toko saya, tetapi saya usahakan untuk update dua hari sekali, dan juga tergantung kesibukan Editor saya.



Maaf apabila ada salah kata, penulisan, atau sikap dalam berforum, mohon bimbingan dari teman-teman semua, dan apabila ditemukan gaya bahasa saya mirip dengan salah satu, atau banyak penulis di SFTH, mohon maklum, saya hanya penulis amatiran baru.

Selamat membaca.

Quote:
INDEKS CERITA


Quote:


Polling
92 Suara
Siapakah yang harus gw (Sani) pilih? 
Diubah oleh ivory.cahaya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Masuk untuk memberikan balasan
stories-from-the-heart
Stories from the Heart
25.9K Anggota • 29.6K Threads
Halaman 1 dari 26
[Tak Ada] Gading yang Tak Retak (True Story)
12-11-2017 10:17
Disediakan buat update laen2 ye bro. emoticon-Cool
0 0
0
[Tak Ada] Gading yang Tak Retak (True Story)
12-11-2017 10:18

8 Juni 2016

8 JUNI 2016


“Kak, bangun Kak,” ujar suara itu begitu lembut seraya tangan-tangannya mengusap pipiku perlahan.

“Iya sayang,” sahutku seraya membuka mataku dan memandang kepadanya, “sahur Kak, udah adek masakin makanan kesukaan Kakak tuh,” ujarnya dengan senyum yang begitu meneduhkan.

“Makasih yah sayang,” ujarku lalu beranjak dari ranjang, sementara wanita itu masih di sana, tersenyum seraya menggenggam tanganku.

“Sayang deh sama Kakak,” ujarnya lalu mendekat ke arahku, tanpa banyak kata ia mendekapku.

“Tumben kamu begini?”

“Biasanya cuek aja.”

“Masa sih,” ujarnya seraya menyentuh hidungku dengan telunjuknya.

“Perasaan aku gak pernah cuek sama Kakak,” ujarnya lalu tersenyum.

“Iya cantik.”

“Yuk kita maem sahur dulu.”


Kupagut jemarinya perlahan dan mengajaknya ke meja makan, di mana sudah tersedia makan sahur untuk kami berdua. Pagi ini, ia memasak makanan sederhana, ayam goreng yang sudah ia ungkep tadi malam saat aku baru saja pulang dari ruko.

Semuanya berjalan begitu indah kini, setelah semuanya yang terjadi, aku yakin apapun keputusan yang kuambil adalah semua yang terbaik yang terjadi. Setidaknya ada hati yang termaafkan dan tidak ada dendam di antara kami lagi kini.

*****



“Kak, mau buka jam berapa?” tanyanya sementara aku hanya sibuk di depan notebookku saat ini.

“Biasa, Ba’da ‘Ashar.”

“Kenapa sayang?”

“Enggak Kak,” ujarnya lalu duduk di sebelahku, “lagi ngapain sih?”

“Gak ada, cuma ada sedikit kerjaan, yang kemaren di kasih sama Fariz,” ujarku lalu memandang wanita itu.

“Makasih yah udah kasih aku kesempatan,” ujarnya lalu menggenggam tanganku, aku lalu tersenyum, “setiap orang berhak atas kesempatan ini kan?”

“Iya sih Kak,” ujarnya lalu menyandarkan kepalanya di pundakku, “gak nyangka tapi bakalan begini.”

“Kayak mimpi rasanya.”

“Ini nyata dek, bukan mimpi,” ujarku lalu mencubit pelan pipinya, “genit ah lagi puasa juga.”

“Nanti mau ikut ke ruko?” tanyaku, ia hanya menggeleng, “di rumah aja ah, males.”

“Tapi gak ngajak siapa-siapa kan ke rumah?” tanyaku meledeknya, “ih enggak lah, emang aku cewek apaan.”


Kami berdua tertawa begitu gembira ketika aku meledeknya dengan perkataan barusan, dan untunglah ia tidak pemarah seperti biasanya.

Ia terus berada di sebelahku, sesekali memainkan ujung-ujung rambutku dan mencium pipiku dengan mesra, sementara aku masih melanjutkan pekerjaanku saat ini di depan notebook miliknya.


“Kak, yakin kan gak nyesel sama keputusan kamu?”

“Kenapa nyesel?” tanyaku lalu menghentikan tarian jemariku di atas keyboard notebook ini, “sama sekali gak terlintas apa-apa di kepalaku kok.”

“Justru, aku bahagia bisa sama-sama kamu.”

“Yakin kan Kak?” tanyanya dengan nada yang amat penasaran, aku lalu mengangguk.

“Karena aku yakin, kita bisa jalanin ini semua kok sayang,” ujarku ringan.


Ia lalu mendekapku dengan begitu hangat, rasanya memang benar-benar lega atas semua keputusan yang telah kuambil, dan semoga keputusan ini bukanlah hal yang buruk.

Tidak lama berselang, aku dikejutkan dengan datangnya sebuah Hatchback B Segment yang terparkir di depan rumahku.

Seseorang yang kukenal keluar dari pintu pengemudi mobil tersebut, sementara aku memandang ke arah Istriku yang juga ikut melihat siapa yang hendak bertamu ke rumahku.


“Loh kenapa dia ke sini Kak?” tanyanya keheranan.

“Aku gak tahu, kamu masuk aja, takut kenapa-napa.”


Wanita itu turun dengan wajah yang begitu sedih, entahlah aku pun tidak mengerti apa yang dimaksud dengan sedih itu, padahal ini semua sudah disetujui oleh kami semua.

Ia mengetuk pintu rumahku dengan lemah, seolah tidak ada tenaga yang tersisa darinya untuk melakukan hal itu. Aku hanya berpandangan dengan Istriku yang saat ini tampak agak ragu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.

Aku tersenyum kepadanya, mengatakan seolah semuanya baik-baik saja saat ini.

Kubuka pintu rumah ini, kusambut dirinya dengan senyuman, dan saat ia mau mendekapku, aku melangkah mundur dan memandangnya.


“Maaf, kita bukan muhrim,” ujarku pelan.

“Kak,” panggilnya dengan wajah yang begitu bersedih, “tapi kenapa?”

“Loh, kan aku udah bilang sama kamu, kalo semua keputusan itu udah bulet.”

“Aku gak mau permasalahin ini lagu sama kamu.”

“Kak,” panggilnya lagi, “tapi kenapa begini?”

“Kenapa semua cinta yang Kakak bilang tiba-tiba ilang gitu aja?”

“Katanya Kakak bahagia sama aku, katanya Kakak seneng di deket aku?”

“Dek,” panggilku pelan, “semuanya udah jelas kan, apa-apa yang aku putusin buat kebaikan kita semuanya kan?”

“Aku gak mau ada hubungan-hubungan terlarang di antara kita.”

“Jadiin aku yang kedua Kak,” ujarnya pelan, wajahnya penuh harapan kepadaku, aku lalu menggeleng.

“Aku gak mau begitu,” ujarku pelan, “tapi kenapa Kak Fariz mau?”

“Okay, kalo kamu yang mau, aku ajuin syarat buat kamu.”

“Syarat yang sama kayak Kak Fariz ajuin ke Nita,” ujarku.


Wanita itu hanya memandangku dengan wajah yang tidak percaya, ia menggelengkan kepalanya pelan seraya meneteskan air mata yang mengalir pelan dari kedua matanya.

Tampak sebuah harapan yang tersirat dari tiap sorotan matanya yang begitu nanar memandangku kini. Jujur, aku sungguh tidak tahan apabila melihat wanita memandangku dengan pandangan seperti itu, tetapi semua keputusanku sudah bulat.

Aku tidak akan mau lagi jatuh ke dalam jurang itu lagi. Cukup saat itu, dan tidak ada lagi hubungan gelap itu lagi.


“Kalo emang itu yang Kakak mau, aku lakuin.”

“Tapi janji, harus terima aku apapun itu.”

“Dek,” ujarku pelan lalu menggeleng, “kamu tahu, syarat kayak Fariz itu gak mungkin kamu lakuin.”

“Kamu tahu itu berat.”

“Aku ngerti, tapi ada masalah laen Kak,” ujarnya dengan wajah yang serius.

“Jujur aku baru tahu kalo aku itu,” ujarnya ragu, ia lalu memegang perutnya.

“Aku itu…”

“Aku hamil Kak,” ujarnya dengan wajah yang begitu sedih saat itu.

“Gak mungkin.”


Pandangannya nanar menatapku, sementara aku hanya menggeleng pelan, tidak percaya apa yang saat ini kudengar. Wanita itu mencoba tersenyum walaupun pahit dan mengambang.

Akhirnya dengan terpaksa aku memintanya untuk masuk ke dalam rumah ini. Istriku pun keluar dari kamarnya, sementara wanita itu terus menerus memandang Istriku dengan wajah yang begitu sedih.


“Kak,” panggilnya pelan kepadaku, “iya sayang,” sahutku lalu menghampirinya.

“Boleh enggak adek ngobrol sama dia?” tanyanya, pandangannya tersapu ke arah wanita yang masih berdiri di tengah ruangan ini.

“Yaudah sayang.”

“Kakak gak mau denger apa yang mau kalian omongin.”

“Kalo udah selesai langsung pulang aja, gak perlu pamit sama aku.”


Kulangkahkan kakiku menuju ke kamar, Reva masih tertidur pulas di sana saat ini. Aku tersenyum memandang gadis kecil yang begitu menenangkanku saat ini, sayang sekali ia harus menerima kenyataan bahwa sebenarnya ia bukanlah anak kandungku.

Tetapi bukan di sana esensinya.

Cinta itu adalah membahagiakan, bukan dituntut untuk dibahagiakan, setidaknya itu yang selalu kurasakan. Dan mungkin karena hal itulah aku sering dicap bodoh oleh teman-temanku saat ini.

Tidak apa, karena mereka belum pernah merasakan cinta seperti yang kurasakan, dan hal itu benar-benar begitu indah untukku.

*****


Aku masih termenung di sini, menunggu kepergian wanita dengan Hatchback B Segment yang terparkir di depan rumahku.

Jujur, aku sangat kaget mendengar bahwa ia sedang hamil saat ini. Ada perasaan yang begitu bercampur aduk ketika melihatnya mengatakan itu barusan.

Duniaku serasa runtuh saat ini, seolah ada bayangan besar yang menaungi hatiku walau hanya untuk sekadar tersenyum, dan itu karena ucapan wanita yang tengah berbincang dengan istriku.

Ada rasa sesal yang mengalir menyelimuti seluruh tubuhku saat ini, saat aku menerima kenyataan dari ucapannya barusan.

Tetapi, aku benar-benar tidak menginginkan ini semua terjadi, dan mengapa ini semua terjadi ketika aku tidak mengharapkannya? Apakah ada sesuatu yang tersembunyi di balik itu semua?

*****


Sudah dua jam mereka berbincang, tidak ada pertengkaran hebat seperti saat terakhir mereka bertengkar saat itu. Nada-nada simpati yang begitu santun terdengar lembut dari lisan-lisan mereka. Sampai ketika Istriku mengelus perut wanita itu di sana.

Sungguh Ironis, dari semua kenyataan yang terjadi, mereka berdua tidak terlihat bermusuhan satu sama lain. Ataukah ada sesuatu yang mereka sembunyikan, tersirat dari pandangan penuh air mata yang berderai saat ini? Aku tidak tahu, aku hanya bisa melihat mereka dari sini.

Aku kembali ke kamar, melihat Reva yang masih tertidur pulas saat mereka berdua masih berbincang saat ini.


“Kak,” panggil Istriku, “iya sayang.”


Aku berjalan menuju ke mereka yang saat ini masih duduk bersebelahan, tanpa ada aura permusuhan yang terasa sedikitpun.


“Kak, kayaknya kita harus omongin ini lagi deh,” ujar Istriku seraya memandangku serius.

“Maksud kamu?”

“Gini,” ujarnya pelan, “kakak liat keadaannya gimana kan sekarang?”

“Apa mungkin bisa bertahan dengan cara gini?”


Aku langsung terdiam, pandanganku menatap satu persatu dari mereka yang saat ini hanya menatapku dengan begitu teduh di balik air mata yang masih menggenang itu.


“Gimana Kak?” tanya Istriku lagi, aku hanya menghela napas.

“Permintaan adek gak susah kok,” ujarnya pelan dengan tersenyum.

“Adek cuma mau.”

“Kakak pertimbangin permintaan adek kemaren.”

“Buat bikin semuanya jadi satu di rumah ini.”

Aku termenung mendengar ucapannya, kuhela napas begitu panjang, “kenapa harus disatuin?”

“Kakak udah bilang ini semua bukan masalah apa.”

“Tapi ini semua udah gak mungkin buat dilanjutin bertiga.”

“Tapi Kak, apa salahnya?” tanya Istriku, “itu anak Kakak pasti.”

“Apapun itu, aku harus tanya Murobbi aku dulu.”

“Gimana hukumnya, soalnya takut-takut nanti gak ada jalur nasabnya,” ujarku lalu memandang ke wanita yang tengah menangis ke arahku.

“Kak, kasih aku kesempatan buat bahagiain kamu.”

“Aku janji, aku udah sering bilang itu kan sama kamu?” hiba wanita itu dengan isakan yang begitu pilu.

“Aku pertimbangin dulu, aku gak bisa mutusin ini gimana, tapi aku mau tanya sama yang lebih ngerti dulu.”


Kupandang kedua wanita yang menatapku dengan pandangan yang begitu nanar, kuhela napas panjang lalu berdiri dari tempatku duduk saat ini. Aku beranjak, memimpin langkah menuju kamar meninggalkan mereka berdua.

Aku benar-benar tidak menginginkan ini semua terjadi, tetapi ini terasa begitu berat untukku kini. Entah mengapa semuanya terjadi ketika keputusan berat itu kuambil, karena mengulang waktu adalah sesuatu yang tidak mungkin dilakukan.

Dan itu adalah hal terbodoh yang selalu kupikir bisa kulakukan setelah semua ini terjadi.

Wanita itu kemudian pergi setelah bercerita banyak dengan Istriku, meninggalkan sebuah pertanyaan yang sangat sulit untuk kujawab saat ini.

*****


Seminggu telah berlalu setelah tanggal 8 Juni 2016 kemarin, memasuki minggu kedua Bulan Ramadhan, tentu saja aku bersama Istriku disibukkan dengan banyaknya kegiatan yang kami lakukan. Ada kebahagiaan yang terasa begitu indah di bulan yang penuh berkah ini.

Di satu sisi, aku berhasil menjauhkan diri dari dosa-dosa itu lagi. Di satu sisi, aku bisa mendapatkan kebahagiaan yang selama ini selalu kuinginkan.

Dan itu semua terasa begitu nyata disaat suara lembut Istriku selalu membangunkan lelapnya tidurku pada jam 03.45 pagi, menyediakan santapan sahur yang begitu luar biasa. Terkadang Reva pun hadir memberikan kehangatan yang begitu berbeda kepada kami.

*****


Hari ini, Kamis 16 Juni 2016, aku berjanji untuk bertemu Fariz yang kebetulan sedang ada waktu kosong hari ini, ia menyanggupi untuk bertemu denganku dan membahas masalah yang kuhadapi saat ini. Tentu saja dengan beberapa orang yang lebih paham masalah ini.

Dari obrolan dua jam Ba’da Dzuhur yang kami lakukan, tidak ada solusi yang benar-benar bisa mempertahankan ideologiku saat ini.


“Antum gak usah bingung, ana yakin keputusan antum tepat.”

“Tapi Riz, loe gak tahu kan pas dia dateng, dunia gue serasa runtuh.”

“Apapun yang antum jalanin, itu semua udah takdir.”

“Kalopun tiba-tiba dia dateng, yakinlah itu berarti sebuah cobaan lagi.”

“Lagian, Allah sayang sama antum kalo masih dikasih ujian.”

“Pas Ramadhan pula, apa gak ajib itu ujiannya?” tanya Fariz, ia malah meledekku.

“Bener juga kata loe.”

“Tapi kaget juga pas ngeliat mobilnya tiba-tiba parkir waktu itu.”

“Apa iya gue salah ya Riz?” tanyaku pelan, ia lalu mengangguk, “jelas lah antum salah, udah jelas-jelas namanya selingkuh itu antum tahu dosanya.”

“Sekarang antum udah milih, apapun pilihan antum, itu udah yang terbaik menurut ana.”

“Iya sih, sekarang gue udah ngerasain apa yang namanya itu bahagia jadi Suami bro,” ujarku lalu tertawa kecil.

“Loe ada waktu gak Riz, buat Ifthor bareng?” tanyaku serius, ia menggeleng pelan.

“Ana banyak batesin waktu di luar,” ujarnya ringan, “terlebih ana agak protektif sama Istri ana.”

“Lah kenapa Riz, Istri loe kan perfect banget lah.”

“Justru itu San,” ujarnya, ia menepuk pelan pundakku, “semakin antum punya mobil mewah, semakin banyak yang liat kan?”

“Kalo banyak yang liat, apa yang ada di hati loe?”

“Riya, bener gak?” tanyanya santai, aku lalu mengangguk, “itu yang ana hindarin.”

“Lagian, mau dia pake hijab sepanjang apa, bentuknya masih jelas, ana gak enak kalo banyak yang liatin.”

“Bener banget bro, gue tahu sendiri pas ketemu kemaren.”

“Yaudah, sekarang gue balik dulu ya, masih ada kerjaan soalnya,” ujar Fariz, ia menjabat tanganku dan langsung pergi meninggalkan tempat ini.


*****


Apa yang harus kulakukan?

Batinku terus menerus bertanya di saat aku sedang termenung, terkadang aku hanya memandang ke gugusan awan yang berbaris indah menghiasi langit senja di Bekasi ini. Apa mungkin, segala cita-cita setinggi awanku bisa terjadi di saat segala dilema ini menghadangku.

Kuhela napas panjang, mengingat ucapan Alfarizi tadi siang, bahwa apa yang telah kuputuskan adalah hal yang terbaik untukku. Memiliki Istriku dan Reva adalah salah satu hal yang benar-benar membahagiakan untukku.

Tetapi, bagaimana dengan wanita yang tengah mengandung itu?

Apa yang harus kulakukan untuk membuat ini baik-baik saja?


“Mikirin apa Kak?” tanya Istriku, ia lalu duduk di sebelahku seraya menggendong Reva yang tampak begitu gembira saat ini.

“Mikirin dia Dek,” ujarku pelan, aku lalu menghela napas.

“Kan udah Adek bilang, terserah Kakak aja enaknya gimana.”

“Adek ikhlas kok Kak, kalo emang Kakak mau jadiin dia istri Kakak.”

“Lagian, seenggaknya itu bisa bikin Adek sedikit tenang karena semua masalah yang udah Adek kasih buat Kakak.”

“Udah Dek,” ujarku pelan, tanganku meraih Reva yang masih terus mengoceh dengan riangnya.

“Kakak jujur gak mau lakuin ini semua.”

“Udah cukup Adek aja.”

“Dengan adanya kamu sama Reva, itu udah bikin hidup Kakak bahagia banget.”

“Tapi Kak, gimana sama dia?” tanyanya seraya memandangku dengan serius.

Aku menghela napas panjang, “aku gak tahu dek.”

“Harusnya sih aku.”

profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan S.HWijayaputra memberi reputasi
2 0
2
[Tak Ada] Gading yang Tak Retak (True Story)
12-11-2017 10:43
Absen om sani
0 0
0
[Tak Ada] Gading yang Tak Retak (True Story)
12-11-2017 10:55
Izin nyimak di thread baru ini om
0 0
0
[Tak Ada] Gading yang Tak Retak (True Story)
12-11-2017 11:07
Akhirnya tamat juga ya gan trit lu yg satu itu setelah sekian lama hiatus. emoticon-Big Grin

Sekarang buat trit lanjutan lagi nih, sepertinya istri agan emg harus 2 lah ini. Hahaha emoticon-Big Grin
Sesuai dengan nama ID agan. emoticon-Big Grin

Yg gue penasarin tuh cahaya kog bisa hamil? Tapi ngakunya dia hamil anak lo. emoticon-Bingung (S)
Satu lagi agan sani... Kalo bole tau dan dijawab, apa yg diderita oleh cahaya ya sampe dia bisa berbuat seperti di hotel itu (trit agan yg uda tamat)?

Kalo tdk mau jawab juga gpp gan. emoticon-Smilie
0 0
0
[Tak Ada] Gading yang Tak Retak (True Story)
12-11-2017 11:15
masih penasaran sih sebenernya sama tokoh rahma. semoga terjawab di trit ini.
0 0
0
[Tak Ada] Gading yang Tak Retak (True Story)
12-11-2017 11:16
asik lanjut lagi ni trit ente gan, cikal bakal poligami ni
0 0
0
[Tak Ada] Gading yang Tak Retak (True Story)
12-11-2017 11:17
wah lanjut terus gan... saya prediksi istri agan pasti 4 nih... ivory, cahaya, anita dan rahma....
0 0
0
[Tak Ada] Gading yang Tak Retak (True Story)
12-11-2017 12:17
Quote:Original Posted By nindtya
Absen om sani


Siap bro, isi buku tamu dulu yes. emoticon-Cool

Quote:Original Posted By sayabaik46
Izin nyimak di thread baru ini om


Silakan bro, semoga editor gw kagak sibuk biar cerita terus jalan. emoticon-Malu

Quote:Original Posted By sakabato88
Akhirnya tamat juga ya gan trit lu yg satu itu setelah sekian lama hiatus. emoticon-Big Grin

Sekarang buat trit lanjutan lagi nih, sepertinya istri agan emg harus 2 lah ini. Hahaha emoticon-Big Grin
Sesuai dengan nama ID agan. emoticon-Big Grin

Yg gue penasarin tuh cahaya kog bisa hamil? Tapi ngakunya dia hamil anak lo. emoticon-Bingung (S)
Satu lagi agan sani... Kalo bole tau dan dijawab, apa yg diderita oleh cahaya ya sampe dia bisa berbuat seperti di hotel itu (trit agan yg uda tamat)?

Kalo tdk mau jawab juga gpp gan. emoticon-Smilie


Alhamdulillah, editor gw beneran tamatin pekan ini thread gw yg lama, jd gw bisa nulis lg thread yg baru. emoticon-Malu

Wkwkwkwkwkwkwk, nanti lah ada jawabannya bro, yg pasti punya 2 lokomotif itu yg susah maintenancenya bro. emoticon-Malu

Nah itu bro, kalo dr timingnya Aya, dy emg harusnya hamil sama gw, bukan sama Dean, tp kan semuanya harus dibuktiin dulu, gw jg kagak bs iya2 aje nurutin apa kata dy. emoticon-Hammer2

Kalo masalah penyakit, apa ya istilahnye, gw juga kagak paham, intinya sih ya mirip2 sm si itu, cm bedanya kalo si itu mwnya sm lakinya doangan, nah ini Aya malah sm mantan2nya. emoticon-Hammer2

Apalagi yg d hotel, itu gw yg paling kagak paham sampe sekarang. emoticon-Hammer2

Quote:Original Posted By jaran.pengkor
masih penasaran sih sebenernya sama tokoh rahma. semoga terjawab di trit ini.


Rahma sm Anita nanti punya porsi banyak d sini bro. emoticon-Malu

Quote:Original Posted By d.milito22
asik lanjut lagi ni trit ente gan, cikal bakal poligami ni


Wkwkwkwkwkwkwk, nanti aje bro, diikuti aje ceritanya, karena tak selamanya poligami itu indah. emoticon-Hammer2

Quote:Original Posted By noelyonathan
wah lanjut terus gan... saya prediksi istri agan pasti 4 nih... ivory, cahaya, anita dan rahma....


Nah ini, ngeri sedap kalo sampe 4. emoticon-Ngakak

Kagak sanggup gw bro. emoticon-Hammer2
0 0
0
[Tak Ada] Gading yang Tak Retak (True Story)
12-11-2017 12:52
wah gileeeeeeee. drama belum berakhir ternyata ya
0 0
0
[Tak Ada] Gading yang Tak Retak (True Story)
12-11-2017 13:16
Semoga lancar gan,
Editor'y juga,
Jadi kentang'y ga lama2 emoticon-Big Grin
0 0
0
[Tak Ada] Gading yang Tak Retak (True Story)
12-11-2017 13:59
wah ada cerita baru. nongkrong dulu di #13
Diubah oleh rani.sweet
0 0
0
[Tak Ada] Gading yang Tak Retak (True Story)
12-11-2017 14:32
Quote:Original Posted By ivory.cahaya





Rahma sm Anita nanti punya porsi banyak d sini bro. emoticon-Malu


takisss borrr. emoticon-Malu
0 0
0
[Tak Ada] Gading yang Tak Retak (True Story)
12-11-2017 14:55
udah lanjut aja ni sekuelnya...

mindahin tenda di mari dulu...emoticon-Big Grin

baru mulai sudah pake kentang...emoticon-Hammer2
0 0
0
[Tak Ada] Gading yang Tak Retak (True Story)
12-11-2017 15:14
Rumah baru bang sani emoticon-2 Jempol



Wanita?? Siapa tuh gw nebak kayak nya rahma deh dan lagi halim anak bang sani. emoticon-Baby Boy 1emoticon-Baby Girl

Bini belom isi udah ngisi yang lain dulu emoticon-Cape d...
0 0
0
[Tak Ada] Gading yang Tak Retak (True Story)
12-11-2017 15:17
Rumah baru niih?
masih jual martabak gak sih?
0 0
0
[Tak Ada] Gading yang Tak Retak (True Story)
12-11-2017 15:20
Absen dulu ah..
jadi semangat sama trit baru ini..hohoho..
0 0
0
[Tak Ada] Gading yang Tak Retak (True Story)
12-11-2017 15:58

makasih bang sani untuk sequelnya...

semoga lancar apdetnya... emoticon-Toast



Diubah oleh agsy.is.agung
0 0
0
[Tak Ada] Gading yang Tak Retak (True Story)
12-11-2017 16:11
Quote:Original Posted By bejojeb14
wah gileeeeeeee. drama belum berakhir ternyata ya


Wkwkwkwkwk, macem lagu itu bro. emoticon-Cool

Drama belum berakhir, jika kau putuskan aku. emoticon-Ngakak

Quote:Original Posted By sayabaik46
Semoga lancar gan,
Editor'y juga,
Jadi kentang'y ga lama2 emoticon-Big Grin


Aamiin, draft udah 10 part gw setor ke editor, tp entah kapan rilisnya. emoticon-Hammer2

Kalo kelamaan update, PM aje orangnya. emoticon-Matabelo

Quote:Original Posted By rani.sweet
wah ada cerita baru. nongkrong dulu di #13


Siap bro, bisa nongkrong d mari. emoticon-Cool

Quote:Original Posted By jaran.pengkor


takisss borrr. emoticon-Malu


Beugh, macem Awawawarinka aje Takis. emoticon-Ngakak

Quote:Original Posted By may2nd
udah lanjut aja ni sekuelnya...

mindahin tenda di mari dulu...emoticon-Big Grin

baru mulai sudah pake kentang...emoticon-Hammer2


Udah dong bro, gercep gw, kalo kagak nanti gw ketinggalan momentum. emoticon-Cool

Eh, ada salam dr si itu. emoticon-Ngakak

Quote:Original Posted By bee.6.6.6.9
Rumah baru bang sani emoticon-2 Jempol



Wanita?? Siapa tuh gw nebak kayak nya rahma deh dan lagi halim anak bang sani. emoticon-Baby Boy 1emoticon-Baby Girl

Bini belom isi udah ngisi yang lain dulu emoticon-Cape d...


Kan gw sama Rahma kagak pernah sampe Blackhole. emoticon-Matabelo

Jd kagak mungkin Rahma lah yg dateng k rumah gw. emoticon-Malu

Lagian, Rahma kagak tau rumah gw yg d Setu bro. emoticon-Malu

Quote:Original Posted By HeiRn
Rumah baru niih?
masih jual martabak gak sih?


Masih bro, martabak itu main core gw, kalo kagak dagangan dapur kagak ngebul nanti. emoticon-Matabelo

Quote:Original Posted By desmondee
Absen dulu ah..
jadi semangat sama trit baru ini..hohoho..


Siap bro, semangat. emoticon-Cool

Btw, gw udah minta edit masalah kawin, mungkin Mas Tam lupa. emoticon-Ngakak

Quote:Original Posted By agsy.is.agung

makasih bang sani untuk sequelnya...

semoga lancar apdetnya... emoticon-Toast





Siap bro, pokoe gw udah setor 10 part update, tergantung sm editor gw ya. emoticon-Cool
0 0
0
[Tak Ada] Gading yang Tak Retak (True Story)
12-11-2017 16:11
Mantau
Diubah oleh sicadelllll
0 0
0
Halaman 1 dari 26
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
misteri-rumah-susun
Stories from the Heart
seikat-mawar-yang-layu
Copyright © 2023, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia