Entertainment
Batal
KATEGORI
link has been copied
176
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/59fa9630c0cb17446c8b456e/apa-benar-gan-sektor-ritel-terganggu
Pemberitaan gencar dalam banyak media mengenai kelesuan bisnis ritel ditepis Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hal tersebut dibuktikan dari pertumbuhan kredit ritel maupun angka
Lapor Hansip
02-11-2017 10:51

Apa benar gan, Sektor Ritel terganggu ?

Past Hot Thread
Selamat Pagi Agan-Agan Semua...
emoticon-Salam Kenal

Selamat beraktivitas...Ane lanjut Thread Lagi ya gan...Kali Ini Ane Bahas Tentang OJK Tepis Sektor Ritel Terganggu
Share ke Temen-temen Agan-Agan ya
emoticon-2 Jempol

Buka gan


Bagaimana Pendapat Agan & Sista ? emoticon-Mewek

SUMBER: https://www.inibaru.id/pasar/ojk-tep...itel-terganggu
Diubah oleh inibaru.id
0
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 4 dari 9
Apa benar gan, Sektor Ritel terganggu ?
03-11-2017 06:02
Gak semua lari ke olshop sih.. emang duit berkurang aja kerasanya terutama di pedesaan yg notabene nya bukan karyawan penerima gaji tetap..
0 0
0
Apa benar gan, Sektor Ritel terganggu ?
03-11-2017 06:12
hadeh emoticon-Cape d...
0 0
0
Apa benar gan, Sektor Ritel terganggu ?
03-11-2017 06:25
Sepertinya sih begitu gan
0 0
0
Apa benar gan, Sektor Ritel terganggu ?
03-11-2017 06:25
Quote:Original Posted By khariemwahyu
pada beli, onlen sekarang mah emoticon-Cool


Lagi jaman online
0 0
0
Apa benar gan, Sektor Ritel terganggu ?
03-11-2017 06:36
nggak gan itu mah ulah para anti pemerintah, ekonomi sekarang sedang meroket gan
0 0
0
Apa benar gan, Sektor Ritel terganggu ?
03-11-2017 06:36
gatel jadinya mau komen,
kebetulan ane juga kerja di sektor marketing, tren penurunan daya beli masyarakat mungkin lebih ke daerah2 tertentu yang lain bisa dibilang stabil tp emg lbh bnyk daerah yg melemah, ane sih ngrasain efeknya setelah lebaran kmrn, itu pun alasan lebaran sama kenaikan kelas anak sekolah jadi alasan penurunan tapi kok sampe 1-2 bulan ini malah makin melempem.. 🤔
0 0
0
Apa benar gan, Sektor Ritel terganggu ?
03-11-2017 06:38
Mnrt gw sih, lebih k arah faktor psychologis, krn takut, terutama yg suka pake daster putih itu, krn suka pd ngacau n demo2 ga jelas
0 0
0
Apa benar gan, Sektor Ritel terganggu ?
03-11-2017 06:39
Ane Pelaku Online Shop
Dulu ane punya tokol tapi sekarang udah tutup
Alesannya Harga Online yang saling banting, biar dapet yg paling murah

Dulu waktu masih toko harga diatur, semua toko harganya sama
kalo sekarang semenjak online, harga yg paling murah yg laku, tanpa ada aturan
makanya retail jadil lesu
0 0
0
Apa benar gan, Sektor Ritel terganggu ?
03-11-2017 06:40
Quote:Original Posted By S2Q
menurut ane skrg kebanyakan lari ke olshop sih bre :monggo


yaps bener ,ga ribet cepet pula
0 0
0
Apa benar gan, Sektor Ritel terganggu ?
03-11-2017 06:57
Quote:Original Posted By azhima007
Lagi jaman online


harga juga jatuhnya lebih murah ya emoticon-Jempol
0 0
0
Apa benar gan, Sektor Ritel terganggu ?
03-11-2017 07:03
bnyak toko elektronik cina didaerah cikarang klo jual seenak pala sndri harganya, pas bilang harga online aja segini sii do'i marah2 .. emoticon-Ngakakemoticon-Ngakak




jual vape tegal jual vape tegal jual vape tegal jual vape tegal jual vape tegal jual vape tegal jual vape tegal jual vape tegal jual vape tegal jual vape tegal jual vape tegal jual vape tegal
Diubah oleh elbas111
0 0
0
Apa benar gan, Sektor Ritel terganggu ?
03-11-2017 07:05
harga emg kalo di online pada saingan, yg paling murahlah dia yg paling laku, untuk mengetahui kualitas barang kita hnya bisa liat dr feedback pembeli2 sebelumnya, yg katanya olshop akan dikenakan pajak itu sya lebih setuju, karena tanpa adanya penerimaan pajak dr olshop tentu tidak akan menambah penerimaan negara, mengingat retail toko smakin menurun dan penerimaan pajak smakin rendah. katanya ingin Indonesia maju? tp kok rakyatnya sndri tidak sadar akan kesadaran pajaknya? pindah ke olshop mnurut saya bukan solusi untuk memajukan kemakmuran rakyat, tp cenderung ke arah keegoisan diri sndri trkait memenuhi kbutuhan hidupnya sndri. pdhl PPN itu lebih banyak diterima dr retail.
Diubah oleh dickyrivaldobp
0 0
0
Apa benar gan, Sektor Ritel terganggu ?
03-11-2017 07:14
Quote:Original Posted By whellere
Masih terus brusaha ngebiasin kenyataan kah pemerintah?? Ntar jilat ludah sendiri lagi udah pake pidato kenegaraan. Tujuannya 2019 kah?

Hoi pak yg menjabat dan kerja demi jabatan di periode mendatang, turun lgs ke lapangan dah, rasain sendiri rsanya bisnis kocar kacir, jgn sibuk liat data ini data itu.. data bs dibuat/dibelokan/diperindah.. tp kenyataan gak bs bapak2 rubah.

Makin rajin bayar pajak, bisnis gw makin seret, pembangunan gila2an ats hasil hutang, pemimpin nya yg dpt gelar .. pdhl ntar utang luar negeri kami2 juga yg bayarin.

Gak usah pusing mikirin daya beli atau penurunan daya jual dah, jalanjn bisnis sendiri bapak2, spy tau apa yg kami rasakan.

Cih !


Nah ini yg bener, ane quote ya gan.

Kebanyakan yg komen disini cuma pegawai rendahan yg sok ngerti keadaan ekonomi jijik gw, pada goblok semua online itu juga termasuk sektor ritel goblok. Pajak naik bbm naik listrik naik semua naik, gimana gk pada naik tu harga barang jika kebutuhan produksi dan transportasi naik, ini yg bikin lesu goblok, nastaik goblok!!
0 0
0
Apa benar gan, Sektor Ritel terganggu ?
03-11-2017 07:15
Numpang duduk gan
0 0
0
Apa benar gan, Sektor Ritel terganggu ?
03-11-2017 07:16
Baik ritel maupun online sekarang lg lesu, saya sebagai wiraswasta yg berjualan di online atau ritel kerasa bgt dampak nya, penurunan daya beli masyarakat menurun drastis, banyak pabrik2, ritel, toko2 ekspedisi pengiriman barang pada bangkrut, termasuk saya ini, tapi saya sebagai manusia hanya bisa berusaha, Allah yg menentukan.
La Haula Wala Quwwata Illa Billah.
Diubah oleh SoangUnited
0 0
0
Apa benar gan, Sektor Ritel terganggu ?
03-11-2017 07:19
ane kmarin baru belanja di bata,, msh rame sh toko2 gtu, sebelah2 nya jga ane liat banyak orang belanja toko sepatu, baju, dll,, emoticon-Jempol
0 0
0
Apa benar gan, Sektor Ritel terganggu ?
03-11-2017 07:19

Welcome Leisure Economy


The Phenomenon
Dalam 3 bulan terakhir muncul diskusi publik yang menarik mengenai fenomena turunnya daya beli konsumen kita yang ditandai dengan sepinya Roxi, Glodok, Matahari, Ramayana, Lotus, bahkan terakhir Debenhams di Senayan City.

Anggapan ini langsung dibantah oleh ekonom karena dalam lima tahun terakhir pertumbuhan riil konsumsi masyarakat robust di angka sekitar 5%. Kalau dilihat angkanya di tahun ini, pertumbuhan ekonomi sampai triwulan III-2017 masih cukup baik sebesar 5,01%. Perlu diingat bahwa konsumsi masyarakat (rumah tangga) masih menjadi kontributor utama PDB kita mencapai 54%.

Sebagian pakar mengatakan sepinya gerai ritel konvensional tersebut disebabkan oleh beralihnya konsumen ke gerai ritel online seperti Tokopedia atau Bukalapak. “Gerai-gerai tradisional di Roxi atau Glodok telah terimbas gelombang disrupsi digital,” begitu kata pakar.

Kesimpulan ini pun misleading karena penjualan e-commerce hanya menyumbang 1,2% dari total GDP kita, dan hanya sekitar 0,8% (2016) dari total penjualan ritel nasional. Memang pertumbuhannya sangat tinggi (eksponensial) tapi magnitute-nya belum cukup siknifikan untuk bisa membuat gonjang-ganjing industri ritel kita.

Kalau konsumen tak lagi banyak belanja di gerai ritel konvensional dan masih sedikit yang belanja di gerai online, maka pertanyaannya, duitnya dibelanjakan ke mana?

The Consumers

Tahun 2010 untuk pertama kalinya pendapatan perkapita masyarakat Indonesia melewati angka $3000. Oleh banyak negara termasuk Cina, angka ini “keramat” karena dianggap sebagai ambang batas (treshold) sebuah negara naik kelas dari negara miskin menjadi negara berpendapatan menengah (middle-income country).

Ketika melewati angka tersebut, sebagian besar masyarakatnya adalah konsumen kelas menengah (middle-class consumers) dengan pengeluaran berkisar antara $2-10 perhari. Di Indonesia, kini konsumen dengan rentang pengeluaran sebesar itu telah mencapai lebih dari 60% dari total penduduk.

Salah satu ciri konsumen kelas menengah ini adalah bergesernya pola konsumsi mereka dari yang awalnya didominasi oleh makanan-minuman menjadi hiburan dan leisure. Ketika semakin kaya (dan berpendidikan) pola konsumsi mereka juga mulai bergeser dari “goods-based consumption” (barang tahan lama) menjadi “experience-based consumption” (pengalaman). Experience-based consumption ini antara lain: liburan, menginap di hotel, makan dan nongkrong di kafe/resto, nonton film/konser musik, karaoke, nge-gym, wellness, dan lain-lain.

Pergeseran inilah yang bisa menjelaskan kenapa Roxi atau Glodog sepi. Karena konsumen kita mulai tak banyak membeli gadget atau elektronik (goods), mereka mulai memprioritaskan menabung untuk tujuan liburan (experience) di tengah atau akhir tahun. Hal ini juga yang menjelaskan kenapa mal yang berkonsep lifestyle dan kuliner (kafe/resto) seperti Gandaria City, Gran Indonesia, atau Kasablanka tetap ramai, sementara yang hanya menjual beragam produk (pakaian, sepatu, atau peralatan rumah tangga) semakin sepi.

The Shifting

Nah, rupanya pola konsumsi masyarakat Indonesia bergeser sangat cepat menuju ke arah “experience-based consumption”. Data terbaru BPS menunjukkan, pertumbuhan pengeluaran rumah tangga yang terkait dengan “konsumsi pengalaman” ini meningkat pesat. Pergeseran pola konsumsi dari “non-leisure” ke “leisure” ini mulai terlihat nyata sejak tahun 2015

Untuk kuartal II-2017 misalnya, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,95% dari kuartal sebelumnya 4,94%. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga ini dinilai melambat lantaran konsumsi rumah tangga dari sisi makanan dan minuman, konsumsi pakaian, alas kaki, perumahan dan perlengkapan rumah tangga, (goods-based) hanya tumbuh tipis antara 0,03-0,17%. Sementara konsumsi restoran dan hotel (experience-based) melonjak dari 5,43% menjadi 5,87%. “Jadi shifting-nya adalah mengurangi konsumsi yang tadinya non-leisure untuk konsumsi leisure,” ucap Ketua BPS, Suhariyanto.

Studi Nielsen (2015) menunjukkan bahwa milenial yang merupakan konsumen dominan di Indonesia saat ini (mencapai 46%) lebih royal menghabiskan duitnya untuk kebutuhan yang bersifat lifestyle dan experience seperti: makan di luar rumah, nonton bioskop, rekreasi, juga perawatan tubuh, muka, dan rambut.

Sementara itu di kalangan milenial muda dan Gen-Z kini mulai muncul gaya hidup minimalis (minimalist lifestyle) dimana mereka mulai mengurangi kepemilikian (owning) barang-barang dan menggantinya dengan kepemilikan bersama (sharing). Dengan bijak mereka mulai menggunakan uangnya untuk konsumsi pengalaman seperti: jalan-jalan backpacker, nonton konser, atau nongkrong di coffee shop.

Berbagai fenomana pasar berikut ini semakin meyakinkan makin pentingngnya sektor leisure sebagai mesin baru ekonomi Indonesia. Bandara di seluruh tanah air ramai luar biasa melebihi terminal bis. Hotel budget di Bali, Yogya, atau Bandung full booked tak hanya di hari Sabtu-minggu, tapi juga hari biasa. Tiket kereta api selalu sold-out. Jalan tol antar kota macet luar biasa di “hari kejepit nasional”. Destinasi-destinasi wisata baru bermunculan (contoh di Banyuwangi, Bantul atau Gunung Kidul) dan makin ramai dikunjungi wisatawan.

Sektor pariwisata kini ditetapkan oleh pemerintah sebagai “core economy” Indonesia karena kontribusinya yang sangat siknifikan bagi perekonomian nasional. Saat ini sektor pariwisata merupakan penyumbang devisa kedua terbesar setelah kelapa sawit dan diproyeksikan 2-3 tahun lagi akan menjadi penyumbang devisa nomor satu. Ini merupakan yang pertama dalam sejarah perekonomian Indonesia dimana pariwisata menjadi tulang punggung ekonomi bangsa.

Tak hanya itu, kafe dan resto berkonsep experiential menjamur baik di first cities maupun second cities. Kedai kopi “third wave” kini sedang happening. Warung modern ala “Kids Jaman Now” seperti Warunk Upnormal agresif membuka cabang. Pusat kecantikan dan wellness menjamur bak jamur di musim hujan. Konser musik, bioskop, karaoke, hingga pijat refleksi tak pernah sepi dari pengunjung. Semuanya menjadi pertanda pentingnya leisure sebagai lokomotif perekonomian Indonesia.

The drivers

Kenapa leisure-based consumption menjadi demikian penting bagi konsumen dan mereka mau menyisihkan sebagian besar pendapatan untuk liburan atau nongkrong di kafe/mal? Setidaknya ada beberapa drivers yang membentuk leisure economy.

#1. Consumption as a Lifestyle. Konsumsi kini tak hanya melulu memenuhi kebutuhan dasar sandang, pangan, papan. Konsumen kita ke Starbucks atau Warunk Upnormal bukan sekedar untuk ngopi atau makan, tapi juga dalam rangka mengekspresikan gaya hidup. Ekspresi diri sebagai bagian inhenren dari konsumsi ini terutama didorong maraknya media sosial terutama Instagram.

#1. From Goods to Experience. Kaum middle class milennials kita mulai menggeser prioritas pengeluarannya dari “konsumsi barang” ke “konsumsi pengalaman”. Kini mulai menjadi tradisi, rumah-rumah tangga mulai berhemat dan menabung untuk keperluan berlibur di tengah/akhir tahun maupun di “hari-hari libur kejepit”. Mereka juga mulai banyak menghabiskan waktunya untuk bersosialisasi di mal atau nongkrong di kafe sebagai bagian dari gaya hidup urban.

#2. More Stress, More Travelling. Dari sisi demand, beban kantor yang semakin berat dan lingkungan kerja yang sangat kompetitif menjadikan tingkat stress kaum pekerja (white collar) kita semakin tinggi. Hal inilah yang mendorong kebutuhan leisure (berlibur, jalan-jalan di mal, atau dine-out seluruh anggota keluarga) semakin tinggi.

#3. Low Cost Tourism. Dari sisi supply, murahnya tarif penerbangan (low cost carrier, LCC) yang diikuti murahnya tarif hotel (budget hotel) menciptakan apa yang disebut: “low cost tourism”. Murahnya biaya berlibur menjadikan permintaan melonjak tajam dan industri pariwisata tumbuh sangat pesat beberapa tahun terakhir.

#4. Traveloka Effect. Momentum leisure economy semakin menemukan momentumnya ketika murahnya transportasi-akomodasi kemudian diikuti dengan kemudahan dalam mendapatkan informasi penerbangan/hotel yang terbaik/termurah melalui aplikasi seperti Traveloka. Kemudahan ini telah memicu minat luar biasa dari seluruh lapisan masyarakat untuk berlibur. Ini yang saya sebut Traveloka Effect.

“Welcome to the leisure economy.”
0 0
0
Apa benar gan, Sektor Ritel terganggu ?
03-11-2017 07:19
online shoping lebih praktia kali ya, jadi pada milih itu, mungkin perusahaan retail bisa buka olshop juga
0 0
0
Apa benar gan, Sektor Ritel terganggu ?
03-11-2017 07:23
coba dibandingkan: kelesuan di sektor ritel, pertumbuhan otomotif, pertumbuhan properti kelas menengah, pertumbuhan bisnis aviasi LCC. itu dulu aja. nanti ketemu sendiri jawabannya.

peralihan ritel konvensional ke ol shop cuma berkontribusi sedikit. masa orang mau beli sarden lewat lazada? masa beli indomie lewat buka lapak? emoticon-Big Grin
0 0
0
Apa benar gan, Sektor Ritel terganggu ?
03-11-2017 07:24
Ojek onlen tetep rame.. begitu juga taxol.. malah pendaftar aaada ajah setiap harinya.. pasar di rumah ane lancar jaya.. meski lg ada penutupan jalan sementara, udah setahun malah..!!!
Para pengusaha ritel aaajah yang...?!?
0 0
0
Halaman 4 dari 9
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia