Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
156
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/588adc0f2e04c893768b4569/rein-kayonna-dan-perempuan-itu-true-horror-story
Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata. Bukan kisah saya sendiri.Beberapa nama dan tempat disamarkan. Tanggal dan tahun kejadian tidak disamarkan.Namaku Rein, saat ini aku berumur delapan tahun. Aku blasteran, Ayahku Jerman sedangkan ibuku campuran Sunda dan Arab. Menurut ibuku aku adalah anak perempuan yang ceria, lincah dan agak susah diatur.
Lapor Hansip
27-01-2017 12:35

Rein, Kayonna, dan Perempuan itu (True Horror Story)

Past Hot Thread
Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata. Bukan kisah saya sendiri.
Beberapa nama dan tempat disamarkan.
Tanggal dan tahun kejadian tidak disamarkan.



Rein


Namaku Rein, saat ini aku berumur delapan tahun. Aku blasteran, Ayahku Jerman sedangkan ibuku campuran Sunda dan Arab. Menurut ibuku aku adalah anak perempuan yang ceria, lincah dan agak susah diatur. Aku senang sekali memanjat pohon sambil sesekali mengambil buahnya dan juga berenang di kali sambil lompat2an, aku sangat hobi bermain lari2an bersama teman2ku. Ibuku kadang suka mencariku untuk pulang tidur siang atau makan atau juga mandi. Kalau sudah kesal, dia suka menghukumku. Seperti saat ini. Saat ini aku sedang dihukum Ibuku karena aku tidak pulang ke rumah dahulu setelah pulang sekolah sampai menjelang Maghrib. Aku tidak diperbolehkan masuk rumah oleh Ibuku. Aku harus berdiri di depan pintu hingga waktu yang tidak ditentukan. Jadi sampai Ibuku mengijinkan aku masuk rumah,baru aku boleh masuk rumah. Aku berdiri kesal di depan rumah sambil memandangi jendela rumah yg sudah agak lapuk kayunya. Keluarga kami adalah keluarga yang sangat sederhana. Rumahpun sederhana, rumahku tipe RSSSSSSS (Rumah Sangat Sangat Sederhana Sampai Selonjoran Saja Susah ehehehehe). Aku tinggal bertiga saja bersama Ibu dan adikku yang berumur 5 tahun.Tempat yang kami tinggali sekarang jauh dari perkotaan, aku dan adikku sangat senang tinggal di sini. Ayahku pergi meninggalkan Ibuku, aku dan adik laki2ku tanpa alasan yang jelas. Ayahku pergi sejak Ibuku sedang mengandung adikku. Entah dia berada di mana sekarang, Ibuku tidak peduli. Tetapi aku yakin dia kembali ke negara asalnya. Ibuku bekerja berjualan sayur saat pagi hari, siangnya dia pulang ke rumah. Kadang dia suka menerima pekerjaan di siang sampai sore hari. Apa saja dia kerjakan, aku kagum pada Ibuku. Sebelum Ayahku pergi, kami tinggal di kota. Rumah yang kami tempati saat itu ternyata milik kawan Ayahku yang berbaik hati mengijinkan Ayahku tinggal di rumahnya. Tetapi entah ada perjanjian apa antara Ayahku dan kawan Ayahku, kawan Ayahku menginginkan rumah itu kembali, kami di usir dari rumah. Beruntung Ibuku memiliki rumah di kampung, peninggalan nenek dan kakekku. Suatu hari Ayah berkata pada Ibuku bahwa dia akan pergi sebentar, mengurus segala hal. Ayahku berbohong pada Ibuku, pada kami, dia tidak pernah kembali sampai sekarang. Ada kerabatnya yang berkata bahwa dia pergi ke luar negeri dengan menggunakan kapal laut. Entahlah, tetapi aku percaya bahwa memang benar Ayahku pergi ke luar negeri, akan tetapi Ibuku sudah tidak peduli pada Ayahku.

"Rein!" suara Ibuku membuyarkan lamunanku.
"Iya, kenapa Mih?" Aku memanggil Ibuku dengan sebutan Mamih.
"Kamu kenapa malah bengong di situ? tadi kan Mamih nyuruh kamu mandi habis itu shallat Magrib dulu. Kalau sudah shallat,terusin lagi berdiri di luar rumah!" Ibuku memang seorang yang tegas, A ya A, B ya B. Begitulah dia.
"Iya" aku mengiyakan saja perintah Ibuku, tidak ada niat sama sekali untuk shallat Magrib. Perutku keroncongan. Selesai Ibuku ambil air wudhu,aku cepat2 ambil air juga, pura2 wudhu. Asal basah saja di muka, tangan dan kaki. Tidak lama kulihat Ibuku dan adikku mulai shallat di kamarnya, aku diam2 ke dapur mengambil dua potong tempe goreng, dan satu potong tahu goreng. Lumayan untuk mengganjal perutku yang lapar, Ibuku tidak mengijinkanku makan saat aku pulang main tadi. Menurut Ibuku, aku pasti sudah kenyang karena tidak pulan ke rumah sampai menjelang magrib. Tidak lama aku meneruskan lagi hukumanku di luar rumah. Sudah hampir gelap di luar rumah, sepi sekali tidak ada orang yang lewat. Jarak rumah antara satu rumah dengan yang lain tidak berdekatan seperti rumah di perkotaan. Aku memandang pohon beringin di pekarangan rumah tetangga depan rumahku. Aku dan teman2ku terkadang sangat suka sekali bermain di bawah pohon beringin tersebut. Kata orang2 pohon itu angker, tetapi menurutku pohon itu sangat indah,kokoh dan meneduhkan. Tidak ada bagi kami anak2 perasaan takut sama sekali pada pohon beringin itu. Apalagi Aki2 yang tinggal di rumah itu mengijinkan kami untuk bermain di pekarangan rumahnya. Pekarangan rumahnya sangat indah, pemiliknya bernama Kusuma. Kami memanggilnya Ki Engkus. Ki Engkus seorang kakek tua yang sangat ramah akan tetapi tidak banyak berbicara, beliau agak pendiam. Beliau juga begitu baik pada kami anak2, malah kadang beliau suka menghidangkan teh manis dan gorengan pada kami saat kami bermain di pekarangan rumahnya atau sekedar berteduh di bawah pohon beringin miliknya. Biasanya beliau menghidangkan pisang goreng, ubi goreng dan talas goreng. Nikmat sekali. Ibuku juga lebih senang apabila aku dan teman2ku bermain di pekarangan rumah Ki Engkus, daripada kelayapan tidak jelas kata Ibuku. Terkadang Ibuku juga suka memberi sayur mayur dagangannya pada Ki Engkus. Ki Engkus tinggal sendirian, anaknya yang perempuan telah tiada akibat sakit keras saat masih kelas 3 Sekolah Dasar. Istrinya juga telah tiada akibat kecelakaan kereta api saat dia hendak pergi ke rumah saudaranya di luar kota. Isterinya meninggal sekitar 5 bulan setelah anaknya meninggal. Sejak itu Ki Engkus tidak lagi memiliki pendamping hidup, dia sangat mencintai istrinya yang sudah dia kenal sejak kecil. Beliau tidak lagi berniat memiliki istri.

"Rein, Mamih tutup ya pintunya. Banyak nyamuk! Selamat berdiri." Kata Ibuku sambil menutup pintu rumah, bibirnya tersenyum manis. Alisku mengkerut 'ih Mamih tega banget, masa pintunya di tutup? Nyamuk apaan sih?gak ada nyamuk kok!' Aku berkata kesal dalam hati. Aku lalu duduk selonjoran menyender ke pintu rumah karena kesal sambil melihat pemandangan depan rumah yang sepi.
"REIN! BERDIRI!!" Ibuku berteriak dari dalam rumah. 'Mamih kok tau aja sih?' Aku langsung berdiri kembali dengan kesal dan ber sungut2. Tiba2 kulihat dari ujung mataku yang sebelah kanan, kulihat seorang perempuan muda berjalan cepat menuju ke rumah Ki Engkus. Dia mengenakan kemeja putih lusuh lengan panjang dan rok lebar panjang berwarna cokelat susu panjangnya sebetis. Sepatunya berwarna cokelat tua model pantofel, tapi yang aneh di kakinya yang sebelah kanan tidak mengenakan sepatu. Dia berjalan sembari kedua tangannya menempel di paha depannya. Aku tidak begitu bisa melihat wajahnya, karena rambutnya yang di bagian depan menutupi wajahnya, di karenakan dia berjalan sambil menundukan kepalanya. Lalu dia berhenti di depan pintu rumah Ki Engkus. Agak lama dia hanya berdiri di depan pintu. Aku berniat untuk berteriak menyuruh dia untuk mengetuk pintu Ki Engkus, karena aku sangat yakin Ki Engkus ada di dalam rumah. Sepeda kesayangan beliau kulihat ada di pekarangan rumahnya, beliau selalu berpergian mengendarai sepeda tuanya. Wajahnya sudah tidak menunduk, dia memandangi pintu rumah Ki Engkus, tetapi aku tetap tidak bisa melihat wajahnya, karena dia berdiri membelakangiku. Perempuan itu benar-benar hanya berdiri diam sambil memandangi pintu rumah Ki Engkus, dia tidak mencoba untuk mengetok rumah Ki Engkus. 'Aneh sekali' pikirku 'perempuan itu kenapa sih?' Aku penasaran sekaligus merasakan ada perasaan aneh terhadapnya. Ragu2 aku melangkahkan kakiku pelan untuk melihat perempuan itu lebih dekat. Mungkin dia butuh bantuanku pikirku. Saat sudah tiga langkah, tiba2 perempuan itu menghentikan kegiatan anehnya. Dia membalikan badannya menghadap ke arahku, kepalanya kembali tertunduk sehingga wajahnya tak terlihat, jari2nya yang di sebelah kanan dia gerak2an secara perlahan di atas pahanya. Aku menghentikan langkahku, tiba2 saja aku menjadi agak takut terhadap perempuan itu.

"Miih..." aku memanggil Ibuku dengan suara agak berbisik.
"MAMIIIIIIHHHH" Aku yakin sekali memanggil Ibuku dengan suara lantang, tapi yang keluar dari mulutku hanyalah seperti bisikan. Tenggorokanku terasa seperti tercekat. Kali ini perempuan itu berjalan tiga langkah menuju arahku, lalu berhenti, kepalanya masih tertunduk. Dia berdiri diam. Pelan2 perempuan itu mendongakkan wajahnya, jantungku berdebar sangat keras. Aku memalingkan wajahku, entah kenapa aku tidak ingin melihatnya. Tetapi aku tidak bisa menggerakkan wajahku
"Rein! Mamih jadi keinget, kamu kan tadi Mamih suruh mandi. Kok kamu belum mandi?mandi dulu sekarang,habis itu belajar. Ayo masuk!" Suara Ibuku terdengar bagaikan suara malaikat bagiku saat itu. "Mamiiih!" Aku berlari menuju ke Ibuku "Mih, kenal perempuan itu gak?" aku berbicara setengah berbisik pada Ibuku. "Rein, Mamih mau kamu mandi" Aku menurut, Ibuku menutup pintu rumah tanpa menoleh sedikitpun ke arah perempuan itu berdiri. Selesai mandi aku langsung belajar, sesekali aku terbayang akan perempuan yang kulihat tadi. Aku tidak bisa melupakan sosoknya, dan segala gerakan2 yang wanita itu lakukan. Aku bingung kenapa dia hanya diam saja di depan pintu rumah Ki Engkus, kenapa dia tidak mengetuk pintu atau mengucapkan salam. Dan kenapa aku menjadi takut terhadap wanita itu. Aku menepis segala bayangan tentang wanita itu. Aku mencoba fokus belajar. Selesai belajar aku langsung ikut bergabung dengan Ibu dan adikku yang sedang menonton televisi. Televisi milik kami kecil. Televisi itu merupakan hadiah dari sahabat Ibuku, memang hanya televisi bekas. Tapi Ibuku sangat bersyukur sahabatnya memberikan televisinya untuk kami. Nama sahabat Ibuku adalah bibi Elis. Kadang bibi Elis suka membantu Ibuku untuk menjagaku dan adikku di rumah saat Ibuku sedang sibuk bekerja. Bibi Elis dan suaminya tidak memiliki keturunan, dia sangat senang menjagaku dan adikku.
"Makan dulu Rein" kulihat Ibuku sedang nonton tv sambil makan kacang rebus, adikku ketiduran di pangkuannya. Adikku bernama Regen, umurnya baru 5 tahun. Aku duduk di samping Ibuku dekat dengan pintu rumah, kami duduk beralaskan tiker, tidak ada sofa di rumah kami. "Rein gak laper Mih" kataku sambil mencomot kacang rebus di mangkok yang di letakkan di depan Ibuku. "Kenapa?kamu tadi udah ngambil tahu sama tempe ya?ya kan?" Ibuku bertanya sambil menaikkan kedua alisnya yang tebal. "Hehe, Rein tadi perutnya keroncongan Mih" kubuat wajahku semanis mungkin. "Oh kirain Mamih udah pesta makan sama temen2 kamu tadi siang" ujar Ibuku bernada sinis. "Ih si Mamih, makan apaan? Makan daun kali" kataku dengan bibir cemberut. "Ya kenapa gak makan aja daun2nya? biar gak kelaperan,kan kamu gak mau pulang dulu ke rumah." Aku menatap Ibuku dengan kesal sekaligus merasa bersalah. "Ya deh Mih, besok2 Rein gak pulang sore2 lagi. Maafin Rein Mih." Aku meminta maaf pada Ibuku rada memelas. "Besok2 kalo kamu pulang sekolah gak langsung pulang ke rumah dulu, Mamih iket kamu di pohon" aku meng-angguk2an kepalaku mendengar ancaman Ibuku.
"Mih, tadi waktu berdiri di depan pintu rumah, Rein lihat perempuan berdiri di depan rumah Ki Engkus. Aneh deh Mih" aku memutuskan menceritakan pengalamanku tadi kepada Ibuku. "Mamih gak lihat siapa2 tadi di luar kok" kata Ibuku memotong pembicaraanku. "Bisa aja yg kamu lihat itu setan, soalnya kamu suka gak nurut sama Mamih." Lanjut Ibuku enteng. 'Ih Mamih bisa2nya hubung2in setan sama gak nurut' kataku dalam hati, aku diam saja dan memutuskan untuk tidak membahas lagi kejadian yang tadi pada Ibuku.

"Kreeeeeeek" terdengar seperti derit suara pintu yang terbuka. Aku menoleh ke arah samping kananku, kulihat memang pintu sedikit terbuka. Mungkin angin pikirku, lalu aku menutup kembali pintunya sampai rapat. Tidak lama pintunya terbuka lagi sedikit seperti sebelumnya. Lalu kututup lagi pintunya, akan tetapi pintunya tidak bisa tertutup. Kembali terbuka lagi. "Udah, biarin aja Rein kebuka pintunya, biar nanti Mamih kunci" Ibuku ternyata memperhatikanku yang sedang berusaha untuk menutup pintu. Kubiarkan pintu sedikit terbuka, kurasakan sedikit hembusan angin. Lalu aku kembali nonton tv sambil makan kacang rebus yang sudah tinggal sedikit di mangkok.
"Sini...sini.." terdengar suara wanita berbisik. Aku melihat ke arah Ibuku, kulihat Ibuku sedang asik nonton televisi. "Sini..kemari.." terdengar lagi suara wanita berbisik, kali ini aku sadar bahwa suaranya berasal dari arah pintu. Perlahan aku menoleh ke arah pintu yang sedikit terbuka di samping kananku. Aku terdiam sambil memperhatikan pintu dan melihat apakah ada seseorang di sana. Kulihat tidak ada siapapun di balik pintu melalui celah pintu yang sedikit t erbuka. Aku palingkan lagi wajahku dari arah pintu, dan berusaha untuk menonton tv.
"Siniiii" terdengar lagi suara bisikan, aku langsung menoleh lagi ke arah pintu. "Braaaaaak" tiba2 pintu tertutup sendiri, tertutup rapat dan tidak terbuka sendiri lagi. Aku sangat terkejut melihat pintu rumah tertutup sendiri. "Anginnya kenceng banget ya kayaknya Rein?mau hujan sepertinya." Ibuku santai melihat pintu yang tertutup sendiri. Aku ingin sekali menceritakan bisikan suara seorang
yang kudengar dengan sangat jelas pada Ibuku. Tapi melihat gerak-gerik Ibuku yang biasa saja, aku yakin dia pasti tidak mendengar apa yang kudengar. Ku urungkan saja niatku untuk bercerita pada Ibuku. Aku lalu pamit untuk tidur pada Ibuku. Aku merasa sangat capek dan berniat untuk tidur saja.

Brrrr brrrr...aku merasakan tubuhku menggigil kedinginan. Aku meringkuk di dalam selimut."Duh pengen kencing" aku malas2an bangun dari tempat tidurku. Aku sangat malas sekali apabila sedang tidur, lalu terbangun hanya karena harus buang air kecil. Ditambah udara malam ini sangat dingin sekali. Aku hanya mengenakan baju tidurku yang bahannya tipis, karena tadi udara agak panas. Tapi sekarang benar2 dingin. Aku tidur sendirian di kamar, adikku tidur berdua dengan ibuku. Aku senang sekali tidur sendiri,tidak harus berbagi kamar dengan adikku. Aku tidak benci dengan adikku, aku sangat menyayanginya. Hanya kadang dia suka iseng terhadapku, dan barang2 milikku. Jadi aku sangat senang kamar ini hanya untuk aku. Aku keluar dari kamar dan menuju ruang tamu sekaligus ruang tv untuk melihat jam. Kulihat jam di dinding sudah pukul 3 lewat 7 menit. Aku menuju ke arah jendela, dan kusibakkan sedikit gordennya. Aku melihat ke arah rumah Ki Engkus, tampak sepi sekali di luar. Aku sebenarnya masih sangat penasaran dengan perempuan yang kulihat tadi. Tapi perempuan itu sudah tidak ada. Mungkin dia sudah pergi, atau dia sudah masuk ke dalam rumah Ki Engkus. Entahlah. Lalu aku menutup gordennya kembali, dan cepat2 menuju ke arah kamar mandi. Aku sudah tidak dapat menahan rasa ingin kencing. Kamar mandi terletak di bagian paling belakang rumah. Ruang paling belakang ini adalah ruang yang atapnya terbuka. Di ruang ini ada kamar mandi, sumur, tali untuk menjemur pakaian dan tempat mencuci pakaian. Setelah selesai buang air kecil, aku langsung ingin cepat2 tidur kembali. Udaranya amat sangat dingin sekali di luar sini. Lalu aku membuka pintu yg memisahkan antara ruang dapur dan ruang sumur. Aku menutup pelan pintunya, dan kulihat sedikit ke arah ruang sumur setelah pintunya agak menutup. Aku sangat sangat terkejut dengan apa yg kulihat di pojok dekat sumur. Aku memincingkan mataku berusaha untuk memperjelas dan meyakinkan diriku dengan apa yang kulihat. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Tubuhku tiba2 mematung, pandanganku menatap lurus kepadanya. Sosok itu adalah perempuan yang kulihat tadi saat aku dihukum berdiri di luar. Perempuan itu berdiri diam di pojok , kepalanya tertunduk, kakinya tidak terlihat terhalang oleh sumur. Dia tidak bergerak sama sekali, sama seperti aku. 'Bagaimana dia bisa masuk?' Pikirku heran. 'Apakah benar kata Ibuku bahwa perempuan itu adalah hantu?' Aku menjadi sangat takut, lidahku menjadi kelu, aku tidak dapat berteriak. Aku hanya bisa menatap perempuan itu lemas, aku malah berharap agar aku pingsan saja. Lalu tiba2 aku dapat menggerakkan tanganku lalu seluruh tubuhku, terasa agak berat, tetapi tubuhku bisa bergerak. Itu yang paling penting bagiku saat ini. Aku berusaha menutup pintu dapur yang tiba2 terasa berat. Setelah berhasil kututup, segera kukunci pintunya. Aku berusaha berlari cepat ke arah kamarku. Nafasku tersengal, jantungku berdegup sangat kencang. Aku naik ke tempat tidurku dan memejamkan mataku, dan berharap untuk cepat tertidur.


(Terimakasih banyak untuk agan pardjono yg sdh membantu saya)

indeks
Diubah oleh balawanta1
profile-picture
profile-picture
anasabila dan andrian990 memberi reputasi
2
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 3 dari 8
Rein, Kayonna, dan Perempuan itu (True Horror Story)
05-02-2017 12:58
Kayonna 18



"Tib..ini rumah tante Rein kayaknya deh" kataku
Tibra langsung menghentikan kendaraan. Aku memandang sebuah rumah di sebelah kiriku. Rumah kecil dengan pekarangan yang ditumbuhi bunga-bunga yang cantik. Aku sangat yakin ini rumah tante Rein, karena pekarangan rumahnya sangat indah. Lagipula tidak ada yang berubah dari rumah ini seingatku. Tante Rein benar-benar menjaga rumah ini dengan baik sepertinya, walaupun dia tidak menempati rumah ini.
"Ayolah turun aja kita" Yudanta membuka pintu mobil, dan langsung berjalan menuju depan rumah tante Rein.
Aku dan Elva langsung ikutan keluar dari mobil. Aku berjalan pelan di pekarangan rumah tante Rein yang lumayan luas. Kulihat Tibra sudah menyusul dan ikutan masuk ke pekarangan rumah.
Yudanta melongok dari luar jendela. Berusaha melihat kedalam rumah.
"Ngapain lo ngintip2 dijendela Yud?" Tibra menghampiri Yudanta dan ikutan mengintip di jendela.
"Udah yuk ah. Kita balik aja. Gak jelas banget ini" Elva berjalan menuju mobilnya
"Baru juga turun El. Tar dulu bentar" Tibra menolak ajakan Elva untuk segera pergi dari sini
Elva lalu senderan di mobil sambil cemberut. Lalu aku melihat ada sebuah motor berhenti dibelakang mobil Elva. Seorang laki-laki turun dari motor tersebut. Dia berjalan ke arah kami.
"Loh Kayonna? kok kamu disini? sedang apa?" Ternyata dia adalah Mang Djatun suami dari tante Rein. Aku tersenyum senang melihat Mang Djatun. Aku langsung menghampiri beliau dan memeluknya erat.
"Mang Djatun! Kok ada disini juga?" Tanyaku
"Kalo ini kan kampungnya mang Djatun, yang aneh itu kamu. Ngapain kamu disini?" Mang Djatun balik bertanya
"Hehehe..enggak mang. Kita kebetulan lagi nginep dipuncak. Terus jalan-jalan. Langsung terlintas pengen ke kampung tante Rein" kataku agak berbohong
"Oh gitu, bagus mang masih ada disini. Mang Djatun kemaren abis dateng ke acara pernikahan keponakan mang Djatun. Kemaren tante Rein juga ada. Cuma tadi pagi udah kembali lagi ke Solo barengan sama Om Regen. Mang Djatun dua hari lagi baru pulang ke Solo. Ayo yuk kita masuk ke dalem" Mang Djatun menjelaskan panjang lebar lalu mengajak kami semua masuk ke dalam rumah.
Lalu aku mengenalkan Yudanta dan Tibra kepada mang Djatun. Elva sudah pernah bertemu mang Djatun beberapa kali dulu.

"Mang, Kay numpang pipis ya" sebelum mang Djatun mempersilahkan, aku sudah duluan ngeloyor pergi menuju kamar mandi yang terletak di belakang.
Selesai buang air kecil aku melihat-lihat tempat jemuran dan sumur. Batu2 di sekeliling sumur di cat warna-warni sekarang. Sudah banyak yang di renovasi di dalam rumahnya. Hanya bentuk rumah masih sama, cat di luar rumahpun masih sama dengan saat aku terakhir ke sini dulu. Saat aku melewati dapur, dapurnya sekarang bergaya lebih modern. Hanya meja makannya tidak diganti. Dan ruang tamu sekaligus ruang televisi masih sama. Tidak menggunakan sofa. Tetap lesehan seperti dahulu. Hanya tidak lagi menggunakan tikar, melainkan karpet berwarna merah marun nan hangat.
"Mau teh anget gak kalian?" Tanya mang Djatun
"Eehh..biarin aja kita bikin sendiri mang" kataku
Tibra dan Elva langsung permisi ke dapur, hendak membuat teh hangat.
Mang Djatun lalu permisi keluar rumah, dan dia berlari-lari menuju motornya. Tidak lama masuk lagi kedalam rumah sambil membawa bungkusan plastik berwarna merah.
"Ini kebetulan banget tadi mang Djatun dibekelin kue-kue basah sama Ibu mang Djatun. Banyak banget. Alhamdulillah kalian mampir ke sini, jadi ada yang bantuin habisin kuenya" Ujar mang Djatun sambil membuka bungkusan plastik yang didalamnya ada dus kotak berukuran sedang. Didalamnya terdapat berbagai aneka kue basah yang kelihatannya sangat enak sekali.

"Duuh..makasih banget mang. Kebetulan laper abis jalan-jalan" kata Yudanta tanpa malu-malu sambil mencomot kue dihadapannya.
"Iya, sok atuh. Kay ayo, diambil kuenya. Yang lain belum selesai bikin tehnya ya"
Tidak lama Elva datang dari dapur sambil membawa cangkir sebanyak 5 buah. Dibelakang Elva ada Tibra yang berjalan sembari membawa ceret berisi teh panas. Mereka langsung menuang teh ke dalam cangkir.
Lalu tanpa sungkan-sungkan Elva dan Tibra langsung mencomot kue yang tersaji di atas karpet.
"Kalian ini sebenarnya ada apa kesini? Cerita aja sama mang Djatun" tanya mang Djatun tiba-tiba
Kami berempat langsung saling lihat-lihatan.
"Gak ada apa2 kok mang, emang iseng aja jalan-jalan" kataku
Mang Djatun menatapku, aku pura-pura tidak melihatnya. Aku langsung mengambil cangkirku, minum tehnya dan memandang keluar jendela.
Lalu mang Djatun menatap Elva, Tibra dan juga Yudanta. Mereka terlihat salah tingkah.
"Gini mang, sebenernya kita emang sengaja kesini. Bukan cuma mau jalan2" ujar Tibra tiba-tiba.
Aku langsung melotot ke arah Tibra. Tibra cuek saja dan tidak memperdulikanku. Tibra malah melanjutkan ceritanya. Dia menceritakan tentang penampakan yang dia lihat semalam dengan sangat jelas. Juga bercerita tentang aku yang juga melihat perempuan itu saat retreat. Dan tidak lupa Tibra menceritakan tante Rein yang juga melihat perempuan itu saat menginap di rumahku.
Selesai Tibra bercerita, mang Djatun hanya tersenyum. Lalu dia menyeruput tehnya yang sudah hangat.
"Hmm..terus kalian ini kesini karena penasaran sama hantu tersebut. Ya kan?" Tebak mang Djatun benar.
"Kalo Kay sih gak penasaran mang. Kay gak peduli ah! Males mau tahu gitu" kataku
Mang Djatun kembali tersenyum ramah.
"Tante Rein waktu itu udah cerita sama mang Djatun tentang penampakan yang dia lihat di rumah kamu Kay" mang Djatun terdiam sesaat
"Dulu sekali waktu tante Rein masih kecil, tante Rein cerita ke mang Djatun dan kawan-kawan tante Rein yang lain waktu pertama kali tante Rein lihat perempuan itu" Aku, Tibra, Elva dan Yudanta serius mendengarkan cerita mang Djatun. "Tante Rein beberapa kali melihat penampakan. Bahkan ada kejadian yang seperti mau membawa tante Rein ikut hantu itu pergi. Sampai2 ada kawan dekat tante Rein, yang adalah juga kawan mang Djatun ingin sekali mencari tahu asal usul hantu itu. Tapi tante Rein gak peduli. Dia juga sama seperti Kayonna. Tidak mau tahu tentang perempuan itu" Mang Djatun kembali menyeruput tehnya.
"Tetapi ternyata kawan mang Djatun itu pada akhirnya mengetahui sedikit cerita mengenai perempuan itu. Hanya saja dia tidak menceritakan pada tante Rein. Karena dia tidak mau tante Rein marah padanya karena mengungkit-ungkit masalah itu. Mang Djatun juga gak tahu banyak. Dia hanya cerita seperlunya saja di saat mang Djatun sedang main ke rumahnya. Dan lagipula waktu itu mang Djatun sudah tidak tinggal disini" mendengar itu, Tibra dan Yudanta terlihat antusias. Mereka pasti penasaran sekali ingin bertemu dengan kawan tante Rein dan mang Djatun itu. Ada terlintas sedikit aku juga ingin tahu. Tetapi rasa tidak ingin penasaranku lebih besar. Jadi aku cuek saja.
"Mang, maaf. Kira2 kita bisa ketemu dengan kawan mang Djatun itu?" tanya Yudanta
"Tapi itu kalo gak ngerepotin mang" kata Yudanta lagi
Mang Djatun mengangguk "Bisa saja. Sama sekali gak repot. Rumahnya persis di depan rumah ini kok" kata mang Djatun sambil menunjuk rumah di seberang. Tidak terlihat rumahnya, karena terhalang mobil Elva yang terparkir di depan rumah. Tetapi aku tahu rumah itu, saat aku kesini dulu, rumah itu kosong. Penghuni sebelumnya telah meninggal dunia sejak lama. Hanya, aku tahu Mamih tante Rein dan tante Rein suka membersihkan rumah tersebut. Juga memelihara pekarangannya menjadi indah.
"Loh! Udah gak kosong lagi rumahnya mang?" Tanyaku
"Udah sempet beberapa kali ada orang yang tinggal dirumah itu. Cuma kebanyakan gak bertahan lama. Mungkin mereka kurang cocok tinggal disini. Mang Djatun gak tau. Akhirnya temen mang Djatun itu yang beli dan dia tinggal disana sampai sekarang"
" Assalamualaikum..wah banyak orang ya" ada seorang laki-laki kira-kira seumuran dengan mang Djatun tiba2 sudah berdiri didepan pintu. Wajahnya sumringah. Aku sepertinya pernah bertemu dengan orang itu.
"WA'ALAIKUMUSSALAM!" Balas kami semua berbarengan

"Loh! Kayonna ya? masih inget gak sama mang Dayat?"
Aku terdiam, berusaha mengingat laki-laki tersebut.
"Eeng..mang Dayat temennya tante Rein ya?" Tanyaku ragu
"Iya dong..masa temennya pangeran Charles" jawabnya sambil berusaha melucu. Kami semua langsung tertawa. Aku langsung menyalami mang Dayat dan mengenalkannya pada yang lain. Mang Dayat adalah salah satu sahabat tante Rein yang dulu saat aku kesini dia ikut mengajakku bermain. Sahabat2 tante Rein semuanya bisa sangat dekat dengan anak kecil.
"ada apa Yat kemari?" Tanya mang Djatun setelah mang Dayat duduk di karpet di dekat pintu rumah.
"Gak ada apa2, cuma pengen mampir. Mau minta kue" jawab mang Dayat
"Mariii dimakan" mang Dayat ketawa kecil sambil mencomot kue
"Ah! Kamu ini Yat, kirain ada apa" mang Djatun melempar tutup dus kue ke arah mang Dayat.
"Yat, kebetulan nih. Anak-anak ini mau tau soal si perempuan" kata mang Djatun kepada mang Dayat yang sedang asik makan kue lumpur.
"Mang Dayat ini sekarang yang menempati rumah didepan" kata mang Djatun kepada kami
"Perempuan saha?" Tanya mang Dayat bingung
"Perempuan yang gentayangan" jawab mang Djatun santai
Wajah mang Dayat langsung berubah, dia melihat ke arah kami
"Mau apa atuh..jangan aneh2 Kay. Nanti tante Rein marahin mang Dayat. Tante Rein lebih serem dari hantu, mang Dayat takut"
Aku dan yang lain tertawa mendengar ucapan mang Dayat
"Kita gak aneh-aneh kok mang, cuma mau tau cerita tentang perempuan itu doang." Kata Tibra. Lalu Tibra menceritakan pada mang Dayat bahwa aku pernah melihat perempuan itu. Juga Tibra sendiri melihatnya semalam. Mendengar hal itu mang Dayat kali ini memasang wajah serius dan terdiam beberapa saat.
"Ikut ke rumah mang Dayat yuk. Ada yang mang Dayat mau kasih lihat ke kalian"
Aku dan yang lain saling lihat-lihatan.
"Mau kasih lihat ke anak2 apa Yat?" Tanya mang Djatun penasaran
"Ikut juga aja kamu Djatun, saya juga mau kamu lihat" ajak mang Dayat pada mang Djatun.
Mang Djatun mengangguk, dia langsung membereskan kotak kue. Aku dan Elva ikutan membantu mang Djatun merapihkan cangkir2, dan membawa ke dapur.

Tidak lama kami semua keluar rumah dan berjalan menuju rumah mang Dayat.
Langit masih mendung, angin meniup daun pohon beringin yang ada di pekarangan rumah mang Dayat. Elva berjalan sambil memeluk lenganku.
"Gue kenapa merinding gini ya Kay? gw agak takut nih" bisik Elva kepadaku
"Cuma perasaan lo aja El, gak apa2 kok" kataku berusaha menenangkannya
Kami menaiki 3 anak tangga yang berada tepat di depan rumah yang terbuat dari batu. Rumah ini benar2 masih asli rumah adat Sunda.
Mang Dayat lalu mempersilahkan kami semua untuk duduk di kursi rotan. Lalu mang Dayat ke kamarnya, dan keluar kamar sambil membawa sesuatu. Kulihat seperti pigura foto berukuran kecil.
Mang Dayat meletakkan pigura tersebut diatas meja.
"Coba dilihat baik2, yang kalian lihat itu wajahnya seperti ini bukan" kata mang Dayat
Aku dan Tibra spontan berbarengan langsung mendekat untuk melihat lebih jelas foto tersebut.
Kening Tibra berkerut seperti orang kebingungan. Aku lalu mengambil pigura tersebut dan kutatap lekat2 foto itu.
Mataku terbelalak melihat foto yang ada dihadapanku.
Diubah oleh balawanta1
profile-picture
andrian990 memberi reputasi
1 0
1
Rein, Kayonna, dan Perempuan itu (True Horror Story)
05-02-2017 13:51
detail banget ceritanya, itu tante rain yan ada di kay ada hubunganya sama cerita awal? apa emang ceritanya tante rain di awal?
0 0
0
Rein, Kayonna, dan Perempuan itu (True Horror Story)
05-02-2017 14:45
waaaaa.... emoticon-Matabelo
Lagiii laagiiii......
0 0
0
Rein, Kayonna, dan Perempuan itu (True Horror Story)
05-02-2017 20:42
Hbs maraton gan..
Gila, detil ceritanya bikin hanyut pembaca..
Ini masih banyak misterinya...
Semoga smpe tuntas ya gan.. jgn kentang
0 0
0
Rein, Kayonna, dan Perempuan itu (True Horror Story)
05-02-2017 20:51
Gelar tiker dl....

Anuuu,
layar heponku kecil,
font jg tk bkin kecil.
Klo bs ketikny dksh spasi agak pnjg gan biar sy jg enk bcanya.. hueheheeew swuun
0 0
0
Rein, Kayonna, dan Perempuan itu (True Horror Story)
10-02-2017 18:27
Kayonna 19




'Wajah yang ada di foto ini! dia adalah perempuan cantik yang kulihat di mata air!' Aku berbicara dalam hati sambil menggenggam pigura itu dengan sangat erat. Sekarang aku menjadi agak bingung. Perempuan yang kulihat di mata air nampak sangat jelas. Benar2 seperti layaknya manusia biasa. Tidak ada yang aneh darinya.
"Bagaimana?" tanya mang Dayat yang duduk disebelah Tibra.
"Saya gak bisa ngenalin mang, perempuan yang saya lihat semalam wajahnya agak ketutup rambutnya" ujar Tibra
Lalu semua orang yang ada di ruangan itu melihat ke arahku.
"Kalau kamu gemana Kay?" tanya mang Djatun
Aku menelan ludah, tenggorokanku tiba-tiba terasa kering saat melihat foto tersebut.
Mang Djatun mendekat kepadaku dan ikut melihat foto perempuan tersebut. Yudanta juga ikutan melihat. Elva menolak melihat foto tersebut saat Yudanta memberikan pigura kecil itu pada Elva.
"Kay pernah lihat perempuan ini. Tapi .. tapi bukan hantu" kataku
Mendengar ucapanku mereka semua tampak binguung.
"Maksud lo Kay?" tanya Elva
Aku lalu menceritakan kepada semua bahwa aku pernah bertemu dengan perempuan itu sebelumnya di dekat mata air saat aku retreat.
"Dia cantik. Gak serem sama sekali. Kay gak yakin mang kalo yang Kay lihat itu hantu" mang Dajtun mengangguk-angguk sambil menopang dagunya.
"Tapi.." aku menggaruk hidungku, lalu kulihat lagi foto dihadapanku
"Tapi apa?" Yudanta tidak sabar
"Tapi anehnya ciri-ciri bajunya sama kayak perempuan yang Tibra lihat semalam" kataku melanjutkan
Kulihat mang Dayat menaikkan alisnya dan dia tersenyum.
"Mang Dayat yakin yang kamu lihat di mata air itu adalah perempuan yang pernah mendatangi kamu, juga Tibra dan juga tante Rein" kata mang Dayat

"Ummm...mang...kok mang Dayat yakin banget kalo yg Kay lihat sama kayak yang Tibra liat?" Tanyaku kurang yakin
Sekarang semua orang yang ada di ruangan itu melihat ke arah mang Dayat. Seperti menunggu penjelasan mang Dayat.
Mang Dayat terdiam, menghela nafas panjang sambil menatap ke arah foto yang ada di atas meja.
0 0
0
Rein, Kayonna, dan Perempuan itu (True Horror Story)
10-02-2017 18:30
Kayonna 20 -Mang Dayat-


"Alhamdullilah udah punya rumah sendiri kamu Yat. Tinggal punya isteri ya Yat"
"Iya Bi. Terimakasih Bi Esih sudah mau masak buat pengajian di rumah minggu depan" saya mencium tangan Bi Esih yang hendak pamitan pulang ke rumahnya.
Bi Esih adalah adik dari Ayah saya. Kedua orangtua saya sudah tiada. Ibu saya sudah meninggal terlebih dahulu saat saya masih berumur empat belas tahun. Sedangkan Ayah saya pergi menyusul Ibu saya saat saya berumur tujuh belas tahun. Saya tidak memiliki saudara kandung lagi. Saya adalah anak satu-satunya. Sehingga rumah menjadi milik saya. Tetapi akhirnya terpaksa saya harus menjual rumah peninggalan orangtua saya. Karena Ayah saya ternyata berhutang pada bank. Dan saya sendiripun berkeinginan untuk kuliah seperti teman-teman yang lain.
Bi Esih yang menyarankan saya untuk menjual rumah, mencari pekerjaan sambil kuliah. Uang hasil menjual rumah digunakan untuk membayar hutang, kuliah dan ditabung sisanya. Bi Esih memaksa saya untuk tinggal bersamanya. Beliau yang rajin menyemangati saya kuliah sambil bekerja, juga mengajari saya untuk tidak boros. Hingga saya bisa membeli rumah dari hasil kerja keras saya sendiri.
"Iya kamu tenang aja, Bi Esih nanti masak masakkan yang enak buat pengajian" Bi Esih menepuk bahuku. Dalam hati saya menangis. Saya pasti akan sangat merindukan Bi Esih. Walaupun masih satu kampung, tapi rasanya pasti akan sangat berbeda tidak tinggal serumah dengan beliau lagi.
Bi Esihpun berjalan pulang. Saya masih menatap punggungnya, ada perasaan yang sangat berat rasanya.

"Dayat!" Tiba2 ada pukulan keras mendarat di bahu saya.
Saya spontan menoleh dan melihat wajah ceria dan seolah-olah tidak berdosa sedang menertawakan saya.
"Yaahh...mata lo berkaca-kaca tuh Hahahahaha!" Rein tertawa terbahak-bahak. Bahagia sekali dia sepertinya melihat saya menangis.
"Makanya Yat, cepat2 cari isteri supaya gak sedih" kali ini Rein tertawa cekikikan
"Iya deh yang udah jadi nyonya Djatun" saya mengambil sapu yang tadi saya letakkan di pagar bambu
"Rein kamu kapan kembali ke Jakarta?" Saya menoleh ke arah Rein yang sudah duduk selonjoran di bawah pohon beringin.
Saya lalu mendekatinya dan ikut duduk selonjoran di sampingnya.
"Tapi bagus kamu akhirnya nikah juga ya Rein, walaupun dengan sahabat sendiri" Rein langsung menatap mata saya tajam mendengar perkataan saya.
"Maksud lo?!" Tanya Rein
"Ya saya kira kamu bakalan jadi perawan tua Rein"
"Sialan lo Yat! Kehed sia!" Rein memukul dan menonjok lengan kiri saya berkali-kali
"Aduhh! Ampun madam! habisnya kamu gak pernah punya pacar" Rein akhirnya menghentikan kegiatannya menonjok lengan saya.
"Seneng banget gue Yat lo beli rumah Ki Engkus ini. Sejak Mamih udah meninggal, gak ada lagi yang bersih2in rumah Ki Engkus. Sedangkan gue tinggal di Jakarta." Rein tersenyum kepada saya.
"Jaga baik2 Yat. Kalo bisa lo jangan jual rumah ini"
Saya mengangguk mantap kepada Rein. Saya yakin tidak akan menjual rumah ini. Selain karena ini adalah tepat bermain saya dan teman2 sewaktu kecil, ini juga adalah rumah pertama saya yang saya beli dari keringat saya sendiri.
"Udah ah! Gue mau tidur siang dulu!" Tiba2 Rein menonjok lengan saya lagi sekali. Lalu berdiri dan berlari menuju kerumahnya. Meninggalkan saya yang bengong melihat kelakuannya.
"EH! REIIIN! KATANYA KAMU MAU BANTU2 SAYA BERSIHKAN RUMAH!" Saya buru2 berteriak kepada Rein, menagih janjinya kemaren yang mengatakan mau membantu membersihkan rumah saya hari ini.
"ADUUUHHH BADAN GUE RONTOK YAT" Rein tertawa sambil melambaikan tangannya dan masuk kerumahnya begitu saja.
Saya menggelengkan kepala saya 'dasar si Rein, ingin sekali saya getok kepalanya sekali2. Tapi itu tidak mungkin. Selain dia sudah jadi isteri Djatun, dia itu sangat galak!' Saya mendengus kesal.
Tidak ada lagi yang bisa dimintai pertolongan. Teman2 saya yang lain sedang bekerja. Mereka memang menawarkan bantuan, tetapi mereka hanya bisa membantu di hari Minggu. Semua sahabat2 saya juga sudah berkeluarga. Hanya tinggal saya sendiri yang belum.
Lama sekali kalau harus menunggu bantuan mereka. Sedangkan ini masih hari Rabu.
'Ah saya bersihkan sendiri saja. Semangat Yat!' Saya menyemangati diri saya sendiri.

Saya masuk kedalam rumah dan memandang sekeliling rumah. Memutuskan mana dulu yang harus saya bersihkan. Karena semalam saya sudah tidur disini, jadi kamar tidur yang saya tempati sudah saya bersihkan kemarin. Saya lalu mulai membersihkan ruang tamu. Dan menyusul ruang yang lain. Di rumah ini ada tiga kamar tidur. Rumah ini besar, belum pekarangannya. Dan di belakang ada sumur dan kamar mandi juga dapur yang cukup luas.
Saya senang karena saudara Ki Engkus tidak mengambil perabotan rumah Ki Engkus. Mungkin dia pikir juga akan repot, karena saudara Ki Engkus tinggal di Surabaya. Ki Engkus sudah tidak memiliki siapa2 lagi. Beliau memberikan mewariskan rumah beserta isinya untuk saudara jauhnya itu. Saudaranya lalu menjual rumah Ki Engkus. Ada beberapa kali orang yang sudah membeli rumah ini dan pindah kesini. Tetapi tidak ada yang bertahan lama, dan beruntung tidak ada dari mereka yang membawa serta perabot rumah ini. Padahal perabotan rumah Ki Engkus sangat bagus, terawat dengan baik dan terlihat antik. 'Yaah mungkin memang sudah jalannya akhirnya saya yang memiliki rumah ini'
"Kriieeeeekkk...Braakk!"
Saya langsung menghentikan kegiatan bersih2 saya saat mendengar suara pintu seperti dibuka dan ditutup kembali. Saya sedang membersihkan kamar dekat ruang tamu. Kamar yang saya tempati terletak disamping kamar ini. Kamar ini sebenarnya lebih luas, tetapi karena lebih luaslah saya enggan tidur dikamar ini. Saya tidak terbiasa tidur dikamar yang besar.
Saya lalu berjalan keluar kamar dan menengok ke arah dapur. Saya yakin pintu yang bunyi tadi berasal dari pintu dapur. Dapur dirumah ini berbatas oleh pintu. Setelah dapur lalu terdapat sumur dan kamar mandi yang tidak berbatas alias menjadi satu ruang dengan dapur. Lalu setelah itu ada sebuah pintu kayu yang menghubungkan antara ruang dapur tempat untuk mencuci baju sekaligus jemuran di halaman belakang.
Saya berjalan menuju pintu dapur dan membuka pintunya perlahan. Saya melihat ke sekeliling ruang dapur, dan berjalan lagi menuju sumur dan kamar mandi. Saya membuka pintu kamar mandi yang terbuat dari bambu. Tidak ada siapapun.
'Apakah angin? tapi itu tidak mungkin. Pintu depan dan pintu belakang tertutup dengan rapat! Bahkan saya sudah menguncinya' saya melihat-lihat lagi keadaan sekitar. Siapa tahu ada binatang masuk. Saya mulai membuka lemari di dapur. Masih kotor disini, banyak debu. Saya memang belum membersihkan bagian dapur. Saya berencana membersihkannya besok.
Tidak ada apapun. "Aahh! Sudahlah saya mau bersih2 saja!" Saya berbicara sendiri lalu keluar dari ruang dapur dan kembali melanjutkan membersihkan kamar depan.


Selesai shallat Isya, saya lalu keluar rumah hendak membeli makanan untuk makan malam di warung nasi yang terletak di samping rumah Bi Elis. Bi Elis sudah pindah ke Jepang sejak lama. Suaminya mendapat pekerjaan di Jepang sehingga Bi Elispun ikut pindah ke sana.
"YAAAATTT!" Saya menghentikan langkah saya, saya menoleh ke bekakang dan melihat Rein sedang berlari menghampiri saya.
"Naon?" Saya langsung bertanya kepada Rein setalah dia sudah berdiri dihadapan saya.
"Bade angkat kamana (mau pergi kemana)?" tanya Rein
"Makan malam atuh. Lapar" jawab saya sambil memegang perut saya yang keroncongan
"Gak usah! Ayo ikut ke rumah!" Kata Rein seenaknya
"Kenapa atuh Rein? Lapar ini euy!" Kataku. Rein langsung menarik tangan saya
"Gue udah masakkin lo gepuk pakai sambal yang pedes banget! Ayo!"
Mendengar itu saya langsung tersenyum lega karena tidak harus makan di warung nasi, selain itu gepuk adalah makanan kesukaan saya. Saya langsung ikut Rein ke rumahnya. Di dalam sudah ada Djatun yang sepertinya baru pulang bekerja. Kami bertiga makan malam sambil berbincang seperti biasa. Djatun bercerita bahwa dia akan pindah bekerja di Jakarta dalam waktu dekat. Karena Rein bekerja disana, dan tidak mungkin mereka hidup berpisah. Sekarangpun Djatun sebenarnya sudah tidak tinggal disini. Dia tinggal di Lido. Karena ia bekerja disana. Rein dan Djatun sekarang ada disini karena ingin datang ke pengajian selamatan rumah saya, sekalian mereka mau membersihkan rumah Ibu Rein yang sudah lama belum dibersihkan lagi sejak mereka menikah.

"Nuhun ya Rein udah dimasakkin gepuk" setelah makan dan ngobrol2 saya pamitan pulang. Saya ingin segera tidur. Rasanya badan ini ingin segera tiduran di kasur.
"Iya Yat sami-sami, maaf ya tadi gak ikut bantuin bersih-bersih. Tadinya rencananya mau bantuin abis tiduran sebentar. Gak taunya gue ketiduran sampe maghrib Yat. Hehehehe" Rein nyengir kuda
"Ya gak apa2 Rein, udah selesai kok. Tinggal ruang dapur" kata saya sambil memakai sandal buluk saya
"Ya udah, sok atuh pulang sana. Mau ngapain lagi?!" Suara Rein meninggi. Lalu Rein tertawa terbahak, Djatunpun ikut tertawa.
"Suami isteri sadis pisan" kata saya bercanda dan ikut tertawa bersama mereka
Saya lalu pulang dan berjalan dengan cepat ingin segera tidur.
Sampai dikamar saya langsung tiduran, dan tidak berapa lama saya langsung tertidur pulas.

"BRAAKKK!!"
"Srekkk..srekkk"
Saya terbangun mendengar seperti suara dibanting dan ada seperti suara kaki diseret. 'Suara apa itu? Darimana asalnya?' Saya bertanya dalam hati.
Saya duduk diatas kasur dan mencoba mendengarkan lagi suara yang membangunkan tidur saya yang nyenyak.
Tidak ada apapun. Hening.
'Ah mungkin suara dari luar' saya lalu kembali tiduran dan memejamkan mata mencoba untuk kembali tidur.
"Tok! Tok! Tok!"
Saya kembali duduk di kasur. Ada suara seperti orang mengetuk pintu.
Saya lalu memutuskan keluar kamar untuk melihat siapa yang bertamu ke rumah malam2 begini.
Saya membuka tirai jendela untuk melihat ke luar rumah. Tidak ada siapapun!
"Siapa sih iseng sekali?!" Saya kesal sendirian.
Lalu saya kembali berjalan ke kamar.
"Tok! Tok!" Terdengar lagi suara ketukan. Tapi kali ini asalnya bukan dari pintu rumah. Melainkan dari jendela kamar depan!
Saya cepat2 berjalan ke kamar depan, dan membuka tirai jendela kamar. Terlihat pohon beringin, dan ksaya lihat ke pekarangan rumah. Tidak ada siapapun juga. Lalu saya mencoba melihat ke tangga rumah di teras.
"Hah!!" Dengan sangat jelas saya melihat seorang perempuan berambut panjang sedang duduk sambil menundukkan kepalanya.
'Siapa perempuan itu?'
Saya lalu bergegas berjalan ke ruang tamu dan membuka pintu rumah untuk bertanya pada perempuan tersebut apa maksudnya bertamu tengah malam begini dan ada perlu apa.
"Wussss" hembusan angin dingin melewati saya saat saya membuka pintu rumah.
Tidak ada siapapun diluar! Tidak ada perempuan yang sedang duduk di tangga!
Sekarang saya mulai kebingungan. Dan bertanya-tanya siapa perempuan itu? Kenapa dia mengganggu orang yang sedang beristirahat? Sekarang sudah tengah malam. Apa yang perempuan itu lakukan malam2 begini.
Diubah oleh balawanta1
0 0
0
Rein, Kayonna, dan Perempuan itu (True Horror Story)
10-02-2017 20:46
merinding
lanjut gan
penasaran nih
0 0
0
Rein, Kayonna, dan Perempuan itu (True Horror Story)
12-02-2017 07:58
waaaaaa.... siapa diaaa
0 0
0
Rein, Kayonna, dan Perempuan itu (True Horror Story)
13-02-2017 18:15
hayukkk dilanjut... bagus ini alurnya
1 0
1
Rein, Kayonna, dan Perempuan itu (True Horror Story)
15-02-2017 19:51
Ayoo gan update, uda penasaran iniii
0 0
0
Rein, Kayonna, dan Perempuan itu (True Horror Story)
16-02-2017 09:40
Kayonna 21 -Mang Dayat


"Tok! Tok! Tok! Tok!"
Saya terbangun mendengar suara ketukan dari pintu rumah. Saya mengucek kedua mata saya. Badan saya rasanya lelah sekali. Karena kejadian semalam, saya tidak dapat tidur nyenyak lagi.
"Punten...Dayaaat!"
"Tok! Tok! Tok!"
Saya langsung lompat dari tempat tidur mendengar suara Rein, dan berlari kecil menuju pintu rumah.
"Yat, ini udah jam sembilan pagi! Gue dari tadi bolak-balik ke rumah lo. Ngetokin rumah lo gak ada jawaban. Kan kita janjian kemaren mau bersihin ruang dapur rumah lo!" Di tangan Rein sudah ada ember, sikat lantai juga sabun.
"Ya ampun lupa Rein!" Saya menepok kening saya, menyuruh Rein untuk masuk, lalu bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi.
Setelah selesai, saya langsung ikut membersihkan ruang dapur bersama Rein yang sudah mulai duluan membersihkan ruang dapur.
"Yat kok tumben bangun jam segini?" Rein bertanya sambil mengelap debu2 yang menempel di peralatan memasak peninggalan Ki Engkus.
"Kecapean saya kayaknya Rein" saya berniat untuk bercerita pada Rein tentang tamu saya semalam. Tapi nanti saja, saat sedang tidak sibuk seperti ini.
Saya dan Rein bercerita banyak sambil terus membersihkan ruang dapur. Dia bercerita tentang pekerjaannya di Jakarta, juga kehidupan dia di Jakarta.
"Yaah wajan yang besar itu ketinggalan Yat, belum dilap" Rein menunjuk sebuah wajan besar yang menggantung di dinding.
Rein lalu berdiri dan meraih wajan tersebut. Tubuh Rein lumayan tinggi. Tingginya kira2 175cm. Jadi dia tidak sulit meraih wajan yang menggantung agak tinggi di dinding dapur.
Saat Rein sudah berhasil mengambil wajan tersebut, wajahnya berubah. Seperti terkejut melihat sesuatu didalam wajan.
"Yat! ada bangkong(kodok) di dalam wajan!" Kata Rein
Saya langsung mendekat dan melihat ke wajan, ada seekor kodok besar berwarna putih. Kodok itu masih hidup. Tetapi tidak bergerak.
"Karunya (kasihan)" kata Rein.
Tiba2 kodok tersebut loncat keluar dari wajan. Lompatannya amat tinggi! Saya baru kali ini melihat kodok melompat setinggi ini.
"Kadieu putiihh kur kur kur" Rein berjalan pelan ke arah kodok yang loncat ke pojokkan
"Kamu pikir ini teh ayam Rein" saya tertawa mendengar cara Rein memanggil kodok tersebut

Saya mendekat ke arah kodok putih tersebut, dan menyuruh Rein untuk menjauh. Saya hendak menaruh kodok tersebut dipekarangan depan. Kasihan, pasti kodok itu tidak betah ada di dalam sini. Dengan sangat hati2 saya mengambil kodok tersebut. Ternyata kodok putih itu diam saja saat saya mengambilnya. Saya langsung buru2 berlari menuju halaman depan. Saya takut dia lompat lagi seperti tadi. Pasti akan susah lagi mengambil kodok itu kalau dia keluar dari tangan saya. Saya langsung meketakkan kodok putih tersebut di atas rumput. Saya memperhatikan kodok itu, dia hanya diam saja. Saya yakin dia pasti sangat suka sekali berada diluar sini.
'Kodok yang aneh, bagaimana dia bisa masuk dalam wajan yang digantung di dinding?' Saya bertanya-tanya dalam hati.
Saya kembali masuk kedalam rumah untuk melanjutkan meembersihkan ruang dapur. Saat saya masuk ke ruang dapur, saya lihat Rein sedang memegang bahunya yang sebelah kiri dan meringis seperti orang yang sedang kesakitan.
"Kunaon(kenapa) Rein?" Saya cemas takut bahu Rein kenapa2.
"Teu nanaon(tidak apa2)" jawab Rein.
Wajahnya langsung tidak meringis saat tiba2 saya tanyakan keadaannya.
Rein terlihat seperti sedang menahan rasa sakitnya. Tetapi saya tidak bertanya lagi, saya sangat tahu sifat Rein seperti apa. Bila dia sudah berkata tidak apa2, berarti tidak apa2. Dan jangan dibahas lagi. Begitulah Rein. Kami berdua melanjutkan acara bersih2nya. Hingga siang hari kami membersihkan. Rein lalu pamit pulang. Katanya dia ingin mandi, setelah itu dia akan kerumah saya lagi untuk makan siang. Saya tidak pandai memasak, jadi saya membeli makanan di warung nasi untuk kami berdua.

Setelah makan siang saya dan Rein mengobrol lagi. Kami berdua duduk di lantai ruang dapur yang sudah bersih sekali. Bersih dan harum.
"Rein"
"Hmmm kenapa?"
"Semalam pas tengah malam ada yang bertamu kerumah saya" kata saya
"Siapa?" Tanya Rein.
"Saya gak tau siapa. Perempuan, tapi saya gak bisa lihat wajahnya. Waktu saya lihat dari dalam rumah, dia sedang duduk ditangga teras rumah. Jadi gak kelihatan wajahnya." Cerita saya
Rein mengerutkan dahinya, wajahnya yang putih terlihat penasaran.
"Terus sewaktu saya buka pintu rumah, dia sudah pergi" lanjut saya.
Rein lalu hanya terdiam menatap dinding rumah. Seperti ada sesuatu yang dipikirkannya.
"Rein kamu kenapa?" Tanyaku
"Gak kenapa2 Yat. Kalo lo tanya gue kenal apa enggak. Gue ya gak tau, apalagi lo gak bisa lihat mukanya" Rein lalu tiba2 berdiri
"Mau kamana atuh Rein?" Saya bingung tiba2 Rein berdiri dan merapihkan piring2 kotor.
"Mau tidur dulu Yat. Capek" jawab Rein
"Oh ya sudah. Terimakasih ya Rein udah bantu2 bersih2." Kami berdua berjalan ke luar rumah
"Iya Yat. Pake terimakasih segala. Kita ini kan udah kayak sodara"
Saya mengangguk dan tersenyum mendengar kata2 Rein. Rein lalu bergegas pulang kerumahnya.

Saat ini sudah lewat tengah malam. Setelah membereskan pakaian2, dan memasukkannya kedalam lemari, saya berniat untuk tidur.
"KLONTONG! KLONTONG!" Saya mendengar suara ribut dari dapur. Seperti panci dan wajan yang berjatuhan.
Lalu saya bergegas berjalan ke dapur untuk melihat apa yang terjadi. Saya terkejut melihat ada kodok putih di dapur yang sedang lompat. Saya melihat sebuah wajan dan centong2 untuk memasak yang sebelumnya saya gantung di dinding dapur sudah berjatuhan di lantai.
Saya langsung merapihkan wajan dan centong2 tersebut. Perlahan saya mengambil kodok putih yang sudah tidak berlompatan. Saya menaruhnya kembali dipekarangan depan. Buru2 saya menutup pintu rumah suoaya kodok itu tidak bisa masuk lagi kedalam rumah. Tadi pasti kodok putih tersebut masuk kedalam saat sore tadi, saat pintu rumah saya buka lebar2.
Saya lalu kembali kekamar, dan tidur dengan sangat pulas.

Saya kembali terbangun saat tenggorokan saya terasa kering. Saya haus. Saya lalu berjalan ke dapur, di ruang tamu saya lihat jam antik di atas lemari pajangan menunjukkan waktu jam tiga pagi.
Saat di dapur, saat sedang minum entah kenapa saya ingin memeriksa ke dalam wajan yang menggantung. Saya lalu meletakan gelas saya dan perlahan meraih wajan besar yang menggantung didinding.
Saya membalikkan wajannya dan melihat seekor kodok putih sedang berdiam didalamnya!
Tebakan saya benar, perasaan saya mengatakan kodok itu kembali ke dapur. Saya tidak tahu kapan dia berhasil masuk ke rumah, dan yang paling mengherankan bagaimana kodok itu bisa masuk kedalam wajan yang sedang menggantung tanpa membuat wajan itu jatuh.
Lagi2 saya mengambil kodok putih itu dan membawanya keluar rumah untuk saya taruh di pekarangan rumah saya.
Saya meletakkan kodok tersebut dan berjalan mundur sewaktu hendak masuk kedalam rumah. Untuk memastikan kodok tersebut tak ikut masuk kedalam.
Di saat yang bersamaan, saya melihat seorang perempuan berjalan pelan melewati rumah saya! Saya bisa melihat wajah perempuan itu dari samping. Sepertinya dia perempuan yang sangat cantik. Cantik dan terlihat anggun. Saya belum pernah melihat perempuan itu sebelumnya. Apakah dia baru pindah rumah ke kampung ini. Tetapi, sedang apa perempuan itu jam segini diluar rumah.

'Ah! Sabodo teuing(bodo amat)! Bukan urusan saya" kata saya dalam hati lalu masuk kedalam rumah.
Diubah oleh balawanta1
0 0
0
Rein, Kayonna, dan Perempuan itu (True Horror Story)
16-02-2017 10:47
kodok putih.... perempuan cantik... hmmm... apakah jelmaannya?
seruuuuuu..... emoticon-Jempol tapi serem juga... emoticon-Takut (S)
0 0
0
Rein, Kayonna, dan Perempuan itu (True Horror Story)
17-02-2017 19:15
Kayonna 22 -Mang Dayat-



"Dayat!"
"Yat! Ih bengong!"
"Dayat!"
Teriakan Rein membuyarkan lamunan saya yang sedang asik memperhatikan kodok putih dihadapan saya.
"Eh Rein! Dari tadi?" Saya tertawa melihat wajah Rein yang bermuka kesal sambil berdiri diluar pagar bambu rumah saya.
"Tau ah!" Rein tambah kesal melihat saya malah tertawa.
" Ih kitu wae ngambek( Ih gitu aja marah). Apa itu Rein?" Saya melihat Rein membawa piring yang ditutupi serbet di tangan kanannya.
"Ini nasi goreng. Mau gak?" Tanya Rein
"Waduuh kebetulan lapar pisan yeuh(laper banget nih). Kadieu(kesini) atuh Rein" saya menyuruh Rein untuk masuk ke pekarangan rumah saya.
"Gak ah, males. Mau ngasih ini aja. Nih!" Saya langsung berjalan menuju tempat Rein berdiri.
"Terimakasih ya Rein"
"Iya, eh Yat. Lo selesai cuti kerja kapan?" Tanya Rein sebelum kembali kerumahnya.
"Sehabis pengajian Rein. Kenapa atuh?"
"Gak apa2 Yat. Oh iya, besok anak2 pada mau main kerumah lo" kata Rein lagi
"Oh iyaaa Djatun juga udah ngasih tahu kemarin" kata saya
"Ya udah gw masuk dulu Yat"
Saya memberi tanda jempol pada Rein, lalu beranjak masuk kedalam rumah untuk sarapan nasi goreng pemberian Rein.

Setelah makan saya masuk kekamar untuk beberes. Saya ingin memindahkan letak lemari pakaian yang ada di sudut ruangan. Saya ingin menaruh gitar saya di sudut ruangan tersebut.
Saya mendorong ke arah samping dengan sekuat tenaga lemari antik peninggalan Ki Engkus ini. Lemarinya sangat berat, tetapi saya akhirnya berhasil mendorong lemari antik tersebut.
Saya langsung mengambil ember dan pel yang sudah saya siapkan terlebih dahulu untuk membersihkan lantai bekas memajang lemari antik tersebut. Tetapi saat saya hendak membersihkan lantai tersebut, saya baru sadar bahwa lantai itu bukanlah lantai biasa. Lantai tersebut terbuat dari kayu dan ada seperti pegangan yang sepertinya terbuat dari kuningan untuk membuka. Seperti sebuah kotak kayu berukuran kecil.
Saya tertegun agak lama sambil berdiri memandangi kotak kayu tersebut.
Lalu saya berjongkok untuk lebih jelas melihat kotak itu. Saya mengambil sebuah lap basah dan mengelap tutup kotak tersebut. Kotak kayu ini terlihat sangat kokoh.
Perlahan dan sangat hati-hati saya membuka tutup kotak itu. Saat saya membukanya, didalamnya ada sebuah pigura kecil, sapu tangan berwarna putih agak lusuh yang bahannya sangat halus, pita berwarna cokelat dan juga ada sebuah kalung berukuran besar yang bentuknya seperti tasbih, hanya saja yang ini ada sebuah salib kecil berwarna perak dikalung tersebut. Saya mengambil semua barang tersebut satu per satu dengan sangat hati-hati lalu melihat lagi secara seksama. Terakhir saya mengambil sebuah pigura kecil yang ada didalam kotak kayu itu, dan membersihkan kaca piguranya.
Ada sebuah foto berwarna hitam putih dengan wajah seorang perempuan cantik sedang tersenyum manis. Fotonya terlihat seperti foto yang sudah lama sekali. Perempuan didalam foto mengenakan pita berwarna cokelat di kepalanya. 'Sepertinya perempuan ini blasteran'
Perempuan itu sedang duduk tegak disebuah kursi, mengenakan atasan kemeja dan rok panjang sampai semata kaki, juga sepatu. Kedua tangannya dilipat dikedua pahanya. Rambutnya lurus dan panjang. Sangat cantik sekali. Cara duduknya juga terlihat sangat anggun.
Entah kenapa saya merasa mengenali wajahnya, sepertinya saya pernah melihatnya disuatu tempat. Atau mungkin hanya mirip saja. Entahlah.

Saya menjadi bertanya-tanya sendiri, apakah hubungan Ki Engkus dengan perempuan yang ada di dalam foto ini. Saudarakah? Teman? Ataukah n istrinya? Tetapi setahu saya istri Ki Engkus adalah orang Indonesia asli. Bukan blasteran. Kata orang-orang istri Ki Engkus juga berasal dari daerah sini. Jadi, siapa perempuan ini? Mengapa barang-barangnya disimpan seolah-olah barang ini adalah sesuatu yang sangat berharga.
'Hmmm saya harus mencari tahu. Saya penasaran. Tetapi saya harus bertanya pada siapa? Yang seusia dengan Ki Engkus rata2 sudah meninggal dunia semua. Bahkan usia Ki Engkus saat meninggal waktu itu sudah sangat tua sekali. Apa mungkin Bi Esih tahu tentang hal ini? Bisa saja dia tahu. Tidak ada salahnya bertanya pada beliau'
Saya memutuskan untuk bertanya pada Bi Esih saat hari pengajian saja. Hari Minggu.
Saya lalu merapihkan lagi barang2 tersebut dengan sangat hati2. Menutup kembali kotaknya. Dan saya letakkan sebuah keset baru berwarna biru laut yang saya beli belum lama ini di atas kotak kayu tersebut. Lalu saya meletakkan gitar saya diatas keset tersebut.

Malam hari saya sudah benar2 selesai membereskan semua ruangan dirumah ini. Rasanya saya puas terhadap pekerjaan saya akan rumah ini. Saya benar2 membersihkan rumah ini tanpa ada sudut yang tertinggal untuk dibersihkan.
Saya tiduran diatas ranjang tidur saya sambil menatap langit2 kamar. Membayangkan siapa kelak yang akan jadi istri saya. Saya sebelumnya tidak memikirkan istri sama sekali. Saya hanya fokus bekerja. Akan tetapi saya tidak pernah menyesali saya yang duli hanya bekerja dan bekerja saja. Saya senang bisa memiliki rumah sendiri dan tabungan yang menurut saya lumayan banyak. Itu bisa menjadi modal untuk masa depan saya dan istri juga mungkin anak saya kelak.
Akhirnya rasa kantuk sayapun datang dan saya tertidur dengan pulas.

"Jreng jreng jreng jreng"
Samar-samar dari kejauhan saya mendengar suara gitar. Sepertinya ada orang yang sedang bermain gitar walaupun tidak jelas lagu apa yang sedang dimainkannya. Saya rasanya seperti bermimpi.
"Jreng jreng jreng"
Saya mengacuhkan suara itu. Saya tetap tidur dan ingin menikmati tidur saya yang selalu terganggu beberapa hari ini.
Hening. Tidak ada suara lagi.

"Jreng jreng hmmm hmmm hmmm la la la"
Saya langsung membuka mata saya! Saya sedang tidur miring menghadap tembok. Saya yakin benar barusan saya mendengar suara gitar dan suara perempuan yang sedang bernyanyi! Dan saya sangat yakin suara itu berasal dari kamar ini. Dan suara gitarnya berasal dari gitar saya! Dan saya yakin itu bukanlah mimpi!
Perlahan saya membalikkan tubuh saya untuk melihat gitar saya. Jantung saya berdegup sangat kencang.
Saya hanya terpaku dengan yang saya lihat, tidak dapat berkata-kata!
Ada seorang perempuan berambut panjang sedang memainkan gitar saya yang saya senderkan didinding. Perempuan itu duduk di lantai dihadapan gitar saya!

"Hmm hmm hmm hmm"
Suara perempuan itu terdengar merdu dan sendu. Sepertinya dia sedang menyanyikan lagu yang sangat sedih sekali.
Tiba-tiba dia berhenti bernyanyi, dan menjauhkan jarinya yang lentik dari gitar saya. Perempuan itu berdiri dan berjalan menuju keluar kamar. Kakinya diseret. Saya benar2 tidak percaya dengan pemandangan yang saya lihat. Setelah perempuan itu keluar kamar, saya buru2 langsung ikut keluar kamar.

Tetapi perempuan itu telah menghilang dalam sekejap!
profile-picture
andrian990 memberi reputasi
1 0
1
Rein, Kayonna, dan Perempuan itu (True Horror Story)
18-02-2017 22:23
Bener2 cerita yg bagus, menegangkan, bikin penasaran, tetep diLanjuuttt ya gan, sy sangat menikmatinya.. Semoga smpai tamat mat mattt hehhehe
0 0
0
Rein, Kayonna, dan Perempuan itu (True Horror Story)
19-02-2017 21:08
Ceritanya bagus tp koq knp sepi ya,,
0 0
0
Rein, Kayonna, dan Perempuan itu (True Horror Story)
19-02-2017 22:20
Keren...berasa banget horornya. sangat menantikan next update.
0 0
0
Rein, Kayonna, dan Perempuan itu (True Horror Story)
20-02-2017 21:14
Quote:Original Posted By mockingjay22
Bener2 cerita yg bagus, menegangkan, bikin penasaran, tetep diLanjuuttt ya gan, sy sangat menikmatinya.. Semoga smpai tamat mat mattt hehhehe


pasti saya lanjut gan. minimal saya update seminggu sekali. Yang punya cerita yaitu Kayonna sendiri sedang sibuk sekali. Dimohon kesabarannya.
terimakasih yang udah mau baca ceritanya.
0 0
0
Rein, Kayonna, dan Perempuan itu (True Horror Story)
20-02-2017 22:16
Gpp sy tetep nunggu, pokoknya ts dan kayonna tetep semangat buat nulis klo bisa seminggu sekali tp lgsg apdet 2-3part hehe
0 0
0
Rein, Kayonna, dan Perempuan itu (True Horror Story)
21-02-2017 00:12
Quote:Original Posted By mockingjay22
Gpp sy tetep nunggu, pokoknya ts dan kayonna tetep semangat buat nulis klo bisa seminggu sekali tp lgsg apdet 2-3part hehe


Kayonna itu orangnya konyol gan, saya minta diterusin cerita seremnya dia, dia malah cerita soal jual beli tanah. emoticon-Frown

Harus penuh kesabaran ngobrol sama Kayonn. Di usahain partnya lebih dari satu.
profile-picture
andrian990 memberi reputasi
1 0
1
Halaman 3 dari 8
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
rahasia-hati-true-story
Stories from the Heart
kakek-penyeruput-piccolo
Stories from the Heart
our-memories-together
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
Stories from the Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia