Entertainment
Batal
KATEGORI
link has been copied
590
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/576070e11ee5df92078b456b/nabi-muhammad-yg-terhormat-firaun-yg-hina-hubungannya-dengan-perda-ramadhan
Nabi Muhammad SAW insan yg terhormat, Fir'aun makhluk yg hina dan dihinakan mohon maaf semuanya kalau ada komen / pertanyaan / argument / sanggahan yg sebenarnya sudah gw bahas di post 1 & 2 maupun page-page sebelumnya (walau kalimat beda tapi pointnya / maksudnya sama) maka ngga akan gw tanggapin lg soalnya nanti akan sia2 toh sudah gw tulis penjelasannya di post 1 & 2 dan page-page sebelumnya eh
Lapor Hansip
15-06-2016 04:02

Nabi Muhammad yg terhormat, Fir'aun yg hina (hubungannya dengan perda Ramadhan)

Nabi Muhammad SAW insan yg terhormat, Fir'aun makhluk yg hina dan dihinakan

mohon maaf semuanya sebelum koment mohon baca ini dl ya


Puasa adalah Ujian,
"Apakah manusia mengira bahawa mereka akan dibiarkan mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji?" (Q.S. Al-Ankabut: 2)

Menguji seberapa kuat kamu menahan hawa nafsu
Menguji seberapa kuat iman dan taqwamu
Bukan menguji seberapa kuat kamu memaksa agar warung bisa ditutup
Bukan menguji seberapa banyak warung yang bisa kau tutup

Ketika ada yg kalap, lalu bikin meme dengan logika terbalik:
*kalau gitu biarin aja orang jualan narkoba, toh yg beriman tidak akan beli*
*kalau gitu biarin aja pelacuran, toh yg beriman tidak akan kesana*
Dan lain sebagainya
Ketahuilah hal-hal tersebut memang sudah dilarang (diharamkan) bahkan tanpa kau puasa,
apalagi sedang puasa ya semakin ngga boleh dong.

Sementara dalam puasa, dirimu diuji dengan tambahan ujian yg sebelumnya halal (boleh) bagimu
Menggauli istri/suami yg sah, halal untukmu
Makan & minum, halal untukmu

Namun ketika kau berpuasa, apa yg halal untukmu dijadikan ujian bagimu
Ketika kau berpuasa, dirimu dilarang menggauli istrimu
Ketika kau berpuasa, dirimu dilarang makan & minum
Itulah ujian bagimu

Lantas, dengan ujian itu...
Apakah kau menjauhi istri/suami-mu selama berpuasa? Atau cukup hanya dengan tidak menggaulinya?
Apakah kau memaksa tutup warung selama berpuasa? Atau cukup dengan tidak makan & minum?

Kalau kau menjauhi istri/suami-mu, dimana letak ujianmu?
Kalau kau memaksa tutup warung (apalagi dgn amarah), dimana letak ujianmu?

Perlukah selama berpuasa, kau mengurung diri sendirian disuatu tempat terpencil (hutan, gurung, dll) atau ruangan tertentu sampai tiba waktu berbuka?
Demi menghindari istri/suami-mu,
Demi menghindari warung-warung yg terbuka

Kalau seperti itu, dimana letak ujian bagimu?

sehingga ada pertanyaan:
"apa sih fungsi perda menutup warung di bulan ramadhan bagi orang yg bertaqwa?"

jawabannya:
fungsinya *TIDAK ADA SAMA SEKALI*
karena, orang yg bertaqwa tidak akan terpengaruh apakah warung buka ataupun tutup, dia tetap akan berpuasa

sama halnya dengan orang yg tdk bertaqwa,
fungsinya jg *TIDAK ADA SAMA SEKALI*
karena warung buka ataupun tutup, dia tetap TIDAK berpuasa

jd kenapa ribut masalah warung buka atau tutup?
bukan se-simple itu masalahnya...

masalah muncul ketika ada jargon
1. *hormatilah orang yg berpuasa*
lalu muncul jargon tandingan
2. *hormatilah orang yg tidak berpuasa*

jargon tandingan *hormatilah orang yg tidak berpuasa* bukanlah suatu pernyataan yg ingin bilang orang yg tidak berpuasa minta dihormati, TIDAK

toh yg ngomong begitu orang2nya sebenarnya juga pada puasa...
jargon itu muncul sebagai bentuk perlawanan, sarkasme ataupun sindiran terhadap jargon yg pertama *hormatilah orang yg berpuasa*

jargon yg dikeluarkan oleh saudara2 muslim seiman kita *hormatilah orang yg tidak berpuasa* bukanlah untuk melemahkan Islam
justru sebaliknya, itu di dengungkan untuk menjaga kehormatan Islam

yg jd pertanyaan penyebaran jargon *hormatilah orang yg berpuasa*
apakah benar untuk menghormati orang berpuasa? menghormati islam?
ataukah malah mempermalukan islam?

apakah jargon ini murni untuk menegakkan Islam?
atau karena ego minta dihormati semata?
atau dikeluarkan demi menyokong karir politiknya?
atau hanya ikut2an saja karena yg lain juga teriak2 hal yg sama

padahal zaman kami SD-SMP tidak ada tuh perda seperti itu dan tidak ada jargon seperti itu...
toh kami tetap berpuasa walaupun banyak warung-warung yg buka
jd sebenarnya untuk siapa perda itu?

kenapa orang yg berpuasa minta dihormati?
padahal kita diajarkan dalam beribadah itu harus ikhlas karena Allah SWT
lalu kenapa minta dihormati kepada makhluk?

ngga malu?
Puasa kok mau minta dihormatin sama sesama manusia?
apakah nanti pahalanya minta ama manusia?

PUASA ITU MENGENDALIKAN DIRI,
BUKAN MENGENDALIKAN WARTEG

namun ada saja yg ngeles lg dengan pernyataan,
"menutup warung itu bukan untuk menghormati yg puasa tp untuk menghormati bulan ramadhan dan menghormati Islam"

yakin dengan begitu Islam bakalan terhormat?
ataukah dengan begitu kita malah mempermalukan Islam?

Islam merupakan agama yg Rahmatan Lil Alamin
rahmat untuk semesta alam
bukan Rahmatan Lil Muslimin (rahmat hanya untuk kaum muslim)

karena jargon ini bukannya islam tambah dihormati
malah citra islam
citra agama kita makin terpuruk akibat pemaksaan-pemaksaan seperti ini, yg tidak ada dalilnya tentang pemaksaan penutupan warung ini

masa orang yg tidak berpuasa (anak2, wanita haid / hamil, orang tua *uzur*, musafir, non-muslim, pekerja berat, dll dll dll)
kita paksa ikut2an juga untuk berpuasa

dimana dalilnya?
dan dimana lakum dinukum waliyadin-nya
(bagimu agamamu bagiku agamaku)

apakah tidak malu?
agama Islam yg kita cintai jadi seperti ini

apakah tidak malu?
*oh begitu toh islam, agama yg main paksa2-an, bahkan orang yg tak berpuasa bahkan non-muslim juga dipaksa berpuasa*
makin rusak kehormatan islam klo gini caranya ditangan penganutnya sendiri
bukannya malah makin bagus...

kita yg berpuasa, orang lain yg dipaksa ikut2an

"Sesungguhnya diwajibkan atas kamu berpuasa..."
bukan ngurusin orang lain puasa atau tidak, dengan cara merazia dan menutup2 warung2 yg ngasih makan orang yg tidak puasa (anak2, wanita haid / hamil, orang tua *uzur*, musafir, non-muslim, pekerja berat, dll dll dll)

bahkan sampai restoran yg menjual makanan untuk non-muslim yg notabene tak berpuasa pun ikut2an kena razia
(contoh restoran2 yg menjual daging babi yg jelas2 tidak halal, muslim pun tidak mungkin masuk kesana, ngapain di razia juga)

logikanya dia itu jualan babi,
logikanya itu perkampungan non-muslim,
karena mereka non-muslim berarti mereka ngga puasa
karena mereka ngga puasa ya wajar donk mereka makan siang
Nabi Muhammad yg terhormat, Fir'aun yg hina (hubungannya dengan perda Ramadhan)

sehingga logikanya kurang kerjaan muslim makan disitu
apa mereka yg non-muslim harus DIPAKSA ikut puasa juga?
bukannya ada yg berdalih buat ngelindungin muslim supaya ngga makan disana?
loh itu warung babi....
jadi alasan sebenarnya MEMAKSA warung tutup saat puasa apa sih?
minta penghormatan manusia?
apakah nanti pahalanya minta sama manusia juga?

perlukah kita mengemis2 minta penghormatan sampai memaksa2 minta dihormati seperti itu?

tauladan kita siapa?
Nabi Muhammad SAW atau fir'aun?

Nabi Muhammad SAW seorang insan yg mulia,
seorang insan yg terhormat *TANPA PERNAH BELIAU MINTA* apalagi memaksa minta dihormati
beliau memiliki sifat rendah hati, bahkan diantara non-muslim pun banyak yg menghormati beliau apalagi yg muslim yg notabene adalah kewajiban kita...

bandingkan dengan fir'aun,
seorang makhluk yg hina bahkan dihinakan, dia memaksa2 minta dihormati tak tanggung2 semua orang DIPAKSA untuk menghormatinya
apa yg didapatnya? bukan kehormatan...
malah kehinaan,
tak tanggung2 3 agama samawi menghinakan dan menistakaan fir'aun

tidakkah kita belajar dr perbandingan ini?
masih memaksa minta dihormati saat puasa?

kita diajarkan dr kecil untuk berpuasa ikhlas karena ALLAH, bukan untuk minta dihargai oleh manusia...

kalian puasa senin-kamis?
puasa 3 hari setiap tengah bulan?
apakah setiap senin-kamis dan 3 hari tiap tengah bulan juga perlu memaksa warung tutup yg katanya demi islam?
yg katanya demi menghormati orang yg puasa?

kalau menutup warung karena *yg berpuasa ingin dihormati oleh manusia* apalah arti ibadah kita dihadapan Allah?

Namun ada lagi yg ngeles dengan mengatakan:
*Warung itu memfasilitasi kemaksiatan (membatalkan orang puasa) sehingga harus dipaksa tutup*

Kenapa malah dipukul rata semua warung melakukan / memfasilitasi kemaksiatan dengan cara DIPAKSA tutup?
Padahal pada suatu daerah diperbolehkan jualan pada siang hari tp tidak boleh makan ditempat hanya boleh bungkus
(itu lebih terhormat drpd MAKSA TUTUP, MAKSA PUASA MINTA DIHORMATI)

Dan itupun dengan syarat, ditanya macam-macam dl yg makan siapa, beli untuk apa, muslim / non-muslim dan sebagainya, kalau dia udah nanya seperti itu lepaslah sudah kewajibannya,
Dan warung tersebut haruslah ditutup sehingga kalau ada orang yg makan tidak terlihat dari luar.
Kecuali ada muslim yg sedang puasa namun kurang kerjaan nengok ke dalam warung

Padahal masih banyak fungsi warung lainnya, misalnya pedagang tersebut menjual untuk orang2 yg secara syar'i tidak wajib puasa pada saat itu anak2, wanita haid / hamil, orang tua *uzur*, musafir, non-muslim, pekerja berat, dll dll dll

Kalau alasannya hanya karena warung bisa menimbulkan maksiat memfasilitasi orang batal puasa
maka air PDAM pun bisa menjadi fasilitas maksiat
kenapa air PDAM tidak ditutup juga?
(dan ini fakta, saya waktu SMP sering liat kakak2 kelas lg puasa malah minum lewat air kran masjid)

Warung tutup, dirumahnya masing2 ada sedia makanan & minuman di dalam kulkas atau di dalam lemari dapur maupun lemari makanan kenapa tidak di razia juga kalau memakai logika seperti yg kalian sebutkan itu?

Pohon-pohon yg buahnya bisa dimakan pohon pisang, jambu, apel, mangga, belimbing dan lain sebagainya bisa juga dimakan dan BERPOTENSI membatalkan puasa kenapa tidak dirazia juga?

Sedangkan zaman Nabi anak2 diajarin puasa juga, itupun orang2 tetep ada yg jualan buah sebagainya pada siang hari bukankah makan buah jg bisa membatalkan puasa? kenapa tidak dirazia? kenapa tidak dilarang?

Bahkan anak2 diberi mainan dr kapas (sejenis harum manis kalau kita sekarang) sehingga anak2 puasa namun bisa tetap bermain dengan makanan itu tanpa membatalkan puasanya (ada yg jual)
tp diajarin, diberi keterangan, diberi ceramah diberi pemahaman, diberi pengertian bahwa tidak boleh memakan itu sampai waktu berbuka tiba

Begitulah ada pengertian diberikan bahkan kepada anak-anak
Bukannya memaksa menutup warung

Karena dalam puasa, yg dilatih itu iman & taqwa
Bukan melatih bagaimana menutup paksa warung dengan baik dan benar
Karena dalam puasa, yg diuji itu keimanan & ketaqwaan
Bukan menguji seberapa banyak warung yg bisa kau tutup
Karena puasa itu tergantung iman & taqwa
Bukan tergantung dari buka atau tutupnya warung


ngga ada abisnya ngelesnya
dari pertama minta dihormatin, lalu lari ke alasan warung bisa bikin muslim batal (warung babi?), lalu lari lg ke alasan bisa memfasilitasi kemaksiatan (bikin batal), nanti klo udah dijawab lagi itu ada aja lagi larinya juga....

buat yg bilang gw kekeuh banget dengan pendapat gw
lah sama aja situ juga kekeuh banget dengan pendapat situ sampe lari kemana2 alasannya, dari alasan yg satu dikasih argument lari lagi ke alasan yg lain


PUASA ITU MENGENDALIKAN DIRI,
BUKAN MENGENDALIKAN WARTEG


Puasa itu menahan nafsu
Bukan mengumbar hasut
Puasa itu karena Allah
Tidak butuh dihormati
Tidak jg butuh dihargai

Berpuasa kok marah?
marah ke warung buka
marah ke gambar salib
Berpuasa kok ngumbar nafsu?
ngumbar nafsu nuntut dihormati
ngumbar nafsu nuntut dihargai

yg lebih parahnya lg ketika ada yg menjadikan nyepi sebagai perbandingan
kalian bilang saat nyepi toh bandara di bali di tutup
kalian tau bedanya puasa & nyepi dimana?

dalam puasa kalau ada warung buka atau orang makan disamping kita, puasa kita ngga akan batal selama kita ngga ikut makan

sedangkan orang nyepi itu harus full berdiam diri dalam rumah, klo ngga berdiam diri nyepinya batal
udah ngerti bedanya?

warung buka atau tutup tak mempengaruhi ketaqwaan muslim
sedangkan bandara buka atau tutup mempengaruhi nilai ibadah orang hindu di bali sukses atau tidak nyepinya

lain halnya kalau warung buka lalu kita dipaksa makan diwarung itu sehingga puasa kita jd batal
ini ngga kan?
warung buka, klo kita emang niat puasa ya puasa aja buka/tutup warung ngga mempengaruhi puasa kita batal atau ngga

klo bandara, ini terkait masalah keselamatan & kenyamanan konsumen...
sebagian besar karyawan bandaranya nyepi-an

klo yg ngga nyepi masuk kerja yg ngehandle pekerjaan karyawan yg sedang libur siapa?
sanggup?

misal aja karyawan yg kerjanya di ATC setengah aja ruang ATC kosong
pesawat banyak tabrakan gara2nya
mau disalahin?
mending diliburin kan semua?
kecuali ada yg sanggup nge-handle semua pekerjaan karyawan yg libur gara2 nyepi-an

sama halnya ketika hari raya agama lain...
ketika natal, nasrani maupun non-nasrani libur semua kan?
ketika idul fitri / idul adha muslim maupun non-muslim libur semua kan?
begitu juga nyepi hindu maupun non-hindu libur semua...

contoh lg: kalau pengendara motor menerobos lampu merah dia membahayakan jiwa orang lain,
sehingga dibikin aturan FUNGSINYA supaya tidak ada yg celaka supaya tidak membahayakan....

sedangkan warung?
warung buka pada siang hari bulan ramadhan membahayakan siapa??

mengutip dr tulisan Kang Hasan *AGAMA DEFENSIF*

"Kita menutup warung bulan puasa diributkan. Tuh, Bupati Jayawijaya juga melarang orang jualan di hari Minggu. Sama aja, kan?"

Ungkapan seperti itu sebenarnya sering saya dengar dari anak-anak saya yang masih SD. Kalau salah satu disuruh berhenti melakukan sesuatu sementara yang lain masih boleh, maka ia akan protes,"Abang kok boleh?" Artinya, orang-orang yang begitu hanya sosok tubuhnya saja yang dewasa. Mentalnya masih kanak-kanak.

"Two wrongs don't make a right." (2 kesalahan tidak membuat kebenaran) Seharusnya begitu. Hanya karena ada pihak lain melakukan kesalahan yang sama dengan kita, tidak membuat kesalahan kita jadi benar. Tapi ini memang bukan soal salah benar. Ini soal membenarkan diri. Jadi kalau pihak sana melakukan kesalahan, artinya saya juga boleh. Two wrongs make a right. (2 kesalahan membuat kebenaran)

Kita tidak lagi berlomba-lomba melakukan kebaikan, melainkan berlomba-lomba melakukan kesalahan. Yang penting ego terpuaskan. Saya bisa melakukan yang saya mau, karena saya mayoritas yang berkuasa. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu, saya juga harus bisa. Kemudian harus ada sesuatu yang hanya saya yang boleh melakukan. Itulah previllege mayoritas, yang tidak boleh dilakukan oleh minoritas.

Orang di daerah mayoritas muslim melarang pendirian gereja, menghalangi kegiatan penginjilan. Orang di daerah mayoritas Kristen melarang pendirian mesjid dan menghambat dakwah Islam. Agama menjadi alat untuk saling menjatuhkan, kemudian saling bunuh.

Bukankah agama seharusnya berdiri di atas fondasi kebenaran? Kalau ada pihak yang melakukan kesalahan seharusnya kita tidak meniru. Kita tetap istiqamah dalam kebenaran. Lucunya kita merasa diperlakukan tidak adil ketika kita dicegah dari kemungkaran, saat ada pihak lain masih melakukan kesalahan. Makna adil pun kita selewengkan. Adil itu basisnya kebenaran, bukan kesamaan.

Karena agama kita menjadi defensif, bertahan mati-matian dalam kesalahan.



Quote:Quote:Original Posted By whimsical
awas hati2 gan. memang di luar sana banyak org yg memutar balikkan kata2
mereka menghina islam dengan seolah-olah membela islam tapi membela dengan ekstrem. agar islam ditertawakan.

warung makan boleh berjualan kok dalam islam
asal dengan syarat,
1. menutup dengan tirai atau sejenisnya agar makanan tidak terlihat dari luar. Toh siapapun yg udah berlangganan makan juga tau kalo itu rumah makan kan. tujuan tidak diperlihatkan agar menghormati org yg berpuasa.
2. menjual dagangan makanan yg halal. jelas harus halal. jika jualan miras jangankan bulan puasa. gak dibulan puasa pun di paksa tutup.
3. alangkah lebih baik berjualan di jam 4 sore ke atas tapi jika tidak ya gpp gk maksa. pahala buat yg berdagan itu ada.

trus gimana soal perda yg membahas soal menutup warung makan pada saat puasa? perda itu cacat! knp cacat? karena perda itu hanya berlaku buat orang2 kecil. buat restoran gimana?? apakah perda itu bisa dilaksanakan?
berarti yg salah ada perda tersebut. dengan kata lain yg membuatnya.
bahkan islam sendiripun ada namanya. agamaku agamaku... agamamu agamamu. dalam surat Al-Kafirun
itu bentuk toleransi islam yg tidak memaksa.



Quote:Original Posted By BANNED.USER
kantin/ warung perlu ditutup mungkin untuk tingkatan sekolah SD aja... karena mereka masih belajar berpuasa...
kalo baru belajar puasa udah disuguhi godaan yg berat kan kasian...

tapi untuk setingkat SMP sampai dewasa udah gak perlu lagi tuh yg seperti itu...
Puasa itu untuk diri sendiri bukan untuk orang lain...

kadang2 peraturan (perda) itu dibuat bukan murni atas dasar niat yg tulus menertibkan rakyat tetapi atas dasar kepentingan politik...


iya kebanyakan untuk kepentingan politik lah dibuat perda *PEMAKSAAN MINTA DIHORMATI* seperti itu...

contohnya aja liat...
berapa banyak pemimpin daerah yg muslim, gubernur-walikota-bupati yg mengeluarkan perda *MEMAKSA* menutup warung agar dihormati seperti itu...
karena mereka sadar berada di wilayah mayoritas muslim
sehingga dengan mengeluarkan perda seperti itu akan *DIHORMATI*
bukan atas dasar iman sepenuhnya

buktinya apa?
toh diantara sekian banyak pemimpin daerah yg mengeluarkan perda itu banyak kan yg ketangkap korupsi...
kalau memang beriman kenapa korupsi?

perda itu dibikin hanya sebagai pasang muka biar dikira menegakkan Islam...
padahal yg ada malah mempermalukan Islam

meneladani fir'aun yg *MEMAKSA* minta dihormati
bukan meneladani Nabi yg rendah hati

Quote:Original Posted By falsenick

Jadi ujian itu cuma buat yang halal, thok? Yang haram bukan ujian?


ngga ngerti atau pura2 ngga ngerti atau gmn sih?

jelas2 kalimatnya...
".............Ketahuilah hal-hal tersebut memang sudah dilarang (diharamkan) bahkan tanpa kau puasa,
apalagi sedang puasa ya semakin ngga boleh dong..........."

artinya yg haram itu memang sudah dilarang duluan bahkan sebelum puasa
sudah menjadi ujian duluan

apalagi klo udah puasa ya semakin ngga boleh
semakin menjadi ujian...

cuma pas puasa ujiannya ada tambahannya ujiannya...

".....Sementara dalam puasa, dirimu diuji dengan tambahan ujian yg ......."

Nabi Muhammad yg terhormat, Fir'aun yg hina (hubungannya dengan perda Ramadhan)

Quote:Original Posted By ron12ron
Nabi Muhammad yg terhormat, Fir'aun yg hina (hubungannya dengan perda Ramadhan)

ini juga

Nabi Muhammad yg terhormat, Fir'aun yg hina (hubungannya dengan perda Ramadhan)
Diubah oleh beruangbengkak
0
Tampilkan isi Thread
icon-close-thread
Thread sudah digembok
Halaman 23 dari 30
Nabi Muhammad yg terhormat, Fir'aun yg hina (hubungannya dengan perda Ramadhan)
17-06-2016 02:42
Quote:Original Posted By fixedplore


ilmu TSnya terlalu tinggi gan. mau di ingatkan pakai dalil apapun gak akan mempan.


Biarin aja gan jangan diladeni terlalu serius.
0 0
0
Nabi Muhammad yg terhormat, Fir'aun yg hina (hubungannya dengan perda Ramadhan)
17-06-2016 04:20
Quote:Original Posted By morning.owl


Betul laeku, memang Allah lah yg akan menilai semua ibadah kita. Setuju kali aku sama yg ini.
Tapi gini ya lae, kita langsung ajalah ke inti permasalahan di awal. Dari dalil" yg udah dipaparkan sebelum"nya, intinya kan memang dibolehkan berjualan di bulan Ramadhan. Tapi, ingat lae, kalo yg berjualan itu orang Islam dan dia ngerti sama adab berjualan di bulan puasa, tentu lah dia tau sama siapa aja dia boleh menjual dagangannya. Misalnya untuk musafir, anak" yg belum baligh, wanita haid, dsb. Yg jadi permasalahan, si penjual yg beragama Islam ini tau gak konsumennya siapa" aja? Kemungkinannya 2, dia tau karena kebetulan mayoritas tetangganya atau langganan tetapnya lah yg beli makan ataupun makan di situ. Kemungkinan lainnya, ya disamaratakan aja semua. Mau muslim atau enggak, ada yg beli ya diladeni kayak biasa. Di sini lah awal mula pemikiran yg salah itu lae. Mengacu ke dalil" naqli yg mungkin laeku ini lebih paham lah dari aku pribadi, sekalian sama video yg lae sajikan sebelumnya, di situ kan jelas ada adab"nya pada waktu berjualan di bulan Ramadhan. Coba lah dulu lae jelaskan adab"nya itu bagaimana. Jangan kasi contoh lain yg gak ada sangkut pautnya langsung sama masalah inti di awal thread lae ini. Soalnya yg aku tau lae, kalo yg berjualan di bulan Ramadhan itu orang Islam dan dia ragu kalo konsumennya itu ada uzur syar'inya untuk tidak berpuasa, maka sebaiknya lebih baik dia tidak berjualan di siang hari di bulan Ramadhan, karena hasil jualannya gak akan berkah. Ditunggu penjelasannya berikut dalil naqli mengenai adab berjualan di bulan Ramadhannya ya laeku...


nah 1 point has been made...
boleh kan brarti jualan di bulan puasa tanpa ada *PEMAKSAAN* menutup warung dengan alasan *MENGHORMATI ORANG BERPUASA*
dengan syarat si pedagang / yg berjualan ngerti adab menjual dagangannya yaitu untuk orang yg tidak wajib berpuasa (anak2, wanita haid / hamil, orang tua *uzur*, musafir, non-muslim, pekerja berat, dll dll dll)
atau untuk orang yg berpuasa namun membungkus untuk keperluan berbuka nantinya disaat maghrib...
dan tambahan syarat itu warungnya mesti tertutup....

kaidah dalilnya boleh melakukan sesuatu sampai datang ketentuan haram atas sesuatu hal tersebut (ketentuan disini maksudnya dari Al-Qu'ran & Hadist)
sehingga tidak ada ketentuan haram dalam hal berjualan disiang hari pada bulan puasa


sedangkan kebanyakan perda disini mengacuhkan hal itu
dipukul rata semua warung tertutup maupun tidak dirazia semua
udah pasang tirai, dirazia juga....
kental banget aroma pemaksaannya....

padahal kan ente mengakui sendiri tuh letak permasalahannya
kata ente *kalo yg berjualan di bulan Ramadhan itu orang Islam dan dia ragu kalo konsumennya itu ada uzur syar'inya untuk tidak berpuasa, maka sebaiknya lebih baik dia tidak berjualan di siang hari di bulan Ramadhan*

artinya ente juga mengakui sendiri tuh klo sebenarnya berjualan di bulan ramadhan boleh
yaudah sih boleh dengan syarat2 diatas tadi sama kan pendapat....

makanya seperti yg udah gw sebutin
disuatu daerah dibolehin kok jualan pada siang hari tp tidak boleh makan ditempat hanya boleh bungkus
(itu lebih terhormat drpd MAKSA TUTUP, MAKSA PUASA MINTA DIHORMATI)
dan itupun dengan syarat, ditanya macam2 dl...
yg makan siapa, beli untuk apa, muslim / non-muslim
dsb dsb dsb dsb dsb...

klo dia udah nanya kayak gitu ya lepaslah udah kewajibannya, (klo dia jual ke orang yg ngga dia kenal)


dan seperti yg ente bilang diatas *..... kalau dia ragu ......maka sebaiknya lebih baik dia tidak berjualan di siang hari di bulan Ramadhan*

silahkan klo dia ngga mau jualan di siang hari bulan ramadhan itu hak dia
tapi itu datangnya dari diri sendiri
TANPA ADANYA PEMAKSAAN dari pihak2 tertentu yg ingin MINTA HORMATI

soalnya si pedagang pun taunya dari pertanyaan dia ke calon pembeli
bisa saja pembeli ngaku non-muslim / musafir / sedang sakit / sedang bekerja berat (kuli)
atau bisa saja pembeli ngaku ngebungkusin orang rumah yg sedang tidak wajib puasa
atau pembeli bilang bungkus buat nanti persiapan buka puasa dirumah...

dalam kaidah sepengetahuan si penjual yg seperti itu, sudah lepas lah dia syarat jualannya....



Quote:Original Posted By fixedplore


up up up up



monggo agan TS dsanggah pakai dalil jugak. dsini kita diskusi ya. ndak usaha untuk saling menjatuhkan


silahkan mau di up up up up sampai ribuan kali juga ngga akan gw tanggepin lg yg ini
kenapa??

karena sudah beberapa kali dan beberapa orang yg melakukan hal kayak gini....

dia koment / bawa argument / referensi / bawa dalil
sudah gw koment-in balik, gw kasih argument balik
bukannya ditanggepin argument gw
malah posting lagi hal yg lain atau dalam kasus ini posting lg hal yg sama

males...
itu referensinya hampir sama di page sebelumnya silahkan cek kalau ngga malas baca....
eh malah balik lagi bawa referensi yg sama
HIT & RUN
males gw ngeladenin orang2 yg HIT & RUN

klo mau di tanggepin balik, ya tanggepin juga donk argument gw
klo argument gw aja ngga ditanggepin atau jgn2 malah ngga dibaca
ngapain gw kasih argument lg buat komentnya yg lain lg?
jangan2 ntar hasilnya sama aja ngga dikasih argument balik atau malah ngga dibaca lagi

bikin cape gw aja

liat aja udah bbrp orang & beberapa koment yg kayak gitu
gw perlakukan sama seperti dia juga memperlakukan argument gw
silahkan up up up up up terus

orang lain yg melakukan HIT & RUN sebelum2 dia jg gw perlakukan sama kok
masa dia mau diperlakukan beda apa istimewanya?

ngga akan gw balas balik kok sampai dia ngasih tanggapan juga ke argument gw sebelumnya
jgn HIT & RUN
kalau mau diberi argument lg , balaslah dulu argument gw yg sebelumnya


Quote:Original Posted By xlinker
jawaban TS dari awal sampai akhir gw perhatikan cuma jalan di tempat aja sambil muter2 badan. jadi inget temen gw yang mahasiswa UIN jurusan filsafat kalau diajak ngobrol atau diskusi tentang alam semesta jawabannya ke sana kemari sambil muter2. emoticon-Wkwkwk emoticon-Wkwkwk



gmn ngga jalan ditempat...
wong yg ditanyain itu2 aja balik lagi balik lagi....
udah dijelasin di post 1 & 2
masih aja ditanyain lg...

drpd gw cape2 mikir mending gw balikin lagi....
toh sama aja jawabannya

masa untuk pertanyaan yg sama jawabannya mesti beda

gini nih...
gara2 orang yg ngga baca post 1 & 2
gw yg kena getahnya kan dikatain bolak balik

terserah deh
kcwoakockwaocwakcowakcowaowackwockwa
Diubah oleh beruangbengkak
0 0
0
Nabi Muhammad yg terhormat, Fir'aun yg hina (hubungannya dengan perda Ramadhan)
17-06-2016 05:15
Quote:Original Posted By beruangbengkak


betul betul dan betul
benar benar dan benar
ngga ada yg menyoal itu mas bro...

pertama tentang
tidak shalat & tidak berinfaq lalu masuk neraka
itu memang sudah keyakinan kita sebagai muslim
kita wajib sholat, kalau tidak sholat ya masuk neraka
ngga ada perdebatan dalam hal itu

tapi kemudian apakah kalau kita memberi makan orang yg tidak sholat lalu kita masuk neraka juga?
dmn dalil naqlinya ada seperti itu? misal kita memberi makan non-muslim lalu kita ikut2an masuk neraka?
ada dalilnya???

sedangkan yg anda utarakan diatas itu cuma dalil aqli bukan dalil naqli
dalil naqli (Al-Qur'an & Hadist) dalil aqli (pendapat ulama)
tidak ada bantahan dalam dalil naqli

tapi pendapat ulama, ulama juga manusia biasa
bisa salah bisa benar
bahkan ulama 4 mazhab pernah berkata
*janganlah kalian bertaqlid buta kepada kami, telitilah sebelum mengambil keseluruhan apa yg kami ucapkan*

dalam hal memberi makan non-muslim yg tidak sholat lalu masuk neraka
dmn dalil naqlinya???

sedangkan ada dalil naqli yg menentang hal tersebut...

pernah dengar riwayat Nabi Muhammad setiap hari memberi makan pengemis Yahudi yg buta?
yg bahkan pengemis itu terus2an menghina Nabi?


kalau memberi makan non-muslim tidak boleh, tentu Nabi tidak akan melakukan hal tersebut...
bukankah Nabi sebagai tauladan kita????

kemudian yg kedua tentang makan di depan umum
makan di warung yg tertutup bukan berarti makan di depan umum
coba pikir, warung itu sudah ditutup entah dengan tirai atau apalah
yg pasti tidak terlihat dr luar...
sehingga gugurlah pendapat makan ditempat umumnya

toh orang2 lewat warung tidak akan melihat isi warung dan tidak akan melihat ke dalam warung
cuma lewat

yg aneh justru, kalau ada orang yg sedang berpuasa lalu meliat warung yg tertutup tirai
lalu masuk ke dalam dan sengaja meliat2 orang yg sedang makan
lah buat apa????

lewat mah lewat aja ngapain diliat...

tp apakah pantas memaksa warung tutup dengan dalih memaksa *HORMATILAH* orang yg berpuasa

puasa kok minta hormati manusia?
apakah nanti pahalanya minta sama manusia juga?

kemudian masalah *MEMAKSA* menutup warung
lebih elok mana?
*MEMAKSA* menutup warung atau dipakaikan tirai atau cuma ditutup tampilan warungnya saja?

menutup dengan tirai atau sejenisnya agar makanan tidak terlihat dari luar. Toh siapapun yg udah berlangganan makan juga tau kalo itu rumah makan kan.

seperti perda di suatu daerah
boleh warung buka (tapi tertutup bentuknya) asalkan melayani untuk orang yg tidak makan ditempat (cuma bungkus)
dan untuk melayani orang2 yg tidak diwajibkan berpuasa atau untuk persiapan berbuka saat maghrib
(anak2, wanita haid / hamil, orang tua *uzur*, musafir, non-muslim, pekerja berat, dll dll dll)

itupun dengan persyaratan ditanya macam2 dl...
yg makan siapa, beli untuk apa, muslim / non-muslim
dsb dsb
dalam pelaksanannya entah pedagang melakukan hal itu atau tidak itu kembali ke dirinya masing2

lebih elok mana? drpd memaksa warung tutup *MINTA DIHORMATI*?






Biar ga dibilang Hit & Run.

Skearang dari awal post TS ga ada nyebutin 1 dalil yang ada di Al quran dan Al hadist. Kalo ga salah si agan morning.owl juga minta

Memang dalm agama harus pakai Akal Logika. Tetapi ada juga yang tidak bisa pakai Akal Logika.

Memang benar Ulama 4 madzhab juga manusi yang ada salahnya. Tetapi mereka juga berkata sesuai demgan al quran dan al hadist dan mereka juga bukan sembarang orang. Mungkin mereka menghabiskan separuh hidupnya mengkaji Al quran dan al hadits Tidak seperti saya dan Agan TS

Ini ada lagi refrensi yabg bisa mencerahkan agan TS. Kalo refrensi saya bawa ini salah tolong sanggah dengan dalil. Jangan disanggah dengan AKAL LOGIKA agan TS yang kapasitasnya kita semua belum tau

HUKUM MEMBUKA WARUNG MAKAN DI SIANG HARI RAMADHAN MENURUT MAZHAB SYAFI’I DAN KEWAJIBAN PEMERINTAH

➡ Tidak berpuasa di bulan Ramadhan tanpa alasan yang dibenarkan syari’at adalah dosa yang sangat besar, karena puasa termasuk kewajiban yang agung bahkan termasuk rukun Islam yang lima. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda tentang dua malaikat yang membawa beliau di dalam mimpi beliau –dan mimpi para nabi ‘alaihimussalaam adalah wahyu-,

ثُم انْطَلَقَا بِي فَإِذَا قَوْمٌ مُعَلقُونَ بِعَرَاقِيبِهِمْ، مُشَققَةٌ أَشْدَاقُهُمْ تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا، قُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ؟ قَالَ: هَؤُلَاءِ الذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلةِ صَوْمِهِمْ

“Kemudian keduanya membawaku, maka tiba-tiba ada satu kaum yang digantung terikat di pergelangan kaki-kaki mereka, dalam keadaan robek mulut-mulut mereka serta mengalirkan darah, aku pun berkata: Siapa mereka? Dia menjawab: Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum dihalalkan atas mereka untuk berbuka puasa.” [HR. An-Nasaai dalam As-Sunan Al-Kubro dari Abu Umamah radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 3951]

➡ Oleh karena itu wajib bagi seorang muslim yang mengetahui orang yang tidak berpuasa tanpa alasan syar’i untuk menegurnya dan menasihatinya. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, apabila ia tidak mampu maka dengan lisannya, dan apabila ia tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” [HR. Muslim dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu'anhu]

➡ Hadits yang mulia ini juga menunjukkan bahwa wajib bagi pemerintah untuk merubah kemungkaran dengan tangan, karena pemerintah memiliki kekuatan dan kemampuan untuk melakukannya. Asy-Syaikh Al-‘Allaamah Ibnu Baz rahimahullah berkata,

فالإنكار يكون باليد في حق من استطاع ذلك كولاة الأمور، والهيئة المختصة بذلك فيما جعل إليها، وأهل الحسبة فيما جعل إليهم، والأمير فيما جعل إليه، والقاضي فيما جعل إليه، والإنسان في بيته مع أولاده وأهل بيته فيما يستطيع

“Maka mengingkari kemungkaran hendaklah dilakukan dengan tangan bagi siapa yang memiliki kemampuan untuk melakukannya, seperti pemerintah, badan khusus yang ditugaskan untuk itu, petugas amar ma’ruf nahi mungkar yang ditugaskan, gubernur/walikota yang ditugaskan, hakim yang ditugaskan, dan setiap orang di dalam rumahnya terhadap anak-anak dan keluarganya yang berada dalam batas kemampuannya (untuk mengingkari dengan tangan).” [Majmu’ Al-Fatawa, 6/51]

➡ Dan membuka warung makan di siang hari bulan Ramadhan serta menjual makanan kepada orang-orang yang tidak memiliki alasan syar’i untuk berbuka puasa, seperti bukan karena haid, nifas, musafir dan orang sakit, maka termasuk kemungkaran.

FATWA ULAMA MAZHAB SYAFI'I

Salah seorang ulama mazhab Syafi’i, Asy-Syaikh Abu Bakr Ad-Dimyathi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

وذلك كبيع الدابة لمن يكلفها فوق طاقتها، والأمة على من يتخذها لغناء محرم، والخشب على من يتخذه آلة لهو، وكإطعام مسلم مكلف كافرا مكلفا في نهار رمضان، وكذا بيعه طعاما علم أو ظن أنه يأكله نهارا

“Yang demikian itu (sebagai contoh menjual barang yang dapat mengantarkan kepada maksiat) seperti menjual hewan tunggangan yang akan dibebani melebihi kemampuannya, budak wanita yang akan dipekerjakan untuk nyanyian yang haram, kayu untuk dibuat alat hiburan yang melalaikan, muslim mukallaf memberi makan kepada orang kafir mukallaf di siang hari Ramadhan, demikian pula menjual makanan kepada orang yang ia ketahui atau ia sangka akan memakannya di siang hari Ramadhan.” [I’aanatut Thaalibin, 3/30]

Ulama mazhab Syafi’i yang lain, Asy-Syaikh Sulaiman bin Umar Al-Azhari rahimahullah menyebutkan fatwa Asy-Syaikh Muhammad bin Asy-Syihab Ar-Romli rahimahullah,

يَحْرُمُ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَسْقِيَ الذمي فِي رَمَضَانَ بِعِوَضٍ أَوْ غَيْرِهِ لِأَن فِي ذَلِكَ إعَانَةً عَلَى مَعْصِيَةٍ

“Haram atas seorang muslim memberi minum kepada orang kafir yang tinggal di negeri muslim pada siang hari Ramadhan, apakah dengan cara dijual atau dengan cara lain, karena itu berarti menolong dalam kemaksiatan.” [Haasyiatul Jamal ‘ala Syarhi Manhajit Thullaab, 5/226]

FATWA ULAMA BESAR AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH DI MASA INI

Fatwa Komite Tetap untuk Pembahasan Ilmiah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia,

لا يجوز فتح المطعم في نهار رمضان للكفار ولا خدمتهم فيه؛ لما فيه من المحاذير الشرعية العظيمة، من إعانة لهم على ما حرم الله، ومعلوم من الشرع المطهر أن الكفار مخاطبون بأصول الشريعة وفروعها، ولا ريب أن صيام رمضان من أركان الإسلام، وأن الواجب عليهم فعل ذلك مع تحقيق شرطه وهو الدخول في الإسلام

“Tidak boleh membuka rumah makan di siang hari Ramadhan untuk orang-orang kafir dan membantu mereka untuk makan, karena itu sangat terlarang dalam syari’at, yaitu menolong mereka untuk melakukan apa yang Allah haramkan, karena dimaklumi bahwa orang-orang kafir pun diperintahkan untuk mengamalkan pokok syari’at dan cabangnya, dan tidak diragukan lagi bahwa puasa Ramadhan termasuk rukun Islam, maka wajib atas mereka berpuasa dengan memenuhi syarat puasa, yaitu masuk Islam.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 9/37 no. 17717]

Asy-Syaikh Al-Faqih Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata,

لا يجوز فتح المطاعم ولو للكفار -وطبعاً للمسلمين غير مفتوحة- في أيام رمضان، ومن رأى منكم صاحب مطعم فتحه في رمضان وجب عليه أن يبلغ الجهات المسئولة لمنعه، ولا يمكن لأي كافر أن يظهر أكلاً أو شرباً في نهار رمضان في بلاد المسلمين، يجب أن يمنع من ذلك

“Tidak boleh membuka warung makan walau untuk orang-orang kafir -dan tentu saja bagi kaum muslimin juga tidak boleh dibuka- selama siang hari bulan Ramadhan. Barangsiapa yang melihat pemilik warung makan yang membukanya di siang Ramadhan maka wajib bagi yang melihat tersebut untuk melaporkan kepada pihak yang berwenang (pemerintah) untuk melarangnya, dan tidak boleh bagi orang kafir siapa pun untuk menampakkan aktivitas makan dan minum di siang hari Ramadhan di negeri-negeri muslim, wajib untuk mencegahnya.” [Al-Liqo’ Asy-Syahri, no. 8]

➡ Karena tidak sepatutnya seorang muslim meridhoi atau bahkan membantu orang-orang yang melakukan kemungkaran besar ini. Allah ‘azza wa jalla telah mengingatkan,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِر وَالتقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتقُوا اللهَ إِن اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” [Al-Maidah: 2]

➡ Dan tidaklah patut bagi setiap muslim untuk mendiamkan kemungkaran karena takut celaan media. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا لَا يَمْنَعَن رَجُلًا هَيْبَةُ الناسِ أَنْ يَقُولَ بِحَق إِذَا عَلِمَهُ

"Perhatikanlah, janganlah rasa segan kepada manusia menghalangi seseorang untuk mengucapkan yang benar ketika ia telah mengetahuinya." [HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu'anhu, Ash-Shahihah: 168]

➡ Inilah hikmahnya mengapa dipersyaratkan untuk diangkat sebagai pemimpin atau para pembantunya adalah orang-orang yang kuat dan terpercaya, agar tidak mudah ditekan oleh pihak lain dalam menegakkan hukum, tidak terkecuali tekanan media-media perusak bangsa. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وَيَنْبَغِي أَنْ يَعْرِفَ الْأَصْلَحَ فِي كُل مَنْصِبٍ فَإِن الْوِلَايَةَ لَهَا رُكْنَانِ: الْقُوةُ وَالْأَمَانَةُ. كَمَا قَالَ تَعَالَى: {إن خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِي الْأَمِينُ} وَقَالَ صَاحِبُ مِصْرَ لِيُوسُفَ عَلَيْهِ السلَامُ إنك الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ

“Sepantasnya seseorang mengetahui (memilih) yang paling layak dalam setiap jabatan, karena kepemimpinan harus memiliki dua rukun, yaitu kuat dan amanah, sebagaimana firman Allah,

إن خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِي الْأَمِينُ

“Sesungguhnya sebaik-baik orang yang engkau pekerjakan adalah orang yang kuat lagi amanah.” (Al-Qoshosh: 26)

Dan berkata penguasa Mesir kepada Nabi Yusuf ‘alaihissalaam,

إِنكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ

“Sesungguhnya engkau pada hari ini di sisi kami adalah orang yang kuat lagi amanah.” (Yusuf: 54).” [Majmu’ Al-Fatawa, 28/253]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
0 0
0
Nabi Muhammad yg terhormat, Fir'aun yg hina (hubungannya dengan perda Ramadhan)
17-06-2016 05:15
Quote:Original Posted By beruangbengkak


nah 1 point has been made...
boleh kan brarti jualan di bulan puasa tanpa ada *PEMAKSAAN* menutup warung dengan alasan *MENGHORMATI ORANG BERPUASA*
dengan syarat si pedagang / yg berjualan ngerti adab menjual dagangannya yaitu untuk orang yg tidak wajib berpuasa (anak2, wanita haid / hamil, orang tua *uzur*, musafir, non-muslim, pekerja berat, dll dll dll)
atau untuk orang yg berpuasa namun membungkus untuk keperluan berbuka nantinya disaat maghrib...
dan tambahan syarat itu warungnya mesti tertutup....

sedangkan kebanyakan perda disini mengacuhkan hal itu
dipukul rata semua warung tertutup maupun tidak dirazia semua
udah pasang tirai, dirazia juga....
kental banget aroma pemaksaannya....

padahal kan ente mengakui sendiri tuh letak permasalahannya
kata ente *kalo yg berjualan di bulan Ramadhan itu orang Islam dan dia ragu kalo konsumennya itu ada uzur syar'inya untuk tidak berpuasa, maka sebaiknya lebih baik dia tidak berjualan di siang hari di bulan Ramadhan*

artinya ente juga mengakui sendiri tuh klo sebenarnya berjualan di bulan ramadhan boleh
yaudah sih boleh dengan syarat2 diatas tadi sama kan pendapat....

makanya seperti yg udah gw sebutin
disuatu daerah dibolehin kok jualan pada siang hari tp tidak boleh makan ditempat hanya boleh bungkus
(itu lebih terhormat drpd MAKSA TUTUP, MAKSA PUASA MINTA DIHORMATI)
dan itupun dengan syarat, ditanya macam2 dl...
yg makan siapa, beli untuk apa, muslim / non-muslim
dsb dsb dsb dsb dsb...

klo dia udah nanya kayak gitu ya lepaslah udah kewajibannya, (klo dia jual ke orang yg ngga dia kenal)


dan seperti yg ente bilang diatas *..... kalau dia ragu ......maka sebaiknya lebih baik dia tidak berjualan di siang hari di bulan Ramadhan*

silahkan klo dia ngga mau jualan di siang hari bulan ramadhan itu hak dia
tapi itu datangnya dari diri sendiri
TANPA ADANYA PEMAKSAAN dari pihak2 tertentu yg ingin MINTA HORMATI

soalnya si pedagang pun taunya dari pertanyaan dia ke calon pembeli
bisa saja pembeli ngaku non-muslim / musafir / sedang sakit / sedang bekerja berat (kuli)
atau bisa saja pembeli ngaku ngebungkusin orang rumah yg sedang tidak wajib puasa
atau pembeli bilang bungkus buat nanti persiapan buka puasa dirumah...

dalam kaidah sepengetahuan si penjual yg seperti itu, sudah lepas lah dia syarat jualannya....



Pandangan kita beda laeku. Jangan disamakan lah. Kan udah keliatan jelas bedanya. Yg kumaksud itu, berdasar dari "untuk meminimalisir keragu"an itulah makanya muncul perda ini". Kita ini manusia biasa lae, penuh keraguan. Kan di video yg jadi referensi kau itu udah jelas, hukumnya itu sama kayak orang yg makan di depan orang yg sedang berpuasa. Boleh memang, tapi makruh. Ngerti kan apa pengertian makruh?
Memang itu juga hak si penjual. Tapi kalo dipaksa demi kebaikan, itu jadinya akan lebih baik. Coba lah kau sebutin, hal lain apa yg hukumnya makruh, terus gak dipaksa dengan larangan untuk gak dikerjakan. Ada lae? Justru karena dipaksa untuk gak dikerjakan itulah nantinya bakal ngasi kebaikan buat diri kita sendiri.
"HORMATILAH ORANG YANG BERPUASA".
Berulang" ini aja yg jadi bahan yg kau kritisi. Coba lah supaya kau gak berpikiran sempit lae. Slogan itu secara tersirat berarti hormatilah bulan Ramadhannya umat Islam. Dengan kata lain, di bulan Ramadhan ini kita umat Islam yg menjalankan ibadah wajib kita dalam hal berpuasa. Bukan berarti kita minta dihormati karena kita berpuasa lae. Bukan sama sekali. Itu pande" kau aja membuat tafsir kayak gitu.
Dalil naqli yg kau minta juga kan udah disuguhkan sama lae kita yg lain. Tadinya kan kau cuma nyebutin kalo si lae kita itu cuma ngasi dalil aqli. Konsisten dong lae dengan ucapan sebelumnya. Kalo udah dikasi sesuai dengan permintaanmu, kenapa lagi kau berkilah kesana kemari? Jawab aja dulu sebisanya, jadi orang lain bisa paham dengan jelas kalo pendapat kau itu benar. Bukan malah menghindar kayak gini lae. Ditunggu tanggapannya laeku...
0 0
0
Nabi Muhammad yg terhormat, Fir'aun yg hina (hubungannya dengan perda Ramadhan)
17-06-2016 05:41
ah elo, kayak ngajinya uda mpe jauh aja, merasa paling pinter ?
0 0
0
Nabi Muhammad yg terhormat, Fir'aun yg hina (hubungannya dengan perda Ramadhan)
17-06-2016 06:33
Coba lah kita kembali lagi ke awal ya lae. Biar clear.
Kunomor"in gak papa lah ya laeku.

Quote:Original Posted By beruangbengkak
Nabi Muhammad SAW insan yg terhormat, Fir'aun makhluk yg hina dan dihinakan

1.
ada pertanyaan:
"apa sih fungsi perda menutup warung di bulan ramadhan bagi orang yg bertaqwa?"
jawabannya:
fungsinya *TIDAK ADA SAMA SEKALI*
karena, orang yg bertaqwa tidak akan terpengaruh apakah warung buka ataupun tutup, dia tetap akan berpuasa
sama halnya dengan orang yg tdk bertaqwa,
fungsinya jg *TIDAK ADA SAMA SEKALI*
karena warung buka ataupun tutup, dia tetap TIDAK berpuasa
jd kenapa ribut masalah warung buka atau tutup?
bukan se-simple itu masalahnya...
Fungsinya jelas ada. Untuk orang yg berpuasa sendiri, meminimalisir kemungkinan untuk dia pergi ke tempat" kayak warung atau tempat makan lainnya di waktu yg belum diperbolehkan untuknya berbuka puasa. Untuk yg gak berpuasa, fungsinya untuk lebih menghargai saudara"nya yg berbeda keyakinan dalam menjalankan kewajibannya.

2.
masalah muncul ketika ada jargon
1. *hormatilah orang yg berpuasa*
lalu muncul jargon tandingan
2. *hormatilah orang yg tidak berpuasa*
jargon tandingan *hormatilah orang yg tidak berpuasa* bukanlah suatu pernyataan yg ingin bilang orang yg tidak berpuasa minta dihormati, TIDAK
toh yg ngomong begitu orang2nya sebenarnya juga pada puasa...
jargon itu muncul sebagai bentuk perlawanan, sarkasme ataupun sindiran terhadap jargon yg pertama *hormatilah orang yg berpuasa*
jargon yg dikeluarkan oleh saudara2 muslim seiman kita *hormatilah orang yg tidak berpuasa* bukanlah untuk melemahkan Islam
justru sebaliknya, itu di dengungkan untuk menjaga kehormatan Islam
yg jd pertanyaan penyebaran jargon *hormatilah orang yg berpuasa*
apakah benar untuk menghormati orang berpuasa? menghormati islam?
ataukah malah mempermalukan islam?
apakah jargon ini murni untuk menegakkan Islam?
atau karena ego minta dihormati semata?
atau dikeluarkan demi menyokong karir politiknya?
atau hanya ikut2an saja karena yg lain juga teriak2 hal yg sama
padahal zaman kami SD-SMP tidak ada tuh perda seperti itu dan tidak ada jargon seperti itu...
toh kami tetap berpuasa walaupun banyak warung-warung yg buka
jd sebenarnya untuk siapa perda itu?
kenapa orang yg berpuasa minta dihormati?
padahal kita diajarkan dalam beribadah itu harus ikhlas karena Allah SWT
lalu kenapa minta dihormati kepada makhluk?
ngga malu?
Puasa kok mau minta dihormatin sama sesama manusia?
apakah nanti pahalanya minta ama manusia?
Yang dihormati itu bukan orang yang berpuasa tapi bulan sucinya. Jargon" yang muncul itu sama sekali gak ada maksud dan tujuannya untuk melemahkan dan mempermalukan Islam. Justru kalimat kau itu kurasa berbau penggiringan opini ke arah negatif lae. Kita beribadah memang semata" karena Allah ta'ala. Tapi kita bukan meminta dihormati sama makhluk karena alasan yang kau paparkan itu lae. Penghormatan itu salah satu bentuk toleransi. Malu? Kenapa mesti malu? Kita mau dihormati bukan karena alasan berharap pahala atau dosa yang kita dapatkan dari manusia lain. Pahala atau dosa itu Allah yang nentukan. Kau kan udah tau itu lae. Kalo kita gak minta dihormati kepada makhluk, lantas siapa lagi yg kita harapkan untuk menghormati kita? Kalimat"mu itu seakan" nganggap kalo umat Islam itu gila hormat, padahal bukan.

3.
PUASA ITU MENGENDALIKAN DIRI,
BUKAN MENGENDALIKAN WARTEG
namun ada saja yg ngeles lg dengan pernyataan,
"menutup warung itu bukan untuk menghormati yg puasa tp untuk menghormati bulan ramadhan dan menghormati Islam"
yakin dengan begitu Islam bakalan terhormat?
ataukah dengan begitu kita malah mempermalukan Islam?
Islam merupakan agama yg Rahmatan Lil Alamin
rahmat untuk semesta alam
bukan Rahmatan Lil Muslimin (rahmat hanya untuk kaum muslim)
karena jargon ini bukannya islam tambah dihormati
malah citra islam
citra agama kita makin terpuruk akibat pemaksaan-pemaksaan seperti ini, yg tidak ada dalilnya tentang pemaksaan penutupan warung ini
masa orang yg tidak berpuasa (anak2, wanita haid / hamil, orang tua *uzur*, musafir, non-muslim, pekerja berat, dll dll dll)
kita paksa ikut2an juga untuk berpuasa
dimana dalilnya?
dan dimana lakum dinukum waliyadin-nya
(bagimu agamamu bagiku agamaku)
apakah tidak malu?
agama Islam yg kita cintai jadi seperti ini
apakah tidak malu?
*oh begitu toh islam, agama yg main paksa2-an, bahkan orang yg tak berpuasa bahkan non-muslim juga dipaksa berpuasa*
makin rusak kehormatan islam klo gini caranya ditangan penganutnya sendiri
bukannya malah makin bagus...
kita yg berpuasa, orang lain yg dipaksa ikut2an
Udah kujelasin di poin 2 ya lae. Citra Islam gak akan terpuruk dan rusak kehormatannya karena jargon "HORMATILAH ORANG YANG BERPUASA". Untuk urusan dalil mengenai masalah ini, bukan gak ada lae. Kau di awal bilang kalo "TIDAK ADA DALILNYA", sedangkan kau paham ada 2 jenis dalil dalam Islam, Naqli dan Aqli. Dan udah dipaparkan juga sama lae "mata biru" kalo dalilnya ada, walaupun itu dalil aqli tapi sumbernya tetap dari Al-Qur'an dan Hadits. Kalau lah seandainya di awal kau gak ada bilang "TIDAK ADA DALILNYA", dan ngasitau kami" yang masih miskin ilmu pengetahuan ini mengenai dalilnya, pembahasannya gak akan muter" kayak supir angkot di Medan gini lae.

3.
"Sesungguhnya diwajibkan atas kamu berpuasa..."
bukan ngurusin orang lain puasa atau tidak, dengan cara merazia dan menutup2 warung2 yg ngasih makan orang yg tidak puasa (anak2, wanita haid / hamil, orang tua *uzur*, musafir, non-muslim, pekerja berat, dll dll dll)
bahkan sampai restoran yg menjual makanan untuk non-muslim yg notabene tak berpuasa pun ikut2an kena razia
(contoh restoran2 yg menjual daging babi yg jelas2 tidak halal, muslim pun tidak mungkin masuk kesana, ngapain di razia juga)
perlukah kita mengemis2 minta penghormatan sampai memaksa2 minta dihormati seperti itu?
tauladan kita siapa?
Nabi Muhammad SAW atau fir'aun?
Nabi Muhammad SAW seorang insan yg mulia,
seorang insan yg terhormat *TANPA PERNAH BELIAU MINTA* apalagi memaksa minta dihormati
beliau memiliki sifat rendah hati, bahkan diantara non-muslim pun banyak yg menghormati beliau apalagi yg muslim yg notabene adalah kewajiban kita...
bandingkan dengan fir'aun,
seorang makhluk yg hina bahkan dihinakan, dia memaksa2 minta dihormati tak tanggung2 semua orang DIPAKSA untuk menghormatinya
apa yg didapatnya? bukan kehormatan...
malah kehinaan,
tak tanggung2 3 agama samawi menghinakan dan menistakaan fir'aun
Ayat yang kau kutip jangan kau potong" lae dan jangan juga kau tafsirkan seenak perut kau. Kalo kau mau bawa ayat" Al-Qur'an dan Hadits, harus lengkap. Kalo kau mau jelasin mengenai tafsir, harus jelas dan gak bias.Yang kau tunjukin di sini cuma logika berpikirmu aja yang belum jelas teruji kebenarannya. Bandingkan dengan dalil yang udah jelas dan udah teruji seperti yang disajikan lae "mata biru. Lebih adil dan arif kurasa kalo kau dalami lebih dalam lagi dalil"nya. Kan kau sendiri yang bilang kalo masalah ini gak se-simple itu.

4.
tidakkah kita belajar dr perbandingan ini?
masih memaksa minta dihormati saat puasa?
kita diajarkan dr kecil untuk berpuasa ikhlas karena ALLAH, bukan untuk minta dihargai oleh manusia...
kalian puasa senin-kamis?
puasa 3 hari setiap tengah bulan?
apakah setiap senin-kamis dan 3 hari tiap tengah bulan juga perlu memaksa warung tutup yg katanya demi islam?
yg katanya demi menghormati orang yg puasa?
kalau menutup warung karena *yg berpuasa ingin dihormati oleh manusia* apalah arti ibadah kita dihadapan Allah?
PUASA ITU MENGENDALIKAN DIRI,
BUKAN MENGENDALIKAN WARTEG
Puasa itu menahan nafsu
Bukan mengumbar hasut
Puasa itu karena Allah
Tidak butuh dihormati
Tidak jg butuh dihargai
Berpuasa kok marah?
marah ke warung buka
marah ke gambar salib
Berpuasa kok ngumbar nafsu?
ngumbar nafsu nuntut dihormati
ngumbar nafsu nuntut dihargai
yg lebih parahnya lg ketika ada yg menjadikan nyepi sebagai perbandingan
kalian bilang saat nyepi toh bandara di bali di tutup
kalian tau bedanya puasa & nyepi dimana?
Poin yang ini juga udah kubahas ya lae. Ada baiknya kalau dibaca ulang lagi dan ditelaah maksudku di komentar" sebelumnya. Gitu juga penjelasan" kau di bawah ini lae, udah kukomentari juga. Jadi gak perlu diulangi lagi ya komentarnya.

dalam puasa kalau ada warung buka atau orang makan disamping kita, puasa kita ngga akan batal selama kita ngga ikut makan

sedangkan orang nyepi itu harus full berdiam diri dalam rumah, klo ngga berdiam diri nyepinya batal
udah ngerti bedanya?

warung buka atau tutup tak mempengaruhi ketaqwaan muslim
sedangkan bandara buka atau tutup mempengaruhi nilai ibadah orang hindu di bali sukses atau tidak nyepinya

lain halnya kalau warung buka lalu kita dipaksa makan diwarung itu sehingga puasa kita jd batal
ini ngga kan?
warung buka, klo kita emang niat puasa ya puasa aja buka/tutup warung ngga mempengaruhi puasa kita batal atau ngga

mengutip dr tulisan Kang Hasan *AGAMA DEFENSIF*

"Kita menutup warung bulan puasa diributkan. Tuh, Bupati Jayawijaya juga melarang orang jualan di hari Minggu. Sama aja, kan?"

Ungkapan seperti itu sebenarnya sering saya dengar dari anak-anak saya yang masih SD. Kalau salah satu disuruh berhenti melakukan sesuatu sementara yang lain masih boleh, maka ia akan protes,"Abang kok boleh?" Artinya, orang-orang yang begitu hanya sosok tubuhnya saja yang dewasa. Mentalnya masih kanak-kanak.

"Two wrongs don't make a right." (2 kesalahan tidak membuat kebenaran) Seharusnya begitu. Hanya karena ada pihak lain melakukan kesalahan yang sama dengan kita, tidak membuat kesalahan kita jadi benar. Tapi ini memang bukan soal salah benar. Ini soal membenarkan diri. Jadi kalau pihak sana melakukan kesalahan, artinya saya juga boleh. Two wrongs make a right. (2 kesalahan membuat kebenaran)

Kita tidak lagi berlomba-lomba melakukan kebaikan, melainkan berlomba-lomba melakukan kesalahan. Yang penting ego terpuaskan. Saya bisa melakukan yang saya mau, karena saya mayoritas yang berkuasa. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu, saya juga harus bisa. Kemudian harus ada sesuatu yang hanya saya yang boleh melakukan. Itulah previllege mayoritas, yang tidak boleh dilakukan oleh minoritas.

Orang di daerah mayoritas muslim melarang pendirian gereja, menghalangi kegiatan penginjilan. Orang di daerah mayoritas Kristen melarang pendirian mesjid dan menghambat dakwah Islam. Agama menjadi alat untuk saling menjatuhkan, kemudian saling bunuh.

Bukankah agama seharusnya berdiri di atas fondasi kebenaran? Kalau ada pihak yang melakukan kesalahan seharusnya kita tidak meniru. Kita tetap istiqamah dalam kebenaran. Lucunya kita merasa diperlakukan tidak adil ketika kita dicegah dari kemungkaran, saat ada pihak lain masih melakukan kesalahan. Makna adil pun kita selewengkan. Adil itu basisnya kebenaran, bukan kesamaan.

Karena agama kita menjadi defensif, bertahan mati-matian dalam kesalahan.







iya kebanyakan untuk kepentingan politik lah dibuat perda *PEMAKSAAN MINTA DIHORMATI* seperti itu...

contohnya aja liat...
berapa banyak pemimpin daerah yg muslim, gubernur-walikota-bupati yg mengeluarkan perda *MEMAKSA* menutup warung agar dihormati seperti itu...
karena mereka sadar berada di wilayah mayoritas muslim
sehingga dengan mengeluarkan perda seperti itu akan *DIHORMATI*
bukan atas dasar iman sepenuhnya

buktinya apa?
toh diantara sekian banyak pemimpin daerah yg mengeluarkan perda itu banyak kan yg ketangkap korupsi...
kalau memang beriman kenapa korupsi?

perda itu dibikin hanya sebagai pasang muka biar dikira menegakkan Islam...
padahal yg ada malah mempermalukan Islam

meneladani fir'aun yg *MEMAKSA* minta dihormati
bukan meneladani Nabi yg rendah hati

Nabi Muhammad yg terhormat, Fir'aun yg hina (hubungannya dengan perda Ramadhan)



0 0
0
Nabi Muhammad yg terhormat, Fir'aun yg hina (hubungannya dengan perda Ramadhan)
17-06-2016 06:58
panjang gini bahh
Memang benar, makin rada susah menilai haq dan bathil.
saya pikir awalnya razia bagus, tapi baca san sini jadi gak bagus
saya pikir kalimat "hormatilah orang yang berpuasa/tidak berpuasa" biasa saja, tersinggung jika pakai perasaan, yg puasa silakan khusyuk yg tidak puasa silakan khusyuk.
kata2 homati itu mirip dengan tulisan dirumah sakit, No Smoking Here. sdg untuk yg kata2 hormati yg tidak puasa mirip kata2 yg dibis bagian belakang "Smoking Area". kalo jago kau pikir tak akan ada yg tersinggung, setiap tempat ada perkataannya, dan setiap perkataan ad tempatnya.
0 0
0
Nabi Muhammad yg terhormat, Fir'aun yg hina (hubungannya dengan perda Ramadhan)
17-06-2016 07:25
Hindari Debat Gan.


"Sesungguhnya orang yang paling dimurkai oleh Allah adalah orang selalu mendebat" (HR Bukhari)
Diubah oleh sunpoetra
0 0
0
Nabi Muhammad yg terhormat, Fir'aun yg hina (hubungannya dengan perda Ramadhan)
17-06-2016 08:21
Quote:Original Posted By Blue_Eyes




Biar ga dibilang Hit & Run.

Skearang dari awal post TS ga ada nyebutin 1 dalil yang ada di Al quran dan Al hadist. Kalo ga salah si agan morning.owl juga minta

Memang dalm agama harus pakai Akal Logika. Tetapi ada juga yang tidak bisa pakai Akal Logika.

Memang benar Ulama 4 madzhab juga manusi yang ada salahnya. Tetapi mereka juga berkata sesuai demgan al quran dan al hadist dan mereka juga bukan sembarang orang. Mungkin mereka menghabiskan separuh hidupnya mengkaji Al quran dan al hadits Tidak seperti saya dan Agan TS

Ini ada lagi refrensi yabg bisa mencerahkan agan TS. Kalo refrensi saya bawa ini salah tolong sanggah dengan dalil. Jangan disanggah dengan AKAL LOGIKA agan TS yang kapasitasnya kita semua belum tau


Quote:HUKUM MEMBUKA WARUNG MAKAN DI SIANG HARI RAMADHAN MENURUT MAZHAB SYAFI’I DAN KEWAJIBAN PEMERINTAH

➡ Tidak berpuasa di bulan Ramadhan tanpa alasan yang dibenarkan syari’at adalah dosa yang sangat besar, karena puasa termasuk kewajiban yang agung bahkan termasuk rukun Islam yang lima. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda tentang dua malaikat yang membawa beliau di dalam mimpi beliau –dan mimpi para nabi ‘alaihimussalaam adalah wahyu-,

ثُم انْطَلَقَا بِي فَإِذَا قَوْمٌ مُعَلقُونَ بِعَرَاقِيبِهِمْ، مُشَققَةٌ أَشْدَاقُهُمْ تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا، قُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ؟ قَالَ: هَؤُلَاءِ الذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلةِ صَوْمِهِمْ

“Kemudian keduanya membawaku, maka tiba-tiba ada satu kaum yang digantung terikat di pergelangan kaki-kaki mereka, dalam keadaan robek mulut-mulut mereka serta mengalirkan darah, aku pun berkata: Siapa mereka? Dia menjawab: Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum dihalalkan atas mereka untuk berbuka puasa.” [HR. An-Nasaai dalam As-Sunan Al-Kubro dari Abu Umamah radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 3951]

➡ Oleh karena itu wajib bagi seorang muslim yang mengetahui orang yang tidak berpuasa tanpa alasan syar’i untuk menegurnya dan menasihatinya.


hadist itu menyatakan larangan (HARAM) tidak berpuasa tanpa alasan syar'i
tapi tidak disebutkan larangan *membuka warung pada bulan puasa*

jadi ini bukan dalil naqli tentang menutup warung, kalau tidak ada dalil naqli tentang penutupan warung knp ngotot pengen dalil naqli pembukaan warung?

kaidah dalilnya boleh melakukan sesuatu sampai datang ketentuan haram atas sesuatu hal tersebut (ketentuan disini maksudnya dari Al-Qu'ran & Hadist)
melakukan sesuatu disini dalam hal membuka warung saat puasa

kaidah dalil disini diambil dr suatu hadits dimana diharamkan menciptakan suatu *hukum baru* yg bersangkutan dgn masalah agama


Quote:Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, apabila ia tidak mampu maka dengan lisannya, dan apabila ia tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” [HR. Muslim dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu'anhu]

➡ Hadits yang mulia ini juga menunjukkan bahwa wajib bagi pemerintah untuk merubah kemungkaran dengan tangan, karena pemerintah memiliki kekuatan dan kemampuan untuk melakukannya. Asy-Syaikh Al-‘Allaamah Ibnu Baz rahimahullah berkata,

فالإنكار يكون باليد في حق من استطاع ذلك كولاة الأمور، والهيئة المختصة بذلك فيما جعل إليها، وأهل الحسبة فيما جعل إليهم، والأمير فيما جعل إليه، والقاضي فيما جعل إليه، والإنسان في بيته مع أولاده وأهل بيته فيما يستطيع

“Maka mengingkari kemungkaran hendaklah dilakukan dengan tangan bagi siapa yang memiliki kemampuan untuk melakukannya, seperti pemerintah, badan khusus yang ditugaskan untuk itu, petugas amar ma’ruf nahi mungkar yang ditugaskan, gubernur/walikota yang ditugaskan, hakim yang ditugaskan, dan setiap orang di dalam rumahnya terhadap anak-anak dan keluarganya yang berada dalam batas kemampuannya (untuk mengingkari dengan tangan).” [Majmu’ Al-Fatawa, 6/51]

➡ Dan membuka warung makan di siang hari bulan Ramadhan serta menjual makanan kepada orang-orang yang tidak memiliki alasan syar’i untuk berbuka puasa, seperti bukan karena haid, nifas, musafir dan orang sakit, maka termasuk kemungkaran.


benar hadits tersebut menyatakan tentang mengingkari kemungkaran...
tapi apakah membuka warung pada saat bulan puasa hanya untuk hal kemungkaran?
apakah membuka warung saat puasa hanya untuk kemaksiatan?
apakah membuka warung saat puasa hanya untuk membatalkan puasa?

padahal masih banyak fungsi warung lainnya, misalnya pedagang tersebut menjual untuk orang2 yg secara syar'i tidak wajib puasa pada saat itu anak2, wanita haid / hamil, orang tua *uzur*, musafir, non-muslim, pekerja berat, dll dll dll
seperti quote hadits anda sendiri diatas
orang2 yg ada alasan syar'i maka dibolehkan tidak puasa pada saat itu

padahal jelas2 anda menulis sendiri di keterangan diatas yaitu
*membuka warung makan di siang hari bulan Ramadhan serta menjual makanan kepada orang-orang yang tidak memiliki alasan syar’i untuk berbuka puasa, seperti bukan karena haid, nifas, musafir dan orang sakit, maka termasuk kemungkaran.*
berarti kalau menjualnya kepada orang2 yg memiliki alasan syar'i, boleh donk?
boleh donk boleh donk boleh yaa....

kenapa malah dipukul rata semua warung melakukan / memfasilitasi kemaksiatan? dengan cara DIPAKSA tutup?
padahal pada suatu daerah dibolehin kok jualan pada siang hari tp tidak boleh makan ditempat hanya boleh bungkus
(itu lebih terhormat drpd MAKSA TUTUP, MAKSA PUASA MINTA DIHORMATI)
dan itupun dengan syarat, ditanya macam2 dl...
yg makan siapa, beli untuk apa, muslim / non-muslim
dsb dsb dsb dsb dsb...
klo dia udah nanya kayak gitu ya lepaslah udah kewajibannya,

lebih Islami mana MEMAKSA tutup atau memakai cara diatas?

sedangkan zaman Nabi anak2 diajarin puasa juga,
itupun orang2 tetep ada yg jualan buah (kurma, anggur, dll), makanan, minuman dan sebagainya pada siang hari...
bukankah makan buah jg bisa membatalkan puasa?
kenapa tidak dirazia? kenapa tidak dilarang?

bahkan anak2 diberi mainan dr kapas (sejenis harum manis kalau kita sekarang)
sehingga anak2 puasa namun bisa tetap bermain dengan makanan itu tanpa membatalkan puasanya (ada yg jual)
tp diajarin, diberi keterangan, diberi ceramah diberi pemahaman
bahwa tidak boleh memakan itu sampai waktu berbuka tiba...

itulah yg diajarkan di zaman nabi (pengajaran di zaman nabi termasuk hadits bukan) (termasuk dalil bukan???)

bukannya malah MAKSA2 warung tutup tapi pemahaman lah yg diberikan
karena apa?
karena puasa itu masalah iman masalah taqwa
warung tutup pun orang tetep bisa kok ngga puasa bagi yg tidak bertaqwa
yg diperlukan itu ketaqwaan, bukan warung

tapi kalau anda bersikeras harus DIPAKSA TUTUP karena warung BERPOTENS MEMBATALKAN puasa
knp cuma warung yg dirazia?

sedangkan banyak hal lain yg berpotensi membatalkan puasa
jadi maksud sebenarnya perda ini buat apa sih????

kalau alasannya hanya karena warung bisa menimbulkan maksiat memfasilitasi orang batal puasa... (LOGIKA ORANG2 YG PENGEN DIHORMATI)
maka air PDAM pun bisa menjadi fasilitas maksiat
kenapa air PDAM ngga ditutup juga?
(karena banyak manfaat PDAM selain untuk membatalkan puasa, orang mandi, berwudhu, cuci abis BAB & BAK, nyuci dll dll dll dll)

orang yg sedang puasa walau warung tutup, tapi dia ngga kuat kehausan dia bisa minum lewat air PDAM
apa bedanya?
(dan ini fakta, gw waktu SMP siang liat kakak2 kelas lg puasa malah minum lewat air kran masjid)

warung tutup, dirumahnya masing2 ada sedia makanan & minuman di dalam kulkas atau di dalam lemari dapur maupun lemari makanan
kenapa ngga di razia juga kalau memakai logika seperti yg kalian sebutkan itu???
(karena banyak manfaat sedia makanan dirumah selain untuk membatalkan puasa, untuk persediaan tamu non-muslim, untuk persedian berbuka, sahur dll dll dll)

pohon2 yg buahnya bisa dimakan
pohon pisang, jambu, apel, mangga, belimbing dan lain sebagainya
bisa juga dimakan dan BERPOTENSI membatalkan puasa

kenapa ngga dirazia juga?????
kenapa??? eh kenapa??? tanya kenapa????

sedangkan warung kalau warung buka siang hari apa fungsinya?
(padahal banyak juga fungsinya SELAIN UNTUK MEMBATALKAN PUASA)

jadi sekali lagi anda tidak memberikan dalil naqli tentang menutup warung saat puasa
yg anda berikan diatas hanyalah dalil aqli

dmn dalil aqli bisa salah bisa benar
bahkan ulama 4 mazhab pernah berkata
*janganlah kalian bertaqlid buta kepada kami, telitilah sebelum mengambil keseluruhan apa yg kami ucapkan*

karena anda memberikan dalil aqli jd saya beri dalil aqli juga

banyak perbedaan dalil aqli (pendapat) ulama tentang buka/tutup warung saat puasa
namun, kenapa hanya dalil aqli yg tidak membolehkan yg anda catut???
kemana dalil aqli dr para ulama yg berpendapat tentang bolehnya membuka warung saat puasa tapi dengan syarat?

karena itu dalil aqli tidak boleh diambil hanya satu sisi, harus diliat semuanya
seperti kata imam 4 mazhab *janganlah kalian bertaqlid buta kepada kami, telitilah sebelum mengambil keseluruhan apa yg kami ucapkan*

dalam hal hukum yg banyak ulama berbeda pendapat contohnya
contoh: adzan jum'at ada yg 1x ada yg 2x, ada yg membolehkan tahlilan ada yg tidak boleh, ada yg membolehkan ini ada yg itu
banyak perbedaan pendapat apakah lantas bertaqlid hanya pada 1 pendapat??



dan dalil naqlinya adalah sekali lg
kaidah dalilnya boleh melakukan sesuatu sampai datang ketentuan haram atas sesuatu hal tersebut (ketentuan disini maksudnya dari Al-Qu'ran & Hadist)
melakukan sesuatu disini dalam hal membuka warung saat puasa

kaidah dalil disini diambil dr suatu hadits dimana diharamkan menciptakan suatu *hukum baru* yg bersangkutan dgn masalah agama

Quote:FATWA ULAMA MAZHAB SYAFI'I

Salah seorang ulama mazhab Syafi’i, Asy-Syaikh Abu Bakr Ad-Dimyathi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

وذلك كبيع الدابة لمن يكلفها فوق طاقتها، والأمة على من يتخذها لغناء محرم، والخشب على من يتخذه آلة لهو، وكإطعام مسلم مكلف كافرا مكلفا في نهار رمضان، وكذا بيعه طعاما علم أو ظن أنه يأكله نهارا

“Yang demikian itu (sebagai contoh menjual barang yang dapat mengantarkan kepada maksiat) seperti menjual hewan tunggangan yang akan dibebani melebihi kemampuannya, budak wanita yang akan dipekerjakan untuk nyanyian yang haram, kayu untuk dibuat alat hiburan yang melalaikan, muslim mukallaf memberi makan kepada orang kafir mukallaf di siang hari Ramadhan, demikian pula menjual makanan kepada orang yang ia ketahui atau ia sangka akan memakannya di siang hari Ramadhan.” [I’aanatut Thaalibin, 3/30]



dan sekali lagi, dalil yg anda berikan itu dalil aqli
bukan dalil naqli...

kalau anda saja boleh memberikan dalil aqli
knp saya tidak boleh?
kenapa memaksa saya memberikan dalil naqli?

pada suatu daerah dibolehin kok jualan pada siang hari tp tidak boleh makan ditempat hanya boleh bungkus
(itu lebih terhormat drpd MAKSA TUTUP, MAKSA PUASA MINTA DIHORMATI)
dan itupun dengan syarat, ditanya macam2 dl...
yg makan siapa, beli untuk apa, muslim / non-muslim
dsb dsb dsb dsb dsb...
klo dia udah nanya kayak gitu ya lepaslah udah kewajibannya,

lebih Islami mana MEMAKSA tutup atau memakai cara diatas?

sedangkan zaman Nabi anak2 diajarin puasa juga,
itupun orang2 tetep ada yg jualan buah (kurma, anggur, dll), makanan, minuman dan sebagainya pada siang hari...
bukankah makan buah jg bisa membatalkan puasa?
kenapa tidak dirazia? kenapa tidak dilarang?

bahkan anak2 diberi mainan dr kapas (sejenis harum manis kalau kita sekarang)
sehingga anak2 puasa namun bisa tetap bermain dengan makanan itu tanpa membatalkan puasanya (ada yg jual)
tp diajarin, diberi keterangan, diberi ceramah diberi pemahaman
bahwa tidak boleh memakan itu sampai waktu berbuka tiba...

itulah yg diajarkan di zaman nabi (pengajaran di zaman nabi termasuk hadits bukan) (termasuk dalil bukan???)

Quote:Ulama mazhab Syafi’i yang lain, Asy-Syaikh Sulaiman bin Umar Al-Azhari rahimahullah menyebutkan fatwa Asy-Syaikh Muhammad bin Asy-Syihab Ar-Romli rahimahullah,

يَحْرُمُ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَسْقِيَ الذمي فِي رَمَضَانَ بِعِوَضٍ أَوْ غَيْرِهِ لِأَن فِي ذَلِكَ إعَانَةً عَلَى مَعْصِيَةٍ

“Haram atas seorang muslim memberi minum kepada orang kafir yang tinggal di negeri muslim pada siang hari Ramadhan, apakah dengan cara dijual atau dengan cara lain, karena itu berarti menolong dalam kemaksiatan.” [Haasyiatul Jamal ‘ala Syarhi Manhajit Thullaab, 5/226]


menolong dalam kemaksiatan itu berlaku kalau si pembeli adalah orang2 yg wajib puasa
kalau orang2 itu tidak wajib puasa maka itu namanya bukan menolong dalam kemaksiatan

dan lagi hukum syar'i / hukum syariat hanya berlaku untuk muslim
jadi kalau non-muslim tidak berlaku seperti halnya yg diberlakukan di aceh tentang qanun jinayat “Syariat Islam berlaku hanya bagi muslim dan tidak berlaku bagi non-muslim,”

Quote:FATWA ULAMA BESAR AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH DI MASA INI

Fatwa Komite Tetap untuk Pembahasan Ilmiah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia,

لا يجوز فتح المطعم في نهار رمضان للكفار ولا خدمتهم فيه؛ لما فيه من المحاذير الشرعية العظيمة، من إعانة لهم على ما حرم الله، ومعلوم من الشرع المطهر أن الكفار مخاطبون بأصول الشريعة وفروعها، ولا ريب أن صيام رمضان من أركان الإسلام، وأن الواجب عليهم فعل ذلك مع تحقيق شرطه وهو الدخول في الإسلام

“Tidak boleh membuka rumah makan di siang hari Ramadhan untuk orang-orang kafir dan membantu mereka untuk makan, karena itu sangat terlarang dalam syari’at, yaitu menolong mereka untuk melakukan apa yang Allah haramkan, karena dimaklumi bahwa orang-orang kafir pun diperintahkan untuk mengamalkan pokok syari’at dan cabangnya, dan tidak diragukan lagi bahwa puasa Ramadhan termasuk rukun Islam, maka wajib atas mereka berpuasa dengan memenuhi syarat puasa, yaitu masuk Islam.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 9/37 no. 17717]


Asy-Syaikh Al-Faqih Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata,

لا يجوز فتح المطاعم ولو للكفار -وطبعاً للمسلمين غير مفتوحة- في أيام رمضان، ومن رأى منكم صاحب مطعم فتحه في رمضان وجب عليه أن يبلغ الجهات المسئولة لمنعه، ولا يمكن لأي كافر أن يظهر أكلاً أو شرباً في نهار رمضان في بلاد المسلمين، يجب أن يمنع من ذلك

“Tidak boleh membuka warung makan walau untuk orang-orang kafir -dan tentu saja bagi kaum muslimin juga tidak boleh dibuka- selama siang hari bulan Ramadhan. Barangsiapa yang melihat pemilik warung makan yang membukanya di siang Ramadhan maka wajib bagi yang melihat tersebut untuk melaporkan kepada pihak yang berwenang (pemerintah) untuk melarangnya, dan tidak boleh bagi orang kafir siapa pun untuk menampakkan aktivitas makan dan minum di siang hari Ramadhan di negeri-negeri muslim, wajib untuk mencegahnya.” [Al-Liqo’ Asy-Syahri, no. 8]


dan sekali lagi, dalil yg anda berikan itu dalil aqli
bukan dalil naqli...

kalau anda saja boleh memberikan dalil aqli
knp saya tidak boleh?
kenapa memaksa saya memberikan dalil naqli?

penjelasan selanjutnya sama seperti diatas

Quote:
➡ Karena tidak sepatutnya seorang muslim meridhoi atau bahkan membantu orang-orang yang melakukan kemungkaran besar ini. Allah ‘azza wa jalla telah mengingatkan,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِر وَالتقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتقُوا اللهَ إِن اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” [Al-Maidah: 2]


menolong dalam kemaksiatan itu berlaku kalau si pembeli adalah orang2 yg wajib puasa
kalau orang2 itu tidak wajib puasa maka itu namanya bukan menolong dalam kemaksiatan

dan lagi hukum syar'i / hukum syariat hanya berlaku untuk muslim
jadi kalau non-muslim tidak berlaku seperti halnya yg diberlakukan di aceh tentang qanun jinayat “Syariat Islam berlaku hanya bagi muslim dan tidak berlaku bagi non-muslim,”


Quote:
➡ Dan tidaklah patut bagi setiap muslim untuk mendiamkan kemungkaran karena takut celaan media. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا لَا يَمْنَعَن رَجُلًا هَيْبَةُ الناسِ أَنْ يَقُولَ بِحَق إِذَا عَلِمَهُ

"Perhatikanlah, janganlah rasa segan kepada manusia menghalangi seseorang untuk mengucapkan yang benar ketika ia telah mengetahuinya." [HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu'anhu, Ash-Shahihah: 168]

➡ Inilah hikmahnya mengapa dipersyaratkan untuk diangkat sebagai pemimpin atau para pembantunya adalah orang-orang yang kuat dan terpercaya, agar tidak mudah ditekan oleh pihak lain dalam menegakkan hukum, tidak terkecuali tekanan media-media perusak bangsa. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وَيَنْبَغِي أَنْ يَعْرِفَ الْأَصْلَحَ فِي كُل مَنْصِبٍ فَإِن الْوِلَايَةَ لَهَا رُكْنَانِ: الْقُوةُ وَالْأَمَانَةُ. كَمَا قَالَ تَعَالَى: {إن خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِي الْأَمِينُ} وَقَالَ صَاحِبُ مِصْرَ لِيُوسُفَ عَلَيْهِ السلَامُ إنك الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ

“Sepantasnya seseorang mengetahui (memilih) yang paling layak dalam setiap jabatan, karena kepemimpinan harus memiliki dua rukun, yaitu kuat dan amanah, sebagaimana firman Allah,

إن خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِي الْأَمِينُ

“Sesungguhnya sebaik-baik orang yang engkau pekerjakan adalah orang yang kuat lagi amanah.” (Al-Qoshosh: 26)

Dan berkata penguasa Mesir kepada Nabi Yusuf ‘alaihissalaam,

إِنكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ

“Sesungguhnya engkau pada hari ini di sisi kami adalah orang yang kuat lagi amanah.” (Yusuf: 54).” [Majmu’ Al-Fatawa, 28/253]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم


ini tidak ada hubungannya dengan media ini masalah perda itu sesuai atau tidak
dengan penjelasan2 diatas....
Diubah oleh beruangbengkak
0 0
0
Nabi Muhammad yg terhormat, Fir'aun yg hina (hubungannya dengan perda Ramadhan)
17-06-2016 08:27
Pertanyaan ini belum dijawab gan...?

Quote:Original Posted By deinzerz


Ini ane cuma nanya ya gan.....

Misalkan lu tinggal di papua mau jualan, Pas Ibadah minggu & PERDA di situ melarangnya warga berjualan

Atau

Misalkan lu tinggal dibali mau jalan-jalan keluar, Pada hari raya Nyepi & PERDA disitu melarang keluar rumah pd hari itu...

Pertanyaan nya :

Lu mau mau menghormatinya gak?

ATAU,

Lu merasa gak peduli n bodo amat ..
mau dagang ....ya dagang aja......,
keluar,...ya...keluar rumah aja....
(pengen dihormati amat.) ini dari pendapat lu ya gan...

Ditunggu jawabannya ya gan?

YES or NO...!!!!



0 0
0
Nabi Muhammad yg terhormat, Fir'aun yg hina (hubungannya dengan perda Ramadhan)
17-06-2016 08:38
Quote:Original Posted By morning.owl


Pandangan kita beda laeku. Jangan disamakan lah. Kan udah keliatan jelas bedanya. Yg kumaksud itu, berdasar dari "untuk meminimalisir keragu"an itulah makanya muncul perda ini". Kita ini manusia biasa lae, penuh keraguan. Kan di video yg jadi referensi kau itu udah jelas, hukumnya itu sama kayak orang yg makan di depan orang yg sedang berpuasa. Boleh memang, tapi makruh. Ngerti kan apa pengertian makruh?
Memang itu juga hak si penjual. Tapi kalo dipaksa demi kebaikan, itu jadinya akan lebih baik. Coba lah kau sebutin, hal lain apa yg hukumnya makruh, terus gak dipaksa dengan larangan untuk gak dikerjakan. Ada lae? Justru karena dipaksa untuk gak dikerjakan itulah nantinya bakal ngasi kebaikan buat diri kita sendiri.
"HORMATILAH ORANG YANG BERPUASA".
Berulang" ini aja yg jadi bahan yg kau kritisi. Coba lah supaya kau gak berpikiran sempit lae. Slogan itu secara tersirat berarti hormatilah bulan Ramadhannya umat Islam. Dengan kata lain, di bulan Ramadhan ini kita umat Islam yg menjalankan ibadah wajib kita dalam hal berpuasa. Bukan berarti kita minta dihormati karena kita berpuasa lae. Bukan sama sekali. Itu pande" kau aja membuat tafsir kayak gitu.
Dalil naqli yg kau minta juga kan udah disuguhkan sama lae kita yg lain. Tadinya kan kau cuma nyebutin kalo si lae kita itu cuma ngasi dalil aqli. Konsisten dong lae dengan ucapan sebelumnya. Kalo udah dikasi sesuai dengan permintaanmu, kenapa lagi kau berkilah kesana kemari? Jawab aja dulu sebisanya, jadi orang lain bisa paham dengan jelas kalo pendapat kau itu benar. Bukan malah menghindar kayak gini lae. Ditunggu tanggapannya laeku...


ente nyebutin makan di depan orang yg sedang berpuasa
lah emank klo makan di depan orang yg sedang puasa hukumnya makruh, bahkan ulama yg keras menyebutnya haram...

sedangkan yg jd masalah disini makan diwarung atau beli diwarung bungkus lalu makan sendiri dirumah
(bagi yg ada alasan syar'i)

kalau ada orang makan diwarung trus apakaha orang yg sedang berpuasa nyamperin warung itu lalu melongo gitu ngeliatin orang makan diwarung???
gila kali ya

ada orang makan diwarung, apalagi warungnya tertutup udah diberi tirai atau apalah

bagi yg puasa, ya lewat aja lah
ngapain mandangin apalagi masuk ke dalam warung

toh karena warungnya tertutup jadi ngga keliatan kan orang makan...

jadi gugur argument ente tentang makan di depan orang puasa....
lain halnya tu orang yg makan sengaja nyari2 orang yg puasa lalu duduk di depannya lalu makan deh

ini orang makan di dalam warung lohhh

yakin dengan MEMAKSA ORANG MENUTUP WARUNG akan menghormati bulan ramadhan??
bukan malah mempermalukan bulan RAMADHAN???

sedangkan zaman Nabi anak2 diajarin puasa juga,
itupun orang2 tetep ada yg jualan buah (kurma, anggur, dll), makanan, minuman dan sebagainya pada siang hari...
bukankah makan buah jg bisa membatalkan puasa?
kenapa tidak dirazia? kenapa tidak dilarang?

bahkan anak2 diberi mainan dr kapas (sejenis harum manis kalau kita sekarang)
sehingga anak2 puasa namun bisa tetap bermain dengan makanan itu tanpa membatalkan puasanya (ada yg jual)
tp diajarin, diberi keterangan, diberi ceramah diberi pemahaman
bahwa tidak boleh memakan itu sampai waktu berbuka tiba...

itulah yg diajarkan di zaman nabi (pengajaran di zaman nabi termasuk hadits bukan) (termasuk dalil bukan???)

karena puasa itu masalah iman masalah taqwa
warung tutup pun orang tetep bisa kok ngga puasa bagi yg tidak bertaqwa
yg diperlukan itu ketaqwaan, bukan warung

justru cara2 yg dilakukan seperti zaman nabi lebih menghormati bulan ramdhan daripada cara2 sekarang ini yg MEMAKSA-MAKSA menutup warung
malu-maluin....

bahkan sampai restoran yg menjual makanan untuk non-muslim yg notabene tak berpuasa pun ikut2an kena razia
(contoh restoran2 yg menjual daging babi yg jelas2 tidak halal, muslim pun tidak mungkin masuk kesana, ngapain di razia juga)
0 0
0
Nabi Muhammad yg terhormat, Fir'aun yg hina (hubungannya dengan perda Ramadhan)
17-06-2016 08:40
Quote:Original Posted By deinzerz
Pertanyaan ini belum dijawab gan...?





silahkan baca post 1 & post 2
disitu jelas jawabannya...

kalo ngga mau baca ya udah

ngga maksa kok...

ngapain gw cape2 tulis lg disini suatu hal yg udah ada jawabannya
toh ujung2nya ngga dibaca juga....
0 0
0
Nabi Muhammad yg terhormat, Fir'aun yg hina (hubungannya dengan perda Ramadhan)
17-06-2016 08:59
Quote:Original Posted By deinzerz
Pertanyaan ini belum dijawab gan...?




[QUOTE=Original Posted By deinzerz ►


Ini ane cuma nanya ya gan.....

Misalkan lu tinggal di papua mau jualan, Pas Ibadah minggu & PERDA di situ melarangnya warga berjualan

Atau

Misalkan lu tinggal dibali mau jalan-jalan keluar, Pada hari raya Nyepi & PERDA disitu melarang keluar rumah pd hari itu...

Pertanyaan nya :

Lu mau mau menghormatinya gak?

ATAU,

Lu merasa gak peduli n bodo amat ..
mau dagang ....ya dagang aja......,
keluar,...ya...keluar rumah aja....
(pengen dihormati amat.) ini dari pendapat lu ya gan...

Ditunggu jawabannya ya gan?

YES or NO...!!!!
[/QUOTE]

Quote:Original Posted By beruangbengkak


silahkan baca post 1 & post 2
disitu jelas jawabannya...

kalo ngga mau baca ya udah

ngga maksa kok...

ngapain gw cape2 tulis lg disini suatu hal yg udah ada jawabannya
toh ujung2nya ngga dibaca juga....


Cuma ketik YA atau TIDAK aja pelit banget gan...!!

ga usah bahas Post 1., post 2, Post ronda atau apa lah..!!

Gw cuma tanya, lu tinggal jawab bisa gak?




0 0
0
Nabi Muhammad yg terhormat, Fir'aun yg hina (hubungannya dengan perda Ramadhan)
17-06-2016 09:08
warteg buka aja dirazia, restorant2 di mall ngablak kebuka bnyk yg makan gitu ga di razia, goblokk emoticon-Wakaka
0 0
0
Nabi Muhammad yg terhormat, Fir'aun yg hina (hubungannya dengan perda Ramadhan)
17-06-2016 11:03
Quote:Original Posted By beruangbengkak




hadist itu menyatakan larangan (HARAM) tidak berpuasa tanpa alasan syar'i
tapi tidak disebutkan larangan *membuka warung pada bulan puasa*

jadi ini bukan dalil naqli tentang menutup warung, kalau tidak ada dalil naqli tentang penutupan warung knp ngotot pengen dalil naqli pembukaan warung?

kaidah dalilnya boleh melakukan sesuatu sampai datang ketentuan haram atas sesuatu hal tersebut (ketentuan disini maksudnya dari Al-Qu'ran & Hadist)
melakukan sesuatu disini dalam hal membuka warung saat puasa

kaidah dalil disini diambil dr suatu hadits dimana diharamkan menciptakan suatu *hukum baru* yg bersangkutan dgn masalah agama




benar hadits tersebut menyatakan tentang mengingkari kemungkaran...
tapi apakah membuka warung pada saat bulan puasa hanya untuk hal kemungkaran?
apakah membuka warung saat puasa hanya untuk kemaksiatan?
apakah membuka warung saat puasa hanya untuk membatalkan puasa?

padahal masih banyak fungsi warung lainnya, misalnya pedagang tersebut menjual untuk orang2 yg secara syar'i tidak wajib puasa pada saat itu anak2, wanita haid / hamil, orang tua *uzur*, musafir, non-muslim, pekerja berat, dll dll dll
seperti quote hadits anda sendiri diatas
orang2 yg ada alasan syar'i maka dibolehkan tidak puasa pada saat itu

padahal jelas2 anda menulis sendiri di keterangan diatas yaitu
*membuka warung makan di siang hari bulan Ramadhan serta menjual makanan kepada orang-orang yang tidak memiliki alasan syar’i untuk berbuka puasa, seperti bukan karena haid, nifas, musafir dan orang sakit, maka termasuk kemungkaran.*
berarti kalau menjualnya kepada orang2 yg memiliki alasan syar'i, boleh donk?
boleh donk boleh donk boleh yaa....

kenapa malah dipukul rata semua warung melakukan / memfasilitasi kemaksiatan? dengan cara DIPAKSA tutup?
padahal pada suatu daerah dibolehin kok jualan pada siang hari tp tidak boleh makan ditempat hanya boleh bungkus
(itu lebih terhormat drpd MAKSA TUTUP, MAKSA PUASA MINTA DIHORMATI)
dan itupun dengan syarat, ditanya macam2 dl...
yg makan siapa, beli untuk apa, muslim / non-muslim
dsb dsb dsb dsb dsb...
klo dia udah nanya kayak gitu ya lepaslah udah kewajibannya,

lebih Islami mana MEMAKSA tutup atau memakai cara diatas?

sedangkan zaman Nabi anak2 diajarin puasa juga,
itupun orang2 tetep ada yg jualan buah (kurma, anggur, dll), makanan, minuman dan sebagainya pada siang hari...
bukankah makan buah jg bisa membatalkan puasa?
kenapa tidak dirazia? kenapa tidak dilarang?

bahkan anak2 diberi mainan dr kapas (sejenis harum manis kalau kita sekarang)
sehingga anak2 puasa namun bisa tetap bermain dengan makanan itu tanpa membatalkan puasanya (ada yg jual)
tp diajarin, diberi keterangan, diberi ceramah diberi pemahaman
bahwa tidak boleh memakan itu sampai waktu berbuka tiba...

itulah yg diajarkan di zaman nabi (pengajaran di zaman nabi termasuk hadits bukan) (termasuk dalil bukan???)

bukannya malah MAKSA2 warung tutup tapi pemahaman lah yg diberikan
karena apa?
karena puasa itu masalah iman masalah taqwa
warung tutup pun orang tetep bisa kok ngga puasa bagi yg tidak bertaqwa
yg diperlukan itu ketaqwaan, bukan warung

tapi kalau anda bersikeras harus DIPAKSA TUTUP karena warung BERPOTENS MEMBATALKAN puasa
knp cuma warung yg dirazia?

sedangkan banyak hal lain yg berpotensi membatalkan puasa
jadi maksud sebenarnya perda ini buat apa sih????

kalau alasannya hanya karena warung bisa menimbulkan maksiat memfasilitasi orang batal puasa... (LOGIKA ORANG2 YG PENGEN DIHORMATI)
maka air PDAM pun bisa menjadi fasilitas maksiat
kenapa air PDAM ngga ditutup juga?
(karena banyak manfaat PDAM selain untuk membatalkan puasa, orang mandi, berwudhu, cuci abis BAB & BAK, nyuci dll dll dll dll)

orang yg sedang puasa walau warung tutup, tapi dia ngga kuat kehausan dia bisa minum lewat air PDAM
apa bedanya?
(dan ini fakta, gw waktu SMP siang liat kakak2 kelas lg puasa malah minum lewat air kran masjid)

warung tutup, dirumahnya masing2 ada sedia makanan & minuman di dalam kulkas atau di dalam lemari dapur maupun lemari makanan
kenapa ngga di razia juga kalau memakai logika seperti yg kalian sebutkan itu???
(karena banyak manfaat sedia makanan dirumah selain untuk membatalkan puasa, untuk persediaan tamu non-muslim, untuk persedian berbuka, sahur dll dll dll)

pohon2 yg buahnya bisa dimakan
pohon pisang, jambu, apel, mangga, belimbing dan lain sebagainya
bisa juga dimakan dan BERPOTENSI membatalkan puasa

kenapa ngga dirazia juga?????
kenapa??? eh kenapa??? tanya kenapa????

sedangkan warung kalau warung buka siang hari apa fungsinya?
(padahal banyak juga fungsinya SELAIN UNTUK MEMBATALKAN PUASA)

jadi sekali lagi anda tidak memberikan dalil naqli tentang menutup warung saat puasa
yg anda berikan diatas hanyalah dalil aqli

dmn dalil aqli bisa salah bisa benar
bahkan ulama 4 mazhab pernah berkata
*janganlah kalian bertaqlid buta kepada kami, telitilah sebelum mengambil keseluruhan apa yg kami ucapkan*

karena anda memberikan dalil aqli jd saya beri dalil aqli juga

banyak perbedaan dalil aqli (pendapat) ulama tentang buka/tutup warung saat puasa
namun, kenapa hanya dalil aqli yg tidak membolehkan yg anda catut???
kemana dalil aqli dr para ulama yg berpendapat tentang bolehnya membuka warung saat puasa tapi dengan syarat?

karena itu dalil aqli tidak boleh diambil hanya satu sisi, harus diliat semuanya
seperti kata imam 4 mazhab *janganlah kalian bertaqlid buta kepada kami, telitilah sebelum mengambil keseluruhan apa yg kami ucapkan*

dalam hal hukum yg banyak ulama berbeda pendapat contohnya
contoh: adzan jum'at ada yg 1x ada yg 2x, ada yg membolehkan tahlilan ada yg tidak boleh, ada yg membolehkan ini ada yg itu
banyak perbedaan pendapat apakah lantas bertaqlid hanya pada 1 pendapat??



dan dalil naqlinya adalah sekali lg
kaidah dalilnya boleh melakukan sesuatu sampai datang ketentuan haram atas sesuatu hal tersebut (ketentuan disini maksudnya dari Al-Qu'ran & Hadist)
melakukan sesuatu disini dalam hal membuka warung saat puasa

kaidah dalil disini diambil dr suatu hadits dimana diharamkan menciptakan suatu *hukum baru* yg bersangkutan dgn masalah agama




dan sekali lagi, dalil yg anda berikan itu dalil aqli
bukan dalil naqli...

kalau anda saja boleh memberikan dalil aqli
knp saya tidak boleh?
kenapa memaksa saya memberikan dalil naqli?

pada suatu daerah dibolehin kok jualan pada siang hari tp tidak boleh makan ditempat hanya boleh bungkus
(itu lebih terhormat drpd MAKSA TUTUP, MAKSA PUASA MINTA DIHORMATI)
dan itupun dengan syarat, ditanya macam2 dl...
yg makan siapa, beli untuk apa, muslim / non-muslim
dsb dsb dsb dsb dsb...
klo dia udah nanya kayak gitu ya lepaslah udah kewajibannya,

lebih Islami mana MEMAKSA tutup atau memakai cara diatas?

sedangkan zaman Nabi anak2 diajarin puasa juga,
itupun orang2 tetep ada yg jualan buah (kurma, anggur, dll), makanan, minuman dan sebagainya pada siang hari...
bukankah makan buah jg bisa membatalkan puasa?
kenapa tidak dirazia? kenapa tidak dilarang?

bahkan anak2 diberi mainan dr kapas (sejenis harum manis kalau kita sekarang)
sehingga anak2 puasa namun bisa tetap bermain dengan makanan itu tanpa membatalkan puasanya (ada yg jual)
tp diajarin, diberi keterangan, diberi ceramah diberi pemahaman
bahwa tidak boleh memakan itu sampai waktu berbuka tiba...

itulah yg diajarkan di zaman nabi (pengajaran di zaman nabi termasuk hadits bukan) (termasuk dalil bukan???)



menolong dalam kemaksiatan itu berlaku kalau si pembeli adalah orang2 yg wajib puasa
kalau orang2 itu tidak wajib puasa maka itu namanya bukan menolong dalam kemaksiatan

dan lagi hukum syar'i / hukum syariat hanya berlaku untuk muslim
jadi kalau non-muslim tidak berlaku seperti halnya yg diberlakukan di aceh tentang qanun jinayat “Syariat Islam berlaku hanya bagi muslim dan tidak berlaku bagi non-muslim,”



dan sekali lagi, dalil yg anda berikan itu dalil aqli
bukan dalil naqli...

kalau anda saja boleh memberikan dalil aqli
knp saya tidak boleh?
kenapa memaksa saya memberikan dalil naqli?

penjelasan selanjutnya sama seperti diatas



menolong dalam kemaksiatan itu berlaku kalau si pembeli adalah orang2 yg wajib puasa
kalau orang2 itu tidak wajib puasa maka itu namanya bukan menolong dalam kemaksiatan

dan lagi hukum syar'i / hukum syariat hanya berlaku untuk muslim
jadi kalau non-muslim tidak berlaku seperti halnya yg diberlakukan di aceh tentang qanun jinayat “Syariat Islam berlaku hanya bagi muslim dan tidak berlaku bagi non-muslim,”




ini tidak ada hubungannya dengan media ini masalah perda itu sesuai atau tidak
dengan penjelasan2 diatas....


Gini gan... penjelasan ente dari tadi muter..muter.. muter kek supir angkot kalo kata lae "burung hantu pagi"

pada video yang anda attach di akhir video disebutkan ada adabnya. dan adabnya boleh donk dishare sesuai pemahaman Aqli anda. Karena dalil aqli ulama masyhur saja anda tidak sepaham (itu mereka pasti akan berlandaskan Quran Dan Hadits. tidak seperti anda mengagungkan AKAL LOGIKA.. ada loh pembahasan Agama itu bukan dengan akal logika karena Agama ISLAM ada bukan karena buah Akal Pikiran/Logika yang anda agung2kan)

karena sesuai yang saya pahami bahwa Perda tsb sudah pas kok. Dan sebagai masyarakat setempat juga wajib mematuhinya ada dalil naqlinya tentang hal ini

Berikut ini adalah PERDA nya

Quote:Original Posted By PERDA Nomor 2 Tahun 2010

Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2010 tentang Pencegahan, Pemberantasan, dan Penanggulangan Penyakit Masyarakat, yang berbunyi:

1. Setiap orang dilarang merokok, makan, minum di tempat umum atau tempat yang dilintasi oleh umum pada siang hari di bulan Ramadhan.
2. Setiap orang dilarang menjadi backing bagi tempat yang dilakukannya perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
3. Setiap pengusaha restoran, rumah makan, atau warung dan pedagang makanan dilarang menyediakan tempat dan melayani orang yang menyantap makananan dan minuman pada siang hari selama bulan Ramadhan.

Berdasarkan hal tersebut, diberitahukan dengan hormat, agar pemilik restoran, kafe, rumah makan, warung nasi, warung dan pedagang makanan/minuman dilarang melakukan kegiatan di atas pada bulan Ramadhan 1437 H, sejak pukul 04.30 WIB sampai dengan pukul 16.00 WIB.

Khusus untuk pemilik kafe dan sejenisnya yang menyediakan sarana hiburan diwajibkan tutup mulai awal Ramadhan 1437 H hingga akhir Ramadhan 1437 H.

Apabila masih ada yang melakukan kegiatan tersebut dan tetap membuka usahanya, maka kami akan melakukan penertiban dan memberikan sanksi sesuai dengan pasal tersebut di atas dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp50.000.000

Demikian pemberitahuan ini untuk diketahui dan dipatuhi, atas kerja samanya diucapkan terima kasih.

Ditandatangani Wali Kota Serang, H. Tb. Haerul Jaman, B.Sc. SE.


Dan Berikut ini dalil Naqlinya

Quote:

Surat Annisa Ayat 59

يَا أَيهَا الذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدوهُ إِلَى اللهِ وَالرسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.



Dan mengenai Kemungkaran kemaksiatan dan sebagainya itu bisa saja terjadi kepada manusia (kecuali pada Junjungan Nabi Besar Muhammad SAW) karena manusia tempatnya khilaf dan salah. (Apakah Anda merasa benar 100% tidak luput dari rasa khilaf?)

Mengenai hal tersebut diatas tidak ada salahnya Pemerintah Daerah (selaku ULIL AMRI) menerbitkan PERDA tersebuut dalam rangka Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Lebih Baik mencegah datangnya suatu penyakit bukan ? Daripada mengobati penyakit yang sudah terlanjur datang atau menjangkiti manusia ??

Lagi-lagi banyak bertebaran dalil naqlinya tentang amar ma'ruf nahi mungkar ini. dan kita sebagai orang beriman wajib melaksanakannya bukan ? Begitu juga Pemerintah (baik Pusat ataupun daerah)

Berikut Dalil Naqlinya

Quote:


كُنتُمْ خَيْرَ أُمةٍ أُخْرِجَتْ لِلناسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَلَوْءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لهُمْ منْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرَهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. [Ali Imron :110]

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ أُوْلاَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللهُ إِن اللهَ عَزِيزٌ حَكِيم

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.[At-Taubah:71]

وَلْتَكُن منكُمْ أُمة يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung”. [Al-Imron:104]

Dalil Sunnah
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

“Barang siapa yang melihat satu kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya dan jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemahnya iman”. [Riwayat Muslim].


Disini mungkin apabila anda menuntut DALIL NAQLI tentang penutupan WARTEG,secara tegas mungkin tidak ada tetapi ada dalil ini yang bisa jadi acuan

Quote:
Allah melarang kita untuk ta’awun (tolong-menolong) dalam dosa dan maksiat.
Allah berfirman,
وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Janganlah kalian tolong menolong dalam dosa dan maksiat.” (QS. al-Maidah: 2).



Sekalipun anda tidak melakukan maksiat, tapi anda tidak boleh membantu orang lain untuk melakukan maksiat. Maksiat, musuh kita bersama, sehingga harus ditekan, bukan malah dibantu.
Tidak berpuasa di siang hari ramadhan tanpa udzur, jelas itu perbuatan maksiat. Bahkan dosa besar.

untuk itulah ada perda yang berbau Amar Ma'ruf Nahi Munkar

semoga bisa menjleaskan
0 0
0
Nabi Muhammad yg terhormat, Fir'aun yg hina (hubungannya dengan perda Ramadhan)
17-06-2016 11:03
Quote:Original Posted By dikiyy
warteg buka aja dirazia, restorant2 di mall ngablak kebuka bnyk yg makan gitu ga di razia, goblokk emoticon-Wakaka


emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka
0 0
0
Nabi Muhammad yg terhormat, Fir'aun yg hina (hubungannya dengan perda Ramadhan)
17-06-2016 11:06
Quote:Original Posted By beruangbengkak


ente nyebutin makan di depan orang yg sedang berpuasa
lah emank klo makan di depan orang yg sedang puasa hukumnya makruh, bahkan ulama yg keras menyebutnya haram...

sedangkan yg jd masalah disini makan diwarung atau beli diwarung bungkus lalu makan sendiri dirumah
(bagi yg ada alasan syar'i)

kalau ada orang makan diwarung trus apakaha orang yg sedang berpuasa nyamperin warung itu lalu melongo gitu ngeliatin orang makan diwarung???
gila kali ya

ada orang makan diwarung, apalagi warungnya tertutup udah diberi tirai atau apalah

bagi yg puasa, ya lewat aja lah
ngapain mandangin apalagi masuk ke dalam warung

toh karena warungnya tertutup jadi ngga keliatan kan orang makan...

jadi gugur argument ente tentang makan di depan orang puasa....
lain halnya tu orang yg makan sengaja nyari2 orang yg puasa lalu duduk di depannya lalu makan deh

ini orang makan di dalam warung lohhh

yakin dengan MEMAKSA ORANG MENUTUP WARUNG akan menghormati bulan ramadhan??
bukan malah mempermalukan bulan RAMADHAN???

sedangkan zaman Nabi anak2 diajarin puasa juga,
itupun orang2 tetep ada yg jualan buah (kurma, anggur, dll), makanan, minuman dan sebagainya pada siang hari...
bukankah makan buah jg bisa membatalkan puasa?
kenapa tidak dirazia? kenapa tidak dilarang?

bahkan anak2 diberi mainan dr kapas (sejenis harum manis kalau kita sekarang)
sehingga anak2 puasa namun bisa tetap bermain dengan makanan itu tanpa membatalkan puasanya (ada yg jual)
tp diajarin, diberi keterangan, diberi ceramah diberi pemahaman
bahwa tidak boleh memakan itu sampai waktu berbuka tiba...

itulah yg diajarkan di zaman nabi (pengajaran di zaman nabi termasuk hadits bukan) (termasuk dalil bukan???)

karena puasa itu masalah iman masalah taqwa
warung tutup pun orang tetep bisa kok ngga puasa bagi yg tidak bertaqwa
yg diperlukan itu ketaqwaan, bukan warung

justru cara2 yg dilakukan seperti zaman nabi lebih menghormati bulan ramdhan daripada cara2 sekarang ini yg MEMAKSA-MAKSA menutup warung
malu-maluin....

bahkan sampai restoran yg menjual makanan untuk non-muslim yg notabene tak berpuasa pun ikut2an kena razia
(contoh restoran2 yg menjual daging babi yg jelas2 tidak halal, muslim pun tidak mungkin masuk kesana, ngapain di razia juga)


Lae, udah kujelasin gak ada korelasinya buka warung siang hari di bulan Ramadhan sama buah-buahan yang ada di dunia ini. Kau putar"pulak lagi pendapat kau itu. Kan udah kujelasin tadi, malah itu gak kau komentari. Terus kau banding"kan lagi persoalan ini ke zaman nabi, seolah" kami yg kontra sama pendapat kau ini gak percaya kejadian itu emang terjadi. Tantangan zaman sekarang udah lebih ngeri bos. Dan gak mungkin juga masalah buka warung kayak gini dibahas khusus dan ada dalil naqlinya. Justru dari dalil aqli yg berdasarkan dalil naqli itulah makanya perda ini bisa muncul. Kau taunya dalil aqli itu bisa benar atau salah. Tapi kau kok maksa kali kayaknya sama logika berpikirmu ini yg paling benar di sini? Agak kontradiktif kurasa lae. Semakin kemari kok semakin terasa kalo logika pemikiran kau itu cenderung liberal ya? Kutanyak lah dulu ama kau ya lae, kau ngaskus kayak gini, ada dalilnya? Kau naik pesawat kalo mau pergi haji, ada dalilnya? Kau mau ke kantor naik mobil, kau beli bensin mau isi Premium atau Pertamax buat mobil kau, itu diatur dalam Al-Qur'an dan Hadits? Kan gak kayak gitu cara berpikirnya. Lucu kali kau kuliat lae. Kalo semua hal mesti wajib ada redaksi di dalam dalil yg merujuk ke situ, mau setebal apa Al-Qur'an atau Hadits itu menurut kau lae? Kesannya yg muncul dari arogansi kau mempertahankan logikamu jadinya gini, "KALO ADA DALIL NAQLI YANG DI DALAMNYA ADA KATA "WARUNG" DAN ADA LARANGAN UNTUK BUKA DI SIANG HARI DI BULAN RAMADHAN", baru kau bisa setuju kalo warung itu boleh ditertibkan. Kau mau mempermainkan dalil? Kau mau menyimpangkan dalil? Mudah"an jangan sampe" ya laeku. Sekarang kalo aku minta tolong buat kau nunjukin dalil naqli dan aqlinya yg MENGHARAMKAN merazia warung yg buka di siang hari, ada lae? JELAS GAK ADA LAE... Kalo dari awal kuminta kau kayak gitu juga, yg ada aku make' logika berpikir yg sama dengan kau. Gak bakal ada titik temunya.
Kukasi contoh lain, rokok itu haramkah? Iya, karena lebih banyak mudharat yg ditimbulkan daripada manfaatnya. Tapi kan dalil yg mengharamkan rokok itu gak secara langsung nunjukin ROKOK ITU HARAM lae, tapi untuk segala sesuatu yg lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Dulu pendapat alim ulama bilang kalo rokok itu hukumnya makruh. Tapi sekarang kenapa alim ulama mayoritas mengharamkan rokok? Itulah penyesuaian yang dilakukan, disesuaikan dengan perubahan zaman. Itu analoginya kalo kau minta ditunjukin dalil naqlinya lae.
OOT? Ini bukan OOT. Gak salah kan lae kalo aku kasi analogi" dari sudut dan cara pandang yg berbeda dari kau lae? Kan masih dalam ranah agama. Kalo salah, minta maaf jugalah aku ya lae...
emoticon-Salaman
0 0
0
Nabi Muhammad yg terhormat, Fir'aun yg hina (hubungannya dengan perda Ramadhan)
17-06-2016 11:09
Bahasaannya sebenernya kurang penting,
ga perlu dibahas,
malah menimbulkan perpecahan antar muslim.

0 0
0
Nabi Muhammad yg terhormat, Fir'aun yg hina (hubungannya dengan perda Ramadhan)
17-06-2016 11:18
Quote:Original Posted By morning.owl


Hehehe. Gak papa laeku. Kukira tadi lae nganggap aku nge-junk. Padahal tak pandenya awak main basket. Hehe..
Bae bah. Singkatan baru bang lae kah itu? Hahaha...


itu DUNK bang, DUUNKKKK bukan junk, ah elah emoticon-Cape d... (S)
tak tau lah, asal aja kata tu keluar dari jari ane emoticon-Ngakak (S)

salam kenal bang
0 0
0
Nabi Muhammad yg terhormat, Fir'aun yg hina (hubungannya dengan perda Ramadhan)
17-06-2016 11:23
Quote:Original Posted By morning.owl


Lae, udah kujelasin gak ada korelasinya buka warung siang hari di bulan Ramadhan sama buah-buahan yang ada di dunia ini. Kau putar"pulak lagi pendapat kau itu. Kan udah kujelasin tadi, malah itu gak kau komentari. Terus kau banding"kan lagi persoalan ini ke zaman nabi, seolah" kami yg kontra sama pendapat kau ini gak percaya kejadian itu emang terjadi. Tantangan zaman sekarang udah lebih ngeri bos. Dan gak mungkin juga masalah buka warung kayak gini dibahas khusus dan ada dalil naqlinya. Justru dari dalil aqli yg berdasarkan dalil naqli itulah makanya perda ini bisa muncul. Kau taunya dalil aqli itu bisa benar atau salah. Tapi kau kok maksa kali kayaknya sama logika berpikirmu ini yg paling benar di sini? Agak kontradiktif kurasa lae. Semakin kemari kok semakin terasa kalo logika pemikiran kau itu cenderung liberal ya? Kutanyak lah dulu ama kau ya lae, kau ngaskus kayak gini, ada dalilnya? Kau naik pesawat kalo mau pergi haji, ada dalilnya? Kau mau ke kantor naik mobil, kau beli bensin mau isi Premium atau Pertamax buat mobil kau, itu diatur dalam Al-Qur'an dan Hadits? Kan gak kayak gitu cara berpikirnya. Lucu kali kau kuliat lae. Kalo semua hal mesti wajib ada redaksi di dalam dalil yg merujuk ke situ, mau setebal apa Al-Qur'an atau Hadits itu menurut kau lae? Kesannya yg muncul dari arogansi kau mempertahankan logikamu jadinya gini, "KALO ADA DALIL NAQLI YANG DI DALAMNYA ADA KATA "WARUNG" DAN ADA LARANGAN UNTUK BUKA DI SIANG HARI DI BULAN RAMADHAN", baru kau bisa setuju kalo warung itu boleh ditertibkan. Kau mau mempermainkan dalil? Kau mau menyimpangkan dalil? Mudah"an jangan sampe" ya laeku. Sekarang kalo aku minta tolong buat kau nunjukin dalil naqli dan aqlinya yg MENGHARAMKAN merazia warung yg buka di siang hari, ada lae? JELAS GAK ADA LAE... Kalo dari awal kuminta kau kayak gitu juga, yg ada aku make' logika berpikir yg sama dengan kau. Gak bakal ada titik temunya.
Kukasi contoh lain, rokok itu haramkah? Iya, karena lebih banyak mudharat yg ditimbulkan daripada manfaatnya. Tapi kan dalil yg mengharamkan rokok itu gak secara langsung nunjukin ROKOK ITU HARAM lae, tapi untuk segala sesuatu yg lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Dulu pendapat alim ulama bilang kalo rokok itu hukumnya makruh. Tapi sekarang kenapa alim ulama mayoritas mengharamkan rokok? Itulah penyesuaian yang dilakukan, disesuaikan dengan perubahan zaman. Itu analoginya kalo kau minta ditunjukin dalil naqlinya lae.
OOT? Ini bukan OOT. Gak salah kan lae kalo aku kasi analogi" dari sudut dan cara pandang yg berbeda dari kau lae? Kan masih dalam ranah agama. Kalo salah, minta maaf jugalah aku ya lae...
emoticon-Salaman


lah gmn gak ada hubungannya?

jelas2 drtd memakai alasan kalau warung buka bisa menimbulkan kemaksiatan dalam hal membatalkan puasa
tuh buah2an juga bisa menimbulkan kemaksiatan dalam hal membatalkan puasa...

sama apa sama??
sama kan??
sama sama bisa menimbulkan kemaksiatan dalam hal membatalkan puasa...

apanya yg dibolak balik
ente yg bolak balik

jelas sama gitu, klo beda ya jelas beda...
warung makanan jadi
buah metik dipohon itu doank bedanya
tapi tetep aja sama sama bisa menimbulkan kemaksiatan dalam hal membatalkan puasa...

lah tadi kan ente yg ngotot pengen minta dalil naqlinya...
giliran gw bilang ngga ada tuh dalil naqli menutup warung ente sewot
adanya cuma dalil aqli kata ente

yaudah klo gitu, gw pake dalil aqli juga donk buat buka warung, ngga boleh???
ente aja boleh pake dalil aqli buat nutup warung, kok gw ngga boleh pake dalil aqli buat buka warung?
kok maksa sih?

ngga usah sewot klo ngga bisa ngasih dalil naqlinya, cuma bisa pake dalil aqli...
jadi ngga usah sewot juga klo gw kasih dalil aqlinya...
kok maksa sih?

lah gw kasih dalil kejadian zaman nabi aja ngga diterima mau gmn lagi...

zaman nabi warung orang jualan mainan kapas (makanan) td buka, orang jualan buah2an buka...
ngga dirazia kan?
apa lg maunya?

lagian itu bukan buat nge judge ente kontra dengan kejadian zaman nabi...
itu buat mengajarkan...
kalau di zaman nabi, yg penting itu bagaimana mengajari orang cara puasa berdasarkan iman dan taqwa
BUKAN BERDASARKAN WARUNG

karena puasa itu masalah iman masalah taqwa
warung tutup pun orang tetep bisa kok ngga puasa bagi yg tidak bertaqwa
yg diperlukan itu ketaqwaan, bukan warung

ya udah itu rokok haram pake dalil aqli kan???

ya udah balik lg, pernyataan gw
gw kasih udah penjelasan panjang lebar juga diatas bagaimana dalil aqli membuka warung saat bulan puasa
salah???

kalau pakai dalil aqli salah
brarti rokok haram salah juga donk???

ente aja boleh pake dalil aqli masa gw ente larang pake dalil aqli???
maksa amat

lagian penjelasan gw sebelumnya ngga dibaca???
itu dalil naqli nih gw copasin lagi

terserah mau dibilang muter2 kek apa kek yg jelas memang ini jawabannya

kaidah dalilnya boleh melakukan sesuatu sampai datang ketentuan haram atas sesuatu hal tersebut (ketentuan disini maksudnya dari Al-Qu'ran & Hadist)
melakukan sesuatu disini dalam hal membuka warung saat puasa

kaidah dalil disini diambil dr suatu hadits dimana diharamkan menciptakan suatu *hukum baru* yg bersangkutan dgn masalah agama

itu hadits...
dalam kaidah itu karena zaman Nabi tidak ada PELARANGAN warung tutup, artinya warung boleh buka...
sehingga masuklah kaidah dalil tersebut (dalil naqli) boleh melakukan sesuatu sampai datang ketentuan haram atas sesuatu hal tersebut (ketentuan disini maksudnya dari Al-Qu'ran & Hadist)
artinya boleh membuka warung... karena tidak ada ketentuan haram atas membuka warung tersebut
Diubah oleh beruangbengkak
0 0
0
Halaman 23 dari 30
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia