News
Batal
KATEGORI
link has been copied
1455
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/56e25305e05227115d8b4567/isi-kontrak-hotel-indonesia-dan-grand-indonesia-terbongkar-part-1
Halo agan!:salamkenal Ane mohon izin mau share informasi dari sumber terpercaya ane terkait kontrak kerjasama antara Hotel Indonesia sama Grand Indonesia yang sekarang lagi diributin Komisaris PT HIN. Ane dapet dari hasil kasak-kusuk nih gan. Informasi ini akurat gan. Cuma maaf ya, ane kagak bisa kasih tau siapa sumber ane. Silakan dibaca, gan. :2thumbup Ini info soal perjanjian kerja sama antara
Lapor Hansip
11-03-2016 12:09

Isi Kontrak Hotel Indonesia dan Grand Indonesia Terbongkar (part 1)

Past Hot Thread
Halo agan!emoticon-Salam Kenal

Ane mohon izin mau share informasi dari sumber terpercaya ane terkait kontrak kerjasama antara Hotel Indonesia sama Grand Indonesia yang sekarang lagi diributin Komisaris PT HIN. Ane dapet dari hasil kasak-kusuk nih gan. Informasi ini akurat gan. Cuma maaf ya, ane kagak bisa kasih tau siapa sumber ane. Silakan dibaca, gan.
emoticon-2 Jempol

Ini info soal perjanjian kerja sama antara BUMN perhotelan, PT Hotel Indonesia Natour (HIN) dengan PT Cipta Karya Bersama Indonesia (CKBI)/PT Grand Indonesia (GI). Awalnya, pada 14 Januari 2016, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ngeluarin laporan hasil pemeriksaan atas pendapatan dan kerjasama antara PT HIN dan GI (Nomor 02/Auditama VII/01/2016). Laporan BPK-nya, nih bonus sampul dulu, hihihi ..
Laporan BPK

Sebulan terakhir, setelah isunya bergulir luas, ane penasaran gan, soalnya, masak iya ada bangunan segede gambreng begitu nggak ada dasar surat suratnya. Emang bikin bedeng? Hehe.. Ane mencoba mencari tahu apa sih isi kontrak kerjasama antara perusahaan BUMN ini dengan PT Grand Indonesia. Kok jadi rame. Apa benar seperti yang diributkan di media? Apa benar seperti yang dituding oleh Komisaris HIN Michael Umbas itu?

Berdasarkan info-info dari sumur terpercaya ane, inilah yang ane ungkapin ke agan-agan sekalian
.
Kontrak Perjanjian dan Akta Autentik Notaris

Sebelumnya, ane mau cerita dulu soal kenapa ada kerja sama Build Operate & Transfer antara PT Hotel Indonesia Natour dengan PT Cipta Karya Bumi Indah dan PT Grand Indonesia

Begini Gan. Agan inget kan, taun 1997-1998, Indonesia kena krisis yang super gawat, pemerintah utangnya jadi banyak banget, sampai sampai gaji PNS nggak mampu dibayar. Akhirnya, untuk menutupi segala macam kebutuhan itu, ada aset yang harus dijual dan beberapa di-BOT.

Hotel Indonesia sendiri, memang perlu banget direnovasi abis, soalnya walau dia ada di lokasi premium, tapi kondisi bangunan hotel itu udah gak memungkinkan lagi untuk bersaing karena usianya udah tua. Ya iyalah, kan dibangunnya pas jaman Soekarno masih jadi presiden. Padahal di situ ada hotel hotel guede yang modalnya dari luar seperti Meridien, dll. Nah, BOT (Build, Operate, and Transfer) adalah cara canggih pemerintah supaya asset bisa dibangun, terus dioperasikan, dan entar dibalikin lagi ke Pemerintah setelah waktu kerjasama abis. Swasta sendiri musti punya waktu yang cukup untuk ngebangun (biasanya 2-3 tahun), terus operasi termasuk untuk mencari tamu yang ngisi hotel, atau tenant tenant di bangunan yang ada, dan ngebalikin investasi yang nggak kecil alias triliunan itu.

Bulan Februari 2003, pemerintah mengumumkan rencana pengembangan HIN melalui Harian Bisnis Indonesia, Jakarta Post dan Sinar Harapan. Kenapa pemerintah memutuskan membuka tender pengembangan Hotel Indonesia dan sekitarnya? Karena Hotel Indonesia waktu itu memang sudah gak layak kondisinya. Usia hotel udah sekitar 30 tahun tapi pemerintah gak punya duit alias cekak buat renovasi. Padahal renovasi harus segera dikerjakan daripada bangunan bersejarah semakin bobrok. Akhirnya, dibukalah tender itu.

Waktu itu ada sekitar 52 calon mitra strategis yang diundang, tapi hanya 8 yang berminat dan hanya 4 yang mengajukan penawaran. Dari 4 calon investor, PT CKBI/PT GI menjadi penawar tertinggi dengan Rp 1,26 Triliun.

Akhirnya, dimulailah proses negosiasi kerjasama BOT dari bulan Juni 2003 sampe Februari 2004. Dalam proses itu, ada beberapa kali revisi proposal gan. Sebelum revisi terakhir disetujui, ane dapet info juga gan, udah ada legal opinion/Pendapat hukum dari konsultan Arie Hutagalung & Partner. Isinya, konsep perjanjian BOT sudah sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku dan udah melindungi kepentingan HIN.

Setelah dicapai kesepakatan BOT, lalu keluarlah persetujuan dari Meneg BUMN Laksamana Sukardi via surat S-247/MBU/2004 tanggal 11 Mei 2004. Dua hari kemudian ditandatanganilah kontrak kerjasama Build, Operate, Transfer antara kedua belah pihak (13 Mei 2004 Akta Notaris Irawan Soerodjo, SH, Msi)

Dalam kontrak itu juga disebutin kalo CKBI juga menunjuk PT Grand Indonesia (GI) sebagai pelaksana kerja sama ini. Jadi aneh kalo pihak HIN mempermasalahkan penunjukan sepihak dari CKBI ke GI. Lah dalam pasal kontrak aja udah tertera jelas kok. Jadi maksudnya apa kira-kira tudingan itu? Gak taulah gan, cuma Tuhan yang tau maksud tersembunyinya hehehe..
Pengalihan dari CKBI dan GI sudah disetujui HIN

Di kontrak juga disebutin kalo jangka waku kerja samanya selama 30 tahun, yang dimulai sejak diterbitkan Hak Guna Bangunan atas nama GI. Sedangkan kepemilikan lahan tetap atas nama negara cq PT HIN (BUMN). Kerja sama ini juga mencantumkan Hak Opsi Perpanjangan selama 20 tahun dan bisa diajukan sewaktu-waktu oleh GI maksimal 2 tahun sebelum Hak BOT berakhir. Yang ini ane juga punya inpoh, pada prakteknya, yang ngajuin perpanjangan BOT ternyata disodorin PT HIN, dan bukan GI. Kenapa dan gimana ceritanya? Entar ane kupas tuntas, hehe ...

Ini poin-pon kerjasama seperti yang ane salin dari kontrak gan:
Quote:GI wajib memberi kompensasi pembayaran tetap kepada HIN dengan nominal:
  • Tahun 2004 – 2012 sebesar Rp10 miliar per tahun
  • Tahun 2013 – 2017 sebesar Rp 11 miliar per tahun
  • Tahun 2018 – 2022 sebesar Rp 12 miliar per tahun
  • Tahun 2023 – 2027 sebesar Rp13 miliar per tahun
  • Tahun 2028 – 2032 sebesar Rp14 miliar per tahun
  • Tahun 2033 sebesar Rp15 miliar per tahun
Artinya, apapun kondisinya, mau GI untung atau rugi, PT HIN kagak mau tahu, GI tetep kudu bayar ke PT HIN awalnya sebesar Rp 10 miliar/tahun, dan naik terus setiap lima tahun. Padahal, pada 2004 sd 2008, gedung gedung itu masih dibangun, artinya, boro boro ada pemasukan, yang ada keluar duit untuk membangunnya, tapi pembayaran tetep dilakukan GI!
emoticon-Cape d...

GI wajib menyediakan kantor bagi HIN
HIN mendapat ruangan kantor seluas 1.000 m2 di lokasi gedung dan fasilitas penunjang, tanpa dikenakan biaya sewa oleh GI. Nah! Mana mungkin HIN tidak dilaporkan dan tidak tahu mengenai kedua gedung besar itu? Padahal kantor HIN kan di Menara BCA juga!. Nih alamat PT HIN, yang ane capture dari Google Maps:
Alamat HIN

Nih ane punya bukti-buktinya kalo kantor HIN itu ada di Menara BCA lantai 39.
Kantor HIN

Logo HIN di kantornya

Ayo! Masih mau ngeles? Publik kali bisa diboongin... Tapi, apa bisa boongin Mbah Google juga? Jadi, bagaimana bisa dia menyebut tidak tahu menahu, sementara dia berkantor di situ selama bertahun tahun? Apa karena gratisan, jadi nggak ngerti berterimakasih? Atau apa karena mereka bekerja sambil tidur, jadi mereka kira selama ini tengah bermimpi berkantor di Wisma BCA Lantai 39? Bujubuneng! Ane sampai harus tepok jidat 39X!
emoticon-Cape d...

GI wajib menyediakan kantor sementara bagi HIN
Dalam hal penyediaan kantor bagi HIN dalam poin B, masih dalam tahap konstruksi, GI wajib menyediakan kantor sementara bagi kegiatan operasional HIN. GI membayar seluruh biaya sewa kantor sementara termasuk renovasi jika diperlukan sebesar Rp6,1 miliar.
Ruangan kantor HIN di Menara BCA lantai 39

Pendanaan penyelesaian tenaga kerja
GI memberikan dana kepada HIN sebesar maksimum Rp33 miliar sebagai bentuk penyelesaian pendanaan ketenagakerjaan atas karyawan HIN.

Hak opsi perpanjangan kontrak BOT
GI punya hak opsi perpanjangan kontrak BOT kepada HIN. Permintaan GI tersebut harus dibalas oleh HIN selambat-lambatnya 14 hari sejak tanggal pemberitahuan. Jika HIN menyetujui hak opsi perpanjangan yang ditawarkan, maka GI wajib membayar kompensasi sebesar Rp400 miliar ATAU 25% dari Nilai Jual Objek Pajak lahan yang berlaku pada saat hak opsi diajukan, tergantung mana yang lebih besar.


Sampe sini udah paham latar belakangnya gan? Sekarang ane sekarang mau cerita soal kejanggalan-kejanggalan bergulirnya kasus ini.

1. Penambahan gedung kantor dan apartemen dianggap melanggar perjanjian BOT dan berpotensi merugikan negara

Quote:Eks Menteri BUMN: Tidak Ada Negosiasi Soal Menara BCA
Kejaksaan Agung memeriksa mantan Menteri BUMN Laksamana Sukardi sebagai saksi dalam kasus dugaan pelanggaran kontrak pembangunan Menara BCA. Menteri era Presiden Megawati Soekarnoputri itu mengatakan PT Hotel Indonesia Natour (HIN) sebagai BUMN tidak pernah melapor tentang pembangunan kedua gedung tersebut. "Setelah itu tidak dilaporkan oleh direksi HIN," ujar Sukardi di Kejagung, Jakarta, Selasa 1 Maret 2016. Menurut dia, harusnya ada perhitungan kompensasi ke PT HIN dengan hitungan nett present value dan preview tahunan terkait pembangunan gedung perkantoran dan apartemen tersebut.
http://news.liputan6.com/read/244927...oal-menara-bca

Jangan ditiru, Gan! Ini tipikal mantan Pejabat Negara yang doyan cuci tangan. Lalu nyalahin pihak lain yang dulu menolong kinerja dia saat pemerintah kesulitan uang untuk bayar utang negara.
emoticon-Marah emoticon-Marah emoticon-Marah emoticon-Marah emoticon-Marah
Quote:Sewa Lahan Hotel Indonesia Berpotensi Rugikan Negara
Komisaris PT Hotel Indonesia Natour, Michael Umbas mengaku ada ada beberapa fakta janggal yang didapatinya semenjak duduk sebagai komisaris PT HIN pada November 2015. Dalam kontrak BOT yang diteken PT Hotel Indonesia Natour dengan PT Cipta Karya Bersama Indonesia (CKBI)/PT Grand Indonesia (GI), disepakati 4 objek fisik bangunan di atas tanah negara HGB yang diterbitkan atas nama PT GI yakni:

1. Hotel Bintang 5 (42.815 m2)
2. Pusat perbelanjaan I (80.000 m2)
3. Pusat perbelanjaan II (90.000 m2)
4. Fasilitas parkir (175.000m2)

Namun dalam berita acara penyelesaian pekerjaan tertanggal 11 Maret 2009 ternyata ada tambahan bangunan yakni gedung perkantoran Menara BCA dan apartemen Kempinski, di mana kedua bangunan ini tidak tercantum dalam perjanjian BOT dan belum diperhitungkan besaran kompensasi ke PT HIN. Kondisi ini menyebabkan PT HIN kehilangan memperoleh kompensasi yang lebih besar dari penambahan dua bangunan yang dikomersilkan tersebut. "Yang pasti ada dua gedung dibangun di luar kontrak. Itu disewakan itu tidak pernah diperhitungkan. Harusnya, PT HIN dapat kompensasi dari tambahan dua gedung itu. Kami masih menghitung kerugian kompensasi dari 2 gedung," ungkapnya saat berbincang dengan Liputan6.com, Selasa (2/2/2016).

http://bisnis.liputan6.com/read/2426...rugikan-negara

Pernyataan ini sungguh janggal gan. Ane sempet liat bocoran isi kontraknya dari sumber sumber ane. Bener gak tudingan itu? Nah, ternyataaaaa ...

Dalam pasal 1.2 (hal 7) berbunyi “Gedung dan fasilitas penunjang adalah bangunan-bangunan dan segala fasilitas pendukung yang wajib dibangun dan/atau direnovasi penerima hak BOT di atas tanah, yaitu, ANTARA LAIN, pusat perbelanjaan, hotel, dan bangunan-bangunan lainnya, berikut fasilitas parkir serta fasilitas penunjang LAINNYA..”
Bukti kontrak perjanjian BOT

Gedung dan fasilitas pendukungnya

Lah disitu ada tertulis “ ... antara lain, ..... dan bangunan bangunan lainnya, ... dan fasilitas penunjang...” Artinya, setelah wilayah itu diserahgunakan, pihak investor berhak membangun gedung dan fasilitas lainnya. Lagian ini kan kontrak BOT gan. Kalo disitu dibangun apartemen sama gedung perkantoran bagus, harusnya pihak HIN dan pemerintah seneng dong. Kan ketika jangka waktu kontrak udah kelar, dua bangunan itu bakal jadi milik negara plus segala isinya. Jadi ruginya dimana neh gan? Udah dibantuin pas susah, terus dibangun yang bagus, kok ya malah komplen. Ane bingung..
emoticon-Bingung emoticon-Bingung
Nah, ternyata pada tanggal 11 Des 2007 beberapa tahun sebelum opsi perpanjangan diajukan oleh PT HIN sendiri, ada pendapat hukum dari legal consultant Arie Hutagalung & Partner yang menyebutkan: “kata antara lain dalam definisi tersebut membuka kesempatan dilakukannya pendirian bangunan lainnya diluar yang sudah didefinisikan.” Artinya, pembangunan kantor dan apartemen di atas tanah objek kerjasama emang dimungkinkan dong gan.
Pendapat hukum soal definisi antara lain

Dengan penjelasan yang begitu terang pada kontrak, ane jadi mempertanyakan kemampuan berbahasa Indonesia para pejabat publik kita, terutama yang terhormat komisaris PT HIN Michael Umbas dan Pak Jaksa. Jangan jangan.. Ah, ane jadi pengen lihat raportnya waktu SD untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia mereka, hahaha!!
emoticon-Hammer2 emoticon-Hammer2

2. PT HIN mengaku gak tahu soal rencana pembangunan gedung kantor dan apartemen.

Jeng jeeeeeng.. disini ane pengen ketawa ngakak gan. Soalnya ane juga dapet beberapa dokumen pendukung lain. Setelah ane pelajari, pada Agustus 2004, pihak HIN ngajuin proposal permohonan Hak Pengelolaan Lahan (HPL) atas nama PT HIN kepada BPN. Kenapa HPL itu mesti diajukan? Karena ini adalah salah satu aspek penting yang tercantum dalam perjanjian BOT. Status tanah kawasan HI harus disesuaikan statusnya. Sertifikat yang tadinya HGB atas nama PT HIN dilepaskan haknya dan diganti statusnya menjadi HPL tetap atas nama PT HIN. Selanjutnya, di atas tanah HPL itu diterbitkanlah HGB atas nama PT GI. Kenapa GI hanya dapet HGB gan? Karena GI cuma berhak membangun di atas lahan negara, bukan memiliki lahan itu. Yang punya lahan mah tetep negara gan.

Nah ini yang menarik gan... Ternyata dalam proposal itu, pihak HIN sudah mengetahui rencana GI akan membangun gedung perkantoran dan apartemen pada April 2005. Dalam proposal dengan kop surat Inna Hotel Group itu, tertera jadwal konstruksi Mall A (September 2004), Mall B (Juli 2004), Hotel (Januari 2005), Kantor (April 2005) dan Apartemen (April 2005). Proposal pengajuan ini ditandatangi oleh Dirut PT HIN (persero) Ir. AM Suseto.

Ini ane kasih capture bukti-bukti kalo PT HIN sendiri udah tahu soal pembangunan itu:

Proposal Pengajuan HPL dari HIN kepada BPN


Ini lagi yang bikin ane ngerasa kok ada yang ga pas, gan. Kenapa sekarang pihak HIN ngeributin pembangunan dua gedung itu. Padahal jelas-jelas, di pengajuan HPL ke BPN mereka udah mencantumkan dua jenis bangunan itu? Artinya mereka udah tahu dan sepakat dong. Lagian itu dua bangunan segede bagong berdiri di atas tanah negara masa kagak liat sih? Kok bisa ngaku gak tau? Kan aneh.
emoticon-Bingung emoticon-Bingung

Lagian kenapa harus dipermasalahkan sih, lha wong setelah kontrak berakhir HIN justru untung. Lah iyalah.. Itu dibangun dua gedung mewah di pusat kota Jakarta dengan nilai NJOP yang gila-gilaan. Begitu masa kontrak berakhir kan dua gedung itu bakal jadi milik negara lagi.

Lucunya lagi gan, revenue dua gedung itu ikut dipermasalahkan. Nah ini konyol gan. Lah ini kan kontrak BOT bukan kontrak joint venture ato sewa. Dalam kerjasama BOT, sesuai kontrak, pihak pemberi BOT harusnya gak boleh utak-atik keuntungan yang diperoleh penerima hak BOT.

Lah masa dua bangunan itu nantinya bakal diserahin, trus masih minta untung pengelolaan juga? Ini kerjasama apa pemerasan nih gan? #eh
emoticon-Marah emoticon-Marah

Nih isi kontraknya: Pasal 9.9 udah ditulis, “seluruh pendapatan yang diperoleh dari pemilikan, penguasaan dan pengelolaan tanah, gedung, dan fasilitas penunjang menjadi milik penerima hak BOT seluruhnya.” Setelah periode berakhir, gedung apartemen dan perkantoran berikut penghasilan yang diperoleh dari aset itu akan menjadi milik HIN. Ini ane kasih bonus isi kontraknya:
Pasal yang mengatur hak pendapatan


Manteb gak gan bocoran dari ane? Ini baru satu gan. Nanti ane bakal kasih tau bocoran laen soal kejanggalan bergulirnya isu ini. Ditunggu info ane selanjutnya ya gan. Ane mau kasak kusuk lagi. Ahiiiyyy….
emoticon-Toast emoticon-Toast emoticon-Toast
Diubah oleh kabutpekat
0
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 65 dari 74
Isi Kontrak Hotel Indonesia dan Grand Indonesia Terbongkar (part 1)
24-03-2016 11:49
buseettt...ini jelas terbukti klo mau meras gan...

yaa inti nya sih...nama nya dapet jabatan baru tapi ga dapet bagian..maka nya cari akal puter otak biar dapet duit lebih emoticon-Cape d...
0 0
0
Isi Kontrak Hotel Indonesia dan Grand Indonesia Terbongkar (part 1)
24-03-2016 11:50
udah dikasih gratis malah diributin.. ya tapi namanya manusia gan ada aja gak puas atau iru...

yg penting GI ngikutin kewajibannya

sesuai aturan aja
0 0
0
Isi Kontrak Hotel Indonesia dan Grand Indonesia Terbongkar (part 1)
24-03-2016 11:52
Quote:Original Posted By mfu666


hehehe ane setuju sama agan ini.....
untuk mendapatkan data sebegitu detail ngak mungkin orang luar yang minta untuk di publish di kaskus
ane ngak ada mxd apa apa
tpi ya bgtu deh kalau sdh pengusahaan level atas punya media
btw nice share gan


klo engga penggiringan opini dari salah satu pihak..emoticon-Stick Out Tongue
0 0
0
Isi Kontrak Hotel Indonesia dan Grand Indonesia Terbongkar (part 1)
24-03-2016 11:54
Quote:Original Posted By kabutpekat
Halo agan!emoticon-Salam Kenal

Ane mohon izin mau share informasi dari sumber terpercaya ane terkait kontrak kerjasama antara Hotel Indonesia sama Grand Indonesia yang sekarang lagi diributin Komisaris PT HIN. Ane dapet dari hasil kasak-kusuk nih gan. Informasi ini akurat gan. Cuma maaf ya, ane kagak bisa kasih tau siapa sumber ane. Silakan dibaca, gan.
emoticon-2 Jempol

Ini info soal perjanjian kerja sama antara BUMN perhotelan, PT Hotel Indonesia Natour (HIN) dengan PT Cipta Karya Bersama Indonesia (CKBI)/PT Grand Indonesia (GI). Awalnya, pada 14 Januari 2016, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ngeluarin laporan hasil pemeriksaan atas pendapatan dan kerjasama antara PT HIN dan GI (Nomor 02/Auditama VII/01/2016). Laporan BPK-nya, nih bonus sampul dulu, hihihi ..
Laporan BPK

Sebulan terakhir, setelah isunya bergulir luas, ane penasaran gan, soalnya, masak iya ada bangunan segede gambreng begitu nggak ada dasar surat suratnya. Emang bikin bedeng? Hehe.. Ane mencoba mencari tahu apa sih isi kontrak kerjasama antara perusahaan BUMN ini dengan PT Grand Indonesia. Kok jadi rame. Apa benar seperti yang diributkan di media? Apa benar seperti yang dituding oleh Komisaris HIN Michael Umbas itu?

Berdasarkan info-info dari sumur terpercaya ane, inilah yang ane ungkapin ke agan-agan sekalian
.
Kontrak Perjanjian dan Akta Autentik Notaris

Sebelumnya, ane mau cerita dulu soal kenapa ada kerja sama Build Operate & Transfer antara PT Hotel Indonesia Natour dengan PT Cipta Karya Bumi Indah dan PT Grand Indonesia

Begini Gan. Agan inget kan, taun 1997-1998, Indonesia kena krisis yang super gawat, pemerintah utangnya jadi banyak banget, sampai sampai gaji PNS nggak mampu dibayar. Akhirnya, untuk menutupi segala macam kebutuhan itu, ada aset yang harus dijual dan beberapa di-BOT.

Hotel Indonesia sendiri, memang perlu banget direnovasi abis, soalnya walau dia ada di lokasi premium, tapi kondisi bangunan hotel itu udah gak memungkinkan lagi untuk bersaing karena usianya udah tua. Ya iyalah, kan dibangunnya pas jaman Soekarno masih jadi presiden. Padahal di situ ada hotel hotel guede yang modalnya dari luar seperti Meridien, dll. Nah, BOT (Build, Operate, and Transfer) adalah cara canggih pemerintah supaya asset bisa dibangun, terus dioperasikan, dan entar dibalikin lagi ke Pemerintah setelah waktu kerjasama abis. Swasta sendiri musti punya waktu yang cukup untuk ngebangun (biasanya 2-3 tahun), terus operasi termasuk untuk mencari tamu yang ngisi hotel, atau tenant tenant di bangunan yang ada, dan ngebalikin investasi yang nggak kecil alias triliunan itu.

Bulan Februari 2003, pemerintah mengumumkan rencana pengembangan HIN melalui Harian Bisnis Indonesia, Jakarta Post dan Sinar Harapan. Kenapa pemerintah memutuskan membuka tender pengembangan Hotel Indonesia dan sekitarnya? Karena Hotel Indonesia waktu itu memang sudah gak layak kondisinya. Usia hotel udah sekitar 30 tahun tapi pemerintah gak punya duit alias cekak buat renovasi. Padahal renovasi harus segera dikerjakan daripada bangunan bersejarah semakin bobrok. Akhirnya, dibukalah tender itu.

Waktu itu ada sekitar 52 calon mitra strategis yang diundang, tapi hanya 8 yang berminat dan hanya 4 yang mengajukan penawaran. Dari 4 calon investor, PT CKBI/PT GI menjadi penawar tertinggi dengan Rp 1,26 Triliun.

Akhirnya, dimulailah proses negosiasi kerjasama BOT dari bulan Juni 2003 sampe Februari 2004. Dalam proses itu, ada beberapa kali revisi proposal gan. Sebelum revisi terakhir disetujui, ane dapet info juga gan, udah ada legal opinion/Pendapat hukum dari konsultan Arie Hutagalung & Partner. Isinya, konsep perjanjian BOT sudah sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku dan udah melindungi kepentingan HIN.

Setelah dicapai kesepakatan BOT, lalu keluarlah persetujuan dari Meneg BUMN Laksamana Sukardi via surat S-247/MBU/2004 tanggal 11 Mei 2004. Dua hari kemudian ditandatanganilah kontrak kerjasama Build, Operate, Transfer antara kedua belah pihak (13 Mei 2004 Akta Notaris Irawan Soerodjo, SH, Msi)

Dalam kontrak itu juga disebutin kalo CKBI juga menunjuk PT Grand Indonesia (GI) sebagai pelaksana kerja sama ini. Jadi aneh kalo pihak HIN mempermasalahkan penunjukan sepihak dari CKBI ke GI. Lah dalam pasal kontrak aja udah tertera jelas kok. Jadi maksudnya apa kira-kira tudingan itu? Gak taulah gan, cuma Tuhan yang tau maksud tersembunyinya hehehe..
Pengalihan dari CKBI dan GI sudah disetujui HIN

Di kontrak juga disebutin kalo jangka waku kerja samanya selama 30 tahun, yang dimulai sejak diterbitkan Hak Guna Bangunan atas nama GI. Sedangkan kepemilikan lahan tetap atas nama negara cq PT HIN (BUMN). Kerja sama ini juga mencantumkan Hak Opsi Perpanjangan selama 20 tahun dan bisa diajukan sewaktu-waktu oleh GI maksimal 2 tahun sebelum Hak BOT berakhir. Yang ini ane juga punya inpoh, pada prakteknya, yang ngajuin perpanjangan BOT ternyata disodorin PT HIN, dan bukan GI. Kenapa dan gimana ceritanya? Entar ane kupas tuntas, hehe ...

Ini poin-pon kerjasama seperti yang ane salin dari kontrak gan:


Sampe sini udah paham latar belakangnya gan? Sekarang ane sekarang mau cerita soal kejanggalan-kejanggalan bergulirnya kasus ini.

1. Penambahan gedung kantor dan apartemen dianggap melanggar perjanjian BOT dan berpotensi merugikan negara


Jangan ditiru, Gan! Ini tipikal mantan Pejabat Negara yang doyan cuci tangan. Lalu nyalahin pihak lain yang dulu menolong kinerja dia saat pemerintah kesulitan uang untuk bayar utang negara.
emoticon-Marah emoticon-Marah emoticon-Marah emoticon-Marah emoticon-Marah

Pernyataan ini sungguh janggal gan. Ane sempet liat bocoran isi kontraknya dari sumber sumber ane. Bener gak tudingan itu? Nah, ternyataaaaa ...

Dalam pasal 1.2 (hal 7) berbunyi “Gedung dan fasilitas penunjang adalah bangunan-bangunan dan segala fasilitas pendukung yang wajib dibangun dan/atau direnovasi penerima hak BOT di atas tanah, yaitu, ANTARA LAIN, pusat perbelanjaan, hotel, dan bangunan-bangunan lainnya, berikut fasilitas parkir serta fasilitas penunjang LAINNYA..”
Bukti kontrak perjanjian BOT

Gedung dan fasilitas pendukungnya

Lah disitu ada tertulis “ ... antara lain, ..... dan bangunan bangunan lainnya, ... dan fasilitas penunjang...” Artinya, setelah wilayah itu diserahgunakan, pihak investor berhak membangun gedung dan fasilitas lainnya. Lagian ini kan kontrak BOT gan. Kalo disitu dibangun apartemen sama gedung perkantoran bagus, harusnya pihak HIN dan pemerintah seneng dong. Kan ketika jangka waktu kontrak udah kelar, dua bangunan itu bakal jadi milik negara plus segala isinya. Jadi ruginya dimana neh gan? Udah dibantuin pas susah, terus dibangun yang bagus, kok ya malah komplen. Ane bingung..
emoticon-Bingung emoticon-Bingung
Nah, ternyata pada tanggal 11 Des 2007 beberapa tahun sebelum opsi perpanjangan diajukan oleh PT HIN sendiri, ada pendapat hukum dari legal consultant Arie Hutagalung & Partner yang menyebutkan: “kata antara lain dalam definisi tersebut membuka kesempatan dilakukannya pendirian bangunan lainnya diluar yang sudah didefinisikan.” Artinya, pembangunan kantor dan apartemen di atas tanah objek kerjasama emang dimungkinkan dong gan.
Pendapat hukum soal definisi antara lain

Dengan penjelasan yang begitu terang pada kontrak, ane jadi mempertanyakan kemampuan berbahasa Indonesia para pejabat publik kita, terutama yang terhormat komisaris PT HIN Michael Umbas dan Pak Jaksa. Jangan jangan.. Ah, ane jadi pengen lihat raportnya waktu SD untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia mereka, hahaha!!
emoticon-Hammer2 emoticon-Hammer2

2. PT HIN mengaku gak tahu soal rencana pembangunan gedung kantor dan apartemen.

Jeng jeeeeeng.. disini ane pengen ketawa ngakak gan. Soalnya ane juga dapet beberapa dokumen pendukung lain. Setelah ane pelajari, pada Agustus 2004, pihak HIN ngajuin proposal permohonan Hak Pengelolaan Lahan (HPL) atas nama PT HIN kepada BPN. Kenapa HPL itu mesti diajukan? Karena ini adalah salah satu aspek penting yang tercantum dalam perjanjian BOT. Status tanah kawasan HI harus disesuaikan statusnya. Sertifikat yang tadinya HGB atas nama PT HIN dilepaskan haknya dan diganti statusnya menjadi HPL tetap atas nama PT HIN. Selanjutnya, di atas tanah HPL itu diterbitkanlah HGB atas nama PT GI. Kenapa GI hanya dapet HGB gan? Karena GI cuma berhak membangun di atas lahan negara, bukan memiliki lahan itu. Yang punya lahan mah tetep negara gan.

Nah ini yang menarik gan... Ternyata dalam proposal itu, pihak HIN sudah mengetahui rencana GI akan membangun gedung perkantoran dan apartemen pada April 2005. Dalam proposal dengan kop surat Inna Hotel Group itu, tertera jadwal konstruksi Mall A (September 2004), Mall B (Juli 2004), Hotel (Januari 2005), Kantor (April 2005) dan Apartemen (April 2005). Proposal pengajuan ini ditandatangi oleh Dirut PT HIN (persero) Ir. AM Suseto.

Ini ane kasih capture bukti-bukti kalo PT HIN sendiri udah tahu soal pembangunan itu:

Proposal Pengajuan HPL dari HIN kepada BPN


Ini lagi yang bikin ane ngerasa kok ada yang ga pas, gan. Kenapa sekarang pihak HIN ngeributin pembangunan dua gedung itu. Padahal jelas-jelas, di pengajuan HPL ke BPN mereka udah mencantumkan dua jenis bangunan itu? Artinya mereka udah tahu dan sepakat dong. Lagian itu dua bangunan segede bagong berdiri di atas tanah negara masa kagak liat sih? Kok bisa ngaku gak tau? Kan aneh.
emoticon-Bingung emoticon-Bingung

Lagian kenapa harus dipermasalahkan sih, lha wong setelah kontrak berakhir HIN justru untung. Lah iyalah.. Itu dibangun dua gedung mewah di pusat kota Jakarta dengan nilai NJOP yang gila-gilaan. Begitu masa kontrak berakhir kan dua gedung itu bakal jadi milik negara lagi.

Lucunya lagi gan, revenue dua gedung itu ikut dipermasalahkan. Nah ini konyol gan. Lah ini kan kontrak BOT bukan kontrak joint venture ato sewa. Dalam kerjasama BOT, sesuai kontrak, pihak pemberi BOT harusnya gak boleh utak-atik keuntungan yang diperoleh penerima hak BOT.

Lah masa dua bangunan itu nantinya bakal diserahin, trus masih minta untung pengelolaan juga? Ini kerjasama apa pemerasan nih gan? #eh
emoticon-Marah emoticon-Marah

Nih isi kontraknya: Pasal 9.9 udah ditulis, “seluruh pendapatan yang diperoleh dari pemilikan, penguasaan dan pengelolaan tanah, gedung, dan fasilitas penunjang menjadi milik penerima hak BOT seluruhnya.” Setelah periode berakhir, gedung apartemen dan perkantoran berikut penghasilan yang diperoleh dari aset itu akan menjadi milik HIN. Ini ane kasih bonus isi kontraknya:
Pasal yang mengatur hak pendapatan


Manteb gak gan bocoran dari ane? Ini baru satu gan. Nanti ane bakal kasih tau bocoran laen soal kejanggalan bergulirnya isu ini. Ditunggu info ane selanjutnya ya gan. Ane mau kasak kusuk lagi. Ahiiiyyy….
emoticon-Toast emoticon-Toast emoticon-Toast


sudah ane amankan di laptop ane gan,,,, parah bener dah
0 0
0
Isi Kontrak Hotel Indonesia dan Grand Indonesia Terbongkar (part 1)
24-03-2016 11:55
Quote:Original Posted By maxcel
sekedar menambahkan, ada artikel yang mirip dari
kompasiana

Btw IMO kalo ada duit milyar- milyar, bacanya ngeri juga ya



walah ga dikasih sumbernya. jelas2 nih plagiatisme emoticon-Sorry
0 0
0
Isi Kontrak Hotel Indonesia dan Grand Indonesia Terbongkar (part 1)
24-03-2016 11:56
et dah,, informasi dan buktinya kok bisa sekongkrit ini!? edan juga sumber milik si agan...
nhun infonya,,

saya bantu doa aja deh
0 0
0
Isi Kontrak Hotel Indonesia dan Grand Indonesia Terbongkar (part 1)
24-03-2016 11:57
gak ngerti gan ..hahaha. intinya paling setoran kurang ke HIN emoticon-Request
0 0
0
Isi Kontrak Hotel Indonesia dan Grand Indonesia Terbongkar (part 1)
24-03-2016 11:59
Eee gilak lengkap banget nih, ente siapa emoticon-Big Grin
0 0
0
Isi Kontrak Hotel Indonesia dan Grand Indonesia Terbongkar (part 1)
24-03-2016 12:00
Isi thread nya panjang, nilai kontrak nya fantastis, eh dibaca lagi ah masih belum paham.
0 0
0
Isi Kontrak Hotel Indonesia dan Grand Indonesia Terbongkar (part 1)
24-03-2016 12:00
harusnya dijelasin nih masalah ini waktu serah terima jabatan PT. HIN
0 0
0
Isi Kontrak Hotel Indonesia dan Grand Indonesia Terbongkar (part 1)
24-03-2016 12:02
wah bacaan yg lumayan menarik nih di jam makan siang. emoticon-Big Grin

kalau ane lihat di situ sih banyak poin poin yg kebijakannya terkesan sepihak ke HIN, ane tunggu kelanjutannya deh. Ini kasusnya ga ke blowup ke media ya? emoticon-Bingung (S)

pdhal bisa bikin rame juga padahal emoticon-Hammer (S)
0 0
0
Isi Kontrak Hotel Indonesia dan Grand Indonesia Terbongkar (part 1)
24-03-2016 12:03
ini sepuh yg bikin trit euy...

mantap gan, info ini bakal bikin masyarakat melek banget, kalo kerja sama dgn pemerintah ga selamanya muluss....
apalagi yg namanya tender, hadehhh bikin ribet, uda lagi kl hal pembayaran beuhhh mangkir abissss,
dari hal yg ratusan ribu sampe yg ratusan miliar ajeeeee mangkir mulu...

tau ahh butuh vladimir putin yg jadi presiden!!
0 0
0
Isi Kontrak Hotel Indonesia dan Grand Indonesia Terbongkar (part 1)
24-03-2016 12:04
ngantuk zzz
0 0
0
Isi Kontrak Hotel Indonesia dan Grand Indonesia Terbongkar (part 1)
24-03-2016 12:09
jarang-jarang buka berita & politik (males sama ocehan jaman kampanye dulu, isinya cuma saling hujat), eh nemu trit bagus nih. korek2 kebl**nan pejabat negara emoticon-Wakaka:
pantengin terus ah emoticon-Salaman:
0 0
0
Isi Kontrak Hotel Indonesia dan Grand Indonesia Terbongkar (part 1)
24-03-2016 12:10
mantab sekali gan bocorannya.
ga berterimakasih bgt sih,,, maunya meras melulu emoticon-Cape d... (S)
0 0
0
Isi Kontrak Hotel Indonesia dan Grand Indonesia Terbongkar (part 1)
24-03-2016 12:15
BOT, Build, Operate, Transfer.
tadinya saya nda tau istilah tersebut. trus saya googling, infonya cukup lengkap.
barangkali ada yang tertarik untuk membaca biar ngerti BOT
0 0
0
Isi Kontrak Hotel Indonesia dan Grand Indonesia Terbongkar (part 1)
24-03-2016 12:18
ini HI kempinski itu bukan gan?
btw datanya lengkap bgt, niat banget TS nya
0 0
0
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 12
Isi Kontrak Hotel Indonesia dan Grand Indonesia Terbongkar (part 1)
24-03-2016 12:39
pusing ane bacanya....
panjang banget
0 0
0
Isi Kontrak Hotel Indonesia dan Grand Indonesia Terbongkar (part 1)
24-03-2016 12:43
sadiiiss gan bocorannya!
lanjutkan gan, buka semua kebodohan2 pejabat negara ini biar malu
0 0
0
Halaman 65 dari 74
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia