Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
267
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/560be593c0cb1709578b4567/petrus-trilogi-indonesian-action-thriller-story
Aksi kejar mengejar di lorong-lorong kota itu terhenti ketika penjambret sudah memasuki daerah kumuh dipinggiran kota. Angga melompat merobohkannya berusaha merebut tas merah emas yang ada ditangannya. Baku pukul tidak terhindarkan lagi. Angga seorang polisi yang sudah sangat terlatih dalam bela diri karate terlihat lebih unggul dalam pengalaman. Tak kurang dia setidaknya membuat si penjambret itu
Lapor Hansip
30-09-2015 20:37

Petrus Trilogi, Indonesian Action Thriller Story

Past Hot Thread
Quote:
Note About This Thread :

1. Thread ini berisi cerita Fiktif yang menyadur beberapa kejadian nyata tentang keberadaan Petrus di Indonesia

2. Sesuai Judulnya, Petrus Ttrilogi ane rencanakan terbagi menjadi 3 Act atau 3 Season ( Act 1 : Petrus Origin , Act 2 : Petrus New Wave, Act 3 : Petrus Final Act)

3. Seperti Agan-agan yang laen ane punya kesibukan pribadi agar Lebih nyaman untuk semua pihak jadi ane jadwalkan untuk memberikan updatenya setiap hari senin

4. Tokohnya merupakan tokoh fiktif dengan setting waktu saat ini atau tahun 2015



Interaktif Story For Kaskuser


Indeks Story

Prolog
File 001 : Penembak Misterius
File 002 : Untold
File 003 : Kontradiksi

Act 1 : Petrus origin
File 004 - Identity
File 005 - Peluru Perak
File 006 - MO
File 007 - Misi
File 008 - Hunt or Hunted
File 009 - Like A Ghost
File 010 - HELL
File 011 - Srigala Berbulu Domba
File 012 - Safe House
File 013 - Sexy Succubus
File 014 - Place where Hades Hide
File 015 - Bloody Joker
File 016 - Bet?
File 017 - Heritage
File 018 - Immortal Fighter
File 019 - Torture

Act 2 : Petrus New Wave

Act 3 : Petrus Final Act


Kaskuser Act
Quote:
l13apower : Part 1
l13apower : Part 2
l13apower : Part 3
l13apower : Part 4
l13apower : Part 5.1
l13apower : Part 5.2
l13apower : Part 6
l13apower : Part 7
l13apower : Part 8
l13apower : Part 9



Quote:
Sherry24 : Patrucci the ghost bullet
Sherry24 : Ghost Bullet part 2


Quote:
Lithium.rusak : interupsi
Lithium.rusak : Dampak


Quote:
panjang.kaki : The Eagle Eye episode 01


Diubah oleh clowreedt
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Gimi96 dan 13 lainnya memberi reputasi
14
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 14
Petrus Trilogi, Indonesian Action Thriller Story
30-09-2015 20:38
File 001 : Penembak Misterius

“Nggak, aku gak percaya kalau mereka orang jahat, mungkin mereka kejam karena membunuh orang tanpa pengadilan yang layak, tapi tujuan mereka baik. Mereka ingin menjaga agar republic ini aman dari para penjahat jalanan” Ria bersungut-sungut.

“Apapun alasannya membunuh orang kemudian meninggalkan mayatnya di tempat umum atau lorong-lorong sempit tidak bisa dibenarkan. Mereka telah menciptakan terror di masyarakat. Apalagi cara mereka menghukum para criminal itu sangat tidak berperikemanusiaan.” Angga tidak mau kalah.

“Faktanya serangan mereka yang membabi buta itu membuat banyak warga sipil yang terluka. Gak sedikit yang nyawanya melayang di tangan para petrus. Ah sudahlah, kenapa kau harus merusak suasana makan malam kita dengan argumentmu tentang para petrus bodoh itu. Mereka sudah menghilang lebih dari 25 tahun yang lalu” lanjut Angga berusaha menyelesaikan perdebatan.

Petrus adalah sekelompok penembak jitu yang tak segan-segan membunuh para penjahat atau preman yang sedang melakukan kejahatan di jalanan. Tidak ada yang tahu, siapa dan darimana asal para petrus itu. Mereka muncul tak lama setelah terjadi kerusuhan di salah satu penjara terbesar di jawa timur pada awal pemerintahan presiden Soeharto yang membuat sebagian besar napi kelas kakap kabur.

Tingkat kriminalitas jalanan meningkat drastis. Penjambretan, pemerkosaan, perampokan semakin marak. Tidak ada yang aman dijalan. Berpergian malam sama saja dengan perjudian nyawa.

Kemudian para petrus muncul. Para pelaku kejahatan jalanan yang mulai menjamur di hampir seluruh propinsi di Indonesia satu persatu tumbang tertembus peluru. Mayatnya dibiarkan tergeletak dijalan, di masukkan kedalam tempat sampah, di bungkus karung, atau di tinggalkan di lorong-lorong yang gelap. Kemunculan para petrus nampaknya menargetkan para pelaku kejahatan jalanan, penjambret, pencopet, juga orang-orang bertato yang sangat identik dengan premanisme. Namun kemunculannya yang sangat misterius serta cara mereka menentukan target operasi penembakan yang tidak jelas menjadi terror mengerikan bagi siapapun termasuk juga warga sipil yang tidak melakukan tindakan kejahatan jalanan sekalipun.

Mereka muncul tidak lebih dari dua bulan, tetapi efeknya luar biasa. Kejahatan menurun. Preman dan orang-orang bertato tidak berani keluar kejalan. Setelah para narapidana pelarian penjara satu-persatu berhasil kembali ditangkap dan dimasukkan kepenjara,para petrus menghilang dari Republik Indonesia. Banyak yang bersukur, kemunculannya menjadi teror tersendiri bagi para preman, tapi tidak sedikit yang kontra karena tindakan para petrus sendiri sangat sadis dan tidak berperikemanusiaan.

Mata Ria masih berapi-api “Kalau saja para polisi waktu itu bertindak lebih tegas dalam menghadapi Napi-napi yang kabur dari penjara, tentu petrus tidak akan muncul. Mereka itu adalah bentuk kekhawatiran masyarakat yang takut terhadap teror para pelaku kriminal.”

“Kami para polisi memiliki peraturan kami sendiri. Kami tidak asal tembak dijalan. Kami hanya menghukum mereka yang benar-benar dinyatakan bersalah oleh pengadilan yang syah dan diakui oleh Negara.” Suara Angga meninggi.

“Toloooongg!!!! Jambret!!!” seorang ibu –ibu diseberang jalan tempat makan Angga dan Ria berteriak dalam posisi tersungkur ditanah tak jauh darinya terlihat seorang lelaki menggendong tas jinjing berwarna merah emas berlari menjauh.

“Kamu tunggu disini ya, biar aku kejar jambretnya” Angga berlari mengikuti jambret itu memasuki lorong di antara gedung-gendung pencakar langit. Penjambret itupun berlari didepannya sambil sesekali memungut segala macam barang yang dia temukan kemudian melemparnya kearah Angga yang semakin mendekat mengejarnya. Ria sendiri sudah tidak nampak di restoran tempat dia makan malam bersama Angga. Sejurus setelah Angga berlari mengejar penjambret ke dalam gang, Ria meninggalkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan melangkah mengikuti arah Angga berlari.

Aksi kejar mengejar di lorong-lorong kota itu terhenti ketika penjambret sudah memasuki daerah kumuh dipinggiran kota. Angga melompat merobohkannya berusaha merebut tas merah emas yang ada ditangannya. Baku pukul tidak terhindarkan lagi. Angga seorang polisi yang sudah sangat terlatih dalam bela diri karate terlihat lebih unggul dalam pengalaman. Tak kurang dia setidaknya membuat si penjambret itu tiga kali jatuh tersungkur karena pukulan dan tendanganya.

Sudah pasti kalah, penjambret itu melempar tas hasil jambretanya, sembari berlari menjauh dari Angga. Angga sendiri yang sempat lengah karena menghindari lemparan tas yang menuju tepat kewajahnya telat menyadari si penjambret telah kembali berlari memasuki lorong-lorong gedung kemudian menghilang dalam kegelapan.

Angga geram karena gagal menangkap penjambret itu. Dipegangi pipinya yang agak membengkak karena sempat terkenal pukulan sambil dia memungut tas merah emas.

Saat dia berbalik hendak kembali ke restoran tempat dia makan dia melihat Ria sedang tak berdaya. Dia disandra oleh seseorang berpostur tinggi besar membawa belati yang siap menggorok leher kekasihnya.

“Serahkan Tas itu, atau kugorok leher pacarmu” hardik Pria itu, disampingnya seorang laki-laki lain yang sangat dikenal Angga tersenyum sinis si penjambret yang kabur.

“Kalian berdua tidak tahu malu, beraninya menyandra wanita” Angga melemparkan tasnya kearah penjambret dan Pria berbadan besar.

“Berdua? Sepertinya kamu salah hitung” pria berbadan itu tersenyum sumringah, dari belakangnya keluar empat pria lain membawa tongkat besi dan pisau.

“Sudah terlambat untuk menyesal, karena tingkahmu yang sok pahlawan itu kini kamu harus menjalani hukuman yang pahit. Mati!!!” pria besar itu memberi kode pada anak buahnya untuk menghajar Angga.

Dengan Ria adanya sebagai Sandra si pria berbadan besar, Angga tidak bisa mengambil resiko untuk melawan. Dia hanya berusaha melindungi dirinya dengan tanganya atau sesekali menghindar untuk menepis pukulan dan tendangan yang datang. Tapi bahkan seorang yang ahli di seni bela diri seperti Angga akan sulit bertahan melawan 4 orang sekaligus.

“DOOOR!!!!” terdengar suara tembakan, sejurus kemudian Pria besar itu ambruk bersimbah darah. Di dahinya terlihat sebuah lubang tertembus peluru. Tembakan pertama itu langsung disusul dengan tembakan ke dua, sampai ke lima. Preman-preman yang awalnya mengkeroyok Angga tumbang satu persatu, menyisakan si penjambret yang berdiri disamping Ria.

Penjambret itu shock ketakutan, wajahnya pucat. Setengah sadar dia berbalik berniat melarikan diri masuk ke lorong bersembunyi, tapi terlambat. Satu buah tembakan lain menyusul mengenai bagian kepala belakangnya. Dia terjerembab setelah beberapa saat tubuhnya mengejang bergetar dia tewas.

Ria terduduk lemas, Angga dengan cepat menghampiri dan menopangnya. Mereka masih belum bisa benar-benar mencerna peristiwa yang baru saja mereka alami. Beberapa saat kemudian ketika kesadaran Ria sudah mulai kembali dari Shock jari telunjuknya menunjuk kearah sebuah gedung dua lantai yang tidak terpakai.

“Seseorang menembak dari arah gedung itu, aku sempat melihat percikan api dari senjata yang dia gunakan, diatap gedung itu,” Ria berbicara dengan nada bergetar.

“Tidak mungkin, gedung itu berjarak hampir satu setengah kilo dari sini, dan ini malam hari, tidak mungkin seseorang menembak dari jarak itu” Angga tidak bisa percaya dengan yang dikatakan oleh Ria.

“Ada… ada orang-orang yang bisa menembak dari jarak jauh di malam hari seperti yang ini..” Ria mengalihkan pandanganya ke pada Angga.

Angga sendiri nampak gusar “Maksudmu… mereka??”

Ria Mengangguk “iya…. petrus…..”

20 menit kemudian tempat itu sudah di penuhi oleh polisi, petugas medis dan wartawan. Angga dan Ria sedang berada dalam perawatan staff medis ketika seorang berjaket kulit dan di perkirakan oleh Ria berumur sekitar 45 tahun menghampiri mereka. Angga dengan sigap berdiri dan memberikan hormat. Dari dalam jaket kulitnya sedikit mengintip baju yang di kenali Ria sebagai seragam polisi dan melihat respon Angga yang langsung berdiri dan memberikan hormat menunjukkan kalau orang tersebut memiliki jabatan yang tinggi di kepolisian, mengingat Angga sendiri memiliki pangkat yang cukup tinggi di kepolisian.

Pria berjaket kulit tersebut kemudian membalas hormat Angga yang kemudian kembali menurunkan tangannya di ikuti dengan angga yang juga menurunkan tangannya dari sikap hormat. “ Angga bisa jelaskan kepada saya bagaimana kronologi kejadiannya? “

“ Siap pak! Saya dan tunangan saya sedang makan malam di restoran ketika tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang berteriak karena telah di jambret. Saya sesegera mungkin berlari mengikuti penjambret tersebut memasuki gang, hingga sampai di tempat ini.” Angga berusaha menjelaskan kronologi kejadian yang baru saja menimpanya dengan Ria

“lanjutkan” perintah si pria berjaket kulit

“didalam gang ini saya berhasil merebut kembali tas yang telah di jambret, namun ketika si penjambret saya kira telah kabur ternyata dia kembali ditemani beberapa orang lain dan juga salah satu dari mereka yang berbadan besar manjadilkan tunangan saya sebagai Sandra sehingga saya tidak bisa melawan.”

“ lalu bagaimana mereka pada akhirnya tewas tertembak peluru tepat dikepalanya? “ Tanya pria berjaket kulit menyelidik

“Tunangan saya melihat semacam percikan api dari sebuah tembakan yang berasa dari atap gedung sebelah sana pak. Seorang penembak jitu yang bisa menembak dari jarak jauh dimalam hari“ Angga menunjuk kearah sebuah gedung yang berjarak kurang lebih 1,5 km dari posisi mereka. Gedung itu sendiri masih dalam tahap konstruksi dan di rencakan dibangun sebagai sebuah rumah sakit.

Si pria berjaket kulit itu kemudian mengangguk mengerti “ Tunanganmu siapa namanya? ”

“Ria pak”

Si pria berjaket kulit tersebut mengalihkan pandanganya kepada Ria “Mbak Ria, saya tahu saat ini anda masih shock terhadap apa yang terjadi karena itu untuk mencegah keadaan menjadi lebih buruk, sebaiknya anda tidak memberikan pernyataan apa-apa terhadap media.”

Mendengar kata-kata si pria berjaket kulit tersebut si Ria geram “ Maksud bapak apa berbicara seperti itu kepada saya?”

“Seperti yang saya katakan, saat ini anda sedang shock dan tidak bisa berpikir jernih terhadap apa yang terjadi, saya tidak mau anda justru akan memberikan informasi yang salah dan justru memperburuk keadaan dan menimbulkan kepanikan di masyarakat tentang cerita seorang penembak jitu yang menembak mati 5 orang penjahat jalanan.” Si pria berjaket kulit itu berkata dengan dingin kemudian berbalik hendak meninggalkan tempat Angga dan Ria di rawat.

“Saya tahu yang saya liat dan anda tidak bisa melarang saya untuk berbicara kepada media tentang apa yang sebenarnya terjadi”

Si pria berjaket kulit kemudian berhenti dan berbalik melihat Ria yang sedang berdiri sambil menunjukkan wajah yang penuh amarah. Si pria berjaket kulit tersebut kemudian mengalihkan pandangannya kepada Angga “Saudara Angga, anda seorang polisi, anda tahu prosedurnya, tolong anda jelaskan kepada tunangan anda dan biarkan saya mewakili pihak kepolisian yang memberikan keterangan terkait kasus ini.”

Angga kemudian mengangguk dan memberikan hormat “Siap pak”

Si pria berjaket kulit tersebut kembali berbalik dan melanjutkan berjalan di ikuti seorang yang nampaknya adalah ajudannya menuju mobil dan langsung meninggalkan tempat kejadian perkara.

Ria sendiri kemudian diminta tim medis untuk menaiki ambulance untuk kemudia dibawa kerumah sakit guna mendapatkan perawatan lebih lanjut karena goresan pisau di leher yang tidak disadarinya setelah perdebatan kecilnya dengan si pria berjaket coklat serta bagaimana malam ini dia melihat dengan mata kepalanya sendiri sebuah aksi luar biasa seorang penembak jitu yang bisa menembak dengan akurat dari jarak jauh di tengah kegelapan malam. Sebuah kejadian mengerikan yang di yakininya dilakukan oleh anggota penembak misterius atau lebih di kenal dengan istilah petrus.
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
2 0
2
Petrus Trilogi, Indonesian Action Thriller Story
30-09-2015 20:40
File 002 : Untold

Ria berada disebuah ruang gelap gulita ketika tiba-tiba dibelakangnya seorang lelaki berbadan besar mengunci kedua tanganya. Tangan kiri pria itu mengalungkan sebuah belati tajam, siap menggorok lehernya.

Ria berusaha berontak sejadi-jadinya tapi lelaki itu sama sekali tidak bergeming. DORR!!! Pria tinggi besar itu terjatuh bersimbah darah dengan lubang peluru di keningnya. Saat Ria mengalihkan pandangan mencari arah asal tembakan. Sebuah tembakan lain terdengar, pelurunya menembus tepat ke jantungnya. Ria terbangun di sebuah ruangan putih bersih, bau obat-obatan yang kuat sesekali tercium oleh hidungnya.

“mimpi…” gumam Ria.

Tok tok, terdengar suara pintu diketuk pelan dari luar. Sejurus kemudian pintu perlahan terbuka. Angga menyeruak masuk dengan sebuah senyum ramahnya, beberapa lebam terlihat diwajahnya.

“Pagi..” sapa Angga hangat, sambil menarik sebuah kursi untuk duduk disampping kasur Ria.

“Angga, kita dimana?” wajah Ria masih pucat.

“Kita dirumah sakit, setelah kejadian semalam kamu collapse, jadi aku langsung bawa kamu kesini” kata Angga.

Ria mengingat kejadian semalam saat dia menjadi sandra sekawanan penjambret dan munculnya sesosok penembak misterius yang dia yakini seorang petrus. Dia tertunduk lesu, tanganya bergetar ngeri mengingat kejadian itu.

“Sudah, jangan di ingat lagi, saat ini kepolisian masih mengusut menyelidiki penembak misterius itu” Angga mencoba menenangkan Ria. “Oh iya tadi aku sudah telpon ke kampusmu untuk meminta ijin agar kamu bisa istirahat satu atau dua hari”.

“Makasih” Ria tersenyum manis.

“iya sayang, oh iya tadi aku sudah bicara dengan dokter, katanya kamu tidak apa hanya saja kamu mungkin masih butuh istirahat paska trauma, jadi harus beristirah 1-2 hari” Angga menjelaskan sambil mengelus kepala Ria tunangannya yang kini memerah seperti kepiting rebus.

Suasana tiba-tiba menjadi hening, Angga mendekatkan bibirnya ke bibir Ria yang kini sedang menutup matanya menunggu dengan berdebar-debar ciuman dari Angga. Kriek!!! Suara pintu dibuka dari luar

“Woi anak kampret, bangun loe…. Manja amat jadi…..” Reza menghentikan ucapanya melihat Angga dan Ria yang hampir berciuman. Menyadari kehadiran Reza, Angga segera memperbaiki posisinya. Wajah Ria sendiri semakin memerah menahan malu.

Beberapa menit berlalu setelah kejadian itu suasana masih canggung. Mereka bertiga diam di ruangan, tidak berbicara sambil menunduk bingung mau berbicara. “Eh maaf, ngganggu kalau mau aku biar keluar dulu aja, kalian terusin aja dulu” ucap Reza yang berusaha mencairkan suasana tapi malah kata-kata konyol yang keluar.

“Goblok!” kutuknya dalam hati.

“Ah elu nyet, ganggu aja…. hahahaha” canda Ria sambil di ikuti ketawanya yang riuh serta sedikit senyuman Angga yang ada di sebelahnya.

Angga kemudian berdiri, dan mencium kening Ria “Yaudah, aku balik kerja dulu ya, Pak Fajril memintaku cepet ke kantor buat kordinasi konferensi pers tentang masalah penembakan semalam”

“Hati-hati…” ucap Ria sambil menggenggam tangan Angga

“Iya..” Angga pun melepas genggaman tangan Ria kemudian, mengelus kepalanya sebentar sebelum akhirnya berjalan kearah pintu melewati Reza.

“Titip Ria ya za”

“Siap komandan!!” Reza memberi hormat berpura-pura menirukan gaya seorang polisi. Anggapun kemudian berlalu dengan senyum simpul khasnya.

Bugh!!! Sebuah bantal melayang tepat mengenai samping kepalanya “Anj*ng tengsin gue nyet… loe ngapain nyelonong masuk gak pake ketuk pintu dulu”

“Woi anak kampret, makanya loe kalau mau mesum pintu tuh di kunci, kalau gak kasih tulisan yang gede di pintu : Lagi baik, jangan di ganggu”

Reza dan Ria memang vulgar kalau bercanda. Mereka berdua sudah cukup lama akrab semenjak diduetkan mengampu sebuah acara music di stasiun radio kampusnya, namun semester ini mereka terpaksa berpisah saat siaran karena jadwal kuliah mereka yang berbeda. Berbeda dengan Ria yang kuliah jurusan Komunikasi, Reza kuliah jurusan ekonomi.

“Loe ngapain pagi-pagi dah disini nyet? Biasa juga jam segini masih molor loe”

“Habis dari Café-nya Tio. Cafenya lagi renovasi, gue disuruh bantuin nata bangku, ni baru pulang ngantuk banget” Rezapun rebahan di kursi panjang sebelah kasur Ria.

“Eh Monyet, enak banget hidup loe, dateng-dateng maen rebahan…” sergah Ria sambil melempar lagi satu bantal kearah Reza.

Dengan cekatan Reza menangkap bantal yang di lempar oleh Ria dan langsung di gunakanya buat menyengga kepalanya “Kamar VIP emang beda ya. Bantalnya empuk, mana ada AC-nya lagi. Mantap”

“eh nyet kalau mau tidur pulang sono ke kosan, malah nangkring disini”

“Ogah ah, jauh, gue gak punya ongkos” Reza pun dengan cueknya mulai menutup matanya hendak tidur.

Ria yang kesel mengambil bantal pertama yang terlempar tidak jauh dari pintu kamar, kemudian menghampiri Reza dan mendekapkan bantal tersebut di wajah Reza yang hampir tertidur.

“ehmmmm..ehmmmm” Reza sekuat tenaga berusaha mendorong Ria. Setelah berjuang cukup keras akhirnya dia berhasil juga melempar bantal yang di pake Ria buat menutup wajahnya.

“Mau bunuh gue loe??”

“Salah sendiri, kesini malah numpang tidur doang” ucap ria

Terdengar sayup-sayup suara TV, nampaknya remote TV yang berada didekat Reza terpencet ketika wajahnya ditutup Ria menggunakan bantal. “Saat ini kami akan menayangkan pernyataan resmi dari kepolisian mengenai penangkapan komplotan preman di daerah kota lama semarang yang berakhir dengan kematian 6 anggota preman karena tertembak timah panas oleh petugas.”

Dilayar TV kini menunjukkan seorang pria dengaan attribut polisi lengkap. Wajahnya familiar dengan kumis tebal diatas bibirnya, dia adalah pria berjaket kulit yang di temui Ria dan Angga Semalam. Di bagian bawah layar TV tersebut tersemat tulisan Irjen. Dedi Wiryawan Kapolda Jawa tengah.

Ternyata pria semalam yang ditemuinya bersama dengan Angga adalah seorang Kapolda, pantas Angga nampak begitu canggung ketika bertemu dengannya. Tapi mengapa sampai seorang kapolda datang ke TKP, meskipun itu kasus cukup besar karena menyebabkan 6 orang meninggal tidak biasanya seorang Kapolda turun langsung kelapangan. Ria nampak serius memikirkan kejadian semalam. Namun ketika sang kapolda mulai berbicara dia jadi semakin kebingungan.

“Berkat usaha dan aksi luar biasa dari Ipda Angga serta beberapa rekannya akhirnya kepolisian semarang berhasil melumpuhkan kawanan preman yang sudah cukup lama melakukan kejahatan jalan di kawasan kota lama. Preman-preman yang di ketuai Joko Kribo alias jekro ini sudah lama menjadi target operasi kepolisian karena aksi pembegalan yang di sertai kekerasan dan tidak segan-segan merenggut nyawa korban.

Air mata Ria menetes, tangannya menutup mulutnya menunjukkan kekagetan luar biasa ketika di layar TV Kapolda tersebut menunjukkan foto Joko Kribo alias Jekro yang tidak lain adalah orang berbadan besar yang menyandranya semalam.

“Untuk lebih jelas mengenai kronologi kejadian pengejaran komplotan preman tersebut akan di jelaskan oleh langsung oleh Ipda Angga.” Kamera TV pun bergeser menyorot kearah Angga.

Dalam konferensi pers tersebut Angga menjelaskan mengenai awal mula pengintaian komplotan Jekro, hingga semalam penggrebekan di markas, serta bagai mana penggrebekan itu beakhir dengan adu tembak yang menewaskan 6 anggota geng jekro yang berusaha melarikan diri sehingga harus di hentikan dengan tembakan. Sebuah penjelasan yang sangat berbeda dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Sebuah tanda tanya besar ada di kepala Ria, mengapa sampai pihak kepolisian melakukan konferensi pers demi menutupi fakta kejadian yang sebenarnya.

“Wah Angga Hebat ya, ini prestasi yang luar biasa.” Celetuk Reza yang ternyata ikut menonton berita yang sedang ditayangkan di TV.

“Yang di katakan Angga itu nggak benar, gue di situ pas kejadian… kejadianya gak kek gitu? Kenapa dia bohong” Ria menghela nafas panjang

“Maksut loe gak bener gimana Ri?”

“Bukan Angga yang menembak ke 6 preman itu, ada orang lain yang menembak mereka dari jarak jauh”

“Menembak dari jarak jauh?” Reza berusaha menkonfirmasi perkataan Ria

“Iya, ada seseorang yang menembak mereka dari atas gedung yang belum jadi”

“maksut loe gedung yang mau dibangun jadi Rumah Sakit itu?? Yang bener aja itu kan satu kilo lebih jaraknya”

Ria hanya mengangguk.

Dorr!!! Terdengar suara tembakan dari dalam TV mengaggetkan mereka berdua, dalam tayangan langsung tersebut terlihat orang-orang berlarian karena panic dan beberapa ada yang bersembunyi di bawah meja serta kursi, ada juga yang terjatuh dan beberapa kali terinjak kerumunan.

“Apa yang terjadi? Dimana Angga?” terlihat Ria panik, dia kebingungan mencari sosok Angga diantara kerumunan. Segera dia menyambar handphone yang tergeletak di meja dekat tempat tidurnya. Panic dia berusaha menelpon ponsel Angga namun tidak aktif

“Nyet….. Angga nyet…. Angga…..” Ria pucat, sesenggukan menangis sambil masih terus berusaha menelpon handphone Angga.

“Tenang Ri, Kita belum tahu apa yang terjadi, Angga pasti gak papa, dia kan kuat” Cuma kata-kata itu yang bisa keluar dari mulut Reza, namun nampaknya itu tidak cukup untuk menenangkan Ria yang panik.

Ria masih terus berusaha menelpon Angga, ketika akhirnya siaran berlanjut. Seorang reporter perempuan tampak masih agak pucat dengan tangan bergetar berusaha mengatur nafasnya seperti telah melihat sesuatu yang mengagetkan. “Pemirsa, baru saja sesaat tadi, saat konferensi pers yang dilaksanakan oleh POLDA Jawa Tengah. Ipda Angga Hermawan mengalami penembakan ketika sedang menjelaskan kronologi operasi penangkapan geng jekro. Masih belum ada info lebih lanjut tentang kondisi Ipda Angga.”

“Anggaaaaaa!!!!!!!” Ria berteriak keras sebelum akhirnya pingsan.
Diubah oleh clowreedt
profile-picture
profile-picture
ariefdias dan jiyanq memberi reputasi
3 0
3
Petrus Trilogi, Indonesian Action Thriller Story
30-09-2015 23:03
Ijin menyimak dan...kyanya bgs ceritanya, btw kok kapolda pangkatnya cmn kompol? Biasanya minimal brigjen atau irjen...si angga jg pangkatnya ga tinggi2 amat, bru level bintara...tp overall ceritanya keren gan...
profile-picture
mika704 memberi reputasi
0 1
-1
Petrus Trilogi, Indonesian Action Thriller Story
30-09-2015 23:13
Semangat gan. Numpang majang tiker
0 0
0
Petrus Trilogi, Indonesian Action Thriller Story
30-09-2015 23:47
Briptu mah masih bintara bro, mending ganti pangkatnya ke iptu, atau ipda yng udah perwira, kan katanya pangkat si angga udh tinggi emoticon-Big Grin
.
Dan lagi, kapolda pangkatnya harusnya irjen kalo kompol keredahan bro emoticon-Big Grin
1 0
1
Petrus Trilogi, Indonesian Action Thriller Story
30-09-2015 23:54
Mantapppp...
Ijin bangun gubug di mari, gann..
2 0
2
Petrus Trilogi, Indonesian Action Thriller Story
01-10-2015 00:46
Wah kayaknya bakalan jadi cerita menarik nih. Semoga aja ngga ada sangkut pautnya sama si anu ya gan. Hehehe
0 0
0
Petrus Trilogi, Indonesian Action Thriller Story
01-10-2015 01:25
yah padahal ane baru aja mau nulis cerita ginian mau ane judulin "the vigilante" eh keduluan agan emoticon-Big Grin emoticon-Malu (S)
keep update gan ! emoticon-Ngakak (S)
0 0
0
Petrus Trilogi, Indonesian Action Thriller Story
01-10-2015 03:23
Quote:Original Posted By Spriadhys
Ijin menyimak dan...kyanya bgs ceritanya, btw kok kapolda pangkatnya cmn kompol? Biasanya minimal brigjen atau irjen...si angga jg pangkatnya ga tinggi2 amat, bru level bintara...tp overall ceritanya keren gan...


ane buta kepangkatan polisi tuh bijimane emoticon-Big Grin

entar ane edit.... mangap-mangap emoticon-Big Grin

Quote:Original Posted By ksatriamelvin
Semangat gan. Numpang majang tiker


#kasih kopi

Quote:Original Posted By lFlFallen
Briptu mah masih bintara bro, mending ganti pangkatnya ke iptu, atau ipda yng udah perwira, kan katanya pangkat si angga udh tinggi emoticon-Big Grin
.
Dan lagi, kapolda pangkatnya harusnya irjen kalo kompol keredahan bro emoticon-Big Grin


iya gan, makasih koreksinya

Quote:Original Posted By waluyorisk
Mantapppp...
Ijin bangun gubug di mari, gann..


silahkan gan

Quote:Original Posted By miripluna
Wah kayaknya bakalan jadi cerita menarik nih. Semoga aja ngga ada sangkut pautnya sama si anu ya gan. Hehehe


kenapa setia ada yang bilang anu kita jadi kepikiran anu

Quote:Original Posted By zooeydesch
yah padahal ane baru aja mau nulis cerita ginian mau ane judulin "the vigilante" eh keduluan agan emoticon-Big Grin emoticon-Malu (S)
keep update gan ! emoticon-Ngakak (S)


bikin aja gan, ntar ane sekalian liat-liat kali aja bisa jadi referensi buat story ane emoticon-Smilie)

atau kalau gak bikin story petrus origin agan sendiri, ane udah ngonsep senggaknya ada 4-5 orang petrus selain tokoh utama yang bakal masuk di final Act, tapi perjalanan buat Final Act masih jauh, ini aja masih prolog emoticon-Big Grin
0 0
0
Petrus Trilogi, Indonesian Action Thriller Story
01-10-2015 03:50
File 003 : Kontradiksi

Ria terbangun dengan rasa nyeri di kepalanya. Dia masih tertunduk memegangi kepalanya ketika dia teringat tentang angga.

“ANGGAAAA!!!!” Ria berteriak keras.

Langsung saja 2 orang laki-laki yang di kenalnya masuk ke kamar dengan tergesa-gesa. Di kiri di lihatnya Reza yang masih menggenggam permen lollipop yang selalu di bawanya semenjak berhenti merokok beberapa bulan lalu. Di kanan seorang pria berbadan tegap berpakaian polisi, Angga.

Ria nampak sangat lega, dipeluknya tunanganya yang berdiri tepat di sisi kanan kasurnya.

“Auww” Angga menjerit

Ria yang kaget langsung melepaskan pelukannya sambil memandang tunanganya dengan mata yang berkaca-kaca. “Sayang kamu nggak papa?”

“Nggak papa kok yang, cuma ketembak doang, di dada lagi. Aku kan strong” canda Reza sambil nyengir kuda.

Ria diam saja, tapi pandangan matanya jelas memancarkan niat membunuh. Rezapun memilih cari aman buat pergi meninggalkan kedua sejoli itu dikamar dia sudah terlalu tua untuk mati muda di tangan Ria.

“Sayang, aku kira kamu…..” tangisan Ria pun pecah tidak dapat melanjutkan kata-katanya.

“Nggak kok, aku gak papa. Sebelum tampil dalam konferensi pers Pak Dedi menyuruhku menggunakan rompi anti perluru. Dia takut si penembak misterius itu akan mengincar kita karena kita merupakan saksi mati aksinya membunuh preman-preman itu”

“Saat ini keberadaan kamu di Rumah sakit ini dirahasiakan. Untuk menjaga hal-hal yang tidak di inginkan besok setelah kamu keluar dari rumah sakit, akan ada pengawalan khusus dari kepolisian untuk menjaga keamanan kamu” lanjut Angga.

“Pengawalan? Gak mau.. berlebihan banget sampai musti ada pengawalan segala.”

“Tapi ini penting yang, buat keselamatan kamu”

“Kamu aja kan bisa jaga aku, gak usah polisi lain. Lagian kalau emang yang mentarget kita itu petrus yang memiliki kemampuan menembak jitu dari jarak sekian kilo mau dijaga 2-3 polisi juga tetep aja gak pengaruh” Ria pun bersungut-sungut menolak adanya penjagaan polisi terhadap dirinya.

“Gini deh, kamu biarin polisi ngejaga kamu, gak usah lama-lama. Seminggu aja, prosedural, kalau memang dalam seminggu tidak ada ancaman dari si penembak misterius itu penjaga kamu aku tarik” Angga berusaha meyakinkan Ria

“Dua hari” tawar Ria

“Sayang ini buat keamanan kamu… lima hari gimana??”

“Tiga hari, kalau gak mau, gak usah ada pengawalan”

Angga pun terpaksa mengalah menuruti keinginan tunangannya tersebut, Ria terlalu keras kepala untuk ambil pusing protokoler polisi dan tetek bengeknya, lagi pula memang benar jika lawannya penembak misterius yang memiliki kemampuan penambak jitu jarak jauh, pengawalan polisi tidak akan banyak membantu.

Dua hari sudah berlalu sejak Ria keluar dari Rumah Sakit, Dua hari pula dia di ikuti oleh 2 orang polisi yang senantiasa berjaga di sekitarnya baik ketika dia dirumah, di stasiun radio tempat dia siaran, hingga kampus ketika kuliah. Memang kedua polisi yang mengawalnya tersebut menjaga jarak cukup jauh 5-10 meter, sehingga Ria cukup leluasa bergerak tapi rasa risih karena terus menerus diawasi hingga hampir 24 jam sehari membuatnya stress juga.

“Woi kampret, loe anak kampret apa anak mafia sih? Serem gitu bawa bodyguard kemana-mana” Si Reza nampak bahagia, nikmat banget dia ngeliat Ria stress datang ke radio di ikutin ma 2 orang body guard.

“Sialan lo nyet!! Stress tahu gue… Bete..”

“Mampus loe, songong sih loe jadi orang… Kapolda dilawan” tahu kalau Ria lagi bête Reza makin semangat ngebully. Ria sudah memberi tahu Reza tentang perdebatan Ria dengan Pak Dedi yang tidak lain adalah kapolda Jawa Tengah, serta pengawalannya ini selain upaya perlindungan dari penembak misterius yang mungkin mengancam nyawa Ria, juga untuk menjaga agar Ria tidak menyebarkan cerita tentang penembak misterus yang membunuh 6 orang anggota geng Jekro.

“Brengs*k tuh kapolda, gak enak banget nih kemana-mana kek punya ekor. Kalau aja gue punya kekuatan gaib udah gue santet biar muntaber tujuh turunan”

“Buset lama amat tujuh turunan? Tanjakannya gak sekalian? Lagian bukannya loe emang punya kekuatan ghaib? Tuh Si Angga aja sampai tergila-gila ma loe. Bagi sini ilmu peletnya”

“Yee anak songong, sini gue isep ubun-ubun loe, biar mampus sekalian”

“Gak mau ngisep Reza kecil aja Ri? Kali aja keterusan trus kita khilaf gitu” Reza tersenyum mesum.

Bletak!! Sebuah toyoran sukses mendarat di kepala belakang Reza “Tapi aneh tahu nyet, kenapa ya kesannya Polisi gak mau banget cerita Tentang Penembak misterius itu sampai nyebar”

Reza pun mengelus-elus bagian kepalanya yang habis kena toyor oleh Ria “Yaelah si oneng, entah si penembak misterius itu bener atau bohongan, keberadaanya bisa sangat mengganggu ketentraman umum”

“Bayangin aja gimana chaosnya masyarakat kalau tahu di lingkunganya ada seseorang yang tidak segan-segan menembak orang lain hingga meninggal bebas berkeliar. Ditambah lagi nih ya setelah waktu yang lama polisi bahkan tidak menemukan sedikitpun petunjuk tentang siapa pelaku dan apa motifnya. Semua orang gak akan tenang, was-was karena takut menjadi target penembakan selanjutnya” Reza menjelaskan sudut pandangnya. Sebenarnya apa yang Reza jelaskan sama dengan apa yang di jelaskan oleh Angga ketika makan malam dengan Ria tepat sebelum kemunculan si penembak misterius, namun entah mengapa ketika Reza yang mengatakannya semua lebih masuk akal bagi Ria.

“Wuih tumben pinter loe monyet…” ucap Ria mengangguk-angguk menyetujui pendapat Reza

“Yaelah oneng, gua mah dari dulu kali pinternya, loe aja yang oneng makanya nyadarnya baru sekarang”

“Bahkan setelah mengekspose keberadaanya sendiri di depan media ketika penembakan Angga tetep aja media adem ayem seolah keberadaan penembak misterius itu hanya isapan jempol padahal gue jelas melihat mereka dengan mata kepala gue sendiri” Ria menarik nafas panjang.

Penembakan Ipda Angga ketika konferensi pers di klaim oleh pihak kepolisian sebagai bentuk balas dendam pecahan geng Jekro yang pemimpinnya mati tertembak timah panas petugas. Hal ini semakin menguatkan argument kepolisian tentang sudah lamanya geng jekro menjadi incaran polisi sekaligus mengaburkan fakta yang membunuh anggota geng tersebut adalah seorang petrus.

“Tapi kasus penembakan Angga kemaren janggal sih menurut gue. Kalau menurut cerita kakek gue, petrus itu Cuma menyerang dan membunuh pelaku kejahatan jalanan dan preman.”

“Iya juga ya nyet, gue sendiri sebenernya lagi bikin riset tentang keberadaan petrus itu. Pas malam kejadian pembantaian geng jekro itu malah gue ma Angga lagi debat perkara Petrus” nampak Ria mengernyitkan dahi.

Reza pun menggeleng “bukan gitu kampret. Aneh aja menurut gue, malam hari sebelumnya dia membunuh 5 orang anggota geng pelaku tindakan criminal, gak sampai selisih 24 jam kemudian dia menembak seorang ipda polisi yang sedang melakukan konferensi pers secara live di TV.”

“lagia kalau memang dia menembak Angga buat menutup mulut agar mereka tidak terekspose dia harusnya tidak melakukannya ketika konferensi pers secara live. Dan targetnya harusnya bukan Angga tapi loe.”

“Apapun itu, kita harus nyari tahu siapa sebenernya penembak misterius itu? Kenapa baru muncul sekarang?” Ria menggigit kuku jempol nya. Ria memang selalu melakukan hal tersebut kalau sedang serius berpikir.

“Nyari tahu?? Ngapain? Bego loe, udah itu biar di urus ama polisi aja” sergah Reza

“Polisi gak bakal ngekspose ke media, mereka bakal menutup-nutupi sama kek yang di lakukan pada kejadian beberapa malam kemaren”.

Tiba-tiba Ria seperti mendapat pencerahan “Nyet, mungkin gak kalau kejadian penembakan misterius itu bukan baru kemaren terjadi? Tapi karena ditutupi oleh polisi jadi gak ada beritanya atau beritanya di palsukan”

“Maksut loe? Praktek pembunuhan oleh penembak misterius itu selama ini sudah sering terjadi tapi sengaja ditutupi oleh kepolisian?”

“iyaps, bener banget…”

Reza nampak mengernyitkan dahi sepertinya dia ragu memberi jawaban atas pernyataan Ria, hingga akhirnya “Menurut gue sih bisa aja, tapi kalau sampai itu ditutup-tutupi oleh polisi berarti itu informasi yang berbahaya. Bisa mampus loe, mungkin bukan karena di bunuh penembak misterius, bisa aja justru polisi yang berusaha ngebungkam loe”

Ria nampak sedikit ragu, namun akhirnya kekerasan kepalanyalah yang menang “Gue gak peduli. Gue musti nyari kebenaran tentang hal ini”

“Jiah kumat lagi songongnya, woi kampret loe tahu kan gara-gara ini loe bisa mokad… lagian kenapa sih loe jadi getol banget nyari info tentang penembak misterius ini?”

Ria nampak murung, air mata tiba-tiba mulai menetes di pipinya “Kakak gue… 4 tahun lalu kakak gue hilang setelah di jemput oleh beberapa orang yang tidak gue kenal. Beberapa hari kemudian saat polisi memeriksa kamarnya untuk mencari petunjuk tentang keberadaan kakak gue mereka menemukan beberapa pucuk senjata api.”

Rezapun terkaget-kaget “Gila!! Serius loe??”

“Iya, itu pertama kalinya gue denger kata Petrus, sebutan untuk penembak misterius. Kakak gue dicurigai sebagai anggota penembak misterius. Papah mamah ma gue sendiri di interogasi tentang keberadaan kakak gue. Selepas interogasi yang sangat lama dan melelahkan itu keluarga gue dilepas karena memang tidak memiliki informasi apapun tentang keberadaan kakak gue dan keterlibatannya dengan organisasi petrus. Tapi ya gitu keluarga gue diharuskan wajib lapor ke kepolisian sebulan sekali dan masih rutin kami lakukan sampai sekarang.”

“Loe berharap bisa nemuin kaka loe?”

“iya, Loe bantu gue ya nyet….” Kali ini Ria meminta dengan mata yang berkaca-kaca. Luluh juga si reza akhirnya melihat permintaan Sahabatnya tesebut.

“Oke deh, gue bantu loe… tapi inget pencarian kita kali ini bisa jadi amat bahaya, dan gue gak bisa jamin kalau loe akan senang dengan apa yang mungkin kita temuin.”

“Makasih ya nyet….” Ria memeluk erat Reza dengan perasaan yang senang dan bersyukur memiliki sahabat yang bisa di andalkan. Reza membalas pelukan Ria dan mengelus rambutnya pelan.

“Kamu tahu gue sayang sama loe Ria, gue bakal ngelakuin segalanya buat loe” Kata-kata itu hanya terucap di batin Reza. Petualangan mereka berdua mencari kebenaran mengenai keberadaan petrus dan apa yang terjadi dengan Kakak Ria yang hilangpun dimulai.


profile-picture
profile-picture
ariefdias dan jiyanq memberi reputasi
2 0
2
Petrus Trilogi, Indonesian Action Thriller Story
01-10-2015 05:15
a quite nice story mate emoticon-Cool
gw suka nih cerita yg kek gini..
numpang nenda yah..



-pandaibesi666 was here-
1 0
1
Petrus Trilogi, Indonesian Action Thriller Story
01-10-2015 09:34
Yeay ada bacaan baru emoticon-Kiss (S)
Tandai dulu emoticon-Paw

Quote:Original Posted By zooeydesch
yah padahal ane baru aja mau nulis cerita ginian mau ane judulin "the vigilante" eh keduluan agan emoticon-Big Grin emoticon-Malu (S)
keep update gan ! emoticon-Ngakak (S)


Buat aja gan, berkah buat reader kayak ane, semakin banyak bacaan emoticon-Malu (S)


=====================
komen abis baca:
ceritanya oke emoticon-thumbsup
Masih ada beberapa typo pake "briptu angga"
Diubah oleh pyramus
0 0
0
Petrus Trilogi, Indonesian Action Thriller Story
01-10-2015 15:48
Mejeng pejwan dulu emoticon-Cool

Ijin baca ceritanya gan emoticon-Baby Boy 1

Dari judulnya kaya'nya seru nih emoticon-2 Jempol
1 0
1
Petrus Trilogi, Indonesian Action Thriller Story
02-10-2015 19:40
Nungguin cerita ini apdet rasanya kaya' nunggu anime emoticon-Big Grin
1 0
1
Petrus Trilogi, Indonesian Action Thriller Story
04-10-2015 20:58
Oke tandain dulu. Nitip jemuran gan te es.
Petrus yang sarat dengan kepentingan politik jaman orba.
0 0
0
Petrus Trilogi, Indonesian Action Thriller Story
06-10-2015 16:37
update dong
0 0
0
Petrus Trilogi, Indonesian Action Thriller Story
07-10-2015 07:59
wah seru nih, ijin baca baca gan emoticon-Recommended Seller
0 0
0
Petrus Trilogi, Indonesian Action Thriller Story
07-10-2015 11:36
Mohon maaf updatenya belum kelas emoticon-Big Grin

sempet ada kerjaan di Surabaya kemaren jadi belum selesai ngerjain updatenya,

ane usahain secepatnya, paling lambat senin ya gan emoticon-Big Grin
1 0
1
Petrus Trilogi, Indonesian Action Thriller Story
07-10-2015 14:18
ane coba nebak jalan ceritanya ya gan.... jangan2 petrus nya emang kakaknya ria, and si angga cuma sebagai alat dari kepolisian yang ditugaskan untuk menggali informasi dengan mendekati ria supaya bisa menangkap kakaknya ria nih...
1 0
1
Petrus Trilogi, Indonesian Action Thriller Story
07-10-2015 22:10
numpang nongkrong disini ya..

kayaknya bakalan keren nih..

itu typo atau gimana..
angga itu ipda atau briptu ?
0 0
0
Halaman 1 dari 14
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
teman-dua-dunia
Stories from the Heart
bab-26--saran
Stories from the Heart
api-dendam-di-tanah-pringgading
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
Stories from the Heart
Stories from the Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia