alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/547a9ce1d44f9fa5638b4570/my-fictions---cerita-tentang-kita
Lapor Hansip
30-11-2014 11:28
CERITA TENTANG KITA
Quote:
DISCLAIMER
Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Apabila ada kesamaan nama, karakter, tempat, maupun cerita, itu semua hanyalah kebetulan yang tidak disengaja.


Quote:Title : CERITA TENTANG KITA
Author : NVRstepback
Genre : Slice of Life, Drama, Romance, Family


INDEKS
:
Quote:Act 1 - "A Meeting"
Act 2 - "Crash!"
Act 3 - "Awake"
Act 4 - "A 'Normal' Day"
Act 5 - "Jealous"
Act 6 - "Preparation"
Act 7 - "Surprise!"
Act 8 - "His Story"
Act 9 - "An Old 'Friend'"*NEW!
Act 10 - "Memory" *NEW!





Quote:
note nov2017: lanjut lagi setelah kentang 3 taun..
update index, linkpost menyusul
Diubah oleh nvrstepback
0
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2
30-11-2014 11:30
Quote:
Act 1 - "A Meeting"


“Kriiing..Kriiing..Kriiing...” bunyi alarm yang begitu keras sepertinya mengusik tidur nyenyak Kenzo. Nampak dia belum mau bangun bahkan membuka matanya. Namun alarm masih terus berdering dengan keras.
“Dasar alarm sialan. Ngeganggu mimpi indah gue aja.” Umpat Kenzo sambil mematikan alarm.
“Oke. Gangguan udah gak ada, waktunya tidur lagi.” Kenzo merebahkan diri lagi ke tempat tidurnya.
Perlahan, Kenzo pun mulai tertidur kembali. Sampai akhirnya muncul seseorang yang mengguncang-guncangkan tubuhnya dan menyuruhnya bangun.
“Kak Kenzoo... Buruan banguuun!!”
“Aaahh.. Berisik. Lagian ini kan hari minggu.” Kata Kenzo kesal. Dia masih belum membuka matanya.
“Kakakku yang cakep, ayo dong bangun. Nanti cakepnya ilang lho.” Suara itu kembali mengusik dan menggoda Kenzo.
Kali ini, Kenzo tak menjawab. Dia perlahan bangun dan membuka matanya. Kenzo hampir melompat melihat siapa yang sedang berada di hadapannya. Seorang gadis cantik berambut panjang, bermata indah, dengan senyum manisnya. Kenzo melongo.
“Alea?” tanya Kenzo sambil mengucek matanya tak percaya.
“Ih, kakak nih amnesia ya? Masa sama adiknya sendiri lupa sih.” Kata Alea manyun. Kenzo tersenyum, kemudian memeluk adik yang sangat dia sayangi itu.
“Kakak kangen sama kamu Al.” Kata Kenzo.
“Alea juga kangen sama kakak,” balas Alea, ”seneng deh kakak baik-baik aja.”
“Al, ini kamu beneran? Kok tambah cantik?” kata Kenzo sedikit menggoda Alea.
“Dasar, kakak ni. Adiknya sendiri digombalin.” Kata Alea sambil mencubit hidung mancung kakaknya.
“Auwww.. Sakit.” Teriak Kenzo. Alea pun melepaskan hidung kakaknya. “Kok gak telpon aja sih Al? Kan kakak bisa jemput kamu.”
“Huuu.. Bangun aja belum. Daripada nungguin kakak, mending Alea naik taksi sendiri.”
“Oiya. Kok kamu bisa masuk? Kan pintunya..” belum sempat Kenzo menyelesaikan kata-katanya, Alea pun memotongnya.
“Kakakku yang cakep tapi teledor, tadi tu pintunya sama sekali gak dikunci. Untung gak ada maling.” Kata Alea. Kenzo pun tersipu. Dia baru ingat kalau semalam dia memang lupa mengunci pintu rumah karena sudah keburu tidur.
“Yaudah, Alea mau masak dulu. Kakak belum makan kan?” tanya Alea.
“Iya nih Al, laper banget. Masak yang enak ya. Kakak mau cuci muka dulu.”
Alea bergegas ke dapur untuk memasak. Di sana, dengan cermat dia mulai memasak bahan-bahan dan bumbu yang ada. Tak berapa lama, dua piring nasi goreng lengkap dengan telur dadar dan taburan bawang goreng sudah siap di atas meja makan. Kenzo yang mencium aroma sedap masakan Alea bergegas berlari menuju meja makan.
“Sedapnya...” kata Kenzo.
“Ini dia, nasi goreng plus telur dadar ala chef Alea.. Hihihi.” Kata Alea bercanda. “Yuk kak, dimakan dulu.”
“Siap deh chef Alea.” Kenzo dan Alea pun makan bersama.
“Kabar Papa sama Mama Gimana? Sehat kan?” tanya Kenzo.
“Iya kak, mereka pesen supaya kakak jaga kesehatan, jaga diri, terus sama kakak supaya ngejagain Alea bener-bener. Jangan digalakin. Trus jangan dibikin nangis. Harus jadi kakak yang bisa jadi teladan buat adiknya.” Kata Alea panjang lebar. Kenzo melongo mendengar rangkaian kata yang begitu cepat meluncur dari mulut Alea tanpa jeda.
“Iya iya adikku yang cantik tapi bawelnya minta ampun.” Kata Kenzo. Alea pun nyengir kemudian melanjutkan menyantap nasi goreng di hadapannya.
“Oh iya, kabar perusahaan papa gimana Al?” TanyaKenzo. Tapi Alea pura-pura tidak mendengarnya dan tidak menatap Kenzo sama sekali. Seolah mengerti apa yang dirasakan Alea, Kenzo pun tak melanjutkan kata-katanya.
“Oiya Al, kamu jadi masuk ke kampus kakak?” tanya Kenzo tiba-tiba.
“Iya kak, kata Papa sama Mama, disuruh masuk ke situ. Supaya ada yang ngejagain katanya.” Jawab Alea.
“Trus, kamu masuk jurusan apa?”
“Aku ambil jurusan Sastra kak. Hehe.”
“Sip deh, jurusan sastra kan gedungnya deket sama jurusan informatika. Jadi kakak bisa jagain kamu terus.”
“Huuu.. Eh, kak. Katanya kakak jadi ketua BEM ya di kampus?” tanya Alea.
“Iya Al. Oiya, besok Senin kan ada acara penyambutan mahasiswa baru. Tapi gak disuruh bawa yang aneh-aneh kok. Tenang aja. Terus kalo ada yang rese sama kamu, bilang ke kakak ya.” Jawab Kenzo.
“Siap boss.” Ucap Alea sambil mengangkat tangan kanannya berpose hormat. Kenzo pun tertawa melihat tingkah adiknya tersebut.
***
Hari senin tiba. Di Universitas Taruna, terlihat begitu banyak mahasiswa baru yang berkumpul di depan hall. Kenzo dan Alea baru saja sampai. Setelah memarkirkan motornya, Kenzo dan Alea berjalan ke hall. Alea terkejut melihat betapa banyak mahasiswa baru yang akan masuk ke Universitas Taruna.
“Al, nanti acaranya diadain di situ.” Kata Kenzo sambil menunjuk gedung Hall.
“Iya kak.” Kata Alea.
“Yaudah, kamu ke sana dulu gih cari-cari kenalan. Kakak mau ke ruang BEM dulu. Ati-ati ya.” Kata Kenzo kepada Alea.
“Iya kakakku yang cakep. Kakak juga ya.” Kata Alea sambil berlalu. Kenzo hanya tersenyum. Dia masih berdiri melihat Alea yang berjalan berbaur dengan mahasiswa baru lainnya. Setelah Alea tak terlihat, Kenzo pun memutar arah menuju ke ruang BEM. Sesampainya di ruang BEM, dia bertemu dengan dua sahabatnya. Evan dan Tara.
“Sob, baru dateng ya?” sapa Tara ke Kenzo.
“Iya nih, maklum hidup gak sama ortu, jadi apa-apa harus sendiri deh.” Jawab Kenzo.
“Makanya buruan cari pacar supaya gak sendirian terus. Hahaha.” Timpal Tara. Evan dan Tara pun tertawa terbahak-bahak.
“Sialan loe berdua.” Kata Kenzo sambil tersipu. “Oiya, Wayan belum dateng?” tanya Kenzo.
“Dia tadi telpon, saudaranya ada yang masuk rumah sakit. Jadi nanti dateng rada siang.” Jawab Tara.
Di tempat lain, Alea duduk sendirian di depan hall sambil melihat begitu banyak mahasiswa baru yang menunggu waktu dimulainya penyambutan mahasiswa baru. Tiba-tiba ada yang menghampirinya.
“Hai.” Sapa orang itu.
“Eh, iya.” Jawab Alea.
“Mahasiswa baru juga ya? Kenalin aku Emily Navita.” Kata Emily memperkenalkan diri.
“Iya, aku Alea. Salam kenal ya.” Kata Alea.
“Oiya Alea, ini Gea. Dia orangnya pemalu.” Kata Emily memperkenalkan Gea.
“Hai Gea.” Sapa Alea ramah. Gea hanya tersenyum malu. Tiba-tiba dari kejauhan ada yang berlari berhambur ke tempat Alea, Emily, dan Gea berada.
“Mily.. Sorry gue telat. Eh, ada temen baru. Kenalin gue Liana.” Kata Liana memperkenalkan diri.
“Iya Liana. Eh, kalian masuk jurusan apa?” tanya Alea.
“Kita bertiga kompakan masuk jurusan sastra Alea. Kalo kamu?” tanya Emily.
“Wah, kebetulan. Aku juga masuk sastra. Kalo gitu, gimana kalo kita sahabatan? Supaya bisa sama-sama terus. Dalam suka dan duka.” Usul Alea.
“Setuju!!” teriak Liana.
“Iya, aku juga setuju.” Kata Emily. Gea mengangguk malu-malu. Dan mulai sejak itu, mereka pun sepakat dan berjanji untuk menjadi sahabat.
Mereka pun tertawa bersama-sama. Emily yang begitu tenang, Gea yang pemalu, dan Liana yang sangat ceria. Alea tersenyum melihat teman-teman barunya. Bukan, sahabat. Dan dia bersyukur bisa bertemu mereka sejak awal.
“Eh, denger-denger ketua BEM kampus ini cakep lho.” Celetuk Liana. Emily dan Gea melongo.
“Beneran Li? Kamu tau darimana?” tanya Emily penasaran.
“Hahaha. Jangan remehin kemampuan gue buat ngumpulin informasi dong.” Ujar Liana.
“K..Kenzo Aria Wiranata ya Li?” Gea buka suara. Emily pun menoleh ke Gea.
“Gea, kamu tau juga?” tanya Emily tidak percaya. Gea tersipu.
“Nah tuh Gea juga tau. Bener, Kenzo Aria Wiranata. Mahasiswa berbakat yang di tahun pertamanya berhasil dapet gelar juara di kompetisi hacking nasional.” Terang Liana panjang lebar.
“I..Iya. Dia ditunjuk mewakili Indonesia di ajang internasional, tapi dia gak bisa ikut kompetisi itu karena kecelakaan.” lanjut Gea. Emily semakin bingung.
“Kok aku cupu banget sih.” Kata Emily sedih.
“Udah Li. Nanti kamu juga tau. Cowok cakep dan jenius deh pokoknya. Oke?” Kata Liana menyemangati Emily.
“Bentar deh. Tadi kata Gea... kecelakaan?” tanya Alea.
“Iya Al. Loe juga gak tau?” Liana balik bertanya.
“Lulus SD aku pindah ke Jepang dan baru tahun ini balik ke sini lagi. Jadi... aku gak tau.” Jawab Alea. Perasaannya bercampur antara marah dan khawatir.
“Oh, pantesan. Iya Al. Beberapa hari sebelum berangkat, kak Kenzo tiba-tiba ketabrak mobil gitu dan harus dirawat lumayan lama di rumah sakit.
“Dasar kak Kenzo nyebelin. Kecelakaan gitu kok gak kabar-kabar sih.” Batin Alea kesal, tapi juga sedih dan khawatir kepada Kenzo, kakaknya.
“Alea. Loe kenapa?” tanya Liana.
“Oh, eng... gak papa kok Li.” Jawab Alea sambil tersenyum berusaha menutupi kegundahan hatinya.
“Ya udah deh. Tuh si Emily kayaknya yang masih belum move on dari kecupuannya. Hahaha.” Ujar Liana sambil tertawa.
Saat asyik mengosobl, tiba-tiba ada suara yang mengejutkan mereka. Ternyata acara penyambutan mahasiswa baru akan segera dimulai. Alea, Emily, Gea, Liana, dan mahasiswa baru yang lain bergegas memasuki Hall. Setelah semuanya duduk dan menempatkan diri, acara pun dimulai. Acara berlangsung dengan lancar. Dan tiba pada sambutan dari perwakilan BEM. Ternyata yang maju adalah Kenzo, Evan, dan Tara.
“Selamat pagi semuanya.” Kata Kenzo mengawali sambutannya.
“Perkenalkan kami bertiga perwakilan dari BEM atau Badan Eksekutif Mahasiswa, selaku panitia penyelenggara acara ini. Saya Kenzo Aria Wiranata, kalian bisa panggil saya Kenzo. Saya ketua BEM sekaligus ketua panitia. Di sebelah kanan saya, Stevanus Ekananda. Ketua komunitas robot. Dan di sebelah kiri saya, Tara Adiputra. Ketua tim basket. Kami mengucapkan selamat datang kepada teman-teman mahasiswa baru.” Kata Kenzo mengawali sambutannya.
“Nah, tuh Mily. Yang namanya Kenzo. Cakep kan?” tanya Liana sambil menyenggol Emily.
“Oh, jadi itu namanya kak Kenzo... kakak yang waktu itu.” kata Emily tanpa mengalihkan pandangannya dari Kenzo.
“Waktu itu?” tanya Liana dan Alea hampir bersamaan.
“I..iya. Dulu Emily pernah ketemu sama kak Kenzo waktu kelas 12 SMA. Waktu itu kak Kenzo bayarin Emily kaset musik gara-gara Emily lupa bawa dompet... eh.” Terang Gea.
“Mily. Itu beneran?” tanya Liana dan Alea hampir bersamaan. Lagi. Emily hanya tersenyum malu.
“Dasar.” Ujar Liana dan Alea pendek dilanjutkan tepuk jidat yang hampir bersamaan. Lagi.
“Emang bener sih kak Kenzo keren banget. Cakep. Tipe cowok ideal.” Kata Liana.
“Iya Li, aku setuju banget.” Timpal Emily. Mereka pun tertawa bersama.
“Kak Kenzo pake apa ya, bisa bikin anak orang jadi kayak gini.” Batin Alea. Tapi dalam hatinya yang paling dalam, Alea tersenyum mendengar sahabat-sahabatnya mengagumi kakaknya.
Waktu istirahat tiba. Kini mereka diperkenankan untuk istirahat sebelum melanjutkan acara. Alea dan sahabat-sahabatnya memutuskan untuk pergi ke kantin. Saat sedang asyik bercanda, tiba-tiba Alea menabrak seseorang hingga Alea terjatuh.
“Kamu gakpapa Alea?” tanya Emily membantu Alea berdiri.
“Eh, kalo jalan pake mata dong. Nabrak orang seenaknya.” Kata cewek itu, yang ternyata salah satu anggota panitia.
“Maaf kak, tadi gak sengaja.” Kata Alea meminta maaf.
“Iya kak, maafin kita.” Kata Emily membela Alea.
“Dasar mahasiswa baru udah sok sok’an.” Kata orang itu kemudian mendorong Alea sampai terjatuh.
“Udah Ve. Jangan keterlaluan.” Kata teman orang itu.
“Iya Ve, udah yuk pergi aja jangan cari masalah.” Timpal temannya yang lain.
“Gue tadi liat loe berduaan sama Kenzo di tempat parkir. Berani banget loe deketin dia.” Cewek bernama Ve itu mengangkat tangannya akan menampar Alea. Tiba-tiba ada tangan yang menahannya. Ternyata Evan.
“Eits. Ve, jangan anarkis gini dong. Loe tuh panitia, harusnya bisa kasih contoh yang baik buat mahasiswa baru. Bukan kayak gini. Pergi loe!” kata Evan dengan nada tinggi. Ve pun pergi dengan wajah kesal diikuti teman-temannya.
“Kamu gak papa kan?” kata Evan mencoba membantu Alea berdiri. Saat itu, tatapan mata mereka beradu. Ada gejolak di dalam hati mereka. Alea pun berdiri dibantu Evan. Ternyata tangan kanan Alea berdarah. Saat menoleh ke tangan kanannya, tiba-tiba saja Alea menangis dan kembali jatuh terduduk. Evan, Emily, Liana, dan Gea bingung kenapa tiba-tiba Alea menangis. Dan yang parahnya, Alea nampak seperti kehilangan kesadarannya.
Dari belakang Evan, muncul Kenzo dan Tara.
“Waduh, Van. Anak orang loe apain nih sampe nangis gitu?” kata Tara.
“Gak gue apa-apain kunyuk. Tadi dia didorong sama Ve. Trus dia jatuh.” Terang Evan.
Tanpa berkata apa-apa, Kenzo langsung menolong Alea berdiri kembali dan memeluknya. Hal itu membuat yang lain terkejut. Evan terdiam. Emily juga tiba-tiba terkejut melihat Kenzo memeluk Alea.
“Alea sayang, udah jangan nangis ya. Ada kakak di sini.” Kata Kenzo membisikkan kata-kata untuk menenangkan Alea.
“Kak... a..ada.. d..da..rah kak.. Alea takut.” Kata Alea masih menangis.
“Tar, cepet ambil kotak P3K di ruang panitia. Buruan!!” kata Kenzo tegas. Tara yang masih bingung melihat sikap aneh Kenzo pun bergegas berlari mengambil kotak P3K. “Sayang, udah jangan nangis ya.” Kata Kenzo masih memeluk Alea.
“Ka..kakak..jangan..Al..Alea takut..jangan ber..da..darah.. lagi.” Kata Alea terbata-bata. Kenzo semakin erat memeluk tubuh Alea dan mengelus lembut rambut Alea.
Tara pun sudah datang dengan membawa kotak P3K. Dengan telaten, Kenzo membersihkan luka Alea dan membalut perban di tangan Alea. Semua yang ada di situ tidak habis pikir dengan pemandangan di hadapan mereka. Perasaaan Evan dan Emily semakin tertusuk-tusuk melihat apa yang dilakukan Kenzo kepada Alea. Mereka belum tau kalau Kenzo dan Alea adalah kakak beradik.
“Kenzo, gila loe. Sama mahasiswa baru udah berani peluk-peluk. Panggil sayang-sayangan lagi.” Celetuk Tara.
“Kalian, yang ada di sini denger ya. Alea ini adik kandung gue. Jadi wajar dong, kalo gue bersikap kayak gini.”
“Adik loe?” tanya Evan.
“Iya Van. Gue pernah cerita kan kalo gue punya adik yang ikut ortu gue ke Jepang dan sekolah di sana? Orang itu Alea. Jadi kalian jangan salah paham.” Terang Kenzo tanpa mengalihkan pandangannya dari Alea.
“Ooohh...” Evan, Tara, Emily, Gea, dan Liana saling berpandangan.
“Alea punya phobia sama darah. Jadi dia langsung histeris ngeliat ada darah di tangannya.” Terang Kenzo. Evan, Tara, Emily, Liana, dan Gea pun manggut-manggut.
“Kalian temennya Alea kan?” tanya Kenzo ke Emily, Liana, dan Gea.
“I..Iya kak.” Jawab Emily malu-malu.
“Makasih ya, udah mau jadi temennya Alea. Kalo nanti ada yang gangguin Alea, kalian langsung bilang ke gue.” Kata Kenzo tegas. Emily pun mengangguk. Dia merasa senang melihat tatapan mata Kenzo kepadanya.
“Alea udah punya pacar belum?” tanya Tara tiba-tiba.
“Eh, loe playboy bajakan jangan berani-berani gangguin apalagi sentuh adik gue ya!” Kata Kenzo.
“Yee.. Galak banget sih sob . Taringnya keluar tuh. Eeeeh.” Tara menghentikan kata-katanya ketika melihat sorot mata tajam Kenzo yang seolah akan menelannya mentah-mentah.
“Yaudah Al, kamu istirahat ke klinik kampus dulu aja ya. Gak usah ikut acara selanjutnya.” Kata Kenzo lembut ke Alea.
“Alea takut kak.” Kata Alea kemudian memeluk Kenzo.
“Gue juga mau dipeluk dong. Eeeeh.” Tara kemudian menutup mulutnya dengan tangan ketika tatapan tajam Kenzo mengarah kepadanya.
“Van, tolong temenin Alea ke klinik ya.” Kata Kenzo ke Evan.
“Kakak..” kata Alea memanggil Kenzo. Kenzo menoleh.
“Hati-hati..” kata Alea pelan.
“Siap boss.” Kenzo tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.
“Yuk Alea.” Kata Evan kemudian menggandeng tangan Alea. Mereka berjalan pelan ke klinik kampus. Ada senyum malu di antara mereka.
Kenzo dan Tara berjalan menuju ke ruang panitia. Emily, Liana, dan Gea bergegas berjalan menuju hall untuk mengikuti acara berikutnya.
“Kenzo, baru kali ini gue liat loe bisa lembut gitu. Biasanya... iuh.” Celetuk Tara.
“Setan jabrik maksud loe apaan.” Kata Kenzo bersungut-sungut.
“Kalem oy, kalem jangan pake acara nyolot segala. Maksud gue, baru kali ini gue liat sisi lembut loe yang bahkan gue sendiri gak percaya.” Terang Tara.
“Oh. Ya jelas lah, Alea itu adik gue satu-satunya. Dan udah kewajiban gue buat ngejagain dia.” Kata Kenzo.
“Gue bangga jadi sahabat loe.” Kata Tara. Mereka berdua pun melanjutkan langkah kaki mereka.
Dari kejauhan, nampak Ve dan teman-temannya dari tadi memperhatikan apa yang terjadi setelah mereka meninggalkan tempat tersebut. Karena melihat bagaimana sikap lembut Kenzo yang langka tadi terhadap Alea, hati Ve semakin terbakar api cemburu. Dan dia pun merencanakan sesuatu untuk membalas rasa sakit hatinya kepada Alea, tanpa berusaha mengetaui ada apa antara Kenzo dan Alea yang sebenarnya.
“Awas loe anak baru. Liat apa yang bisa gue lakuin ke loe ntar.”


To be continued...

Diubah oleh nvrstepback
0
30-11-2014 12:15
Wiss cerita baru lagi nih joprak dimare ya gan emoticon-Big Grin
Macem kek sinetron sctv nih cerita ada dramanya emoticon-Ngakak (S)
Dapet inspirasi dari sinetron ye atau demen nonton sinetron emoticon-Ngakak (S)
Lanjutkna bang updatenya jangan kentang emoticon-Angkat Beer
0
30-11-2014 12:51
wah ceritanya udah lumayan bagus gan,
saran anr sih ceritanya jangan dibuat terlalu kek ftv gan, coba buat seolah2 ini cerita asli bukan fiksi, itu sih saran ane emoticon-Ngakak emoticon-I Love Kaskus
0
30-11-2014 13:01
Quote:Original Posted By frostmoune
Wiss cerita baru lagi nih joprak dimare ya gan emoticon-Big Grin
Macem kek sinetron sctv nih cerita ada dramanya emoticon-Ngakak (S)
Dapet inspirasi dari sinetron ye atau demen nonton sinetron emoticon-Ngakak (S)
Lanjutkna bang updatenya jangan kentang emoticon-Angkat Beer


Tbh, bukan sinetron sih gan emoticon-Malu (S) tapi serial anime genre slice of life sama romance. Jadi deh itu ceritanya jadi kayak gitu emoticon-Malu (S)

Quote:Original Posted By kepalabotak2
wah ceritanya udah lumayan bagus gan,
saran anr sih ceritanya jangan dibuat terlalu kek ftv gan, coba buat seolah2 ini cerita asli bukan fiksi, itu sih saran ane emoticon-Ngakak emoticon-I Love Kaskus


Makasih sarannya gan, iya nih kalo ane baca2 lagi emang berasa eptipi emoticon-Cape d... (S) emoticon-Ngakak (S)
0
30-11-2014 13:06
Quote:Original Posted By nvrstepback



Makasih sarannya gan, iya nih kalo ane baca2 lagi emang berasa eptipi emoticon-Cape d... (S) emoticon-Ngakak (S)

sip gan senang bisa membantu emoticon-Ngakak (S)
btw, numpang bangun tenda gan emoticon-I Love Kaskus
ditunggu updateannya
Diubah oleh kepalabotak2
0
30-11-2014 13:49
Quote:Original Posted By kepalabotak2

sip gan senang bisa membantu emoticon-Ngakak (S)
btw, numpang bangun tenda gan emoticon-I Love Kaskus
ditunggu updateannya


Yoi gan emoticon-Big Grin

Sii~p emoticon-Shakehand2
0
30-11-2014 16:08
Quote:
Act 2 - "Crash!"

Emily, Liana, dan Gea sudah duduk kembali di dalam hall untuk bersiap mengikuti lanjutan acara penyambutan mahasiswa baru. Namun pikiran mereka masih tertuju pada Alea yang sekarang sedang tidak bersama mereka. Di dalam hall, begitu riuh dengan suara percakapan para mahasiswa baru.
“Selamat siang teman-teman.” Suara seorang di atas panggung mengubah suasana ruang hall menjadi begitu hening. Seorang cowok dengan wajah tampan yang agak tertutup oleh rambut keritingnya yang panjang terlihat menenteng gitar berdiri di atas panggung hall.
“Nah, itu dia artis kita dateng. Untung kita gak telat nyampe sini.” Kata Tara. Kenzo hanya tersenyum melihat kehadiran Wayan yang tidak disangka-sangka.
“Oke, kenalin nama gue Wayan Svastika. Kalian bisa panggil gue Wayan. Di sini, gue bakal berusaha menghibur kalian teman-teman mahasiswa baru dengan beberapa lagu. Semuanya setuju?” Tanya Wayan
“SETUJU!!!” Terdengar koor kata setuju diikuti riuh tepuk tangan para mahasiswa baru terutama dari para mahasiswi.
Wayan pun mulai memetik senar-senar gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu. Suasana hall kembali hening, hanya terdengar suara Wayan diikuti alunan gitarnya yang seolah menyihir seisi hall agar dengan khidmat memperhatikan sosoknya dan mendengarkan suaranya.
“Bener-bener Voice of God.” Kata Kenzo. Tara mengangguk tanda setuju pada Kenzo.
***
Sementara itu di klinik kampus...
“Alea.” Kata Evan pelan.
“Iya kak.” Jawab Alea.
“Kamu udah gak papa?” tanya Evan.
“I..iya kak. Udah gak papa kok.” Jawab Alea sedikit canggung karena dia tidak terbiasa berduaan dengan seorang cowok selain papa dan kakaknya, Kenzo.
“Emm.. Alea, boleh tanya sesuatu gak?”
“Apa itu kak?”
“Kenapa kamu tadi nangis histeris?” tanya Evan. Alea terdiam sejenak. Wajahnya berubah murung.
“Eh, kalo kamu gak mau jawab, gak papa kok. Aku...” belum sempat Evan menyelesaikan kata-katanya, Alea langsung berbicara.
“Aku takut darah kak. Semuanya bermula waktu aku masih kecil. Waktu itu aku sama kak Kenzo lagi main kejar-kejaran. Karena masih kecil, aku gak tau kalo ternyata aku lari ke jalan raya. Pas ada mobil yang hampir nabrak aku, tiba-tiba kak Kenzo ngedorong aku sampe jatuh. Kak Kenzo yang ketabrak. Dan kepalanya...” Alea tak melanjutkan kata-katanya. Kedua tangannya menutupi wajahnya yang sembab karena kembali menangis.
“Udah Alea, jangan diterusin.” Kata Evan menenangkan Alea. Tiba-tiba Alea memeluk Evan.
“Kak Evan, tolong jagain kak Kenzo buat aku ya.” Kata Alea lirih.
“I..Iya Alea, ta..tapi.” kata Evan terbata-bata. Alea baru sadar kalau dia memeluk Evan.
“Eh, ma..maaf kak.” Kata Alea buru-buru mundur dari Evan. Wajah mereka bersemu merah.
“Kak...” panggil Alea.
“Iya, Al. Ada apa?” tanya Evan.
“Apa bener. Kak Kenzo pernah kecelakaan?” tanya Alea. Evan kaget karena Alea bisa tau.
“Al... gimana kamu bisa tau?” tanya Evan tiba-tiba.
“Tolong kak. Kasih tau aku.” Ujar Alea memelas. Evan yang berusaha tidak mengatakannya pun tak sanggup menahannya.
“Iya Al. Dulu. Tapi mungkin...” Evan berdiri kemudian berjalan ke arah pintu kemudian berbalik ke arah Alea, “Kenzo udah lupa kalo dia pernah ngalamin kecelakaan itu.”
“Maksud kakak?” Alea mengernyitkan dahinya.
“Kenzo ngalamin short-periode amnesia. Dia lupa sama semua kejadian sebelum kecelakaan itu. Lebih tepatnya, kenangan-kenangan tentang seseorang yang udah pernah Kenzo alami sebelum kecelakaan termasuk kecelakaan itu.” Evan sudah kembali duduk di hadapan Alea.
“Seseorang? Pacarnya kak Kenzo?” tanya Alea lagi.
“Kalo untuk itu, cepat atau lambat kamu pasti bakal tau kok Al.” Evan pun tersenyum.
Alea terdiam. Rasa penasarannya sedikit terobati tentang kecelakaan yang pernah dialami oleh Kenzo. Namun tanda tanya kembali menggantung di dalam kepalanya tentang kenangan apa yang pernah dialami oleh Kenzo.
***
“Jrenggg.” Wayan selesai menyanyikan sebuah lagu. Suasana hening. Tak lama kemudian tepuk tangan mulai bergemuruh.
“Terimakasih.” Kata Wayan sambil membungkukkan badan kemudian bangkit berjalan menuruni panggung.
Pembawa acara pun kembali memandu jalannya acara hingga selesai. Sesampainya di belakang panggung, Wayan sudah disambut Kenzo dan Tara.
“Selalu bisa menyihir pendengar loe.” Kata Tara memuji Wayan.
“Alah, loe bisa aja sob. Sorry ya gue telat.” Kata Wayan.
“Iya, gak papa. Yang penting loe bisa dateng trus berhasil nyihir seisi hall.” Kata Kenzo.
“Haha. Loe bisa aja deh Kenzo.” Kata Wayan yang kemudian duduk dan memainkan gitarnya.
“Kenzo. Acara udah selesai nih. Loe gak nengokin Alea?” tanya Tara.
“Oh iya. Ya udah, gue ke klinik dulu ya. Bye.” Kata Kenzo kemudian pergi. Tara mengangguk.
“Klinik? Ngapain woy?!” tanya Wayan yang menghentikan permainan gitarnya.
“Datengin adik gue.” Kata Kenzo sambil berlalu. Wayan bingung. Tara tertawa melihat kebingungan di wajah Wayan.
“Tar, emang si Kenzo punya adik ya? Apa jangan-jangan pacar dia lagi.” Tanya Wayan kepada Tara.
“Hahaha. Muka loe aneh Yan. Iya, Kenzo punya adik. Cewek, cantik banget kayak bidadari.” Jawab Tara.
“Seriusan cantik? Sama Taylor Swift cantikan mana?” tanya Wayan dengan wajah penasaran.
“Hahaha. Loe lihat sendiri aja deh nanti. Udah ah ke kantin yuk, gue laper nih.” Tara langsung berjalan meninggalkan Wayan yang masih penasaran dengan adik Kenzo.
“Oy! Tungguin gue!” teriak Wayan berusaha mengejar Tara.
***
Kenzo berjalan sendirian keluar hall. Dia melangkah sambil merenung. Kenzo teringat pada kejadian yang menimpa Alea tadi. Langkahnya terhenti karena ada rasa sakit di kepalanya. Dia memegangi kepalanya kemudian mengacak-acak rambutnya.
“Alea.. apa kamu masih dihantui trauma itu..” batin Kenzo.
“Hai Kenzo.” Panggil seseorang yang tiba-tiba muncul membuyarkan lamunan Kenzo.
“Kok sendirian? Tara sama Evan mana?” tanya cewek berwajah oriental dengan rambut sebahu yang tersenyum manis ke arah Kenzo.
“Ve.” Kata Kenzo dengan nada tegas.
“Iya?” Ve kaget mendengar suara tegas Kenzo.
“Gue peringatin ke loe. Jangan pernah ganggu atau sentuh Alea, atau loe bakal berhadapan sama gue. Ngerti loe?!” kata Kenzo kemudian pergi dari situ.
Ve kaget mendengar kata-kata Kenzo tadi. Dia masih heran kenapa Kenzo bisa tiba-tiba begitu dekat dengan Alea, seorang mahasiswa yang baru saja masuk. Padahal selama ini yang dia tau Kenzo gak pernah dekat dengan cewek. Rasa bencinya pada Alea pun semakin besar. Ve pun semakin yakin untuk mencelakai Alea tak peduli resiko yang akan ditanggungnya.
Sesampainya di depan klinik, Kenzo tak langsung masuk. Dia mendengar percakapan Alea dan Evan yang terdengar begitu hangat dan menyenangkan. Kenzo tersenyum, kemudian masuk.
“Permisiii...” ucap Kenzo membuat Alea dan Evan terkejut.
“Eh, loe Kenzo.” Kata Evan menyambut kedatangan Kenzo.
“Kakaaak.” Kata Alea yang kemudian berhambur memeluk kakak tersayangnya itu. “Kakak ke mana aja? Kakak gak kenapa-kenapa kan?”
“Alea sayang, kakak tadi kan di hall. Ini, sekarang udah di sini.” Kata Kenzo sambil tersenyum. Alea tertunduk, wajahnya murung.
“Ih, senyum dong, jangan manyun gitu. Nanti cantiknya ilang lho.” Kata Kenzo menggoda Alea. Alea pun mencubit hidung Kenzo.
“Aaaawww!!” Evan dan Alea tertawa melihat Kenzo kesakitan memegangi hidungnya.
“Van, makasih ya udah mau jagain Alea. Gue ajak dia makan dulu.” Kata Kenzo ke Evan.
“Iya sob, sama-sama.” Kata Evan. Kenzo mengajak Alea keluar klinik. Evan dan Alea sempat saling curi pandang dan melempar senyum. Kenzo yang mengetauinya hanya tersenyum.
Kenzo dan Alea berjalan berdampingan menuju kantin. Alea mengandeng tangan kakaknya dengan erat. Yang tidak tau, pasti akan mengira kalau mereka adalah sepasang kekasih.
“Alea.” Kata Kenzo menghentikan langkahnya.
“Ada apa kak?” tanya Alea. Tiba-tiba saja Kenzo berdiri di hadapannya
“Jangan cubit hidung kakak teruuusss. Nanti hidung kakak tambah mancuuuungg. Terus nanti kalo kakak tambah cakep gimanaaa.” Kata Kenzo sambil mencubit kedua pipi Alea.
“Aduuuhhh. Kakaaaaakkk! Jangan narsiiisss!” teriak Alea. Kenzo langsung berlari diikuti Alea yang berlari mengejarnya.
Sesampainya di kantin, Kenzo memesan makanan dan minuman untuk mereka berdua. Kemudian mereka duduk.
“Kakak.” Kata Alea.
“Iya Al. Ada apa?” tanya Kenzo.
“Alea seneng bisa sama-sama kak Kenzo lagi.” Kata Alea.
“Yakin? Apa cuma seneng cubitin hidung kakak aja?” tanya Kenzo menggoda.
“Itu salah satunyaaa.” Kata Alea kemudian langsung mencubit hidung Kenzo yang ada di hadapannya.
“Aduuuhhh!” teriak Kenzo diikuti tawa Alea. Kenzo memegangi hidungnya yang masih terasa sakit. Tapi rasa sakit itu terobati seketika saat melihat Alea tertawa bahagia.
“Kakak jangan jauh-jauh dari Alea. Alea gak mau jauh dari kakak lagi kayak pas Alea di Jepang.” Kata Alea.
“Iya adiknya kak Kenzo yang paling cantik. Kakak janji, gak akan jauh-jauh dari Alea.” Kata Kenzo menenangkan Alea. Makanan dan minuman pesanan mereka sudah datang. Mereka pun segera menyantapnya.
“Al, kak Evan menurut kamu orangnya gimana?” tanya Kenzo tiba-tiba. Hampir Alea tersedak.
“Orangnya baik kak. Juga pinter ngelawak.” Kata Alea malu-malu.
“Cieee... kamu suka ya sama kak Evan? Dia masih single loe.” Goda Kenzo.
“Ih, kakakku kok sok tau sih.” Kata Alea.
“Yaaa... kalo emang kamu suka sama Evan, kakak juga gak masalah kok. Yang penting jangan sama si Tara aja.” Kata Kenzo.
“Hahaha. Iya iya kak. Tapi kan tujuan utama Alea di sini buat fokus kuliah, dan...” Alea menggantung ujung kalimatnya.
“Dan?” Kenzo penasaran.
“Ngurusin kakakku yang cakep tapi teledornya minta ampuuun.” Kata Alea kemudian tertawa.
Saat asyik bersenda gurau, mereka tidak sadar kalau ada Ve yang dari tempat lain sedang memperhatikan mereka. Hatinya begitu panas melihat kemesraan Kenzo dan Alea. Dia tak bisa berpikir jernih. Yang dia pikirkan hanyalah bagaimana cara memberikan pelajaran kepada Alea karena sudah berani mendekati Kenzo, cowok yang dia sukai.
***
Pukul 3 sore, acara sudah selesai. Seluruh mahasiswa baru dan juga para panitia bergegas meninggalkan pulang. Kenzo dan Alea pun sedang bersiap untuk pulang. Saat akan menyalakan motor, Kenzo tersadar kalau ada sesuatu yang hilang. Kunci motornya.
“Yah, kunci motornya kok gak ada ya Al.” Kata Kenzo.
“Aduh, penyakit teledornya kakak nih. Yaudah, yuk dicari dulu” kata Alea.
Kenzo dan Alea pun menyusuri sepanjang jalan dari tempat parkir ke hall. Mereka hampir putus asa karena tidak segera menemukannya. Kemudian Alea pun berhasil melihatnya.
“Kak, itu kak!” teriak Alea.
“Mana?” tanya Kenzo.
“Itu.” Kata Alea sambil menunjuk ke arah kunci motor yang ada di tengah jalan masuk kampus. Saat Kenzo hendak mengambilnya, Alea mencegahnya.
“Udah kak, biar aku aja yang ambil.” Kata Alea kemudian berlari untuk mengambil kunci tersebut.
Alea segera mengambil kunci motor Kenzo, tapi tiba-tiba dari belakang muncul mobil yang meluncur hendak menabrak Alea. Kenzo menyadarinya, kemudian berlari mendorong tubuh Alea hingga terjatuh. Kenzo terlambat menghindar hingga akhirnya dia tertabrak dan terjatuh dengan kepala membentur aspal dengan cukup keras.Namun sebelum terhempas tadi, Kenzo sekilas melihat siapa yang ada di balik kemudi itu. Tak berapa lama kemudian, Kenzo kehilangan kesadaran dan penabrak melajukan mobilnya dengan kencang meninggalkan tempat itu.
“Kakaaak!!!!” Alea yang melihat kejadian itu langsung berteriak dan berlari menghampiri Kenzo. Alea berusaha membangunkan kakaknya yang terkapar dengan kepala bersimbah darah. Dan ketika dia melihat darah yang di kepala Kenzo, tubuh Alea bergetar. Dia berteriak histeris.
“Aaaaakkk!!!”
“Van, Yan, loe denger ada yang teriak-teriak gak?” ucap Tara. Evan dan Wayan pun segera menajamkan pendengaran mereka.
“Itu kan suara Alea. Alea!!!” teriak Evan kemudian berlari ke arah suara tersebut. Tara, dan Wayan pun bergegas berlari mengejar Evan.
Laju lari Tara dan Wayan terhenti melihat Evan yang berusaha menenangkan Alea yang ketakutan dan sosok yang tergeletak berlumuran darah di sebelahnya. Kenzo.
“Wayan! Buruan loe ambil mobil loe! Cepetan!” teriak Tara. Tanpa ada kata apa-apa, Wayan langsung berlari ke tempat parkir untuk mengambil mobilnya.
Mereka segera menolong Kenzo dan membawanya ke rumah sakit.Evan masih membantu Alea untuk menenangkan diri. Alea masih menangis, wajahnya sangat pucat. Kedua tangannya masih kotor dengan darah Kenzo. Tak henti-hentinya dia memanggil nama Kenzo yang kini tak sadarkan diri. Wayan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Di depan, ada Tara yang mengendarai motor untuk membuka jalan.
Sesampainya di rumah sakit, Kenzo langsung mendapatkan perawatan di ruang ICU. Alea, Evan, Tara, dan Wayan duduk di luar ruang ICU menunggu kabar kondisi dari Kenzo.
“Dok, bagaimana kondisi kakak saya?” tanya Alea ketika dokter sudah keluar dari ruang ICU.
“Alhamdulillah, kondisi kakak anda sudah stabil. Tidak ada luka serius, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi benturan yang cukup keras menimbulkan efek kejut yang cukup hebat bagi kepalanya. Jadi kita tunggu saja sampai dia sadarkan diri. Kakak anda orang yang kuat.” Terang dokter sambil tersenyum kemudian pergi dari situ.
Alea tertunduk. Evan, Tara, dan Wayan pun menghela nafas lega mendengar penjelasan dari dokter tadi. Tapi tentu saja mereka masih belum mampu menghapuskan rasa khawatir mereka karena Kenzo belum sadarkan diri. Tiba-tiba saja terdengar isak tangis Alea.
“Alea.” Evan berjalan ke arah Alea yang masih tertunduk.
“Sabar ya, Kenzo pasti segera sadar. Kita tungguin. Semangat OK?” Evan mengusap lembut kepala Alea. Tiba-tiba saja Alea langsung ambruk ke arah Evan. Evan pun langsung menahan tubuh Alea kemudian memeluknya.
“Van, tuh si Alea kenapa? Pingsan?” tanya Tara panik. Tiba-tiba saja Wayan menahan pundak Tara sambil tersenyum.
“Kayaknya dia kecapekan gara-gara banyak kejadian di hari pertama dia di kampus.” Jawab Evan sambil memperhatikan wajah Alea yang nampak begitu lelah dengan air mata yang perlahan mengering.
“Eh, Tara.” Bisik Wayan.
“Apaan Yan? Pake bisik-bisik segala.”
“Ternyata Alea lebih cantik daripada Taylor Swift.” Bisik Wayan lagi. Tara menepuk jidatnya mendengar kata-kata Wayan.

To be continued...
0
01-12-2014 01:51
Quote:
Act 3 - "Awake"


Sudah hampir 3 hari Kenzo terbaring di rumah sakit dan belum sadarkan diri. Alea, dengan sabar menjaga kakaknya setiap sepulang kuliah. Evan, Tara, dan Wayan pun selalu rutin menjenguk sahabat terbaik mereka situ. Teman-teman Kenzo yang lain pun juga menjenguk. Berdasarkan informasi dari dokter, kondisi Kenzo sudah mengalami kemajuan. Lukanya pun perlahan mulai mengering. Namun benturan di kepalanya nampaknya memang memberikan efek yang cukup berat bagi Kenzo sehingga dia belum sadarkan diri hingga saat ini.
“Al, kamu udah makan? Makan dulu yuk.” Tanya Evan ke Alea yang duduk di samping ranjang tempat Kenzo terbaring.
“Eh, kak Evan. Belum kak nanti aja ya.” Jawab Alea pelan.
“Alea, kamu makan dulu gih. Dari tadi pagi kamu juga belum makan kan? Ini udah jam 7 malem lho.” Kata Tara ikut menasehati Alea. Alea hanya diam saja.
“Yaudah ah. Aku keluar bentar ya.” Kata Wayan pamit.
“Ke mana loe?” tanya Tara.
“Bentar doang, nanti balik ke sini lagi.” Kata Wayan seraya pergi.
Suasana menjadi hening. Kenzo yang masih terbaring lemah di tempat tidurnya, Alea yang tampak lemah. Evan dan Tara yang begitu sabar menemani Alea menjaga Kenzo.
“Kak Kenzo, bangun kak. Alea gak mau kehilangan kakak. Alea sayang sama kakak.” Bisikan lirih Alea diiringi isak tangis.
“Makanan dataaang.” Suara Wayan memecah keheningan. Ternyata Wayan keluar untuk membelikan makan untuk Alea, Evan, dan Tara.
“Aduh, loe perhatian banget Yan. Tau aja kalo gue lagi laper.” Kata Tara yang berjalan girang ke arah Wayan.
“Nih Alea, kamu makan dulu.” Kata Wayan sambil menyodorkan nasi bungkus ke Alea. Namun Alea hanya terdiam.
“Biar gue aja Yan.” Kata Evan mengambil nasi bungkus dari tangan Wayan. Dengan sabar, Evan berjongkok di samping Alea. Membisikkan sesuatu ke telinga Alea.
“Alea.. Makan dulu ya.” Kata Evan lembut sambil menyuapi Alea. Dan ternyata Alea mau makan! Hal ini membuat Tara dan Wayan kaget, tapi mereka kemudian hanya tersenyum. Mereka tau betul kalau sebenarnya Alea dan Evan saling memiliki perasaan satu sama lain.
“Kak Evan.” Kata Alea tiba-tiba.
“Iya Alea?” tanya Evan.
“Kapan kakakku bangun kak?” tanya Alea. Mendengar pertanyaan Alea, Evan hanya tersenyum.
“Alea, kak Kenzo pasti segera bangun kok. Kamu inget kan, janji kak Kenzo?” tanya Evan. Alea mengangguk,”Kak Kenzo tu orang yang selalu menepati janji. Jadi, kamu harus percaya sama dia. Ya.”
Alea tersenyum mendengar jawaban dari Evan. Dia merasa senang karena Kenzo memiliki sahabat-sahabat yang begitu menyayangi Kenzo dan juga peduli padanya. Evan, Tara, dan Wayan.
***
“Gila loe Ve. Perbuatan loe nekad banget tau gak? Sekarang malah Kenzo yang menderita.” Kata salah seorang teman Ve yang bernama Icha.
“Gue khilaf Cha. Gue gak nyangka kalo Kenzo yang bakal ketabrak. Trus gue harus gimana?” tanya Ve gugup.
“Yang jelas, loe harus minta maaf sama Kenzo. Tapi yang pertama, loe harus minta maaf sama si Alea. Karena dari awal, loe udah jahat sama dia.” Saran teman Ve yang bernama Dina
“Tapi gue malu Din.” Kata Ve.
“Rasa malu yang loe rasaain pasti gak ada apa-apanya dengan rasa sakit yang dialami Alea sama Kenzo sekarang, Ve.” Kata Dina.
“Bener apa kata Dina. Loe harus mau minta maaf Alea. Karena apa yang loe lakuin udah kelewat batas.” Kata Icha tegas.
Ve pun akhirnya menuruti apa kata Dina dan Icha untuk minta maaf kepada Alea. Ditemani Dina dan Icha, Ve bergegas mencari Alea, namun tak juga ketemu. Akhirnya mereka menemukan Alea sedang duduk sendirian di depan perpustakaan. Dengan langkah ragu-ragu, Ve menghampiri Alea.
“A..Alea.” sapa Ve gugup.
“Iya kak Ve. Ada apa?” kata Alea lembut.
Ve terkejut karena Alea menjawab sapaannya dengan begitu lembut. Padahal Ve pernah menjahatinya. Hatinya semakin tak karuan.
“Ada yang pengen aku sampaiin ke kamu. Aku pengen minta maaf soal apa yang terjadi di kantin beberapa hari lalu.” Kata Ve.
“Iya kak, gak papa. Aku juga minta maaf ya, soalnya waktu itu gak hati-hati pas jalan jadi nabrak kakak.” Kata Alea sambil tersenyum. Hal itu membuat Ve semakin menderita.
“Ada lagi Alea. Soal Kenzo.” Kata Ve. Mendengar ini, raut wajah Alea tampak berubah.
“Maksud kak Ve apa?” tanya Alea dengan suara bergetar menahan amarah.
“Sebenarnya, yang ngendarain mobil yang berusaha nabrak kamu itu.. Aku.” Kata Ve lirih.
“Plakkk!!!” sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Ve. Tampak wajah Alea dipenuhi guratan amarah. Hatinya begitu sakit mendengar pengakuan dari Ve. Dia mampu memaafkan apa yang coba dilakukan Ve kepadanya. Tapi tidak pada apa yang sudah Ve lakukan pada kakaknya. Ve bingung pada reaksi Alea yang sangat tak biasa. Namun dia tetap merasa bersalah sehingga hanya diam saja.
“Kak Ve. Silakan kamu celakain aku. Kalau perlu, bunuh aku sekalian. Tapi jangan pernah sakitin kakakku!” kata Alea penuh amarah.
“Ja..jadi.. Kenzo..” kata Ve berusaha menelaah semua yang terjadi. Berusaha menyadari kekeliruan dan kesalahpahaman yang selama ini sudah membuat dia buta hati.
“Kak Kenzo itu kakakku. Dan dia sekarang belum sadarkan diri karena perbuatanmu kak! Kalo kak Ve emang mau minta maaf, silakan minta maaf ke kak Kenzo!” kata Alea kemudian pergi dari situ.
Ve duduk sendirian dalam perasaan bersalah yang begitu dalam. Ketidaktahuannya yang sudah diselimuti rasa cemburu telah menyebabkan hal yang sangat mengerikan.
***
Kuliah baru saja usai. Tapi keinginan Alea untuk segera ke rumah sakit harus tertunda karena ada tugas kuliah yang harus dikerjakan terlebih dahulu.
“Mily, punya kamu udah selesai belum?” tanya Alea kepada Emily.
“Belum nih Al. Masih setengah lagi. Punyamu udah?”
“Hehe. Belum juga.” Jawab Alea. Mereka berdua pun tertawa. Dari kejauhan tampak Liana dan Gea yang berjalan ke arah mereka.
“Hey, tugas kalian udah jadi belum?” tanya Liana.
“Belum nih Li. Masih kurang banyak. Loe udah selesai?” tanya balik Emily.
“Belum juga nih Mily. Tapi si Gea tu yang udah. Sumpah cepet banget ngerjainnya.” Kata Liana. Gea hanya tersenyum malu.
“Gea, ajarin aku dong.” Kata Alea. Gea pun segera mendatangi Alea dan membantu Alea menyelesaikan tugasnya.
“Oke. Makasih ya Gea.” Kata Alea.
“I..Iya. Sama-sama Alea.” Kata Gea.
“Yah curang. Kita berdua kok gak dibantuin juga?” kata Emily protes. Gea pun tersenyum kemudian menghampiri dan membantu kedua sahabatnya itu. Dengan serius, Gea mengajari Emily dan Liana memahami soal-soal.
“Eh, temen-temen. Aku duluan ya.” Kata Alea pamit.
“Mau ke rumah sakit ya Al?” tanya Emily.
“Iya Mily. Mau ikut?”
“Pengen sih, tapi tugasku belum selesai. Nanti aja deh aku nyusul ya.” Kata Emily.
“Yaudah. Daa temen-temen.” Kata Alea seraya berlari menuju gerbang kampus.
“Yakin nih Mily? Nanti nyesel loh.” Goda Liana sambil menyenggol Emily.
“Liana apaan sih.” Kata Emily malu-malu.
“Mily. Nanti tugas punyamu nanti aku kerjain. Sana.” Kata Gea tiba-tiba. Emily melongo. Gea tersenyum penuh arti.
“OK deh kalo gitu. Aku pergi dulu ya temen-temen.” Kata Emily kemudian berlalu. Meninggalkan Gea dan Liana yang cekikikan melihat tingkah Emily.
“Alea, tunggu!!!” teriak Emily. Alea pun menoleh ke arah suara tersebut. Dia pun mendapati Emily yang berlari ke arahnya.
“Mily. Katanya gak mau ikut. Hayooo...” goda Alea. Tiba-tiba saja pipi Emily bersemu merah.
“Cieee, Emily...”
“Alea apaan sih, ikut-ikutan Liana deh.” Kata Emily berusaha menyanggah.
Saat sedang bersenda gurau dengan Emily, tiba-tiba ponsel Alea berdering. Ternyata Evan yang menelpon.
“Halo kak Evan.”
“Halo Alea. Alea, cepetan ke sini. Kenzo udah sadar! Buruan!”
“Iya kak. Makasih ya kak.” Hati Alea begitu senang mendengar kabar tersebut. Dia pun bergegas menuju rumah sakit.
“Alea. Ada apa?” tanya Emily heran.
“Kak Kenzo udah sadar Mily. Yuk, cepetan.” Kata Alea. Tanpa babibu lagi, Emily bergegas menyusul Alea yang sudah berjalan agak jauh di depannya.
Alea berjalan dengan riang. Emily yang melihatnya nampak senang. Kemurungan nampaknya sudah hilang dari wajah cantik Alea. Tiba-tiba langkahnya terhenti di depan sebuah toko kue. Sebuah ide muncul di dalam benaknya. Dengan seulas senyuman, dia melangkah masuk ke dalam toko kue tersebut. Emily yang masih bingung pun langsung saja ikut masuk.
“Al, mau ngapain?” tanya Emily.
“Beliin kue buat kak Kenzo, Mily. Dia kan suka banget sama kue. Apalagi kue coklat.” Jawab Alea. Emily pun mengangguk paham.
“Alea. Liat nih.” Kata Emily kepada sambil menunjuk ke arah sebuah kue coklat. Alea tersenyum kemudian mengangguk. Setelah mendapatkan kue tersebut, Alea dan Emily bergegas ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Alea diikuti Emily langsung berlari menuju kamar tempat Kenzo dirawat. Tanpa memperhatikan ada Evan, Tara, dan Wayan, serta Emily yang datang bersamanya, Alea langsung berlari memeluk kakaknya yang sedang duduk di atas ranjang rumah sakit.
“Kakaak.” Kata Alea bahagia.
“Aduh duh duh Al. Punggung kakak masih sakit.” Kata Kenzo meringis menahan sakit.
“Eh, iya maaf kak.” Kata Alea melepas pelukannya. Alea dan Kenzo berpandangan cukup lama. Tiba-tiba Alea menangis.
“Alea sayang. Kenapa nangis? Kakak kan udah sadar.” Kata Kenzo.
“Kakak jahat. Kenapa lama banget sadarnya?” kata Alea sambil memeluk Kenzo lagi. Dengan lembut, Kenzo membelai rambut panjang Alea.
“Maafin kakak udah bikin kamu khawatir. Udah ya, jangan nangis lagi.” Kata Kenzo. Alea langsung menyeka air matanya. Evan, Tara, Wayan, dan Emily yang dari tadi hanya memperhatikan ikut senang melihat Kenzo dan Alea yang sudah bisa bersama lagi.
“Kakak..” kata Alea lirih.
“Iya Alea. Ada apa?” tanya Kenzo.
“Alea boleh cubit hidung kakak gak?” tanya Alea polos. Kontan Evan, Tara, dan Wayan tertawa mendengar permintaan aneh dari Alea.
Kenzo pun tersenyum mendengar permintaan adiknya itu. Dengan perlahan, diraihnya tangan kanan Alea kemudian diletakkannya jari-jari tangan Alea ke hidungnya. Tapi Alea tidak mencubitnya. Air mata Alea kembali mengalir. Alea kembali memeluk Kenzo. Tapi kali ini, Kenzo membiarkan Alea memeluknya dan menangis. Dia membiarkan Alea meluapkan semua rasa sedihnya selama ini.
Lelah menangis, Alea ternyata tertidur di pelukan Kenzo. Evan menawarkan diri untuk menggendong Alea, memindahnya ke sofa. Tapi Kenzo melarangnya. Dia membiarkan Alea tidur dengan pulas di pelukannya.
“Evan, Tara, Wayan. Makasih ya, kalian udah mau ngejaga adik gue Alea. Kalian emang sahabat terbaik gue.” Kata Kenzo.
“Yo’i sob. Kita kan, sahabat selamanya.” Kata Wayan.
“Iya Kenzo. Kita seneng kok bisa bantu loe.” Kata Evan sambil tersenyum memandangi Alea.
“Yaelah. Kalo si Evan kan emang suka sama Alea. Jadinya ya mau banget lah. Hahaha” Goda Tara.
“Apaan sih loe Tar.” Kata Evan malu. Kenzo, Tara, dan Wayan tertawa melihat wajah Evan yang memerah.
“Oh iya ada Emily juga. Hai, makasih ya udah nemenin Alea selama aku di sini.” Kata Kenzo kepada Emily yang dari tadi diam saja tak berani bicara.
“Eh? Eng. I..iya kak. Sama-sama.” Kata Emily gugup. Pipinya bersemu merah.
“Lah, loe bawa apaan tuh?” tanya Tara menunjuk ke plastik yang dipegang oleh Emily.
“Oh. Ini... eng... kue coklat, buat kak Kenzo.” Kata Emily sambil menyerahkan plastik berisi sekotak kue coklat kepada Kenzo. Tanpa sengaja, tangan mereka berdua bersentuhan. Degup jantung Emily semakin cepat.
“Mily.” Kata Kenzo. Emily semakin kaget mendengar suara Kenzo.
“Kok tangan kamu gemeteran kayak gitu? Kamu sakit?” tanya Kenzo. Pipi Emily memerah. Tiba-tiba dia menarik tangannya dan menggeleng.
“Temennya Alea kok aneh gini sih Yan?” tanya Tara kepada Wayan sambil berbisik.
“Itu namanya orang lagi jatuh cinta bego.” Bisik Wayan lalu melayangkan jitakan ke kepala Tara.
“Eh buset. Sakit Yan.” Kata Tara sambil mengusap kepalanya.
“Ssssttt, diem. Lanjutin dramanya dulu tuh.” Kata Wayan sambil mengedipkan mata ke arah Kenzo dan Emily. Tara hanya manggut-manggut.
“Sekali lagi, makasih banyak ya... Emily.” Kata Kenzo kepada Emily sambil tersenyum.
Emily melongo melihat senyum Kenzo. Bukan hanya Kenzo, tapi Tara, Wayan, bahkan Evan. Senyuman yang datang dari dalam hati. Senyuman yang belum pernah dilihat lagi oleh Evan, Tara, dan Wayan semenjak lama. Mereka bertiga pun ikut tersenyum senang melihat sahabatnya mulai menemukan lagi kepingan jalan hidupnya.
“Kak Kenzo kalo senyum cakep banget ya, kak Evan.” Suara lirih Alea mengagetkan Evan.
“Eh, Alea. Udah bangun?” tanya Evan kemudian. Alea hanya tersenyum.
“Lama banget aku gak liat kak Kenzo senyum kayak gitu. Dan ternyata Emily yang bisa bikin kak Kenzo senyum kakak gitu lagi.” Kata Alea. Evan sedikit terkejut mendengar kata-kata Alea. Tapi dia pun segera mengerti.
“Kamu bener Al. Semoga Emily adalah orang yang tepat buat Kenzo. Dan Kenzo mau buka hati dia untuk seseorang yang baru.” Kata Evan.
“Kak Evan.” Panggil Alea.
“Iya, Al. Ada apa?” tanya Evan.
“Eng. Gak papa. Gak jadi. Kapan-kapan aja deh.” Jawab Alea sambil nyengir.
“Ih, dasar kamu.” Kata Evan lalu mencubit hidung Alea lembut.
“Wayan, kayaknya bakal ada acara makan-makan dobel nih. Asiiik.” Celetuk Tara sehingga Kenzo-Emily dan Evan-Alea mendengarnya.
“Hahaha. Bener loe Tar. Jadian dobel, makan-makan juga dobel.” Timpal Wayan.
“Tara... Wayan... loe berdua belom pernah tahu rasanya dicincang sampe alus terus direbus di air mendidih ya?” tanya Kenzo sambil melancarkan tatapan mematikan ke arah Tara dan Wayan.
Melihat tatapan mata Kenzo, Tara dan Wayan pun tak berani bicara apa-apa. Tiba-tiba saja mereka berlutut berdampingan. Emily, Alea, dan Evan tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah lucu Tara dan Wayan yang ketakutan melihat tatapan mata Kenzo.
“Ampun yang mulia. Gue gak lagi-lagi deh. Ampuuun.” Kata Wayan.
“Iya yang mulia. Padahal loe udah cakep banget pas senyum tadi. Tapi kok berubah lagi jadi horor kayak cetan. Eeeeh.” Kata-kata Tara terhenti. Dia menutupi mukanya dengan kedua tangannya karena takut melihat mata Kenzo.
“Kak Evan. Itu pada ngapain sih. Lucu banget sih. Hahaha.” Tanya Alea.
“Oh, itu emang sisi lainnya Kenzo kalo ada yang macem-macem sama dia. Emang kamu gak tahu?”
“Baru kali ini kak. Tapi sumpah, kak Tara sama kak Wayan lucu banget. Hahaha.” Alea kembali tertawa.
“Makasih ya.” Kata Kenzo tiba-tiba. Semua yang ada di situ pun terdiam.
“Makasih kalian semua udah ada buat gue ketika gue ada di kondisi kayak gini. Evan, Tara, Wayan.” Lanjut Kenzo.
Evan, Tara, dan Wayan pun menghela nafas panjang. Dan tanpa berkata apa-apa, mereka langsung mengacungkan kepalan tinju mereka lalu menngubahnya menjadi acungan jempol ke arah Kenzo. Kenzo tersenyum lalu melakukan hal yang sama. Alea tersenyum bahagia melihat kuatnya ikatan persahabatan Kenzo dan ketiga sahabatnya itu.
“Adu duh duh.” Kenzo mengerang kesakitan sambil memegangi tangan kanannya lalu mencoba meletakkannya di pangkuannya.
“Kak Kenzo, awas pelan-pelan.” Kata Emily kemudian membantu Kenzo.
“Cieeeee...” ucap Evan, Tara, Wayan, dan Alea hampir bersamaan.
“Alea... kamu kok ikut-ikutan sama mereka sih...” kata Kenzo sambil melakukan tatapan mematikan seperti biasanya.
“Kak, udah. Istirahat dulu, supaya cepet sembuh. Yaaa.” Kata Emily mencoba menahan Kenzo. Kenzo pun menoleh dan dan belum sempat berargumen, tubuhnya sudah didorong oleh Emily. Tanpa berkata apa-apa, Kenzo pun menurut saja lalu memejamkan matanya.
“Buset tuh cewek sakti ya.” Celetuk Tara. Evan, Wayan, dan Alea pun manggut-manggut tanda setuju. Emily pun mengacungkan dua jari sambil tersenyum ke arah mereka V(^.^).
"Kayaknya kak Kenzo udah tidur." Bisik Emily ke arah yang lain setelah beberapa saat. Keempat makhluk yang dari tadi menjadi penonton pun hanya manggut-manggut sambil menahan nafas takut mengganggu tidur Kenzo.
Saat akan berjalan ke samping Alea, tiba-tiba tangan kirinya dipegang oleh Kenzo. Seolah mengerti maksud Kenzo, dia pun duduk di samping Kenzo. Dia melirik ke arah Kenzo yang matanya masih terpejam tapi ternyata sedang tersenyum.
Kak Kenzo ternyata jahil ya.” Batin Emily sambil tersenyum senang.
Dasar cewek lucu....” Batin Kenzo sambil masih tetap memejamkan matanya.

To be continued...
0
01-12-2014 19:25
hahah anime-lover bikin cerita di SFTH (lgi)

----------------------------

gw hargai klo ente ngaku ini cerita fiksi hahah
soalnya bnyk yg "ngakunya" real story

ente gw panggil step aja yah.. kan sesuai username emoticon-Big Grin
cmn pgn nyampein aja.. klo ane ngikutin ni trit/cerita
tpi ane kbnykan SR aja.. takut ngejunk hehe

----------------------------

komen buat cerita
dilihat dri "tingkat ke-lebay-an".. ngalah2in anime yg gw tonton/manga yg gw baca hahaha
mungkin gara2 bnyk yg skip2.. ato terlalu cepet masuk intinya.. (kalimat ato paragraf)
dipikiran gw lho ya.. ga tau klo orang laen..
but, santai aja.. tiap orang punya gaya penulisan sendiri2 emoticon-Smilie
Diubah oleh aoi.sky
0
04-12-2014 13:52
Quote:Original Posted By aoi.sky
hahah anime-lover bikin cerita di SFTH (lgi)

----------------------------

gw hargai klo ente ngaku ini cerita fiksi hahah
soalnya bnyk yg "ngakunya" real story

ente gw panggil step aja yah.. kan sesuai username emoticon-Big Grin
cmn pgn nyampein aja.. klo ane ngikutin ni trit/cerita
tpi ane kbnykan SR aja.. takut ngejunk hehe

----------------------------

komen buat cerita
dilihat dri "tingkat ke-lebay-an".. ngalah2in anime yg gw tonton/manga yg gw baca hahaha
mungkin gara2 bnyk yg skip2.. ato terlalu cepet masuk intinya.. (kalimat ato paragraf)
dipikiran gw lho ya.. ga tau klo orang laen..
but, santai aja.. tiap orang punya gaya penulisan sendiri2 emoticon-Smilie


Ya emang fiksi napa harus diakuin "true story"? emoticon-Ngakak (S)

Aduh, step... berasa penyakit yak... emoticon-Hammer2

Heuheuheu... makasih gan komennya. Ini nih yg ane cari, kritik dan saran yang jujur. Ini juga lagi pencarian gaya nulis gan. Hmm... berarti perlu perombakan sana-sini nih.
0
06-12-2014 21:17
Quote:Original Posted By nvrstepback


Ya emang fiksi napa harus diakuin "true story"? emoticon-Ngakak (S)

Aduh, step... berasa penyakit yak... emoticon-Hammer2

Heuheuheu... makasih gan komennya. Ini nih yg ane cari, kritik dan saran yang jujur. Ini juga lagi pencarian gaya nulis gan. Hmm... berarti perlu perombakan sana-sini nih.


lha username gitu hahha

santai aja.. sambil nulis2 ntar lama2 jdi punya gaya nulis sendiri..

klo referensi gw sih buat lo sih ini
itu ceritanya mirip2 anime/manga gitu.. udah baca blom?
0
07-12-2014 21:45
Quote:Original Posted By aoi.sky
lha username gitu hahha

santai aja.. sambil nulis2 ntar lama2 jdi punya gaya nulis sendiri..

klo referensi gw sih buat lo sih ini
itu ceritanya mirip2 anime/manga gitu.. udah baca blom?


Iya deh... emoticon-Malu (S)

Belum gan, lg jarang on via kompi. Nanti coba maen ke situ deh. Udah baca pembukaannya & tertarik. emoticon-Big Grin
0
Post ini telah dihapus oleh zhulato
07-12-2014 21:55
Quote:
Quote:
Act 4 - "A 'Normal' Day"


Quote:Hari Selasa. Hari paling menjemukan untuk Alea, Emily, Liana, dan Gea karena hari ini ada kuliah dari pak Darma, dosen yang cukup galak serta umurnya sudah cukup tua sehingga cara mengajarnya membuat kantuk mudah menyerang. Materi yang disampaikan pun juga cukup membuat otak jenuh. Sehingga sering Liana harus dibangunkan oleh Emily karena ketiduran sebelum ketahuan pak Darma. Seperti saat ini, ketika Liana tertidur dan harus mendapat hukuman karena ketahuan pak Darma.
“Li. Buruan bangun. Li!” bisik Emily ke telinga Liana sambil mengguncangkan kursi Liana. Namun Liana masih tidak bergeming. Tidurnya masih nyenyak.
“Li. Cepetan bangun. Dasar kebo.” Bisik Emily berharap Liana segera terbangun karena pak Darma terlihat sedang berjalan ke arah mereka.
“Liana!” kata pak Darma cukup keras sehingga seluruh kelas hening dan memusatkan perhatian ke arah pak Darma dan Liana.
“Mampus.” Batin Emily sambil menutup kedua mukanya. Namun terlihat Liana masih terpejam.
“Liana, cepat bangun!” kata pak Darma lebih keras. Liana pun akhirnya terbangun dan hampir terjatuh dari kursinya. Menyadari ada pak Darma di depannya, Liana langsung bermanuver merapikan rambut panjangnya yang tak diikat.
“I..iya pak.” Kata Liana gugup. Liana melirik ke arah Emily, Alea, dan Gea. Tampak mereka bertiga hanya menundukkan kepala.
"Mampus gue.” Batin Liana.
“Kamu pikir kamu siapa bisa seenaknya tidur di kelas saya?” tanya pak Darma dengan nada tinggi.
“Ma..maaf pak. S..saya ngantuk, se..malam begadang ngerjain tugas pak.” Kata Liana memberikan alasan.
“Oh. Jadi semalam kamu begadang mengerjakan tugas?” tanya pak Darma. Nada suaranya sudah agak turun.
“I..iya pak.”
“Kalau begitu, nanti malam silakan kamu begadang lagi. Kamu tulis rangkuman materi kuliah semester ini. Minggu depan, letakkan di meja saya! Mengerti?” kata pak Darma. Liana kaget setengah mati. Begitu juga Emily, Alea, dan Gea.
“Ba..baik pak.” Kata Liana lemas. Pak Darma pun kembali berjalan ke depan kelas melanjutkan materi yang tadi disampaikan.
“Mampus gue. Ngrangkum materi kuliah satu semester Cuma dikasih waktu seminggu?” kata Liana.
“Udah Li. Tenang, nanti kita bantuin.” Kata Alea. Gea mengangguk.
“Makasih ya guys, ngrepotin kalian.” Kata Liana.
Kelas pak Darma pun selesai. Tapi nampaknya pak Darma sedang berbincang dengan seseorang di depan pintu kelas sehingga para mahasiswa belum berani keluar. Dan pak Darma pun berbicara kembali di depan kelas namun bukan menyampaikan materi kuliah.
“Anak-anak, jangan keluar dulu. Ada pengumuman dari BEM. silakan kalian dengarkan.” Kata pak Darma yang kemudian mempersilakan perwakilan BEM masuk, Tara dan Wayan.
“Eh, itu kak Tara sama siapa?” tanya Liana ke teman-temannya.
“Itu kak Wayan, Liana.” Jawab Emily. Liana menatap Wayan dengan penasaran. Dia pun
teringat pada sesi hiburan saat acara penyambutan mahasiswa baru beberapa minggu yang lalu, ketika ada cowok cool yang menyanyi sambil memainkan gitar.
“Li. Kesambet ya?” tanya Alea melihat Liana melongo. Liana pun sepertinya masih tidak
menghiraukan pertanyaan Alea karena masih asyik melihat Wayan dengan tatapan penasaran. Alea yang mengetahuinya pun tersenyum.
“Selamat siang teman-teman.” Kata Tara memberi salam.
“Saya bersama Wayan, selaku perwakilan BEM akan menyampaikan sebuah pengumuman tentang akan diadakannya acara malam pengakraban atau makrab sebagai lanjutan dari acara penyambutan mahasiswa baru beberapa waktu lalu. Acara makrab ini akan diadakan mulai besok hari Jumat sampai hari Minggu. Untuk itu, nanti pukul 3 kami mohon kehadiran kalian di hall untuk pemberitahuan lebih lanjut. Kami mengharapkan kalian bisa datang demi kelancaran acara ini. Terima kasih.” Kata Tara menyampaikan pengumuman.
“Oke, sebagai tambahan, acara makrab ini bersifat wajib sehingga kalian wajib datang dan ikut.” Kata Wayan menambahkan. Setelah menyampaikan pengumuman tersebut, Tara dan Wayan serta pak Darma meninggalkan ruang kelas. Diikuti para mahasiswa yang juga segera keluar meninggalkan kelas.
“Kumpulnya masih jam 3, sekarang jam 2. Makan dulu yuk guys.” Kata Liana mengajak Alea, Emily, dan Gea makan.
“Iya yuk. Aku juga udah laper nih.” Kata Alea menyetujui ajakan Liana. Gea juga setuju.
“Sorry nih temen-temen. Kalian duluan aja ya. Aku mau ke perpus bentar mau pinjam buku.” Kata Emily.
“Buku apaan sih Mily?” tanya Liana penasaran.
“Novel.. Hehe.” Jawab Emily sambil tersenyum.
“Mi..mily, aku nitip pinjemin antologi puisi lama ya?” kata Gea.
“Oke Gea. Aku cariin ya.” Kata Emily sambil tersenyum. Gea pun tersenyum.
“Yaudah kalo gitu. Ati2 ya, cepet nyusul.” Kata Liana. Emily mengangguk kemudian bergegas menuju ke perpustakaan. Liana bersama Alea dan Gea pun berjalan menuju kantin.
Sesampainya di kantin, mereka memesan makanan dan minuman. Setelah mendapat tempat duduk, mereka bertiga pun makan sambil membicarakan perihal makrab.
“Eh, Alea. Makrab tu acara gimana nanti?” tanya Liana ke Alea.
“Aduh Li, mana aku tahu. Aku kan bukan panitia.” Kata Alea.
“Ya siapa tau kak Kenzo cerita ke kamu.” Kata Liana.
“Yah. Kak Kenzo gak bakalan mungkin cerita deh. Dia kan orangnya profesional banget. Sekalipun aku adiknya, dia gak bakalan kasih tahu meskipun aku sampe sujud-sujud.” Terang Alea.
“Waduh. Sampe segitunya.” Kata Liana.
Saat mereka sedang menikmati makanan dan minuman mereka sambil mengobrol, mata Alea menangkap sosok Ve di bangku pojokan sedang mencuri pandang ke arahnya. Dalam hati, Alea mati-matian untuk tidak menaruh rasa benci pada Ve. Tapi dia merasa begitu sulit membuang rasa bencinya kepada Ve atas apa yang sudah terjadi pada Kenzo. Segera saja Alea mengalihkan pandangannya dan segera bergabung kembali dalam obrolan bersama Liana dan Gea.
"Li, aku jadi penasaran deh kok kamu sering banget ketiduran pas kuliah? Nggak cuma pas kelas Pak Darma, hampir tiap kuliah pagi pasti gitu." Alea membuka topik. Gea mengangguk, lalu menatap Liana menunggu jawaban.
"Hehe." Liana hanya membalasnya dengan cengiran aneh.
"Liana..." Gea kembali meminta jawaban. Liana tak langsung menjawab. Dia merogoh kantong depan tas ransel yang dia sandarkan di sebelah meja lalu mengeluarkan ponselnya.
"Nih." Liana menyodorkan ponselnya kepada Alea dan Gea.
"Cipta... Lagu... Populer... on Youtube?" Alea membaca tulisan pada gambar yang terpampang di layar ponsel Liana. Dia dan Gea saling pandang, lalu kembali menatap Liana yang sedang asyik mengunyah bakso.
"Kontes?" Tanya Gea penasaran.
"Iya, kesempatan gue nih. Selain hadiahnya lumayan, yang menang juga bisa dapet kontrak dari label mayor." Terang Liana bersemangat. Gea manggut-manggut.
"Tapi jangan sampe ngorbanin kuliah dong, Li. Sepenting apapun kontes itu, kewajiban utama kita sekarang adalah belajar. Apalagi kita sekarang mahasiswa, bukan siswa SMA lagi. Harus mulai bisa nentuin prioritas." Ujar Alea panjang lebar. Liana dan Gea melongo mendengar kata-kata Alea.
“Iya Al, iya. Tapi... kalian jadi bantuin gue kan?” tanya Liana.
“Kita bantuin kok Liana. Tenang aja.” Kata Gea sambil menepuk pundak Liana. Alea juga mengangguk membenarkan kata-kata Gea.
“Makasih ya Gea, Alea. Kalian emang sahabat gue yang paling baik.” Kata Liana.
"Tapi janji ya, harus bisa nentuin prioritas. Dan kalo bisa... menangin kontesnya juga." Alea mengajukan syarat. Liana mengacungkan jempolnya. Mereka bertiga pun tersenyum satu sama lain. Saat itu, tiba-tiba ada seseorang yang mendekat.
“Hai, boleh gabung?” ternyata Ve.
“Bo..boleh kok kak.” Kata Gea gugup.
“Iya kak, mari duduk.” Kata Liana agak cuek
“Makasih ya.” Kata Ve kemudian duduk di samping Liana, tepat di depan Alea. Namun nampak Alea sama sekali tak memperhatikan Ve. Dia berusaha membuang pandangan.
“Hi Alea.” Sapa Ve ke Alea. Alea pun menoleh ke arah Ve, namun dengan pandangan penuh rasa amarah. Dan segera dia bangkit kemudian beranjak pergi.
“Temen-temen, aku nyusul Emily ke perpus dulu ya. Daa.” Kata Alea pamit kemudian meninggalkan Liana dan Gea bersama dengan Ve. Nampak Ve terhenyak melihat tatapan mata tajam Alea dan sikap dingin Alea kepadanya.
Di perjalanan menuju perpustakaan, Alea masih terlihat menyesali sikapnya ke Ve. Seandainya ada Kenzo, pasti dia sudah dimarahi karena masih belum bisa memaafkan. Tapi dia merasa cukup sulit untuk memaafkan Ve. Apa yang sudah terjadi pada Kenzo, hingga Kenzo harus masuk rumah sakit.
“Al.” Sapa seseorang dari belakang Alea tiba- tiba. Alea pun berhenti kemudian menoleh.
“Kakak?” kata Alea kaget melihat Kenzo berdiri dengan senyuman jahilnya. Di kepalanya masih terlihat perban yang belum dilepas.
“Kok kakak udah ke kampus? Bukannya belum boleh pulang sama dokter? Perbannya juga masih belum dilepas.” tanya Alea.
“Kata siapa belum boleh pulang? Tadi dokter bilang kalo kakak udah boleh pulang, tapi masih perlu kontrol. Nih dikasih oleh-oleh.” Kata Kenzo sambil menunjuk kantong plastik putih di tangan kirinya.
“Oleh-oleh apaan kak?” tanya Alea penasaran. Kenzo pun membuka kantong plastik itu. Alea memeriksa isi kantong , ternyata berisi obat-obat yang harus dikonsumsi Kenzo untuk penyembuhan.
“Ih, kakak nih apaan sih. Ini kan obat, masa dibilang oleh-oleh.” Kata Alea sambil mencubit hidung Kenzo dengan gemas.
“Aauwwww. Alea ini hidung, bukan mainan. Sakit tau.” Kata Kenzo sambil mengusap-usap hidungnya yang memerah. Alea tertawa melihat kakaknya. Saat itu, Evan pun datang bergabung.
“Eh, loe udah balik dari rumah sakit bro?” tanya Evan ke Kenzo.
“Iya Van. Kata dokter udah boleh balik. Jadi sekalian aja gue ke sini buat nengokin adik gue yang cantik ini.” Kata Kenzo sambil mengusap rambut panjang Alea.
Alea tersipu mendapat perlakuan seperti itu dari kakaknya. Apalagi di situ ada Evan. Melihatnya, Evan
pun tersenyum. Aliran-aliran elektron pun perlahan saling bertukar tempat di atara hati Evan dan Alea. Karena merasakan sesuatu yang aneh pada Evan dan Alea, Kenzo pun segera mengambil inisiatif untuk pergi meninggalkan mereka berdua.
“Eh. Al, Van. Gue ke ruang lab dulu mau ketemu dosen.” Kata Kenzo tiba-tiba.
“Loh. Trus Alea sama siapa? Kok kakak tau- tau mau pergi sih?” kata Alea cemberut. Kenzo pun menunjuk ke arah Evan dengan lirikan mata.
“Udah ah. Van, jagain Alea ya. Daa.” Kata Kenzo kemudian melangkah pergi. Tinggal Evan dan Alea yang kebingungan.
Berbeda ketika mereka berdua berada di klinik, ketika mereka masih belum begitu mengenal satu sama lain. Kali ini, sinyal- sinyal ‘rasa’ sudah cukup terasa sehingga mereka nampak tersipu-sipu dan hanya saling melempar senyum.
“Sekarang ada Evan yang bisa gue percaya buat ngejagain Alea.” Batin Kenzo sambil terus berjalan. Tanpa sengaja, dia menabrak Emily yang sedang berjalan terburu-buru hingga Emily terjatuh dan buku-buku yang dibawa Emily jatuh berantakan.
“Aduh, maaf. Sini aku bantuin.” Kata Kenzo kemudian meletakkan kantong plastik obatnya lalu segera mengambil buku-buku yang berserakan.
“Ng..gak usah kak. Gak papa kok.” Kata Emily malu-malu sambil menata buku-bukunya yang jatuh. Dia tidak berani menatap wajah Kenzo.
Sampai tiba-tiba tangan mereka saling bersentuhan saat akan mengambil sebuah buku. Lagi-lagi, hukum fisika tentang aliran elektron pun terjadi antara mereka. Bedanya, aliran elektron yang ada di tubuh Emily lebih aktif. Sehingga Emily pun terlihat begitu salah tingkah. Kenzo hanya tertawa kecil melihat tingkah sahabat adiknya itu.
“Sekali lagi maaf ya, kamu temennya Alea kan? Eng.. nama kamu siapa?” tanya Kenzo. Pipi Emily memerah.
“Emily kak, panggil aja Mily.” Jawab Emily malu-malu.
“Yaudah, aku mau ke kantin nemuin temen- temen dulu kak. Permisi.” Kata Emily pamit kemudian ngacir dengan kecepatan tinggi. Kenzo sampai heran. Tapi dalam hati dia merasa senang karena mendapatkan hiburan berupa pertunjukan salting Emily tadi.
“Emily...” Kata Kenzo kemudian melanjutkan langkah kakinya.
Setibanya di lab, Kenzo segera masuk untuk mencari dosennya. Tapi karena tidak ada orang, dia pun duduk dan menyalakan komputer. Tiba-tiba ada seorang cewek yang masuk dan kemudian duduk di samping Kenzo.
“Hai Kenzo.” Sapa cewek itu.
“Oh. Hai Rara.” Jawab Kenzo singkat dengan nada datar.
“Kok tumben sendirian? Tara sama yang lainnya mana?” tanya Rara.
“Gak tau. Paling di ruang BEM persiapan buat pengumuman nanti sore.” Jawab Kenzo sambil sibuk berselancar di internet.
“Kenzo.” Kata Rara. Kali ini, Kenzo tak dapat bersuara karena ternyata Rara sedang memegang tangan kanannya. Jantungnya berdegup kencang. Kenzo memang sempat menyukai Rara. Tapi karena satu dan lain hal, akhirnya rasa itu pupus dan Kenzo pun berhenti mengejarnya.
Kenzo menoleh pelan. Nampak wajah oriental Rara dengan mata sipitnya, rambut lurus panjang dengan poni yang menutupi dahi dan hampir mencapai alis tipisnya. Juga senyuman cantik yang dulu begitu mempesona Kenzo. Tapi kini tak lagi mempesonanya.
“Kenapa Ra?” tanya Kenzo berusaha mempertahankan tampang juteknya. Tapi Rara tak menjawab, justru genggamannya ke tangan Kenzo makin erat. Dan wajah Rara makin mendekat ke wajah Kenzo.
“Rara apaan sih loe?” tanya Kenzo risih. Namun Rara tampak tak menghiraukan kata- kata Kenzo.
Dengan perlahan, Kenzo menjauhkan wajahnya, menjauhkan pandangannya dari wajah Rara. Hingga matanya terhenti pada sosok Emily yang tengah berdiri dengan raut wajah kecewa. Di tangan kanan Emily, tampak plastik berisi obat milik Kenzo. Melihat Kenzo dan Rara begitu dekat, hati Emily terasa hancur. Dia pun menjatuhkan obat Kenzo dan kemudian berlari menjauh. Kenzo pun mundur menjauhi Rara, lalu bangkit kemudian berlari keluar mengejar Emily. Rara terdiam.
“Mily! Emily!” teriak Kenzo berusaha memanggil Emily yang sudah berlari jauh.

Will be continued...
0
07-12-2014 21:59
Buser si kenzo strong amat ditabrak mobil mulu kagak mati" emoticon-Bingung (S)
Limbad juga kalah kali ama kenzo emoticon-Ngakak (S)
0
08-12-2014 05:27
Quote:Original Posted By frostmoune
Buser si kenzo strong amat ditabrak mobil mulu kagak mati" emoticon-Bingung (S)
Limbad juga kalah kali ama kenzo emoticon-Ngakak (S)


emoticon-Ngakak (S) Eh iya juga... baru nyadar sekarang kalo si Kenzo udah ditabrak berkali-kali. Namanya juga cheat karakter utama gan, always bejo. emoticon-Ngakak (S)
0
08-12-2014 10:57
Quote:Original Posted By nvrstepback


emoticon-Ngakak (S) Eh iya juga... baru nyadar sekarang kalo si Kenzo udah ditabrak berkali-kali. Namanya juga cheat karakter utama gan, always bejo. emoticon-Ngakak (S)


yee peaa lu yang bikin ceritanya emoticon-Cape d... (S)
dikata gta kali ada cheatnya emoticon-Cape d... (S) emoticon-Ngakak (S)
eh gan besok" bikin kenzo bisa terbang ya kek supermen emoticon-Ngakak (S)
0
13-11-2017 16:20
Quote:
Quote:
Act 5 - "Jealous"


Quote:Alea berjalan menyusuri koridor menuju perpus. Senyum bahagia menghiasi wajahnya. Kejadian yang cukup awkward ketika berdua bersama Evan tadi masih memenuhi seisi ruang otaknya. Perasaan senang, canggung, malu, bercampur. Tapi yang pasti, dia senang karena sepertinya rasa sukanya kepada Evan tidak bertepuk sebelah tangan. Saat sedang berjalan, tiba-tiba dia melihat Emily sedang terduduk lesu sambil memegang beberapa buku.
“Mily, kok di sini? Katanya tadi mau ke perpus.” Tanya Alea. Namun Emily hanya diam saja. Dia masih tertunduk dan tidak menunjukkan wajahnya. Melihat keanehan pada salah satu sahabatnya itu, Alea perlahan menunduk memperhatikan wajah Emily.
“Lho. Mily, kamu kenapa? Kok nangis? Ada apa?” tanya Alea lagi. Emily masih juga terdiam.
“Yaudah, kalo emang belum mau cerita. Tapi kalo mau cerita, cerita aja. Kita kan sahabat.” Kata Alea kemudian duduk di samping Emily. Tiba-tiba dari arah belakang muncul Kenzo.
“Mily.” Kata Kenzo. Mendengar suara Kenzo, tanpa menoleh dan melihat Kenzo, Emily langsung berlari pergi. Alea tampak kebingungan melihat apa yang terjadi. Saat Kenzo akan mengejar Emily, Alea pun menarik tangan Kenzo dan mendudukkannya.
“Aduh, Alea. Kenapa sih, kakak kan mau ngejar Mily dulu.” Kata Kenzo kesal.
“Kak. Sebenernya ada apa sih kok Emily bisa sampe gitu?” tanya Alea.
“Dia salah paham Al, pas ngeliat kakak sama Rara pas di lab tadi.” Jawab Kenzo lesu.
“Rara? Siapa tu kak? Pacar kakak?” tanya Alea lagi.
“Aduh Alea. Kamu kan tau, kalo kakak tu masih jomblo.” Jawab Kenzo.
“Terus?” tanya Alea. Kenzo menarik nafas panjang, kemudian mulai menjelaskan semua yang terjadi. Dari kejadian Kenzo bertabrakan dengan Emily hingga kejadian Rara yang tiba-tiba mendekatinya dan Emily melihatnya. Kenzo juga menjelaskan siapa Rara.
“Tapi kakak bener udah nggak ada rasa sama kak Rara kan?” tanya Alea.
“Bener Alea. Serius deh.” Jawab Kenzo bersungguh-sungguh. Melihat raut wajah kakaknya, Alea pun yakin. Tapi kemudian muncul pikiran jahil Alea.
“Terus, kok kakak kayaknya ngebet banget ngejar Mily mau ngejelasin ini semua?” tanya Alea dengan nada menggoda.
“Ha? Eh..Eng..Anu..Umm.” Kenzo kehilangan kata-kata. Dia pun kemudian mulai berpikir, kenapa juga dia sampai ngos-ngosan mengejar Emily? Padahal dia da Emily tak ada hubungan.
Alea masih menunggu jawaban dari Kenzo. Tapi nampak kebingungan di wajah Kenzo, sehingga Alea pun mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh kepada Kenzo.
“Yaudah kak. Biar nanti Alea jelasin ke Mily. Tenang aja.” Kata Alea sambil menepuk pundak Kenzo.
“Makasih ya Al.” Kata Kenzo. Alea tersenyum sambil mengacungkan dua jempolnya.
“Oiya, bentar lagi jam 3 lho. Buruan ke hall gih. Supaya gak ketinggalan.” Kata Kenzo mengingatkan Alea.
“Oke kakakku sayang. Alea duluan ya. Kakak buruan nyusul lho.”
“Sip”. Kata Kenzo. Alea pun bergegas pergi menuju Hall.
***
Alea bersama Emily, Liana, dan Gea serta mahasiswa baru lainnya sudah berkumpul di hall untuk mendengarkan pengumuman lebih lanjut seputar acara makrab. Beberapa mahasiswa anggota BEM nampak masuk ke hall termasuk Tara, Evan, dan Wayan. Namun tak nampak batang hidung Kenzo.
“Selamat sore semuanya.” Kata Tara membuka acara.
“Eh, kak Kenzo mana ya?” Liana melempar pertanyaan ke teman-temannya.
“Paling masih jalan ke sini.” Jawab Alea. Emily nampak acuh. Alea pun segera menyampaikan sesuatu ke Emily.
“Mily, nanti ngobrol sama aku bentar ya.” Kata Alea agak berbisik ke telinga Emily. Emily pun mengangguk. Alea tersenyum. Kemudian mereka kembali memperhatikan pengarahan yang disampaikan Tara.
“Pertama-tama, silakan kalian berbaris sesuai dengan instruksi dari kak Evan.” Kata Tara.
Evan langsung bergerak. Dia memberi aba-aba agar para maru (mahasiswa baru – red) membuat barisan 10 bersaf (10 menyamping). Tak butuh waktu lama, barisan sudah tertata rapi.
“Oke, barisan sudah terbentuk. Sekarang, silakan kalian lihat teman-teman pada barisan kalian. Mereka akan menjadi anggota kelompok kalian selama acara makrab nanti.” Kata Tara menjelaskan. Total ada sekitar 20 kelompok. Alea, Emily, Liana, dan Gea berada pada satu kelompok bersama dengan 2 orang cewek dan 4 cowok.
“Sekarang, silakan masing-masing kelompok membentuk lingkaran kecil. Kami akan membagikan peralatan apa saja yang nanti harus kalian bawa.” Segera barisan bubar dan terbentuk lingkaran-lingkaran kecil. Tara, beserta Wayan dibantu anggota BEM yang lain membagikan lembar-lembar kertas berisi peralatan yang harus dibawa oleh peserta makrab.
“Silakan kalian baca, kemudian kalian rundingkan dengan kelompok kalian. Apabila ada yang kurang jelas, silakan kalian bertanya.”
Salah satu cowok di kelompok Alea pun meraih lembaran kertas tersebut kemudian membacanya. Cowok berperawakan cukup tinggi dengan badan yang proporsional. Rambutnya bergaya spike. Beberapa kali dia mengernyitkan dahi ketika membaca. Beberapa kali pula dia melontarkan pertanyaan. Kemudian dia mulai membuka diskusi kelompok.
“Oke teman-teman, sebelumnya kita berkenalan dulu. Nama gue Gian Baskara, kalian bisa panggil gue Gian. Gue dari jurusan Hukum” Kata Gian memperkenalkan dirinya.
“Gue Wisnu Eka Satria. Panggil gue, Wisnu. Gue juga dari jurusan hukum.” Kata Wisnu, cowok berperawakan agak kecil dengan wajah yang cukup tenang.
“Anissa Rahmania. Panggil gue Nissa ya temen-temen. Gue dari jurusan Informatika.” Nissa, cewek manis berjilbab. Senyumnya menambah pesonanya.
“Atika Ratnaputri. Panggil gue Tika aja. Gue jurusan hukum.” Tika, cewek berambut sebahu. Sorot matanya yang begitu cemerlang menunjukkan kecerdasannya.
Berturut-turut, Alea, Emily, Liana, dan Gea memperkenalkan diri. Serta seorang cowok dan seorang cewek yang ternyata adalah saudara kembar.
“Gue Mars Aditya, kalian bisa panggil gue Mars atau Adit. Gue jurusan ekonomi.” Mars, cowok berperawakan kecil dengan mata agak sipit. Berkulit putih. Rambutnya cukup panjang.
“Dan gue Venus Azalia, kakaknya Mars. Panggil gue Venus. Gue juga jurusan ekonomi.” Venus, wajahnya sangat mirip dengan Mars. Hanya rambut ikal panjangnya yang membedakan dia dengan Mars.
Setelah sesi perkenalan, mereka mulai membagi tugas untuk membawa peralatan yang harus dibawa untuk makrab. Dan sebagai ketua, ditunjuk Gian. Setelah Tara membubarkan acara tersebut, beberapa kelompok masih tampak tinggal di dalam hall untuk berdiskusi termasuk kelompok Alea. Mereka tampak serius mendiskusikan beberapa hal.
“Oke, semuanya udah fix. Gak ada yang merasa keberatan kan?” tanya Gian. Semuanya menggeleng.
“Eng. Besok, jam 2 kita kumpul lagi aja. Gimana?” usul Tika. Semuanya setuju. Mereka kemudian bergegas keluar hall dan pulang.
Sesampainya di luar hall, Alea langsung menarik Emily dan mengajaknya ke taman kampus yang agak sepi. Mereka berdua pun duduk. Perlahan, Alea pun mulai bertanya ke Emily mengenai apa yang terjadi antara Emily dan Kenzo.
“Emily.” “Alea.” Mereka berbicara bersamaan.
“Ada apa Alea?” tanya Emily.
“Eng, kamu duluan aja deh Mily.” Kata Alea mempersilakan Emily berbicara. Emily diam sebentar kemudian menarik nafas panjang.
“Kak Kenzo udah punya pacar ya Al?” tanya Emily. Mendengarnya, Alea cukup kaget. Tapi dia berusaha menutupi kekagetannya.
“Kak Kenzo tu masih jomblo Mily. Dia tu terlalu susah buat jatuh cinta.” Jawab Alea. Emily menunduk.
“Tapi tadi kok dia sama cewek di lab komputer. Deket banget.” kata Emily.
“Kamu cemburu ya?” tanya Alea dengan nada agak menggoda.
“Ah Alea apaan sih. Aku kan bukan siapa-siapanya kak Kenzo.” Kata Emily mengelak. Tapi nampak pipinya bersemu merah. Alea pun tersenyum melihatnya.
“Mily, kak Kenzo tadi udah cerita semuanya ke aku. Kak Kenzo juga kaget karena tiba-tiba kejebak di situasi kayak tadi. Cewek yang kamu lihat lagi ngedeketin kak Kenzo tu namanya Rara. Kak Kenzo pernah suka sama dia, tapi akhirnya rasa suka kak Kenzo hilang. Jadi mereka tu nggak ada apa-apa.” Terang Alea. Emily terdiam mendengar semua kata-kata Alea.
“Kamu suka sama kak Kenzo kan Mily?” tanya Alea. Emily masih diam. Tapi raut muka kecewanya telah berubah menjadi raut muka bahagia.
“Gakpapa Mily, aku udah tahu kok. Eh, tau gak sebenernya kak Kenzo juga suka lho sama kamu.” Kata Alea sambil menepuk pundak Emily.
“Alea. Kak Kenzo suka sama aku? Serius?” tanya Emily tidak percaya.
“Iya Mily. Kak Kenzo emang gak pernah cerita. Tapi pas ngeliat usaha kak Kenzo sampe lari-lari ngos-ngosan buat ngejar kamu tadi, aku jadi tau. Kak Kenzo tu orang yang terlalu cuek buat ngejelasin sesuatu ke orang lain kalo ada salah paham. Sikap dia ke kamu beda sama sikap dia ke orang lain.” Jawab Alea panjang lebar. Emily pun tersenyum kemudian memeluk Alea.
“Makasih ya Alea. Berarti aku harus minta maaf ke kak Kenzo.” Kata Emily. Alea tersenyum.
Mereka pun bangkit berdiri dan bergegas pulang karena hari sudah sore dan mereka harus mempersiapkan peralatan untuk makrab. Oiya... Satu lagi, mereka harus membantu Liana menyelesaikan tugas merangkum materi kuliah Sastra Modern.
***
“Kak, aku mau ke rumah Liana dulu bantuin dia ngerjain tugas.” Kata Alea ke Kenzo di tempat parkir.
“Kakak anterin ya?” kata Kenzo.
“Gak usah kak, aku bareng sama temen-temen naik mobilnya Emily.” Terang Alea.
“Eh Al. Mily gimana?” tanya Kenzo penasaran.
“Ciee. Manggilnya udah Mily.” Kata Alea menggoda kakaknya.
“Ih, dasar. Ditanya apa jawabnya malah apa.” Kata Kenzo sewot.
“Semuanya lancar bos.” Kata Alea sambil mengacungkan jempolnya. Kenzo senang mendengarnya.
“Oiya kak, kapan nih nembak Emily? Dia udah nungguin lho.” Tanya Alea lagi. Kali ini Kenzo tak mau kalah meladeni candaan Alea.
“Kakak bakal nembak Emily kalo Evan udah nembak kamu.” Jawab Kenzo datar kemudian diikuti dengan senyum jahil.
“Ih, kakak apaan sih.” Kata Alea malu-malu.
“Yaudah kak, Alea duluan ya. Kakak ati-ati di jalan. Kalo udah nyampe rumah sms Alea ya.” Kata Alea.
“Iya adikku yang paling cantik.” Kata Kenzo sambil memeluk Alea.
“Daa kakak.” Kata Alea kemudian berlalu meninggalkan Kenzo. Kenzo masih mengamati Alea yang berlari ke arah teman-temannya.
“Kamu sekarang udah gede Al. Kakak seneng di sini, kamu punya sahabat yang baik.” Batin Kenzo. Dia pun bergegas menyalakan motornya dan pulang. Di depan gerbang kampus, dia sempat berpapasan dengan Alea dan teman-temannya termasuk Emily. Mata Kenzo dan Emily sempat beradu pandang. Ada senyum di wajah mereka. Namun hanya sebentar karena Kenzo kemudian melaju menjauh.
“Yuk guys.” Ajak Liana.
Mereka pun masuk ke mobil Emily. Di jalan, Alea yang duduk di samping Emily melihat senyum di wajah Emily yang tak kunjung hilang.
“Ciee yang disenyumin kak Kenzo.” Kata Liana menggoda dari kursi belakang.
“Ah, apaan sih Li.” Elak Emily. Suasana pun menjadi meriah dengan kata-kata Liana yang selalu berhasil membuat Emily selalu kehabisan kata dan salah tingkah.

Will be continued...


*dasar ts kampret udah 3 taun baru lanjut!*
Diubah oleh nvrstepback
0
13-11-2017 16:51
buset...kentangya legend.
0
13-11-2017 18:44
Quote:Original Posted By dodzaguila
buset...kentangya legend.


ibarat kentang telah menjadi ch*tato ye gan emoticon-Ngakak (S)
0
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
unbreakable
Stories from the Heart
riding-to-jannah
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.