Hobby
Batal
KATEGORI
link has been copied
185
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/53a14bed1cbfaa02388b45de/kebatinan-spiritual-jawa-bukan-agama-tetapi-saling-melengkapi
Salam Rahayu, Assalamualaikum.... Mohon ijin kepada moderator Forum Spiritual dan para sesepuh untuk memuat threat Kebatinan/Spiritual Jawa bukan Agama tetapi saling melengkapi. Threat ini untuk meluruskan kekurang fahaman banyak orang akan penghayat kebatinan/spiritual jawa yang sering di salah artikan, padahal penghayat kebatinan/spiritual jawa dan agama sejatinya saling melengkapi dalam kehidup
Lapor Hansip
18-06-2014 15:21

Kebatinan/Spiritual Jawa bukan Agama tetapi saling melengkapi

Salam Rahayu, Assalamualaikum....

Mohon ijin kepada moderator Forum Spiritual dan para sesepuh untuk memuat threat Kebatinan/Spiritual Jawa bukan Agama tetapi saling melengkapi.

Threat ini untuk meluruskan kekurang fahaman banyak orang akan penghayat kebatinan/spiritual jawa yang sering di salah artikan, padahal penghayat kebatinan/spiritual jawa dan agama sejatinya saling melengkapi dalam kehidupan di masyarakat.

Threat ini bukan forum debat, meninggikan atau merendahkan satu dengan lainnya, apalagi menyerang keyakinan seseorang, diharapkan terjadi dialog-dialog yang saling mengisi dan melengkapi dengan dilandasi azas toleransi dan sikap saling menghormati.

Terimakasih, Rahayu.


Penghayat Kebatinan/Spiritual Jawa bukan Agama tetapi saling melengkapi


Kebatinan/Spiritual Jawa (Kejawen) pada dasarnya adalah sebuah kepercayaan ketuhanan, bukan agama, dan kepercayaan ketuhanan kejawen itu tidak membutuhkan kitab suci, karena pendekatan mereka kepada Tuhan dilakukan secara langsung dan pribadi, dengan rasa, dengan batin.

Dan pengertian umum Manunggaling Kawula Lan Gusti dalam konsep kejawen adalah hubungan manusia dengan Tuhannya secara langsung dan pribadi, melalui olah rasa dan batin manusia berusaha mengenal Tuhan secara langsung dan menyatu denganNya.

Ketuhanan kejawen itu tidak mendasarkan diri pada ajaran sebuah kitab suci dan tidak melalui nabi-nabi seperti halnya agama modern, tetapi dengan rasa dan batin mereka berusaha mendekatkan diri dan berusaha secara langsung mengenal Tuhan. Itulah yang disebut agama Kaweruh.

Dengan demikian terdapat perbedaan yang signifikan antara agama modern dengan ketuhanan kejawen. Penganut agama modern menggunakan ajaran-ajaran dalam kitab sucinya sebagai sumber pengetahuan mereka tentang Tuhan dan menjadi acuan peribadatan mereka.

Semua keharusan dan larangan di dalam kitab suci harus dipatuhi, menjadi dasar peribadatan yang tidak boleh dilanggar. Pengenalan dan pengetahuan mereka tentang Tuhan umumnya hanyalah sebatas apa yang sudah tertulis dan diajarkan dalam kitab suci dan agama mereka saja, tidak lebih, dan tidak boleh lebih, apalagi menyimpang dari itu, yang kemudian malah banyak memunculkan pencitraan, dogma dan doktrin dan pengkultusan tentang Tuhan, tentang pahala dan dosa, surga dan neraka, sehingga menjadi umum bahwa kemudian mereka akan meninggikan agama dan kitab suci mereka, bahkan mempertuhankannya, lebih daripada mereka mempertuhankan Tuhan.

Sedangkan penganut ketuhanan kejawen berusaha mengenal Tuhan secara langsung dan menyelaraskan kehidupan mereka sesuai penghayatan ketuhanan mereka masing-masing untuk mendapatkan jalan menuju Manunggaling Kawula Lan Gusti.

Ajaran-ajaran kejawen bervariasi dan sejumlah aliran dapat mengadopsi ajaran agama pendatang, baik Hindu, Budha, Islam, atau Kristen. Perilaku ini dipandang bukan sesuatu yang aneh karena dianggap memperkaya cara pandang mereka terhadap perkembangan jaman. Prinsipnya, yang baik diambil, yang jelek dibuang.

Penerimaan Jawa terhadap nilai-nilai yang datang dari luar diposisikan sebagai ‘baju’, isinya tetap Jawa. Agama yang dianut bisa apa saja, tetapi masyarakat Jawa mempunyai penghayatan sendiri tentang Tuhan. Maka selalu saja ada perbedaan yang signifikan antara Hindu Jawa dan Budha Jawa dengan yang asli di India, dan Islam Jawa dengan yang asli Arab.

Budaya kebatinan Jawa, pada prakteknya, selain berisi ajaran-ajaran budi pekerti dan ketuhanan, juga diwarnai dengan ritual-ritual kepercayaan dan ritual-ritual yang berbau mistik, yang merupakan produk-produk asli kebudayaan Jawa, yang merupakan bagian dari budaya kepercayaan Jawa, seperti keris, wayang, tari-tarian, pencak silat dan musik pengiringnya, aliran kebatinan, merawat sedulur papat, ritual selametan, tahlilan, ruwatan, sedekah bumi, sekatenan - arak pusaka, dsb, walaupun sekarang sudah diisi dengan keagamaan Islam sesuai agama yang sudah dianut.

Kejawen atau Kejawaan (ke-jawi-an) dalam pandangan umum berisi kesenian, budaya, tradisi, ritual, sikap serta filosofi tradisional orang-orang Jawa. Kejawen juga mencerminkan spiritualitas orang Jawa.

Penganut ajaran kejawen tidak menganggap ajarannya sebagai agama dalam pengertian formal seperti agama monoteistik seperti Islam dan Kristen, tetapi lebih melihatnya sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah laku dalam upaya mendekatkan diri dan menyelaraskan hidup mereka dengan Tuhan, menjalankan “laku” untuk pencerahan cipta, budi, rasa dan karsa. Ajaran kejawen tidak terpaku pada aturan yang formal seperti dalam agama, tetapi menekankan pada konsep “keselamatan dan keberkahan hidup”.

Simbol-simbol “laku” biasanya melibatkan benda-benda yang diambil dari tradisi yang dianggap asli Jawa, seperti 'memuliakan' pusaka beserta sesajinya, pertunjukan wayang, pembacaan doa, penggunaan bunga-bunga tertentu sebagai sesaji, dan sebagainya. Akibatnya banyak orang (termasuk penghayat kejawen sendiri) dengan mudah mengasosiasikan kejawen dengan praktek klenik dan mistik.

Kejawen adalah kearifan lokal jawa yang mengarahkan kesadaran pada kesejatian diri masing-masing manusia, pengenalan diri pada kehidupan, dan menghidupkan kesejatian yang ada dalam diri manusia. Kejawen adalah budaya kebatinan dan spiritualitas berkenaan dengan keTuhanan dan budi pekerti.

Agama yang dianut bisa apa saja menurut keyakinan masing-masing, tetapi budi pekerti selayaknya menjadi acuan perilaku orang jawa, jangan ditinggalkan. Jangan sampai orangnya beragama dan agamis, tapi perilakunya tidak berbudi pekerti, jauh dari perilaku mulia, apalagi berpribadi mulia. Jangan menjadi orang jawa yang hilang jawa-nya.

Secara kebatinan dan spiritual, mereka percaya bahwa kehidupan manusia di alam ini hanyalah sementara saja yang pada akhirnya nantinya akan kembali lagi kepada Sang Pencipta. Manusia, bila hanya sendiri dan dengan kekuatannya sendiri, adalah bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, lemah dan fana.

Karena itulah manusia harus menyelaraskan diri dengan kekuatan dan kekuasaan yang lebih tinggi (roh-roh dan Tuhan), beradaptasi dengan lingkungan alam yang merupakan rahmat dari Tuhan dan memeliharanya, bukan melawannya, apalagi merusaknya. Kepercayaan kepada alam, roh-roh dan Tuhan ini seringkali dikonotasikan sebagai kepercayaan animisme dan dinamisme, yang kontras dengan ajaran agama.

Mereka terbiasa hidup sederhana dan apapun yang mereka miliki akan mereka syukuri sebagai karunia Allah. Mereka percaya adanya 'berkah' dari roh-roh, alam dan Tuhan, dan mereka percaya bahwa kehidupan mereka akan lebih baik bila mereka 'keberkahan'.

Karena itu dalam budaya Jawa dikenal adanya upaya untuk selalu menjaga perilaku, kebersihan hati dan batin dan laku-laku prihatin dan tirakat dan berbagai ritual untuk menjaga supaya hidup mereka selalu diberkahi, seperti ritual Puasa Mutih, Puasa Senin-Kamis, Puasa Wetonan, ritual Sedekah Bumi, Selametan, Syukuran, Ruwatan, ziarah ke makam keluarga dan leluhur, "memuliakan" pusaka yang dimiliki, memberi sesaji kepada roh-roh tertentu di sekitar rumah tinggal, dsb, yang terkesan pada masa sekarang sebagai perilaku mistik dan klenik.

Berbagai perbedaan inilah yang menyebabkan kaum putihan mencela kaum abangan sebagai penganut kepercayaan yang sesat, penuh mitos dan mistik, dan politheis. Tetapi di sisi lain, pihak putihan juga tidak konsisten dengan kemurnian agama mereka, karena mereka juga ikut meramaikan ritual-ritual pihak abangan, seperti acara Garebek Maulud dan Sekatenan, Kirab Pusaka, Selametan, Syukuran, Sedekah Bumi, ziarah kubur, dsb. Sebagian dari mereka juga menjalani kebatinan, keilmuan gaib dan laku prihatin, yang kemudian diajarkan dan diadaptasikan menyatu menjadi ajaran budaya Islam, yang aslinya tidak ada dalam budaya Islam Arab.
Diubah oleh yodhayasa
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tien212700 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 3 dari 10
Kebatinan/Spiritual Jawa bukan Agama tetapi saling melengkapi
24-06-2014 08:13
Quote:Original Posted By dewarucicebol
Sekedar menambahkan tulisan bermanfaat dari Yodhayasa.

KERIS..

Keris terbuat dari bahan-bahan alam :
- Beraneka ragam besi, dari pasir besi pilihan yang di ambil dari Gunung-gunung, sungai-sungai dan sebagainya.
- berbahan pamor Meteor atau bisa di gantikan dengan Nikel (belakangan).
- berwarangka dari kayu pilihan yang masing-masing kayu mempunyai makna tersendiri.
yang kesemua bahannya tersebut adalah dari Alam semesta ini, yang di ciptakan oleh Yang Maha Kuasa.

dan keris di tempa oleh para mpu yang sebelum membuat keris di haruskan mempunyai niat yang bersih suci.

Lalu apabila di anggap musrik/ sesat. maka silahkan kita berpikir lebih lagi. apakah yang menciptakan semua bahan tersebut sesat???
Kerisnya sesat? Pembuatnya sesat? Pemakainya yang sesat? atau yang berpikir sesatlah yang sebenarnya telah tersesat???

mari kita berpikir dari berbagi sudut.. agar Bijak dalam menanggapi sesuatu.

Semoga bermanfaat. emoticon-I Love Indonesia (S)

kan emang paling gampang mengecap sesat mbah daripada mencari jawaban atas ketidaktahuan, wong delok kuikan kendel alok.. wani ngomong.

meninggalkan jejak dulu
0 0
0
Kebatinan/Spiritual Jawa bukan Agama tetapi saling melengkapi
24-06-2014 08:55
Quote:Original Posted By dewarucicebol


dan keris di tempa oleh para mpu yang sebelum membuat keris di haruskan mempunyai niat yang bersih suci.

Lalu apabila di anggap musrik/ sesat. maka silahkan kita berpikir lebih lagi. apakah yang menciptakan semua bahan tersebut sesat???
Kerisnya sesat? Pembuatnya sesat? Pemakainya yang sesat? atau yang berpikir sesatlah yang sebenarnya telah tersesat???


yang sesat adalah yang mengatakan bhw keris itu sesat/musyrik.
0 0
0
Kebatinan/Spiritual Jawa bukan Agama tetapi saling melengkapi
24-06-2014 10:33

Jangan Ganti Budaya Nusantara dengan Budaya Arab

Secara sederhana, kebudayaan merupakan hasil cipta (serta akal budi) manusia untuk memperbaiki, mempermudah, serta meningkatkan kualitas hidup dan kehidupannya. Atau, kebudayaan adalah keseluruhan kemampuan (pikiran, kata, dan tindakan) manusia yang digunakan untuk memahami serta berinteraksi dengan lingkungan dan sesuai sikonnya. Kebudayaan berkembang sesuai atau karena adanya adaptasi dengan lingkungan hidup dan kehidupan serta sikon manusia berada.

Kebudayaan dikenal karena adanya hasil-hasil atau unsur-unsurnya. Unsur-unsur kebudayaan terus menerus bertambah seiring dengan perkembangan hidup dan kehidupan. Manusia mengembangkan kebudayaan; kebudayaan berkembang karena manusia. Manusia disebut makhluk yang berbudaya, jika ia mampu hidup dalam atau sesuai budayanya. Sebagian makhluk berbudaya, bukan saja bermakna mempertahankan nilai-nilai budaya masa lalu atau warisan nenek moyangnya; melainkan termasuk mengembangkan (hasil-hasil) kebudayaan.

Manusia pada komunitasnya, dalam interaksinya mempunyai norma, nilai, serta kebiasaan turun temurun yang disebut tradisi. Tradisi biasanya dipertahankan apa adanya; namun kadangkala mengalami sedikit modifikasi akibat pengaruh luar ke dalam komunitas yang menjalankan tradisi tersebut. Misalnya pengaruh agama-agama ke dalam komunitas budaya (dan tradisi) tertentu; banyak unsur-unsur kebudayaan (misalnya puisi-puisi, bahasa, nyanyian, tarian, seni lukis dan ukir) diisi formula keagamaan sehingga menghasilkan paduan atau sinkretis antara agama dan kebudayaan.

Di Nusantara ada banyak Suku dan Sub-suku, dan masing-masing mempunyai ribuan unsur-unsur kebudayaan, budaya, tradisi, kebiasaan, yang diwariskan oleh para leluhur. Semua warisan tersebut merupakan kekayaan (yang tak ternilai) manusia Nusantara. Ribuan unsur-unsur budaya dan kekayaan yang tak ternilai itulah, sekaligus menjadi magnit yang membawa pendatang dari pelbagai penjuru Bumi ke Nusantara.

Mereka yang datang itu, (ada yang) sekaligus membawa agama dan unsur-unsur budaya setempat (tempat di mana agama itu ada atau lahir); dan di sini, di negeri ini, para pendatang (yang memadukan agama dan budaya atau sinkretisme) itu menyebarkan agama sekaligus memperkenalkan budaya asal mereka.

Inilah (itulah) yang terjadi sejak dulu di Nusantara, dan sekarang terjadi lagi; dan semakin garang orang melakukannya. Akibatnya, akhir-akhir ini, kita semakin sulit membedakan, mana yang Islami dan mana pula yang Arabis. Banyak orang, dengan lantang ajarkan, bahwa (sederhananya) semakin Islami maka semakin sama dengan apa yang ada di Arab. LIHATLAH apa yang ada di sekitar kita…

menjawab telepon, banyak yang tak gunakan halo, atau ya atau salam, kini gunakan bahasa Arab,…ingin menunjukan bahwa dirinya islam
berbaju burqa, jilbab, cangkring, dan setrusnya, itu tandanya semakin sholeh dan Islami
nama-nama tempat, nama anak, nama kompleks, nama tempat ibadah, dan seterusnya, jika dengan nama Arab, maka itu semakin islami dan semakin dekat dengan surga
nyanyikan lagu-lagu/musik padang pasir, maka itu lebih Islami, daripada yang lain
bahkan ada yang protes dan berteriak, bahwa Nusantara membutuhkan koran Islami, televisi Islami, Bus Umum Islami, Kereta Api Islami, dan semuanya harus Islami
Dan (sebetulnya) jika ditelaah lebih jauh dan mendalam lagi, yang dimaksud oleh mereka, ternyata harus seperti (budaya atau pun unsur-unsur budaya) di Arab. Sehingga, semakin Arab, semakin Islami. Lebih parah lagi, semua hasil seni Nusantara dianggap tidak Islami (karena tidak Arab!?). Akibatnya, ada rombongan orang (orang-orang sok suci – sok membela agama – sok moralis) yang MERUNTUHKAN PATUNG, merusak, merobohkan, menghancurkan semuanya …. karena tidak Islami atau pun tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan tidak Islami.

Agaknya kita, bangsa ini, di Nusantara, banyak orang sudah kehilangan jati diri sebagai Manusia Nusantara. Manusia Nusantara yang mempunyai kekayaan budaya dan ribuan unsur budaya, kini mau dihancurkan – mau dihilangkan – mau ditiadakan – mau dilupakan oleh apa yang disebut atas nama tidak Islami. Sungguh tragis.

Agaknya, para penghancur itu -tukang merobohkan itu – perusak-perusak itu, lebih suka NUSANTARA tanpa budaya Nusantara.

"Makanya bangsa ini selalu mendapat musibah, karena Tuhan marah. Seperti kita ketahui bahwa semua adalah ciptaan Tuhan, termasuk budaya, nah seharusnya kita menghargai ciptaan Tuhan, karena Tuhan sdh memberikan secara adil semua manusia yg ada didunia ini berbagai macam ragam suku dan budaya, termasuk untuk Indonesia.
Muslim tdk mampu untuk membedakan mana yg budaya dan mana yg agama, pokoknya yg berbau arab harus dicontoh dan ditiru, karena menurut mereka itulah Islam. Kebodohan dan kedunguanlah yang menjadi penyebab semua ini. Muslim dinegeri ini selalu “angkat telor” dgn Tuhan, seolah-olah jika muslim mengikuti pola hidup bangsa Arab maka Tuhan akan senang. Muslim lebih mementingkan “bungkus” ketimbang isinya didalam mengamalkan ajaranNya.

Selama KEBODOHAN ini tetap dipertahankan, maka sampai kapanpun muslim akan hidup didalam ketertinggalan dan kegelapan. Muslim tdk akan mampu bersaing dgn bangsa2 lainnya untuk bisa maju, muslim hanyalah sebagai PENONTON yang duduk di kursi barisan belakang melihat bangsa lain yang hidupnya makmur, sejahtera, rukun dan damai."
Diubah oleh permana2
0 0
0
Kebatinan/Spiritual Jawa bukan Agama tetapi saling melengkapi
24-06-2014 13:48
dari suatu sumber....

Sikap kebatinan kristen dan agama israel ada kesamaannya dengan Kebatinan/Spiritual Jawa, meski tidak persis sama.

Sikap kebatinan agama israel ada kesamaannya dengan agama jawi.
Di dalam berdoa biasanya orang Israel melakukannya di luar rumah pada malam hari, ada juga yg secara khusus berdoa di bukit / gunung.

Sikap batinnya sama, berlutut dan menghadap ke atas memfokuskan batinnya kepada Tuhan di atas sana. Sebagian lagi dilakukan dengan tambahan persembahan khusus untuk Tuhan sesuai jalan keagamaan mereka.

Jika berdoanya dilakukan di rumah, mereka berdoa dengan membuka jendela atau membuka atap rumahnya (ada yg atap rumahnya bisa dibuka), berlutut dan memfokuskan batinnya kepada Tuhan di atas sana.

Sikap kebatinan yang seperti itu dilakukan juga oleh penghayat2 kebatinan agama jawa (sebelum berkembangnya agama Islam).

Di dalam berdoa mereka juga melakukannya di luar rumah di tempat terbuka pada malam hari. Sikap batinnya sama, menghadap ke atas memfokuskan batinnya kepada Tuhan di atas sana, tapi biasanya mereka berdoa menghadap ke timur. Sebagian lagi dilakukan dengan tambahan laku prihatin dan tirakat.

Jika berdoanya dilakukan di rumah, mereka juga berdoa dengan memfokuskan batinnya kepada Tuhan di atas sana, menghadap ke timur. Posisi berdoanya ada yg dengan berlutut, ada juga yang dengan bersila seperti bersemedi.

Dengan sikap batin yang sama seperti itu, kepada Tuhan di atas sana, doa mereka sama2 bisa sampai kepada Tuhan, karena sikap sugestinya sama.
Tetapi karena sejak dulu Allah sudah ada hubungan khusus dengan bangsa Israel, maka Allah banyak mengirimkan nabi2 utusanNya kepada bangsa Israel untuk menunjukkan kehendak2 Allah atas jalan keagamaan bangsa Israel.

Sedangkan di Jawa Allah tidak punya hubungan khusus dengan orang jawa, tetapi ketersambungan dengan Tuhan dalam penghayatan kebatinan jawa itu juga mendatangkan hikmat tersendiri terutama pada tokoh2 kebatinan jawa, sehingga mereka memiliki pemahaman yang dalam tentang Tuhan dan tentang kesejatian manusia dan memunculkan kekuatan sukma yg tinggi sehingga mereka juga bisa berkuasa atas roh2 duniawi.

Orang2 kristen, pada jaman kristen awal, sikap batin dalam berdoanya sama dengan sikap batin agama israel dan penghayat agama jawa, tetapi fokus batinnya ditambah kepada Yesus Kristus dan Allah Bapa sebagai satu kesatuan.

Tetapi orang2 kristiani pada jaman sekarang ini secara kebatinan cenderung sudah terjadi kemunduran, orang lebih banyak mencitrakan Tuhan di dalam hati dan pikirannya, doanya hanya berputar2 saja di dalam pikirannya, tidak terhubung kepada Tuhan di atas sana.

Kemunduran itu juga mendorong orang untuk memiliki / mengkoleksi gambar2, patung2 dan benda2 keagamaan untuk membantu mendekatkan hati mereka atau untuk mempermudah sugesti mereka kepada sosok pribadi yang mereka puja dalam ibadah mereka, sebagian lagi dijadikan lambang untuk menggambarkan keagamaan mereka.

Dengan sikap penghayatan kebatinan jawa itu yang orang2nya dalam penghayatan kebatinannya dapat sampai kepada Tuhan menjadikan tanah jawa mendapatkan perhatian tersendiri dari Tuhan.

Dan yg tidak diketahui oleh banyak orang (termasuk para nabi dan rasul2 Yesus sekalipun, karena pada jaman dulu orang tidak perhatian kesitu dan pengetahuan tentang itu masih tertutup) adalah bahwa Jawa adalah yg dimaksudkan Tuhan di dalam firman2 Yesus tentang Kerajaan Sorga masa depan yg firman2 itu mulai digenapi Tuhan pada masa sekarang ini.

Itu juga sebabnya para Dewa banyak memberikan perhatiannya pada tanah jawa dan wahyu2nya yg penting banyak diturunkan di tanah jawa, lebih daripada di tempat2 lain walaupun sama2 ada pemujaan dan pengenalan terhadap Dewa.

Tanah Jawa adalah masa depannya Kerajaan Tuhan, menggantikan tanah Israel.

Tanah Jawa akan menjadi pusatnya kegaiban dunia.
Itu adalah Jalan Keselamatan yang sudah direncanakan Tuhan sejak dulu.
Tetapi itu adalah pengetahuan gaib tingkat tinggi yang untuk bisa mengetahuinya kita harus mengedepankan hikmat yg dari Tuhan, tidak bisa hanya dengan mengedepankan agama saja, bukan juga dengan sekedar bisa melihat gaib.
0 0
0
Kebatinan/Spiritual Jawa bukan Agama tetapi saling melengkapi
24-06-2014 20:39
Quote:Sedangkan di Jawa Allah tidak punya hubungan khusus dengan orang jawa, tetapi ketersambungan dengan Tuhan dalam penghayatan kebatinan jawa itu juga mendatangkan hikmat tersendiri terutama pada tokoh2 kebatinan jawa, sehingga mereka memiliki pemahaman yang dalam tentang Tuhan dan tentang kesejatian manusia dan memunculkan kekuatan sukma yg tinggi sehingga mereka juga bisa berkuasa atas roh2 duniawi.


Tulisan di atas jika boleh saya ingin menambahkan berdasarkan keimanan saya yang tak sebiji sesawi ini..
Justru masyarakat JAWA (bukan suku) sangat mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Allah, dan begitu pula sebalikNya. Hubungan masyarakat Nusantara yang JAWA (menJawani) dengan alam semesta ini sangatlah erat.
Inilah Tanah yang Di Janjikan. Letak Surga Dunia. Di mana alam selalu menyediakan apa yang kita perlukan.
Namun pemikiran nafsu telah membutakan Nurani banyak orang, sehingga banyak yang merasa berkuasa atas kekayaan alam Ibu Pertiwi ini.
Mematok pajak atas kekayaan Ibu Pertiwi..
Lalu apa hal tersebut salah? Tidak juga, memang sudah begitu kehendak-Nya. Dan roda kehidupan juga roda zaman pasti akan berputar dan silih berganti.
Berbahagialah orang yang Percaya padaNya dan menghargai (menghormati) Alam.
Diubah oleh dewarucicebol
0 0
0
Kebatinan/Spiritual Jawa bukan Agama tetapi saling melengkapi
25-06-2014 20:50
Quote:Original Posted By deadmanksih3


kitabnya ada didalam diri emoticon-Smilie



Yuppps.. setuju gan, masalahnya manusia masih blm sadar atau masih bingung yang mana yg benar yg mana yg salah hehehehee emoticon-Ngakakemoticon-Shakehand2
0 0
0
Kebatinan/Spiritual Jawa bukan Agama tetapi saling melengkapi
26-06-2014 11:18
Kebatinan/Spiritual Dalam Beragama

Aliran kebatinan ketuhanan pada dasarnya adalah sekelompok manusia yang bersatu dalam tujuan membina pemahaman dan penghayatan kepercayaan manusia terhadap Tuhan.

Kelompok penghayat ketuhanan itu tidak selalu berbentuk agama atau ada dalam wadah suatu agama, tetapi seseorang beragama yang menjalaninya justru bisa mendapatkan pemahaman yang dalam tentang agamanya dan Tuhan setelah mempelajari kebatinan tersebut, dan seseorang bisa mendapatkan pencerahan tentang agamanya sendiri, walaupun pencerahan itu didapatkannya dari luar agamanya.

Perilaku berkebatinan, termasuk berkebatinan dalam agama, apapun agama dan kepercayaannya, baik sekali dilakukan, supaya seseorang mengerti betul ajaran yang dianutnya, supaya tidak dangkal pemahamannya, apalagi hanya ikut-ikutan saja, tetapi materinya harus diperhatikan dan di"filter", memiliki kebijaksanaan untuk memilih yang baik dan membuang yang tidak baik, sehingga kemudian dapat menjadi pribadi yang mengerti agama dan kepercayaannya dengan benar dan mendalam, supaya tidak mudah dibodohi, dihasut, atau bahkan diperdaya (ditunggangi / diperalat).

Tetapi pada jaman sekarang sudah banyak terjadi "pendangkalan". Ajaran kebatinan dalam agama sudah digantikan dengan ajaran tatalaku ibadah saja, kulitnya saja. Keimanan juga dipandang secara dangkal, hanya diukur dari kerajinan ibadah saja. Padahal manusia dinilai bukan hanya dari amal atau ibadahnya saja, tetapi juga dari akhlaknya, sedangkan perbuatan amal dan ibadah hanya sebagian saja dari akhlak.

Pemahaman kemuliaan dalam agama sudah banyak digantikan dengan dogma dan doktrin ke-Aku-an agama. Banyak kotbah yang berisi ajaran dan aturan-aturan keagamaan, formalitas keagamaan, kewajiban beribadah, dogma dan doktrin amal dan dosa, surga dan neraka, tetapi tidak mengedepankan ajaran budi pekerti, bahkan banyak yang menghasut, memfitnah, menghalalkan segala cara asalkan tujuan "keagamaan" mereka terlaksana. Itulah sebabnya banyak orang yang hidupnya sangat agamis dan fanatis, ternyata perilakunya tidak berbudi pekerti dan jauh dari perilaku mulia, malah banyak yang menjadi musuh kemanusiaan.

Akibatnya, banyak orang beragama yang sehari-harinya perilakunya tidak menunjukkan budi pekerti yang baik, karena menganggap urusan agama dan keimanan hanya terkait dengan perbuatan amal, ibadah, pahala dan dosa, dan menganggap budi pekerti hanyalah masalah tradisi sopan santun dan tata krama dalam pergaulan, menganggap budi pekerti hanyalah masalah duniawi yang tidak berhubungan langsung dengan agama.

Anda rajin beribadah, tapi anda kerap mencuri ayam tetangga, apakah anda merasa diri anda berakhlak baik ?

Anda rajin beribadah, tapi anda kerap mencuri uang kantor, apakah anda merasa diri anda berakhlak baik ?

Anda rajin beribadah, tapi anda kerap memarahi dan mengucapkan sumpah serapah kepada anak / istri / suami, apakah anda merasa diri anda berakhlak baik ? Seharusnya kita bisa membedakan perbuatan memarahi yang bertujuan menegur, menyadarkan dan mendidik, dengan perbuatan mengumbar kemarahan dan kebencian.

Anda rajin beribadah, tapi anda kerap liar di jalan raya, melanggar aturan lalu-lintas, menerobos lampu merah, menyerobot / potong-memotong jalan orang, anda bisa lewat tetapi menambah kemacetan jalan raya, apakah anda merasa diri anda berakhlak baik ?

Anda rajin beribadah, tapi anda kerap menekan mengebiri upah pekerja anda, sehingga anda bisa mendapatkan hasil usaha yang lebih banyak, apakah anda merasa diri anda berakhlak baik ?

Anda rajin beribadah, tapi anda kerap tidak membayar pajak, menggelapkan pajak, atau menipu perhitungan pajak, sehingga anda dapat menghemat pengeluaran, apakah anda merasa diri anda berakhlak baik ?

Manusia tidak menyadari bahwa budi pekerti adalah dasar dari akhlak dan pribadi yang mulia, dasar dari perilaku manusia mulia yang telah mengenal Tuhan dan agama.

Manusia harus menyadari bahwa budi pekerti yang baik adalah dasar dari akhlak dan pribadi yang mulia.

Budi pekerti yang baik, perbuatan-perbuatan yang mulia, ditambah pengenalan akan Tuhan dan agama akan mengantarkan manusia menjadi berakhlak mulia, menjadi pribadi yang mulia, menjadi manusia mulia.

Walaupun rajin beribadah, bagaimana seseorang yang tidak berbudi pekerti, yang perbuatan-perbuatannya tidak mulia bisa dianggap sebagai orang yang berakhlak mulia ?

Apakah jika seseorang menunjukkan perilaku yang agamis, rajin beribadah, maka dia juga pasti berakhlak mulia ?

Semua perintah Tuhan, dalam agama apapun, selalu berkenaan dengan aturan budi pekerti yang harus dijalankan manusia dalam hidupnya sebagai manusia yang telah mengenal iman dan Tuhan.

Larangan berbuat dosa, larangan menyalahi orang lain, larangan memfitnah, larangan berdusta, larangan berzinah, cabul dan asusila, larangan mencuri, larangan membunuh, larangan menganiaya, larangan bersikap tamak, larangan menguntungkan diri sendiri dengan merugikan orang lain, perintah beribadah, perintah menolong orang lain, perintah menjaga kesucian hati dan kesucian perbuatan, dsb, adalah perintah-perintah budi pekerti sebagai dasar dari akhlak yang mulia, yang mengantarkan manusia menjadi mahluk mulia di mata Tuhan. Tidak ada perintah Tuhan yang bertentangan dengan ajaran budi pekerti.

Perilaku berbudi pekerti, yang diterapkan dengan mematuhi aturan dan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, adalah pondasi dasar dari kemampuan sebuah bangsa dan negara untuk meningkatkan kualitas peradabannya.

Peradaban yang berisi manusia-manusia liar tidak berbudi pekerti, yang hanya mementingkan dirinya sendiri, tidak akan mampu meningkatkan kualitas peradabannya menjadi lebih maju dan modern, bangsa itu akan banyak bergantung pada peranan bangsa lain yang membantu meningkatkan kualitas peradabannya.


Sejak munculnya agama manusia terkotak-kotak menjadi kelompok-kelompok yang membenarkan dirinya sendiri, kelompoknya sendiri, dan menyalahkan / merendahkan kelompok yang lain, termasuk antar kelompok manusia walaupun dalam agama yang sama.

Keberadaan agama telah gagal total untuk bisa menggabungkan semua umat manusia dalam suasana rukun dan damai. Jangankan damai antar penganut agama yang berbeda, antar kelompok atau ‘aliran’ dalam satu agama yang sama pun tidak.

Tidak ada jaminan bahwa rakyat akan hidup dengan aman dan damai ketika negara sudah menjadi sebuah negara agama dan rakyatnya sudah menganut satu agama yang sama. Dari dulu sampai sekarang sejarah dunia sudah membuktikan ! Selalu saja ada perebutan kekuasaan, penindasan dan pembunuhan.

Agama, walaupun sudah satu agama, tidak bisa menghilangkan perilaku negatif orang-orang yang berambisi pada kekuasaan dan kekayaan, tidak bisa menghilangkan watak dan perilaku asusila. Agama hanya dijadikan tunggangan untuk menuju kekuasaan, dijadikan alat menciptakan dogma dan doktrin untuk menghakimi orang lain dan lawan-lawan politik.

Bahkan lebih buruk lagi, karena agama dan dengan dalih dan nama agama, hati manusia menjadi penuh kebencian, manusia menindas, menganiaya dan membunuhi manusia lainnya !

Dan terhadap orang-orang yang berbeda agama, atau masih satu agama tetapi berbeda aliran, mengapa pula harus menghasut, menganiaya dan membunuhi orang lain yang berbeda pandangan dan keyakinan ?

Semua mahluk adalah ciptaan Tuhan dan semuanya ditempatkan di bumi untuk hidup bersama. Apakah kita akan membunuhi semua mahluk ciptaanNya yang tidak sejalan dengan kita ? Siapa yang memberi kita kuasa untuk membunuh ? Tuhan ? ataukah iblis di dalam diri kita sendiri ?

Seorang anak yang ingin dikasihi oleh orang tuanya haruslah ia bersikap berbakti, patuh dan dekat kepada orang tuanya, bukannya menganiaya dan membunuhi anak-anak yang lain supaya ia kemudian menjadi anak orang tuanya satu-satunya, walaupun itu dilakukannya dengan mengatasnamakan orang tuanya. Semua anggota keluarga harus menerima bahwa mereka adalah satu kesatuan yang harus hidup bersama di dalam keluarga.

Apakah anda akan memuliakan seorang anak anda yang menindas dan membunuhi anak-anak anda yang lain karena berbeda pandangan dan karena dia ingin menjadi anak anda satu-satunya ?

Apakah kemudian anda akan berkata : "Inilah anakku satu-satunya yang berbakti kepadaku" ?

Apakah anda setuju dengan perbuatannya yang membunuhi anak-anak anda yang lain ?

Siapakah yang memberinya kuasa untuk membunuh ? Anda kah ? ataukah iblis di dalam dirinya sendiri ?

Janganlah kita membodohi diri dengan menganggap sesuatunya sudah benar karena kita sudah beragama, atau karena kita beribadah. Iblis hadir dimana-mana. Jangan sampai kita disesatkan atau malah menumbuhsuburkan sifat-sifat iblis dalam diri kita : kebencian dan tipu daya. Jangan hidup di bawah kungkungan sifat-sifat iblis.

Bersihkanlah hidup kita dari sifat-sifat iblis, bersih lahir, hati dan batin. Jangan sampai terulang cerita jatuhnya Adam dan Hawa ke dalam dosa. Jangan juga terulang cerita Kain membunuh saudaranya Habil. Mereka adalah orang-orang yang dekat dengan Tuhan, tetapi iblis tetap saja punya kesempatan untuk menyesatkan manusia.

Jangan sampai karena kesombongan agama kemudian kita malah menjadi bala tentara iblis di dunia. Jangan biarkan kuasa kegelapan menguasai kita.

Jangan mudah dihasut dan disesatkan. Jangan mudah diperdaya orang. Jangan mudah disesatkan setan. Jangan mengkiblatkan agama dan iman kepada seseorang, karena kiblat iman dan agama adalah kepada Tuhan !

Agama hanya bermanfaat bagi orang-orang yang mau menerima, mengimani dan menjalankannya dengan benar. Adanya keberagaman kehidupan mahluk ciptaan Tuhan yang bermacam-macam itu justru menjadi ajang pembuktian apakah dalam kehidupan ini seseorang termasuk sebagai mahluk Tuhan yang mulia berdasarkan keimanan, kepribadian, dan perilakunya, ataukah, walaupun beragama dan beribadah, tetapi termasuk sebagai mahluk liar dan berakhlak rendah yang tak berharga di mata Tuhan.

Mudah-mudahan ini bisa menjadi kebijaksanaan bagi kita, menjadi kebijaksanaan yang bersifat kesepuhan.

Tuhan tidak bisa diklaim sebagai milik seseorang atau segolongan orang, atau diklaim sebagai milik agama tertentu, apalagi sampai mengkafirkan atau menganiaya dan membunuhi orang lain dengan dalih agama atau mengatasnamakan Tuhan.

Tuhan yang berkuasa atau semua mahluk ciptaanNya, bukan kita yang berkuasa memiliki atau menguasai Tuhan.

Tuhan tidak berada di bawah agama, justru agama diberikan supaya manusia dapat mengenal Tuhan.


0 0
0
Kebatinan/Spiritual Jawa bukan Agama tetapi saling melengkapi
26-06-2014 11:20
Kebatinan/Spiritual Dalam Beragama

Aliran kebatinan ketuhanan pada dasarnya adalah sekelompok manusia yang bersatu dalam tujuan membina pemahaman dan penghayatan kepercayaan manusia terhadap Tuhan.

Kelompok penghayat ketuhanan itu tidak selalu berbentuk agama atau ada dalam wadah suatu agama, tetapi seseorang beragama yang menjalaninya justru bisa mendapatkan pemahaman yang dalam tentang agamanya dan Tuhan setelah mempelajari kebatinan tersebut, dan seseorang bisa mendapatkan pencerahan tentang agamanya sendiri, walaupun pencerahan itu didapatkannya dari luar agamanya.

Perilaku berkebatinan, termasuk berkebatinan dalam agama, apapun agama dan kepercayaannya, baik sekali dilakukan, supaya seseorang mengerti betul ajaran yang dianutnya, supaya tidak dangkal pemahamannya, apalagi hanya ikut-ikutan saja, tetapi materinya harus diperhatikan dan di"filter", memiliki kebijaksanaan untuk memilih yang baik dan membuang yang tidak baik, sehingga kemudian dapat menjadi pribadi yang mengerti agama dan kepercayaannya dengan benar dan mendalam, supaya tidak mudah dibodohi, dihasut, atau bahkan diperdaya (ditunggangi / diperalat).

Tetapi pada jaman sekarang sudah banyak terjadi "pendangkalan". Ajaran kebatinan dalam agama sudah digantikan dengan ajaran tatalaku ibadah saja, kulitnya saja. Keimanan juga dipandang secara dangkal, hanya diukur dari kerajinan ibadah saja. Padahal manusia dinilai bukan hanya dari amal atau ibadahnya saja, tetapi juga dari akhlaknya, sedangkan perbuatan amal dan ibadah hanya sebagian saja dari akhlak.

Pemahaman kemuliaan dalam agama sudah banyak digantikan dengan dogma dan doktrin ke-Aku-an agama. Banyak kotbah yang berisi ajaran dan aturan-aturan keagamaan, formalitas keagamaan, kewajiban beribadah, dogma dan doktrin amal dan dosa, surga dan neraka, tetapi tidak mengedepankan ajaran budi pekerti, bahkan banyak yang menghasut, memfitnah, menghalalkan segala cara asalkan tujuan "keagamaan" mereka terlaksana. Itulah sebabnya banyak orang yang hidupnya sangat agamis dan fanatis, ternyata perilakunya tidak berbudi pekerti dan jauh dari perilaku mulia, malah banyak yang menjadi musuh kemanusiaan.

Akibatnya, banyak orang beragama yang sehari-harinya perilakunya tidak menunjukkan budi pekerti yang baik, karena menganggap urusan agama dan keimanan hanya terkait dengan perbuatan amal, ibadah, pahala dan dosa, dan menganggap budi pekerti hanyalah masalah tradisi sopan santun dan tata krama dalam pergaulan, menganggap budi pekerti hanyalah masalah duniawi yang tidak berhubungan langsung dengan agama.

Anda rajin beribadah, tapi anda kerap mencuri ayam tetangga, apakah anda merasa diri anda berakhlak baik ?

Anda rajin beribadah, tapi anda kerap mencuri uang kantor, apakah anda merasa diri anda berakhlak baik ?

Anda rajin beribadah, tapi anda kerap memarahi dan mengucapkan sumpah serapah kepada anak / istri / suami, apakah anda merasa diri anda berakhlak baik ? Seharusnya kita bisa membedakan perbuatan memarahi yang bertujuan menegur, menyadarkan dan mendidik, dengan perbuatan mengumbar kemarahan dan kebencian.

Anda rajin beribadah, tapi anda kerap liar di jalan raya, melanggar aturan lalu-lintas, menerobos lampu merah, menyerobot / potong-memotong jalan orang, anda bisa lewat tetapi menambah kemacetan jalan raya, apakah anda merasa diri anda berakhlak baik ?

Anda rajin beribadah, tapi anda kerap menekan mengebiri upah pekerja anda, sehingga anda bisa mendapatkan hasil usaha yang lebih banyak, apakah anda merasa diri anda berakhlak baik ?

Anda rajin beribadah, tapi anda kerap tidak membayar pajak, menggelapkan pajak, atau menipu perhitungan pajak, sehingga anda dapat menghemat pengeluaran, apakah anda merasa diri anda berakhlak baik ?

Manusia tidak menyadari bahwa budi pekerti adalah dasar dari akhlak dan pribadi yang mulia, dasar dari perilaku manusia mulia yang telah mengenal Tuhan dan agama.

Manusia harus menyadari bahwa budi pekerti yang baik adalah dasar dari akhlak dan pribadi yang mulia.

Budi pekerti yang baik, perbuatan-perbuatan yang mulia, ditambah pengenalan akan Tuhan dan agama akan mengantarkan manusia menjadi berakhlak mulia, menjadi pribadi yang mulia, menjadi manusia mulia.

Walaupun rajin beribadah, bagaimana seseorang yang tidak berbudi pekerti, yang perbuatan-perbuatannya tidak mulia bisa dianggap sebagai orang yang berakhlak mulia ?

Apakah jika seseorang menunjukkan perilaku yang agamis, rajin beribadah, maka dia juga pasti berakhlak mulia ?

Semua perintah Tuhan, dalam agama apapun, selalu berkenaan dengan aturan budi pekerti yang harus dijalankan manusia dalam hidupnya sebagai manusia yang telah mengenal iman dan Tuhan.

Larangan berbuat dosa, larangan menyalahi orang lain, larangan memfitnah, larangan berdusta, larangan berzinah, cabul dan asusila, larangan mencuri, larangan membunuh, larangan menganiaya, larangan bersikap tamak, larangan menguntungkan diri sendiri dengan merugikan orang lain, perintah beribadah, perintah menolong orang lain, perintah menjaga kesucian hati dan kesucian perbuatan, dsb, adalah perintah-perintah budi pekerti sebagai dasar dari akhlak yang mulia, yang mengantarkan manusia menjadi mahluk mulia di mata Tuhan. Tidak ada perintah Tuhan yang bertentangan dengan ajaran budi pekerti.

Perilaku berbudi pekerti, yang diterapkan dengan mematuhi aturan dan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, adalah pondasi dasar dari kemampuan sebuah bangsa dan negara untuk meningkatkan kualitas peradabannya.

Peradaban yang berisi manusia-manusia liar tidak berbudi pekerti, yang hanya mementingkan dirinya sendiri, tidak akan mampu meningkatkan kualitas peradabannya menjadi lebih maju dan modern, bangsa itu akan banyak bergantung pada peranan bangsa lain yang membantu meningkatkan kualitas peradabannya.


Sejak munculnya agama manusia terkotak-kotak menjadi kelompok-kelompok yang membenarkan dirinya sendiri, kelompoknya sendiri, dan menyalahkan / merendahkan kelompok yang lain, termasuk antar kelompok manusia walaupun dalam agama yang sama.

Keberadaan agama telah gagal total untuk bisa menggabungkan semua umat manusia dalam suasana rukun dan damai. Jangankan damai antar penganut agama yang berbeda, antar kelompok atau ‘aliran’ dalam satu agama yang sama pun tidak.

Tidak ada jaminan bahwa rakyat akan hidup dengan aman dan damai ketika negara sudah menjadi sebuah negara agama dan rakyatnya sudah menganut satu agama yang sama. Dari dulu sampai sekarang sejarah dunia sudah membuktikan ! Selalu saja ada perebutan kekuasaan, penindasan dan pembunuhan.

Agama, walaupun sudah satu agama, tidak bisa menghilangkan perilaku negatif orang-orang yang berambisi pada kekuasaan dan kekayaan, tidak bisa menghilangkan watak dan perilaku asusila. Agama hanya dijadikan tunggangan untuk menuju kekuasaan, dijadikan alat menciptakan dogma dan doktrin untuk menghakimi orang lain dan lawan-lawan politik.

Bahkan lebih buruk lagi, karena agama dan dengan dalih dan nama agama, hati manusia menjadi penuh kebencian, manusia menindas, menganiaya dan membunuhi manusia lainnya !

Dan terhadap orang-orang yang berbeda agama, atau masih satu agama tetapi berbeda aliran, mengapa pula harus menghasut, menganiaya dan membunuhi orang lain yang berbeda pandangan dan keyakinan ?

Semua mahluk adalah ciptaan Tuhan dan semuanya ditempatkan di bumi untuk hidup bersama. Apakah kita akan membunuhi semua mahluk ciptaanNya yang tidak sejalan dengan kita ? Siapa yang memberi kita kuasa untuk membunuh ? Tuhan ? ataukah iblis di dalam diri kita sendiri ?

Seorang anak yang ingin dikasihi oleh orang tuanya haruslah ia bersikap berbakti, patuh dan dekat kepada orang tuanya, bukannya menganiaya dan membunuhi anak-anak yang lain supaya ia kemudian menjadi anak orang tuanya satu-satunya, walaupun itu dilakukannya dengan mengatasnamakan orang tuanya. Semua anggota keluarga harus menerima bahwa mereka adalah satu kesatuan yang harus hidup bersama di dalam keluarga.

Apakah anda akan memuliakan seorang anak anda yang menindas dan membunuhi anak-anak anda yang lain karena berbeda pandangan dan karena dia ingin menjadi anak anda satu-satunya ?

Apakah kemudian anda akan berkata : "Inilah anakku satu-satunya yang berbakti kepadaku" ?

Apakah anda setuju dengan perbuatannya yang membunuhi anak-anak anda yang lain ?

Siapakah yang memberinya kuasa untuk membunuh ? Anda kah ? ataukah iblis di dalam dirinya sendiri ?

Janganlah kita membodohi diri dengan menganggap sesuatunya sudah benar karena kita sudah beragama, atau karena kita beribadah. Iblis hadir dimana-mana. Jangan sampai kita disesatkan atau malah menumbuhsuburkan sifat-sifat iblis dalam diri kita : kebencian dan tipu daya. Jangan hidup di bawah kungkungan sifat-sifat iblis.

Bersihkanlah hidup kita dari sifat-sifat iblis, bersih lahir, hati dan batin. Jangan sampai terulang cerita jatuhnya Adam dan Hawa ke dalam dosa. Jangan juga terulang cerita Kain membunuh saudaranya Habil. Mereka adalah orang-orang yang dekat dengan Tuhan, tetapi iblis tetap saja punya kesempatan untuk menyesatkan manusia.

Jangan sampai karena kesombongan agama kemudian kita malah menjadi bala tentara iblis di dunia. Jangan biarkan kuasa kegelapan menguasai kita.

Jangan mudah dihasut dan disesatkan. Jangan mudah diperdaya orang. Jangan mudah disesatkan setan. Jangan mengkiblatkan agama dan iman kepada seseorang, karena kiblat iman dan agama adalah kepada Tuhan !

Agama hanya bermanfaat bagi orang-orang yang mau menerima, mengimani dan menjalankannya dengan benar. Adanya keberagaman kehidupan mahluk ciptaan Tuhan yang bermacam-macam itu justru menjadi ajang pembuktian apakah dalam kehidupan ini seseorang termasuk sebagai mahluk Tuhan yang mulia berdasarkan keimanan, kepribadian, dan perilakunya, ataukah, walaupun beragama dan beribadah, tetapi termasuk sebagai mahluk liar dan berakhlak rendah yang tak berharga di mata Tuhan.

Mudah-mudahan ini bisa menjadi kebijaksanaan bagi kita, menjadi kebijaksanaan yang bersifat kesepuhan.

Tuhan tidak bisa diklaim sebagai milik seseorang atau segolongan orang, atau diklaim sebagai milik agama tertentu, apalagi sampai mengkafirkan atau menganiaya dan membunuhi orang lain dengan dalih agama atau mengatasnamakan Tuhan.

Tuhan yang berkuasa atau semua mahluk ciptaanNya, bukan kita yang berkuasa memiliki atau menguasai Tuhan.

Tuhan tidak berada di bawah agama, justru agama diberikan supaya manusia dapat mengenal Tuhan.


Diubah oleh yodhayasa
0 0
0
Kebatinan/Spiritual Jawa bukan Agama tetapi saling melengkapi
26-06-2014 11:32
Quote:Original Posted By permana2
Secara sederhana, kebudayaan merupakan hasil cipta (serta akal budi) manusia untuk memperbaiki, mempermudah, serta meningkatkan kualitas hidup dan kehidupannya. Atau, kebudayaan adalah keseluruhan kemampuan (pikiran, kata, dan tindakan) manusia yang digunakan untuk memahami serta berinteraksi dengan lingkungan dan sesuai sikonnya. Kebudayaan berkembang sesuai atau karena adanya adaptasi dengan lingkungan hidup dan kehidupan serta sikon manusia berada.

Kebudayaan dikenal karena adanya hasil-hasil atau unsur-unsurnya. Unsur-unsur kebudayaan terus menerus bertambah seiring dengan perkembangan hidup dan kehidupan. Manusia mengembangkan kebudayaan; kebudayaan berkembang karena manusia. Manusia disebut makhluk yang berbudaya, jika ia mampu hidup dalam atau sesuai budayanya. Sebagian makhluk berbudaya, bukan saja bermakna mempertahankan nilai-nilai budaya masa lalu atau warisan nenek moyangnya; melainkan termasuk mengembangkan (hasil-hasil) kebudayaan.

Manusia pada komunitasnya, dalam interaksinya mempunyai norma, nilai, serta kebiasaan turun temurun yang disebut tradisi. Tradisi biasanya dipertahankan apa adanya; namun kadangkala mengalami sedikit modifikasi akibat pengaruh luar ke dalam komunitas yang menjalankan tradisi tersebut. Misalnya pengaruh agama-agama ke dalam komunitas budaya (dan tradisi) tertentu; banyak unsur-unsur kebudayaan (misalnya puisi-puisi, bahasa, nyanyian, tarian, seni lukis dan ukir) diisi formula keagamaan sehingga menghasilkan paduan atau sinkretis antara agama dan kebudayaan.

Di Nusantara ada banyak Suku dan Sub-suku, dan masing-masing mempunyai ribuan unsur-unsur kebudayaan, budaya, tradisi, kebiasaan, yang diwariskan oleh para leluhur. Semua warisan tersebut merupakan kekayaan (yang tak ternilai) manusia Nusantara. Ribuan unsur-unsur budaya dan kekayaan yang tak ternilai itulah, sekaligus menjadi magnit yang membawa pendatang dari pelbagai penjuru Bumi ke Nusantara.

Mereka yang datang itu, (ada yang) sekaligus membawa agama dan unsur-unsur budaya setempat (tempat di mana agama itu ada atau lahir); dan di sini, di negeri ini, para pendatang (yang memadukan agama dan budaya atau sinkretisme) itu menyebarkan agama sekaligus memperkenalkan budaya asal mereka.

Inilah (itulah) yang terjadi sejak dulu di Nusantara, dan sekarang terjadi lagi; dan semakin garang orang melakukannya. Akibatnya, akhir-akhir ini, kita semakin sulit membedakan, mana yang Islami dan mana pula yang Arabis. Banyak orang, dengan lantang ajarkan, bahwa (sederhananya) semakin Islami maka semakin sama dengan apa yang ada di Arab. LIHATLAH apa yang ada di sekitar kita…

menjawab telepon, banyak yang tak gunakan halo, atau ya atau salam, kini gunakan bahasa Arab,…ingin menunjukan bahwa dirinya islam
berbaju burqa, jilbab, cangkring, dan setrusnya, itu tandanya semakin sholeh dan Islami
nama-nama tempat, nama anak, nama kompleks, nama tempat ibadah, dan seterusnya, jika dengan nama Arab, maka itu semakin islami dan semakin dekat dengan surga
nyanyikan lagu-lagu/musik padang pasir, maka itu lebih Islami, daripada yang lain
bahkan ada yang protes dan berteriak, bahwa Nusantara membutuhkan koran Islami, televisi Islami, Bus Umum Islami, Kereta Api Islami, dan semuanya harus Islami
Dan (sebetulnya) jika ditelaah lebih jauh dan mendalam lagi, yang dimaksud oleh mereka, ternyata harus seperti (budaya atau pun unsur-unsur budaya) di Arab. Sehingga, semakin Arab, semakin Islami. Lebih parah lagi, semua hasil seni Nusantara dianggap tidak Islami (karena tidak Arab!?). Akibatnya, ada rombongan orang (orang-orang sok suci – sok membela agama – sok moralis) yang MERUNTUHKAN PATUNG, merusak, merobohkan, menghancurkan semuanya …. karena tidak Islami atau pun tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan tidak Islami.

Agaknya kita, bangsa ini, di Nusantara, banyak orang sudah kehilangan jati diri sebagai Manusia Nusantara. Manusia Nusantara yang mempunyai kekayaan budaya dan ribuan unsur budaya, kini mau dihancurkan – mau dihilangkan – mau ditiadakan – mau dilupakan oleh apa yang disebut atas nama tidak Islami. Sungguh tragis.

Agaknya, para penghancur itu -tukang merobohkan itu – perusak-perusak itu, lebih suka NUSANTARA tanpa budaya Nusantara.

"Makanya bangsa ini selalu mendapat musibah, karena Tuhan marah. Seperti kita ketahui bahwa semua adalah ciptaan Tuhan, termasuk budaya, nah seharusnya kita menghargai ciptaan Tuhan, karena Tuhan sdh memberikan secara adil semua manusia yg ada didunia ini berbagai macam ragam suku dan budaya, termasuk untuk Indonesia.
Muslim tdk mampu untuk membedakan mana yg budaya dan mana yg agama, pokoknya yg berbau arab harus dicontoh dan ditiru, karena menurut mereka itulah Islam. Kebodohan dan kedunguanlah yang menjadi penyebab semua ini. Muslim dinegeri ini selalu “angkat telor” dgn Tuhan, seolah-olah jika muslim mengikuti pola hidup bangsa Arab maka Tuhan akan senang. Muslim lebih mementingkan “bungkus” ketimbang isinya didalam mengamalkan ajaranNya.

Selama KEBODOHAN ini tetap dipertahankan, maka sampai kapanpun muslim akan hidup didalam ketertinggalan dan kegelapan. Muslim tdk akan mampu bersaing dgn bangsa2 lainnya untuk bisa maju, muslim hanyalah sebagai PENONTON yang duduk di kursi barisan belakang melihat bangsa lain yang hidupnya makmur, sejahtera, rukun dan damai."


emoticon-2 Jempol
0 0
0
Kebatinan/Spiritual Jawa bukan Agama tetapi saling melengkapi
26-06-2014 16:31
Quote:Original Posted By permana2
Secara sederhana, kebudayaan merupakan hasil cipta (serta akal budi) manusia untuk memperbaiki, mempermudah, serta meningkatkan kualitas hidup dan kehidupannya. Atau, kebudayaan adalah keseluruhan kemampuan (pikiran, kata, dan tindakan) manusia yang digunakan untuk memahami serta berinteraksi dengan lingkungan dan sesuai sikonnya. Kebudayaan berkembang sesuai atau karena adanya adaptasi dengan lingkungan hidup dan kehidupan serta sikon manusia berada.

Kebudayaan dikenal karena adanya hasil-hasil atau unsur-unsurnya. Unsur-unsur kebudayaan terus menerus bertambah seiring dengan perkembangan hidup dan kehidupan. Manusia mengembangkan kebudayaan; kebudayaan berkembang karena manusia. Manusia disebut makhluk yang berbudaya, jika ia mampu hidup dalam atau sesuai budayanya. Sebagian makhluk berbudaya, bukan saja bermakna mempertahankan nilai-nilai budaya masa lalu atau warisan nenek moyangnya; melainkan termasuk mengembangkan (hasil-hasil) kebudayaan.

Manusia pada komunitasnya, dalam interaksinya mempunyai norma, nilai, serta kebiasaan turun temurun yang disebut tradisi. Tradisi biasanya dipertahankan apa adanya; namun kadangkala mengalami sedikit modifikasi akibat pengaruh luar ke dalam komunitas yang menjalankan tradisi tersebut. Misalnya pengaruh agama-agama ke dalam komunitas budaya (dan tradisi) tertentu; banyak unsur-unsur kebudayaan (misalnya puisi-puisi, bahasa, nyanyian, tarian, seni lukis dan ukir) diisi formula keagamaan sehingga menghasilkan paduan atau sinkretis antara agama dan kebudayaan.

Di Nusantara ada banyak Suku dan Sub-suku, dan masing-masing mempunyai ribuan unsur-unsur kebudayaan, budaya, tradisi, kebiasaan, yang diwariskan oleh para leluhur. Semua warisan tersebut merupakan kekayaan (yang tak ternilai) manusia Nusantara. Ribuan unsur-unsur budaya dan kekayaan yang tak ternilai itulah, sekaligus menjadi magnit yang membawa pendatang dari pelbagai penjuru Bumi ke Nusantara.

Mereka yang datang itu, (ada yang) sekaligus membawa agama dan unsur-unsur budaya setempat (tempat di mana agama itu ada atau lahir); dan di sini, di negeri ini, para pendatang (yang memadukan agama dan budaya atau sinkretisme) itu menyebarkan agama sekaligus memperkenalkan budaya asal mereka.

Inilah (itulah) yang terjadi sejak dulu di Nusantara, dan sekarang terjadi lagi; dan semakin garang orang melakukannya. Akibatnya, akhir-akhir ini, kita semakin sulit membedakan, mana yang Islami dan mana pula yang Arabis. Banyak orang, dengan lantang ajarkan, bahwa (sederhananya) semakin Islami maka semakin sama dengan apa yang ada di Arab. LIHATLAH apa yang ada di sekitar kita…

menjawab telepon, banyak yang tak gunakan halo, atau ya atau salam, kini gunakan bahasa Arab,…ingin menunjukan bahwa dirinya islam
berbaju burqa, jilbab, cangkring, dan setrusnya, itu tandanya semakin sholeh dan Islami
nama-nama tempat, nama anak, nama kompleks, nama tempat ibadah, dan seterusnya, jika dengan nama Arab, maka itu semakin islami dan semakin dekat dengan surga
nyanyikan lagu-lagu/musik padang pasir, maka itu lebih Islami, daripada yang lain
bahkan ada yang protes dan berteriak, bahwa Nusantara membutuhkan koran Islami, televisi Islami, Bus Umum Islami, Kereta Api Islami, dan semuanya harus Islami
Dan (sebetulnya) jika ditelaah lebih jauh dan mendalam lagi, yang dimaksud oleh mereka, ternyata harus seperti (budaya atau pun unsur-unsur budaya) di Arab. Sehingga, semakin Arab, semakin Islami. Lebih parah lagi, semua hasil seni Nusantara dianggap tidak Islami (karena tidak Arab!?). Akibatnya, ada rombongan orang (orang-orang sok suci – sok membela agama – sok moralis) yang MERUNTUHKAN PATUNG, merusak, merobohkan, menghancurkan semuanya …. karena tidak Islami atau pun tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan tidak Islami.

Agaknya kita, bangsa ini, di Nusantara, banyak orang sudah kehilangan jati diri sebagai Manusia Nusantara. Manusia Nusantara yang mempunyai kekayaan budaya dan ribuan unsur budaya, kini mau dihancurkan – mau dihilangkan – mau ditiadakan – mau dilupakan oleh apa yang disebut atas nama tidak Islami. Sungguh tragis.

Agaknya, para penghancur itu -tukang merobohkan itu – perusak-perusak itu, lebih suka NUSANTARA tanpa budaya Nusantara.

"Makanya bangsa ini selalu mendapat musibah, karena Tuhan marah. Seperti kita ketahui bahwa semua adalah ciptaan Tuhan, termasuk budaya, nah seharusnya kita menghargai ciptaan Tuhan, karena Tuhan sdh memberikan secara adil semua manusia yg ada didunia ini berbagai macam ragam suku dan budaya, termasuk untuk Indonesia.
Muslim tdk mampu untuk membedakan mana yg budaya dan mana yg agama, pokoknya yg berbau arab harus dicontoh dan ditiru, karena menurut mereka itulah Islam. Kebodohan dan kedunguanlah yang menjadi penyebab semua ini. Muslim dinegeri ini selalu “angkat telor” dgn Tuhan, seolah-olah jika muslim mengikuti pola hidup bangsa Arab maka Tuhan akan senang. Muslim lebih mementingkan “bungkus” ketimbang isinya didalam mengamalkan ajaranNya.

Selama KEBODOHAN ini tetap dipertahankan, maka sampai kapanpun muslim akan hidup didalam ketertinggalan dan kegelapan. Muslim tdk akan mampu bersaing dgn bangsa2 lainnya untuk bisa maju, muslim hanyalah sebagai PENONTON yang duduk di kursi barisan belakang melihat bangsa lain yang hidupnya makmur, sejahtera, rukun dan damai."


matur nuwun pakde...
menyimak dahulu....
emoticon-Salaman
0 0
0
Kebatinan/Spiritual Jawa bukan Agama tetapi saling melengkapi
27-06-2014 14:37
Quote:Anda rajin beribadah, tapi anda kerap mencuri ayam tetangga, apakah anda merasa diri anda berakhlak baik ?

Anda rajin beribadah, tapi anda kerap mencuri uang kantor, apakah anda merasa diri anda berakhlak baik ?


karena ada kata "anda" maka saya jawab.

Tergantung.. untuk apa barang yang/ uang yang di curi?

1. jika ayam yang di curi oleh saya yang rajin ibadah itu, padahal saya sudah meminta dengan baik-baik ke si pemilik ayam lalu si pemilik ayam tak memberikannya walau hanya 1 ekor pun, meski ia punya banyak ayam.
dan ayam yang di curi itu untuk di berikan kepada orang yang sedang sulit makan.
di penjara pun saya rela asal orang-orang susah itu tak susah lagi.
lalu apa itu menurut anda akhlak saya buruk??

2. jika saya yang rajin beribadah ini mencuri uang kantor, di saat saya meminta kepada kantor untuk membantu orang-orang yang susah karena bencana tetapi kantor yang untungnya bermilyar-milyar/ tahun ini tak memberikannya. dan saya mencurinya untuk di bagikan kepada orang-orang susah itu. di penjara pun saya rela asal orang-orang susah itu tak susah lagi.
lalu apa itu menurut anda akhlak saya buruk??

Quote:kita kembali sedikit ke masa lalu..
alkisah mbah Raden mas said (mbah kalijaga) merampok demi rakyat kecil. apakah anda katakan akhlak beliau buruk??


sesungguhnya... tanah yang di pijak ini, rumah yang di tempati, uang-uang dan harta yang ada di seisi dunia ini milik siapa?

Quote:Jangan sampai karena kesombongan agama kemudian kita malah menjadi bala tentara iblis di dunia. Jangan biarkan kuasa kegelapan menguasai kita.

sebentar.. sebentar.. anda katakan kesombongan agama, agama mana yang sombong??? agamanya atau orang-orang beragamanya yang menyombongkan? karena beda arti jika di katakan agama dan orang beragama.
lalu anda berkata tentang iblis.. anda kenal iblis seperti apa?
dan apakah anda sudah tau persis tentang KEBENARAN?

saya hargai anda dan tulisan anda yang saya paham akan kebaikan niat anda pada tulisan-tulisan anda. namun alangkah baiknya jika tulisan-tulisan itu di rangkai dengan sebijak mungkin.

salam sejati
Diubah oleh dewarucicebol
0 0
0
Kebatinan/Spiritual Jawa bukan Agama tetapi saling melengkapi
28-06-2014 13:06

emoticon-rose
Salam Salaim Kepada Para Sesepuh
Saya pribadi mohon maaf lahir dan batin
Semoga memasuki bulan puasa ini segala kesalahan saya yg disengaja maupun tidak di sengaja mendapatkan maaf dari Sesepuh semua
Karena Habluminanas Menjaga Hak Adami kita sesama Mahluk

emoticon-rose
0 0
0
Kebatinan/Spiritual Jawa bukan Agama tetapi saling melengkapi
28-06-2014 18:21
Buat Para Penghuni ForSpirit, Ane mengharapkan dapat memberikan uang jajannya untuk acara bakti sosial yg diadakan oleh saudara-suadara kita perwakilan dari Forum Spiritual, Supranatural, Dan Budaya.
untuk info lengkapnya mengenai nomer rekening dll, dpt membaca thread officialnya di sticky lounge Forum Spiritual, Supranatural, Dan Budaya.

berbagi sedikit tidak akan membuat agan-agan menjadi miskin emoticon-Smilie

Tuhan tidak pernah tidur, dan tuhan juga tidak buta..

terima kasih, mohon maaf lahir bathin.
selamat menjalankan ibadah puasa bagi umat muslim emoticon-Salaman
0 0
0
Kebatinan/Spiritual Jawa bukan Agama tetapi saling melengkapi
30-06-2014 13:03
Agama dan kebatinan/spiritual memiliki keterkaitan yang kuat

Sebenarnya kesalahannya tidak terletak pada agamanya, tetapi manusianya. Manusia yang berpikiran dangkal, yang menghayati dan mengamalkan agama hanya secara sempit.

Manusia yang menjalankan ajaran agama berdasarkan kesombongan agama, dogma dan doktrin agama dan fanatisme sempit, ke-Aku-an beragama dan cinta diri, dan manusia-manusia yang memper-Tuhan-kan dirinya sendiri, yang menganggap pemikiran dan kata-katanya adalah kebenaran mutlak yang harus diikuti oleh orang lain dan akan mengatai orang lain sebagai murtad / kafir jika tidak sejalan dengan kata-katanya, yang menghalalkan segala cara untuk berkuasa atas agama dan menunggangi agama untuk hasratnya berkuasa dan memaksakan kuasanya itu kepada orang lain.

Hubungan manusia dengan Tuhan tidak bisa dicapai dengan doktrinasi agama, atau pun menghafalkan dan mem-beo segala macam doa dan ayat, atau juga membunuhi manusia lain yang tidak sejalan. Segala macam laku ibadah yang kelihatan mata tidaklah dapat dijadikan ukuran keimanan seseorang.

Keimanan harus terlihat dari akhlaknya yang baik dan dari perbuatannya yang juga baik, yang mencerminkan manusia yang berpribadi mulia dan berakhlak mulia, yang mencerminkan hidup manusia yang telah mengenal Allah. Dengan demikian agama dan hubungan manusia dengan Tuhannya akan menjadi bersifat pribadi.

Orang-orang yang telah dalam pemahaman kebatinannya tentang agamanya dan Tuhan akan menemukan bahwa agama adalah bersifat pribadi antara dirinya dengan Tuhan, sehingga agama tidak dapat dipaksakan kepada orang lain.

Kegagalan agama terletak pada kegagalannya, melalui pemuka-pemuka agamanya, dalam membina kebatinan para pemeluknya. Kegagalan yang justru menjauhkan manusia dari sikap arif bijaksana dan berbudi luhur.

Seringkali kegagalan itu juga menyebabkan para penganutnya menjadi munafik, selain karena adanya kekurangan yang tidak didapatkannya dari agamanya, mereka menutup-nutupi keberatannya atas aturan agama atau aturan-aturan dari pemuka agama yang membelenggunya, dan berusaha mempercantik diri supaya itu tidak tampak di hadapan orang lain, karena takut disebut kafir atau tidak beriman.

Bahkan karena adanya ketidak-seragaman kebatinan pada para pemuka-pemuka agama itu pula yang telah memunculkan banyaknya aliran / sekte di dalam suatu agama, dan masing-masing memiliki ke-Aku-an sendiri-sendiri, sehingga manusia terkotak-kotak menjadi kelompok-kelompok yang memuliakan kelompoknya sendiri dan menyalahkan / merendahkan, bahkan menghakimi kelompok yang lain, walaupun masih dalam lingkup agama yang sama.

Agama dan kebatinan sebenarnya memiliki keterkaitan yang kuat. Tetapi seringkali orang memandang dangkal hanya dari bungkusnya saja, bukan isinya. Orang sering mencampur-adukan 2 hal tersebut yang seharusnya memang berbeda.

Karena pemahaman tentang istilah kebatinan dan spiritual yang dangkal dan sempit yang sudah menjauhkan manusia dari pengertian yang benar tentang kebatinan, seringkali orang tidak menyadari bahwa sebenarnya ia sudah menjalankan suatu laku kebatinan / spiritual, karena tidak hanya di dalam kelompok kebatinan dan spiritual, di dalam kehidupan beragama pun ada saja orang yang mendalami agama, melakukan pengenalan yang lebih tentang Tuhan, pencarian spiritual mengenai kebenaran sejati, kebenaran agama dan kebenaran Tuhan, ataupun tentang aspek kebijaksanaan yang lain, yang itu sebenarnya di dalam ia beragama ia sudah menjalankan laku kebatinan agama.

Dalam prakteknya, agama adalah jalan menuju spiritual. Ada juga yang mendapatkan pencerahan dan memiliki pemahaman yang dalam atas agama setelah melakukan pencarian spiritual. Pencapaian spiritual itulah yang menentukan kedalaman pengetahuan dan kebijaksanaan keagamaan seseorang, tetapi jalan yang ditempuh untuk spiritualitas itulah yang seringkali dipertentangkan orang.

Apakah spiritual berada di luar lingkup agama ?

Apakah kita harus mendalami agama saja untuk memahami kebenaran Tuhan ?

Apakah agama adalah satu-satunya jalan untuk memahami kebenaran Tuhan ?

Bagaimana kita tahu kebenaran Tuhan kalau tidak memiliki kebijaksanaan spiritual ?

Bagaimana kita tahu kebenaran agama kalau tidak memiliki kebijaksanaan spiritual ?


Mengerti tentang kegaiban yang dialami manusia saja tidak mampu, bagaimana dapat mengerti dan mengenal Tuhan yang sejatinya adalah sumber dari segala kegaiban ? Itulah keterbatasan pikiran dan akal budi manusia. Karena itulah Allah membekali manusia dengan roh, supaya dengan rohnya manusia dapat mengerti kegaiban hidup dan mengenal Allah dan jalan yang benar menuju Allah, supaya manusia tidak hanya berkeras diri kukuh membela ajaran-ajaran, dogma dan doktrin yang membelenggu akal sehat, yang ia sendiripun tidak mengetahui kebenarannya (bisanya hanya percaya saja pada ajaran agamanya), dan supaya manusia memiliki hikmat kebijaksanaan dalam dirinya tentang Allah dan kebenaranNya.

Seharusnya segala macam agama dan ibadah mengantarkan manusia kepada pribadi dan akhlak yang mulia.

Itulah tujuan diberikannya agama kepada manusia, yaitu supaya manusia mengenal Tuhan-nya, dan hidup sebagai manusia yang sudah mengenal Tuhan, tidak lagi hidup seperti manusia yang tidak mengenal Tuhan, dan untuk menjadi sarana dalam membina hubungan pribadi manusia dengan Tuhan-nya.


Agama itu pada dasarnya mengajar manusia untuk mengenal Tuhan (Gusti Allah).
Agama adalah jalan.
Tujuannya adalah Tuhan.

Secara roh dan batinnya, manusia mengenal suatu Roh Agung yang disebut Tuhan. Tetapi manusia tidak dapat mengenal Tuhan secara langsung dan tidak dapat mencapai-Nya secara langsung, sehingga manusia tidak dapat mengenal Allah dengan benar.

Manusia hanya bisa percaya saja, sesuai panggilan batinnya, dan sesuai ajaran dalam kepercayaan / agama. Sesuai panggilan batinnya manusia mencari Tuhan, tetapi karena ketidak-tahuan tentang Allah yang benar, banyak manusia yang jatuh ke jalan ibadah dan penyembahan yang salah.

Semua suku dan semua kultur memiliki cara untuk mendekati Tuhannya. Mengapa harus dipertentangkan ?
Tetapi karena manusia tidak dapat mengenal Tuhan secara langsung, karena ketidak-tahuan manusia tentang Allah yang benar, maka jalan yang ditempuhnya juga sendiri-sendiri, tidak sama.

Orang yang memahami agama dengan baik pasti toleran, karena sama-sama tidak tahu Allah yang benar (bisanya hanya percaya saja pada ajaran agamanya), tetapi sama-sama punya tujuan yang sama : Tuhan.

Tetapi seringkali manusia salah dalam memahami agama, seolah-olah agama adalah tujuan, sehingga banyak orang yang "memper-Tuhan-kan" agama. Seolah-olah agama adalah Tuhan yang jika sudah menganut agama dianggap tujuannya kepada Tuhan sudah tercapai dan kemudian memaksakan agamanya itu kepada orang lain dan meng-kafir-kan agama lain yang tidak sejalan. Orang buta menuntun orang buta.

Banyak orang yang membuat agama menjadi tujuan, bukan menjadikan agama sebagai jalan menuju Tuhan. Kesucian hati dan kepribadian yang mulia, yang menuntun dan mengarahkan manusia menjadi mahluk mulia tidak diutamakan. Manusia lebih mengutamakan cinta diri, kesombongan dan kehormatan diri, dan ke-Aku-an.

Akibatnya banyak orang yang memaksakan agamanya kepada orang lain, dan menghakimi agama yang lain sebagai sesat, menindas, menganiaya dan membunuh dengan nama agama dan Tuhan, perbuatannya itu tidak memuliakan agama dan Tuhan, malah menjadikan nama agama dan Tuhan menjadi hina dan nista. Bahkan ada juga yang tidak mengutamakan kemuliaan, yang menghasut dan memfitnah agama dan kepercayaan lain untuk menjadikan agamanya sendiri banyak pengikutnya.
0 0
0
Kebatinan/Spiritual Jawa bukan Agama tetapi saling melengkapi
30-06-2014 14:02
Semakin mendalam, dilanjut Kang Yodha emoticon-Smilie
0 0
0
Kebatinan/Spiritual Jawa bukan Agama tetapi saling melengkapi
01-07-2014 12:55
nggeh mbah...

Penghayatan kebatinan dan spiritual kejawen adlh pencarian dan penghayatan langsung individu terhadap Tuhannya....

Apapun agamanya mereka punya penghayatan sendiri terhadap Tuhannya
0 0
0
Kebatinan/Spiritual Jawa bukan Agama tetapi saling melengkapi
01-07-2014 15:15
Assalamu'alaikum.wr.wb
Salam Sejahtera bagi kita semua
Namaste
Rahayu



Setelah sekian lama kita tidak bersua dalam suatu kegiatan bakti sosial, maka Forum Supranatural, Spiritual dan Budaya akan mengadakan bakti sosial dalam rangka menyambut bulan suci ramadhan yang akan di adakan pada

tanggal : 19 juli 2014
waktu : 15:00 wib - selesai
tempat : PANTI ASUHAN ANAK YATIM PIATU SA'ADATUD - DAARAIN
jl.madrasah no:46 rt 06/02 kelurahan kelapa dua kebon jeruk jakarta barat
lokasinye yaw






dalam kegiatan kali ini kami selaku panitia ingin mengajak para sesepuh pini sepuh dan rekan rekan khususnya forum supranatural spiritual dan budaya untuk ikut andil dalam kegiatan bakti sosisal kali ini.
baksos kali ini kami ingin membantu para adik-adik kita yang ada di dalam panti asuhan SA'ADATUD-DAARAIN
sebuah panti yang berada di daerah kebun jeruk tepatnya kel. kelapa dua

pic


untuk menunjang keberhasilan dan kesuksesan bakti sosial kali ini kami selaku panitia ingin mengajak para donatur dan sponsor untuk ikut andil dalam kegiatan amal ini

dan bagi para donatur yang ingin menyumbangkan sebagian rejekinya bisa langsung transfer ke rekening berikut:


BCA
676-010-9264
a/n ifzi afifi

MANDIRI
126-000-507-8786
a/n novita dwi nur azizah

harap menghubungi / PM jika sudah transfer ke vi_wi



bagi yang ingin berbuka bersama anak-anak panti asuhan bisa post di threat ini dan mohon maaf mengingat keterbatasan tempat kami hanya bisa memberikan quota 40 orang dan sudah termasuk panitia emoticon-Smilie


salam guyub rukun, salam sungkem selalu

emoticon-Salaman

Menuju Thread Utama
http://www.kaskus.co.id/thread/53ad1...ual-dan-budaya


0 0
0
Kebatinan/Spiritual Jawa bukan Agama tetapi saling melengkapi
01-07-2014 22:15
Quote:Original Posted By yodhayasa


Dalam UUD 45 sudah sangat jelas antara Agama dan Kepercayaan itu tidak sama

Pasal 29 UUD 1945 ayat:
1. Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Makna hubungan yang terkandung didalam pasal tersebut yakni bahwa Negara Indonesia adalah Negara yang meyakini atas Ketuhanan Yang Maha Esa hal ini di tegaskan dalam dasar Negara Indonesia Pancasila sila yang pertama ( Ketuhanan Yang Maha Esa ), Indonesia bukan Negara Agama.

Selain mengakui agama, negara juga mengakui Kepercayaan thd Tuhan YME (Kebatinan/Spiritual).

Dan Negara menjamin kemerdekaan bagi penduduknya untuk menganut salah satu Agama yang ada dan meyakini keyakinan kebatinan/spiritual yang dianutnya tanpa ada paksaan ataupun ancaman dari suatu apapun, dan kemerdekaan untuk beribadat sesuai dengan ajaran Agama dan kepercayaan yang dianutnya.

Kata kemerdekaan disini dapat diartikan sebagai jaminan akan keamanan dan ketentraman antar agama dan Penghayat Kepercayaan Kebatinan/Spiritual dalam melakukan peribadatannya.

Apakah butir2 dari Pancasila dan UUD 45 belum dianggap formal pengakuan negara terhadap Penghayat kepercayaan Kebatinan/spiritual yang notabene adalah "Tuan Rumah di Negeri Sendiri"....?


kalo hukum agama dan hukum negara bertentangan, mana yg dipake ya?
0 0
0
Kebatinan/Spiritual Jawa bukan Agama tetapi saling melengkapi
01-07-2014 23:54
pembahasannya mulai makin mendalam.. semoga tak terjadi pemahaman yang kurang pas akan maksud dan tujuan akan apa yang telah di sampaikan ya..
Diubah oleh dewarucicebol
0 0
0
Kebatinan/Spiritual Jawa bukan Agama tetapi saling melengkapi
02-07-2014 00:02
Dimana bumi di pijak disana langit di junjung, alangkah baik nya berjalan berdampingan tanpa harus menjegal antara kaki kanan dan kiri atau sebalik nya emoticon-Big Grin
0 0
0
Halaman 3 dari 10
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia