Quote:
Pemerintah Kota Tangerang tengah mempersiapkan moda transportasi massal berupa bus rapid transit (BRT). Langkah itu ditempuh demi mengurangi beban volume jalan-jalan protokol dari problem kemacetan.
"BRT dipilih untuk memenuhi kenyamanan masyarakat. Selama ini angkutan umum yang ada belum ke arah itu (nyaman)," kata Wali Kota Tangerang Arief Rachadiono Wismansyah, Senin, 23 Juni 2014.
Karena belum nyaman, ujar Arief, masyarakat cenderung memilih menggunakan kendaraan roda dua untuk bepergian. Tak ayal, hal ini justru menambah beban kemacetan di jalan. Solusinya, menurut Arief, adalah moda transportasi massal berupa BRT yang akan ditempatkan di dalam kota.
Ada sepuluh unit BRT dengan 16 armada bus yang akan dioperasikan. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan itu, Pemkot Tangerang telah menghitung anggaran BRT yang ukurannya seperti Kopaja itu. Pemkot telah menyiapkan Rp 80 miliar untuk membeli 16 kendaraan tersebut dengan perkiraan harga Rp 500 juta per unit.
Namun demikian, Arief mengakui ada tantangan berat untuk meyakinkan masyarakat agar beralih dari kendaraan roda dua ke BRT. "Harus bersaing dengan angkutan kota (angkot) yang beroperasi di dalam kota. Untuk itu, kami perlu mengedukasi dan mensosialisasikan BRT ini," tuturnya.
Menurut Arief, langkah ini bukan perkara mudah, karena jumlah angkot yang beroperasi di Kota Tangerang mencapai 2.800 unit. Izin operasinya pun dikeluarkan Organda Provinsi Banten. "Ini yang sedang kami bicarakan dengan Pemerintah Provinsi Banten agar ke depan membatasi angkot," ujar Arief.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Tangerang Herman Suwarman mengatakan pelan-pelan BRT ini akan beroperasi menggantikan angkot. BRT beroperasi di dalam kota, sementara angkot hanya melayani penumpang di jalan-jalan kecil.
"Kami juga sedang membahas dengan Organda agar BRT berbentuk badan usaha dan dikelola pengusaha angkot. Nantinya ya sopir BRT itu diambil dari sopir angkot," kata Herman.
Herman juga mengatakan masih butuh kajian mendalam--apakah nanti angkot akan dihapus dan digantikan BRT sebagai transportasi massal. "Kami masih kaji sebelum menentukan kebijakan penghapusan angkot atau tidak," kata Herman.
BRT, tutur dia, akan beroperasi secara bertahap mulai 2015. Pada 2012, Pemkot Tangerang telah meluncurkan buslane untuk trayek antarkota-antarprovinsi (AKAP). Buslane ini terkoneksi dengan trayek bus Transjakarta.
sumber:
TEMPO
bagus sih bila transportasi ingin dibenahi, tapi liat aja bakalan ada demo mogok sopir angkutan nih yang merasa pekerjaan mereka terancam, kalau angkot tetap ada untuk menjangkau ke wilayah2 yang tidak bisa dijangkau bus

yang tangerang mana suaranya