Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
31
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5373b383ae07e7b7528b4571/boom-she-was-the-one
Selamat malam agan dan aganwati penunggu forum ini. Saya mau coba berbagi cerita pengalaman pribadi saya tentang kisah cinta(?) saya selama 8 tahun belakangan ini. Lama ya? hehe udah bisa lulus S1 dua kali ituu. Oke, judul thread ini emang pake bahasa inggris biar pas aja sama situasi cerita ini, cuma ya bahasa Indonesia aja gue ceritanya. I Love Indonesia! Nama saya, Yoyon. Usia 25 tahun. Freelan
Lapor Hansip
15-05-2014 01:18

Boom. She Was The One

Selamat malam agan dan aganwati penunggu forum ini. Saya mau coba berbagi cerita pengalaman pribadi saya tentang kisah cinta(?) saya selama 8 tahun belakangan ini. Lama ya? hehe udah bisa lulus S1 dua kali ituu.

Oke, judul thread ini emang pake bahasa inggris biar pas aja sama situasi cerita ini, cuma ya bahasa Indonesia aja gue ceritanya. I Love Indonesia!

Nama saya, Yoyon. Usia 25 tahun. Freelancer Financial Planner. Baru pertama kali nulis pengalaman pribadi di forum. Pertama kali juga ngerasain yang namanya sakit hati. Mungkin, ini karma.

Tahun 2007.
Ini tahun pertama saya pake seragam putih-abuabu. Pikiran pertama saya ketika masuk SMA adalah cewek-cewek cantik macam model majalah Pupular, pake rok mini, kemeja sekolah ketat nan tipis, rambut hitam tergerai, dan free-sex. Harapan saya memang gak terlalu muluk-muluk, cuma apa mau dikata?! Tuhan tidak mempermudah harapan saya. Cewek-ceweknya gak ada yang sesuai bayangan saya. Boro-boro model Pupular. Ga ada potongan model sama sekali bahkan.

Alhasil, saya jalani kehidupan SMA itu. Tapi, koneksi dan relasi dengan anak SMA lain boleh dong dibangun. Hehe. Yak, berdasarkan kemampuan berkomunikasi saya dengan sesama makhluk goib (dibaca= makhluk otak mesum), saya berhasil bertemu dengan gadis-gadis yang saya dambakan sejak awal masuk SMA. Cewek, bahenol, rok mini, dan alhamdulillah, tajir. Hihi. Sebut saja namanya, Rika.

Rika dan saya bertemu di rumah seorang sahabat saya yang secara kebetulan adalah saudara sepupunya Rika. Singkatnya, dia single, saya (pastinya) single, and ooouh.. what a beautiful moment if we fall in love in our first sight. Sejak itu, saya sering main ke rumahnya dan rumahnya pun sering kosong karena orang tua dan kakaknya yang bekerja. (kok kayak berbau cerita stensilan yah?!). But seriously, we didn't do anything but make some good conversations (boring).

Suatu ketika, hasrat (dibaca=nafsu setan) saya keluar. Saya mulai beranikan diri untuk memegang tangannya, peluk-peluk kecil, belai-belai rambut, dan saya pun mencoba menciumnya.. Lalu, PLAK!! Bukannya bibir, malah telapak tangan yang mendarat kenceng bener di bibir saya. Uggh!
Saya pun bingung diem. Saya dengan polosnya nanya, "Kenapa kok ditabok?" Trus dia jawab, "Udah gua duga lo cuma mau mesum doang!"
Gleg!
"Busyett... ni cewe frontal juga yak!" kata saya dalam hati *sambil garuk-garuk kepala yang sebenernya gak gatel sama sekali. "Ya maaf deh, gue kira lo juga mau" lanjut gue. "Yaudah, gue banyak tugas nih. Mau ngerjain dulu di atas." balesnya. "Lah, pucuk dicinta ulam tiba! Pasti nih kode buat lanjutin yg tadi. Pasti yang tadi cuma acting doang.. heueheue" pikir otak mesum saya. "Mending lo pulang deh." Lanjut dia lagi.
Uannnjinng!!
"Yah, kok... gitu? yaudah deh gua balik.. maaf ya Rik tadi"


to be continued.
profile-picture
anasabila memberi reputasi
1
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 2
Boom. She Was The One
15-05-2014 01:20

(lanjutan)

Setelah saya sampe rumah, saya langsung SMS Rika.

Saya: Rika, maafin gue ya tadi. Gue emang gitu kalo nunjukin sayang ke cewek gue.
... 5 menit kemudian
Rika: Ihh kok kamu gitu sih?!! Jadi udah berapa cewek yang kamu gituin?!!!
... *duh salah ngomong gue!
Saya: Yah bukan gitu.. Yaudah deh aku nyanyiin lagu kita nih.. Because of you, my life has changed, thank you for the joy you bring
Rika: Gak ngaruh! Illfeel gue! Kita putus!
*LAAAH! Gitu ajaa?!!
Saya: Yasudah kalo gitu. Makasih udah boleh peluk-peluk kamu.
Rika: Fak yu!
Saya: I really want to.
*message sent. ...... message failed.

Syyiitt!! Pulsa abis!


Tahun 2007. Kuartal 3.
Putus sama cewek. Diputusinnya lewat SMS. Absurd bener. Bukan masalah besar lah.. Pasti ada kesempatan lagi. Sama cewek lain.
Bener aja, di siang hari yang bolong, temen sepermainan, dia seorang pria, nelpon saya. Katanya dia mau kenalin saya sama seorang cewek. Masih SMP kelas dua dan bahenol. *Yesss!!*
Dengan langkah riang gembira sambil bermain suling dan membawa harpa mini di punggung ditemani anjing kecil *Ini mah film kartun Remi, Yon!*, saya mendatangi rumah teman saya. Wow, bener aja udah ada cewek manis, imut, agak seksi, bisa dibilang 'besar' di kelasnya, di rumah temen saya itu. "Eh tapi ini kan mantannya dia!" kaget saya di dalam hati. Tapi kita bertiga sepertinya udah tau situasi dan kondisi seperti apa yang sedang terjadi di sini.
Sebut saja nama si gadis ini adalah Bibie. Saya, teman saya, dan Bibie berkumpul di kamar untuk menonton dvd atau bermain PlayStation. Saya hanya rebahan di kasur dan menonton teman saya bermain PS. Sedangkan Bibie hanya duduk di lantai sambil baca koran. Hal ini tidak berlangsung lama. Ternyata Bibie sangat agresif. Dia menghampiri saya untuk sekedar duduk dan melanjutkan membaca koran. Padahal, tempat tidur ini gelap karena tempat tidurnya susun 2 tingkat. "Hmm... menarik" pikir saya.
Entah bagaimana dia bisa membaca koran itu dengan posisinya sekarang sudah berbaring di sebelah saya dan korannya menutupi wajah kita berdua! Ibarat pepatah gayung bersambut, kali ini bibir saya tidak disambut oleh telapak tangan, tapi dengan bibir mungil Bibie. heueheueu.
Kemudian saya dengan hebatnya bilang, "Bie, mau jadi cewe gue?". Bibie pun mengangguk. *Kisah percintaan saya dan Bibie di skip ya, karena bisa jadi bahan cerita di kaskes.com kalo dibeberin di sini. Kami berpacaran lumayan lama. Dua bulan. Detik-detik menjelang putus, dia memberikan surat yang isinya seperti ini:

"Yon, aku sedih. Aku sadar kamu selama ini cuma manfaatin tubuh aku aja. Aku gak bisa kayak gini terus. Kita putus aja. Makasih selama ini udah baik banget sama aku."

Respon gue saat baca surat itu:
"Gila! Manfaatin tubuhnya? Ga salah nih?! ML aja nggak!! cuma peluk sama cium! Syiit!"
"Tapi masa lewat surat sih?!"
"Ah nasib"

Dan semenjak itu, kita putus. Dan beberapa kemudian, dia punya pacar. Dan dia sempet curhat ke saya kalo dia nyesel mutusin saya. Pacar yang ini baru bisa dibilang 'manfaatin'.

Ah sudahlah, Bie.
0 0
0
Boom. She Was The One
15-05-2014 01:23

(lanjutan)

Tahun 2007. Akhir Tahun. Tahun baru.

Akhirnya setelah berkelana ke sekolah-sekolah lain, mencari cewek yang saya impikan saat pertama masuk SMA, ternyata saya merasakan hal yang lain. Otak mesum saya tiba-tiba menghilang begitu saja. Saya menginginkan seorang wanita. Ya, wanita dengan figur keibuan, mengayomi, pengertian, dan membuat saya tidak berotak mesum lagi tentunya. Saya pengen serius jalanin hubungan!

Mulailah saya bergaul di sekolah saya sendiri. Saya mulai bersosialisasi dengan teman-teman seangkatan. Tiba-tiba ada satu cewek yang menarik perhatian saya. Dia tidak cantik, tidak ber-rok mini, tidak ber-kemeja ketat, tapi tetep bahenol. Saya tau dia orangnya cukup pendiam, tapi entah auranya entah wibawanya yang membuat saya penasaran dan tumbuh rasa ingin menyayanginya sepenuh hati. Aneh. Belum pernah nih saya seperti ini sampe saat melihat dia.

Usut punya usut, kelas dia ternyata sebelahan sama kelas saya. Alhamdulillah. Puji syukur. Saya mencoba cari tau, siapa namanya sebenarnya? Saya bertanya ke salah satu sahabatnya yang kebetulan sering main sama saya pas waktu istirahat. Akhirnya saya tau namanya. Sebut saja namanya Keiko.

Beda dari yang pernah saya lakuin dalam pendekatan ke cewek yang saya suka. Biasanya saya akan berusaha jadi cowo paling cool sedunia akhirat, jadi cowo yang paling pinter, jadi cowo paling berkharisma. Tapi, di depan Keiko, pesonanya membuat saya berlaku seperti anak kecil yang mengagumi sosok seorang ibu yang penuh kasih sayang kepadanya. Saya benar-benar kehabisan kata-kata saat bersamanya. Salah tingkah, jadi 'goblok', mempermalukan diri sendiri di depan teman-teman seangkatan, tapi yang gak bisa saya lupa adalah senyum dan ketawanya. Hal kecil itu yang membuat saya bahagia. Simple.

Seiring waktu, saya tau ternyata dia adalah ketua dari kelompok tari saman di sekolah saya. Hampir satu angkatan saya mengakui, bahwa dia punya wibawa dan kepemimpinan yang di atas rata-rata temen-temen lainnya. "Edaann ni Keiko. Tiap orang di deketnya, pasti ngerasa nyaman" kagum saya kepada Keiko.

Dasar saya aja yang suka manfaatin kesempatan dalam kesempitan. Anak-anak cewek di angkatan saya paling banyak minatnya ke tari saman. Jadi, sering sekali anak cewek yang berkumpul membentuk 3-4 kelompok untuk sekedar latihan tari saman di sela-sela jam istirahat. Otak saya bekerja dengan sangat baik saat itu. Saya mengumpulkan beberapa teman untuk 'gangguin' acara latihan itu dengan iming-iming bisa deketin cewek-cewek anak saman. hheueheueh.
Hasilnya, saya sudah duduk berkumpul dengan Keiko dan teman-teman lainnya untuk bercanda sambil liatin mereka latihan. Karena saya bosan, cuma liatin mereka, saya pun iseng minta diajarin tari saman sama mereka. Yak! Saya minta diajarin sama Keiko. *Criing* *Thanks to my brilliant brain*

Yah, namanya pengen pedekate, pasti gugup. Jadi keliatan lah gobloknya saya. Diajarin, tapi gak nangkep-nangkep gerakannya. Keiko sendiri sampe kesel.

"Bad move Yon, bad move" kata saya dalam hati.

Maju mundur, pantang terus!
Saya bilang ke Keiko, "Kasih waktu gue seminggu, gue mau belajar saman. Dan gue ga akan buat lo kesel lagi." Selama seminggu, saya belajar dari temen-temennya yang bisa tari saman. Gak semudah yang saya bayangin. Tari saman itu SUSAH! Tapi, berkat kegigihan dan rasa kepalang tanggung malu, tiba juga saat pembuktian saya ke Keiko.

Seperti biasa, jam istirahat, banyak anak cewek yang ngumpul buat praktekin tari saman. Saya tertuju langsung pada Keiko yang sedang berkumpul di depan kelasnya. "Kei, gue udah belajar saman nih. Udah bisa gue sekarang." sombong saya ke Keiko. Sayapun bersama beberapa teman saya yang cowok, yang saya paksa ikut latihan tari saman juga, ikut nimbrung ke kumpulannya Keiko. Tengilnya saya, saya bilang ke temen saya yang cowok, "Eh, kita saman pasang-pasangan yuk! Kita adu yang paling kompak siapa! Gue sama Keiko, lo sama dia." Yah, namanya juga 'goblok', pas saya mentas bareng Keiko, kita kalah kompak, karena saya yang salah-salah terus gerakannya. Tapi, kali ini Keiko gak keliatan kesel. Dia malah ketawa lepas. Sepertinya dia baru aja keangkat beban hidupnya selama 15 tahun dipikulnya.

That was the happiest laugh I ever see in 2007.
0 0
0
Boom. She Was The One
15-05-2014 01:41
Bukmak2, sesuai janji di trit lo sebelumnya di H2H emoticon-Big Grin

Eniwei, bikin indeks ye di halaman 1 ini biar gampang nanti pembaca cari2 cerita

Ditunggu cerita serunya, yang paling gw suka ya gaya bercerita lo, asik, macem2 bisa gw bayangin pulak emoticon-Genit:

Jangan kebanyakan ngentangin yak emoticon-Big Grin

INDEX TRIT
Diubah oleh yuginta
0 0
0
Boom. She Was The One
15-05-2014 02:04
Bacaan baru..
Tinggalin jejak dulu.
Gila tsnya otaknya mesum sekali hahaha emoticon-Ngakak.
Lanjut gan penasaran sama sosok keiko nih
0 0
0
Boom. She Was The One
15-05-2014 02:31

(lanjutan)

Saat itu, lagu Glenn Fredly lagi hits banget dan saya suka sekali liriknya.

"Kaauuuu bunuh hatiku, saat ku bernafas untukmuuu.. Kau kebanggaan akuu huhuu, yang tega membunuhkuu..."
Glenn Fredly - Tega

Sepenggal lagu itu ternyata didengar Keiko dan saya tidak tahu sampai sahabatnya bilang ke saya. Sahabatnya itu menceritakan ke saya kalo Keiko agak sedikit kuatir kalo lagu itu sengaja saya nyanyikan untuk dia. Haha. Betapa bahagianya saya dengar berita itu. Tapi, emang bener sih, lagu itu saya tujukan buat Keiko, karena berdasarkan kabar burung (burungnya siapa sih doyan nggosip?!) Keiko lagi dekat sama cowok pintar, tinggi, putih, charming, ganteng, tajir (cukup.. cukup..) So perfect lah intinya. FYI, Keiko ikut kelas vocal di Farubi yang menelurkan satu Indonesian Idol, Mike Mohede. Di situlah mereka bertemu. Saat itu kesempatan saya cuma sekitar 20% lah buat bisa jadian sama Keiko. Cuma menang di intensitas ketemuan doang. Hiks.

Otak intelijen (dibaca=ke-kepo-an) saya berhasil menemukan info, bahwa rumahnya ternyata searah dengan rumah saya. Walaupun untuk sampe rumahnya, harus naik angkot sekitar 3kali lah dari sekolahan. Tapi saya bela-belain buat naik angkot bareng. Heuheue.
Pas jam pulang sekolah, saya tanya Keiko, "Eh Kei, lo balik naik apa?". "Angkot, Yon. Kenapa?" jawabnya. "Ohh. Emang rumah lo dimana sih? Gakpapa kan gue nanya." lanjut gue. "Ohh rumah gue di ******. Lo dimana?" (ah suka banget gue kalo ngobrol tek-tok nya enak kayak gini) "Gue di *********, Kei. Yaudah, barengan yuk ngangkotnya." ajak gue harap-harap cemas. Keiko cuma ngangguk saat itu. Tapi sambil senyum. Ahh.. indah banget..

Pas udah duduk di angkot, kita duduk hadap-hadapan, dia tiba-tiba nyletuk, "Yon lo keturunan Ambon ya?". Bahahhahaah. Nasib anak yang berkulit mudah menyerap panas alias item emang gini. "Nggak Kei, gue orang zawa azli. Mentang-mentang gue item dibilang Ambon. haha." jawab gue. Saat itu, gue gak ada keberanian buat minta nomor telponnya. Takut dianggap terlalu agresif juga. Lalu, kamipun berpisah karena harus naik angkot yang berbeda.

Besoknya, saya dan Keiko mulai akrab. Sayapun mulai berani ngajak dia lunch bareng di kantin. Banyak sekali hal-hal yang bisa kita obrolin. Dari cerita-cerita jaman SD, SMP, tentang ekskul tari saman dia, tentang hobi basket saya, dan sampe saya tau bahwa dia pernah juara dalam debat pake bahasa inggris antar SMP di jakarta. *minderrr..minderrr..*

Alhamdulillah. Pada saat pedekate, saya diperbolehkan bawa sepeda motor ke sekolah oleh orang tua saya. Jadilah, yang tadinya suka ngangkot bareng, naik tingkat jadi naik motor bareng. Tapi si Keiko ini gak langsung mau pulang bareng saya waktu pertama kali saya ajak. Kedua pun begitu. Sampe ketiga, temen-temen saya yang juga temennya Keiko sebel, karena saya gak sukses-sukses ngajak Keiko pulang bareng. Hehe. Dengan sengaja, temen-temen saya berpasang-pasangan pulangnya naik motor, sehingga jadilah Keiko sendirian dan hanya saya yang jok belakangnya masih kosong. Ihiiiy.

Temen1: Kei, lo balik bareng Yoyon deh
Temen2: Tau lo, daripada balik sendirian
Temen3: Jie..jie..jiee
Saya ke temen1&2: *acungin jempol
Saya ke temen3: *sambit gelas aqua kosong
Saya: Yuk, Kei. Gak gue apa-apain kok lo. Selamat dan aman sampe rumah.
Keiko: Yaudah deh

dan Keiko pun naik ke jok belakang kuda besi saya.

Aiihh mantap rasanya.. beraatt!! Mayan gemuk dia soalnya.. hehehe
0 0
0
Boom. She Was The One
15-05-2014 11:38

(lanjutan)

Cowok mana yang waktu naik motor, gak pernah nge-rem mendadak supaya cewek yang dibonceng agak lebih nempel ke punggung? hihi. Come on guys, it's an old Selama perjalanan, emang Keiko duduknya agak di ujung jok, dimana keseimbangan sepeda motorpun agak terganggu. Saya meminta Keiko untuk duduk majuan.

Saya: Kei, bukan apa-apa nih, tapi minta tolong duduknya agak majuan, boleh?
Keiko: Kenapa gitu, Yon?
..*dih dia pake nanya?! berat iniih, beraatt..
Saya: Kalo lo duduk di ujung gitu, keseimbangan komposisi pengendara dengan motornya jadi kurang oke, beresiko jatoh lebih besar dibanding kalo duduknya pas di space yang disediakan. hehe
Keiko: Apa, Yon?? Ga denger!
... *HAAHHH?! Udah panjang bener itu gue ngomong!
Saya: Lo kalo duduknya gak nyaman, lo bisa majuan dikit kok.
Keiko: Oohh.. *sambil geser pantatnya agak majuan.*
Saya: *Alhamdulillah..* YAAAH!!!

*jedug!! Jedug!!

Kalo jalan naik motor terus kena lobang, trus boncengan lagi, itu kerasa dari hati, turun ke biji. Meringisnya dobel. Tapi, dasar orang jawa, pasti ada aja bilang untungnya tadi.. "Untung ga jatoh", "untung ga bocor bannya", dan untung-untung lainnya yang gak kepikiran oleh saya saat itu.

Keiko: Aw! Hati-hati lah, Yon
Saya: Iya, maap yee. Gak ngeliat nih.. hehe

"Nah saatnya beraksi nih." pikir saya. Saya teken rem depan agak dalem, injak rem kaki agak dalem juga. Pasti berhasil.
..... "Lah, mana nih pelukan?? Minimal nyentuh deh punggung gue sama gunung kembarnya..." bingung saya dalam hati
Yaah, setelah nengok ke belakang cepet banget, ternyata Keiko pegangan kenceng bener sama handle besi yang di bawah jok.

Sampe juga akhirnya di rumah Keiko. Rumahnya bagus, nyaman, gak terlalu besar, cuma gak kecil juga. Ada bangku tamannya di teras yang menghadap pekarangan rumahnya dan di samping pekarangan rumah ada garasi yang bisa langsung menuju dapur. Rumahnya terlihat sepi. Hanya seorang asisten rumah tangga saja yang keliatan, karena dia sedang menyiram tanaman.

Keikopun turun dari motor. Refleks aja saya menanyakan sakit atau tidak pantatnya? Dia cuma bilang, "Gapapa kok." terus dia senyum.

Saya: Gak kapok kan gue anterin? Kalo besok lo mau gue anterin lagi, gue janji bakal lebih baik lagi deh.
Keiko: hahaha apaan sih lo, berlebihan banget
Saya: Ya gapapa lah.. ga enak gue sama lo.. Mau kan besok balik bareng lagi?
Keiko: Nggak ah
Saya: Yah.. Lo kapok ya? Gue bawain bantal sofa deh biar lebih empuk duduknya
Keiko: Hahaha. Ngaco lo ah
Saya: Jadi gimana?
Keiko: Gak mau, Yon. Besok hari sabtu. Libur.
Saya: Diiiiihhhhh katrok lo, Kei!
Saya&Keiko: *tertawa bersama*
Keiko: Mau mampir dulu?
Saya: Nggak deh. Langsung aja gue. Balik ya gue

Langsung aja tancap gas putar balik untuk menuju pulang. Gak lama kemudian, henpon saya geter-geter. Saya berhenti untuk lihat ada apa dengan henpon saya. Ada SMS masuk, pas saya baca, itu dari Keiko. Dia bilang, "Makasih ya, Yon. Lo main pulang gitu aja sih. Hehe." Wadduuhhh.. SMS nya membuat siang itu terasa sejuk di hati. heueheueh.
0 0
0
Boom. She Was The One
15-05-2014 12:30

(lanjutan)

Hari Selasa, Juni 2008.
Sudah menjadi rutinitas, saya dan Keiko pulang sekolah bareng. Saya mengantar Keiko sampe rumah. Pada tahap ini saya sudah berada di ruang tamunya. Kemarin-kemarin kalo nganterin dia, awalnya cuma depan pager rumah, lama-lama duduk ngeteh dulu di teras, eh terus kenalan sama ibu nya, di suruh duduk ngobrolnya di ruang tamu aja. Ya, saya dan Keiko udah deket, kayanya udah pas nih kalo saya ajak jadian.

Siang itu, sehabis pulang sekolah, saya sambil menikmati teh buatan si mbak asisten rumah tangga, saya dan Keiko ngobrol-ngobrol asik. Entah apa yang diobrolin, pokoknya suasana saat itu cuma ada kebahagiaan dan deg-degan saya karena ingin mengungkapkan cinta. Tumben banget ini, otak mesum gue gak muncul pas berduaan sama cewek. Waktu itu saya ngerasa ini wajar, karena saya gak mungkin juga ngelakuin hal-hal mesum sedangkan ibunya duduk di ruang keluarga menghadap ke saya dan Keiko. Hiks.

Cuma saat itu saya memberanikan diri memegang tangan kirinya dengan tangan kanan saya. Tentu saja, tangan kita basah. Nervous-nervous gitu dehh.. Tapi daripada jadinya malah nimbulin kesan mesum, saya langsung melancarkan tembakan maut.

Saya: Kei...
Keiko: Iya, Yon
Saya: Gak jadi deh..
Keiko: Ahh.. apaan sih? *sambil ketawa kecil*
Saya: Hehe.. oke oke.. Kei... *sok serius*
Keiko: Iya, apaan?
Saya: Gak jadi deh..
Keiko: Dih! Demi apapun ya, Yon.. nyebelin banget..
Saya: Hahaha..
Keiko: Apaan gak?! *sambil ketawa ngerengek minta dikasih tau*
Saya: Kei, gue.. sayang.. sama.. lo.. Lo mau gak jadi cewek gue? *blushing*
Keiko: Hah?! *kaget beneran*
Saya: ..... *senyum sambil menatap matanya dalem-dalem*
Keiko: ..... mmm... *Ngangguk-ngangguk*
Saya: Hah?! *kaget seneng* Artinya apa Kei??
Keiko: Iya, gue mau kok. *senyum sumringah*

Lalu saya dan Keiko berpelukan lama banget. Tangan kanan saya mulai bergerak dari lengannya menuju pundaknya. Mendekatkan bibir saya ke bibirnya yang tebal seksi seperti Emma Stone. Saya kecup perlahan bibirnya dan Keiko pun membalasnya dengan lembut. Tangan kiri saya melingkar di panggulnya Keiko. Tangan kanan Keiko tidak mau kalah, langsung naik ke leher dan jarinya memainkan belakang telinga saya. Uughh..
Mantap kali rasanya.. Tiba-tiba Keiko manggil nama saya, "Yon, Yon.. Kok bengong sih? Oi.. Oi.." Tersadar sudah saya dari lamunan yang asik itu. Tangan saya masih megang tangannya dan saya cuma bengong menatap Keiko. Syiit.
0 0
0
Boom. She Was The One
15-05-2014 17:03

(lanjutan)

Selama gue kurang lebih 2 tahun berpacaran sama Keiko, cuma 3 hal yang bikin saya bertengkar.

Pertama.
Waktu itu saya, teman-teman sekolah, dan Keiko berkumpul di rumahnya Keiko. Ya, kumpul setelah pulang sekolah aja sebenernya, gak ada hal spesial lah. Tapi, hari itu adalah hari yang gak bisa saya lupakan. Ketika teman-teman berpamitan pulang, ada satu teman saya, cewek, yang bawa mobil. Dia harus mundur untuk memutar mobilnya agar bisa menuju jalan keluar komplek. Tapi sayangnya, dia kesulitan untuk memundurkan mobilnya di gang itu. Padahal kosong lho gangnya, dan cukup untuk dua mobil berjejer. Bodohnya saya, saya nyletuk, "Dasar cewek, paling gak bisa mundurin mobil. haha." Yah namanya apes kali, Keiko denger ucapan saya tadi dan dia langsung ngomong "Eh, kayak kamu jago aja mundurin mobil. Masih lebih jago Kakak (kakanya perempuan juga) daripada kamu."
*Lah?!! Kenapa jadi sewot gini ni orang?!*
Setelah dia ngomong itu, dia langsung masuk ke rumah dan langsung saya susul dia ke dalam rumah.

Di dalam rumah masih ada seorang sahabatnya Keiko. Dia dan Keiko asik aja ngobrol, lalu saya? DICUEKIN SAJA LHO! Waktu itu kesel banget saya.. "Apa-apaan nih gue diginiin?!" batin saya. "Kei, aku balik deh ya." sambil nunjukin muka jutek plus kesel. "Oh balik? Yaudah.." balasnya.

Makin kesel lah saya waktu itu. Lalu saya ngeloyor aja keluar rumah. Tapi, tetep, saya paling suka di bagian ini, Keiko keluar rumah juga untuk nyamperin saya, lalu bertanya, "Kamu marah sama aku?".
....*menurut ngana, hah?!*
"Iya, aku marah, kesel juga sama kamu. Ngomong kamu gak enak tadi." jawab saya ketus.
"Aku juga kesel sama kamu tadi. Kamu ngerendahin cewek banget soalnya. Aku kan juga cewek, ga terima aja dibilang gitu." kata Keiko menjelaskan.
.... *Hah? Dia gak emosi lho ini. Dia bisa jelasin dengan tenang?!*... Saya sempet bengong beberapa detik. Lalu saya sadar, bahwa hal ini saya yang salah.
"Iya Kei, aku minta maaf ya. Aku gak maksud buat ngerendahin siapa-siapa." saya langsung minta maaf ke dia. "Maafin aku ya, Kei." lanjut saya ke Keiko.
"Iya, dimaafin kok. Jangan gitu lagi ya, Yon." Keiko membalas dengan wajah yang dihiasi senyuman paling menawan di siang itu.

Cukup cepet ya berantemnya? Tapi itu fakta kok. Kata kuncinya adalah saling memahami dan saling pengertian.

Masalah yang kedua? Ini tentang kebijaksanaan. Fuh.
0 0
0
Boom. She Was The One
15-05-2014 17:21
ada cerita baru emoticon-Matabelo
bukmark dulu emoticon-I Love Kaskus (S)
keep apdet gan
0 0
0
Boom. She Was The One
15-05-2014 17:56
makasih ya agan-agan yang udah mampir dan sempatin ninggalin jejak. apalagi sempet baca ceritanya..
0 0
0
Boom. She Was The One
15-05-2014 22:40

(lanjutan)

Kedua.
Saya dan Keiko akhirnya kuliah di salah satu universitas negri terkemuka di Indonesia. Cuma bedanya kami beda fakultas aja. Suatu siang, kami berada di dalam mobil menuju fakultasnya Keiko yang jaraknya lumayan jauh dari fakultas saya. Siang itu hujan deras sekali.

Sebenernya suasana dan cuaca suang itu pas banget, buat adegan yang kayak film-film drama percintaan luar negri. Mobil, berduaan, hujan deras, tempat sepi, musik romantis. Ah sudahlah..

Seratus delapan puluh derajat, itu tidak pernah terjadi di siang itu. Saya (lagi-lagi) membuat Keiko marah besar. Masih ingat di cerita sebelumnya? Hint dari masalah adalah kebijaksanaan. Sepertinya, masalah tentang kebijaksanaan inilah yang membuat saya sekarang dalam kondisi, bisa dibilang, kacau.

Saat itu, saya dan Keiko punya suatu rencana untuk bepergian di minggu depan. Entah kenapa hati ini sudah mulai kehilangan yang namanya rasa. Jujur, saya sudah mulai agak bosan berpacaran dengan Keiko. Ya, ya, this was totally my fault. Saya berpikiran bahwa, setiap pacaran tuh harus dibumbui dengan bercumbu. Tapi, kenyataan mengatakan bahwa cinta bukan berasal dari kebiasaan, melainkan kecocokan akar hati masing-masing individu.
Karena itu, saya gak menjaga janji yang udah saya buat ke Keiko untuk bepergian bareng.

Saya hanya mengatakan, "Ya liat nanti deh Kei", "Gatau aku, mungkin bisa. Tapi gatau deh, liat nanti aja." disaat Keiko berulang kali menanyakan kepastian rencana kami itu. "Ah males gue pergi, terlalu cepet kayanya nih hubungan gue sama Keiko." batin saya.

Keiko seketika membentak, "Kamu gimana sih?! Jadi cowok gak konsisten banget!"
Whaaatt?!!
Lumayan kaget saya. Saya agak temperamen memang, jadi tanpa basa basi langsung balas bentak, "Lah emang belom tau, mau diapain lagi sih?!"

Hari itu. Siang itu. Saya melihat Keiko menangis untuk pertama kalinya.

Maafin gue ya, Kei.
0 0
0
Boom. She Was The One
15-05-2014 22:53
Quote:Original Posted By yuginta
Bukmak2, sesuai janji di trit lo sebelumnya di H2H emoticon-Big Grin

Eniwei, bikin indeks ye di halaman 1 ini biar gampang nanti pembaca cari2 cerita

Ditunggu cerita serunya, yang paling gw suka ya gaya bercerita lo, asik, macem2 bisa gw bayangin pulak emoticon-Genit:

Jangan kebanyakan ngentangin yak emoticon-Big Grin


Kalo dari henpon, gimana ya gan bikin indeksnya? haha
gak punya lapie, apalagi kompie nih
0 0
0
Boom. She Was The One
15-05-2014 22:54
Quote:Original Posted By andyanstefi
Bacaan baru..
Tinggalin jejak dulu.
Gila tsnya otaknya mesum sekali hahaha emoticon-Ngakak.
Lanjut gan penasaran sama sosok keiko nih


sabar ya gan, sosok keiko dibahasnya dipritil-pritil. Disimak aja ceritanya hehe
0 0
0
Boom. She Was The One
15-05-2014 22:55
Quote:Original Posted By sukitea
ada cerita baru emoticon-Matabelo
bukmark dulu emoticon-I Love Kaskus (S)
keep apdet gan


thanks gan!
0 0
0
Boom. She Was The One
15-05-2014 23:12
udah baca,,ceritanya menarik emoticon-Big Grin
yang rajin apdet ya biar makin rajin kemari emoticon-Big Grin
0 0
0
Boom. She Was The One
15-05-2014 23:34
Izin nenda ya gan, cerita ente keren emoticon-Big Grin
Lumayan lama juga pacaran sama keiko sampe kuliah
0 0
0
Boom. She Was The One
16-05-2014 01:38

(lanjutan)

Ketiga.
Apa lagi yang bisa nyebab-in seorang gadis baik-baik, penuh pesona, dan sikap empati yang tinggi sesama makhluk sosial lainnya?

Pelecehan.

Ya, kasarnya seperti itulah.

Saya dan Keiko mulai terbiasa bermesraan di rumahnya hingga larut malam. Mulai dari teras, ruang tamu, hingga kamar tidurnya. Peran yang sangat besar adalah hasrat gue sebagai laki-laki remaja yang otaknya dipenuhi dengan imajinasi seks.

Keiko.
Dia pernah menceritakan bahwa sebuah ciuman di bibirnya adalah suatu pelecehan yang sudah sangat luar biasa. Ya, itu bukan saya yang melakukannya. Tapi, saya lebih parah.
Keperawanannya saya ambil? do not ever think about it, dude. Gak sekeji itu juga kok saya.

Malam ketika itu menunjukkan pukul 01.00 WIB. Saya dan Keiko pun hanyut dalam suasana. Kami berciuman berpelukan, saling meningkatkan gairah satu sama lain. Bagian leher, telinga, bahu... tidak ada yang terlewat lah dari lidah dan bibir. Semua itu yang membuat saya dan Keiko 'sepakat' untuk melanjutkan di tempat seharusnya, tempat tidur.

Pernah melihat film yang pemeran pria fan wanitanya berciuman hangat sambil jalan ke tempat tidur? Kira-kira seperti itulah kejadiannya. Saya hempaskan Keiko di tempat tidur dan melanjutkan aktivitas yang tadi di ruang tamu. Kali ini tangan saya bergerilya ke titik-titik erotic-nya. Saya melihat dengan jelas, betapa dia menikmati permainan saya karena saya berada di atasnya. Saya senang, tapi bukan bahagia.

"Terusin, Yon! Tanggung nih!" kata otak mesum saya. Tanpa perintah yang kedua kalinya, sayapun mencoba menciumi bagian leher, lalu turun sedikit demi sedikit ke bagian payudaranya. Lalu, tiba-tiba kedua tangan Keiko sudah ada di dada saya dan mendorong saya cukup kencang.

Syitt, Man! What am i thinking?

Keiko merasa bahwa ini salah banget. Kepalanya hanya dimiringkan supaya tidak melihat langsung wajah saya.
Dia diam.
Lalu menangis.

Saya merasa jahat sekali, bodoh, dan gak pantes disebut calon suami yang baik.
Saya berusaha membuat situasi lebih baik saat itu. Saya bangun, lalu duduk dengan ditumpu kedua kaki saya di sebelah Keiko. Sayapun mencoba membuka percakapan

Saya: Kei... Maaf..
Keiko: *masih nangis terisak-isak*
Saya: Kei, duduk deh. *sambil narik tangannya untuk bantu dia duduk*
Keiko: *sudah duduk, tapi masih nangis*
Saya: Kei, gue khilaf. Maafin gue.
Keiko: *Angkat dagu, dan mukanya sangat marah. Tapi dia tahan. Tangannya dikepal kenceng bener*
Saya: Kei, lo tampar gue deh. Sekenceng-kencengnya. Gue salah, Kei.
Keiko: *Cuma geleng kepala, tapi masih keliatan marah*
Saya: Gapapa, Kei. Tampar aja.

PLAAAKK!!!
*ngiiiiiiing* telinga saya berdenging lama banget.

I deserved that.

Keiko: Maaf. *nangis lagi. kali ini lebih kenceng*
Saya: Gapapa. Aku yang salah.
Keiko: *peluk saya, lalu bisikin* Pulang, Yon. Udah malem.

I deserved that.

Forgive me, Kei, i hurt you so much.
0 0
0
Boom. She Was The One
16-05-2014 01:49
Quote:Original Posted By koberr13
udah baca,,ceritanya menarik emoticon-Big Grin
yang rajin apdet ya biar makin rajin kemari emoticon-Big Grin


thank you gan!
0 0
0
Boom. She Was The One
16-05-2014 01:50
Quote:Original Posted By Hadadz
Izin nenda ya gan, cerita ente keren emoticon-Big Grin
Lumayan lama juga pacaran sama keiko sampe kuliah


monggo gan emoticon-Smilie
iya lumayan lama gan. paling lama ini ane pacaran.. hehe
0 0
0
Boom. She Was The One
16-05-2014 07:13
Quote:Original Posted By abuabumuda


Kalo dari henpon, gimana ya gan bikin indeksnya? haha
gak punya lapie, apalagi kompie nih


Itu udah gw bikinin indeks, rajin2 apdet aja biar cepet keisi indeksnya emoticon-Big Grin

Gw usahain tiap lo apdet langsung masuk indeks si, cuma ya gw ga selalu ol juga
0 0
0
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
prekuel-sebelum-karma
Stories from the Heart
cerita-horor--imah-leuweung
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Heart to Heart
rindu
B-Log Personal
aldebaran
B-Log Collections
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia