News
Pencarian Tidak Ditemukan
KOMUNITAS
link has been copied
1235
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/534cca6ec0cb171e608b47d4/diskusi-masalah-kacaunya-sistem-pendidikan-indonesia
Sistem pendidikan di Indonesia merupakan sistem pendidikan yang mencakup semua bidang pelajaran, mulai dari ilmu agama, sosial, sains, bahasa, moral dan lain sebagainya. Sebuah sistem pendidikan yang memaksa anak untuk menguasai sekian banyak bidang studi dengan materi yang sedemikian ABSTRAK. Hal tersebut tidak jarang membuat anak stress ataupun bosan dengan belajar, yang anak akan akrab dengan k
Lapor Hansip
15-04-2014 12:58

Diskusi Masalah kacaunya sistem pendidikan Indonesia

Sistem pendidikan di Indonesia merupakan sistem pendidikan yang mencakup semua bidang pelajaran, mulai dari ilmu agama, sosial, sains, bahasa, moral dan lain sebagainya. Sebuah sistem pendidikan yang memaksa anak untuk menguasai sekian banyak bidang studi dengan materi yang sedemikian ABSTRAK. Hal tersebut tidak jarang membuat anak stress ataupun bosan dengan belajar, yang anak akan akrab dengan kebiasaan seperti bolos dan mencontek. Tidak bisa menguasai pelajaran tentu berbanding lurus dengan tidak bisa mengerjakan ujian dengan baik sehingga nilai rapot pun menjadi kurang memuaskan.

karena ini forum diskusi jadi gk usah sungkan2 mengemukakan pendapatnya :cendols

:nosara
profile-picture
memberi reputasi
1
Tampilkan isi Thread
Masuk untuk memberikan balasan
education
Education
4.4K Anggota • 17.6K Threads
Halaman 19 dari 32
[Diskusi] Masalah kacaunya sistem pendidikan Indonesia
24-02-2014 16:00
Agan bikin trit ini mungkin karna agan bego' ya ?? emoticon-Ngakak
akhirnya marah2 dimari emoticon-Ngakak
Quote:Original Posted By rheasepuluh
Pendidikan adalah hal mendasar yang dibutuhkan oleh manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Di indonesia, masalah pendidikan ini diatur dalam Undang-undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 yang berbunyi, “setiap warga negara berhak mendapat pendidikan” dan ayat 2 “ setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”. Dari kedua ayat tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa negara memberikan hak dan kewajiban warga negara untuk mendapat pendidikan dan negara wajib membiayai untuk pendidikan dasar. Mari kita lihat realita tentang pendidikan yang sedang terjadi di Indonesia untuk menjawab apakah sudah sesuai dengan apa yang diamanatkan undang-undang dasar 1945 kita.

Sistem pendidikan dirancang oleh orang-orang pintar di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemndikbud) yang di pimpin oleh menterinya, yaitu M.Nuh. entahlah apa mungkin aku yang hanya merasakannya, tapi sistem pendidikan di Indonesia ini memang aneh. Berikut hal yang menjadi ganjalan di pikiranku :

1. Seleksi Sekolah
Ketika teman-teman mendaftar SMP/SMA itu memakai sistem danem (nilai ujian nasional) atau menggunakan TPA (tes potensi akademik) ? Bagiku ini adalah hal yang paling lucu di negara ini. Kenapa lucu? Tujuan didirikannya sekolah adalah untuk membuat siswanya menjadi pintar dan cerdas. Sesuai dengan bunyi mukkadimah UUD 1945 yang berbunyi, “mencerdaskan kehidupan bangsa” tapi yang terjadi adalah, sekolah yang seharusnya menjadi tempat untuk membuat cerdas siswa itu, menerapkan seleksi TPA/danem dimana, yang bisa masuk kesekolah itu hanya yang mendapat peringkat teratas dari batas pagu yang telah ditentukan. Bukankah ini artinya hanya anak cerdas yang boleh masuk ke sekolah itu? Bukankah ini artinya harus menjadi pintar terlebih dahulu untuk menjadi orang yang pintar? Lalu jika hanya anak pintar/cerdas saja yang bisa lolos seleksi seperti itu, kemana artinya mencerdaskan kehidupan bangsa? Sesungguhnya anak-anak yang tak cerdaspun punya keinginan untuk mendapat sekolah yang bagius, namun tidak bisa karena tidak cukup pintar dibanding yang lain. Inilah seleksi...

2. Durasi materi
Pernahkah teman-teman mengalami saat memulai bab baru tapi belum memahami materi sebelumnya? Contoh, pelajaran ekonomi. Sebelum memulai bab perusahaaan dagang, perlu memahami perusahaan jasa terlebih dahulu. Masalahnya adalah, ketika pindah ke bab perusahaan dagang, dasar perpindahan bab itu, berdasarkan durasi pertemuan atau berdasarkan pemahaman siswa? Pelajaran/materi dianggap tuntas karena siswa paham akan materi tersebut ataukah karena alokasi waktu yang disediakan untuk materi tersebut sudah habis sehingga harus masuk ke materi selanjutnya? Tentu bagi siswa yang cerdas akan bisa memahami materi itu tepat dengan durasi yang telah ditentukan. Tapi bagaimana dengan siswa yang kurang cerdas yang masih belum bisa memahami dan baru akan pada tahap paham namun harus distop materi tersebut karena aturan durasi waktu tadi? Memang berapa persen dalam satu kelas yang sudah pada tahap paham untuk materi tersebut? Menurut pengalaman pribadiku sih, tidak kurang dari 5% yang benar-benar paham. Yang lain masih tahap menuju paham. Kemudian masalah akan bertambah ruwet ketika sang guru pengampu menyuruh siswanya belajar sendiri untuk benar-benar paham. Bagi mereka yang berduit, tentu bisa belajar di lembaga bimbingan belajar. Tapi yang tidak?

3. Standar Ketuntasan Minimal (SKM)
Pertama kali bertemu dengan SKM ini ketika baru masuk SMP, saat itu semua mata pelajaranku diberi SKM 60 tiap mata pelajaran. apa itu SKM? Yaitu Standar Ketuntasan minimal berdasarkan nilai rata-rata akhir. Jadi pemahaman siswa diuji dengan ujian tulis dan tetek bengeknya kemudian apabila nilai akhir tidak sampai 60 maka harus remidiasi sampai nilainya menjadi 60. Ada 2 macam masalah yang timbulkan oleh SKM ini, yaitu 1. Siswa bisa jadi fokus utama dari belajar bukan lagi murni untuk mencari ilmu namun bergeser menjadi budak nilai. Berapa kali kita menyontek saat ujian? Mungkin sudah tak terhitung lagi. Karena akupun seringkali begitu. Ya mau bagaimana lagi, ketuntasan belajar kita disekolah ditentukan memang bukan murni dari pemahaman materi, tapi dari nilai yang didapat. Lebih baik mendapat nilai baik dan lulus dengan menyontek daripada nilai jelek dan tidak lulus. 2. Guru pengampu mau tidak mau pasti melakukan sesuatu agar anak didiknya lulus. Cara terakhir yang digunakan apabila nilai akhir kurang dari SKM bisa saja menambah nilai dengan mengkantrol nilai-nilai lainnya. Karena pasti para guru juga kasihan, masak gara-gara nilai segini anak ini tidak lulus. Yasudah maka diluluskan saja.
Coba kita bandingkan dengan zaman dulu ketika aturan SKM tidak ada. Nilai di rapot pasti ada merahnya, dan nilai yang didapat siswa pada jaman dulu (sebelum aturan SKM ada) cenderung jujur hasil dari pemahaman mereka sekalipun nilai yang didapat 40,30,20 dll. Jadi apakah kecerdasan itu harus distandarkan oleh nilai?

4. Siswa Diwajibkan Pintar pada Semua Mata Pelajaran
Pernahkah teman-teman mendengar ungkapan bahwa “tidak ada orang bodoh di dunia, yang ada adalah ia pintar hanya di bidang tertentu saja?” jika teman-teman belum mendengarnya, maka baru saja teman-teman mendengarnya. Hehehe. Tapi serius, tidak semua orang memang pintar di setiap bidang. Contohnya, mungkin ia pandai matematika tapi belum tentu pandai di bidang seni lukis atau sebaliknya. Tapi sayang, sebuah lembaga bernama sekolah memukul rata setiap siswa harus bisa pandai di semua bidang akademik. Pernah suatu ketika aku punya teman di kelas, ia pandai menggambar dan melukis. Tapi sangat tidak pandai dalam hal berhitung seperti matematika dan fisika. Maka sudah pandai anak ini akan cenderung dimasukkan ke dalam kategori anak bodoh karena tidak pandai dalam hal tersebut. Segera di akhir semester atau saat kenaikan kelas, ia bisa saja tidak naik kelas karena tidak menguasai bidang tersebut. Tahukah teman-teman sekalian, bagaimana rasanya melakukan sesuatu hal yang tidak disukai? Dan kita masih memaksanya untuk melakukan itu...

5. Ujian Nasional
Mungkin inilah masalah terbesar di dunia pendidikan saat ini. Ujian nasional perlu atau tidak? Menurut pandang pribadiku, ujian nasional ini perlu dan penting untuk dilaksanakan di Indonesia untuk kesetaraan pendidikan dari ujung barat Indonesia sampai ujung timur. Tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan di Indonesia ini masih Jawa-sentris sehingga anak-anak di bagian timur tingkat pendidikannya tidak setara di jawa. Maka baiknya, output dari ujian nasional ini bukanlah menjadi penentu kelulusan siswa, tapi sebagai evaluasi bagi orang kementerian pendidikan apakah pendidikan sudah merata atau tidak di Indonesia ini. Bukankah lebih indah ujian nasional itu bukan sebagai ketakutan siswa karena tidak lulus, tapi sebuah anugrah bahwa pendidikan di Indonesia akan menjadi merata dan orang timur menjadi merasa lebih dihargai oleh orang jawa? Maka soal setidaknya cukup 1 paket, tetapi penjagaan yang diperketat saat pelaksanaan ujian nasional. Yakinlah, siswa-siswa tersebut tidak akan gelisah atau takut, karena bukan masa depan mereka yang dipertaruhkan oleh LJK dan pensil 2B melainkan para kepala pendidikan yang akan pusing seandainya nilai di daerahnya tidak bagus. Hal ini akan memicu ekspansi guru ke daerah-daerah timur atau yang pendidikannya masih kurang untuk disentuh oleh pemerintah. Aku menjadi mengingat mukkadimah Uud 1945 yang berbunyi, “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Betapa besarnya bangsa ini...

6. Adanya Lembaga Bimbingan Belajar
Lembaga bimbimbangan belajar atau biasa kita seblut tempat les sudah menjamur di negara ini. Lembaga bimbingan belajar ini mungkin digagas oleh sekelompok orang yang ingin membantu dan memajukan pendidikan di indonesia ini. Ataukah mereka ini hanya orang yang mencari keuntungan dari pendidikan untuk kepentingan ekonomi semata? Mari kita teliti lagi, apa motif orangtua/siswa mengikuti lembaga bimbingan belajar ini. Setahuku, para orangtua ini mengirim putra-putrinya ke lembaga bimbingan belajar adalah untuk menambah materi yang belum dikuasai, metode yang digunakan lebih mudah dipahai daripada metode di sekolah, adatrik cepat mengerjakan suatu permasalahan yang tidak diajarkan di sekolah atau untuk persiapan menuju ujian nasional.
Disinilah letak keanehannya. Apabila alasan yang aku paparkan seperti yang diatas benar adanya, berarti lembaga sekolah tidak bisa memenuhi kebutuhan akan pendidikan para siswanya. Padahal cara pemerintah mengamalkan pasal UUD 1945 diatas adalah dengan jalur memberi pendidikan melalui sekolah. Apabila melalui sekolah tidak berhasil, apakah bisa dikatakan bahwa pemerintyah gagal mengamalkannya? Kalau memang seperti itu, yasudah, bubarkan saja sekolah dan kita berbondong-bondong masuk lembaga bimbingan belajar saja, toh disana metodenya lebih baik daripada apa yang diajarkan di sekolah. Tapi jika begitu, kita juga menjadi penghambat diamalkannya pasal tersebut. Bagaimana dengan 20% APBN untuk pendidikan? Berarti juga sia-sia? Semua pilihan bergantung kepada pribadi masing-masing...

*****
Dari keenam hal ini saja, mari kita merenung, apakah sudah tepat sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia? Apakah pendidikan yang dicita-citakan Ki hajar Dewantoro sudah sesuai dengan keinginan beliau ataukan sudah melenceng jauh dari apa yang dia cita-citakan yaitu pendidikan untuk semua kalangan tanpa memandang darimana mereka berasal? Apakah pemerintah sudah bisa mengamalkan dan menjalankan tugasnya sesuai dengan undang-udnang dasar 1945 yang aku sebutkan diatas? Biarlah ini kita jawab di hati masing-masing.
Marilah kita bercermin diri, pemerintah, sekolah, orangtua siswa, siapa saja. Tidak ada yang lebih kita harapkan selain untuk kemajuan bangsa. Bukan untuk apapun atau siapapun, tapi untuk apa yang akan kita wariskan bagi generasi mendatang, untuk Indonesia yang lebih baik...

Penulis : Rheasepuluh
Surakarta, 22 Februari 2014




0 0
0
[Diskusi] Masalah kacaunya sistem pendidikan Indonesia
24-02-2014 16:00
Menurut ane sih, masih kurang tepat..
apalagi kalo dibandingin sama pendidikan di LN, Indonesia masih mayanjauh tertinggal..
0 0
0
[Diskusi] Masalah kacaunya sistem pendidikan Indonesia
24-02-2014 16:00

parahnya pendidikan indonesia

Pendidikan idonesia ya? Menurut ane paling menghatui ane eebagai pelajar ada 2 gan
1.kkm
2.un
Alasan
1.hello pelajar juga manusia biasa dia perlu istirahat karana adanaya kkm pelajar yang kagag lulus kkm harus mengorbankan waktu istirahatnya untuk remidial (sedih gan)
2.un(ujian nasional) agan pasti pernah lihat ato mungkin ,alah ngelakuin sujud syukur karna lulus ujian dan bahkan sampai nagi,nah sujud syukukur dan nagis itu gan adalah ungkapan rasa lega dari suatu kegelisahan,ketakutan,dl berarti bisa ditarik keaimpulan bahwa un adalah kegelisahan,ketakutan,dll gan emoticon-Najis (S)
Diubah oleh andrijaya46
0 0
0
[Diskusi] Masalah kacaunya sistem pendidikan Indonesia
24-02-2014 16:00
ane setuju dengan semua pernyataan ente
semua standar hanya ditentukan oleh nilai tanpa menghargai proses siswa dalam belajar
trus masalah bimbel, ane juga ga setuju gan. ngapain ya sekolah tp ikut bimbel juga emoticon-Cape d... (S)
0 0
0
[Diskusi] Masalah kacaunya sistem pendidikan Indonesia
24-02-2014 16:00
This is INDONESIA emoticon-Matabelo
0 0
0
[Diskusi] Masalah kacaunya sistem pendidikan Indonesia
24-02-2014 16:01
Quote:Original Posted By Nichi
Ane setuju banget sama nomor 4, memang sistemnya yg salah knp kita ga bisa pilih sesuai kemauan, contohnya kalo suka sm ilmu sosial tp malah belajarnya matematika, bukannya bakal pinter tp otak malah overload kebanyakan beban emoticon-Nohope


ini yang salah....agan terlalu takut sama angka.....padahal dalam ilmu sosial juga banyak menggunakan angka, kalo tidak, gimana caranya memperkirakan permasalahan sosial. caranya ya pakai statistik survey gan....itu angka semua lho.....dan harus jeli...karna itulah ilmu sosial pun harus bisa ber matematika....
0 0
0
[Diskusi] Masalah kacaunya sistem pendidikan Indonesia
24-02-2014 16:01
Wuih.. Kayak gini nih yg mantap pembahasannya. Sangat layak buat jadi HT.emoticon-Shakehand2

Tapi, menurut ane, sblum masuk pembahasan realita pendidikan hari ini, pertanyaan fundamennya harus dijawab lebih dahulu. Apa sih tujuan eksistensial sistem pendidikan dan negara?emoticon-Bingung (S)
0 0
0
[Diskusi] Masalah kacaunya sistem pendidikan Indonesia
24-02-2014 16:01
Ane sebagai pelajar sangat setuju banget ama ts emoticon-2 Jempol
0 0
0
[Diskusi] Masalah kacaunya sistem pendidikan Indonesia
24-02-2014 16:02
menurut ane, dengan menjamurnya bimbingan belajar di luar sekolah dapat dijadikan pertanda kalo sistem pendidikan di negara ini belum baik gan. pendidikan di Indonesia bahkan di Amerika (menurut yg ane baca sih) masih berorientasi pada nilai angka yg menentukan kelulusan, tanpa mempertimbangkan apa siswa sudah memahami sepenuhnya apa ilmu yg diajarkan.
0 0
0
[Diskusi] Masalah kacaunya sistem pendidikan Indonesia
24-02-2014 16:02
Kalo nilai jelek,
cara termudahnya ya remedial
seperti ane emoticon-Big Grin
0 0
0
[Diskusi] Masalah kacaunya sistem pendidikan Indonesia
24-02-2014 16:05
Kalo no.1 , TPA sendiri esensinya pemetaan gan. Nah kalo dibuat parameter cut of memang kurang tepat ( untuk sekolah tingkat dasar sd smp sma) tapi kalo perguruan tinggi perlu.,
0 0
0
[Diskusi] Masalah kacaunya sistem pendidikan Indonesia
24-02-2014 16:05
Dari ke enam poin itu, ane sih setuju-setuju aje. Tapi ga tau kalo para petinggi (yang katanya emoticon-Betty (S)) negeri ini.



Eh, BTW, ini post yang ke seratus emoticon-Ngakak (S)
Diubah oleh sempucity
0 0
0
[Diskusi] Masalah kacaunya sistem pendidikan Indonesia
24-02-2014 16:06
Quote:Original Posted By harimau.manis
Kalo nilai jelek,
cara termudahnya ya remedial
seperti ane emoticon-Big Grin


Tapi remidial sangat meyiksa gan emoticon-Takut
0 0
0
[Diskusi] Masalah kacaunya sistem pendidikan Indonesia
24-02-2014 16:09
misi, meski ane sm sekali ga ahli pendidikan dan ga berkutat di dunia pendidikan, izin ikut nimbrung ya hehe emoticon-Smilie

Quote:Original Posted By rheasepuluh
Pendidikan adalah hal mendasar yang dibutuhkan oleh manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Di indonesia, masalah pendidikan ini diatur dalam Undang-undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 yang berbunyi, “setiap warga negara berhak mendapat pendidikan” dan ayat 2 “ setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”. Dari kedua ayat tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa negara memberikan hak dan kewajiban warga negara untuk mendapat pendidikan dan negara wajib membiayai untuk pendidikan dasar. Mari kita lihat realita tentang pendidikan yang sedang terjadi di Indonesia untuk menjawab apakah sudah sesuai dengan apa yang diamanatkan undang-undang dasar 1945 kita.

Sistem pendidikan dirancang oleh orang-orang pintar di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemndikbud) yang di pimpin oleh menterinya, yaitu M.Nuh. entahlah apa mungkin aku yang hanya merasakannya, tapi sistem pendidikan di Indonesia ini memang aneh. Berikut hal yang menjadi ganjalan di pikiranku :


Quote:
1. Seleksi Sekolah
Ketika teman-teman mendaftar SMP/SMA itu memakai sistem danem (nilai ujian nasional) atau menggunakan TPA (tes potensi akademik) ? Bagiku ini adalah hal yang paling lucu di negara ini. Kenapa lucu? Tujuan didirikannya sekolah adalah untuk membuat siswanya menjadi pintar dan cerdas. Sesuai dengan bunyi mukkadimah UUD 1945 yang berbunyi, “mencerdaskan kehidupan bangsa” tapi yang terjadi adalah, sekolah yang seharusnya menjadi tempat untuk membuat cerdas siswa itu, menerapkan seleksi TPA/danem dimana, yang bisa masuk kesekolah itu hanya yang mendapat peringkat teratas dari batas pagu yang telah ditentukan. Bukankah ini artinya hanya anak cerdas yang boleh masuk ke sekolah itu? Bukankah ini artinya harus menjadi pintar terlebih dahulu untuk menjadi orang yang pintar? Lalu jika hanya anak pintar/cerdas saja yang bisa lolos seleksi seperti itu, kemana artinya mencerdaskan kehidupan bangsa? Sesungguhnya anak-anak yang tak cerdaspun punya keinginan untuk mendapat sekolah yang bagius, namun tidak bisa karena tidak cukup pintar dibanding yang lain. Inilah seleksi...


Kalau yang ini mah mau gimana lagi gan, karena di indonesia saat ini masih jamak predikat sekolah unggulan. dan namanya sekolah, daya tampungnya pasti terbatas. Kalau peminatnya melebihi daya tampung, ya pasti seleksi lah. menurut ane sih, seleksi berdasarkan nilai ini masih jauh lebih fair kok dibanding seleksi berdasarkan hal lain (seperti jumlah sumbangan misalnya). solusi jangka panjangnya emang jangan sampai ada sekolah unggulan, tapi ini sulit, karena biasanya yang membedakan sekolah unggulan-bukan unggulan adalah lingkungannya. Kalau sekolah unggulan, mau kepsek, guru, muridnya gonta-ganti tapi tetep aja sekolahnya berprestasi karena kulturnya udah kebentuk. Begitu juga suatu sekolah bukan unggulan, butuh effort besar-besaran untuk bisa meningkatkan kualitas.

Quote:
2. Durasi materi
Pernahkah teman-teman mengalami saat memulai bab baru tapi belum memahami materi sebelumnya? Contoh, pelajaran ekonomi. Sebelum memulai bab perusahaaan dagang, perlu memahami perusahaan jasa terlebih dahulu. Masalahnya adalah, ketika pindah ke bab perusahaan dagang, dasar perpindahan bab itu, berdasarkan durasi pertemuan atau berdasarkan pemahaman siswa? Pelajaran/materi dianggap tuntas karena siswa paham akan materi tersebut ataukah karena alokasi waktu yang disediakan untuk materi tersebut sudah habis sehingga harus masuk ke materi selanjutnya? Tentu bagi siswa yang cerdas akan bisa memahami materi itu tepat dengan durasi yang telah ditentukan. Tapi bagaimana dengan siswa yang kurang cerdas yang masih belum bisa memahami dan baru akan pada tahap paham namun harus distop materi tersebut karena aturan durasi waktu tadi? Memang berapa persen dalam satu kelas yang sudah pada tahap paham untuk materi tersebut? Menurut pengalaman pribadiku sih, tidak kurang dari 5% yang benar-benar paham. Yang lain masih tahap menuju paham. Kemudian masalah akan bertambah ruwet ketika sang guru pengampu menyuruh siswanya belajar sendiri untuk benar-benar paham. Bagi mereka yang berduit, tentu bisa belajar di lembaga bimbingan belajar. Tapi yang tidak?


Kalau ini, karena guru biasanya ada tuntutan harus menyelesaikan seluruh materi dengan waktu yang terbatas, dan akhirnya kadang meski belum seluruh siswa paham benar, materi terpaksa berlanjut. Solusi mengejar pemahaman ini sebenarnya ga perlu bimbel loh. Kalo pengalaman ane, biasanya dulu justru jadi lebih paham itu ketika ngerjain PR dibanding ketika di kelas. (tapi sejak SMA ane mulai jarang ngerjain PR dan hasilnya mulai membodoh sejak itu emoticon-Ngakak (S)) Selain itu, bisa juga ngebentuk kelompok belajar, atau patungan berlima nyari mahasiswa untuk jadi pengajar di luar jam sekolah.

Quote:
3. Standar Ketuntasan Minimal (SKM)
Pertama kali bertemu dengan SKM ini ketika baru masuk SMP, saat itu semua mata pelajaranku diberi SKM 60 tiap mata pelajaran. apa itu SKM? Yaitu Standar Ketuntasan minimal berdasarkan nilai rata-rata akhir. Jadi pemahaman siswa diuji dengan ujian tulis dan tetek bengeknya kemudian apabila nilai akhir tidak sampai 60 maka harus remidiasi sampai nilainya menjadi 60. Ada 2 macam masalah yang timbulkan oleh SKM ini, yaitu 1. Siswa bisa jadi fokus utama dari belajar bukan lagi murni untuk mencari ilmu namun bergeser menjadi budak nilai. Berapa kali kita menyontek saat ujian? Mungkin sudah tak terhitung lagi. Karena akupun seringkali begitu. Ya mau bagaimana lagi, ketuntasan belajar kita disekolah ditentukan memang bukan murni dari pemahaman materi, tapi dari nilai yang didapat. Lebih baik mendapat nilai baik dan lulus dengan menyontek daripada nilai jelek dan tidak lulus. 2. Guru pengampu mau tidak mau pasti melakukan sesuatu agar anak didiknya lulus. Cara terakhir yang digunakan apabila nilai akhir kurang dari SKM bisa saja menambah nilai dengan mengkantrol nilai-nilai lainnya. Karena pasti para guru juga kasihan, masak gara-gara nilai segini anak ini tidak lulus. Yasudah maka diluluskan saja.
Coba kita bandingkan dengan zaman dulu ketika aturan SKM tidak ada. Nilai di rapot pasti ada merahnya, dan nilai yang didapat siswa pada jaman dulu (sebelum aturan SKM ada) cenderung jujur hasil dari pemahaman mereka sekalipun nilai yang didapat 40,30,20 dll. Jadi apakah kecerdasan itu harus distandarkan oleh nilai?


Kecerdasan tipenya ada banyak gan. Ada kecerdasan musik, sosial, olahraga, akademik, dll. Untuk kecerdasan yang tipenya akademik, untuk level anak sekolah cara mengukurnya ya memang lewat ujian tulis. Tapi memang tidak bijak jika karena 1 pelajaran nilainya di bawah SKM mengakibatkan tidak naik kelas dan dipaksakan remedial/dikatrol. Lebih baik biarkan anaknya naik kelas, tapi khusus pelajaran yang masih di bawah SKM dia mengulang, mungkin waktunya 1-2 jam pelajaran per minggu di luar jam sekolah. Selain itu, yang sangat penting, entah gimana caranya harus diciptakan kultur mencontek adalah hal yang lebih memalukan daripada bernilai jelek/ga naik kelas.

Quote:
4. Siswa Diwajibkan Pintar pada Semua Mata Pelajaran
Pernahkah teman-teman mendengar ungkapan bahwa “tidak ada orang bodoh di dunia, yang ada adalah ia pintar hanya di bidang tertentu saja?” jika teman-teman belum mendengarnya, maka baru saja teman-teman mendengarnya. Hehehe. Tapi serius, tidak semua orang memang pintar di setiap bidang. Contohnya, mungkin ia pandai matematika tapi belum tentu pandai di bidang seni lukis atau sebaliknya. Tapi sayang, sebuah lembaga bernama sekolah memukul rata setiap siswa harus bisa pandai di semua bidang akademik. Pernah suatu ketika aku punya teman di kelas, ia pandai menggambar dan melukis. Tapi sangat tidak pandai dalam hal berhitung seperti matematika dan fisika. Maka sudah pandai anak ini akan cenderung dimasukkan ke dalam kategori anak bodoh karena tidak pandai dalam hal tersebut. Segera di akhir semester atau saat kenaikan kelas, ia bisa saja tidak naik kelas karena tidak menguasai bidang tersebut. Tahukah teman-teman sekalian, bagaimana rasanya melakukan sesuatu hal yang tidak disukai? Dan kita masih memaksanya untuk melakukan itu...


Kelak, setelah dewasa, ente akan menemukan bahwa hidup itu memang begitu: sebagian besar waktu terpaksa dipakai untuk melakukan hal yang tidak disukai, hanya agar bisa bertahan hidup.

Tapi untuk labelisasi anak bodoh, ane setuju banget bahwa saat ini pemahaman kecerdasan di Indonesia itu dangkal banget. Hanya yang pintar ilmu eksakta yang suka dianggap pintar. Akhirnya banyak orang memaksakan belajar eksakta agar ga dianggap bodoh. Hasilnya? Indonesia sangat kekurangan orang pintar di bidang sosial, dan lihatlah kondisi politik, hukum, perawatan sejarah, ekonomi, olahraga, sastra, film, musik dll Indonesia saat ini.

Quote:
5. Ujian Nasional
Mungkin inilah masalah terbesar di dunia pendidikan saat ini. Ujian nasional perlu atau tidak? Menurut pandang pribadiku, ujian nasional ini perlu dan penting untuk dilaksanakan di Indonesia untuk kesetaraan pendidikan dari ujung barat Indonesia sampai ujung timur. Tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan di Indonesia ini masih Jawa-sentris sehingga anak-anak di bagian timur tingkat pendidikannya tidak setara di jawa. Maka baiknya, output dari ujian nasional ini bukanlah menjadi penentu kelulusan siswa, tapi sebagai evaluasi bagi orang kementerian pendidikan apakah pendidikan sudah merata atau tidak di Indonesia ini. Bukankah lebih indah ujian nasional itu bukan sebagai ketakutan siswa karena tidak lulus, tapi sebuah anugrah bahwa pendidikan di Indonesia akan menjadi merata dan orang timur menjadi merasa lebih dihargai oleh orang jawa? Maka soal setidaknya cukup 1 paket, tetapi penjagaan yang diperketat saat pelaksanaan ujian nasional. Yakinlah, siswa-siswa tersebut tidak akan gelisah atau takut, karena bukan masa depan mereka yang dipertaruhkan oleh LJK dan pensil 2B melainkan para kepala pendidikan yang akan pusing seandainya nilai di daerahnya tidak bagus. Hal ini akan memicu ekspansi guru ke daerah-daerah timur atau yang pendidikannya masih kurang untuk disentuh oleh pemerintah. Aku menjadi mengingat mukkadimah Uud 1945 yang berbunyi, “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Betapa besarnya bangsa ini...


100% setuju untuk hal ini

Quote:
6. Adanya Lembaga Bimbingan Belajar
Lembaga bimbimbangan belajar atau biasa kita seblut tempat les sudah menjamur di negara ini. Lembaga bimbingan belajar ini mungkin digagas oleh sekelompok orang yang ingin membantu dan memajukan pendidikan di indonesia ini. Ataukah mereka ini hanya orang yang mencari keuntungan dari pendidikan untuk kepentingan ekonomi semata? Mari kita teliti lagi, apa motif orangtua/siswa mengikuti lembaga bimbingan belajar ini. Setahuku, para orangtua ini mengirim putra-putrinya ke lembaga bimbingan belajar adalah untuk menambah materi yang belum dikuasai, metode yang digunakan lebih mudah dipahai daripada metode di sekolah, adatrik cepat mengerjakan suatu permasalahan yang tidak diajarkan di sekolah atau untuk persiapan menuju ujian nasional.
Disinilah letak keanehannya. Apabila alasan yang aku paparkan seperti yang diatas benar adanya, berarti lembaga sekolah tidak bisa memenuhi kebutuhan akan pendidikan para siswanya. Padahal cara pemerintah mengamalkan pasal UUD 1945 diatas adalah dengan jalur memberi pendidikan melalui sekolah. Apabila melalui sekolah tidak berhasil, apakah bisa dikatakan bahwa pemerintyah gagal mengamalkannya? Kalau memang seperti itu, yasudah, bubarkan saja sekolah dan kita berbondong-bondong masuk lembaga bimbingan belajar saja, toh disana metodenya lebih baik daripada apa yang diajarkan di sekolah. Tapi jika begitu, kita juga menjadi penghambat diamalkannya pasal tersebut. Bagaimana dengan 20% APBN untuk pendidikan? Berarti juga sia-sia? Semua pilihan bergantung kepada pribadi masing-masing...


Jangan seperti itu memposisikan lembaga bimbel nya. Analoginya gini, sekolah adalah nasi, dan bimbel adalah vitamin. Kalau seseorang makan vitamin, tentu ia lebih fit dari yang hanya makan nasi saja. Tapi bukan berarti makan nasi saja pasti gagal membuat fit. Begitu juga bimbel, orang memasukkan anaknya ke bimbel agar lebih pandai. Tapi bukan berarti sekolah telah gagal melaksanakan fungsinya. Dan seperti halnya vitamin yang banyak pilihan, ada banyak jalan lain agar murid lebih pandai selain dengan bimbel, misalnya membuat kelompok belajar, mengulang sendiri pelajaran sambil mengerjakan tugas, memanfaatkan tutorial di internet, dll. Tapi memang banyak orang larinya ke bimbel, kombinasi memang orangtuanya tidak kreatif, dan anaknya mental tempe maunya disuapi saja trik-trik dari bimbel tidak mau usaha.

Quote:
*****
Dari keenam hal ini saja, mari kita merenung, apakah sudah tepat sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia? Apakah pendidikan yang dicita-citakan Ki hajar Dewantoro sudah sesuai dengan keinginan beliau ataukan sudah melenceng jauh dari apa yang dia cita-citakan yaitu pendidikan untuk semua kalangan tanpa memandang darimana mereka berasal? Apakah pemerintah sudah bisa mengamalkan dan menjalankan tugasnya sesuai dengan undang-udnang dasar 1945 yang aku sebutkan diatas? Biarlah ini kita jawab di hati masing-masing.
Marilah kita bercermin diri, pemerintah, sekolah, orangtua siswa, siapa saja. Tidak ada yang lebih kita harapkan selain untuk kemajuan bangsa. Bukan untuk apapun atau siapapun, tapi untuk apa yang akan kita wariskan bagi generasi mendatang, untuk Indonesia yang lebih baik...

Penulis : Rheasepuluh
Surakarta, 22 Februari 2014



0 0
0
[Diskusi] Masalah kacaunya sistem pendidikan Indonesia
24-02-2014 16:09
Ane turut perihatin gan sama pendidikan di indonesia emoticon-Mewek
0 0
0
[Diskusi] Masalah kacaunya sistem pendidikan Indonesia
24-02-2014 16:10
Sudah tepat, cuman satu aja yang kurang. Kurang pemerataan pendidikan. sebagai bukti, masih menjadi budaya kita, yaitu istilah sekolah favorit dan sekolah tidak favorit.
Diubah oleh MrThinker
0 0
0
[Diskusi] Masalah kacaunya sistem pendidikan Indonesia
24-02-2014 16:10
Terlebih lagi adanya "kuota" di suatu daerah yang mengharuskan anak Kabupaten nilainya lebih besar dari standar untuk masuk sekolah SMP/SMA di Kota. Dan Kurikulum 2013 itu belum sepenuhnya merata lho gan, hanya "beberapa" sekolah di setiap Kota/Kab saja.
0 0
0
[Diskusi] Masalah kacaunya sistem pendidikan Indonesia
24-02-2014 16:11
setau ane sistem pendidikan di Indonesia sering berubah2
ganti menteri sistemnya ganti juga
negara2 maju kayanya gk ada sistem pendidikan nya yang sama dgn kita
0 0
0
[Diskusi] Masalah kacaunya sistem pendidikan Indonesia
24-02-2014 16:12
Ini Dulu Pernah Baca di HT emoticon-Malu (S)
0 0
0
[Diskusi] Masalah kacaunya sistem pendidikan Indonesia
24-02-2014 16:12
Menurut gw sistem pendidikan di indonesia masih tidak tepat, contoh nya disini kalau ada siswa yg tidak naik kelas harus mengulang seluruh mata pelajaran, padahal seharusnya yg diulang cukup yg nilai nya tidak mencukupi aja, itu lebih efisien daripada harus mengulang semua

Sistem pengajaran disini juga lebih suka membuat murid menghafal sebanyak mungkin, itu juga ga efektif dan cuma membebani murid aja, padahal dari semua hafalan itu cuma sebagian aja yg berguna
0 0
0
Halaman 19 dari 32
icon-hot-thread
Hot Threads
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia