Food & Travel
Batal
KATEGORI
link has been copied
168
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5102366b582acfe65e000017/catoper-satu-keluarga-kesasar-di-puncak-lawu-22--24-desember-2012
Inilah akibatnya kalau terlalu sering main ke sini dan baca-baca catoper. Saya jadi keracunan. Keril yang selama ini diam tenang di peraduannya, harus turun dari singgasana. Istri dan anak saya pun ikut-ikut bongkar keril mereka dan mulai menginventarisir perlengkapan yang ada. Ya, memang sudah lama keluarga kami tidak keluyuran untuk menghirup udara segar pegunungan atau hutan. Di sekitar Kabupat
Lapor Hansip
25-01-2013 14:38

[CATOPER] Satu Keluarga Kesasar Di Puncak Lawu (22 – 24 Desember 2012)

Inilah akibatnya kalau terlalu sering main ke sini dan baca-baca catoper. Saya jadi keracunan. Keril yang selama ini diam tenang di peraduannya, harus turun dari singgasana. Istri dan anak saya pun ikut-ikut bongkar keril mereka dan mulai menginventarisir perlengkapan yang ada. Ya, memang sudah lama keluarga kami tidak keluyuran untuk menghirup udara segar pegunungan atau hutan. Di sekitar Kabupaten Jember, tempat kami tinggal, sebenarnya banyak tempat yang menarik untuk dijelajahi (sebagian besar sudah sering kami kunjungi), namun kali ini undian jatuh ke tempat yang agak jauh, yaitu Gunung Lawu. Mumpung ada libur yang lumayan panjang.

Singkat cerita, Sabtu dini hari pukul 00.00 WIB tanggal 22 Desember 2012, kami bertiga (Saya, istri dan anak) sudah terdampar di pinggir jalan kawasan pertigaan Ngrandu Kabupaten Jombang, lengkap dengan perabot lenong, cari bus jurusan Solo – Jogja (kami memang sengaja berangkat dari Jombang tempat ibu mertua saya tinggal, sekalian menjenguk dan mohon doa restu). Bus yang kami tumpangi demikian penuhnya sehingga kami harus berdiri di kaki sendiri selama perjalanan. Maklum musim liburan.

Terminal Tirtonadi Solo, 22 Desember 2012 pukul 04.00 WIB
Akhirnya lepas juga penderitaan kami. Kaki yang gringgingen sudah mulai bisa merasakan tanah yang dipijak. Turun dari bus, clingak-clinguk mencari bus berikut tujuan Tawangmangu. Kami bertiga pun berjalan sepanjang koridor sambil menggendong keril tambun. Tak perlu menunggu lama, sudah ada orang yang melambaikan tangan dan langsung bisa menebak tujuan kami.
“ Ayo, Mas. Ke Tawangmangu kan?” katanya
Heran juga saya. Kok dia bisa tahu ya? Kami pun mengekor orang itu dan langsung diantar ke bus yang dimaksud. Lumayan kosong. Bahkan keril pun dapat jatah kursi sendiri-sendiri tanpa harus membayar lebih.
Pukul 04.30 WIB bus berangkat. Kami pun terlelap.

Terminal Tawangmangu, 22 Desember 2012 pukul 06.00 WIB
Ternyata bus tidak masuk terminal, hanya berhenti di pinggir jalan di seberang terminal. Begitu turun, kami langsung disambut hangat oleh sopir angkutan.
“Segera berangkat Mas. Mau ke puncak kan? Cemoro Kandang?” kata sopir itu.
Nah, ini lagi. Kok bisanya dia tahu kalau kami akan ke Gunung Lawu lewat jalur Cemoro Kandang. Hmmm… agak mencurigakan.
Dengan halus kami tolak tawaran itu, sebab irama keroncong dari perut sudah sayup-sayup terdengar. Harus cari sarapan dulu. Menyeberang jalan, kami pun berkeliling dalam area terminal mengevaluasi secara visual warung-warung yang ada berusaha menebak kualitas kuliner yang disediakan. Pilihan jatuh pada warung dekat toilet umum. Tiga mangkuk soto dan tiga gelas teh hangat, pindah ke dalam perut. Tidak lupa membeli nasi bungkus untuk makan siang nanti. Perut kenyang, hati senang. Perjalanan berlanjut menuju Cemoro Kandang menggunakan angkutan pedesaan, setengah sewa, dengan ongkos Rp 30.000 untuk tiga orang.

Cemoro Kandang, 22 Desember 2012 pukul 08.00 WIB
Kami diantar hingga depan Base Camp Cemoro Kandang. Begitu kendaraan itu berlalu, pandangan kami terpaku pada deretan warung-warung seberang jalan. Warung-warung itu seakan melambai agar kami sudi mampir.
“Hmm…sepertinya enak kalo nongkrong dulu. Tadi kan belum ngopi.” pikirku.
Seakan dalam satu komando, kaki kami melangkah menyeberang jalan. Dan tahu-tahu mie instan rebus, teh hangat dan kopi sudah berkumpul dengan menu terminal Tawangmangu di dalam perut. Sarapan kedua.

Sarapan Kedua


Pos AGL Cemoro Kandang, 22 Desember 2012 pukul 09.00 WIB
Perut semakin kenyang, hati semakin senang. Saatnya berangkat.
Memasuki gerbang Pos AGL, kami disambut dengan gonggongan sepasang Golden Retriever (kalau tidak salah) dewasa dan satu ekor anakan. Mereka tampak gembira melihat kami, sepasang manusia dewasa dan satu manusia anakan.

Setelah registrasi dan membayar biaya Rp 5.000,00 per orang, kami pun melangkah masuk jalur pendakian. Mampir sebentar narsis di depan papan peraturan pendakian sambil berusaha menghafal isinya.

Papan Peraturan

Ok, berangkat. Langit cerah, angin sepoi-sepoi. Sempurna. Dalam rangka mencapai puncak Lawu, kami sudah merancang strategi perjalanan yaitu strategi alon-alon waton kelakon, dengan alasan biar puas menikmati pemandangan. Awal pendakian kami tapaki jalur tanah tidak terlalu menanjak menembus hutan dengan pepohonan yang tidak terlalu rapat.

Jalur Semak


Pos 1 : Tamansari Bawah (2.300 mdpl), 22 Desember 2012 pukul 10.30 WIB
Di sini kami istirahat sebentar, foto-fotoan. Pos ini berupa bangunan permanen dengan atap seng yang sudah berlubang di sana sini. Tidak lama ngendon di sini, kami lanjutkan melangkah. Jalur sudah mulai terasa menanjak, dengan hiasan pohon-pohon meranggas sisa kebakaran beberapa waktu lalu.
Taman Sari Bawah

Sekitar pukul 12.30 WIB, perut minta diisi ulang. Ya udah, berhenti dulu untuk makan nasi bungkus dari Terminal Tawangmangu. Menu yang hadir adalah telur mata sapi dikombinasi dengan oseng-oseng tahu tempe.
Istirahat

Selesai makan, perjalanan dilanjutkan. Cuaca masih cerah, suhu enak buat jalan. Masih dalam strategi semula, jalan santai yang penting bergerak maju.
Menanjak

Beriring

Pos 2 : Taman Sari Atas (2.470 mdpl), 22 Desember 2012 pukul 13.00 WIB
Pos ini mirip dengan pos sebelumnya dengan kondisi yang sudah mulai rusak. Di depan bangunan terdapat area terbuka yang tidak begitu luas, sepertinya enak buat masang tenda. Di sini pun kami tidak berhenti lama.
Dekat Pos 2

Taman Sari Atas

Perjalanan berlanjut dengan jalur yang lebih menanjak. Suhu mulai terasa lebih dingin. Kabut tipis juga sudah hadir, mengiringi perjalanan kami meniti bibir Jurang Pangarip-arip.
Nanjak Lagi

Tidak lama, kabut yang tipis menjadi lebih tebal. Jarak pandang semakin menyusut. Tetes-tetes air dari langit turut memeriahkan suasana. Inilah saatnya berubah. Dengan kecepatan yang sulit dinalar, kostum kami sudah berubah, terbungkus rain coat. Perjalanan bisa dilanjutkan.
Pada titik ini kami disusul oleh serombongan pendaki dari Jakarta. Mereka bersembilanbelas orang. Kami pun bertukar sapa. Karena strategi pendakian yang berbeda dari kami, mereka terus melaju dan kami tetap disiplin untuk jalan nggremet. Kami baru sadar bahwa sedari tadi jalan, tidak bertemu dengan pendaki lain sama sekali kecuali yang barusan lewat. Sepi.

Pos Bayangan, 22 Desember 2012 pukul 15.00 WIB
Hujan semakin deras. Di pos ini kami berhenti cukup lama, diisi kegiatan nyamil dan sholat. Anak saya sempat tidur juga. Pos Bayangan terletak antara Pos 2 dan Pos 3 berupa bangunan kayu yang didominasi material seng.
Pos Bayangan

Kelamaan istirahat membuat betah. Jadi malas untuk jalan lagi. Namun tujuan masih jauh, karena itu begitu hujan mereda, kami melanjutkan perjalanan.
Di Antara Kabut

Kabut masih senantiasa jadi selimut alam, kemanapun melayangkan pandangan yang tampak hanya warna putih. Jalur semakin menanjak dan berkelok-kelok. Matahari sudah bersiap-siap melepas tugasnya menyinari dunia hari itu. Pada saat saya dan istri berdiskusi apakah sudah masuk waktu maghrib atau belum, terdengar suara adzan sayup-sayup. Kabut tersibak memperlihatkan rona jingga di cakrawala barat. Hanya dua kata yang bisa terucap, Masya Allah. Kami pun menunaikan ibadah di sebuah tikungan.
Namun pertunjukan alam ini hanya berlangsung sebentar. Begitu sholat selesai, tirai kabut kembali menutup, hujan rintik berangsur menderas dan cahaya matahari perlahan sirna. Sudah saatnya senter melaksanakan tugas.

Bersambung . . .
Diubah oleh studiokimus
0
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 6 dari 9
[CATOPER] SATU KELUARGA KESASAR DI PUNCAK LAWU (22 – 24 Desember 2012)
01-03-2013 00:47
wah keluarga pendaki ya.. selamat ya gan
ane pengen bgt bisa daki bareng bokap, tapi kayanya susah emoticon-Sorry
0 0
0
[CATOPER] SATU KELUARGA KESASAR DI PUNCAK LAWU (22 – 24 Desember 2012)
02-03-2013 14:13
Quote:Original Posted By zainrifqy


mantap om cari istrinya pendaki gunung jugak om biar bisa ngikutin trip TS'
tapi ada masalahnya gan ntar istinya ngidam keril, jaket ,sepatu (MEREKNYA YG TOP ABISSSSSSSSSSS)


Hahaha bener gan,istri ane belum nyidam aja maunya juga yg aneh2 emoticon-Cape d... (S)

tuh dirumah pe carrier deuter ada 4 warna orange semua (istri suka banget ma orange),,sekarang lagi ngincer sepatu salomon yg warna orange juga..hahahaha...(motong jatah beli sayuran nih ) emoticon-Ngakak
0 0
0
[CATOPER] SATU KELUARGA KESASAR DI PUNCAK LAWU (22 – 24 Desember 2012)
08-03-2013 10:04
Salut sama agan studiokimus sekeluarga..
Seru banget bisa kompakan naik gunung.
Nanti kalo anak2 udah gede, ane juga mau bawa naik gunung..emoticon-Cool
0 0
0
[CATOPER] SATU KELUARGA KESASAR DI PUNCAK LAWU (22 – 24 Desember 2012)
08-03-2013 10:51
emoticon-2 Jempol emoticon-2 Jempol
Nice catoper om! Dibaca enak, fotonya juga bagus emoticon-Smilie
emoticon-I Love Indonesia (S)emoticon-I Love Indonesia (S)
0 0
0
[CATOPER] SATU KELUARGA KESASAR DI PUNCAK LAWU (22 – 24 Desember 2012)
09-03-2013 03:36
Waaa..nanjak bareng keluarga emoticon-Matabelo saluuut,keren...adem dilihatnya.
0 0
0
[CATOPER] SATU KELUARGA KESASAR DI PUNCAK LAWU (22 – 24 Desember 2012)
13-03-2013 01:07
cakep nih om nanjak sama keluarga emoticon-Embarrassment
0 0
0
[CATOPER] SATU KELUARGA KESASAR DI PUNCAK LAWU (22 – 24 Desember 2012)
28-03-2013 14:41
asli keren om catpernya .. terharu ane emoticon-Matabelo
0 0
0
[CATOPER] SATU KELUARGA KESASAR DI PUNCAK LAWU (22 – 24 Desember 2012)
28-03-2013 16:15
Keren banget gan... anak nya mau ikutan.... hehe...

0 0
0
[CATOPER] SATU KELUARGA KESASAR DI PUNCAK LAWU (22 – 24 Desember 2012)
29-03-2013 20:46
wah lawu, jadi kangen mbok yem, mampir mbok yem ga gan ? enak ya kalo sekeluarga suka mountaineering gini, bs kompakan kemana aja emoticon-Matabelo
0 0
0
[CATOPER] SATU KELUARGA KESASAR DI PUNCAK LAWU (22 – 24 Desember 2012)
04-04-2013 15:53
Keluarga Cemoro Sewu emoticon-Baby Boy 1
0 0
0
[CATOPER] SATU KELUARGA KESASAR DI PUNCAK LAWU (22 – 24 Desember 2012)
04-04-2013 16:33
waahhhh mantab om.....ngesod sama anak istri....
smoga junior (skarang bru usia 6 bulan ) ama istri ane nanti mau diajak ngesod..xixixixixi
0 0
0
[CATOPER] SATU KELUARGA KESASAR DI PUNCAK LAWU (22 – 24 Desember 2012)
04-04-2013 19:57
haru biru bacanya....
didikan bagus utk anaknya pak, semasa kecil sdh ditanamkan bibit pecinta alam
emoticon-2 Jempol
0 0
0
[CATOPER] SATU KELUARGA KESASAR DI PUNCAK LAWU (22 – 24 Desember 2012)
26-04-2013 13:06
asiknya bisa muncak bareng keluarga.... emoticon-Matabelo
jadi kangen lawu, tapi sempet drop waktu mau nyampe puncak emoticon-Berduka (S), pas turun lewat cemoro sewu juga, muter2 terus di jalur yang sama.... emoticon-Cape d... (S)
0 0
0
[CATOPER] SATU KELUARGA KESASAR DI PUNCAK LAWU (22 – 24 Desember 2012)
27-04-2013 17:34
Manteb Om jalan2 bareng keluarganya..

Niat mo kesana belum jadi2 ma Istri n anak.. sekedar kemping aja..

Tetep semangat Om..
0 0
0
[CATOPER] SATU KELUARGA KESASAR DI PUNCAK LAWU (22 – 24 Desember 2012)
29-04-2013 17:18
Quote:Original Posted By studiokimus
. . . sambungan

Pos 3 : Penggik (2.780 mdpl), 22 Desember 2012 pukul 19.00 WIB
Pos Penggik berupa bangunan berbahan seng yang cukup besar dengan sedikit ruang kosong sebagai halamannya. Saat kami tiba, rombongan dari Jakarta tadi sudah mendirikan tenda, dua di luar dan dua di dalam pos. Dilihat dari formasi pemasangan tenda, ternyata kami sudah disediakan kapling oleh mereka. Cukup untuk satu tenda dome kapasitas tiga orang. Gembira juga rasanya. Di bawah guyuran hujan, dibantu anggota rombongan itu, akhirnya tenda kami berdiri berjejer dengan dua tenda lainnya.
Acara selanjutnya, masak, makan dan merelakan diri ditelan sleeping bag.
Penggik

Pos 4 : Cokro Suryo (3.024 mdpl), 23 Desember 2012 pukul 11.00 WIB
Setelah sarapan di Pos 3, mampir sebentar di Sendang Panguripan untuk mengisi tanki air, sampailah kami di Pos 4 Cokro Suryo. Pos ini berupa bangunan kokoh dengan dinding susunan batu dan berhalaman lapangan luas. Hujan deras dan kabut tebal, tampaknya bersekongkol untuk menghentikan langkah kami. Ya sudah kalau begitu. Dinikmati saja. Di sini kami berhenti lama banget.
Sekitar pukul 16.00 WIB, hujan berhenti. Namun kabut enggan pergi. Tidak apa-apa, malah kondisi ini mendukung strategi yang telah ditetapkan, pelan-pelan saja jalannya.
Pos Cokro Suryo

Kabut Cokro Suryo


Burung Jalak
Cukup lama berjalan, tiba-tiba di depan kami ada seekor burung. Melihat tampangnya, ini burung Jalak. Yang agak aneh menurut saya, Si Jalak ini melompat-lompat di jalur pendakian seirama dengan laju langkah kami. Kami berhenti, dia berhenti. Kami jalan, dia lompat-lompat lagi. Sempat terpikir, Si Jalak ini tidak bisa terbang. Namun, seolah tahu yang ada di benak saya, Si Jalak langsung pamer kemampuan terbangnya di antara pepohonan, dan kembali lagi lompat-lompat di depan kami. Lama juga beliaunya ini menjadi leader tim kecil kami, hingga berjumpa dengan sebuah perempatan. Si Jalak mengambil jalur kanan menanjak dan kami berhenti dulu untuk melepas rain coat.
Si Jalak

Pos 5 : Perapatan, 23 Desember 2012 pukul 17.00 WIB
Pos ini merupakan satu-satunya pos yang tidak ada bangunannya. Berupa area terbuka yang lumayan luas tempat memecahnya jalur menuju puncak. Jalur kiri menuju Hargo Tiling, lurus ke Hargo Dalem dan kalau kanan mengarah ke Hargo Dumilah. Di sini kami berhenti sebentar, foto-fotoan.
Perjalanan kami lanjutkan ke arah kanan, ternyata Si Jalak sudah menunggu kami sedari tadi. Begitu melihat kami, Si Jalak kembali memposisikan diri menjadi leader, lompat-lompat lagi. Pada posisi yang sudah lumayan tinggi di tanjakan, kabut serasa agak menipis, anak saya menunjuk ke arah belakang. Saya dan istri mengikuti arah telunjuknya. Sekali lagi pertunjukan alam dimulai. Tirai kabut menyibak, sinar mentari menyisip di antara awan, dan terlihat lengkung bianglala di atas lembah. Masya Allah, kami terpana. Sayang pertunjukan ini berlangsung singkat. Saat saya mengambil kamera, tirai kabut menutup, dan Si Jalak juga entah di mana.
Tanjakan Perapatan

Puncak Hargo Dumilah (3.265 mdpl), 23 Desember 2012 pukul 17.30 WIB
Alhamdulillah, sampai juga di puncak tertinggi Gunung Lawu. Sepi. Tidak ada orang selain kami. Kabut semakin merapatkan barisan, sang gelap juga tidak mau kalah. Kami segera berkeliling tugu mencari spot untuk foto-fotoan, mumpung masih ada sisa terang mentari. Saat itu datanglah serombongan pendaki muda dari Sidoarjo. Mereka naik lewat jalur Cemoro Sewu. Lumayan, jadi meriah suasananya.
Puncak Hargo Dumilah


Kesasar
Kami tidak berlama-lama di puncak, dan segera ingin turun lewat jalur Cemoro Sewu. Saat akan turun inilah kami jadi bingung, ternyata banyak jalur yang mengarah ke bawah. Istri saya bertanya arah kepada salah satu anggota rombongan pendaki Sidoarjo.
”Lewat yang ini, Mbak. Lurus aja. ” jawabnya.
Kami segera masuk jalur yang ditunjukkan. Anak saya yang jadi leader. Kabut semakin tebal, gelap turut merapat. Hadir pula sahabat kami, sang hujan, dengan butiran airnya yang besar-besar. Jarak pandang benar-benar terbatas. Cahaya senter hanya mampu menembus lima langkah di depan. Kami terus turun, turun, dan turun. Lurus.
Kabut tebal menutup pandangan kami dari jalur semestinya. Pada saat bertemu dengan jalur utama, seharusnya berbelok ke kanan. Namun, kami merasa tidak pernah menjumpai persimpangan itu. Saat jalur berbatu berubah menjadi rumput, kami terus maju hingga terhenti pada daerah berumput tinggi. Anak saya bimbang menentukan langkah. Segera diadakan rapat darurat dan hasilnya adalah secara aklamasi kami sepakat bahwa kami kesasar. Dengan demikian, berarti kami harus istirahat dulu.
Hujan berhenti. Lagi-lagi pertunjukan alam dimulai. Kabut kembali menyibak, memperlihatkan lampu-lampu kota bak permata berserakan nun jauh di sana. Entah daerah mana itu. Kali ini pertunjukan alam berlangsung agak lama, sehingga cukup puas kami memanjakan mata.
Seiring dengan pameran cahaya kilat di cakrawala sebelah kiri kami, hiburan ini berakhir. Tirai kabut mulai menutup. Sahabat kami, sang hujan, kembali lagi dengan kekuatan penuh. Kami segera balik kanan. Anak saya masih di depan. Beberapa saat berjalan, kabut menipis, dan saya melihat samar-samar sebuah pohon yang saya kenali saat lewat disampingnya tadi. Berjarak cukup jauh di sebelah kiri. Ya, kami salah arah lagi. Kami segera menghampiri pohon itu dan saya berusaha mengenali medan berdasar ingatan visual secepat mungkin, sebelum ingatan itu dihapus oleh sistem penghapus otomatis di otak saya.
Akhirnya sekitar pukul 22.00 WIB, kami kembali di jalan yang benar. Bertemu jalur utama, mendirikan tenda di bawah guyuran hujan lebat diselingi bau dupa menyengat.

Sekitar Puncak, 24 Desember 2012 pukul 05.00 WIB
Belum puas rasanya mata memejam, subuh telah datang. Sepertinya di luar sudah terang. Sewaktu saya membuka pintu tenda, ternyata Si Jalak sudah berdiri dengan sikap sempurna berposisi menghadap saya di luar. Bergegas, saya mengambil kamera. Saat kembali, kawan kami itu sudah tidak ada.
Camp Sekitar Puncak

Perjalanan Turun Jalur Cemoro Sewu
Cuaca cukup cerah. Awal yang baik. Sekitar pukul 09.00 WIB, kami mulai bergerak. Sendang Derajat, Pos 5, Sumur Jolotundo, Pos 4 dan Pos 3, kami lewati tanpa halangan yang berarti. Kami tetap disiplin dengan strategi yang telah ditetapkan, alon-alon waton kelakon.
Saat kami beristirahat antara Pos 3 dan Pos 2, saya dikejutkan dengan suara dari arah belakang.
” Mas . . . Mas . . .” suara itu terdengar jelas.
Saya langsung menoleh dan tampak seraut wajah lusuh milik seorang pemuda dengan senyum dipaksakan.
”Airnya masih ada? Saya minta dikit.” Katanya sambil menunjuk ke arah botol air mineral di kantong keril saya.
Saya berikan air itu dan langsung ditenggak. Wajahnya berangsur cerah. Pemuda itu kemudian bercerita bahwa dia berasal dari Kendal. Semalam, saat dirinya tepar, dia ditinggal oleh kawan-kawannya di tengah hujan lebat. Pagi tadi, dia berusaha menyusul kawan-kawannya ke puncak, namun tidak bertemu. Selanjutnya Pemuda Kendal ini ikut turun bersama kami.
Sesampai di Pos 2, kami berniat untuk mengadakan ritual masak dan makan. Namun kawan baru kami, nampaknya lebih tertarik untuk segera turun bergabung dengan rombongan pendaki yang habis beristirahat dan siap jalan. Di sini kami berpisah. Selamat jalan kawan, semoga selamat sampai ke rumah.

Base Camp Cemoro Sewu, 24 Desember 2012 pukul 16.00 WIB
Alhamdulillah sampai juga. Selanjutnya, makan nasi goreng di warung, minum teh panas, turun ke Magetan dan terus pulang ke Jombang.

Selesai.

Terima kasih untuk semua yang sudah telaten membaca sampai akhir.

Ada videonya juga

video


Sebagai informasi aja : Kaki kiri saya waktu kanak-kanak terserang Polio, jadi lebih kecil dan pendek dari kaki kanan. Tapi selama ini saya pake ke mana-mana, gak pernah rewel.

Sekali lagi, terima kasih


Mangstaaabbbbbb gan...., cita-cita ane juga gan buat naek gunung bareng sama anak & istri, tapi sayangnya anak ane masih 11 bulan...heheheheeee....
Nunggu udh agak gedean dikit dah, kayanya seru juga tuh...emoticon-Traveller
0 0
0
[CATOPER] SATU KELUARGA KESASAR DI PUNCAK LAWU (22 – 24 Desember 2012)
11-05-2013 02:37
bikin iri aja om.... emoticon-Sorry
0 0
0
[CATOPER] SATU KELUARGA KESASAR DI PUNCAK LAWU (22 – 24 Desember 2012)
11-05-2013 11:39
Keren nich ngajax anak biar menjadi the next generatiaon bpaknya emoticon-Angkat Beer
0 0
0
[CATOPER] SATU KELUARGA KESASAR DI PUNCAK LAWU (22 – 24 Desember 2012)
11-05-2013 14:29

mantaph gan...

mantaphhh.... emoticon-I Love Indonesiaemoticon-I Love Indonesia
0 0
0
[CATOPER] SATU KELUARGA KESASAR DI PUNCAK LAWU (22 – 24 Desember 2012)
11-05-2013 21:53
emoticon-2 Jempolemoticon-2 Jempolemoticon-2 Jempolemoticon-2 Jempol
0 0
0
[CATOPER] SATU KELUARGA KESASAR DI PUNCAK LAWU (22 – 24 Desember 2012)
26-05-2013 04:55
Keluarga cemara ni om emoticon-2 Jempol
0 0
0
Halaman 6 dari 9
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Oriental Exotic (Asian food)
dum-dum
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia