alexa-tracking
News
Batal
KATEGORI
link has been copied
Lapor Hansip
12-07-2019 00:37
Kisah TKI Lolos Hukuman Mati Usai 19 Tahun Dibui
Kisah TKI Lolos Hukuman Mati Usai 19 Tahun Dibui

Dubes RI Maftuh Abegebriel bersama keluarga Ety di Majalengka Oktober 2018 (Foto: dok. Istimewa)

Kisah TKI Lolos Hukuman Mati Usai 19 Tahun Dibui

Jakarta - Tenaga kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi, Ety binti Toyyib Anwar, akhirnya lolos dari ancaman hukuman mati setelah Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Arab Saudi menebusnya dengan 4 juta riyal Saudi atau setara dengan Rp 15,2 M. Ety, yang dituduh melakukan pembunuhan terhadap majikannya, harus dibui 19 tahun lamanya dan terancam hukuman mati.

Ety awalnya merupakan TKI yang bekerja di Kota Taif, Arab Saudi. Namun, pada 2001 Ety dituduh sebagai penyebab majikan sakit dan meninggal dunia.

Atas tuduhan itu, keluarga majikan menuntut hukuman mati atau qishas diberikan kepada Ety. Pemerintah melalui KBRI di Riyadh pun melakukan negosiasi panjang untuk membebaskan Ety dari hukuman mati.

"Setelah negosiasi yang panjang dan alot, keluarga majikan bersedia memaafkan dengan meminta diyat (tebusan) sebesar SR 4.000.000 (riyal Arab Saudi)," ujar ujar Dubes RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel dalam keterangan tertulis, Kamis (11/7/2019).

Kesepakatan kemudian terjadi antara KBRI Riyadh dan wakil ahli waris Faisal al-Ghamdi, yaitu Khalid al-Ghamdi. Agar Ety dibebaskan dari hukuman mati, disepakati bahwa dalam waktu 7 bulan pihak KBRI Riyadh sudah memberikan 4 juta riyal Saudi kepada ahli waris, Faisal al-Ghamdi.

"Batas akhir pembayaran sebenarnya berakhir di bulan Sya'ban 1440/ April 2019," kata Agus.

Mengumpulkan dana setara Rp 15,2 M itu, KBRI Riyadh melakukan penggalangan dana bekerja sama dengan sejumlah pihak. Salah satunya Lembaga Amil Zakat Infaq Shadaqoh Nahdlatul Ulama (LAZISNU), yang mampu memberikan Rp 12,5 M atau 80 persen dari Rp 15,2 M yang dibutuhkan untuk menebus Ety.

"Dana Rp 12,5 M tersebut dihimpun oleh LAZISNU selama 7 bulan dari para dermawan santri, dari kalangan pengusaha, birokrat, politisi, akademisi, dan komunitas filantropi," ucapnya.

Namun hingga 7 bulan pihak KBRI Riyadh belum mampu mengumpulkan Rp 15,2 M untuk diserahkan kepada wakil ahli waris Faisal al-Ghamdi. Dubes Agus lalu melakukan komunikasi kepada pihak ahli waris agar diberi perpanjangan waktu untuk mengumpulkan dana yang kurang.

"Dubes RI melakukan pendekatan dengan pihak ahli waris yang diwakili anak korban, Khalid al-Ghamdi, untuk sepakat di akhir Ramadhan (1440 H). Dan ketika akhir Ramadhan dana belum juga mencukupi, Dubes Maftuh Abegebriel lalu minta untuk sampai akhir Syawal/awal Juli 2019 dan pihak ahli waris menyetujui," tuturnya.

Akhirnya pada masa-masa akhir batas penyerahan tebusan KBRI Riyadh mampu mengumpulkan Rp 15,2 M untuk menebus Ety agar terbebas dari jeratan hukuman mati.

"Angka 4 juta riyal (Rp 15,2 M) tersebut tercapai di hari jelang injury time, yaitu 24 jam menjelang waktu deadline, yaitu 30 Syawal 1440 H/3 Juli 2019. Hasil penggalangan dana selama kurang-lebih 7 bulan tersebut telah dikirimkan pada 2 Juli 2019 ke rekening yang dibuat khusus oleh Pemerintah Provinsi Mekah untuk kepentingan sumbangan diyat kasus Ety bt Toyyib Anwar," ungkap Agus.

"Dengan telah lengkapnya jumlah yang diminta oleh ahli waris, KBRI Riyadh sudah mengirimkan nota diplomatik kepada Kerajaan Arab Saudi dan meminta agar Ety bt Toyyib Anwar bisa segera dibebaskan dan dipulangkan ke Indonesia," pungkasnya. (nvl/knv)
sumber

================

Hmmmmm......
15,2 Milyard. Harga yang mungkin dianggap sangat pantas untuk mengganti kerugian nyawa yang hilang bagi orang-orang digurun sana. Sementara disini, orang yang membunuh seseorang hanya diganjar hukuman beberapa tahun dengan potongan hukuman yang terbilang fantastis, dan setelahnya masih bisa tertawa terbahak-bahak, menjalankan hobi dan bisnisnya, bahkan bisa berakrab-akrab dengan para ulama dan habib.

Bahkan seorang anak yang menjadi pelaku peristiwa kematian beberapa orang akibat kecelakaan masih bisa pamer pacar disosmed tanpa rasa bersalah. Dan bapaknya asik menyerang pemerintah meski akhirnya terpeleset akibat kebodohannya.

Betapa mahalnya harga nyawa disana dibanding disini. Disini mungkin nyawa hanya dianggap hitungan statistik peristiwa kejahatan dalam sebulan atau setahun, dan hanya jadi pembanding tahun sebelumnya atau berikutnya.

Melihat 'alot'nya negosiasi antara pihak KBRI dengan ahli waris, sepertinya justru seperti perdagangan perkara. Menjual kematian dengan ancaman kematian yang berujung uang pengganti. Dan negosiasi berulang kali diamini oleh ahli waris yang mungkin tak mau kesempatannya mendapatkan rejeki hilang begitu saja. Padahal calon terhukum mati telah menjalani hukuman hingga 19 tahun! Adil????? Mungkin ini adalah keadilan bagi bangsa sana, bangsa yang dipuja-puja sebagian masyarakat Indonesia yang gagap bersosial media.

Seorang TKI, yang mungkin benar mungkin tidak didakwa membunuh disana, dihargai dengan nilai yang fantastis, 15,2 Milyard. Itu bisa dilihat dari 2 sisi, harga itu adalah harga sebuah nyawa yang hilang dan harga sebuah nyawa yang terselamatkan. Sementara disana, ditempat kejadian perkara, ada sebuah keluarga yang berharap pemerintah menebus denda overstay sebesar hampir 1 Milyard.

Jika ini dianggap sebuah kelucuan, memang lucu. Seorang TKI dibayarkan dendanya 15,2 Milyard, sedangakan keluarga seorang Habib tengah menanti iba dibayarkan dendanya dibawah 1 Milayard. Ini artinya nyawa seorang TKI lebih berharga dimata pemerintah dibanding dengan hidup seorang Habib beserta keluarganya.

Melihat kejadian ini, jadi ingat kasus seorang TKI yang juga lolos dari hukuman mati karena dibantu membayar denda tebusan, tetapi setelahnya justru pamer perhiasan di sosial media tanpa malu dan tanpa hati. Dan semua perhiasan itu dibeli dari uang yang dikumpulkan donatur.

Ternyata ente gak lebih berharga dari seorang TKI, Bib. Mungkin pemerintah berpikir, seorang TKI masih bisa bermanfaat dengan menyumbang devisa negara dari gurun sana, sementara ente justru menyumbang huru hara dengan provokasi ente dari gurun sana.

Sakit gak Bib?
Diubah oleh n4z1.v8
profile-picture
profile-picture
profile-picture
knoopy dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
12-07-2019 00:42
Quote:Original Posted By lupineprince
Jadi, si habib sudah nggak penting lagi kan?


Sepertinya begitu gan...

emoticon-Mewek

Eit, tunggu dulu.
Sejak kapan dia penting bagi pemerintah?

emoticon-Cool
profile-picture
Koncong memberi reputasi
1
profile picture
kaskus addict
12-07-2019 00:45
Bagi pemerintah mungkin nggak, tapi bagi rakyatnya? Definitely.

Satu sisi perlu nabi. Satu sisi lain perlu badut penghibur. emoticon-Leh Uga
0
icon-hot-thread
Hot Threads
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.