Entertainment
Batal
KATEGORI
link has been copied
103
Lapor Hansip
06-09-2018 21:05

Kenapa Penurunan Nilai Rupiah Identik dengan Kenaikan Harga Tahu-Tempe?

Salam Tempe Indonesia 


Kenapa Penurunan Nilai Rupiah Identik dengan Kenaikan Harga Tahu-Tempe?


emoticon-I Love Indonesiaemoticon-I Love Indonesia



Hai hai holla agan/sista kaskuser, kali ini ijinkan maspir mengulik sedikit tentang hal yang agak tegang sedikit. Tapi, dikemas dalam sudut pandang santai rilex dan lounge. Okay, karena kemarin nyalain TV dan tidak sengaja mendengar berita tentang melemahnya nilai tukar Rupiah hingga menembus angka 15.000 (lima belas ribu rupiah) / USD (Dolar Amerika Serikat). Maka, terjadilah obrolan menggelitik bersama beberapa teman dikostan saat menonton berita tersebut. Saat nonton TV ini kami sedang ber-3,  Komentar pertama terceletuk dari  saja si Joko (sebutan saja), dia ini orang yang tidak peduli terhadap dunia perpolitikan. Tapi, nampaknya dia ini agak peduli dengan dunia ekonomi. Bagaimana tidak? Asal daerahnya adalah kota ukir, ini ngomongin rupiah eh ngelanturnya "sekarang dunia per-kayu-an lesu, tidak seperti dahulu. Pekerja banyak yang milih jadi karyawan garment atau apparel daripada kerja menjadi tukang ukir. Andai saja seperti dahulu, bisa ekspor hasil kerajinan ke luar negeri pas rupiah melemah pasti kaya aku." Nah, itu merupakan sedikit curhatan dari si Joko (orangnya gendut pendek, tapi pacarnya cantik). Kedua, kali ini dengan dia anaknya seorang tentara temanku ini orangnya pendiam tapi kalu sekali bicara bikin kami pikir ulang karena kalimat yang dikeluarkan sedikit tapi masuk akal juga sebut saja dia namanya Raka. Jadi si Raka mengomentari berita yang tadi soal penurunan nilai tukar rupiah melemah, celetukannya yang khas dia bilang "Kebijakan pemerintah mengurangi impor bagus juga, lebih baik lagi kebijakan pemerintah itu mengelola sumber daya alam sendiri supaya negara ini lebih mandiri . " Ya ya ya, karena memang sedang nongkrong. Aku sendiri cuma ngangguk-ngangguk aja, pura-pura tau apa yang dikatakan mereka berdua. Lalu, dengan polosnya aku berkata "Sebentar lagi harga tempe dan tahu mesti naik, bakal gak bisa hemat kalau hanya makan tempe pas diwarteg. Nanti aku makannya nasi setengah kalau harga tempe naik." Karena disini aku sendiri orang yang cenderung berhemat untuk pengeluaran, mereka berdua tertawa tuh gan/sist. Akhirnya obrolan kami-pun menjadi masalah tempe, yappss tempe makanan ringan penuh protein dari jamur yang tumbuh di kedelai. 

Benar saja! Karena lapar kami-pun ke warteg, di TV ada yang memberitakan bahwa harga tahu atau tempe bisa mengalami kenaikan dari pengaruh melemahnya tukar rupiah. Nah, karena agak penasaran jadinya maspir nyoba nyari tau. Alasan kenapa melemahnya nilai tukar Rupiah mengakibatkan kenaikan harga tempe? Beberapa alasannya berikut :

1. Bahan baku tempe berasal dari kedelai "impor." Jadi, sederhananya kedelai di beli dengan USD padahal nilai tukar rupiah melemah sehingga hal ini mempengaruhi harga impor kedelai yang semakin mahal. Jagongan kami "harusnya Indonesia bisa produksi sendiri tuh kedelai, tanah luar jawa kan luas dan yang subur juga tidak sedikit. Pastinya ada dong yang bisa ditanami kedelai dengan kualitas yang baik seperti kedelai impor" 

2. Produksi kedelai nasional tidak mencukupi? Ini nih, yang sebenarnya agak miris. Bagaimana bisa negara yang luas ini tidak mampu memproduksi kedelai sendiri? Padahal kebutuhannya kan tinggi banget, mestinya berpotensi untuk diproduksi kedelai berkualitas unggul. Syukur-syukur bisa swasembada kedelai, kan KEREN RI-Ku. Celetuknya si Joko "Koe iki ngomong opo! Omonganmu terlalu tinggi! Gak bakal didengar pemerintah! Koe Iki sopo!"

3. "Dulu kedelai kalaupun masih impor itu dikendalikan Bulog. Sekarang sudah free trade, siapa-pun boleh impor akhirnya petani kedelai nggak diperhatika," Kata Aip Syarifudin Ketua Umum Gabungan Asosiasi Koperasi Tahu-Tempe Indonesia (Gakoptindo) kalau ini berdasarkan artikel detik.finance. Terkait hal ini, apa mungkin kayak difilm The God Father? Kayak mafia-mafia gitu,  emoticon-Cool
 
Yaps, sebenarnya ada win-win solution terkait harga tempe yang bakal naik karena pelemahan nilai tukar rupiah. Seharusnya perlu tuh pemerintah membuat program yang memberdayakan Sumber Daya Manusia (misal lulusan mahasiswa pertanian terutama) untuk dapat mengolah Sumber Daya Alam (di luar Jawa kalau bisa) untuk memajukan pertanian Indonesia terutama kebutuhan pokok, supaya tidak sibuk mencari pekerjaan tapi disibukkan pemerintah untuk membuat pekerjaan. Agan setuju? Cendolnya ya kalau setuju. Perlu diketahui, artikel ini hanya sebatas keluhan anak kost yang khawatir kenaikan harga tempe, tidak ada kaitannya sama sekali tentang perpolitikan. Terimakasih Agan sista sudah berkenan membaca tulisan ngelantur ini. Pastikan bagi cendol dan komentar yang santai agan/sista emoticon-Toastemoticon-Shakehand2

Sumber dan Pemberitaan Terkait :
detik
Viva-Rupiah Melemah Produsen Tempe Menjerit
Merdeka - Rupiah Melemah Harga Bahan Baku Tempe Naik
Republika - Rupiah Melemah, Perajin Khawatir Harga Kedelai Naik
Kompas - Rupiah Melemah, Perajin Tempe di Bekasi Mengeluh


1
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Kenapa Penurunan Nilai Rupiah Identik dengan Kenaikan Harga Tahu-Tempe?
10-09-2018 09:26
Quote:Original Posted By maspir

2. Produksi kedelai nasional tidak mencukupi? Ini nih, yang sebenarnya agak miris. Bagaimana bisa negara yang luas ini tidak mampu memproduksi kedelai sendiri? Padahal kebutuhannya kan tinggi banget, mestinya berpotensi untuk diproduksi kedelai berkualitas unggul. Syukur-syukur bisa swasembada kedelai, kan KEREN RI-Ku. Celetuknya si Joko "Koe iki ngomong opo! Omonganmu terlalu tinggi! Gak bakal didengar pemerintah! Koe Iki sopo!"

Ada beberapa sentra kedelai nasional di Indonesia.
Tapi memang belum mencukupi kebutuhan nasional.
Selama harga beli di tingkat petaninya bagus, mungkin bisa lanjut.
Kalo sempat drop seperti beberapa tahun silam, ya petani jadi malas nanam kedelai.
0 0
0
profile picture
kaskus maniac
11-09-2018 01:49


Gw pernah denger klo tanah Indonesia kurang cocok ditanam kedelai dibanding di USA, lebih asam/basa gitu deh (monggo googling klo ga percaya).
Makanya USA cocok jd produsen terbesar dunia bwt kedelai krn selain luas lahan, tanahnya jg cocok bwt penanaman kedelai.


FACTS:
1. Iklim kering lebih disukai tanaman kedelai dibandingkan iklim lembab.
2. Pada dasarnya kedelai menghendaki kondisi tanah yang tidak terlalu basah, tetapi air tetap tersedia. Jagung merupakan tanaman indikator yang baik bagi kedelai. Tanah yang baik ditanami jagung, baik pula ditanami kedelai.
3. Toleransi keasaman tanah sebagai syarat tumbuh bagi kedelai adalah pH= 5,8-7,0 tetapi pada pH 4,5 pun kedelai dapat tumbuh.
Pada pH kurang dari 5,5 pertumbuhannya sangat terlambat karena keracunan aluminium.
Pertumbuhan bakteri bintil dan proses nitrifikasi (proses oksidasi amoniak menjadi nitrit atau proses pembusukan) akan berjalan kurang baik.
4. Varietas kedelai berbiji kecil, sangat cocok ditanam di lahan dengan ketinggian 0,5- 300 m dpl.Sedangkan varietasi kedelai berbiji besar cocok ditanam di lahan dengan ketinggian 300-500 m dpl. Kedelai biasanya akan tumbuh baik pada ketinggian tidak lebih dari 500 m dpl
5. Tanaman kedelai sebenarnya dapat tumbuh di semua jenis tanah, namun demikian, untuk mencapai tingkat pertumbuhan dan produktivitas yang optimal, kedelai harus ditanam pada jenis tanah berstruktur lempung berpasir atau liat berpasir. Hal ini tidak hanya terkait dengan ketersediaan air untuk mendukung pertumbuhan, tetapi juga terkait dengan faktor lingkungan tumbuh yang lain.


Klo Indo ga mau ngimpor kedelai lagi, minimal lahan2 jangan dijadiin hutan sawit / perumahan semua doooong... Trus lahannya jg harus luas banyak (which is ini yg tantangan terbesarnya jg, banyakan padi kayanya dibanding kedelai di Indo hehe)
0
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
The Lounge
stop-coli
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia